Anda di halaman 1dari 38

Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi

Fakultas Kedokteran

Laporan Kasus

Universitas Mulawarman
KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

oleh:
Setya Girindra Wardana
1310019003

Pembimbing:

dr. Achmad Mansyur, Sp. OG

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


Pada Laboratorium Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
penulisan Refleksi kasus yang berjudul Kehamilan EKtopik Terganggu dapat
selesai tepat pada waktunya.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
1. dr. Novia Fransisca Ngo, Sp. OG selaku Kepala Laboratorium bagian
Laboratorium Obstetri dan Ginekologi.
2. dr. Prima Deri Pella T, Sp. OG selaku Kepala bagian Koordinator
Laboratorium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin.
3. dr. Achmad Mansyur, Sp. OG selaku Pembimbing Klinik Utama
4. dr. Achmad Mansyur, Sp. OG selaku pembimbing laporan kasus
5. Pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu
Refleksi kasus ini masih jauh dari sempurna, karena itu penulis
mengharapkan saran dan kritik untuk menyempurnakan tulisan ini. Semoga
tulisan ini bermanfaat.
Samarinda, 12 September 2014
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ 1
KATA PENGANTAR...............................................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................................3
PENDAHULUAN...................................................................................................5
1.1

Latar Belakang..........................................................................................5

1.2

Tujuan........................................................................................................6

LAPORAN KASUS.................................................................................................6
2.1

Identitas.....................................................................................................6

2.2

Anamnesa (autoanamnesa dan alloanamnesa)..........................................6

2.3

Pemeriksaan Fisik......................................................................................8

2.4

Status obstetrik..........................................................................................9

2.5

Pemeriksaan Penunjang...........................................................................10

2.6

Diagnosis Kerja.......................................................................................11

2.7

Tatalaksana..............................................................................................11

2.8

Prognosa :................................................................................................11

2.9

Follow Up................................................................................................11

2.10

Laporan Operasi...................................................................................12

TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................14
3.1

Definisi....................................................................................................14

3.2

Epidemiologi...........................................................................................15

3.3

Etiologi dan Faktor Risiko......................................................................15


3

3.4

Klasifikasi................................................................................................16

3.5

Patogenesis..............................................................................................19

3.6

Manifestasi Klinis....................................................................................20

3.7

Penegakan Diagnosis...............................................................................22

3.8

Diagnosis Banding..................................................................................26

3.9

Komplikasi..............................................................................................27

3.10

Penatalaksanaan...................................................................................27

3.11

Prognosis..............................................................................................29

PEMBAHASAN....................................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................33

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

L
at
ar
B
el
a
k
a
n
g

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi,


berimplantasi dan tumbuh tidak di tempat yang normal yakni dalam endometrium
kavum uteri. Bila kehamilan tersebut mengalami proses pengakhiran (abortus)
maka

disebut

dengan

kehamilan

ektopik

terganggu

(KET).

Penelitian

Cunningham tahun 2001 berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO),
pada tahun 2003 terdapat satu dari 250 (0,04%) kelahiran di dunia menderita
kehamilan ektopik, dengan jenis kehamilan ektopik adalah kehamilan tuba fallopi,
yang sebagian besar (80%) dialami oleh wanita pada usia 35 tahun keatas serta
dilaporkan bahwa 60 % dialami oleh wanita dengan paritas pertama dan kedua.
5

Insiden kehamilan ektopik meningkat pada semua wanita terutama pada mereka
yang berumur 20 sampai 40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun.1,2
Gejala yang terjadi pada kehamilan ektopik meliputi rasa nyeri di perut
samping kiri atau kanan bawah, perdarahan dari vaginam, nausea, nyeri bahu dan
pusing. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendeteksi dini
kehamilan ektopik dengan pemeriksaan ultrasonografi dan pemeriksaan HCG.2,3
Kesukaran membuat diagnosis pasti pada kehamilan ektopik belum
terganggu demikian besarnya sehingga sebagian besar penderita mengalami
abortus atau ruptur tuba sebelum keadaan menjadi jelas. Keadaan ini
menyebabkan terjadinya perdarahan sehingga penderita jatuh dalam keadaan
pingsan dan masuk dalam keadaan syok. 1,3
1.2

T
uj
u
a
n

Laporan kasus ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai


kehamilan ektopik terganggu, serta meningkatkan kemampuan dalam menganalisa
data dan permasalahan yang ditemukan pada kasus tersebut.

BAB 2
LAPORAN KASUS
2.1

Identitas

Identitas pasien:
Nama

: Ny. Hendrawati

Umur

: 29 tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA
6

Pekerjaan

: IRT

Suku

: Kutai

Alamat

: Jalan H. Jahrah RT 14, keledang

Masuk RS (MRS)

: Hari Kamis, 11 September 2014 pukul 09.30 WITA

Identitas suami:
Nama

: Tn. Irwan

Umur

: 33 tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Belum bekerja

Suku

: Banjar

Alamat

: Jalan H. Jahrah RT 14, keledang

2.2

Anamnesa (autoanamnesa dan alloanamnesa)

Keluhan Utama : Nyeri perut bagian bawah


Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluhkan adanya nyeri perut bagian bawah sejak 5 hari SMRS.
Pasien juga mengeluhkan adanya keluar darah berupa flek-flek dari jalan lahir dan
sejak 2 hari SMRS darah yang keluar bertambah banyak. Pasien saat ini hanya
mengeluhkan pusing (+), mual (-), muntah (-) dan nyeri ulu hati (-). Riwayat
trauma disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu :
-

Keluhan serupa (-)


Asma (-)
Riwayat pernah dirawat pada tahun 2006 di RS Siaga karena kondisi yang

lemas
Riwayat operasi (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


-

Hipertensi (-)
DM (-)
Kanker (-)

Riwayat Riwayat Menstruasi :

Pertama kali menatche saat usia 12 tahun dengan lama haid 7 hari.
Banyaknya jumlah perdarahan haid 2 kali ganti pembalut sehari. Hari pertama
haid terakhir ?-8-2014
Riwayat Perkawinan :
Perkawinan yang pertama, lama menikah 8 tahun, pertama kali menikah usia 20
tahun.
Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas :
Tahun

Tempat

Umur

Jenis

Penolong

Partus

Partus

kehamilan

Persalinan

Persalinan

1.

2007

Rumah

Aterm

Spontan

Bidan

2.

2011

Rumah

Aterm

Spontan

Bidan

3.

2014

No

Jenis

Keadaan

Kelamin

Anak

Anak/ BB
Laki-

Sekarang
Hidup

laki/2800 gr
Perempuan/

Hidup

2500 gr

Hamil ini

Riwayat Penggunaan Kontrasepsi :


Menggunakan kontrasepsi jenis suntik per 1 bulan selama 2 tahun.
2.3

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis, GCS E4V5M6

Tanda-tanda Vital

Status Gizi

Tekanan Darah

: 130/70 mmHg

Nadi

: 89 x/menit, reguler, kuat angkat

Frekuensi Napas

: 20 x/menit, teratur

Temperatur

: 36,8oC

: BB = 54,5 Kg,

TB = 150 cm

Kepala/leher
Rambut merah

:-

Mata

: konjungtiva anemis (-/-),

skera ikterik (-/-), refleks

cahaya (+/+), mata cowong (-/-), edem palpebra (-/-)


Hidung
Telinga

: sumbat (-), sekret (-), napas cuping hidung (-)


: bersih, sekret (-)
8

Mulut

: bibir lembab, lidah bersih, faring hiperemis (-),


pembesaran tonsil (-), perdarahan (-)

Leher

: kaku kuduk (-), pembesaran kelenjar (-)

Thorax
Pulmo
Inspeksi

: gerakan simetris D=S, retraksi ICS (-),

Palpasi

: pelebaran ICS (-), fremitus raba D=S

Perkusi

: sonor, batas paru hepar ICS V MCL D

Auskultasi

: vesikuler (+), rhonki (-), wheezing (-)

Inspeksi

: tidak trampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba di ICS V S 1 jari lateral MCL S

Perkusi

: batas jantung dbn

Auskultasi

: S1 S2 tunggal, reguler, murmur (-) sistolic, gallop (-)

Cor

Abdomen
Inspeksi

: distensi (-), turgor kulit normal,

Palpasi

: Soefl, nyeri tekan (+) pada bagian bawah, massa (-), H/L

tak teraba
Perkusi

: Timpani, shifting dullness (-), fluid wafe (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Ekstremitas
-

Edema

MMT

Superior
Ekstremitas hangat

Inferior
Ekstremitas hangat

Edem (-)

Edem (-)

Sianosis (-)

Sianosis (-)

Palmar eritema (-)

Palmar eritema (-)

2.4

St
at
us
o
bs
te
tr
ik

Inspeksi

: distensi (-)

Palpasi : TFU tidak teraba, nyeri tekan (+)


Pemeriksaan dalam:
Vaginal Toucher :
-

Vagina
Portio
Korpus uteri
Parametrium kanan
Para metrium kiri
Cavum douglasi

: Mukosa licin,
: konsistensi lunak arah medial, pembukaan (-)
: sulit dinilai,
: massa (-), nyeri (-)
: massa (-), Nyeri (+)
: tidak menonjol

10

2.5

P
e
m
er
ik
sa
a
n
P
en
u
nj
a
n
g

Laboratorium Darah Lengkap


Tanggal
Darah lengkap
Hb
Hct
Leukosit
Trombosit
Kimia darah
GDS
Ur
Cr

11-9-2014

12-9-2014

10,0
30%
8.800
273.000

9,6
27,4%
8.600
238.000

125
24,8
0,9

BT
CT
HbsAg
112

3
9
NR
NR

Na
K
Cl

139
3,4
107

11

2.6

Di
ag
n
os
is
K
er
ja

Kehamilan Ektopik Terganggu


2.7

T
at
al
a
ks
a
n
a

Pro laparotomi
2.8

Pr
og
n
os
a
:

Dubia ad bonam
2.9

F
ol
lo
w
U
p

Tanggal

Follow up

Lab
12

11-9-2014

Menerima pasien baru dari IGD ( Rujukan dr. Lapor dr. Sp. OG

09.30

Sp OG) dengan KET. Keluhan nyeri perut Rencana laparotomy jam


sejak 5 hari disertai keluar flek-flek dari jalan 11.00 WITA
lahir. HPHT = ?-8-2014
Hasil pemeriksaan
KU tampak sakit sedang, kesadaran CM
Tanda vital
Tekanan darah : 130/70 mmhg
Nadi

: 89 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 360 C

TFU tidak teraba


Perdarahan flek-flek
Diagnose KET
11.00

Pasien dilakukan laparotomi oleh dr.Sp. OG P: tatalaksana post op


di Ok IGD RSUD AWS.

Inj cefotaxim 3x1 gr

Diagnosis KET sinistra

Inj ketorolac 3x30 mg


Drip tramadol 3x100mg
Inj. Ranitidine 2x1 amp
Inj metoclopramide 3x1
amp
Inf RL : D5 20 tpm

12-9-2014

S: Mual (-), Muntah (-), Nyeri Ulu Hati (-)

Cek Hb postop
P:

O: Kesadaran compos mentis, GCS 15 Inj cefotaxim 3x1 gr


E4M6V5. Tekanan darah 100/60 mmHg, nadi Asam

mefenamat

80x/menit, nafas 18x/menit, suhu 36,20C, 3x500mg


anemis -/-,

SF 2x1 tab

A: KET tuba sinistra post salpingectomy


perawatan hari pertama

Advice dr. Sp OG
Ganti obat oral dan boleh
13

13-9-2014

S: Mual (-), Muntah (-), Nyeri Ulu Hati (-)

pulang besok
P:

O: Kesadaran compos mentis, GCS 15 SF 3x1 tab


E4M6V5. Tekanan darah 110/60 mmHg, nadi Asam mefenamat 3 x 1
84x/menit, nafas 20x/menit, suhu 36,50C, tab
anemis -/-,

Laxadin syrup 3 x CI

A: KET tuba sinistra post salpingectomy Boleh rawat jalan


perawatan hari kedua
2.10 L
a
p
or
a
n
O
pe
ra
si
Bangsal : Mawar
Nomor : 78 88 78
Nama : Ny. Hendrawati
Umur : 29 tahun
Nama Ahli Bedah : dr. Handy, Sp OG
Nama asisten :
Nama Anastesi : dr. Satria, Sp An
Jenis anastesi : spinal
Diagnosa Pre Operatif
: Kehamilan Ektopik Terganggu
Diagnosa post Operatif
: Kehamilan Ektopik Terganggu Sinistra
Nama / Macam Operasi : Salpingectomi
Macam Pembedahan
(+) Besar (+)
LAPORAN OPERASI

sinistra
Jaringan yang dieksisi/insisi : Tuba Fallopi

Emergency

Sinistra
Dikirim untuk pemeriksaan PA (+)
Tanggal : 11-9-2014 Jam Op dimulai 11.00 Jam Op selesai 11.45 Lama Op 45 menit
Penderita dalam posisi terlentang dalam general anestesi . dilakukan tindakan aseptik
dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya. Lapangan operasi dipersempit
dengan duk steril. Dilakukan insisi Mediana dimulai dari 1 jari dibawah pusar sampai
2 jari diatas simpisis pubis 10 cm. kemudian insisi diperdalam secara tajam dan
14

tumpul sampai menembus peritoneum, setelah peritoneum dibuka dilakukan


eksplorasi, didapatkan :
-- Darah dan bekuan darah 500 cc.
-- Uterus sesuai normal.
-- Tuba dan ovarium kanan dalam batas normal.
-- Ovarium kiri dalam batas normal.
-- Tampak kehamilan ektopik terganggu di tuba pars ampularis sinistra kemudian
diputuskan melalui salpingektomi sinistra dengan cara menjepit, memotong,

mengikat pars ampularis tuba kiri dengan chromic catgut 1.0.


-- Perdarahan dirawat sebagaimana mestinya.
-- Dilakukan pencucian abdomen dengan NaCl 0.9%.
-- Jaringan di PA-kan.
Kemudian dilakukan penutupan dinding abdomen lapis demi lapis dengan cara

sebagai berikut :
Peritoneum dijahit secara jelujur dengan plain catgut no 2.0
Otot dijahit secara jelujur dengan plain catgut no 2.0
Fascia dijahit secara jelujur dengan vicryl no 1.0
Subkutis dijahit secara jelujur dengan plain catgut no 2.0
Kutis dijahit secara subkutikuler dengan vycril 3.0
Luka operasi ditutup dengan sofratulle, kassa dan Opsite

Cairan
masuk
RL

Cairan keluar
1500

Urine

400

Cc

c
Darah

Total

1500

Darah

800

Cc

Total

1200

Cc

c
INSTRUKSI POST

Bansal : Mawar

OPERASI
Nama : Ny. Hendrawati
Injeksi Cefotaxim 3 x 1 gram IV

Nomor : 78 88 78
Umur : 29 tahun

Injeksi Ketorolac 3 x 30 gram


Drip Tramadol 3 x 100 mg
Injeksi Ranitidin 2 x 1 ampul
Injeksi Metroclopramid 3 x 1 ampul
15

IVFD RL : D5 20 tpm
Cek Hb post Operasi

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1

D
ef
in
isi

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana sel telur yang dibuahi


berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uterus. Termasuk dalam
kehamilan ektopik ialah kehamilan tuba, kehamilan ovarial, kehamilan intra
ligamenter, kehamilan servikal, dan kehamilan abdominal primer atau sekunder.
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang berbahaya karena tempat
implantasinya tidak memberikan kesempatan untuk tumbuh kembang mencapai
aterm.1
Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik, karena
kehamilan di pars interstitialis dan kanalis servikalis masih termasuk kehamilan
intrauterin, tetapi jelas bersifat ektopik.1
Kehamilan ektopik terganggu (KET) adalah keadaan di mana timbul
gangguan pada kehamilan tersebut sehingga terjadi abortus maupun ruptur yang
menyebabkan penurunan keadaan umum pasien.1

16

3.2

E
pi
de
m
io
lo
gi

Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara


20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Lebih dari 60% kehamilan ektopik
terjadi pada wanita 20-30 tahun dengan sosio-ekonomi rendah dan tinggal di
daerah dengan prevalensi gonore dan prevalensi tuberkulosa yang tinggi.
Pemakaian antibiotik pada penyakit radang panggul dapat meningkatkan kejadian
kehamilan ektopik terganggu. Diantara kehamilan-kehamilan ektopik terganggu,
yang banyak terjadi ialah pada daerah tuba (90%), terutama di ampula tuba.1,2
3.3

Et
io
lo
gi
d
a
n
F
a
kt
or
Ri
si
k
o

Sebagian besar penyebab kehamilan ektopik tidak diketahui. Setelah sel


telur dibuahi di bagian ampula tuba, maka setiap hambatan perjalanan sel telur ke
dalam rongga lahir memungkinkan kehamilan tuba. Kehamilan ovarial dapat
17

terjadi apabila spermatozoa memasuki folikel De Graaf yang baru pecah dan
membuahi sel telur yang masih tinggal dalam folikel atau apabila sel telur yang
dibuahi bernidasi di daerah endometriosis di ovarium. Kehamilan intraligamenter
biasanya terjadi sekunder dari kehamilan tuba atau ovarial yang mengalami ruptur
dan mudigah masuk di antara 2 lapisan ligamentum latum. Kehamilan servikal
berkaitan dengan faktor multiparitas yang memiliki riwayat abortus atau operasi
pada rahim termasuk seksio sesarea. Kehamilan abdominal biasanya terjadi
sekunder dari kehamilan tuba. Adapun penyebab lain kehamilan ektopik, antara
lain:1,3,4
1. Gangguan transportasi dari hasil konsepsi yaitu sebagai akibat adanya1,2:
a.Radang panggul (PID)
Terutama endosalpingitis yang menyebabkan aglutinasi silia lipatan
mukosa tuba dengan penyempitan saluran atau pembentukan kantong-kantong
buntu. Berkurangnya silia mukosa tuba sebagai akibat infeksi juga menyebabkan
implantasi hasil zigot pada tuba falopi.
b.

Alat kontrasepsi dalam rahim (IUD)

c.Penyempitan lumen akibat tumor


d.

Pasca tindakan bedah mikro pada tuba


Memperbaiki fungsi tuba atau terkadang kegagalan usaha untuk

memperbaiki patensi tuba pada sterilisasi.


e.Abortus
Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus/infeksi pasca nifas,
apendisitis, atau endometriosis, yang menyebabkan tertekuknya tuba atau
penyempitan lumen.
2. Kelainan hormonal1,2,5
a. Induksi ovulasi
b. Fertilisasi invitro
c. Ovulasi yang terlambat
d. Transmigrasi ovum terutama pada kasus perkembangan duktus mulleri yang
abnormal.
e. Berubahnya motilitas tuba karena perubahan kadar hormon estrogen dan
progesteron.
18

3. Penyebab yang masih diperdebatkan


a. Endometriosis
b. Cacat bawaan
c. Kelainan kromosom
d. Kualitas sperma dan lain-lain
3.4

K
la
sif
ik
as
i

Klasifikasi kehamilan ektopik berdasarkan tempat terjadinya implantasi


dari kehamilan ektopik, dapat dibedakan menurut1:
1. Kehamilan tuba adalah kehamilan ektopik pada setiap bagian dari tuba
-

Fallopi. Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di:


Tuba (95%)
Ampulla / Pars Ampularis (55%)
Isthmus / Pars Isthmika (25%)
Fimbrial / Pars infundibuaris (17%)
Interstisial / Pars insterstisialis (2%)

Gambar 1. Lokasi Kehamilan Ektopik


2. Kehamilan ovarial merupakan bentuk yang jarang (0,5%) dari seluruh
kehamilan ektopik dimana sel telur yang dibuahi bernidasi di ovarium.1,6
19

3. Kehamilan servikal adalah bentuk dari kehamilan ektopik yang jarang sekali
terjadi. Nidasi terjadi dalam selaput lendir serviks. Dengan tumbuhnya telur,
serviks mengembang. Kehamilan serviks jarang melewati usia gestasi 20
minggu sehingga umumnya hasil konsepsi masih kecil dan dievakuasi dengan
kuretase.1,6
4. Kehamilan Abdominal
Kehamilan ini terjadi bila kantong kehamilan berimplantasi di luar uterus,
ovarium dan tuba Fallopi. Kehamilan Abdominal ada 2 macam:
a. Primer, dimana telur dari awal mengadakan implantasi dalam rongga
perut.1,7
b. Sekunder, yaitu pembentukan zigot terjadi di tempat yang lain misalnya di
dalam saluran telur atau ovarium yang selanjutnya berpindah ke dalam
rongga abdomen oleh karena terlepas dari tempat asalnya. Hampir semua
kasus kehamilan abdominal merupakan kehamilan ektopik sekunder akibat
ruptur atau aborsi kehamilan tuba atau ovarium ke dalam rongga
abdomen.1,7
Walaupun ada kalanya kehamilan abdominal mencapai umur cukup bulan, hal
ini jarang terjadi, yang lazim ialah bahwa janin mati sebelum tercapai
maturitas (bulan ke 5 atau ke 6) karena pengambilan makanan kurang
sempurna.1
5. Kehamilan Heterotopik adalah kehamilan ektopik yang dapat terjadi bersama
dengan kehamilan intrauterin. Kehamilan heterotopik dapat di bedakan atas :
a. Kehamilan kombinasi (Combined Ectopik Pregnancy) yaitu kehamilan
yang dapat berlangsung dalam waktu yang sama dengan kehamilan
intrauterin normal.1,8
b. Kehamilan ektopik rangkap (Compound Ectopic Pregnancy) yaitu
terjadinya kehamilan intrauterin setelah lebih dahulu terjadi kehamilan
ektopik yang telah mati atau pun ruptur dan kehamilan intrauterin yang
terjadi kemudian berkembang seperti biasa.1,8
6. Kehamilan interstisial yaitu implantasi telur terjadi dalam pars interstitialis
tuba. Kehamilan ini juga disebut sebagai kehamilan kornual (kehamilan
intrauteri, tetapi implantasi plasentanya di daerah kornu, yang kaya akan

20

pembuluh darah). Karena lapisan myometrium di sini lebih tebal maka ruptur
terjadi lebih lambat kira-kira pada bulan ke 3 atau ke 4.1,2
7. Kehamilan intraligamenter
Kehamilan intraligamenter berasal dari kehamilan ektopik dalam tuba
yang pecah. Konseptus yang terjatuh ke dalam ruangan ekstra peritoneal ini
apabila lapisan korionnya melekat dengan baik dan memperoleh vaskularisasi di
situ fetusnya dapat hidup dan berkembang dan tumbuh membesar. Dengan
demikian proses kehamilan ini serupa dengan kehamilan abdominal sekunder
karena keduanya berasal dari kehamilan ektopik dalam tuba yang pecah.1,2
8. Kehamilan tubouterina merupakan kehamilan yang semula mengadakan
implantasi pada tuba pars interstitialis, kemudian mengadakan ekstensi secara
perlahan-lahan ke dalam kavum uteri.2
9. Kehamilan tuboabdominal berasal dari tuba, dimana zigot yang semula
megadakan implantasi di sekitar bagian fimbriae tuba, secara beangsur
mengadakan ekstensi ke kavum peritoneal.2
10. Kehamilan tuboovarial digunakan bila kantung janin sebagian melekat pada
tuba dan sebagian pada jaringan ovarium.2
3.5

P
at
og
en
es
is

Proses implantasi ovum di tuba pada dasarnya sama dengan yang terjadi di
kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumnar atau interkolumnar. Pada
nidasi secara kolumnar telur bernidasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping.
Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan
biasanya telur mati secara dini dan direabsorbsi. Pada nidasi interkolumnar, telur
bernidasi antara dua jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup maka
ovum dipisahkan dari lumen oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan
dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba malahan
kadang-kadang sulit dilihat vili khorealis menembus endosalping dan masuk ke
dalam otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah.1,2,3,4
21

Perkembangan janin selanjutnya tergantung dari beberapa faktor, yaitu;


tempat implantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi
oleh invasi trofoblas. Di bawah pengaruh hormon esterogen dan progesteron dari
korpus luteum graviditi dan trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek,
endometrium dapat berubah menjadi desidua. Beberapa perubahan pada
endometrium yaitu; sel epitel membesar, nukleus hipertrofi, hiperkromasi, lobuler,
dan bentuknya ireguler. Polaritas menghilang dan nukleus yang abnormal
mempunyai tendensi menempati sel luminal. Sitoplasma mengalami vakuolisasi
seperti buih dan dapat juga terkadang ditemui mitosis. Perubahan endometrium
secara keseluruhan disebut sebagai reaksi Arias-Stella.1,2,5
Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami degenerasi kemudian
dikeluarkan secara utuh atau berkeping-keping. Perdarahan yang dijumpai pada
kehamilan ektopik terganggu berasal dari uterus disebabkan pelepasan desidua
yang degeneratif. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan
antara 6 sampai 10 minggu. Karena tuba bukan tempat pertumbuhan hasil
konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Beberapa
kemungkinan yang mungkin terjadi adalah1,2:
1. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi.
Pada implantasi secara kolumna, ovum yang dibuahi cepat mati karena
vaskularisasi yang kurang dan dengan mudah diresobsi total.1,2
2. Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yang terjadi karena terbukanya dinding pembuluh darah oleh
vili korialis pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah
dari dinding tersebut bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Segera
setelah perdarahan, hubungan antara plasenta serta membran terhadap dinding
tuba terpisah bila pemisahan sempurna, seluruh hasil konsepsi dikeluarkan
melalui ujung fimbrae tuba ke dalam kavum peritonium. Dalam keadaan tersebut
perdarahan berhenti dan gejala-gejala menghilang.1,2
3. Ruptur dinding tuba
Penyebab utama dari ruptur tuba adalah penembusan dinding vili korialis
ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur tuba sering terjadi
bila ovum yang dibuahi berimplantasi pada isthmus dan biasanya terjadi pada
22

kehamilan muda. Sebaliknya ruptur yang terjadi pada pars-intersisialis pada


kehamilan lebih lanjut. Ruptur dapat terjadi secara spontan atau yang disebabkan
trauma ringan seperti pada koitus dan pemeriksaan vagina.1,3
3.6

M
a
ni
fe
st
as
i
K
li
ni
s

Gejala dari kehamilan ektopik tergantung pada lokasinya. Tanda dan


gejalanya sangat bervariasi tergantung pada ruptur atau tidaknya kehamilan
tersebut. Adapun gejala dan hasil pemeriksaan laboratorium antara lain :
1.

Keluhan gastrointestinal
Keluhan yang paling sering dikemukakan oleh pasien kehamilan ektopik

terganggu adalah nyeri pelvis. Dorfman menekankan pentingnya keluhan


gastrointestinal dan vertigo atau rasa pening. Semua keluhan tersebut mempunyai
keragaman dalam hal insiden terjadinya akibat kecepatan dan taraf perdarahannya
di samping keterlambatan diagnosis.1,3
2. Nyeri tekan abdomen dan pelvis
Nyeri tekan yang timbul pada palpasi abdomen dan pemeriksaan,
khususnya dengan menggerakkan serviks, dijumpai pada lebih dari tiga per empat
kasus kehamilan ektopik sudah atau sedang mengalami ruptur, tetapi kadangkadang tidak terlihat sebelum ruptur terjadinya.1,2
3. Amenore
Riwayat amenore tidak ditemukan pada seperempat kasus atau lebih. Salah
satu sebabnya adalah karena pasien menganggap perdarahan pervaginam yang
23

lazim pada kehamilan ektopik sebagai periode haid yang normal, dengan
demikian memberikan tanggal haid terakhir yang keliru.1,4
4. Spotting atau perdarahan vaginal
Selama fungsi endokrin plasenta masih bertahan, perdarahan uterus
biasanya tidak ditemukan, namun bila dukungan endokrin dari endometrium
sudah tidak memadai lagi, mukosa uterus akan mengalami perdarahan. Perdarahan
tersebut biasanya sedikit-sedikit, bewarna cokelat gelap dan dapat terputus-putus
atau terus-menerus.1,2,4
5. Perubahan Uterus
Uterus pada kehamilan etopik dapat terdorong ke salah satu sisi oleh masa
ektopik tersebut. Pada kehamilan ligamentum latum atau ligamentum latum terisi
darah, uterus dapat mengalami pergeseran hebat. Uterine cast akan dieksresikan
oleh sebagian kecil pasien, mungkin 5% atau 10% pasien. Eksresi uterine cast ini
dapat disertai oleh gejala kram yang serupa dengan peristiwa ekspulsi spontan
jaringan abortus dari kavum uteri.1,3,4
6. Tekanan darah dan denyut nadi
Reaksi awal pada perdarahan sedang tidak menunjukkan perubahan pada
denyut nadi dan tekanan darah, atau reaksinya kadang-kadang sama seperti yang
terlihat pada tindakan flebotomi untuk menjadi donor darah yaitu kenaikan ringan
tekanan darah atau respon vasovagal disertai bradikardi serta hipotensi.2,3
7. Hipovolemi
Penurunan nyata tekanan darah dan kenaikan denyut nadi dalam posisi
duduk merupakan tanda yang paling sering menunjukkan adanya penurunan
volume darah yang cukup banyak. Semua perubahan tersebut mungkin baru
terjadi setelah timbul hipovolemi yang serius.2,3
8. Suhu tubuh
Setelah terjadi perdarahan akut, suhu tubuh dapat tetap normal atau
bahkan menurun. Suhu yang lebih tinggi jarang dijumpai dalam keadaan tanpa
adanya infeksi. Karena itu panas merupakan gambaran yang penting untuk
membedakan antara kehamilan tuba yang mengalami ruptura dengan salpingitis
akut, dimana pada keadaan ini suhu tubuh umumnya di atas 38oC.2,3
9. Massa pelvis
24

Massa pelvis dapat teraba pada 20% pasien. Massa tersebut mempunyai
ukuran, konsistensi, serta posisi yang bervariasi. Biasanya massa ini berukuran 515 cm, sering teraba lunak dan elastis. Akan tetapi dengan terjadinya infiltrasi
dinding tuba yang luas oleh darah, massa tersebut dapat teraba keras. Hampir
selalu masa pelvis ditemukan di sebelah posterior atau lateral uterus. Keluhan
nyeri dan nyeri tekan kerap kali mendahului terabanya masa pelvis dalam
tindakan palpasi.3,4
10. Hematokel pelvis
Pada kehamilan tuba, kerusakan dinding tuba yang terjadi bertahap akan
diikuti oleh perembesan darah secara perlahan-lahan ke dalam lumen tuba, kavum
peritonium, atau keduanya. Gejala perdarahan aktif tidak terdapat dan bahkan
keluhan yang ringan dapat mereda, namun darah yang terus merembes akan
berkumpul dalam panggul, kurang lebih terbungkus dengan adanya perlekatan dan
akhirnya membentuk hematokel pelvis.2
3.7

P
en
eg
a
k
a
n
Di
ag
n
os
is

Gambaran klinis bervariasi tergantung cepat lambatnya diagnosis dibuat,


lokasi implantasi, dan sudah terjadi ruptur atau belum. Tanda-tanda dan gejala
baru timbul setelah ada gangguan. Gejala dan tanda yang karakteristik pada
kehamilan ektopik terganggu, antara lain:1,2,3
1. Mendadak rasa nyeri perut bagian bawah
2. Amenorrhea (75 % - 90 %)
25

3. Perdarahan pervaginam (50 % - 80 %)


4. Tanda-tanda kesakitan dan pucat
5. Tanda-tanda syok, seperti hipotensi
6. Suhu kadang naik sehingga sukar dibedakan dengan infeksi pelvis
7. Perut mengembung dan nyeri tekan
8. Nyeri goyang serviks
9. Cavum Douglas menonjol dan nyeri raba
10. Massa pada pelvis atau hematokel pada pelvis
11. Anemia akut
Sedangkan, kehamilan ektopik belum terganggu menunjukkan gejala dan
tanda sebagai berikut:1,2,3
1.
2.
3.
4.
5.

Biasanya penderita tidak menyampaikan keluhan yang khas


Amenore
Tanda kehamilan muda, seperti nausea
Nyeri di perut bawah yang tidak khas
Kadang teraba tumor di samping uterus dengan batas yang sukar ditentukan
Untuk menegakkan diagnosis kehamilan ektopik, dilakukan beberapa

pemeriksaan bantuan sebagai berikut:


1. Uji Kehamilan
Uji kehamilan positif membantu diagnosis, tetapi sebaliknya uji kehamilan
negatif tidak dapat menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik.
2. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan Hb serial untuk mengukur kuantitas jumlah kehilangan darah
yang terjadi, pemeriksaan beta-HCG (penurunan nilai beta-HCG), serum kreatinin
kinase (masih diperdebatkan).
3. Kuldosentesis
Tujuan: untuk mengetahui apakah dalam Cavum Douglas terdapat darah
atau cairan lain. Cara ini tidak digunakan pada kehamilan ektopik belum
terganggu.
Teknik:
a. Penderita dibaringkan dalam posisi litotomi.
b. Vulva dan vagina dibersihkan dengan antiseptik.
c. Spekulum dipasang dan bibir belakang porsio dijepit dengan tenakulum,
kemudian dilakukan traksi ke depan hingga forniks posterior ditampakkan.
d. Jarum spinal no.18 ditusukkan ke dalam Cavum Douglas dan dengan semprit
10 ml dilakukan pengisapan.
26

Gambar 2. Kuldosentesis
Hasil:
a. Kuldosentesis yang positif, bila dikeluarkan berupa darah tua berwarna coklat
sampai hitam yang tidak membeku atau berupa bekuan-bekuan kecil.
b. Kuldosentesis yang negatif, bila yang ditemukan adalah cairan jernih yang
mungkin berasal dari cairan peritoneum normal atau kista ovarium yang
pecah; nanah yang mungkin berasal dari PID (nanah harus dikultur); darah
segar berwarna merah yang dalam beberapa menit akan membeku
c. Kuldosentesis yang non diagnostik, bila pada pengisapan tidak berhasil
4.

dikeluarkan darah atau cairan lain.


Sonografi
Diagnosis pasti apabila ditemukan kantong gestasi di luar uterus yang di

dalamnya tampak denyut jantung janin. Pada kehamilan ektopik terganggu sering
tidak ditemukan kantung gestasi ektopik. Gambaran yang tampak ialah cairan
bebas dalam rongga peritoneum terutama di Cavum Douglas. Tidak jarang
dijumpai hematokel pelvik sebagai suatu massa ekogenik di adneksa yang
dikelilingi daerah kistik dengan batas tepi yang tidak tegas.

27

Gambar 3. Sonografi Kehamilan Ektopik


5. Laparoskopi
Laparoskopi dapat membantu menegakkan diagnosis kehamilan tuba yang
belum terganggu yang hanya menunjukkan sedikit perubahan, baik mengenai
bentuk maupun warnanya. Adanya darah dalam rongga pelvis mungkin
mempersulit visualisasi alat kandungan, tetapi hal ini menjadi indikasi untuk
dilakukan laparotomi.
6.

Hasil Kuretase
Dipikirkan

suatu

kehamilan

ektopik

jika

hasil

kuretase

hanya

menunjukkan desidua. Meskipun demikian, ditemukannya endometrium dalam


fase sekresi, fase proliferasi, atau fase deskuamasi tidak dapat menyingkirkan
kemungkinan suatu kehamilan ektopik.
Tabel. Pemeriksaan untuk mendeteksi kehamilan ektopik
Uji Diagnostik

Sensitivitas

Spesifisitas (%)

(%)
USG transvaginal dengan kadar beta-hCG
> 1500 mIU per ml (1.500 IU per L)
Kadar beta-hCG tidak meningkat secara
tepat
Kadar

progesteron

membedakan

tunggal

kehamilan

ektopik

67-100
36

100 (virtual
certainly)
63-71

untuk
dan

15

nonektopik

28

Kadar

progesteron

tunggal

untuk

membedakan kegagalan kehamilan daru

95

40

kehamilan intrauterine yang mampu hidup


3.8

Di
ag
n
os
is
B
a
n
di
n
g

1. Salpingitis
Gejala yang menyertai infeksi pelvik biasanya timbul waktu haid dan jarang setelah
mengenai amenore. Nyeri perut bagian bawah dan tahanan yang dapat diraba pada
pemeriksaaan vaginal pada umumnya bilateral. Pada infeksi pelvik perbedaan
suhu rektal dan ketiak melebihi 0,5oC, selain itu leukositosis lebih tinggi daripada
kehamilan ektopik terganggu dan tes kehamilan menunjukkan hasil negatif.1,2
2. Abortus imminens atau abortus incompletus
Dibandingkan dengan kehamilan ektopik terganggu perdarahan lebih
merah sesudah amenore, rasa nyeri yang sering berlokasi di daerah median, dan
adanya perasaan subjektif penderita yang merasakan rasa tidak enak di perut lebih
menunjukkan ke arah abortus imminens atau permulaan abortus incipiens. Pada
abortus tidak dapat diraba tahanan di samping atau di belakang uterus, dan
gerakan servik uteri tidak menimbulkan rasa nyeri.1,2,3
3. Corpus luteum atau kista folikel yang pecah
4. Torsi kistoma ovarii

29

Gejala dan tanda kehamilan muda, amenore, dan perdarahan pervaginam


biasanya tidak ada. Tumor pada kista ovarium lebih besar dan lebih bulat dibanding
kehamilan ektopik terganggu.
5. Appendisitis
Pada apendisitis tidak ditemukan tumor dan nyeri pada gerakan serviks
uteri seperti yang ditemukan pada kehamilan ektopik terganggu. Nyeri perut
bagian bawah pada apendisitis terletak pada titik McBurney.2
6. AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
7. Gastroentritis
3.9

K
o
m
pl
ik
as
i

1.
2.

Pecahnya tuba falopi


Pada pengobatan konservatif, yaitu bila kehamilan ektopik terganggu
telah lama berlangsung (4-6 minggu), terjadi perdarahan ulang, Ini merupakan

indikasi operasi.
3.
Infeksi
4.
Sterilitas
5.
Komplikasi juga tergantung dari lokasi tumbuh berkembangnya
embrio

30

3.10 P
en
at
al
a
ks
a
n
aa
n
Dalam menangani kasus kehamilan ektopik, beberapa hal harus
diperlihatkan dan dipertimbangkan, yaitu: kondisi penderita, keinginan penderita
akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, kondisi anatomik organ
pelvis, kemampuan teknik bedah operator, dan kemampuan teknologi fertilisasi
invitro setempat.1
1. Perbaiki keadaan umum dengan memberikan cairan dan transfusi darah.
2. Pemberian cairan dilakukan untuk koreksi terhadap hipovolemia dan anemia.
3. Jika penderita

belum

mempunyai

anak,

maka

kelainan

tuba

dapat

dipertimbangkan untuk dikoreksi supaya tuba berfungsi dengan salpingostomi


(pada kehamilan di ampula dan infundibulum) atau reanastomosis tuba (pada
kehamilan di isthmus).
4. Jika penderita sudah memiliki anak cukup dan terdapat kelainan pada tuba
tersebut dapat dipertimbangkan untuk salfingektomi.
5. Kehamilan kornu dilakukan salfingooforektomi dan;
a. Histerektomi bila umur > 35 tahun.
b. Fundektomi bila masih muda untuk kemungkinan masih bisa haid.
c. Insisi bila kerusakan pada kornu kecil dan kornu dapat direparasi.
6. Salfingektomi dapat dilakukan dalam beberapa kondisi, yaitu:
a.

Kondisi penderita buruk, misalnya dalam keadaan syok.

b.

Kondisi tuba buruk, terdapat jaringan parut yang tinggi risikonya


akan kehamilan ektopik berulang.
31

c.

Penderita menyadari kondisi fertilitasnya dan menginginkan


fertilitasi invitro, maka dalam hal ini salfingektomi mengurangi risiko
kehamilan ektopik pada prosedur fertilisasi invitro.

d.

Penderita tidak ingin punya anak lagi.

7. Kehamilan

ektopik

terganggu

dini

yang

berlokasi

di

ovarium bila

dimungkinkan dirawat, namun apabila tidak menunjukkan perbaikan maka


dapat dilakukan tindakan sistektomi ataupun oovorektomi.
8. Kehamilan ektopik terganggu berlokasi di servik uteri yang sering
mengakibatkan perdarahan dapat dilakukan histerektomi
9. Apabila tindakan konservatif dipikirkan, maka harus dipertimbangkan:
a.

Kondisi tuba yang mengalami kehamilan ektopik, yaitu berapa


panjang bagian yang rusak dan berapa panjang bagian yang masih sehat,
berapa luas mesosalfing yang rusak, dan berapa luas pembuluh darah tuba

b.

yang rusak.
Kemampuan operator akan teknik bedah mikro dan kelengkapan
alatnya, oleh karena pelaksanaan teknik pembedahan harus sama seperti
pelaksanaan bedah makro.
Terapi medisinalis yang utama pada kehamilan ektopik adalah

methotrexate (MTX). Methotrexate merupakan analog asam folat yang akan


mempengaruhi sintesis DNA dan multiplikasi sel dengan cara menginhibisi kerja
enzim dihydrofolate reduktase. MTX ini akan menghentikan proliferasi trofoblas.
Pemberian MTX dapat secara oral, sistemik iv, im atau injeksi lokal
dengan panduan USG atau laparoskopi. Regimen yang dipakai saat ini adalah
dengan pemberian dosis tungal MTX 50 mg/m2 luas permukaan tubuh.
Sebelumnya, penderita diperiksa dulu kadar hCG, fungsi hepar, kreatinin,
golongan darah. Pada hari ke-4 dan ke-7 setelah pemberian MTX kadar hCG
diperiksa kembali.
Bila kadar hCG berkurang 15% atau lebih, dari kadar yang diperiksa pada
hari ke-4 maka MTX tidak diberikan lagi dan kadar hCG diperiksa setiap minggu
sampai hasilnya negatif atau evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan USG
transvaginal setiap minggu. Bila kadar hCG tidak berkurang atau sebaliknya

32

meningkat dibandingkan kadar hari ke-4 atau menetap selama interval setiap
minggunya, maka diberikan MTX 50 mg/m2 kedua.
Kontraindikasi pemberian MTX absolut adalah ruptur tuba, adanya
penyakit ginjal atau hepar yang aktif. Sedangkan kontraindikasi relatif adalah
nyeri abdomen, FHB (+).
10. Tindakan laparatomi dapat dilakukan pada ruptur tuba, kehamilan dalam
divertikulum uterus, kehamilan abdominal, dan kehamilan tanduk rudimenter.
Perdarahan sedini mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksia
yang menjadi sumber perdarahan. Keadaan umum penderita terus diperbaiki
dan darah dari rongga abdomen sebanyak mungkin dikeluarkan serta
memberikan transfusi darah.
11. Untuk kendali nyeri pasca tindakan, dapat diberikan:
a. Ketoprofen 100 mg supositoria
b. Tramadol 200 mg iv
12. Atasi anemia dengan tablet besi, sulfas ferrous 600 mg per hari.
13. Konseling pasca tindakan, antara lain berisi:
a.
b.
c.
d.
e.

Kelanjutan fungsi reproduksi


Risiko hamil ektopik ulangan
Kontrasepsi yang sesuai
Asuhan mandiri selama di rumah
Jadwal kunjungan ulang
3.11 Pr
og
n
os
is
Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung menurun dengan

diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup tetapi bila pertolongan terlambat
angka kematian dapat meningkat.1,2
Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat
bilateral. Sebagian wanita setelah mengalami kehamilan ektopik pada satu tuba,
dapat mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain. Ruptur dengan
perdarahan intraabdominal dapat mempengaruhi fertilitas wanita. Dalam kasus33

kasus kehamilan ektopik terganggu terdapat 50-60% kemungkinan wanita


steril.1,3,4
Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan antara 0-14,6%. Ibu
yang pernah mengalami kehamilan ektopik terganggu mempunyai risiko 10%
untuk terjadinya kehamilan ektopik terganggu berulang. Ibu yang sudah
mengalami kehamilan ektopik terganggu sebanyak dua kali terdapat kemungkinan
50% mengalami kehamilan ektopik terganggu berulang. Untuk wanita dengan
anak yang sudah cukup sebaiknya pada operasi dilakukan salfingektomi bilateral.
Dengan sendirinya hal ini perlu disetujui untuk suami istri sebelumnya.2,4

BAB 4
PEMBAHASAN
Ny H, 29 tahun, masuk rumah sakit pada tanggal 11 September 2014
dengan keluhan nyeri perut bagian bawah disertai keluar flek-flek dari jalan lahir.
Pasien mengeluhkan adanya nyeri perut bagian bawah sejak 5 hari SMRS. Pasien
juga mengeluhkan adanya keluar darah berupa flek-flek dari jalan lahir dan sejak
2 hari SMRS darah yang keluar bertambah banyak. Pasien saat ini hanya
mengeluhkan pusing (+), mual (-), muntah (-) dan nyeri ulu hati (-).
34

Berdasarkan anamnesis, perlu dicurigai penyebab nyeri perut pada


kehamilan trimester pertama. Adapun diagnosis banding nyeri perut pada saat
kehamilan adalah kehamilan ektopik, aborsi, appendisitis akut, dan kista ovarium
terpuntir. Akan tetapi, tidak ditemukan riwayat mual dan muntah sehingga
appendisitis dapat disingkirkan dari penyebab kasus ini.1,3
Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan obstetri. Pada
pemeriksaan luar, didapatkan abdomen tegang, simetris, tinggi fundus uteri tak
teraba, massa (-), Nyeri tekan perut bagian bawah (+), nyeri lepas (+), nyeri tekan
Mc Burney (-). Pemeriksaan vaginal toucher menunjukan hasil mukosa vagina
licin, portio lunak, pembukaan (-), nyeri goyang portio (+), korpus uteri sulit
dinilai, parametrium kiri nyeri, kavum douglass tidak menonjol.1,2,3
Dari pemeriksaan fisik tersebut dapat disingkirkan beberapa diagnosis.
Massa tidak ditemukan pada pemeriksaan sehingga diagnosis kista ovarium
terpuntir dapat disingkirkan. Pada abortus, tidak dapat diraba tahanan di samping
atau di belakang uterus dan tidak ada nyeri goyang portio sehingga abortus juga
disingkirkan. Kemungkinan penyebab nyeri Ny. H adalah kehamilan ektopik
karena nyeri goyang portio merupakan salah satu temuan khas pada pemeriksaan
fisik kehamilan ektopik. Pada kehamilan ektopik didapatkan Kavum dauglass
yang menonjol akibat adanya penumpukan darah . Kuldosintesis pada kasus ini
tidak dilakukan karena diagnose sudah ditegakkan dengan USG. Pada
pemeriksaan kuldosintesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui
apakah dalam kavum Douglas ada darah atau tidak. Darah tua berwarna coklat
sampai hitam yang tidak membeku atau yang berupa bekuan kecil-kecil, darah ini
menunjukkan adanya hematokel retrouterina tanda khas pada kehamilan
ektopik.1,4
Pada kasus ini, pasien mengarah ke kehamilan ektopik terganggu karena
sesuai dengan trias KET, yaitu nyeri perut bagian bawah, keluar perdarahan atau
bercak, dan amenorea. Nyeri perut disebabkan karena darah yang keluar ke dalam
kavum peritoneum yang menyebabkan iritasi peritoneum dan menimbulkan rasa
nyeri. Perdarahan per vaginam menunjukkan kematian janin dan berasal dari
kavum uteri karena pelepasan desidua. Perdarahan yang berasal dari uterus
biasanya tidak banyak dan berwarna coklat tua. Frekuensi perdarahan dikemukan
35

dari 51 hingga 93 %. Perdarahan berarti gangguan pembentukan human chorionic


gonadotropin. Jika plasenta mati, desidua dapat dikeluarkan seluruhnya.
Amenorrhea merupakan juga tanda yang penting pada kehamilan ektopik.
Lamanya amenorea tergantung pada kehidupan janin, sehingga dapat bervariasi.
Sebagian penderita tidak mengalami amenorea karena kematian janin terjadi
sebelum haid berikutnya.1
Pada pemeriksaan USG didapatkan kesan kehamilan ektopik terganggu.
Ultrasonagrafi berguna dalam diagnositik kehamilan ektopik. Diagnostik pasti
ialah apabila ditemukan kantong gestasi di luar uterus yang di dalamnya tampak
denyut jantung janin.1
Faktor risiko terjadinya kehamilan ektopik pada kasus ini adalah
penggunaan kontrasepsi suntik. Komponen kontrasepsi salah satunya adalah
progesteron yang dapat mengganggu pergerakan sel rambut silia di saluran tuba
yang membawa sel telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi ke dalam
rahim.1,2
Penatalaksanaan kasus secara umum adalah dengan restorasi cairan tubuh
dengan pemberian cairan intrvena, pemberian antibiotic ceftriaxone 2x1 gr untuk
mencegah infeksi. Karena kasus ini sudah memasuki kehamilan ektopik
terganggu, maka perlu dilakukan tindakan bedah secepat mungkin. Tindakan
pembedahan

berupa

pembedahan

radikal

berupa

salpingektomi

dengan

laparotomi. Salpingektomi dilakukan pada keadaan-keadaan berikut: 1) kehamilan


ektopik mengalami rupture atau terganggu, 2) pasien tidak menginginkan fertilitas
pasca operatif, 3) terjadi kegagalan sterilisasi, 4) telah dilakukan rekonstruksi atau
manipulasi tuba sebelumnya, 5) pasien meminta sterilisasi, 6) perdarahan
berlanjut pascasalpingotomi, 7) kehamilan tuba berulang, 8) kehamilan
heterotopik, dan 9) massa gestasi lebih dari 5 cm.1,2
Prognosis ibu quo ad vitam and functionam dubia ad bonam. Sebagian
wanita setelah mengalami kehamilan ektopik pada satu tuba, dapat mengalami
kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain. Ruptur dengan perdarahan
intraabdominal dapat mempengaruhi fertilitas wanita. Dalam kasus-kasus
kehamilan ektopik terganggu terdapat 50-60% kemungkinan wanita steril. Angka
kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan antara 0-14,6%.1
36

DAFTAR PUSTAKA
1. Prof. dr. Hanifa W, dkk., IlmuKebidanan, Edisi kedua, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1992, Hal. 323-334.
2. Paraton H. dkk, Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kebidanan dan Penyakit
Kandungan, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 2008, Hal. 58-64
3. Prof. dr. Hanifa W. DSOG, dkk, Ilmu Kandungan,Edisi kedua, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1999, Hal 250-255.
37

4. Arif M. dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 2001. Hal. 267-271.
5. Prof. Dr. Rustam. M, MPH, Sinopsis Obstetri, Jilid 1, Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Hal.226-235.
6. Dr. I. M. S. Murah Manoe, SpOG, dkk, Pedoman Diagnosa Dan Terapi
Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, 1999.
Hal. 104-105.
7. www.medica store.com/kehamilan ektopik/page:1-4
8. Anthonius Budi. M, Kehamilan Ektopik, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta, 2001.

38