Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tinea

adalah

penyakit

pada

jaringan

yang

mengandung

zat

tanduk,misalnya lapisan teratas pada kulit pada epidermis, rambut, dan kuku, yang
disebabkan golongan jamur dermatofita (jamur yang menyerang kulit). Tinea
kruris sendiri merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur pada daerah
genitokrural

(selangkangan),

sekitar

anus,

bokong

dan

kadang-kadang

sampaiperut bagian bawah.(Anonim, 2008).


Dermatomikosis cukup banyak diderita penduduk negara tropis.Di
Indonesia angka yang tepat, berapa sesungguhnya insidensi dermatomikosis
belum ada.Penelitian di Denpasar menunjukkan penyakit ini menempati urutan
kedua setelah dermatitis. Angka insidensi tersebut diperkirakan kurang lebih sama
dengan dikota-kota besar Indonesia lainnya. Di daerah pedalaman angka ini
mungkin akan meningkat dengan variasi penyakit yang berbeda. Inidensi yang
terjadi di rumah sakit pendidikan bervariasi antara 2,93%-27,6%; angka ini
mungkin

belum

merupakan

insidensi

populasi

di

Indonesia.

Spesies

dermatofitosis yang paling banyak diisolasi adalah T.rubrum (Adhiguna, 2004).


Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja antara lain
faktor fisik, faktor kimia, dan faktor biologis. Lingkungan kerja ataupun jenis
pekerjaan

dapat

menyebabkan

penyakit

akibat

kerja.Faktor-faktor

yang

memegang peranan untuk terjadinya dermatomikosis adalah iklim yang panas,


higiene (kebersihan diri) masyarakat yang kurang, adanya sumber penularan di
sekitarnya, penggunaan obat-obatan antibiotik, steroid dan sitostatika yang
meningkat, adanya penyakit kronis dan penyakit sistemik lainnya. (Adhiguna,
2001).
Keadaan sosial ekonomi serta kurangnya kebersihan memegang peranan
yang penting pada infeksi jamur, yaitu insiden penyakit jamur lebih sering terjadi
pada sosial ekonomi rendah. Hal ini berkaitan dengan status gizi yang

mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang terhadap penyakit, Lingkungan kerja


merupakan tempat yang potensial mempengaruhi kesehatan pekerja, sehingga
dapat disimpulkan bahwa tinea adalah penyakit yang di sebabkan oleh
dermatofit,yang menyerang pada lapisan teratas dari kulit(epidermis). Penyakit
tinea ini juga di pengaruhi kebiasaan pola hidup yang tidak bersih. Penyakit ini
sering di sepelekan oleh masyarakat,untuk itu perlu di berikan beberapa informasi
agar penderita tidak terlalu meremehkan dan dapat mengetahui berbagai upaya
untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi yang lain.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi tinea?
2. Apa manifestasi klinis tinea?
3. Apa etiologi dari tinea?
4. Apa patofisiologi tinea?
5. Bagaimana woc tinea?
6. Bagaimana pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan tinea?
7. Bagaimana askep penyakit tinea?
1.3 Tujuan
.3.1
Tujuan umum
Mahasiswa mampu menjelaskan askep tinea
.3.2
Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui konsep dasar tinea
2. Untuk mengetahui pemeriksaan dan penatalaksanaan tinea
.4 Manfaat
1. Agar mahasiswa mengetahui konsep dasar
2. Agar mahasiswa mengetahui pemeriksaan dan penatalaksanaan penyakit
tinea
3. Agar mahasiswa mengetahui askep tinea

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Tinea
Tinea adalah salah satu penyakit kulit yang di sebabkan oleh jamur.Jamur
yang berperan dalam penyakit tinea adalah dermatofita. Dermatopita

merupakan sekelompok jamur miselium yang menginfeksi keratin stratum


korneum,rambut dan kuku.(chadrasoma,2006).
Tinea adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk,
misalnya lapisan teratas pada kulit pada epidermis ,rambut, dan kuku yang di
sebabkan golongan jamur dermatofita (jamur yang menyerang kulit).(Adhi
Djuanda,2000)
Tinea yang merupakan salah satu dermatosis adalah infeksi fungus
superficial pada kulit yang di sebabkan oleh spesies dermatofilia
micosforum,epidermophyton atau trycospiton.
Dermatofitosis (Tinea) adalah infeksi jamur dermatofit (species microsporum,
trichophyton, dan epidermophyton) yang menyerang epidermis bagian
superfisial (stratum korneum), kuku dan rambut. Microsporum menyerang
rambut

dan

kulit. Trichophyton menyerangrambut,kulitdan

kuku. Epidermophyton menyerang kulit dan jarang kuku (Sutomo, 2007).


Infeksi jamur di daerah superficial pada kulit biasanya disebut dengan
dermatophytosis atau biasanya, kurap. Infeksi jamur terjadi ketika rentan
adanya kontak host yang datang dengan organisme. Organisme dimana adanya
transmisi langsung dengan kontak pada binatang atau infeksi pada orang lain
atau dengan benda mati seperti pada sisir, sarung bantal, handuk dan topi.
.2 Manifestasi klinis
Tinea cenderung membentuk ruam kemerahan atau kecoklatan yang berpola
seperti cincin di sekeliling kulit normal.Infeksi ini biasanya tidak serius, tetapi
dapat merusak penampilan dan membuat rasa gatal yang tidak nyaman.Jika
seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah karena kondisi medis seperti
HIV atau kanker, infeksi jamur mungkin lebih parah.Gejala tinea tergantung pada
daerah tubuh yang terkena:
a. Tinea barbae (jenggot)
Tinea barbae terbatas di wilayah janggut dan leher dan umumnya hanya
menjangkiti pria remaja dan dewasa.Presentasi klinis t
inea barbae termasuk inflamasi, plak dalam dan bercak dangkal tanpa
peradangan yang menyerupai tinea corporis.
3

b. Tinea capitis (kepala)


Dermatofitosis ini biasanya menyerang anak-anak usia 3-7 tahun,
kebanyakan pada anak laki-laki. Selain menimbulkan bercak merah di
kepala dan rasa gatal, tinea capitis dapat menyebabkan pengelupasan kulit
kepala yang merontokkan rambut. Ada tiga jenis tinea capitis, yaitu:
1) Ectothrix yang merusak kutikula rambut. Rambut yang terinfeksi biasanya
berpendar kuning cerah kehijauan di bawah sinar ultraviolet karena adanya
fosfor.
2) Endothrix yang mengisi batang rambut dengan cabang (hifa) dan
sporanya. Jenis ini tidak merusak kutikula rambut.
3) Favus yang menghasilkan kerak kuning dan kerontokan rambut.
c. Tinea corporis (tubuh)
Tinea corporis membentuk lesi kulit yang memiliki plak bersisik
melingkar dengan tepi menonjol.Orang awam menyebutnya
panu.Biasanya lesi menyebar pada kulit badan, lengan, dan kaki.
d. Tinea cruris (pangkal paha/selangkangan)
Tinea cruris membentuk ruam yang dimulai pada daerah selangkangan,
terutama di lipatan antara bagian atas paha dan alat kelamin.Ruam ini
gatal, memiliki perbatasan merah, dan bisa menyebar.Ruam seringkali
menyebar ke bagian dalam kedua paha.Infeksi dapat menyebar ke kulit
bagian lain dari tubuh (atau mungkin pertama kali dimulai pada daerah
lain, seperti kaki).
e. Tinea faciei (wajah)
Tinea feciei hanya menyerang wajah.Gejala tinea faciei termasuk bercak
bulat kemerahan yang gatal dan terlihat menonjol dan kasar, memiliki
batas bersisik dan mungkin tampak lebih gelap dari kulit di sekitarnya.
4

f. Tinea manuum (tangan)


Tinea manuum biasanya bersamaan dengan tinea pedis dan hanya
mempengaruhi satu tangan.Lesinya kemerahan dan menonjol.
g. Tinea pedis (kaki)
Disebut juga penyakit kaki atlet (atheletes foot), tinea pedis memengaruhi
sela-sela jari kaki sehingga terasa gatal, terbakar dan pecah-pecah.Tanpa
perawatan, kaki atlet bisa memburuk dan menyebabkan kulit mengelupas.
h. Tinea unguium (kuku)
Infeksi jamur ini sering mempengaruhi kuku jempol kaki.Tinea unguium
atau dermatofit onikomikosis dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis
utama, yaitu yang non-invasif atau terbatas pada retakan/lubang pada
permukaan kuku dan yang invasif menyerang dari pinggir kuku sampai ke
seluruh lempeng kuku, menyebabkan penebalan dan perubahan warna
kuku menjadi kekuningan.Onkolisis atau pemisahan kuku dari kuku sering
terjadi.Jamur kuku ini cenderung lebih umum pada orang yang memiliki
kaki atlet untuk beberapa lama.
.3 Etiologi
Epidermophyton, trichophyton, microsporum, dan C. albicans yang ditularkan
secara kontak langsung atau tidak langsung. (Siregar, 2005)
.4 Patofisiologi
Cara penularan jamur dapat secara langsung maupun tidak langsung.Penularan
lansung dapat secara fornitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari
manusia, binatang, atau tanah.Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman
kayu yang dihinggapi jamur dan pakaian debu.Agen penyebab juga dapat
ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk atau sprei penderita atau
autoinokulasi dari tinea pedis, tinea inguium, dan tinea manum.Jamur ini
menghasilkan keratinisase yang mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan
invasi ke sratum korneum.Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabangcabangnya di dalam jaringan keratin yang mati.Hifa ini menghasilkan enzim

keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan jaringan


peradangan.Pertumbuhannya

dengan

pola

radial

di

stratum

korneum

menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi.Reaksi
kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan.
Beberapa factor yang mempengaruhi timbulnya kelainan di kulit adalah
a. Faktor virulensi dari dermatofita
Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik,
zoofilik, geofilik. Selain afinitas ini massing-masing jamur berbeda pula satu
dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian
dari tubuh misalnya: Trichopyhton rubrum jarang menyerang rambut,
Epidermophython fluccosum paling sering menyerang liapt paha bagian
dalam.
b. Faktor trauma
Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.
c. Faktor suhu dan kelembapan
Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada
lokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela
jari paling sering terserang penyakit jamur.
d. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat
insiden penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah
sering ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik
e. Faktor umur dan jenis kelamin (Boel, Trelia.Drg. M.Kes.2003)
2.5 WOC
TERLAMPIR
2.6 Komplikasi
1. Selulitis .Infeksi tinea pedis, terutama tipe interdigital dapat mengakibatkan
selulitis. Selulitis dapat terjadi pada daerah ektermitas bawah. Selulitis merupakan
infeksi bakteri pada daerah subkutaneus pada kulit sebagai akibat dari infeksi
sekunder pada luka. Faktor predisposisi selulitis adalah trauma, ulserasi dan
penyakit pembuluh darah perifer. Dalam keadaan lembab, kulit akan mudah
terjadi maserasi dan fissura, akibatnya pertahanan kulit menjadi menurun dan
menjadi tempat masuknya bakteri pathogen seperti -hemolytic streptococci
6

(group A, B C, F, and G), Staphylcoccus aureus, Streptococcus pneumoniae, dan


basil gram negatif.(4,12) Apabila telah terjadi selulitis maka diindikasikan
pemberian antibiotik. Jika terjadi gejala yang sifatnya sistemik seperti demam dan
menggigil, maka digunakan antibiotik secara intravena. Antibiotik yang dapat
digunakan berupa ampisillin, golongan beta laktam ataupun golongan kuinolon.
(14)

2 Tinea Ungium. Tinea ungium merupakan infeksi jamur yang menyerang kuku
dan biasanya dihubungkan dengan tinea pedis. Seperti infeksi pada tinea pedis, T.
rubrum merupakan jamur penyebab tinea ungium. Kuku biasanya tampak
menebal, pecah-pecah, dan tidak berwarna yang merupakan dampak dari infeksi
jamur tersebut. (12)
3.

Dermatofid. Dermatofid juga dikenal sebagai reaksi id, merupakan suatu


penyakit imunologik sekunder tinea pedis dan juga penyakit tinea lainnya. Hal ini
dapat menyebabkan vesikel atau erupsi pustular di daerah infeksi sekitar palmaris
dan jari-jari tangan. Reaksi dermatofid bisa saja timbul asimptomatis dari infeksi
tinea pedis. Reaksi ini akan berkurang setelah penggunaan terapi antifungal.

(12,13)

Komplikasi ini biasanya terkena pada pasien dengan edema kronik, imunosupresi,
hemiplegia dan paraplegia, dan juga diabetes. Tanpa perawatan profilaksis penyakit
ini dapat kambuh kembali.
2.7 Pemeriksaan penunjang dan Penatalaksanaan
2.7.1 Pemeriksaan penunjang
a. Diagnostic test
1. Kultur dari kulit yang dikerok, kuku di dikerok atau di rambut
2. Pengujian dengan mikroskop, dengan cara pengambilan lesi dengan cara
dikerok. Hasil kerokan lalu disiapkan dengan larutan 10% potassium hydroxide
(KOH) untuk mengetahui adanya spora dan filaments (hyphae) dari jamur.
3. Observasi pada kulit dengan menggunakan sinar ultraviolet (woods lamp).
Jika ada jamur spora akan dikuti dengan fluoresce berwarna biru-hijau.
2.7.2 Penatalaksanaan
Infeksi jamur di kulit dapat diatasi dengan topical atau pengobatan sistematik anti
jamur.Implikasi keperawatan untuk pengobatan antijamur dengan ditunjukkan
pada pengobatan yang terdaftar.
a. Tinea capitis
Mencuci rambut dengan shampoo dua sampai tiga kali dalam seminggu.
Penggunaan topical antijamur dapa membuat tidak aktifnya organisme di
7

rambut. Dan memerlukan griseofulvin(fulvicin), sebuah agent anti jamur,


Preparat topical tidak dapat menyembuhkan namun dapat di pakai untuk
menghilangkan keaktifan mikroorganisme yang sudah terdapat pada rambut.
b. Tine pedis
Diatasi dengan merendam kaki di larutan burrows, larutan potassium
permanganate atau larutan salin yang dapat menghilangkan crusts dan scales.
Anti jamur topical digunakan didaerah yang terinfeksi beberapa minggu.
c.

tinea kruris
Menggunakan terapi topical selama tiga sampai empat minggu.Infeksi
yang ringan dapat diobati dengan preparat topical seperti klotrimazol,
mikonazol atau haloprogin selama sedikitnya 3 hingga 4 minggu untuk
memastikan eradikasi total infeksi tersebut.Preparat griseofulvin oral
diperlukan untuk infeksi yang lebih parah.Beberapa kasus dapat
menggunakan obat oral griseofulvin.

d. Tinea korporis (penyakit jamur badan)


Preparat

antifungus

topical

dapat

dioleskan

pada

lokasi

yang

sempit.Preparat griseofulvin oral di berikan pada kasus infeksi jamur yang


luas. Efek samping griseofulvin mencakup fotosensitivitas, ruam kulit , sakit
kepala dan ual. Ketokonazol yaitu suatu prefarat antifungus, memberikan
harapan yang nyata bagi pasien yang menderita infeksi jamur(dermatofit)
yang kronik, termasuk pasien yang resisten terhadap griseofulvin.
e. Tinea unguium (onikomikosis)
Griseofulvin biasanya diresepkan dokter sebagai preparat oral yang
diminum selama 6 bulan hingga 1 tahun kalau kuku jari tangan turut
terkena.Namun, griseofulvin tidak berkhasiat untuk mengobati infeksi
kandida; infeksi ini harus di obati secara topical dengan ltion amfoterisin-B,
mikonozal ataupun preparat lainnya.

Jamur( Tricopyton rubrum,Tricopyton mentagrophytes )


Jamur(Tricopyton rubrum,Tricopyton mentagrophytes)

dermatofitosis

Dermatofitosis

Tinea korporis
corporis
Tinea

Bercak berbagai
bentuk anular,bulat,lonjong
Bercak berbagai bentuk
anular,bulat,lonjong

lesi

lesi

gatal

gatal
9

Bau

garuka

garukan
n

Gangguan
citra tubuh

Erosi

Gangguan
pola tidur

erosi dan krusta

Kemerahann
kemerahan
Kerusakan integritas
kulit

BAB 3
TINJAUAN MATERI
DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
STIKES HANG TUAH SURABAYA

A. Pengkajian Keperawatan Medikal Bedah


Waktu pengkajian
:08 april 2014
Waktu MRS
: 08 april 2015
Ruang/ kelas
:poli kulit
xx
Diagnosa Medis
1. Identitas
Nama
Jenis Kelamin
Umur

No RM

:23-xx-

: Tinea fasialis
: Tn. M
: Laki-laki
: 45 tahun

Suku Bangsa : Jawa


Pendidikan
: SMA

10

Pekerjaa
Agama
Status
Alamat

: Pensiunan sopir
: Islam
: Menikah
: Surabaya

Pgg jwb

: Istri

2. Riwayat Sakit dan Kesehatan


a. Keluhan Utama
Bercak bercak merah yang gatal di pipi kiri sejak 1 bulan SMRS
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh bercak merah yang sangat gatal pada pipi kiri sejak 1
bulan SMRS. Gatal di rasakan bertambah hebat saat cuaca panas dan
berkeringat. Sebelumnya, pasien telah berobat beberapa kali ke dokter
umum dan di berikan obat minum,krim dan salep racikan juga di
anjurkan oleh dokter mengganti sabun mandi dengan sabun
antiseptik,namun gatal tidak sembuh. Bercak merah tersebut juga di
rasakan makin bertambah besar seiring waktu. Pasien sehari hari
bekerja di dalam rumah membuka warung yang menurut pasien cukup
pengap dan panas sehingga pasien banyak berkeringat. Pasien
memiliki kebiasaan mandi dua kali sehari dengan air dingin dan sabun
antiseptik. Pasien memiliki riwayat alergi udang tetapi pasien sudah
sejak lama tidak makan udang lagi.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat sakit kuning di sangkal.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami penyakit yang
sama seperti pasien.
e. Genogram : (minimal 3 generasi)
Tn S meninggal(72 th) Ny. L meninggal(68 th) Tn G meninggal

Ny.R (70th)

Ny. B(43 th)


Pasien (45 th)

An T 21 th An Y15th An D 8th An W 5th

11

:meninggal
:pasien
:

Laki laki

:Perempuan

f. Riwayat alergi: Pasien memiliki riwayat alergi udang.


3. Observasi dan Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
: Normal
Kesadaran
: Composmetis
Tanda-Tanda vital
TD: 110/80mmHg,Frekuensi Nadi: 85x/menit, Frekuensi
Pernapasan:18x/menit, suhu febris
Antropometri
TB
:168 cm
BB SMRS
Stlh MRS

BB

:60 Kg

4. B1 Pernafasan (Breath)
Bentuk Dada : normo chest
Otot bantu nafas tambahan :tidak ada
Irama nafas :reguler
Pola nafas
:reguler
ada
Suara nafas

: 61 Kg

:tidak ada

Pergerakan
:simetris
Jika ada, jelaskan:tidak ada
Kelainan
:tidak ada
Taktil/ Vocal fremitus:tidak
Suara nafas tambahan:tidak

ada
Sesak nafas :vesikuler
Batuk :tidak ada
Sputum
:tidak ada
Warna: tidak ada
Ekskresi:tidak ada
Sianosis
:tidak ada
jika ada, lokasi:tidak ada
Kemampuan akativitas:Masalah Keperawatan: (Jika ada, sebutkan)
Tidak ada
5. B2 Kardiovaskuler (Blood)
Ictus cordis : ics 5 line mid klavikula sinistra
Irama jantung :reguler
Nyeri dada :tidak ada
jika ya, jelaskan (PQRST):tidak ada
Bunyi jantung:s1-s2 normal
CRT
:<2 detik
Oedema
:tidak ada

Bunyi jantung tambahan:Akral:hangat


Jika ya, jelaskan:tidak ada
12

Hepatomegali:tidak ada
Perdarahan
:tidak ada
Masalah Keperawatan: (Jika ada, sebutkan)
Tidaka ada
6. B3 Persarafan (Brain)
GCS Eye :4
Verbal :5
Total:15
Refleks Fisiologis
Biceps: (-)
Refleks Patologis:
Kaku Kuduk : (-)

Triceps: (-)

Motorik:6

Patella: (-)

Bruzinski I: (-)

Bruzinski II:

(-)Kernig: (-)
Nervus Kranial
NI
NII
NIII
NIV
NV

: pasien dapat mencium benda yang baunya mudah di kenal


:pasien dapat melihat dengan normal
:pupil pasien normal terhadap cahaya
:pasien dapat melihat objek <60 sejajar midline mata
:pasien dapat mengunyah dengan baik,pasien dapat mengedipkan

mata dengan baik.


NVI :pasien dapat melirik ke kiri dan ke kanan
NVII :pasien dapat meraskan sensasi rasa terhadap asem,manis,asin dan
pahit
NVIII :pasien dapat berjalan lurus dengan seimbang
NIX :pasien dapat mengecap pada 1/3 posterior lidah
NX :pasien dapat menelan dengan baik
NXI :pasien dapat mengangkat dengan bahu dan pemeriksa berusaha
menahan
NXII :pergerakan lidah pasien saat bicara dan menelan normal
Nyeri Kepala : tidak ada
Jika ya, jelaskan: tidak ada
Paralisis
Penciuman

: tidak ada
: tajam

Bentuk Hidung :simetris


Septum
: tepat di tengah
Polip
: tidak ada
Kelainan
: tidak ada
Wajah & penglihatan
Mata

: simetris

Kelainan

: tidak ada

Pupil

: isokor

Refleks

: tidak ada

Konjungtiva

: tidak anemis

Gangguan

: pola tidur

13

Skelera

: tidak ikterik

Gangguan

: pola tidur

Visus

: normal

Pendengaran
Telinga: normal

Kelainan

: tidak ada

Kebersihan

: bersih

Gangguan

: tidak ada

Alat bantu

: tidak ada

Kebersihan

: bersih

uvula

: normal

Palatum

: normal

kesulitan telan: tidak ada

Afasia

: tidak ada

Lidah

Masalah Keperawatan: (Jika ada, sebutkan)


Gangguan pola tidur
7. B4 Perkemihan (Blader)
Kebersihan : bersih
ada
Kandung Kemih: tidak ada distensi
ada
Eliminasi uri SMRS frek: 4 kali sehari

Ekskresi

: tidak

Nyeri Tekan

: tidak

Jumlah : 400

cc
Warna: kuning jrnih
Eliminasi uri MRS frek:Warna: tidak ada
Alat bantu
: tidak ada
Gangguan
: tidak ada

jumlah

: tidak ada

Masalah Keperawatan: (Jika ada, sebutkan)


Tidak ada
8. B5 Pencernaan (Bowel)
Mulut : bersih

Membra mukosa:

lembab
Gigi/ gigi palsu: tidak ada
Diit (makan&minum) SMRS: normal
Diit di RS

diit: normal

Nafsu makan : baik


Muntah
: tidak ada
Jenis
: nasi

Faring : normal

Frekuensi: 3 kali sehari


Mual: NGT:

14

Porsi
: 1 porsi
Frekuensi Minum: 6 kali sehari
Jumlah: kurang lebih 2000cc/hari
Jenis: air mineral
Abdomen
Bentuk perut : simetris
Peristaltik: normal >35 kali permenit
Kelainan Abd: tidak ada
Hepar
: tidak teraba
Lien
: tidak teraba
Nyeri abdomen: (jika ya, jelaskan PQRST)
Rectum dan anus
Hemoroid: tidak ada
Eliminasi alvi SMRS
Frekuensi: 1 kali sehari

Warna: coklat

Konsistensi: lembek
Eliminasi alvi MRS
Frekuensi: -

Warna: -

Konsistensi:-

Colostomi: -

Masalah Keperawatan: (Jika ada, sebutkan)


Tidak ada
9. B6 Muskuluskeletal & Integumen (Bone)
Rambut dan kulit kepala
Skabies:
Warna kulit: kemerahan,eritema
Kuku: bersih
Turgor kulit: kering
ROM: aktif

Jika terbatas, pada sendi:


55555

5555

5555

5555

Kekuatan Otot:

Deformitas: ada lesi


Fraktur:tidak ada

jika ya, sebutkan (close/open)

Lain-lain: lesinya berbau


Masalah Keperawatan: (Jika ada, sebutkan)
Resiko kerusakan integritas kulit

15

Gangguan citra tubuh


10. Endokrin
Pembesaran KGB
Hiperglikemia
Hipoglikemia
DM

: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada

Masalah Keperawatan: (Jika ada, sebutkan)


11. Seksual Reproduksi
Menstruasi terakhir : Masalah menstrusi : Pap smear terakhir
:Pemeriksaan payudara/ testis sendiri tiap bulan
Masalah seksual yang berhubungan dengan penyakit

::-

Masalah Keperawatan: (Jika ada, sebutkan)


12. Kemampuan Perawatan Diri
Aktivitas
Mandi
Berpakaian/ dandan
Toileting/ eliminasi

SMRS
1
1
1

MRS
1
1
1

1
1
1
1

1
1
1
1

Mobilitas di tempat tidur


Alat bantu berupa
Berjalan
Naik Tangga
Berbelanja
Memasak
Pemeliharaan rumah
Berpindah
Keterangan
Skor

1:

Mandiri

2:

Alat bantu

3:

Dibantu orang lain dan alat

4:

Tergantung/ tdk mampu

Masalah Keperawatan: (Jika ada, sebutkan)


13. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Tgl pemeriksaan:08 april 2015
Kerokan kulit KOH, di temukan hifa panjang dan spora

16

No
1
2 dst

Jenis Pemeriksaan

Hasil (satuan)

Nilai Normal (satuan)

Photo:
Lain-lain

Terapi/ Tindakan Lain-lain:


Tgl:
No
1

Nama Obat
Ketokonazole

Dosis
200 mg

Rute

fungi sistemik

Dewasa: 1

mucocutaneous

tablet 200 mg

candidiasis yang kronis,

sehari (dosis

oral thrush, candiduria,

tunggal)

Indikasi
Untuk pengobatan infeksi

blastomycosis,
coccidiodomycosis,

Anak-anak: 3,3-

histoplasmosis,

6,6 mg/kg BB

chromomycosis, dan

sehari dalam

paracoccidiodomycosis.

dosisi yang
terbagi.

Infeksi pada kulit, rambut


dan kuku (kecuali kuku
kaki) yang disebabkan
oleh dermatofit dan atau
ragi (dermatofitosis,
onikomikosis, Candida
perionixis, pitiriasis
versikolor, pitiriasis
kapitis, infeksi
pitirosporum, folikulitis,
kandidosis kronik
17

mukokutan), bila infeksi


ini tidak dapat diobati
secara topikal karena
tempat lesi tidak di
permukaan kulit atau
kegagalan pada terapi
topikal.

Infeksi ragi pada rongga


pencernaan.

Kandidosis vagina kronik


dan kandidosis rekuren.

Infeksi mikosis sistemik


seperti kandidosis
sistemik,
parakokidioidomikosis,
histoplasmosis,
kokidioidomikosis,
blastomikosis.

Pengobatan profilaksis
pada pasien yang
mekanisme pertahanan
tubuhnya menurun
(keturunan, disebabkan
penyakit atau obat) yang
berhubungan dengan
meningkatnya risiko

Griseofulvin

0,5-1 mg

infeksi jamur.
reakasi fotosensitifitas pada kulit

18

orang dewasa dan 0,25


-0,5 gram untuk anakanak sehari atau 10-25
mg/ kg BB

Surabaya, 11 Desember 2014


Ttd perawat

B. Analisa Data (Diagnosa Keperawatan)


No
1

Data (Symptom)
Ds: px mengatakan mengeluh

Penyebab (Etiologi)
Lesi akibat efek dari

Masalah (Problem)
Kerusakan integritas

bercak merah yang gatal pada

gatal

kulit b.d lesi akibat

pipi kiri sejak 1 bulan

efek dari gatal

SMRS,gatal di rasakan semakin

19

hebat saat cuaca panas dan


berkeringat
Do: TD: 110/80
mmHg,frekuensi nadi:
85/menit,frekuensi pernapasan
18 kali/menit, suhu febris.
Adanya lesi pada regio fasiaalis
2

sinistra

gangguan citra tubuh

Gangguan citra tubuh


b.d penampilan fisik

DS: DO: Pasien tampak malu dengan


3.

penyakit yang di derita,karena

gatal

Gangguan pola tidur

bau
Ds: pasien mengatakan gatal
sehingga mengganggu tidurnya
Do: pasien tampak cemas

20

C. Prioritas Masalah
No

Masalah Keperawatan

Tanggal
Ditemukan
Teratasi

Paraf

21

Kerusakan integritas kulit

31-03-2015

31-03-2015

31-03-2015

31-03-2015

31-03-2015

31-03-2015

Gangguan citra tubuh


2

Gangguan pola tidur

22

D . Intervensi Keperawatan
Diagnosa

No
1.
1.

Tujuan dan

Intervensi

Rasional

Keperawatan
Kerusakan

Kriteria Hasil
Tujuan

integritas kulit

Menunjukkan

terhadap area

mengetahui

b.d lesi akibat

indikator

berikut

kemerahan dan

perubahan kulit

efek dari gatal

(sebutkan

1-5

gangguan

eksrem

1. Pantau kulit

berat,sedang,ringan
atau

tidak

ada

gangguan)

rusak
2. Kaji luka terhadap
karakteristik seperti

Berkurangnya
epidermis,lesi,erite
ma.

klien
2. pengobatan dapat
memberi

kedalaman,

perubahan pada

perawatan intensif

gangguan jaringan

yang dialami

lokasi,luas
area,warna,bau
3. Lakuakan

Kriteria hasil

1. Untuk

terhadap kulit

kondisi yang
dialami klien
3. Agar pasien
merasa nyaman

dengan perawatan
dan obat yang
sesuai dengan
lesi/luka yang di

Gangguan
2.

alami klien
4. Atur posisi pasien

citra tubuh b.d


penampilan

minimal setiap 2

fisik

jam
1. Memberikan
edukasi tentang
Tujuan

peningkatan citra

Menunjukkan citra
tubuh,yang
buktikan

tubuh
di 2. Identifikasi

oleh

indikator (sebutkan

1. Agar klien yakin


dan percaya atas
keadaannya
2. Untuk

mekanisme koping

mengetahui

yang biasa di

kondisi atau
23

1-5:tidak
pernah,jarang,kada
nga kadang ,sering
atau

3.

sering

Gangguan

tampilkan)

pola tidur b.d

Kriteria hasil

gatal

Gangguan
tubuh

di

citra

gunakan pasien
3. Dorong pasien
untuk melakukan

perubahan yang
terjadi pada klien
3. Untuk

perawatan diri

mengetahui

untuk meningkatkan

kondisi dan

rasa kemandirian

keadan umum

dan kontrol

klien

berkurang

yang di buktikan
oleh

selalu

menunjukkan
adaptasi

dengan

ketunadayaan fisik,

1. Identifikasi faktor
faktor penyebab

penyesuaain

tidak bisa tidur dan

,psikososial.

penunjang
keberhasilan tidur
2. Atur prosedur

Tujuan
Menunjukkan tidur
yang di buktikan
oleh

indikator

berikut

(1-

5:gangguan eksrem,
berat,sedang,ringan
atau

tidak

ada

gangguan)

tindakan medis atau


keperawatan untuk
memberi sedikit
mungkin gangguan
selama periode tidur
3. Anjurkan klien

1. Klien

menjelaskan
faktor

faktor

penyebab tidak
bisa tidur dan
penunjang
keberhasilan
tidur
2. Agar klien
mengerti
tentang
tindakan yang
di berikan

sebelum tidur dan

selama periode

salep (sesuai terapi)


dapat

mengetahui

mandi air hangat


mengoleskan obat

Kriteria hasil

1. Untuk

pada daerah lesi


4. Kolaborasikan
dengan tim medis

tidur
3. Agar
perkembangan
jamur berhenti
4. Untuk

24

penghambat

dalam pemberian

membantu

atau

antihistamin/anti

proses

gatal

penyembuhan

tidur
2. Klien

pencegah
dapat

mengidentifikas
i teknik untuk
mempermudah
tidur

E. Implementasi Keperawatan

25

No
Waktu
Dx (Tgl & jam)
1.

Tindakan

TT

Waktu
(Tgl & jam)

26

BAB 4
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Tinea adalah salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur.Jamur yang
berperan

dalam

penyakit

tinea

adalah

dermatofita.Dermatopita

merupakan

sekelompok jamur miselium yang menginfeksi keratin stratum korneum, rambut, dan
kuku.
Macam-macam tinea
a.
Tinea vesikolor
b. Tinea pedis (athletes food)
c.
Tinea kruris
d. Tinea korposis
e.
Tinea manum
f.
Tinea unguium
g. Tinea kapatis
4.2 SARAN
Perawat di harapkan lebih mengetahui dan memahami tentang mekanisme infeksi
mikotik dan konsep dasar penyakit,sehingga perawat dapat memberikan asuhan
keperawatan yang tepat. Masyarakat dapat mengetahui dan memahami gejala sera
penyebab tinea. Mahasiswa dapat mempelajari mekanisme infeksi mikotik dan
membantu dalam proses memahami pembelajaran dan mengetahui konsep dasar
penyakit tinea, sehingga mahaiswa dapat melakukan asuhan keperawatan yang tepat
pada klien.

DAFTAR PUSTAKA
Budimulja U.Mikosis.Dalam:Djuanda,A.dkk,editor.Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin.Edisi Kelima.2007.Jakarta:Fakultas Kedokteran Indonesia
27

Corwin EJ.Buku saku patofisiologi.2008.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC


NANDA.2011.Diagnosa Keperawatan:Definisi dan Klasifikasi.Jakarta:EGC.

28