Anda di halaman 1dari 36

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Kajian Tentang Penyakit Diabetes


1.1 Penyakit Diabetes
Diabetes atau diabetes melitus (DM)merupakan nama lain dari
penyakit kencing manis ataupenyakit gula darah.Diabetes tergolong kedalam
penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah
sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana
organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan
tubuh. Hormon insulin berfungsi untuk memecah gula yang ada dalam
tubuh.
Diabetes dapat juga didefinisikan sebagai gangguan yang ditandai
oleh berlebihnya gula dalam darah (hyperglycemia) serta gangguan
gangguan metabolisme karbonhidrat, lemak dan protein.
Sistem

pencernaan

memecah

karbohidrat

menjadi

glukosa.

Apabilaglukosa diserap ke pembuluh darah, kadar glukosa darah akan


meningkat. Pankreas mengeluarkan hormon insulin yang membantu
memasukkan glukosa dari darah ke sel untuk digunakan sebagai energi.
Diabetes Melitus adalah penyakit yang ditandai oleh ketidak mampuan tubuh
untuk memasukkan glukosa dari darah ke sel. Dengan demikian sel
kekurangan glukosa, sedangkan darah mengandung glukosa berlebihan.
Glukosa darah yang sangat tinggi dapat mengakibatkan koma bahkan sampai

mati. Diabetes Melitus dapat merusak pembuluh darah, saraf tepi, jantung,
ginjal dan mata.
(dr Wara, Pengantar Kesehatan)
1.2 Penyebab Penyakit Diabetes Melitus
Penyebab DM adalah kurangnya produksi dan ketersediaan insulin
dalamtubuh yang mencukupi maka tidak dapat bekerja secara normal atau
terjadinya gangguan fungsi insulin. Insulin berperan utama dalam mengatur
kadar glukosa dalam darah, yaitu 60-120 mg/dl waktu puasa dan dibawah
140 mg/dl pada dua jam sesudah makan (orang normal)
(Universitas Sumatera Utara)
Kekurangan Insulin disebabkan karena terjadinya kerusakan sebagian
kecil atau sebagian besar dari sel-sel beta pulau langerhans dalam kelenjar
penkreas yang berfungsi menghasilkan insulin. Ada beberapa faktor yang
menyebabkan DM sebagai berikut :
i. Genetik atau Faktor Keturunan
Diabetes mellitus cenderung diturunkan atau diwariskan,
bukanditularkan. Anggota keluarga penderita DM memiliki
kemungkinan lebih besarterserang penyakit ini dibandingkan
dengan anggota keluarga yang tidakmenderita DM. Para ahli
kesehatan juga menyebutkan DM merupakan penyakityang
terpaut kromosom seks. Biasanya kaum laki-laki menjadi
penderitasesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai

pihak yang membawa genuntuk diwariskan kepada anakanaknya.


ii. Asupan Makanan
Diabetes mellitus dikenal sebagai penyakit yang berhubungan
denganasupan makanan, baik sebagai factor penyebab
maupun

pengobatan.

Asupanmakanan

yang

berlebihan

merupakan factor risiko pertama yang diketahuimenyebabkan


DM.

Salah

satu

asupan

makanan

tersebut

yaitu

asupankarbohidrat. Semakin berlebihan asupan makanan


semakin besar kemungkinanterjangkitnya DM.
iii. Obesitas
Retensi insulin paling sering dihubungkan
dengan

kegemukan

atauobesitas.

Pada

kegemukan atau obesitas, sel-sel lemak juga ikut


gemuk dan selseperti ini akan menghasilkan
beberapa

zat

sebagaiadipositokin

yang
yang

digolongkan
jumlahnya

lebih

banyak dari keadaan pada waktu tidakgemuk.


Zat-zat

itulah

yang

menyebabkan

resistensi

terhadap insulin.
(Universitas Sumatera Utara)

1.3 Jenis Jenis Diabetes Melitus

Ada tiga bentuk diabetes melitus, yaitu tipe 1, tipe 2, dan diabetes
gestasional.
Diabetes melitus tipe 1
Diabetes melitus tipe 1 adalah hasil kegagalan tubuh dalam
memproduksi insulin. Diperkirakan ada sekitar 5 10 %
penderita diabetes didiagnosa menderita diabetes tipe 1. Diabetes
militus tipe 1 juga disebut insulin-dependent diabetes mellitus
(IDDM), yaitu diabetes yang tergantung pada insulin atau
diabetes anak anak. Ciri khusus diabetes tipe 1 adalah
hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau pulau
Langerhans Pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada
tubuh. Penyebab utama kehilangan sel bata pada diabetes tipe 1
adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel
beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh
adanya infeksi pada tubuh.
Saat ini diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan metode suntik
insulin dan memantau tingkat glukosa yang ketat menggunakan
alat monitor pengujian darah. Perawatan pada penderita diabetes
tipe 1 harus dilakukan secara kontinu. Tanpa bantuan insulin,
penyakit ini dapat mennyebapkan penderita koma atau bahkan
kematian.
Diabetes militus tipe 2

Diabetes melitus tipe 2 adalah hasil dari penolakan atau


kegagalan tubuh menggunakan zat insulin, yaitu suatu kondisi
dimana sel gagal untuk menggunakan insulin dengan benar.
Diabetes melitus tipe 2 disebut juga dengan non-insulindependent diabetes mellitus (NIDDM) atau diabetes yang tidak
bergantung pada insulin. Diabetes seperti ini terjadi karena
kombinasi karena kekurangan produksi insulin dan resistensi
terhadap insulin atau berkurangnya kemampuan terhadap
penggunaan insulin yang melibatkan reseptor insulin di membran
sel.
Tidak ada cara penyembuhan yang pasti untuk penyakit diabetes
melitus tipe 2 meski baru baru ini operasi by pass lambung di
klaim dapat menormalkan kadar glukosa darah mencapai 80 %
pada penderita obesitas dengan diabetes.
Diabetes gestational
Diabetes gestational terjadi pada wanita hamil yang belum
pernah menderita diabetes, tetapi memiliki angka gula darah
yang cukup tinggi selama kehamilan. Diabetes ini terjadi akibat
sekresi insulin relatif tidak memadai dan responsif. Diabates
gestational dapat diobati sepenuhnya, akan tetapi harus melalui
pengawasan medis selama kehamilan.
Meskipun mungkin bersifat sementara, diabetes gestational yang
tidak ditangani dapat berpotensi merusak kesehatan janin dan
ibu.

(Sutanto, 2010 : 150 154)


1.4 Gejala Penyakit Diabetes
Diabetes melitus mempunyai ciri yang sangat spesifik yaitu dapat
dilihat dari kondisi badan dan pemeriksaan kadar gula.
Tanda umum gejala penyakit diabetes melitus, yaitu :

Banyak kecing (poliuria)


Penderita diabetes melitus biasanya sering buang air kecil,
terutama saat malam hari.
Banyak minum tapi sering merasa haus (polidipsia)
Penderita diabetes melitus akan merasa haus terus menerus
sepanjang hari. Rasa haus ini sebagai penyeimbang terhadap air
yang selalu dikeluarkan melalui air kencing.
Banyak makan tapi sering merasa lapar (polifagia)
Penderita diabetes melitus sering merasa lapar karena gula darah
tidak dipecah menjadi energi. Ini terjadi karena jumlah insulin
tidak cukup untuk memecah gula tersebut. Sehingga gula yang
tidak terpecah itu akan terbawa air kencing saat penderita buang
air kecil.
(Soeryoko, 2011 : 11 12)
Secara umum ada tiga kebiasaan yang bertambah dan satu hal yang
berkurang pada penderita diabetes melitus, yaitu :

Bertambahnya frekuensi makan


Bertambahnya frekuensi minum
Bertambahnya frekuensi buang air kecil
Berkurangnya berat badan
(Soeryoko, 2011 : 13)

1.5 Komplikasi Penyakit Diabetes


Diabetes melitus merupakan penyakit akibat gangguan metabolisme
yang perlu dikontrol setiap saat. Kelalaian dalam mengontrol penyankit
diabetes dapat menyebabkan terjadinya penyakit komplikasi.
Komplikasi diabetes melitus dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
i. Komplikasi diabetes melitus bersifat mendadak (akut)
Komplikasi ini terjadi secara mendadak / tiba tiba, baik
pada penderita baru maupun penderita yang sudah lama.
Komplikasi yang muncul secara tiba tiba adalah sebagai
berikut :
Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah suatu keadaan di mana kadar
gula darah darah di bawah kadar gula darah normal.
Hipoglikemia dapat menyebabkan sistem organ tubuh
terganggu, sehingga banyak orgsn tubuh yang tidak
dapat menjalankan fungsinya karena kekurangan
glukosa.
Koma Diabetic
Koma diabetic adalah keadaan tidak sadar diri (koma)
secara mendadak pada penderita diabetes melitus yang
disebkan karena kadar gula darah yang sangat tinggi.
Koma Hiperosmolar Nonketotik
Koma Hiperosmolar Nonketotik adalah suatu keadaan
tubuh

tanpa

penimbunan

lemak.

Keadaan

ini

mengakibatka penderita diabetes melitus mengalami


permasalahan saat bernafas.
Koma Lakto Asidosis

Koma lakto asidosis adalah suatu keadaan tubuh


dimana asam laktak tidak dapat diubah menjadi
bikarbonat. Sehingga dapat meningkatkan kadar asam
laktat di dalam darah. Jika jumlah asam laktat
melebihi batas normal, maka penderita diabetes dapat
mengalami koma / tidak sadarkan diri.
ii. Komplikasi diabetes melitus bersifat menahun (kronis)
Komplikasi ini muncul setelah beberapa tahun menderita
diabetes. Pada penderita diabetes melitus yang telah lama
dapat menyebapkan rusaknya pembuluh darah kecil maupun
pembuluh darah besar. Oleh karena itu komplikasi kronis
dibagi dua, yaitu : komplikasi khusus dan komplikasi umum.
Komplikasi Khusus
Komplikasi khusus (spesifik) terjadi karena adanya
kelainan pembuluh darah kecil pada tubuh. Pembuluh
darah kecil yang paling rentan menderita akibat
diabetes adalah mata, ginjal, dan kaki.
Komplikasi spesifik dibagi menjadi

bagian

berdasarkan anggota tubuh, yaitu :


o Retinopati Diabetik
Retinopati diabetic merupakan komplikasi
diabetes
gangguan

melitus

yang

pembuluh

ditandai

darah

adanya

retina

mata.

Gangguan ini berupa kebocoran maupun


sumbatan

pada

retina

mata,

sehingga

menyebabkan

penumpukan

mengandung lemak.
o Neuropati Diabetik
Komplikasi neuropati

cairan

diabetik

yang

diatandai

dengan menurunnya sensitivitas kulit terhadap


dingin, panas, dan getaran. Contohnya yaitu
kesemutan dan panas pada ujung jari.
o Nefropati Diabetik
Komplikasi
nefropati
diabetik
terjadinya
Contohnya

gangguan

fungsi

proteinuria,

adalah

pada

ginjal.

pembengkakan,

hipertensi, dan gagal ginjal.


o Diabetik Foot
Diabetic foot adalah keadaan luka pada kaki
akibat diabetes melitus.
Komplikasi Umum
Komplikasi ini dapat terjadi karena beberapa hal,
antara lain kelainan pembuluh darah besar. Contohnya
adalah :
o Gangren
Gangren adalah luka membusuk yang terjadi
karena diabetes. Luka ini bisa terjadi di seluruh
tubuh. Namun, lokasi pembusukan awal
biasanya

dimulai

dari

menyebar keseluruh tubuh.


o Atherosklerosis

kaki

kemudian

Atherosklerosis adalah penimbunan lemak


yang menempel pada dinding sebelah dalam
pembuluh darah arteri. Akibatnya, tingkat
kelenturan pembuluh darah akan menurun dan
pembuluh darah akan menjadi rapuh. Selain itu
atherosklerosis

juga

dapat

menyebabkan

hipertensi, sakit jantung, stroke, dan gagal


ginjal.
o Katarak
Katarak adalah penyakit mata yang ditandai
dengan kekeruhan mata. Mata yang menderita
katarak seperti dilapisi plastik yang dapat
mengganggu

pandangan.

Pada

umumnya,

katarak timbul pada usia senja, namun pada


penderita diabeetes melitus, katarak dapat
timbul pada usia muda.
o TBC Paru
TBC paru memiliki hubungan yang sangat erat
dengan diabetes melitus. Bakteri dan kuman
sangat mudah berkembang biak pada kondisi
kadar gula darah yang sangat tinggi.
o Infeksi Saluran Kencing

Infeksi

saluran

kencing

terjadi

karena

lemahnya pertahanan tubuh sehingga kuman


mudah menyerang.
o Radang Mulut
Radang mulut akibar diabetes melitus dimulai
dari radang gusi kemudian berkelanjut menjadi
gigi mudah lepas.
o Pembekuan Darah Otak
Diabetes mempunyai resiko meningkatkan
pembekuan darah otak. Kadar gula yang tinggi
menyebabkan darah menjadi lebih kental dan
mengakibatkan rapuhnya pembuluh darah. Jika
pembuluh darah yang mengalami kerapuhan
adalah pembuluh darah otak maka resiko
terjadi pembekuan darah otak sangat besar.
o Jantung Koroner
Diabetes melitus menyebabkan munculnya
artherosklerosis. Bila tidak segera diatasi,
endapan tersebut akan mengganggu aliran
darah pada jantung.
(Soeryoko, 2011 :19 - 26)
Komplikasi diabetes melitus dapat terjadi karena beberapa hal, antara
lain :
i. Pasien suka melanggar larangan yang berhubungan dengan
penyakit tersebut.

ii. Semakin lemahnya organ tubuh yang berhubungan dengan


penyakit diabetes melitus mengakibatkan organ tersebut tidak
dapat bekerja dengan baik.
(Soeryoko, 2011 : 26)

1.6 Pencegahan Penyakit Diabetes


Untuk penanggulang diabetes, setiap penderita diabetes mempunyai
cara dan kebiasaan yang berbeda-beda. Ada yang minum obat, terapi, dan
ada pula yang minum herbal.
Upaya pencegahan penyakit diabetes melitus terdiri dari empat tahap
yaitu pencegahan primordial, pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan
Pencegahan Tersier.
i. Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial yaitu pencegahan kepada
orang-orang yang masih sehat agar tidak memilki faktor
resiko untuk terjadinya DM. Edukasi sangat penting
peranannya dalam upaya pencegahan primordial. Tindakan
yang

perlu

dilakukan

seperti

penyuluhan

mengenai

pengaturan gaya hidup, pentingnya kegiatan jasmani teratur,


pola makan sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk
dan menghindari obat yang bersifat diabetagenik.
ii. Pencegahan Primer

Pencegahan primer yaitu pencegahan kepada mereka


yang belum terkena DM namun memiliki faktor resiko yang
tinggi dan berpotensi untuk terkena penyakit DM.
Pada pencegahan primer ini masyarakat harus
mengenal faktor faktor yang berpengaruh terhadap
terjadinya penyakit DM dan upaya untuk mengeliminasi
faktor-faktor tersebut.
Berikut ini adalah upaya dari pencegahan primer yaitu :
Penyuluhan
Materi yang perlu diberikan kepada masyarakat
tentang penyakit diabetes melitus antara lain adalah
definisi penyakit DM, faktor-faktor yang berpengaruh
pada timbulnya penyakit DM serta upaya-upaya untuk
menekan penyakit DM, pengelolaan penyakit DM
secara umum, pencegahan dan pengenalan komplikasi
penyakit DM, serta pemeliharaan kaki.
Latihan Jasmani
Latihan jasmani yang teratur (3-4 kali seminggu
selama kurang lebih 30 menit) memegang peran
penting dalam pencegahan primer terutama pada DM
Tipe 2. Orang yang tidak berolah raga memerlukan
insulin 2 kali lebih banyak untuk menurunkan kadar
glukosa dalam darahnya dibandingkan orang yang
berolah raga. Manfaat latihan jasmani yang teratur

pada penderita DM antara lain adalah : Memperbaiki


metabolisme yaitu menormalkan kadar glukosa darah
dan lipid darah, meningkatkan kerja insulin dan
meningkatkan jumlah pengangkut glukosa, membantu
menurunkan berat badan, meningkatkan kesegaran
jasmani dan rasa percaya diri, serta mengurangi resiko
penyakit kardiovaskular.
Latihan jasmani yang dimaksud dapat berupa jalan,
bersepeda santai, jogging, dan berenang. Latihan
jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan
status kesegaran jasmani.
Perencanaan Pola Makan
Perencanaan pola makan yang baik dan sehat
merupakan kunci sukses supaya terbebasdari penyakit
DM. Seluruh penderita harus melakukan diet dengan
pembatasan kalori, terlebih untuk penderita dengan
kondisi kegemukan. Menu dan jumlah kalori yang
tepat

umumnya

dihitung

berdasarkan

kondisi

penderita.
Perencanaan makan merupakan salah satu pilar
pengelolaan DM, meski sampai saat ini tidak ada
satupun perencanaan makan yang sesuai untuk semua

penderita, namun ada standar yang dianjurkan yaitu


makanan dengan komposisi yang seimbang dalam
karbohidrat, protein, dan lemak sesuai dengan
kecukupan

gizi

baik

yakni

sebagai

berikut:

Karbohidrat = 60-70 %, Protein = 10-15 %, dan


Lemak = 20-25 %.
Jumlah asupan kolesterol disarankan < 300 mg/hari
dan diusahakan lemak berasal dari sumber asam lemak
tidak jenuh dan membatasi PUFA (Poly Unsaturated
Fatty Acid) dan asam lemak jenuh. Jumlah kalori
disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur,
ada tidaknya stress akut dan kegiatan jasmani .
iii. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya untuk mencegah atau
menghambat timbulnya komplikasi dengan tindakan-tindakan
seperti tes penyaringan yang ditujukan untuk pendeteksian
dini DM serta penanganan segera dan efektif. Tujuan utama
kegiatan-kegiatan

pencegahan

sekunder

adalah

untuk

mengidentifikasi orang-orang tanpa gejala yang telah sakit


atau penderita yang beresiko tinggi untuk mengembangkan
atau memperparah penyakit.
Memberikan pengobatan penyakit sejak awal sedapat
mungkin dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya

komplikasi

menahun.

Edukasi

dan

pengelolaan

DM

memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan


pasien berobat.
Diagnosis Dini Diabetes Mellitus
Dalam menetapkan diagnosis DM bagi pasien
biasanya dilakukan dengan pemeriksaan kadar glukosa
darahnya. Pemeriksaan kadar glukosa dalam darah
pasien yang umum dilakukan adalah :
o Pemeriksaan kadar glukosa darah setelah
puasa.
Kadar glukosa darah normal setelah puasa
berkisar antara 70-110 mg/dl. Seseorang
didiagnosa DM bila kadar glukosa darah pada
pemeriksaan darah arteri lebih dari 126 mg/dl
dan lebih dari 140 mg/dl jika darah yang
diperiksa diambil dari pembuluh vena.
o Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu.
Jika kadar glukosa darah berkisar antara 110199 mg/dl, maka harus dilakukan test lanjut.
Pasien didiagnosis DM bila kadar glukosa
darah pada pemeriksaan darah arteri ataupun
vena lebih dari 200 mg/dl.
o Test Toleransi Glukosa Oral (TTGO).

Test ini merupakan test yang lebih lanjut dalam


pendiagnosaan DM. Pemeriksaan dilakukan
berturut-turut dengan nilai normalnya : 0,5 jam
< 115 mg/dl, 1 jam < 200 mg/dl, dan 2 jam <
140 mg/dl.
Pengobatan Segera
Intervensi fakmakologik ditambahkan jika sasaran
glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan
makanan dan latihan jasmani. Dalam pengobatan ada 2
macam obat yang diberikan yaitu pemberian secara
oral atau disebut juga Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
dan pemberian secara injeksi yaitu insulin. OHO
dibagi menjadi 3 golongan yaitu : pemicu sekresi
insulin

(Sulfonilurea

sensitivitas

terhadap

Tiazolidindion),

dan
insulin

penambah

Glinid),

penambah

(Metformin
absobsi

dan

glukosa

(penghambat glukosidase alfa).


Selain 2 macam pengobatan tersebut, dapat juga
dilakukan dengan terapi kombinasi yaitu dengan
memberikan kombinasi dua atau tiga kelompok OHO
jika dengan OHO tunggal sasaran kadar glukosa darah
belum tercapai. Dapat juga menggunakan kombinasi

kombinasi OHO dengan insulin apabila ada kegagalan


pemakaian OHO baik tunggal maupun kombinasi.
iv. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier yaitu usaha mencegah agar tidak terjadi
kecacatan lebih lanjut walaupun sudah terjadi komplikasi.
Dalam upaya ini diperlukan kerjasama yang baik antara
pasien pasien dengan dokter mapupun antara dokter ahli
diabetes

dengan

dokter-dokter

yang

terkait

dengan

komplikasinya. Penyuluhan juga sangat dibutuhkan untuk


meningkatkan motivasi pasien untuk mengendalikan penyakit
DM.
Dalam penyuluhan ini yang perlu disuluhkan mengenai :
o Maksud, tujuan, dan cara pengobatan
komplikasi kronik diabetes
o Upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan
o Kesabaran dan ketakwaan untuk dapat
menerima dan memanfaatkan keadaan hidup
dengan komplikasi kronik.
(Universitas Sumatera Utara)

2. Model Matematika
2.1 Definisi Model Matematika

Model matematika merupakan representasi dari sistem-sistem fisik atau


problem dunia nyata dalam pernyataan matematika. Model matematika banyak
digunakan dalam berbagai bidang ilmu dan bidang studi, misalnya bidang fisika,
ilmu biologi dan kedokteran, ilmu sosial, ekonomi dan sebagainya.
(Widowati, 2007 : 2)
Model matematika terdiri dari tiga jenis, yaitu model empiris, model simulasi,
dan model stokastik dan deterministik.
i. Model Empiris
Pada model empiris, data yang berhubungan dengan masalah
menentukan peran yang penting. Dalam pendekatan ini, gagasan
utama adalah mengkonstruksi formula (persamaan) matematika
yang dapat menghasilkan grafik yang terbaik untuk mencocokan
data.
ii. Model Simulasi
Dalam pendekatan ini, program komputer ditulis bersdasarkan
aturan-aturan. Aturan-aturan ini dipercaya untuk membentuk suatu
proses atau fenomena yang akan berjalan terhadap waktu dalam
kehidupan nyata.
iii. Model Deterministik dan Stokastik
Model deterninistik meliputi penggunaan persamaan atau himpunan
persamaan untuk mempresentasikan hubungan antara berbagai
komponen (variabel) suatu sistem atau masalah. Suatu contoh
adalah persamaan diferensial biasa yang menjelaskan bagaimana
suatu kuantitas (yang dinyatakan dengan variabel tak bebas dari

persamaan) dan waktu sebagai variabel bebas. Diberikan syarat


awak yang sesuai untuk memprediksi perilaku sistem model.
(Widowati, 2007 : 1-2)

2.2 Proses Pembentukan Model


Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembentukan model matematika dapat
dinyatakan dalam bagan berikut:

Dunia Real

Problem Dunia Real

Dunia Matematika

Problem Matematika

Membuat Asumsi

Formulasi Persamaan / Pertidaksamaan

Solusi Dunia Real

Penyelesaian Persamaan / Pertidaksamaan


Interpretasi Solusi

Bandingkan Data

Gambar 1. Proses Pemodelan Matematika

Berdasarkan bagan di atas, langkah-langkah pembentukan model


matematika dapat dinyatakan sebagai berikut:
1

Menyatakan problem dunia nyata kedalam bentuk problem matematika.


Menyatakan problem pada dunia nyata ke bentuk problem matematika
dilakukan dengan membuat pertanyaan untuk permasalahan dan menentukan

faktor yang dianggap penting atau sesuai dengan permasalahan.


Membuat Asumsi
Asumsi dibuat dengan melihat hubungan antar faktor yang terpilih pada
langkah 1. Hubungan ditentukan oleh hukum yang berlaku dalam

permasalahan tersebut.
Memformulasikan persamaan
Untuk

menyatakan

hubungan

antar

asumsi,

dilakukan

dengan

menformulasikan persamaan atau sekumpulan persamaan menjadi model


matematika.
4

Melakukan Analisis
Pada langkah ini akan dicari solusi dari persamaan yang telah diperoleh dari
langkah 3.
Melakukan Pengujian

Model yang diperoleh dilakukan pengujian dengan membandingkan hasil


6

atau solusi yang didapat dengan keadaan sebenarnya.


Menginterpretasikan Model
Menerjemahkan solusi matematika yang telah didapat ke dalam keadaan

yang sesungguhnya.
Solusi dunia nyata
Jika langkah diatas membentuk hasil yang sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya, maka diperoleh solusi dunia nyata.
(Widowati, 2007 : 3)

3. Teori Persamaan Diferensial


3.1 Persamaan Diferensial
Definisi 1
Persamaan diferensial (PD) adalah suatu persamaan yang memuat turunan
dari satu variabel terikat terhadap satu atau lebih variabel bebas.
( Ross, 1989:1)
Persamaan diferensial dapat dibedakan menjadi persamaan diferensial
biasa (PDB) dan persamaan diferensial parsial (PDP).
Definisi 2
Persamaan diferensial biasa (PDB) adalah suatu persamaan yang memuat
turunan biasa dari satu variabel terikat terhadap satu variabel bebas.
( Ross, 1989:2)
Contoh 1:
dy
=3 x y
dx

Definisi 3
Persamaan diferensial parsial (PDP) adalah suatu persamaan yang memuat
turunan parsial dari satu variabel terikat terhadap lebih dari satu variabel
bebas.
(Ross, 1989:2)
Contoh 2:
2 u 2 u 2 u
+
+
=0
x2 y 2 z2
Berdasarkan kelinearan, persamaan diferensial dapat dibagi menjadi dua,
yaitu persamaan diferensial linear dan persamaan diferensial non linear,
seperti yang didefinisikan sebagai berikut:
Definisi 4
Suatu persamaan diferensial linear orde-n, dalam variabel terikat y dan
variabel bebas x, adalah suatu persamaan yang berbentuk
dn y
d n1 y
dy
(
)
(
)
a0 x
+a 1 x
++a n1 ( x ) + an ( x ) y=b (x)
n
n1
dx
dx
dx
dimana

a0 0

.
(Ross, 1989:3)

Persamaan diferensial biasa dikatakan linear jika memenuhi tiga kondisi


berikut (Ross, 1989:3):
1
2

Turunan atau variabel terikatnya berpangkat satu.


Tidak mengandung perkalian antara variabel
turunannya.

terikat

dengan

Tidak mengandung fungsi transeden dalam variabel terikat maupun


turunannya.

Contoh 3:
d 2 x dx
+ + x=0
d y 2 dy
Persamaan diferensial yang tidak termasuk kriteria persamaan diferensial
linear disebut persamaan diferensial nonlinear.

Contoh 4:
d2 y
dy
+ y 2 y=0
2
dx
dx

3.2 Sistem Persamaan Differensial


Sistem persamaan diferensial dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk
persamaannya, yaitu sistem persamaan diferensial linear dan sistem
persamaan diferensial non linear.
Definisi 5
Diberikan Sistem persamaan diferensial linear orde satu berikut:
dx
=x = A x+ b ( t ) ,
dt
Dimana A adalah matriks koefisien berukuran

n xn

dan

b(t )

fungsi

kontinu. Sistem tersebut dinamakan sistem persamaan diferensial linear

orde satu. Jika

b ( t )=0

maka sistem dikatakan homogen dan jika

b(t ) 0 maka sistem dikatakan nonhomogen.


(Perko, 1996:60)
Contoh 5 :
d x1
dt = 2x1 x2 5x3
d x1
dt = x1 9x2+ 3x3
Persamaan diferensial linear orde satu homogen
d x1
dt = 6x1 + 2x2 7x3
Definisi 6
Sistem persamaan diferensial nonlinear orde satu dinyatakan sebagai
berikut:
x =f (t , x)

dengan

x1 (t )
x= x2 (t )

xn (t )

( )

, dan

f 1 (t , x 1 , , x n )
n
t , x1 , , x

f 2( f n (t , x 1 , , x n ) )
f ( t , x ) =

jika f (t , x)

fungsi nonlinear pada

x1 , , xn

maka sistem disebut

sebagai sistem persamaan diferensial nonlinear.


(Perko, 1996:65)
Contoh 6
da
2a + 5a2
dt =
Merupakan sistem persamaan diferensial nonlinear orde satu
db
b + 5a2 + 8a
dt =
Model matematika penyakit diabetes dengan pengaruh transmisi vertikal
berbentuk persamaan diferensial nonlinear, sehingga untuk menganalisis
model diperlukan teori kestabilan.
4. Teori Kestabilan
Dalam menganalisa kestabilan diperlukan titik tetap dari persamaan diferensial.
4.1 Titik Tetap
Definisi 7
Diberikan sistem persamaan diferensial berikut:
dx
=f ( x , y )
dt
dy
=g (x , y )
dt

Jika titik

g ( x 0 , y 0 )=0

( x0 , y0 )

memenuhi persamaan

f ( x 0 , y 0 )=0

dan

x ,y
, maka titik ( 0 0 ) disebut titik tetap.
(Ross, 1989:634)

Contoh 7 :
Misalkan x(t) dan y(t) memenuhi sistem persamaan berikut :
x = ax bxy
y

= cy + dxy

(1)

Dengan a, b, c, dan d adalah konstanta positif. Titik (x0 , y0) dikatakan titik
tetap dari sistem persamaan (1), jika :
ax0 bx0 y0 = 0
cy0 + d x0 y0= 0

(2)

Dengan menyelesaikan sistem persamaan (2) diperoleh dua titik tetap, yaitu :

c
(0,0) dan ( d

a
b )

Untuk menganalisis kestabilan titik tetap dari suatu sistem persamaan


nonlinear, dapat dilakukan dengan melinearkan sistem persamaan diferensial
nonlinear tersebut.

4.2 Pelinearan
Diberikan sistem persamaan diferensial nonlinear berikut

dx
=f (x , y )
dt
(3)
dy
=g ( x , y )
dt
Karena sistem persamaan diferensial (3) merupakan sistem persamaan
nonlinear, maka dilakukan pelinearan dengan menggunakan ekspansi Taylor
(Blanchard, 2002: 44) untuk suatu titik tetap.

Misalkan titik tetap persamaan (1) adalah

dan

v = y y 0

x=u+ x 0

, maka

dan

(1) dapat ditulis dalam bentuk u dan v

(x 0 , y 0 ) . Misalkan

y=v+ y 0

u=x x0

. Sehingga persamaan

sebagai berikut:

du d ( xx 0)
=
=f ( x , y )=f (x 0+ u , y 0 + v)
dt
dt

dv d ( y y 0)
=
=g ( x , y ) =g ( x 0+ u , y 0 + v)
dt
dt
maka didapatkan:

du
=f (x 0+u , y 0 + v)
dt
dv
=g (x 0+u , y 0 + v)
dt

Pada

keadaan

setimbang

f ( x 0 , y 0 )=g ( x 0 , y 0 ) =0,

menggunakan ekspansi Taylor pada titik tetap

dengan

( x 0 , y 0 ) sehingga diperoleh

persamaan linear berikut:


f (x , y )=f ( x 0 , y 0 )+

g ( x , y )=g ( x 0 , y 0 ) +

f ( x0 , y 0 )
f ( x0 , y0 )
x x0 ) +
(
( y y 0 ) +1 (x , y)
x
y

g ( x0 , y0 )
x

( xx 0 )+

g ( x0 , y0 )
y

( y y 0 ) + 2 (x , y )

Karena

f ( x 0 , y 0 )=g ( x 0 , y 0 ) =0,

sehingga nilai

kemudian karena nilai

sangat kecil,

dapat diabaikan. Sistem persamaan (1) dapat ditulis dalam

bentuk matriks berikut:

( )(

du
f
f
( x 0 , y 0)
(x , y )
dt = x
y 0 0 u
dv
v
g
g
x0 , y0)
x0 , y0 )
(
(
dt
x
y

)( )

Atau dapat ditulis sebagai:


d u
=A u
dt v
v

() ()

A merupakan matriks Jacobi yang dihitung di titik

[ ]

f
x
dimana matriks jacobi didefinisikan J = g
x

f
y
g
y

(x 0 , y 0 ) ,

Untuk melihat kestabilan titik tetap, dibutuhkan nilai eigen dan vektor eigen
yang didefinisikan sebagai berikut :

5. Nilai Eigen dan Vektor Eigen


Dalam menganalisa kestabilan dari titik tetap maka dibutuhkan beberapa teori
mengenai nilai eigen dan vektor eigen, berikut definisinya.
Definisi 8
Jika A matriks n x n, maka vektor tak nol dalam Rn disebut vektor eigen dari A,
jika Ax kelipatan skalar dari x yaitu:
Ax = x

untuk suatu skalar .

Skalar merupakan nilai eigen dari A dan x dikatakan vektor eigen yang
bersesuaian dengan .
(Anton, 1993:277)
Teorema 1
Jika J adalah matriks n x n, maka pernyataan-pernyataan berikut ekivalen
satu sama lain:
adalah nilai eigen dari J.
a
b

Sistem persamaan

( I J ) x=0

mempunyai pemecahan yang tak

trivial.
Rn , sehingga J x = x .

Ada vektor tak nol x di dalam

adalah pemecahan riil dari persamaan karakteristik det ( I J )=0 .


(Anton, 1998:280)

Kestabilan dari titik tetap dapat dilihat dari kondisi nilai eigen dari matriks
Jacobiannya. Berikut klasifikasi kestabilan titik tetap berdasarkan nilai
eigennya:

Tabel 1. Klasifikasi Kestabilan Titik Tetap

Nilai eigen
Nilai eigen real
dimana

1 , 2

Tipe titik
tetap

Karakteristik
kestabilan

Simpul
Simpul

Stabil asimtotik
Tak stabil

Sadel

Tak stabil

Spiral
Spiral

Stabil asimtotik
Tak stabil

Pusat

Stabil tapi bukan stabil

1 2 < 0
0< 1 2

Nilai eigen real

1 , 2

dimana
1 <0< 2
Nilai eigen kompleks dimana
1,2 = i> 0
1,2 = i> 0
Nilai eigen kompleks dimana
1,2 =i 0

asimtotik

Sumber: Kohler (2006: 451)

Pada kondisi tertentu nilai eigen dari matriks Jacobian sulit ditemukan,
analisis kestabilan titik tetap dapat dilakukan dengan kriteria kestabilan
Routh-Hurwitz.
6. Kriteria Routh Hurwith
Definisi 9
Kriteria Routh-Hurwitz digunakan untuk menganalisis titik tetap suatu
sistem apabila nilai eigen persamaan pada matriks Jacobi sulit dicari.
(Edelstein, 1988:234)
Diketahui sistem persamaan dengan k persamaan dan X variabel sebagai
berikut:
d X1
=f 1 ( X 1 , X 2 , , X k ) ,
dt
d X2
=f 2 ( X 1 , X 2 , , X k ) ,
dt

d Xk
=f k ( X 1 , X 2 , , X k )
dt
dengan matriks Jacobi

f1
X1
J=
fk
X1

dan persamaan karakteristiknya


Diberikan matriks Hurwitz

Hj

f1
X2

fk
X2
k

f1
Xk

f
k

Xk

+a1

k1

, dengan

+ a2

k2

++ak =0 .

j=1,2, , k

sebagai berikut:

a1 1 0
a1 1
H 1=( a 1 ) , H 2=
, H 3= a 3 a 2 a 1 , ,
a3 a2
a5 a4 a3

a1
1
0
a
a2
a1
H j= 3

a 2 j1 a 2 j2 a2 j3

0
0
,

aj

dengan unsur baris ke l kolom ke m dari matriks

H j=

Hj

yaitu:

a2 lm untuk 0<2l<m<k
1untuk 2 l=m
0 untuk 2 l<m atau2l> k +m

Jika semua nilai eigen dari matriks Jacobi adalah real negatif maka titik
tetapnya adalah stabil. Hal ini terjadi jika dan hanya jika semua determinan

matriks Hurwitz adalah positif yaitu det

H j >0, j=1,2,3, , k

. Contoh

untuk k =2,3,4 diperoleh kriteria sebagai berikut:


k =2, a1> 0, a2 >0
k =3, a1>0, a3 >0, a1 a2 >a3
k =4, a1 >0, a3 >0, a 4 >0, a1 a2 a3 >a23 + a21 a 4

(Edelstein, 1988: 234)

7. Bilangan Reproduksi Dasar


Bilangan reproduksi dasar adalah bilangan yang menyatakan rata-rata infeksi
sekunder yang disebabkan oleh satu individu yang terinfeksi yang berlansung
dalam populasi rentan (susceptible). Dinotasikan dengan R0. Bilangan tersebut
diperlukan sebagai parameter utuk mengetahui tingat penyebaran suatu penyakit.

8. Model Dasar SIS


Model SIS merupakan model penyebaran penyakit dengan fase kompartemen
yaitu S dan I. S (susceptible) adalah individu yang sehat namun rentan (tak kebal)
terhadap penyakit dan I (infective) adalah individu yang terkena penyakit dan
dapat menularkan penyakitnya. Individu yang rentan (S) tersebut berinteraksi
dengan individu yang terinfeksi (I), sehingga terinfeksi suatu penyakit. Dalam
model SIS ini, individu dalam kelas infeksi dapat sembuh dengan pengobatan
medis atau proses alam, sehingga masuk kelas sehat (susceptible), tetapi
kesembuhan itu tidak mengakibatkan individu tersebut kebal, sehingga
memungkinkan terinfeksi kembali dan masuk kelas infeksi (infektive).

DAFTAR PUSTAKA

Anton, Howard. 1987. Aljabar Linear Elementer. 8th edition. Bandung: Erlangga.
Ross, S. 1989. Introduction to Ordinary Differential Equation. Jhon Wiley and Sons
Inc: New York.
Soeryoko, Hery. 2011. 25 Tananman Obat Ampuh Penakluk Diabetes Mellitus.
Yogyakarta : C.V Andi Offset.
Sutanto. 2010. Cekal (Cegah dan Tangkal) Penyakit Modern (Hipertensi, Stroke,
Jantung, dan Diabetes)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29762/4/Chapter%20II.pdf, Diakses
03 Oktober 2015
https://pemodelanmatematikauin.files.wordpress.com/2013/05/lectures-kalkuusvariasi-figueroa.pdf , Diakses 03 Oktober 2015

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-26681-Presentation-4629755.pdf ,
Diakses 03 Oktober 2015