Anda di halaman 1dari 3

Pengaruh Pemasangan Kateterisasi pada Wanita dengan Inkontinensia Urin terhadap

Fungsi Seksual dan Kepuasan Seksual di Wilayah Bandung


1. Latar belakang
International Continence Society (ICS) mendefinisikan inkontinensia urin (UI) sebagai
keluarnya urin yang tidak dapat dikendalikan atau dikontrol, secara objektif dapat
diperlihatkan dan merupakan suatu masalah social atau higienis. Hal ini memberikan
perasaan tidak nyaman yang menimbulkan dampak terhadap kehidupan social, psikologi,
pekerjaan dan khususnya terhadap aktivitas seksual.
Inkontinensia urin sering terjadi pada wanita terutama lansia, namun secara keseluruhan
dapat terjadi pada laki-laki maupun wanita, baik anak-anak, dewasa, maupun orang tua.
Inkontinensia urin sendiri tidak mengancam jiwa penderita, tetapi berpengaruh pada
kualitas hidup yang disebabkan oleh factor gangguan psikologis dan factor social yang sulit
diatasi. Penderita merasa rendah diri karena selalu basah akibat urin yang keluar, pada saat
batuk, bersin, mengangkat barang berat, kadang pada saat beristirahat dan setiap saat harus
memakai kain pembalut dan terutama juga terjadi pada saat bersenggama.
Inkontinensia urin sendiri bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan gejala yang
menimbulkan gangguan kesehatan, social, psikologis serta dapat menurunkan kualitas hidup
(Soetojo,2009).
Prevalensi inkontinensia urin sulit dinilai karena alasan budaya dan social. Prevalensi
yang rendah mungkin disebabkan oleh kurangnya pelaporan, misalnya di Asia relative
rendah karena pandangan orang asia bahwa inkontinensia urin merupakan hal yang
memalukan, sehingga tidak dikeluhkan pada dokter maupun petugas kesehatan yang lain.
Sedangkan prevalensi pada wanita Indonesia 5,8%.
Survey inkontinensia urin dilakukan oleh Departemen Urology Fakultas kedokteran
Universitas Airlangga RSU Dr. Soetomo tahun 2008 terhadap 793 penderita, prevalensi
inkontinensia urin pada pria 3,02% sedangkan pada wanita 6,79%. Survei ini menunjukkan
bahwa prevalensi inkontinensia urin pada wanita lebih tinggi daripada pria (Soetojo, 2009).
Factor resiko terjadinya inkontinensia urin antara lain jenis kelamin wanita, usia
lanjut/menopause, paritas tinggi, gangguan neurologis, kelebihan berat badan, perokok,
minum alcohol, intake cairan berlebihan atau kurangnya aktifitas.
Salah satu treatment dalam mengatasi inkontinensia urin adalah dengan cara
pemasangan kateter. Biasanya pasien dengan inkontinensia urin dilakukan treatment
pemasangan kateter ind-welling cukup lama dan hal ini dapat memungkinkan seseorang

akan membawa kateter pulang kerumah dan tetap melakukan pemasangan kateter pada
kehidupan sehari-harinya. Pemasangan kateter juga menjadi penyebab masalah fisik
seperti infeksi, dan masalah yang lainnya seperti gangguan body image dan tentunya
seksualitas.
Namun penelitian jurnal yang berjudul How users of ind-welling urinary
catheters talk about sex and sexuality menyebutkan beberapa individu mempersepsikan
bahwa sex bukanlah hal yang paling penting bagi mereka yang sudah lanjut usia, akan
tetapi bagi pasien yang berusia dewasa muda mempersepsikan bahwa seks merupakan hal
yang sangat penting dan dengan kondisi pemasangan kateter akan sangat berpengaruh
pada kualitas fungsi dan kepuasan seksualitas. Sehingga jelas disini ada perbandingan
persepsi antara pasien usia lanjut dengan dewasa muda.
Melihat kondisi perbedaan persepsi tersebut peneliti tertarik untuk meneliti lebih
lanjut terhadap dampak pemasangan kateter terhadap fungsi seks dan seksualitas akan
tetapi difokuskan terhadap permasalahan inkontinensia urin. Sehingga peneliti
merumuskan adakah pengaruh pemasangan kateterisasi pada wanita dengan inkontinensia
urin terhadap fungsi seksual dan kepuasan seksualitas di wilayah bandung.
2. Rumusan Masalah
Adakah pengaruh pemasangan kateterisasi pada wanita dengan inkontinensia urin
terhadap fungsi seksual dan kepuasan seksualitas di wilayah bandung
3. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pemasangan kateterisasi pada
wanita dengan inkontinensia urin terhadap fungsi seksual dan kepuasan seksualitas di
wilayah bandung

4. Manfaat penelitian
a. Aspek teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat
maupun tenaga medis tentang pentingnya memperhatikan kualitas fungsi seksual dan
kepuasan seksual yang merupakan kebutuhan dasar pada pasien yang terpasang
kateterisasi dengan inkontinensia urin.
b. Aspek aplikatif

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi informasi dan acuan
penatalaksanaan asuhan keperawatan bagi tenaga medis khususnya perawat yang
tentunya mempunyai tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan dasar pasien.
5. Hipotesis
Ho
: Tidak ada pengaruh pemasangan kateterisasi pada wanita dengan inkontinensia
urin terhadap fungsi seksual dan kepuasan seksualitas di wilayah bandung
Ha
: Ada pengaruh pemasangan kateterisasi pada wanita dengan inkontinensia urin
terhadap fungsi seksual dan kepuasan seksualitas di wilayah bandung
6. Variabel
Variable independen : Fungsi seksual dan kepuasan seksual
Variable dependen
: Pemasangan kateter dan inkontinensia urin
Variable yang diukur yaitu fungsi seksual dan kepuasan seksual.
7. Design penelitian
Deskriptif kuantitatif dengan metode kuesioner
8. Kriteria sampel
Menggunakan teknik purposive sampling
9. Analisa data yang digunakan
Menggunakan analisa data bivariate.