Anda di halaman 1dari 6

PATOGENESIS

AHA disebabkan oleh autoantibodi terhadap antigen eritrosit. Autoantibodi


tersebut berikatan dengan eritrosit. Begitu eritrosit dilapisi oleh antibodi, maka ia
akan dihancurkan melalui satu mekanisme atau lebih [1]. Peristiwa destruksi
eritrosit yang diperantai oleh sistem imun terjadi melalui aktivasi sistem
komplemen, mekanisme seluler, maupun kombinasi keduanya. [2]
Aktivasi Komplemen
Sistem komplemen terdiri dari sekitar 20 protein yang hadir dalam serum
manusia normal (dan hewan lainnya). Istilah "komplemen" mengacu pada
kemampuan protein ini untuk meningkatkan efek kerja komponen lain
dalam sistem kekebalan tubuh, misalnya, antibodi. Komplemen merupakan
komponen penting dari pertahanan host bawaan kita [3].
Ada tiga efek utama dari aktivasi komplemen, yaitu: (1) lisis sel, seperti
pada bakteri, allografts, dan sel-sel tumor; (2) menghasilkan mediator yang
berpartisipasi dalam proses inflamasi (anafilaktosin) dan menarik neutrofil
(kemoatraktan); dan (3) opsonisasi, yaitu peningkatan fagositosis. [3]
Secara keseluruhan, aktivasi sistem komplemen akan menyebabkan
hancurnya membran sel eritrosit dan terjadilah hemolisis intravaskular yang
ditandai dengan hemoglobinemia dan hemoglobinuri. [1]
Sistem komplemen akan diaktifkan melalui jalur klasik ataupun jalur
alternatif. Antibodi-antibodi yang memiliki kemampuan mengaktifkan jalur
klasik adalah IgM, IgG1, IgG2, dan IgG3. IgM disebut aglutinin tipe dingin,
sebab antibodi ini berikatan dengan antigen polisakarida pada permukaan
eritrosit pada suhu di bawah suhu tubuh (<37C dan optimal pada suhu 2025C). Antibodi IgG disebut aglutinin hangat karena bereaksi dengan
antigen permukaan sel eritrosit pada suhu tubuh.

Hasil akhir dari jalur komplemen adalah terbentuknya membrane attack


complex dalam jumlah besar. Akibatnya eritrosit dapat dihancurkan secara
langsung, yang dikenal sebagai hemolisis intravaskular.

Gambar 1. Jalur aktivasi komplemen


Aktivasi Mekanisme Seluler
Jika sel darah disensitisasi dengan IgG yang tidak berikatan dengan
komplemen, atau berikatan dengan komponen komplemen, namun tidak
terjadi aktivasi komplemen lebih lanjut, maka eritrosit tersebut akan
dihancurkan oleh sel-sel retikuloendotelial. Proses immunoadherence ini
sangat penting bagi perusakan sel eritrosit yang diperantarai seluler.

Immunoadherence, terutama yang diperantarai IgG-FcR akan menyebabkan


fagositosis.
Dalam kebanyakan kasus bagian Fc dari antibodi akan dikenali oleh
reseptor Fc makrofag, dan ini akan memicu eritrofagositosis. Dengan
demikian, penghancuran eritrosit akan terjadi di mana sel makrofag
berlimpah-yaitu di limpa, hati, dan sumsum tulang. Karena anatomi khusus
yang dimiliki limpa, organ ini sangat efisien dalam sekuestrasi eritrosit yang
terlapisi antibodi, dan sering menjadi situs utama destruksi eritrosit.
Meskipun dalam kasus yang parah, bahkan monosit pun dapat mengambil
bagian dalam proses ini, sebagian besar kerusakan eritrosit dimediasi
fagositosis terjadi di limpa dan hati, dan karena itu disebut hemolisis
ekstravaskular.

Gambar 2. Patogenesis anemia hemolitik autoimun

MANIFESTASI KLINIS

AHA Tipe Hangat [4]


Sekitar 70% kasus AHA adalah tipe hangat, di mana autoantibodi yang
diperantarai IgG bereaksi secara optimal pada suhu 37C. Kurang lebig 50%
pasien AHA tipe hangat disertai penyakit lain.
Onset gejala biasanya lambat dan berjalan kronik selama berbulan-bulan, tapi
kadang-kadang pasien memiliki onset mendadak berupa gejala anemia berat dan
penyakit kuning disertai nyeri abdomen selama beberapa hari. Dalam AHA
sekunder, gejala dan tanda-tanda penyakit yang mendasari dapat menutupi gejala
AHA dan fitur terkaitnya.
Pada AHA tipe hangat idiopatik yang ringan, hasil pemeriksaan fisik mungkin
normal. Pasien dengan anemia hemolitik yang relatif berat, 50-60% datang
dengan splenomegali, 30% disertai hepatomegali, dan 25% dengan limfodenopati.
Dalam kasus yang sangat parah, terutama yang dari onset akut, pasien mungkin
hadir dengan demam, pucat, ikterus, hemoglobinuria, hepatosplenomegali,
hiperpnea, takikardia, angina, atau gagal jantung.
Klinis AHA tipe hangat dapat diperburuk atau makin jelas selama kehamilan.
Kebanyakan kasus bersifat ringan dan prognosis untuk janin umumnya baik,
asalkan mendapat tata laksana segera.

AHA Tipe Dingin


Kebanyakan pasien dengan AHA dingin memiliki anemia hemolitik kronik ringan
(Hb: 9-12g/dL) dengan atau tanpa ikterus. Pada sebagian pasien lain, gejala utama
bersifat episodik, yaitu hemolisis akut dengan hemoglobinuria yang disebabkan
oleh dingin. Sering ditemui akrosianosis dan fenomena vaso-oklusif dimediasi
dingin yang mempengaruhi jari, jari kaki, hidung, dan telinga yang terkait dengan
sludging eritrosit dalam mikrovaskulatur kulit. Ulserasi kulit dan nekrosis yang
jelas jarang didapati.

Temuan fisik lainnya bervariasi, tergantung pada adanya penyakit yang


mendasari. Splenomegali, sebuah temuan karakteristik penyakit limfoproliferatif
atau mononucleosis menular, dapat diamati pada AHA dingin idiopatik.