Anda di halaman 1dari 17

Acquired Immune Deficiency Syndrome

Beberapa jenis virus dapat mengganggu respon imun dengan menekan fungsi sistem
imun atau dengan menginfeksi sel sistem, contoh fenomena yang baik adalah AIDS.
AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV. Pada umumnya
AIDS disebabkan HIV-1, dan beberapa kasus seperti di Afrika tengah disebabkan HIV-2 yang
merupakan homolog HIV-1. Keduanya merupapkan virus lenti yang menginfeksi sel CD4 + T
yang memiliki reseptor dengan afinitas tinggi untuk HIV, makrofag dan jenis sel lain.
Transmisi virus terjadi melalui cairan tubuh yang terinfeksi seperti hubungan seksual,
homoseksual, penggunaan jarum yang terkontaminasi, transfusi darah atau produk darah
seperti hemofili dan bayi yang dilahirkan ibu dengan HIV.

1. Struktur HIV
Struktur virus HIV-1 terdiri atas 2 untaian RNA identik yang merupakan genom virus
yang berhubungan dengan p17 dan p24 berupa inti polipeptida. Semua komponen
tersebut diselubungi envelop membran fosfolipid yang berasal dari sel pejamu. Protein
gp120 dan gp41 yang disandi virus ditemukan dalam envelop. Retrovirus HIV terdiri dari
lapisan envelop luar glikoprotein yang mengelilingi suatu lapisan ganda lipid. Kelompok
antigen internal menjadi protein inti dan penunjang.
RNA-directed DNA polymerase (reverse transcriptase) adalah polimerase DNA dalam
retrovirus seperti HIV dan virus Sarkoma Rouse yang dapat digunakan RNA template
untuk memproduksi hibrid DNA. Transverse transcriptase diperlukan dalam teknik
rekombinan DNA yang diperlukan dalam sintesis first strand CDNA.
Antigen p24 adalah core antigen virus HIV, yang merupakan pertanda terdini adanya
infeksi HIV-1, ditemukan beberapa hari-minggu sebelum terjadi serokonversi sintesis
anntibodi terhadap HIV-1. Antigen gp120 adalah glikoprotein permukaan HIV-1 yang
mengikat reseptor CD4+ pada sel T dan makrofag. Usaha sintesis reseptor CD4 + ini telah
digunakan untuk mencegah antigen gp120 menginfeksi sel CD4+.
Gen envelop sering bermutasi. Hal tersebut menyebabkan perubahan sebagai berikut :
jumlah CD4 perifer menurun, fungsi sel T yang terganggu terlihat in vivo (gagal
memberikan respon terhadap antigen recall) dan uji invitro, aktivasi poliklonal sel B
menimbulkan hipergamaglobulinemia, antibodi yang dapat menetralkan antigen gp120
dan gp41 diproduksi tetapi tidak mencegah progres penyakit oleh karena kecepatan
mutasi virus yang tinggi, sel Tc dapat mencegah infeksi (jarang) atau memperlambat
progres. Protein envelop adalah produk yang menyandi gp120, digunakan dalam usaha
memproduksi antibodi yang efektif dan produktif oleh penjamu.
2. Siklus Hidup HIV
Siklus hidup HIV berawal dari infeksi sel, produksi DNA virus dan integrasi ke dalam
genom, ekpresi gen virus dan produksi partikel virus. Virus menginfeksi sel dengan
menggunakan glikoprotein envelop yang disebut gp120 (120kD glikoprotein) yang
terutama mengikat sel CD4+ dan reseptor kemokin (CXCR4 dan CCR5) dari sel manusia.
Oleh karena itu virus hanya dapat menginfeksi dengan efisiensi sel CD4 +. Makrofag dan
sel dendritik juga dapat diinfeksinya.
Setelah virus berikatan dengan reseptor sel, membran virus bersatu dengan membran
sel pejamu dan virus masuk sitoplasma. Disini envelop virus dilepas oleh protease virus

dan RNA menjadi bebas. Kopi DNA dari RNA virus disintesis oleh enzim transkriptase
dan kopi DNA bersatu dengan DNA pejamu. DNA yang terintegrasi disebut provirus.
Provirus dapat diaktifkan, sehingga diproduksi RNA dan protein virus. Sekarang virus
mampu membentuk struktur inti, bermigrasi ke membran sel, memperoleh envelop lipid
dari sel pejamu, dilepas berupa partikel virus yang dapat menular dan siap menginfeksi
sel lain. Integrasi provirus dapat tetap laten dalam sel terinfeksi untuk berbulan-bulan atau
tahun, sehingga tersembunyi dari sistem imun pejamu, bahkan dari terapi antivirus.
3. Patogenesis
Virus biasanya masuk tubuh dengan menginfeksi sel Langerhans di mukosa rektum
atau mukosa vagina yang kemudian bergerak dan bereplikasi di KGB setempat. Virus
kemudian disebarkan melalui viremia yang disertai dengan sindrom dini akut berupa
panas, mialgia dan artralgia. Pejamu memberikan respon seperti terhadap infeksi virus
umumnya. Virus menginfeksi sel CD4+, makrofag dan sel dendritik dalam darah dan
organ limfoid.
Antigen virus nukleokapsid, p24 dapat ditemukan dalam darah selama fase ini. Fase
ini kemudian dikontrol sel T CD8+ dan antibodi dalam sirkulasi terhadap p42 dan protein
envelop gp120 dan gp41. Efikasi sel Tc dalam mengontrol virus terlihat dari menurunnya
kadar virus. Respon imun tersebut menghancurkan HIV dalam KGB yang merupakan
reservoir utama HIV selama fase selanjutnya dan fase laten.
Dalam folikel limfoid, virus terkonsentrasi dalam bentuk kompleks imun yang diikat
SD. Meskipun hanya kadar rendah virus diproduksi dalam fase laten, destruksi sel CD4 +
berjalan terus dalam kelenjar limfoid. Akhirnya jumlah sel CD4 + dalam sirkulasi
menurun. Hal itu dapat memerlukan beberapa tahun. Kemudian menyusul fase progresif
kronis dan penderita merjadi rentan terhadap berbagai infeksi oleh kuman nonpatogenik.
GAMBAR 17.9.
Setelah HIV masuk ke dalam sel dan terbentuk dsDNA, integrasi DNA viral ke dalam
genom sel pejamu membentuk provirus. Provirus tetap laten sampai kejadian dalam sel
terinfeksi mencetuskan aktivitasnya, yang mengakibatkan terbentuk dan penglepasan
partikel virus. Walau CD4 berikatan dengan envelop glikoprotein HIV-1, diperlukan
reseptor kedua supaya dapat masuk dan terjadi infeksi. Galur tropik sel T HIV-1
menggunakan koreseptor CXCR4, sedangkan galur tropik makrofag menggunakan
CCR5.
Kedua reseptor ini merupakan reseptor kemokin dan ligan normalnya dapat
menghambat infeksi HIV ke dalam sel. Subjek yang baru terinfeksi HIV dapat disertai
gejala atau tidak. Gejala utama berupa sakit kepala, sakit tenggorokan, panas, ruam dan
malese yang terjadi sekitar 2-6 minggu setelah infeksi, tetapi dapat terjadi antara 5 hari
dan 3 bulan.
Gejala klinis infeksi primer dapat berupa demam, nyeri otot/sendi, lemah, mukokutan
(ruam kulit, ulkus dimulut), limfadenopati, neurologis (nyeri kepala, nyeri belakang mata,
fotofobia, meningitis, ensefalitis) dan saluran cerna (anoreksia, nausea, diare, jamur
dimulut). Gejala-gejala bervariasi dari ringan sampai berat sehingga memerlukan
perawatan dirumah sakit.
Gambaran klinis dan manifestasi patologik AIDS disebabkan primer oleh peningkatan
kerentanan terhadap infeksi dan beberapa jenis kanker. Penderita sering diinfeksi mikroba
intraseluler seperti virus (CMV), mikrobakteri atipik yang pada keadaaan normal dapat

ditanggulangi oleh sistem imun selular. Banyak mikroba tersebut ditemukan dalam
lingkungan tetapi tidak menginfeksi individu dengan sistem imun uttuh.
Virus yang ditularkan melalui darah (viremia plasma) yang ditemukan dini setelah
terjadi infeksi yang dapat disertai gejala sistemik khas untuk sindrom HIV akut. Virus
menyebar ke organ limfoid, tetapi viremia plasma menurun sampai kadar yang sangat
rendah (hanya ditemukan dengan esai yang menggunakan cara reverse transcriptase
polymerase chain reaction yang sensitif) dan hal tersebut dapat menetap untuk beberapa
tahun. Sel CD4+ perlahan menurun selama masa klinis laten. Hal itu disebabkan oleh
karena replikasi virus yang aktif dan destruksi sel T yang terjadi dijaringan limfoid.
Menurunnya kadar sel CD4+ disertai peningkatan resiko infeksi dan komponen klinis HIV
yang lain. Perubahan dalam antigen p24 dan antibodi ditemukan pada penderita dengan
penyakit lanjut.
Penderita AIDS lanjut sering disertai berat badan menurun yang disebabkan
perubahan metabolisme dan kurangnya kalori yang masuk tubuh. Demensia dapat terjadi
akibat infeksi mikroglia (makrofag dalam otak).
4. Serologi
Penderitaan AIDS membentuk antibodi dan menunjukkan respon CTL terhadap
antigen virus. Namun respon tersebut tidak mencegah progres penyakit. CTL juga tidak
efektif membunuh virus oleh karena virus mencegah sel terinfeksi untuk
mengekspresikan MHC-1. Antibodi terhadap glikoprotein envelop seperti gp120 dapat
inefektif, oleh karena virus cepat memutasikan regio gp120 yang merupakan sasaran
antibodi. Respon imun HIV justru dapat meningkatkan penyebaran penyakit. Virus yang
dilapisi antibodi dapat berikatan dengan Fc-R pada makrofag dan sel dendritik dikelenjar
limfoid, sehingga meningkatkan virus masuk ke dalam sel-sel tersebut dan menciptakan
reservoir baru. Bila CTL berhasil menghancurkan sel terinfeksi, virus akan dilepas dan
menginfeksi lebih banyak sel.
Satu sampai tiga minggu pasca infeksi, ditemukan respon imun spesifik HIV berupa
antibodi terhadap protein gp120 dan p24. Juga ditemukan sel T sitotoksik yang HIV
spesifik. Dengan adanya respon imun adaptif tersebut, viremia menurun dan klinis tidak
disertai gejala. Hal itu berlangsung 2-12 tahun. Dengan menurunnya jumlah sel CD4 +,
penderita menunjukkan gejala klinis. Antibodi HIV spesifik dan sel T sitotoksik menurun,
sedang p24 meningkat. Perjalanan infeksi HIV ditandai oleh beberapa fase yang berakhir
dalam defisiensi imun. Jumlah sel CD4+ dalam darah mulai menurun di bawah 200/mm3
(normal 1500 sel/mm3) dan penderita menjadi rentan terhadap infeksi dan disebut
menderita AIDS. Dalam 3-6 minggu pasca infeksi, ditemukan kadar antigen HIV p24
dalam plasma yang tinggi. GAMBAR 17.12
III.

Diagnosis
A. Antibodi mikrobial dalam pemeriksaan defisiensi imun
Penemuan antibodi mikrobial telah digunakan dalam diagnosis infeksi.
Antibodi terhadap mikroba juga merupakan bagian penting dalam pemeriksaan
defisiensi imun. Kemampuan untuk memproduksi antibodi merupakan cara paling
sensitif untuk menemukan gangguan dalam produksi antibodi. Antiboodi tersebut
biasanya ditemukan dengan esai ELISA.
Antibodi terhadap S. pneumoniae ditemukan pada hampir semua orang dewasa
sehat, tetapi tidak pada individu dengan defisiensi imun primer. Antibodi terhadap

antigen virus yang umum juga dapat digunakan bila ditemukan ada riwayat terpajan
dengan virus. Demikian juga, bila seseorang diimunisasi, sebaiknya diperiksa untuk
antibodi terhadap toksoid tetanus, toksoid difteri dan virus polio. Bila kadar antibodi
rendah, sebaiknya individu tersebut dites dengan imunisasi terhadap antigen mati
dan responnya dievaluasi 4-6 minggu kemudian.
B. Pemeriksaan in vitro
Sel B dapat dihitung dengan flow cytometry yang menggunakan antibodi
terhadap C19, CD20 dan CD22. Sel T dapat dihitung dengan flow cytometry yang
menggunakan antibodi monoklonal terhadap CD23 atau CD2, CD5, CD7, CD4 dan
CD8. Penderita dengan defisiensi sel T hanya hiporeaktif atau tidak reaktif terhadap
tes kulit dengan antigne tuberkulin, kandida, trikofiton, streptokinase/streptodornase
dan virus parotitis. Produksi sitokinnya berkurang bila dirangsang denga PHA atau
mitogen nonspesifik yang lain.
Tes in vitro dilakukan dengan uji fiksasi komplemen dan fungsi bakterisidal,
reduksi NBT atau stimulasi produksi superoksida yang memberikan nilai enzim
oksidatif yang berhubungan dengan fagositosis aktif dan aktivitas bakterisidal.
IV.

Pengobatan
A. Garis umum
Pengobatan penderita dengan defisiensi imun antara lain adalah dengan
menggunakan antibiotik/antiviral yang tepat, pemberian pooled human
imunoglobulin yang teratur. Transplantasi sumsum tulang dari donor dan resepien
yang memiliki hubungan genetik yang cocok telah dilakukan dengan hasil yang baik
pada beberapa kasus. Transplantasi timus fetal telah pula dilakukan pada aplasi
timus. Komplikasi yang dapat terjadi akibat transplantasi yaitu bila jaringan
transplantasi menyerang sel pejamu Graft Versus Host (GVH) reaction. Iradiasi
kelenjar getah bening total kadang memberikan hasil yang lebih baik dibanding
iradiasi seluruh tubuh dalam mengontrol reaksi GVH.
B. Tujuan pengobatan
Tujuan pengobatan penderita dengan penyakit defisiensi imun umumnya
adalah untuk mengurangi kejadian dan dampak infeksi seperti menjauhi subjek
dengan penyakit menular, memantau penderita terhadap infeksi, menggunakan
antibiotik/antivial yang benar, imunisasi aktif atau pasif bila memungkinkan dan
memperbaiki komponen sistem imun yang detektif dengan transfer pasiff atau
transplantasi.
C. Pemberian globulin gama
Globulin gama diberikan kepada penderita dengan defisiansi Ig tertentu (tidak
pada defisiensi IgA).
D. Pemberian sitokin
Pemberian infus sitokin seperti IL-2, GM-CSF, M-CSF dan IFN kepada
subyek dengan penyakit tertentu.
E. Transfusi

Transfusi diberikan dalam bentuk neutrofil kepada subyek dengan defesiensi


fagosit dan pemberian limfosit autologus yang sudah menjalani transfeksi dengan
gen adenosin deaminase (ADA) untuk mengobati ACID.
F. Transplantasi
Transplantasi timus fetal atau stem cell dari sumsum tulang dilakukan untuk
memperbaiki kompetensi imun.
G. Obat antivirus
Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam pengembangan obat
efektif. Siklus virus HIV menunjukkan beberapa titik rentan yang diduga dapat
dicegah obat antiviral. Ada 2 jenis obat antivirus yang digunakan untuk mengobati
infeksi HIV dan AIDS. Analog nukleotide mencegah aktivitas reverse transcriptase
seperti timidine-AZT, dideoksinosin dan dideoksisitidin yang dapat mengurangi
kadar RNA HIV dalam plasma. Biasanya obat-obat tersebut tidak berhasil
menghentikan progres penyakit oleh karena timbulnya bentuk mutasi reverse
traskriptase yang resisten terhadap obat. Inhibitor protease virus sekarang digunakan
untuk mencegah proses protein prekursr menjadi kapsid virus matang dan protei
core.
Terapi dewasa ini menggunakan kombinasi tiga obat yang terdiri atas protease
inhibitor dengan 2 inhibitor reverse transkriptase yang terpisah. Hal itu digunakan
untuk menurunkan kadar RNA virus dalam plasma menjadi sangat rendah.untul
lebih dari satu tahun. Perlu pengamatan terhadap kemungkinan terjadinya resistensi.
Resistensi terhadap inhibitor protease dapat terjadi setelah pemberian beberapa hari.
Resistensi terhadap zidovudin (atau azidotimidin) dapat terjadi setelah pemberian
beberapa bulan.
H. Vaksinasi
Pengembangan vaksin untuk mencegah penyebaran AIDS merupakan
penelitian yang diprioritaskan para ahli imunologi dan dewasa ini vaksinasi
terhadap AIDS masih belum dapat dikembangkan.
I. Terapi genetik
Terapi gen somatik menunjukkan harapan dalam terapi penyakit genetik.
Prosedur tersebut antara lain dilakukan dengan menyisipkan gen normal ke populasi
sel yang terkena penyakit. Hasil sementara menunjukkan bahwa limfosit T perifer
mempunyai kemampuan terbatas untuk berproliferasi. Untuk pengobatan jangka
panjang akan diperlakukan penyisipan gen ke sel asal sumsum tulang yang
pleuripoten. Namun hal tersebut masih sulit untuk dilakukan dan diperlukan studi
lebih lanjut.
J. Terapi potensial
AIDS disebabkan oleh berbagai virus varian retrovirus HIV yang tergolong
virus lenti, oleh karena menimbulkan penyakit dengan perkembangan lambat. Virus
merupakan virus RNA yang memiliki enzim unik, reverse transcriptase yang
diperlukan untuk sintesis dsDNA spesifik dari genom viral RNA. DNA baru
diintegrasikan dalam genom sel terinfeksi dan banyak yang tetap laten dalam sel.
Bila diaktifkan, DNA digunakan sebagai templat RNA yang diperlukan untuk

produksi virus. Virus dilepas dipermukaan sel dan envelop virus dibentuk dari
membran sel pejamu, diubah oleh insersi glikoprotein virus. Dewasa ini obat dengan
aktivitas anti HIV menegah virus masuk, mencegah tahap reverse transcription RNA
ke cDNA atau mencegah prekursor protein virus membelah diri dalam protein yang
diperlukan untuk membentuk virion baru dan melengkapi pematangannya pada
virus infeksius. Reverse transcriptase dapat dicegah tidak hanya oleh analog
nukleosid tetapi juga oleh analog nukleotid dan bahan non-nukleotid.

Pembagian Defisiensi Imun


Defisiensi imun terdiri atas sejumlah penyakit yang menimbulkan kelainan atau lebih
sistem imun.
Manifestasi defisiensi imun tergantung dari sebab dan respon. Defisiensi sel B
ditandai oleh infeksi rekuren bakteri dengan kapsel. Defisiensi sel T ditandai oleh infeksi
virus, jamur dan protozoa yang rekuren. Defisiensi fagosit dengan ketidakmampuan untuk
memakan dan mencerna patogen yang biasanya terjadi pada infeksi bakteri yang rekuren.
Penyakit gangguan komplemen menunjukkan defek aktivasi jalur klasik, alternatif dan lektin
yang meningkatkan mekanisme spesifik.

A. Defisiensi imun nonspesifik


1. Defisiensi komplemen
Defisiensi komponen atau fungsi komplemen berhubungan dengan peningkatan
insidens infeksi dan penyakit autoimun seperti LES. Komponen komplemen
diperlukan untuk membunuh kuman, opsonisasi, kemotaksis, pencegahan penyakit
autoimun dan eliminasi kompleks antigen antibodi. Defisiensi komplemen dapat
menimbulkan berbagai akibat seperti infeksi bakteri yang rekuren dan peningkatan
sensitivitas terhadap penyakit autoimun. Kebanyakan defisiensi komplemen adalah
herediter.
Konsekuensi defisiensi komplemen tergantung dari komponen yang kurang.
Defisiensi C2 tidak begitu berbahaya. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh karena
mekanisme jalur alternatif tidak terganggu. Defisiensi C3 biasanya menimbulkan
infeksi rekuren bakteri piogenik dan negatif-Gram yang mungkin disebabkan oleh
karenea tidak adanya faktor kemotaktik, opsonisasi dan aktivitas bakterisidal.
a. Defisiensi komplemen kongenital
Defisiensi komplemen biasanya menimbulkan infeksi yang berulang atau penyakit
kompleks imun seperti LES dan glomerulonefritis.

Defisiensi inhibitor esterase C1


Defisiensi C1 INH berhubungan dengan angioedem herediter, penyakit yang
ditandai dengan edem lokal sementara tetapi seringkali. Defek tersebut
menimbulkan aktivitas C1 yang tidak dapat dikontrol dan produksi kinin yang
meningkatkan permeabilitas kapilar. C2a dan C4a juga dilepas yang
merangsang sel mast melepas histamin didaerah dekat trauma yang berperan
pada edem lokal. Kulit, saluran cerna dan napas dapat terkena dan
menimbulkan edem laring yang fatal.

Defisiensi C2 dan C4
Defisiensi C2 dan C4 dapat menimbulkan penyakit serupa LES, mungkin
disebabkan kegagalan eliminasi kompleks imun yang komplemen dependen.

Defisiensi C3
Defisiensi C3 dapat menimbulkan rekasi berat yang fatal terutama yang
berhubungan dengan infeksi mikroba piogenik seperti streptokok dan
stafilokok. Tidak adanya C3 berarti fragmen kemotaktik C5 tidak diproduksi.
Kompleks antigen-antibodi-C3b tidak diendapkan dimembran dan terjadi
gangguan opsonisasi.

Defisiensi C5
Defisiensi C5 menimbulkan kerentanan terhadap infeksi bakteri yang
berhubungan dengan gangguan kemotaksis.

Defisiensi C6, C7 dan C8


Defisiensi C6, C7 dan C8 meningkatkan kerentanan terhadap septikemi
meningokok dan gonokok. Lisis melalui jalur komplemen merupakan
mekanisme kontrol utama dalam imunitas terhadap neseria. Penderita dengan

defisiensi protein tersebut menunjukkan derajat infeksi neseria, sepsis, atritis


yang lebih berat dan peningkatan DIC.
b. Defisiensi komplemen fisiologik
Defisiensi komplemen fisiologik hanya ditemukan pada neonatus yang disebabkan
kadar C3, C5 dan faktor B yang masih rendah.
c. Defisiensi komplemen didapat
Defisiensi komplemen didapat disebabkan oleh depresi sintetis, misalnya pada
sirosis hati dan malnutrisi protein/kalori. Pada anemia sel sabit ditemukan
gangguan aktivasi komplemen yang meningkatkan resiko infeksi salmonela dan
pneumokok.

Defisiensi Clq,r,s
Defisiensi Clq,r,s terjadi bersamaan dengan penyakit autoimun, terutama pada
penderita LES. Penderita ini sangat rentan terhadap infeksi bakteri. Penyakit
yang berhubungan dengan defisiensi C1 adalah edem angioneuritik herediter.
Penderita tersebut tidak memiliki inhibitor esterase C1. Akibatnya ialah efek
C1 terhadap C4 atau C2 berjalan terus yang dapat mengaktifkan berbagai
bahan seperti plasmin dan peptida yang vasoaktif. Hal ini menimbulkan edem
lokal dalam berbagai alat tubuh yang dapat fatal bila terjadi dalam larings.
Danazol dan oksimetolon memacu sintesis inhibitor esterase C1 pada
penderita dengan edem angioneurotik.

Defisiensi C4
Defisiensi C4 ditemukan pada beberapa penderita LES.

Defisiensi C2
Defisiensi C2 merupakan defisiensi komplemen yang paling sering terjadi.
Defisiensi tersebut tidak menunjukkan gejala seperti telah dijelaskan terlebih
dahulu dan terdapat pada penderita LES.

Defisiensi C3
Penderita dengan defisiensi C3 menunjukkan infeksi bakteri rekuren. Pada
beberapa penderita disertai dengan glomerulonefritis kronik.

Defisiensi C5-C8
Penderita dengan defisiensi C5 sampai C8 menunjukkan kerentanan yang
meningkatkan terhadap infeksi terutama neseria.

Defisiensi C9
Defisiensi C9 sangat jarang ditemukan. Anehnya penderita tersebut tidak
menunjukkan tanda infeksi rekuren, mungkin karena lisis masih dapat terjadi
atas pengaruh C8 tanpa C9 meskipun terjadi secara perlahan.

2. Defisiensi interferon dan lisozim


a. Defisiensi interferon kongenital

Defisiensi interferon kongenital dapat menimbulkan infeksi mononukleosis yang


fatal.
b. Defisiensi interferon dan lisozim didapat
Defisiensi interferon dan lisozim dapat ditemukan pada malnutrisi protein/kalori.
3. Defisiensi sel NK
a. Defisiensi kongenital
Defisiensi sel NK kongenital telah ditemukan pada penderita dengan osteopetrosis
(defek osteoklas dan monosit). Kadar IgG, IgA dan kekerapan auto antibodi
biasanya meningkat.
b. Defisiensi didapat
Defisiensi sel NK yang didapat terjadi akibat imunosupresi atau radiasi.
4. Defisiensi sistem fagosit
Fagosit dapat menghancurkan mikroorganisme dengan atau tanpa bantuan
komplemen. Defisiensi fagosit sering disertai dengan infeksi berulang. Kerentanan
terhadap infeksi piogenik berhubungan langsung dengan jumlah neotrofil yang
menurun. Resiko infeksi meningkat bila jumlah fagosit turun sampai dibawah
500/mm2. Meskipun defek terutama mengenai fagosit, defisiensi fagosit juga terjadi
pada PMN.
a. Defisiensi kuantitatif
Neutropenia atau granulositopenia dapat disebabkan oleh penurunan produksi
atau peningkatan destruksi. Penurunan produksi neutrofil dapat disebabkan oleh
pemberian depresan sumsum tulang (kemotrapi pada kanker), leukemia, kondisi
genetik yang menimbulkan defek dalam perkembangan semua sel progenitor
dalam sumsum tulang termasuk prekursor mieloid (disgenensis retikular).
Peningkatan destruksi neutrofil dapat merupakan fenomena autoimun akibat
pemberian obat tertentu (kuinidin, oksasilin). Hiperplenisme dengan ciri destruksi
fungsi limfa yang berlebihan dapat menimbulkan defisiensi elemen darah perifer.
Asplenia (kongenital), tindakan bedah atau destruksi keganasan atau anemia sel
sabit dapat meningkatkan resiko infeksi terutama septikemia oleh streptokok
pneumoni dan enterobakteria.
b. Defisiensi kualitatif
Defisiensi kualitatif dapat mengenai fungsi fagosit seperti kemotaksis,
menelan/memakan dan membunuh mikroba intraselular.

Chronic Granulomatous Disease


CGD adalah infeksi rekuren berbagai mikroba, baik negatif-Gram
(escheriachia, serratia, klebsiela) maupun positif-Gram (stafilokok). CGD
biasanya merupakan penyakit X-linked resesif yang terjadi pada usia 2 tahun
pertama. Pada CGD ditemukan defek neutrofil dan ketidakmampuan
membentuk peroksid hidrogen atau metabolit oksigen toksik lainnya.

Defisiensi Glucose-6-phosphate dehydrogenase

Defisiensi G6PD adalah penyakit imunodefisiensi yang X-linked dengan


gambaran klinis seperti CGD. Pada defisiensi ini, juga ditemukan anemia
hemolitik. Penyakit diduga disebabkan oleh defisiensi generasi NADPH.
Gejalanya mulai terlihat pada usia dibawah 2 tahun berupa kerentanan yang
tinggi terhadap kuman yang biasanya mempunyai virulensi rendah seperti S.
epidermidis, Seratia marsesen dan aspergilus. Kelainan klinis yang ditemukan
yaitu limfadenopati, hepanisplenomegali dan KGB yang terus mengeluarkan
cairan. Infeksi akut dan kronik selain di KGB, juga terjadi di kulit, saluran
cerna, hati dan tulang. Dalam keadaan normal, fagositosis akan mengaktifkan
oksidase NADPH yang diperlukan untuk pembentukan peroksidase. Pada
defisiensi oksidasi NADPH tidak dibentuk peroksidase yang diperlukan untuk
membunuh kuman intraselular.

Defisiensi meiloperoksidase
Pada beberapa penderita dengan DMP ditemukan infeksi mikroba rekuren
terutama K. albikans dan S. aureus. Enzim tersebut ditemukan pada neutrofil
normal. Peroksidase ditemukan dalam granul sitoplasma dan dilepas ke
fagosom melalui proses degranulasi yang diikuti dengan fagositosis. Pada
DMP proses tersebut terganggu sehingga kemampuan membunuh neutrofil
terganggu.

Sindrom Chediak-Higashi
SCH sangat jarang ditemukan, ditandai dengan infeksi rekuren, piogenik,
terutama streptokok dan stafilokok. Prognosisnya buruk dan kebanyakan
penderita meninggal pada usia anak. Neutrofil mengandung lisosom besar
abnormal yang dapat bersatu dengan fagosom tetapi terganggu dalam
kemampuan melepas isinya, sehingga proses menelan, memakan dan
menghancurkan mikroba terlambat. Pada SCH ditemukan neutrofil dengan
kemotaksis dan kemampuan membunuh yang abnormal dengan aktivitas sel
NK dan kadar enzim lisosom menurun. Konsumsi oksigen dan produksi
peroksida hidrogen normal.

Sindrom Job
Sindrom job berupa pilek yang berulang (tidak terjadi inflamasi normal), abses
stafilokok, eksim kronis dan otitis media. Kemampuan neutrofil untuk
menelan-memakan tidak menunjukkan kelainan, tetapi kemotaksis terganggu.
Kadar IgE serum sangat tinggi dsan dapat ditemukan eosinofilisa.

Sindrom leukosit malas (lazy leucosyte)


Sindrom leukosit malas berupa kerentanan terhadap infeksi mikroba yang
berat. Jumlah neutrofil menurun, respon kemotaksis (asal nama sindrom) dan
respon inflamasi terganggu.

Defisiensi adhesi leukosit


Defisiendi adhesi leukosit merupakan penyakit imunodefisiensi yang ditandai
dengan infeksi bakteri dan jamur rekuren dan gangguan penyembuhan luka.
Leukosit menunjukkan defek adhesi dengan endotel dan antar leukosit

(agregrasi), kemotaksis dan aktivitas fagositosis yang buruk. Efek sitotoksis


neutrofil, sel NK dan sel T juga terganggu.
B. Defisiensi imun spesifik
Gangguan dalam sistem imun spesifik dapat terjadi kongenital, fisiologik dan didapat.
1. Defisiensi kongenital atau primer
Defisiensi imun spesifik kongenital sangat jarang terjadi. Defisiensi sel B ditandai
dengan infeksi rekuren oleh bakteri. Defisiensi sel T ditandai dengan infeksi virus,
jamur dan protozoa yang rekuren. Defisiensi fagosit disertai oleh ketidakmampuan
untuk memakan dan menghancurkan patogen, biasanya timbul dengan infeksi bakteri
rekuren. Penyakit komplemen menunjukkan defek dalam jalur aktivasi klasik,
alternaif dan atau lektin yang meningkatkan mekanisme pertahanan pejamu spesifik.
a. Defisiensi imun primer sel B
Defisiensi sel B dapat berupa gangguan perkembangan sel B (GAMBAR
17.3). Berbagai akibat dapat ditemukan seperti tidak adanya satu kelas atau
subkelas Ig atau semua Ig. Penderita dengan defisiensi semua jenis IgG lebih
mudah menjadi sakit dibanding dengan yang hanya menderita defisiensi kelas Ig
tertentu saja.
Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan adalah analisa jumlah dan fungsi
sel B, imunoelektroforesis dan evaluasi kuantitatif untuk menentukan kadar
berbagai kelas dan subkelas Ig. Istilah agamaglobulinemia (tidak ada Ig sama
sekali) sebenarnya tidak benar oleh karena pada defisiensi ini biasanya masih ada
kadar Ig yang rendah terutama IgG. Oleh karena itu sebaiknya disebut
hipogamaglobulinemnia.

X-linked hypogamaglobulinemia
Bruton pada tahun 1952 menggambarkan penyakit yang disebutnya
agamaglobulinemi Bruton yang X-linked dan hanya terjadi pada bayi laki-laki.
Penyakit jarang terjadi, biasanya nampak pada usia 5-6 bulan sewaktu IgG
asal ibu mulai menghilang. Pada usia tersebut, bayi mulai menderita infeksi
bakteri berulang. Pemeriksaan imunologi menunjukkan tidak adanya Ig dari
semua kelas Ig. Darah, sumsum tulang, limpa dan KGB tidak mengandung sel
B. kerusakan utama adalah oleh karena pre-sel B yang ada dalam kadar
normal tidak dapat berkembang menjadi sel B yang matang.
Bayi dengan defisiensi sel B menderita otitis media rekuren, bronkitis,
septikemi, pneumoni, artritis, meningitis dan dermatitis. Kuman penyebab
pada umumnya adalah H.influenza dan S.pneumoni. Sering pula ditemukan
sindrom malabsorbsi oleh karena G.lamblia yang bermanifestasi dalam saluran
cerna. Antibiotik biasanya tidak menolong. Pemberian IgG yang periodik
memberikan hasil yang efektif untuk 20-30 tahun. Pragnosisnya buruk dan
biasanya diakhiri dengan penyakit paru kronik.

Hypogamaglobulinemia sementara
Hipogamaglobulinemia sementara dapat terjadi pada bayi bila sintesis
terutama IgG terlambat. Sebabnya tidak jelas, tetapi dapat berhubungan
dengan defisiensi sementara dari sel Th. Penyakit ditemukan pada bayi melalui

masa hipogamaglobulinemia antara usia 6-7 bulan. Banyak bayi menderita


infeksi saluran napas rekuren pada masa tersebut. Beberapa bayi mengalami
perkembangan yang terlambat dalam sintesis IgG. Bayi sering menderita
infeksi kumari piogenik positif-Gram (kulit, selaput otak atau saluran napas).
Keadaan membaik sendiri, biasanya pada usia 16-30 bulan. Terapinya adalah
pemberian antibiotik, gama globulin atau keduanya.
Pada usia 5-6 bulan kadar IgG yang berasal dari ibu mulai menurun
dan bayi mulai memproduksi IgG sendiri. Kadang-kadang bayi tidak mampu
memproduksi IgG dengan cukup meskipun kadar IgM dan IgA normal. Hal
tersebut disebabkan oleh karena sel T yang belum matang. Pada beberapa bayi
ditemukan kelebihan sel Ts. Gangguan dapat berlangsung beberapa bulan
sampai 2 tahun. Penyakit ini tidak X-linked dan dapat dibedakan dari penyakit
Bruton oleh karena pada yang akhir tidak ditemukan IgG dan sel B dalam
darah. Pemberian Ig hanya diberikan bila terjadi infeksi berat yang rekuren.

Common Variable Hypogamaglobulinemia


CVH menyerupai hipogamaglobulinemia Bruton. Penyakit berhubungan
dengan insiden autoimun yang tinggi. Meskipun jumlah sel B dan Ig normal.
Kemampuan mempertahankan dan . melepas Ig

Defisiensi Imunoglobulin yang selektif (disgamaglobulinemia)


Defisiensi Ig yang selektif (digamaglobulinemia) adalah penurunan
kadar 1 atau lebih Ig, sedang kadar Ig yang lain adalah normal atau meningkat.
Defisiensi IgA selektif ditemukan pada 1 dari 700 orang dalam masyarakat
dan merupakan defisiensi imun tersering. Klinis menunjukkan gambaran
infeksi sino-pulmoner dan gastrointestinal rekuren yang disebabkan virus atau
bakteri. Hal tersebut menunjukkan tidak adanya proteksi dari sIgA pada
permnukaan membran mukosa. Penderita juga menunjukkan peningkatan
insidens autoimun, keganasan dan alergi. Anehnya ialah bahwa beberapa
penderita diantaranya tetap sehat. Pengobatannya yaitu dengan antibiotik
spektrum luas. Prognosis pada umumnya baik dan penderita dapat mencapai
usia lanjut. Kadar serum IgA rendah, tetapi kadar IgG, IgM adalah normal atau
meningkat. Ditemukan sel B yang mengandung IgA, tetapi defek dalam
kemampuannya melepas Ig.
HGG sebaiknya tidak diberikan oleh karena penderita dengan kadar
IgA yang sangat rendah dapat membentuk antibodi (IgG atau IgE) terhadap
IgA dan menimbulkan sensitasi anafilaksis pada resipien tanpa IgA. Terapi
agresif dengan antibiotik harus diberikan untuk mengontrol infeksi.
Defisfiensi IgM selektif merupakan hal yang jarang terjadi. Penderita
sering menunjukkan infeksi kuman yang mengandung polisakarida dalam
membran selnya seperti pneumokok dan influenza. Defisiensi IgG selektif
lebih jarang ditemukan.

b. Defisiensi imun primer sel T


Penderita dengan defisiensi sel T kongenital sangat rentan terhadap infeksi virus,
jamur dan protozoa. Oleh karena sel T juga berpengaruh terhadap aktivitas dan

poliferasi sel B, maka defisiensi sel T disertai pula dengan gangguan produksi Ig
yang nampak dari tidak adanya respon terhadap vaksinasi (Gambar 17.4).

Aplasi timus kongenital (sindrom DiGeorge)


Penyebab sindrom DiGeorge adalah defisiensi sel Tdengan sebab tidak
diketahui. Penderita tidak atau sedikit memiliki sel T dalam darah, KGB dan
limpa. Defisiensi tersebut disebabkan oleh defek dalam perkembangan embrio
dari lengkung faring ke 3 dan 4, yang terjadi pada sekitar 12 minggu sesudah
gestasi. Baik kelenjar timus maupun kelenjar paratiroid terkena. Bayi
menunjukkan gejala hipokalsemi selama 24 jam pertama sesudah lahir yang
sering disertai dengan kelainan jantung dan ginjal kongenital.
Sindrom DiGeorge tidak diturunkan. Bayi dengan sindrom DiGeorge
juga menunjukkan infeksi kronik oleh virus, bakteri, jamur, protozoa dan
mikrobakteria rekuren. Hipoparatiroidism dapat menimbulkan tetani
hipokalsemia. Penampilan muka berubah, berbentuk mulut ikan dengan
telinga letak rendah.
Meskipun sel B, sel plasma dan kadar Ig dalam serum normal,banyak
penderita dengan sindrom DiGeorge tidak mampu membentuk antibodi setelah
vaksinasi. Pengobatannya ialah transplantasi dengan timus fetal. Perbaikan
terjadi dengan timbulnya sel T satu minggu kemudian. Timus fetal yang
digunakan hendaknya tidak lebih tua dari 14 minggu agar dapat menghindari
reaksi GVH yang terjadi bila limfosit matang diberikan ke donor yang
imunodefisien. Prognosisnya buruk bila tidak diobati.

Kandidiasis mukokutan kronik


KMK adalah infeksi jamur biasa yang nonpatogenik seperti K.albikans
pada kulit dan selaput lendir yang disertai dengan gangguan fungsi sel T yang
selektif. Penderita menunjukkan imunitas selular yang normal terhadap
mikroorganisme selain kandida dengan imunitas yang humoral yang normal.
Jumlah limfosit total normal, tetapi sel T menunjukkan kemampuan yang
kurang untuk memproduksi MIF dalam respon terhadap antigen kandida,
meskipun respon terhadap antigen lain normal. Reaksi kulit lambat/ DTH
terhadap kandida juga negatif.
Transplantasi timus memberikan hasil yang bervariasi. Penderita perlu
diobservasi sejak awitan disfungsi endokrin, terutama penyakit Addison yang
merupakan sebab utama kematian. Penyakit tersebut mengenai pria dan wanita
terutama anak. KMK biasanya disertai disfungsi berbagai kelenjar endokrin
seperti adrenal dan paratiroid. Respons antibodi dan antifungal terhadap
kandida adalah normal.

c. Defisiensi kombinasi sel B dan sel T yang berat


Severe combined immunodeficiency disease
SCID adalah defisiensi kombinasi sel B dan sel T yang berat (Gambar 17.5).
Penderita dengan SCID rentan terhadap infeksi virus, bakteri, jamur dan
protozoa terutama CMV. Pneumosistis karini dan kandida. Gejala mulai
terlihat pada usia muda dan bila tidak diobati jarang dapat hidup melebihi usia
satu tahun. Tidak adanya sel B dan T terlihat dari limfositopenia. Kepada
penderita dengan SCID tidak boleh diberikan vaksin hidup/dilemahkan oleh

karena dapat fatal. Bayi dapat ditolong dengan transplantasi sumsum tulang
(Gambar 17.6 dan tabel 17.3)

Sindrom nezelof
Sindrom nezelof adalah golongan penyakit dengan gambaran imun yang sama.
Semua penderita dengan sindrom ini rentan terhadap infeksi rekuren berbagai
mikroba. Imunitas sel T nampak jelas menurun. Defisiensi sel B variabel dan
kadar Ig spesifik dapat rendah, normal atau meningkat (disgamaglobulinemia).
Respon antibodi terhadap antigen spesifik biasanya rendah atau tidak ada.

Sindrom wiskott-aldrich
WAS menunjukkan trombositopeni, ekzem dan infeksi rekuren oleh
mikroba. IgM serum rendah, kadar IgG normal sedang IgA dan IgE
meningkat. Isohemaglutinin ditemukan dalam jumlah sedikit atau tidak ada.
Jumlah sel B normal, tidak memberikan respon terhadap antigen polisakarida
untuk memproduksi antibodi. Imunitas sel T biasanya baik pada fase dini,
tetapi mengurang dengan progres penyakit.
WAS mengenai usia muda dengan gejala trombositopenia, eksim dan
infeksi rekuren. Sering terjadi perdarahan dan infeksi bakteri yang rekuren dan
menimbulkan otitis media, meningitis serta pneumoni akibat kadar IgM yang
rendah dalam serum. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena penderita tidak
mampu memberikan respon terhadap antigen polisakarida, di samping ada
kerentanan terhadap leukimia. Pengobatannya adalah dengan antibiotik dan
transplantasi sumsum tulang.

Ataksia telangiektasi
AT adalah penyakit autosomal resesif mengenai syaraf, endokrin dan sistem
vaskular. Ciri klinisnya berupa gerakan otot yang tidak terkoordinasi staggering gait) dan dilatasi pembuluh darah kecil (telangiektasi) yang jelas dapat
dilihat di sklera mata, limfopenia, penurunan IgA, IgE dan kadang-kadang
IgG. Penyakit timbul pertama pada anak di bawah usia 2 tahun dan
berhubungan dengan infeksi sinopulmoner berulang. Pada penderita yang
lebih tua dapat timbul karsinoma.

Defisiensi adenosin deaminase


Adenosin deaminase tidak ditemukan dalam semua sel. Hal ini berbahaya oleh
karena bila hal itu terjadi, kadar bahan toksik berupa ATP dan deoksi-ATP
dalam sel limfoid akan meningkat.

2. Defisiensi Imun Spesifik Fisiologik


a. Kehamilan
Defisiensi imun selular dapat ditemukan pada kehamilan. Keadaan ini mungkin
diperlukan untuk kelangsungan hidup fetus yang merupakan allograft dengan
antigen paternal. Hal tersebut antara lain disebabkan karena terjadinya
peningkatan aktivitas sel Ts atau efek supresif faktor humoral yang dibentuk
trofoblast. Wanita hamil memproduksi Ig yang meningkat atas pengaruh estrogen.
IgG diangkut melewati plasenta oleh reseptor Fc pada akhir hamil 10 minggu.

b. Usia tahun pertama


Sistem imun pada anak usia 1 tahun pertama sampai usia 5 tahun masih belum
matang. Meskipun neonatus menunjukkan jumlah sel T yang tinggi, semuanya
berupa sel naif dan tidak memberikan respon yang adekuat terhadap antigen.
Antibodi janin disintesis pada awal minggu ke 20, tetapi kadar IgG dewasa baru
dicapai pada usia sekitar 5 tahun. Pada usia beberapa bulan pertama, bayi
tergantung dari IgG ibu.
Susu ibu juga merupakan sumber proteksi pada usia dini dan mencegah infeksi
paru dan saluran cerna. Bayi yang mendapat minuman botol, 60x lebih beresiko
untuk menderita pneumonia pada usia 3 bulan pertama. Bayi prematur lebih
mudah mendapat infeksi oleh karena lebih sedikit menerima imunnoglobulin ibu
selama akhir-akhir kehamilan.
c. Usia lanjut
Golongan usia lanjut lebih sering mendapat infeksi dibanding usia muda. Hal
ini disebabkan oleh karena terjadi atrofi timus dengan fungsi yang menurun.
Akibat involusi timus, jumlah sel T naik dan kualitas respon sel T makin
berkurang. Jumlah sel T memori meningkat tetapi semakin sulit untuk
berkembang. Terutama sel CD8+ dan sel Th1 sangat menurun, diduga oleh karena
aktivitas apoptosis. Sitokin Th2, IL-6 meningkat sedang IL-2 menurun (gambar
17.7).
Defisiensi selular sering disertai dengan meningkatnya kejadian kanker,
kepekaan terhadap infeksi misalnya tuberkulosis. Herpes zoster, gangguan
penyembuhan infeksi dan fenomena autoimun. Penyakit lanjut disebabkan oleh
penurunan aktivitas sel T. Pada usia 60 tahun, jaringan timus hampir seluruhnya
diganti oleh lemak dan edukasi sel T dalam timus hampir hilang. Jadi pejamu
tergantung dari persediaan sel T yang sudah diproduksi sebelumnya pada usia
lebih muda. Juga dengan mengurangnya repertoine, kemampuan sel T pada usia
lanjut untuk berkembang adalah terbatas. Hal itu akan menurunkan respons CMI.
Pada usia lanjut, imunitas humoral juga menurun yang terlihat dari perubahan
dalam kualitas respons antibodi yang mengenai :
Spesifisitas antibodi dari autoantigen yang asing
Isotop antibodi dari IgG dan IgM
Afinitas antibodi dari tinggi menjadi rendah
Hal tersebut disebabkan oleh menurunnya kemampuan sel T untuk
menginduksi pematangan sel B. Di samping itu terjadi penurunan produksi sel B
dalam sumsum tulang yang mengurangi kemajemukan sel B, namun sel B yang
sudah tua masih menunjukkan respon terhadap mikroba seumur hidup.
Sintesis imunoglobulin meningkat dan adanya pertumbuhan klon sel B dapat
menimbulkan para-protein atau keganasan sel B. Proses tersebut dipacu oleh virus
Epstein-Barr. Autoantibodi juga lebih sering ditemukan pada usia lanjut.
Menurunnya respon imun akan menurunkan pula respon terhadap vaksinisasi,
sehingga resiko infeksi pada usia lanjut akan meningkat. Nutrisi buruk pada usia
lanjut sering cenderung menimbulkan defisiensi imun sekunder yang ringan
namun berarti.
C. Defisiensi imun didapat atau sekunder

Imunodefisiensi didapat atau sekunder sering ditemukan. Defisiensi tersebut mengenai


fungsi fagosit dan limfosit yang dapat terjadi akibat infeksi HIV, malnutrisi, terapi
sitotoksik dan lainnya. Defisiensi imun sekunder dapat meningkatkan kerentanan tehadap
infeksi oportunistik. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan defisiensi sekunder terlihat
pada tabel 17.4.
1. Infeksi
Infeksi dapat menimbulkan defisiensni imun. Malaria dan rubela kongenital dapat
berhubungan dengan difisiensi antibodi. Campak sudah diketahui berhubungan
dengan defek imunitas selular yang menimbulkan reaktivasi tuberkulosis. Hal-hal
tersebut dapat terjadi bersama pada penderita sakit berat. Campak dan virus lain dapat
menginfeksi tubuh dan menginduksi supresi DTH sementara. Jumlah sel T dalam
sirkulasi dan respon limfosit terhadap antigen dan mitogen menurun. Hal yang sama
dapat terjadi setelah imunisasi dengan campak. Pada beberapa keadaan, infeksi virus
dan bakteri dapat menekan sistem imun. Kehilangan imunitas selular terjadi pada
penyakit campak, mononukleosis, hepatitis virus, sifilis, bruselosis, lepra, tuberkulosis
milier dan parasit.
2. Obat, trauma, tindakan kateterisasi dan bedah
Obat sering menimbulkan defisiensi imun sekunder. Tindakan kateterisasi dan
bedah dapat menimbulkan imunokompromais. Antibiotik dapat menekan sistem imun.
Obat sitotoksik, gentamisin, amikain, tobramisin dapat mengganggu kemotaksis
neutrofil. Tetrasiklin dapat menekan imunitas selular. Kloramfenikol dapat menekan
respons antibodi, sedangkan rifampisin dapat menekan baik imunitas humoral
maupun selular. Jumlah neutrofil yang berfungsi sebagai fagosit dapat menurun akibat
pemakaian obat kemoterapi, analgesik, antihistamin, antitiroid, antikonvulsi,
penenang dan antibiotik. Steroid dalam dosis tinggi dapat menekan fungsi sel T dan
inflamasi.
Penderita yang mendapat trauma (luka bakar atau tindakan bedah besar/
mayor) akan kurang mampu menghadapi patogen. Sebabnya tidak jelas, mungkin
karena penglepasan faktor yang menekan respon imun.
3. Penyinaran
Penyinaran dosis tinggi menekan seluruh jaringan limfoid, sedang dosis rendah dapat
menekan aktivitas sel Ts secara selektif.
4. Penyakit berat
Defisiensi imun didapat bisa terjadi akibat berbagai penyakit yang menyerang
jaringan limfoid seperti penyakit Hodgkin, mieloma multipel, leukimia dan
limfosarkoma. Uremia dapat menekan sistem imun dan menimbulkan defisiensi imun.
Gagal ginjal dan diabetes menimbulkan defek fagosit sekunder yang mekanismenya
belum jelas. Imunoglobulin juga dapat menghilang melalui usus pada diare.
5. Kehilangan imunoglobulin
Defisiensi imunoglobulin dapat terjadi karena tubuh kehilangan protein yang
berlebihan seperti pada penyakit ginjal dan diare. Pada sindrom nefrotik terjadi
kehilangan protein dan penurunan IgG dan IgA yang berarti, sedang IgM tetap

normal. Pada diare (limfangiektasi intestinal, protein losing enteropaty) dan luka
bakar terjadi kehilangan protein.
6. Agamaglobulinemia dengan timoma
Agamaglobulinemia dengan timoma disertai dengan menghilangnya sel B total dari
sirkulasi. Eosinopenia atau aplasia sel darah merah dapat pula menyertai
agamaglobulinemia. Berbagai faktor predisposisi yang dapat menimbulkan
imunokompromais terlihat pada tabel 17.5.