Anda di halaman 1dari 5

Artikel Non Penelitian

Unsur Puitika dalam Bahan Ajar Sastra Buku Pelajaran SMA KTSP dan Kurikulum
2013 serta Kesesuaian Pembelajarannya
Much Nuril Huda
mohnuril@rocketmail.com
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan mengkaji unsur puitika dalam bahan ajar sastra buku
pelajaran SMA KTSP dan Kurikulum 2013 serta kesesuaian pembelajarannya. Penelitian ini
menggunakan rancangan penelitian kajian pustaka. Data penelitian berupa Jurnal dan buku teks
mengenai unsur puitika, buku teks pelajaran dan kurikulum.
Kata kunci: kajian pustaka, unsur puitika, buku pelajaran, kesesuaian
ABSTRACT: This research aims to inspect poetics element in learn material of KTSP and
2013 curiculums learn textbook senior high school. This research use research design literature
study. The research data is journal and textbook about poetics elements, learn textbook and
curiculum.
Keyword: document study, poetics element, learn textbook, compatibility

Teks sastra, khususnya unsur puitika dalam kurikulum 2013, sempat


mendapatkan porsi dan posisi minor. Porsi teks sastra tak lebih dari 30
persen. Dari sekian jenis teks sastra, puisi merupakan teks sastra yang
jumlahnya paling banyak.
Kurikulum

2013

merupakan

kurikulum

yang

mengedepankan

pendidikan karakter. Salah satu cara yang paling efektif mengajarkan


karakter adalah melalui bacaan sastra.

Dalam struktur standar

kompetensi dan kompetensi dasar revisi terakhir, posisi teks sastra


mengalami perubahan ke arah lebih baik, porsi teks sastra bertambah.
Buku

teks

merupakan

cerminan

dari

pengembangan

standar

kompetensi dan kompetensi dasar. Buku teks pelajaran menjadi salah satu
alat penerjemah maksud kebijakan yang ada dalam kurikulum. Guru akan
lebih mudah memahami dan melaksanakan kegiatan pembelajaran
dengan hadirnya buku teks pelajaran terbitan pemerintah.

Buku teks pelajaran SMA tersusun dari berbagai macam bahan ajar.
Salah satu di dalamnya adalah bahan ajar sastra. Bahan ajar sastra
terbagi ke dalam beberapa jenis teks, di antaranya cerita pendek, unsur
puitika, drama dan anekdot. Salah satu unsur utama penyusun bahan ajar
sastra adalah unsur puitika.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada subjek penelitian,
yakni bahan ajar sastra buku teks siswa sma kurikulum 2013.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Unsur Puitika
1.1 Bahasa
1.1.1 Diksi
Tarigan (1984:29) menyatakan bahwa diksi sebagai pilihan kata, yang kalau
dipandang sepintas saja kata yang dipergunakan dalam puisi pada umumnya sama dengan
kehidupan sehari-hari. Culler (2002: 120) menyebutkan bahwa diksi dalam puisi sebagai
pilihan kata yang tidak mengisolasi fenomena. Seperti membuat burung menjadi ikan di
udara. Berdasarkan dua pendapat tersebut, diksi dalam puisi dapat dimaknai sebagai kata
yang sama dengan yang digunakan sehari-hari tidak mengisolasi fenomena

1.1.2

Imaji (Citraan)

Tarigan (1984:30) menyatakan bahwa imaji adalah segala yang dirasakan dan dialami
secara imajinatif. Wellek dan Waren (1990: 235) mendefinisikan imaji sebagai keistimewaan
indrawi yang menghubungkan puisi dengan musik atau lukisan, serta membedakannya
dengan filsafat dan ilmu pengetahuan. Berdasarkan dua pendapat tersebut, imaji (citraan)
adalah segala yang dirasakan dan dialami indra secara imajinatif yang menghubungkan puisi
dengan musik atau lukisan dan membedakannya dengan filsafat dan ilmu pengetahuan.

1.1.3

Kata Konkret

Tarigan (1984:32) menyebutkan bahwa indikator kata konkret adalah ketika seorang
penyair tepat dalam menempatkan asosiasi dalam karyanya untuk memunculkan imaji
sehingga pembaca mampu benar-benar melihat, mendengar dan merasakan semua yang
dialami penyair.
1.1.4

Versifikasi
1.1.4.1 Rima

Tarigan (1984: 34) menyatakan bahwa rima adalah persamaan bunyi yang erat
hubungannya dengan rasa, nada dan makna. Sedangkan Wellek dan Waren (1990:198)
menyatakan bahwa rima adalah bunyi pada awal baris dan akhir baris. Lain halnya dengan
Tarigan dan Welek-Waren, Culler (2002: 77) menyatakan bahwa rima merupakan contoh
utama dari pengulangan logis secara fonologis. Berdasarkan tiga pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa rima adalah persamaan bunyi pada awal dan akhir baris secara fonologis
yang erat hubungannya dengan rasa, nada, dan makna.
1.1.4.2 Irama (Ritme)
Tarigan (1984: 34) menyatakan bahwa irama adalah naik turunnya nada secara teratur.
Wellek dan Waren (1990: 202) menyebutkan irama sebagai bunyi yang berulang secara
periodik. Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa irama merupakan naik
turunnya nada yang berulang secara periodik dan teratur.

1.1.5

Bahasa Figuratif (Majas)

Tarigan (1984:32) menyatakan bahwa majas atau bahasa figuratif merupakan cara
penyair menjelaskan kata dengan persamaan, perbandingan, serta kata kias yang lain.
Heidegger (1971:191) menyatakan bahwa majas merupakan karakter dari bahasa yang
mendorong ke depan. Berdasarkan dua pendapat tersebut, majas dapat diartikan sebagai cara
penyair dengan memperkuat karakter bahasa untuk menjelaskan kata dengan persamaan,
perbandingan dan kata kias lain.
2. Buku Pelajaran
Pusat Perbukuan Depdiknas (2006: 1) menyatakan bahwa pembelajaran dan buku
pelajaran merupakan dua hal yang saling melengkapi. Pembelajaran akan berlangsung secara
efektif bila dilengkapi dengan media pembelajaran yang relatif penting, yaitu buku pelajaran.

Buku pelajaran dapat disusun serta digunakan dengan baik jika memerhatikan prinsip-prinsip
dalam pembelajaran. Pembelajaran menyangkut masalah siswa, guru, materi bahan ajar, cara
penyajian bahan ajar, dan latihan. Komponen tersebut harus tercermin dalam buku pelajaran.
Menurut Pusat Perbukuan Depdiknas (2006: 3), buku pelajaran adalah buku yang
digunakan sebagai sarana belajar di sekolah untuk menunjang program pelajaran. Buku
pelajaran dapat digunakan berulang-ulang, baik oleh siswa yang sama maupun siswa yang
berbeda. Buku pelajaran menyediakan materi yang tersusun untuk keperluan pembelajaran
siswa. Peristiwa pembelajaran terjadi dalam kegiatan interaksi dan komunikasi antara guru
yang mengajar dengan siswa yang belajar di kelas. Buku pelajaran mampu memberikan
kemudahan bagi proses belajar siswa. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Muslich
(2010: 24) bahwa buku pelajaran yaitu buku yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaran
atau bidang studi tertentu, yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan
tujuan tertentu, orientasi pembelajaran, dan perkembangan siswa, untuk diasimilasikan. Buku
ini dipakai sebagai sarana belajar dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Indikator atau ciri penanda buku teks atau buku pelajaran menurut Muslich (2010: 51)
adalah sebagai berikut:
a. Buku teks merupakan buku sekolah yang ditujukan bagi siswa pada jenjang
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

pendidikan tertentu;
Buku teks berisi bahan yang telah terseleksi;
Buku teks selalu berkaitan dengan bidang studi atau mata pelajaran tertentu;
Buku teks biasanya disusun oleh para pakar di bidangnya;
Buku teks ditulis untuk tujuan instruksional tertentu;
Buku teks biasanya dilengkapi dengan sarana pembelajaran;
Buku teks disusun secara sistematis megikuti strategi pembelajaran tertentu;
Buku teks untuk diasimilasikan dalam pembelajaran;
Buku teks disusun untuk menunjang program pembelajaran.

Buku pelajaran memiliki banyak fungsi bagi peserta didik. Buku pelajaran
memberikan fasilitas untuk kegiatan belajar mandiri. Dipandang dari proses
pembelajaran, fungsi buku pelajaran adalah membantu mencapai tujuan pembelajaran
pada kompetensi tertentu melalui pengalaman, latihan, dan informasi yang disajikan pada
buku pelajaran. Selain bagi siswa, buku pelajaran juga bermanfaat bagi guru, yakni
sebagai bahan pertimbangan materi yang akan diajarkan kepada siswa.
3. Kesesuaian Pembelajaran
3.1.
Tingkat Kesulitan
3.2.
Strategi Pembelajaran
3.3.
Kemenarikan

DAFTAR RUJUKAN
Culler, J.D. 2002. Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics And The Study of
Literature. London dan New York: Routledge Classic.
Depdiknas. 2006. Pedoman Penulisan Buku Pelajaran: Penjelasan Standar Mutu Pelajaran
BSI. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.
Depdiknas. 2006. Pedoman Penilaian Buku Teks Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
untuk SMP/MTs dan SMA/MA. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.
Heidegger, M. 2001. Poetry, Language, Thought. New York: HarperCollins
Publishers.
Muslich, Masnur. 2010. Text Book Writing: Dasar-Dasar Pemahaman, Penulisan, dan
Pemakaian Buku Teks. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Tarigan, H. G. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: penerbit Angkasa.
Wellek, R dan Warren, A. 1980. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia.