Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sistem perkemihan atau sering disebut dengan system urinary adalah salah satu
system yang berhubungan dengan eliminasi. Sistem perkemihan, adalah suatu sistem
dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh.
Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin
(air kemih). System urinary terdiri atas renal, ureter, vesica urinaria, dan uretra.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem perkemihan ?
2. Bagaimana proses pembentukan dan komposisi urin ?
3. Bagaimana penyimpanan dan eliminasi urin ?
4. Bagaimana pemekatan urine,mekanisme counter current ?
C. TUJUAN
1. Mengetahui anatomi dan fisiologi sistem perkemihan
2. Mengetahui proses pembentukan dan komposisi urin
3. Mengetahui penyimpanan dan eliminasi urin
4. Mengetahui pemekatan urine,mekanisme counter current
D. MANFAAT
Agar dapat lebih memahami dan mengerti tentang anatomi dan fisiologi sistem
perkemihan secara mendetail.
E. METODE
Adapun metode penulisan yang digunakan yaitu metode kepustakaan yang
mengambil materi dari beberapa literature
BAB II
PEMBAHASAN

A. ANATOMI SISTEM PERKEMIHAN


Sistem perkemihan merupakan tempat organ-organ tubuh yang bekerja sama untuk
mencapai tujuan yang sama. Organ sistem perkemihan terdiri dari ginjal-ureter-vesika
1

urinari-uretra dan struktur yang dihubungkan dalam produksi dan ekskresi urine.
Meskipun cairan dan elektrolit dapat hilang melalui jalur lain dan ada organ lain yang
turut serta dalam mengatur keseimbangan asam-basa, namun organ yang mengatur
lingkungan kimia internal tubuh secara akurat adalah ginjal, dan traktus perkemihan
lainnya. Fungsi ekskresi diperlukan untuk mempertahankan mempertahankan
kehidupan serta memiliki terapi yang dapat dilakukan untuk menggantikan fungsifungsi tertentu dari ginjal, seperti misalnya proses dialysis (ginjal artificial).
(Brunner&Suddart, 2001)
Sistem perkemihan terdiri dari :
a) Dua ginjal (Ren) yang menghasilkan urin
b) Dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih)
c) Satu vesika urinaria (VU) tempat urin dikumpulkan
d) Satu uretra, urin dikeluarkan dari vesika urinaria
1. Ginjal (Ren)
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum pada
kedua sisi vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis ke 3. Ginjal merupakan
organ berbentuk seperti kacang merah Berat ginjal pada pria dewasa 150-170 gram
dan wanita dewasa 115-155 gram dengan bentuk seperti kacang. Sisi dalam
menghadap ke vertebrae thorakalis, sisi luarnya cembung dan sisi di atas setiap ginjal
terdapat sebuah kelenjar suprarenal. (Setiadi, 2007)

(sumber: http://anfisdeny.blogspot.com)
Ginjal mempunyai panjang 12cm,tebal 1-2cm,lebar 5-7cm dan tinggi
2,2 cm. Ginjal merupakan organ yang berpasangan dan setiap ginjal memiliki
berat

kurang

lebih

125

gram.

Ginjal

terletak

pada

dinding

posterior

abdomen,terutama di daerah lumbal,di sebelah kanan dan kiri tulang belakang. Di


bungkus lapisan lemak yang tebal di belakang peritoneum,dan karena itu diluar
rongga peritorium. Kedudukan ginjal dapat di perkirakan dari belakang, mulai dari
ketinggian vertebra tolakaris terakhir sampai vertebra lumbalis ke tiga. Ginjal
kanan sedikit lebih rendah dari kiri, karena hati menduduki ruang banyak di
sebelah kanan

a. Struktur Ginjal
Secara anatomis ginjal dibagi menjadi 2 bagian yaitu korteks dan medulla ginjal.
didalam korteks terdapat berjuta nefron sedangkan didalam medulla banyak
terdapat duktus ginjal. Darah yang membawa sisa hasil metabolisme tubuh
difiltrasi di dalam glomerulus kemudian di tubili ginjal, beberapa zat yang masih
diperlukan tubuh mengalami reasorbsi dan zat-zat hasil sisa metabolisme
mengalami sekresi bersama air membentuk urine. Setiap hari kurang lebih 180 liter
cairan tubuh difiltrasi diglomerulus dan menghasilkan urine 1-2 liter. Urine yang
terbentuk didalam nefron disalurkan melalui piramida ke sistem pelvikalis ginjal
untuk kemudian disalurkan kedalam ureter. Sistem pelvikalis ginjal terdiri atas
kaliks minor, infundi-bulum, kaliks mayor, dan pileum/ pelvis renalis. Mukosa
sistem pelvikalis terdiri atas epitel transisional dan dindingnya terdiri atas otot
polos yang mampu berkonsentrasi untuk mengelirkan urin sampai ke ureter

Bila dibuat irisan frontal vginjjal dibagian tengah melalui hilus renalis , maka
tampak bahwa ginjal ada dua bagian , yaitu korteks renalis dan medulla renalis.

Korteks renalis

1.
2.
3.
4.

Kapsula bowman
Glomerulus
Tubulus kontortus proksimalis
Tubulus konturtus distalis

Struktur ginjal
1. Lengkung henle ( pars asenden,
pars desenden)
2. Duktus koligentes
3. Duktus belini ( duktus papilaris)

Medulla renalis

1) Korteks renalis
Korteks renalis merupakan bagian luar ginjal yang warna merah coklat terletak
langsung dibawah kapsula fibrosa dan berbintik-bintik. Bintik- bintik korteks
renalis karena adanaya korpuskulus renalis dari Malphigi yang terdiri atas
Bowman dan Glomerulus.
a) Kapsula Bowmann
Kapsula bowman merupakan permulaan dari saluran ginjal yang meliputi
glomerulus. Diantara darah dalam glomerulus dan ruangan berisi cairan
dalam kapsula bowman terdapat tiga lapisan:
Kapiler selapis sel endothelium pada glomerulus
Lapisan kaya protein sebagai membran dasar
Selapis sel epitel melapisi dinding kapsula bowman (podosit)
b) Glumerulus
Glomerulus merupakan anyam pembuluh-pembuluh darah pada ginjal.
Secara fisiologis pada bagian glomerulus terjadi filtrasi darah untuk
mengeluarakann zat-zat yang tidak digunakan oleh tubuh.

c) Tubulus renalis
Tubulus renalis merupakan bagian korteks yang masuk kedalam medulla
diantara piramida renalis , sering disebut kolumna renalis ( Bertini )
2) Medulla renalis
Medulla renalis terletak dekat hilus , sering terlihat berupa garis-garios putih
oleh karena adanya saluran-saluran yang terletak dalampiramida renalis . tiap
piramida renalis mempunhyai basis yang menjurus

kearah

korteks dan

aspeknya bermuara kedalam ka;liks minor sehingga menimbulkan tonjolan


yang dinamakan papilla renalis yang merupakan dasar sinus renalis . dalam
satu kaliks minor bermuara 1-3 papila renalis. Pada pail ini terdapat lubang5

lubang keluar dari saluran saluran ginjal sehingga disebut juga lamina
kribrosa ( jumlah duktus papilaris ginjal kurang lebih (18-20 buah ). Jaringan
medulla dari piramida renalis ada yang menonjol masuk kedalam jaringan
korteks disebut Fascilus radiates ferreini. Saluran saluran di dalam medulla
gelung Henle ( pars asenden dan Pars desenden ), duktus koligentes, dan
duktus Bellini ( duktus Papilaris )
b. Fungsi Ginjal :
1) memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun,
2) mempertahankan suasana keseimbangan cairan, Bila terjadi pemasukan /
pengeluaran yang abnormal ion-ion akibat pemasukan garam yang berlebihan
atau penyakit perdarahan (diare, muntah) ginjal akan meningkatkan eksresi ionion yang penting (mis. Na, K, Cl, Ca dan fosfat ).
3) mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh
Mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh bergantung pada apa yang
dimakan, campuran makan menghasilkan urine yang bersifat agak asam, pH
kurang dari 6 ini disebabkan hasil akhir metabolism protein. Apabila banyak
makan sayur-sayuran, urine akan bersifat basa. pH urine bervariasi antara 4,8
8,2. Ginjal mensekresi urine sesuai dengan perubahan pH darah.
4) mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan
amoniak.
5) Mengatur volume air (cairan) dalam tubuh. Kelebihn air dalam tubuh akan di
ekskresikan oleh ginjal sebagai urine (kemih) yang encer dalam jumlah besar,
kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan urine yang dieksresikan
berkurang dan konsentrasinya lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan
tubuh dapat di pertahankan relative normal.
6) Fungsi hormonal dan metabolism. Ginjal menyekresi hormone renin yang
mempunyai perananpenting mengatur tekana darah (system rennin angiotensin
aldosteron) membentuk eritropoiesis mempunyai peranan penting untuk
memproses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis) Di samping itu ginjal
juga membentuk hormone dihidroksi kolekalsiferol (vitamin D aktif) yang
diperlukan untuk absorbsi ion kalium di usus.
c. Fascia Renalis terdiri dari :

Fasia prarenalis
6

Fasia
retrorenals
Fiksasi Ginjal
Kapsula
adiposa
Kapsula fibrosa

1) Fasia suprarenalis
Fasia suprarenalis merupakan penebalan jaringan extraperitoneal yang terletak
venteral dari ginjal. Ke medial menutup aorta abdominalis dan kava inferior
kemudian bargabung dengan fasia yang kontralateral. Ke cranial setelah
menutup glandula suprarenalis, fasia ini bergabung dengan fasia retrorenalis
kemudian melekat pada fasicies inferior diafragma. Ke arah lateral mengabung
dengan fasia retrorenalis kemudian ada beberapa pendapat yang mengatakan
melanjutkan diri menjadi fasia transversa abdominnis, sedangkan pendapat
tidak bergabung dengan fasia retrorenalis, tetapi tetap terbuka dan menghilang
jadi jaringan ekstraperitonela sekitar ureter
2) Fasia retrorenalis
Perjalanan fasia retrorenalis sama dengan fasia prerenalis, bedanhya kearah
medial ia melekat pada komumna vertebrarlis dan letaknhya dorsal dari ginjal.
Kedua fasia renalis ini dipisahkan dari kapsula fibrosa oleh suatu yang
dinamakan spatiumperirenalis yang terisi oleh jaringan lemall perirenal.
Jaringan lemak di luar fasia renalis disebut jaringan lemak parrarenal . diduga
tidak ada hubungan antara spatium perirenalis yang kiri
3) Kapsula fibrosa
Kapsula bibrosa merupakan jaringanikat / membrane yang melekat langsung
pada jaringan ginjal dan menjadi dasar, serta atap sinus renalis. Memberikan
septa-septa kea rah fasia renalis sehingga memperkuat fiksasi ginjal.
4)

Kapsula adipose
7

Kapsula adipose merupakan jaringan lemak yang berada antara kapsula fibrosa
dengan fasia renalis. Jadi, bagian ini merupakan jaringan lemak perirenal.
Vaskularisasi ginjal. Vaskularisasi ginjal

dsimulai dari cabanhg aorta

abdominalis dari arteri mesenterika superior yang kanan dorsal dari vena kava
inferior sebelum mencapai hilus telah bercabang-cabang jadi aa. Segmentales,
biasanya 3 anterior dari pelvis renalis dan 1 cabang di posterior dari pelvis
renal;is. Setel;ah mencapai hilus renalis masing-masing arteri renalis bercabang
jadi 4-5 cabang yang dinamakan : arteri interlobaris. Sebelum mencapai hilus
ia member cabang untuk glandula suprarenalis, ureter, dan jaringan lemak
pararenal.
Kadang- kadang ada sebuah arteri renalis aksesoris yang juga keluar dari aorta
abdominalis langsung menuju ke polus dari ginjal tanpa melaui hilus. Arteriarteri interlobularis berjalan di dalam medulla ( dalam kelumna renalis dan
Bertini ) yang akhirnya masing-masing membelok untuk membentuk arteri
arkuata yang berjalan di superficial basis piramida renalis ( pada perbatasan
koprteks medulla).
Aliran Limfa
1. Pleksus limfasius di dalam jatringan ginjal membentuk 4-5 trankus limfasius
, cairan limfa kemudian dialirkan ke nodus limfa dalam hilus renalis
akhirnya ke nodus limfa lumbalis ( nodus limfa paraaortikus ).
2. Pleksus limfaseus di dalam kapsula adip[osa dialirkan ke nodus limfa pada
hilus renlis akhirnya juga ke nodus limfa lumbalis
3. Pleksus limfaseus profundus dari kapsula fibrosa dialirkan ke nodus limfa
pada hilus renalis akhirnya ke nodus limfa lumbalis.
4. Terdapat hubungan timbal balik antara pleksus limfaseus dalam kapsula
adipose yang terletak profundus dari kapsula fibrosa.
2. Ureter
Ureter adalah saluran untuk urine yang berasal dari ginjal (melalui pelvis
renalis) ke vesika urinaria (buli-buli). Terdiri dari dua saluran pipa masing-masing
bersambung dari ginjal ke vesika urinaria. Panjangnya 25-30 cm, dengan
penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak pada rongga abdomen dan sebagian lagi
terletak pada rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari :
a) Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b) Lapisan tengah lapisan otot polos
c) Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
8

Lapisan dinding ureter menimbulkan gerak-gerakan peristaltic yang mendorong urin


masuk ke dalam kandung kemih.
Saluran ureter terbagi atas dua bagian , yaitu : pars abdominalis ( pada dinding dorsal
abdomen) dan pars pelvina( pada dinding pelvis)
a. Pars abdominalis
Secara anatomi, pars abdominalis panjangnya kurang lebih 25-35 cm. terletak
turun ke bawah ventral dari tepi medial muskulus psoas mayor yang memisahkan
dari ujung prosesus transverses vertebrata lumbalis 2-5 dan merupakan lanjutan
dari pelvis renalis yang terletak dorsal dari vasa renalis.ureter dekstra berjalan
dorsal dari pars desenden duodeni, arteri spermatika interna, arteri kolika dekstra,
dan arteri iliokoloka serta berada di sebelah kanan vena kava inferior. Ureter
sinistra berjalan dorsal dari arteri spermatika interna, arteri kolika sinistra, dan
kolon sigmoid.
b. Pars pelvivica
Setelah masuk kedalam kavum pelvis , ureter berjalan ke kaudal pada dinding
lkateral pelvis yang tertutup oleh peritoneum. Mula-mula terletak ventro-kaudal
dari arteri venous iliaka interna kemudian menyilang medial dari ( korda ) arteri
umbilicus dan arterivananervus,obturatoria. Pada tempat setinggi spina iskiadika
ia membelok kea rah ventromedial

Pars
abdominalis
Ureter
Pars pelvika

Kemudian mencapai bagian dorsal vesika urinaria kurang lebihs etinggi 4 cm


cranial dari tuberkulum pubikum.
Perjalanan selanjutnya terdapat perbedaan antara ureter pria dengan wanita.
Pada pria, ureter melallui ligamentum lateralis dari vesika urinaria di mana pada
tempat ini dia di silang oleh duktus deferens dari sebelah ventral yang kemudian
berada di medial ureter. Pada waktu mencapai vesika urinaria, ia terletak ventral
dari bagiankranial vesikula seminalisdan lateral dari duktus deferens.
Pada wanita setelah berada dalam kavum pelvis, ureter terletak dorsal dari
ovarium kemudian berjalan di dalam ligamentum kardinale ( bagian terbawah
plika lata ) sampai pada tempat kurang lebih 1,2 cm lateral dari serviks ( porsio
9

supravaginalis ). Di sini ureter disilangoleh arteri uterine yang terletak di


ventrokranialnya. Setelah berada 1,2 cm lateral dari serviks uteri, ureter
membelok klearah medial berjalan di dalam legamentum lateralis dari vesika
urinaria, yaitu di sebelah ventral dari batas lateral vagina kearah vesika urinaria .
jadi, di sini ureter berhubungan erat sekali dengan serviks uteri dan vagina. Pada
waktu dilakukan operasi uterus ( histerektomi) hal-hal tersebut di atas penting
untuk di ingat.
Terdapat tiga tempat penyempitan pada lumen ureter, diantaranya : 1)
peralihan dari pelvis renalis menjadi ureter : 2) peralihan dari pars abdominalis ke
pars pelvina, yaitu pada waktu ureter masuk ke dalam kavum pelvis dimana ia
menyilang arteri iliaka komunis/ bingkai pelvic, ventral

dari artikulasio

sakroiliaka:dan 3) saat ureter m,asuk kedalam vesika urinaria.


Vakularisasi ureter. Vasukularisari arteri ureter dimulai dari cabang-cabang
areteri renalis, arteri ovarika/spermatika interna, dan arteri vesikalis inferior.
Terkadang vaskularisasi arteri mendapat cabang langsung dari aorta, sedangkan
vaskularisasi vena mengikuti perjalanan arteri
Persarafan Ureter Persarafan ureter merupakan cabang dari pleksus
mesenterikus inferior , pleksus spermatiku, dan pleksus pelvis ; sepertiga dari
nervus vagus ; rantai eferens dan nervus vagus ; rantai eferen dari nervus torakali
ke XI dan ke XII dan nervus lumbalis ke I, dan nervus vagus mempunyai rantai
aferen untuk ureter.
3. Vesika Urinaria (Kandung Kemih)
Kandung kemih merupakan suatu kantung berotot yang dapat mengempis, terletak di
belakang simfisis pubis. Kandung kemih memiliki 3 muara yaitu 2 muara ureter dan 1
muara uretra. Sebagian besar kandung kemih tersusun dari otot (muskulus destrusor).
Dua fungsi kandung kemih:
a. Tempat penyimpanan urin sementara sebelum meninggalkan tubuh.
b. Mendorong urin keluar tubuh dengan dibantu uretra.

10

Gambar : kandung kemih


(sumber: http://www.urologyhealth.org)
Vesika urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk seperti
kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan dengan ligamentum vesika
umbilikalis medius. Letaknya di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul.
Vesika urinaria dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet.
Dinding kandung kemih terdiri dari :
a) Lapisan sebelah luar (peritoneum)
b) Tunika muskularis (lapisan berotot)
c) Tunika submukosa
Submukosa terdiri atas jaringan ikat kendur dengan serabut-serabut elastic kecuali
pada trigonum lietodi di mana mukosanya melekat erat pada jaringan otot di
bawahnya.

d) Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam)


Mukosa merupakan jaringan ikat kendur sehingga dalam keadaan kosong mukosa
vesika urinaria membentuk lipatan-lipatan yang disebut sebagai rugai vesika .
rugae ini menghilang bila vesika urinaria terisi penuh sehingga mukosanya tampak
licin.
11

Vaskularisasi arteri vesika urinnaria dimulai dari fascies superior dari

arterivesika superior. Basis dari :arteri deferensialis ( pria), arteri vaginalis


(wanita). Fascies inferior dar : arteri vesikalis inferior , arteri vaginalis.
Vaskularisasi

vena

vesika

urinaria

dialirkan

kedalam

pleksus

venosus

vesikalis/prostatikus menuju ke iliaka interna.


Persarafan Vesika Urinaria Persarafan vesika urinaria berasal dari pleksus
hipogastrica inferior. Serabut ganglion simpatikus berasal dari ganglion lumbalis
ke I dan II yang berjalan turun ke vesika urinaria melalui pleksus hipogatricus.
Serabut preganglion para simpatis yang keluar dari nervus splenikus pelvis yang
berasal dari nervus sakralis II, II, dan IV berjalan melalui hipogastricus inferior
mencapai dinding vesika urinaria. Sebagian besar serabut aferen sensoris yang
keluar dari vesika urinaria menuju system susunan saraf pusat melalui nervus
splanikus pelvikus berjalan bersama saraf simpati melalui pleksus hipogastrikus
masuk kedalam segmen lumbal ke I dan ke II medulla splinalis.
4. Uretra
Uretra adalah saluran kecil yang dapat mengembang, berjalan dari kandung kemih
sampai keluar tubuh. Panjang pada wanita 1, 5 inci dan laki laki 8 inci. Muara uretra
keluar tubuh disebut meatus urinarius.
Uretra pada laki laki:
a. Uretra prostatia
Uretra prostatia dikelilingi oleh kelenjar prostate. Menerima dua duktus ejakulator
yang terbentuk dari penyatuan duktus aferen dan duktus kelenjar vesikel seminalis.
b. Uretra membranosa
Uretra membranosa adalah bagian yang berdinding tipis dan dikelilingi otot rangka
sfingter uretra eksterna.
c. Uretra kavernosa
Uretra karvenosa merupakan bagian yang menerima duktus kelenjar bulbouretra
dan merentang sampai orifisium uretra eksternal pada ujung penis.
Uretra pada wanita
Lapisan uretra wanita terdiri dari :
1. Tunika muskularis (lapisan sebelah luar)
2. Lapisan spongeosa
3. Lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam)
Panjangnya kira-kira 3,7 6,2 cm (Taylor) 3 5 cm (Lewis). Sphincter uretra
terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan uretra disini hanya
sebagai saluran ekskresi. Uretra pada wanita, terletak di belakang simfisi pubis
12

berjalan miring sedikit ke arah atas , penjangnya kurang lebih 3 4 cm. Lapisan
uretra wanita terdiri dari tunika muskularis ( sebelah luar ), lapisan spongeosa
merupakan pleksus dari vena-vena dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam ).
Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagian)
dan uretra disini hanya sebagai saluran ekstresi.
Apabila tidak berdilatasi dimeternya 6 cm. Uretra ini menembus fasia difragma
urogenitalis dan orifisium ekterna langsung di depan permukaan vagina, 2,5 cm
dibelakang gland klitoris. Glandula uretra bermuara ke uretra, yang terbesar
diantarany adalah glandula pars uretralis (skene) yang bermuara kedalam orifisum
uretra yang hanya berfungsi sebagai saluran ekskresi. Diafragma urogenitalis dan
orifisium eksterna langsung di depan permukaan vagian dan 2,5 cm di belakang
gland klitoris.
Uretra wanita jauh lebih pendek dari pada uretra pria dan terdiri dari lapisan
otot polos yang diperkuat oleh sfingter otot rangka pada muaranya penonjolan
berupa kelenjar dan jaringan ikat fibrosa longgar yang ditandai dengan banyak
sinus venosus mirip jaringan kavernosus.
Vaskularisasi. Vaskularisasi arteri

uretra

pria

diantaranya

arteri

haemorrhoidalis media, arteri vesikalis kaudalis, arteri bulbi penis, dan arteri
uretralis. Vaskularisasi vena uretra pria berjalan melalui pleksus vesikopudendalis
dialirkan ke vena pudendalis interna.

B. PROSES PEMBENTUKAN DAN KOMPOSISI URIN


1. Proses Pembentukan Urin
Glomerulus berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada simpai bowman, berfungsi
untuk menampung hasil filtrasi dari glomerulus. Pada tubulus ginjal akan
terjadipenyerapan kembali zat-zat yang sudah disaring pada glomerulus, sisa cairan
akan diteruskan ke piala ginjal terus berlanjut ke ureter.

13

Gambar : tubulus ginjal


(sumber : http://anfisdeny.blogspot.com)

Urine berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk ke dalam ginjal,
darah ini terdiri dari bagian yang pada yaitu sel darah dan sebagian plasma darah.
Ada 3 tahap pembentukan urine :
a. Proses Filtrasi
Terjadi di glomerulus, proses ini terjadi karena permukaan aferen lebih
besar dari permukaan eferen maka terjadi penyerapan darah. Sedangkan
sebgian yang tersaring adalah bagian cairan kecuali protein. Cairan yang
tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa, air,
natrium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, yang diteruskan ke tubulus ginjal.
b. Proses reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar glukosa,
natrium, klorida, fosfat dan ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang
dikenal dengan obligator reabsorbsiterjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada
tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan natrium dan ion
bikarbonat. Bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian
14

bawah. Penyerapannya terjadi secara ktif dikenal dengan reabsorbsi fakultatif


dan sisana dialirkan pada papilla renalis.
c. Proses Sekresi
Sisanya penyerapan urine kembali yang terjadi pada tubulus dan
diteruskan ke piala ginjal selanjutnya diteruskan ke ureter masuk ke vesika
urinaria.
2. Komposisi Urine
Urine terdiri dari air, garam, dan produk sisa protein, yang disbut urea, asam
urat, dan kreatinin. Komposisi rata-rata urine adalah: air, 96 persen; urea, 2 persen;
asam urat dan garam, 2 persen.
Persentase urea dalam plasma darah adalah 0,04 dibanding 2 persen di dalam
urine, sehingga konsentrasi ditingkatkan 50 kali oleh kerja ginjal. Garam terutama
terdiri dari natrium klorida, fosfat, dan sulfat, yang sebagian dihasilkan dari
penggunaan fosfor dan sulfur, yang terkandung pada makanan berprotein. Garam
garam ini harus direabsorpsi atau terdapatdalam jumlah jumlah yang cukup untuk
mempertahankan darah pada reaksi normalnya dan mempertahankan supaya air dan
elektrolit seimbang. Karena reaksi ini dan konsentrasi garam esensial untuk
kehidupan korpus darah dan sel-sel jaringan, fungsi ginjal ini menjadi sangat
penting. Kuantitatas normal urine yang disekresikan ialah 1 5 liter dalam 24jam,
tetapi dapat meningkatkan akibat minum dan cuaca dingin dan menurun akibat
penurunan masukan cairan dan akibat cuaca panas, latihan fisik, dan demam karena
hal ini menyebabkan produksi keringat meningkta
Dalam kondisi normal. Garam kalium disaring dan direabsorpsi atau diekskresi
sesuai kebutuhan, untuk mempertahankan kadar dalam cairan tubuh normal. Pada
gagal ginjal, eksresi garam natrium dapat diperiksa sehingga jumlah dalam cairan
tubuh dan jaringan meningkat.
Urine terutama terdiri atas air, urea, dan natrium klorida. Ureum merupakan
hasil akhir metabolisme protein dan berasal dari asam amino dalam hati yang
mencapai ginjal. Kandungan ureum normal dalam daraha sekitar 30-100 cc, namun
tergantung dari jumlah protein yang dimakan dan fungsi hati dalam pembentukan
ureum. Kreatinin adalah hasil buangan metabolisme protein dalam otot. Produk
metabolisme mencakup benda-benda . oksalat, fosfat, dan sulfat.
Elektrolit atau garam seperti natrium dan kalium klorida diekskresikan untuk
mengimbangi jumlah yang masuk melalui mulut.
Komposisi urin normal
15

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kandungan
Air
Benda padat:
- Urea
- Lainya

Jumlah diekskresikan per hari


96%
2%
2%
30 mg
1,5 -2 mg
-

Ureum
Asam urat
Kreatinin
Elektrolit

C. PENYIMPANAN DAN ELIMINASI URIN


1. Penyimpanan
Dinding ureter mengandung otot polos yang tersusun dalam berkas spiral
longitudinal dan sirkuler, lapisan otot yang tidak terlihat. Kontraksi peristaltic teratur
dari 1 5 kali / menit dan menggerakkan uri dari pelvis renalis ke vesika urinaria, di
semprotkan setiap gelombang peristaltic. Ureter berjalan miring melalui dinding
vesika urinaria untuk menjaga ureter tertutup, kecuali selama gelombang peristaltic
dan mencegah urine tidak kembali ke ureter.
Apabila vesika urinaria terisi penuh, permukaan superior membesar dan
menonjol ke atas masuk ke dalam rongga abdomen. Peritoneum menutupi bagian
bawah dindinganterior kolum vesika urinaria yang terletak dibawah vesika urinaria
dan permukaan atas prostat. Serabut otot polos prostat kolum vesika urinaria
dilanjutkan sebagai serabut otot polos prostat. Kolum vesika urinaria yang
dipertahankan pada tempatnya pada pria oleh ligamentum puboprostatika dan pada
wanita oleh ligament, pubovesikalis yang merupakan penebalan fasia pelvis.
Membran mukosa vesika urinaria dalam keadaan kosong berlipat-lipat. Lipatan
ini menghilang apabila vesika urinaria terisi penuh. Daerah membrane mukosa
meliputi permukaan dalam basis vesika urinaria yang dinamakan trigonum. Vesika
ureter menembus dinding vesika urinaria secara miring, membuat seperti katup untuk
mencegah aliran balik urine ke ginjal pada waktu vesika urinaria terisi.
Kontraksi Otot m.destrusor bertanggungjawab pada pengosongan vesika
urinaria selama berkemih (mikturisi), berkas otot berjalab pada sisi uretra. Serabut ini
dinamakan sfingter uretra interna. Sepanjang uretra terdapat sfingter uretra
membranosa (sfingter uretra eksternal). Epitel vesika urinaria dibentuk dari lapisan
superfisialis sel kuboid.
Urine mengalir dari duktus koligentes masuk ke kalik renalis meregangkan
kaliks renalis dan meningkatklan aktivitasnya yangkemudian mencetuskan kontraksi
16

peristaltic yang menyebar ke pelvis renalis kemudian turun sepanjang ureter. Dengan
demikian mendorong urine dari pelvis renalis kea rah kandung kemih.
Dinding ureter terdiri dari otot polos dan dipersarafi oleh saraf simpatis.
Kontraksi peristaltic pada ureter ditingkatkan oleh perangsangan para simpatis dan
dihambat oleh perangsangan simpatis. Ureter memasuki kandung kemih menembus
otot destrusor di daerah trigonum kandung kemih sepanjang beberapa sentimeter
menembus dinding kandung kemih. Tonus normal dari otot destrusor pada dinding
kandung kemih cenderung menekan ureter dengan demikian mencegah aliran balik
urine dari kandung kemih sewaktu terjadi kompresi kandung kemih.
Setiap gelombang peristaltic terjadi sepanjang ureter akan meningkatkan
tekanan dalam ureter sehingga bagian yang menembus dinding kandung kemih
membuka dan memberikan kesempatan urine mengalir ke dalam kandung kemih.

2. Eliminasi Urin
Mikturisi merupakan peristiwa pembuangan urine. Keinginan berkemih
disebabkan oleh penambahan tekanan dalam kandung kemih dan isi urine di
dalamnya. Jumlah urine yang ditampung kandung kemih dan menyebabkan miksi
yaitu 170-230 ml. Mikturisi merupakan gerakan yang dapat dikendalikan dan ditahan
oleh pusat0pusat persarafan. Kandung kemih dikendalikan oleh saraf pelvis dan
serabut saraf simpatik dari pleksus hipogastrik.
D. Pemekatan Urine dan Mekanisme Counter Current
1. Pemekatan Urine
Proses untuk pemekatan urina tidak sesederhana mengencerkannya. Namun
terkadang sangat penting untuk memekatkannya sehingga dapat membuang solute
yang kelebihan dengan kehilangan air sekecil mungkin dari tubuh. Untungnya ginjal
mempunyai mekanisme khusus untuk memekatkan urina tersebut, yang disebut
mekanisme counter current.
Mekanisme counter current tergantung kepada suatu susunan anatomis khusus
dari ansa Henle dan vasa rekta. Pada manusia, ansa Henle dari kira-kira sepertiga
sampai seperlima nefron jatuh turun ke dalam medulla kemudian kembali ke korteks.
Kelompok nefron ini dengan ansa Henle panjang dinamai nefron juktameduler. Sejajar
dengan ansa Henle panjang adalah gelung kapiler peritubular yang dinamai vasa rekta,
gelung ini turun ke bawah ke dalam medulla dan kemudian kembali ke korteks.
17

Empat mekanisme pemekatan solute yang berbeda bertanggung jawab bagi


hiperosmolalitas adalah sebagai berikut:
a. Pertama, penyebab utama sangat meningkatnyaosmolalitas cairan interstisial
medulla ini adalah transport aktif ion klorida (ditambah absorpsi pasif elektronik
ion-ion natrium) keluar dari bagian tebal pars asendens ansa Henle.
b. Kedua, ion-ion juga ditranspor ke dalam cairan interstisial medulla dari duktus
koligens, terutama sebagai hasil transport aktif ion natrium dan absorpsi pasif
elektrogenik ion-ion klorida bersama dengan ion-ion natrium.
c. Ketiga, bila konsentrasi hormone antidiuretik tinggi di dalam darah, maka sejumlah
besar urea akan di absorpsi ke dalam cairan medulla dari duktus koligens medulla
dalam. Bila ada hormone antidiuretik, maka duktus koligens di bagian dalam
medulla menjadi permeable secara moderate bagi urea. Akibatnya, konsentrasi urea
dalam cairan interstisial medulla meningkat sehingga hamper sama dengan
konsentrasi di dalam duktus koligens.
d. Keempat, kejadian terakhir yang menyebabkan peningkatan konsentrasi osmolal
cairan interstisial medulla adalah absorpsi ion-ion natrium dan klorida ke dalam
interstisium bagian dalam medulla dari bagian segmen tipi sans Henle. Bila
konsentrasi urea meningkat sangat tinggi di dalam interstisium medulla karena
absorpsi urea dari duktus koligens, ini segera menggerakkan osmosis air keluar dari
cabang tipis desendens ansa Henle. Sehingga konsentrasi natrium klorida di dalam
cabang tipis ansa Henle meningkat hamper dua kali normal. Karena konsentrasi
yang tinggi, ion-ion natrium dan klorida berdifusi secara pasif keluar dari segmen
tipis ke dalam interstisium.
Ringkasnya, ada empat factor berbeda yang menyokong peningkatan osmolalitas
di dalam cairan interstisial medulla, yaitu: transport aktif ion-ion ke dalam
interstisium oleh bagian tebal cabang asendens ansa Henle, transport aktif ion-ion
dari duktus koligens ke dalam interstisium, difusi pasif sejumlah besar urea dari
duktus koligens ke dalam interstisium, dan absorpsi tambahan natrium dan klorida
ke dalam interstisium dari segmen ansa Henle. Hasil bersihnya adalah peningkatan
osmolalitas cairan interstisial medulla.
2. Mekanisme Counter Current
Aliran darah medulla mempunyai dua karakteristik, yang keduanya sangat
penting untuk mempertahankan konsentrasi solute yang tinggi di dalam cairan
interstisial medulla:
18

a. Pertama, aliran darah medulla sangat lambat, hanya berjumlah 1 sampai 2


persen aliran darah ginjal total. Karena aliran yang lambat ini, maka
pembuangan solute minimum.
b. Kedua, fungsi vasa rekta sebagai penukar counter current yang mencegah
hanyutnya solute dari medulla.
Mekanisme pertukaran counter current merupakan salah satu mekanisme
cairan mengalir melalui tabung U yang panjang, dengan dua lengan U yang terletak
dekat satu dengan yang lain sehingga cairan dan solute dapat segera bertukar antara
kedua lengan. Bila cairan dan solute ini di dalam dua aliran sejajar berdampingan
dapat segera bertukaran, maka konsentrasi solute yang tinggi dapat dipertahankan
pada puncak ansa dengan jumlah solute yang hanyut yang relative dapat diabaikan.
Jadi, ketika darah mengalir menuruni pars desenden vasa rekta, natrium klorida
dan urea berdifusi ke dalam darah dan cairan interstisial, sementara air berdifusi keluar
ke dalam interstisium dan dua efek ini menyebabkan konsentraasi osmol dalam darah
meningkat secara progresif, mencapai suatu konsentrasi maksimum sebesar 1.200
milosmol/literpada ujung vasa rekta tersebut. Kemudian ketika darah mengalir
kembali ke atas mendaki air asendens, sifat semua molekul yang sangat mudah
berdifusi melalui membrane kapiler pada dasarnya memungkinkan semua natrium
klorida dan urea yang sama berdifusi kembali keluar dari darah ke dalam cairan
interstisial sementara air kembali berdifusi ke dalam darah. Oleh karena itu, pada saat
darah akhirnya meninggalkan medulla, konsentrasi osmolnya hanya sedikit lebih
tinggi daripada konsentrasi osmol darah yang mula-mula masuk vasa rekta. Sebagai
akibatnya, darah yang mengalir melalui vasa rekta hanya mengangkut sejumlah kecil
solute interstisial medulla keluar dari medulla.

19

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sistem perkemihan atau sering disebut dengan system urinary adalah salah satu
system yang berhubungan dengan eliminasi. Sistem perkemihan, adalah suatu sistem
dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh.
Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin
Sistem urinary memiliki beberapa organ yang memiliki peran dalam
mengekskresikan urin yaitu:
a) Renal
b) Ureter
c) Vesica urinaria
d) Uretra
Proses pembentukan urin yakni dengan cara proses filtrasi , absorbsi ,
reabsorbsi, sekresi dan komposisi dari urine adalah terdiri dari kira-kira 95% air, Zat-zat
sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak, dan kreatinin,
klemudian dari cairan elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fospat dan sulfat,
Pagman (birilubin dan urobilin), Toksin , dan Hormon.
B. SARAN
Disarankan kepada pembaca agar dapat lebih memahami tentang anatomi dan
sisiologi sistem perkemihan dan pembaca dapat mencari data terkait di sumber-sumber
lain.

DAFTAR PUSTAKA

20

Syaifuddin.2006.Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarata;EGC


Sugeng Mashudi.2011. Buku Ajar Anatomi Dan Fisiologi Dasar.Jakarta.,Salemba
Medika
Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu
Luklukaningsih Zuyina, 2011, Anatomi dan Fisologi Manusia, Yogyakarta; Nuha
Medika
Guyton dan Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Suddart, & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,VoL 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Guyton dan Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Watson, Roger. 1997. Anatomi Fisiologi Untuk Perawat. Jakarta : EGC
https://id.scribd.com/doc/185926748/Pembahasan-Sistem-Anatomi-FisiologiPerkemihan#download
https://id.scribd.com/doc/63466568/Anatomi-Dan-Fisiologi-Sistem-Perkemiha
https://id.scribd.com/doc/81325492/Anatomi-Fisiologi-Sistem-Perkemihan

21