Anda di halaman 1dari 428

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah


Departemen Pendidikan Nasional

BUKU TEKS
TEKNIKA KAPAL PENANGKAP IKAN

Disusun berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi


dasar, buku ini menaruh perhatian besar terhadap kompetensi
untuk Siswa SMK Kelautan dan Perikanan.

Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi siswa yang bergelut


dalam bidang teknika kapal penangkap ikan.

KATA PENGANTAR

Berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa sebagian besar lulusan sekolah


menengah kejuruan (SMK) belum mampu menyesuaikan diri dengan perubahan
maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Temuan tersebut
tampaknya mengindikasi bahwa pembelajaran di SMK belum menyentuh untuk
mengembangkan kemampuan adaptasi peserta didik. Studi itu juga memperoleh
gambaran bahwa sebagian lulusan SMK tidak bisa diserap di lapangan kerja, karena
kompetensi yang mereka miliki belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Mutu produk pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses pelaksanaan
pembelajaran yang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: kurikulum, tenaga
kependidikan, proses pembelajaran, sarana-prasarana, alat-bahan, manajemen
sekolah, lingkungan kerja dan kerjasama industri. Salah satu penentu keberhasilan
dalam proses belajar mengajar adalah tersedianya buku-buku pelajaran yang relevan
dengan kompetensinya.
Pendidikan menengah kejuruan diharapkan mampu mendukung pembangunan di
masa mendatang, dan dapat mengembangkan potensi peserta didik. Konsep
pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki
kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu
menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari di sekolah untuk
diaplikasikan di dunia kerja dan dunia industri.
Ucapan terima kasih kepada istri tercinta Hj. Euis Kurniawati, S.Pd anak-anak
tersayang Syilfa Putri Subroto dan M. Obby Adianto yang telah memberikan
dorongan semangat serta diucapkan terima kasih kepada rekan sejawat yang telah
banyak membantu dalam penyusunan buku ini.
Penulis berharap semoga buku ini dapat kiranya bermanfaat bagi para siswa SMK
kelautan dan perikanan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya.

DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR GAMBAR

viii

DAFTAR TABEL

xiv

BAB 1. Melakukan Pencegahan Lingkungan Laut


1.1. Sumber pencemaran laut

1.2. Peralatan pencegah pencemaran

..

1.3. Perawatan dan pemeliharaan

..

12

1.4. Mencegah pencemaran laut

13

1.5. Penanggulangan pencemaran ..

14

BAB 2. Menerapkan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Di Atas Kapal


2.1. Peraturan keselamatan dan kesehatan kerja

........

18

2.2. Peralatan keselamatan kerja ............................................

20

2.3. Tindakan memasuki ruang tertutup ................................

25

2.4. Pencegahan kecelakaan

26

............................................

BAB 3. Melakukan Pencegahan Dan Pemadaman Kebakaran Di Kapal


3.1. Klasifikasi api dan memilih media pemadamannya ........

31

3.2. Peralatan pemadam kebakaran

34

................................

3.3. Perlengkapan personil pemadam kebakaran

........

35

3.4. Cara-cara pencegahan terjadinya kebakaran ..........

37

3.5. Sistem pemadaman kebakaran instalasi tetap ........

40

3.6. Organisasi pemadam kebakaran di atas kapal

........

43

BAB 4. Menerapkan Prosedur Penyelamatan Diri Darurat Dan Sar


4.1. Keadaan Darurat

.......................................................

4.2. Alat-Alat Isyarat

53

4.3. Mencegah terjadinya keadaan darurat

.............

51

53

4.4. SAR Dengan Bantuan Helikopter

...............................

54

4.5. Penanggulangan Keadaan Darurat

..

54

BAB 5. Menerapkan Pelayanan Medis Dan P3k Di Atas Kapal

5.1. Susunan tubuh manusia dan fungsinya

....................

58

5.2. Prinsip-prinsip umum P3K

............................................

63

5.3. Melakukan pertolongan

............................................

65

5.4. Penyelamatan dan pengangkatan korban akibat

kecelakaan

...................................................................

5.5. Prosedur pelayanan

.......................................................

5.6. Prosedur pelayanan medis melalui radio

....................

74
74
76

BAB 6. Menerapkan Prosedur Penyelamatan Diri Di Kapal


6.1. Prosedur Penyelamatan Diri ...........................................

77

6.2. Peralatan keselamatan di kapal

...............................

85

...........................................................

87

6.3. Komunikasi

BAB 7. Menerapkan Hubungan Kemanusian Dan Tanggung Jawab


Sosial Di Atas Kapal
7.1. Aspek hubungan antar manusia

...............................

89

...........................................

92

7.3. Konflik

..................................................................

93

7.4. Kedudukan

..................................................................

94

7.2. Masalah-masalah sosial

7.5. Hubungan sosial di kapal

..........................................

7.6. Organisasi manajemen perkapalan

95

..............................

97

7.7. Sistem kerja di kapal ......................................................

100

7.8. Sosial dan lingkungan kerja ..........................................

101

7.9. Manajemen perkapalan

105

..........................................

7.10. Tugas dan tanggungjawan awak kapal

...................

106

..........................................

109

BAB 8. Menerapkan Dasar-Dasar Elektronika


8.1. Dasar-dasar elektronika

8.2. Mengenal komponen elektronika

..............................

112

8.3. Membaca rangkaian elektronika

..............................

114

8.4. Simbol-simbol rangkaian elektronika .............................

115

8.5. Pengukuran elektronika dan diagnosis kesalahan

.....

116

.................

119

....................................................

120

BAB 9. Mengidentifikasi Mesin Penggerak Utama


9.1. Mesin penggerak utama kapal perikanan
9.2. Prinsip kerja motor

9.3. Proses pembakaran motor diesel

............................

122

9.4. Komponen utama motor diesel

............................

124

9.5. Sistem penunjang pada motor diesel ............................

127

BAB 10. Menerapkan Hukum Laut


10.1. Pendafataran kapal ...................................................

132

10.2. Perusahaan pelayaran

.......................................

133

10.3. Awak kapal ..............................................................

134

10.4. Perjanjian kerja laut ..................................................

135

10.5. Kelaik lautan kapal ..................................................

137

10.6. Biro klasifikasi

141

..................................................

BAB 11. Mengidentifikasi Bangunan Kapal


11.1. Ukuran pokok kapal ..................................................

143

11.2. Pembagian bangunan kapal

..........................

144

11.3. Struktur dan bagian-bagian kapal

..........................

144

..................................................

152

BAB 12. Memahami Stabilitas Kapal


12.1. Stabilitas kapal

BAB 13. Mengoperasikan Mesin Penggerak Utama Kapal Perikanan


13.1. Mesin penggerak utama kapal
13.2. Pengoperasian motor

..........................

166

......................................

168

13.3. Menjaga kondisi operasi mesin


13.4. Sistem pendingin

..........................

170

.................................................

171

BAB 14. Melakukan Perawatan Mesin Penggerak Utama Kapal


Perikanan
14.1. Pemeliharaan motor mesin penggerak utama kapal
Perikanan

............................................................

14.2. Pemeliharaan pencegahan secara berkala

176

.............

179

....................................

180

14.4. Perawatan komponen utama motor diesel .............

182

14.5. Perawatan sistem start pada motor diesel

184

14.3. Pemeriksaan berkala

.............

BAB 15. Melakukan Perawatan Mesin Bantu Dek dan Mesin Bantu
Penangkapan
15.1. Mempersiapkan pekerjaan perawatan mesin............

187

15.2. Perawatan mesin-mesin dek

..........................

189

15.3. Mengoperasikan mesin bantu dek

..........................

189

15.4. Menjaga kondisi operasi mesin

..........................

194

15.5. Sistem perpipaan di kapal ikan

..........................

199

BAB 16. Mengoperasikan dan Merawat Peralatan Otomatis


16.1. Persiapan

.............................................................

16.2. Jenis-jenis peralatan

202

......................................

203

16.3. Merawat peralatan otomatis

..........................

206

16.4. Gangguan dan cara mengatasi

..........................

206

BAB 17. Mengoperasikan, Menjaga dan Merawat Sistem Kelistrikan


Kapal
17.1. Jenis-jenis arus listrik

.....................................

209

17.2. Sumber energi listrik

.....................................

209

17.3. Mengoperasikan generator .....................................

215

17.4. Menjaga sistem kelistrikan .....................................

220

17.5. Perawatan

.............................................................

223

17.6. Pemanfaatan tenaga listrik ......................................

224

BAB 18. Mengoperasikan dan Merawat Sistem Refrigerasi


18.1. Sistem refrigerasi

.................................................

18.2. Prinsip dasar refrigerasi mekanik

226

..........................

227

..............

228

18.4. Konstruksi kompresor regfrigerasi ..........................

229

18.5. Komponen mesin refrigerasi

..........................

230

..............

231

18.7. Mengatasi gangguan pada mesin refrigerasi

..

234

18.8. Perawatan dan perbaikan mesin refrigerasi

..

235

19.1. Melakukan kerja bangku

.....................................

242

19.2. Melaksanakan kerja las

.....................................

244

18.3. Sirkulasi sistem refrigerasi mekanik

18.6. Mengoperasikan sistem refrigerasi

BAB 19. Melakukan Kerja Bengkel

19.3. Melaksanakan keselamatankerja

.........................

250

.....................................

252

.................................................

255

19.4. Melakukan kerja bubut


19.5. Cara mengebor

BAB 20. Melakukan Dinas Jaga Mesin


20.1. Syarat-syarat dinas jaga

.....................................

256

20.2. Prosedur dinas jaga .................................................

258

20.3. Menerima tugas jaga

.....................................

260

20.4. Menyerahkan tugas jaga

.....................................

261

20.5. Jenis-jenis tugas jaga

.....................................

262

20.6. Tuga jaga dalam keadaan khusus

.........................

270

20.7. Laporan dinas jaga dan buku harian kamar mesin ...

272

20.8. Persiapan fisik dan mental .....................................

273

BAB 21. Memilih Bahan Teknik


21.1. Bahan teknik

.................................................

275

21.2. Persiapan pemilihan bahan teknik ..........................

275

21.3. Pemilihan bahan

..................................................

275

21.4. Pembuatan bahan

..................................................

281

21.5. Menghitung kebutuhan bahan


21.6. Melakukan pengujian

...........................

287

.......................................

288

BAB 22. Menggambar Teknik


22.1. Perlengkapan menggambar mesin
22.2. Membuat gambar mesin

................

290

.......................................

292

22.3. Menulis ukuran pada gambar


22.4. Penerapan gambar mesin

...........................

294

.......................................

294

BAB 23. Menerapkan Penanganan Hasil tangkap


23.1. Penanganan ikan di atas kapal

...........................

23.2. Persiapan menyimpan hasil tangkapan

...............

23.3. Melakukan pendinginan dan pembekuan ikan

296
299

..

304

......................................

306

24.1. Jenis-jenis alat tangkap

......................................

311

24.2. Alat bantu penangkapan

......................................

327

..............................................................

328

23.4. Menjaga mutu produk


BAB 24. Merawat Alat Penangkap Ikan

24.3. Perawatan

BAB 25. Menerapkan Penangkapan Ikan Dengan berbagai Alat Tangkap


25.1. Jaring cincin (Purse seine) ......................................

330

25.2. Jaring payang

..................................................

335

25.3. Pukat ikan (Trawl) ..................................................

337

25.4. Jaring insang (Gillnet)

......................................

340

..............................................................

344

25.5. Long line

GLOSARIUM
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1.

Oily Water Separator

Gambar 1.2.

Incinerator

Gambar 3.1.

Segitiga Api

Gambar 3.2.

Tabung Pemadam Busa

Gambar 3.3.

Tabung Pemadam Tepung Kimia

Gambar 3.4.

Tabung Pemadam Karbondioksida

Gambar 3.5.

Selang dan Nozzle

Gambar 3.6.

Baju Tahan Api

Gambar 3.7.

Alat Pelindung Pernapasan

Gambar 3.8.

Cara Penguraian

Gambar 3.9.

Cara Pendinginan

Gambar 3.10.

Cara Isolasi

Gambar 3.11.

Nozzle Tipe Sprinkel

Gambar 3.12.

Sistem Deteksi Awal Bahaya Kebakaran

Gambar 3.13.

Instalasi Pipa Pemadam Kebakaran

Gambar 3.14.

Cara Pemadaman Kebakaran

Gambar 4.1.

Kapal Tubrukan

Gambar 4.2.

Kapal Kandas

Gambar 4.3.

Kapal Terbakar

Gambar. 5.1.

Organ Jantung

Gambar 5.2.

Organ Paru-Paru

Gambar 5.3.

Organ Ginjal

Gambar 5.4.

Organ Hati

Gambar 5.5.

Cara Memasang Tourniquet

Gambar 6.1.

Meninggalkan Kapal

Gambar 6.2.

Bertahan Di Laut

Gambar 6.3.

Makanan Dipadatkan

Gambar 6.4.

Air Mineral

Gambar 6.5.

Life Jacket

Gambar 6.6.

Life raft

Gambar 8.1.

Simbol Pengukur Amper

Gambar 8.2.

Simbol Pengukur Tegangan

Gambar 8.3.

Hubungan Deret

Gambar 8.4.

Hubungan Paralel

Gambar 8.5.

Hubungan Seri-Paralel

Gambar 8.6.

Multimeter

Gambar 8.7.

Insulation Tester

Gambar 8.8.

Solder

Gambar 9.1.

Mesin utama penggerak kapal

Gambar 9.2.

Prinsip Kerja Motor Diesel 4 Langkah

Gambar 9.3.

Prinsip Kerja Motor Diesel 2 Langkah

Gambar 9.4.

Grafik Pembakaran Motor Diesel

Gambar 9.5.

Mesin Diesel

Gambar 9.6.

Sistem Bahan Bakar

Gambar 10.1.

Buku Pelaut

Gambar 11.1.

Ukuran Pokok Kapal

Gambar 11.2.

Ukuran Tegak Kapal

Gambar 11.3.

Cara Penomoran

Gambar 11.4.

Instalasi Poros Baling-Baling

Gambar 11.5.

Wrang Terbuka Pada Sistem Kerangka Melintang

Gambar 11.6.

Penampang Melintang Kapal

Gambar 11.7.

Gading-gading Kapal

Gambar 11.8.

Plimsol Mark

Gambar 12.1.

Titik-Titik Penting Dalam Stabilitas

Gambar 12.2.

Momen Penegak Atau Lengan Penegak

Gambar 13.1.

Instalasi Mesin Utama Penggerak Kapal

Gambar 13.2.

Mesin Utama

Gambar 13.3.

Pompa Pendingin Air laut

Gambar 14.1.

F.I.P. Tester

Gambar 15.1.

Perbaikan Mesin

Gambar 15.2.

Mesin Jangkar

Gambar 17.1.

Generator

Gambar 17.2.

Prinsip Kerja Generator Arus Bolak-Balik .

Gambar 17.3.

Papan Hubung

Gambar 17.4.

Ampere meter

Gambar 17.5.

Voltmeter

Gambar 17.6.

Frekwensimeter

Gambar 17.7.

Watt meter

Gambar 17.8.

Magnetic Contactor

Gambar 17.9.

Diagram Kelistrikan Motor Penggerak

Gambar 17.10.

Perbaikan Mesin Pembangkit Listrik

Gambar 18.1.

Siklus Sistem Refrigerasi Mekanik

Gambar 18.2.

Kompresor Satu Tingkat (single stage)

Gambar 18.3.

Kompresor Dua Tingkat

Gambar 18.4.

Evaporator

Gambar 18. 5.

Gas Purger

Gambar 18.6.

Suhu dan Tekanan Kerja Kompresor

Gambar 18.7.

Cara Pengisian Refrigeran

Gambar 18.8.

Perbaikan Kompresor

Gambar 19.1.

Mesin Gerinda

Gambar 19.2.

Regulator

Gambar 19.3.

Generator Asiteline

Gambar 19.4.

Mesin Bubut

Gambar 19.5.

Mesin Bor

Gambar 20.1.

Ruang Kontrol Kamar Mesin

Gambar 20.2.

Handel Manuver

Gambar 20.3.

Mengawasi Mesin

Gambar 20.4.

Serah Terima Jaga

Gambar 20.5

Kamar Mesin Keadaan Bersih Saat Timbang Terima.

Gambar 20.6.

Separator Bahan Bakar

Gambar 20. 7

Saringan Udara Pneumatis

Gambar 20.8.

Alat-alat Pengukur Generator

Gambar 21.1.

Dapur Tinggi Pengolahan Biji Besi Menjadi Besi

Gambar 22.1.

Kolom Gambar

Gambar 23.2.

Penyortiran

Gambar 24.1.

Jaring Rampus

Gambar 24.2.

Desain Jaring Payang

Gambar 24.3.

Pemasangan Tali Ris Atas

Gambar 24.4.

Pemasangan Tali Ris Bawah

Gambar 24.5.

Tali Ring Kaki Tunggal

Gambar 24.6.

Tali Ring Kaki Ganda

Gambar 24.7.

Tali Ring Kaki Ganda (bentuk dasi)

Gambar 24.8.

Purse Seine Bentuk Segi Empat

Gambar 24.9.

Purse Seine Bentuk Trapesium

Gambar 24.10.

Purse Seine Bentuk Lekuk

Gambar 24.11.

Purse Seine Dengan Satu Buah Kapal

Gambar 24.12.

Single Trawl

Gambar 24.13.

Stern Double Trawl

Gambar 24.14.

Badan Jaring Trawl

Gambar 24.15.

Susunan Bagian Bagian Trawl

Gambar 24.16.

Rawai Permukaan

Gambar 24.17.

Rawai Pertengahan

Gambar 24.18.

Rawai Dasar

Gambar 24.19.

Rawai Vertikal

Gambar 24.20.

Rawai Horizontal

Gambar 24.21.

Badan Gillnet

Gambar 24.22.

Tali Ris Atas

Gambar 24.23.

Jaring Gillnet

Gambar 24.24.

Tali Ris Bawah

Gambar 24.25.

Pemberat

Gambar 24.26.

teknik Pemotongan

Gambar 25.1.

Penyusunan Jaring Di Sisi (Lambung) Kanan Kapal

Gambar 25.2.

Penyusunan Jaring Di Sisi (Lambung) Kiri Kapal

Gambar 25.3.

Penyusunan Jaring Di Buritan (Dek Belakang)

Gambar 25.4.

Kedudukan Alat Tangkap Terhadap Angin

Gambar 25.5.

Kedudukan Alat Tangkap Terhadap Arah Pergerakan Ikan

Gambar 25.6.

Kedudukan Kapal Penangkap Terhadap Arah Sinar Matahari

Gambar 25.7.

Pengoperasian Jaring Payang

Gambar 25.8.

Kapal Double Rig Trawl Sedang Beroperasi

Gambar 25.9.

ABK Sedang Menarik Jaring Gill Net

Gambar 25.10.

Posisi Kapal Pada Saat Penurunan Alat.

Gambar 25.11.

Daerah Penangkapan Tuna Di Indonesia

DAFTAR TABEL
Tabel 1.

Sumber Pencemaran Laut

Tabel 2.

Alat Keselamatan Kerja Dan Kegunaannya

Tabel 3.

Daftar Peran/Roll Bahaya Kebakaran

Tabel 4.

Peran Meninggalkan Kapal Bagian Dek

Tabel 5.

Peran Meninggalkan Kapal Bagian Mesin

Tabel 6.

Kode Warna Resistor

Tabel 7.

Gas Buang Mesin Berwarna Hitam Dan Cara Mengatasinya

Tabel 8.

Suhu Gas Buang Dari Masing-Masing Selinder Tidak Seimbang

Tabel 9.

Kecepatan Mesin Menurun Saat Operasi

Tabel 10.

Terjadi Getaran Atau Bunyi Abnormal Pada Mesin

Tabel 11.

Perawatan Berkala

Tabel 12.

Pedoman Untuk Mengetahui Muatan Battery Pada 20c.

Tabel 13.

Gangguan Pada Sistem Kontrol Elektrik Dan Cara Mengatasinya

Tabel 14.

Gangguan Pada Sistem Kontrol Hydrolik Dan Cara Mengatasinya

Tabel 15.

Gangguan Pada Sistem Kontrol Pneumatik Dan Cara Mengatasinya

Tabel 16.

Pemakaian Ampere Terrhadap Elektroda

Tabel 17.

Pembagian Jam Dinas Jaga

Tabel 18.

Standar Kekerasan Pensil

Tabel 19.

Warna dan Ukuran Pen

Tabel 20.

Ukuran Kertas Gambar

Tabel 21.

Macam-Macam Garis Dan Penggunaannya

Tabel 22.

Jenis-Jenis Ikan Yang Tertangkap Oleh Rawai Tuna

DASAR KOMPETENSI KEJURUAN DAN KOMPETENSI KEJURUAN


SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
BIDANG STUDI KEAHLIAN
PROGRAM STUDI KEAHLIAN
KOMPETENSI KEAHLIAN

: TEKNOLOGI DAN REKAYASA


: PELAYARAN
: TEKNIKA KAPAL ENANGKAPIKAN
(055)

A. DASAR KOMPETENSI KEJURUAN


STANDAR KOMPETENSI
1. Menerapkan hukum laut

KOMPETENSI DASAR
1.1 Menjelaskan hukum-hukum laut
1.2 Menjelaskan tanggung jawab awak kapal
menurut hukum-hukum yang berkaitan
dengan P2TL
1.3 Menjelaskan peraturan-peraturan yang
berkaitan dengan penyelenggaraan usaha
pelayaran
1.4 Menjelaskan peraturan-peraturan yang
berkaitan dengan awak kapal
1.5 Menerapkan perjanjian kerja laut
1.6 Menjelaskan tentang kelaik-lautan kapal.

2. Memahami bangunan kapal

2.1 Mengidentifikasi jenis-jenis bangunan dan


bagian-bagian kapal
2.2 Menguraikan ukuran-ukuran pokok kapal
2.3 Menjelaskan tonase kapal
2.4 Menjelaskan tangki-tangki dasar
berganda
2.5 Mendeskripsikan struktur dan bagianbagian bangunan kapal.

3. Memahami stabilitas kapal

3.1 Mendeskripsikan stabilitas kapal


3.2 Mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi stabilitas kapal
3.3 Menjelaskan penggunaan data stabilitas,
daftar trim dan stabilitas awal
3.4 Menjelaskan cara bongkar muat
3.5 Menjelaskan pengaruh dari stabilitas
kapal pada saat pembongkaran dan
pemuatan

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR
3.6 Menjelaskan penggunaan Plimsoll Mark
3.7 Menghitung pengaruh permukaan bebas
(free surface effect)
3.8 Menjelaskan percobaan kesetimbangan
(inclining experiment).

4. Menerapkan dasar-dasar
elektronika

4.1 Menjelaskan dasar-dasar elektronik


4.2 Mengidentifikasi komponen-komponen
elektronika
4.3 Menjelaskan simbol-simbol elektronika
4.4 Membaca rangkaian elektronika.

5. Memahami mesin penggerak 5.1 Menjelaskan mesin penggerak utama


utama
5.2 Menjelaskan bagian-bagian sistem
penggerak kapal
5.3 Menjelaskan jenis-jenis mesin kapal dan
cara kerjanya
5.4 Menghitung pemakaian bahan bakar
5.5 Menjelaskan mesin-mesin bantu di kapal.
6. Menerapkan Keselamatan,
Kesehatan Kerja (K3)

6.1 Mendeskripsikan keselamatan dan


kesehatan kerja (K3)
6.2 Melaksanakan prosedur K3
6.3 Menguraikan peraturan ILO/IMO tentang
awak
6.4 Mengidentifikasi sebab-sebab kecelakaan
6.5 Menjelaskan tindakan pencegahan untuk
memasuki ruangan tertutup
6.6 Melakukan tindakan pencegahan
kecelakaan di atas kapal.

7. Melakukan pencegahan
polusi lingkungan laut

7.1 Menjelaskan Marpol 1973


7.2 Mendeskripsikan peralatan pencegah
pencemaran laut
7.3 Mengoperasikan peralatan pencegah
pencemaran laut
7.4 Mencegah dan menanggulangi
pencemaran laut.

STANDAR KOMPETENSI
8. Menerapkan prosedur
darurat dan SAR

KOMPETENSI DASAR
8.1 Menjelaskan prosedur darurat
8.2 Menjelaskan keadaan darurat di kapal
8.3 Menanggulangi keadaan darurat
8.4 Menerapkan isyarat bahaya
8.5 Melakukan tindakan dalam keadaan
darurat
8.6 Menggunakan lintas penyelamatan diri
8.7 Melakukan SAR untuk kapal lain sesuai
standar prosedur yang ditentukan.

9. Melakukan pencegahan dan


pemadaman kebakaran

9.1 Menjelaskan prinsip pencegahan dan


pemadaman kebakaran
9.2 Menjelaskan klasifikasi api
9.3 Memilih media pemadam kebakaran
9.4 Menggunakan alat-alat pelindung
pernapasan
9.5 Mengorganisasikan peran pemadaman
kebakaran di kapal
9.6 Melakukan pemadaman kebakaran.

10. Menerapkan prosedur


penyelamatan di kapal

10.1 Menjelaskan prosedur penyelamatan di


kapal
10.2 Menerapkan prinsip umum bertahan
hidup di laut
10.3 Menerapkan tindakan keadaan darurat
dan evakuasi di atas kapal
10.4 Mengoperasikan sekoci dan
perlengkapannya
10.5 Mengoperasikan perlengkapan radio
darurat
10.6 Melakukan tindakan penyelamatan diri di
atas pesawat luput maut.

11. Menerapkan pelayanan


medis di atas kapal

11.1 Menjelaskan prinsip dasar pelayanan


medis
11.2 Menjelaskan susunan tubuh manusia
dan fungsinya

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR
11.3 Menerapkan prinsip umum P3K
11.4 Melakukan pertolongan pertama pada
kecelakaan
11.5 Melakukan penyelamatan dan
pengangkutan korban/penderita akibat
kecelakaan.

12. Menerapkan hubungan


kemanusiaan dan
tanggungjawab sosial di
atas kapal

12.1 Menjelaskan hubungan kemanusiaan


dan tanggung jawab sosial di atas kapal
12.2 Menjelaskan aspek umum hubungan
antar manusia
12.3 Menerapkan hubungan antar manusia
dalam kehidupan sosial di kapal
12.4 Menerapkan hubungan sosial dalam
lingkungan kerja
12.5 Menerapkan kepemimpinan di atas
kapal.

B. KOMPETENSI KEJURUAN
STANDAR KOMPETENSI
1. Mengoperasikan mesin

penggerak utama kapal


perikanan

KOMPETENSI DASAR
1.1 Melakukan persiapan pengoperasian
mesin penggerak utama
1.2 Mengoperasikan mesin utama
1.3 Memeriksa kondisi operasi mesin utama
1.4 Mengatasi gangguan-gangguan pada
mesin utama
1.5 Melakukan pemeliharaan saat operasi
mesin.

2. Melakukan perawatan mesin

penggerak utama kapal


perikanan

2.1 Menjelaskan perawatan mesin


penggerak utama kapal
2.2 Melakukan perawatan mesin penggerak
utama kapal
2.3 Melakukan perbaikan mesin penggerak
utama kapal
2.4 Melakukan perawatan tahunan mesin
penggerak utama kapal.

3. Melakukan perawatan mesin

bantu dek dan mesin bantu


penangkapan

3.1 Menjelaskan mesin-mesin bantu di kapal


3.2 Mengoperasikan mesin bantu dek
3.3 Mengoperasikan mesin bantu
penangkapan
3.4 Melakukan perawatan mesin dek
3.5 Melakukan perawatan mesin bantu
penangkapan.

4. Mengoperasikan peralatan

otomatis

4.1 Menjelaskan pengendalian kapal


penangkap ikan
4.2 Menjelaskan peralatan otomatis di kapal
perikanan
4.3 Mengoperasikan peralatan otomatis
4.4 Merawat peralatan otomatis
Mendiagnosa gangguan peralatan otomatis.

5. Mengoperasikan sistem

kelistrikan kapal

5.1 Menjelaskan sistem kelistrikan kapal


5.2 Mengidentifikasi sistem kelistrikan kapal

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR
perikanan
5.3 Mengoperasikan sistem kelistrikan kapal
5.4 Menjaga sistem kelistrikan kapal
5.5 Melakukan perawatan sistem kelistrikan
kapal.

6. Mengoperasikan dan

merawat sistem refrigerasi

6.1 Menjelaskan sistem refrigerasi


6.2 Mengidentifikasi komponen mesin
refrigerasi
6.3 Mengoperasikan mesin refrigerasi
6.4 Melacak gangguan-gangguan pada
sistem refrigerasi
6.5 Merawat sistem refrigerasi
6.6 Memperbaiki sistem refrigerasi.

7. Melakukan kerja bengkel

7.1 Menjelaskan dasar-dasar kerja bengkel


7.2 Mengikir benda kerja
7.3 Mengebor benda kerja
7.4 Melakukan pembubutan
7.5 Melakukan pengelasan

8. Melakukan dinas jaga mesin

8.1 Menerapkan dinas jaga mesin


8.2 Menjaga kondisi operasi mesin
8.3 Mengatasi gangguan permesinan
selama dinas jaga.

9. Memilih bahan teknik

9.1 Mengidentifikasi bahan teknik


9.2 Melakukan pemilihan bahan teknik
9.3 Menghitung kebutuhan bahan
9.4 Melakukan pengujian.

10. Menggambar teknik

10.1 Mempersiapkan gambar teknik


10.2 Merancang gambar teknik
10.3 Menggambar bagian mesin
10.4 Menerapkan gambar teknik.

STANDAR KOMPETENSI
11. Menerapkan penanganan

hasil tangkap

KOMPETENSI DASAR
11.1 Menjelaskan prinsip-prinsip hasil
tangkap
11.2 Menyimpan hasil tangkapan
11.3 Melakukan proses pendinginan dan
pembekuan hasil tangkapan
11.4 Menjaga mutu produk hasil tangkapan.

12. Merawat alat penangkap

ikan

12.1 Menjelaskan alat tangkap ikan


12.2 Mengidentifikasi bahan alat tangkap
ikan
12.3 Melakukan perawatan alat tangkap.

13. Menerapkan penangkapan

ikan dengan berbagai alat


tangkap

13.1 Menjelaskan teknik penangkapan ikan


13.2 Mengoperasikan jaring payang
13.3 Mengoperasikan jaring pukat ikan
13.4 Mengoperasikan jaring insang (gill net)
13.5 Mengoperasikan jaring purse seine
13.6 Mengoperasikan pancing (long line).

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 1
MELAKUKAN PENCEGAHAN POLUSI LINGKUNGAN LAUT

Dalam kata-kata bijak dijelaskan bahwa mencegah jauh lebih baik daripada
dibandingkan dengan penanggulangan. Ungkapan ini pula yang lebih tepat
digunakan dalam melakukan suatu tindakan pencegahan pencemaran laut. Tindakan
pencegahan terhadap terjadinya pencemaran laut khususnya pencemaran yang
diakibatkan oleh tumpahan minyak dapat dimulai dari atas kapal.
Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi
dan atau komponen lain ke dalam laut oleh kegiatan manusia atau proses alam,
sehingga menyebabkan lingkungan laut menjadi kurang atau tidak berfungsi lagi
sesuai dengan peruntukannya.
Penanggulangan pencemaran laut dapat dimulai dari atas kapal, dengan melakukan
tindakan pencegahan yang dimulai dari prilaku anak buah kapal khususnya anak
buah kapal bagian mesin, sehingga diharapkan sisa bahan bakar dan minyak pelumas
yang bercampur dengan air got dapat diperkecil dengan penggunaan alat pencegah
pencemaran laut.
Pencegahan pencemaran di laut bertujuan :
1. Pelaksanaan prosedur dan peraturan kerja dengan benar
2. Menjaga lingkungan laut tetap stabil/tidak tercemar
Pencegahan tumpahan minyak di laut dan perairan mempunyai maksud:
1. Menjaga pelestarian lingkungan laut dan perairan
2. Mencegah tumpahan minyak ke daerah-daerah perairan yang dilindungi
3. Mengambil atau menyelamatkan tumpahan minyak tersebut dan dengan
semaksimal mungkin mengurangi kerugian yang ditimbulkannya.
1.1. SUMBER PENCEMARAN LAUT
Lingkungan laut merupakan tempat hidupnya berbagai jenis biota laut dan tumbuhan
yang sangat beraneka ragam dan harus dilindungi untuk mempertahankan ekosistem
yang telah ada. Kerusakan lingkungan laut diakibatkan oleh ulah manusia yang tidak
peduli dan akibat pencemaran.
Penyebab pencemaran laut dan lingkungan perairan berasal dari sumber-sumber
pencemar antara lain sebagai berikut:
1.

Ladang minyak di bawah dasar laut, baik melalui rembesan maupun kesalahan
pengeboran pada operasi minyak lepas pantai

2.

Kecelakaan pelayaran misalnya kandas, tenggelam, tabrakan kapal tanker atau


barang yang mengangkut minyak/bahan bakar

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3.

Operasi tanker dimana minyak terbuang ke laut sebagai akibat dari pembersihan
tanki atau pembuangan air ballast, dll.

4.

Kapal-kapal selain tanker melalui pembuangan air bilge (got).

5.

Operasi terminal pelabuhan minyak, dimana minyak dapat tumpah pada waktu
memuat atau membongkar muatan dan pengisian bahan bakar ke kapal.

6.

Limbah pembuangan refinery.

7.

Sumber-sumber darat misalnya minyak pelumas bekas atau cairan yang


mengandung hidrokarbon

8.

Hidrokarbon yang jatuh dari atmosfir misalnya asap pabrik, asap kapal laut,
asap pesawat udara, dll.

Sedangkan minyak bumi yang masuk ke dalam lingkungan laut, seperti diperlihatkan
pada Tabel berikut ini.
Tabel 1. Sumber Pencemaran Laut

NO.

SUMBER PENCEMARAN MINYAK


BUMI

JUMLAH

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pembuangan limbah industri/perkantoran


Operasi kapal
Kecelakaan kapal tanker
Atmosfir
Sumber alam
Eksplorasi dan produksi

37%
33%
12%
9%
7%
2%

1.1.1. Sebab-Sebab Terjadinya Tumpahan Minyak dari Kapal


Tumpahan minyak dari kapal terjadi karena faktor-faktor :
1.1.1.1. Kerusakan Mekanis
Kerusakan mekanis pada kapal pada umumnya disebabkan oleh, antara lain :
1. Kerusakan dari sistim peralatan kapal
2. Kebocoran lambung kapal
3. Kerusakan katup-katup hisap atau katup pembuangan ke laut
4. Kerusakan selang-selang muatan bahan bakar

Kerusakan mekanis dapat diatasi dengan sistem pemeliharaan dan perawatan yang
lebih baik dan pemeriksaan berkala oleh pemerintah dalam hal ini instansi yang
terkait
1.1.1.2. Kesalahan Manusia
Terjadinya tumpahan minyak dari kapal yang disebabkan oleh kesalahan manusia
antara lain :

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1.

Kurang pengetahuan atau pengalaman.

2.

Kurang perhatian dari personil pada saat pengisian bahan bakar.

3.

Kurang ditaatinya ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

4.

Kurang pengawasan terhadap pentingnya menjaga lingkungan laut.

Kesalahan manusia dapat di atasi dengan memberikan training kepada personil kapal
untuk meningkatkan keterampilan sehingga ABK dapat melaksanakan tugasnya
dengan lebih efektif
1.1.2. Pengaruh Tumpahan Minyak
Pengaruh tumpahan minyak terhadap lingkungan laut ditentukan oleh faktor biologis
dan non biologis, yaitu antara lain :
1.1.2.1. Tipe Minyak Yang Tumpah
Sifat fisika dan kimia dari minyak yang tumpah bervariasai dan minyak yang paling
beracun adalah fraksi aromatis, yang kebanyakan terdapat dalam minyak ringan hasil
penyulingan.
1. Minyak aromatis bersifat volatile (sangat mudah menguap) tetapi mudah larut

dalam air dan dalam kosentrasi yang encer dapat mematikan beberapa organisme.
2. Bensin dan naphtaleura lebih beracun daripada minyak olahan (fuel oil, binker)

yang juga lebih beracun dari pada minyak mentah.


3. Lapisan minyak tebal yang sudah lama bersifat kurang daya racunnya, namun

menimbulkan kerusakan mekanis yang lebih besar. Lapisan minyak yang tebal
dapat menyebabkan binatang di daerah intertidal mati perlahan atau
menyebabkan kelebihan berat yang berakibat fatal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan minyak hitam dapat menyebabkan
panas, dan dapat menyebabkan kondisi panas yang mematikan bagi binatang laut
beberapa bulan setelah terkena tumpahan minyak.
1.1.3. Daerah Sekitar Secara Geografis
Daerah perairan sekitar tumpahan minyak terkadang juga menentukan seberapa cepat
kondisi bisa pulih. Di daerah tropis dimana biota masa hidupnya singkat dan
menghasilkan banyak biota, dan alih generasi terjadi lebih cepat daripada daerah
kutub, dimana binatangnya bermasa hidup panjang dan tidak begitu cepat
menghasilkan biota baru. Kecepatan biodegresi yang terjadi di daerah yang lebih
dingin juga berkurang.
Tumpahan minyak pada lingkungan perairan yang luas diduga juga menyebabkan
kerusakan biologis yang lebih parah, dari pada daerah perairan yang sempit. Jumlah
minyak yang tertumpah juga penting tetapi pengaruhnya tergantung kepada daerah
yang tertutup tumpahan. Sebagai contoh 50 barel minyak yang tertumpah di sebuah
teluk kecil seluas beberapa area mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap
kerusakan biota laut dari pada 50 barel minyak atau tertumpah di lautan yang
terbuka.

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1.1.4. Kondisi Meteorologis dan Oceanografis


Kondisi meteorologis (angin, badai) dan oceanografis (ombak, arus) yang ada
sangat penting dalam pengaruhnya terhadap akibat tumpahan angin dan badai yang
tertiup pada daerah tumpahan di pantai perairan terbuka dapat merugikan, tetapi
sebaliknya menguntungkan karena akan mengaduk minyak dan air akan
mengencerkannya. Badan kualitas lingkungan dalam penelitian dampak lingkungan
untuk daerah dasar laut benua bagian luar melaporkan bahwa tumpahan minyak,
cenderung pecah jika ketinggian ombak mencapai 10 feet atau lebih.
1.1.5. Weathering (Perubahan Karena Cuaca)
Maksud perubahan disini adalah penguapan, oksidasi, pelarutan dalam air dan
degridasi biologis. Bila minyak tumpah di air akan tersebar dengan cepat di atas
permukaan. Tenaga yang menyebabkan tersebar antara lain :
1. Berat jenis minyak yang lebih kecil dari berat jenis air laut
2. Tegangan permukaan minyak itu sendiri

Penguapan minyak merupakan suatu peristiwa alam yang begitu


penting.
Penguapan akan terjadi dengan kecepatan yang tergantung dari sifat minyak, ombak,
kecepatan angin, temperatur dan lain sebagainya. Minyak bumi terdiri dari sejumlah
besar bahan yang mempunyai sifat sendiri- sendiri, yang teringan akan menguap
lebih dahulu, meskipun demikian pasti ada yang tersisa.
Setelah minyak tertumpah maka minyak itu akan menguap dan penguapan
kandungan yang paling berbahaya akan hilang sekitar 20 % selang 24 jam pertama.
Minyak fraksi berat dan minyak pelumas tidak mengandung komponen yang mudah
menyerap dan biasanya tidak berkurang jumlahnya karena penguapan. Jika tumpahan
menimbulkan tirai minyak, maka sejumlah besar komponen minyak ini akan kontak
dengan satuan di daerah subtidal.
Selain menguap sebagian minyak akan melarut dalam air, sebagian akan teroksidasi
dan sebagian lagi akan dihancurkan oleh mikro organisme.
Jumlah yang melarut dalam air tergantung kepada licin tidaknya minyak dan jumlah
yang kena weathering. Penelitian menunjukkan bahwa air yang mengandung
tumpahan minyak yang tebal mengandung 5-10 ppm minyak, tetapi tumpahan itu
pecah, keadaannya berkurang sampai 1 ppm atau kurang. Sebaliknya air laut yang
mengandung tumpahan benzene dalam bentuk tirai mengandung 1500 mg/lt benzene
dalam air, yang sangat beracun terhadap beberapa organisme laut, namun benzene
menguap dengan cepat dan akan menguap keseluruhannya dalam satu hari atau lebih.
Degridasi biologis dan mikrobial menyebabkan pemecahan dan eliminasi minyak
dari lingkungan. Mikro organisme yang ada dalam air laut, air danau, sungai
mempunyai kemampuan besar memakan hidrokarbon (unsur minyak) tersebut. Lebih
dari 100 jenis bakteri, ragi dan jamur telah ditemukan yang menyerang hidrokarbon,
memecahnya dan mendapatkan energi untuk kebutuhan hidupnya.
Hidrokarbon dipakai untuk sumber energinya dan juga dipakai untuk membentuk
tubuhnya. Adanya hidrokarbon ini mempercepat pertumbuhan mikro organisme
tersebut. Bagaimanapun kecepatan pertumbuhannya akan dibatasi oleh jumlah

Teknika Kapal Penangkap Ikan

organisme itu sendiri, jumlah oksigen dan pupuk yang dipakai guna mendukung
metabolisme tersebut.
Usaha-usaha riset yang utama sedang dilanjutkan dalam penggunaan pupuk dan
peningkatan aktivitas biologis dan pembiakan mikrobial untuk membersihkan
tumpahan minyak. Teknik pemulihan biologis ini meningkatkan cara-cara untuk
membersihkan garis pantai yang sukar .
1.1.6.

Musim

Jika tumpahan minyak terjadi pada saat biota yang ada di laut baru melahirkan maka
akan menimbulkan kematian yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena biota yang
baru dilahirkan lebih rentan.
Migrasi tahunan dari mamalia dan burung dari tempat pembiakkan seringkali menuju
ke daerah yang terkena tumpahan minyak selama musim dingin. Temperatur rendah
akan menyebankan biodegrasi minyak berjalan lambat.
1.1.7. Jenis Biota
Jenis tanaman dan biota laut yang tidak tahan terhadap fraksi minyak beracun dalam
kadar yang rendah, dan ada jenis tanaman dan biota yang lain tampak tidak
terpengaruh dalam kosentrasi yang tinggi. Rumput laut biasanya mempunyai lapisan
lendir yang mencegah menempelnya minyak kecuali jika tanaman itu mati dan
kering.
Tanaman di daerah payau tidak mempunyai lapisan pelindung dan peka terhadap
kontaminasi minyak. Untuk menentukan jenis tanaman dan binatang disuatu daerah
yang peka terhadap minyak, harus berkonsultasi dengan ahli biologi setempat.
Minyak mempengaruhi kehidupan laut baik secara langsung atau tidak langsung.
Pengaruh secara langsung (keracunan, mati muda dan lain-lain). Minyak bisa
membahayakan secara tak langsung melalui :
1. Elemenasi sumber bahan-bahan makanan
2. Penurunan daya tahan terhadap tekanan lain (misal kontaminasi terhadap minyak

menyebabkan penurunan temperatur yang dapat menimbulkan suatu organisme)


3. Gangguan gelagat kimia yang perlu untuk tetap hidup
4. Gangguan keseimbangan ekologi

1.1.8. Pembersihan
Sejumlah kerusakan dapat terjadi terhadap lingkungan karena penggunaan dispersan.
Untuk membersihkan minyak dari struktur interdal, dari sudut pandang biologis, bagi
tanaman dan binatang mungkin masih lebih baik terlapisi minyak dari pada
kemasukkan dispersan. Namun beberapa kasus yang terjadi di laut yang terbuka
menunjukkan bahwa dispersan sangat membantu dalam mencegah kerusakan di area
interdal yang diakibatkan minyak.

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1.1.8.1. Dampak Pencemaran Minyak


Pengaruh jangka pendek dari tumpahan minyak ini telah banyak diketahui. Tetapi
pengaruh jangka panjang sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Beberapa
jenis burung laut di daerah tumpahan minyak akan musnah karena mereka tidak bisa
hinggap diatas lapisan minyak.
Salah satu jenis burung yang tampak hidup di laut adalah burung camar, merupakan
komponen kehidupan pantai yang langsung dapat dilihat dan sangat terpengaruh
akibat tumpahan minyak. Bahaya utama diakibatkan penyakit fisik dari pada
pengaruh lingkungan kimia dan minyak. Burung harus selalu menjaga temperatur
tubuhnya tetap hangat yang dilakukan karena kemampuan bulu-bulu lembut bagian
bawah dalam mengisolasikan. Bulu bagian bawah itu dilindungi oleh lapisan. Bulu
bagian luar kuat dan bentuknya rata. Bulu itu tidak menyerap air tetapi menyerap
minyak. Oleh karena itu minyak yang menempel pada bulu tersebut akan melekat
terus dan tidak bias terbilas oleh air .
Lapisan minyak yang tipis tidak akan masuk kebagian dalam dan mengganggu
kemampuan bulu dalam isolasi. Kehilangan daya sekat tersebut menyebabkan
hilangnya panas tubuh burung secara terus menerus sehingga menimbulkan :
1. Kebutuhan pemasukkan makanan yang lebih besar
2. Penggunaan cadangan dalam tubuh hewan
3. Burung yang terkena minyak cenderung kehilangan nafsu

Baru-baru ini diperkirakan ikan paus yang bunuh diri ke pantai disebabkan oleh
tumpahan minyak. Beberapa kerang-kerang juga mati oleh minyak, tetapi ada
beberapa kerang yang masih bertahan meskipun kosentrasi minyak cukup tinggi,
asalkan waktu eksposnya relatif singkat. Tetapi hampir semua dispersan sangat
berbahaya untuk kerang. Ikan-ikan akan lebih tahan terhadap tumpahan minyak,
karena ia dapat bergerak pindah tempat.
Pengaruh tumpahan minyak terhadap tanaman-tanaman laut, bakteri dan mahluk
hidup kecil lainnya dalam laut tidak diketahui dengan jelas karena faktor-faktor alam
yang terpengaruh amat banyak akan berfluktuasi.
Penyelidikan yang dilakukan oleh California game dan fish departement, seorang
guru mamalia laut mengungkapkan bahwa makan dan mati yang disebutkan oleh
paparan dan kelaparan, karena pengaruh dari tumpahan minyak. Penelitian terakhir
menunjukkan bahwa mengganggu fungsi kelenjar pengeluaran garam sehingga
burung mampu minum air laut dan akhirnya mati.
Polusi minyak dapat mengakibatkan perubahan populasi burung secara lokal, yang
paling terpengaruh oleh tumpahan minyak adalah burung yang menghabiskan
sebagian besar atau seluruh hidupnya dalam air. Jenis-jenis ini adalah dari populasi
lokal yang khusus. Dalam urutan kepekaan yang makin rendah jenis-jenis burung
yang terkena bahaya tumpahan minyak adalah :
1. Penguin
2. Burung penyelam
3. Unggas air (bebek, angsa)

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Auk (sejenis burung laut dari utara)


5. Burung camar
6. Biota dari tumbuhan laut

Pengaruh tumpahan minyak terhadap plankton di laut sukar di deteksi. Sampel


plankton yang diambil selama musibah tumpahan torrey canyon masih nampak
normal kecuali terdapat kematian 50-90 % telur ikan yang mengapung dan larva.
Sampel plankton yang diambil selama ledakan Santa Barbara menunjukkan tingkat
yang normal selama satu tahun itu. Beberapa binatang plankton terlihat memakan
tetesan minyak mentah dan minyak bunker dan tak terlihat tanda-tanda merugikan
karena komunikasi plankton terus menerus terbawa arus, suatu daerah yang terkena
tumpahan minyak nampaknya masih memiliki komunikasi plankton yang normal
beberapa hari setelah tumpahan.
Karena sifat mobilitas ikan dapat meloloskan diri dari yang terkena gangguan
lingkungan seperti misalnya tumpahan minyak, maka selama pengamatan ledakan
Santa Barbara tidak ada ikan yang mati, ikan dapat mati jika tidak dapat keluar dari
daerah yang luas tertutup oleh sejumlah besar tumpahan minyak.
Informasi yang dipublikasikan mengatakan bahwa minyak berpengaruh kecil
terhadap mamalia laut. Selama ledakan Santa Barbara dilaporkan terjadi kematian
singa laut dan anjing laut dalam jumlah besar dan kesalahan ditimpahkan karena
tumpahan minyak.
1.2. PERALATAN PENCEGAH PENCEMARAN
Pencegahan terhadap pencemaran diperlukan peralatan-peralatan yang memadai
dalam penanggulangan pencemaran yang diakibatkan oleh beroperasinya kapalkapal, baik kapal niaga maupun kapal ikan. Sehingga dalam aplikasi operasionalnya
kapal-kapal harus dilengkapi dengan peralatan OWS, Incinerator, dan Emergency
Boom untuk menghindari pencemaran lingkungan laut dan perairan.
1.2.1. Oily Water Separator
Menurut undang-undang No. 21 tahun 1992 tentang Pelayaran dalam BPLP
(2000), oily water separator (OWS) adalah suatu alat pencegah pencemaran laut
yang dipasang di kamar mesin kapal-kapal tertentu. Sedangkan Romzana
mengatakan bahwa pengertian oily water separator (OWS) adalah suatu alat untuk
memisahkan minyak yang tercampur dengan air got. Minyak kotor yang dihasilkan
tersebut digunakan untuk membakar limbah padat pada suatu tungku pembakar.
Pada dasarnya oily water separator ini merupakan bilik-bilik yang dibuat untuk
menyediakan kondisi aliran cairan agar diam tidak bergerak hingga butiran minyak
bebas naik kepermukaan air dan membentuk suatu lapisan minyak yang tidak
tercampur yang bisa diambil dengan menggunakan oli skimmer.
Oily water separator (OWS) merupakan suatu yang dimaksudkan untuk mengurangi
dan memisahkan minyak yang terbawa air buangan yang beroperasi menurut tekanan
atmosfir. Sedangkan Suasono (1994) menerangkan bahwa pengertian Oily Water
Separator (OWS) adalah sebuah penampung yang berbentuk kubus yang di
dalamnya terbagi atas tiga bagian yang fungsinya sebagai pemisah minyak dan air.

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1.2.1.1. Jenis-Jenis Separator


1. Separator Konvensional
Pemisahan secara gravitasai (gravity separation) adalah cara yang paling
ekonomis dan efisien untuk memisahkan sejumlah besar limbah hidrokarbon.
Pada proses pemisahan limbah tersebut ditampung sementara pada bak pemisah
dan tahan beberapa waktu untuk membiarkan proses pemisahan secara gravitasi
berlangsung. Kemudian minyak yang terapung diatas air diambil melalui oil
skimmer.
Efisiensi pemisahan secara gravitasi adalah perbedaan berta jenis antara air
dengan minyak, sedangkan efektifitas dari alat ini tergantung pada desain hidrolis
danwaktu tahannya. Semakin lama waktu tahannya maka proses pemisahannya
akan semakin baik.
2. Separator Plat Pararel
Alat ini memerlukan ruang yang jauh lebih sedikit dengan yang dibutuhkan oleh
separator tipe konvensional. Luas permukaan separator dapat ditambah dengan
memasang alat plat pararel dibilik-bilik separator tersebut. Dengan adanya plat
pararel dapat mengurangi turbulensi dalam separator sehingga akan
meningkatkan efisiensi separator. Plat-plat tersebut dipasang dengan posisi
miring guna mendorong minyak terkumpul dibagian plat kemudian bergerak
kepermukaan atas separator.
Minyak yang terkumpul dari separator plat pararel memiliki kandungan air lebih
rendah dibandingkan dengan tipe konvensional.
Alat Oily Water Separtor (OWS) digunakan untuk memisahkan minyak yang
tercampur dengan air got kemudian minyak tersebut akan ditampung dalam tangki
dan setelah air tersebut terpisahkan maka air dapat dibuang ke laut sedangkan
minyak kotor dipakai sebagai bahan bakar pada alat incenerator untuk membakar
limbah padat.
1.2.1.2. Prinsip Kerja.
Limbah minyak didapat dari pompa sepanjang tank (bilge feed tank) mengalir
kedalam coarse separating chamber (ruang pemisah kasar) melalui oily water inlet
pada primary coloum (ruang pertama). Setelah limbah minyak yang tercampur
dengan air kotor masuk kedalam ruangan pemutar (chamber tangeentally).
Kemudian sebagai hasilnya minyak mengalir ke ruang pengumpul minyak (oily
collecting chamber) dan menuju keruang pemisah yang halus (fine separating
chamber) melalui bagian tengah buffle plate dan mengalir disekitarnya ke pipa
pengumpul air (water collecting pipe) melalui celah-celah diantara plat-plat
penangkap minyak (oily catch plates). Dalam proses ini minyak mengapung dan
menempel pada kedua sisi di masing-masing plat penangkap sehingga minyak dan
air terpisah.
Sesudah pemisahan, air melewati lubang kecil pada water collecting pipe (pipa
pengumpul air) dan mengalir ke ruang pemisah kedua, dengan cara melalui tempat
keluar air (treated water outlet). Pada bagian lain minyak yang menempel pada plat

Teknika Kapal Penangkap Ikan

lama kelamaan bertambah banyak dan bergerak perlahan-lahan ke plat-plat


sekelilingnya.
Kemudian minyak tertinggal disetiap plat mengapung dan mengalir dengan mudah
pada buffet plate yang berada dibawah aliran air yang berminyak dan akhirnya ke
dalam water collecting chamber melalui dua oil ascending pipes.

Gambar. 1.1. Oily Water Separator


Butiran minyak yang tidak dapat disaring dalam fist stage dihilangkan dan air yang
sudah dibersihkan dipompakan keluar melalui tempat pembuangan air yang sudah
dibersihkan (purified water outlet). Sementara itu butiran minyak yang ditangkap
dalam first stage filter berkumpul membentuk gumpalan dan mengalir ke oil
collection chamber pada bagian atas dari gravity separating chamber.
1.2.1.3. Cara Pengoperasian.
Sebelum pelaksanaan pastikan bahwa sistem pipa berada pada posisinya sesuai
piping arrangement dan sambungan kabel untuk automatic oily controller sudah
benar. Adapun cara pengoperasian dari Oily Water Separator (OWS) adalah :
1. Membuka valve-valve line air laut pada bagian hisap pompa.
2. Membuka semua valve-valve pada bilge suction line dari bilge tank ke pompa.
3. Putar switch automatic oily level controller ke on.
4. Menghidupkan bilge feed pump untuk feed bilge ke separating tank.
5. Atur pressure regulating valve ke tekanan antara 0.5 sampai 2.0 kg/cm2.

Sebelum mengawali pekerjaan pengoperasiannya, lakukan pengisian air laut kedalam


separating tank dan biarkan air laut mengalir lebih dari 10 menit. Minyak yang
sudah dipisahkan dalam separating tank berada didalam oily collecting chamber
pada bagian atas ruangan. Minyak dibuang secara otomatis dengan oily level
controller jumlah minyak melebihi dari tinggi yang sudah ditentukan.
1.2.1.4. Stop Operation
Adapun langkah-langkah yang
adalah :

dilakukan untuk memberhentikan pengoperasian

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1. Mengalirkan air laut lebih dari 10 menit untuk mencegah perubahan kualitas dari

campuran minyak yang tersisa didalam separating tank setelah pekerjaan


membuang air got selesai.
2. Menutup bilge feed pump dan semua valve-valve pada bilge discharge pipe line.
3. Memutar switch pada automatic oil level controller ke off.

1.2.1.5. Komponen Oily Water Separator (OWS)


Fungsi komponen-komponen utama dari oily water separator adalah sebagai berikut:
1. Tangki pengumpul minyak (oily collecting chamber) fungsinya adalah untuk

menampung minyak yang telah terpisahkan dengan air.


2. Tangki pengumpul air (water collecting pump) fungsinya adalah untuk

menampung air sebelum dikeluarkan dari lambung kapal.


3. Plat penangkap minyak (oily catch plates) fungsinya adalah sebagai tempat

menempelnya minyak setelah melewati plat-plat.


4. Ruangan pemutar (chamber tangentially), fungsinya untuk memutarkan limbah

minyak dalam air got melalui oily water inlet dengan perlahan-lahan.
5. Pompa bilga (bilge pump) fungsinya adalah sebagai pompa untuk membuat air

got keluar lambung kapal.


1.2.2. Incinerator
Incinerator adalah tungku pembakar yang merupakan kelengkapan dari OWS atau
sebagai alat pencegah pencemaran di laut.

Gambar. 1.2. Incinerator


1.2.2.1. Desain atau Konstruksi
Merupakan satu unit tersendiri yang terdiri dari bagian-bagian :
1. Rumah pembakaran
2. Ruang pembakaran
3. Pompa minyak

10

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Brander
5. Penyala/pemantik brander
6. Fan
7. Safety device
8. Kontrol panel

1.2.2.2. Fungsi
Fungsi dari incinerator antara lain :
1. Untuk membakar minyak kotor/waste oil yang berasal dari hasil pemisahan

minyak dan air pada Oily Water Separator.


2. Membakar majun bekas, serbuk kayu, kertas, dan sebagainnya.
3. Membakar minyak pelumas bekas

1.2.2.3. Cara Menjalankan atau Pengoperasian


Langkah-langkah persiapan yang perlu dikerjakan sebelum menjalankan
0

1. Panasi tangki minyak kotor sampai dengan 60 C


2. Cerat air yang mungkin masih ada di tangki minyak kotor
3. Cerat udara dari pipa-pipa waste oil dan diesel oil melalui saringan isapnya
4. Hidupkan main-switch (source) : periksa lampu-lampu indikator, yakinkan tidak

ada yang menunjuk pada abnormal dan sirene alarm tidak berbunyi
5. Aduk waste oil melalui agitating switch (on).
6. Buka damper pemasukan udara dan pengeluaran gas bekas.
7. Masukkan majun melalui pintu pemasukan ke ruang pembakaran.
8. Buka dan atur kerang-kerangan supply & return dari diesel oil dan waste oil.

Cara menjalankan:
1. Tekan tombol on dari fan dan burner.

Gas yang tidak di dalam ruang

pembakar akan dihembus ke luar.


2. Tekan tombol/select switch on dari waste oil pump.
3. Tekan tombol/select switch on dari ignitor. Percikan bunga api dapat dilihat

melalui lubang/kaca intip. Pompa diesel oil akan hidup.


4. Tunggu/biarkan menyala + 10 menit untuk pemanasan ruang pembakaran.
5. Tekan tombol on Solenoid valve. Main burner (waste oil) akan menyala,

ditandai dengan menyalanya lampu hijau dari fire, kalau tidak menyala tekan
tombol Reset dan ulangi langkah 3 4.
6. Untuk mendapatkan pembakaran yang stabil, gunakan pembakaran secara

simultan (diesel oil & waste, dua-duanya menyala).


7. Matikan ignitor, pemantik akan mati dan pembakaran berjalan normal .

11

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Cara menghentikan:
1. Tutup kerangan pemanas dan matikan agitator dari waste oil tank
2. Bilas pipa waste oil dengan cara mengalirkan diesel oil ke pipa tersebut (dengan

membuka/ menutup kerangka yang perlu).


3. Tekan tombol off Solenoid valve, api di brander akan padam.
4. Tekan tombol off dari waste oil pump.
5. Tekan tombol off dari source.
6. Selagi incinerator masih hangat dibersihkan automizing cup dan kaca lubang-

lubang intip.
1.2.3. Emergency Boom
Emergency boom digunakan untuk penanggulangan tumpahan minyak yang cukup
banyak dan terjadi di perairan terbuka. Pengoperasian emergency boom dapat
dilakukan melalui dua bentuk (konfigurasi) bentangan, yaitu :
1.2.3.1. Konfigurasi U ( Usingle sweep dan U double sweep)
Untuk membentangkan oil boom dengan konfigurasi U single sweep dan double
sweep ini hanya diperlukan satu buah sarana apung/kapal. Tetapi untuk konfigurasi
U single sweep, pada salah satu bagian lambung kapal dan untuk konfigurasi U
double sweep pada kedua lambung kapal, harus dibuatkan dudukan untuk tempat
pemasangan arm/JIB yaitu suatu alat untuk menarik oil boom.
1.2.3.2. Konfigurasi J (double J, J single sweep dan J double sweep)
Untuk membentangkan oil boom dengan konfigurasi J ini, diperlukan 2 buah kapal.
Pada konfigurasi double J diperlukan 3 buah sarana apung, sedangkan untuk
membentangkan oil boom dengan konfigurasi J single sweep dan J double sweep
hanya diperlukan 1 buah sarana apung/kapal. Di dalam pengoperasian sarana apung
tersebut harus dilengkapi dengan arm/JIB pada bagian lambung kapal serta harus
tersedia alat untuk menghisap minyak dan tangki untuk menampung minyak yang
telah terkumpul oleh oil boom.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian emergency boom ini adalah bila
tumpahan minyak yang terkurung oil boom tersebut masih ada yang lolos melalui
bawah oil boom (biasanya disebabkan oleh kuatnya arus air). Bila keadaannya
demikian maka harus segera dilaksanakan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Lakukan perubahan konfigurasi oil boom agar kekuatan arus air tersebut tidak
hanya tertahan di 1 titik bentangan oil boom tersebut. Perubahan ini dilaksanakan
secara terus menerus sambil dilaksanakan pengisapan dengan oil skimmer.
2. Atau lakukan pergeseran-pergeseran konfigurasi oil boom tersebut searah dengan
arus air, sampai dilaksanakan pengisapan dengan oil skimmer.

12

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1.3. Perawatan / Pemeliharaan


Macam-macam perawatan yang dilakukan antara lain :
1.3.1. Furnace body.
Tahapannya sebagai berikut :
1. Check dan bersihkan ruangan dapur setiap selesai dipakai.
2. Check semen dan batu tahan apinya.
3. Pintu atau lobang masuk dapur, periksa packing, bila sudah mati agar diganti

dengan yang baru.


1.3.2. Brander
Tahapannya sebagai berikut :
1. Bersihkan saringan hisap dan atomizing cup setelah dipakai.
2. Setiap 6 bulan buka/check/ bersihkan waste oil pump, bersihkan solenoid valve

dan bersihkan regulation valve.


3. Check dan bersihkan nozzle tube dan elektroda pemantik.

1.3.3. Tekanan/Aliran Waste Oil Rendah


Untuk mengatasi tekanan atau aliran waste oil agar tidak rendah, dapat melakukan
tahapan sebagai berikut :
1. Cari kebocoran.
2. Bersihkan saringan.
3. Pastikan semua kerangan terbuka.
4. Pastikan jumlah waste cukup.
5. Periksa pompa, valve regulator dan solenoid valve.
6. Periksa manometer nya.

1.3.4. Alarm dari Gas Temperatur Detektor Sering Berbunyi


Cara mengatasinya antara lain :
1. Waste oil mengandung bahan high calory campur dengan minyak yang low

calory.
2. Stel sensor gas temperatur detektor ke temperatur yang lebih tinggi.
3. Periksa dan test thermo couple & limit switch.

1.3.5. Door Limit Switch Tidak Berfungsi


Cara mengatasinya sebagai berikut :
1. Tekan handle switch, cabut, bersihkan dan test responsnya.
2. Bila ada respons, setel ke posisi yang diinginkan.

13

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3. Bila tidak ada respons, ganti baru.

1.3.6. Brander Pembakar Tidak Menyala


Cara mengatasi brander baker tidak menyala dengan :
1. Cabut unit pemantik, stel kedudukan elektroda (bila tidak ada percikan bunga api

dan test.
2. Cara test pemantik (ignitor).

Lepas terminal dari elektroda pump (ig, ig2) yang berada di kontrol panel. Tekan
tombol on dari fan and burner dan tekan tombol on dari pemantik, cek bila
bunga api lemah stel jarak elektroda atau ganti trasformer.
1.3.7. Brander Waste Oil (Main Burner) Tidak Nyala
Cara mengatasi brander waste oil (main burner) yang tidak menyala dengan
melakukan tahapan sebagai berikut :
1. Pastikan tiap relay berfungsi atau tidak.
2. Bila kelebihan udara, kurangi pembukaan damper udara.
3. Bila waste nilai kalornya rendah, campurlah dengan kalor tinggi.

1.4. Mencegah Pencemaran Laut


Perairan dan lingkungan laut perlu dilindungi untuk menjaga kelestarian lingkungan
dan hewan-hewan yang hidup di habitatnya dan terhindar dari bahaya pencemaran.
Berdasarkan ketentuan konvensi marpol 1973 bahwa tidak dibenarkan membuang
minyak ke laut. Dan untuk menerapkan konvensi tersebut dibuat peraturan-peraturan
untuk pelaksanaan pencegahan dan penanggulangannya.
Usaha mengendalikan pencemaran oleh minyak sudah dimulai sejak tahun 1920.
Pada tahun 1954 diadakan konvensi Internasional tentang pencegahan pencemaran
laut oleh minyak dan diundangkan mulai tanggal 26 Juli 1958.
Selanjutnya konvensi tahun 1954 berikut amandemen-amandemennya diganti oleh
konvensi Internasional tentang Pencegahan Pencemaran Laut dari Kapal
(International Convention for the Prevention of Pollution from Ship) tahun 1973 dan
yang biasa disebut dengan Marpol (Marine Pollution) 1973 serta protokol-nya tahun
1978.
Air yang bercampur minyak dari tanker dilarang dibuang ke laut kecuali dalam
keadaan seperti dibawah ini :
1. Tanker sedang berlayar
2. Kecepatan pembongkaran dari minyak yang terkandung didalam campuran tidak

boleh lebih dari 60 liter/mil.


3. Tanker harus berada pada lokasi laut yang jarak dari pantai terdekat lebih dari 50

mil.
4. Jumlah minyak yang boleh dibuang 1/15.000 kapasitas angkut tanker.

14

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Maksud dari persyaratan tersebut di atas selain untuk membatasi pembuangan


minyak adalah bahwa minyak bisa dengan cepat dicerai-beraikan dan dimusnahkan
dalam waktu 2-3 jam saja.
Penerapan Konvensi Marpol 73/78 di Indonesia berlaku sejak tanggal 2 Oktober
1983. Setelah Indonesia meratifikasi konvensi Marpol 73/78 dengan Keppres nomor
46/86 tanggal 9 September 1986, maka kapal-kapal yang berbendera Indonesia yang
berlayar ke luar negeri terhitung sejak tanggal 27 Oktober 1986 sudah harus
dilengkapi dengan Sertifikat Internasional Pencegahan Pencemaran oleh Minyak
(IOPP Certificate) dan bagi kapal-kapal Indonesia yang melakukan pelayaran dalam
negeri sejak tanggal itu harus memiliki IOPP tersebut.
1.5. Cara Penanggulangan Pencemaran
Pencegahan atau penanggulangan pencemaran lingkungan laut telah diatur didalam
konvensi marpol 1973/1978, terdapat ketentuan-ketentuan pencegahan antara lain
yaitu :
1. Pengadaan tanki ballast terpisah (separate ballast tank) pada ukuran kapal

tertentu ditambah dengan peralatan-peralatan ODM (Oil Discharge Monitoring),


Oil separator dan lain sebagainya.
2. Batasan-batasan jumlah minyak yang dapat dibuang di laut.
3. Daerah-daerah pembuangan minyak.
4. Keharusan

pelabuhan-pelabuhan, khususnya pelabuhan


menyediakan tanki penampungan slop (ballast kotor).

minyak

untuk

Disamping itu juga timbul usaha-usaha untuk penanggulangan terhadap pencemaran


lingkungan laut dan perairan dengan membuat prioritas penanganan dan daerah yang
terkena pencemaran, misalnya membuat contigency plant regional dan lokal
Contigency plant adalah tata cara penanggulangan pencemaran dengan muatan
prioritas pelaksanaan serta jenis alat yang digunakan dalam:
1. Memperkecil sumber pencemaran.
2. Melokalisir dan pengumpulan pencemaran.
3. Menetralisir pencemaran .

Ditemukan / dibuatnya peralatan-peralatan penanggulangan misalnya oil boom, oil


skimmer, cairan-cairan sebagai dispersant agent dan lain-lain. Peralatan yang
digunakan antara lain : oil boom (alat pengumpul tumpahan minyak/pencemaran),
chemical dispersant, sinking agent dan sorbent (bahan-bahan/zat penetralisir).
Menetralisir atau mencerai-beraikan pencemar tergantung dari :
1. Jenis minyak dan kepadatan (density).
2. Kepekatan (viscosity).
3. Titik endap (poux point).
4. Kadar lilin dan aspal .

15

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Sifat minyak dipermukaan laut adalah:


1.

Akan terjadi penguapan kira-kira diatas 20-24 jam, tergantung dari angin,
kondisi laut dan jenis minyak.

2.

Oksidasi dan biodegradasi tergantung dari suhu dan kadar garam di laut

3.

Penyebaran kecepatannya tergantung pada kepadatan relatif (kadar lilin dan


aspal)

1.5.1.

Cara Untuk

Pembersihan Tumpahan Minyak di Laut dan Perairan

Untuk membersihkan tumpahan minyak dilingkungan laut dan perairan dapat


dilakukan dengan metode :
1.5.1.1.

Menghilangkan Minyak Secara Mekanik

Memakai boom atau barrier akan efektif di laut yang tidak berombak dan arus tidak
kuat (maksimum 1 knot). Juga dipakai untuk minyak dengan ketebalan tidak
melampaui tinggi boom. Posisi boom dibuat menyudut, minyak akan terkumpul di
sudut dan kemudian dihisap dengan pompa. Umumnya pompa hanya mampu
menghisap sampai pada ketebalan minyak sebesar inci. Air yang terbawa dalam
minyak akan terpisah kembali.
1.5.1.2.

Absorbents.

Zat untuk menyerap minyak ditaburkan di atas tumpahan minyak dan kemudian zat
tersebut menyerap minyak tadi. Umumnya zat yang digunakan untuk menyerap
minyak adalah : lumut kering, ranting, potongan kayu. Ada pula zat sintetis yang
dibuat dari polyethylene, polystyrene, polyprophylene dan polyurethane.
1.5.1.3.

Menenggelamkan Minyak

Suatu campuran 3.000 ton kalsium karbonat yang ditambah dengan


stearate dicoba dan berhasil menenggelamkan 20.000 ton minyak.

1 % sodium

Setelah 14 bulan kemudian, tidak lagi ditemui adanya minyak di dasar laut tersebut.
Cara ini masih dipertentangkan karena dianggap akan memindahkan masalah
kerusakan oleh minyak ke dasar laut yang relatif merusakan kehidupan. Untuk
perairan laut dalam hal ini tidak akan memberikan efek.
1.5.1.4.

Dispersant.

Dispersant dicampur dengan 2 kompponen lain dan dimasukkan ke lapisan minyak


yang akhirnya berbentuk emulsi. Stabiliser akan menjaga emulsi tadi agar tidak
pecah. Dispersant akan menenggelamkan minyak dari permukaan air.
Keuntungan cara ini adalah mempercepat hilangnya minyak dari permukaan air dan
mempercepat proses penghancuran secara mikrobiologi.
Dispersant tidak akan berguna pada daerah pesisir karena adanya unsur timbal yang
terlarut. Perlu ditambahkan bahwa dispersant yang makin baik selalu menggunakan
pelarut yang lebih beracun untuk kehidupan laut.

16

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1.5.1.5.

Pembakaran

Membakar minyak di laut lepas umumnya kurang berhasil, karena minyak ringan
yang terkandung telah menguap secara cepat. Selain itu panas dari api akan diserap
oleh air laut sehingga pembakaran tidak akan efektif.
Masalah pencemaran di laut tidak akan ada habisnya selama manusia masih
melakukan aktivitas atau kegiatan produksi di laut seperti menangkap ikan dengan
menggunakan mesin, membuang air bilge,
pengeboran lepas pantai, dan
pembuangan minyak serta membuang bahan-bahan berbahaya yang seenaknya tanpa
menghiraukan faktor lingkungan, jadi untuk menjaga keindahan laut serta
keanekaragaman biotanya yang merupakan sumber daya alam diperlukan kesadaran
dari kita akan kelestarian alam.

17

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 2
MENERAPKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
DI ATAS KAPAL

Kemajuan teknologi telah membawa dampak positif dalam pengembangan


pendidikan, tata hubungan sosial serta pengetahuan masyarakat, yang pada akhirnya
berpengaruh terhadap pola hidup serta tingkah laku manusia di dalam memenuhi
kebutuhan serta tugas dan tanggungjawabnya.
Kemajuan teknologi juga telah merubah sifat dan bentuk pekerjaan. Banyak mesinmesin, bahan maupun proses baru yang kita temui sebagai hasil kemajuan teknologi.
Akan tetapi kemajuan teknologi juga membawa akibat sampingan yang merugikan
bila tidak ditangani dengan baik, yaitu dalam bentuk bahaya-bahaya baru yang
muncul seperti kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, pencemaran lingkungan dan
sebagainya.
Tidak jarang suatu industri di kapal, karena kurang teliti dalam perencanaan, kurang
perawatan mesin atau alat kerja yang digunakan rusak , patah, pecah atau meledak,
dapat menimbulkan berbagai jenis kecelakaan dan mengakibatkan korban jiwa.
Akhirnya kemajuan yang telah dicapai oleh suatu industri akan menjadi kurang
berarti dan bermanfaat serta bahkan dapat membahayakan bagi kehidupan
pekerjanya, apabila tidak direncanakan dan ditangani secara teliti.
Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu kegiatan untuk menciptakan
lingkungan kerja yang aman, nyaman dan cara peningkatan serta pemeliharaan
kesehatan tenaga kerja baik jasmani, rohani dan sosial. Keselamatan dan kesehatan
kerja secara khusus bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kecelakaan dan
akibatnya, dan untuk mengamankan kapal, peralatan kerja, dan produk hasil
tangkapan.
Secara umum harus diketahui sebab-sebab dan pencegahan terhadap kecelakaan,
peralatan, serta prosedur kerjanya di atas kapal.
Secara khusus prosedur dan peringatan bahaya pada area tahapan kegiatan operasi
penangkapan perlu dipahami dengan benar oleh seluruh awak kapal didalam
menjalankan tugasnya.
Komponen terpenting dalam menjaga keselamatan jiwa dan keselamatan peralatan
kerja adalah pengetahuan tentang penggunaan perlengkapan keselamatan kerja bagi
awak kapal, utamanya adalah awak kapal bagian mesin.
Penggunaan alat perlengkapan keselamatan kerja ini telah di standarisasi baik secara
nasional maupun internasional, sehingga wajb digunakan ketika akan melaksanakan
kegiatan kerja utamanya adalah kegiatan kerja di ruang mesin.
Terdapat beberapa macam perlengkapan keselamatan kerja, mulai dari pelindung
kepala, badan hingga kaki telah disiapkan. Dengan demikian kenyamanan kerja pada
lingkungan kerja dapat tercipta, dan kecelakaan yang diakibatkan karena faktor
kelalaian manusia maupun faktor karena kelelahan bahan resiko yang
ditimbulkannya dapat diperkecil atau dihindari.

18

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2.1. PERATURAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja di kapal
antara lain sebagai berikut ini :
1. UU No. 1 Th. 1970 mengenai keselamatan kerja.
2. Peraturan Menteri No. 4 Tahun 1980 mengenai syarat-syarat pemasangan dan

pemeliharaan alat pemadam api ringan.


3. SOLAS 1974 beserta amandemen -amandemennya mengenai persyaratan

keselamatan kapal.
4. STCW 1978 Amandemen 1995 mengenai standar pelatihan bagi para pelaut.
5. ISM Code mengenai code manajemen internasional untuk keselamatan

pengoperasian kapal dan pencegahan pencemaran.


6. Occupational Health Th. 1950 mengenai usaha kesehatan kerja.
7. International Code of Practice mengenai petunjuk - petunjuk tentang prosedur /

keselamatan kerja pada suatu peralatan, pengoperasian kapal dan terminal.


2.1.1. Menurut Undang-Undang No.1 Th. 1970
Kecelakaan diartikan suatu kejadian yang tidak diinginkan yang mengakibatkan
cedera terhadap manusia atau kerusakan terhadap harta benda serta lingkungan kerja,
yang meliputi :
1. Kecelakaan kerja
2. Kebakaran
3. Peledakan
4. Penyakit akibat kerja
5. Pencemaran lingkungan kerja

2.1.1.1.

Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja adalah suatu kecelakaan yang terjadi pada seorang karena
hubungan kerja dan kemungkinan besar disebabkan karena adanya kaitan bahaya
dengan pekerja dan dalam jam kerja
2.1.1.2.

Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja adalah suatu usaha atau kegiatan untuk menciptakan lingkungan
kerja yang aman dan mencegah semua bentuk kecelakaan.
2.1.1.3.

Kesehatan Kerja

Kesehatan kerja adalah suatu usaha tentang cara-cara peningkatan dan pemeliharaan
kesehatan tenaga kerja pada tahap yang setinggi-tingginya baik jasmani, rohani
maupun sosial.
Kecelakaan dengan segala bentuk dan akibatnya dapat merugikan pengusaha dan
mayarakat, karena kecelakaan kerja akan menimbulkan penderitaan lahir batin dan

19

Teknika Kapal Penangkap Ikan

kerugian yang bersifat ekonomis. Jadi K3 adalah masalah bersama dari semua pihak
yang terlibat dalam proses produksi barang dan jasa, yaitu pemerintah,
pengusaha/pengurus tenaga kerja dan masyarakat.
Adapun sasaran dan tujuan yang akan dicapai dari adanya Undang-undang N0.1.
Tahun 1970 secara umum adalah :
1. Memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja agar selalu dalam keadaan

selamat dan sehat dalam melaksanakan pekerjaan untuk meningkatkan


kesejahteraan, produksi dan produktivitas.
2. Memberikan perlindungan terhadap orang lain yang berada di tempat kerja agar

selalu selamat dan sehat.


3. Memberikan perlindungan terhadap setiap sumber produksi agar selalu dapat

dipakai dan digunakan secara aman dan efisien.


2.1.2. Menurut ILO & WHO
Menurut ILO & WHO Join Commitee on Occupational health 1950 bahwa usaha
kesehatan kerja haruslah ditujukan untuk :
1. Meningkatkan dan memelihara kesehatan karyawan di laut pada kondisi yang

sebaik-baiknya.
2. Menghindarkan para karyawan dari gangguan kesehatan yang mungkin timbul

akibat kerja.
3. Melindungi pelaut dari pekerjaan-pekerjaan yang mungkin dapat mempengaruhi

kesehatannya serta dapat menimbulkan kecelakaan.


4. Menempatkan pelaut pada tempat yang sesuai dengan kondisi sosiologis masing-

masing.
Peraturan IMO mengenai pencegahan kecelakaan dan kesehatan kerja bagi pelaut,
untuk itu IMO membuat petunjuk pencegahan kelelahan untuk melaksanakan tugas
(Fitness duty) antara lain :
1. Maksimum jam kerja pelaut rata-rata tidak lebih dari 12 jam perhari, setiap

perwira dan rating yang akan diberi tugas jaga harus minimal 10 jam istirahat
dalam periode 24 jam.
2. Jumlah jam istirahat boleh dibagi tidak lebih dari 2 periode yang salah satu

periodenya paling sedikikt 6 jam lamanya.


3. Pengecualian dari kondisi butir 1 dan 2 di atas, sepuluh jam minimal istirahat

boleh dikurangi akan tetapi tidak boleh kurang dari 6 jam secara terus menerus
dan pengurangan tersebut tidak melebihi dari 2 hari dan tidak kurang dari 70 jam
istirahat untuk periode 7 hari.
Dengan terciptanya keselamatan dan kesehatan kerja dengan baik dan tepat akan
memberikan ketenangan dan kegairahan kerja yang dapat menunjang terjadinya
pertumbuhan dan perkembangan produksi dan produktivitas kerja bagi anak buah
kapal, serta dapat memberikan iklim yang baik dalam menimbulkan stabilitas sosial
dilingkungan masyarakat ketenagakerjaan. Secara langsung terjadinya kecelakaan

20

Teknika Kapal Penangkap Ikan

ditempat kerja dapat dikelompokkan secara garis besar menjadi 2 (dua) penyebab
yaitu :
2.1.2.1. Tindakan Tidak Aman Dari Manusia (Unsafe Acts)
1. Bekerja tanpa wewenang
2. Gagal untuk memberi peringatan
3. Bekerja dengan kecepatan salah
4. Menyebabkan alat pelindung tidak berfungsi
5. Menggunakan alat yang rusak
6. Bekerja tanpa alat keselamatan kerja
7. Menggunakan alat secara salah
8. Melanggar peraturan keselamatan kerja
9. Bergurau di tempat kerja
10. Mabuk,
11. Mengantuk

Seseorang yang melakukan tindakan tidak aman atau kesalahan yang mengakibatkan
kecelakaan disebabkan karena :
1. Tidak tahu
Yang bersangkutan tidak mengetahui bagaimana melakukan pekerjaan dengan
aman dan tidak tahu bahaya-bahayanya sehingga terjadi kecelakaan
2. Tidak mau
Walaupun telah mengetahui dengan jelas cara kerja/peraturan dan bahaya-bahaya
yang ada serta yang bersangkutan mampu/bisa melakukannya, tetapi karena
kemauan tidak ada, akhirnya melakukan kesalahan atau mengakibatkan
kecelakaan
3. Tidak mampu
Yang bersangkutan telah mengetahui cara yang aman, bahaya-bahayanya, tetapi
belum mampu atau kurang terampil, akhirnya melakukan kesalahan dan gagal.
2.1.2.2.

Keadaan Tidak Aman (Unsafe Condition)

1. Peralatan pengaman yang tidak memenuhi syarat


2. Bahan/peralatan yang rusak atau tidak dapat dipakai
3. Ventilasi dan penerangan kurang
4. Lingkungan yang sesak, lembab dan bising
5. Bahaya ledakan/terbakar
6. Kurang sarana pemberi tanda peringatan
7. Keadaan udara beracun adanya gas, debu dan uap

21

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Keadaan tidak aman inilah yang selanjutnya akan menimbulkan kecelakaan dalam
bentuk seperti :
1. Terjatuh
2. Terbakar/terkena ledakan
3. Tertimpa benda jatuh
4. Terkena arus listrik
5. Kontak dengan benda berbahaya atau radiasi
6. Terjepit benda

2.2. Peralatan Keselamatan Kerja


Berdasarkan Undang - undang Keselamatan Kerja N0.1. Tahun 1970, pasal 12b dan
pasal 12c, bahwa tenaga kerja diwajibkan :
1. Memahami alat-alat perlindungan diri.
2. Memenuhi atau mentaati semua syarat-syarat keselamatan kerja.
Dalam pasal 13 disebutkan juga bahwa barang siapa yang akan memasuki tempat
kerja, diwajibkan untuk mentaati semua petunjuk keselamatan dan kesehatan kerja
dan wajib menggunakan alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.
Dalam pasal 14 disebutkan bahwa perusahaan diwajibkan secara cuma-cuma
menyediakan semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang
berada dibawah dan bagi setiap orang yang memasuki tempat kerja tersebut.
Ada 2 macam alat-alat pelindung keselamatan yaitu terdiri dari :
2.2.1. Alat Pelindung Untuk Mesin-Mesin dan Alat-Alat Tenaga
Alat pelindung ini disediakan oleh pabrik pembuat mesin dan alat tenaga misalnya
kap-kap pelindung dari motor listrik, katup-katup pengaman dari ketel uap, pompapompa dan sebagainya.
2.2.2. Alat Pelindung Untuk Para Pekerja (Personal Safety Equipment)
Alat pelindung untuk para pekerja adalah gunanya untuk melindungi pekerja dari
bahaya-bahaya yang mungkin menimpanya sewaktu-waktu dalam menjalankan
tugasnya seperti :
1. Helm pelindung batok kepala
2. Alat pelindung muka dan mata
3. Alat pelindung badan
4. Alat pelindung anggota badan (lengan dan kaki)
5. Alat pelindung pernafasan
6. Alat pelindung pendengaran

22

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Adapun jenis-jenis perlengkapan kerja, seperti yang dimaksud pada pasal 13 dan
pasal 14 Undang-undang Keselamatan Kerja N0.1 Tahun 1970 adalah :
1. Alat-alat pelindung batok kepala.
2. Alat-alat pelindung muka dan mata.
3. Alat-alat pelindung badan.
4. Alat-alat pelindung anggota badan seperti lengan dan kaki.
5. Alat-alat pelindung pernafasan.
6. Alat-alat Pencegah jantung.
7. Alat-alat pelindung pendengaran.
8. Alat-alat pencegah tenggelam.
2.2.3. Kegunaan Alat Keselamatan Kerja
Adapun jenis peralatan keselamatan kerja beserta kegunaannya dapat dilihat pada
tabel dibawah ini :
Tabel. 2. Alat Keselamatan Kerja Dan Kegunaannya
Alat-Alat
Keselamatan

Kegunaan Bagi Pemakai

Topi keselamatan

Pelindung kepala dari benturan dan terkena benda yang


jatuh.

Topi penyemprot pasir.

Digunakan pekerja untuk pekerjaan penyemprotan


menggunakan pasir di dok kapal atau pekerja yang
bekerja membersihkan tanki bahan bakar pada kapal.

Masker las yang


dilengkapi dengan
tangkai pemegang

Digunakan oleh pekerja yang menggunakan las listrik,


fungsinya melindungi muka dan mata dari percikan
bunga api listrik.

Masker las yang


dilengkapi dengan
penutup kepala.

Digunakan oleh pekerja yang menggunakan las listrik,


fungsinya melindungi muka, mata dan kepala dari
percikan bunga api listrik.

Masker pelindung
muka.

Dikenakan
oleh
pekerja
yang
berhubungan dengan reaksi kimia.

Pelindung mata.

Digunakan oleh pekerja yang menggunakan las listrik,


fungsinya melindungi mata

Kaca mata las acytelin

Digunakan oleh pekerja yang menggunakan las


acyteline yang fungsinya melindungi dari percikan

23

pekerjaannya

Teknika Kapal Penangkap Ikan

bunga api.
Kaca mata yang terbuat
dari karet

Untuk melindungi pekerja


berhubungan dengan debu.

yang

pekerjaannya

Peralatan pelindung
dada.

Digunakan oleh pekerja yang pekerjaannya mengelas


dengan menggunakan las listrik dan las karbit.
Fungsinya untuk mencegah anggota badan terutama
dada dari percikan bunga api.

Sarung tangan yang


terbuat dari kain

Digunakan untuk kerjaan mengecat dan melakukan


perawatan dan perbaikan pada motor diesel.

Sarung tangan las

Digunakan oleh pekerja yang pekerjaannya mengelas


dengan menggunakan las listrik dan las karbit,
fungsinya untuk menghindari tangan dari percikan
bunga api.

Sepatu keselamatan
(Safety shoes)

Dikenakan oleh pekerja untuk menghindari dari


terperosot dan terkena beban berat pada waktu bekerja.

Jaring keselamatan

Digunakan pada pekerja yang melaksanakan pekerjaan


diatas mesin yang beroperasi.

Pengeruk

Digunakan untuk menemukan orang yang jatuh


terbenam dalam air, atau barang-barang yang terjatuh
ke dalam air.

Sumbat telinga (Ear


plug)

Digunakan oleh pekerja untuk menghindari diri dari


suara bising.

Tutup telinga (Ear


muff)

Digunakan oleh pekerja untuk menghindari dari suara


bernada tinggi dan keras

2.2.4. Perawatan Perlengkapan Keselamatan Kerja Awak Kapal


Perawatan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam upaya
memperpanjang usia pakai dari peralatan keselamatan kerja. Adapun jenis perawatan
yang dilakukan untuk setiap jenis peralatan keselamatan kerja dapat dilihat pada
tabel di bawah ini, sebagai berikut :
1. Topi Keselamatan

Membersihkan topi setelah digunakan.

Meletakkan pada tempatnya setelah topi keselamatan digunakan.

Hindari menempatkan topi keselamatan pada tempat yang berhubungan


langsung dengan panas.

24

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Topi Penyemprot Pasir

Membersihkan topi penyemprot pasir setelah digunakan.

Meletakkan pada tempatnya setelah digunakan.

Menjaga penempatan peralatan tersebut dari tempat yang aman sehingga


tidak mudah hilang.

3. .Masker las yang dilengkapi dengan tangkai pemegang

Membersihkan masker las, setelah digunakan.

Meletakkan masker las tersebut pada tempat yang aman.

Menjaga kaca pengaman masker las dari tumbukan benda keras.

Menjaga kebersihan kaca masker las dari terkena kotoran.

4. Masker las yang dilengkapi dengan penutup kepala.

Membersihkan masker las, setelah digunakan.

Meletakkan masker las tersebut pada tempat yang aman.

Menjaga kaca pengaman masker las dari tumbukan benda keras.

Menjaga kebersihan kaca masker las dari menempelnya kotoran.

5. Masker pelindung muka

Membersihkan masker las, setelah digunakan.

Meletakkan masker las tersebut pada tempat yang aman.

Menjaga kaca pengaman masker las dari tumbukan benda keras.

Menjaga kebersihan kaca masker las dari menempelnya kotoran.

6. Pelindung mata

Menghindari kaca pelindung mata dari terkena benda keras.

Menyimpan pelindung mata pada tempat yang aman.

Menjaga kebersihan pelindung mata.

7. Kaca mata las acytelin

Membersihkan masker las, setelah digunakan.

Meletakkan masker las tersebut pada tempat yang aman.

Menjaga kaca pengaman masker las dari tumbukan benda keras.

Menjaga kebersihan kaca masker las dari menempelnya kotoran.

8. Kaca mata yang terbuat dari karet

Menghindari kaca mata dari terkena solar.

Menyimpan kaca mata pada tempat yang aman.

Menjaga kaca mata karet dari terkena kotoran langsung.

25

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Membersihkan permukaan kaca mata dari kotoran yang menempel.

9. Peralatan pelindung dada

Menjaga kebersihan peralatan pelindung dada.

Menyimpan pada tempat yang aman.

Menghindari alat pelindung dari terkena benda tajam.

10. Sarung tangan yang terbuat dari kain

Menyimpan sarung tangan pada tempat yang aman.

Menghindari sarung tangan dari terkena benda tajam.

11. Sarung tangan las

Menyimpan sarung tangan pada tempat yang aman.

Menghindari sarung tangan dari terkena benda tajam.

12. Sepatu keselamatan

Menyimpan sepatu pada tempat yang aman.

Menjaga kebersihan sepatu pengaman.

Menghindari sepatu pengaman tersentuh panas secara langsung.

13. Jaring keselamatan

Menghindari jaring tersentuh langsung dengan benda tajam

Menghindari jaring tersentuh panas secara langsung.

14. Tutup telinga

Menyimpan pada tempat yang aman.

Mencegah peralatan tutup telinga (Ear muff) bersentuhan benda keras.

Menghindari sumbat telinga bersentuhan panas secara langsung.

2.3. TINDAKAN PENCEGAHAN UNTUK MEMASUKI RUANG TERTUTUP

Pada ruangan-ruangan tertutup seperti palkah, tanki, ruang pompa, koferdam,


gudang/store yang tidak berventilasi terdapat kemungkinan timbul gas beracun atau
uap beracun atau berkurangnya kandungan oksigen.
Apabila terjadi suatu kecelakaan yang mengakibatkan terlukanya personil/ seseorang
di dalam sebuah ruangan yang tertutup, langkah pertama yang diambil ialah alarm
harus dibunyikan. Walaupun kecepatan / waktu sering merupakan hal yang vital
dalam usaha menolong jiwa/nyawa orang, namun pelaksanaan pertolonganpertolongan penyelamatan tidak boleh dicoba sampai bantuan dan peralatanperalatan yang diperlukan telah didapat.
Terdapat banyak contoh dimana nyawa orang hilang disebabkan oleh usaha-usaha
yang terburu-buru / tergopoh-gopoh dan persiapan-persiapan yang buruk. Bila
diadakan pengaturan-pengaturan dan penyusunan - penyusunan sebelumnya, hal ini

26

Teknika Kapal Penangkap Ikan

merupakan suatu hal yang sangat berharga didalam mengadakan suatu reaksi yang
cepat dan efektif.
Tali-tali penolong, alat-alat bantu pernapasan dan sarana-sarana lain dari peralatan
penyelamatan harus dalam keadaan siaga serta siap pakai, demikian pula suatu tim
yang terlihat untuk menaggulangi keadaan darurat patut tersedia.
Apabila dicurigai bahwa suatu atmosfer yang tercampur/kotor sehingga menjadi
tidak aman merupakan salah satu sebab dari kecelakaan itu, maka petugas / orang
yang masuk kedalam ruangan itu harus menggunakan alat pelindung pernapasan
serta mungkin, tali-tali penolong juga dipakai.
Sebelumnya suatu kode dari isyarat-isyarat sudah disetujui bersama. Perwira yang
bertugas untuk pelaksanaan pekerjaan penyelamatan tersebut harus tetap berada
diluar ruangan, dimana ia dapat mengadakan kontrol yang efektif.
2.3.1

Berkurangnya Kandungan Oksigen

1. Bila suatu tanki kosong tertutup dan tidak terbuka dalam jangka waktu relatif
lama, kandungan oksigen akan berkurang karena digunakan oleh baja dalam
proses karat. Oksigen juga dapat berkurang pada ketel yang tidak digunakan yang
telah diberi bahan kimia penyerap oksigen sebagai pencegahan karat.
Pengurangan oksigen dalam palka juga dapat terjadi bilamana digunakan untuk
memuat yang menyerap oksigen seperti : sayur-mayur yang membusuk atau
fermentasi, irisan kayu, produk dari baja yang mulai berkarat dan lain-lain.
2. Hidrogen dapat terjadi dalam tangki muatan yang diberi perlindungan latodis.
Konsentrasi hidrogen mungkin masih terdapat di bagian atas kompartemen,
sehingga mendesak oksigen.
3. Jika CO2, atau uap digunakan untuk memadamkan kebakaran, maka kandungan
oksigen akan berkurang dalam ruang tersebut.
4. Penggunaan gas permanen pada ruang muat kapal tanker.
2.3.2

Pengujian Oksigen, Gas dan Uap

Sebelum memasuki ruang di atas perlu dilakukan pengujian/test terlebih dahulu


terhadap oksigen, gas dan uap sebelum dinyatakan aman. Pada prinsipnya terdapat
tiga tipe peralatan untuk pengujian atmosfer dalam ruang tertutup yaitu :
1. The combusible gas indicator (Explosimeter)

Alat mengukur keberadaan dan kandungan uap hidrokarbon di udara.


Explosimeter tidak cocok untuk mendeteksi gas dan uap berkonsentrasi terlalu
rendah, tidak mengindikasikan penurunan kandungan oksigen atau presentasi
kandungan hidrogen dan juga tidak mengukur kandungan racun dalam atmosfer.
2. Chemical absorbtion detector

Alat mendeteksi keberadaan gas dan uap tertentu pada thereshold limit value
levels. Thereshold limit value levels (biasanya menunjukan gas dalam PPM)
berkaitan dengan tingkat penunjukan harian untuk delapan jam, rata-rata
konsentrasi yang dapat ditoleransi dan merupakan petunjuk yang berguna dalam

27

Teknika Kapal Penangkap Ikan

mengontrol bahaya dalam ruang tertentu. Zat yang dapat ditentukan secara teliti
detektor ini adalah berzene dan hydrogen sulphide.
3. Oxygen content meter

Alat untuk mengukur prosentase kandungan oksigen, di dalam ruang yang


dicurigai terjadi kekurangan oksigen. Setiap kapal harus memiliki alat tersebut.
Dalam hal darurat dimana ruangan yang dimaksud dicurigai tidak aman, gunakanlah
alat bantu pernapasan seperti breathing aparatus dari type yang disahkan (approved
type), namun sebelum memakai alat tersebut, periksalah dengan disaksikan oleh
nahkoda atau perwira yang bertugas. Hal-hal yang diperiksa minimal antara lain :
1. Tekanan sumber udaranya
2. Alarm tekanan rendah pada self contained breathing aparatus
3. Kekedapan masker dan jumlah sumber udaranya.
2.4.

PENCEGAHAN KECELAKAAAN

Untuk dapat mencegah terjadinya kecelakaan, maka kita harus mengetahui penyebab
terjadinya kecelakaan tersebut.
2.4.1. Sebab-Sebab Kecelakaan
Dari hasil penelitian ternyata 80-85 % kecelakaan disebabkan oleh faktor kesalahan
dan kelalaian manusia yang lebih dominan. Kecelakaan umumnya diakibatkan
karena berhubungan dengan sumber tenaga misalnya tenaga gerak mesin dan
peralatan, kimia, panas, listrik dan lain-lain di atas ambang dari tubuh atau struktur
bangunan. Kerugian-kerugian tersebut tidak sedikit menelan biaya dan untuk
mengatasi hal tersebut perlu adanya usaha pencegahan melalui usaha keselamatan
kerja yang baik.
2.4.2. Penyebab Terjadinya Kecelakaan
Adapun penyebab yang dapat menimbulkan terjadinya kecelakaan adalah faktor
manusia. Kecelakaan yang disebabkan oleh faktor manusia karena manusianya
mempunyai sifat-sifat antara lain :
1. Tidak tahu, dimana yang bersangkutan tidak mengetahui bagaimana melakukan

pekerjaan dengan aman , dan tidak tahu bahaya-bahaya yang ditimbul-kannya


sehingga terjadi kecelakaan.
2. Tidak mau yang bersangkutan, walupun telah mengetahui dengan jelas cara kerja

/ peraturan dan bahaya-bahaya yang ditimbulkan-nya serta mampu atau dapat


melakukannya, tetapi kemauannya tidak ada yang berakibat terjadinya kesalahan
sehingga terjadi kece-lakaan.
3. Tidak mampu / tidak bisa, yang bersangkutan telah mengetahui cara yang aman

dan bahaya -bahaya yang mungkin ditimbul-kannya, namun belum mampu atau
kurang terampil sehingga melakukan suatu kesalahan yang fatal.

28

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2.4.3. Akibat Kecelakaan Kerja


Adapun akibat yang dapat ditimbulkan dari kecelakaan kerja adalah :
2.4.3.1. Bagi Karyawan
1. Kematian / cacat.
2. Persoalan kejiwaan akibat cacat, kerusakan bentuk tubuh atau kehilangan harta.
3. Kesedihan/penderitaan keluarga akibat kehilangan salah satu anggota keluarga.
4. Beban masa depan.

2.4.3.2. Bagi Perusahaan


1. Biaya pengobatan dan kegiatan pertolongan.
2. Biaya ganti rugi yang harus dibayar.
3. Upah yang dibayar selama korban tidak bekerja.
4. Biaya lembur.
5. Hilangnya kepercayaan masyarakat.
6. Penurunan produktivitas korban setelah bekerja nanti.

2.4.3.3. Bagi Masyarakat


1. Menimbulkan korban jiwa / cacat.
2. Kerusakan lingkungan.
3. Kerusakan harta.

Setelah kita mengetahui sebab dan proses terjadinya kecelakaan, maka kita dapat
menentukan cara penanggulangannya, baik untuk meniadakan atau mengurangi
akibat kecelakaan itu.
Pada masa lalu, usaha keselamatan kerja ditujukan untuk mengatasi Unsafe Act
dan Unsafe Condition yang ternyata hanya merupakan gejala dari adanya
ketimpangan pada unsur sistem produksi.
Karena perbaikan terhadap Unsafe Act dan Unsafe Condition ini tidak merubah
sebab utama kecelakaan (ketimpangan unsur produksi), maka perbaikan ini sangat
bersifat tambal sulam dan tidak permanen. Usaha yang bersifat permanen dapat
dicapai dengan melakukan pencegahan atau perbaikan terhadap ketimpangan yang
ada pada ketiga unsur sistem produksi (manusia, lingkunagn fisik dan manajemen).
2.4.4. Pencegahan
Perbaikan pada unsur sistem produksi ini selain dapat mencegah terjadinya
kecelakaan/insiden yang merugikan, juga dapat meningkatkan produktifitas
perusahaan.

29

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2.4.4.1. Pendekatan Sub Sistem Lingkungan fisik.


Usaha keselamatan kerja yang diarahkan pada lingkungan fisik ini bertujuan untuk
menghilangkan, mengendalikan atau mengurangi akibat dari bahaya-bahaya yang
terkandung dalam peralatan, bahan-bahan produksi maupun lingkungan kerja.
Menurut ASSE dalam Thje Dictionary of term used in the safety professional,
bahaya adalah suatu keadaan atau perubahan lingkungan yang mengandung potensi
untuk menyebabkan cedera, penyakit, kerusakan harta benda, bahaya ini dapat
berbentuk bahaya mekanik, fisik, kimia, dan listrik. Usaha Pencegahan Kecelakaan
melalui :
1. Perancangan

mesin
keselamatannya.

atau

peralatan

dengan

memperhatikan

segi-segi

2. Perancangan peralatan atau lingkungan kerja yang sesuai dengan batas

kemampuan pekerja, agar tercipta The Right Design for Human sehingga dapat
dihindari ketegangan jiwa, badan maupun penyakit kerja terhadap manusia.
3. Pembelian yang didasarkan mutu dan syarat keselamatan kerja.
4. Pengelolaan (pengangkutan, penyusunan, penyimpanan) bahan-bahan produksi

dengan memperhitungkan standar keselamatan yang berlaku.


5. Pembuangan

bahan limbah/ ballast/air got dengan memper-hitungkan


kemungkinan bahaya-nya, baik terhadap masyarakat maupun lingkungan
sekitarnya.

2.4.4.2. Pendekatan Sub Sistem Manusia.


Tinjauan terhadap unsur manusia ini dapat berdiri sendiri, tetapi harus dikaitkan
dengan interaksinya bersama unsur lingkungan fisik dan sistem manajemen.
Dari sudut manusia secara pribadi, kita harus mengusahakan agar dapat dicapainya
penempatan kerja yang benar (the right man in the right job) disertai suasana kerja
yang baik.
Oleh karena itu usaha pencegahan kecelakaan ditinjau dari sudut unsur manusia
meliputi antara lain :
1. Dari Segi Kemampuan
Dari segi kemampuan, dapat dilakukan program pemilihan penempatan dan
pemindahan pegawai yang baik, selain itu perlu dilaksanakan pendidikan yang
terpadu bagi semua karyawan sesuai dengan kebutuhan jabatan yang ada. Karyawan
/ ABK yang secara fisik mampu melaksanakan pekerjaannya dengan baik, perlu
dilakukan :
a. Uji kesehatan pra kerja
b. Uji kesehatan tahuanan secara berkala
c. Penempatan kerja yang baik
d. Uji kesehatan untuk pemindahan pegawai pengamatan keterbatasan fisik dari
pekerja, dll.

30

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Sedangkan untuk memperoleh karyawan/ABK yang tepat dari segi pengetahuannya,


keterampilan dan sikap kerja sesuai kompetensi perlu dilakukan pembinaan, baik
bagi pekerja/ABK baru, maupun pekerja lainnya.
2. Dari Segi Kemauan
Dari segi kemauan, perlu dilakukan program yang mampu / mau, memberikan
motivasi pada para pekerja agar bersedia bekerja secara aman.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemauan karyawan dalam bidang keselamatan
kerja antara lain :
a. Contoh yang diberikan oleh pengawas, pimpinan madya maupun pejabat teras
perusahaan.
b. Komunikasi, dalam bentuk safety contact, safety indoctrination, propaganda &
publikasi kesela-matan dan lain-lain.
c. Partisipasi karyawan, seperti : safety talks, safety meeting safety observer
program dan lain-lain.
d. Enforcement, melalui penerapan peraturan keselamatan kerja dan saksi-saksinya.
e. Hadiah ( Reward ) dalam bentuk Safe Behavior Reinforcement maupun
Award Program
f. Dari segi keadaan mental, seperti: marah, ketegangan kerja (stress), kelemahan
mental, bioritmik, dll. Dapat diatasi melalui perencanaan alat dan kepengawasan
yang baik, sehingga tercipta suasana kerja yang aman dan nyaman.
2.4.4.3. Pendekatan Sub Sistem Manajemen.
Manajemen merupakan unsur penting dalam usaha penanggulangan kecelakaan,
karena manajemenlah yang menentukan pengaturan unsur produksi lainnya. Dalam
kaitannya dengan manajemen ini, perlu digaris bawahi bahwa keselamatan kerja
yang baik harus terpadu dalam kegiatan perusahaan. Ini dapat terwujud jika
keselamatan kerja dipadukan dalam prosedur yang ada dalam perusahaan
Selain usaha untuk memadukan keselamatan kerja kedalam sistem prosedur kerja
perusahaan, masih diperlukan usaha-usaha lain untuk memadukan keselamatan kerja
dalam kegiatan operasi perusahaan. Umumnya usaha-usaha ini dirumuskan dalam
suatu program keselamatan kerja yang komponen-komponennya antara lain :
1. Kebijakan keselamatan kerja (Safety Policy) dan partisipasi manajemen

(Manajemen Participation).
2. Pembagian tanggung jawab dan pertanggungjawaban (Accountability) dalam

bidang keselamatan kerja.


3. Panitia keselamatan kerja (Safety Commitee).
4. Peraturan standar dan prosedur keselamatan kerja.
5. Sistem untuk menentukan bahaya, baik yang potensial melalui inspeksi, analisa

kegagalan (Fault Tree Analysis). Analisa keselmatan (Job Safety Observation).


Incident Recall Techniques maupun yang telah terjadi melalui penyelidikan
kecelakaan (Accident Investigation):

31

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1. Pencegahan secara teknik melalui: pengawasan teknik, perlindungan mesin, alat-

alat keselamatan, perlindungan perorangan (Personal Protective Equipment),


program medis, pengendalian lingkungan dan tata rumah tangga.
2. Prosedur pemilihan, penempatan dan pemindahan pegawai serta program

pembinaan.
3. Program motivasi yang meliputi : indoktrinasi keselamatan kerja, pertemuan

keselamatan kerja dan lain-lain.


4. Enforcement dan Supervission.
5. Emergency Action Plan (Rencana Tindakan Darurat).
6. Program Pengendalian Kebakaran.
7. Pengendalian Tuntutan dan Biaya Ganti Rugi.
8. Penilaian efektifitas program keselamatan kerja, melalui Catatan dan Analisa

Kecelakaan, Pelaporan Kecelakaan Audit Keselamatan, perhitungan biaya dan


operasi produksi.

32

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 3
MELAKUKAN PENCEGAHAN & PEMADAMAN KEBAKARAN
DI KAPAL

Penyebab utama kebakaran di atas kapal adalah akibat kelalaian manusia, karena
tidak ditaatinya prosedur kerja yang telah ditetapkan dan tidak melakukan
pencegahan kebakaran sedini mungkin.
3.1. KLASIFIKASI
API
PEMADAMANNYA

DAN

MEMILIH

MEDIA

UNTUK

Terjadinya api di kapal karena adanya unsur-unsur bahan bakar, panas dan oksigen
(segitiga api), lihat Gambar 3.1

Gambar 3.1 Segitiga Api


Pengklasifikasian kebakaran bertujuan untuk memudahkan pemadaman kebakaran
dengan menggunakan media pemadam yang sesuai.
3.1.1.

Klasifikasi kebakaran Menurut National Fire Protection Association (NFPA)

Menurut National Fire Protection Association (NFPA) ada beberapa klasifikasi


kebakaran, antara lain sebagai berikut :
3.1.1.1. Kelas A (Bahan Padat)
Contoh bahan padat yang terbakar :
1. Kayu
2. Kertas
3. Plastik
4. Tekstil

33

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5. Karet
3.1.1.2. Kelas B (Bahan Cair dan Gas)
Contoh bahan cair dan gas yang terbakar :
1. Bensin
2. Solar
3. Minyak tanah
4. Minyak pelumas
5. Asetilin
6. LPG
3.1.1.3. Kelas C (Bahan Listrik)
Contoh bahan listrik yang mudah terbakar di kapal:
1. Peralatan navigasi
2. Instalasi listrik kapal
3. Generator pembangkit listrik
4. Motor listrik
3.1.1.4. Kelas D (Bahan Logam)
Contoh bahan logam yang terbakar :
1. Besi
2. Baja
3. Aluminium
4. Kuningan
5. Tembaga
3.1.2. Jenis-jenis Api
Berdasarkan bahan yang terbakar, api dibedakan menjadi beberapa jenis. Hal ini
dilakukan dengan tujuan untuk memilih alat pemadam yang tepat untuk api tersebut,
karena tidak sembarang api dapat dipadamkan dengan alat pemadam yang sama.
Jenis - Jenis api :
1. Api kelas A adalah api yang berasal dari bahan yang mudah terbakar seperti :

kayu, kertas, tekstil dan sebagainya.


2. Api Kelas B adalah nyala api dari bahan minyak, solar, bensin dan sebagainya.
3. Api Kelas C adalah api yang berasal dari arus listrik (Korsleting).
4. Api Kelas D adalah api yang berasal dari logam seperti titanium, sadrium, dan

sebagainya.

34

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3.1.3. Media Pemadaman


Berasal dari jenis-jenis api yang disebut di atas, nantinya suatu kebakaran juga
digolongkan sesuai dengan jenis apinya. Dengan mengetahui jenis api kebakaran,
maka dapat dipilih media pemadamnya .
Karena kesalahan dalam penggunaan media pemadam dapat lebih membahayakan,
misalnya: penggunaan air sebagai media pemadam api adalah tepat untuk api kelas
A saja. Untuk api kelas lainnya (B,C dan D) kurang baik, bahkan untuk api kelas B
justru membahayakan. Media pemadam kebakaran dapat dibagi 4 antara lain :
3.1.3.1.

Busa (foam)

Jenis pemadam busa (foam) digunakan terutama untuk memadamkan kebakaran


kelas A, dan dapat juga digunakan untuk memadamkan kebakaran B dan D. Cara
pemadaman dengan busa :
1. Ambil tabung pemadam busa dari tempatnya.
2. Lepaskan selang dan nozzle dari jepitnya (bila ada)
3. Balik tabung tersebut sambil mengarahkan nozzle ke api
4. Semprotkan pemadam busa ke arah api.

Gambar 3.2. Pemadam Busa


3.1.3.2. Tepung kimia (dry chemical)
Jenis pemadam tepung kimia (dry chemical) digunakan terutama untuk
memadamkan kebakaran kelas A, dan dapat juga digunakan untuk memadamkan
kebakaran kelas B dan C. Cara pemadaman kebakaran dengan menggunakan media
pemadam dari tepung kimia :
1. Ambil tabung pemadam dry chemical powder dari tempatnya.
2. Bawa ke tempat kebakaran.
3. Lepaskan selang dan nozzle dari jepitnya
4. Putuskan lead seal (loces)

35

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5. Cabut split pen (pen penahan)


6. Pegang nozzle dengan tangan kiri ke arah atas
7. Tekan katup dengan tangan kanan
8. Semprotkan nozzle ke arah api

Gambar 3.3. Pemadam Tepung Kimia


3.1.3.3. Karbon Dioksida (CO2)
Jenis pemadam karbon dioksida (CO2) digunakan terutama untuk memadamkan
kebakaran kelas C, dan dapat juga digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas A
dan B. Cara pemadaman dengan karbon dioksida adalah sebagai berikut :
1. Ambil tabung pemadam dari tempatnya.
2. Bawa ke tempat kebakaran.
3. Lepaskan selang dan nozzle dari jepitnya.
4. Putuskan lead seal (loces)
5. Pegang nozzle dengan tangan kiri ke arah atas
6. Tekan katup dengan tangan kanan (tujuannya untuk mencoba, apakah

pemadam berisi atau tidak)


7. Semprotkan nozzle pemadam CO2 ke arah api.

36

alat

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 3.4. Tabung Pemadam Karbondioksida


3.1.3.4. Air
Prosedur pemadaman dengan menggunakan air adalah sebagai berikut :
1. Ambil selang pemadam dari box penyimpan selang.
2. Memasang selang pemadam ke hidrant dan pasang nozzle penyemprot air.
3. Menghidupkan pompa pemadam.
4. Arahkan penyemprot air ke tempat kebakaran.

3.2. Peralatan Pemadam Kebakaran


Peralatan pemadam kebakaran yang harus tersedia di atas kapal antara lain :
3.2.1. Selang Air Pemadam Kebakaran dan Penyemprot
Selang air pemadam biasanya dibuat secara khusus sesuai dengan fungsi yang
diperlukan dalam tugas-tugas pemadam kebakaran. Syarat-syarat selang air
pemadam kebakaran yang baik, adalah sebagai berikut :
1. Harus kuat menahan tekanan yang tinggi
2. Harus dilapisi bahan yang tahan api
3. Tahan gesekan
4. Tahan pengaruh zat-zat kimia
5. Mempunyai sifat-sifat yang kuat, ringan dan elastis
Karena syarat yang diperlukan di atas maka semua selang air yang digunakan untuk
pemadam dibuat secara berlapis-lapis, antara lain:
1. Lapisan pertama sebelah dalam, biasanya dibuat dari bahan latex murni yang
diolah dengan kuat, licin dan rata. Dengan demikian lapisan sebelah dalam
merupakan lapisan yang kuat menahan tekanan air yang tinggi, serta
memungkinkan air mengalir dengan sempurna.

37

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Lapisan tengah, dapat dibuat dari benang-benang syntetis yang dianyam


sedemikian rupa sehingga menjadi satu lapisan yang kuat dan tahan gesekan.
Sedangkan lapisan luar dibuat dari benang syntetis dan tetoron, diolah secara
khusus dengan bahan karet.
Selanjutnya seluruh lapisan diperkuat dengan bahan syntetis fiber sehingga
komposisi lapisan menjadi elastis dan kuat, serta tetap ringan dan tahan terhadap
panas.
Selang-selang air tersebut dibuat dalam berbagai ukuran, baik panjang maupun
diameternya. Yang dipergunakan dikapl-kapal, pada umumnya dengan ukuran
panjang 15 meter, 20 meter dan 30 meter, dengan diameter dari 1,5 3 . Jumlah
maupun macamnya telah ditentukan sesuai dengan besar kecilnya, demikian juga
dengan perlengkapan coupling dan nozzle-nozzle-nya.
Untuk memudahkan penggunaannya selang air harus disimpan dalam keadaan
tergantung sedemikian rupa, agar sewaktu-waktu jika diperlukan dapat cepat
dipasang, serta aman bagi petugasnya. Sebelum disimpan ditempat penyimpanan,
selang yang selesai digunakan perlu dibersihkan dari kotoran-kotoran yang melekat,
sisa-sia oli dan lain-lain.
3.2.2. Peralatan Pemadam Kebakaran Yang Dapat bergerak
Seperti telah diketahui, bahan pemadam kebakaran dapat ditempatkan dalam tabung
untuk berbagai ukuran, sehingga sewaktu diperlukan mudah digunakan. Tabung
pemadam disebut portable (mudah untuk dibawa-bawa) bila berat tabung dan isinya
tidak lebih dai 16 kg, sedangkan tabung yang lebih besar, berat seluruhnya tidak
lebih dari 30 kg. Bila beratnya lebih dari 30 kg biasanya tabung dipasang pada
tempat yang mempunyai roda.
Pabrik pembuatan alat-alat pemadam kebakaran diharuskan memasang label hasil
produksinya. Hal ini diwajibkan agar tidak terjadi kekeliruan pada waktu
menggunakan, sebab kekeliruan pemakaian alat dapat menimbulkan akibat fatal.
Sebaiknya, konsumen/ pemakai alat pemadam api, instansi pemerintah, swasta,
pabrik-pabrik, kapal-kapal dan sebagainya, harus mewajibkan setiap karyawannya
mengetahui dengan tepat fungsi dari tabung-tabung pemadam dan bagaimana cara
memakainya.
Dengan demikian diharapkan dapat diambil tindakan yang tepat pada awal kejadian
kebakaran. Keterangan-keterangan yang harus dicantumkan pada label portable
adalah :
1. Jenis bahan-bahan pemadam yang disikan di dalamnya.
2. Kelas-kelas yang dapat dipadamkan.
3.2.3. Peralatan Pemadam Api Yang Dapat Dijinjing (Apar)
Peralatan Pemadam Api yang dapat dijinjing adalah peralatan pemadam api yang
berukuran kecil, yang dapat dibawa dan digunakan oleh satu orang. Peralatan ini
juga sering disebut Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Alat ini beratnya berkisar
antara 0,5 - 16 Kg. Keunggulan dari alat ini yaitu ringan dan dapat dibawa dan
dioperasikan oleh satu orang.
Sedangkan kelemahannya yaitu tidak dapat

38

Teknika Kapal Penangkap Ikan

memadamkan api yang berukuran besar.Jenis-Jenis Alat Pemadam Api Ringan


(APAR) antara lain :
1. Chemical foam jenis balik (tanpa kran atau seal)
2. Chemical foam jenis kran atau seal
3. Dry powder jenis Yamato
4. Bromo Chlorohpydi Fluoro methane (BCF)
5. Carbon Tetra Chloride (CTC)
6. Carbon Dioxide (CO2)
3.3.

Perlengkapan Personil Pemadam Kebakaran

Perlengkapan pemadam kebakaran adalah suatu perlengkapan yang digunakan


personil untuk melakukan pemadaman kebakaran di kapal. Perlengkapan
pemadaman kebakaran terdiri dari:
3.3.1. Baju Tahan Api (Entry Suit)
Entry suit adalah suatu baju yang dapat melindungi pemakainya pada saat melakukan
pemadaman kebakar-an dan tahan sampai temperatur sampai 815,50 C.

Gambar 3.5. Baju Tahan Api


3.3.2. Baju Tahan Panas (Proximity Suit)
Proximity suit terdiri dari baju yang menutupi tubuh, helm pelindung kepala, sarung
tangan tebal dan sepatu boot khusus. Perlengkapan ini berguna untuk penahan
panasnya kebakaran dan biasanya digunakan oleh regu pemadam kebakaran.

39

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3.3.3. Alat Pelindung Pernafasan (breathing apparatus)


Breathing apparatus adalah suatu alat yang berfungsi sebagai alat bantu pernafasan
pada saat menolong korban di dalam ruangan yang berasap, beracun, lembab dan
kekurangan oksigen di dalam ruangan kapal . Breathing apparatus tersebut dapat
dilihat pada Gambar 10. Alat pelindung pernapasan terdiri ini dari bagian:
1. Botol oksigen
Botol oksigen terbuat dari bahan logam atau aluminium yang berfungsi sebagai
penyimpan oksigen sampai bertekanan 350 bar
2. Penggendong (harness)
Penggendong alat pelindung pernapasan yang terbuat dari bahan sintetis dan
berfungsi sebagai tempat pengikat botol oksigen
3. Masker
Masker terbuat dari bahan kaca dan karet yang berfungsi sebagai pelindung
pernafasan dan dilengkapi regulator untuk pengatur oksigen dari botol.

Gambar 3.6 Alat Pelindung Pernapasan


3.4.

Cara-Cara Pencegahan Terjadinya Kebakaran

Prinsip utama untuk memadamkan kebakaran adalah dengan meniadakan


keseimbangan ketiga unsur segitiga api (bahan bakar, panas dan oksigen).
3.4.1. Prinsip Pencegahan Kebakaran
Bahwa nyala api sebenarnya adalah suatu reaksi dari tiga unsur yang berkumpul
yaitu, bahan bakar (fuel), panas (energy) dan oksigen. Reaksi dari ketiga unsur

40

Teknika Kapal Penangkap Ikan

tersebut di atas hanya akan menghasilkan nyala api bila berjalan dengan cepat dan
seimbang.
Bila salah satu unsur ditiadakan atau kadarnya berkurang, maka dengan sendirinya
nyala api akan padam. Reaksi ketiga unsur tersebut digambarkan dalam satu segitiga
yang disebut segi tiga api. Reaksi yang tergambar pada segitiga api adalah reaksi
berantai yang berjalan dengan seimbang.
Bila keseimbangan reaksi tersebut diganggu maka reaksi akan terhenti atau api akan
padam. Oleh karena itu dasar-dasar dari sistem pemadam api sesungguhnya adalah:
pengrusakan keseimbangan reaksi api. Perusakan keseimbangan reaksi tersebut
dapat dilakukan dengan tiga cara antara lain:
3.4.1.1.

Cara Penguraian

Cara penguraian adalah suatu usaha pemadaman api dengan jalan memisahkan atau
menyingkirkan bahan-bahan yang mudah terbakar dari api (lihat Gambar 3.7).

Gambar 3.7. Cara Penguraian


3.4.1.2. Cara Pendinginan
adalah pemadaman api dengan jalan menurunkan panas, sehingga temperatur bahan
yang terbakar turun sampai di bawah titik nyalanya.

BA
HA
N

AS
N

BA
KA

PA

Gambar 3.8. Cara Pendinginan


3.4.1.3.

Cara Isolasi

adalah pemadaman api dengan jalan menurunkan kadar oksigen sampai di bawah
12%. cara ini disebut juga lokalisasi, yaitu mencegah reaksi dengan oksigen (lihat
gambar 3.9).

41

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 3.9. Cara Isolasi


3.4.2.
3.4.2.1.

Tindakan Pencegahan
Tindakan Pencegahan di Kamar Mesin

1.

Kamar mesin harus selalu dijaga kebersihannya. Minyak-minyak yang menetes


di bawah peralatan segera dibersihkan dan dikeringkan. Lap-lap kotor
bercampur minyak jangan diletakkan disembarang tempat, sebaiknya simpan di
kotak besi yang tertutup rapat. Got-got yang kotor dibersihkan dan harus sering
di kuras.

2.

Lakukan perawatan mesin/listrik dengan sebaik-baiknya. Jangan melakukan


perbaikan atau perubahan-perubahan alat yang mengandung resiko. Alat yang
sudah melampaui batas pemakaian sebaiknya cepat-cepat diganti.

3.

Alat-alat pemadam api untuk mesin/listrik harus tersedia dengan cukup.


Sebelum berangkat berlayar sebaiknya memeriksa semua peralatan dan sistem
pemadaman di kamar mesin, yakinkan bahwa semua dalam kondisi yang baik
dan siap digunakan.

4.

Bila melakukan percobaan (setelah selesai perbaikan) alat-alat pemadam api


dan petugasnya harus disediakan.

5.

Larangan "DILARANG MEROKOK" harus benar-benar ditaati.

6.

Setiap pekerja di kamar mesin harus mengenal semua peralatan mesin atau
listrik yang ada di ruangan, dan mengetahui dengan tepat bahaya-bahaya apa
yang dapat ditimbulkan oleh peralatan tersebut.

7.

Setiap pekerja di kamar mesin harus mengetahui sistem pemadaman api yang
digunakan, macam alat yang digunakan, lokasinya dan cara bekerjanya. Dan
harus mempergunakan alat-alat tersebut sewaktu-waktu diperlukan. Pekerja
yang masih dalam taraf latihan sebaiknya harus selalu didampingi pekerja yang
sudah berpengalaman.

8.

Pekerja yang bertugas jaga harus melaksanakan kewajibannya dengan baik.


Lakukan pengontrolan dan pengecekan bekerjanya peralatan sesering mungkin.
Perhatikan sekeliling apakah timbul asap atau mungkin tercium bau kabel yang
terbakar, dan sebagainya.

9.

Bila terpaksa melakukan perbaikan, sedangkan beberapa peralatan lain masih


bekerja, perhatikan tindakan-tindakan keamanan yang diperlukan sebelum
melakukannya

42

Teknika Kapal Penangkap Ikan

10. Usahakan agar aliran udara/ventilasi kamar mesin bekerja dengan baik.
11. Bila ada kelainan-kelainan yang membahayakan, jangan ragu-ragu

menyetop mesin, tetapi bila masih


keanjungan dan kepala kamar mesin.

untuk
memungkinkan, agar laporkan dulu

12. Kabel-kabel listrik harus selalu dicek kondisinya, jangan sampai terjadi

korseleting.
13. Jangan biasakan menempatkan kain-kain lap di atas peralatan.
14. Jangan menyimpan benda atau bahan-bahan yang mudah terbakar di kamar

mesin, kecuali minyak-minyak pelumas.


15. Pada kamar-kamar mesin modern yang memakai sistem remote control, jangan

hanya melakukan pemeriksaan di ruangan kontrol saja. Selama mesin bekerja


harus ada pekerja yang langsung memeriksa kamar mesin.
3.4.2.2. Tindakan Pencegahan di Ruangan Akomodasi
1.

Merokok di dalam ruangan harus hati-hati. Jangan merokok sambil tiduran, dan
buang puntung rokok yang sudah dipadamkan pada tempat yang disediakan.
Jangan sembarangan membuang puntung rokok yang masih berapi keluar
jendela.

2.

Penghuni ruangan harus mengenal alat-alat pemadam di kamar dan sekitarnya,


serta mampu mempergunakan alat-alat tersebut pada saat diperlukan.

3.

Kebersihan ruangan harus dijaga. Jangan menempatkan barang-barang


(menggantungkan baju/ celana) dekat kabel-kabel listrik.

4.

Bila menggunakan alat-alat listrik (seterika, kipas angin dan sebagainya) harus
hati-hati. Jangan lalai mencabut stop kontaknya bila telah selesai.

5.

Setiap akan tidur atau akan pergi keluar rungan, yakinkan bahwa semuanya
telah aman, tidak ada hal-hal yang dapat menimbulkan api (korseleting).

3.4.2.3. Tindakan Pencegahan di Ruang Muatan dan Penumpang


1.

Pemadatan di palka kapal harus diatur sebaik-baiknya. Petugas yang


bertanggung jawab harus menguasai peraturan-peraturan tentang muatan
berbahaya, cara-cara pembungkusannya cara-cara memuatnya, dan tindakantindakan pengamanan yang harus dilakukan.

2.

Ventilasi udara harus diatur sebaik-baiknya. Pada kapal yang tonasenya 1500
ton atau lebih, palka kapal harus dilengkapi dengan termometer pengukur
suhu. Petugas yang bertanggung jawab harus sering memeriksa ruangan palka
tersebut.

3.

Untuk kapal yang mengangkut muatan minyak harus dijaga jangan sampai
terjadi kebocoran pipa-pipa. Tumpahan minyak atau uapnya merupakan hal
yang berbahaya. Drum-drum maupun tempat berisi minyak harus diikat dengan
kuat, sehingga tidak ada kemungkinan minyaknya tumpah.

4.

Di kapal penumpang yang memuat penumpang, kepada penumpang harus


diberikan penjelasan hal-hal yang membahayakan keselamatan bersama. Dan

43

Teknika Kapal Penangkap Ikan

harus ada petugas yang selalu mengontrol dan memperingatkan penumpang bila
tidak mentaati larangan-larangan yang diberlakukan. Bila perlu, penumpang
dilibatkan dalam latihan.
5.

Kapal-kapal khusus yang memuat barang berbahaya (kapal tanker, kapal


LPG) diwajibkan mematuhi peraturan maupun persyaratan pencegahan bahaya
sesuai konvensi International maupun peraturan-paraturan yang berlaku di
negara-negara yang disinggahi/ dilewati.

3.4.2.4. Tindakan Pencegahan di Ruang Masak / Dapur


1.

Alat-alat pemadam api portable harus selalu disiapkan di dapur, dan dijaga
baik kondisinya. Pekerja di dapur juga harus mampu menggunakan alat tersebut
pada saat diperlukan.

2.

Semua peralatan masak harus selalu dijaga kondisisnya. Khusus peralatan masak
yang modern, pekerja harus sudah menguasai prosedur penggunaannya dan
tindakan-tindakan keamanan yang diperlukan harus dilaksanakan.

3.

Penggunaan minyak harus hati-hati. Perhatikan temperatur minyak dan hindari


hal-hal yang berbahaya.

4.

Larangan
merokok.

5.

Setelah selesai memasak dan ketika meninggalkan ruangan (galley/pantry),


yakinkan bahwa semua peralatan sudah aman.

6.

Agar terhindar dari bahaya kebakaran, maka di setiap ruangan di atas kapal
harus memiliki petunjuk-petunjuk keselamatan.

jangan

merokok harus ditaati, jangan bekerja di dapur sambil

3.4.2.5. Perilaku Anak Buah Kapal (ABK)


Kesadaran anak buah kapal penting untuk pencegahan terjadinya kebakaran di
kapal. Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain :
1.

Pembatasan dalam penggunaan bahan-bahan yang mudah menyala.

2.

Mendeteksi dari setiap tempat yang mungkin terjadi kebakaran.

3.

Mengurangi kemungkinan terbakarnya uap muatan yang mudah menyala.

4.

Buang puntung rokok pada tempatnya.

5.

Periksa kabel-kabel listrik secara periodik untuk mengurangi resiko terjadinya


hubungan pendek.

6.

Simpan bahan-bahan yang mudah terbakar di tempat yang aman.

7.

Jaga kebersihan kamar mesin dari minyak.

8.

Jauhkan bahan-bahan mudah terbakar saat mengelas dan menggerinda.

3.5. Sistem Pemadaman Kebakaran Instalasi Tetap


Adalah sistem pemadaman instalasinya dipasang tetap, yang dapat mengalirkan
media ke tempat kebakaran dgn jumlah yang cukup. Unsur-unsur utama dari system
ini antara lain :

44

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3.5.1.

Alat Deteksi Kebakaran

Untuk mengetahui secara dini bahaya kebakaran di kapal maka di pasang alat deteksi
kebakaran. Alat deteksi kebakaran terdiri dari 3 jenis, yaitu :
3.5.1.1. Alat deteksi asap
Alat deteksi asap (smoke detector), adalah suatu alat yang mempunyai kepekaan
tinggi terhadap asap dan mengaktifkan bel alarm di seluruh ruangan kapal. Pada
umumnya prinsip kerja alat tersebut berdasakan pada prinsip ionisasi dan photo
electric.

Gambar 3.10. Nozzle Tipe Sprinkel

Gambar. 3.11. Sistem Deteksi Awal Bahaya Kebakaran

3.5.1.2.

Alat Deteksi Nyala Api

Alat deteksi nyala api (flame detector) bekerja dengan cara mendeteksi sinar ultra
violet yang dipancarkan oleh api dan mengaktifkan bel/alarm
3.5.1.3.

Alat deteksi suhu

Alat deteksi suhu (heat detector); akan bekerja membunyikan bel / alarm bilamana
terjadi kenaikan suhu yang ekstrim di sekitar alat deteksi tersebut.

45

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Selanjutnya bagaimana cara alat-alat deteksi di atas dapat memberikan peringatan


awal tentang adanya bahaya kebakaran dapat di lihat pada Gambar 3.11.
Prinsip kerja deteksi awal bahaya
kebakaran sebagaimana tampak pada gambar adalah sebagai berikut: :
1. Alat-alat deteksi (A) mendeteksi adanya bahaya kebakaran dengan macam-

macam cara : deteksi asap, deteksi panas maupun deteksi nyala api. Akibat dari
bekerjanya alat-alat tersebut suatu sinyal listrik dikirimkan ke bagian panel
kontrol alarm bahaya (B), sebagai suatu input data yang akan diolah lebih lanjut.
2. Panel kontrol alarm bahaya (B) merupakan unit pengontrol yang akan

mengadakan pengolahan, seleksi dan evaluasi data. Hasilnya merupakan output


yang juga berisi informasi tentang lokasi kebakaran (bisa disebutkan berupa
nomor ruangan), sehingga dengan demikian petugas mengetahui di ruangan mana
terjadi kebakaran.
3. Output dari unit kontrol tersebut juga secara otomatis mengakibatkan bekerja-nya

peralatan di pusat alarm


(tanda bahaya berupa alarm, lampu, telepon dan sebagainya).
4. Setelah alarm bahaya berbunyi (C) dan lokasi kebakaran diketahui maka petugas

dapat segera melakukan tindakan pemadaman lebih lanjut. Bila lokasi kebakaran
sudah dilangkapi pemadam api otomatis, maka sinyal dari unit kontrol dapat
langsung megakibatkan bekerjanya peralatan tersebut (misalnya sprinkler
otomatis).
3.5.2. Alat Pemadam Api Tetap
adalah suatu alat pemadam api yang terpasang permanen di kapal, dan digunakan
untuk memadamkan kebakaran besar yang terjadi di atas kapal. Bagian-bagian alat
pemadam api tetap terdiri dari :
3.5.2.1. Pompa Pemadam
Pompa berfungsi untuk menghisap dan memompa air ke selang pemadam dan
menghasilkan tekanan air 2 s/d 3,5 kg/cm
3.5.2.2. Instalasi pipa pemadam
Pipa pemadam adalah berfungsi sebagai penyalur air dari pompa ke hidrant
pemadam kebakaran

46

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 3.12. Instalasi Pipa Pemadam Kebakaran


3.5.2.3. Hydrant
Hydrant adalah berfungsi sebagai penyambung dengan selang pemadam kebakaran
3.5.2.4. Selang Pemadam
Selang air pemadam kebakaran terbuat dari bahan kain tahan api yang ringan, elastis,
dan kuat yang berfungsi sebagai pengalir air dari pompa ke nozzle.
3.5.2.5. Sambungan Selang Pemadam
Sambungan selang pemadam cabang terbuat dari kuningan dan berfungsi untuk
menyambung dua selang pemadam kebakaran.
3.5.2.6. Nozzle
Nozzle terbuat dari kuningan atau aluminium dan berfungsi untuk menyemprotkan
air dengan tekanan bentuk pancaran atau payung (spray).

Gambar 3.13.

Selang Pemadam

47

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3.5.3. Jenis Pemadam Api Instalasi Tetap


Berdasarkan cara kerjanya maka peralatan pemadam api instalasi tetap tersebut dapat
di bagi menjadi 2 macam :
1. Sistem otomatis

Pada sistem ini alat deteksi bahaya api selain mengaktifkan alarm bahaya juga
langsung mengaktifkan alat-alat pemadam kebakaran lainnya.
Dengan demikian resiko bahaya langsung ditangani sedini mungkin secara
otomatis. Sedangkan tenaga manusia hanya diperlukan untuk menjaga
kemungkinan lain yang terjadi.
2. Sistem Semi Otomatis

Pada sistem ini hanya sebagian peralatan yang bekerja secara otomatis, sebagian
peralatan yang lain masih memerlukan tenaga manusia. Misalnya alat yang
bekerja secara semi otomatis adalah alat deteksi awal. Tindakan pemadaman
selanjutnya dilakukan seperti yang biasa, atau dapat mengaktifkan sistem
otomatis pemadam api.
Cara kerja peralatan pemadam api instalasi tetap di atas dapat diterapkan untuk
berbagai bahan pemadam api, baik air, busa, CO2 maupun dry chemical dan gas
halon.
Selanjutnya cara kerja di atas dapat digambarkan pada diagram berikut :
3.6. ORGANISASI PEMADAM KEBAKARAN DI ATAS KAPAL
Semua pelaut harus mengerti dengan benar alarm keadaan darurat di kapal sehingga
bila terdengar bunyi alarm keadaan darurat dapar segera bertindak sesuai dengan
tugas yang telah diberikan.
Dalam menghadapi keadaan darurat di atas kapal setiap awak kapal melaksanakan
fungsinya masing-masing sesuai dengan tugas-tugas khusus yang diberikan
sebagaimana tertuang dalam sijil keadaan darurat di kapal.
3.6.1. Bagan Pengendalian Kebakaran.
Bagan pengendalian kebakaran harus dipasang secara tetap pada semua kapal, agar
dapat dijadikan petunjuk bagi perwira kapal. Bagan penyusunan umum
memperhatikan secara jelas stasiun pengendalian setiap geladak, macam-macam
ruangan yang dibatasi dengan pembagian klas A, B (jika ada), serta penjelasan dari
alarm kebakaran, sistem pendeteksian, instalasi percik, alat-alat pemadamkebakaran,
jalan untuk menuju ke ruangan lain, geladak-geladak serta sistem ventilasi yang di
jelaskan juga tentang dimana kedudukannya dan angka pengenal ventilasi untuk
setiap sektor. Penjelasan di atas harus dimasukkan ke dalam buku petunjuk, setiap
perwira harus diberikan buku ini, serta buku ini harus ada di kapal setiap waktu dan
di tempat yang mudah dicapai.
Bagan pengendalian serta buku petunjuk ini harus dipelihara agar tetap mengikuti
perubahan-perubahan yang dilakukan. Keterangan dalam bagan pengendalian
maupun buku petunjuk ini ditulis dalam bahasa nasional, bila ditulis bukan dalam

48

Teknika Kapal Penangkap Ikan

bahasa Inggris atau bahasa Perancis, maka harus dimasukkan juga terjemahan ke
dalam bahasa Inggris atau Perancis.
Petunjuk pengoperasian dan perawatan semua peralatan dan instalasi pemadam
kebakaran harus disimpan di dalam satu wadah tertutup di tempat yang selalu siap
dan mudah dicapai.
3.6.2. Sijil Keadaan Darurat.
Sijil keadaan darurat harus memuat semua tugas-tugas khusus dan terutama harus
menunjukkan tempat-tempat dimana tiap anggota harus pergi dan tugas-tugas yang
harus dilaksanakan. Bentuk dari sijil keadaan darurat pada setiap kapal penumpang
harus disetujui administrasi. Sijil keadaan darurat harus diletakkan pada tempattempat yang mudah terlihat, terutama di ruang-ruang awak kapal sebelum kapal
tersebut berlayar.
Sijil keadaan darurat harus memuat tugas-tugas yang diberikan kepada anak buah
kapal yang berhubungan dengan :
1. Penutupan pintu-pintu kedap air, katup-katup dan alat-alat penutup dari lubang-

lubang pembuangan, pembuangan abu dan pintu-pintu kebakaran.


2. Perlengkapan sekoci penolong (termasuk pesawat radio untuk sekoci dan rakit

penolong, serta alat penolong lainnya).


3. Penurunan sekoci - sekoci penolong.
4. Pengumpulan dari penumpang-penumpang.
5. Pemadam kebakaran dengan memperhatikan bagan pengendalian kebakaran.
6. Di kapal penumpang 1 minggu sekali bila memungkinkan harus dilaksanakan

latihan sekoci dan pemadaman kebakaran, latihan ini harus diadakan juga bila
sebuah kapal penumpang meninggalkan pelabuhan pemberangkatan terakhir
dalam pelayaran Internasional, kecuali pelayaran Internasional jarak pendek.
7. Di kapal barang, untuk latihan sekoci dan pemadaman kebakaran harus

dijalankan dalam jangka waktu tidak lebih dari 1 bulan, dengan ketentuan latihan
sekoci dan latihan pemadaman kebakaran harus dijalankan dalam waktu 24 jam
sesudah meninggalkan pelabuhan, apabila lebih dari 25 % dari awak kapal telah
diganti di pelabuhan tersebut. Latihan-latihan tersebut di atas harus dicatat dalam
buku harian kapal.
3.6.3. Tata Cara Keselamatan Perorangan
Peran/roll bahaya kebakaran adalah suatu sistem pembagian tugas atau tanggung
jawab setiap anak buah kapal di pos-pos tugas yang telah ditentukan, yang bertujuan
agar dapat menggunakan peralatan pemadam api secara cepat dan tepat. Pada
hakekatnya peran/roll sama dengan sistem siaga bahaya kebakaran sesuai yang
dilaksanakan pada latihan berkala dalam memadamkan kebakaran.
Dengan adanya pengaturan tugas sesuai perannya masing-masing, maka setiap awak
kapal mengerti setiap tanggung jawabnya bila terjadi bahaya kebakaran. Sehingga

49

Teknika Kapal Penangkap Ikan

penanggulangan bahaya dapat dilakukan dengan cepat, menghindari korban/kerugian


yang lebih besar.
Setiap anak buah kapal yang baru, sebelum mulai bekerja mengetahui tugas-tugasnya
dalam peran serta harus segera menyesuaikan diri untuk mampu melaksanakan
tanggungjawab tersebut.
Tabel 3. Daftar Peran/Roll Bahaya Kebakaran
DAFTAR PERAN / ROLL BAHAYA KEBAKARAN
Jabatan
Nakhoda

Uraian Tugas
- Pimpinan Umum
- Mengolah gerak kapal

Mualim I

- Meneruskan instruksi-instruksi Nakhoda


- Membantu olah gerak kapal

Mualim II

- Memplot posisi kapal

Juru Mudi

- Mengemudi kapal

Markonis

- Siap mengirim isyarat bahaya


- Menyiapkan radio dan mengamankan dokumen

Ass. Markonis

- Membantu Serang menyiapkan selang air

Mualim III

- Pemadaman kebakaran dengan air dan busa

KKM

- Pimpinan pemadaman kebakaran


- Memberi
dipakai

perintah

alat-alat

Masinis I

- Siap menjalankan pompa-pompa

Masinin II

- Pemadam CO2 6 Kg

pemadam

- Membantu Masinis I
Masinis III

- Membantu KKM
- Pemadam CO2 6 Kg

Juru Motor I

- Menyiapkan nozzle dan membuka kran-kran

Juru Motor II

- Menutup pintu/jendela kedap

50

yang

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Juru Motor III

- Menutup pintu kedap


- Pemadam api Dry Chemical

Serang

- Pemadam api air selang no. 1

Juru Mudi II

- Pemadam api air selang no. 2

Juru Mudi III

- Pemadam api air selang no. 2

Kelasi I

- Pemadam api air selang no. 2

Kelasi II

- Pemadam api busa


- Pemadam api air selang no. 2

Koki I

- Pemadam api busa


- Pemadam CO2 2 Kg

Koki II

- Menutup pintu/jendela kedap

Setiap awak kapal harus mengetahui tentang dilarang memasuki daerah kebakaran
kecuali sudah mendapat perintah dari orang yang bertugas. Setiap awak kapal juga
harus mengenal daerah lokasi kebakaran di kapal dan paham betul mengenai jalurjalur penyelamatan.
Untuk memasuki daerah yang terbakar, khususnya untuk yang beresiko tinggi seperti
tidak adanya penerangan dan pekatnya asap hasil kebakaran, maka petugas pemadam
kebakaran harus menggunakan peralatan pelindung yang lengkap, seperti :
1. Alat pelindung pernafasan (B.A)
2. Senter
3. Kampak
4. Tali keselamatan tahan api dan perlengkapannya.
Petugas pemadam harus memakai pakaian pelindung yang memadai seperti topi
keamanan, sarung tangan, sepatu keamanan dan baju pemadam. Petugas yang
menggunakan tali keselamatan, sudah harus mengerti tentang penandaan (signalling)
yang sudah disepakati, seperti :
1.

Satu (1) tarikan tali berarti, saya aman dan tolong diulur talinya, saya akan
mesuk lagi.

2.

Dua (2) tarikan berarti, saya aman dan tolong ditarik, saya akan keluar.

3.

Tarikan berulang-ulang berarti saya dalam keadaan berbahaya, tolong segera


tarik saya keluar.

Bila masing-masing anggota sudah mengetahui tugas-tugasnya dari peran bahaya


kebakaran, maka kemampuan penanggulangan bahaya tergantung dari sering

51

Teknika Kapal Penangkap Ikan

tidaknya diadakan latihan. Dengan seringnya latihan, maka kecepatan gerak dalam
menghadapi bahaya menjadi suatu gerakan reflek yang tangkas, sehingga
pemadaman api dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

3.6.4. Latihan Berkala di Atas Kapal


Hal-hal yang penting dalam melaksanakan latihan kebakaran di kapal adalah
membuat latihan kebakaran seperti kejadian yang sesungguhnya. Selama
pelaksanaan latihan kebakaran, pompa-pompa harus benar-benar dioperasikan, air
harus benar mengalir di selang, alat pemadam api ringan harus disiapkan untuk
dipakai.
Semua awak kapal harus berpartisipasi dalam latihan pemadam kebakaran, karena
tujuan dari latihan ini adalah untuk dapat membentuk kelompok pemadam kebakaran
yang bermutu, dimana harus ditunjang dengan keahlian dari masing-masing awak
kapal mengenai kemampuan penggunaan alat pemadam kebakaran, penggunaan alat
pelindung, teknik pemadaman, kerjasama kelompok, memperkirakan bahaya yang
akan timbul, mengenai jalan penyelamatan diri sesuai dengan konstruksi kapal dan
penggunaan alat pelindung pernafasan.
Diharapakan setiap kali latihan pemadam kebakaran, jenis latihannya berubah-ubah
agar awak kapal dapat mengetahui cara-cara pemadaman kebakaran yang mungkin
saja terjadi di atas kapal dan tidak membosankan bagi para awak kapal.
Jenis latihan pemadam kebakaran meliputi :
1.

Memadamkan api yang terjadi di bak kecil.

2.

Memasuki ruang tertutup yang terbakar.

3.

Memadamkan kebakaran di geladak utama.

4.

Menyelamatkan orang pingsan dari ruang yang penuh asap dengan


menggunakan alat pelindung pernafasan.

Setiap awak kapal harus benar-benar terbiasa menggunakan peralatan pemadam


kebakaran dengan benar. Disamping itu refleks dari para awak kapal begitu
mendengar alarm kebakaran harus benar-benar baik, sehingga dapat dengan tenang
mengerjakan tugas kewajibannya sesuai yang telah ditetapkan. Jalur-jalur
penyelamatan diri di atas kapal sudah harus dipahami oleh setiap awak kapal,
sehingga bila terjadi keadaan darurat dan secara kebetulan penerangan padam, setiap
awak kapal dapat menyelamatkan diri dengan selamat. Penggunaan alat pelindung
pernafasan semestinya dipahami dan penggunaan sarana perlengkapan lainnya,
seperti tali keselamatan beserta pengait dan penandaannya harus dimengerti. Begitu
juga diharapkan keterampilan dalam penggunaan peralatan penolong pernafasan
buatan untuk korban yang memerlukan bantuan.
3.6.5. Sistem Penjagaan
1.

Sistem penjagaan harus diadakan pada semua kapal sehingga timbulnya


kebakaran dapat segera ditemukan. Alarm kebakaran manual harus dipasang
diseluruh akomodasi penumpang dan awak kapal, guna memungkinkan penjaga

52

Teknika Kapal Penangkap Ikan

memberitahukan ke anjungan atau stasiun pengontrol kebakaran bila terjadi


kiebakaran.
2.

Selain itu harus disediakan alarm kebakaran atau sistem deteksi kebakaran
secara otomatis yang dapat menunjukkan adanya gejala kebakaran di suatu
tempat yang tidak dapat dijangkau dengan sistem penjagaan manusia, kecuali
sifat pelayaran kapal tersebut jarak pendek.

3.

Semua kapal, baik di laut atau di pelabuhan (kecuali dalam keadaan rusak)
setiap saat harus diawaki atau diperlengkapi sedemikian rupa, sehingga setiap
alarm kebakaran awal, dijamin dapat segera diterima oleh awak yang
bertanggung jawab.

3.6.6. Alarm-Alarm Kebakaran dan Tindakan Awal


Alarm kebakaran manual harus dipasang diseluruh akomodasi penumpang dan awak
kapal, guna memungkinkan penjaga memberitahu-kan ke anjungan atau stasiun
pengawas keadaan darurat bila terjadi kebakaran di atas kapal tersebut. Selanjutnya
stasiun pengawas keadaan darurat akan membunyikan alarm keseluruh kapal untuk
memberitahukan kepada seluruh pelayar bahwa sudah terjadi kebakaran. Alat-alat
pemadam kebakaran tetap akan bekerja dengan sendirinya.
Bila alat deteksi kebakaran menemukan adanya kebakaran di suatu tempat. Begitu
juga pintu-pintu kedap api dapat ditutup sesuai dengan kebutuhan yang semuanya ini
diatur pada stasiun pengawasan keadaan darurat.
Pada kebakaran yang terjadi, semua orang harus mengerti akan potensi kebakaran,
seperti radiasi panas dari kebakaran itu sendiri, gas beracun yang dihasilkan dari
kebakaran dan terperangkap di lokasi kebakaran.
Bila seorang pelayar menemukan adanya kebakaran maka tindakan awal yang
dilakukan adalah membunyikan alarm yang berada terdekat dengan tempat
kebakaran. Kotak alarm yang ada harus dipecahkan kacanya terlebih dahulu atau
hanya membuka tutupnya saja. Selanjutnya tekan tombol yang ada di dalam kotak
alarm atau menarik tuas yang ada di dalam kotak alarm.
Setelah alarm kebakaran terdengar maka bila memungkinkan usahakan
memadamkan kebakaran dengan alat yang sesuai. Harus diperhitungkan tentang
membesarnya api, ingat bila kebakaran membesar berarti ada kemungkinan terjebak
dalam asap dan panas. Bila hal ini terjadi maka pelayar harus menyelamatkan diri ke
tempat yang aman sambil menunggu bantuan datang untuk memadamkan kebakaran.
Hal yang penting juga adalah bila memungkinkan menutup sistem peranginan.
Tujuannya adalah agar kebakaran tidak meluas ke bagian lain yang dikarenakan
berkurangnya oksigen pada ruang yang terbakar.
Dalam memadamkan kebakaran yang terjadi di kapal, para pelayar harus mengetahui
cara memadamkan kebakaran secara cepat dan tepat, tentunya menggunakan teknik
dan taktik yang tepat, sesuai dengan jenis dan tempat kebakaran. Hal ini disebabkan
karena konstruksi kapal yang memang khusus, dan sangat berpengaruh terhadap
usaha pemadaman kebakaran di atas kapal. Belum lagi akibat dari kebakaran dan
akibat dari pemadamannya dapat bereaksi dengan muatan yang diangkut kapal
tersebut. Untuk mencegah keadaan yang tidak diinginkan, maka pimpinan pemadam

53

Teknika Kapal Penangkap Ikan

kebakaran harus mengontrol juga tentang stabilitas kapal. Karena konstruksi


bangunan kapal yang memang khusus, maka petugas pemadam kebakaran tidak
dapat bertindak dengan leluasa.
Perlu diperhatikan mengenai orang-orang yang tidak bertugas memadamkan
kebakaran harus menjauh dari lokasi kebakaran dan tidak diperkenankan masuk ke
lokasi kebakaran tanpa perintah dari petugas pemadam kebakaran dikarenakan akan
menghalangi aktivitas petugas didalam memadamkan api atau bahkan dapat beresiko
timbulnya korban.

Gambar 3.14. Cara Pemadaman Kebakaran


Sangat berbeda dengan kejadian di darat, dimana orang yang terancam bahaya dapat
cepat menyingkir ke tempat yang aman. Pada kebakaran di kapal yang terjadi di
tengah laut, korban tidak dapat berlindung selain di dalam kapal, apalagi bila cuaca/
ombak cukup besar. Oleh karena itu pimpinan pemadam kebakaran harus dapat
memutuskan dengan cepat bila memang situasinya sudah tak dapat diatasi. Agar
sekoci dan alat-alat penolong dapat diselamatkan, supaya dapat digunakan untuk
tindakan-tindakan penyelamatan lebih lanjut.
Bila kebakaran sudah dapat dipadamkan, maka masih diadakan pengawasan tentang
kemungkinan terjadinya penyalaan kembali yang disebabkan karena masih adanya
sumber penyalaan yang tersisa atau disebabkan bertambahnya kekuatan angin
sehingga menambah kadar oksigen, yang mana hal ini menunjang terjadi penyalaan.
Sifat-sifat khusus kebakaran di kapal sesuai yang dibahas di atas, dapat diketahui
bahwa penanggulangan bahaya kebakaran di kapal adalah lebih sulit, dan ancaman
bahaya khususnya terhadap jiwa manusia adalah lebih besar. Oleh sebab itu usaha
pencegahan bahaya kebakaran harus dilakukan secara ketat, dan tindakan-tindakan
keamanan di masing-masing ruangan kapal yang diduga dapat menimbulkan sumber
api, harus benar-benar ditegakkan.

54

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 4
MENERAPKAN PROSEDUR PENYELAMATAN DIRI
DARURAT DAN SAR
Kapal laut yang berlayar melintasi samudera di berbagai daerah pelayaran dalam
kurun waktu yang cukup, bergerak dengan adanya daya dorong pada kecepatan
bervariasi. Dalam perjalanan dapat mengalami berbagai masalah yang disebabkan
oleh berbagai faktor antara lain alam, manusia dan teknis yang tidak dapat di dugaduga oleh kemampuan manusia yang akhirnya akan mengganggu pelayaran dan
dapat beresiko timbulnya korban jiwa.
Gangguan pelayaran pada dasarnya dapat berupa gangguan yang dapat diatasi secara
langsung, perlu mendapat bantuan langsung dari pihak tertentu, atau gangguan yang
mengakibatkan seluruh awak kapal harus terlibat mengatasi gangguan tersebut atau
bahkan meninggalkan kapal.
Keadaan darurat ini dapat merugikan semua pihak, baik awak kapal, pemilik kapal
serta bahkan akan merusak lingkungan atau ekosistem dasar laut. Untuk itu
diperlukan pemahaman tentang kondisi keadaan darurat ini oleh awak kapal atau
calon awak kapal sebaik mungkin agar mereka memiliki kemampuan dasar untuk
dapat mengidentifikasi tanda-tanda keadaan darurat dan mengatasi dari keadaan
darurat terebut untuk meminimalkan korban jiwa.
Pembuatan denah keadaan darurat di atas kapal sangat diperlukan agar
penanggulangan keadaan darurat dapat dilakukan dengan cepat dan baik. Untuk itu
diperlukan perencanaan dan persiapan, pengorganisasian, serta tindakan pendahuluan
untuk melakukan penanggulangan, dan penyediaan perlengkapan keadaan darurat
adalah syarat utama untuk mencapai keberhasilan di dalam mengatasi keadaan
darurat tersebut.
Keadaan darurat sering terjadi di kapal yang dapat menimbulkan banyak korban
jiwa maupun harta benda. Oleh karena itu setiap anak buah kapal (ABK) wajib
mempelajari prosedur darurat dan SAR. Di dalam proses penyelamatan diri, baik
para penolong maupun yang ditolong haruslah tahu dan paham benar tentang :
1. Cara menggunakan alat-alat penolong yang ada di kapal dan teknik

pelaksanaannya.
2. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan sebelum dan setelah terjun dari kapal ke

laut.
3. Tindakan - tindakan selama terapung dan bertahan di laut.
4. Tindakan-tindakan pada waktu naik sekoci atau rakit penolong.

4.1. KEADAAN DARURAT


Keadaan darurat dapat diidentifikasi menjadi beberapa jenis keadaan antara lain :
4.1.1. Jenis keadaan darurat
Keadaan darurat di kapal adalah keadaan yang membutuhkan tindakan khusus dan
cepat. Keadaan darurat umumnya disebabkan oleh :

55

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1.

Faktor alam: cuaca buruk, gempa bumi di laut dan keadaan lainnya yang
umumnya tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

2.

Faktor manusia: kelalaian, kelelahan fisik, ketidaktrampilan manusia yang dapat


mengakibatkan kapal kandas, bocor, kebakaran dan meledak

3.

Faktor teknis: kelelahan bahan, kurangnya perawatan


perlengkapan yang ketinggalan zaman atau tidak layak laik.

peralatan

dan

Jenis keadaan darurat yang harus menyebabkan anak buah kapal (ABK) untuk
meninggalkan kapal diantaranya:
1.

Kapal terbakar dan meledak

2.

Kapal tubrukan dengan kapal lain

3.

Kapal kandas

4.

Kapal terjadi kebocoran yang tidak dapat ditanggulangi

5.

Kapal tenggelam karena muatan lebih

4.1.2. Sijil Darurat


Sijil darurat memberikan rincian prosedur-prosedur tindakan ABK/crew dalam
keadaan darurat :
1.

Sijil darurat harus dibuat oleh setiap kapal penumpang dan baik isi maupun
bentuknya harus disetujui oleh pemerintah.

2.

Sebelum kapal berangkat, salinan sijil darurat harus digantung pada beberapa
tempat strategis di kapal, terutama di kamar ABK.

3.

Tugas-tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh setiap ABK dalam keadaan
darurat.

4.

Sijil darurat selain menunjukan tugas khusus, harus pula menunjukan tempat
berkumpul (kemana setiap ABK) harus pergi.

5.

Sijil darurat harus menunjukan pembagian tugas bagi ABK, dalam hal :
a. Penutupan pintu kedap air, katup-katup penutup mekanis dan lubang-lubang
pembuangan
b. Melengkapi sekoci penolong, termasuk portable radio, dan alat-alat penolong
lainnya.
c. Peluncuran sekoci penolong.
d. Persiapan umum alat-alat lainnya.
e. Pemadaman kebakaran termasuk panel kontrol kebakaran.

6.

Dalam hal yang menyangkut pemadaman kebakaran, sijil darurat memberikan


petunjuk cara-cara yang biasanya dikerjakan dalam hal terjadi kebakaran serta
tuga-tugas khusus yang harus dilaksanakan sehubungan dengan operasi
pemadaman kebakaran di kapal.

7.

Sijil darurat harus membedakan secara khusus semboyan-semboyan


pemanggilan bagi ABK untuk berkumpul distasiun pesawat luput maut. Masing-

56

Teknika Kapal Penangkap Ikan

masing semboyan tersebut dapat diberikan di kapal penumpang untuk pelayaran


international jarak pendek dan untuk kapal barang yang panjangnya kurang dari
150 kaki (45,7m), harus dilengkapi dengan semboyan-semboyan yang
dijalankan secara elektronik. Semua semboyan ini dibunyikan dari anjungan
4.1.3. Isyarat Pada Keadaan Darurat
Isyarat bahaya adalah suatu isyarat atau tanda pengingat bagi anak buah kapal bila
terjadi suatu keadaan darurat atau keadaan bahaya.
Isyarat bahaya yang dibunyikan apabila terjadi keadaan darurat di atas kapal adalah:
1.

Isyarat kebakaran

2.

Isyarat peran meninggalkan kapal

3.

Isyarat orang jatuh ke laut

4.

Isyarat pembatalan

Membunyikan alarm atau lonceng kapal secara terus menerus selama 10 detik.
Perwira kapal yang bertugas atas perintah nakhoda segera membunyikan alarm atau
suling kapal dengan bunyi 7 tiupan pendek dan 1 tiupan panjang secara terus
menerus.
ABK yang pertama melihat orang jatuh ke laut segera meneriakan: Orang jatuh ke
laut ! . . . Orang jatuh ke laut ! Teriakan diarahkan ke anjungan
Perwira kapal yang bertugas atas perintah nakhoda untuk membatalkan isyarat segera
meniupkan seruling dengan 3 tiupan seruling pendek atau dengan 3 bunyi bel
pendek.
4.1.4. Prinsip Pencegahan Keadaan Darurat
Pencegahan terjadinya keadaan darurat merupakan kewajiban bagi setiap ABK atau
personil yang ada di atas kapal. Apabila terjadi situasi keadaan darurat ABK harus
segera bertindak sesuai dengan peran yang telah ditetapkan.
Tindakan untuk menghindari terjadinya keadaan darurat diantaranya ;
1. Kapal harus laik laut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Membuat rencana dan pelayaran yang benar.
3. Memantau dan menganalisa berita cuaca dan berita keamanan navigasi.
4. Melaksanakan pemeriksaan dan perawatan semua peralatan di kapal.
5. ABK harus mempunyai kemampuan fisik dan mental yang kuat serta terampil

dalam melaksanakan tugasnya.


6. Buat daftar pembagian tugas keadaan darurat agar tercipta kerjasama yang baik
7. Tempatkan alat-alat pemadam kebakaran pemadam api ringan pada tempat-

tempat yang strategis dan mudah dijangkau. Serta seuai dengan kemungkinan
penyebab/ media mudah terbakar.
Setiap anak buah kapal yang ada di kapal harus mengetahui :

57

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1.

Lokasi dan cara menggunakan peralatan pemadam kebakaran

2.

Lokasi dan cara menggunakan peralatan penolong

3.

Prosedur keadaan darurat yang harus dilaksanakan

Jika di kapal terjadi keadaan darurat maka orang yang pertama mengetahui segera
melakukan prosedur sebagai berikut :
1. Membunyikan alarm
2. Melaporkan keadaan darurat kepada perwira jaga.
3. Melakukan tindakan pencegahan terjadinya keadaan darurat

4.2. ALAT ALAT ISYARAT


Isyarat semboyan atau secara visual dengan menggunakan pantulan sinar matahari
melalui cermin (phyrotecchnique) adalah cara lain yang dapat berfungsi sebagai
isyarat tanda bahaya. Jenis-jenis Isyarat visual untuk di kapal terdiri dari :
1. Cerawat tangan (rand hard flare)
Cerawat tangan digunakan sebagai alat isyarat bahaya dengan nyala warna merah
terang dengan lama menyala 10 detik, dan digunakan pada malam hari.
2.

Cerawat parasut (parachute signal)


Cerawat parasut berfungsi sebagai alat isyarat visual yang dapat dilontarkan
secara vertikal sejauh 300 m dengan lama menyala 40 detik, dan digunakan
malam hari.

3.

Isyarat asap apung (buoyant smoke signal)


Isyarat asap apung digunakan sebagai alat isyarat visual yang dapat
mengeluarkan asap jingga selama 10 detik di atas air dan digunakan pada siang
hari.

Alat-alat keselamatan yang ada di atas kapal biasanya harus;


1.

Mudah terlihat

2.

Mudah dijangkau

3.

Dapat diluncurkan paling lama 30 menit.

Perawatan terhadap alat keselamatan tersebut harus dilakukan secara periodik, agar
anak buah kapal terlatih mengenal arti dan pentingnya keselamatan.
4.3. MENCEGAH TERJADINYA KEADAAN DARURAT
Upaya dalam mencegah terjadinya keadaan darurat antara lain :
1. Badan kapal dan mesin harus kuat dan memenuhi syarat.
2. Peralatan dan perlengkapan harus baik dan terpelihara sesuai dengan ketentuan

yang berlaku.
3. Berita cuaca harus dipantau setiap saat.

58

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Anak buah kapal harus mempunyai kemampuan fisik dan mental, terdidik dan

terampil.
5. Anak buah kapal harus mempunyai disiplin yang tinggi dan mampu bekerjasama

antar mereka.
4.4. SAR DENGAN BANTUAN HELIKOPTER
Penyelamatan korban dari kapal dengan bantuan helikopter dapat dilaksanakan bila
kondisi laut aman. Jenis peralatan yang digunakan untuk mengangkut korban dengan
helikopter terdiri dari :
1.

Pengangkat jenis tunggal (single lift)

2.

Pengangkat jenis ganda (double lift)

3.

Pengangkat jenis keranjang (basket lift)

4.

Pengangkat tandu (stretcher lift)

5.

Jaring penyelamat ( rescue net)

Faktor-faktor yang menghambat pertolongan korban dari atas kapal dengan


helikopter antara lain :
1.

Cuaca buruk

2.

Malam hari

3.

Keterampilan pilot dan awak pesawat

4.

Kepanikan korban

5.

Keterampilan memasang alat bantu pengangkat

4.5.

PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT

Suatu organisasi keadaan darurat harus disusun untuk operasi keadaan darurat.
Maksud dan tujuan organisasi bagi setiap situasi adalah untuk :
1. Menghidupkan tanda bahaya
2. Menemukan dan menaksir besarnya kejadian
3. Kemungkinan bahayanya
4. Mengorganisasi tenaga dan peralatan.

4.5.1. Persiapan
Perencanaan dan persiapan dalah syarat utama untuk mecapai keberhasilan dalam
pelaksanaan menanggulangi keadaan darurat di kapal. Nahkoda dan para perwira
harus menyadari apa yang harus mereka lakukan pada keadaan darurat, misalnya
kebakaran di tangki muatan, kamar mesin, kamar ABK, kapal lepas dari dermaga dan
hanyut, cara lepas dari dermaga dan lain-lain, harus dapat secara cepat dan tepat
mengambil keputusan apa yang harus dilakukan mengatasi segala keadaan darurat.
Ada empat petunjuk perencanaan yang perlu diikuti dalam pengorganisasian keadaan
darurat, antara lain :

59

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1. Pusat Komando.

Kelompok yang mengontrol kegiatan di bawah pimpinan nakhoda atau perwira


senior serta dilengkapi perangkat komunikasi intern dan extern.
2. Satuan Keadaan Darurat.

Kelompok di bawah perwira senior yang dapat menaksir keadaan, melapor ke


pusat komando, menyarankan tindakan apa yang harus diambil.
3. Satuan Pendukung.

Kelompok pendukung yang dipimpin oleh seorang perwira yang harus selalu siap
untuk membantu kelompok induk dengan perintah pusat komando serta
menyediakan bantuan pendukung seperti peralatan, perbekalan, bantuan medis,
dll.
4. Kelompok Ahli Mesin.

Kelompok ini dipimpin oleh seorang masinis. Tanggung jawab utamanya adalah di
kamar mesin dan bisa memberikan bantuan bila diperlukan.
4.5.2. Tindakan Pendahuluan
Seorang yang menemukan keadaan darurat harus membunyikan tanda bahaya,
melaporkan kepada perwira jaga yang kemudian akan menyiapkan organisasi.
Sementara itu yang berada di lokasi segera mengambil tindakan untuk
mengendalikan keadaan sampai diambil alih oleh organisasi keadaan darurat. Setiap
orang harus tahu tempat tugas dan apa tugasya. Termasuk kelompok pendukung
harus stand-by menunggu perintah selanjutnya.
4.5.3. Tata Cara Prosedur Keadaan Darurat
Semboyan untuk berkumpul dalam keadaan darurat terdiri dari 7 atau lebih tiupan
pendek yang diikuti dengan 1 tiupan panjang dengan menggunakan suling kapal atau
sirine. Sebagai tambahan dapat dilengkapi dengan bunyi bel atau gong secara terus
menerus. Jika semboyan ini berbunyi, berarti semua orang yang berada di atas kapal
harus mengenakan pakaian hangat dan baju renang dan menuju ke tempat darurat.
ABK melakukan tugas di tempat darurat mereka sesuai dengan yang tertera di dalam
sijil awak darurat dan selanjutnya menunggu perintah. Setiap juru mudi dan anak
buah sekoci menuju ke sekoci dan mengerjakan :
1. Membuka tutup sekoci, melipat dan memasukkannya ke dalam sekoci.
2. Dua orang dalam sekoci masing-masing seorang di depan untuk memasang tali

penahan sekoci yang berpasak dan seorang


propeler sekoci.

di belakang untuk memasang

3. Tali yang berpasak dipasang sejauh mungkin ke depan tetapi sebelah dalam dari

lopor sekoci dan di sebelah luar tali-tali lainnya.


4. Memeriksa apakah semua awak kapal dan penumpang telah memakai rompi

renang dengan benar atau tidak.


5. Selanjutnya menunggu perintah

60

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Berikut ini akan dijelaskan prosedur atau tata cara dan tindakan yang perlu diambil
dalam menghadapi beberapa situasi keadaan darurat.
4.5.3.1. Tubrukan
Apabila kapal terjadi tubrukan, maka hal yang harus dilakukan oleh Petugas Jaga laut
sebagai berikut :
1. Bunyikan sirine bahaya
2. Menggerakan kapal sedemikian rupa untuk mengurangi pengaruh tubrukan
3. Pintu-pintu kedap air dan pintu-pintu kebakaran otomatis ditutup
4. Lampu-lampu dek dinyalakan
5. Nahkoda diberi tahu
6. Petugas kamar mesin diberi tahu
7. VHF dipindahkan ke chanel 16
8. Awak kapal dan penumpang dikumpulkan di stasiun darurat
9. Data tentang posisi kapal diletakan di ruang radio dan diperbaharui bila ada

perubahan posisi.
10. Ketinggian air pada got-got dan tangki-tangki diukur.
11. Bertindak secara procedural atau mengikuti perintah penanggungjawab kapal.

Gambar. 4.1. Kapal Tubrukan


4.5.3.2. Kandas Atau Terdampar
Apabila kapal kandas atau terdampar, maka hal yang harus dilakukan oleh Petugas
Jaga laut sebagai berikut :
1. Stop mesin
2. Bunyikan sirine bahaya
3. Pintu-pintu kedap air ditutup

61

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Nahkoda diberi tahu


5. Petugas kamar mesin diberi tahu
6. VHF dipindahkan ke chanel 16
7. Tanda-tanda bunyi "kapal kandas" dibunyikan
8. Lampu dan sosok-sosok benda diperlihatkan
9. Lampu dek dinyalakan
10. Ketinggian air pada got-got dan tangki-tangki diukur
11. Kedalaman laut di sekitar kapal diukur
12. Data tentang posisi kapal diletakan di ruang radio dan diperbaharui bila ada

perubahan posisi.

Gambar. 4.2 Kapal Kandas


4.5.3.3. Kebakaran
Apabila terjadi kebakaran di kapal, maka hal yang harus dilakukan oleh Petugas Jaga
sebagai berikut :
1. Sirine bahaya dibunyikan
2. Regu-regu pemadam kebakaran yang bersangkutan siap dan mengetahui lokasi

kebakaran
3. Ventilasi, pintu-pintu kebakaran otomatis, pintu-pintu kedap air ditutup.
4. Lampu-lampu di dek dinyalakan
5. Nahkoda diberi tahu
6. Petugas di kamar mesin diberi tahu
7. Data tentang posisi kapal diletakan di ruang radio dan diperbaharui bila ada

perubahan posisi.

62

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 4.3. Kapal Terbakar


4.5.3.4. Air Masuk Ke Dalam Ruangan
1. Sirine bahaya dibunyikan
2. Siaga (dalam keadaan darurat)
3. Pintu-pintu kedap air ditutup
4. Nahkoda diberi tahu
5. Petugas di kamar mesin diberi tahu
6. Data tentang posisi kapal diletakan di ruang radio dan diperbaharui bila ada
perubahan posisi
Suatu keadaan dapat diatasi secara tepat dan cepat sangat tergantung pada kerjasama
antar penolong dan yang ditolong. Kapal lain atau tim SAR diharapkan dapat
memberikan pertolongan dengan mencari lokasi kecelakaan. Untuk mempercepat
ditemukannya lokasi kecelakaan diharapkan bantuan yang aktif dari awak kapal dan
penumpang yang mendapat kecelakaan. Untuk itu buatlah tanda-tanda yang dapat
diapungkan di air atau apa saja yang kiranya dapat menarik perhatian kapal lain atau
tim SAR, misalnya menggunakan isyarat visual atau menggunakan cermin
semboyan.

63

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 5
MENERAPKAN PELAYANAN MEDIS DAN P3K DI ATAS
KAPAL

Berbagai macam-macam industri bermunculan, disertai penggunaan teknologi


muktahir, penggunaan bermacam-macam mesin, kondisi kerja serta cara kerja, juga
pemakaian beraneka ragam bahan-bahan kimia, akan membawa akibat sampingan
dikalangan tenaga kerja, yaitu meningkatnya berbagai macam kecelakaan kerja.
Untuk itu dirasakan perlu adanya pengetahuan tentang pelayanan medis dan
pengetahuan pertolongan pertama pada kecelakaan, yang nantinya dapat
dilaksanakan dalam unit-unit kerja. Tujuan P3K merupakan pertolongan yang harus
segera diberikan kepada tenaga kerja yang menderita kecelakaan atau penyakit
mendadak di tempat kerja.
Pertolongan pertama tersebut dimaksudkan
untuk
memberikan perawatan
darurat si korban, sebelum pertolongan yang lebih baik dapat diberikan oleh dokter
atau petugas kesehatan lainnya, dengan tujuan yaitu :
1. Menyelamatkan nyawa korban
2. Meringankan penderitaan korban
3. Mencegah cedera menjadi lebih parah
4. Mempertahankan daya tahan korban
5. Mencarikan pertolongan lebih lanjut

Dalam memberikan pertolongan pertama pada korban yang mengalami kecelakaan,


maka salah satu pengetahuan yang harus dimiliki adalah pengetahuan tentang
susunan tubuh manusia dan fungsinya yang meliputi :
1.

Susunan kerangka, otot dan pencernaan.

2.

Sistem pernafasan, jantung, pembuluh darah, susunan syaraf dan kelenjar buntu.

Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam memberikan pertolongan pertama pada
kecelakaan, diperlukan adanya pelatihan seperti yang tertera pada peraturan
internasional STCW 78 Amandemen 95 Peraturan BAB IV 4.16 dan STCW-F 1995.
5.1. SUSUNAN TUBUH MANUSIA DAN FUNGSINYA
5.1.1. Susunan Kerangka Otot
Jumlah tulang yang terdapat pada bayi berbeda dengan yang terdapat pada orang
dewasa. Ini adalah akibat menjadi satunya beberapa tulang, setelah dewasa ada
tulang yang tumbuh kemudian. Kerangka manusia kita bedakan atas tengkorak
kepala (skull), tulang belakang (spina), dinding dada (chest), panggul (pelvis) dan
anggota gerak (extremitas).

64

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Tengkorak kepala membentuk suatu ruang tertutup yang melindungi otak, terdiri dari
banyak tulang, satu dengan lainnya, melekat erat kecuali rahang bawah. Tengkorak
kepala ini bertumpu pada bagian ruas teratas tulang belakang.
Tulang belakang sendiri terdiri dari 7 ruas tulang leher, 12 ruas tulang punggung
daerah dada, 5 ruas tulang punggung daerah perut, 1 ruas besar tulang kedudukan
dan 3-5 ruas tulang ekor. Kegunaan tulang adalah melindungi sumsum belakang dan
mempertahankan tegak tubuh.
Dinding dada terdiri dari satu pasang tulang selangka, 1 tulang dada dan 12 pasang
tulang iga. 7 pasang teratas dari iga ini bertaut langsung ke tulang dada, 3 pasang
berikutnya bertaut di sebelah depan ke tulang iga di atasnya, 2 pasang terakhir tidak
bertaut ke depan. Kegunaan dinding dada ini untuk melindungi jantung, paru-paru,
dan sebagian alat yang ada di rongga perut. Fungsi yang penting adalah ikut
menjamin terselenggaranya pernapasan dengan baik. Bila kita bernapas, dapatlah
dirasakan adanya gerakan dinding dada bergerak ke atas dan ke arah luar.
Pinggul terdiri dari 3 pasang tulang. Pada masing-masing sisi ketiga tulang saling
bertaut erat membentuk satu tulang yang besar.Kegunaan panggul adalah untuk
melindungi alat-alat dalam rongga panggul dan bersamaan dengan tulang kedudukan
serta tulang ekor akan berfungsi penting pada persalinan.
Anggota gerak atas pada masing-masing sisi dibentuk oleh tulang belikat, tulang
lengan atas, tulang pengumpil, tulang hasta, 8 tulang pergelangan tangan, 5 tulang
telapak tangan dan 14 tulang jari. Kegunaan tulang ini adalah untuk memungkinkan
gerakan anggota gerak atas. Anggota gerak bawah pada masing-masing sisi dibentuk
oleh tulang paha, tulang tempurung lutut, tulang kering, tulang betis, 7 tulang
pergelangan kaki, 5 tulang telapak kaki dan 14 tulang jari. Kegunaan tulang ini
adalah untuk gerakan anggota gerak bawah.
Otot-otot yang menyertai kerangka tubuh adalah otot sadar, artinya otot ini
digerakkan secara sadar. Bila tidak ada perintah maka otot tersebut relatif akan
istirahat dan tidak bergerak. Otot-otot lain yang terdapat di dalam dan di sekitar alatalat dalam adalah otot tak sadar, artinya otot tersebut bergerak dengan sendirinya
tidak mempengaruhi kesadaran, tetapi dipengaruhi oleh keadaan dan kebutuhan
setempat.
Untuk bisa melihat perubahan-perubahan serta keadaan bahaya pada korban yang
mengalami kecelakaan, perlu mengetahui kondisi-kondisi normal dari fisiologi
manusia diantaranya:
5.1.2. Susunan Pencernaan
Dimulai dengan bibir dan rongga mulut, saluran pencernaan kemudian selanjutnya
kerongkongan yang pangkalnya berada pada satu tempat dengan pangkal tengkorak.
Kerongkongan kemudian berjalan di depan ruang tulang belakang di daerah dada,
menembus sekat rongga badan dan berakhir pada lambung. Kerongkongan hanyalah
berfungsi meneruskan makanan yang sebagian sudah lumat tersebut.
Fungsi dari bibir rongga mulut adalah untuk melumatkan makanan yang walaupun
terasa lezat, tetapi masih dalam bentuk kasar. Fungsi ini dimungkinkan oleh adanya
gigi gerigi dan kelenjar ludah mulut.

65

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Lambung berupa kantong yang terletak di bagiah kiri atas rongga perut. Ototnya
kuat dan dengan bantuan cairan pencerna yang dihasilkan lambung, makanan makin
dilumatkan. Biasanya makanan tertahan di dalam lambung selama 4 6 jam. Setelah
lambung makanan yang sudah hampir lumat itu didorong masuk ke dalam usus 12
jari. Ke dalam usus 12 jari ini bermuara saluran empedu dan kelenjar ludah perut,
sehingga dibantu dengan gerakan usus makin lumat dan bentuknya sedemikian rupa
sehingga mudah untuk diserap
5.1.3. Jantung
Jantung terletak di pusat rongga dada dan terdiri dari tiga lapisan, yaitu:
1. Endokardium
Selaput yang membatasi ruangan jantung. Lapisan ini mengandung pembuluh
darah, saraf, dan cabang-cabang dari sistem peredaran darah ke jantung
2. Miokardium
Merupakan otot jantung yang tersusun dari berkas-berkas otot.
3. Parakardium
Selaput pembungkus jantung.
Jantung merupakan alat pemompa darah yang terdiri dari dua pompa yang terpisah,
yaitu jantung kanan (yang memompakan darah menuju paru-paru) dan jantung kiri
(yang memompakan darah keseluruh tubuh).
Tiap bagian jantung yang terpisah ini merupakan dua ruang pompa yang dapat
berdenyut, yaitu atrium dan vertikel. Fungsi utama atrium adalah tempat masuknya
darah dan membantu mengalirkan darah masuk ke dalam vertikel. Vertikel
menyediakan tenaga utama untuk mendorong darah

Gambar. 5.1. Organ Jantung


5.1.4. Sisem Pernapasan
Lubang hidung merupakan bagian pertama yang dilalui udara untuk dapat masuk ke
dalam paru-paru. Dibentuk oleh kulit dan jaringan lunak di bawahnya, lubang

66

Teknika Kapal Penangkap Ikan

hidung kemudian melanjutkan ke dalam rongga hidung yang dibentuk oleh tulang
hidung pada bagian depan tengkorak kepala.
Kegunaan dari lubang hidung dan rongga hidung adalah untuk melembabkan dan
menyaring udara. Dari rongga hidung kemudian menuju ke pangkal tenggorok yang
terletak pada tempat yang sama dengan pangkal kerongkongan, pada bagian
depannya terdapat selembar jaringan rawan yang disebut epiglotis.
Kegunaan dari pangkal tenggorokan adalah untuk menutup jalan nafas pada saat
menelan makanan dan minuman. Di samping itu pada daerah ini terdapat sepasang
pita suara yang berfungsi untuk mengungkapkan perasaan yang akhirnya berupa
kata-kata. Dari batang tenggorok kemudian berlanjut menjadi cabang tenggorok dan
terus berlanjut ke masing-masing paru-paru. Paru-paru berupa sepasang jaringan
lunak mirip karet busa yang selalu berisi udara. Jumlah udara menjadi banyak pada
saat menarik nafas dan menjadi sedikit pada saat mengeluarkan pernafasan. Keluar
masuknya udara ke dalam paru-paru dimungkinkan oleh gerakan dinding dada,
bukan oleh gerakan paru-paru itu sendiri.
Pada saat menarik nafas, dinding dada bergerak ke arah luar atas, tekanan di dalam
rongga dada mengecil dan udara terhisap masuk oleh karena perbedaan tekanan.
Sebaliknya pada saat melepas nafas, dinding dada bergerak turun dan merapat ke
dalam, tekanan di dalam rongga dada membesar dan udara tersebut ke luar. Di dalam
ruangan-ruangan kecil pada paru terjadilah pertukaran gas/udara dimana zat asam
(oxygen) dihisap dan zat asam arang (CO2) dikeluarkan.
Paru-paru adalah alat pernapasan yang terletak di dalam rongga dada dan di atas
diafragma. Diafragma adalah sekat rongga badan yang membatasi rongga dada dan
rongga perut. Paru-paru diselubungi oleh selaput elastisitas yang disebut pluera.
Paru-paru terdiri dari dua bagian, yaitu paru-paru kiri dan paru-paru kanan. Paru-paru
kiri terdiri 2 gelambir, sedangkan paru-paru kanan terdiri dari 3 gelambir.
Didalam paru-paru terdapat bronkus dan bronkiolus. Bronkiolus paru-paru
bercabang-cabang lagi membentuk saluran-saluran halus. Saluran-saluran halus
berakhir pada gelembung-gelembung halus (alveolus).
Dinding alveolus sangat tipis, namun elastis dan mengandung kapiler-kapiler darah.
Pada dinding alveolus terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida.

Gambar 5.2. Organ Paru-Paru

67

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5.1.5. Susunan Syaraf


Otak besar dan otak kecil terletak di dalam ruang tengkorak kepala. Terdiri dari
jaringan syaraf yang rumit susunannya, seluruh bagian otak terbungkus oleh
lembaran jaringan ikat berfungsi memberikan rangsang, menterjemahkan rangsang
tersebut dan memberikan reaksi.
Sumsum belakang terletak memanjang di dalam tulang belakang berfungsi
menyalurkan rangsang ke arah otot dan menyalurkan perintah otak sebagai reaksi
terhadap rangsang ke alat-alat tubuh.
Susunan syaraf gaib terdiri dari jaringan syaraf yang tersebar di seluruh tubuh
terutama di daerah alat-alat dalam. Berfungsi menerima dan segera memberikan
reaksi rangsang perubahan setempat.
5.1.6. Susunan Kelenjar Buntu
Disebut sebagai kelenjar buntu karena kelenjar ini tidak melepaskan zat ke dalam
suatu rongga tubuh, melainkan langsung ke pembuluh darah. Di daerah leher terdapat
sepasang kelenjar gondok, fungsinya mengatur kecepatan pembentukan dan
penggunaan tenaga dalam tubuh.
Menempel pada kelenjar gondok terdapat dua pasang anak kelenjar gondok yang
berfungsi mengatur penyerapan dan penggunaan zat kapur. Di dalam masa kelenjar
ludah parut terdapat kelenjar-kelenjar Langerhans yang menghasilkan insulin yang
berfungsi mengatur penggunaan zat gula dalam tubuh.
Di atas kedua ginjal terdapat anak ginjal, bagian luar kelenjar ini berfungsi mengatur
penggunaan cairan tubuh. Bagian dalamnya berfungsi mengatur tekanan darah
tubuh. Selain itu pada masing-masing kelamin terdapat kelenjar yang berfungsi
dalam reproduksi. Yang penting seluruh kelenjar tadi diawasi dan dikendalikan
fungsinya oleh satu kelenjar kecil yang terdapat di dasar tengkorak yang disebut
kelenjar hypophyse.
5.1.7. Ginjal
Pada manusia ginjal merupakan organ utama yang melakukan proses ekskresi.
Fungsi ginjal adalah:
1. Mengekskresikan zat sisa seperti urea, asam urat, kreatinin, kreatin, dan zat lain
yang bersifat racun.
2. Mengatur volume plasma darah dan jumlah air di dalam tubuh.
3. Menjaga tekanan osmosis dengan cara mengatur ekskresi garam-garam, yaitu
membuang jumlah garam yang berlebihan dan menahan garam bila jumlahnya
dalam tubuh berkurang.
4. Mengatur ph plasma dan cairan tubuh dengan mengekskresikan urin yang
bersifat basa, tetapi dapat pula mengekskresikan urin yang bersifat asam
5. Menjalankan fungsi sebagai hormon dengan menghasilkan dua macam zat, yaitu
renin dan eritropietin yang diduga memiliki fungsi edokrin.

68

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar. 5.3. Organ Ginjal


5.1.8. Hati
Hati merupakan organ vital manusia dan hati adalah kelenjar terbesar dalam tubuh
yang terletak di bagian kanan atas rongga perut. Hati selain berperan dalam sistem
pencernaan pada tubuh manusia, juga berperan dalam sistem ekskresi. Fungsi hati
dalam sistem ekskresi adalah menghasilkan cairan empedu secara terus menerus
yang ditampung dalam kantong empedu.
Hati setiap hari menghasilkan empedu sebanyak 800-1000 ml. Empedu mengandung
air, asam empedu, garam empedu, kolesterol, lesitin, pigmen, bilirubin, biliverdin
dan ion.
Empedu berasal dari penghancuran hemoglobin eritrosit yang telah tua. Hemoglobin
dalam eritrosit akan diuraikan menjadi hemin, zat besi, dan globin. Zat besi dan
globin akan disimpan di dalam hati, kemudian dikirim ke sumsum tulang merah
untuk pembentukan anti bodi atau hemoglobin baru.
Sedangkan hemin akan dirombak menjadi bilirubin dan biliverdin yang merupakan
zat warna bagi empedu dan mengandung warna hijau biru. Zat warna tersebut di
dalam usus akan mengalami oksidasi menjadi urobilin sehingga warna feses dan urin
menjadi kekuningan. Empedu berfungsi untuk mencerna lemak, mengaktifkan lipase,
berperan pada absorpsi lemak dalam usus halus, mengubah zat yang tidak larut
dalam air menjadi larut dalam air dan pembentukan urea. Bagian-bagian hati dapat
dilihat pada gambar 5.4

Gambar. 5.4. Organ Hati

69

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5.2. Prinsip-Prinsip Umum P3K


P3K adalah pertolongan pertama yang diberikan kepada orang yang mendapat
kecelakaan sebelum mendapat pertolongan medis/ paramedis atau rumah sakit.
5.2.1. Tujuan
1. Mencegah bahaya maut dengan jalan memulihkan pernafasan dan menghentikan
perdarahan
2. Mencegah terjadinya cedera yang lebih parah
3. Mencegah terjadinya kecacatan bagi si korban
4. Mencegah terjadinya komplikasi seperti kerusakan jaringan lebih luas akibat
patah tulang karena salah angkat
5. Mencegah bahaya akibat infeksi (kehamaan)
6. Meringankan penderitaan bagi si korban
7. Melindungi korban dari bahaya-bahaya lain yang mengancam
5.2.2. Syarat-Syarat Seorang Penolong
Seorang penolong harus mempunyai pengetahuan tentang keterampilan P3K. Untuk
itu seorang penolong perlu :
1. Mempelajari dasar-dasar pengetahuan P3K
2. Mengikuti latihan P3K berulang kali dan tertatur
3. Dapat mempergunakan alat yang ada di sekitar tempat kejadian sebagai bahan

penolong.
5.2.3. Sikap Seorang Penolong
1. Tidak boleh panik, harus sabar dan tenang
2. Waspada akan keadaan di sekitar tempat kecelakaan
3. Selalu waspada akan keadaan si korban
4. Dapat menenangkan si penderita
5. Melaporkan setelah memberikan pertolongan dengan cara :
a.Mencatat identitas korban
b.

Mencatat waktu dan tempat kejadian

c.Mencatat pertolongan yang telah diberikan


5.2.4. Dasar-Dasar Melakukan P3K
1. Bertindak cepat, tepat dan tidak panik
2. Menguasai teknik-teknik :

70

Teknika Kapal Penangkap Ikan

a.

Melakukan nafas buatan dari mulut ke mulut (mouth to mouth) atau dari
mulut ke hidung (mouth to nose)

b.

Melakukan pijat jantung

c.

Menghentikan perdarahan

d.

Mengobservasi vital-sign penderita :

e.

Tensi

Denyut nadi (denyut jantung 60 90 X / menit)

Frekwensi pernafasan (16 22 X / menit)

Suhu badan (360 370 C)

Menyediakan transportasi bagi penderita.

P3K yang tepat sangat menolong penderita dan sebaliknya tindakan yang kurang
tepat atau salah dapat berakibat memberatkan penderita atau cacat fisik bahkan
berakibat fatal. Dalam melakukan P3K, si penolong jangan sampai turut menjadi
korban sia-sia.
5.2.5. Sikap Menghadapi Korban Kecelakaan
Pastikan dulu apakah korban sudah meninggal ataukah korban masih hidup.
1.

Korban sudah meninggal: amankan jenazahnya, cari korban lainnya.

2.

Korban masih hidup :

5.3.

a.

segera pindahkan ke tempat yang relatif lebih aman

b.

kendorkan pakaian-pakaian yang terlalu ketat

c.

lakukan P3K sesuai urutan urgensinya

d.

observasi terus vital sign-nya

e.

keadaan sudah aman atau bantuan datang segera pindahkan ke Rumah Sakit
terdekat

f.

Sebaiknya dicatat jenis, tempat kecelakaan serta identitas korban untuk


kemudian diserahkan kepada yang berwenang
Melakukan Pertolongan

Didalam melakukan pertolongan hal yang harus diperhatikan adalah jenis luka atau
penyakit yang dialami oleh para korban. Jenis jenis luka tersebut antara lain :
5.3.1. Pendarahan
Pendarahan terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :
5.3.1.1. Perdarahan Luar
Ada tiga macam perdarahan luar antara lain :
1. Perdarahan dari pembuluh rambut (capiler)

71

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Tanda-tandanya sebagai berikut :


a.

Perdarahan tidak hebat.

b.

Keluar secara perlahan-lahan berupa rembesan.

c.

Biasanya perdarahan berhenti sendiri walaupun tidak diobati.

d.

Pendarahan mudah untuk dihentikan dengan perawatan luka biasa.

2. Perdarahan dari pembuluh darah balik (vena)


Tanda-tandanya sebagai berikut :
a. Warna darah merah tua (berupa darah kotor yang akan dicuci di dalam paruparu, kadar oksigen sedikit).
b. Pancaran darah tidak begitu hebat dibanding dengan perdarahan arteri.
c. Perdarahan mudah untuk dihentikan dengan cara menekan dan meninggikan
anggota badan yang luka lebih tinggi dari jantung.
3. Perdarahan dari pembuluh nadi (arteri)
Tanda-tandanya sebagai berikut :
a. Darah berwarna merah muda (merupakan darah bersih karena habis dicuci di
dalam paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh.
b. Keluar secara memancar sesuai irama jantung.
c. Biasanya perdarahan sulit untuk dihentikan.
Tindakan pertolongan pada perdarahan arteri :
a. Penderita didudukkan atau ditidurkan secara terlentang, tergantung pada
keadaan perdarahannya hebat atau tidak.
b. Bagian luka ditinggikan dan biasanya perdarahan dapat dihentikan dengan
menekan di atas luka.
c. Setelah dibersihkan dari kotoran yang ada, tutuplah dengan sepotong kain
kasa steril dan tekanlah dengan jari sampai darah berhenti keluar kemudian
pasang pembalut penekan.
d. Pada perdarahan yang hebat apabila tidak berhasil dengan cara demikian,
perlu dilakukan tekanan (Tourniquet) pada pembuluh nadi antara luka dan
jantung.
Cara mengerjakan Tourniquet :
Tourniquet adalah balutan yang menjepit sehingga aliran darah di bawahnya terhenti
sama sekali. Sehelai pita kain yang lebar, pembalut segitiga yang dilipat-lipat, atau
sepotong karet ban sepeda dapat dipergunakan untuk keperluan ini. Panjang
Tourniquet haruslah cukup untuk dua kali melilit bagian yang hendak dibalut.
Tempat yang terbaik untuk memasang Tourniquet lima jari di bawah ketiak (untuk
perdarahan lengan) dan lima jari di bawah lipat paha (untuk perdarahan di kaki)
seperti Gambar dibawah.

72

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 5.5. Cara Memasang Tourniquet


Keterangan gambar :
A. Buat ikatan di anggota badan yang cedera.
B. Selipkan sebatang kayu dibawah ikatan itu.
C. Kencangkan kedudukan kayu itu dengan cara memutarnya.
D. Agar kayu tetap erat dudukannya, ikat ujung satunya.
5.3.1.2. Pendarahan Dalam
Pendarahan dalam adalah pendarahan yang terjadi di dalam rongga dada, rongga
tengkorak dan rongga perut. Dalam hal ini darah tidak tampak mengalir keluar tetapi
kadang-kadang dapat keluar melalui lubang hidung, telinga, mulut dan pelepasan.
1. Penyebab pendarahan dalam :
a.

Pukulan keras, terbentur hebat.

b.

Luka tusuk, kena peluru.

c.

Pecahnya pembuluh darah karena suatu penyakit.

d.

Robeknya pembuluh darah akibat terkena ujung tulang yang patah.

2. Gejala pendarahan luar :


Tergantung jenis pembuluh darah yang terkena, tetapi pada tiap perdarahan
dalam terjadi gangguan umum yaitu shock dan pingsan, karena kehilangan
banyak darah.
3. Cara pertolongannya :
a.

Usahakan mencegah terjadinya shock.

b.

Berikan banyak minum sebagai ganti cairan darah yang keluar.

c.

Kalau sarana dan keadaan memungkinkan pasang infus.

d.

Hubungi dokter terdekat atau usahakan secepatnya dibawa ke rumah sakit.

73

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Cara mengatasi perdarahan luar :


a.

Luka ditekan dengan gaasteril/verban/kain bersih.

b.

Bila alat-alat lengkap dapat dicoba menjahit luka.

c.

Khusus perdarahan karena putusnya pembuluh nadi pada alat gerak


(tangan/kaki) lakukanlah dengan cara mengikat tourniquet dengan simpul
tali kemudian masukkan potongan kayu diantara simpul tali kemudian putar
kuat-kuat.

Catatan :

Ikatan harus jelas terlihat, simpul dikendorkan selama lebih kurang 1 menit
pada tiap-tiap 15 sekali sambil menekan bagian yang luka, demikian
seterusnya sampai ke rumah sakit.

Bila alat-alat lengkap memungkinkan jahit pembuluh darah yang putus dan
lukanya dan segera bawa ke rumah sakit terdekat.

5. Perdarahan dalam Rongga Kepala


a.

Terjadi karena pecahnya pembuluh darah akibat benturan dan atau


hypertensi.

b.

Gejala-gejalanya sama dengan gegar otak berat.

c.

P3K-nya sama dengan gegar otak berat, dan segera bawa ke rumah sakit.

5.3.1.3. Perdarahan Dalam Rongga Perut


Terjadi karena pecahnya hati, limpa dan ginjal akibat trauma.
Gejala-gejalanya :
1.

Riwayat trauma pada bagian perut/pinggang.

2.

Tampak kesakitan pada bagian perut.

3.

Banyak mengeluarkan keringat dingin dan muka pucat.

4.

Suhu tubuh naik.

5.

Kesadaran menurun sampai pingsan, koma.

6.

Perut tegang seperti papan.

7.

Pemeriksaan laboratorium terdapat : Hb turun, leucocyt naik dan von slaneysign.

P3K-nya :
1.

Korban ditidurkan dengan posisi terlentang.

2.

Kompres dengan es batu di bagian perutnya.

3.

Observasi vital sign-nya.

4.

Segera bawa ke rumah sakit terdekat untuk dioperasi.

74

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5.3.1.4.

Perdarahan di Bawah Kulit

Gejala-gejalanya :
1.

Riwayat trauma tumpul.

2.

Kulit merah kebiru-biruan.

3.

Bengkak, nyeri tekan, dan suhu kulit naik.

4.

P3K-nya :

5.

Mula-mula kompres dengan es.

6.

Setelah 1 2 hari kompres dengan air panas.

7.

Bawa ke rumah sakit untuk pengecekan.

Sistem peredaran darahnya terganggu dapat diketahui dari tanda-tandanya berupa :


1. Kesadaran penderita menurun
2. Nadi berdenyut lebih cepat, kemudian melemah, lambat dan menghilang
3. Merasa mual/muntah
4. Kulit dingin, muka pucat
5. Nafas dangkal, kadang-kadang tak teratur
6. Pupil mata melebar

5.3.2. Resusitasi
Resusitasi adalah tindakan untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan atau fungsi
sirkulasi udara yang efektif.
5.3.2.1.Tahapan
1. Bantuan hidup dasar (Basic life support)
2. Bantuan hidup lanjut (Advanced life support)
3. Bantuan hidup jangka panjang (Prolonged life support)

5.3.2.2. Gejala
1. Henti napas
2. Kulit kebiru-biruan
3. Nadi besar tak teraba
4. Kehillangan kesadaran
5. Pupil melebar
5.3.2.3. Penyebab
1. Penyakit jantung
2. Shock listrik

75

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3. Shock berat
4. Sumbatan benda-benda asing
5. Trauma kepala
6. Keracunan
7. Tenggelam
5.3.2.4. Cara Pertolongan
1. Tidurkan terlentang di atas alas keras
2. Bersihkan mulut dan pharink
3. Kepala dongakan ke atas
4. Tarik rahang bawah ke depan, buka mulut
5. Bila tetap tak bernapas lakukan tiupan udara langsung dengan cepat melalui
hidung (dengan menutup mulut), mulut (dengan menutup hidung) frekwensi
masing-masing 3-5 kali.
6. Bila masih belum bernapas juga lakukan dengan memberikan pernapasan buatan,
Dorong dagu, mulut terbuka dan bersihkan.
7. Mulut penolong dibuka lebar, tarik napas dalam-dalam kemudian letakan ke
mulut korban, sambil memijit rapat hidung korban.
8. Kemudian bebaskan mulut korban.
9. Angkat mulut penolong. Dewasa 12 kali/menit, anak-anak 20 kali /menit
10. Tiupan pada anak tidak boleh terlalu keras.
5.3.3. Keracunan Karbon Monoksida
Tanda-tandanya :
1. Kesadaran mulai hilang
2. Pingsan

Usaha pertolongan dengan :


1. Bawa korban untuk mendapatkan udara segar secepatnya
2. Apabila pingsan berikan O2 selama 2-3 jam atau penolong menghisap oksigen

sebanyak-banyaknya sebelum ditiupkan ke mulut korban.


3. Kirim segera ke rumah sakit untuk mendapat penanganan dari dokter.

5.3.4. Denyut Jantung Berhenti


Denyut jantung berhenti mendadak dapat disebabkan antara lain :
1. Tersambar petir
2. Terkena arus listrik
3. Tenggelam

76

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Tercekik

Untuk memastikan serangan jantung sudah terhenti atau tidak, diraba pembuluh
darah (nadi) yang terdapat disamping lehernya.
Usaha pertolongan dengan :
1. Korban ditelentangkan pada alas yang keras
2. Letakan pangkal telapak tangan diatas tulang dada lekat ujung bawahnya.
3. Tekanlah tulang dada korban tegak lurus kebawah kurang lebih 3 cm, lalu

kendorkan lagi, lakukan berulangulang dengan kecepatan 60 80 kali / menit.


5.3.4.1. Serangan Jantung
Serangan jantung ditandai dengan :
1. Nadi lemah
2. Muka pucat
3. Nyeri di daerah jantung, Kadang-kadang nyeri bisa hebat serta ada rasa ketakutan
4. Nafas sesak
5. Muntaber
6. Sukar bernafas

Usaha pertolongan dengan :


1. Berikan oksigen
2. Berikan penenang atau pengurang rasa sakit
3. Kirim segera ke dokter

5.3.5

Penangan Shock

Shock timbul akibat adanya sistem peredaran darah dalam tubuh terganggu, sehingga
tidak dapat memenuhi keperluan. Faktor-faktor penyebabnya antara lain :
1. Neurogenik dan psikis (ketakutan, kesakitan, terkejut dan keracunan)
2. Kehilangan darah atau cairan tubuh (pendarahan atau muntaber)
3. Infeksi
4. Serangan jantung atau kekacauan denyut jantung
5. Alergi karena obat-obatan.

Pertolongannya medis disesuaikan dengan penyebabnya terjadinya kecelakaan.


5.3.5. Pingsan
Pingsan berarti tidak sadarkan diri. Pingsan yang biasa, lamanya tidak sadarkan diri
biasanya pendek. Orang cenderung untuk pingsan bisa diakibatkan karena faktor :
1. Anemia

77

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Lelah
3. Takut
4. Tidak tahan melihat darah

Usaha pertolongan penderita pingsan dengan cara:


1. Membaringkan penderita pada tempat yang teduh serta udara segar secara

terlentang, kepala diletakan sedikit lebih rendah dari anggota badan.


2. Baju dibuka atau pakaian dilonggarkan.
3. Kompres kepala dengan air dingin.
4. Hembuskan uap amoniak didepan lubang hidungnya.
5. Diberikan minuman air garam, 1 gram dalam satu liter air (pingsan karena panas)
6. Diberikan minuman segelas air gula / air jeruk manis, diberikan bisa melalui

dubur (pingsan pada penderita kencing manis)


7. Diberikan penenang/suntikan stesolid (pingsan karena kesedihan)
8. Diberikan transfusi darah (pingsan karena pendarahan)

5.3.6. Luka Bakar


Usaha pertolongan untuk luka bakar dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat luka
tersebut, antara lain :
5.3.6.1.

Luka Bakar Ringan

1. Bersihkan luka
2. Rendam dalam es atau air yang dingin
3. Keringkan, lepuh-lepuh jangan diganggu.
4. Diberi boorzalf 5% atau sofratulle, kemudian tutup dengan kain pembalut.

5.3.6.2. Luka Bakar Berat


1. Tutup bagian-bagian yang terbakar dengan lembaran-lembaran solfaratulle
2. Diberi obat penahan rasa sakit
3. Diberi air minum sebanyak mungkin
4. Kirim kerumah sakit.

5.3.7. Luka Terkena Air Panas


Luka yang terkena air panas tanda-tandanya sebagai berikut;
1. Cairan menerobos bagian yang cidera sehingga menimbulkan lepuh-lepuh dan

mudah pecah-pecah
2. Karena lapisan luar kulit sudah pecah maka infeksi akan berkembang
3. Rasa nyeri seperti tertusuk jarum

78

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Bengkak
5. Akar-akar rambut masih ada
6. Warna kulit luar hitam

Tindakan P3K akibat terkena air panas adalah sebagai berikut;


1. Jangan menggunakan salep atau minyak
2. Pakaian harus dibuka pada bagian-bagian yang terbakar
3. Kalau luka itu parah, atau sisa-sisa kain itu masih melekat pada luka, balutlah

luka itu sampai tiba di rumah sakit


4. Rasa sakit dapat dihilangkan dengan mencuci bagian yang terkena air

panas/terbakar dengan air dingin atau dengan menggunakan es batu.


5. Apabila lukanya kecil saja bagian yang luka dibersihkan dengan air hangat dan

gunakan pembalut yang steril.


5.3.8. Luka Terkena Aliran Listrik
Kecelakaan terkena aliran listrik dapat menyebabkan :
1. Mengacaukan denyut jantung
2. Dapat menghentikan denyut jantung
3. Menghentikan pernapasan
4. Menimbulkan luka bakar
5. Pingsan

Usaha pertolongan terkena aliran listrik dengan cara:


1. Lepaskan kabel atau sumber arus dengan menggunakan kayu atau perlindungan

diri.
2. Berikan pernapasan buatan
3. Pijat jantung untuk pemulihan denyut jantung
4. Perawatan luka bakar
5. Kirim ke rumah sakit

5.3.10. Geger Otak


1. Gegar Otak Ringan (Commotio Cerebri) = dapat sembuh sempurna
2. Gegar Otak Berat (Conntutio Cerebri) = meninggal dunia, cacat tubuh/fisik,
cacat mental, kombinasi kedua cacat tersebut di atas.
Gejala-gejala :
1. Ada riwayat trauma pada kepala.
2. Pusing-pusing.
3. Mual, muntah-muntah.
4. Amnesia- retrograd.

79

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5. Kesadaran menurun.
6. Pingsan.
7. Reflek reflek pathologis positif.
8. Koma.

Bila gegar otak ringan disertai pendarahan (pembuluh darah kecil), cepat atau lambat
akan menjadi gegar otak berat. Dengan didahului munculnya reflek-reflek patologis
kontralateral. Pertolongan pertamanya adalah :
1. Amankan penderita
2. Kendorkan semua pakaian yang ketat.
3. Tidur terlentang tanpa bantal, posisi kepala 20 0 lebih rendah dari kaki .
4. Miringkan muka ke kiri/kanan.
5. Observasi vital sign-nya.
6. Usahakan sikulasi udara sekitarnya tetap segar.
7. Dapat dibantu dengan pemberian oksigen.
8. Bila sudah aman / bantuan datang pindahkan ke rumah sakit.
9. Perhatikan cara transportasinya.

5.3.11. Patah Tulang


1. Patah tulang terbuka.

Patah tulang terbuka, gejala-gejalanya :


a.

Ada trauma.

b.

Jelas terlihat, luka, perdarahan tulang mencuat.

Pertolongan pertamanya adalah :


a.

Amankan korban.

b.

Usahakan fikrasi longgar, tutup lukanya.

c.

Atasi perdarahan, observasi vital signnya

d.

Segera bawa ke rumah sakit terdekat.

2. Patah tulang tertutup.

Patah tulang tertutup, gejala-gejalanya :


a.

Ada riwayat trauma.

b.

Pada anggota gerak umumnya daerah 1/3 distal

c.

Ada perubahan bentuk , bengkak.

d.

Merah kebiru-biruan

e.

Tampak kesakitan, nyeri tekan.

f.

Fungtio laeda (seperti lumpuh, karena sangat sakit kalau digerakkan )

80

Teknika Kapal Penangkap Ikan

g.

Nyeri tekan sumbuh

Pertolongan pertamanya adalah :


a.

Amankan korban

b.

Awasi vital sign, pasang bidai (spalk sementara)

c.

Segera bawa ke RS terdekat.

3. Patah tulang punggung.

Patah tulang punggung, gejala-gejalanya :


a.

Riwayat trauma pada daerah punggung

b.

Kesakitan sekali, pingsan bahkan seperti koma.

c.

Tampak ada perubahan bentuk pada tempat trauma.

Pertolongan pertamanya adalah :


a.

Amankan korban, sewaktu mengangkat minimal oleh tiga orang dengan


gerakan serentak.

b.

Korban sadar, tidurkan posisi terlentang tanpa bantal, alas keras dan fiksasi
posisinya.

c.

Korban pingsan,
ditelentangkan.

d.

Segera bawah ke RS terdekat.

tidurkan

posisi

miring/telungkup.

Setelah

sadar

5.3.12. Tergigit atau Terkena Binatang Berbisa


1. Gigitan ular laut.

a.

Semua ular laut berbisa, ikat bagian atas gigitan.

b.

Buat irisan silang pada tempat gigitan, tekan kuat-kuat supaya darah keluar
sebanyak-banyaknya.

c.

Bila yakin di rongga mulut tak ada luka, boleh mengeluarkan darah dengan
cara menghisap.

d.

Segera bawa ke RS.

2. Terkena ubur-ubur.
a.

Merah, bengkak, gatal-gatal.

b.

Panas, nyeri.

Pertolongan pertamanya adalah :


a.

Siram dengan wisky/alkohol

b.

Segera bawa ke RS.

3. Tertusuk bulu babi laut


a.

Keringkan bagian yang terkena, kalau ada siram dengan larutan amonia
encer.

81

Teknika Kapal Penangkap Ikan

b.

Pukul-pukul bagian yang terkena.

c.

Bila perlu bawa ke RS

5.3.13. Heart attack = Miyocard Infark (M.C.I )


Diartikan sebagai serangan jantung atau serangan angin duduk.
Gejala-gejala :
1. Kadang-kadang mulai nyeri di ulu hati.
2. Sesak di dada.
3. Nyeri seperti di tusuk pada dada kiri.
4. Nyeri menjalar ke punggung, bahu kiri, lengan kiri sampai ke ujung ujung jari

tangan kiri ( seperti tersetroom).


5. Sekali serangan antara 5 15 menit dan berulang-ulang.
6. Bila langsung pingsan mati mendadak.

P3K nya :
1. Korban masih sadar :
a.

Tidurkan terlentang dengan tenang, kurangi gerakan-gerakan.

b.

Kendorkan pakaian pakaian yang ketat

c.

Beikan nitrobat tablet isap-isap di bawah lidah

d.

Beri oksigen, observasi vital signnya.

e.

Jaga ventilasi udara tetap segar.

f.

Segera bawa ke RS.

2. Korban langsung pingsan :


a.

Segera lakukan pijatan langsung

b.

Lakukan nafas buatan

c.

Beri Oxygen

d.

Segera bawa ke RS.

5.3.14. Serangan Asma


Penyebabnya adalah : udara dingin, bau-bauan tertentu, stress, terlalu lelah.
Gejala-gejala :
1. Napas sesak dan bunyi ..ngiiik, ngiiik.. !
2. Muka, bibir kebiru-biruan, cuping hidung kembang kempis, tidak bisa tidur
terlentang.
P3K-nya adalah :
1. Tidurkan duduk, punggung diganjal 2 3 bantal

82

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Berikan tablet anti asma (asmasolon), suntikkan Intravena Aminophylin 1


ampul/Oradexon 1 ampul
3. Berikan oxygen
4. Jaga sirkulasi udara tetap segar
5. Segera ke RS
5.3.15. Perdarahan Dari Mulut
Dapat didahului dengan batuk-batuk atau tidak dan dapat berasal dari :
1. Pecahnya pembuluh darah di kerongkongan karena sedang menderita pharyngitis
a.

Demam, sakit menelan, batuk-batuk atau tidak

b.

Darah merah segar, jumlah sedikit

2. Pecahnya Varices Oesephagus, karena Hypertensi Portal


a.

Ada riwayat hypertensi

b.

Darah merah segar, jumlah banyak

3. Asal paru-paru TBC terbuka, sangat menular


a.

Batuk-batuk lebih dari 2 minggu

b.

Malam banyak keluar keringat dingin

c.

Darah bercampur dahak, merah, ada yang merah kecoklat-coklatan seperti


karat besi

d.

Isolasi penderita, segera ke RS

5.4.

Penyelamatan dan Pengangkatan Korban Akibat Kecelakaan

Cara melakukan penyelamatan dan pengangkatan korban akibat kecelakaan yaitu


jangan memindahkan korban dari tempat kecelakaan sebelum dokter atau tim P3K
datang, kecuali apabila tempat itu berbahaya bagi keselamatan si korban. Apabila
mungkin hentikan pendarahannya terlebih dahulu, bersihkan jalan pernafasannya dari
kotoran-kotoran yang menghalangi keluar masuknya udara dari dalam tubuh, dan
pasang bidai pada tulang-tulang yang patah.
Pengangkutan korban ada beberapa cara yaitu;
1. Mengusung untuk jarak dekat
2. Mengusung melalui lintasan sempit
3. Mengusung dengan selimut
4. Mengusung korban yang sadar
5. Mengusung korban yang tidak mampu berjalan
6. Mengusung korban yang membutuhkan sedikit bantuan
7. Cara mengangkat penderita yang tidak sadar, tanpa bantuan orang lain

83

Teknika Kapal Penangkap Ikan

8. Mengusung korban dengan menggunakan tangan sebagai tandu, dikerjakan oleh

dua orang
9. Mengusung korban dengan menggunakan kursi sebagai tandu

5.5.

Prosedur Pelayanan

5.5.1. Medis
Pertolongan medis harus diberikan kepada orang yang mendapat kecelakaan dengan
lokasi yang tidak membahayakan penderita atau penolong, sebelum mendapat
pertolongan medis/paramedis atau rumah sakit.
Seorang penolong harus mempunyai pengetahuan tentang dasar-dasar pertolongan
pertama pada kecelakaan dan telah mengikuti pelatihan medis, juga mempunyai
sikap;
1. Tidak boleh panik, harus sabar dan tenang
2. Waspada pada keadaan disekitar tempat kecelakaan
3. Selalu waspada terhadap keadaan korban
4. Dapat menenangkan si penderita
5. Melaporkan setelah selesai memberikan pertolongan kepada yang berwenang.

Tujuan pertolongan medis adalah;


1. Mencegah bahaya maut dengan jalan memulihkan pernafasan dan menghentikan

pendarahan
2. Mencegah terjadinya cidera yang lebih parah
3. Mencegah terjadinya cacat bagi korban
4. Mencegah terjadinya komplikasi seperti kerusakan jaringan lebih parah akibat

patah tulang
5. Mencegah bahaya akibat infeksi
6. Meringankan derita korban
7. Melindungi korban dari bahaya-bahaya lain yang mengancam

5.5.2. Peralatan
Peralatan-peralatan yang harus tersedia dalam rangka pertolongan pertama pada
kecelakaan, yang penting terdiri dari :

Buku Petunjuk P3K

Pembalut segitiga

Pembalut biasa

Kasa steril

Kapas putih

Snelverband

84

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Plester

Sofratulle

Bidai (spalk)

Gunting perban

Pinset

Kertas pembersih

Sabun

Lampu senter

Pisau lipat

Pipet

5.5.1.1. Obat-Obatan
Persediaan obat-obatan yang penting pada umumnya adalah:

Obat pelawan rasa sakit (antalgin)

Obat pelawan mulas-mulas (papoverin, dll)

Obat pelawan pedih perut (promag, dll)

Norit

Obat anti alergi

Amoniak cair 25% (untuk membangunkan orang pingsan)

Mercurochroom

Obat tetes mata

Salep mata berantibiotika

Salep boor

Salep antihistaminika

Obat gosok / balsem

Rivanol 1/1000

Salep sulfa

Antiseptika (betadine, dettol, dll)

Tablet garam

Ephedrine (untuk sesak napas)

Oralit

85

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5.6.

Prosedur Pelayanan Medis Melalui Radio

Komunikasi adalah hal yang sangat penting di atas kapal, oleh karena itu sesuai
dengan persyaratan Konvensi STCW 1995 maka para pelaut harus memiliki
kemampuan memahami dengan baik mengenai instruksi-instruksi, aba-aba, maupun
istilah baku umum lainnya yang dilaksanakan di kapal terutama dalam keadaan
darurat. Komunikasi yang efektif dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab
yang berhubungan dengan penempatan masing-masing di atas kapal akan sangat
penting untuk menjamin aspek keselamatan dan penyelamatan korban pada saat
evakuasi, sehingga hal demikian dapat dilaksanakan dengan cepat dan tepat. Sistem
komunikasi umumnya terdiri dari pengirim berita, penerima, mode, media dan
konteks. Isi komunikasi mencakup perintah keselamatan, bahaya navigasi dan
permintaan bantuan pelayanan medis.
Hambatan-hambatan dalam komunikasi untuk bantuan pelayanan medis terjadi
karena:
1. Media komunikasi yang kurang sempurna.
2. Feedback yang kurang jelas
3. Gangguan pada pengiriman dan penerimaan
Komunikasi yang efektif dalam informasi bantuan pelayanan medis harus:
1. Jelas

4. Kongkrit

2. Lengkap

5. Benar

3. Padat

86

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 6
MENERAPKAN PROSEDUR PENYELAMATAN DIRI DI KAPAL
Penyelamatan jiwa manusia di laut merupakan suatu pengetahuan praktis pelaut yang
menyangkut bagaimana cara menyelamatkan diri maupun orang lain dalam keadaan
darurat di laut, akibat kecelakaan seperti terbakar, tubrukan, kandas, bocor dan
tenggelam. Bahaya tersebut dapat setiap saat menimpa para pelaut yang sedang
berlayar atau orang-orang yang sedang di atas kapal. Didalam proses penyelamatan
ini baik para penolong maupun yang ditolong harus memahami tentang :
1.

Cara menggunakan alat-alat penolong yang ada di kapal dan teknik


pelaksanaannya.

2.

Tindakan-tindakan yang harus dilakukan sebelum dan setelah terjun dari kapal
ke laut.

3.

Tindakan-tindakan selama terapung dan bertahan di laut.

4.

Tindakan-tindakan pada waktu naik sekoci/rakit penolong.

5.

Semua tindakan ini dimaksudkan agar setiap orang dalam keadaan bahaya atau
darurat dapat :

6.

Menolong dirinya sendiri maupun orang lain secara cepat dan tepat, baik pada
waktu terjun ke laut maupun waktu bertahan/terapung di laut.

7.

Menolong orang lain pada waktu naik ke sekoci atau rakit penolong sebelum
pertolongan datang.

Penyelamatan jiwa manusia menyangkut berbagai aspek, antara lain yang utama
adalah kewajiban dan tanggungjawab memberi pertolongan kepada orang-orang
yang berada dalam keadaan bahaya.
6.1. Prosedur Penyelamatan Diri
Dalam mempertahankan hidup selama berada di laut pada saat terjadi kecelakaan,
beberapa tindakan yang sangat penting untuk diketahui serta dipahami adalah
sebagai berikut:
1.

Sebagai modal utama adalah suatu kemauan dan kekuatan untuk hidup.

2.

Menghemat energi atau tenaga sewaktu mengapung di air.

3.

Menggunakan semua peralatan penolong/penyelamat yang ada di kapal dan


yang mungkin ditemukan selama berada/mengapung di laut.

4.

Menggunakan peralatan penolong/penyelamat sesuai petunjuk.

5.

Melakukan penghematan dalam penggunaan air minum yang ada dan tidak
minum air laut.

6.

Tidak makan yang berprotein karena akan menambah kebutuhan akan air.

Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam proses penyelamatan jiwa manusia di
laut, selain perlunya suatu peraturan terhadap peralatan penyelamat atau penolong

87

Teknika Kapal Penangkap Ikan

juga dibutuhkan kesiapan personil awak kapal dalam keadaan darurat. Untuk itu
diperlukan pelatihan seperti yang tertera pada peraturan internasional STCW 78
Amandemen 95 Peraturan VI-1. dalam STCW 78/95, selain diperlukan latihan darat
perlu latihan secara periodik dan sungguh-sungguh tentang teknik penyelamatan
manusia di laut.
Dalam keadaan darurat setelah mendengar isyarat meninggalkan kapal (abandon
ship) yang terdiri 7 atau lebih peluit pendek yang diikuti 1 peluit panjang
menggunakan suling kapal dan berbagai tambahannya, maka semua orang di atas
kapal harus menggunakan pakaian hangat atau baju cebur dan baju renang.
Kemudian menuju ke stasiun sekoci penolong masing-masing.
Anak buah kapal melaksanakan tugasnya masing-masing sesuai dengan sijil keadaan
darurat, awak kapal menyiapkan sekoci penolong dan perlengkapan radio sesuai
dengan prosedur yang berlaku. Salah satu kegiatan utama adalah menghidupkan
mesin sekoci dan memasang perlengkapan radio darurat .
6.1.1. Bahaya-Bahaya Penyelamatan Diri di Laut
Ada beberapa bahaya yang berpengaruh pada manusia apabila mengatasi situasi dan
kondisi darurat antara lain :
6.1.1.1. Kepanasan
1.

Pada dasarnya panas badan manusia adalah 97,86 0 F

2.

Perubahan tempratur + 2 0 F yang disebabkan oleh sengatan matahari dapat


mempengaruhi daya pikir manusia

3.

Penambahan tempratur 60 - 80 F dari suhu normal dalam waktu yang cukup


lama dapat mengakibatkan hal-hal fatal bagi tubuh manusia

4.

Lemah adalah gejala yang jelas dari kepanasan. Biasanya tubuh manusia dapat
menyesuaikan diri dari cuaca panas antara 2 - 7 hari.

5.

Cara menetralkan tubuh dari sengatan matahari adalah usahakan berteduh


dengan membuat perlindungan sehingga dapat mengurangi pengaruh panas sinar
matahari.

6.1.1.2. Kedinginan
Pada umumnya kedinginan menyebabkan kehilangan kepekaan syaraf, rasa ngantuk
dan kehilangan gairah kerja. Cara mengurangi rasa dingin dengan mengeringkan
pakaian yang basah kemudian baru kenakan kembali.
6.1.1.3. Mabuk Laut
Mabuk laut adalah kondisi seseorang merasa pening, dikarenakan ketidaknyamanan
atau terbiasa berada di laut.
Pencegahan mabuk laut :
1.

Pil anti mabuk

2.

Jangan takut akan tidur karena pil

88

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3.

Harus diberi sugesti.

6.1.1.4. Kehilangan Cairan Tubuh


Dehidrasi merupakan problema utama dalam mempertahankan tetap hidup. Pengaruh
dehidrasi pada tubuh adalah rasa ngantuk, kehilangan gairah kerja dan kontrol diri.
Dehidrasi dapat juga disebabkan oleh mabuk laut, terlebih lagi bila mabuk disertai
muntah.
6.1.1.5. Minum Air Laut
Jangan minum air laut karena dapat menyebabkan :
1. Tingkat I, badan lemah
2. Tingkat II, kesadaran berkurang
3. Tingkat III, gila/ mati

6.1.1.6. Ikan Hiu


Ikan hiu serta ikan buas lainnya biasanya terdapat di laut tropis. Pada umumnya ikan
hiu tidak akan mengganggu apabila tidak diganggu, tetapi ada kalanya mereka
menyerang manusia tanpa sebab yang pasti. Petunjuk-petunjuk untuk menghindari
ikan hiu dan ikan buas lainnya:
1.

Berpakaian, selalu waspada dan perhatikan sekeliling rakit.

2.

Jangan memasukkan anggota badan ke dalam air bila terdapat ikan buas.

3.

Jangan memancing jika terdapat ikan buas di sekitar rakit.

4.

Jangan bersuara.

6.1.2. Meninggalkan Kapal


Perintah Meninggalkan kapal atau Abandon Ship adalah suatu perintah Nakhoda
yang diambil bilamana keadaan darurat yang terjadi diatas kapal seperti: terbakar,
bocor yang diakibatkan oleh tubrukan, lain-lain tidak dapat diatasi dan akhirnya
mengancam keselamatan pelayar di atas kapal. Perintah meninggalkan kapal
merupakan keputusan terakhir yang diambil oleh seorang Nakhoda. Apabila ada
perintah / order meninggalkan kapal maka seluruh awak kapal harus menuju ke
stasiun pesawat luput maut untuk melaksanakan tugas sesuai sijil meninggalkan
kapal.
Bagi para penumpang ikutilah petunjuk petugas :
1.

Berbarislah dengan tertib untuk naik ke sekoci penolong maupun rakit penolong
kembung.

2.

Dahulukan anak-anak, perempuan dan orang tua.

Prosedur meninggalkan kapal bagi ABK adalah sebagai berikut:


1.

Seluruh ABK menggunakan jaket penolong (life jacket), selanjutnya berkumpul


di tempat yang ditentukan oleh perwira kapal.

89

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2.

ABK yang akan terjun ke laut berdiri tegak di sisi kapal. Yakinkan tinggi tempat
terjun tidak lebih dari 4,5 meter dari atas kapal dan perhatikan bahwa tidak ada
benda atau pusaran air di tempat terjun.

3.

Sebelum terjun, tutup hidung dan mulut dengan tangan kiri untuk mencegah
masuknya air laut.

4.

Pegang life jacket dengan tangan kanan keras-keras untuk menahannya agar
tidak terlepas.

5.

Ketika terjun ke laut arahkan pandangan mata lurus ke depan.

Gambar. 6.1. Meninggalkan Kapal


6.1.2.1. Persiapan
Tindakan pertama mendengarkan isyarat tanda bahaya adalah gunakan seluruh
pakaian sebagai pelindung, bila anda harus meninggalkan kapal pakailah seluruh
pakaian sebagai pelindung. Pakaian akan melindungi diri anda dari dinginnya air
laut, teriknya sinar matahari dan ikan-ikan buas di laut. Pakaian sebagai pelindung
memperpanjang waktu hidup anda, pakailah pakaian hangat sebanyak mungkin,
kenakan baju penolong (life jacket) anda, pergilah segera ketempat berkumpul yang
telah ditentukan.
6.1.2.2. Terjun Ke Laut
1.

Berdiri tegak di sisi kapal, lihat ke permukaan laut, kemungkinan ada pusaran
laut atau benda-benda yang menghalangi.

2.

Tutup hidung dan mulut dengan sebelah tangan untuk mencegah air masuk
ketika terjun

3.

Pegang bagian atas life jacket disatu sisi . Sebaiknya silangkan kedua sisi tangan
anda. Life jacket harus ditekan karena ketika terjun akan terdorong ke atas
karena tekanan air.

4.

Sekali lagi perhatikan / lihat permukaan laut.

5.

Loncat dengan kaki tertutup rapat dan lurus, pandangan ke depan

90

Teknika Kapal Penangkap Ikan

6.

Jangan loncat langsung ke life boat atau life raft, dan ingat jangan terjun lebih
dari ketinggian 4,5 m

6.1.2.3. Cara Bertahan Dengan Menggunakan Baju Renang.


1.

Bila telah meloncat dari kapal usahakan terapung dengan posisi terlentang.

2.

Diam terapung-apung sebelum pertolongan tiba

3.

Bila dekat dengan kapal penolong atau pesawat luput maut, berenanglah dengan
posisi terlentang dan gunakan kedua tangan sebagai pengayuh.

4.

Ingat, harus berhemat tenaga agar dapat bertahan hidup sampai pertolongan tiba.

5.

Ingat, energi dalam tubuh diperlukan untuk menjaga panas tubuh. Kematian
dapat terjadi karena hilangnya
panas tubuh secara tidak disadari.
Mengupayakan agar tetap berkelompok.

Gambar. 6.2. Bertahan Di Laut


6.1.2.4. Kendala-Kendala Saat Meninggalkan Kapal
1. Sekoci penolong tidak dapat diturunkan.
Prinsip-prinsip umum berkenaan dengan ketentuan-ketentuan dari sekoci
penolong adalah: peralatan tersebut harus siap untuk digunakan dalam keadaan
darurat.
Agar siap digunakan maka sekoci-sekoci penolong harus memenuhi kondisikondisi sebagai berikut : dapat diturunkan ke air secara cepat dan aman,bahkan
dalam kondisi trim yang tidak menguntungkan dan kemiringan tidak lebih dari
20 ke salah satu sisi.
2. Kurang / tidak ada penerangan
Jika terdapat kemungkinan bahwa penerangan pada stasiun berkumpul mati,
maka harus ada penerangan yang memadai dengan lampu yang dipasok dari
sumber tenaga listrik darurat untuk jangka waktu 3 jam.
3. Tidak lengkapnya personil untuk melaksanakan tugas sesuai sijil.

91

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Untuk menghindari akibat tidak lengkapnya personil untuk melaksanakan tugas


sesuai sijil maka diharapkan semua personil disamping mempunyai tugas dan
tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan sesuai dengan sijil, maka harus
juga mampu melaksanakan tugas-tugas lain diluar ketentuan sijil.
Setiap anggota awak kapal harus berpartisipasi dalam latihan meninggalkan
kapal, dan latihan kebakaran paling sedikit satu kali latihan setiap bulan. Kalau
lebih dari 25 % dari jumlah awak kapal belum berpartisipasi dalam latihan
meninggalkan kapal dan latihan kebakaran yang berlangsung dalam bulan yang
lalu, maka latihan dilakukan lagi dalam waktu 24 jam setelah kapal
meninggalkan pelabuhan.
6.1.3. Menghidupkan Mesin Sekoci
Tahapan menghidupkan mesin sekoci adalah sebagai berikut :
6.1.3.1. Persiapan Sebelum Dihidupkan (Start)
1. Siapkan mesin pada kondisi siap dioperasikan dengan jalan pengecekan serta

pemeliharaan rutin
2. Periksa permukaan minyak pelumas secara berkala (karter dan kopling).
3. Periksa permukaan bahan bakar dalam tangki secara berkala.
4. Bahan bakar tidak dapat disemprotkan melalui injector apabila ada udara dalam

sistem, hal ini disebabkan karena kehabisan bahan bakar dan penggantian
instalasi pada sistem bahan bakar, apabila hal ini terjadi diperlukan priming
untuk mengeluarkan udara tersebut.
6.1.3.2. Mengeluarkan Udara Dalam Sistem Bahan Bakar
1. Putarlah handle start untuk mengeluarkan udara dalam sistem bahan bakar
2. Longgarkan baut udara pada saringan dan biarkan sampai bahan bakar yang

keluar tidak bercampur dengan udara, setelah itu tutup kembali.


3. Lepaskan pipa bahan bakar yang menghubungkan pompa dan injector, atur

kontrol putaran pada posisi maksimum.


4. Longgarkan delivery valve di atas pompa bahan bakar + 2 putaran, apabila bahan

bakar keluar tanpa udara, tutup krmbali delivery valve tersebut selanjutnya
pasang pipa bahan bakar pada pompa tersebut.
5. Putarlah mesin dengan menggunakan engkol + 30 kali, sehingga bahan bakar

dapat bersirkulasi dan akan keluar melalui pipa bahan bakar ke injector. Apabila
bahan bakar yang keluar dipastikan sudah tidak bercampur dengan udara, maka
kencangkan mur pipa bahan bakar yang berhubungan dengan injector.
6. Putarlah terus mesin dengan engkol sampai terdengar bunyi tekanan bahan bakar

pada injector. Apabila terdengar bunyi tersebut berarti udara tidak terdapat lagi
dalam sistem bahan bakar. Apabila tidak/belum terdengar bunyi tersebut berarti
harus mengulangi priming lagi.

92

Teknika Kapal Penangkap Ikan

6.1.3.3. Prosedur Start


1. Buka kran bahan bakar.
2. Buka kran utama.
3. Aturlah kedudukan governor pada posisi maksimum dan handle kopling pada

posisi netral.
4. Angkat tuas dekompresi dan engkol mesin diputar 5 6 putaran, sehingga roda

gila memberikan momen tertentu.


5. Lepaskan tuas dekompresi sehingga mesin hidup. Apabila mesin belum hidup,

coba 2 3 kali.
6. Apabila mesin hidup normal, tetapkan pada posisi putaran rendah dan masukkan

handle maju atau mundur dengan menambah putaran secara perlahan-lahan.


6.1.3.4. Pengoparasian Mesin Sekoci
1. Periksa bahan bakar dalam tangki, tambah bila kurang.
2. Buka kran bahan bakar,
3. Periksa minyak pelumas pada karter dan kopling.
4. Putar handle pada saringan bahan bakar pada saluran keluar beberapa kali ke kiri

maupun ke kanan.
5. Buka kran utama.
6. Putar handle start dengan tangan untuk melumasi bagian-bagian yang bergerak.
7. Atur kedudukan governor pada posisi maksimum.
8. Putar handle start sampai terdengar bunyi tekanan bahan bakar pada injector.

6.1.3.5. Mematikan Mesin


1. Atur handle gorvernor pada posisi stop.
2. Tutup kran bahan bakar.
3. Tutup kran utama bahan bakar.
4. Mesin stop pada posisi kompresi yang diatur pada putaran engkol start. Jangan

mengangkat tuas dekompresi.


6.1.4. Tugas - Tugas Dalam Penyelamatan
Bila sudah berada di atas pesawat luput maut, pilih seorang pemimpin diantara yang
masih hidup. Pemimpin terpilih akan mengumumkan bahwa ia akan memimpin
rekan-rekannya dan semua harus patuh akan perintah-perintahnya. Untuk menjaga
moral dan menjaga kekuatan mental dapat melakukan berdoa bersama, bercakapcakap/bernyanyi bersama sambil menunggu pertolongan.
Tugas-tugas yang harus dilakukan selama di atas pesawat luput maut :
1. Bukalah perbekalan dan bacalah buku petunjuknya, periksa selalu perlengkapan.

93

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Berikanlah pertolongan kepada orang-orang yang akan naik ke sekoci maupun

rakit penolong kembung.


3. Putuskan tali rakit penolong kembung dengan pisau yang sudah tersedia,

lepaskan pengait tali rakit penolong kembung agar rakit penolong kembung tidak
terseret oleh kapal.
4. Dayunglah rakit penolong kembung/sekoci penolong untuk menjauh dari kapal,

untuk meghindari penghisapan kapal yang tenggelam.


5. Lepaskan jangkar apung (sea achor) agar tidak hanyut terlalu jauh dari tempat

kejadian.
6. Usahakan agar rakit penolong kembung/sekoci penolong dihimpun dengan

mengikat satu sama lain dengan tali + 8 m yang sudah tersedia, untuk
menghindari kesepian dan memudahkan pemberian pertolongan.
7. Obat anti mabuk dibagi 1 tablet per orang. Dalam 1 hari tidak boleh makan lebih

dari 1 tablet.
8. Tolonglah yang luka dengan P3K yang tersedia di kantong perbekalan.
9. Jagalah kondisi dari rasa kedinginan dan kepanasan.
10. Dalam keadaan dingin :
11. Kembungkan lantai rakit penolong kembung dengan menggunakan pompa

tangan dan tutuplah lubang-lubang peranginan pada kanopi berilah peranginan


secukupnya.
12. Dalam keadaan panas :
13. Kempeskan lantai rakit penolong kembung dan buka ventilasi-ventilasinya.
14. Keringkanlah lantai sekoci penolong/rakit penolong kembung dan pakaian yang

basah diperas dan segera dipakai kembali.


15. Janganlah memakan perbekalan sebelum lewat 24 jam.
16. Berusahalah untuk beristirahat/ tidur dengan maksud mengurangi kebutuhan

tubuh akan kalori.


17. Pelajarilah cara menggunakan isyarat kasat mata yang tersedia. Alat ini jangan

digunakan kecuali bila telah melihat kapal/pesawat terbang.


18. Adakan tugas jaga secara bergilir untuk melihat apakah ada kapal/pesawat

terbang mendekat.
Perlengkapan pesawat luput maut harus ditempatkan di kontainer pada masingmmasing pesawat luput maut. Setiap penggunaan perlengkapan tersebut harus
diketahui oleh komandan yang telah ditunjuk.
6.1.5. Penggunaan Makanan Dan Minuman Darurat
Hari pertama diberikan pembagian air kecuali yang luka karena tubuh manusia
merupakan tempat persediaan air dan orang dapat hidup bertahan dari air yang
tersedia di dalam tubuhnya. Hari ke 2, ke 3 dan seterusnya pembagian air dapat

94

Teknika Kapal Penangkap Ikan

diberikan sesuai dengan ketentuannya. Sedangkan air hujan sebaiknya ditampung,


kemudian dibagikan merata.
6.1.6. Mempertahankan Air dalam Tubuh
Mempertahankan air di dalam tubuh sama pentingnya dengan memperoleh air untuk
diminum. Beberapa petunjuk yang harus diketahui untuk maksud tersebut adalah :
1.

Lindungi permukaan kulit, untuk menghindari keringat.

2.

Jangan banyak bergerak.

3.

Jangan minum air laut.

4.

Jangan minum air seni.

5.

Jangan minum alkohol atau merokok.

6.

Kulum kancing baju agar mulut selalu basah.

7.

Jangan makan kecuali tersedia air untuk mencernakannya.

6.1.7. Pembagian Makanan


1.

Banyaknya pembagian makanan harus disesuaikan dengan pembagian air


minum.

2.

Jangan makan makanan yang mengandung hidrat arang karena akan


membutuhkan banyak air untuk keseimbangannya.

6.1.8. Pembagian Air Minum


1.

Dibagikan setelah 24 jam.

2.

Usahakan menampung air hujan.

3.

1 orang mendapatkan jatah air 500 ml/hari.

4.

Standar waktu kadaluwarsa air minum harus tahan selama 4 tahun.

5.

Pertimbangan penjatahan air minum, jumlah air minum yang tersedia, jumlah
penumpang, jumlah air tambahan dan perkiraan lamanya hanyut.

6.

Jumlah air yang tersedia pada sekoci

7.

Sekoci penolong 1 - 3 lt/orang.

8.

Rakit penolong kembung 1 - 1,5 lt/orang.

6.1.9. Pemakaian Air Minum


1.

Selama 24 jam jatah air minum 3 kali.

2.

1/3 sebelum matahari terbit.

3.

1/3 siang hari.

4.

1/3 setelah matahari tenggelam.

95

Teknika Kapal Penangkap Ikan

6.2. PERALATAN KESELAMATAN DI KAPAL


Alat-alat keselamatan yang wajib dimiliki dan disediakan di atas kapal sesuai Safety
Of Life At Sea (SOLAS) 74 adalah terdiri dari :
6.2.1. Pelampung Penolong (life buoy)
Pelampung penolong terbuat dari bahan apung berwarna orange dengan berat tidak
lebih 2,5 kg. Pelampung harus dapat dilemparkan dari ketinggian 30 meter dari atas
kapal, dan dapat digunakan untuk mengapungkan orang di laut.
6.2.2. Rompi Penolong (life jacket)
Rompi penolong terbuat dari bahan tahan air dengan warna orange dan berguna
untuk mengapungkan orang yang menggunakannya di atas air.
6.2.3. Pakaian Cebur (immersion suit)
Pakaian cebur terbuat dari bahan tahan air dan berfungsi sebagai pelindung suhu
tubuh yang hilang akibat dinginnya air laut.
6.2.4. Sarana Pelindung Panas (thermal protective aid)
Sarana pelindung panas berfungsi sebagai pelindung tubuh dan untuk mengurangi
hilangnya panas tubuh.
6.2.5. Pesawat Luput Maut (life raft)
Pesawat luput maut adalah suatu alat penyelamat yang dapat digunakan untuk
mengevakuasi ABK (crew) pada saat meninggalkan kapal yang dalam keadaan
darurat. Isi life raft terdiri dari:
1.

Minuman mineral

2.

Makanan

3.

Alat pancing

4.

Cermin

5.

Lampu senter

6.

Dayung dan alat-alat isyarat bahaya.

96

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar. 6.3. Life raft


Di dalam life raft atau rakit penolong harus diupayakan tersedia alat komunikasi
darurat untuk minta bantuan ke kapal lain atau ke tim rescue. Alat-alat komunikasi
darurat yang digunakan antara lain adalah sebagai berikut:
1.

Radio darurat (emergency radio)


Radio darurat adalah suatu pesawat yang berfungsi untuk komunikasi antara
kapal dalam keadaan darurat. Untuk meminta bantuan search and rescue dapat
melalui frekuensi 2182 kHz atau radio VHF pada channel 16.

2.

Radio Petunjuk Posisi Darurat atau Estimating Position Indicator Radio Beacon
(EPIRB)
Radio petunjuk posisi darurat (EPIRB) merupakan pesawat yang berfungsi
untuk memancarkan signal marabahaya secara teruas menerus dalam jangka
waktu 10 menit. Diharapkan kapal lain dapat menerima signal darurat yang
dipancarkan sehingga akan membantu atau menginformasi-kan ke tim SAR.

6.2.6. Peran Meninnggalkan Kapal Dengan Sekoci Penolong


Apabila kapal dalam keadaan darurat, maka peran meninggalkan kapal dibagi
menjadi 2 kelompok, seperti tabel di bawah ini.
Tabel 4. Peran Meninggalkan Kapal Bagian Dek
Bagian Dek
Pelaksana

Sekoci No.1

Nakhoda

Pemimpin umum

Mualim 2

Bertugas memimpin sekoci

KKM

Pembantu
penting

1. Masinis

Membuka tutup sekoci dan menyiapkan mesin

umum,

97

membawa

surat-surat

Teknika Kapal Penangkap Ikan

sekoci
2. Markonis
2. Serang

Membuka tutup sekoci dan menyiapkan winch


sekoci

3. Kelasi A
Juru mudi A
Juru mudi C
Oiler A

Membuka tutup sekoci dan menyiapkan winch


sekoci
Membuka tutup sekoci dan melepas pengait
sekoci, menyiapkan painter depan
Membuka tutup sekoci dan melepas pengait
sekoci, menyiapkan painter belakang
Membuka tutup sekoci

Oiler C

Membuka tutup sekoci

Steward

Membawa surat-surat dan perbekalan

Pelayan A

Tabel 5.

Menyiapkan perlengkapan radio dan membawa


surat-surat penting

Membawa selimut-selimut dan kotak P3K

Peran Meninggalkan Kapal Bagian Mesin


Bagian Mesin

Pelaksana

Sekoci No.2

Mualim 1

Memimpin sekoci

Mualim 2

Membawa
surat-surat
perlengkapan navigasi

Mualim 4

Membantu pemimpin sekoci dan membuka


tutup sekoci

Masinis 1

Membuka tutup sekoci dan menyiapkan sekoci

penting

dan

Masinis 3
Membuka tutup sekoci dan menyiapkan winch
sekoci
5. Mandor

Elektrik

Membuka tutup sekoci dan melepas pengait


sekoci
Membuka tutup sekoci dan menyiapkan pinter
depan

Juru mudi B
Membuka tutup sekoci dan menyiapkan pinter

98

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Oiler 1

belakang

Oiler B

Membantu masinis 1

Koki

Membuka tutup sekoci

Pelayan B

Membawa selimut dan makanan tambahan


Membawa selimut dan makanan tambahan

6.3. KOMUNIKASI
Komunikasi adalah hal yang sangat penting di atas kapal apalagi dalam keadaan
darurat dan untuk permintaan bantuan (SAR), oleh karena itu sesuai dengan
persyaratan Konvensi STCW 1995 maka para pelaut harus memiliki kemampuan
memahami dengan baik mengenai instruksi-instruksi, aba-aba, maupun istilah baku
umum lainnya yang dilaksanakan di kapal terutama dalam keadaan darurat.
Komunikasi yang efektif dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang
berhubungan dengan penempatan masing-masing di atas kapal akan sangat penting
untuk menjamin aspek keselamatan seperti pemadaman kebakaran dan penyelamatan
diri pada saat evakuasi, sehingga hal demikian dapat dilaksanakan dengan cepat dan
tepat. Sistem komunikasi umumnya terdiri dari pengirim berita, penerima, mode,
media dan konteks. Isi komunikasi mencakup perintah keselamatan, bahaya navigasi
dan permintaan bantuan.
Hambatan-hambatan dalam komunikasi :
1. Media komunikasi yang kurang sempurna.
2. Feedback yang kurang jelas
3. Gangguan pada pengiriman dan penerimaan

Komunikasi yang efektif :


1. Jelas
2. Lengkap
3. Padat
4. Kongkrit
5. Benar

Peralatan komunikasi di kapal ;


1. GMDSS
2. SSB Radio telephone
3. Marine VHF Transceiver
4. MF/HF Transceiver
5. Radio telegrap
6. Fax data, cuaca, dll

99

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 7
MENERAPKAN HUBUNGAN KEMANUSIAAN DAN
TANGGUNGJAWAB SOSIAL DI ATAS KAPAL
7.1. ASPEK UMUM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
Hubungan antar manusia telah ada sejak jaman primitip, dimulai dengan membentuk
kelompok dengan alasan untuk melindungi diri dari serangan binatang atau mahluk
lainnya, tetapi kemudian karena suatu keinginan untuk alasan sosial, seperti
pengumpulan makanan, berkawan dan lain-lain.
Bentuk kelompok tersebut maju dan berkembang ke arah suatu susunan masyarakat
yang lebih baik dimana anggota-anggotanya hidup lebih akrab karena sikap budaya
yang umum, kepercayaan sosial, keagamaan, aspek politik dan keinginan untuk
hidup serta bekerja dalam suatu kerangka Peraturan Hukum (Rute of Law).
7.1.1. Perkembangan Perilaku Kelompok
Sistim sosial yang telah berkembang di dalam perjalanan sejarah mungkin banyak
perbedaan tergantung pada budaya dan lingkungan, tetapi saat ini pada umumnya
dirasakan pentingnya suatu organisasi yang didasarkan philosopi Self Governing
(kekuasaan diri) secara adil yang menghormati harga diri dan mengakui bahwa
hubungan antar manusia adalah faktor penting.
Faktor yang harus dipertimbangkan apabila manusia membentuk kelompok untuk
hidup bekerja bersama. Kelompok-kelompok manu-sia lambat laun berkembang
membentuk suatu bangsa yang memiliki pola tingkah laku yang unik pada individu
masing-masing menggambarkan suatu campuran kepercayaan faktor kehidupan dan
pengetahuan yang terbentuk dalam waktu yang berabad-abad.
Dengan kebudayaan mereka masing-masing orang umumnya hidup secara harmonis
dan seimbang, perubahan perubahan apabila terjadi pada umumnya memerlukan
periode waktu yang panjang dan perubahan-perubahan secara bertahap tersebut tidak
akan menimbulkan banyak kesulitan bagi manusia yang bersangkutan. Walaupun
begitu apabila perubahan budaya terjadi secara tiba-tiba dan mendadak hal itu akan
mengakibatkan suatu trauma yang disebut Culture Shock yang mengakibatkan
ketidak harmonisan dan ketidak bahagiaan pada manusia yang bersangkutan.
Kelompok manusia yang terbentuk dari latar budaya yang berbeda yang kemudian
diharapkan untuk hidup dan bekerja di dalam hubungan yang erat dapat juga
menimbulkan trauma yang sama kecuali jika persiapan- persiapan yang efektif telah
dilaksanakan oleh manusia yang terlibat untuk menghadapi gaya kehidupan baru
yang multi kultur.
7.1.2. Perubahan Perilaku Organisasi
Revolusi industri yang dimulai dan berkembang pada pertengahan abad 18 di Inggris
menyebabkan perubahan -perubahan yang besar pada kehidupan masyarakat. Orang
yang telah hidup berabad-abad pada suatu lingkungan pertanian yang luas, terpusat
pada perumahan di desa desa dan perkampungan mulai berpindah ke daerah

100

Teknika Kapal Penangkap Ikan

dimana industri berkembang untuk memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang


lebih besar. Daerah dan kota mulai terbentuk dan mendapatkan kemajuan dalam ilmu
pengetahuan dan engineering mengikuti industri menuju ke arah laju yang
meningkat.
Perubahan-perubahan sosial sangat pesat dan membawa pendidikan dan kesehatan
serta trasportasi massa. Undang-undang yang berhubungan dengan buruh dibuat
untuk perlindungan pekerja & serikat buruh dikembangkan untuk negosiasi atas
nama pekerja dengan majikan. Pengaruh serikat buruh pada umumnya meningkatkan
kondisi kerja yang lebih baik dan hal ini mengakibatkan harga diri manusia menjadi
suatu prtimbangan yang utama dalam negosiasi apa saja.
Setiap manusia adalah merupakan individu yang unik dan pada umumnya tidak ada
dua orang manusia yang benar-benar sama secara fisik maupun mental (kecuali
kelahiran kembar). Manusia secara kodrat sering dianggap mempunyai sifat-sifat
bawaan yang tergantung dari perkembangan biologi dan keturunan tetapi secara luas
juga dipengaruhi oleh lingkungan dan latar belakang budaya dimana manusia
dilahirkan dan tumbuh menjadi dewasa, yang akhirnya ditempa oleh pengetahuan
dan pengalaman.
Manusia pada hakekatnya mengungkapkan dirinya sebagai suatu a state of mind
feelings yang biasanya diekspresikan melalui tindakan, kata kata, tulisan, gambar,
musik dsb, dimana selalu mengidentifikasi melalui suatu sifat tertentu, melalui
emosi, kebiasaan, cara belajar, daya ingat, perasa daya intelegensi dll. Manusia pada
hakekatnya akan cenderung memerintah sesuatu dimana orang lain bereaksi satu
dengan lainnya. Reaksi tersebut karena latar belakang budaya yang berbeda-beda.
Untuk berfungsi secara terpadu dan efektif suatu kelompok harus bekerja dengan
bentuk kerangka kerja yang tepat baik petunjuk maupun pengawasan yang diakui dan
disetujui oleh seluruh anggota kelompok. Cara orang bereaksi dan bertingkah laku
terhadap situasi apabila dibawah tekanan batasan-batasan (peraturan dan hukum)
tidak mudah untuk diprediksi atau dimengerti khususnya apabila dampak teknologi
dan laju perkembangannya ditekankan pada faktor kebudayaan termasuk pengertian,
kepercayaan, sosial, keagamaan dan politik. Namun pada umumnya manusia
membentuk suatu kelompok sosial karena antara lain :
7.1.2.1. Motif Yang Sama
Kelompok sosial terbentuk karena anggota-anggotanya mempunyai motif yang sama.
Motif yang sama ini merupakan pengikat sehingga setiap anggota kelompok tidak
bekerja sendiri-sendiri melainkan berkerja bersama untuk mencapai suatu tujuan
tertentu. Sesudah kelompok sosial terbentuk, biasanya muncul motif baru yang
memperkokoh kehidupan kelompok sehingga timbul sense of belonging (rasa
menyatu dalam kelompok) pada tiap-tiap anggota. Rasa ini besar pengaruhnya bagi
individu dan kelompok itu. Karena memberikan tenaga moral yang tidak akan
diperoleh jika ia sebagai individu hidup sendiri. Juga dapat memenuhi kebutuhannya
sebagai mahluk sosial dan mahluk individu.
7.1.2.2. Sifat In-Group Dan Out-Group
Jika ada kelompok manusia yang mempunyai tugas yang sulit atau yang mengalami
kepahitan hidup bersama, mereka akan menunjukkan tingkah laku yang khusus. Bila
orang lain diluar kelompok itu bertingkah laku seperti mereka, mereka akan

101

Teknika Kapal Penangkap Ikan

menyingkirkan diri. Sikap menolak yang ditujukan oleh kelompok itu disebut sikap
out-group atau sikap terhadap orang luar. Kelompok manusia itu menuntut orang
luar untuk membuktikan kesediaannya untuk berkorban bersama dan
kesetiakawanannya, baru kemudian menerima orang itu dalam segala kegiatan
kelompok. Sikap menerima ini disebut sikap In-group atau sikap terhadap orang
dalam.
7.1.2.3. Solidaritas
Solidaritas adalah kesetiakawanan antar anggota kelompok sosial. Terdapatnya
solidaritas yang tinggi dalam kelompok tergantung pada kepercayaann setiap anggota
akan kemampuan anggota lain untuk melaksanakan tugas dengan baik. Pembagian
tugas dalam kelompok sesuai dengan kecakapan masing- masing anggota dan
keadaan tertentu akan memberikan hasil kerja yang baik. Dengan demikian akan
makin tinggi pula solidaritas kelompok dan makin kuat pula sense of belonging.
7.1.2.4. Struktur Kelompok
Struktur kelompok ialah suatu sistim mengenai relasi antara anggota-anggota
kelompok berdasarkan peranan dan status mereka serta sumbangan masing-masing
dalam interaksi kelompok untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Di dalam struktur kelompok kita jumpai :
1. Susunan kedudukan fungsional, susunan berdasarkan tugas anggota-anggota
kelompok dalam kerjasama untuk mencapai tujuan.
2. Susunan hirarki antar anggota kelompok dengan harapan tugas dan kewajiban
yang diserahkan kepada anggota-anggota itu dapat diselesaikan dengan wajar.
Susunan kedudukan fungsional dan susunan hirarkis di atas itulah yang dimaksud
penegasan struktur kelompok.
Sebagai contoh, dalam kelompok ada pengurus dan anggota biasa. Pengurus
mengharapkan anggota membantu menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya,
bilamana perlu anggota biasa mengharapkan pengurus dapat mengambil
kebijaksanaan guna mendorong kelompok mencapai tujuan yang diharapkan.
7.1.2.5. Norma-Norma Kelompok
Yang dimaksud dengan norma-norma kelompok di sini adalah pedoman- pedoman
yang mengatur tingkah laju individu di dalam suatu kelompok. Pedoman ini sesuai
dengan rumusan tingkah laku yang patut dilakukan anggota kelompok apabila terjadi
sesuatu yang bersangkut paut dengan kehidupan kelompok tersebut. Jadi norma di
sini mengandung arti ideal, bukan real. Pada kelompok resmi, norma tingkah laku ini
biasanya sudah tercantum dalam anggaran dasar (anggaran rumah tangga / peraturan
perusahaan); bahkan norma tingkah laku anggota masyarakat suatu negara telah
ditulis dalam undang- undang, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana atau
kitab hukum lainnya. Norma-norma tingkah laku juga terdapat pada tiap-tiap
kelompok meski norma-norma itu tak tertulis di dalam peraturan.

102

Teknika Kapal Penangkap Ikan

7.2. MASALAH-MASALAH SOSIAL


Manusia sebagai mahluk sosial selalu dihadapkan pada berbagai masalah sosial, yang
sesungguhnya masalah- masalah itu merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan manusia itu sendiri kerena masalah- masalah sosial itu telah terwujud
sebagai hasil akibat dari hubungan- hubungan sesama manusia lainnya dan juga
sebagai akibat dari tingkah lakunya. Kalau melihat kata sosial yang berasal dari
kata sosius yang berarti kawan, pada hakekatnya manusia didalam hidupnya
membutuhkan bantuan dan pertolongan.
Manusia diciptakan Tuhan sebagai mahluk yang lunak sehingga tidak dapat hidup
menyendiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi keistimewaan manusia
adalah dia diberi akal dan dengan akal itulah merupakan alat senjata manusia yang
terpenting dalam hidupnya di alam ini. Dengan adanya akal ini manusia menjadi
mahluk yang bersosial dan berderajat tinggi, ia dapat mengatasi kelemahankelemahannya dengan jalan hidup bersama (kelompok) demi terwujudnya kehidupan
sosial atau kehidupan bermasyarakat. Masalah masalah sosial yang dihadapi oleh
setiap masyarakat manusia tidaklah sama antara satu dengan yang lainnya. Masalahmasalah sosial tersebut dapat terwujud sebagai masalah sosial, masalah moral,
masalah politik, masalah ekonomi, masalah agama atau masalah masalah lainnya.
Yang membedakan masalah-masalah sosial dari masalah- masalah lainnya adalah
bahwa masalah sosial selalu ada kaitannya yang dekat dengan nilai-nilai moral dan
pranata-pranata sosial, serta selalu ada kaitan dengan hubungan- hubungan manusia
itu terwujud. Perbedaan-perbedaan yang ada berkenaan dengan masalah-masalah
sosial yang dihadapi oleh masing- masing masyarakat tersebut secara garis besarnya
disebabkan oleh :
1. Perbedaan tingkat perkembangan kebudayaan dan masyarakatnya
2. Sifat kependudukannya
3. Keadaan lingkungan alam.
Kalau kita telaah pengertian masalah -masalah sosial adalah adanya kondisi atau
suatu keadaan tertentu dalam kehidupan sosial warga masyarakat yang bersangkutan.
Kondisi atau keadaan sosial tertentu sebenarnya merupakan hasil dari proses
kehidupan manusia yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhannya, yaitu
:
1. Kebutuhan jasmaniah (manusia harus makan, minum, buang air, bernapas,
mengadakan hubungan kelamin, dan sebagainya).
2. Kebutuhan sosial (berhubungan dengan orang lain, membutuhkan bantuan orang
lain untuk memecahkan berbagai masalah, dan sebagainya), dan kebutuhan
kejiwaan (untuk dapat merasakan aman dan tentram, membutuhkan cinta kasih
dan sayang, dan sebagainya).
Dalam usaha-usaha untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut, manusia
menggunakan kebudayaannya sebagai model- model petunjuk atau sebagai resepresepnya didalam menggunakan lingkungan alam dan sosialnya yang diwujudkan
dalam kehidupan sosial di masyarakat. Perwujudannya ini adalah dalam bentuk
kondisi atau keadaan dimana manusia itu hidup dalam masyarakatnya. Kondisi-

103

Teknika Kapal Penangkap Ikan

kondisi ini bukanlah sesuatu yang tetap, tetapi selalu dalam proses berubah, antara
lain disebabkan :
1. Hasil kemajuan teknologi
2. Perubahan organisasi
3. Jumlah tenaga kerja meningkat sedang pekerjaan yang tersedia terbatas.
7.3. KONFLIK
Konflik adalah salah pengertian, pertentangan keinginan yang menimbulkan
ketegangan, ketidak cocokan atau perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa
konflik mencakup perbedaan antara nilai sosial dan pribadi, ketidak mampuan
bertindak sesuai dengan prinsip dan nilai pribadi, kurangnya komunikasi, problema
yang dibesar-besarkan atau perbedaan tingkah laku karena perbedaan latar belakang
kultur, agama, pendidikan atau faktor-faktor lain, namun konflik adalah bagian dari
hidup kita.
Pada kapal-kapal modern dengan awak kapalnya yang multi nasional menghadirkan
suatu situasi dimana kesulitan dan masalah akan menambah pertentangan, sedangkan
kapal harus beroperasi dengan sekelompok manusia yang berlatar belakang budaya
yang berbeda dengan tingkat kemungkinan yang tinggi akan masalah komunikasi
(bahasa). Harus diingat bahwa semua manusia yang dipekerjakan tidak satupun
mempunyai sifat sama yang diinginkan, pasti ada bedanya. Apabila berurusan
dengan personel, seluruh orang harus dipertimbangkan dan usaha untuk
mengembangkan manusia yang lebih baik dilaksanakan melalui pertumbuhan
(growth) dan pemenuhan (fulfil ment) motivasi harus dirangsang dengan
menunjukkan bagaimana dengan mengikuti kursus yang khusus dengan beberapa
peragaan, rasa pemenuhan dapat ditingkatkan.
Faktor-faktor yang menyebabkan konflik antara lain :
1. Aspek Organisasi

Kurangnya tenaga kerja, Perubahan-perubahan organisasi perasaan kurang aman


dari segi keamanan dan keselamatan kerja, tidak adanya standar pekerjaan,
pembinaan karir yang kurang lancar, diskriminasi dipekerjaan, tujuan perusahaan
yang kurang jelas, problema mengenai peralatan dan instrumen antar bagian.
2. Aspek Manajerial
Delegasi wewenang yang tidak cukup, loyalitas yang tidak utuh, manajemen
yang kurang pakar, sentralisasi power yang terus menerus.
3. Aspek Behauvior
Biasanya behauvior mencermin-kan dua kategori di atas. Secara khusus
disebabkan
pula tentang kurangnya komunikasi, tentang bagaimana informasi
yang tidak disampaikan, tidak disebarkan atau justru ditutupi dan tentang
kurangnya kepercayaan di dalam organisasi.
4. Lain-lain :

104

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Konflik disebabkan karena organisasi yang kompleks, adanya pertentangan


antara task melawan process, dan perbedaan- perbedaan di dalam nilai, belief
atau objektif.
Penyelesaian konflik
Ada 3 metode penyelesaian konflik yang sering digunakan yaitu :
1. Dominasi dan penekanan
Ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
a.

Kekerasan, yang bersifat penekanan otokratif

b.

Penenangan, merupakan cara yang lebih diplomatis

c.

Penghindaran, menghindar untuk mengambil posisi yang tegas

d.

Aturan mayoritas, mencoba untuk menyelesaikan konflik antara kelompok


dengan melakukan pemungutan suara melalui prosedur yang adil.

2. Kompromi
Melalui kompromi mencoba menyelesaikan konflik dengan pencarian jalan
tengah yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
3. Pemecahan masalah integratif
Konflik antar kelompok diubah menjadi situasi pemecahan masalah bersama
yang dapat diselesaikan melalui teknik-teknik pemecahan masalah.
7.4. KEDUDUKAN
Kedudukan dapat diartikan tingkat seseorang dalam suatu kelompok dan melahirkan
pengakuan, penghargaan dan penerimaan yang diberikan kepada seseorang oleh
anggota kelompok lainnya. Kehilangan kedudukan sama dengan kehilangan muka
dan bagi banyak orang yang ini merupakan hal yang serius. Untuk mempertahankan
kedudukan banyak orang mengembangkan indra yang tinggi akan tanggung jawab.
Kedudukan yang lebih tinggi mencakup :
1.

Kekuasaan dan pengaruh

2.

Banyak istimewa

3.

Partisipasi yang lebih luas dalam kegiatan kelompok

4.

Interaksi yang lebih besar dengan orang-orang lainnya dalam kelompok

5.

Kesempatan memperoleh peran dan tanggung jawab yang lebih penting

Kedudukan yang lebih rendah selalu berarti bahwa orang merasa terisolasi dari
kegiatan-kegiatan utama dan ada kecenderungan yang menunjukkan gejala stress
tertekan.

105

Teknika Kapal Penangkap Ikan

7.5. HUBUNGAN SOSIAL DI KAPAL


7.5.1. Manajemen Perkapalan
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penyerahan dan
pengawasan usaha- usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya
organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Manajemen dapat di definisikan sebagai bekerja dengan orang-orang untuk
menentukan, mengiterprestasi dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan
pelaksanaan fungsi -fungsi perencanaan, pengorgani-sasian, penyusunan personalia
atau kepegawaian, penyerahan dan kepemimpinan dan pengawasan. Manajemen
dibutuhkan untuk semua organisasi baik manajemen di darat maupun di kapal karena
tanpa manajemen, semua usaha akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit.
Ada 3 alasan utama diperlukannya manajemen :
1.

Untuk Mencapai Tujuan

2.

Untuk Menjaga
Bertentangan

3.

Untuk Mencapai Efisiensi Dan Efektifitas

Keseimbangan

Diantara

Tujuan-Tujuan

Yang

Saling

Manajemen perkapalan berbeda dengan manajemen industri di darat dalam beberapa


hal yang lebih penting adalah :
1.

Perusahaan perkapalan terdiri dari sejumlah unit-unit industri kecil yang bergerak
(mobile) yaitu kapal, dimana pada waktu tertentu menyebar mengikuti jarak jauh
seluruh dunia dibandingkan dengan industri di darat yang beroperasi di tempat
yang tetap.

2.

Selama dalam pelayaran kapal dapat mengalami perubahan cuaca yang drastis
dan dapat mengganggu pekerjaan baik fisik maupun mental termasuk kapal dan
muatannya.

3.

Kapal beroperasi di lingkungan yang tidak ramah dan harus menyelesaikan


dengan baik pada kondisi cuaca yang ekstrim.

4.

Selama di kapal pekerjanya selalu dihadapkan resiko bahaya baik pada waktu
dinas maupun di luar dinas, sebagai contoh pada waktu ada bahaya kebakaran,
tenggelam, kandas dll.

Industri di darat beroperasi pada kondisi relatif tetap, orang yang


dikerjakan/ditempatkan dekat dengan pekerjaan dan mempunyai semua fasilitas dan
sarana lainnya yang cukup. Industri di darat dalam merekrut pekerjaan sesuai dengan
kebutuhannya baik dalam pendidikan, pengalaman dan kreteria-kreteria lain yang
dipersyaratkan. Perusahaan pelayaran mendapat kesulitan di dalam merekrut orang
yang sesuai untuk karier di laut dan dengan pendaftaran bendera asing yang
banyak/luas dan agen-agen pengawa-kan dapat menemui kesulitan- kesulitan dalam
mendapatkan crew yang berkualitas dan berpengalaman. Fasilitas pendidikan dan
pelatihan maritim tidak selalu tersedia sebagaimana pendidikan lain dan mungkin
atau bisa jadi orang-orang kapal harus pergi jauh untuk mengikuti kursus-kursus
yang berasrama atau tinggal di situ. Perusahaan di darat mungkin menghadapi
sejumlah hambatan apakah dikarenakan peraturan nasional maupun daerah atau
perjanjian lokal dengan ikatan profesi atau serikat pekerja. Sebagai contoh :

106

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Persetujuan gaji minimum, batasan jam kerja atau hari-hari kerja dll. Hampir semua
masalah tersebut di atas disusun untuk keuntungan buruh dan berhasil setelah melalui
perjuangan bertahun-tahun. Kapal beroperasi selama 24 jam tiap hari, awak kapalnya
(crew) disusun dengan sistim pergantian (shiff) jaga. Mereka harus diatur untuk
mengoperasikan kapal dengan efektif dan aman, terutama :
1.

Jaga laut dan jaga pelabuhan

2.

Penanganan muatan

3.

Perawatan kapal dan perlengkapan

4.

Tugas-tugas pada saat tiba dan berangkat. Tugas-tugas pada saat berlabuh

5.

Tugas-tugas Safety : Fire Patrol, Fire fighting, Penyelamatan diri.

7.5.2. Tujuan, Fungsi dan Hambatan


Tujuan utama setiap Perusahaan adalah berkembang dan mendapatkan keuntungan
dengan melaksanakan fungsi-fungsi manajemen secara efektif dan efisien.
Fungsi manajemen antar lain :
1. Planning (perencanaan)
Rencana dibutuhkan untuk memberikan kepada organisasi tujuan-tujuannya dan
menetapkan Prosedur terbaik untuk pencapaian tujuan-tujuan itu..
2. Organizing (pengorganisasian)
Adalah penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan organisasi. Ini menyangkut pendelegasian wewenang yang di perlukan
kepada individu-individu untuk melaksanakan tugas tugasnya. Fungsi ini
menciptakan struktur formal dimana pekerjaan ditetapkan, dibagi dan
dikoordinasikan.
3. Actuating (pelaksanaan/pengara-han)
Sesudah rencana dibuat, organisasi dibentuk dan disusun personalianya, langkah
berikutnya adalah menegaskan karyawan untuk bergerak menuju tujuan yang
telah ditentukan. Fungsi pengarahan (leading) secara sederhana adalah untuk
membuat atau mendapatkan para karyawan melakukan apa yang diinginkan dan
harus mereka lakukan.
4. Controlling (Pengawasan)
Pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan peralatan untuk menjamin
bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Fungsi pengawasan pada dasarnya mencakup unsure yaitu :
1. Penetapan Standar Pelaksanaan
2. Penentuan Ukuran-Ukuran Pelaksanaan
3. Pengukuran Pelaksanaan Nyata
4. Pengambilan Tindakan Koreksi Yang Diperlukan.

107

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Fungsi-fungsi di atas harus dilaksanakan secara efektif dan efisien. Namun beberapa
hambatan yang dapat mempengaruhi Organisasi manajemen bersumber dari :
1. Aspek hukum
2. Etika dalam praktek
3. Faktor ekonomi
4. Faktor sosial dan budaya
5. Pembatasan-pembatasan akibat dari peralatan dan kebijakan
6. Rasa tanggung jawab.
7.6. ORGANISASI MANAJEMEN PERKAPALAN
Dari sudut pandang manajemen, organisasi adalah suatu kerangka kerja dari proses
pimpinan untuk mencapai tujuan tertentu.
Jadi jelas suatu organisasi harus memiliki tujuan tertentu. Tujuan itu hendaknya
memiliki titik akhir tertentu yang berbobot dan bernilai tinggi, dimana dapat
memuaskan semua pihak yang terlibat (yang berperan didalamnya, pemilik,
pengelola, maupun pelaksana yang duduk langsung dalam organisasi itu).
Dalam organisasi modem sebagai hasil dari berbagai studi mengenai organisasi kapal
dan perusahaan pelayaran lebih menekankan efisiensi dengan mengurangi rantai
birokrasi, namun tetap dengan pengawasan ketat dan memberi wewenang serta
tanggung jawab besar pada seseorang atau beberapa kepala departemen, seperti
kepala kamar mesin bertanggung jawab atas semua pemeliharaan kapal, mualim 1
memesan cat dan material kebersihan untuk semua departemen.
Tetapi hal ini secara mendasar merubah peranan dan meskipun para penganut paham
tradisional prihatin terhadap apa yang mereka lihat sebagai suatu pengurangan di
dalam peranan mualim, mualim tetap terlibat di dalam pemeliharaan dan punya
banyak tugas-tugas lain yang dikerjakan. Perubahan terbesar pada organisasi kapal
tahun 1940-an yang dikenal sebagai hirarki ialah 4 teratas = (top four) dan hal
ini merupakan hasil langsung dari tuntutan sistim kerja baru, yang memerlukan
keputusan kolektif, tentang pengunaan optimum tenaga kerja, atas dasar hari kehari.
Untuk mencapai hal ini, suatu kepemimpinan kelompok atau dewan diperlukan, dan
hal ini memberikan dampak terhadap pengumpulan piramid struktur organisasi
menjadi bentuk trapesium, seperti yang telah terjadi di banyak organisasi lainnya .
Banyak pegawai laut senior harus diajari teknik-teknik baru, dan kepada beberapa
yang menempuh jenjang karier secara tradisional, konsep- konsep baru tentang
persamaan di tingkat atas sulit diterima. Sekali lagi perlu ditingkatkan bahwa
seseorang tidak harus mempunyai tipe serba guna dan fleksibilitas antar departemen
atau organisasi untuk mempunyai suatu gaya kepemimpinan kelompok atau dewan.
Banyak teknik yang dipaksakan oleh sistem baru itu, dapat digunakan pada kapal
yang diawaki secara tradisional. Teknik tersebut hanya lebih berhasil guna, apabila
tenaga kerja fleksibel. Di kapal-kapal yang telah di studi dan yang kebutuhan ABKnya telah ditaksir, dapat diharapkan bahwa jumlah dan campuran spesialis, semi
spesialis, non spesialis, akan berbeda dengan kebutuhan khusus kapal dan kebijakan
teknis pemilik kapal. Tetapi rentang peranan mereka akan tergantung dari tipe

108

Teknika Kapal Penangkap Ikan

keterlibatan yang pemilik kehendaki dari mereka, yaitu apakah ia hanya


menghendaki operator, atau seorang ABK yang terlibat secara komersial, dengan
keterlibatannya di dalam setiap aspek manajemen kapal, seperti perencanaan,
penganggaran, biaya pengawasan dan lain-lain.
Namun secara umum bagian pokok organisasi manajemen perkapalan meliputi :
1.

Aspek Komunikasi

2.

Informasi

3.

Keputusan-keputusan

4.

Saran-saran

Arus komunikasi tergantung dari tipe organisasi seperti di bawah ini:


1.

Organisasi fungsional adalah hubungan langsung dimana perintah dan instruksi


langsung kepada personil yang di maksud. Pada umumnya bawahan lapor
kepada atasan langsung saja dan mempunyai keterbatasan tanggung jawab.
Organisasi Fungsional mengelompokan fungsi-fungsi yang sama atau kegiatankegiatan sejenis membentuk suatu satuan organisasi. Kebaikan utama
pendekatan fungsional ini bahwa pendekatan ini menjaga kekuasa-an dan
kedudukan fungsi-fungsi utama, menciptakan efisiensi melalui spesialisasi
memusatkan keahlian organisasi dan memungkinkan pengawasan manajemen
puncak lebih ketat terhadap fungsi-fungsi.
Kelemahan struktur fungsional dapat menciptakan konflik antar fungsi-fungsi,
menyebabkan kemacetan-kemacetan pelaksa-naan tugas yang berurutan,
memberi tanggapan lebih lambat terhadap perusahaan, hanya memusatkan pada
kepentingan tugas-tugasnya dan menyebabkan para anggota berpandangan lebih
sempit serta kurang inovatif.

2.

Organisasi matrik, salah satu contohnya bawahan dapat melapor kepada satu
pengawas atau lebih mengenai lebih dari satu malam tugas organisasi memilih
sering digunakan bila memerlukan konsentrasi atas sebuah proyek khusus.
Dalam organisasi Matrik, para karyawan mempunyai 2 atasan sehingga mereka
berada 2 wewenang. Rantai Perintah pertama adalah fungsional .
Wewenang bagian fungsional mengalir vertikal, kedua adalah rantai perintah
lateral atau Horizontal aliran wewenang yang melintasi departemen ini
dilaksanakan oleh para pimpinan departemen. Dua jalur aliran wewenang ini
membentuk struktur organisasi 2 arah yang menyerupai Matrik, organisasi
matrik dapat menampung berbagai macam dan perubahan teknologi / pasar.
Organisasi matrik menyediakan suatu hirarki yang dapat memberikan tanggapan
secara cepat terhadap perubahan-perubahan lingkungan terutama dalam
teknologi. Struktur matrik yang efektif memerlukan fleksibilitas dan kerja sama
orang-orang pada semua tingkatan organisasi komunikasi terbuka dan langsung
melalui kedua dimensi.
Kebaikan Organisasi Matrik adalah Memaksimumkan efesiensi penggunaan
pimpinan-pimpinan departemen (fungsional). Memberikan fleksibilitas kepada
organisasi dan membantu perkembangan kreativitas serta melipat gandakan

109

Teknika Kapal Penangkap Ikan

sumber-sumber yang beraneka ragam, membebaskan manajemen puncak/


perenca-naan.
Kelemahan organisasi matrik, pertanggung jawaban ganda dapat menciptakan
hubungannya dan kebijaksanaan - kebijaksanaan yang kontradiktif. Sangat
memerlukan koordinasi horizontal dan vertikal. Memerlukan lebih banyak
keterampilan-keterampilan antar pribadi. Mendorong perten-tangan kekuasaan
dan lebih mengarah pendekatan dari pada kegiatan.
3.

Organisasi Sentralisasi Atau Desentralisasi, dari organisasi tersebut menentukan


efektifitas organisasi adalah tingkat Sentralisasi atau Desentralisasi wewenang.
Konsep sentralisasi, seperti konsep delegasi berhubungan dengan tingkat
dimana wewenang dipusatkan atau disebarkan. Hal ini sangat erat sehubungan
pelaksanaan pekerjaan dengan instruksi. Bila Delegasi biasanya berhubungan
pelaksanaan pekerjaan dengan instruksi. Bila Delegasi biasanya berhubungan
dengan seberapa jauh kepala Departemen mendelegasikan wewenang dan
tanggung jawab kepada bawahan yang secara langsung melaporkan kepadanya.
Desentralisasi adalah konsep yang lebih luas dan berhubungan dengan seberapa
jauh manajemen puncak (Nakhoda) mendelegasikan wewenang ke bawah
Departemen-departemen atau satuan-satuan organisasi tingkat lebih bawah
lainnya, dimana perintah dan instruksi langsung kepada personil yang
dimaksud. Sentralisasi adalah pemusatan kekuasaan dan wewenang pada tingkat
suatu organisasi, misalnya pelaksanaan pekerjaan dengan intruksi.
Desentralisasi adalah penyebaran atau pelimpahan wewenang secara meluas
kekuasaan dan pembuatan keputusan ke tingkat-tingkat organisasi yang lebih
rendah.

7.7. SISTEM KERJA DI KAPAL


Sistem kerja dikapal terdiri dari 3 jenis, yaitu :
1. Sistem kerja tradisional
Sistem Tradisional ialah sistem 3 jenis departemen yang ada di kapal-kapal
sebelum pembaharu-an tahun 1960-an dan sesudah-nya. Ada garis-garis pemisah
yang tegas antara departemen-departemen dengan setiap departemen hanya
memperhatikan tugasnya sendiri-sendiri dan hanya terlibat dengan departemen
lainnya bila keluar/masuk pelabuhan dan dalam keadaan darurat.
2. Sistem Serbaguna

Dengan sistem kerja serbaguna, ada tenaga-tenaga kerja umum dari bawahan
dengan beberapa semi spesialis, seprti juru mudi dan juru motor. Perwira
perwira tetap di departemen, tetapi para senior membuat keputusan bersama
mengenai bagaimana bawahan harus dimanfaatkan. Untuk peranan yang lebih
luas lagi, bawahan harus dididik untuk menangani pekerjaan, baik di geladak atau
di kamar mesin, sampai tingkat tingkat tertentu. Fleksibilitas dari tenaga kerja
seperti ini mempunyai keuntungan positif dibandingkan dengan sistem ABK
tradisional dengan garis batas yang tegas.
3. Sistem fleksibel antar bagian

memperbolehkan bawahan dari ABK


tradisional untuk kerja di departemen lain pada pekerjaan yang dapat

110

Teknika Kapal Penangkap Ikan

digabungkan dengan pekerjaan biasa di departemen untuk jumlah jam yang


sesuai setiap bulan. Jadi pelaut dapat mencat di kamar mesin dan menyisip takal
dan perancah untuk pekerjaan-pekerjaan yang letak nya tinggi karena tidak ada
perbedaan dengan pekerjaan yang biasa dilakukan. Dengan cara yang sama
seorang juru minyak dapat meminyaki bagian yang bekerja dari peralatanperalatan digeladak dan dapat mengoperasikan mesin-mesin derek dan alat-alat
mekanis lainnya. Jenang juga dapat menyapu geladak, sekali lagi perubahan
peran tradisional perwira amat sedikit, kecuali kadang-kadang bagi mualimmualim membantu pekerja penataan yang besar di kamar mesin dan bagi ahli
mesin kapal membantu pekerjaan pemeliha-raan digeladak. Seperti sistem
serbaguna, perwira senior diperlukan untuk memutuskan kapan dan dimana
fleksibilitas dimanfaatkan.
Sejak sistem kerja serbaguna dan fleksibilitas antar bagian dikembangkan pada
awal tahun 1960-an, telah ada sejumlah perkembangan selanjutnya kearah
fleksibilitas yang lebih besar, terutama diantara pemilik-pemilik kapal Skandinavia
dan Eropa Utara. Di dalam beberapa sistem, para perwira telah bergerak ke arah
peran ganda yaitu peranan resmi mereka dan peranan pembantu dimanapun apakah
di dalam departemennya sendiri atau di departemen lainnya. Perlu dicatat bahwa
sejak bertahun- tahun banyak yang memikirkan bahwa markonis yang mempunyai
banyak waktu tertuang di pelabuhan, kurang sekali dimanfaatkan, tetapi sistem
tersebut umumnya merintangi untuk berbuat sesuatu yang lain, kecuali mereka
bekerja sukarela. Kini dengan bertambahnya jumlah peralatan elektronik, untuk
mana ia bertanggung jawab, termasuk radar dan waktu singgah yang singkat di
pelabuhan, telah menghilangkan komentar ini untuk kapal-kapal besar. Di kapalkapal kecil, keandalan komunikasi radio telefoni telah menyebabkan markonis
dihapus, bahkan untuk pelayaran samudera. Bagaimana juga, yang terutama, peranan
para perwira telah berubah sedikit kecuali dalam lingkup tanggung jawab dan
akuntabilitas.
7.8. SOSIAL DAN LINGKUNGAN KERJA
7.8.1. Aspek Aspek Sosial
Orang dalam masyarakat kapal yang tidak tetap, tidak hanya harus bekerja sama,
tetapi juga hidup bersama, Dalam hal ini telah diketahui bahwa faktor-faktor yang
menimbulkan keharmonisan dan memotivasi pelaut di dalam pekerjaan mereka,
memainkan bagian yang terpenting karena jika orang-orang bahagia dengan
pekerjaannya mereka biasanya bahagia pada periode istirahat. Menghilangkan jarak
antar departemen tidak disangsikan lagi telah menolong mengintegrasikan pelaut dan
hal ini telah diterapkan lebih lanjut di kapal dimana daerah rekreasi dan ruang makan
mungkin disatukan. Orang-orang bekerja sebagai pelaut dengan bermacam- macam
alasan. Sebagian karena ini adalah kesempatan mereka terbaik untuk memperoleh
gaji yang relatif tinggi. Yang lain karena masih adanya petualangan dan romantis di
dalam karir. Sebagian tinggal di laut sepanjang hidupnya, sementara yang lain
meninggalkan laut lebih awal atau separuh jalan dalam karir kerja mereka, tidak
disangsikan lagi kelanjutannya akan tetap seperti itu. Tetapi tanpa memperhatikan
alasan- alasan mereka, penting untuk diingat bahwa kapal seperti orang yang bekerja
didalamnya, terpisah dari peraturan resmi mengenai persyaratan anak buah kapal
yang berkualitas, pemilik dan manajernya harus berusaha sebaik-baiknya untuk

111

Teknika Kapal Penangkap Ikan

meyakinkan bahwa anak buah kapal puas dengan kerja mereka dan bukan tidak puas
dengan kondisi kerja mereka.
Tindakan yang diperlukan untuk menghindari perselisihan antara pengusaha dengan
pekerjaan haruslah mendapat prioritas utama dan pada akhirnya diadakan persetujuan
perundingan untuk menuntaskan hal yang dimaksud dan dibuat dokumen yang jelas
berhubungan dengan semua kejadian sosial dan lingkungan kerja di kapal. Pelaut
bekerja sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan dalam Perjanjian Kerja Laut
(PKL). Perjanjian kerja laut adalah persetujuan antara pengusaha kapal di satu pihak
dan seorang pekerja di pihak lain, dalam mana si pelaut berjanji untuk bekerja di
bawah pengusaha kapal dengan menerima upah sebagai jabatan yang tertera dalam
perjanjian kerja laut dan hal ini harus tertulis, ditandatangani oleh kedua belah pihak
dan dibuat dihadapan penguasa pelabuhan (Syahbandar).
Masalah yang diatur dalam perjanjian kerja laut berkaitan dengan 4 kondisi mendasar
adalah :
1.

Di dalam pekerjaan

2.

Di luar pekerjaan

3.

Berkaitan dengan pekerjaan

4.

Tidak berkaitan dengan pekerjaan

Kesempatan perjanjian yang dibuat adalah sebagai ukuran kepuasan kedua belah
pihak karena sebelah pihak tidak dapat menekan yang lain, jadi kekuatan yang
seimbang merupakan sasaran yang harus dicapai.
7.8.2. Keharmonisan dan Motivasi
Pelaut di era sebelum tahun 1940 dapat melihat suatu perubahan yang luar biasa pada
pelaut saat ini, karena suasananya lebih santai, protokol kurang dan seragam kapal
jarang terlihat. Pelaut-pelaut saat ini didominasi oleh negara berkembang sebagai
pemasok ABK baru. Sikap pelaut sebelum era tahun 1940-an pada umumnya berasal
dari kapal layar tradisional, dimana ketegasan dari para Perwira dan ABK sangat
penting untuk mempertahankan disiplin di kapal, dimana kehidupan di kapal perlu
adanya keramahan dan pengertian serta memberi motivasi kerja sesama pelaut.
Di negara-negara maritim yang lebih tua, kesantaian hidup dan kondisi kerja di
kapal, pendidikan dalam masalah hubungan antar manusia dan salah satu perubahan
sikap majikan dan pekerja semua faktor yang membentuk perubahan. Untuk negaranegara maritim yang baru tidak mempunyai tonggak tradisi didalam hubungan antar
personil di kapal yang dipertahankan pemecahannya barangkali lebih mudah sejak
awal. Dalam hal ini perbedaan budaya menimbulkan hubungan kereja yang berada
antara Perwira dan ABK bahwa walaupun mereka semua dari negara yang sama
sekalipun. Beberapa masalah tersisa, karena meskipun bawahan dari negara bekas
jajahan negara maritim tua sekarang ini sudah tidah ada, masih saja banyak kapal
yang perwira dan bawahannya dari negara yang berlainan.
Di kapal-kapal seperti itu bahasa merupakan kendala dan bisa berbahaya bila terjadi
keadaan darurat. Sudah barang tentu ada sedikit komunikasi dan keharmonisan tetapi

112

Teknika Kapal Penangkap Ikan

pada suatu tingkat yang paling rendah dan jelas tidak pada tingkat yang diperlukan
untuk memotivasi ke puncak produktivitas. Karena seseorang dapat mempunyai
kapal yang harmonis tanpa mempunyai kapal yang produktif dalam artian selamat,
melaksanakan menurut peraturan, jadwal yang ketat dan terjangkau di anggaran,
seseorang juga dapat mempunyai produktivitas tanpa keharmonisan. Telah
ditemukan suatu manajemen handal yang tangguh baik di darat maupun di kapal
dengan sistem pengawasan yang ketat untuk keselamatan, kinerja, pemeliharaan dan
anggaran, dapat menghasilkan hasil yang dikehendaki. Tetapi dengan suatu
pengorbanan demikian, hal itu tidak mungkin bahwa di dalam lingkungan kerja akan
terdapat stabilitas ABK yang bagaimanapun juga. Jadi apa yang dicari adalah
memotivasi pelaut, sehingga mereka mau bekerja baik.
Menurut Hertzberg, terkenal teori hygiene kerjanya, menyoroti faktor- faktor yang
berbeda-beda dalam kepuasan dan ketidakpuasan orang mengenai pekerjaan mereka.
Ia menunjukkan bahwa hal ini memerlukan lebih dari sekedar kondisi hak yang baik,
lingkungan kerja yang baik dan jaminan masa depan yang cerah. Kepuasan, tidak
akan timbul jika keseluruhan kebutuhan manusiawinya tidak terpenuhi dan yang
terpenting bagi mereka adalah :
1.

Kebutuhan memiliki peranan dan status yang dibatasi secara jelas dan
mempunyai pengakuan dari teman-temannya

2.

Kebutuhan akan kesempatan mengembangkan karier

3.

Kebutuhan akan pemenuhan dan pekerjaan

Ketidak puasan terjadi bila kondisi hak-haknya kurang dari yang diharapkan atau
usaha dibuat untuk menjauhkan mereka dari apa yang mereka harapkan.
a). Peranan dari status
Barangkali suatu keuntungan dari organisasi pekerjaan di laut di masa lampau
dibandingkan dengan industri-industri lain, ialah bahwa setiap orang mengetahui
peranan dan statusnya dari setiap orang lain di kapal. Mereka juga mengetahui
kualifikasi perwira dan bawahan tertentu yang harus dipunyai sebelum mereka
dapat memegang sesuatu posisi tertentu. Di dalam organisasi di kapal mereka juga
mengetahui prospek karirnya. Di banyak perusahaan pelayaran, pengertian
mengenai peranan dan prospek karir tetap ada, walaupun tersedianya posisi
perwira senior di kapal biasanya mencerminkan kondisi ekonomi pelayaran yang
berlangsung. Hal ini tidak hanya orang lain lebih senang jika pekerjaan/tugas
mereka dirinci, tetapi karena kebutuhan untuk menekan perbedaan dengan caracara tradisional, yang cenderung menyimpan bertahun-tahun yang lalu kecuali
langkah positif diambil untuk membawa perubahan.
b) Pemenuhan Kebutuhan
Kebutuhan akan pemenuhan pribadi di dalam pekerjaan adalah pada naluri orangorang yang memberi motivasi ke arah puncak kinerja, tetapi lebih dari itu
diperlukan, dan ini biasanya ditemukan melalui keterlibatan pribadi yang lebih
besar dari semua pekerjaan di dalam keputusan yang menyangkut pekerjaan
mereka. Hal ini dapat di capai seperti industri-industri lain dan di kantor darat
dalam sejumlah cara-cara dengan membuat para senior bertanggung jawab dalam
cakupan tanggung jawab mereka.

113

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Jika tanggung jawab seperti yang tergabung dalam organisasi semi desentralisasi,
tidak dapat dilaksanakan, lantas sebanyak mungkin tanggung jawab yang
berkaitan dengan wewenang harus didelegasikan kepada pekerja senior. Sama
halnya dengan di kapal, para senior harus didelegasikan sebanyak mungkin kepada
tingkat yang serendah mungkin. Hal ini tidak berarti bahwa pengawasan pekerjaan
pada semua tingkat harus berhenti, tetapi harus dengan tekanan yang berbeda yang
harus diarahkan kepada bimbingan dan diskusi dari pada hanya sekedar mencek
bahwa seseorang bekerja dan beberapa bayak yang ia telah perbuat. Keterlibatan
dapat dicapai dalam sejumlah dengan cara lain, melalui komunikasi antar personil
sebagai berikut : Pertemuan manajemen secara berkala dilakukan para perwira
senior untuk mendiskusikan kemajuan rencana-rencana dan mencari jalan guna
mencapai hasil yang akan datang dengan pendistribusian buruh atau bantuan antar
departemen dan bekerja sama. Pertemuan ini harus diikuti oleh pekerja yang
terlibat di dalam pengorganisasian pekerjaan yang sebenarnya, jika mereka belum
menjadi anggota dalam pertemuan manajemen.
Pandangan mereka harus ditujukan pada cara yang terbaik untuk melaksanaan
tugas dan perkiraan tentang waktu guna menyelesaikan pekerjaan yang dimaksud.
Pertemuan-petermuan yang sama yang menyangkut keselamatan harus disusun
seteratur mungkin, dengan melibatkan wakil-wakil pekerja. Pertemuan ini harus
diarahkan untuk menonjolkan bagian-bagian dimana keterampilan selanjutnya
diperlukan dan menentukan lokasi tugas atau praktek-praktek yang terdapat
bahaya dengan saran- saran untuk perbaikan. Pertemuan sosial harus juga
diselenggarakan dari waktu ke waktu dengan wakil-wakil staf untuk
mendiskusikan setiap ketidakpuasan dan mencari jalan perbaikan kehidupan sosial
di kapal. Perwira-perwira yunior harus juga dilibatkan di dalam pertemuan pertemuan mengenai masalah- masalah operasional seperti muatan, jika
pertemuan-pertemuan tersebut tidak berkaitan dengan pertemuan-pertemuan
manajemen.
Banyaknya pertemuan, lama waktunya dan formalitasnya harus dipertimbangkan
hati-hati. Harus selalu ada sebuah agenda untuk memastikan bahwa semua hal-hal
yang penting telah didiskusikan, terpisah dari pertemuan khusus untuk operasional
dan keadaan darurat. Pertemuan mingguan seharusnya cukup untuk membahas
masalah-masalah manajemen dan pertemuan bulanan untuk masalah-masalah
keselamatan. Seperti yang dikatakan Parkinson : Perkem-bangan menyesuaikan
dengan waktu yang tersedia dan ungkapan yang sama dapat dipakai mengenai
diskusi. Dengan alasan ini waktu yang disediakan untuk pertemuan sedapat
mungkin harus dibatasi. Sebagai acuan, waktu satu jam kiranya cukup untuk
pertemuan- pertemuan rutin. Perhatian para Perwira senior terhadap pekerjaan
yang dilakukan oleh orang lain dan pandangan mereka mengenai kemajuan, waktu
penyelesaian dan lain-lain, juga perlu memberi pekerja merasa keterlibatannya di
kapal.
Akhirnya pemenuhan atau pemekaran tugas seperti yang diistilahkan kadangkadang dapat juga dipakai dengan pemberian tugas dan tanggung jawab pribadi
diluar peranan mereka yang biasa, seperti ahli listrik atau Nakhoda mengusahakan
kantin kapal atau toko kapal. Tetapi hal ini harus diteliti bahwa di dalam mencari
pemekaran tugas yang bersangkutan betul-betul tidak berlebihan.

114

Teknika Kapal Penangkap Ikan

C ) Disiplin
Disiplin adalah keadaan tertib dan teratur dimana pelaut bekerja sesuai dengan
standar kerja dan bertingkah laku sejalan pula dengan ketentuan-ketentuan
perusahaan agar tujuan perusahaan dan pelaut itu sendiri dapat tercapai. Keadaan
disiplin tidak akan terjadi apabila pelaut itu sendiri tidak mempunyai kemauan
untuk berdisiplin.
7.9. MANAJEMEN PERKAPALAN
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penyerahan dan
pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya
organisasi yang telah ditetapkan. Manajemen dapat difinisi sebagai bekerja dengan
orang-orang untuk menentukan, menginterprestasi dan mencapai tujuan-tujuan
organisasi dengan pelaksanaan fungsi - fungsi perencanaan, pengorganisasian,
penyusunan personalia atau kepegawaian, penyerahan dan kepemimpinan dan
pengawasan. Manajemen dibutuhkan untuk semua organisasi baik manajemen di
darat maupun di kapal karena tanpa manajemen, semua usaha akan sia-sia dan
pencapaian tujuan akan lebih sulit. Ada 3 alasan utama diperlukannya manajemen :
1.

Untuk mencapai tujuan

2.

Untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling bertentangan.

3.

Untuk mencapai efisiensi dan efektifitas.

Manajemen perkapalan berbeda dengan manajemen industri di darat, dalam beberapa


hal yang lebih penting adalah :
1.

Perusahaan perkapalan terdiri dari sejumlah unit-unit industri kecil yang


bergerak yaitu kapal, dimana pada waktu tertentu menyebar mengikuti jarak
jauh seluruh dunia dibandingkan dengan industri di darat yang beroperasi di
tempat yang tetap

2.

Selama dalam pelayaran kapal dapat mengalami perubahan cuaca yang drastis
dan dapat mengganggu pekerjanya baik fisik maupun mental termasuk kapal dan
muatannya.

3.

Kapal beroperasi di lingkungan yang tidak ramah dan harus menyelesaikan


dengan baik pada kondisi cuaca yang ekstrim.

4.

Selama di kapal pekerjaannya selalu dihadapkan resiko bahaya baik pada waktu
dinas maupun di luar dinas, sebagai contoh pada waktu ada bahaya kebakaran,
tenggelam, kandas dan lain-lain.
Industri di darat beroperasi pada kondisi relatif tetap, orang yang dikerjakan atau
ditempatkan dekat dengan pekerjaan dan mempunyai semua fasilitas dan sarana
lainnya yang cukup. Industri di darat dalam merekrut pekerja sesuai dengan
kebutuhannya baik dalam pendidikan, pengalaman dan kreteria-kreteria lain yang
dipersyaratkan. Perusahaan pelayaran mendapat kesulitan di dalam merekrut
orang yang sesuai untuk karier di laut dan dengan pendaftaran bendera asing
yang banyak/luas dan agen-agen pengawakan dapat menemui kesulitan-kesulitan
dalam mendapatkan crew yang berkualitas dan berpengalaman. Fasilitas
pendidikan dan pelatihan maritim tidak selalu tersedia sebagaimana pendidikan

115

Teknika Kapal Penangkap Ikan

lain dan mungkin atau bisa jadi orang-orang kapal harus pergi jauh untuk
mengikuti kursus-kursus yang berasrama. Perusahaan di darat mungkin
menghadapi sejumlah hambatan apakah dikarenakan peraturan nasional maupun
daerah atau perjanjian lokal dengan ikatan profesi atau serikat pekerja. Sebagai
contoh persetujuan gaji minimum, batasan jam kerja atau hari-hari kerja. Hampir
semua masalah tersebut di atas disusun untuk keuntungan buruh dan berhasil
setelah melalui perjuangan bertahun-tahun.
Kapal beroperasi selama 24 jam tiap hari dan awaknya disusun dengan sistem
pergantian jaga. Mereka harus diatur untuk mengoperasikan kapal dengan efektif
dan aman, terutama pada saat:
1.

Jaga laut dan jaga pelabuhan

2.

Penanganan muatan

3.

Perawatan kapal dan perlengkapannya

4.

Tugas-tugas pada saat tiba dan berangkat, tugas-tugas pada saat berlabuh.

5.

Tugas-tugas keselamatan

7.10.

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB AWAK KAPAL

Awak kapal yang berada diatas kapal memiliki tugas dan tanggung jawab yang
berbeda-beda sesuai dengan jabatan masing-masing. Adapun tugas dan tanggung
jawab itu adalah :
1. Nahkoda.
a. Mengoptimalkan hasil produksi.
b. Mengoptimalkan hasil operasi dan hasil produktif (hari/trip).
c. Pengendalian biaya kapal .
d. Pengendalian biaya produksi .
e. Keselamatan kapal.
f. Kas besar.
g. Bekerjasama dengan unit dalam:
h. Pengendalian mutu hasil tangkapan.
i. Pengamatan daerah tangkapan.
2. Mualim I
a. Pengendalian mutu produk Mutu MTS (Mitramas), Mutu Non MTS
(Mitramas), Rejek (penyortiran produk).
b. Pengendalian mutu hasil processing.
c. Pengendalian biaya kapal bagian deck.
d. Administrasi kapal bagian deck.
e. Penempatan dan pembongkaran muatan.

116

Teknika Kapal Penangkap Ikan

f. Kesiapan alat navigasi.


g. Kesiapan skill dan mental menggantikan nahkoda jika berhalangan.
3. Mualim II
a. Kesiapan alat produksi.
b. Kesiapan alat bongkar muat.
c. Kesiapan alat bantu olah gerak kapal diatas deck.
d. Bekerjasama dengan chief cook mengendalikan biaya makan ABK
e. Membantu tugas mualim 1.
4. Mualim III
a. Pelaksana pengendalian es nelayan (ratio es : ikan = 1:2 ).
b. Pelaksana pengendalian pengaturan kapal penangkap.
c. Kas ikan.
d. Membantu tugas-tugas mualim 1 dan mualim II.
e. Bekerjasama dengan unit dalam investasi ABK (Anak Buah Kapal) kapal

penangkap.
5. Boatswain
a. Pengendalian kesiapan alat dan bahan pemeliharan kapal (Rp/trip).
b. Pengendalian kesiapan alat dan bahan alat kerja deck (Rp/trip).
c. Koordinator pelaksanaan kerja deck yang diprogramkan mualim.
d. Membantu mualim 1 dan ice master dalam penanganan hasil tangkap.
6. Ice Master
a. Bekerjasama dengan mualim 1 dan KKM dalam penanganan hasil tangkapan.
b. Bekerjasama dengan mualim 1 dan masinis 1 dalam pengaturan tata letak ikan
di dalam palkah (fish hold).
c. Membantu mualim III dalam pengendalian es nelayan.
7. KKM (Kepala Kamar Mesin)
a. Mengoptimalkan daya kerja mesin pendingin utama (ton/hari).
b. Pengendalian pemakaian bahan bakar dan pelumas .
c. Pengendalian biaya operasi bagian mesin (RP/trip).
d. Kesiapan mesin secara umum.
8. Masinis I
a. Manajemen program kerja bagian mesin.
b. Administrasi bagian mesin (intern/ekstern).
c. Kesiapan main engine dan refrigerasi machine.

117

Teknika Kapal Penangkap Ikan

d. Kesiapan skill dan mental mengganti KKM bila berhalangan.


e. Kerjasama dengan mualim 1 dan ice master dalam penempatan ikan di palkah.
9. Masinis II
a. Investasi mesin, alat kerja mesin dan spare part.
b. Kesiapan auxiliary engine dan kelistrikan.
c. Bekerjasama dengan unit dalam penanganan mesin kapal penangkapan di
fising ground yang tidak terjangkau unit.
10. Masinis III
a. Kesiapan pesawat bantu mesin.
b. Pengendalian alat dan bahan kerja mesin.
c. Pengendalian bahan bakar dan minyak pelumas bagi nelayan (lt/kapal
penangkapan/trip).
11. Juru Minyak
a. Pelaksanaan kerja dan perawatan mesin.
b. Pelaksanan kerja dan penanganan hasil tangkap.
12. Deck hand
a. Pelaksana kerja dan pemeliharan deck.
b. Pelaksana kerja dan penanganan hasil tangkap.
13. Chief cook
a. Pemeliharaan dapur, ruang makan, gudang bahan makanan dan peralatan.
b. Pengaturan menu makanan ABK (Anak Buah Kapal).
c. Pengendalian biaya makan ABK , Rp/orang/ hari.

118

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 8
MENERAPKAN DASAR-DASAR ELEKTRONIKA

8.1 DASAR DASAR ELEKTRONIK


Elektronika ialah ilmu yang mempelajari sifat-sifat dan pemakaian piranti yang asas
kerjanya karena aliran elektron dalam ruang hampa atau gas seperti dalam tabung
radio, televisi dan peralatan instrumentasi navigasi kapal, pada aliran electron dalam
semi penghantar misalnya dalam transistor.
Seseorang sebelum melakukan suatu pekerjaan dalam elektronika, khususnya yang
bersifat praktis diperlukan pengetahuan cara kerja instrumen yang akan dipakai
untuk mengkurnya dan akan berhasil tidaknya suatu pekerjaan.
8.1.1. Terjadinya Aliran Listrik
Aliran listrik terjadi karena perpindahan benda-benda yang sangat kecil disebut
elektron dan merupakan bagian didalam sebuah atom bersama pasangannya proton.
Elektron bermuatan listrik negatif (-) dan proton bermuatan listrik positif (+),
keduanya saling tarik menarik didalam satu ikatan yang disebut atom. Perpindahan
elektron (aliran listrik) secara loncat dan saling sentuh menyentuh dengan elektron
berikunya, secara kontinue.
Semua benda tentu saja memiliki elektron, tetapi ada benda yang elektronnya mudah
bergerak atau digerakkan dan ada benda yang elektronnya sukar bergerak.
Benda-benda yang elektronnya mudah bergerak, banyak dipergunakan untuk
sumber-sumber atau pusat-pusat listrik dan penghantar listrik. Sedangkan benda yang
elektron-elektronnya sukar bergerak, banyak digunakan untuk alat-alat penghalang
aliran listrik.
Benda-benda yang menghantarkan listrik disebut konduktor, misalnya kawat
tembaga, kawat perak atau logam-logam lainnya. Sedangkan benda-benda yang
menghalang aliran listrik disebut isolator, misalnya porselin, gelas, kain kering, karet
plastik dan sebagainya.
Disamping itu ada pula benda-benda yang memiliki dua sifat diatas, yaitu
menghantar dan menghalang. Benda demikian disebut semi konduktor.
8.1.2. Jenis Aliran Listrik
Benda-benda yang mengeluarkan aliran listrik atau sumber-sumber listrik disebut
pusat listrik. Pada sebuah pusat listrik terdapat dua buah kutub, yaitu: Kutub positif
(+) adalah keluarnya aliran listrik dan kutub negatif (-) adalah masuknya aliran
listrik.
Aliran listrik terdiri dari 2 (dua) macam yaitu :
1. Aliran listrik searah dalam bahasa inggris disebut Direc Current sehingga untuk

aliran ini lazim dinamakan arus DC. Aliran listrik searah ini cara mengalirnya

119

Teknika Kapal Penangkap Ikan

tetap, dari kutub positif ke kutub negatif. Contoh pusat listrik DC ini adalah
ACCU, Batu Baterai dan Adaptor.
2. Aliran listrik bolak-balik dalam bahasa inggris disebut Alternating Current,

sehingga disebut listrik AC dan aliran listrik bolak balik ini cara mengalirnya
tidak tetap, dari kutub positif ke kutub negatif, dan dari kutub negatif ke kutub
positif. Aliran listrik AC ini dikeluarkan oleh pusat listrik dinamo dan vibrator.
8.1.2.1. Satuan Ukuran dan Perhitungan Aliran Listrik
Ukuran-ukuran dalam aliran listrik memiliki satuan tertentu sebagai berikut ini:
1.

Tegangan listrik adalah tenaga loncatan elektron. Satuan ini diberi tanda E dan
dihitung dalam satuan Volt (V). Urutannya adalah :
1 Kilovolt (KV) = 1000 Volt .
1 Volt (V)

= 1000 Milivolt.

1 Milivolt (mV) =1000 Microvolt


2.

Arus listrik adalah jumlah elektron yang mengalir. Satuan ini diberi tanda I dan
dihitung dalam satuan Ampere (A). Urutannya sebagai berikut ini :
1 Kiloampere = 1000 Ampere.
1 Ampere (A) = 1000 Miliampere.
1Miliampere(mA)=1000 (uA)

3. Tenaga listrik adalah tenaga (kekuatan daya) dari sejumlah elektron yang
dialirkan. Satuan ini diberi tanda dan dihitung dalam satuan Watt (W).
1 Kilowatt (KW) = 1000 Watt (W).
1 Watt (W) = 1000 Miliwatt.
1 Miliwatt (mW) = 1000 Microwatt
4.

Tahanan listrik adalah kekuatan menahan atau menghambat yang dimiliki


penghantar listrik. disebut dengan Resistance, disingkat R serta dihitung dalam
satuan OHM dengan tanda
1Megaohm(Meg)= 1000 Kiloohm.
1 Kiloohm (K) = 1000 Ohm .
Dalam perhitungan-perhitungan aliran listrik digunakan rumus-rumus yang
dinamakan rumus ohm, dengan bentuknya sebagai berikut ini :
Menghitung Tenaga

W=ExI
Menghitung Tahanan

R=E:I
Menghitung Tegangan :
E = I x R atau W : I
Menghitung Arus

120

Teknika Kapal Penangkap Ikan

I = E : R atau W : I

8.1.2.2. Amperemeter
Pada penghantar padat muatan listrik berpindah melalui elektron, sedang pada
penghantar cair atau gas muatan listrik itu berpindah melalui ion. Ampere adalah
satuan arus listrik. Arus listrik adalah gerakan perpindahan aliran muatan listrik.
Istilah Ampere menyatakan banyaknya muatan listrik yang berpindah atau mengalir
setiap detik (Coulomb/det).
Amperemeter adalah alat pengukur kuat arus yang mengalir. Oleh karena itu
amperemeter dipasang seri terhadap beban yang memakai arus. Cara lain adalah
memasang Amperemeter paralel terhadap trafo arus. Jadi arus primer yang besar
adalah arus beban, arus sekunder yang kecil adalah arus pengukuran (arus yang
mengalir ke Ampere-meter). Dengan demikian Amperemeter yang kecil pun dapat
mengukur arus yang besar.

Gambar 8.1. Pengukur Amper


Seharusnya tahanan amperemeter nol, sehingga tidak akan mengubah aliran arus
dalam sirkit. Dalam kenyataan, tahanan itu dapat bervariasi dari sekian per ribuan
ohm , tergantung dari yang akan diukur oleh ampermeter. Apabila suatu sirkit
memperoleh tegangan (volt) dan dialiri arus (amper), tahanan sirkit akan menjadi
sebesar sekian ohm.
8.1.2.3. Voltmeter
Volt adalah satuan tekanan listrik. Istilah Volt adalah menyatakan besarnya energi
yang diperlukan untuk memindahkan muatan listrik sebesar 1Joule/Coulomb.
Alat untuk mengukur besarnya tekanan listrik ialah Voltmeter. Alat ini digunakan
untuk mengukur e.m.f (kekuatan elektromotif) yang dihasilkan oleh sumber listrik
atau perbedaan potensial antara dua titik dalam sebuah sirkit. Tegangan selalu berada
antara dua titik yang diukur antara perbedaan tegangan antara sebuah titik dengan
titik lainnya. Oleh karena itu, voltmeter dihubungkan memotong aliran tegangan
yang hendak diukur, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
Ohmmeter digunakan untuk mengukur tahanan suatu sirkit atau komponen.
V

I
R

121

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 8.2. Pengukur Tegangan


8.1.2.4. Ohmmeter
Ohmmeter digunakan untu mengukur tahanan suatu sirkit atau komponen. Sebelum
melakukan pengukuran, lepaskan dahulu hubungan sirkit dari sumber tegangan untuk
mencegah rusaknya ohmmeter, dan lepaskan hubungan komponen yang akan diukur
dari bagian sirkit yang lain untuk menghindari kekeliruan dalam penunjukan yang
mungkin terjadi karena jalur-jalur tahanan yang paralel. Ohmmeter yang sederhana
memerlukan sumber listrik kering untuk mengalirkan arus melalui suatu
miliampermeter / mikroampermeter. Secara proporsional arus itu berbanding terbalik
dengan tahanan yang akan diukur. Suatu tahanan variabel akan menyebabkan
perubahan pada tegangan baterai dan penyesuaian indikasi tahanan nol ketika kedua
batang pengetes dipertemukan. Sebuah resistor tetap yang dihubungkan secara seri
membatasi arus sampai ukuran maksimum yang telah ditentukan, untuk menjaga
agar resistor variabel turun sampai nol.
8.1.2.5.

Frekwensimeter

Frekwensi listrik adalah menyatakan berapa kali terjadi perubahan polariteit dari
sumber arus bolak-balik. Herzt adalah satuan frekwensi listrik. Istilah Herzt adalah
menyatakan besarnya perubahan polarisasi setiap detik.
Frekwensi-meter adalah Alat untuk mengukur besarnya frekwensi listrik. Alat ini
hanya satu buah untuk satu generator dan dipasang pada papan pembagi utama (Main
Switch Board).
8.1.2.6.

Wattmeter

Daya adalah menyatakan berapa cepat suatu usaha dilakukan dan


dapat berupa
kerja mekanik atau energi listrik atau energi kalor. Watt adalah satuan daya. Istilah
Watt adalah menyatakan besarnya energi yg dikeluarkan setiap detik.
Besarnya daya listrik (Watt) dapat diperoleh dari hasil kali antara Ampere dan Volt.
Alat untuk mengukur besarnya daya listrik ialah Watt-meter, tapi lebih sering
digunakan yang lebih besar yaitu kW-meter (kilo Watt meter).
8.2.Mengenal Komponen Elektronika
Di sekitar tempat tinggal kita banyak sekali jaringan-jaringan kabel listrik yang
menghubungkan dari satu tiang ketiang lainnya atau dari suatu panel ke panel
lainnya di suatu kapal. Jaringan kabel listrik itu mengalirkan arus listrik dari suatu
tempat ke tempat lainnya. Kabel listrik yang di gunakan merupakan bahan
konduktor. Jadi konduktor adalah bahan yang dapat menghantarkan arus listrik.
Bahan-bahan yang termasuk konduktor adalah tembaga, alumunium, kuningan,
timah, perak air, dan lain sebagainya.
Jaringan kabel terbungkus oleh lapisan plastik atau karet. Lapisan karet atau plastik
mengisolasi antara satu kawat dengan kawat lainnya, sehingga antara satu kawat
dengan satu kawat lainnya tidak dapat berhubungan listrik. Isolator adalah bahan
yang tidak dapat dialiri arus listrik. bahan isolator adalah porselin, kaca, karet, plastik
dan lain-lain.

122

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Ada beberapa bahan yang telah kita kenal yaitu konduktor dan isolator. Maka
menurut sifat hambatan listriknya seperti emas mempunyai hambatan yang sangat
kecil. Karena ditinjau dari segi ekonomisnya emas tidak layak kalau dipergunakan
sebagai konduktor, maka digunakan tembaga sebagai konduktor. Bahan yang paling
besar sifat hambatannya terhadap arus listrik adalah sejenis isolator.

8.2.1. Resistor
Resistor yang digunakan dalam rangkaian elektronika beraneka ragam jenisnya;
dapat digolongkan menurut bahan, perubahan nilai serta dayanya. Ditinjau menurut
bahannya ada dua yaitu terbuat dari lilitan kawat dan dari carbon.
Resistor (R) mempunyai satuan yang dinyatakan dalam Ohm (), R yang berdaya
besar nilainya dinyatakan dalam bentuk angka pada badan resistor sedangkan pada R
yang berdaya kecil nilainya dinyatakan dalam bentuk kode warna seperti pada tabel
dibawah ini.
Tabel 6. Kode Warna Resistor

Warna
Hitam

Cincin I
angka ke 1

Cincin II
angka ke 2

Cincin III
angka ke 3

Cincin IV
toleransi

100

1%
2%

Coklat

10

Merah

102

10

Orange

Kuning

10

Hijau

105

Biru

10

Ungu

Abu-abu

Emas

Perak

10-1

10

-2

Putih

Tak warna

8.2.2. Kondensator

123

5%
10%
20%

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Kondensator atau kapasitor adalah salah satu komponen elektronika yang dapat
digunakan untk menyimpan energi listrik untuk beberapa lama.
Sifat-sifat kondensator adalah;
1. Dapat menyimpan energi listrik untuk beberapa lama.
2. Dapat meneruskan listrik arus bolak balik.
3. Tidak dapat meneruskan listrik arus searah.
Kondensator banyak sekali digunakan pada rangkaian elektronika, antara lain
digunakan untuk;
1. Menahan dan memblokir listrik arus searah.
2. Sebagai koupling listrik arus bolak balik.
3. Dapat menyimpangkan listrik arus bolak balik.
8.2.3. Diode
Diode adalah komponen elektronika yang mempunyai dua elektroda yaitu anoda (A)
dan katoda (K).
Ada jenis dioda yang apabila diberi tegangan maju dapat menimbulkan cahaya.
Dioda ini dinamakan LED (Light Emiting Diode). Tegangan maju artinya kaki (A)
dihubungan dengan kutub positif, kaki (K) dengan kutub negatif sumber tegangan.
8.2.4. Transistor
Transistor merupakan komponen elektronika yang mempunyai tiga elektroda yaitu;
enitor (E), bais (B) dan colektor (C). Transistor menurut jenisnya dibagi menjadi dua
yaitu; PNP (positif negatif positif) dan NPN (negatif positif negatif)
8.2.5. Saklar
Saklar adalah perangkap elektronika yang digunakan untuk memutuskan dan
menyambung rangkaian listrik. Ada bermacam-macam saklar yang digunakan dalam
rangkaian elektronika.
8.2.6. Transformator (Trafo)
Trafo adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk menaikan atau
menurunkan tegangan AC. Trafo yang digunakan pada sumber daya adaptor ada 2
jenis yaitu; trafo CT (center tap) dan trafo non CT (tidak pakai CT). Nilai yang
diperlihatkan pada trafo adalah kemampuan terhadap arus yang mengalir dan
dinyatakan dalam Ampere mA (mili Ampere) dan nilai tegangannya dinyatakan
dalam V (Volt).
8.2.7. Adaptor
Adaptor adalah suatu pesawat yang berfungsi untuk mengubah tegangan AC 220 V
menjadi tegangan DC yang tinggi tegangannya sesuai dengan kebutuhan.

124

Teknika Kapal Penangkap Ikan

8.3. MEMBACA RANGKAIAN ELEKTRONIK


8.3.1. Rangkaian Elektronika
Sistem elektronik telah banyak diterapkan pada hampir semua bidang kehidupan,
mulai dari komputer, PDA, alat komunikasi, televisi, tape,VCD/DVD player, radio,
piranti otomatis, robot, teknologi kedokteran, teknologi transportasi, hiburan, sampai
dengan penjelajahan ruang angkasa.
Rangkaian Elektronika adalah satu kesatuan dari komponen-komponen elektronika
baik pasif maupun aktif yang membentuk suatu fungsi pengolahan sinyal (signal
processing).
Sistem kendali balikan dapat dikelompokkan dalam sejumlah cara, tergantung pada
tujuan pengelompokan. Misalnya, menurut metode analisis dan perancangan, sistem
kendali dapat dikelompokkan sebagai Linear dan Non-Linear, varian waktu atau
invarian waktu.
Sistem kendali sering dikelompokkan menurut tujuan utama dari sistem. Misalnya
sistem kendali posisi dan sistem kendali kecepatan mengendalikan variable keluaran
menurut namanya..
Kelebihan dari system digital
1. Sistem digital secara umum lebih mudah dirancang
2. Penyimpanan informasi lebih mudah
3. Ketelitian lebih besar
4. Operasi dapat diprogram
5. Untai digital lebih kebal terhadap derau (noise)
6. Lebih banyak untai digital dapat dikemas dalam keping IC
8.3.2. Macam-macam Rangkaian Elektronika
Pemasangan komponen elektronika mempunyai beberapa tujuan, rangkaian yang
digunakan dalam pemasangannya ada tiga macam, yaitu hubungan seri, paralel dan
seri-paralel.
8.3.2.1.

Hubungan Seri

Apabila beberapa peralatan listrik dihubungakan secara berturut-turut (berderet)


disebut hubungan seri. Pada hubungan ini tidak ada arus yang dicabangkan, sehingga
seluruh bagian rangkaian deret mempunyai arus sama. Pada peralatan listrik maupun
elektronika terdapat hubungan seri resistor, seri elemen dan hubungan seri
kondensor. Beberapa hambatan (resistor) yang dihubungkan secara seri seperti
gambar di bawah ini.

R1

R2

R3

E1

E2

E3

125

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 8.3. Hubungan Deret


8.3.2.2.

Hubungan Paralel

8.3.2.3.

I1
R1

I2
I3
I

R2
R3
E

Gambar 8.4. Hubungan Paralel


Apabila beberapa peralatan elektronika dihubungkan secara paralel atau hubungan
sejajar seperti Gambar 8.4.
8.3.2.4.

Hubungan Seri-Paralel

Hubungan seri-paralel merupakan gabungan antara hubungan seri (deret) dan


hubungan paralel (jajar) yang terdapat pada elektronika.

I1

R1

I2

R2

I3

R3

----------

Rp1

R4

---------

------------------- Rp

Gambar 8.5. Hubungan Seri-Paralel


8.4. SIMBOL-SIMBOL RANGKAIAN ELEKTRONIKA

Simbol Resistor

126

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Simbol Potensiometer

Simbol Trimport

Simbol LDR

Simbol NTC

Simbol Kondensator non polar

Simbol Kondensator polar

Simbol Dioda

127

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Simbol LED

Transistor

Saklar
8.5. PENGUKURAN ELEKTRONIK DAN DIAKNOSIS KESALAHAN
Prinsip-prinsip dasar semua intrumentasi adalah intrumentasi tidak boleh bercampur
dengan sistem atau variabel yang sedang diukur. Supaya kondisi ideal dapat tercapai,
ampermeter harus mempunyai tahanan yang sangat rendah dan voltmeter harus
mempunyai tahanan yang sangat tinggi atau tidak terbatas.
Kriteria ini dipenuhi oleh instrumen sesuai dengan kepekaannya. Namun dampak
hubungan mungkin harus dipertimbangkan bila sebuah instrumen dipilih untuk
mengukur variabel.
Perlengkapan pengetesan yang umum digunakan dalam bidang elektronika adalah;
1.

Multimeter

2.

Penguji (tester) insulasi

3.

Osiloskop

4.

Generator sinyal

5.

Penguji transistor

8.5.1. Multimeter (Multitester)


Multimeter adalah alat pengukur kelistrikan serbaguna yang dapat digunakan untuk
mengukur arus listrik, tegangan listrik dan hambatan listrik. Multimeter disebut juga
Avometer singkatan dari Amperemeter, Voltmeter dan Ohmmeter. Ampermeter
adalah alat pengukur arus listrik DC dan Ohmmeter adalah alat pengukur hambatan
listrik sedangkan Voltmeter untuk mengukur tegangan listrik.
Voltmeter dibagi menjadi dua macam yaitu;

128

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1. Voltmeter DC (DCV) digunakan untuk mengukur tegangan DC


2. Voltmeter AC (ACV) digunakan untuk mengukur tegangan AC
Fungsi utama multimeter adalah untuk mengukur arus listrik DC (DC mA), tegangan
DC dan hambatan listrik, tetapi ada juga multimeter yang dilengkapi dengan
pengukur kondensator dan transistor serta. suhu. Sebelum praktek menggunakan
Avometer perlu mempelajri terlebih dahulu fungsi tiap bagian yang terdapat pada
panel skala.
Ada berbagai bentuk dan type multimeter yang beredar dipasaran, salah satunya
adalah seperti gambar dibawah ini,

Gambar 8.6 Multimeter


8.5.2. Pengujian Insulasi
Tahanan insulasi diantara komponen dalam sirkit sering perlu dilakukan pengetesan.
Megger pengetes insulasi digunakan pada sirkit kabel AC yang beroperasi. Untuk
membangkitkan tegangan tinggi, instrumen ini memakai generator yang diputar
dengan tangan dan diberikan pada dua titik dalam sirkit untuk diuji.

Gambar. 8.7. Insulation Tester


8.5.3. Osiloskop
Osiloskop atau CRD adalah alat yang sangat berguna dalam elektronika karena
membuat variabel yang sedang dilakukan pengukuran dapat dilihat. Instrumen ini
mempunyai impedansi input tingi, biasanya lebih baik dari pada 1 M, yang dapat
digunakan untuk membuat rentang pengukuran yang lebar.
8.5.4. Generator Sinyal

129

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Generator sinyal atau fungsi banyak digunakan dalam penservisan elektronik untuk
memberikan gelombang dengan bentuk tertentu, amplitudo dan frekwensi ke dalam
sirkit sehingga dapat diteliti lewat sirkit untuk menguji hasilnya. Hampir semua
generator fungsi mampu memproduksi gelombang sinusoidal, siku-siku, segi tiga,
dan gigi gergaji pada frekuensi yang variabel secara kontinue dari sepersekian hertz
sampai beberapa megahertz.
8.5.5. Pengujian Transistor
Ohmmeter dapat dipergunakan untuk menguji transistor dan diode apakah masih
berfungsi atau tidak.
8.5.6. Kapasitor
Kapasitor elektrolitik banyak dipakai dalam aplikasi elektronik, namun karena
pembalikan polaritas dapat menyebabkan dielektris berhenti bekerja karena terbentuk
oleh suatu film anodik dan terjadi bocor. Besarnya arus kebocoran biasanya sampai
sekitar 4 A, kalau diperlukan ukuran yang lebih baik, dianjurkan menggunakan
kapasitor tantalum padat.
8.5.7. Peralatan Servis Elektronika
Alat perkakas yang biasa digunakan pada saat menservis elektronika terdapat
berbagai jenis peralatan diantaranya;
1. Multimeter
2. Obeng min (-)
3. Obeng plus (+)
4. Kikir
5. Pelubang
6. Palu
7. Kunci-kunci
8. Gunting
9. Gergaji
10. Pinset
11. Solder baut
12. Solderring / Atractor
Alat yang sering digunakan untuk menyambung komponen-komponen elektronika
adalah solder.

130

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 8.8. Solder

131

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 9
MENGIDENTIFIKASI MESIN PENGGERAK UTAMA
9.1.

MESIN PENGGERAK UTAMA KAPAL PERIKANAN

Mesin penggerak utama harus dalam kondisi yang prima apabila kapal perikanan
akan memulai perjalanannya. Konstruksi mesin penggerak kapal seperti pada gambar
dibawah ini.

Gambar 9.1. Mesin Utama Penggerak Kapal


Motor penggerak utama kapal perikanan yang paling umum digunakan saat ini
adalah motor bensin dan motor diesel. Jadi mesin penggerak utama adalah mesin
yang langsung atau tidak langsung dipakai untuk menggerakan propeler atau balingbaling kapal.
Orang yang akan mengoperasikan, harus mampu mengenal bagian-bagian dari mesin
tersebut.
9.1.1. Motor Bensin
Motor bensin adalah motor yang bekerja dengan menggunakan bahan bakar bensin,
paraffin atau gas, bahan bakar yang mudah terbakar dan menguap. Campuran bahan
bakar dan udara masuk kedalam silinder dan dikompresikan oleh torak pada tekanan
8-15 bar atau 8-15 kg/cm.
Bahan bakar dinyalakan oleh sebuah loncatan bunga api dan terbakar cepat sekali di
dalam udara kompresi. Kecepatan pembakaran melalui campuran bahan bakar dan
udara biasanya 10-25 m/detik. Suhu udara naik hingga 2000-2500 C dan tekanan
30-40 bar atau 30-40 kg/cm. Tekanan ini yang mendorong torak menuju Titik Mati
Bawah (TMB) silinder. Secara sederhana, cara kerja dari motor bensin adalah

132

Teknika Kapal Penangkap Ikan

campuran bahan bakar dan udara masuk kedalam silinder, campuran yang sudah
bereaksi dikompresikan kemudian bahan bakar dinyalakan dengan bunga api listrik.
9.1.2. Motor Diesel
Motor Diesel adalah motor yang bekerja dengan menggunakan bahan bakar yang
lebih berat (minyak diesel/solar). Udara bersih masuk ke dalam silinder dan
dikompresikan oleh torak. Tekanan naik hingga 30-55 bar atau 30-50 kg/cm, suhu
udara naik hingga 700-900 C. Suhu udara kompresi terletak diatas suhu penyala
bahan bakar. Bahan bakar disemprotkan ke dalam udara kompresi yang panas
kemudian terbakar. Tekanan naik hingga 70-90 bar atau 70-90 kg/cm. Secara
sederhana, cara kerja dari motor diesel adalah udara bersih masuk ke dalam silinder,
udara dikompresikan kemudian bahan bakar disemprotkan dan terbakar oleh panas
udara kompresi.
9.2. PRINSIP KERJA MOTOR
Motor bensin dan motor diesel bekerja dengan gerakan torak bolak-balik. Motor
bensin dan diesel bekerja menurut prinsip kerja motor 4 tak atau 2 tak. Langkah (S)
adalah perjalanan torak dari Titik Mati Atas (TMA) menuju Titik Mati Bawah
(TMB). Dalam motor 4 tak, satu siklus kerja memerlukan 4 langkah ( dua putaran
poros engkol ) untuk menghasilkan tenaga.
9.2.1. Motor Bensin 4 Tak
Prinsip kerja dari motor bensin 4 tak secara sederhana dapat diuraikan sebagai
berikut :
1. Langkah Pemasukan

Torak bergerak menuju TMB, katup masuk membuka katup buang tertutup
sehingga terjadilah vakum di ruang silinder pada saat torak bergerak menuju
TMB, campuran bahan bakar udara mengalir ke dalam silinder melalui lubang
katup masuk. Campuran bahan bakar dan udara disemprotkan oleh karburator.
2. Langkah Kompresi

Bila torak telah melewati TMB, katup masuk menutup dan torak bergerak
menuju TMA, sementara katup buang masih menutup. Campuran bahan bakar
dan udara dikompresikan dan bila torak hampir mencapai TMA, campuran
dikompresikan kira-kira pada seperdelapan isi campuran pada waktu terjadi
langkah kompresi.
3. Langkah Usaha

Bila torak mencapai TMA, campuran bahan bakar dan udara dibakar dengan
bunga api yang dibangkitkan antara elektroda-elektroda busi sebagai akibat
pembakaran yang cepat, pada saat ini kedua katup (masuk dan buang) tertutup,
Tekanan mencapai 30-40 bar atau 30-40 kg/cm yang mengakibatkan torak
terdorong menuju TMB.
4. Langkah Pembuangan
Gas sisa pembakaran dikeluarkan dari dalam silinder melalui katup buang yang
terbuka, sementara katup pemasukan masih tertutup, pembuangan gas

133

Teknika Kapal Penangkap Ikan

berlangsung karena adanya dorongan torak yang bergerak dari TMB menuju
TMA, kemudian kembali lagi ke langkah pemasukan, demikian seterusnya

9.2.2. Motor Diesel 4 Tak


Prinsip kerja dari motor diesel 4 tak secara sederhana dapat diuraikan sebagai
berikut :
1. Langkah Pemasukan
Udara bersih masuk ke dalam silinder melalui katup masuk yang terbuka
sementara katup buang tertutup, torak bergerak dari TMA menuju TMB.
2. Langkah Kompresi
Torak dari TMB menuju TMA sementara katup masuk dan katup buang tertutup,
dan udara yang tersedia di dalam silinder dikompresikan menjadi seperduapuluh
bagian isi sebelumnya. Suhu udara kompresi mencapai 700-900 C. Pengabutan
bahan bakar terjadi pada akhir langkah kompresi, sebuah injektor mengabutkan
bahan bakar dengan tekanan yang tinggi. Bahan bakar terbakar oleh udara panas,
kemudian tekanan di dalam ruang bakar mencapai 70-90 kg/cm.
3. Langkah Usaha
Akibat tekanan yang tinggi, torak terdorong dari TMA menuju TMB, sementara
kedua katup dalam keadaan tertutup. Gaya torak yang dihasilkan kemudian
dipindahkan kepada poros engkol dan didistribusikan untuk menggerakkan motor
induk.

Gambar 9.2. Prinsip Kerja Motor Diesel 4 Langkah


4. Langkah Pembuangan
Gas sisa pembakaran dikeluarkan dari dalam silinder melalui katup buang yang
terbuka, sementara katup pemasukan masih tertutup, pembuangan gas
berlangsung karena adanya dorongan torak yang bergerak dari TMB menuju
TMA, kemudian kembali lagi ke langkah pemasukan, demikian seterusnya.
9.2.3. Motor Bensin 2 Tak

134

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Prinsip kerja dari motor bensin 2 tak secara sederhana dapat diuraikan sebagai
berikut :
1

Langkah pemasukan-kompresi
Torak bergerak menuju TMA, campuran bahan bakar dan udara masuk melalui
saluran pemasukan, kemudian dikompresikan dan dibakar dengan bunga api
listrik pada saat torak hampir mencapai TMA.

Langkah usaha-buang
Torak didorong ke bawah oleh tekanan pembakaran, campuran bahan bakar dan
udara di dalam lemari engkol dikompresikan bila torak menutup lubang masuk,
sementara pembuangan gas-gas sisa pembakaran berlangsung bila torak melewati
TMB dimana gas sisa pembakaran mengalir dari lemari engkol melalui saluran
pembuangan.

9.2.4. Motor Diesel 2 Tak


Prinsip kerja dari motor diesel 2
berikut :

tak secara sederhana dapat diuraikan sebagai

1. Langkah pemasukan-kompresi
Udara bersih di dalam silinder dikompresikan oleh torak, sebagai akibat dari
kenaikan tekanan maka suhu udara mencapai 700-900 C. Bahan bakar
disemprotkan atau diinjeksikan ke dalam udara panas dan terbakar dengan cara
yang sama seperti dalam motor diesel 4 tak.
2. Langkah usaha-buang
Torak bergerak menuju TMB oleh tekanan yang tinggi karena adanya
pembakaran. Dalam menunjang proses pembilasan, motor dilengkapi dengan
sebuah kompresor yang menekan udara bersih ke dalam ruang bilas, torak
menuju TMB, membuka lubang udara bilas sehingga udara mengalir ke dalam
silinder. Udara bilas menekan gas bekas melalui katup buang yang terbuka dan
keluar melalui saluran pembuangan.

Gambar 9.3. Prinsip Kerja Motor Diesel 2 Langkah


\

135

Teknika Kapal Penangkap Ikan

9.3.

PROSES PEMBAKARAN MOTOR DIESEL

Minyak bakar yang disemprotkan kedalam silinder berbentuk butir-butir cairan yang
halus. Oleh karena udara di dalam silinder pada saat tersebut sudah bertemperatur
dan bertekanan tinggi maka butir-butir tersebut akan menguap.
Penguapan butir bahan bakar itu dimulai pada bagian permukaan luarnya, yaitu
bagian yang terpanas. Uap bahan bakar yang terjadi itu bercampuran dengan udara
yang ada disekitarnya. Proses penguapan berlangsung terus menerus selama
temperatur sekitarnya mencukupi. Jadi proses penguapan terjadi berangsur-angsur,
demikian juga proses pencampurannya dengan udara. Maka pada suatu saat dimana
terjadi campuran bahan bakar-udara yang sebaik-baiknya.
Sedangkan proses pembakaran di dalam silinder juga terjadi secara berangsur-angsur
dimana proses pembakaran awal terjadi pada temperatur yang relatif lebih rendah
dan laju pembakarannya pun akan bertambah cepat. Hal itu disebabkan karena
pembakaran berikutnya berlangsung pada temperatur lebih tinggi.
Setiap butir bahan bakar mengalami proses tersebut diatas. Hal itu juga menunjukan
bahwa proses penyalaan bahan bakar di dalam motor diesel terjadi pada banyak
tempat, yaitu ditempat dimana terdapat campuran bahan bakar dengan udara yang
sebaik-baiknya untuk penyalaan. Sekali penyalaan dapat dilakukan, dimanapun juga
baik temperatur maupun tekanannya akan naik sehingga pembakaran akan
dilanjutkan dengan lebih cepat ke semua arah.

Gambar 9.4. Grafik Pembakaran Motor Diesel

136

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Keterangan :
A : Mulai penyemprotan bahan bakar
B : Mulai pembakaran bahan bakar
D : Akhir penyemprotan bahan bakar
E : Akhir pembakaran bahan bakar
A-B : Periode persiapan pembakaran
B-C : Periode pembakaran cepat
C-D : Pembakaran terkendali
D-E : Periode pembakaran susulan
Proses pembakaran dapat dipercepat antara lain dengan jalan memusar udara yang
masuk ke dalam silinder, yaitu untuk mempercepat dan mempebaiki proses
pencampuran bahan bakar dan udara.
Namun demikian jika pusaran udara begitu besar maka ada kemungkinan terjadi
kesukaran menyetart mesin dalam keadaan dingin. Hal itu disebabkan karena proses
pemindahan panas dari udara ke dinding silinder, yang masih dalam keadaan dingin,
menjadi lebih besar sehingga udara tersebut menjadi dingin.
Sebaliknya, jika mesin sudah panas temperatur udara sebelum langkah kompresi
menjadi lebih tinggi, sehingga dengan pusaran udara dapat diperoleh kenaikan
tekanan efektif rata-rata. Proses pembakaran motor diesel digambarkan menurut
grafik tekanan.
Periode pembakaran yang terjadi pada motor diesel :

Pertama: Periode pembakaran tertunda (Ignition delay period) (A-B)


Periode ini merupakan periode awal pembakaran dimana partikel bahan bakar
yang sangat halus menguap dan bercampur dengan udara sehingga dapat
berbentuk campuran yang mudah terbakar.
Dalam periode ini tekanan naik secara konstan sesuai dengan gerakan engkol.

Kedua : Periode perambatan api (B-C)


Pada akhir periode pertama tadi, di beberapa tempat campuran yang sangat
mudah menyala tadi mulai terbakar. Penyebaran api mulai berlangsung
sedemikian cepatnya sehingga terjadi letupan dan tekanan di dalam silinder naik
secara cepat pula. Oleh karena itu disebut pula periode pembakaran letupan.
Kenaikan tekanan dalam periode ini tergantung dari jumlah campuran yang
terbentuk dalam periode pertama.

Ketiga : Periode pembakaran langsung (C-D)


Bahan bakar yang langsung terbakar setelah disemprotkan pada periode ini
diakibatkan tidak adanya proses keterlambatan (delay) yang ditimbulkan oleh
lidah api di dalam silinder. Pembakaran dapat dikontrol dengan sejumlah bahan

137

Teknika Kapal Penangkap Ikan

bakar yang disemprotkan pada periode ini, oleh karenanya dapat pula disebut
periode kontrol pembakaran.

Keempat: Periode pembakaran lanjut (D-E)


Penyemprotan bahan bakar berakhir pada titik 0 TMA, tetapi bahan bakar yang
belum terbakar akan meneruskan pembakaran (hingga titik E). Jika periode ini
terlalu panjang, maka suhu gas buang akan bertambah dan daya guna menjadi
turun.
Bila perbandingan kompresi mesin berada diantara 15 sampai dengan 40 kg / cm2
maka tekanan udara yang dikompresikan akan mencapai 500 sampai dengan 700
0
C. Selanjutnya bahan bakar yang disemprotkan akan berada pada posisi dapat
terbakar sendiri, sehingga mudah terjadi proses pembakaran.

9.4.

KOMPONEN UTAMA MOTOR DIESEL

Komponen utama motor diesel terdiri dari beberapa bagian-bagian seperti tabung
silinder, kepala silinder, torak, batang engkol, poros engkol, nozzel dan lain-lain.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Keterangan:
1. Tabung silinder

2. Kepala silinder

3. Torak

4. Batang engkol

5. Poros engkol

6. Pipi engkol

7. Bantalan utama

8. Pena engkol

9. Nozzel

10. Cincin torak

11 Pena torak dan bantalanya


12. Katup masuk
14. Poros nok

13. Katup buang


15. Nok

16. Pengikut nok

17. Batang dorong

18. Lengan ayun

19. Pegas katup

20. Blok silinder

21. Landasan mesin

Gambar 9.5. Mesin diesel


9.4.1. Blok Silinder
Blok silinder merupakan inti dari pada motor yang terbuat dari besi tuang.
Belakangan ada beberapa blok silinder yang dibuat dari paduan aluminium. Seperti
kita ketahui, bahwa aluminium memiliki bobot yang lebih ringan dan dapat

138

Teknika Kapal Penangkap Ikan

meradiasikan panas lebih efisien dibandingkan dengan besi tuang. Blok silinder
dilengkapi rangka pada bagian dinding luar untuk memberikan kekuatan pada motor.
Blok silinder terdiri dari beberapa lubang tabung silinder, yang di dalamnya terdapat
torak yang bergerak turun naik. Silinder-silinder ditutup bagian atasnya oleh kepala
silinder yang dijamin oleh gasket kepala silinder yang letaknya antara blok silinder
dan kepala silinder.
Crankcase terpasang di bagian bawah blok silinder dan poros engkol dan bak oli
termasuk dalam crankcase. Poros nok juga diletakkan dalam blok silinder, hanya
pada tipe OHV (Over Head Valve). Pada motor modern poros nok berada di dalam
kepala silinder.
Silinder-silinder dikelilingi oleh mantel pendingin (water jacket) untuk membantu
pendinginan. Perleng-kapan lainnya seperti starter, alternator, pompa injeksi
dipasangkan pada bagian samping blok silinder.
9.4.2. Kepala Silinder
Kepala silinder dipasang di bagian atas blok silinder. Pada bagian bawah kepala
silinder terdapat ruang bakar dan katup-katup.
Kepala silinder harus tahan terhadap temperatur dan tekanan yang tinggi selama
mesin bekerja. Oleh sebab itu umumnya kepala silinder dibuat dari besi tuang.
Akhir-akhir ini banyak motor yang kepala silindernya dibuat dari paduan aluminium.
Kepala silinder yang terbuat dari aluminium memiliki kemampuan pendinginan lebih
besar dibanding dengan yang terbuat dari besi tuang.
Pada kepala silinder juga dilengkapi dengan mantel pendingin yang dialiri air
pendingin yang datang dari blok silinder untuk mendinginkan katup-katup dan busi
9.4.3. Gasket Kepala Silinder
Gasket kepala silinder (cylinder head gasket) letaknya antara blok silinder dan kepala
silinder, fungsinya untuk mencegah kebocoran gas pembakaran, air pendingin dan
minyak pelumas. Gasket kepala silinder harus tahan panas dan tekanan dalam setiap
perubahan temperatur. Umumnya gasket dibuat dari carbon clad sheet steel
(gabungan carbon dengan lempengan baja). Karbon itu sendiri melekat dengan
graphite, dan kedua-duanya berfungsi untuk mencegah kebocoran yang ditimbulkan
antara blok silinder dan kepala silinder, serta untuk menambah kemampuan melekat
pada gasket.
9.4.4. Bak Minyak Pelumas
Bagian bawah dari blok silinder disebut bak engkol (crankcase). Bak minyak
pelumas (oil pan) dibaut pada bak engkol dengan diberi packing seal atau gasket.
Bak minyak pelumas dibuat dari baja yang dicetak dan dilengkapi dengan penyekat
(separator) untuk menjaga agar permukaan minyak pelumas tetap rata ketika mesin
pada posisi miring. Bak minyak pelumas dirancang sedemikian rupa agar minyak
pelumas tidak berpindah (berubah posisi permukaannya) pada saat motor berhenti
secara tiba-tiba. Penyumbat (drain plug) letaknya dibagian bawah bak dan fungsinya
untuk mengeluarkan minyak pelumas bekas.

139

Teknika Kapal Penangkap Ikan

9.4.5. Torak
Torak bergerak turun naik di dalam slinder untuk melakukan langkah hisap,
kompresi, pembakaran, dan pembuangan. Fungsi utama torak adalah untuk
menerima tekanan pembakaran dan meneruskan tekanan untuk memutar poros
engkol melalui batang torak (connecting rod).
Torak terus menerus menerima temperatur dan tekanan yang tinggi sehingga harus
dapat tahan saat motor beroperasi pada kecepatan tinggi untuk periode waktu yang
lama. Pada umumnya torak dibuat dari paduan aluminium, selain lebih ringan,
radiasi panasnya juga lebih efisien dibandingkan dengan material lainnya.
9.4.6. Batang Torak
Batang torak (connecting rod) menghubungkan torak ke poros engkol dan
selanjutnya meneruskan tenaga yang dihasilkan oleh torak ke poros engkol. Bagian
ujung batang torak yang berhubungan dengan pena torak disebut small end. Sedang
yang lainnya yang berhubungan dengan poros engkol disebut big end.
Crankpin berputar pada kecepatan tinggi di dalam big end, dan mengakibatkan
temperatur menjadi tinggi. Untuk menghindari hal tersebut yang diakibatkan panas,
metal dipasangkan di dalam big end. Metal ini dilumasi dengan minyak pelumas dan
sebagian dari pelumas ini dipercikkan dari lubang oli ke bagian dalam torak untuk
mendinginkan torak.
9.4.7. Poros Engkol
Tenaga (torque) yang digunakan sebagai tenaga penggerak dihasilkan oleh gerakan
batang torak dan dirubah menjadi gerak putaran pada poros engkol. Poros engkol
menerima beban yang besar dari torak dan batang torak serta berputar pada
kecepatan tinggi. Dengan alasan tersebut poros engkol umumnya dibuat dari baja
karbon dengan tingkatan serta mempunyai daya tahan yang tinggi.
9.4.8. Roda Penerus
Roda penerus (flywheel) dibuat dari baja tuang dengan mutu yang tinggi yang diikat
oleh baut pada bagian belakang poros engkol. Poros engkol menerima tenaga putar
(rotational force) dari torak selama langkah usaha.
Roda penerus menyimpan tenaga putar (inertia) selama proses langkah lainnya
kecuali langkah usaha, oleh sebab itu poros engkol berputar secara terus menerus.
Roda penerus dilengkapi dengan ring gear yang dipasangkan di bagian luar gunanya
untuk perkaitan dengan gigi pinion dari motor starter.
9.4.9. Bantalan Poros Engkol
Crankpin dan journal poros engkol menerima beban yang besar (dari tekanan gas
pembakaran) dari torak dan berputar pada putaran tinggi. Oleh sebab itu digunakan
bantalan-bantalan antara pin dan journal yang dilumasi dengan minyak pelumas
untuk mencegah keausan serta mengurangi gesekan.
9.5.

SISTEM PENUNJANG PADA MOTOR DIESEL

140

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Sistem penunjang pada motor diesel ada beberapa macam antara lain yaitu:
9.5.1. Sistem Start
Menghidupkan motor secara manual membutuhkan gaya yang cukup besar karena
disebabkan kompresi yang sangat tinggi dari motor diesel, untuk mengatasi kesulitan
ini beberapa motor diesel dilengkapi dengan flywheel yang besar. Pada sistem ini gigi
berada tetap pada poros bubungan dan dihubungkan dari gigi poros penghidup
motor. Tangkai start dipasang dengan poros starter, pena dari poros dipasang pada
takik. Pada saat tangkai diputar clockwise, maka putarannya dipindahkan ke poros
bubungan dan poros engkol melalui roda-roda gigi.
Takik pada tangkai agak miring, sehingga apabila motor sudah hidup dan poros
starternya berputar lebih cepat dari pada tangkai starter, maka dengan sendirinya
tangkai akan lepas dari starter dengan cara pena lepas dari takiknya. Apabila motor
gagal dihidupkan, maka tangkai akan membalik sebab pena tetap berhubungan
dengan takiknya dan ini sangat berbahaya. Untuk menanggulangi kejadian seperti
itu, tangkai harus diputar sekuat mungkin agar tidak memutar balik. Setiap putaran
dari tangkai starter adalah sama dengan dua kali atau dua setengah kali putaran dari
poros engkol.
Pada motor yang dihidupkan dengan listrik, sistem start dibagi menjadi dua tipe yaitu
dengan motor starter dan dengan dinamostarter. Pada tipe motor starter, sistem starter
terdiri dari baterai, motor starter, saklar dan kabel-kabel. Motor starter adalah
mengubah tenaga listrik menjadi tenaga mekanik yang diperlukan untuk memutarkan
motor waktu distarter.
Motor starter digunakan untuk menghasilkan momen yang besar guna melawan
tahanan, misalnya gesekan-gesekan dan tekanan kompresi. Gigi pinion starter selalu
dihubungkan ke roda penerus dan dilepaskan bila motor telah hidup. Baterai adalah
bagian dari sistem starter tetapi juga adalah bagian dari sistem yang lain seperti juga
kabel starter selalu merupakan bagian dari sistem yang lain.
Saklar starter yang digerakkan oleh suatu relai (selenoid switch) yang bekerja sebagai
starter switch. Relai atau selenoid bekerja menghubungkan rangkaian starter dan
bekerja merangkaikan starter pinion kepada roda gigi penerus. Starter tidaklah
direncanakan untuk terus berputar, karena bila terus berputar akan terlalu panas dan
rusak karena arusnya besar.
Pada sistem dinamostarter, dinamostarter bekerja sebagai generator dan sekaligus
sebagai motor. Dinamostarter digerakkan oleh gaya dengan menggunakan V-belt dan
mulai bekerja setelah kontak pengapiannya diputar. Apabila kecepatan motor tidak
bisa naik, maka tegangan V-belt perlu disetel. Tidak sama dengan tipe motor starter,
maka pada dinamostarter secara terpisah dilengkapi dengan sebuah kontak magnet.
Sistem start yang lainnya adalah dengan menggunakan udara tekan. Udara yang
akan digunakan untuk start diambil dari udara bebas dengan menggunakan
kompresor udara. Kompresor udara dijalankan untuk memasukkan udara yang
dikompresi ke dalam tempat penyimpanan udara. Pada waktu melakukan start, katup
tempat penyimpanan udara dibuka dan katup udara start dibuka. Motor mulai bekerja
untuk membakar bahan bakar dengan mekanisme torak yang ditekan oleh udara
permulaan

141

Teknika Kapal Penangkap Ikan

9.5.2. Sistem Pendinginan


Pada motor bakar terjadi pembakaran bahan bakar di dalam silinder yang selanjutnya
dirubah dari energi panas menjadi energi gerak. Energi panas yang dihasilkan tidak
semuanya dirubah menjadi tenaga, hanya kira-kira 25% energi yang dimanfaatkan
secara efektif, sedangkan kira-kira 45% lainnya hilang saat gas buang atau gesekan
dan 30% diserap oleh motor itu sendiri.
Kondisi panas yang berlebihan dapat mempercepat terjadinya keausan. Untuk
mengantisipasi kondisi tersebut, maka dilengkapilah sistem pendinginan di dalam
motor induk untuk mencegah panas yang berlebihan.
Salah satu media yang biasa digunakan untuk pendinginan motor induk adalah air.
Sirkulasi air pendingin dilakukan dengan menggunakan pompa pendingin. Di dalam
sistem pendinginan terdapat saluran untuk menghubung singkatkan thermostat dan
lubang hisap pompa air pendingin. Apabila temperatur air pendingin di dalam blok
silinder sudah mencapai temperatur tertentu, thermostat akan membuka saluran ke
radiator dan menutup saluran dari thermostat ke lubang isap pompa. Sistem
pendingin air dilengkapi oleh water jacket, pompa air, radiator, thermostat dan lainlain.
Sistem pendinginan motor terdapat 2 (dua) macam yaitu; pertama disebut sistem
pendinginan langsung yang hanya menggunakan air laut untuk mendinginkan motor
induk. Air pendingin diambil dari laut dengan pompa pendingin, disalurkan melalui
silinder blok, kepala silinder, pendinginan minyak lumas dan sebagainya hingga
akhirnya kembali ke laut. Sistem pendinginan yang lainnya disebut pendinginan air
tawar atau sistem pendinginan tidak langsung. Pendinginan ini dilengkapi dengan
tangki air tawar yang dihubungkan dengan alat perpindahan panas untuk dapat
mendinginkan air tawarnya dengan air laut. Air tawar tidak hanya mengisi tangki
saja tetapi juga mengisi mantel air dari blok silinder dan kepala silinder dan mengalir
berputar dengan tekanan dari pompa air (disebut juga pompa air tawar). Apabila
motor panas dan suhu air tawar naik, maka alat perpindahan panas (pendingin air
tawar) akan memindahkan panas dari air tawar ke air laut. Seperti pada pendinginan
langsung, maka air laut diambil dengan pompa air laut.
Pada sistem pendinginan air tawar dilengkapi dengan thermostat pada sirkuit air
tawar. Alat ini berfungsi untuk menjaga agar suhu air tawar tetap pada suhu 60-80C.
Apabila suhu air pendingin terlalu tinggi, maka dapat menyebabkan keausan atau
kerusakan pada permukaan silinder, kepala silinder dan torak.
9.5.3. Sistem Pelumasan
Motor terdiri dari bagian-bagian logam (metal parts) yang bergerak, beberapa
dintaranya ada yang berhubungan langsung secara tetap satu dengan lainnya. Saat
motor mulai berputar, gesekan-gesekan yang terjadi antara bagian-bagian motor akan
menyebabkan hilangnya tenaga, dan bagian-bagian motor tersebut menjadi aus.
Minyak pelumas melumasi secara kontinyu ke bagian-bagian motor untuk mencegah
keausan. Minyak pelumas ini diatur oleh sistem pelumasan pada motor induk.
Minyak pelumas dihisap oleh pompa dari karter melalui sebuah saringan, dan
melalui saringan lain minyak ditekan ke poros engkol dan kepala silinder. Dari sini,
minyak menetes ke dalam ruang sekitar batang pendorong dan kembali ke dalam

142

Teknika Kapal Penangkap Ikan

karter. Pompa minyak digerakkan oleh poros bubungan yang dihubungkan dengan
ujung poros pompa. Pompa yang umumnya digunakan adalah pompa jenis trochoida.
Macam-macam sistem pelumasan yang biasa digunakan pada kapal yaitu sistem
pelumasan sump kering, sistem pelumasan sump basah dan sistem pelumasan sump
gabungan.
9.5.4. Sistem Bahan Bakar
Pada sistem bahan bakar motor diesel, feed pump menghisap bahan bakar dari tangki
bahan bakar. Bahan bakar disaring oleh fuel filter dan kandungan air yang terdapat
pada bahan bakar dipisahkan oleh fuel sedimenter sebelum dialirkan ke pompa
injeksi bahan bakar.
Rakitan pompa injeksi terdiri dari pompa injeksi, governor, timer dan feed pump.
Ada dua tipe pompa injeksi yaitu tipe distributor dan tipe in-line. Dengan digerakkan
oleh motor, pompa injeksi menekan bahan bakar dan mengalirkannya melalui
delivery line ke injection nozzle, dan selanjutnya diinjeksikan ke dalam silinder
menurut urutan pengapian.

Gambar 9.6. Sistem Bahan Bakar


Keterangan :
1. Tangki harian
2. Saringan utama
3. Pompa penyalur
4. Strainer
5. Pompa tekanan tinggi
6. Distributor
7. Motor induk
8. Motor generator
9. Pipa tekanan tinggi
10. Pengabut (nozzle)
11. Pipa pengembali bahan bakar

143

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 10
MENERAPKAN HUKUM LAUT

Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan yang bersifat memaksa yang


mengurus tata tertib suatu lingkungan masyarakat.
Hukum Maritim adalah hukum yang mengatur pelayaran dalam arti
pengangkutan barang dan orang melalui laut, kegiatan kenavigasian dan
perkapalan sebagai sarana/moda transportasi laut termasuk aspek keselamatan
maupun kegiatan-kegiatan yang terkait langsung dengan perdagangan melalui
laut yang diatur dalam hukum perdata/dagang maupun hukum publik.
Hukum laut ialah hukum yang mengatur laut sebagai objek dengan
mempertimbangkan seluruh aspek kehidupan dan kepentingan seluruh Negara
termasuk yang tidak berpantai
guna pemanfaatan laut dengan seluruh potensi yang terkandung didalamnya
bagi umat manusia sebagaimana tercantum dalam UNCLOS 1982 beserta
konvensi-konvensi internasional yang terkait dengannya.
Sumber hukum antara lain :
1. Undang-undang

Dalam arti yang luas meliputi setiap keputusan Pemerintah yang merupakan
ketentuan yang mengikat.
2. Kebiasaan.

Apabila suatu kebiasaan tertentu diterima oleh masayarakat maka dengan


demikian timbullah suatu kebiasaan hukum yang oleh pergaulan hidup
dipandang sebagai hukum. Dalam KUHPER pasal 1339 disebutkan
persetu-juan-persetujuan tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan
tegas dinyatakan didalamnya tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut
sifat persetujuannya diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undangundang.
3. Yurisprudensi.

Apabila undang-undang yang mengatur belum ada yang dapat dipakai untuk
menyelesaikan perkara maka putusan hakim dari pengadilan terdahulu dapat
dipakai sebagai sumber hukum.
4. Ilmu pengetahuan

Sebelum memutuskan suatu keputusan para hakim mengkaji tentang apa


yang ditulis dalam buku-buku dan penerbitan penerbitan ilmiah mengenai
suatu persoalan atau apa yang dibicarakan dalam pertemuan ilmiah.

135
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5. Perjanjian.

Apabila dua atau lebih pihak mengadakan perjanjian maka pihak-pihak


yang bersangkutan akan terikat pada isi perjanjian yang mereka adakan
tersebut.
10.1.

PENDAFTARAN KAPAL

Sebagai bukti kepemilikan dan syarat pengoperasian di dalam melakukan


pelayaran, maka setiap kapal wajib didaftarkan oleh pemiliknya. Persyaratan
pendaftaran kapal sebagai berikut :
10.1.1.Kapal
Definisinya adalah :
1.

Kapal adalah semua alat berlayar, apapun namanya dan sifatnya. (KUHD
ps.309)

2.

Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun yang
digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin atau ditunda, termasuk
kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan
air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindahpindah.(UU No. 21 Tahun 1992 ttg.Pelayaran)

10.1.2. Pendaftaran
Menurut UNCLOS 1982 ps.92: Kapal-kapal harus berlayar hanya dibawah
bendera dari suatu Negara. Untuk mendapatkan kebangsaan kapal harus
didaftarkan. Di dunia dikenal 2 sistim pendaftaran.
1.

Sistim Tertutup (closed system)

2.

Dimana yang boleh didaftarkan untuk mendapatkan kebangsaan Negara itu


hanya kapal-kapal milik warga negara atau badan hukum yang didirikan
berdarkan undang-undang negara tersebut. Contoh Indonesia.

3.

Sistim terbuka (opened system)

4.

kapal yang didaftarkan tidak harus milik warga negara atau badan hukum
negara tersebut. Contoh Panama, Liberia, Belize, Cyprus d.l.l

Indonesia menganut sistim tertutup dimana yang boleh didaftarkan menjadi


kapal Indonesia hanya kapal-kapal milik WNI atau perusahan berbadan hukum
Indonesia. Menurut KUHD ps.314 kapal-kapal Indonesia yang berukuran
paling sedikit 20 meter kubik (GT 7) dapat didaftarkan didalam suatu register
kapal. Kapal yang sudah didaftarkan statusnya disamakan dengan benda tak
bergerak .Terhadap benda tak bergerak dapat dibebankan hypotik sedang
terhadap bergerak hanya boleh digadaikan.
10.1.2.1. Persyaratan Pendaftaran
1.

Bukti kepemilikan.

2.

Bukti kewarganegaraan.

136
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3.

Surat ukur

4.

Surat permohonan untuk didaftarkan sebagai kapal Indonesia.

5.

Kalau dibeli dari Luar Negeri harus dilampirkan bukti pencoretan dari
pendaftaran Negara terdahulu. (Deletion Certificate)

10.1.2.2. Pencatatan
Pendaftaran kapal dicatat dalam :
1.

Daftar harian

2.

Daftar induk

3.

Daftar pusat

10.1.2.3. Akte
Kapal yang sudah didaftarkan diberikan Groose Akte yang berisi:
1.

Nomor dan tanggal akte

2.

Nama dan tempat kedudukan Pejabat pendaftaran kapal

3.

Nama dan domisili pemilik

4.

Data kapal, dan Uraian singkat kepemilikan kapal

10.1.3. Kebangsaan
Kapal yang sudah didaftarkan diberi Surat Kebangsaan. Dikapal berbendera
Indonesia dikenal beberapa jenis Surat Kebangsaan.
10.1.3.1. Jenis-Jenis Surat Kebangsaan
1.

Surat Laut untuk kapal ukuran GT 175 atau lebih (> 500m2).

2.

Pas Tahunan untuk kapal ukuran antara GT 7 dan 175 (20m2 - 500 m2)

3.

Pas Kecil untuk kapal ukuran kurang dari GT 7 (<20m2)

4.

Surat ijin Sementara untuk kapal yang proses pendaftarannya belum selesai

10.1.3.2. Kapal Dicoret Dari Daftar


Kapal dicoret dari daftar apabila ada parmintaan tertulis dari pemilik dengan
alasan sebagai berikut:
1.

Kapal tenggelam

2.

kapal dirampas bajak laut

3.

Kapal hilang

4.

Kapal discrap

5.

Kapal beralih kepemilikan kepada warga negara asing. Pemilik


mengajukan permohonan pencoretan kepada Pejabat pendaftaran,
pecoretan dilakukan oleh Pejabat pendaftaran.

137
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

10.2.

PERUSAHAAN PELAYARAN

1.

Pengusaha kapal adalah seseorang yang memakai sebuah kapal untuk


pelayaran dilaut baik dikemudikan sendiri atau oleh seorang Nakhoda yang
bekerja padanya. (KUHD ps.320)

2.

Perusahaan Angkutan Laut Nasional adalah perusahaan angkutan Laut


berbadan hukum Indonesia yang melakukan kegiatan angkutan laut di
dalam wilayah perairan Indonesia dan atau dari dan ke pelabuhan luar
negeri. (PP 82 1999 ttg Angkutan di perairan.)

3.

Perusahaan Angkutan Laut Asing adalah perusahaan angkutan laut


berbadan hukum asing (foreign shipping company) yang kapal-kapalnya
melakukan kegiatan angkutan laut ke dan dari pelabuhan Indonesia

4.

Perusahaan Pelayaran Rakyat adalah perusahaan angkutan laut berbadan


hukum Indonesia yang dalam melakukan kegiatan usahanya dengan
menggunakan kapal layar, kapal layar motor tradisional dan atau kapal
motor dengan ukuran tertentu.

10.2.1. Penyelenggara
Penyelenggaraan angkutan laut di dalam negeri dilakukan:
1.

Oleh perusahaan angkutan laut nasional

2.

Dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia

3.

Untuk dapat menghubungkan pelabuhan laut antar pulau atau angkutan


laut lepas pantai di wilayah perairan aindonesia.

10.2.2. Mendirikan Perusahaan


Persyaratan mendirikan Perusahaan Pelayaran.
1.

Memiliki akte pendirian perusahaan

2.

Memiliki kapal berbendera Indonesia dengan ukuran GT 175 atau lebih


atau kapal tunda 150 TK dan tongkang ukuran GT 175 atau lebih.

3.

Kapal berbendera Indonesia yang berstatus leasing, disewa dari perusahaan


leasing dan adanya pernyataan dari pemilik kapal bahwa tidak berkeberatan
kapalnya digunakan sebagai persyaratan izin usaha.

4.

Memiliki tenaga ahli setingkat Diploma III dibidang ketatalak-sanaan


pelayaran niaga, dan atau ijazah nautika dan/atau tehnika pelayaran niaga.

5.

Memiliki penanggung lawab perusahaan.

6.

Memiliki NPWP.

10.3.

AWAK KAPAL

Didalam beroperasi setiap kapal dioperasionalkan oleh awak kapal, dengan


tugas dan tangungjawabnya masing-masing antara lain :

138
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

10.3.1. Definisi-Definisinya
1.

Awak Kapal adalah orang yang bekerja atau dipekerjakan diatas kapal oleh
pemilik, atau operator kapal untuk melakukan tugas diatas kapal sesuai
dengan jabatannya yang tercantum dalam buku sijil (UU No.21 /1992)

2.

Nakhoda adalah seorang dari awak kapal yang menjadi pimpinan umum
diatas kapal serta mempunyai wewenang dan tanggung jawab tertentu
sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku (UU
No.21/1992)

3.

Nakhoda adalah orang yang memimpin kapal (KUHD ps 341)

4.

Pemimpin kapal adalah seorang dari awak kapal yang menjadi pimpinan
umum diatas kapal untuk jenis dan ukuran tertentu serta mempunyai
wewenang dan tanggung jawab tertentu berbeda dengan yang dimiliki
Nakhoda. (UU No.21)

5.

Anak Kapal adalah mereka yang namanya tercantum dalam daftar anak
kapal. (KUHD)

6.

Anak Buah Kapal adalah awak kapal selain Nakhoda atau pemimpin kapal.
(UU No.21):

7.

Pelayar : Semua orang yang ada dikapal (UU No.21)

8.

Perwira adalah mereka yang dalam daftar anak kapal diberikan pangkat
sebagai Perwira (KUHD)

9.

Pelaut adalah setiap orang yang mempunyai kualifikasi keahlian atau


keterampilan sebagai awak kapal (PP 7/2000)

10.3.2. Hak-hak Awak Kapal


1.

Hak atas upah

2.

Hak atas permakanan dan penginapan dikapal

3.

Hak atas cuti

4.

Hak atas perawatan kalau sakit dikapal

5.

Hak atas angkutan bebas.

10.3.3. Kewajiban Awak Kapal


1.

Mentaati perintah Perusahaan

2.

Bekerja sesuai dengan jangka waktu perjanjian

3.

Melaksanakan tugas sesuai jam kerja yang ditetapkan

10.4.

PERJANJIAN KERJA LAUT

Pelaut tidak harus bernegosiasi setiap pembuatan perjanjian, karena perjanjian


tidak boleh bertentangan dengan KKB.

139
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

10.4.1. Definisi-Definisi
1.

Perjanjian Kerja Laut (PKL) adalah perjanjian yang dibuat antara seorang
pengusaha kapal disatu pihak dengan seorang buruh dipihak lain, dengan
mana pihak tersebut terakhir menyanggupi untuk dibawah perintah pengusaha itu melakukan pekerjaan dengan mendapat upah baik sebagai nakhoda
atau anak kapal. (KUHD ps 395).

2.

Perjanjian Kerja Laut (PKL) adalah perjanjian kerja perorangan yang


ditanda tangani oleh pelaut Indonesia dengan pengusaha angkutan di
perairan (PP 7 thn.2000)

3.

Menurut KUHD PKL antara pengusaha kapal harus dibuat tertulis tetapi
tidak harus dihadapan pejabat Pemerintah, tetapi PKL untuk anak kapal
harus tertulis dan dibuat dihadapan pejabat Pemerintah.

4.

Tetapi sesuai Peraturan Pemerintah No.7 tahun 2000 semua PKL harus
diketahui oleh Pejabat Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri.

5.

Selain dari PKL kita mengenal Perjanjian Kerja Kolektif (PKK) atau
disebut juga Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) yaitu perjanjian antara
satu atau beberapa pengusaha kapal dengan satu atau beberapa organisasi
perburuhan.

10.4.1.1.Pesyaratan Bekerja di Kapal


1.

Berumur sekurang-kurangnya 18 tahun

2.

Sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan dari rumah sakit
yang ditunjuk pemerintah.

3.

Memiliki sertifikat Keahlian Pelaut dan/atau Sertifikat Keterampilan Pelaut

4.

Disijil.

Gambar. 10.1. Buku Pelaut


10.4.2. Isi Perjanjian Kerja
1.

Nama dari Pengusaha dan pelaut.

2.

Tanggal pembuatan

140
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3.

Jenis PKL

4.

Hak-hak pelaut termasuk upah.

5.

Kewajiban Pelaut

6.

Hak pengusaha

7.

Kewajiban pengusaha

8.

Jabatan dikapal.

10.4.2.1.Jenis-Jenis Perjanjian Kerja Laut


1.

Untuk waktu tertentu

2.

Untuk satu perjalanan atau lebih

3.

Untuk waktu tak tertentu

10.4.3. Pengakhiran Hubungan Kerja


Pengakhiran ikatan kerja dapat dilakukan dengan secara sah dan tidak sah.
Pengakhiran secara sah.
1.

Kedua belah pihak menyetujui.

2.

PKL sudah berakhir.

3.

Salah satu pihak membayar kompensasi

4.

Pelaut meninggal dunia

5.

Alasan mendesak

6.

Alasan penting.

Alasan mendesak bagi majikan ialah tindakan, sifat atau prilaku pihak buruh
yang mengakibatkan bahwa dari pihak majikan secara wajar tidak dapat
dibenarkan (tolerir) untuk melanjutkan hubungan kerja. Misalnya:
1.

Pelaut menipu waktu pembuatan PKL

2.

Tidak cakap untuk melakukan tugasnya.

3.

Suka mabuk, madat dan perbuat- an buruk lainnya

4.

Mencuri atau melakukan penggelapan

5.

Menganiaya, menghina majikan atau teman sekerja.

6.

Menolak perintah majikan/atasan.

7.

Dicabut kewenangan untuk bekerja dikapal

8.

Membawa barang selundupan

Alasan mendesak dari pihak buruh adalah keadaan yang mengakibatkan pihak
buruh secara wajar tidak dapat ditolerir untuk melanjutkan hubungan kerja,
misalnya:
1.

Majikan menganiaya, mengancam atau menghina secara kasar.

141
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2.

Membujuk untuk berbuat hal-hal yang bertentangan dengan undangundang.

3.

Tidak membayar upah pada waktunya.

4.

Melalaikan kewajiban yang dibebankan dalam PKL.

5.

Bila kapal dioperasikan untuk penyelundupan

6.

Bila makanan tidak layak.

7.

Bila tempat tinggal dikapal jelek sehingga mempengaruhi kesehatan

Bila PKL ingin diputuskan dengan alasan mendesak maka harus disampaikan
secepat mungkin kepada pihak lain. Apabila tidak disampaikan secepat
mungkin maka alasan mendesak berubah menjadi alasan penting. Untuk
pemutusan dengan alasan penting harus diajukan melalui Pengadilan Negeri
atau kalau diluar Negeri melalui Perwakilan R.I
10.4.4. S i j i l
1.

Setiap pelaut yang bekerja dikapal dengan ukurang dari GT 35 untuk kapal
jenis tertentu (kapal mooring, kapal yang melayani pemboran lepas pantai),
ukuran GT 35 atau lebih untuk yang digerakkan dengan tenaga penggerak
mesin, dan ukuran GT 105 atau lebih untuk kapal tanpa tenaga penggerak
mesin, harus disijil oleh pejabat Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri.

2.

Pemilik kapal yang mempeker-jakan pelaut tanpa disijil diancam hukuman


6 bulan penjara atau denda 12 juta rupiah serta Nakhoda yang
mempekerjakan pelaut tanpa disijil diancam hukuman 3 bulan penjara atau
denda 6 juta rupiah (UU No.21 ps.117)

3.

Yang dimaksud dengan disijil adalah memasukkan kedalam Buku Sijil


yang merupakan buku yang berisi daftar awak kapal yang bekerja diatas
kapal. Sesuai dengan jabatannya setelah memenuhi persyaratan tertentu..

4.

Sijil awak kapal diatur dalam pasal 341, 375 dan 376 KUHD dan
mempunyai sifat deklaratif saja.

5.

Menurut KUHD sijil kapal adalah daftar dari semua orang yang harus
melakukan dinas sebagai anak kapal. Dinas anak kapal adalah pekerjaan
yang dilakukan oleh mereka yang diterima untuk bekerja dikapal kecuali
pekerjaan Nakhoda.
Bagi Pelaut yang telah disijilkan dapat diberikan Buku Pelaut. Buku Pelaut
adalah merupakan identitas bagi pelaut dan berlaku sebagai dokumen
perjalanan bagi pelaut yang akan naik kapal di luar negeri atau menuju
Indonesia setelah turun dari kapal di luar negeri. Buku pelaut berisi datadata dari pelaut seperti : nama, tempat dan tanggal lahir, kebangsaan, ijazah
yang dimiliki serta pengalaman berlayar (naik turun dari kapal ).

142
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

10.5.

KELAIKLAUTAN KAPAL

Menurut Undang-Undang No.21 thn 1992 kelaiklautan kapal adalah keadaan


kapal yang memenuhi persyaratan:
10.5.1. Keselamatan kapal.
Keselamatan kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan material,
konstruksi, bangunan, permesinan dan pelistrikan, stabilitas, tata susunan serta
perlengkapan termasuk radio dan eletronika kapal. Persyaratan keselamatan
kapal diatur berdasarkan SOLAS 1974
Untuk kapal-kapal yang dikecualikan dari SOLAS seperti:
1.

Kapal yang dibangun secara tradisional

2.

Kapal motor dengan tonase kurang dari GT 35

3.

Kapal penangkap ikan

4.

Kapal yang tidak memiliki tenaga penggerak sendiri dan tidak berawak

5.

Kapal pesiar yang tidak digunakan untuk kegiatan niaga

6.

Kapal yang diperuntukkan berlayar di perairan daratan.

10.5.2. Pencegahan Pencemaran


Pencegahan pencemaran dari kapal diatur berdasarkan Konvensi Internasional
untuk pencegahan pencemaran dari kapal (MARPOL 73/78) MARPOL 73/78
terdiri dari 6 lampiran (Annex)
1.

Annex I Peraturan pencegahan pencemaran oleh minyak.

2.

Annex II Peraturan pengawasan pencemaran oleh zat cair beracun yang


diangkut dalam bentuk curah.

3.

Annex III Peraturan pencegahan pencemaran oleh barang berbahaya yang


diangkut dalam kemasan.

4.

Annex IV Peraturan pencegahan pencemaran oleh kotoran (sewage) dari


kapal.

5.

Annex V Peraturan pencegahan pencemaran oleh sampah dari kapal.

6.

Annex VI Peraturan pencegahan pencemaran udara dari cerobong kapal.

Bagi kapal-kapal yang telah memenuhi persyaratan sesuai masing-masing


Annex diterbitkan
sertifikat. Bagi kapal-kapal yang telah memenuhi
persyaratan sesuai Annex I diberikan Serifikat Pencegahan Pencemaran oleh
Minyak atau Internationan Oil \Pollution Prevention Certificate (IOPP Cert.).
Sertifikat diwajibkan bagi kapal tanker > GT 150 dan Non tanker ukuran > GT
400. Kapal-kapal tersebut harus dilengkapi dengan OWS, ODM and Control
system serta slop tank. Disamping itu kapal tersebut harus menyelengga-rakan
Buku Catatan Minyak (Oil Record Book ). Buku bagianI untuk ruang
permesinan, buku bagian II untuk ruang muatan.
Hal-hal yang harus dicatat dalam Oil Record Book Bag.I:

143
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1.

Pengisian ballast atau pencucian tanki bahan bakar.

2.

Pembuangan balast kotor atau air pencuci tanki bahan bakar.

3.

Pengumpulan atau pembuangan residu (sludge)

4.

Pembuangan air got kamar mesin.

5.

Kondisi dari OWS dan ODM.

6.

Pembuangan minyak karena kecelakaan.

7.

Pengisian bahan bakar dan minyak lumas.

Hal hal yang dicatat dalam Oil Record Book bag.II:


1.

Pemuatan minyak.

2.

Pemindahan internal muatan minyak

3.

Pembongkaran minyak

4.

Penggunaan crude oil washing

5.

Pengisian/pembuangan balast ke/dari tanki muat

6.

Pengisian /balast balast ke/dari dedicated ballast tank.

7.

Pencucian tanki muatan.

8.

Pembuangan balast kotor dan pembuangan dari slop tank

9.

Kondisi dari OWS dan ODM and control system

10.5.2.1.Aturan Pembuangan Minyak/ Campuran Berminyak


Aturan didalam membuang limbah minyak atau campuran minyak tidak boleh
dilanggar harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
seperti di bawah ini :
10.5.2.2. Ruang Mesin
1.

Kapal berada diluar daerah khusus

2.

Kapal sedang berlayar

3.

Kadar kandungan minyak tidak melebihi 15 ppm

4.

Kapal dioperasikan dengan peralatan OWS dan ODM

10.5.2.3. Ruang Muat


1.

Kapal berada diluar daerah khusus

2.

Kapal berada lebih dari 50 mil dari daratan

3.

Kapal dalam keadaan berlayar

4.

Kecepatan pembuangan 30 liter per mil

5.

Jumlah yang dibuang tidak melebihi 1/30.000 DWT untuk kapal baru dan
1/15.000 DWT untuk kapal lama.

144
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Pengecualian
1. Pembuangan untuk menyelamat-kan jiwa manusia atau kapal.
2. Karena kerusakan peralatan namun telah ditempuh segala usaha untuk
mencegah/ mengurangi pencemaran.
3. Telah diizinkan Pemerintah
10.5.2.4. Sanksi
1. Sanksi Pidana
Terhadap semua orang yang berbuat, sesuai UU No.21/1992 pasal 119 dan
120. Dimana ditulis barang siapa yang melakukan pembuangan limbah atau
bahan lain dari kapal tidak memenuhi persyaratan dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 tahun atau denda setinggi-tinggi nya 120 juta rupiah.
Kalau pencemaran itu mengakibatkan tercemarnya lingkungan hidup
dipidana penjara paling lama 10 tahun atau denda setinggi-tingginya 240 juta
rupiah.
2. Sanksi Perdata.
Berupa tuntutan ganti rugi yang ditujukan kepada pemilik kapal. Karena
tuntutan ganti rugi jumlahnya besar maka kapal tanker dengan DWT 2000
atau lebih harus menjadi anggota CLC.
10.5.3. Pengawakan
Kapal harus diawaki dengan awak kapal yang cukup, cakap dan memiliki
sertifikat yang diharuskan serta sehat jasmani dan rohani sesuai pemeriksaan
dari rumah sakit yang ditunjuk Pemeritah.
Setiap awak kapal harus familiar dengan tugas-tugasnya dikapal dan menguasai
peralatan yang ada dikapal serta dapat berkoodinasi dengan baik dalam
menanggulangi keadaan darurat. Jumlah awak kapal minimum sesuai dengan
Safe Manning Certificate dan susunan Perwiranya sesuai ketentuan Pemerintah.
10.5.4. Pemuatan
Susunan muatan harus diperhatikan baik yang menyangkut stabilitas kapal
maupun yang menyangkut masalah keselamatan. Muatan tidak boleh
mengganggu pemandanagan dari anjungan serta tidak mengganggu
operasi dari alat-alat penolong dan pemadam kebakaran. Stabilitas kapal harus
baik dan selamat untuk berlayar. Batas benaman tidak boleh melebihi garis
Plimsol Mark sesuai daerah dan musim. Penentuan letak Plimsol Mark
diadasarkan perhitungan sesuai Load Line Convention 1966 dimana
sertifikatnya harus ada dikapal
10.5.5.

Kesejahteraan dan Kesehatan Awak Kapal/ Penumpang.

Persediaan permakanan harus mencukupi selama pelayaran baik untuk awak


kapal maupun untuk penumpang. Jumlah kamar mandi, WC, serta persediaan

145
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

air tawar harus cukup untuk awak kapal dan penumpang. Ketentuan mengenai
persyaratan diatur dalam PP 7 tahun 2000 dan Convensi ILO 147.
10.5.6. Status Hukum Kapal
Kapal harus mempunyai Surat Tanda Kebangsaan yang masih berlaku sesuai
ukuran kapal. Dokumen-dokumen dan Sertifikat yang harus ada dikapal.
1.

Surat Tanda Kebangsaan(Surat Laut/Pas Tahunan/Pas Kecil)

2.

Surat Ukur

3.

Buku Sijil

4.

Setifikat-Sertifikat:

5.

Sertifikat keselamatan konstruksi kapal Barang

6.

Sertifikat Keselamatan Perlengka-pan kapal barang

7.

Sertifikat Radio Kapal Barang.

8.

Sertifikat Keselamatan Kapal Penumpang.

9.

DOC dan SMC (berdasarkan ISM Code)

10. Sertifikat Pecegahan Pencemaran oleh Minyak (IOPP)


11. Buku Catatan Minyak dan SOPEP
12. Minimum Safe Manning Certificate
13. Sertfikat dari Perwira dan ABK
14. Load Line Certificate
15. Surat Ijin Berlayar dari Pelabuhan terakhir
16. Crew List
17. Cargo Manifest
18. Buku Kesehatan.
10.5.7. Pengawasan Keselamatan Kapal
Pengawasan terhadap keselamatan kapal dilaksanakan oleh:
1.

Pemerintah Negara Bendera (Flag State) yang dibebani tanggung jawab


atas keselamatan kapal-kapal yang menggunakan bendera mereka.

2.

Pemerintah Negara Pelabuhan

3.

(Port State) yang diberi kewenangan untuk mengawasi kapal-kapal asing


yang memasuki pelabuhan Negara mereka.

4.

Pengawasan dilakukan terhadap kelengakapan Setifikat serta kondisi kapal


dan perlengkapan-nya. PSCO dapat menahan kapal yang sertifikatnya tidak
ada/expire atau yang kondisi kapalnya tidak aman untuk berlayar

146
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

10.6.

BIRO KLASIFIKASI

Tujuan dari Biro Klasifikasi adalah untuk mengsurvei dan mengklaskan kapal
berdasarkan suatu pembakuan persyaratan bangunan maupun permesinan kapal.
Tugas mana dijadikan jaminan bagi pihak-pihak tertentu yang mempunyai
kepentingan (pemilik muatan,asuransi). Pemerintah dapat memanfaatkan Biro
Klasifikasi untuk memeriksa dan menerbitkan Sertifikat atas nama Pemerintah
yang memberikan kewenangan. Sertifikat-sertifikat yang dikeluarkan Biro
Klasifikasi ( class certificate ) tidak mengikat Pemerintah.
Biro-biro Klassifikasi yang terkenal:
1.

Lloyds Register of Shipping (LR) London

2.

Bureau Veritas (BV) Paris

3.

Det Norske Veritas (NV) Oslo

4.

Germanische Lloyd (GL) Berlin

5.

Registro Italiano Navale (RI) Roma

6.

The American Bureau of Shipping (AB) New York

7.

Nippon Keiji Kyokai (NK) Tokyo

8.

Biro Klasifikasi Indonesoia (KI) Jakarta

9.

Pemeriksaan sebab - sebab kece-lakaan

Sesuai SOLAS 1974 Bab pasal 21 setiap Negara harus mengadakan


penyelidikan terhadap sebab-sebab kecelakaan yang menimpa kapal-kapal
mereka dan melaporkan hasilnya kepada Sekjen IMO di Indonesia. Sebabsebab kecelakaan dilakukan pemeriksaan oleh Syahbandar untuk membuat
Berita Acara Pemeriksaan Pendahuluan (BAPP). BAPP tersebut dikirimkan ke
Direktur Jenderal Perhubungan Laut. Dirjen Perhubungan Laut meminta
Mahkamah Pelayaran untuk mengadakan pemeriksaan lanjutan. Mahkamah
Pelayaran adalah suatu instansi yang berada dibawah Menteri Perhubungan
yang fungsinya untuk mengetahui sebab-sebab kecelakaan serta menjatuhkan
sanksi administratif berupa pencabutan kewenangan untuk jabatan tertentu
maksimum 2 tahun di kapal-kapal berbendera Indonesia. Apabila dalam suatu
kecelakaan terdapat korban jiwa maka petugas kepolisian ikut mengadakan
pemeriksaan untuk menyelidiki kalau terjadi tindak pidana dalam kecelakaan
tersebut. Pemeriksaan dari Kepolisian disampaikan kepada Kejaksaan untuk
diteruskan ke Pengadilan Negeri.
10.6.1. Pengukuran Kapal
Setiap kapal yang digunakan untuk berlayar wajib diukur. Pengukuran dapat
dilakukan menurut tiga metode:
1.

Pengukuran dalam Negeri yang digunakan untuk pengukuran dan


penentuan tonase kapal yang panjangnya kurang dari 24 meter.

2.

Pengukuran Internasional yang digunakan untuk pengukuran dan


penentuan tonase kapal yang panjangnya 24 meter atau lebih

147
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3.

Pengukuran khusus digunakan untuk pengukuran dan penentuan tonase


kapal yang akan melewati terusan tertentu

Atas permintaan pemilik kapal yang panjangnya kurang dari 24 meter dapat
dilakukan pengukuran menggunakan metode Internasional. Kapal yang telah
diukur
dengan menggunakan metode pengukuran Intrenasional tidak
dibenarkan diukur dengan metode pengukuran dalam negeri. Hasil pengukuran
kapal disusun dalam daftar ukur untuk menetapkan ukuran dan tonase kapal.
Terhadap kapal yang berdasarkan perhitungan diperoleh isi kotor 20 meter
kubik yang setara dengan GT 7 atau lebih diterbitkan Surat Ukur. Surat ukur
berlaku untuk jangka waktu tidak terbatas.
10.6.1.1. Surat Ukur
Surat ukur tidak berlaku apabila kapal tidak digunakan lagi antara lain karena:
1.

Kapal discrap (ditutuh)

2.

Kapal tenggelam

3.

Kapal musnah

4.

Kapal terbakar

5.

Kapal dinyatakan hilang.

Surat Ukur dinyatakan batal apabila:


1.

Pengukuran dilakukan tidak sesuai ketentuan

2.

Diperoleh secara tidak syah atau digunakan tidak sesuai untuk


peruntukannya.

Surat ukur baru sebagai pengganti surat ukur lama dapat diterbitkan apabila:
1. Nama kapal dirubah
2. Surat ukur rusak, hilang atau musnah.
3. Kapal diukur ulang karena surat ukur dinyatakan batal
4. Kapal diukur ulang karena adanya perubahan bangunan yang menyebabkan
berubahnya rincian yang dicantumkan dalam surat ukur.
5. Apabila kapal diberikan surat ukur sementara dan masa berlakunya telah
habis.
6.

Kapal yang telah diukur dipasang tanda selar yang biasanya dipasang pada
dinding depan anjungan. Pemilik atau operator kapal wajib melaporkan
kepada pemerintah apabila terjadi perombakan terhadap bangunan kapal
yang menyebabkan berubahnya ukuran kapal.

Isi dari Surat Ukur Kapal terdiri dari:


1. Panjang kapal
2. Lebar kapal
3. Dalam (depth)
4. Isi kotor

148
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5. Isi bersih.

Menurut KUHD pasal 348 Nakhoda harus menyelenggarakan Buku Harian


Kapal. Nakhoda boleh mengerjakan sendiri atau menugaskan salah seorang
Perwira (Mualim I). Tetapi Nakhoda harus mengawasi agar Buku Harian diisi
dengan benar. Nakhoda yang tidak menyelenggarakan Buku Harian secara
benar atau tidak memperlihatkan Buku Harian pada waktunya dianggap
melakukan pelanggaran sesuai KUHD ps.562.

149
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 11
MENGIDENTIFIKASI BANGUNAN KAPAL

11.1.

UKURAN POKOK KAPAL

Seperti layaknya sebuah balok, kapal memiliki dimensi pokok yang menjadi
prasyarat sesuai fungsinya untuk mengangkut manusia, barang dan muatan
lainnya agar tiba di tempat tujuan dengan cepat, tepat, efektif dan efisien.
Dimensi pokok kapal adalah panjang (length), lebar (breadth)) dan dalam
(depth).
( PANJANG SELURUHNYA )
LOA

( PANJANG MENURUT KELAS )

(LBP = PANJANG LAMB. BEBAS)


(PANJANG TERDAFTAR = RB)
(PANJANG SEPANJANG GARIS AIR)
LOWL
\

Gambar 11.1. Ukuran Pokok Kapal

11.1.1. Panjang Kapal (Length)


Panjang kapal (length) pada umumnya terdiri dari LOA (Length Over All),
LOWL (Length on designes water Line), dan LBP (Length Beetwen
Perpendicular). Secara definisi LOA adalah panjang kapal yang diukur dari
haluan kapal terdepan sampai buritan kapal paling belakang.
LOWL adalah panjang kapal yang diukur dari haluan kapal pada garis air
sampai buritan kapal pada garis air dan LBP adalah panjang kapal yang diukur
dari haluan kapal pada garis air sampai tinggi kemudi.
Lambung bebas (Free Board ) adalah jarak tegak dari garis air sampai geladak
lambung bebas atau garis deck ( Deck Line ).
Sarat Kapal adalah jarak tegak yang diukur dari titik terendah badan kapal
sampai garis air. Jarak ini sering di istilahkan dengan sarat moulded.
11.1.2. Lebar (Breadth)
Ada beberapa ukuran lebar yang biasa digunakan dalam pengukuran dimensi
lebar kapal yaitu Breadth Extrime dan Breadth Moulded.

150
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1. Breadth Extrime = Lebar kapal yang diukur dari kulit kapal bagian luar
sampai kulit kapal bagian luar sisi lainnya (diukur pada bagian tengah
kapal).
2. Breadth moulded = lebar menurut mal ialah lebar yang diukur dari bagian
luar gading pada satu sisi ke gading sisi yang lain.
( EB = Lebar ekstrim = terdaftar )
(MB = Lebar dalam = Lebar Kelas)

1/3 CAMBER

LEBAR TONASE
SARAT

LAMBUNG
BEBAS

DALAM
TERDAFTAR

DALAM
MENURUT
KELAS

DALAM
TONASE

Gambar 11.2. Ukuran Tegak Kapal

11.1.3. Dalam (Depth)


Depth moulded (dalam) menurut mal adalah dalam yang diukur dari bagian
atas lunas sampai bagian atas geladak.
11.2.

PEMBAGIAN BANGUNAN KAPAL

Berbagai jenis kapal yang dibagi berdasarkan pembagian bangunan kapal pada
umumnya dapat dibagi berdasarkan bahan pembuatannya, bangunan bagian
bawah kapal (bottom), bangunan bagian atas, bentuk haluan dan bentuk buritan
kapal.
11.2.1. Kapal Berdasarkan

Bahan Pembuatan

Berbagai jenis kapal yang digunkan sesuai peruntukannya, berbeda juga bahan
pembuatan kapal tersebut. Bahan pembuat kapal ada beberapa t material
seperti :
1. Kapal kayu
2. Kapal besi
3. Kapal fiber glass
4. Kapal ferrocement

151
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

11.2.2. Bentuk Bawah Kapal


Ada berbagai macam bentuk bawah kapal antara lain adalah :
1. Round bottom
2. V Bottom
3. Flate bottom
11.2.3.

Pembagian Bangunan Kapal Berdasarkan Atasnya

Pembagian bangunan kapal berdasrkan bangunan atasnya ada 3 macam, antara


lain :
1. Satu pulau
2. Dua pulau
3. Tiga pulau
11.2.4. Bentuk Haluan Kapal
Bentuk-bentuk haluan kapal ada beberapa macam, antara lain seperti di bawah
ini :
1. Miring
2. Tegak
3. Siku
4. Memancang
5. Sendok
6. Lurus
7. Menonjol bagian bawah
11.2.5. Bentuk Buritan Kapal
Bentuk-bentuk buritan kapal ada beberapa bentuk antara lain :
1. Buritan berbentuk sendok
2. Buritan berbentuk miring
3. Buritan berbentuk siku
11.3.

STRUKTUR DAN BAGIAN-BAGIAN KAPAL

Bagian-bagian kapal sebagai struktur dilihat dari irisan/potongan membujur


kapal. Secara umum terdiri dari beberapa bagian penting sebagaimana berikut
ini :
1. Linggi depan
2. Dinding kedap air muka
3. Dinding kedap air muka kamar mesin

152
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Dinding kedap air belakang


5. Dinding kedap air belakang kamar mesin
6. Linggi belakang
7. Linggi baling-baling
8. Poros baling-baling
9. Baling-baling
10. Kemudi
11. Tangki pik depan
12. Ruang muat
13. Kamar mesin
14. Ruang must belakang
15. Tangki pit belakang
16. Dasar ganda
17. Tembusan
18. Bak
19. Anjungan
20. Cerobong
21. Rumah-rumah
22. Geladak utama
23. Kepala palkah
11.3.1. Kulit Kapal
Pelat-pelat yang disambung menjadi lajur yang terdapat pada badan kapal biasa
disebut dengan kulit kapal. Fungsi kulit kapal adalah;
1. Untuk kekuatan membujur kapal
2. Menerima tekanan dari kapal
3. Merupakan penutupan kedap air

dari dasar hingga bagian atas kapal

4. Lajur kulit kapal diberi nama dengan abjad a,b,c,d dan seterusnya mulai
dengan lajur dasar
5. Sambungan plat diberi nama dengan angka 1,2,3 dan seterusnya dari depan
ke belakang.
11.3.1.1. Pemberian Tanda dan Nomor Pada Kulit Kapal
Pemberian tanda pada kulit kapal dimulai dari pelat pengapit lunas (garboard
strake) yaitu pelat lajur sepanjang kiri kanan lunas datar sebagai lajur A. lajur
lajur lainnya ditandai dari bawah ke atas dari tiap sisi secara alphabet
A,B,C,dst kecuali I. Dan pemberian nomor pada lajur diberi secara berurutan

153
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

dari belakang ke depan atau dari depan ke belakang .


Kegunaannya agar dapat diketahui lokasi dari pelat dalam kaitannya dengan
pemeriksaan atau perbaikan karena kerusakan, sobek, maupun survey
sehubungan dengan penggantian pelat tersebut.
Pemberian nomor dan tanda lajur selalu dikaitkan dengan gading-gading
ditempat tersebut untuk memberi kepastian pada bagian mana pelat tersebut
berada.
Contoh : Pelat E kiri 3 110 120 artinya : Pelat E dilambung kiri, no 6
diantara gading-gading no.110 s/d 120
11.3.1.2. Cara Penyambungan Pelat Kulit Kapal
Agar kapal kuat dan kokoh maka berbagai bagian di dalam badan kapal
disambungkan satu dengan yang lain secara baik dan semestinya. Sambungansambungan kulit kapal secara keling dan las ada beberapa istilah :
Kampuh : sambungan antara pelat-pelat secara membujur.
Dampit : sambungan antara pelat-pelat secara melintang.

Gambar.11.3. Cara Penomoran


11.3.2. Sekat Pelanggaran
Pada kapal sekat pelanggaran ini ditentukan letaknya, ialah 5 % dari panjang
kapal pada garis air dihitung dari haluan kapal, pada kapal panjang ditambah
10 ( feet )
Sekat pelanggaran memiliki berbagai keguanaan yaitu :
1. Mencegah kebocoran
2. Memperkuat melintang kapal setempat

154
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3. Jika terjadi kebocoran pada kapal, dapat berlayar pelan pelan dengan
menggunakan sekat pelanggaran.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan kaitannya dengan sekat pelanggaran
adalah:
1. Sekat pelanggaran ini harus lebih tebal dari pada sekat kedap air lainnya.
2. Batas penguat harus ditaruh pada bagian muka sekat pelanggaran masing
masing berjarak 24
3. Baja siku dipasang pada bagian sekat pelanggaran.
11.3.3. Sekat Belakang
Pada sekat belakang pada bagian lobang baling-baling harus ditambah plat yang
lebih tebal 22 mm untuk menahan getaran baling-baling. Bagi penguat terletak
di bagian belakang kapal masing masing berjarak 24 dan baja siku keliling
diletakkan pada bagian muka kapal
11.3.4. Baling-Baling
Baling-baling dibayangkan sebagai sebuah sekrup yang berulir dan berputarnya
baling-baling tersebut mengulir keluar dari air, sehigga air berfungsi sebagai
mur dan baling-baling sebagai sebuah baut, sehingga hal tersebut menyebabkan
kapal maju.
Fungsi baling-baling yaitu merubah tenaga motor induk yang berupa momen
putar menjadi tenaga dorong kapal. Sesuai dengan fungsinya, maka bahan yang
digunakan komponen tersebut harus kuat dan mampu meneruskan gerak putar
motor induk. Bahan yang umum digunakan adalah kuningan atau manganese
bronze.
Banyaknya daun baling-baling tergantung dari beberapa faktor seperti:
1. Tenaga yang dibutuhkan.
2. Ukuran-ukuran dan tipe motor penggerak kapal.
3. Besarnya sarat air kapal.
Jenis baling-baling diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Baling-baling berkisar tetap (Fixed pitch propeller), yang mempunyai
baling-baling berdaun tetap dan tidak dapat dilepas.
2. Baling-baling yang tiap daunnya dapat dilepas (Detachable blade
propeller), sehingga bila terjadi kerusakan pada bagian daunnya, maka
daunnya dapat dilepas dan diperbaiki tanpa mengganti semuanya. Biasanya
daun baling-baling ini dengan menggunakan mur dan baut.
3. Baling-baling dengan kisar yang dapat dirubah-rubah (Controlable pitch
propeller).
4. Baling-baling dengan lingkaran pelindung atau di dalam tabung pancar
(Propeller in nozzle).

155
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5. Baling-baling ganda dengan satu poros (Tandem propeller) dengan putaran


searah.
6. Baling-baling ganda dalam satu poros dengan arah putaran yang berbeda
atau ke kiri dan ke kanan (Controrotary propeller).
Adapun jenis-jenis material yang ditetapkan oleh Biro Klasifikasi Indonesia dan
standarnya mengikuti standar Internasional adalah: Alumunium bronze,
Manganese bronze, Nikel dan Casting bronze.

Gambar 11. 4. Instalasi Poros Baling-Baling


Keterangan :
A. Motor induk
B. Kotak roda gigi
1. Poros tekan
2. Flens
3. Poros ekor
4. Gland paking
5. Tabung poros
6. Bantalan
7. Baling-baling
11.3.5. Lajur Geladak
Bagian ini biasanya terbuat dari kayu yang melapisi geladak baja. Untuk itu
kayu lajur geladak ini harus memenuhi sebagai berikut :
1. Cukup keras, tahan lama, dan daya serap air harus sekecilnya.
2. Dalam perubahan suhu, perubahan kembang dan menyusut harus

156
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

sekecilnya.
3. Tidak mengandung bahan kimia yang merusak baja.
4. Harus cukup kering
5. Harus bersih dari serat-serat licin
6. Untuk itulah maka lapisan ini biasanya terbuat dari bahan kayu tak sejenis
kayu jati (di Indonesia) dan atau kayu Cemara.
11.3.6. Wrang
Wrang ialah bagian dari kapal yang mengarah melintang di atas dasar berganda
(Double Bottom) yang menghubungkan gading-gading kiri dan kanan.

Gambar. 11.5 Wrang Terbuka Pada Sistem Kerangka Melintang


Penampang sebuah kapal dibedakan atas Penampang Melintang dan Membujur.
Bentuk dari penampang ini tergantung dari tipe kapal dan kegunaan dari kapal
tersebut.
Suatu gambaran yang jelas mengenai kaitan antara tipe kapal, sistem kerangka
yang digunakan serta perbedaan yang nyata mengenai perkuatan-perkuatan dan
jumlahnya pada konstruksi bagian kapal yang mendapat tekanan terbesar yaitu
dasar berganda.
26

40

25

20

21

9
20

21

24
8

21
22
17

20
24

16

29

5
19
4

1
8
3

14

28
13

1
11
30

28

12
28

28
27

Penampang Melintang sebu kapal dengan sistem kerangka melintang yang


Melalui Wrang Penuh (atas) dan Wrang Terbuka (bawah)

Gambar. 11.6.Penampang Melintang Kapal


11.3.7. Cofferdam
Cofferdam adalah ruangan yang terdapat diantara 2 wrang penuh yang
memisahkan 2 macam cairan.

157
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

11.3.8. Lunas
Sebagai bagian terbawah dari kapal, lunas terdiri dari berbagai jenis yatu:
1. Lunas dasar
2. Lunas tegak
3. Lunas lambung.
Lunas dasar merupakan lajur kapal pada dasar yang tebalnya +/- 35 % dari
pada kulit kapal lainnya. Sedangkan lunas tegak ialah lunas yang tegak
sepanjang kapal, tebalnya 5/8 lebih besar dari pada lunas dasar pada 4/10
bagian lunas tegak di tengah-tengah kapal.
Kapal besar pada umumya memiliki lunas lambung yang berfungsi untuk
melindungi kapal bila kandas. Lunas lambung ini biasanya terdapat - 1/3 dari
panjang kapal pada bagian tengah yang berfungsi juga untuk mengurangi
olengan kapal.
11.3.9. Double Bottom (DB)
Ketentuan panjang dasar berganda sebuah kapal menurut SOLAS74 sebagai
berikut :
1.

Untuk ukuran panjang kapal 50 m dan kurang dari 61 m harus


dipasang dasar berganda paling sedikit dari sekat di depan KM s/d sekat
ceruk depan atau sejauh dapat dilaksanakan sedekat mungkin dengan sekat
tersebut .

2.

Untuk kapal yang panjangnya 61 m (200 kaki) dan kurang dari 76 m (249
kaki) harus dipasang dasar berganda paling sedikit dari sekat-sekat kamar
mesin diteruskan sampai ke sekat ceruk haluan dan sekat ceruk buritan.

3.

Untuk kapal yang panjangnya 76 m (249 kaki) atau lebih harus di pasang
dasar berganda dari sekat ceruk haluan sampai sekat ceruk buritan.

4.

Bila dasar berganda di haruskan untuk dipasang, maka tingginya


ditentukan atau atas persetujuan Pemerintah dan dasar dalam di teruskan
sampai ke sisi lambung sehingga dapat melindungi dasar kapal sampai ke
lengkungan got (bilge). Perlindungan ini dianggap memenuhi syarat bila
garis potong antara lempeng samping (margin plate) dengan lajur samping
(bilge strake), tidak lebih rendah dari satu bidang datar yang melalui titik
potong garis gading dengan lunas, dimana garis diagonal tersebut
membentuk sudut 250 dengan alas dan memotong bidang simetri pada
setengah lebar kapal terbesar.

5.

Got pengering (drain well) yang dibuat di dalam dasar berganda yang di
gunakan untuk mengeringkan palka/ruang muat dan lain sebagainya tidak
boleh lebih rendah dari yang di perlukan

6.

Dasar berganda tidak diperlukan bagi kompartemen-kompartemen kedap


air yang berukuran sedang, yang khusus di pergunakan untuk mengangkut
minyak dan yang melakukan pelayaran Internasional jarak dekat secara
teratur .

158
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

7.

Bagi kapal-kapal yang mempunyai kompartemen-kompartemen ke-dap air


berukuran sedang dan digunakan untuk mengangkut minyak dan yang
melakukan pelayaran internasional jarak dekat secara teratur, pemerintah
dapat memberikan kelonggaran terhadap konstruksi dasar berganda di
bagian manapun dari kapal itu .

Double Bottom (DB) atau dasar berganda ini dibentuk oleh sekat pelanggaran
hingga sedikit ke sekat belakang. Ketinggian DB ini bervariasi sesuai dengan
ukuran kapal. Sebagai acuan tinggi DB pada kapal-kapal adalah sebagai berikut
: Pada kapal- kapal kecil = 26, pada kapal-kapal besar = 6 feet dan pada kapal
berukuran sedang biasanya lebih kurang 4 feet.
Secara teknis Double Bottom ini berfungsi untuk:
1.

Menyimpan air ballast, air tawar dan minyak

2.

Menjaga keselamatan kapal jika bocor

3.

Mempertinggi titik tinggi kapal

4.

Memperkuat bangunan membujur dari pada kapal

Pengertian dasar berganda adalah bagian dari konstruksi kapal yang di batasi
oleh;
oleh kulit kapal bagian bawah (bottom shell

1.

Bagian bawah dibatasi


plating)

2.

Bagian atas dibatasi oleh pelat dasar dalam (Inner bottom plating)

3.

Bagian samping dibatasi oleh lempeng samping (margin plate)

4.

Bagian depan dibatasi oleh sekat kedap air terdepan/sekat pelang-garan


(collision bulkhead)

5.

Bagian belakang dibatasi sekat kedap air paling belakang atau sering
disebut sekat ceruk belakang ( after peak bulk head )

Fungsi dasar berganda adalah;


1.

Bila kapal kandas dan mengalami kebocoran, masih ada dasar yg kedap air

2.

Sebagai ruangan muatan cair, air tawar, bahan bakar, ballas, dlsb.

3.

Membantu stabilitas kapal

4.

Menambah kekuatan melintang kapal

Disamping kegunaannya, dengan menggunakan double bottom ini ada


kerugiannya yaitu:
1.

Kehilangan ruang muatan.

2.

Titik berat kapal terlalu ke atas bila kapal kosong .

Isi dasar berganda ini lebih kurang 15 % daya muat kapal mempunyai tinggi 14
kaki untuk kapal besar , dan untuk kapal kecil sampai 26 .
Untuk kapal-kapal besar maka isi dari dasar berganda ini tidak cukup untuk
menurunkan titik berat kapal. Untuk ini di kapal masih diperlukannya satu
ruangan yang dipergunakan untuk menurunkan titik B atau untuk memperbesar

159
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

balas kapasitas kapal tersebut.


tank ).

Ruangan ini dinamakan tangki dalam (deep

Deep tank berguna untuk memperbesar kapasitas ruang balas kapal tersebut.
Deep tank ini biasanya diisi dengan air, tetapi kadang-kadang diisi pula dengan
bahan bakar kapal sendiri dan juga minyak palm (general kargo).
Secara struktur posisinya deep tank ini biasanya terletak di muka atau
dibelakang kamar mesin. Di tengah-tengah tangki ini diberi pemisah (dinding
kedap minyak ) agar muatan cair tidak mengganggu stabilitas kapal.
11.3.10.

Bak

Pada umumnya kapal memiliki satu gudang mini yang dipergunakan untuk
memperlancar kegiatan deck terutama pada saat sandar dan lepas sandar. Untuk
itu disediakan satu ruangan yang biasa disebut bak.
Bak adalah bagian bangunan kapal yang ada diujung depan kapal, digunakan
untuk menyimpan alat tali menali kapal dan rantai jangkar.
11.3.11.Anjungan
Anjungan adalah suatu tempat untuk mengemudikan kapal, dimana alat-alat
navigasi guna menentukan posisi kapal berada diruangan ini. Pada anjungan
biasanya terdapat kamar nahkoda dan kamar radio.
11.3.12.Geladak
Nama-nama geladak ini tergantung dari banyaknya geladak yang ada dikapal
tersebut. Pada umumnya geladak yang berada dibawah dinamakan geladak
dasar serta geladak yang diatas dinamakan geladak atas atau geladak utama
(main deck)
Bila antara geladak dasar dan geladak atas terdapat geladak lagi, maka geladak
tersebut dinamakan geladak antara (Tween geladak).
Geladak atas tidak lurus bentuknya tetapi melengkung baik ke muka maupun ke
samping, gunanya untuk memudahkan mengalirnya airPada bagian tegak kapal
dimana terdapat titik terendah, maka geladak makin ke muka atau makin ke
belakang geladak makin tinggi, perbedaan tinggi dinamakan sosok
(sheer).Tingginya sosok di haluan kira-kira 2 % dan di buritan kira-kira 1 %
dari panjang kapal. Bila dilihat dari samping geladak ini makin ke samping
makin rendah (Chamber). Perbedaan tinggi ini kira-kira 1/50 lebar kapal.
11.3.13.Gading
Merupakan rangka dari kapal dimana kulit-kulit kapal diletakkan. Nama dari
gading disesuaikan dengan tempatnya. Gading yang terletak disekitar haluan
tersebut gading haluan. Gading yang terletak pada tempat yang terlebar dari
kapal disebut gading besar dan gading yang terletak di tabung poros balingbaling disebut gading kancing. Gading-gading ini mempunyai jarak antara satu
dan lainnya kira-kira antara 21-37 inchi sesuai dengan ukuran kapal dan diberi
nomor urut mulai nol yang dimulai dari belakang

160
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Keling
Dgn sudut
berbintul

Keling
Bentuk U

Dilas dgn
Bentuk
siku balik

Gading
Gading
Besar /
sarang

Dilas
Dgn
Bentuk
Bintul
& Di
Takik

Gambar 11.7. Gading-gading Kapal


11.3.14. Plimsol Mark
Merkah kambangan (Plimsoll mark) adalah sebuah tanda pada kedua lambung
kapal untuk membatasi sarat maksimum. Tanda ini dibuat dengan maksud agar
setiap kapal membatasi berat muatan yang diangkutnya sesuai dengan jenis
kapal dan musim yang berlaku di tempat dimana kapal tersebut berlayar.
25 mm
300

540
mm

230
mm

TF
x
F

FWA
T

FWA

x
S
x
W
WNA

300
mm

230
mm

450 mm

Gambar 11.8. Plimsol Mark

161
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 12
MEMAHAMI STABILITAS KAPAL

12.1. STABILITAS KAPAL


Stabilitas adalah keseimbangan dari kapal, merupakan sifat atau kecenderungan
dari sebuah kapal untuk kembali kepada kedudukan semula setelah mendapat
senget (kemiringan) yang disebabkan oleh gaya-gaya dari luar, atau stabilitas
merupakan kemampuan sebuah kapal untuk menegak kembali sewaktu kapal
menyenget oleh karena kapal mendapatkan pengaruh luar, misalnya angin,
ombak dan sebagainya.
Secara umum hal-hal yang mem-pengaruhi keseimbangan kapal dapat
dikelompokkan kedalam dua kelompok besar yaitu :
1. Faktor internal yaitu tata letak barang/cargo, bentuk ukuran kapal,
kebocoran karena kandas atau tubrukan
2. Faktor eksternal yaitu berupa angin, ombak, arus dan badai.
Oleh karena itu maka stabilitas erat hubungannya dengan bentuk kapal, muatan,
draft, dan ukuran dari nilai GM. Posisi M hampir tetap sesuai dengan style
kapal, pusat buoyancy B digerakkan oleh draft sedangkan pusat gravitasi
bervariasi posisinya tergantung pada muatan. Sedangkan titik M adalah
tergantung dari bentuk kapal, hubungannya dengan bentuk kapal yaitu lebar dan
tinggi kapal, bila lebar kapal melebar maka posisi M bertambah tinggi dan akan
menambah pengaruh terhadap stabilitas.
Kaitannya dengan bentuk dan ukuran, maka dalam menghitung stabilitas kapal
sangat tergantung dari beberapa ukuran pokok yang berkaitan dengan dimensi
pokok kapal.
Ukuran-ukuran pokok yang menjadi dasar dari pengukuran kapal adalah
panjang (length), lebar (breadth), tinggi (depth) serta sarat (draft). Sedangkan
untuk panjang di dalam pengukuran kapal dikenal beberapa istilah seperti LOA
(Length Over All), LBP (Length Between Perpendicular) dan LWL (Length
Water Line).
Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum melakukan perhitungan stabilitas
kapal yaitu :
1. Berat benaman (isi kotor) atau displasemen adalah jumlah ton air yang
dipindahkan oleh bagian kapal yang tenggelam dalam air.
2. Berat kapal kosong (Light Displacement) yaitu berat kapal kosong termasuk
mesin dan alat-alat yang melekat pada kapal.
3. Operating load (OL) yaitu berat dari sarana dan alat-alat untuk
mengoperasikan kapal dimana tanpa alat ini kapal tidak dapat berlayar.

162
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Displ = LD + OL + Muatan
DWT = OL + Muatan

Dilihat dari sifatnya, stabilitas atau keseimbangan kapal dapat dibedakan


menjadi dua jenis yaitu stabilitas statis dan stabilitas dinamis. Stabilitas statis
diperuntukkan bagi kapal dalam keadaan diam dan terdiri dari stabilitas
melintang dan membujur. Stabilitas melintang adalah kemampuan kapal untuk
tegak sewaktu mengalami senget dalam arah melintang yang disebabkan oleh
adanya pengaruh luar yang bekerja padanya, sedangkan stabilitas membujur
adalah kemampuan kapal untuk kembali ke kedudukan semula setelah
mengalami senget dalam arah yang membujur oleh adanya pengaruh luar yang
bekerja padanya. Stabilitas melintang kapal dapat dibagi menjadi sudut senget
kecil (00-150) dan sudut senget besar (>150). Akan tetapi untuk stabilitas awal
pada umumnya diperhitungkan hanya hingga 150 dan pada pembahasan
stabilitas melintang saja.
Sedangkan stabilitas dinamis diperuntukan bagi kapal-kapal yang sedang oleng
atau mengangguk ataupun saat menyenget besar. Pada umumnya kapal hanya
menyenget kecil saja. Jadi senget yang besar, misalnya melebihi 200 bukanlah
hal yang biasa dialami. Senget-senget besar ini disebabkan oleh beberapa
keadaan umpamanya badai atau oleng besar ataupun gaya dari dalam antara lain
GM yang negative.
Dalam teori stabilitas dikenal juga istilah stabilitas awal yaitu stabilitas kapal
pada senget kecil (antara 015). Stabilitas awal ditentukan oleh 3 buah titik
yaitu titik berat (Center of gravity) atau biasa disebut titik G, titik apung
(Center of buoyance) atau titik B dan titik meta sentris (Meta centris) atau titik
M.
12.1.1. Macam-Macam Keadaan Stabilitas
Pada prinsipnya keadaan stabilitas ada tiga yaitu Stabilitas Positif (stable
equilibrium), stabilitas Netral (Neutral equilibrium) dan stabilitas Negatif
(Unstable equilibrium).
12.1.1.1. Stabilitas Positif (Stable Equlibrium)
Suatu kedaan dimana titik G-nya berada di atas titik M, sehingga sebuah kapal
yang memiliki stabilitas mantap sewaktu menyenget mesti memiliki
kemampuan untuk menegak kembali.
12.1.1.2. Stabilitas Netral (Neutral Equilibrium)
Suatu keadaan stabilitas dimana titik G-nya berhimpit dengan titik M. maka
momen penegak kapal yang memiliki stabilitas netral sama dengan nol, atau
bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menegak kembali sewaktu
menyenget. Dengan kata lain bila kapal senget tidak ada MP maupun momen
penerus sehingga kapal tetap miring pada sudut senget yang sama, penyebabnya

163
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

adalah titik G terlalu tinggi dan berimpit dengan titik M karena terlalu banyak
muatan di bagian atas kapal.
12.1.1.3. Stabilitas Negatif (Unstable Equilibrium)
Suatu keadaan stabilitas dimana titik G-nya berada di atas titik M, sehingga
sebuah kapal yang memiliki stabilitas negatif sewaktu menyenget tidak
memiliki kemampuan untuk menegak kembali, bahkan sudut sengetnya akan
bertambah besar, yang menyebabkan kapal akan bertambah miring lagi bahkan
bisa menjadi terbalik. Atau suatu kondisi bila kapal miring karena gaya dari
luar , maka timbullah sebuah momen yang dinamakan momen penerus/Heiling
moment sehingga kapal akan bertambah miring
12.1.2.

Titik-Titik Penting dalam Stabilitas

Titik-titik penting dalam stabilitas antara lain adalah titik berat (G), titik apung
(B) dan titik M.
12.1.2.1. Titik Berat (Centre of Gravity)
Titik berat (center of gravity) dikenal dengan titik G dari sebuah kapal,
merupakan titik tangkap dari semua gaya-gaya yang menekan ke bawah
terhadap kapal. Letak titik G ini di kapal dapat diketahui dengan meninjau
semua pembagian bobot di kapal, makin banyak bobot yang diletakkan di
bagian atas maka makin tinggilah letak titik G-nya.Secara definisi titik berat
(G) ialah titik tangkap dari semua gaya-gaya yang bekerja kebawah. Letak titik
G pada kapal kosong ditentukan oleh hasil percobaan stabilitas. Perlu diketahui
bahwa, letak titik G tergantung dari pada pembagian berat dikapal. Jadi selama
tidak ada berat yang di geser, titik G tidak akan berubah walaupun kapal oleng
atau mengangguk.
12.1.2.2. Titik Apung (Centre of Buoyance)
Titik apung (center of buoyance) diikenal dengan titik B dari sebuah kapal,
merupakan titik tangkap dari resultan gaya-gaya yang menekan tegak ke atas
dari bagian kapal yang terbenam dalam air. Titik tangkap B bukanlah
merupakan suatu titik yang tetap, akan tetapi akan berpindah-pindah oleh
adanya perubahan sarat dari kapal. Dalam stabilitas kapal, titik B inilah yang
menyebabkan kapal mampu untuk tegak kembali setelah mengalami
senget.Letak titik B tergantung dari besarnya senget kapal ( bila senget berubah
maka letak titik B akan berubah / berpindah. Bila kapal menyenget titik B akan
berpindah ke sisi yang rendah.
12.1.2.3. Titik Metasentris
Titik metasentris atau dikenal dengan titik M dari sebuah kapal, merupakan
sebuah titik semu dari batas dimana titik G tidak boleh melewati di atasnya agar
supaya kapal tetap mempunyai stabilitas yang positif (stabil). Meta artinya
berubah-ubah, jadi titik metasentris dapat berubah letaknya dan tergantung dari
besarnya sudut senget.Apabila kapal senget pada sudut kecil (tidak lebih dari
150), maka titik apung B bergerak di sepanjang busur dimana titik M

164
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

merupakan titik pusatnya di bidang tengah kapal (centre of line) dan pada sudut
senget yang kecil ini perpindahan letak titik M masih sangat kecil, sehingga
masih dapat dikatakan tetap.

Gambar 12.1. Titik-Titik Penting dalam Stabilitas


Keterangan :
K= lunas (keel)
B= titik apung (buoyancy)
G = titik berat (gravity)
M= titik metasentris (metacentris)
d= sarat (draft)
D= dalam kapal (depth)
CL = Centre Line
WL= Water Line
12.1.3.

Dimensi Pokok dalam Stabilitas Kapal

Dimensi pokok dalam stabilitas antara lain :


12.1.3.1. KM (Tinggi titik metasentris di atas lunas)
KM ialah jarak tegak dari lunas kapal sampai ke titik M, atau jumlah jarak dari
lunas ke titik apung (KB) dan jarak titik apung ke metasentris (BM), sehingga
KM dapat dicari dengan rumus :
KM = KB + BM

165
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Diperoleh dari diagram metasentris atau hydrostatical curve bagi setiap sarat
(draft) saat itu.
12.1.3.2. KB (Tinggi Titik Apung dari Lunas)
Letak titik B di atas lunas bukanlah suatu titik yang tetap, akan tetapi
berpindah-pindah oleh adanya perubahan sarat atau senget kapal .
dimana d = draft kapal
Untuk kapal tipe plat bottom, KB = 0,50d
Untuk kapal tipe V bottom, KB = 0,67d
Untuk kapal tipe U bottom, KB = 0,53d
12.1.3.3. BM (Jarak Titik Apung ke Metasentris)
BM dinamakan jari-jari metasentris atau metacentris radius karena bila kapal
mengoleng dengan sudut-sudut yang kecil, maka lintasan pergerakan titik B
merupakan sebagian busur lingkaran dimana M merupakan titik pusatnya dan
BM sebagai jari-jarinya. Titik M masih bisa dianggap tetap karena sudut
olengnya kecil (100-150).BM = b2/10 d.
dimana : b = lebar kapal (d = draft kapal (m))
12.1.3.4. KG (Tinggi Titik Berat dari Lunas)
Nilai KB untuk kapal kosong diperoleh dari percobaan stabilitas (inclining
experiment), selanjutnya KG dapat dihitung dengan menggunakan dalil momen.
Nilai KG dengan dalil momen ini digunakan bila terjadi pemuatan atau
pembongkaran di atas kapal dengan mengetahui letak titik berat suatu bobot di
atas lunas yang disebut dengan vertical centre of gravity (VCG) lalu dikalikan
dengan bobot muatan tersebut sehingga diperoleh momen bobot tersebut,
selanjutnya jumlah momen-momen seluruh bobot di kapal dibagi dengan
jumlah bobot menghasilkan nilai KG pada saat itu.
M
KG total =
W
Dimana :
M =

Jumlah momen (ton)

W = Jumlah perkalian titik berat dengan bobot benda (m ton)


12.1.3.5. GM (Tinggi Metasentris)
Tinggi metasentris atau metacentris high (GM) yaitu jarak tegak antara titik G
dan titik M.
Dari rumus disebutkan :

166
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

M = KM KG
GM = (KB + BM) - KG

Nilai GM inilah yang menunjukkan keadaan stabilitas awal kapal atau keadaan
stabilitas kapal selama pelayaran nanti
12.1.3.6. Momen Penegak (Righting Moment) dan Lengan Penegak (Righting
Arms)
Momen penegak adalah momen yang akan mengembalikan kapal ke
kedudukan tegaknya setelah kapal miring karena gaya-gaya dari luar dan gayagaya tersebut tidak bekerja lagi .

Gambar 12.2. Momen Penegak atau Lengan Penegak


Pada waktu kapal miring, maka titik B pindak ke B1, sehingga garis gaya berat
bekerja ke bawah melalui G dan gaya ke atas melalui B1 . Titik M merupakan
busur dari gaya-gaya tersebut. Bila dari titik G ditarik garis tegak lurus ke B1M
maka berhimpit dengan sebuah titik Z. Garis GZ inilah yang disebut dengan
lengan penegak (righting arms). Seberapa besar kemampuan kapal tersebut
untuk menegak kembali diperlukan momen penegak (righting moment).
Pada waktu kapal dalam keadaan senget maka displasemennya tidak berubah,
yang berubah hanyalah faktor dari momen penegaknya. Jadi artinya nilai GZ
nyalah yang berubah karena nilai momen penegak sebanding dengan besar
kecilnya nilai GZ, sehingga GZ dapat dipergunakan untuk menandai besar
kecilnya stabilitas kapal.
Untuk menghitung nilai GZ sebagai berikut:
Sin = GZ/GM
GZ

= GM x sinus

Moment penegak = W x GZ

167
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

12.1.3.7. Periode Oleng (Rolling Period)


Periode oleng dapat kita gunakan untuk menilai ukuran stabilitas. Periode oleng
berkaitan dengan tinggi metasentrik. Satu periode oleng lengkap adalah jangka
waktu yang dibutuhkan mulai dari saat kapal tegak, miring ke kiri, tegak,
miring ke kanan sampai kembali tegak kembali. Untuk menggambarkan
hubungan antara tinggi metasentrik (GM) dengan periode oleng adalah dengan
rumus :
0,75
T=
GM
dimana:
T = periode oleng dalam detik
B = lebar kapal dalam meter
Yang dimaksud dengan periode oleng disini adalah periode oleng alami
(natural rolling) yaitu olengan kapal air yang tenang.
12.1.3.8. Pengaruh Permukaan Bebas (Free Surface Effect)
Permukaan bebas terjadi di dalam kapal bila terdapat suatu permukaan cairan
yang bergerak dengan bebas, bila kapal mengoleng di laut dan cairan di dalam
tanki bergerak-gerak akibatnya titik berat cairan tadi tidak lagi berada di
tempatnya semula. Titik G dari cairan tadi kini berada di atas cairan tadi, gejala
ini disebut dengan kenaikan semu titik berat, dengan demikian perlu adanya
koreksi terhadap nilai GM yang kita perhitungkan dari kenaikan semu titik
berat cairan tadi pada saat kapal mengoleng sehingga diperoleh nilai GM yang
efektif. Perhitungan untuk koreksi permukaan bebas dapat mempergunakan
rumus :

gg1

l x b3
= r . x ________
12 x 35 x W

dimana:
gg1 =

pergeseran tegak titik G ke G1

berat jenis di dalam tanki dibagi berat jenis cairan di luar kapal

panjang tanki

lebar tanki

displasemen kapal

168
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

12.1.4. Koefisien Balok


Koefisien balok (cb) ialah bilangan yang menyatakan perbandingan antara
volume (isi) kapal yang terbenam di dalam air dengan volume sebuah balok air
yang panjangnya sama dengan panjang kapal, lebarnya sama dengan lebar
kapal dan tingginya sama dengan sarat kapal. Koefisien balok dapat dinyatakan
dengan rumus sebagai berikut:

Cb =

dimana,

V
LxBxd

V = isi benaman kapal


L = pj kapal
B = lb kapal
d = sarat kapal (draft)

Nilai koefisien balok (Cb) ini berbeda-beda berdasarkan type kapal


Kapal kotak Cb= 1

KB = 0,5 d

Kapal U

Cb= 0,8 KB = 0,55 d

Kapal V

Cb= 0,7 KB = 0,53 d

Sedangkan
V = cb x L x B x d
= V x Berat Jenis
= Cb x L x B x d x Bj
Contoh :
(a). Sebuah kapal panjang 360 kaki, lebar 50 kaki Cb = 0,75, terapung di
air yang mempunyai berat jenis = 1,010 pada sarat 23 kaki.
Hitung displacement kapal (tons)
Jawab :
V = cb x L x B x d
= 0,75 x 360 x 50 x 23
= 310 x 50 Cft
= V x Berat Jenis
= 310 . 500 cft x 1,010
= 313605 cft

169
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

=
=
=

313605cft
= 19600313 lbs
0,016
19600313
= 8750,1 tons
2240

310.500x1,010 31500x1010
=
15,625x2240
0,015625

= 8960,14 ton
=

VxBj
VxBj
=
35
15,6x2240

V kapal = 90.000 cft = 100%


V benaman = 68.292 cft
=

68292
x100% = 75,88%
90.000

Selisih V kapal

= 90.000 cft

V benaman = 68.292 cft


Selisih
=

= 21.708 cft

21.708
x100% = 31,787%
68.292

31,788
x2000 tons = 635 tons
100

(b). Sebuah kapal berbentuk kotak 150 kaki x 30 kaki x 20 kaki. Bila dimuati
dan terapung di air laut displacementnya 2000 tons.
Hitunglah tenaga apung cadangannya (%)
Jawab :

Vxbj
35

CbxLxBxdxBj
35

2000

1x150x30xdx1,025
35

2000 x35
150x30 x1,025

70.000
= 15,176 kaki
4612,5

V kapal = L x B x D

170
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

= 150 x 30 x 20 x 1
V yang terbenam

= 90.000 cft

=LxBxd
= 150 x 30 x 15,176 = 68.292 cft

selisih

= 21.708 cft

Tenaga apung cadangan


=

21.708
x100% = 31,78%
6.292

(c).Sebuah kapal berbentuk katak 50 kaki x 15 kaki x 6 kaki terapung di air laut
pada sarat 3 kaki 6 inci.
Hitunglah displacement dan tenaga apung cadangan (ton)
Jawab :

V kapal

Vxbj
35

CbxLxBxdxBj
35

1x50 x15 x3,5 x1,016


35

= 76,2 tons
= L x B x D= 50 x 15 x 6

= 4.500 cft
V yang terbenam

=LxBxd
= 50 x 15 x 3,1

selisih

= 2.625 cft

= 1875 cft

Tenaga apung cadangan


=

1875
x100% = 71,43%
2625

12.1.5. Tons Per-inch Immersions (TPI)


TPI ialah jumlah berat yang diperlukan untuk menambah/ mengurangi sarat
kapal sebesar 1 inchi. Atau jumlah berat yang harus dibongkar/ dimuatkan
untuk merobah sarat kapal sebesar 1 inchi.
Contoh :
Diketahui TPI kapal = 20 ton. Sarat awal kapal 12.00 setelah dimuat barang
saratnya menjadi 12,06. Berapa ton berat barang yang dimuat tersebut?
Jawab :

dz

= 12.06

171
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

dx
Berat muatan

= 12.00
= TPI x d

= 20 x 6 = 120 tons
volum air laut

= A ft2 x d
= A ft2 x 1/12 ft

vol V

= A/12 ft3

1 longtons al V = 35 ft3
2 longtons al V = 2 . 35 ft3
W longtons al V = W . 35 ft3
W=

V 3
ft
35

TPI =

= A 12 x 35 ft

A 2
ft A = 420 TPI
420

12.1.6. Koefisien Bidang Air (Waterplane Coeficient)


Koefisien bidang air biasa dikenal dengan simbol Cp atau p. Cp adalah bilangan
yang mengatakan perban-dingan antara luas bidang air pada sarat tertentu
dengan sebuah empat persegi panjang yang panjang dan lebarnya sama dengan
panjang kapal. Cp digambarkan dengan rumus:
Cp =

luas bidang air


LxB

Kembali kepada BM =

J=

LB
12

J
V

LB3
J
BM =
= 12
V
V

Untuk kapal bentuk kotak BM


=

LB 3
L x B3
=
12 V
12 x L x B x D x Cp

BM

= B2/12 D

Untuk kapal bentuk biasa


3

J =

kLB
BM =
12

k x L x B3
12
V

BM = kB2/12Dcb
k = merupakan suatu konstanta yang besarnya tergantung dari Cp

172
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

12.1.7. Menghitung KG
Berbagai metode yang biasa digunakan dalam menghitung KG diantaranya
adalah :
Berat
1. Nilai KG untuk kapal kosong diperoleh dari percobaan stabilitas/ inclining
experiment
2. Momen-momen dihitung terhadap lunas bidang kapal
3. Letak titik berat suatu bobot diatas lunas kapal disebut VCG = Vertical
centre of grafity .
Contoh :
1. Sebuah kapal mempunyai dis-placement = 5000 ton dan titik beratnya
terletak 20 diatas lunas, dimuat 200 ton 10 diatas lunas dan 300 ton 5 di atas
titik berat kapal semula. Berapa KG setelah pembongkaran
Berat x VCG

= moment

5000 x 20

= 100.000

+ 200 x 10

= 2.000

+ 300 x 25

= 7.500
+

5500 x KG = 109.500
KG = 109.500

= 19.9 kaki
5.500

2. Sebuah kapal mempunyai displacement = 5000 ton dan titik beratnya


terletak 20 diatas lunas. Dibongkar 200 ton, 5 kaki diatas lunas dan 300
ton, 15 kaki diatas lunas, Berapakah KG setelah pembongkaran ?
Berat x VCG

= momen

5000 x 20

= 100.000

- 200 x 5

= 1.000

- 300 x 15

= 4.500

4500 x KG

= 94.500

KG = 94.500/4.500=21 kaki
3. Displcement sebuah kapal ialah 8000 ton dengan KG = 21 kaki
Dimuat

= 800 ton dengan titik berat 15 kaki diatas lunas

600 ton dengan titik berat 3

kaki diatas lunas

1200 ton dengan titik berat 10 kaki diatas lunas


Di bongkar

= 1000 ton dengan ttk berat 8

700 ton dengan ttk berat 4 kaki diatas lunas

173
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

kaki diatas lunas

Teknika Kapal Penangkap Ikan

500 ton dengan ttk berat 12 kaki diatas lunas


Berapa KG setelah bongkar muat?
Berat

x vcg = Momen

8000

x 21 = 168.000

+ 600

x 3 = 1.800

+ 800

x 15 = 12.000

+ 1.200

x 10 = 12.000

- 1000

8 = - 8.000

- 700

4 = - 2.800

- 500

x 12 = - 6.000

8.400
KG

x KG = 177.000
= 177.000/ 8.400 = 21 kaki

12.1.8. Cara Mendapatkan KG (VCG) Kapal Kosong Pada Saat


Pemuatan dan Pembongkaran
Untuk memperoleh KG dapat dilakukan dengan cara mendapatkan nilai G dan
perubahannya baik secara vertical maupun horizontal.
Nilai titik G diperoleh dari percobaan stabilitas pada saat kapal kosong
Sedangkan titik G baru yaitu titik G yang telah berubah (karena pemuatan atau
pemabongkaran) dapat diketahui dengan menggunakan dalil momen.
Perubahan titik G vertikal
Cara yang dipakai untuk mengetahuinya adalah :
1. Membagi momen akhir dengan jumlah bobot akhir.
KG1 =

(1xKG)(W2 xKG1)(W3 xKG2)(Wn KGn)


1 W2 W3 ..........
Wn

2. Mengetahui titik G dari setiap ruangan yang ada di kapal melalui capasity
plan kapal, yaitu :
a. Jika ruangan diisi oleh satu jenis (macam) muatan saja titik berat (G)
ruangan langsung dapat kita ketahui.
b. Jika ruangan diisi akibat bermacam-macam muatan titik G dapat dibentuk
dengan jalan mengira.
c. Bagi muatan yang sejenis mengira-ngiranya lebih mudah momennya
merupakan hasil perkalian bobot muatan dengan jarak G diatas lunas.
Contoh :
1. Palkah kapal berisi ikan tuna 100 ton tingginya 4 kaki diatas dasar
berganda, tangki BB 2 buah di kiri kanan palkah ikan berisi BB 40 ton

174
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

tinggi 6 kaki diatas dasar berganda, tangki air tawar diatas tangki BB
melintang kapal berisi 80 ton air tawar tingginya 6 kaki diatas tangki BB.
Tinggi dasar berganda 4 kaki
Hitung VCG (KG) kapal tersebut ?
Ada dua cara menghitung VCG
1. Menghitung VCG ruangan diatas dasar berganda
Macam

Berat

Momen

muatan
- IkanTuna 100

200

- BB 2

240

720

40
(2)

Air
Tawar
80

260

VCG ruangan =

1160

1160
= 4,46
260

Dasar berganada = 4KG kapal

= 8,46

2. Menghitung VCG kapal


Macam

Berat

VCG Momen

- Tuna

100

600

- BB 2

40 (2)

560

Air
Tawar

80

13

1040

muatan

260

KG Baru =

2200

2200
= 8,46
260

Perubahan Titik G mendatar (horizontal)


Perubahan titik G pada prinsipnya terjadi apabila ada muatan yang digeser.
Artinya titik akan berubah apabila ada pergeseran muatan diatas kapal. Oleh
karena itu unsur-unsur yang diperhitungkan dalam pergeseran / perubahan
horizontal yaitu:

175
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Berat bobot yang dimuat dan kemudian di geserkan (W)


a. Jarak geseran (d)
b. Titik berat kapal tanpa muatan (G)
c. Titik berat kapal dengan bobot geseran di sebelah kiri (G1)
d. Titik berat kapal dengan bobot geseran di sebelah kanan (G2)
Untuk melihat pergeseran titik berat () perhatikan rumus berikut:
G2 // AB
G1G2 : AB

= GG1 : GA

G1G2 : d

=W

G1G2 =

Wxd

G 1 G2 = W x
Perubahan titik G karena geseran ke bawah atau ke atas
Contoh kasus :
Sebuah kapal dengan displacement 1.000 ton dengan KG = 25 kaki,
memindahkan muatan seberat 25 ton 20 kaki keatas. Berapa nilai G yang baru ?
berapa kaki bergesernya ?
Berat kapal tidak beruabah, hanya sebagian berat yang berpindah artiya letak
titik G yang berpindah.
Berat kapal

KG

Moment

()
Keadaan sauh 100 25
0
Kru

25.000

perpindahan

500

25

20

125 KG

KG =

25.500

25.500
= 25,5
1000

KG lama = 25
GG= 0,5
Perubahan KG = 0,5 ke atas (GG)
GG = KG - KG
momenperub
ahan momenakhirmomenawal

176
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

GG = Moment karena perubah

25 x 20 500

0,5
1000 1000

25 = bobot yang dipindah = W


20 = jarak perpindahan = d
GG=

(Wxd)

Pergeseran titik G karena pemuatan dan pembongkaran


Contoh kasus :
Sebuah kapal = 1500 ton, KG = 12, dimuat 200 ton dengan titik berat 10 di
atas lunas. Ditanya : bagaimana pengaruh muatan tersebut terhadap KG awal ?
Cara lama
Muatan Berat

KG

Momen

Disp

1500

12

18.000

Dimuat

200

10

2.000

1700 x KG
KG =

20.000

20.000
= 11765
1700

GG= KG - KG = 11765 12.000


= -0,235
atau
GG =

Wxd
200x2

0,235
akhir
1700

Rumus Memuat
GG

Wx(KG1 KG)
W

GG

Wxd
W

d = KG perpindahan KG lama

177
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Rumus Membongkar
GG

Wxd
W

d = KG lama - KG perpindahan
Contoh soal :
Memuat
GG

Wxd
W

20 x(12 22)
1050 20

200
1070

= -0,186
GG

= -0,019

KG

= 22

KG = 21,81 kaki
Membongkar
GG

Wxd
W

(150 x 5) (200 x 1) (120 x 4)


600 (150 200 120)

700 200 480 470


=
130
130

GG

= -3,615

KG

= 16

KG

= 12,38

KM

= 13,50

GM

= 1,12 kaki

12.1.9. Menghitung KM
Seperti telah diterangkan sebelumnya bahwa titik M adalah sebuah titik semu
yang letaknya selalu berubah-ubah (meta) dan tidak boleh dilampaui oleh titik
G agar kapal tetap mempunyai stabilitas positif. Disebut metasentrum karena
merupakan titik pusat yang selalu bergerak dan berubah-ubah tempatnya. KM
ialah jarak tegak dari lunas kapal sampai ke titik M. Nilai KM tidak dapat
dihitung dengan perhitungan biasa tetapi sudah ditentukan oleh si perencana

178
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

(naval architect). Nilai KM selalu berubah-ubah sesuai dengan perubahan sarat


dan bentuk kapal serta sudut senget kapal.
Ada berbagai cara menghitung KM yaitu:
1. Dengan rumus KM = KG + GM
2. Dengan rumus KM = KB + BM
3. Dengan diagram metasentrum
(a). Kapal langsar / tender
Kapal:Stabilitas positif
Sebab:
GM-nya kecil, sehingga kembali ke kedudukan tegak lamban karena
konsentrasi muatan ada di bagian atas kapal.
Sifat

: Olengan lambat

Kerugian : Apabila cuaca buruk kapal mudah terbalik


Mengatasi :
1. Mengisi penuh tangki dasar berganda
2. Memindahkan muatan dari atas ke bawah, untuk menurunkan letak
titik G agar GM bertambah besar.
(b). Kapal Kaku / Stif
Kapal :Stabilitas positif
Sebab

GM-nya terlalu besar sehingga momen penegaknya

terlalu besar

Sifat :
Olengan cepat dan menyentak-nyentak
Kerugian :
tidak nyaman bagi orang di kapal dan dapat merusak konstruksi
Mengatasi :
1. Mengosongkan tanki dasar berganda
2. Memindahkan muatan dari bawah ke
atas agar letak titik G
bertambah ke atas sehingga GM bertambah kecil.
(1). KM = KB + BM,
penentu titik B dan M
B KB diperoleh dari :
(a). Untuk kapal berbentuk katak
KB = sarat kapal
KB = D

179
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

(b). Untuk kapal berbentuk V


KB = 2/3 sarat kapal
KB = 2/3 D
(c). Untuk kapal berbentuk U
KB =

11
D
20

(d). Rumus Morrish


KB =

1
5
(
3
2

V
A

D = sarat
V = volume benaman
A = luas bidang air pada badan kapal
M merupakan titik potong antara dengan garis gaya melalui titik
apung 9b0
BM

BM

B2
KD

B3
12

V = BD

J : adalah momen enersial (kelambanan) yaitu suatu momen atau kuantitas


dari massa seluruh partikel suatu benda yang berkedudukan pada sumbu
benda tersebut.
J1

B dy

J2

B dy

J12

B dy dy

BM

B2 dy dy

1/3 B3

1/12 B3

B3
12

B3
B2
= 12 =
BD 12D

Mencari KM dengan diagram Metacenter ;

180
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 13
MENGOPERASIKAN MESIN PENGGERAK UTAMA
KAPAL PERIKANAN

13.1.

MESIN PENGGERAK UTAMA KAPAL PERIKANAN

Pada umumnya instalasi tenaga penggerak kapal bertonase besar terdiri dari
mesin utama, gear box, poros baling-baling dan baling-baling. Untuk ukuran
kecil dan sedang pada kapal perikanan masih sederhana dengan menggunakan
motor tempel, sedangkan pada perusahaan industri penangkapan skala besar
telah banyak menggunakan motor bakar berkapasitas besar sebagai tenaga
penggerak kapalnya.
Saat ini kapal-kapal menggunakan motor bakar jenis bensin dan diesel dari
pada mesin uap, motor listrik, atau motor bensin. Kapal-kapal bertonase besar
membutuhkan daya besar pula untuk menghasilkan tenaga penggerak kapal,
dan mesin penggerak utama yang digunakan adalah motor diesel karena tenaga
lebih besar, pemakaian bahan bakar lebih hemat.
Sebagai tenaga penggerak utama kapal perikanan khususnya, motor diesel
banyak sekali keuntungannya jika dibandingkan dengan motor bensin,
baik dalam pengoperasian maupun dalam pemeliharaannya dan juga motor
diesel lebih ekonomis. Mesin penggerak utama harus dalam kondisi yang
prima apabila kapal perikanan akan memulai perjalanannya.
Komponen-komponen utama dari mesin penggerak kapal seperti pada gambar
Di bawah ini.

Gambar 13.1. Instalasi Tenaga Penggerak Kapal


Motor bensin adalah motor yang bekerja dengan menggunakan bahan bakar
bensin, paraffin atau gas, bahan bakar yang mudah terbakar dan menguap.
Campuran bahan bakar dan udara masuk kedalam silinder melalui karburator

181
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

dan dikompresikan oleh torak pada tekanan 8-15 bar atau 8-15 kg/cm.
Selanjutnya bahan bakar dinyalakan oleh sebuah loncatan bunga api dan
terbakar cepat sekali di dalam udara kompresi. Kecepatan pembakaran melalui
campuran bahan bakar dan udara biasanya 10-25 m/detik. Suhu udara naik
hingga mencapai 2000-2500 C dan tekanan 30-40 bar atau 30-40 kg/cm.
Tekanan ini yang mendorong torak menuju Titik Mati Bawah (TMB) silinder.
Secara sederhana, cara kerja dari motor bensin adalah campuran bahan bakar
dan udara masuk kedalam silinder melalui karburator, campuran udara dan
bahan bakar dikompresikan kemudian bahan bakar dinyalakan dengan loncatan
bunga api listrik dari busi.
Motor Diesel adalah motor yang bekerja dengan menggunakan bahan bakar
yang lebih berat (minyak solar). Udara bersih masuk ke dalam silinder dan
dikompresikan oleh torak. Tekanan kompresi meningkat hingga 30-55 bar atau
30-50 kg/cm, suhu udara naik mencapai 700-900 C. Suhu udara kompresi
terletak diatas suhu penyala bahan bakar. Bahan bakar disemprotkan ke dalam
udara kompresi yang panas kemudian terbakar. Tekanan naik hingga 70-90 bar
atau 70-90 kg/cm. Secara sederhana, cara kerja dari motor diesel adalah udara
bersih masuk ke dalam silinder, udara dikompresikan kemudian bahan bakar
disemprotkan dan terbakar oleh panas udara kompresi.
Hal-hal yang harus diperhatikan dan diperiksa pada mesin penggerak utama
sebelum kita menghidupkan antara lain:
13.1.1. Minyak Pelumas
Minyak pelumas motor diesel bekerja pada kondisi yang lebih berat dari pada
minyak pelumas motor bensin, maka diperlukan kualitas yang lebih baik.
Minyak pelumas digolongkan menjadi beberapa jenis disesuaikan dengan
aplikasinya.
Menurut American Petroleum Industries (API), minyak pelumas dengan
klasifikasi DG menunjukan aplikasinya melayani beban biasa, DM untuk beban
sedang dan DS untuk beban berat. Huruf D adalah simbol yang menunjukan
penggunaan untuk motor diesel sedangkan G adalah General, M adalah
Moderat dan S adalah Severe.
Untuk itu minyak pelumas motor diesel harus memenuhi beberapa persyaratan
sebagai berikut ini;
1. Stabilitas terhadap panas dan oksidasi.
2. Kekentalannya tidak banyak terpengaruh oleh perubahan temperatur.
3. Tidak menyebabkan korosi.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada waktu menambah atau
mengganti minyak pelumas;
1.

Jangan mencampur minyak pelumas dengan jenis lain, karena


kemungkinan terdapat perbedaan pada zat tambahannya (additives).

2.

Pada waktu pengisian minyak pelumas harus dijaga jangan sampai ada
kotoran yang masuk ke dalam mesin.

182
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3.

Pembuangan minyak pelumas yang lama harus dilakukan setelah mesin


dimatikan, jadi pada waktu mesin masih panas.

Periksalah jumlah minyak pelumas dengan menggunakan batang pengukur


minyak pelumas. Tariklah batang tersebut dari dalam mesin dan bersihkan
dengan lap yang bersih, kemudian kembalikan ketempat semula.
Tariklah batang pengukur tersebut sekali lagi, dan periksalah apakah batang
tersebut dibasahi minyak pelumas sampai batas yang diminta. Apabila tidak,
tambahkan minyak pelumas sesuai dengan yang dicantumkan dalam buku
pedoman, tetapi jangan melampaui batas atau berlebihan.
13.1.2. Air Pendingin
Mesin kapal pada umumnya menggunakan pendinginan tidak langsung yaitu
pendingin air tawar mendinginkan mesin utama dan selanjutkan didinginkan air
laut melalui alat penukar panas (heat exchanger). Sebelum mesin dioperasikan
periksalah keadaan air pendingin, apakah volumenya sesuai dengan yang
tercantum di dalam buku pedoman. Apabila kekurangan air pendingin
tambahkan dengan air yang bersih. Untuk mesin dengan pendingin udara
periksa keadaan kipas udara dan saluran udara pendinginnya harus bersih serta
tidak ada kemungkinan terjadi kebocoran udara. Jangan lupa memeriksa juga
keadaan saringan udara, sebab umur mesin akan menjadi pendek apabila
saringan udara tidak dalam keadaan baik.
13.1.3. Bahan Bakar
Motor diesel menggunakan bahan bakar minyak ringan dan minyak berat juga
dipakai. Periksalah jumlah bahan bakar di dalam tangki, kemudian bukalah
keran bahan bakarnya. Jumlah bahan bakar harus dapat mencukupi kebutuhan
sehingga mesin tidak akan mati karena kehabisan bahan bakar. Apabila mesin
sudah lama tidak dipergunakan, maka sebelum mesin dihidupkan buanglah
udara dari dalam saluran bahan bakar dari tangki sampai ke penyemprot bahan
bakar.
13.2.

PENGOPERASIAN MOTOR UTAMA

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelummengoperasikan motor penggerak


utama, yaitu :
13.2.1.

Mengecek Sebelum Menyetart Motor

1. Periksalah jumlah minyak pelumas dengan menggunakan batang pengukur

minyak lumas. Tariklah batang tersebut dari dalam motor dan bersihkan
dengan lap yang bersih, kemudian kembalikan ke tempat semula. Tariklah
batang pengukur tersebut sekali lagi, dan periksalah apakah batang tersebut
dibasahi minyak pelumas sampai batas yang diminta. Apabila tidak,
tambahkan minyak pelumas, tetapi jangan melampaui batas.
2. Periksalah keadaan air pendingin, apakah jumlahnya sesuai dengan yang

tercantum di dalam buku pedoman.

motor dengan pendinginan udara,

183
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

periksa keadaan kipas udara dan saluran udara pendinginnya yang harus
bersih serta tidak ada kemungkinan terjadi kebocoran udara.
3. Periksalah jumlah bahan bakar di dalam tangki, kemudian bukalah keran

bahan bakarnya. Jumlah bahan bakar harus dapat mencukupi kebutuhan


sehingga motor tidak akan mati karena kehabisan bahan bakar. Apabila
motor sudah lama tidak dipergunakan, maka sebelum motor di start
buanglah udara dari dalam saluran bahan bakarnya.
4. Periksalah hubungan listrik dari baterai ke motor starter atau tekanan udara

yang diperlukan untuk menyetart.


5. Periksalah apakah mesin sudah tidak dibebani, dan mesin tidak boleh

dibebani dalam keadaan distart.


13.2.2. Menjalankan Motor
1. Periksalah semua sekrup dan baut, kokohkanlah apabila ada yang longgar.

Jangan lupa memeriksa keadaan saringan udara, sebab umur motor akan
menjadi pendek apabila saringan udara tidak dalam keadaan baik.
2. Pakailah minyak pelumas dan gemuk sesuai dengan yang dicantumkan

dalam buku pedoman menjalankan motor.


3. Untuk motor diesel dengan pendinginan air, isilah radiator dengan air yang

bersih. Berilah larutan anti beku apabila ada kemungkinan terjadi


pembekuan air pendinginnya, khususnya pada waktu sedang tidak dipakai.
4. Periksalah apakah tangki bahan bakar dan salurannya ada dalam keadaan

bersih. Sesudah itu isikanlah bahan bakar yang bersih dan buanglah udara
dari dalam saluran bahan bakar, dari tangki sampai ke penyemprot bahan
bakar.
5. Periksalah semua bagian motor yang akan bergerak supaya dapat diketahui

apakah ada yang kurang baik atau rusak.


6. Setelah semua persiapan dilakukan, dapat dilakukan start pada motor.

Sesudah motor dapat distart, panaskan motor terlebih dahulu dalam keadaan
tanpa beban beberapa saat lamanya. Setelah itu barulah motor boleh
dibebani.
7. Usahakanlah tidak menjalankan motor pada putaran tinggi.
8. Demikian juga beban supaya dibatasi pada 70-80% dari beban nominalnya

saja.
13.2.3. Yang Harus Diperhatikan Setelah Motor Dapat Distart
1. Tekanan minyak pelumas berkisar antara 2-4 kg/cm.
2. Bunyi dan getaran. Biasanya motor berbunyi keras pada permulaan start,

tetapi bunyi tersebut berangsur-angsur akan menjadi lunak setelah motor


menjadi panas.
3. Warna gas buang.

184
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Perhatikan temperatur gas buangnya.


5. Kebocoran air atau minyak pelumas.

13.2.4. Menghentikan Motor


Jangan menghentikan motor dengan tiba-tiba. Lepaskan bebannya terlebih
dahulu secara berangsur-angsur, kemudian biarkanlah motor bekerja tanpa
beban pada putaran rendah, kira-kira lima menit agar kondisi panas motor
berkurang, sesudah itu motor dapat dihentikan.
Ada dua cara menghentikan motor, yang pertama adalah menutup aliran bahan
bakar dan yang kedua adalah dengan cara menekan atau menarik tuas
dekompresi sehingga tidak terjadi proses kompresi.
13.2.5. Menjaga Kondisi Operasi Mesin Utama
Mesin induk yang sedang beroperasi harus dijaga kondisinya, karena tidak
tertutup kemungkinan kalau mesin tersebut dapat berhenti secara tiba-tiba atau
terjadi kelainan-kelainan yang dapat diketahui tanda-tandanya apabila kita
mengawasi saat mesin sedang beroperasi. Hal-hal yang harus diperhatikan saat
mesin sedang beroperasi antara lain :
1. Perhatikan tekanan dan suhu minyak pelumas
2. Perhatikan tekanan dan suhu air pendingin
3. Perhatikan suhu dari gas buang
4. Dengarkan mesin dengan cermat apakah suara dan jalannya normal
5. Perhatikan gas bekas / buang normal atau tidak
6. Perhatikan bagian-bagian umum lainnya barangkali ada baut-baut yang
kendor / longgar.
7. Periksa kebocoran-kebocoran dari instalasi minyak pelumas dan air
pendingin

Gambar. 13.2. Mesin Utama

185
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

13.3.

SISTEM PENDINGIN

Ada dua macam sistem pendinginan antara lain :


1. Pendinginan tertutup, apabila mesin didinginkan oleh air tawar, dan air
tawarnya didinginkan oleh air laut.
2. Pendinginan terbuka, apabila mesin didinginkan langsung oleh air laut.
Suhu air tawar yang masuk dalam mesin / motor pada umumnya mempunyai
temperatur 55C dan yang keluar 65C. Suhu air laut yang keluar masuk dalam
mesin / motor pada umumnya 40C dan yang keluar 45C.
13.3.1. Media Pendinginan
Ada 5 media pendinginan yang digunakan untuk mendinginkan mesin, antara
lain :
1. Pendinginan udara, pendinginan dengan udara terdapat pada mesin yang

bertekanan rendah, yang selinder mantelnya memakai rusuk-rusuk seperti


yang terdapat pada kapal terbang dan sepeda motor karena udara banyak
dan mudah didapat.
2. Pendingin dengan air tawar, terdapat pada mesin yang memiliki selinder-

selinder, tutup selinder dan piston melalui pipa telescope.


3. Pendinginan dengan air laut, untuk pendinginan selinder-selinder dan tutup

selinder dengan bantuan pompa air laut .


4. Pendinginan dengan minyak pelumas, sambil melumasi piston-piston dan

bagian bawah dari pada piston.


5. Pendinginan dengan bahan bakar, pendinginan dari bahan bakar itu sendiri

untuk pendinginan plunyer dan pompa bahan bakar (pengabut),

Gambar. 13.3. Pompa Pendingin Air laut

186
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

13.4

MENGATASI GANGGUAN PADA MESIN PENGGERAK


UTAMA KAPAL PERIKANAN

Gangguan (Trouble) pada mesin penggerak utama sebagian besar dapat


dikelompokan menjadi tiga kelompok yang terpisah yaitu :
13.4.1. Tekanan Minyak Pelumas Turun
Tekanan minyak pelumas yang tinggi sangat mempengaruhi operasi mesin
penggerak utama kapal penangkap ikan. Hal-hal yang menyebabkan tekanan
minyak antara lain :
a. Gangguan
1. Pipa bocor.
2. Saringan Kotor.
3. Speling metal longgar.
4. Minyak pelumas dalam karter sedikit
5. Minyak pelumas kemasukan bahan bakar
6. Permukaan minyak pelumas sudah terlalu encer
b. Mengatasi
1. Cek pipa dan ganti yang bocor.
2. Bersihkan saringan atau ganti.
3. Bila Perlu diganti.
4. Tambah minyak pelumas.
5. Ada kebocoran bahan bakar, perbaiki pipa yang bocor atau ganti.
6. Ganti minyak pelumasnya dengan yang baru.
13.4.2. Suhu Minyak Pelumas Terlalu Tinggi
Suhu minyak yang tinggi, sangat berbahaya di dalam operasi mesin penggerak
utama dan dapat berakibat matinya mesin. Apa yang menyebabkan suhu
minyak pelumas tinggi dan cara mengatasinya dapat dilihat pada tabel di bawah
ini.
a Gangguan
1. Cooler minyak lumas buntu.
2. Pendingin air laut tidak mencukupi.
3. Saringan air laut kotor.
4. Keran tertutup.

b. Mengatasi
1. Cooler dibersihkan.

187
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Cek pompa pendingin air laut dan tekanan airnya.


3. Cek saringan, bila kotor dibersihkan.
4. Keran buka penuh.
13.4.3. Suhu Air Pendingin Terlalu Tinggi
Ada beberapa factor yang dapat menyebabkan suhu air pendingin tinggi, antara
lain :
a Gangguan
1. Air pendingin tak mencukupi.
2. Saringan air laut kotor.
3. Kran by pas air laut tidak berfungsi.

b Mengatasi
1. Cek pompa pendingin air .
2. Cek saringan dan bersihkan.
3. Cek kran dan perbaiki.

13.4.4. Motor Tiba-tiba Mati Sendiri


Pada saat mesin penggerak utama kapal penangkap ikan sedang dihidupkan,
dimungkinkan motor penggeraknya dapat secara tiba-tiba mati, Hal tersebut
dapat disebabkan oleh beberapa macam faktor. Faktor atau gangguan dan cara
mengatasinya sebagai berikut :
a Gangguan
1. Governor macet
2. Tangki harian bahan bakar kosong
3. Injector macet
4. Bahan bakar kemasukan udara
5. Bahan bakar kemasukan air
6. Keran bahan bakar tertutup

b Mengatasi
1. Periksa bantalan governor, bila perlu diganti
2. Isi sampai penuh
3. Cabut injector, bersihkan atau diganti.
4. Dicerat berturut-turut dari pipa isap sampai ke injector.
5. Dicerat dari tangki harian sampai injector
6. Cek kran dan buka

188
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

13.4.5. Mesin Tidak Dapat Distart


Gangguan yang pertama kali dihadapi saat akan mengoperasikan mesin
penggerak utama, biasanya mesin tidak dapat distater atau dihidupkan.
Gangguan yang menyebabkan mesin tidak dapat distater atau dihidupkan antara
lain :
a Gangguan
1. Batery/accu lemah
2. Terminal batery kotor
3. Kerusakan pada relay
4. Kabel penyambung start putus
5. Mesin terlalu dngin
6. Motor stater rusak

b Mengatasi
1. Isi atau ganti batery
2. Bersihkan dan lapisi gemuk
3. Perbaiki dan sambungkan
4. Perbaiki atau ganti yang baru.
5. Panasi
6. Perbaiki atau ganti

Tabel 7.

Gas Buang Mesin Berwarna Hitam Dan Cara Mengatasinya

Kerusakan/gang-guan

Perbaikan

Beban motor terlalu berat (gas


buang hitam)

Turunkan rpm / pindahkan beban ke


motor lain

Kualitas bahan bakar kurang baik

Ganti bahan bakar baru

Pompa bahan bakar rusak / kerja


injector kurang baik

Periksa FIP dan Injektor Ganti baru

Terdapat gangguan pada tekanan Periksa tekanannya dengan injektor


injeksi
tester
Tekanan kompresi didalam
selinder turun

Periksa
kebocoran
bakar/kompresi

Ada kesalahan pada kelonggaran


katup hisap dan katup buang

Periksa dan lakukan clearance valve

189
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

ruang

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Bersihkan atau ganti baru


Saringan udara kotor/tersumbat

Ganti baru

Pipa pengeluaran gas buang kotor

Bersihkan

Minyak pelumas terbakar (gas


buang putih)

Ganti ring piston

Terlalu banyak minyak pelumas


yang masuk karter

Kurangi dan sesuaikan volume dengan


memeriksa stik penduga

Katup masuk dan katup buang


bocor karena aus

Katup masuk dan katup buang di


sekur sampai rata

Tabel 8. Suhu Gas Buang Dari Masing-Masing Selinder Tidak Seimbang


Kerusakan/gang-guan
Jumlah injeksi bahan bakar
yang tidak sama
Suhu keluaran
seimbang

yang

Perbaikan
Periksa pompa bahan bakar dan tekanan
pengabutan/ injektor

tidak Periksa sistem pendinginan

Putaran mesin tidak seimbang Periksa distribusi


dan getaran tinggi
mekanisme katup

bahan

bakar

dan

Tabel 9. Kecepatan Mesin Menurun Saat Operasi


Kerusakan/gang-guan

Perbaikan

Terlalu berat beban pada motor saat Turunkan


rpm,
operasi
beban motor

seimbangkan

Terjadi gangguan pada unit-unit yang Periksa dan ganti yang rusak
bergerak seperti piston dan bantalan
Terjadi gangguan pada pompa bahan Periksa FIP dan injektor
bakar dan katup injeksi bahan bakar
Saringan bahan bakar kotor

Bersihkan dan atau ganti baru

Bahan bakar tercampur udara atau air

Ganti bahan bakar baru

Ada kemungkinan sampah membelit Periksa dan bersihkan


pada baling-baling

190
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Tabel 10. Terjadi Getaran atau Bunyi Abnormal Pada Mesin


Kerusakan/gang-guan

Perbaikan

Ada benda asing yang menyelip


diantara roda gigi

Periksa dan bersihkan

Kerusakan pada roda gigi

Periksa dan ganti

Selip balik roda gigi terlalu banyak. Periksa dan ganti


Ada bunyi ketukan / detonasi pada
mesin

Periksa dan lakukan penyesuaian


timming bahan bakar

Kelonggaran antara bantalan dengan Periksa dan ganti sesuai ukuran


pena engkol terlalu besar
Mur dan baut bantalan poros engkol Periksa dan kencangkan
ada yang longgar
Tenaga out put setiap selinder motor Periksa distribusi bahan bakar dan
tidak rata
mekanisme katup

1. Setelah selesai memuat / membongkar pwa yang bertanggung jawab


terhadap muatan harus segera mengetahui GMnya apakah terlalu besar
atau terlalu kecil.
2. Untuk itu diperlukan suatu diagram yaitu diagram metacenter lukisan
berbentuk bagan dari KB dan BM, serta saratnya KM dapat diperoleh bagi
setiap sarat pada saat itu.
3. Apabila KG diketahui dan KM diperoleh dari diagram maka GM dapat
dihitung.
4. Apabila GM akhir ditentukan sedangkan nilai KM dapat diperoleh dari
diagram itu, maka KG akhir dapat ditentukan.
5. Diagram metacenter dilukis bagi sarat antara displacement kapal kosong
dan displacement kapal penuh (hight and load displacement)

191
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 14
MELAKUKAN PERAWATAN MESIN PENGGERAK
UTAMA KAPAL PERIKANAN
Perawatan sering disebut juga Maintenance ialah suatu kegiatan untuk merawat
suatu peralatan atau mesin agar selalu siap dipakai secara produktif dan
mempunyai umur yang relatif lama. Dalam masalah perawatan diperlukan
tambahan biaya, tenaga, metode dan penggerakan serta monitoring.
Kemahiran seseorang dalam mengoperasikan mesin
tanpa mengetahui
bagaimana cara-cara memelihara dan memperbaikinya akan menghambat
kelancaran pekerjaan dan akan menimbulkan kerugian pada dirinya serta orang
lain. Perawatan atau pemeliharaan pada semua mesin merupakan faktor yang
sangat penting. Manfaat dari pekerjaan tersebut akan kita peroleh untuk jangka
panjang. Oleh karena itu pekerjaan perawatan harus dijadikan suatu pekerjaan
yang bersifat rutin.
Tujuan utama perawatan / pemeliha-raan adalah sebagai berikut :
1. Untuk memperpanjang usia kegunaan.
2. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan dan mendapatkan laba
investasi semaksimal mungkin.
3. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang
diperlukan dalam setiap waktu misalnya unit cadangan.
4. Menjamin keselamatan orang yang melaksanakan tugas tersebut.
5. Untuk mencapai tingkat biaya pemeliharaan yang serendah mungkin dengan
melaksanakan kegiatan maintenance secara efktif dan efisien
keseluruhannya.
Kerja pemeliharaan bisa terencana ataupun tak terencana, hanya ada satu bentuk
pemeliharaan yang tak terencana yaitu yang dinamakan pemeliharaan darurat.
Pemeliharaan terencana dibagi dua aktifitas utama yaitu pemeliharaan
pencegahan (preventive maintenan-ce), yaitu kegiatan pemeliharaan dan
perawatan untuk mencegah timbulnya kerusakan yang dapat mengakibatkan
terhambatnya kegiatan produksi, dan pemeliharaan korektif (corrective
maintenance) yang sering juga disebut reparasi (repair), yaitu kegiatan
pemeliharaan yang dilaksanakan setelah terjadi kerusakan peralatan.
Keuntungan apabila pemeliharaan permesinan dilaksanakan dengan terencana
adalah selain dapat memberikan informasi biaya yang diperlukan (tidak
mendadak) juga antara lain berguna untuk :
1. Mengurangi pemeliharaan darurat (Karena kerusakan yang mendadak).
2. Menaikkan tanaga kerjanya sebagai akibat rusaknya mesin.

192
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3. Menaikkan
ketersediaan
dan
operasi/produksi tidak terganggu.

kesiapan

permesinan

sehingga

4. Memperpanjang waktu antara turun mesin (overhaul).


5. Mempertahankan tingkat efisiensi mesin.
6. Tingkat kecelakaan lebih kecil, pekerjaan diharapkan lebih cepat dan lebih
baik.
14.1.

PEMELIHARAAN MOTOR MESIN PENGGERAK UTAMA


KAPAL PERIKANAN

Pengertian perawatan atau pemeliharaan mesin adalah suatu kombinasi dari


setiap tindakan untuk selalu menjaga suatu barang atau untuk memperbaikinya
sampai suatu kondisi normal yang bisa diterima.
Pemeliharaan adalah suatu kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas
atau peralatan dan mengadakan perbaikan atau pergantian yang diperlukan agar
terdapat suatu kondisi operasi yang bisa diterima dan sesuai dengan yang
direncanakan. Pemeliharaan pada prinsipnya dibagi dua kelompok yaitu:
Pemeliharaan tak terencana yaitu pemeliharaan darurat yang perlu segera
dilaksanakan penanganannya akibat kerusakan yang terjadi.
Pemeliharaan terencana secara garis besar dibagi dua bagian yaitu :
1. Pemeliharaan pencegahan atau prefentif
2. Pemeliharaan korektif atau perbaikan
Pemeliharaan pencegahan dilaksana-kan secara berkala dan sering pula disebut
program pemeliharaan berkala, seperti penyetelan dan pengukuran terhadap
komponen mesin, sistem pelumasan, sistem bahan bakar dan sistem
pendinginan.
14.1.1 Tujuan Pemeliharaan
Tujuan dilakukannya pemeliharaan adalah :
1. Memperpanjang usia pakai dari suatu alat atau mesin
2. Menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang dan mendapatkan
laba investasi maksimum
3. Menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan
setiap waktu
4. Menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana tersebut
14.1.2. Prosedur Pemeliharaan Terencana
Tahapan prosedur pemeliharaan terencanan sebagai berikut :
1. Apa yang dipelihara
2. Kapan pemeliharaan dilaksanakan
3. Bagaimana cara memelihara

193
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Dengan langkah-langkah yang harus kita laksanakan.


yang akan dipelihara, meliputi :

Menentukan apa

5. Saran pemeliharaan
6. Penyusunan bahan-bahan pemeli-haraan
7. Penyusunan anggaran pemeliharaan
14.1.3. Keuntungan

Pemeliharaan Terencana

Banyak sekali keuntungan yang didapat kalau kita melaksanakan pemeleharaan


secara terencana, antara lain :
1. Pengurangan pemeliharaan darurat
2. Pengurangan waktu nganggur
3. Menaikan ketersediaan untuk produksi
4. Meningkatkan penggunaan tenaga kerja untuk pemeliharaan dan operasi
5. Memperpanjang waktu antara Overhaul
6. Pengurangan penggantian suku cadang dan membantu pengenda-lian
ketersediaan, meningkatkan efesi-ensi kerja
7. Memberikan pengendalian ang-garan dan biaya bisa diandalkan
8. Memberikan informasi untuk pertimbangan penggantian mesin dengan yang
baru
14.1.4. Membersihkan Bagian-Bagian Mesin
Kegiatan membersihkan mesin tidak hanya yang terlihat oleh mata saja (bagian
luar), tetapi bagian dalam mesin juga sangat penting untuk dibersihkan seperti
berikut ini.
1. Bagian luar mesin dibersihkan dan bila perlu dicat kembali.
2. Ulir baut yang tidak terlindungi tidak boleh di cat, tetapi diberi gemuk.
3. Waktu memasang kembali baut, diberi gemuk.
4. Poros baling-baling yang tidak di cat, digosok dengan ampelas halus yang
sudah di basahi dengan minyak solar, dibersihkan dan kemudian dilumuri
gemuk.
5. Onderdil / suku cadang diberi gemuk untuk mencegah berkaratnya mesin /
alat.
6. Saringan pelumas, saringan bahan bakar dan saringan air laut dibersihkan.
14.1.5. Sistem Pelumasan
Tujuan dari pelumasan adalah untuk mengurangi gesekan dari dua benda yang
bergerak horisontal ke kanan dan kekiri, vertikal ke atas bahkan ke bawah dan
gerakan berputar, sehingga bagian-bagian dari mesin yang bergesekan tidak
cepat aus, sehingga mesin tidak cepat panas, meredam semaksimal mungkin

194
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

getaran yang timbul, membantu membersihkan kotoran-kotoran yang terdapat


pada bagian-bagian mesin dengan jalan menghanyutkan kotoran dan
memperpanjang usia mesin. Besar kecilnya gesekan sangat tergantung beberapa
faktor antara lain sebagai berikut :
1. Kasar halusnya permukaan benda
2. Beratnya benda itu sendiri
3. Jenis dan macamnya bahan
Kalau diantara kedua benda yang saling bergesekan tanpa atau kurang minyak
pelumasnya, maka akan timbul aus juga panas. Lalu panas akan menyebabkan
benda itu memuai atau berkembang yang akibatnya dapat menyebabkan
kemacetan sehingga mesin akan mati.
14.1.6. Bak Minyak Pelumasan
Periksalah isi minyak pelumas setiap kali sebelum mesin di start dan gantilah
minyak pelumas sesudah dipakai 120 jam, kecuali untuk mesin yang masih baru
atau baru selesai di overhaul, peggantian minyak pelumas dilakukan setelah 60
jam yang pertama.
14.1.6.1. Minyak Pelumas dari Pompa Bahan Bakar
Periksalah isi minyak pelumas dari pompa bahan bakar setiap kali mesin akan
di start atau bisa juga setiap 60 jam. Kalau ternyata terdapat kebocoran, cari
sebabnya dan perbaikilah dengan segera. Gantilah minyak pelumas setiap 120
jam, atau kalau ternyata minyak pelumas menjadi encer karena adanya bahan
bakar yang masuk kedalamnya. Pengeluaran minyak pelumas yang lama
dilakukan dengan jalan membuka baut pembuangannya
14.1.6.2. Governor
1. Pneumatik
Supaya diafragma yang biasanya dibuat dari kulit hewan tidak lekas rusak,
berikanlah 3 sampai 5 tetes minyak yang khusus (diapragm oil) ke
dalamnya setiap 120 jam.
2. Mekanis
Periksalah minyak pelumas setiap 60 jam dan ganti setiap 120 jam.
14.1.6.3. Minyak Saringan Udara
Jika memakai saringan udara jenis oil bath, periksalah minyak pelumasnya
setiap 60 jam. Isinya tidak boleh terlalu banyak karena selain menghambat
aliran udara, minyak tersebut juga akan terisap masuk ke dalam silinder dan
terbakar bersama-sama dengan bahan bakar, sehingga meninggalkan kerak yang
mengotori ruang bakar.
Sebaliknya jika isinya terlampaui sedikit, maka proses penyaringan udaranya
tidaklah efektif. Ganti minyak setiap 120 jam, hal ini berlaku pada umumnya.
Tetapi apabila ternyata minyak sudah kotor atau apabila daerah operasinya

195
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

sangat berdebu, sebaiknya minyak segera diganti atau jangka waktu


pergantiannya dipersingkat. Cuci saringan dan komponennya dengan minyak
ringan.
14.1.6.4. Starter dan Puli Penegang Tali Kipas
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Starter, lumasi bantalan motor starter setiap 500 jam
2. Puli penegang tali kipas, masukanlah gemuk melalui puting gemuknya
setiap 120 jam
14.1.7. Merawat Sistem Bahan Bakar
Sistem bahan bakar salah satu hal penting yang harus dilakukan perawatan,
karena mesin tidak dapat di starter apabila terdapat gangguan pada sistem
tersebut.
1. Tangki harian bahan bakar dicerat setiap hari, dan diperiksa bila kurang
ditambah.
2. Saringan bahan bakar dicerat setiap 50 jam dan dibersihkan setiap 250 jam.
3. Injektor diperiksa setiap 250 jam
4. Pompa bahan bakar poros noknya diperiksa setiap 50 jam
5. Timing pembakaran diperiksa setiap 2000 jam
6. Klep tekanan tinggi diperiksa setiap 2000 jam
7. Bongkar tiap bagian-bagian mesinnya setiap 3000 jam
14.1.8. Merawat Pipa dan Kerangan
Apabila pipa-pipa dan kerangan tersebut sudah berkarat, maka pipa tersebut
harus disekrap, dimeni dan bila perlu dicat sesuai warna aslinya. Pipa-pipa yang
tebuat dari kuningan harus dibraso dan digosok sampai mengkilap serta tidak
boleh dicat. Kran-kran air laut yang sudak kotor atau ditempeli tritif harus di
bersihkan dan di cat meni.
14.1.9. Merawat Kran-kran
Cara merawat kran-kran sebagai berikut ini :
1. Plat nama kran harus digosok dengan braso dan tidak boleh dicat.
2. Bila ada kran yang macet dibongkar dan disekur.
3. Batang kran diberi gemuk supaya tidak berkarat.
4. Remes batang kran yang rusak, ganti dengan yang baru.
5. Remes paking yang bocor diganti.

196
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

14.1.10.

Merawat Plat-plat Nama

Semua plat nama yang terdapat pada motor induk, motor generator dan pesawat
bantu harus digosok dengan braso dan tidak boleh dicat, bila perlu diberi gemuk
yang tipis saja.
14.2.

Pemeliharaan Secara Berkala

Pemeliharan secara berkala sangat baik untuk mencegah terjadinya kerusakan


mesin dan juga dapat bermanfaat untuk menghasilkan kerja mesin yang optimal
sehingga pelayaran tidak terganggu. Jenis
Pemeliharaan secara berkala
dilakukan berdasarkan waktu pemeliharaan antara lain :
14.2.1. Perawatan Harian

Perawatan harian adalah perawatan yang dilakukan setiap hari.Hal-hal yang


harus dilakukan dalam perawatan harian, antara lain :
1. Periksalah isi tangki harian bahan bakar minyak setiap mesin akan di start
2. Periksalah isi minyak pelumas secara berkala setiap mesin berjalan
3. Periksa kotoran endapan tangki bahan bakar minyak
4. Periksa system pendingin mesin dan salurannya
5. Periksa semua bagian-bagian yang berputar.
14.2.2. Perawatan Mingguan

Perawatan mingguan adalah perawatan yang dilakukan setiap minggu. Hal-hal


yang harus dilakukan dalam perawatan mingguan, antara lain :
1. Buang endapan dari filter BBM dan tangki harian
2. Bersihkan filter minyak pelumas
3. Periksa air accu, voltage dan ampernya
4. Periksa dan grease pompa air pendingin
14.2.3. Perawatan Bulanan

Perawatan bulanan adalah perawatn yang dilakukan setiap bulan. Hal-hal yang
harus dilakukan dalam perawatan bulanan, antara lain :
1. Buka dan bersihkan Noozle selanjutnya lakukan test Noozle
2. Ganti minyak pelumas (sesuai operation manual book)
3. Bersihkan filter minyak pelumas dan semua bagiannya
4. Bersihkan tangki harian bahan bakar minyak
5. Periksa injection timing
6. Periksa celah katup dan kencangkan baut bila kendor
7. Periksa accu, switch, fitting, bearing dynamo star

197
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

8. Bersihkan filter udara masuk


14.2.4. Pemeliharaan Triwulan

Pemeliharaan triwulan adalah pemeliharaan yang dilaksanakan setiap 3


bulanan. Hal-hal yang harus dilakukan dalam perawatan triwulan, antara lain :
1. Periksa Bosch pump dan Noozle
2. Lakukan pengukuran celah katup
3. Periksa valve guide dan bagian- bagiannya
4. Bersihkan Combustion chamber
14.2.5. Perawatan Tahunan
Lakukan general overhaul, biasanya waktunya bersamaan dengan pekerjaan
docking tahunan kapal dan perawatan meliputi;
1. Pengukuran diameter dalam silinder liner
2. Pengukuran diameter piston
3. Melakukan pengukuran defleksi poros engkol
4. Ring piston ganti baru
5. Periksa metal jalan
6. Periksa metal duduk
7. Skur katup atau ganti baru
8. Periksa atau lakukan test bosch pump
9. Buka noozle dan lakukan test tekanan noozle
10. Buka dan lakukan rekondisi pompa air pendingin
11. Perbaiki semua saluran pendingin mesin
12. Periksa pompa air pendingin mesin.
14.3.

PEMERIKSAAN BERKALA

Setiap mesin kapal sangat membutuihkan dilakukannya suatu pemeriksaan,


pemeliharaan atau perawatan secara berkala yang intensif, guna memperoleh
tenaga mesin yang optimum dan untuk menghindari terjadinya kerusakan mesin
saat kapal berlayar.
Jadi pemeriksaan secara berkala sangatlah penting agar mesin selalu dalam
keadaan siap beroperasi. Pemeriksaan mesin secara berkala tergantung dari
kondisi operasi, jam kerja mesin, kualitas dari minyak lumas, bahan bakar dan
cara pengoperasian mesin. Pada umumnya pemeliharaan atau pemeriksaan
komponen mesin secara berkala dilakukan seperti pada tabel berikut :

198
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Tabel 11. Perawatan Berkala


ITEM
KOMPONEN
Sistem bahan
bakar

Siatem minyak
pelumas
Mesin

Air pendingin
Mesin
Pengatur
Pompa bahan
bakar
Katup semprot
minyak
Kepala silinder
motor

Katup start
Torak
Batang torak
Bantalan utama
Poros engkol
Botol angin
Permukaan mesin

KETERANGAN
Pengosongan tangki bahan bakar
Pengosongan saringan bahan bakar
Pembersihan saringan bahan bakar
Pemeriksaan paras minyak, pengisian
Pengosongan saringan pelumas
Pembersihan saringan pelumas
Pemutaran handel saringan automatic
Penggantian minyak pelumas
Pembersihan pendingin pelumas
Pembersihan saringan sentrifugal
Pemeriksaanpemasangan bis packing
Pemeriksaan aliran air pendingin
Penggantian zinc anti karat
Pemeriksaan paras minyak
Pemeriksaan waktu semprotan
Pemeriksaan paras minyak pompa
Pemeriksaan katup masuk
Pemeriksaan keadaan penguapan
Pembersihan saringan
Pengerasan baut pemasangan
Pembersihan kamar pembakar
Pembersihan kamar depan pembakar
Penyesuaian katup masuk/buang
Pengepasan kedudukan katup
Pengepasan kedudukan katup
Pemeriksaan pegas katup start
Pemeriksaan cincin torak
Pemeriksaan bantalan dan baut
Pemeriksaan bantalan dan baut
Periksa ukuran pasak , bantalan poros
Penyesuaian pelengkungan
Pemeriksaan tekanan botol
Pengosongan
Pemeriksaan baut dan kebocoran

Sistem pipa
Pemeriksaan kebocoran minyak
Pengisian minyak ke katup pembagi start udara
Pemeriksaan paras minyak
Pemutaran handle saringan minyak
Kopling
Pembersihan saringan minyak
Penggantian minyak
Pemeriksaan pelat geser dan karet
Penyesuaian pelayanan jarak jauh(type kawat)
Peralatan pengendalian mesin/kapal dalam keadaan berfungsi

14.4.

JAM KERJA
MESIN
Setiap hari
50 jam
250 jam
Setiap hari
50 jam
250 jam
Setiap hari
250 jam
3000 jam
500 jam
Setiap hari
Setiap hari
1000 jam
50 jam
500 jam
50 jam
500 jam
250 jam
500 jam
100 jam
250 jam
500 jam
250 jam
500 jam
250 jam
250 jam
250 jam
250 jam
5000 jam
5000 jam
1000 jam
Setiap hari
50 jam
Setiap hari
Setiap hari
Setiap hari
Setiap hari
Setiap hari
50 jam
250 jam
2000 jam
250 jam
handel netral.

Perawatan Komponen Utama Motor Diesel

Perawatan komponen utama motor diesel seperti kepala silinder, katup isap dan
katup buang, silinder, torak, cincin torak, poros engkol dan lain sebagainya

199
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

harus dilakukan, agar mesin dapat beroperasi dengan baik saat berlayar. Cara
perawatan komponen utama antara lain :
14.4.1.

Kepala silinder

Sebagai pedoman untuk setiap mesin kapal, pembongkaran mesin harus


dilakukan tiap tahun ( 2000 sampai 3000 jam kerja). Meskipun demikian,
pemeriksaan bagian tersebut harus pula dilakukan pada waktu katup-katup
harus biasa pada dudukannya. Elektroda anti korosi harus diperiksa pada tiga
bulan yang pertama, selanjutnya pada tiap saat dirasakan perlu, tergantung pada
kondisi operasinya.
Batas pemakaian untuk kepala silinder, apabila terdapat keretakan atau
kerusakan pada kepala selinder tersebut dan apabila tidak bisa diperbaiki maka
segera diganti. Dan juga memperhatikan ukuran, tebal dan keadaan paking
kepala silinder sebaiknya dari blok silinder.
14.4.2. Katup Isap dan Katup Buang
Perawatan yang harus dilakukan pada katup isap dan katup buang adalah :
1. Periksalah kerak carbon, keadaan muka katup dan perubahan warna
2. Periksa perubahan warna dan bentuk batang katup, keausan dan kondisi
pelumasannya
3. Periksa kelonggaran baji pemegang katup
4. Periksa pegas katup terhadap kemungkinan patah, aus, korosi, dan
kekuatannya
5. Ukur diameter katup
6. Ukurlah celah bebas antara batang katup dan jalan katup
7. Pengasahan katup pada dudukannya dilakukan di setiap setengah tahun (
1.000 sampai 1500 jam kerja )
8. Batas pemakaian katup, katup-katup harus diganti apabila muka katup
sudah rusak. Kalau muka katup tersebut terbuat dari stellite, gantilah katup
apabila lapisan satellite tersebut sudah habis atau rusak.
9. Batas celah bebas yang diperbolehkan antara batang katup dan jalan katup
adalah tiga kali bebas celah standartnya
10. Katup harus diganti apabila pegas katup patah, berkarat atau retak
11. Apabila katup harus diganti,
12. Jangan sampai katup buang dan katup isap tertukar
14.4.3. Silinder
Cara perawatan pada silinder sebagai berikut :
1. Keluarkan torak kemudian periksa keadaan dinding dalam silinder terhadap
kemungkinan adanya goresan, lekuk-lekuk atau keausan yang tidak biasa

200
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Periksa apabila adanya retak-retak


3. Periksa paking kepala silinder, apakah terdapat kebocoran gas pembakaran
4. Periksa bagian dinding silinder ditempat cincin kompresi yang pertama
yaitu pada waktu torak berada di Titik Mati Atas (TMA ), terhadap
kemungkinan terjadinya lekuk keausan
5. Pemeriksaan dinding dalam, tariklah tabung silinder dari blok mesin,
kemudian periksa dinding luarnya terhadap kemungkinan terjadinya karat
6. Periksa electroda (zeng ) anti korosi
7. Periksa pakingnya apakah terdapat bekas kebocoran air
8. Periksa keadaan cincin penyekat
9. Ukurlah diameter didalam silinder dinding silinder dalam arah yang sejajar
dengan pena torak dan dalam arah tegak lurus pada arah tersebut
Pada umumnya tabung silinder dikeluarkan untuk diperiksa, setiap dua tahun
(4000 sampai 6000 jam kerja). Namun sebaiknya setelah setahun yang pertama
satu atau dua tabung silinder dikeluarkan dari blok mesin untuk diperiksa.
Batas pemakaian untuk dinding dalam silinder yang tidak dilapisi khrom, batas
keausan yang diperbolehkan adalah 6 / 1.000 mm sampai 8 / 1.000 mm dari
diameter dalam silindernya sedangkan batas tidak merata beda dengan tekanan
maksimum dan minimum adalah 1 / 3 mm dari bilangan tersebut diatas
penambahan lapisan khrom sebaiknya dilakukan sebelum chrom tersebar.
Batas pemakaian untuk dinding dalam silinder yang tidak dilapisi khrom, batas
keausan yang di perbolehkan adalah 6 / 1.000 mm sampai 8 / 1.000 mm dari
diameter dalamnya merenggang sehingga batas dalam silinder tidak merata
sehingga tekanan maksimum dan minimumya adalah 1 / 3 mm bilangan
tersebut diatas.
14.4.4. Torak
Tahapan pemeliharan torak antara lain :
1. Periksa kerak-kerak carbon yang terjadi pada sisi puncak dan lubang
minyak pelumas sepanjang alur cincin minyak
2. Periksa kerak- kerak karbon yang terjadi pada permukaan atas dan bawah
dari kepala torak
3. Periksalah apakah kepala torak terbakar, retak atau terkena korosi
4. Periksa semua bagian isi torak yang meluncur pada dinding silinder
5. Periksa keadaan kontak antara pena torak dan bantalannya pada torak
6. Periksa letak dan keadaan cincin kunci pena torak
7. Mengukur diameter luar torak dalam arah sejajar Pena torak dan dalam arah
tegak lurus

201
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

14.4.5. Cincin Torak


Tahapan pemeliharaan cincin torak sebagai berikut :
1. Periksalah keadaan cincin torak, apakah rusak, macet dalam alurnya, atau
menunjukan tanda kerusakan yang tidak normal
2. Ukurlah lebar dari cincin torak, kalau tebalnya sukar diukur masukan cincin
tersebut kedalam silinder dan ikatlah antara kedua ujungnya
3. Kalau cincin torak rusak dalam pemakaiannya maka harus diganti dengan
yang baru
4. Batas keausan cincin torak adalah sekitar 10 % dari tebalnya
5. Pada waktu mengganti cincin torak perlu diperhatikan bahwa cincin torak
harus ditempatnya masing-masing
14.4.6. Poros Engkol
Cara merawat poros engkol antara lain :
1. Periksalah keadaan permukaan kontak dengan bantalan, kondisi pelumasan,
juga terhadap perubahan warna dan korosi
2. Periksa poros terhadap kemungkinan adanya kotoran, geram, retak serta
keausan tidak merata dan hal yang tidak normal
3. Periksa keadaan lubang minyak pelumas
4. Periksa keadaan filet dan pada lengan engkol kemungkinan adanya retak
5. Periksa kerak-kerak karbon yang berada didalam bagian pena engkol
6. Periksa kerapatan lubang jurnal dan pena engkol
7. Periksa keadaan bobot balans, roda gigi dan sebagainya
8. Pengukuran diameter luar jurnal dan pena engkolnya, pengukuran harus
dilakukan dalam arah vertical dan horizontal
14.4.7. Bantalan Utama Poros Engkol
Cara merawat bantalan utama poros engkol antara lain :
1. Periksalah kekokohan baut-bautnya
2. Periksalah keadaan sambungan-nya, ulir batang dan kepala bautnya
terhadap kerusakan yang mungkin terjadi
3. Periksa permukaan kotak antara bantalan dengan rumahnya
4. Periksalah permukaan dalam bantalan utama terhadap kemungkinan
perubahan warna
5. Ukuran diameter luar poros engkol
6. Pasang bantalan utama pada rumahnya masing-masing
7. Pembongkaran untuk bantalan utama poros engkol dilakukan dua tahun
sekali (4000 sampai 6000 jam )

202
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

8. Batas pemakaiannya apabila menunjukan tanda-tanda kerusakan maka


harus segera diganti
14.5.

PERAWATAN SISTEM STAR PADA MOTOR DIESEL

Perawatan sistem starter pada motor diesel, merupakan salah satu faktor utama
juga yang harus dilakukan, agar mesin diesel mudah dihidupkan apabila akan
melakukan operasi. Tahapan perawatan sistem starter ada beberapa macam,
antara lain sebagai berikut ini :
14.5.1. Perawatan Sistem Start Udara
Dalam hal membersihkan saringan udara matikanlah mesin supaya debu dan
kotoran tidak masuk kedalam mesin, kotak saringan pendahuluan biasanya
transparan, sehingga debu atau kotoran yang ada didalamnya dapat dilihat
dengan jelas, periksa dan bersihkan setiap pagi. Kalau minyak menjadi kental
karena banyak mengandung debu, maka sebaiknya diganti meskipun hal
tersebut terjadi sebelum saat pergantian yang ditetapkan. Pakailah minyak
ringan atau minyak tanah untuk mencuci kotak saringan dan elemennya.
Saringan udara dengan saringan kertas, dalam hal ini matikan mesin sebelum
membuka saringan udara, setiap 120 jam kerja, ambillah elemen saringannya
kemudian bersihkan kotak elemen saringan tersebut, dibersihkan dengan
meniup udara tekan pada bagian dalamnya. Gantilah elemen saringan yang
baru setiap 500 jam kerja.
Menyetel celah bebas katup, untuk mesin baru atau baru reparasi, periksa dan
setel bebas katup setelah 60 jam yang pertama. Selanjutnya ulangi proses
tersebut setiap 250 jam kerja berikutnya. Namun, pemeriksaan dan penyetelan
celah bebas katup juga harus dilakukan apabila terdengar bunyi yang tidak
normal, terutama pada putaran rendah.
Pengukuran tekanan kompresi didalam silinder, pengukuran ini sebaiknya
dilakukan oleh bengkel biasanya memiliki alat yang diperlukan. Pengukuran
tekanan kompresi tersebut dilakukan setiap 500 jam, sehingga dari data yang
diperoleh dapat ditentukan kapan mesin harus direparasi.
Penurunan tekanan kompresi disebabkan karena:
1. Kontak tak sempurna antara katup dan dudukan
2. Keausan dinding selinder
3. Kerusakan cincin kompresi atau macetnya cincin kompresi didalam alurnya
14.5.2. Perawatan Sistem Start Electrik
Sebelum memeriksa dan memperbaiki sistem start electrik, semua switch harus
dimatikan terlebih dahulu.

203
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1. Generator
Untuk generator arus searah (DC) dimana komutatornya harus dirawat. Apabila
dipakai arus bolak balik (AC) maka tidak terdapat komutator, tetapi kombinasi
ring selip dan sikat yang harus diperiksa atau diganti sikatnya setiap 2500 3000 jam kerja. Dalam hal tersebut daya listrik bolak balik dirubah menjadi
daya listrik arus searah dan dipergunakan uantuk mengisi batteray. Periksalah
sikat-sikatnya dengan cermat dan bersihkan debu carbon yang ada disekitarnya.
Sikat-sikat harus dapat bergerak bebas dalam pemegang sikat. Jika permukaan
kotak yang ada didalam permukaan kotak dalam keadaan kasar atau aus
melebihi batas yang diperbolehkan, gantilah dengan sikat yang baru meskipun
belum sampai saatnya untuk diganti, misalnya kurang dari 500 jam kerja.
Periksalah komutator setiap 500 jam kerja, tergantung dari pada laju
keausannya, gosoklah dengan kotak gosok, kemudian bersihkanlah dengan lap
yang dibasahi bensin. Keadaan mika tinggi akan mengakibatkan loncatanloncatan listrik sehingga sikat-sikatnya akan cepat rusak. Oleh karena itu, mika
isolatornya harus dipotong sampai keadaan start.
2. Motor Starter
Periksalah dan rawatlah sikat-sikat dan komutatornya, kopling motor starter
terletak dibagian yang menjadi satu bagian dengan pinion, apabila pelat kopling
aus, maka pinion tidak akan berhubungan sempurna dengan roda gigi gelang
pada roda gaya. Jadi pinion tidak meluncur dengan sempurna, atau langkah
pinion berkurang beberapa menit. Apabila karena keausan pada pelat kopling,
langkah pinion berkurang 2,3 mm, bongkar kopling pinion dan tambahkan
pelat penyetel.
3. Batteray
Meskipun mesin tidak dijalankan, tegangan batteray dapat ber-kurang. Oleh
karena itu, selain pemeriksaan berkala yang dilakukan setiap 60 jam kerja,
periksalah tegangan batteray setiap satu kali seminggu.Usahakan agar keadaan
batteray dalam keadaan bersih dan kering, perhatikan juga kebersihan
sambungan pada terminalnya. Kalau terminalnya kotor atau terkena korosi,
bersihkan dan cucilah dengan larutan natrium carbonat. Sesudah terminal
dibersihkan dan pasang kembali, dan tutupi dengan lapisan gemuk (grease).
Dengan mengukur berat jenis air batteray dapat diketahui muatan batteray,
dibawah ini :
Tabel.12. Pedoman Mengetahui Muatan Battery Pada 20c.
Muatan

Berat jenis

Penuh

1,280 sampai 1,300

1,250

1/2

1,220

1/4

1,190

Kosong (mati)

1,160

204
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Jangan sekali-kali membuka atau memasang terminal dengan jalan


memukulnya dengan palu. Usahakan bagian atas batteray bebas dari pada
logam hal tersebut diperhatikan untuk mencegah terjadinya konsleting dan
hilangnya muatan batteray.

205
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB. 15
MELAKUKAN PERAWATAN MESIN BANTU DEK
DAN MESIN BANTU PENANGKAPAN
Yang dimaksud dengan mesin bantu ialah semua mesin atau alat-alat di kapal,
yang digunakan untuk membantu supaya kapal dapat beroperasi secara terus
menerus (kontinue) dan aman, baik pada waktu kapal di laut maupun di
pelabuhan. Mesin-mesin bantu di kapal perikanan dikelompokkan menjadi :
1. Kamar mesin, yaitu semua pompa-pompa yang dipakai untuk memompa :
air pendingin, air minum, keperluan seniter, muatan zat cair, lensa dan
ballast, udara minyak dan lain-lain, dinamo-dinamo dan motor listrik
pemanas air pengisi dan saringan-saringan (filter) alat-alat penguap
(evaporator), alat-alat destilasi dan mesin pendingin.
2. Dek, yaitu mesin kemudi, mesin jangkar, peralatan untuk bongkar muat dan
lain-lain.
3. Mesin penangkapan, yaitu line hauler, power block, trawl winch dll
15.1.

MEMPERSIAPKAN PEKERJAAN PERAWATAN MESIN

Pekerjaan pemeliharaan agar efektif, harus dilakukan secara menyeluruh dan


teratur. Suatu jadwal pelayanan pemeliharaan harus diuraikan dalam setiap
instalasi dan jadwal ini harus diikuti seketat yang dimungkinkan oleh keadaan
operasi.
15.1.1. Jadwal Pemeriksaan Perawatan
Persiapan pemeliharan yang baik harus sesuai petunjuk pemeliharaan yang
direkomendasikan oleh perusahaan dengan mengambil informasi dari buku
instruksi yang disertakan dengan setiap mesin. Jumlah boleh maksimum dari
jam operasi diantara inspeksi dari bagian yang terdaftar. Jumlah jam ini akan
bervariasi sesuai dengan ukuran mesin, jenis beban, dan sifat pelayanan.
Dalam instalasi baru adalah kebijaksanaan yang baik untuk pertama kali
mengatur periode yang singkat diantara inspeksi dari berbagai bagian, dan
kemudian kalau pengalaman instalasi menunjukan bahwa didalam jam yang
ditentukan suatu bagian tertentu
tidak menunjukan kotoran, keausan atau
kehilangan penyetelan terlalu banyak, maka jangka waktu diantara inspeksi
sedikit demi sedikit diperpanjang. Tetapi perlu diingat bahwa pengumpulan
kotoran, peningkatan keausan, dan kehilangan penyetelan secara umum tidak
mengikuti garis lurus dengan waktu, tetapi kurva cembung yang makin lama
makin curam. Oleh karenanya, untuk mencegah kerusakan, jauh lebih baik
untuk melakukan inspeksi berikutnya agar lebih cepat dari pada agak terlalu
lamban.
Sewajarnya, kapan saja bagian diinspeksi dan didapati telah aus mendekati atau
melebihi toleransi yang ditentukan, harus diperbaiki atau disetel sedemikian
rupa sehingga celah yang ditentukan diperbaiki kembali.

206
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Oleh karenanya sehubungan dengan jadwal pemeliharaan, diperlukan untuk


memberikan informasi kepada manajer instalasi atau operator mesin dalam
instalasi yang kecil, suatu lembaran instruksi spesifik berkenaan dengan celah
dan penyetelan untuk setiap mesin atau setiap jenis mesin dalam instalasi.

Gambar 15.1. Perbaikan Mesin


Kalau buku petunjuk setiap mesin khas tidak memiliki semua data yang
diinginkan, maka data tersebut harus didapatkan dengan menyurati pembuat
mesin. Kalau karena sesuatu alasan hal ini tidak dapat dilakukan dapat
digunakan data rata-rata. Jadwal inpeksi pemeliharaan sebagai berikut :
1. Silinder atau lapisan silinder dan torak mesin (6000 jam).
2. Katup pemasukan udara (3000 jam)
3. Katup Buang (1500 jam)
4. Katup udara penstarter (4000 jam)
5. Katup keselamatan dan pengaman (100 jam)
6. Silinder dan torak kompressor udara ( 300 jam)
7. Katup kompressor: isap dan tekan (1500 jam)
8. Silinder dan torak atau rotor pompa bilas (3000 jam)
9. Katup pompa bilas: tekan dan isap (3000 jam)
10. Lubang bilas dan katup otomatis (3000 jam)
11. Pengatur aliran gas buang (2000 jam)
12. Peredam dan saluran buang (6000 jam)
13. Bantalan Utama dan

Tap (6000 jam)

14. Bantalan luar (6000 jam)


15. Bantalan dorong (6000 jam)
16. Pena engkol dan bantalan (3000 jam)

207
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

17. Pena torak atau pena kepala silang dan bantalan (6000 jam)
18. Pemandu dan sepatu kepala silang (6000 jam)
19. Pena torak kompressor dan bantalan (3000 jam)
20. Bantalan poros vertical (4000 jam)
21. Bantalan poros nok (4000 jam)
22. Penggerak poros nok (2000 jam)
23. Pompa bahan bakar (4000 jam)
24. Penggerak pompa bahan bakar (2000 jam)
25. Nosel atau katup bahan bakar dan pengatur waktu bahan bakar (500 jam)
26. Sambungan, bantalan, pegas pengatur /governor (4000 Jam)
27. Penggerak pengatur (4000 jam)
28. Torak dengan pendingin air atau minyak, paking, bantalan, sambungan bola
dan engsel (3000 jam)
29. Kepala dan jaket

silinder (1000 jam)

30. Lubang pendinginan dalam torak (2000 jam)


15.2.

PERAWATAN MESIN-MESIN DEK

Untuk melakukan perawatan mesin-mesin dek tahapan yang dilakukan sebagai


berikut :
1. Periksa lampu-lampu indikasi
2. Diberi perlindungan anti karat
3. Mengecat dengan cat anti korosif. Pengecatan ini dimaksudkan untuk
memberikan lapisan anti karat atau korosif pada permukaan mesin-mesin
dek.
4. Berikutnya adalah memberikan lapisan pipa yang telah dicat dengan cat anti
karat atau korosif dengan cat biasa (Top coating).
5. Menghilangkan lapisan karat dengan diketok dengan palu ketok,
dibersihkan dengan amplas untuk menghilangkan sisa kotoran yang terdapat
pada permukaan mesin-mesin dek, lalu dicat dengan cat anti karat dan cat
biasa (Top coating)
6. Melumasi bagian-bagian yang saling bergesekan pada mesin-mesin dek
15.3.

MENGOPERASIKAN MESIN BANTU DEK

Didalam mengoperasikan mesin bantu dek, maka kita harus mengenal dan
mengetahui mesin kemudinya. cara mengperasikan mesin kemudi sebagai
berikut :

208
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

15.3.1. Mesin Kemudi


Mesin kemudi ada beberapa macam. Mesin kemudi menurut cara
penggerakkannya dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
15.3.1.1. Kemudi Tangan
Seperti namanya maka kemudi ini langsung digerakan dengan tangan, karena
kekuatan tangan kita terbatas maka peralatan kemudi ini hanya dipakai untuk
kapal-kapal yang kecil, misalnya perahu layar, sekoci kapal dan lain-lain atau
dapat juga sebagai kemudi bantu pada kapal-kapal agak besar.
15.3.1.2. Kemudi Mesin
Pada kapal-kapal yang besar maka tidak mungkin untuk memakai kemudi yang
digerakan hanya dengan tenaga tangan, karena rantai-rantai atau kabel-kabel
akan jadi terlalu berat apalagi kalau ombak besar. Karena hal tersebut, maka
untuk kapal-kapal besar selalu dipakai kemudi yang digerakan dengan mesin.
Mesin kemudi dapat dibagi dalam 3 macam :
1. Mesin Kemudi Uap

Seperti namanya sebagai mesin penggeraknya dipakai mesin uap. Karena


ukuran mesin/silinder yang kecil maka supaya tenaganya cukup besar, selalu
dibuat dengan pengisian uap 100 % langkah atau disebut mesin tekanan penuh.
Gerakan/arah putaran mesin harus dapat dibalik, supaya daun kemudi dapat
bergerak bolak balik.
Untuk keperluan ini dipakai sebuah sorong pengatur, yang mengatur jalannya
uap sedemikian rupa, hingga sorong dapat bekerja sebagai sorong muatan luar
atau muatan dalam. Yang dimaksud dengan sorong muatan luar ialah sorong
dimana uap baru berada diluar, sedang uap bekas keluar melalui sebelah dalam
sorong. Sedangkan sorong muatan dalam ialah sorong bila uap baru mengalir
melalui bagian dalam dari sorong dan uap bekas mengalir di luar sorong.
Cara kerja : sorang pengatur berada ditengah-tengah (mesin berhenti), kalau
roda kemudi diputar ke kanan, maka torak pada pemberi menekan minyak di
ruangan. Tekanan minyak ini akan menekan silinder pada penerima, silinder
bergerak ke kiri gerakan ini mengakibatkan tuas berputar dan batang bergerak
ke atas, akibatnya batang sorong pengatur ikut terangkat ke atas.
Sekarang sorong pengatur tidak berada dalam kedudukan ditengah, sehingga
mesin akan berputar. Berputarnya mesin akan memutar roda demikian gigi dan
batang pengatur juga batang berulir berputar pada bus yang tetap hingga batang
sorong, demikian juga sorong pengatur juga turun.
2. Mesin Kemudi Elektro Hidrolis

Cara Kerja : Kalau roda kemudi dianjungan diputar ke kiri, maka torak pada
silinder telemotor akan bergerak ke kiri demikian juga batang yang akan
mengubah kedudukan batang, menyebabkan pompa hele shaw bekerja dan
memompa minyak yang berada pada silinder kemudi, sehingga plunyer akan

209
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

terdesak ke atas sehingga kapal berbelok ke kiri. Maka sebaliknya kalau roda
kemudi di anjungan diputar ke kanan kapal akan berbelok ke kanan.
Mesin-mesin kemudi hidrolis selalu dilengkapi dengan 2 buah pompa agar
supaya kalau salah satu rusak, yang lain dapat dipakai, kemudian yang rusak
diperbaiki untuk cadangan. Perkembangan baru dari mesin kemudi hidrolis
adalah mesin kemudi rotasi. Pada sistem ini tidak dipakai silinder dan plunyer
untuk menggerakan atau memutar batang kemudi, tetapi dengan memakai
sistem rotasi.
3. Mesin Kemudi Listrik

Mesin kemudi listrik seperti namanya memakai sumber arus listrik sebagai
tenaga penggerak utamanya. Cara kerja mesin kemudi ini bekerja atas dasar
jembatan Wheatstone atau sistem Ward Leonard. Kalau roda kemudi di
anjungan diputar, maka kontak akan berpindah tempatnya ke kiri atau ke kanan
sesuai dengan arah putaran roda kemudi.
Misalkan setelah roda kemudi diputar ke dudukan kontak jadi tak seimbang
antara rheostat-rheostat anjungan dan kemudi sehingga terjadi arus listrik.
Adanya arus ini akan menimbulkan medan magnit pada generator, sehingga
generator ini mampu membangkit-kan arus listrik pula dan lagi arus listrik dari
generator membangkit-kan medan magnit pada generator, dimana sekarang
generator juga dapat menimbulkan arus listrik yang mampu untuk memutar
motor kemudi. Dan selanjutnya motor memutar cacing dan roda cacing serta
rondsel, yang akhirnya dapat menggerakan kwadran, batang daun kemudi dan
daun kemudi.
Sementara motor kemudi berputar, maka batang juga berputar, karena
hubungan roda-roda gigi kerucut, mengakibatkan kontak akan berpindah
tempatnya. Kalau kontak sudah bergerak sedemikian sehingga sesuai dengan
kedudukan kontak, maka akan terjadi
keadaan seimbang, sehingga arus antara kontak-kontak berhenti dan motor
kemudi juga akan berhenti dan kapal atau daun kemudi sekarang berkedudukan
membe-lok.
Untuk mengembalikan daun kemudi ke kedudukan tengah-tengah roda kemudi
harus diputar arah berlawanan dengan tadi, sehingga kontak akan kembali ke
tengah-tengah.
15.3.2. Mesin Jangkar
Dipakai terutama untuk mengangkat dan menurunkan jangkar, tapi kadangkadang dipakai untuk menarik/mengulur tali/tross, kabel dan lain-lain.

210
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 15.2. Mesin Jangkar


15.3.2.1. Mesin Jangkar Uap
Pada kapal uap yang besar umumnya dipakai mesin jangkar dengan roda-roda
gigi yang digerakan dengan mesin uap torak horizontal yang terletak di dek,
dengan silinder-silinder menghadap ke arah memanjang kapal. Mesin jangkar
ini diatur oleh sorong pengatur untuk dapat memutarkan mesin ke kanan atau
ke kiri yaitu dengan mengubah saluran pemasukan dan pembuangan.
15.3.2.2. Mesin Jangkar Listrik
Sebagai tenaga penggerak adalah sebuah motor listrik jenis motor kompon.
Dengan perantaraan kopling, akan menggerakkan cacing serta roda cacing dan
dengan pertolongan pemindahan roda gigi, jantra dapat berputar, dengan
demikian jangkar dapat dinaikan atau diturunkan sesuai dengan kebutuhan.
Perlu diketahui bahwa kopling akan bekerja akibat tekanan oleh tuas-tuas serta
bobot pada piringan-piringan kopling. Untuk mengimbangi tekanan bobot,
maka pada ujung-ujung batang diberi pegas penahan.
15.3.3. Peralatan Bongkar Muat
Peralatan bongkar muat ada berbagai macam, antara lain :
15.3.3.1. Derek (Winch)
Maksud utama dari derek ialah untuk membongkar atau memuat barang atau
muatan. Tetapi disamping itu derek juga dapat digunakan untuk menarik atau
mengulur tali-tali (tross).
Derek pada umumnya terdiri dari sebuah tromol yang besar, yang dipasang
pada poros horisontal dan pada salah satu atau keduanya dipasang tromol
derek. Tromol ini dipasang mati pada porosnya dimana dengan perantaraan
roda-roda gigi poros tersebut dapat digerakan dengan:
1. Motor Listrik
2. Mesin Uap

211
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3. Mesin Listrik Hidrolis


4. Motor Diesel
Derek-derek uap dan listrik dewasa ini yang paling banyak digunakan karena
konstruksinya yang sederhana, murah, dapat dipercaya, kerugian tenaga kecil,
perawatan dan perbaikan mudah serta ekonomis.
Derek hidrolis cara kerjanya sesuai dengan mesin kemudi hidrolis. Derek ini
kurang begitu banyak digunakan karena konstruksinya ruwet, tidak ekonomis,
tetapi derek ini dapat bekerja dengan kecepatan beban yang dapat diatur dengan
mudah dan sama sekali tidak ribut seperti derek lain.
15.3.3.2. Keran
Keran-keran ini digunakan untuk bongkar muat muatan.
Keuntungan-keuntungan :
1. Mempunyai kapasitas yang lebih besar
2. Diperlukasn lebih sedikit personil
3. Selalu siap bisa dipakai.
4. Lebih mudah untuk melayani muatan pada dua palka yang berdekatan dan
dapat berputar 360
Kerugian-kerugian :
1. Biaya banyak dan konstruksi sulit
2. Tinggi angkatnya terbatas
3. Diperlukan tenaga yang mempunyai skill lebih tinggi
4. Perbaikan dan perawatan memerlukan lebih banyak biaya.
Kapasitas angkat beban dari keran-keran umumnya terbatas dari 1-5 ton, tetapi
untuk hal-hal yang khusus dapat dibuat lebih dari itu. Umumnya pada tiap
palka dipasang 2 keran.
Keran-keran di kapal biasanya sebagai tenaga penggerak dipakai motor listrik.
Karena keran listrik mempunyai daya guna yang tinggi maka keran ini banyak
dipakai kapal-kapal baru.
Macam-macam keran yang dipakai di kapal adalah :
1. Keran Balans
2. Keran dengan pilar yang tetap
3. Keran dengan pivet
4. Keran berjalan.
Pada keran-keran juga dilengkapi dengan rem tambahan, untuk mencegah
berputarnya keran karena sesuatu sebab pada waktu tidak dipakai.

212
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

15.4.

MENJAGA KONDISI OPERASI

Dengan sangat beraneka ragamnya mesin diesel yang berada dilapangan, tidak
mungkin untuk meliputi secara menyeluruh untuk menduga segala
kemungkinan penyebab gangguan dan untuk mengatasi semuannya.
Tujuan dari pembahasan materi kegiatan belajar berikut adalah untuk
menunjukkan hubungan umum antara berbagai gejala, penyebab sebenarnya,
dan perbaikannya. Kalau operator mesin mendapatkan dari bahasan tersebut
gambaran gangguan dari apa yang terjadi, ia harus mampu untuk menemukan
dan menganalisa gangguan tersebut dan lokasinya sesuai dengan mesinnya dan
dengan bantuan petunjuk yang diberikan oleh pabrik mesinnya untuk
memperbaiki atau mengatasi (shoot) gangguan dan meperbaiki tanpa banyak
kesulitan.
15.4.2. Suhu Air Pendingin Tidak Benar.
Dengan pengecualian mesin yang dilengkapi dengan pengendali termostatik
dari sirkulasi air pendingin, pada umumnya mesin menghendaki bahwa aliran
air diatur dengan tangan untuk menyesuaikan dengan bebannya. Kalau dengan
beban yang kira-kira konstan suhu air jaket mulai mananjak ,operator harus
segera menemukan penyebabnya. Hanya terdapat dua kemungkinan:
1. Penyediaan air berkurang atau dimatikan oleh penutupan yang kurang
berhati-hati dari katup atau penghenti pompa sirkulasi air
2. Sebuah torak minyak seret/ hampir macet.
15.4.3. Suhu Minyak Pendingin Torak Berlebihan.
Suhu minyak pendingin torak berlebihan dapat disebabkan oleh :
1. Kemacetan torak
2. Pompa yang mensirkulasi minyak tidak mengalirkan minyak cukup.
3. Pendingin minyak tidak bekerja dengan baik.
4. Kerak pada sisi permukaan air atau tersumbat oleh minyak kotor.
5. Pendingin minyak tidak menerima air pendingin cukup.
15.4.4. Mesin Panas lebih.
Disebabkan oleh :
1. Aliran air pendingin tidak cukup. Dalam kasus ini aliran harus ditingkatkan
2. Kalau pompa sirkulasi air gerakkan sabuk, sabuk mungkin slip.
3. Endapan kerak pada jaket air silinder dan kepala silinder. Jaket air harus
dibersihkan
4. Langkauan menara pendingin air terbuka. Aliran air melalui menara harus
diperiksa
5. Pelumasan tidak cukup pada torak. Hantaran silinder harus diperiksa dan
disetel.

213
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

6. Minyak lumas buruk, kotor, atau diencerkan oleh bahan bakar. Minyak
harus diganti baru ; hanya minyak yang diajurkan oleh pembuat mesin atau
yang telah diuji dan ternyata memuaskan yang boleh digunakan.
7. Saringan minyak lumas tersumbat. Saringan harus dibersihkan dan isinya
diganti kalau perlu.
8. Pompa minyak lumas aus. Pompa harus diperiksa dan bagian yang aus
diganti atau diperbaiki.
9. Pengaturan waktu injeksi bahan bakar tidak tepat. Pengaturan waktu harus
diperiksa dan dikoreksi menurut spesifikasi pembuat mesin.
10. Nosel bahan bakar terkarbonisasi (berkerak karbon). Nosel bahan bakar
harus dibersihkan dan pendinginannya diperiksa.
11. Menetes pasca (afterdribble). Katup nosel bahan bakar harus diperiksa
kalau macet, kalau pegas lemah. Dan bagian nosel aus.
15.4.5. Mesin Bising.
Kebisingan yang tidak menyenang-kan, biasanya dalam bentuk ketukan,
mempunyai dua kemungkinan penyebab dasar :
yang pertama mekanis; yaitu kalau suatu bagian mesin memukul bagian yang
lain .
yang kedua pembakaran yang biasa disebut ketukan bahan bakar. Ketukan
dari penyebab mekanis mungkin berasal dari beberapa sumber di antaranya
sebagai berikut :
1. Pena torak atau bantalan pena torak sangat aus. Pena torak harus diperbaiki
atau diganti bantalan pena torak mungkin perlu diperbaiki.
2. Bantalan pena engkol sangat longgar. Kelonggaran bantalan harus disetel
atau bantalan diganti baru.
3. Torak atau lapisan silinder atau keduanya sangat aus yang menyebabkan
tamparan torak. Pemeriksaan longgaran dan penampilan permukaannya
akan menunjukkan keadaan ini. Lapisan silinder harus diperbaiki atau
diganti baru tindakan yang sama juga dilakukan pada torak.
4. Torak memukul katup masuk dan buang. Ini terjadi pada mesin kecil
dengan celah mekanis yang sangat kecil ketika gasket yang sangat tipis dari
kepala silinder disisipkan .Gasket harus diganti.
5. Pasak roda gila longgar. Pasak harus diketatkan. Kalau alur pasak dalam
poros atau hub, harus dibersihkan dan dipasangkan pasak baru tirus yang
lebih lebar. Kalau pasak menjadi longgar secara periodik, khususnya pada
mesin besar, pasak yang kedua harus dipasang atau digunakan dua pasak
tangensial. Roda gila yang mengetuk tidak bisa dibiarkan karena dapat
mengakibatkan patahnya poros engkol.

214
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

15.4.6. Pipa Udara Start Panas


Katup searah penstarter udara mungkin tidak duduk dengan baik. Tangkai katup
searah mungkin tersumpal karet dan harus dibebaskan dengan beberapa tetes
minyak tanah. Kalau gangguanya terus menerus, rumah katup harus dilepaskan
dan katup diperiksa dan diperbaiki.
15.4.6.1. Torak dan Cincin Tergumpal Karet.
Torak dan cincin tergumpal karet dapat disebabkan oleh beberapa sebab antara
lain:
1. Minyak pelumas buruk. Hanya minyak yang dianjurkan oleh pembuat
mesin atau yang telah diuji oleh instalasi daya dan ternyata memuaskan
yang boleh digunakan. Mengganti minyak pelumas yang lebih murah,
meskipun penjualnya menyatakan bahwa minyaknya sama baik atau lebih
baik dari merk yang telah teruji tidak akan berguna.
2. Minyak pelumas digunakan berlebihan. Meskipun minyak pelumas yang
digunakan yang paling baik, kalau dimasukan dalam jumlah berlebihan ke
ruang bakar, cenderung akan membentuk endapan karet
3. Pembakaran tidak sempurna.
4. Pendinginan berlebihan dari mesin.
15.4.6.2. Endapan Karbon
Kemungkinan penyebabnya adalah sebagai berikut :
1. Pembakaran tidak sempurna.
2. Minyak bahan bakar salah.
3. Tekanan balik berlebihan.
4. Lintasan buang dalam kepala silinder dan pipa buang mungkin telah
tersumbat karbon; mereka harus dibersikan secara berkala.
5. Tekanan balik berlebihan mungkin juga disebabkan pipa yang terlalu
panjang atau diameter pipa terlalu kecil; instalasi harus dirubah.
15.4.6.3. Air Dalam Karter
Kemungkinan penyebabnya adalah sebagai berikut:
1. Kepala silinder retak
2. Gasket kepala silinder bocor
3. Lapisan silinder retak atau bocor
4. Sil bawah dari silinder bocor. Cylinder liner harus dilepas keluar dan cincin
karet sebelah bawah diganti baru.

215
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

15.4.7. Pemeriksaan
Terdapat beberapa langkah yang harus diambil sebelum menstart mesin diesel,
kususnya untuk pertama kali dan merupakan praktek yang baik untuk
melakukan kebiasaan yang harus selalu diikuti sebagai berikut:
1. Semua bagian yang bergerak dari mesin harus diperiksa untuk penyetelan
dan penyeragaman dan pelumasan yang baik. Ini mencakup katup, nok,
penggerak katup, pompa bahan bakar, sistem injeksi bahan bakar, pengatur
alat pelumas, pompa minyak dan pompa pendingin.
2. Seluruh mesin dan permesinan harus diperiksa kalau ada mur longgar, baut
patah sambungan longgar dan kebocoran packing, sambungan atau katup.
Adalah baik untuk diingat bahwa tidak satupun yang seharusnya ketat
ternyata longgar dan tidak satupun yang seharusnya bebas ternyata
seret/ketat (macet).
3. Seluruh perkakas dan peralatan harus diperiksa untuk memastikan tidak ada
yang tertinggal atau hilang, peralatan tersebut mungkin diperlukan segera
ketika mesin sedang berjalan, atau kalau salah letak dan ketinggalan diatas
mesin, mungkin dijatuhkan oleh getaran dan merusak beberapa bagian
yang bergerak.
4. Seluruh pipa dan katup untuk bahan bakar, minyak lumas , air dan udara
serta saluran harus diperiksa kalau tersumbat, kurang setelan, kebersihan
dan lain sebagainya; ketiadaan benda asing dalam sistem perpipaan harus
diperiksa dengan sangat berhati-hati kususnya kalau mesin telah lama tidak
bekerja atau baru saja dipasang. Dalam kasus yang terakhir dianjurkan
untuk menghembus keluar keseluruhan sistem perpipaan dengan udara
tekan.
5. Suatu pemeriksaan lengkap harus diberikan kepada sistem pelumasan untuk
memastikan bahwa minyak terdapat pada setiap tempat yang memerlukan,
bahwa alat pelumas dan semua bantalan yang diminyaki sendiri mempunyai
penyediaan minyak bersih cukup, bahwa semua mangkuk gemuk/grease
terisi. Alat pelumas harus diperiksa apakah pompanya berfungsi dengan
baik dan apakah jumlah pengalirannya cukup, serta diisi dengan minyak
sampai ketinggian cukup. Pompa pelumas manual harus diputar/ dipompa
dan titik yang mendapat pengaliran minyak harus dilumasi dengan baik.
Pastikan bahwa mesin akan menerima pelumasan yang baik pada saat
segera mulai berputar.
6. Sistem pendinginan harus diperiksa, dan kalau pompanya digerakan oleh
motor listrik, maka harus distart; saluran hisap harus dibuka untuk
memberikan air di dalam jacket mesin sebelun di start, jumlah yang tepat
dari sirkulasi air dapat diperiksa belakangan, sementara mesin dipanasi.
Kalau mesin mempunyai torak yang didinginkan minyak dengan minyak
pelumas yang dialirkan dengan pompa khusus ( lub. Oil priming pump) start
pompa minyak dan setel tekanan sampai sebesar yang dinyatakan pada plat
nama atau yang diberikan dalam buku instruksi dari pembuat mesin.
7. Sistem minyak bahan bakar harus diperiksa dalam segala hal, untuk
memastikan bahwa pipa bersih, pompa bekerja, dan terdapat penyediaan

216
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

bahan bakar didalam tangki. Pompa Injeksi bahan bakar kemudian harus
dipancing (primed), dan udara atau air dikeluarkan dari saluran keluar katup
atau nosel. Harus berhati-hati untuk tidak menekan bahan bakar terlalu
banyak kedalam ruang bakar atau silinder agar tidak mendapat tekanan
terlalu tinggi pada penyalaan pertama yang menyebabkan katup pengaman
meletup dan agar minyak bahan bakar tidak masuk kedalam penampungan
karter. Tetapi pompa bahan bakar harus cukup dipancing sedemikian rupa
sehingga setiap saluran pengeluaran terisi penuh sampai nosel. Tuas kendali
bahan bakar disetel terbuka lebar sehingga injeksi akan start segera. Kendali
pompa bahan bakar ditempatkan pada posisi ON.
8. Katup pengaman yang biasanya dipasang pada tiap kepala silinder, harus
diperiksa, katup ini disetel untuk meletup pada kira-kira 750 sampai 1250
psi, tergantung pada tekanan maksimumun/angka dibo-lehkan dalam mesin.
Katup dihadapkan pada gas suhu tinggi dan mempunyai kecenderungan
untuk macet, pemeriksaan dapat dilakukan dengan menekan pegas
menggunakan batang pengungkit atau dengan melepas baut dan melepas
katup untuk diperiksa.
9. Mesin harus diputar satu atau dua kali kalau telah lama tidak beroperasi.
Untuk melakukan ini diperlukan untuk membuka kran indikatur atau katup
pengaman (compression relief) dan memutar mesin, baik dengan tangan
yang menggunakan batang yang dimasukan kedalam lubang yang ada pada
roda gila (fly wheel) ataupun dengan udara start. Kemudian kran pengaman/
indikator harus ditutup setelah mesin dalam kedudukan yang baik untuk di
start, yaitu satu silinder mempunyai katup udara start terbuka dan toraknya
kira-kira 10 derajat melampui TMA.
10. Udara start dalam tabung (tangki) harus diperiksa untuk mengetahui apakah
tekanannya cukup, kalau tidak harus diisi dengan menghidupkan motor
compressor udara start. Sistem pestart udara dari tangki sampai katup
pengendali utama start harus dibuka, setelah diperiksa bahwa katup
pengendali utama tertutup.
11. Beban mesin harus diputuskan, saklar harus dibuka kalau mesin
menggerakan generator, atau kopling harus berada dalam kedudukan netral.
15.4.8. Menghidupkan
Kalau sebelas point kegiatan persiapan telah diamati dan dilakukan, maka
penstarteran dengan udara start dapat dilaksanakan, dengan cara sebagai
berikut :
1. Katup penstarter udara utama dibuka dan batang penstarter diatur menurut
petunjuk yang diberikan (dalam buku petunjuk mesin)
2. Mesin harus diawasi; tidak boleh digunakan udara yang tidak diperlukan.
Pada tanda pertama dari pembakaran, udara harus dimatikan dan katup
ventilasi dibuka. Sebuah mesin dalam keadaan yang baik biasanya mulai
penyalaan diantara putaran kedua dan keempat dari poros engkol.
3. Kalau mesin gagal setelah empat atau lima putaran, berarti ada sesuatu yang
salah. Pemutaran tidak berguna dan mesin harus dihentikan.

217
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Kalau tekanan udara penstarter terlalu rendah karena kebocoran pada sistim
perpipaan dan sambungan atau karena kegagalan mesin untuk start pada
percobaan pertama, maka pastikan untuk mengisi kembali tangki udara star
sampai pada tekanan
yang dianjurkan. Apabila kompressor tidak
memungkinkan untuk dijalankan karena tidak ada listrik atau motor
penggerak kompressor cadangan, terdapat beberapa metode yang dapat
digunakan untuk memastikan tekanan udara penstarter yang diperlukan,
tetapi jangan sekali-kali menggunakan oksigen murni untuk kepentingan
start.
15.4.9. Pemanasan
Setelah mesin distart, sebelum dibebani harus dibiarkan tanpa kerja untuk
beberapa menit (sampai 5 menit) dan menjadi panas. Selama 5 menit ini
pengamatan berikut harus dilakukan:
1. Dengarkan apakah pembakaran seperti biasa dan urutan pengapian benar,
periksa semua silinder untuk pembakarannya, dan perhatikan kerja dari
pompa injeksi untuk mengetahui apakah semua beropersi dengan baik
2. Amati sistim air pendingin keseluruhan untuk mengetahui apakah pompa
bekerja dan terdapat air cukup; lihatlah apakah suhu air menanjak
dengan baik; dan atur aliran air untuk menyesuaikanya.
3. Amati tekanan pelumasan dan kerja dari alat pelumas, dan hitung jumlah
tetesan untuk operasi yang benar.
4. Periksa apakah ada silinder yang terlalu cepat panas yang menunjukan
adanya torak yang tidak terlumasi dan dengarkan kalau ada bantalan pena
torak atau pena engkol yang tidak terlumasi. Kalau ada bagian yang
bergerak yang tidak cukup mendapatkan pelumasan, dapat menimbulkan
kerusakan gawat.
5. Amati suara dan warna gas buang, untuk mengetahui keadaan yang baik.
Pengamatan ini harus diulangi setelah beban disambungkan. Warna gas
buang dapat bercerita banyak hal, yang akan
ditunjukkan kemudian.
Tindakan pengamatan ini selama lima menit pertama setelah menstart harus
menjadi kebiasaan bagi operator mesin. Prosedur ini merupakan metoda yang
paling baik dan terandalkan untuk mencegah operasi yang tidak benar. Ini
didasarkan pada kenyataan bahwa mesin diesel memerlukan bukannya
perhatian banyak ataupun perhatian yang terus menerus, melainkan
memerlukan perhatian yang layak pada saat yang tepat. Juga didasarkan pada
kenyataan yang telah diketahui bahwa mesin diesel harus dioperasikan dengan
baik dalam lima menit atau terdapat satu kelainan yang harus ditemukan dalam
lima menit tersebut.
Tetapi, perlu dicatat bahwa pengamatan tertentu harus dilakukan meskipun
setelah periode pemanasan lima menit. Yaitu kalau terdapat kebocoran pada
jacket air, katup injeksi, katup udara, dan sebagainya, hal tersebut mungkin
tidak terlihat sampai pemuaian sepenuhnya dari bagian yang bersangkutan
terjadi setelah mesin beroperasi untuk waktu yang lebih lama dalam beban
normal. Tidak boleh ada kebocoran jenis apapun juga, kalau mereka tidak dapat

218
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

diperbaiki sementara mesin berjalan , mesin harus dihentikan dan tidak boleh
distart kembali sampai kerusakan diperbaiki.
15.4.10. Mematikan
Untuk menghentikan mesin dilakukan sebagai berikut :
1. Lepas beban pada mesin, dalam kasus mesin induk kopling yang
menghubungkan poros propeller sudah pada posisi netral, kalau untuk
pembangkit generator maka beban listrik sudah diputuskan.
2. Turunkan kecepatan putaran mesin sampai kecepatan terendah yang
masih bisa jalan langsam.
3. Gerakkan pengendali pompa bahan bakar ke kedudukan STOP dan tutup
katup penyedia bahan bakar.
4. Air pendingin dan minyak pendingin torak harus dibiarkan berjalan
setelah mesin berjalan sampai suhu keluar tidak lebih dari 5 sampai 10
derajat lebih tinggi dari suhu masuk. Ini mencegah panas lebih setempat
yang dapat menyebabkan endapan karat dalam jacket.
5. Kalau mesin harus dimatikan untuk jangka waktu yang lama, maka jacket
air harus dikuras seluruhnya untuk mencegah karat dalam
cuaca dingin
juga melindungi jacket dari peledakan kalau air membeku.
6. Semua peminyakan tetes harus dimatikan, semua listrik harus diputuskan,
dan kopling diletakkan pada kedudukan netral.
15.5.

SISTEM PERPIPAAN DI KAPAL IKAN

Perpipaan adalah suatu alat yang fungsi atau kegunaannya sebagai tempat
mengalirnya zat cair dari satu tempat ke tempat yang lain.
15.5.1. Jenis Pipa
Jika ditinjau dari segi kegunaan maka perpipaan diatas kapal dibagi atas
beberapa jenis, diantaranya adalah :
15.5.1.1. Pipa Bahan Bakar
Pipa bahan bakar adalah salah satu jenis perpipaan yang fungsinya adalah
tempat mengalirnya bahan bakar dari satu tempat ke tempat yang lain diatas
kapal. Untuk membedakan pipa bahan bakar dengan sistim perpipaan yang
lainnya maka diberi warna tertentu yang berlaku secara internasional. Adapun
warna yang digunakan untuk sistim perpipaan bahan bakar digunakan warna
merah. Pemberian warna pada sistim perpipaan sangatlah penting untuk
memudahkan operator ABK bagian mesin khususnya untuk mengetahui sistim
perpipaan bahan bakar yang berada diatas kapal, untuk menghindari terjadinya
kesalahan pengisian bahan bakar pada tangki induk dan tangki harian bahan
bakar diatas kapal.

219
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

15.5.1.2. Pipa Minyak Pelumas


Pipa minyak pelumas adalah salah satu jenis perpipaan yang fungsinya adalah
tempat mengalirnya minyak pelumas dari satu tempat ke tempat yang lain
diatas kapal. Untuk membedakan pipa minyak pelumas dengan sistim perpipaan
yang lainnya maka diberi warna tertentu yang berlaku secara internasional.
Adapun warna yang digunakan untuk sistim perpipaan minyak pelumas
digunakan warna kuning. Pemberian warna pada sistim perpipaan sangatlah
penting untuk memudahkan operator ABK bagian mesin khususnya untuk
mengetahui sistim perpipaan minyak pelumas yang berada diatas kapal, untuk
menghindari terjadinya kesalahan pengisian bahan bakar pada tangki induk dan
tangki harian minyak pelumas diatas kapal.
15.5.1.3. Pipa Air Tawar
Salah satu jenis perpipaan yang fungsinya adalah tempat mengalirnya air tawar
dari satu tempat ke tempat yang lain diatas kapal. Untuk membedakan pipa air
tawar dengan sistim perpipaan yang lainnya maka diberi warna tertentu yang
berlaku secara internasional. Adapun warna yang digunakan untuk sistim
perpipaan air tawar digunakan warna biru. Pemberian warna pada sistim
perpipaan sangatlah penting untuk memudahkan operator ABK bagian mesin
khususnya untuk mengetahui sistim perpipaan air tawar yang berada di atas
kapal yang digunakan sebagai persediaan air tawar selama pelayaran, maupun
yang digunakan sebagai pendingin motor penggerak utama dan motor bantu
yang menggunakan sistim pendinginan tidak langsung
15.5.1.4. Pipa Air Laut
Pipa air laut berfungsi sebagai tempat mengalirnya air laut dari satu tempat ke
tempat yang lain diatas kapal. Untuk membedakan pipa air laut dengan sistim
perpipaan yang lainnya maka diberi warna tertentu yang berlaku secara
internasional. Adapun warna yang digunakan untuk sistim perpipaan air laut
digunakan warna hijau.
Pemberian warna pada sistim perpipaan sangatlah penting untuk memudahkan
operator ABK bagian mesin khususnya untuk mengetahui sistim perpipaan air
laut yang berada di atas kapal yang digunakan sebagai pendingin motor
penggerak utama dan motor bantu yang menggunakan sistim pendinginan
langsung diatas kapal.
15.5.2. Penataan Warna Pipa
Penataan warna pada sistem perpipaan di kamar mesin adalah :
1. Sistem pemadam kebakaran

red/merah

2. Sistem pendinginan
a. Fresh water (air tawar)

blue/biru

b. Sea water (air laut)

green/hijau

3. Sistem pelumasan

yellowkuning

220
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Sistem bahan bakar

red/merah

5. Sistem uap

silver

6. Sistem udara

grey/abu-abu

7. Sistem bilge/got

black/hitam

8. Sistem sanitary

black/hitam

9. Sistem hidrolik

yellow/kuning

10. Sistem pneumatic

grey/abu-abu

15.5.3. Perawatan
Adapun jenis perawatan yang dilakukan untuk semua jenis perpipaan yang
disebutkan diatas adalah :
1. Mengecat dengan cat anti korosif. Pengecatan ini dimaksudkan untuk
memberikan lapisan anti karat atau korosif pada permukaan pipa.
2. Berikutnya adalah memberikan lapisan pipa yang telah dicat dengan cat anti
karat atau korosif dengan cat biasa (top coating).
3. Menghilangkan lapisan karat, diketok dengan palu, dibersihkan dengan
amplas untuk menghilangkan sisa kotoran yang terdapat pada permukaan
pipa, lalu dicat dengan cat anti karat dan cat biasa (top coating)
Adapun prosedur atau tindakan perawatan dalam pemasangan perpipaan sistem
remote kontrol di kapal adalah :
1. Beri perlindungan anti karat, hindari penimbunan aliran pada pipa
2. Hindari terbentuknya kantong-kantong udara
3. Hindari pemasangan pipa yang panjang dan lurus untuk mencegah tegangan
pada penghubung
4. Selesai pemasangan, pipa dibersihkan dari kotoran
5. Periksa kelonggaran sambungan
6. Periksa lampu-lampu indikasi

221
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 16
MENGOPERASIKAN DAN MERAWAT
PERALATAN OTOMATIS

Otomatisasi adalah penggantian peran manusia sebagai pengontrol/ pengendali


dengan alat instrument pengendali (controller) yang bekerja secara otomat atau
disebut otomat controller. Jadi pengendalian otomat adalah pengendalian
terhadap proses atau sistem tanpa melibatkan peran manusia secara langsung.
Sistem kontrol adalah suatu sistem atau cara pengaturan secara otomatis yang
langsung dari jarak jauh, yang antara lain salah satu contohnya mesin diesel
penggerak utama kapal bisa dikendalikan secara jarak jauh dari suatu ruang
pengendali yang terpisah. Alat-alat kontrol otomatis yang terpadu dibuat
bekerja sendiri secara langsung.
Kegunaan sistem otomatik ini adalah :
1. Memastikan bahwa fungsi-fungsi
mengendalikan mesin diesel induk

pengendalian

individu

untuk

2. dilakukan dalam rangkaian yang benar.


3. Mencegah pengoperasian yang salah.
4. Mengurangi pengoperasian personil untuk tugas rutin.
Sebagaimana pengoperasian konvensional, perintah-perintah individu diberikan
dengan menggerakan handle telegraph mesin.
Transmitter kecepatan yang diinginkan dari sistem kontrol jarak jauh otomatik
digabungkan dengan telegraph kamar mesin, sehingga dalam kedua bentuk
operasi itu telegraph mesin dan pengoperasian pengendalian jarak jauh
otomatik, penyeleksian kecepatan mesin induk yang diinginkan dilakukan
dengan satu tuas yang sama. Meskipun demikian hanya bagian mekanisnya saja
dari telegraph mesin yang digunakan secara bersama. Secara electris kedua
sistem sepenuhnya terpisah. Hal ini memberikan kepastian bahwa satu
kerusakan pada salah satu sistem tidak akan mempengaruhi sistem yang
lainnya.
16.1.

PERSIAPAN

Sebelum mengoperasikan peralatan otomatis, ada beberapa persiapan yang


harus dilakukan antara lain :
16.1.1. Syarat Operator Peralatan Otomatis
Menjadi operator peralatan otomatis, maka harus ada beberapa syarat yang
harus dimiliki oleh operator tersebut antara lain :
1. Mengetahui sasaran atau proses yang dikehendaki.

222
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Mengetahui harga dan satuan yang dikehendaki dari sistem atau proses yang
dikendalikan (desired value/DV).
3. Mengetahui jenis alat ukur (instrumentation/measuring devis-ce) yang
digunakan sebagai penunjukkan harga sasaran yang diukur atau
dikendalikan (measured value/MV).
4. Mengetahui dan memahami membaca nilai atau harga yang ditunjukkan
oleh alat ukur tersebut.
5. Mampu membandingkan dan menghitung besar kecilnya deviasi yang
terjadi.
6. Mengetahui cara melakukan koreksi dan pengaturan perbaikan berdasarkan
hasil perbandingan antara nilai yang dikendalikan dengan nilai yang
dikehendaki tersebut.
16.1.2. Pemeriksaan
Pemeriksaan salah satu kegiatan yang wajib dilakukan sebelum kita
melaksanakan pengoperasian peralatan otomatis, antara lain :
1. Periksa sistem kelistrikan dan sumber tenaga.
2. Periksa sistem kontrol di anjungan
3. Periksa sistem alarm
4. Periksa sistem komunikasi antara anjungan dan kamar mesin
5. Periksa simulating dan test sistem
16.2.

JENIS-JENIS PERALATAN

Jenis-jenis peralatan otomatis terbagi berdasarkan letak kontrol peralatan


tersebut, diantaranya :
16.2.1. Di Kamar Mesin
Pada kapal dengan instalasi motor diesel, alat-alat kontrol otomatis bantu
tersebut meliputi :
1. Tekanan bahan bakar dan minyak pelumas
2. Suhu gas buang motor
3. Tekanan dan suhu minyak pelumas
4. Salinitas ( kadar garam ) pada mesin pembuat air tawar
5. Tekanan dan suhu air pendingin motor
6. Permukaan air got/bilge/lensa
7. Pendeteksi kebakaran (Fire detector : smoke/ flame/ heat detector)
8. Ketel bantu / boiler ( pengapian, tekanan steam/uap, water level )

223
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

16.2.2. Di Anjungan
Kontrol peralatan otomatis yang terdapat di anjungan sebagai berikut ini :
1. Electronic Cubicle (Kotak elektronik)
2. Peralatan elektronik dari unit remote control otomatik dan catu daya yang
terkait, ditampung dalam switch gear.
3. Operation Panel (Panel-panel operasi)
4. Sistem remote kontrol otomatik dioperasikan dari sebuah panel pada konsol
di anjungan
5. Transmitter Remote Kontrol
6. Terpasang di dalam telegraph mesin di anjungan
7. Dua Transmitter Impuls
8. Proximity type switches untuk mendeteksi kecepatan
sebenarnya.

baling-baling yang

9. Peralatan Pada Mesin Diesel


10. Sistem remote kontrol otomatik yang mengendalikan

katup-katup

11. Engine Control Room


Tenaga penggerak utama kapal dan unit pendorong haluan (bow thruster) dapat
dikontrol dari anjungan. Pemakaian alat kontrol dianjungan mempunyai
keuntungan :
1. Pelaksanaan perintah dari anjungan waktu olah gerak akan lebih cepat dan
konsisten, sehingga pengoperasian kapal lebih lancar.
2. Memungkinkan untuk mengatur putaran mesin atau baling-baling lebih
akurat.
3. Masinis tidak harus berdiri pada handel olah gerak dan dapat lebih bebas
melakukan pemeriksaan semua peralatan di kamar mesin.
16.2.3. Klasifikasi
Sistem kontrol dapat diklasifikasikan berdasarkan:
16.2.3.1. Rangkaian Sinyal Pengendalian
Rangkaian sinyal pengendalian terdiri dari :
1. Sistem kontrol loop terbuka (open loop control system)
Adalah sistem kontrol dimana aksi pengontrolannya (input) berdiri sendiri,
tidak tergantung dari keluaran (out put) dari proses.
2. Sistem kontrol loop tertutup ( close loop control system)
Adalah sistem kontrol dimana aksi pengontrolannya tergantung dari
keluaran (out put). Sistem ini dapat bekerja secara manual atau otomatis.
Pada sistem ini tidak memerlukan kalibrasi yang tinggi karena ada sistem
umpan balik (feed back) dalam melaksanakan kontrolnya.

224
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Umpan balik (feedback) adalah merupakan sifat dari sistem kontrol loop
tertutup yang memungkinkan keluaran dibandingkan dengan masukan
terhadap sistem sehingga aksi kontrol lebih akurat. Sehingga pada sistem ini
setiap perubahan nilai output mempengaruhi pengendalian. Contoh : sistem
mesin kemudi dan pengontrolan terhadap sistem pemanasan air.
16.2.3.2. Medianya
Jenis medianya terdiri dari :
1. Cara Pneumatik / Angin (Pneumatic control system)
2. Cara Hidrolik ( Hydrolic control system )
3. Kombinasi
Sistem kontrol ini bisa menggunakan kombinasi antara sistem kontrol hidrolik
dan elektrik maupun antara sistem kontrol pneumatik dan elektrik. Sehingga
otomatis sistem kontrol ini akan menggabungkan beberapa cara dari sistem
kontrol yang akan menyempurnakan keuntungan dari sistem kontrol ini (lebih
menguntungkan).
Tetapi tentunya faktor kerugiannya terdapat pada biaya didalam operasional
maupun perawatan dan penempatannya.
16.2.4. Cara Mengoperasikan
Mesin induk bisa dioeparasikan secara manual dari MCR melalui sistem remote
kontrol pneumatic atau dari anjungan melalui sistem remote control otomatis.
Bilamana dioperasikan dari anjungan, tuas pemindahan harus di set pada posisi
bridge control.
Setiap perubahan perintah di anjungan selama operasi dengan remote kontrol
otomatik dari anjungan, menyebabkan nadanya sinyal acoustic pendek pada
MCR. Pada sistem siemens supplied engine telegraph, posisi telegraph di
anjungan memungkinkan juga ditunjukan di MCR.
16.2.4.1. Pemindahan Pengoperasian
Pemindahan pengoperasiannya ada beberapa cara , antara lain sebagai berikut
ini :
1. Changeeover to bridge control
Bila power supply telah dihidupkan dan tuas pemindah di set pada posisi bridge
control berarti sistem remote control disiapkan untuk pengoperasian dari
anjungan. Pada saat pemindahan pengoperasian lampu manual mati, lampu
bridge berkedip dan audible alarm menyala. Pemindahan pengoperasian ke
bridge control secara penuh dilaksanakan dengan menekan tombol bercahaya
bridge di kontrol anjungan. Alarm sekarang padam dan lampu bridge yang
berkedip berganti jadi menyala tetap. Dan sekarangdi dalam pengoperasian
sepenuhnya dilaksanakan dari anjungan.

225
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Change over to manual


Dengan menggerakan kembali tuas pembalik dari posisi bridge control,
pengendalian dapat setiap saat dipindahkan lagi ke mesin tanpa waktu tunda.
Hal ini ditunjukan dengan lampu manual.
Sebelum pemindahan dilaksanakan tuas pengaturan kecepatan harus
ditempatkan pada posisi pengaturan kecepatan saat itu untuk menjaga
perubahan kecepatan yang mendadak selama pemindahan. Lampu bridge yang
berkedip dan audible alarm menunjukan bahwa sistem remote kontrol otomatik
yang dioperasikan dari anjungan tidak lama lagi akan dipindahkan. Dengan
menekan tombol bridge tersebut berarti pemindahan kontrol dibatalkan.
16.2.4.2. Menjalankan
Cara menjalankannya seperti di bawah ini :
1. Pindahkan tuas telegraph dari posisi stop ke posisi ahead atau astern.
2. Rate transmitter di set pada starting reference value.
Bila mesin diesel yang dijalankan dengan udara star melampaui batas putaran
yang ditetapkan cut off speed 1 akan menyebabkan katup solenoid start untuk
udara start akan de energize.
Bila mesin tidak berhasil dijalankan pada usaha start yang pertama, maka
proses yang dijelaskan di atas akan diulangi secara otomatik pada saat
kecepatan mesin turun di bawah nilai minimum.
16.2.4.3. Mematikan
Pindahkan tuas telegraph pada posisi off, hal ini menyebabkan katup selenoid
ahead atau astern akan de energize tanpa ditunda, selanjutnya tuas bahan bakar
bergerak ke posisi stop dan nilai refern kecepatan nol (zero speed reference
value) diajukan ke woodward governor.
16.3.

MERAWAT PERALATAN OTOMATIS

Tahapan merawat peralatan otomatis dapat dilihat di bawah ini :


1. Periksa sistem kelistrikan kapal
2. Periksa fungsi sinyal-sinyal
3. Periksa master controller dan slave controller
4. Periksa sistem hidrolik
16.4.

GANGGUAN DAN CARA MENGATASI

Pengoperasian peralatan kontrol otomatis pada perlengkapan di dalam ruang


mesin lebih aman dan ekonomis, tetapi jika pengoperasian tidak normal,
kesalahan fungsi akan menyebabkan pengoperasian yang tidak ekonomis dan
akibat yang serius. Oleh karena itu, pelepasan/pembongkaran, pember-sihan,
pengecekan, dan pengetesan sangat diperlukan pada perlengkapan kontrol
otomatis, hubungan perpipaan dan perkawatan/wirings berfungsi dengan tepat

226
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

pada setiap waktu. Pada saat terjadi keadaan darurat, pada saat kamar mesin
tidak dilayani secara langsung atau tidak ada yang jaga dikamar mesin , maka
mualim jaga memberitahu pada masinis jaga mengenai adanya hal yang tidak
beres di kamar mesin, tandanya berupa alarm dan tulisan pada panel (audio &
visual) pada panel monitor.
Hal tersebut mengharuskan kita untuk melakukan pembongkaran/pelepasan,
pembersihan, pengecekan, pengetes-an, dan lain-lain, sebagaimana mestinya.
Hal-hal yang harus diperiksa pada peralatan kontrol otomatis dapat dilahat pada
tabel di bawah ini.

Tabel 13.

Gangguan Pada Sistem Kontrol Elektrik Dan Cara Mengatasinya

Gangguan

Cara Mengatasinya

Komponen rusak terkena air

Ganti dan hindari terkena air

Terbakarnya semikonduktor

Ganti sesuai dengan kapasitas

Terbakarnya kondensor

Ganti sesuai dengan kapasitas

Terbakarnya transformer tegangan Ganti, sesuaikan dengan tegangan dan


dan arus
arus listrikyang tersedia
Putus hub jalur listrik

Sesuaikan dengan daya listrik

Patahnya spring/pegas

Ganti dan gunakan dengan ukurannya

Koil relay yang korsleting, putus

Ganti dan isolasi instalasi kelistrikan


tidak bocor

Kerusakan limit switch dan micro Ganti dan sesuaikan ukurannya


swit
Putusnya kawat resistor

Ganti
dan
kelistrikannya

periksa

sumber

Kerusakan pada timer

Ganti dan aturlah sesuai kebutuhan

Kerusakan tuas geser

Ganti sesuai kebutuhan

Rusaknya sikat pada motor, kendor Bersihkan atau ganti sesuai kebutuhan
dan komutator yang kotor

227
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Tabel 14. Gangguan Pada Sistem Kontrol Hydrolik Dan Cara Mengatasinya

Gangguan

Cara Mengatasinya

Kebocoran sistem perpipaan

Periksa dan perbaiki kebocoran

Tenaga yang dihasilkan berkurang

Periksa kebocoran (minyak hidrolik


kurang) dan tambah minyak hidrolik

Keakuratan daya (out put) kurang

Periksa motor/ pompa


sesuaikan dayanya

Handle/tuas patah/rusak

Ganti dan sesuaikan letaknya atau


ganti yang rusak

Respon kurang cepat

Periksa sistem hidrolik, bersihkan


kotoran yang menyumbat.

hidrolik,

Perpipaan bocor, perbaiki.


Minyak hidrolik
kapasitasnya.
Tekanan minyak hidrolik tidak Ganti monometer
terkontrol (Monometer rusak)
tekanannya

kurang,
dan

tambah
sesuaikan

Delievary valve aus/rusak

Perbaiki atau ganti sesuai dengan


ukurannya

Ada udara dalam sistem hidrolik

Buang udara yang ada didalam sistem


hidrolik

228
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Tabel 15. Gangguan Pada Sistem Kontrol Pneumatik Dan Cara Mengatasinya

Gangguan

Cara Mengatasi

Tekanan udara kurang

Periksa tabung/botol udara,


kembali sesuai tekanannya.

isi

dengan kapasitas kompresor udara.


Kebocoran sistem perpipaan

Periksa dan perbaiki kebocoran

Tenaga yang dihasilkan berkurang

Periksa kebocoran/ udara kurang dan


tambah sesuai tekanannya.

Keakuratan daya (out put) kurang

Periksa motor penggerak, sesuaikan


dayanya.
Adanya air pada sistem minyak
hidrolik, ganti minyak hidrolik

Handle/tuas patah/rusak

Ganti dan sesuaikan letaknya

Respon kurang cepat

Periksa sistem perpipaan, perbaiki


kebocoran
Periksa relay valve, bersihkan kotoran
yang menyumbat.
Tekanan udara kurang, tambah

Delievary valve rusak


Tekanan udara tidak
(Monometer rusak)

Ganti dan sesuaikan


terkontrol Perbaiki atau ganti sesuai dengan
tekanannya

229
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 17
MENGOPERASIKAN, MENJAGA DAN MERAWAT
SISTEM KELISTRIKAN KAPAL

Listrik adalah suatu aliran umum elektron dalam suatu arah, arah disebabkan
oleh suatu medan magnet yang disebut dengan Gaya Gerak Listrik (GGL).
Suatu arus listrik melalui suatu kawat aliran listrik atau penghubung listrik
lainnya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekitar 300.000 km/ detik atau 7
kali mengelilingi bumi dalam satu detik .
Proses terjadinya listrik yaitu bila sebuah magnet disekitarnya terdapat garisgaris gaya magnet yang bila dipotong oleh kumparan maka timbulah arus
listrik.
17.1.

JENIS-JENIS ARUS LISTRIK

Jenis-jenis arus listrik terbagi menjadi dua jenis, antara lain sebagai berikut ini:
17.1.1. Arus Lemah
Tegangan hanya sampai 24 volt, dipakai untuk telepon, jam, alarm kebakaran,
penerangan darurat dan sebagainya.
17.1.2. Arus Kuat
Dipakai untuk penerangan, penggerak pesawat, pemanas, sistim komando dan
alarm, radio peralatan navigasi dan lain-lain. Dahulu tegangan yang dipakai
sampai 65 volt, tetapi sekarang dipakai tegangan lebih tinggi yaitu antara 220240 volt. Penggunaan tegangan yang tinggi memungkinkan kita untuk dapat
menggunakan alat-alat dengan daya yang lebih besar.
Seperti diketahui dengan tegangan lebih tinggi maka untuk daya yang sama,
arus yang mengalir akan lebih kecil, dengan demikian dapat memakai kawat
dengan penampang yang lebih kecil pula, sehingga lebih ringan. Namun begitu
kwalitas isolasi, baik pada kawat penghubung maupun pada pesawat sendiri
harus lebih baik. Arus listrik (arus kuat) dibedakan menjadi arus searah dan
arus bolak-balik.
17.2.

SUMBER ENERGI LISTRIK

Energi listrik di kapal bersumber dari tenaga generator. Untuk mengetahui


tentang generator tersebut, dapat dilihat di bawah ini :
17.2.1. Generator
Generator atau disebut juga dynamo ialah sebuah pesawat yang merubah tenaga
mekanis menjadi tenaga listrik. Untuk tenaga penggerak atau tenaga mekanis
dapat dipakai motor pembakaran atau turbin.

230
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Dinamo pada pokoknya terdiri dari sebuah rotor atau jangkar (armature) yang
berputar didalam sebuah stator yang tinggal diam. Rotor terdiri dari sebuah
tromol. Pada tromol ini dililitkan sejumlah gulungan kawat yang diberi isolasi
antara satu sama lain. Gulungan kawat ini bergerak di dalam suatu medan
magnit, yang dibangkitkan dari suatu susunan magnit. Sebuah tromol dari rotor
terdiri dari susunan pelat-pelat besi lunak berbentuk bulat yang digabungkan
menjadi satu, tetapi diberi isolasi antara pelat yang satu dengan pelat yang lain.
Untuk mencegah terjadinya arus pusar atau eddy current. Pada rotor dibuat
alur-alur, untuk menempatkan gulungan kawat, ujung kawat ini dihubungkan
kepada pengumpul arus atau kolektor atau komutator.
Sedangkan pada stator merupakan suatu susunan kutub-kutub yang ditempatkan
pada rumah bentuk silinder. Kutub dengan rumah merupakan kesatuan yang
menyalurkan garis-garis gaya magnet. Kutub utara (u), melalui celah udara.
Rotor atau jangkar, celah udara, kutub selatan (s) dan rumah generator, kembali
ke kutub utara. Celah udara harus diusahakan sekecil mungkin agar kebocoran
garis-garis gaya pada celah udara juga sekecil-kecilnya.
Magnit pada kutub dibentuk atau dibangkitkan oleh gulungan kawat pada
sepatu kutub yang dialiri arus listrik. Juga terdiri dari pelat-pelat besi lunak
yang digabung jadi satu setelah diisolasi satu sama lain. Sedang gulungan kawat
dibuat atau dibentuk sesuai dengan ukuran sepatu kutub. Kemudian diikat dan
diberi lapisan isolasi atau lak.
Cara kerja generator adalah berdasarkan pada azas induksi listrik (electro
magnetic induction). Kalau sebatang kawat digerakkan sehingga memotong
suatu (garis gaya) medan magnit, maka pada kawat akan dibangkitkan gaya
gerak listrik (ggl) atau electro motive force(emf). Gaya gerak listrik (ggl) akan
menyebabkan timbulnya arus listrik yang mengalir pada kawat tadi dan ggl
yang timbul tergantung pada kuat medan magnit dan kecepatan kawat
memotong garis gaya. Makin kuat medan dan makin tinggi kecepatan gerakan
kawat, makin tinggi tegangan yang timbul.
Hubungan antara arah gerakan kawat dengan arah yang timbul adalah sesuai
dengan kaidah atau ketentuan tangan kanan. Yaitu kalau telapak tangan kanan
kita hadapkan kearah kutub utara atau tegak lurus garis gaya dan keempat jari
kita luruskan maka ibu jari yang tegak lurus pada jari-jari lain menunjukkan
arah arus yang dibangkitkan pada kawat tersebut. ( Cat. Editor : ket. diatas
tertulis dua kali dgn halaman berikutnya)
Ada dua jenis generator pembangkit arus listrik, yaitu generator arus searah dan
generator arus bolak-balik. Generator di kapal umumnya menggunakan arus
bolak-balik, yang menggunakan arus searah hanya sedikit.

231
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar.17.1. Generator
17.2.1.1. Generator Arus Searah
Dinamo pada pokoknya terdiri dari sebuah rotor atau jangkar (armatur) yang
berputar di dalam sebuah stator yang tinggal diam. Rotor terdiri dari sebuah
tromol, pada tromol ini dililitkan sejumlah gulungan kawat yang diberi isolasi
antara satu sama lain. Gulungan kawat ini bergerak di dalam suatu medan
magnet, yang di bangkitkan dari suatu susunan magnet. Sedang pada stator
merupakan suatu susunan kutub-kutub yang ditempatkan pada rumah bentuk
silinder. Kutub dengan rumah merupakan kesatuan yang menyalurkan garisgaris gaya magnet.
17.2.1.2. Generator Arus Bolak-Balik
Generator arus bolak-balik yang disebut juga alternator mempunyai susunan
yang berbeda dengan generator arus searah. Kalau pada generator arus searah,
pada dasarnya adalah kawat yang diputar (rotor) kemudian memotong garisgaris gaya magnet (stator), dan timbul arus listrik pada kawat tersebut. Tetapi
pada alternator terbalik yaitu, magnet atau garis-garis gaya magnet yang
diputar (rotor) sehingga memotong kawat yang tinggal diam (stator), dan
timbul arus kawat.

Gambar 17.2. Prinsip Kerja Generator Arus Bolak-Balik .

232
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Seperti terlihat dari Gambar 17.2, kedudukan kutub U dari magnet adalah
sedemikian rupa, bahwa garis-garis gaya magnet telah memotong kawat,
sehingga pada kawat akan timbul arus listrik yang arahnya menuju kita, sesuai
dengan hukum tangan kanan yang telah kita pelajari. Apabila magnet berputar
lagi sejauh 180 ke kanan seperti Gambar b, sekarang garis-garis gaya pada
kutub S yang memotong kawat, dan sesuai dengan hukum yang sama, arah arus
listrik sekarang akan meniggalkan kita.
Demikian seterusnya apabila magnet berputar terus, pada kawat akan selalu
timbul arus listrik yang arahnya bolak-balik sesuai dengan kedudukan kutubkutubnya. Kalau sekarang kawat dibuat agak panjang dan kemudian
dibengkokkan sehingga seperti Gambar c, maka ternyata bahwa sesuai dengan
keterangan di atas, setiap putaran magnet, arah arus juga akan berbalik, hal itu
dapat dilihat apabila pada ujung-ujung kawat dihubungkan dengan
galvanometer, yaitu pada setengah putaran pertama jarum galvanometer
misalnya bergerak kearah kanan, dan pada setengah putaran berikutnya jarum
akan bergerak ke kiri. Inilah merupakan dasar cara kerja dari sebuah generator
arus bolak-balik, atau disebut juga alternator.
Pada generator harus ada alat-alat pelindung agar kerusakan pada generator
dapat dihindari, adapun alat-alat pelindung tersebut adalah :
1. Reverse Power Relay (RPR)
Yaitu relay yang dapat memutuskan penghubung utama jika generator
menerima daya listrik, sehingga generator dicegah untuk bekerja sebagai motor
listrik. Hal ini sering terjadi ketika memparalelkan dua buah generator, dimana
generator yang akan diparalelkan memiliki frekuensi lebih rendah atau kedua
generator itu belum sinkron. Selain itu alat pelindung ini bekerja ketika
memasukkan sumber listrik dari luar dimana generator dalam keadaan mati,
tetapi penghubung utama masih terhubung.
2. Over Current Relay (OCR)
Yaitu untuk melindungi generator dari beban lebih. Kelebihan arus pada
rangkaian relay akan menggerakkan mekanisme pemutus penghubung utama
sehingga terlepas dari beban.
3. Under Voltage Relay (UVR)
Yaitu suatu pelindung yang menggunakan arus searah untuk kemagnetan pada
tuas penghubung utama, pegas yang terdapat pada tuas berusaha untuk
memutuskan penghubung utama, tetapi karena tenaga magnet listrik
mengimbangi gaya pegas maka penghubung utama tidak merubah posisinya.
Apabila tekanan yang diberikan kepada magnet listrik berkurang, maka gaya
magnet menjadi lemah dan tuas penghubung utama terlepas sehingga pegas
akan memutuskan penghubung utama.
17.2.2. Accu
Aki ialah suatu alat yang digunakan untuk mengubah energi kimia menjadi
energi listrik. Sering dianggap accu adalah alat penyimpan listrik, hal ini kurang
tepat. Yang benar adalah bahwa accu alat penyimpan energi kimia. Accu

233
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

tersusun dari sel-sel, setiap sel terdiri dari satu pelat atau kutub positif dan satu
kutub negatif. Jadi accu merupakan gabungan dari dua buah sel atau lebih dan
membentuk sebuah batteray atau bateray-bateray berarti gabungan alat yang
sejenis dan membentuk satu kesatuan.
Accu merupakan alat yang penting pada sistim listrik di kapal, karena aki bukan
saja merupakan sumber tenaga cadangan, kalau terjadi gangguan pada sistem
listrik dari generator, tetapi aki juga dipakai untuk keperluan sehari-hari.
Accu dapat dengan segera mensuplai energi listrik setiap saat diperlukan, dan
inilah merupakan kelebihan dari aki terhadap alat lain sebagai sumber energi
cadangan siap pakai, sehingga Solas 1960 memberikan pengakuan penuh,
bahwa aki sumber tenaga siap pakai merupakan kebutuhan yang esensial bagi
kapal-kapal samudera.
17.2.2.1. Jenis-Jenis Accu
Jenis-jenis accu atau bateray dibedakan menjadi dua jenis, antara lain :
1. Bateray primer, yang dapat mengeluarkan arus listrik (discharge), sebagai
contoh, baterai kering.
2. Baterai sekunder, yang dapat mengeluarkan atau menerima arus listrik ke
dan dari luar. Artinya setelah baterai tersebut mengeluarkan arus dan dalam
keadaan hampir kosong (discharge), kemudian dapat diisi (charge) kembali,
sampai keadaan kembali seperti semula. Sebagai contoh : accu pada mobil.
17.2.3. Kapasitas Aki
Kapasitas aki dinyatakan dalam satuan amper/ jam atau ampere hour (AH).
Kalau sebuah aki dinyatakan kapasitasnya 70 AH, maka dalam keadaan terisi
penuh (charge) berarti aki dapat mensuplai arus listrik sebesar 7 ampere
selama 10 jam teru menerus sesuai tegangannya atau dapat pula mensuplai arus
10 amper selama 7 jam dan sebagainya. Banyaknya ampere/jam suatu aki juga
berguna untuk menentukan besarnya arus listrik yang diperlukan pada waktu
mengisi aki (recharging), karena aki tidak boleh diisi dengan arus yang terlalu
kecil, sehingga waktu pengisian terlalau lama sebaliknya juga tidak boleh
dengan arus yang terlalu besar karena dapat merusak elemen-elemen aki
(ofercharging). Menurut pengalaman, agar didapatkan pengisian yang sebaikbaiknya besarnya arus (amper) waktu mengisi dihitung dengan rumus:

7% x Jumlah Amper-Jam

Jadi, misalnya sebuah aki mempunyai kapasitas 100 AH, besarnya arus yang
diperlukan waktu mengisi ialah : 7/100 X 100 = 7 A
1. Pemakaian Aki Di Kapal
Pemakaian aki kapal dapat dibagi dalam 3 katagori sebagai berikut :
a. Peralatan Darurat atau Siap Pakai

234
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Aki segera akan bekerja secara otomatis atau manual apabila terjadi
gangguan pada generator kapal. Sebagai contoh :
1) Penerangan darurat umum
2) Penerangan darurat kamar mesin
3) Kemudi darurat
4) Pintu kedap air
5) Penjalan (starting) generator darurat
6) Sekoci
7) Gyro kompas
b. Peralatan Kerja Sehari-Hari
Aki juga digunakan sebagai sumber tenaga untuk keperluan sehari-hari :
1) Penerangan kapal untuk kapal kecil
2) Untuk penjalan motor diesel
c. Sistim Tegangan Rendah
Disini aki dipakai untuk memberikan daya listrik tegangan rendah misalnya:
1)

Radio transmiter dan penerima

2)

Direction finder

3)

Alat-alat sounding

4)

Telapon

5)

Jam kapal

6)

Lampu panggilan untuk steward dan lain-lain

17.2.4. Papan Penghubung (Swith Board)


Mempelajari papan penghubung sistem kelistrikan di kapal sebagai berikut ini :
17.2.4.1. Susunan Papan Hubung
Papan hubung merupakan suatu susunan instrumen-instrumen, pemu-tus sirkuit,
saklar-saklar dan lain-lainnya, yang memungkinkan suatu instalasi listrik dapat
bekerja dan dimonitor secara efisien. Papan hubung umumnya seperti panelpanel, yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Papan hubungan dapat
dibedakan :
1. Papan hubung utama yang langsung berhubungaan dengan generator
2. Papan hubungan bantu, yang mengatur penyaluran arus listrik dari papan
hubung utama ke pesawat-pesawat penggerak yang kadang-kadang disebut
juga papan pembagi (ditribution board)
3. Papan hubung darurat, yang berhubungan dengan generator darurat atau
baterai/aki darurat.

235
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Papan hubung utama merupakan pusat dimana arus listrik dapat dibagi-bagi dan
diatur untuk keperluan seluruh kapal. Papan hubung utama dipasang dikamar
mesin, sedekat mungkin dengan pesawat pembangkit listrik (generator) antara
papan hubung dan generator dihubungkan oleh saluran atau kabel induk. Pada
papan hubung kabel induk ini dibagi-bagi atau dibuat saluran-saluran cabang
yang terpisah-pisah dan merupakan grup-grup. Setiap grup diberi saklar dan
sekring atau fuse.
17.2.4.2. Jenis Papan Hubung
Dari segi konstruksinya papan hubung dibedakan dalam 2 jenis yaitu :
1. Papan hubung terbuka (Live Front), dimana pada bagian depannya dipasang
alat-alat seperti saklar, sekring dan lain-lainnya yang langsung dialiri oleh
arus listrik. Jenis papan hubung ini digunakan di kapal yang memakai sistim
arus searah.
2. Papan hubung tertutup (dead front), yang pada bagian depannya juga
dipasang alat-alat yang sama seperti papan hubung terbuka, tetapi sama
sekali bebas dari arus listrik. Papan hubung ini terutama dipakai pada kapal
yang memakai sistim arus bolak-balik. Namun begitu, sekarang kapal yang
memakai sistim arus searahpun cenderung untuk memakai papan hubung
jenis tertutup ini.
17.2.4.3. Papan Hubung Sistim Arus Listrik
Papan hubung tertutup (dead front) dan pada bagian depannya terpasang alatalat pengukur listrik seperti; Ampere meter, kW meter, Frekuensi meter, Volt
meter dan peralatan indicator lainnya. Jenis generator yang dipakai di kapal
adalah generator kompon dan terpasang lebih dari satu generator listrik, yang
masing-masing dapat dihubungkan secara pararel. Untuk keperluan tersebut
maka masing-masing generator juga dilengkapi dengan peralatan.

Gambar. 17.3. Papan Hubung

236
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

17.2.4.4. Pengukur Arus


Seperti namanya, alat ini dipakai untuk mengukur besarnya arus listrik yang
mengalir dari generator, dengan pemasangan pengukur arus secara berseri.

Gambar 17.4. Ampere meter


17.2.4.5. Pengukur Tegangan
Tegangan antara kawat-kawat pada generator dapat diukur. Untuk ini dipasang
sebuah pengukur tegangan yang dihubungkan secara pararel.

Gambar 17.5. Voltmeter


17.2.4.6. Pengukur Frekwensi
Frekwensi listrik adalah menyatakan berapa kali terjadi perubahan polariteit
dari sumber arus bolak-balik.Herzt adalah satuan frekwensi listrik. Istilah Herzt
adalah menyatakan besarnya perubahan polarisasi setiap detik.
Frekwensi-meter adalah Alat untuk mengukur besarnya frekwensi listrik. Alat
ini hanya satu buah untuk satu generator dan dipasang pada papan pembagi
utama (Main Switch Board).

237
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 17.6. Frekwensimeter


17.2.4.7. Pengukur Daya
Daya adalah menyatakan berapa cepat suatu usaha dilakukan (kecepatan
usaha). Usaha dapat berupa kerja mekanik atau energi listrik atau energi kalor.
Watt adalah satuan daya. Istilah Watt adalah menyatakan besarnya energi yg
dikeluarkan setiap detik. Besarnya daya listrik (Watt) dapat diperoleh dari hasil
kali antara Ampere dan Volt. Alat untuk mengukur besarnya daya listrik ialah
Watt-meter, tapi lebih sering digunakan yang lebih besar yaitu kW-meter (kilo
Watt-meter).

Gambar 17.7. Watt meter


17.3.

MENGOPERASIKAN GENERATOR

Adapun langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam pengoperasian


generator adalah sebagai berikut :
1. Langkah - langkah sebelum pengoperasian.

238
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Sebelum operator mesin mengoperasikan generator perlu diadakan


pemeriksaan pada motor diesel penggerak generator tersebut. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dan diperiksa antara lain adalah :
a. Mengecek minyak pelumas yang terdapat pada carter dengan
menggunakan stik penduga, jika minyak pelumas kurang dari batas stik
penduga, maka minyak pelumas harus ditambah sesuai dengan batas
maksimum dari stik penduga tersebut.
b. Membuka kran bahan bakar (dari tangki harian sampai kran distribusi
bahan bakar).
c. Membuka kran air pendingin yang dipakai untuk mendinginkan motor
diesel penggerak generator tersebut.
d. Mengecek baut-baut untuk memastikan supaya baut-baut tetap dalam
keadaan kencang.
e. Meyakinkan bahwa generator yang akan dioperasikan tersebut benarbenar terputus dengan beban, hal ini untuk mencegah supaya generator
terhindar dari beban langsung.
2. Langkah-langkah pengoperasian
Jika langkah-langkah tersebut diatas sudah dilakukan dan semua dalam
keadaan normal maka generator siap untuk dioperasikan. Adapun hal-hal
yang harus dilakukan dalam pengoperasian, diantaranya :
a. Memastikan bahwa roda gila sudah dalam posisi top, untuk
mempermudah dalam melakukan start.
b. Cara start yaitu naikkan/buka sedikit tuas governornya, kemudian buka
kran dari botol angin, jika motor diesel sudah bisa jalan langsung tutup
kembali kran dari botol angin tersebut, dan pertama-tama generator
dijalankan dengan putaran rendah dan tanpa beban.
c. Memeriksa terjadi gangguan atau tidak pada mesin penggerak generator
tersebut, yaitu dengan mendengarkan bunyinya terutama pada bagianbagian yang bergesekan.
d. Memeriksa alat ukur listrik yang ada pada papan hubung utama.
e. Mengatur terminal, dan jika semua sudah berjalan dengan baik maka
beban bisa dihubungkan.
f. Memeriksa kembali alat-alat ukur listrik yang ada pada papan hubung
utama untuk mengetahui jika terjadi perubahan tegangan karena naiknya
beban tersebut.
3. Sinkronisasi (memparalelkan) generator
Untuk memindahkan beban generator dari generator satu ke generator
lainnya, supaya alat-alat pemakai listrik tidak perlu dihentikan maka
diperlukan sinkronisasi. Sinkronisasi juga dilakukan bila pemakaian listrik
melebihi beban maksimum dari sebuah generator, sehingga harus
menggunakan dua buah generator. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam memparalelkan dua buah generator adalah sebagai berikut :

239
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

a. Besarnya tenaga (rpm) kedua generator harus sama


b. Fasa yang dihubungkan harus sama (R1-R2, S1-S2, T1-T2)
c. Frekuensinya harus sama dengan frekuensi dari generator pertama
d. Kontak paralel dapat dihubungkan jika kedua generator telah berjalan
dalam keadaan sinkron, yaitu tidak terdapat lagi pergeseran fasa antara
vektor-vektor kedua generator tersebut. Atau dapat dilihat melalui
sinkronskop atau melalui lampu sinkronisasi.
4. Langkah-langkah menghentikan generator
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menghentikan generator,
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Sedikit demi sedikit beban-beban harus dilepaskan terlebih dulu, supaya
generator tidak secara mendadak melepaskan beban melalui
penghubung utamanya. Pelepasan beban secara mendadak akan
mengakibatkan naiknya putaran mesin penggerak generator yang akan
menimbulkan hentakan pada bagian-bagian mesin lainnya.
b. Setelah penghubung utama dilepaskan, putaran mesin penggerak
generator bisa diturunkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya berhenti.
c. Menutup kran distribusi bahan bakar dan kran air pendingin.
d. Melaksanakan pembersihan.
17.3.1. Penghantar Listrik
Jenis kabel penghantar listrik dikapal ialah jenis NYA yang dilapisi dengan
anyaman serabut baja. Pada setiap kabel penghantar terdapat 2 sampai 3 kawat
penghantar. Pada isolator kabel dililit dengan kertas bernomer untuk
kemudahan mengenal antar ujung kabel. Kemudian pada pangkal dan ujung
isolator dipasang gelang nomer terminal dan pada kabel tembaganya
dipres/disolderkan sepatu terminal.
17.3.2. Penghubung listrik
Jenis-jenis penghubung listrik antara lain :
17.3.2.1. Saklar
Alat penghubung ialah alat untuk munghubungkan dan atau memutuskan aliran
listrik dari sumber listrik ke alat pemakai listrik. Alat penghubung yang paling
sederhana ialah sklar (switch), yang biasa terdapat pada alat-alat pemakaian di
rumah tangga seperti pada lampu senter, lampu rumah, tombol TV dan lainlain. Saklar yg biasa digunakan untuk instalasi penerangan adalah saklar putar
satu kutub.
Besar kecilnya alat penghubung ini tergantung pada besar kecilnya arus yang
akan mengalir melalui alat penghubung ini.
Cara pengoperasian penghubung juga beragam, dengan :

240
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1. Gaya dari tangan


2. Gaya magnit
3. Gaya tekan dari fluida
4. Gaya apung
5. Gaya lenting
Setiap penghubung mempunyai titik-titik kontak yang senantiasa menimbulkan
bunga api sesaat sebelum kontak menjadi rapat. Lompatan muatan elektron
(berupa percikan bunga api) ini akan merusak titik-titik kontak dan berbahaya
bagi terjadinya kebakaran. Kecepatan rusak sangat dipengaruhi oleh besarnya
arus melalui titik kontak, kualitas bahan titik kontak, frekwensi kerja dari
penghubung tsb.
17.3.2.2. Air Circuit Breaker (ACB)
Adalah alat penghubung daya utama yaitu untuk menghubungkan sumber listrik
dari generator listrik ke lemari pembagi atau papan hubung utama (Main Switch
Board). Dikatakan air (udara) circuit breaker adalah karena dalam
pengoperasiannya meng-gunakan bantuan tekanan udara sebagai pemecah
bunga api yang terjadi pada saat kontak awal.
Untuk mengoperasikan alat ini terlebih dahulu handel harus diturunkan ke
bawah dengan maksud untuk meregangkan pegas penghubung dan untuk
mengisi udara kedalam suatu silinder. Lalu handel dinaikkan keatas, dibantu
dengan gaya pegas yang meregang tadi, maka kontak-kontak segera terhubung.
Piston dalam silinder udara turut naik dengan cepat menyemprotkan udara ke
titik kontak antar terminal penghubung.
17.3.2.3. Non Fuse Breaker (NFB)
NFB adalah alat penghubung beban listrik yang tidak dilengkapi dengan alat
kontrol/pelindung yang biasanya terdapat di dalam papan pembagi utama
(MSB). Fungsinya hanya untuk mendistribusikan tenaga listrik ke papan-papan
pembagi lainnya (Group Starter Panel/GSP). Pada GSP inilah terdapat
peralatan penghubung, peralatan pelindung, peralatan pengukur untuk tiap-tiap
beban
17.3.2.4. Magnetic Contactor
Magnetic Contactor (MC) banyak digunakan untuk instalasi daya fasa-3, yaitu
untuk menghubungkan motor-motor listrik dimana arus yang mengalir cukup
besar. Alat ini biasanya terdiri dari kontak utama dan kontak bantu a(normaly
open) dan kontak bantu b(normaly close). Normaly open selalu dalam
keadaan terbuka/terputus jika belum bekerja. Sedangkan Normaly close selalu
dalam keadaan tertutup/terhubung jika belum bekerja.Keseluruhan kontak
terhubung dengan satu poros dan poros ini digerakkan oleh teras besi magnit
yang dibangkitkan oleh koil solenoida.

241
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

17.3.2.5. Relay
Relay adalah suatu perangkat listrik yang terdiri dari sebuah koil untuk mengaktifkan kontak-kontak dan beberapa kontak listrik untuk menghubungkan arus.
Relay banyak digunakan untuk rangkaian kendali jarak jauh atau untuk
rangkaian kerja otomatis (kerja monoton). Prinsip kerjanya sama dengan prinsip
kerja magnetik contactor dimana terdapat magnetic coil (MC). Bedanya, pada
relay tidak ada kontak utama melainkan seluruhnya merupakan kontak bantu
dan bentuknya lebih kecil dari pada magnetic contactor. Jenis kontaknya juga
sama yaitu jenis kontak a dan kontak b, hanya jumlahnya jauh lebih
banyak.
17.3.2.6. Timer
Timer adalah seperti relay mempunyai sebuah koil dan beberapa kontak.
Bedanya adalah bahwa timer dapat mengaktifkan kontaknya berdasarkan waktu
(rangkaian R-L-C) yang dapat di setel.
Jenis kontak adalah sama yaitu kontak a dan b tapi waktu kerjanya
berbeda, ada yang kontaknya yg terlambat (on delay) atau putusnya yang
terlambat (off delay) dan ada yang tetap kontak selama aktif lalu putus dan
kontak lagi saat non aktif. Otomatisasi pengoperasian listrik banyak
menggunakan timer dan relay.
17.3.2.7. Sistem Start
Yang dimaksud dengan sistem start adalah suatu rangkaian dengan berbagai
komponen yang bekerja untuk menjalankan atau menghentikan suatu alat
(misalnya motor listrik). Sistem start pada instalasi tenaga di kapal selalu
mengunakan relay untuk kendali jarak jauh dan untuk pengamanan. Alat-alat
penghubung seperti kontaktor magnet (Magnetic Contactor), Tombol Tekan
untuk start dan stop (Push Button), alat-alat pengaman, alat-alat ukur dan
lampu-lampu indikator ditempatkan pada satu panel starter per kelompok
beban (Group Starter Panel = GSP)
Untuk menaikan atau menurunkan rpm motor penggerak generator dilakukan
dengan memutar governornya untuk mengurangi atau menambah jumlah bahan
bakar yang disemprotkan ke dalam ruang bakar.
Pemutaran governor yang terletak pada motor penggerak generator dapat
dilakukan dengan tangan secara manual atau dengan listrik melalui motor
governor (motor listrik kecil) yg dapat dioperasikan melalui panel utama.
Menjelang rpm maksimum biasanya pengaturan rpm governor dilakukan
dengan listrik melalui saklar motor governor pada panel penghubung utama
setelah kopling governor dihubungkan dengan motor listriknya. Hal ini
dimaksudkan untuk memudahkan pengontrolan frekwensi dan tekanan listrik
yang dibangkitkan generator secara teliti melalui alat-alat ukurnya yang berada
pada panel utama juga.

242
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

17.3.2.8. Sistem Pembalik Putaran


Sistem pembalik putaran selalu diterapkan pada instalasi listrik motor blower
ventilasi dan pada mesin jangkar. Sistem kelistrikannya sama dengan sistem
start pada motor governor, hanya saklar motor governor diganti dengan tombol
tekan (Push Button). Biasanya terdapat tiga bua tombol, yaitu :
1. Tombol Forward (maju)
2. Tombol Stop
3. Tombol Reverse (mundur)
Perlu diperhatikan bahwa ada sistem saling kunci (interlocking) yaitu Tombol
Mundur tak dapat dioperstikan jika sistem sedang berjalan Maju dan sebaliknya
tombol Maju harus tidak dapat dioperasikan jika sistem sedang berjalan
Mundur. Hanya setelah tombol stop ditekan maka perubahan putaran dapat
dilakukan.
17.3.2.9. Sistem Kontrol Jarak Jauh
Pengaturan putaran Motor Induk (dengan pemutaran governor) di ruang mesin
hanya dapat dilakukan secara manual yaitu dengan cara langsung memutar roda
kontrol governor. Pengaturan putaran Motor Induk dari anjungan kapal (kendali
jarak jauh) dapat dilakukan secara elektrik yaitu dengan cara mengoperasikan
motor listrik governor dari motor induk tersebut.
Jadi, yang memutar governor adalah motor listrik, motor listrik dapat
dioperasikan dari anjungan dgn dua cara :
1. Melalui tombol tekan (Push Button)
2. Melalui tombol putar (Dial Knob)
17.4.

MENJAGA SISTEM KELISTRIKAN

Menjaga sistem kelistrtikan kapal, maka alat-alat pelindung yang digunakan


adalah :
17.4.1. Alat Pelindung Listrik
1. Fuse
Fuse atau sekring adalah alat pengaman lebur yang terdiri dari suatu tabung
berisikan selembar bahan penghantar yang tipis yang ditimbun di dalam serbuk
pasir halus sebagai pemadam bunga api yang dapat timbul. Untuk kelompok
elemen sekring ukuran 2, 3, 5, 10, 20, dan 30 Ampere besar dan bentuknya
sama, hanya lembar bahan penghantar yang ada di dalamnya yang berbeda
tebalnya. Kelompok ukuran 60 Ampere bentuknya lebih besar dari yang
pertama. Di dalam panel sekring selalu disediakan tang penjepit sekring. Alat
ini adalah untuk mencabut atau memasang sekring pada jepitan terminalnya.
Dalam penggantian sekring harus dipasang besar sekring yang batas ampernya
selangkah di atas arus beban maksimum dari alat yang hendak dilindungi.
Artinya :

243
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Jika alat tersebut menggunakan arus maksimum 1 A, gunakan sekring 2 A.

Jika alat memerlukan arus 6 A, gunakan sekring 10 A (periksa elemen


sekring yang tersedia yang batas amperenya selangkah lebih besar dari 6
Ampere).

Pada tiap peralatan listrik selalu tercantum spesifikasi besaran-besaran


listriknya. Besaran Tekanan dan Frekwensi adalah tetap (standard). Nilai yang
paling bervariasi adalah daya listriknya yang mencerminkan kekuatannya dalam
melakukan kerja. Daya berhubungan dengan arus (P = V x I) dan pengaman
peralatan listrik ditentukan oleh besar arus yang diizinkan mengalir ke alat
tersebut. Jadi, pengaman listrik identik dengan pembatas arus. Alat yg lazim
digunakan untuk pembatas arus adalah sekring (Fuse). Di kapal umumnya
menggunakan Cellolite Fuse
2. Over Current Relay (OCR)
OCR adah suatu alat pelindung listrik terhadap arus lebih yang mengalir
melaluinya. Alat ini biasanya di pasang seri tepat setelah MCB. Alat ini akan
bekerja memutus arus ke instalasi yang dilayaninya jika terjadi arus yang
berlebihan akibat hubungan singkat atau beban yang berlebihan.
Alat ini bekerja berdasarkan tenaga mekanik yang diperoleh dari pemuaian
logam bimetal akibat panas dari arus listrik yang melebihi kemampuannya.
Bimetal akan menggerakkan tuas kunci untuk memutus aliran listrik ke koil
magnetic contactor (MC) dan pada akhirnya MC memutus arus ke alat/instalasi
listrik penyebab arus lebih tadi. OCR dapat di set ulang dan kemampuan
pemutusannya dapat sedikit diatur (dinaikkan/diturunkan) dengan memutar
knop pengatur yg kemudian menekan atau melonggarkan pegas penarik tuas.
3. Uder Voltage Coil (UVC)
Peralatan ini merupakan suatu rangkaian pengontrol jatuh tekanan yang
dipasangkan dengan perangkat Air Circuit Breaker (ACB). Kerja dari UVR
adalah memutus seluruh beban generator jika tekanan turun terlalu lama akibat
beban berlebihan.
Jika tekanan turun maka arus beban naik untuk memperoleh daya yang sama.
Kenaikan arus ini harus dibatasi sesuai kemampuan generatornya agar tidak
ikut terbakar oleh arus yang melebihi kapasitas penghantarnya.
Untuk beban kejut yang sesaat (tekanan turun sesaat) UVC dapat
mempertahankan posisinya karena koil UVC mendapat tambahan listrik dari
kondensator. Jika tekanan turun terlalu lama maka muatan kondensator habis
dan kemagnitan di dalam koil melemah sehingga pegas menarik tuasnya dan
memutuskan penghubung utama ACB. Dengan demikian generator terhindar
dari pemaksaan pembangkitan arus yang besar melebihi kapasitasnya.
4. Reverse Power Relay
Reverse Power Relay (RPR) adalah alat pelindung generator untuk tidak
berfungsi sebagai motor.
Hal generator sebagai motor listrik dapat terjadi misalnya :

244
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Jika generator dalam keadaan diam, tetapi penghubung utama ACB


diaktifkan. Maka generator diam akan memperoleh listrik dari luar atau dari
generator yang sedang beroperasi.

Jika generator hendak diparalelkan sementara frekwensi generator tersebut


masih lebih rendah dari frekwensi generator yang sudah beroperasi, maka
generator yang hendak diparalelkan ini menjadi beban bagi generator yang
sedang beroperasi.

17.4.2. Peralatan Pengontrol


Peralatan pengontrol terdiri dari beberapa macam, diantaranya :
17.4.2.1. Pengontrolan Kebocoran Isolasi Listrik
Kebocoran isolasi listrik pada semua peralatan listrik di kapal dapat dikontrol
melalui Lampu Bumi (Earth Lamp). Lampu Bumi ini diletakkan pada papan
pembagi utama dan selalu dioperasikan oleh personel kelompok jaga baru
(Pergantian jaga mesin dilakukan setiap 4 jam sekali). Kebocoran isolasi pada
suatu alat dengan kebocoran isolasi pada alat lain dengan fasa yang berbeda
akan menimbulkan bahaya arus yang besar melalui badan kapal dan tidak dapat
dilindungi dari kerusakan fatal alat tersebut. Pengontrolan dengan lampu bumi
sangat peka terhadap kebocoran isolasi sekecil apapun. Oleh karena itu
pengontrolan kebocoran ini harus sering dilakukan.
Lampu Bumi ini terdiri dari 3 buah lampu dengan voltase dan watt yang sama
yang dihubungkan bintang terhadap fasa-fasa utama. Setiap lampu memperoleh
tekanan utama per akar 3 atau sama dengan tekanan fasa. Dalam keadaan
normal - saklar pd posisi Test, masing-masing lampu akan menerima tekanan
yang sama besarnya yaitu sebesar tekanan fasa.
Prosedur pengoperasian Lampu Bumi sebagai berikut :
Posisikan saklar lampu bumi pada ON
1. Lampu bumi menyala sama terangnya (terang normal)
2. Masing-masing lampu memper-oleh tekanan utama dibagi 3 (tiap 2 lampu
terhubung ke fasa utama)
3. Perhatian ! Ganti ke tiga lampu jika ada salah satu yang redup atau mati.
4. Posisikan saklar lampu bumi pada TEST
5. Lampu bumi akan tetap terang normal jika seluruh isolasi listrik baik.
6. Bila salah satu lampu redup berarti ada kebocoran fasa lampu yang redup.
Yakinkan perbedaan sinar lampu tersebut dengan memposisikan saklar pada
ON dan TEST secara bergantian berulang-ulang.
17.4.2.2. Pencarian Perangkat Listrik yang Bocor Isolasinya
Posisikan saklar lampu bumi pada posisi TEST. Misalkan lampu T menjadi
redup, lampu R dan S menjadi lebih terang dari normal. Matikan penghubung
beban (GSP) satu persatu hingga diketahui bahwa ketika GSP tersebut

245
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

dimatikan terlihat lampu T kembali terang normal besama lampu S dan R. Ini
berarti ada kebocoran isolasi pada kelompok GSP yg dimatikan. Selanjutnya
pencarian dilakukan dengan cara yang sama pada peralatan yang dilayani oleh
GSP yang dicurigai. Hubungkan GSP yang dicurigai, lalu matikan penghubung
beban MC satu persatu hingga diketahui bahwa ketika MC tersebut dimatikan
terlihat lampu T dan lainnya kembali ke terang normal. Ini berarti ada
kebocoran isolasi pada alat/peralatan/grup yang dilayani oleh MC yang
dimatikan tersebut. Dalam hal ini bila MC3 dimatikan maka motor-3 tidak akan
membocorkan T melalui badan kapal hingga ke lampu bumi.
1. Saklar Pembatas (Limit Switch)
Limit Switch adalah suatu saklar mekanik yang diaktifkan oleh gaya dari
komponen yang bergerak atau komponen yang digerakkan oleh alat lain
atau fluida. Fungsinya adalah untuk menghentikan sistem operasi listrik
penyebab gerakan alat tersebut sehingga tepat pada batas maksimumnya.
Gerak yang mencapai batasnya akan menggerakkan nok (cam) atau tuas
yang dapat memutuskan hubungan listrik
2. Flow Switch
Floating Switch adalah jenis saklar yang diaktifkan oleh aliran fluida.
Biasanya alat ini dipasang pada suatu sistem yang mengharuskan adanya
aliran fluida terlebih dahulu sebelum pesawat lainnya dapat beroperasi.
Kontak penghubung pada Floating Switch dapat digunakan untuk
membunyikan bel dan menghidupkan lampu alaram atau dapat juga
dirangkaikan pada sistem interloking terhadap pengoperasian alat
berikutnya.
17.5.

PERAWATAN

Perawatan pada sistem kelistrikan kapal diantaranya adalah :


17.5.1. Back Presure Regulator
BPR dan strainer harus dibongkar pasang dan dibersihkan setiap selesai trip
layar agar sistem otomatisnya selalu bekerja dgn baik. BPR digunakan pada
sistem pembekuan ikan dengan air garam (Brine Freezing System). Pada
refrigerasi Amoniak, BPR harus mempertahankan tekanan evaporator terendah
sekitar 1 kg/cm2, jika tidak maka brine akan beku
17.5.2. Kontak Listrik
Pada sesaat sebelum terjadi kontak listrik, selalu terjadi lompatan bunga api.
Semakin besar arus listrik yang akan dialirkan maka semakin besar juga bunga
api yang selalu terjadi sesaat sebelum kontak. Akibat bunga api akan terjadi
pengeroposan pada kontak-kontak listrik. Oleh karena itu perlu diperhatikan
secara periodik kondisi kontak-kontak setiap penghubung. Bersihkan agar luas
permukaan kontak selalu maksimum.

246
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 17.8. Diagram Kelistrikan Motor Penggerak

Gambar 17.9. Perbaikan Mesin Pembangkit Listrik


17.6.

PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK

Tenaga listrik di kapal dipakai untuk melayani beban-beban listrik yang ada di
kapal. Tenaga listrik tersebut dapat dibangkitkan oleh satu generator atau lebih
yang bermanfaat bagi keamanan, kelancaran dan kenyamanan saat operasional
kapal.
Tenaga listrik di kapal biasanya dipakai untuk pesawat-pesawat listrik
diantaranya, yaitu :
1. Motor listrik
Motor listrik berfungsi untuk menggerakkan pesawat-pesawat lain, biasanya
motor-motor listrik tersebut adalah :

247
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

a. Kompresor, winch, hoist, capstan, hydraulic oil pump


b. Pompa-pompa, pompa pendingin kondensor (Refrigeration C.W. Pump),
pompa bahan bakar (F.O. Transfer Pump), pompa dinas umum (G.S.
Pump), pompa air got (Bilge Pump) dan Pompa air tawar (F.W. Pump)
2. Lampu penerangan
Lampu penerangan khususnya di kapal perikanan sangat bermanfaat dalam
proses penangkapan ikan. Misalnya pada kapal dengan alat tangkap purse
seine yaitu digunakan sebagai daya tarik ikan.
Adapun lampu-lampu di kapal biasanya digunakan sebagai :
a. Lampu penerangan dek
Berfungsi untuk melakukan pekerjaan terutama pada saat setting,
haulling dan processing supaya dapat berjalan lancar, sehingga hal-hal
yang dapat menghambat dalam kegiatan tersebut dapat dihindari.
Jumlah lampu lebih dari 3 buah, masing-masing lebih dari 400 W.
b. Lampu samping kiri dan kanan kapal
Lampu yang digunakan yaitu lampu pijar 40 W sampai 60 W warnanya
yaitu merah, hijau dan kuning yang berfungsi sebagai lampu isyarat
yaitu untuk memberitahukan posisi kapal kepada kapal lain agar tidak
terjadi tubrukan dengan kapal lain pada saat malam hari
c. Lampu belakang
Berfungsi sebagai penerangan di bagian buritan ke arah laut, lampu
yang digunakan yaitu lampu pijar 40 W100 W.
d. Lampu gudang
Berfungsi untuk penerangan di dalam gudang, dan jika tidak ada
kegiatan di dalam gudang dapat dimatikan, daya yang digunakan relatif
rendah yaitu 20 W60 W.
e. Lampu depan
Berfungsi untuk menyorot keadaan laut di depan kapal, lampu yang
digunakan berupa proyektor atau lampu sorot dengan daya tinggi.
f. Lampu anjungan
Untuk penerangan di bagian anjungan, dan lampu ini tidak boleh terlalu
terang (silau) karena dapat mengganggu pandangan nakhoda, yaitu
lampu pijar dan jenis fluoresent dengan daya kecil.
g. Lampu kamar mesin
Untuk menerangi kamar mesin, lampu ini terus menyala tidak pernah
dimatikan, jumlah lampu tergantung dari besar kecilnya ruang mesin
tersebut dan untuk mengurangi hawa panas kamar mesin sering
digunakan lampu fluoresent.

248
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

h. Lampu kamar ABK


Kamar perwira, lampu dapur, untuk menerangi ruangan tersebut dan
jika tidak digunakan dapat dimatikan, daya yang digunakan sekitar 10
W20 W.
i.

Lampu palkah
Dipakai pada saat pekerja turun ke palkah untuk keperluan tertentu,
sesudah itu dipadamkan, lampu yang digunakan lampu pijar 60 W.

3. Pesawat listrik lain


Pada umumnya peralatan listrik lain yang berada diatas kapal dan
memerlukan tenaga listrik diantaranya yaitu :
Fan blower, steering gear, air condition, lemari es, pemanas listrik, rice
cooker, las listrik, sound system
4. Alat-alat navigasi
Alat-alat navigasi yang ada di kapal diantaranya adalah :
a. Kompas
Untuk mengetahui arah kapal agar kapal tidak kesasar kemana-mana
dan arahnya dapat tepat sesuai dengan arah yang akan dituju.
b. Radio SSB
Pesawat yang digunakan untuk keperluan komunikasi antar kapal,
stasiun pantai, operator kantor di darat dan untuk komunikasi darurat.
c. Echo Sounder
Pesawat/ alat untuk mengetahui kondisi bawah laut, baik berupa karang,
ikan, maupun benda-benda asing lainnya, sehingga jika ada karang
dapat dihindari dan bila ikan dapat segera dilakukan penangkapan.
Dari keterangan di atas, maka listrik di kapal perikanan ini sangat
dibutuhkan, karena tanpa adanya tenaga listrik maka proses
penangkapan tidak akan memenuhi harapan.

249
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 18
MENGOPERASIKAN DAN MERAWAT SISTEM
REFRIGERASI

18.1.

SISTEM REFRIGERASI

Refrigerasi adalah produksi dan pemeliharaan tingkat suhu dari bahan atau
ruangan pada tingkat yang lebih rendah dari suhu lingkungan atau atmosfer
sekitarnya, dengan melalui penyerapan atau penarikan panas dari bahan atau
ruangan tersebut. Secara singkat Refrigerasi adalah suatu proses untuk
menurunkan (pendinginan), menaikan (pemanasan) dan menjaga temperatur
suatu zat atau ruangan, sesuai dengan yang kita inginkan.
Fungsi refrigerasi bagi produk perikanan adalah untuk menghambat
pertumbuhan bakteri pembusukan, sehingga dapat memperpanjang umur ikan
(lebih awet) dan tidak menghilangkan gizi yang dikandungnya.
Sistem refrigerasi pada kapal perikanan umumnya menggunakan kompresor
multi silinder karenamempunyai rancangan dan ukuran yang relatif kecil serta
ringan sehingga maksimal dalam penggunaan ruang dan berat per unit dari
kapasitas pendingin. Kapasitas operasi dari kompresor ini dicapai secara
otomatis melalui mekanisme unloader yang dioperasikan berdasarkan
pengaturan tekanan hisap (suction pressure). Ketika mesin dioperasikan beban
secara otomatis dikurangi dengan mekanisme ini, sehingga memungkin-kan
kompresor start dengan torsi minimum.
Beban baru terjadi ketika mesin telah mencapai kecepatan kerjanya, dengan
demikian dapat mengurangi beban kerja dari motor. Hal ini berarti
pengoperasian dapat dilakukan motor dengan kapasitas yang lebih kecil.
Kompresor refrigerasi mempunyai putaran maksimum 1200 hingga 1450 rpm
dan kompresor ini relatif tidak bising dalam pengoperasiannya, karena
penerapan sistem dynamic balancing. Kompresor refrigerasi ada yang
mempunyai diameter silinder 3.75 (95mm) dengan langkah torak 3 (76mm)
dan diameter silinder 5,125 (130mm) dengan langkah torak 3,975 (100mm).
Kedua serie ini masing-masing dibagi menjadi dua type yaitu satu tingkat
(single stage) dan type dua tingkat (two stage) atau compound.
Konstruksi kedua type ini adalah sama kecuali type dua tingkat mempunyai 2
bagian discharge dan 2 bagian suction lihat gambar 6.3. Seluruh komponen
dibuat dengan pengukuran yang akurat dan saling bisa ditukar. Penggantian
komponen dapat dilakukan dengan cepat pada saat periode pemeriksaan
ataupun pada saat diperlukan perbaikan. Namun unjuk kerja kompresor yang
optimal hanya dapat dicapai dengan perawatan yang benar. Dengan membaca
dan memahami panduan ini akan menjamin pengoperasian dan perawatan yang
benar terhadap sistem refrigerasi.

250
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

18.2. PRINSIP DASAR REFRIGERASI MEKANIK


Dalam suatu sistem refrigerasi, tenaga panas dan efek panas antara lain terlibat
dari suatu jenis bahan yang terkait dengan proses-proses refrigerasi. Perubahan
dari suatu jenis bahan dari keadaan padat menjadi cair atau gas (uap) dan
sebaliknya dari gas menjadi cairan atau padat melibatkan sejumlah tertentu
tenaga panas yang berhubungan dengan suhu, tekanan dan volume bahan
tersebut.
Siklus kerja dari sistem refrigerasi untuk lebih jelasnya diuraikan sebagai
berikut :
18.2.1. Penguapan
Tekanan cairan refrigeran diturunkan atau dijatuhkan tekanannya pada katup
ekspansi dan didistribusikan secara merata ke dalam pipa evaporator. Dalam hal
tersebut refrigeran akan menguap dan menyerap kalor dari produk atau udara
ruangan yang diserap melalui permukaan luar pipa evaporator. Apabila udara
didinginkan maka air yang ada di dalam udara akan mengembun pada
permukaan evaporator, cairan refrigeran diuapkan secara berangsur-angsur
karena menerima kalor sebanyak kalor laten penguapan, selama mengalir di
dalam setiap pipa evaporator.
18.2.2. Kompresi
Kompresor menghisap uap refrigeran dari pipa-pipa evaporator, tekanannya
diusahakan supaya tetap rendah, agar refrigeran senantiasa dalam keadaan uap
yang bertemperatur rendah. Di dalam kompresor, tekanan refrigeran dinaikkan,
sehingga memudahkan pencairannya kembali. Energi yang diperlukan untuk
kompresi diberikan oleh motor listrik yang menggerakkan kompresor. Jadi
dalam proses kompresi energi diberikan pada uap refrigeran. Pada waktu uap
refrigeran dihisap masuk ke dalam kompresor, temperaturnya masih rendah,
tetapi selama proses kompresi berlangsung temperaturnya naik.
18.2.3. Pengembunan
Uap refrigeran yang bertekanan dan bertemperatur tinggi pada akhir kompresi
dengan mudah dicairkan melaui pendinginan dengan air pendingin (atau dengan
udara pendingin pada sistem dengan pendingin udara) yang ada pada
temperatur normal. Dengan kata lain, uap refrigeran menyerahkan panasnya
(kalor laten pengembunan kepada air pendingin atau udara pendingin) di dalam
kondensor sehingga mengembun dan menjadi cair di dalam kondensor. Dari
kondensor cairan refrigerant mengalir ke katup ekspansi selanjutnya terjadi
jatuh tekanan
18.2.4. Ekspansi
Untuk menurunkan tekanan dari refrigeran cair (tekanan tinggi) yang dicairkan
di dalam kondensor, supaya dapat mudah menguap, maka digunakan alat yang
dinamakan katup ekspansi. Cairan refrigeran mengalir ke evaporator,
tekanannya turun dan menerima kalor penguapan dari udara, sehingga

251
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

menguap secara berangsur-angsur. Selanjutnya proses siklus tersebut di atas


terjadi berulang-ulang lihat gambar 18.1.

Gambar 18.1. Siklus Sistem Refrigerasi Mekanik

18.3.

SIRKULASI SISTEM REFRIGERASI MEKANIK

Untuk memahami proses yang berlangsung pada sistem refrigerasi, pengaturan


seluruh proses itu dapat dikemukakan berupa siklus dasar yang menggerakkan
sistem refrigerasi.
Panas yang berasal dari ruangan dan bahan diserap ke
dalam evaporator, panas itu tersimpan dalam uap refrigeran yang bertekanan
rendah, dihisap ke dalam jantung sistem refrigerasi. Pada sistem kompresi,
jantung ini berbentuk kompresor, sedangkan pada sistem absorpsi berbentuk
absober dan generator. Oleh jantung, panas yang dihisap dan dibawa oleh uap
refrigeran bertekanan rendah, dipompakan menuju alat pengembunan
(kondensor).
Tekanan uap refrigeran menjadi tinggi dan menjadi jenuh akan panas. Oleh
pendinginan dengan udara atau air, uap refrigeran yang berada didalam
kondensor berubah menjadi cairan. Panas yang terkandung dalam uap pada saat
mengembun dienyahkan bersama air atau udara pendingin kondensor. Cairan
yang terbentuk mengumpul dalam tanki penerima, cairan itu bertekanan tinggi
dan seterusnya mengalir menuju alat pengukur pemuaian. Dengan mengatur
keran, cairan bertekanan tinggi berubah menjadi cairan dingin bertekanan
rendah. Cairan itu diberi kesempatan memuai, mendidih dan menguap di dalam
evaporator. Untuk menguap dan mendidih, refrigeran itu menyerap panas dari
sekitarnya dalam ruangan evaporator untuk kemudian disalurkan kembali
sistem refrigerasi. Sedangkan garis lurus putus-putus menandakan bahwa
sebelah kiri garis putus-putus adalah sisi tekanan rendah (low pressure side)
dan sisi sebelah kanan adalah sisi tekanan tinggi (high pressure side).

252
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

18.4.

KONSTRUKSI KOMPRESOR REFRIGERASI

Kompresor multi silinder mempunyai rancangan dan ukuran yang relatif kecil
serta ringan sehingga maksimal dalam penggunaanya. Kompresor di kapal
dapat beroperasi secara otomatis melalui mekanisme unloader yang bekerja
berdasarkan pengaturan tekanan hisap (suction pressure). Putaran maksimum
kompresor refrigerasi berkisar antara 1200 hingga 1450 rpm dan suara
kompresor relatif tidak bising dalam pengoperasiannya karena penerapan
sistem dynamic balancing. Jenis kompresor dibagi menjadi dua type yaitu
kompresor satu tingkat (single stage) dan type kompresor dua tingkat (two
stage) atau compound. Konstruksi kedua jenis ini adalah sama kecuali type dua
tingkat mempunyai 2 bagian discharge dan 2 bagian suction. Seluruh
komponen kompresor dibuat melalui pengukuran yang akurat dan presisi serta
untuk mempermudah penggantian kompo-nen pada saat periode pemeriksaan.
18.4.1.

Kompresor Satu Tingkat (Single Stage)

Uap referigrant yang terbentuk didalam evaporator memasuki scale trap (2)
melalui suction stop valve (1) dari kompresor. Dimana kotoran disaring oleh
saringan yang dipasang pada scale trap tersebut lalu uap refrigerant mengalir
melalui suction strainer (3) dan memasuki crank crase suction chamber (4).
Pada saat piston (5) memulai langkah penghisapan, tekanan didalam silinder
sleeve (6) berkurang, dan gas yang berada di ruang hisap masuk ke dalam
silinder setelah menekan suction valve (7) keatas. Saat piston bergerak keatas,
suction valve tertutup dan gas dikompresikan. Pada saat tekanan gas menjadi
lebih tinggi dibanding tekanan di bagian discharge, selanjutnya gas refrigeran
mendorong discharge valve (8) dan gas yang telah dikompresikan mengalir
kedalam bagian discharge kemudian dialirkan menuju kondensor melalui
discharge elbow .

Gambar 18.2. Kompresor Satu Tingkat (single stage)


18.4.2. Kompresor Dua Tingkat (Double Stage)
Konstruksi kompresor dua tingkat terdapat dua suction chamber dan dua
discharge port, serta bagian dalam-nya terbagi menjadi dua bagian untuk
menunjang fungsi 2 kompresi dalam satu kompresor. Fungsi dua silinder dari
kompresor ini sabagai fungsi high stage yang tergantung dari ukuran kompresor
tersebut, sedangkan yang 4 dan 6 cylinder lainya berfungsi sebagai fungsi low

253
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

stage. Dilihat dari sisi pompa minyak pelumas (oil pump), cylinder low stage
terdapat pada sisi kanan kompresor (Gbr.2) Ruangan suction dan crankshaft
dihubungkan dengan sebuah lubang penyeimbang tekanan berdiameter 12 mm.
Lubang lain berdiameter 5 mm yang terletak dibagian bawah ini ruangan gas
suction dan ruang crankshaft yang berfungsi untuk mengalirkan minyak
pelumas yang kembali dari evaporator dan mencegah terjadinya buih.

Gambar 18.3. Kompresor Dua Tingkat


18.5.

KOMPONEN MESIN REGRIGERASI

Pada mesin refrigerasi terdapat komponen utama dan komponen bantu agar
mesin tersebut dapat bekerja secara optimal.
18.5.1.

Komponen Utama Sistim Refrigerasi

Komponen utama pada sistim refrigerasi terdiri dari;


1. Kompresor adalah berfungsi untuk menghisap dan menekan gas Refrigeran

(Reciprocating, Rotary, Screw, Centrifugal, Scroll)


2. Kondensor adalah berfungsi untuk merubah bentuk gas refrigerant menjadi

cairan refrigerant, dengan jalan membuang panasnya. Di kondensor terjadi


proses kondensasi atau pembuangan panas. (Water cooled, Air cooled dan
Evaporative Condenser)
3. Receiver adalah berfungsi sebagai penampung cairan refrigerant dari

kondensor
4. Katup Expansi adalah berfungsi untuk menjatuhkan tekanan cairan

refrigerant, sehingga cairan refrigerant akan mulai menguap.


5. Automatic Exp, Thermostatic Exp, Capillary tube, Distribution tube
6. Evaporator adalah berfungsi sebagai alat untuk proses penguapan dari

cairan refrigerant. pada evaporator terjadi proses penyerapan panas.

254
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar. 18.4. Evaporator


18.5.2.

Komponen Bantu Sistim Refrigerasi

Komponen bantu atau alat bantu pada sistim refrigerasi terdiri dari:
1. Oil separator

Alat yang digunakan sebagai pemisah minyak pelumas yang dikandung oleh
aliran refrigeran di dalam unit sistim refrigerasi. Oil Separator berupa tabung
dimana didalamnya terdapat sirip-sirip penahan minyak pelumas, dimana
kandungan minyak pelumas menempel pada sirip penahan menjadi tetesan
minyak dan mengumpul pada bagian bawah dan mengalir ke carter kompresor.
2. Filter dryer

Komponen ini digunakan untuk menyerap air yang tercampur dengan


refrigeran, biasanya dipasang pada saluran yang bertekanan tinggi atau pada
saluran antara receiver sampai katup ekspansi.
3. Gelas Penduga Receiver

Merupakan komponen mesin refrigerasi yang berfungsi untuk mengontrol


permukaan cairan refrigeran di dalam receiver.
4. Solenoid Valve

Pada prinsipnya katup solenoid akan terbuka bila dialiri arus listrik ke
kumparan yang terdapat di dalamnya sehingga timbul medan magnet yang akan
menarik batang sumbat katup keatas, menyebabkan katup tersebut terbuka.
5. Accumulator

Komponen ini berfungsi untuk menampung cairan dan gas dari evaporator,
memisahkan cairan dan gas refigeran sehingga refrigeran yang mengalir pada
saluran hisap dalam bentuk gas, menahan cairan refigeran dari evaporator
sehingga tidak terus menggalir ke kompresor.
6. Pressure Gaauge

Komponen ini berfungsi untuk mengetahui tekanan refrigeran pada sisi tekanan
tinggi, tekanan rendah dan tekanan intermediet.
7. Termometer

255
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Merupakan komponen mesin refrige-rasi, untuk mengetahui temperatur pada


bagian-bagian mesin refrigerasi.
8. Gas Purger/Gas cooler

Komponen ini bekerja untuk menge-luarkan udara dari gas refrigeran didalam
kondensor. Prinsipnya yaitu dengan mengkondensasikan campur-an udara dan
gas refigeran sehingga udara dapat terpisah untuk selanjut-nya dikeluarkan dari
sistem refrigerasi.

Presure Gauge
Gelas Penduga

Gambar. 18. 5. Gas Purger


18.6.

MENGOPERASIKAN SISTEM REFRIGERASI

Langkah-langkah pengoperasian mesin refrigerasi di kapal pada umumnya


adalah sebagai berikut ini;
18.6.1. Langkah Persiapan
1. Menghidupkan air pendingin kondensor dan head cover kompresor
2. Memeriksa jumlah minyak pelumas dari gelas penduga.
3. Memeriksa cairan refrigeran pada receiver melalui gelas penduga
4. Menyiapkan kunci-kunci yang diperlukan pada saat membuka dan menutup
bagian-bagian yang di perlukan
18.6.2. Langkah Pengoperasian
Langkah-langkah pengoperasian system refrigerasi adalah sebagai berikut :
1. Buka kran oli kiri dan kanan (unloeder) kemudian di start lalu tutup
kembali.
2. Buka kran discharge dengan cepat bersamaan dengan kran oli balik yang
ada di oil separator.
3. Setelah semua tekanan normal, buka kran suction perlahan-lahan dengan
memperhatikan tekanan hisap pada manometer
4. Setelah itu buka kran pengeluaran dari receiver

256
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5. Terus buka kran ekspansi pendingin palka dan kran ekspansi ruang
pembekuan.
18.6.3. Langkah Pemeriksaan
Tahapan langkah pemeriksaan, agar pengoperasian dapat berjalan dengan baik,
adalah sebagai berikut ini :
1. Memperhatikan keadaan air pendingin bekerja apa tidak
2. Memperhatikan head covernya jangan sampai panas
3. Memeriksa tekanan oli
4. Memeriksa tekanan suction dan discharge pada manometer
5. Memeriksa ampere meter di panel listrik kompresor
6. Memeriksa suhu

Gambar.18.6.

Suhu dan Tekanan Kerja Kompresor

18.6.4. Langkah Mematikan


1. Menutup kran pengeluaran (out let) dari receiver agar refrigran tertampung
di reciever
2. Menutup kran hisap (suction) pada kompresor dan tekan tombol stop motor
penggerak pada panel kompresor
3. Tutup kran discharge kompresor
4. Tutup kran masuk dan keluar kondensor
5. Tutup kran masuk receiver
6. Tutup kran masuk ekspansi, dan kran balik dari palkah
7. Membiarkan pompa air pendingin kompresor dan kondensor tetap
bersirkulasi untuk beberapa menit
8. Matikan pompa air pendingin kondensor

257
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

18.6.5. Cara Pengisian Refrigeran


1. Menyiapkan botol yang berisi refrigran
2. Menghubungkan saluran pada botol tersebut ke saluran pengisian refrigran
yang telah disediakan di bagian pipa sebelum filter dryer
3. Mengendorkan sedikit sambungan tersebut kemudian membuka botol dan
kemudian menutup kembali dengan segera, lalu kencangkan sambungan
tersebut. Hal ini di maksud untuk membuang udara yang terdapat pada
selang pengisian
4. Membuka kran yang terdapat pada saluran pengisian
5. Membuka kran pengeluaran pada botol refrigran
6. Biarkan refrigran dalam botol mengalir dalam sistem
7. Setelah pengisian refrigran sudah cukup maka tutuplah kran pada saluran
pengeluaran
8. Melepaskan sambungan antara botol dengan selang pengisian.
Selang Pengisian

Regulator

Tabung Amonia

Gambar.18.7. Cara Pengisian Refrigeran


18.6.5.1. Bahan Refrigeran
Refrigeran adalah media pendingin yang berbentuk cairan maupun gas dan
memiliki titik didih sangat rendah pada tekanan 1 Atmosfir. Bahan pendingin
ini bersikulasi dalam sistem refrigerasi kemudian perubahan kondisi thermal
dimanfaatkan untuk menyerap panas produk atau ruangan sekitar pada saat
refrigeran berubah uap dingin dan bertekanan rendah. Sedangkan persyaratan
refrigeran sebagai berikut :
1. Tidak beracun.
2. Tidak terbakar atau meledak bila bercampur dengan udara dan pelumas.
3. Tidak menyebabkan korosi.
4. Bila terjadi kebocoran mudah dicari.
5. Mempunyai titik didih dan tekanan kondensasi yang rendah.

258
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

6. Mempunyai susunan kimia yang stabil, tidak terurai setiap kali


dimampatkan, diembunkan, dan diuapkan.
7. Perbedaan antara tekanan penguapan dan pengembunan sekecil mungkin.
8. Mempunyai panas laten penguapan yang besar.
9. Tidak merusak tubuh manusia.
10. Konduktivitas termal tinggi.
11. Viskositas dalam fase cair maupun gas rendah agar tahanan aliran refrigran
dalam pipa kecil
18.6.5. Cara Pengisian Minyak Pelumas
Cara melakukan pengisian minyak pelumas adalah sebagai berikut ini:
1. Siapkan wadah yang bersih untuk tempat minyak pelumas
2. Isi selang pengisian dengan minyak pelumas agar tidak ada udara didalam
saluran pengisian kemudian sumbat ujung selang pengisian tersebut.
3. Tutup kran suction kompresor
4. Masukan selang pengisian ke dalam wadah yang berisi minyak pelumas
kemudian buka sumbat saluran pengisian minyak pelumas.
5. Buka keran pengisian yang ada di tanki minyak pelumas, maka minyak
pelumas akan terhisap dengan sendirinya karena .
6. Jika telah mencukupi segera tutup keran pengisian kemudian tutup kembali
sumbat selang pengisian.
7. Jangan biarkan minyak pelumas yang berada didalam wadah habis karena
dapat mengakibatkan masuknya udara ke dalam sistem.
8. Buka kembali kran suction kompresor secara perlahan-lahan sambil tetap
memperhatikan low pressure pada manometer.
18.7.

MENGATASI GANGGUAN

Cara mengatasi gangguan antara lain adalah :


18.7.1. Membuang Udara Dalam Sistem Refrigerasi
Cara membuang udara dalam sistem refrigerasi antara lain :
1. Kompresor dalam keadaan hidup
2. Tampung semua refrigran ke dalam reciever
3. Tutup stop outline pada reciever
4. Setelah refrigran terkumpul dalam reciever dan tekanan menjadi rendah,
tutup inlet reciever
5. Matikan kompresor
6. Buka katup pembuangan yang ada di receiver

259
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

7. Setelah udara yang dibuang selesai maka tutup kembali saluran


pembuangan. Dan unit refrigrasi dapat dioperasikan lagi
18.7.2. Mencari Kebocoran Dengan Air Sabun
Cara mencari kebocoran dapat menggunakan media air sabun, dengan cara
sebagai berikut ini
1. Langkah-langkah mencari kebocoran
2. Menyediakan air sabun untuk disemprotkan pada bagian-bagian yang
dimungkinkan terjadi kebocoran
3. Kompresor dalam keadaan hidup agar air tidak kehisap kedalam saluran
tekanan tinggi
4. Semprotkan air sabun, dari discharge kompresor hingga katup ekspansi
5. Apabila menimbulkan buih maka disitulah terdapat kebocoran
6. Apabila pencaran kebocoran pada saluran tekanan rendah kompresor dalam
keadaan mati (off)
7. Setelah diketahui kebocoran maka akan di lakukan penanggulangan-nya.
8. Matikan kompresor pastikan tidak ada refigran pada tempat yang akan
dilakukan pengelasan
9. Lakukan pengelasan pada tempat terjadinya kebocoran dan pastikan tidak
ada lagi kebocoran dengan menggunakan air sabun, selanjut-nya kompresor
dihidupkan kembali.
18.7.3. Prosedur Mencari Kebocoran Dengan Halide Leak Detector
Cara mencari kebocoran antara lain :
1. Atur kran pengatur sesuai dengan yang diinginkan secara perlahan-lahan
2. Hidupkan api dengan korek api pada lubang penyalaan awal
3. Setelah ada api pada cerobong api maka lakukan pendeteksian dengan
lubang pendeteksi kepada komponen yang dicurigai dengan adanya
kebocoran pada pipa
4. Perhatikan lubang cerobong api dengan tanda warna api tertentu
5. Apabila tidak ada kebocoran nyala api berwarna biru
6. Apabila ada sedikit kebocoran nyala api berwarna hijau
7. Apabila ada kebocoran yang besar nyala api berwarna ungu.
8. Agar lebih yakin, buka dan tutup secara bergantian pada lubang pendeteksi
kebocoran
18.7.4. Penyumbatan Pada Filter Dryer
1. Matikan kompresor dan tutup kran out let pada reciever

260
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Tutup katup ekspansi dan buka filter dryer dan cabut saringan didalamnya
untuk di bersihkan
3. Mengganti saringan dengan yang baru karena usia pakai sudah lama
4. Tambahkan silica gell apabila di perlukan
5. Pasang kembali filter dryer dengan sempurna dan dapat dihidupkan
kembali.
18.7.5. Menghilangkan Bunga Es
Cara menghilangkan bunga es adalah:
1. Langkah-langkah menghilangkan bunga es pada contact plate freezer
2. Pastikan contact plate freezer dalam keadaan kosong
3. Naikkan posisi contact plate freezer dengan menghidupkan pompa hidrolik
4. Tutup kran refrigran (ekspansi manual) yang menuju ke contact plate
freezer
5. Ambil selang air laut dan siramkan ke plat yang terdapat bunga es
6. Setelah bunga es sudah tidak ada turunkan posisi plat-plat dengan
menggunakan pompa hidrolik dan tutup kembali ruang contact plate
freezer selanjutnya dapat di gunakan kembali.
18.7.6. Cara Membersihkan Kondensor
Cara membersihkan kondensor pada sistem refrigerasi adalah :
1. Mematikan kompresor
2. Mematikan pompa air pendingin dan menutup kran saluran masuk dan
keluar air pendingin
3. Menutup kran inlet dan outlet refrigran dari kondensor
4. Buka cover kondensor dan bersihkan, periksa saluran pendingin biasanya
mengendap dibagian ini sehingga akan menghambat jalanya sirkulasi air
pendingin dan penyerapan panas untuk refrigran menjadi terlambat
5. Tusuk setiap tube cooling dengan wire leader keluar masuk agar kotoran
yang mengendap hilang
6. Semprot dengan air laut agar kotoran hilang
7. Kemudian meni bagian luar dari tabung konndensor yang telah di bersihkan
dari karat
8. Tutup kembali cover kondensor dan pasang kembali baut yang di buka lalu
kencangkan
9. Buka kembali kran saluran masuk dan keluar air pendingin
10. Hidupkan kembali pompa air laut sambil perhatikan apakah ada kebocoran

261
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

11. Setelah selesai hidupkan kembali kompresor dan buka kran inlet dan outlet
refrigran dari kondensor.
18.8.

PERAWATAN DAN PERBAIKAN MESIN REFRIGERASI

Keberlangsungan operasional mesin refrigerasi sangatlah diperlukan agar


proses pendinginan dan pembekuan terhadap produk dapat terus berlanjut
sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu secara rutin mesin refrigerasi selama
pengoperasiannya harus selalu diperiksa atau dipantau keadaannya kemudian
dibandingkan hasilnya dengan standar normal pengoperasian, selain itu mesin
refrigerasi harus pula mendapatkan perawatan dan perbaikan sesuai ketentuan.
Tujuan pemeliharaan adalah :
1. Memperpanjang masa pemakai.
2. Menjamin kesiapan peralatan kerja.
3. Manjamin keselamatan kerja.
4. Menjamin keselamatan alat sewaktu-waktu digunakan.
Sedangkan faktor penentu kebersihan dalam kegiatan pemeliharaan adalah :
1. Kemampuan personilia dalam melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan
perbaikan.
2. Tersedianya buku
bersangkutan.

petunjuk

pemeliharaan

dan

data

mesin

yang

3. Mengoperasikan mesin sesuai dengan buku petunjuk.


4. Kelancaran arus informas
5. Kemauan dan kemampuan membuat rencana pemeliharaan.
6. Kesadaran akan pentingnya pemeliharaan.
7. Kedisiplinan dalam melaksanakan pemeliharaan.
8. Ketelitian kerja.
9. Kelengkapan fasilitas kerja.
18.8.1. Perawatan Sistem Refrigerasi
Perawatan pada sistim refrigerasi dapat dilakukan secara rutin dan berkala
seperti: perawatan harian, mingguan, bulanan, tahunan, disesuaikan dengan
pabrik pembuat masing-masing komponen dari sistim refrigerasi.
1. Harian
Pemeliharaan harian adalah pemeliharaan yang dilakukan oleh operator mesin
setiap hari baik saat jaga atau tidak. Kegiatan yang dilakukan adalah :
a. Mengoperasikan kompresor sesuai dengan buku petunjuk dan mengamati
selama pengoperasian unit refrigerasi tersebut, kemungkinan ada kelainankelainan yang terjadi dalam pengoperasian.

262
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

b. Mengisi buku journal unit yang tersedia, masukkan bagian-bagian dari pada
unit refrigerasi tersebut.
c. Membersihkan kompresor dan minyak serta tetesan air es yang
menempelkan pada unit.
d. Memeriksa aliran pendingin untuk kompresor.
e. Memeriksa jumlah minyak pelumas dengan cara melihat pada gelas
penduga yang terdapat pada penutup ruang engkol.
f. Memeriksa suhu air laut sebagai media kompresor pada thermometer yang
terdapat pada aliran pendingin yang masuk dan keluar dari kompresor.
g. Pemeriksaan baut yang kendor, semua baut yang kendor harus
dikencangkan sesuai dengan buku petunjuk yang ditetapkan.
2. Mingguan
Dalam Pemeliharaan Mingguan ini berlangsung pada pemeriksaan dan
pemeliharaan harian Meliputi:
a. Memeriksa sambungan-sambungan kelistrikan pada motor penggerak
kompresor dan alat pengamannya.
b. Memeriksa suara kompresor untuk mendeteksi apabila terjadi gangguan
atau kerusakan.
c. Mengontrol sambungan perpipaan pada kompresor, kemungkinan ada
kebocoran akibat korosi atau karat. Pemeriksaan kebocoran dilakukan
dengan menggunakan air sabun, kalau ada kebocoran akan terjadi
gelembung udara pada titik kebocoran.
3. Bulanan
Pemeliharaan bulanan dalam jangka panjang meliputi :
a. Penggantian minyak pelumas, meskipun minyak pelumas terpakai belum
mencapai waktu yang ditentukan karena sudah tidak memenuhi syarat maka
harus diganti.
b. Mengganti saringan minyak pelumas.
c. Memeriksa tegangan tali transmisi (v-belt), apabila v-belt dalam keadaan
kendor, tali kipas akan selip pada pulley-nya sehingga akan mengakibatkan
getaran pada tali kipas dan bunyi yang mengganggu.
4. Tahunan
Pemeliharaan tahunan dilakukan tiap tahunnya antara lain:
a. Pemeriksaan dan pembersihan semua relay, starter dan instalasi listrik.
b. Memeriksa saluran pendingin.
c. Memeriksa klep hisap dan klep tekan kompresor.
d. Memeriksa bagian dalam kompresor seperti ring piston, piston, cylinder
liner, metal dan lain-lain.

263
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

e. Mengganti minyak pelumas.


f. Overhaule kompresor adalah memeriksa komponen bila ada kerusakan atau
keausan pada komponen kompresor perlu diadakan perbaikan menjadi
bentuk dan ukuran semula atau mengganti dengan komponen baru sehingga
kompresor dapat beroperasi seperti keadaan semula.
18.8.1.1. Melakukan Pemeliharaan Atau Pemeriksaan Rutin
Secara umum, pemeriksaan rutin adalah untuk pemeliharaan dan kontrol
keselamatan serta mencegah kerusakan pada saat pengoperasian mesin
refrigerasi, Pemeriksaan rutin yang benar akan dapat menjamin keamanan
pengoperasian sampai jadwal pemeriksaan berikut, penggantian spare parts
atau perbaikan.
Pertama, hentikan kompresor kemudian refrigerant dalam bagian tekanan
rendah dikumpulkan ke dalam penampung cairan (receiver). Jika tiap unit
dalam kompresor multi sistem dapat dicek secara bergantian jalankan prosedur
penghentian sementara dengan cara menutup katup suction kompresor dan
pembuangan refrigerant dari crankcase.
Setelah kompresor berhenti, tutuplah discharge stop valve untuk
memungkinkan gas refrigerant pada bagian discharge untuk menuju bagian
tekanan rendah melalui by-pass. Jika kompresor dilengkapi dengan kontrol
sirkuit otomatis yang bekerja dengan tekanan suction untuk pengurangan beban
dan penghentian, maka alat ini harus diubah secara manual atau di by-pass. Jika
ada amonia yang tertinggal akan menimbulkan bau menyengat, buang atau
purge sesegera mungkin.
Untuk penanganan gas freon, kurangi tekanan secara perlahan sampai sebesar 0
kg/cm2G kemudian matikan kompresor. Pada saat itu tekanan akan naik
kembali setelah beberapa saat jadi ulangi prosedur diatas sampai tekanan benarbenar tidak naik lagi.
Jangan mengurangi tekanan dengan drastis karena akan menyebabkan
refrigerant yang ada pada minyak pelumas menguap, berbusa dan menyebabkan
minyak pelumas hammer.
18.8.1.2. Pemilihan Minyak Pelumas Kompresor
Pemilihan minyak pelumas yang berkualitas mempengaruhi umur penggunaan
kompresor secara signifikan. Gunakan minyak pelumas dengan kualitas terbaik.
Jika endapan minyak pelumas atau kotoran lain melekat pada discharge valve
cage atau bila bagian-bagianyang bergerak menunjukan gejala keausan dini
pada saat perbandingan kompresi dan tekanan discharge rendah serta
pemakaian minyak pelumas normal, jalankan prosedur pengecekan dibawah ini:
1. Periksalah apakah terdapat kotoran pada minyak pelumas atau benda asing
lainnya, atau apakah mutu minyak pelumas tersebut yang digunakan rendah.
2. Periksalah apakah ada minyak pelumas yang sudah tercemar atau telah lama
walaupun minyak pelumas tersebut berkualitas bagus. Menentukan kualitas
minyak pelumas pelumas adalah sulit. Secara umum dapat diputuskan

264
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

hanya setelah digunakan. Jadi belilah minyak pelumas dengan kualitas yang
baik dan sudah dikenal pada agen/distributor resmi. Janganlah membeli
minyak pelumas hanya karena harganya murah.
Faktor penting adalah kekentalan minyak pelumas terhadap kenaikan
temperatur, Titik cair bawah (low pour point) dan titik nyala tinggi (high flash
point). Setelah dibeli, minyak pelumas harus disimpan pada tempat yang
terhindar dari kontaminasi benda asing seperti air dan debu, karena minyak
pelumas yang demikian dapat menyebabkan keausan dan karat pada kompresor
pada saat minyak pelumas digunakan.
18.8.1.3. Tekanan Minyak Pelumas Tidak Normal
Jika tekanan minyak pelumas tidak mengalami kenaikan meskipun penyetelan
pada pengaturan pressure regulating telah dilakukan dan hal itu bukan
diakibatkan keausan pada bearing, maka langkah berikut yang harus dilakukan.
Gerakan poros pompa minyak pelumas kedepan dan belakang dan tahanlah
poros dengan jari. Jika terdapat kelonggaran pada bushing atau pada sisinya
berarti telah aus. Jika ini terjadi maka seluruh bagian harus diganti.
18.8.2. Perbaikan Sistem Refrigerasi
Perbaikan dan pembongkaran pada sistem refrigerasi disebabkan oleh
kerusakan akibat operasional, maka diperlukan prosedur pekerjaan sesuai
dengan tingkat kerusakan yang terjadi dan harus ditangani dengan benar karena
penanganan yang keliru akan memperparah kerusakan.
Kompresor terjadi liquid flow back, maka pekerjaan yang dilakukan adalah
sebagai berikut;
18.8.2.1. Persiapan Pembongkaran
1. Jika karter kompresor pada posisi tekanan vakum pada saat berhenti, maka
tekananya harus dibuat sama dengan tekanan atmosfer.
2. Kosongkan minyak pelumas dari dalam ruang karter melalui katup
pembuangan dengan membuka plug melalui hand hole dan melalui pipa
gauge tekanan rendah.
3. Jika kompresor dilengkapi dengan sistem pengisian minyak pelumas
otomatis, jangan lupa untuk menutup seluruh katup dalam sistem. Hal yang
sama dilakukan pada tipe yang menggunakan sistem automatic return oil
separator.
4. Selama penbongkaran, matikan semua sistem kelistrikan yang tidak
terpakai.
5. Kosongkan air dari blok kompresor.
6. Lepaskan belt dan kopling serta lepaskan flange dan flywheel-nya.
7. Flywheel maupun kopling berada pada sisi kompresor yang dapat dilepas
dan hati-hati dalam mengerjakan.

265
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

18.8.2.2. Yang Harus Diperhatikan Selama Pembongkaran


1. Peralatan yang digunakan harus dalam keadaan bersih
2. Susunlah seluruh suku cadang di tempat yang bersih dan bebas dari kotoran
3. Untuk membersihkan bagian yang dibongkar gunakan alkohol murni,
karbon tetrachloride, thricolore-ethylene atau minyak pelumas encer.
Minyak pelumas yang berasal dari kompresor dengan suhu 45-50 celcius
dapat digunakan. Setelah dibersihkan, untuk mencegah karat maka
permukaan komponen harus dilumuri dengan minyak pelumas.
4. Sebelum dirakit kembali, bersihkan komponen dengan menggunakan
kompresor udara, busa spons atau dan lumuri dengan minyak pelumas
bersih. Hindari menggunakan lap yang berserat untuk menghindari
penyumbatan di dalam pipa.
5. Saat pemasangan gasket, dianjurkan menggunakan graphite-mixed oil atau
non drying packing pada salah satu sisi untuk memudahkan saat akan membongkar kembali.
6. Apabila silinder juga turut dibongkar, bagian komponen penempatannya
harus dekat dengan sylinder tersebut, Peletakan connecting rod jangan
tercampur.
18.8.3. Melakukan Perbaikan Mesin Refigerasi
Sehubungan dengan perbaikan dan pembongkaran yang disebabkan oleh
kerusakan akibat operasional, maka diperlukan prosedur pekerjaan sesuai
dengan tingkat kerusakan yang terjadi dan harus ditangani dengan benar, karena
penanganan yang keliru akan memperparah kerusakan.
18.8.3.1. Prosedur Over Houl Kompresor
Prosedur over houl pada kompresor antara lain :
1. Buang minyak pelumas melalui drain sampai dengan habis
2. Lepaskan saringan minyak pelumas untuk dibersihkan.
3. Buka cover minyak pelumas pada bagian samping
4. Buka cover silinder kompresor no 4 yang dianggap titik kerusakan
5. Lepaskan spring besar kompresor bagian dalam tepat di depan katup
6. Lepaskan katup kompresor
7. Lepaskan baut crank journal piston pada bagian bawah lalu periksa metal
dari keausan
8. Cabut piston dengan menggunakan baut yang di masukan ke dalam kepala
piston
9. Cabut piston perlahan-lahan
10. Cek bearing piston dari keausan

266
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

11. Lepaskan pengikat pin seal bearing pada piston dengan menggunakan tang
lancip
12. Lepaskan pin piston dan bearing dengan pipa pendorong yang di pukul
dengan palu secara perlahan-lahan
13. Periksa pin dan bearing piston, dari pada kerusakan pada bagian tersebut
14. Ganti pin dan bearing piston dengan yang baru
15. Pasang kembali dengan urutan kebalikan dari pembongkaran.

Gambar 18.8.Perbaikan Kompresor


18.8.3.2. Membuka Head Cover
1. Pada kompresor gantilah dua sekrup yang simetris berlawanan dengan
sekrup panjang yang terdapat di tool kit. Kemudian bukalah seluruh sekrup
yang lain selain sekrup panjang tadi dari head cover. Kemudian longgarkan
dua sekrup tersebut secara merata sampai gasket terlepas dari pegas utama
2. Jika gasket melekat pada head cover atau pada bagian head cover ketukkan
palu karet/plastik pada sisinya setelah kedua bautnya longgar lepaskan
gasket dengan hati-hati menggunakan cutter atau obeng, dan jangan sampai
merusakkan gasket.
18.8.4. Pemasangan Komponen Kompresor (Reassembling)
Cara memasang komponen pada kompresor adalah :
1. Bersihkan seluruh komponen dan crankcase seluruhnya menggu-nakan
minyak pelumas encer dan lumuri seluruh permukaan dengan minyak
pelumas.
2. Sebelum pemasangan, gunakan minyak pelumas, terutama pada bagian
yang bergerak.

267
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3. Pada saat membersihkan jangan menggunakan kain wol karena seratnya


dapat tertinggal pada komponen.
4. Setelah pemeriksaan, gasket harus dilapisi dengan minyak pelumas atau
campuran.
5. Kencangkan sekrup secara diagonal
6. Perhatikan pada model 12 WB & 12-4WB prosedur pemasangan bagian
shaft berbeda dengan model lain.

268
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 19
MELAKUKAN KERJA BENGKEL

Kerja bengkel adalah pekerjaan yang hanya dapat dikerjakan di dalam


bengkel. Sebelum memulai pekerjaan hal-hal yang harus diperhatikan
sesuai dengan jenis pekerjaannya, antara lain:
1. Keselamatan kerja
2. Persiapan peralatan untuk melakukan pekerjaan
3. Mempersiapkan bahan / barang yang akan dikerjakan
4. Cara melakukan pekerjaan.
19.1.

MELAKUKAN KERJA BANGKU

Benda dilepas dari dudukannya atau tempatnya dan dibawa ke bengkel,


kemudian benda tersebut dibersihkan dan dianalisa sebelum dilakukan
pekerjaan.

Gambar 19.1. Mesin Gerinda


19.1.1. Menggerinda
Caranya adalah :
1. Letakan benda pada penahan yang tedapat pada dudukan gerinda.
2. Tempelkan benda pada batu gerinda yang berputar sedikit demi
sedikit dan gerakan benda ke kiri dan ke kanan.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

269

Teknika Kapal Penangkap Ikan

19.1.2. Mengikir
Caranya adalah :
1. Bahan yang diikat pada ragum hanya boleh menonjol sedikit, supaya
bahan tidak bergetar dan tidak berbunyi.
2. Bahan diikat ditengah-tengah ragum.
3. Pasang alat bantu lempeng apitan apabila perlu.
4. Pegang kikir dengan baik.
5. Kalau ringan cukup telunjuk dan ibu jari pada ujung kikir.
6. Kikir ditekan waktu gerakan ke depan, waktu gerakan ke belakang
tidak perlu ditekan.
7. Waktu gerakan, kikir jangan terlepas dengan bahan yang dikikir.
8. Gerakan kikir pelan-pelan kira-kira 50 60 kali permenit.
9. Gerakan kikir mendatar terhadap bahan.
19.1.3. Menggergaji
Bertujuan untuk memotong bahan sesuai dengan ukuran yang kita
inginkan. Cara menggergaji sebagai berikut ini :
1. Bahan diikat pada ragum.
2. Potong bahan jangan terlalu jauh dari ragum.
3. Pasang alat bantu lempeng apitan apabila perlu.
4. Pasang mata gergaji, gigi-giginya mengarah ke depan.
5. Mata gergaji terhadap bahan membentuk sudut.
6. Gerakan gergaji pelan kira-kira 50 60 kali per menit.
7. Gerakan gergaji kedepan ditekan.
8. Mata gergaji harus dipakai seluruh panjangnya.
9. Bahan ditahan apabila mau putus.
19.1.4. Sney dan Tap
Sney untuk mebuat ulir baut atau untuk memperbaiki ulir baut yang
rusak, dengan cara :
1. Baut/bahan diikat kuat pada ragum
2. Alat sney dipasang pada tempatnya (besi puntir).
3. Pasang sney pada ujung baut/bahan.
4. Putar besi puntir pelan-pelan dan bolak-balik sampai lancar.
5. Beri pelumasan pada sney

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

270

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Tap digunakan untuk membuat atau memperbaiki ulir dalam mur, dengan
cara :
1. Pasang tap pada besi puntir yang dapat di stel.
2. Pertama menggunakan tap pendahuluan.
3. Masukan tap pendahuluan pada mur.
4. Putar besi puntir pelan, bolak-balik sampai lancar.
5. Kedua menggunakan tap menengah dan tap akhir.
6. Untuk memperbaiki ulir mur tidak selalu harus memakai ketigatiganya.
7. Hasil ulir dapat dicocokan dengan pengukur ulir .
19.1.5. Pelengkeng
Pelengkeng gunanya untuk memperbesar lubang yang berbentuk tirus
atau bulat. Caranya :
1. Pelengkeng di stel sesuai dengan besar lubang yang dikehendaki
setahap demi setahap.
2. Pelengkeng dimasukan lurus kedalam lubang.
3. Putar pelengkeng ke kanan pelan-pelan dan beraturan.
4. Gunakan alat bantu besi puntir yang dapat distel
19.1.6. Pahat
Gunanya untuk memotong atau meratakan bahan pekerjaan, caranya:
1. Bahan yang akan dipotong diberi tanda/digaris
2. Bahan diikat pada ragum atau di letakan pada landasan (bangku
tempa).
3. Untuk memotong bahan pada ragum pahat membentuk sudut.
4. Untuk memotong bahan pada bangku tempa, pahat tegak lurus
terhadap bahan.
5. Waktu memahat tiap pukulan hendaknya pahat diangkat.
6. Perhatikan ujung mata pahat.
19.1.7. Penitik (Centre punch)
Gunanya untuk membuat titik-titik pada bahan yang sudah digarisi,
membuat titik pusat pada lingkaran dan titik pusat pengeboran. Caranya :
1. Bahan diletakan di atas bangku tempa.
2. Beri tanda pada tempat yang akan diberi titik.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

271

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3. Centre punch dipegang agak miring menjauh dari mata dan letakan
ujungnya tepat pada tanda.
4. Kemudian centre punch ditegakan (tegak lurus) baru dipukul kuat.
19.1.8. Plong (hole punch)
Gunanya membuat gelang-gelang penyekat dan membuat gelang-gelang
packing. Caranya :
1. Bahan yang akan dilubangi di beri tanda.
2. Bahan diletakan pada landasan yang lunak (kayu).
3. Gunakan alat plong yang sesuai ukurannya, kemudian ditekan sampai
masuk sedikit (berbekas).
4. Gunakan alat plong dengan ukuran yang lebih kecil dan dipukul
sampai berlubang.
5. Baru ambil lagi alat plong yang sebenarnya kemudian dipukul sampai
bolong.
19.2.

MELAKSANAKAN KERJA LAS

Pada saat ini teknik pengelasan telah dipergunakan secara luas untuk
penyambungan batang-batang pada konstruksi bangunan baja, pengelasan
pelat dan konstruksi mesin, luasnya penggunaan teknologi las disebabkan
karena bangunan dan mesin yang dibuat dengan mempergunakan teknik
penyambungan, karena lebih ringan dan proses pembuatannya lebih
sederhana sehingga biaya lebih murah.
Dalam pelaksanaan pengelasan diperlukan prosedur pengelasan yang
meliputi cara pembuatan kontruksi las yang sesuai dengan rencana dan
spesifikasinya dengan menentukan semua hal yang diperlukan dalam
pelaksanaan tersebut. Karena itu personil yang menentukan tahapan
pengelasan harus mempunyai pengetahuan dalam teknologi pengelasan,
dapat menggunakan pengetahuan tersebut dan mengerti tentang efisiensi
dan ekonomi dari aktivitas produksi. Untuk setiap pelaksanaan pekerjaan
harus dibuat prosedur tersendiri secara terperinci termasuk menentukan
alat yang diperlukan dengan rencana pembuatan dan kualitas produksi.
Pengelasan dan pemotongan merupakan pelaksanaan pengerjaan yang
amat penting dalam teknologi produksi dengan bahan baku logam. Dari
perkembangannya yang pesat telah banyak teknologi pengelasan baru
yang ditemukan, sehingga boleh dikatakan hampir tidak ada logam yang
tidak dapat dipotong dan dilas.
Prosedur pengelasan adalah suatu perencanaan untuk pelaksanaan
pengelasan yang meliputi cara pembuatan kontruksi las yang sesuai
dengan rencana dan spesifikasinya dengan menentukan semua hal yang
diperlukan dalam pelaksanaan tersebut. Karena itu personil yang
menentukan prosedur pengelasan harus mempunyai pengetahuan dalam

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

272

Teknika Kapal Penangkap Ikan

teknologi pengelasan, dapat menggunakan pengetahuan tersebut dan


mengerti tentang efisiensi dan ekonomi dari aktivitas produksi.
Untuk setiap pelaksanaan pekerjaan harus dibuat prosedur tersendiri
secara terperinci termasuk menentukan alat yang diperlukan dengan
rencana pembuatan dan kualitas produksi. Prosedur pengelasan akan
memberikan hasil yang baik bila sebelumnya telah dibuat seperti :
1. Rencana tentang jadwal pembuatan
2. Proses pembuatan
3. Alat-alat yang diperlukan
4. Bahan-bahan
5. Urutan pelaksanaan
6. Persiapan pengelasan
7. Pelakuan setelah pengelasan
8. Pengaturan pekerjaan dan lain-lainnya.
19.2.1. Las Listrik
Las listrik disebut juga las busur listrik (are welding electric), yaitu
penyambungan dua logam dengan menggunakan tenaga listrik sebagai
media sumber panas yang ditimbulkan oleh busur api antara elektroda
(kawat las) dan benda kerja terjadi busur api akibat kontak arus listrik
tersebut. Gerakan busur api pada elektroda mencair, setelah dingin dapat
menjadi satu bagian yang sukar dipisahkan. Adapun peralatan las listrik
yang harus dipersiapkan yaitu :
19.2.1.1. Pesawat Las
Jika ditinjau dari jenis arus yang keluar, pesawat las dapat digolongkan
menjadi :
1. Pesawat las arus bolak balik (AC)
Terdiri dari trafomator yang dihubungkan dengan sumber listrik PLN
atau mesin pembangkit listrik motor diesel (motor bensin). Kapasitas
trafo biasanya 200 500 A, sedangkan voltage (tegangan) yang keluar
dari trafo antara 36 70 Volt.
2. Pesawat las arus searah (DC)
Berupa pesawat trafomator rectifier, pembangkit listrik motor diesel
atau motor bensin dan dapat juga digerakan oleh motor listrik (dinamo
motor).
3. Pesawat las AC DC
Merupakan gabungan dari pesawat las AC dan DC. Dengan gabungan
ini akan lebih banyak pemakaiannya, karena arus yang keluar stabil
dapat searah maupun bolak-balik (AC-DC).

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

273

Teknika Kapal Penangkap Ikan

19.2.1.2. Alat Bantu Las


Pada pengelasan terdapat alat bantu yaitu :
1. Kabel las
2. Pemegang elektroda (holder las)
3. Palu las (las ketok)
4. Sikat baja las
5. Klem massa (ground las)
6. Penjepit (tang las)
Tujuan dari penggunaan alat perakit atau alat bantu adalah :
1. Memungkinkan pelaksanaan pengelasan posisi datar sebanyakbanyaknya.
2. Menahan dan menghalangi perubahan bentuk yang terjadi karena
pengelasan atau memberikan perubahan bentuk mula untuk
mendapatkan ketepatan bentuk yang lebih tinggi.
3. Memperbaiki efisiensi dengan memudahkan pelaksanaan pengelasan
atau memungkinkan pengelasan otomatik dalam hal produksi besarbesaran.
19.2.1.3. Perlengkapan Keselamatan Kerja
Alat keselamatan yang dipergunakan pada saat melakukan pekerjaan las
antara lain :
1. Helem las (masker las)
2. Sarung tangan kulit
3. Baju las (apron)
4. Sepatu las
5. Kamar las (ruang lasan)
19.2.1.4. Tahapan Melakukan Proses Las
1. Persiapan (chek kondisi mesin las dan arus listrik panel box las)
Mutu dari hasil pengelasan disamping tergantung dari pengerjaan
lasnya sendiri tergantung dari persiapan sebelum pelaksanaan
pengelasan. Karena itu persiapan pengelasan harus mendapatkan
perhatian dan pengawasan yang sama dengan pelaksanaan pengelasan.
2. Nyatakan kondisi mesin las ready
3. Beri tanda garis las agar tidak menyimpang alur lasan
4. Tentukan amper las (lihat tabel.16.) kemudian pasang elektroda pada
handle clamp.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

274

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5. Lakukan proses lasan pada jalur line las dengan metoda gerakan datar
6. Posisi kemiringan elektroda terhadap benda kerja (baja plat) sekitar
60-75 derajat. Atur jarak antara elektroda dan benda kerja setinggi
diameter elektroda.
7. Lakukan membersihkan dengan mengetok palu ketok pada lasan dan
chek hasil lasan tersebut sehingga kerak las (flux) terbuang.
8. Bersihkan dan rapihkan peralatan las apabila sudah selesai digunakan.
19.2.2. Cara Menyalakan Busur Api Las
Untuk mendapatkan hasil pengelasan yang baik dan kemudahan di dalam
langkah pengelasan. Maka harus diperhatikan ukuran dan jenis elektroda
(kawat las) harus tepat dalam menentukan besar kecilnya arus (ampere).
Ada 2 cara melakukan penyalaan busur api las yaitu :
19.2.2.1. Penyalaan Pesawat Las AC
Pada pesawat las AC, penyalaan busur api dilakukan dengan
menggoreskan elektroda pada benda kerja secara pelan, agar timbul nyala
busur api dan pertahankan nyalanya.
19.2.2.2. Penyalaan Pesawat Las DC
Pada pesawat las DC, penyalaan busur api dilakukan dengan cara
elektrodanya disentuhkan dari atas ke bawah pada benda kerja secara hatihati agar timbul nyala busur api, dan pertahankan nyalanya.
Tabel.16. Pemakaian Ampere Terhadap Elektroda
No

Diameter Elektroda
(mm)

Ampere (A)

1,5

30 - 45

2,5

40 70

3,2

75 100

125 150

140 175

175 - 225

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

275

Teknika Kapal Penangkap Ikan

19.2.3. Pemakaian Ampere Terhadap Elektroda


Pada saat mengelas dengan listrik besarnya amper akan mempengaruhi
hasil dari lasan, dan besar kecilnya diameter elekroda juga sangat
berpengaruh.
19.2.4. Las Asitiline (Oxy Acitiline)
Proses penyambungan logam dua logam melalui pemanasan dengan busur
api yang di dapat dari gas asitiline dan gas oksigen dihubungkan selang
disatukan ke pembakar (torch welder). Gas asitiline merupakan produk
dari perpaduan C2H2 (gas karbit) yang menghasilkan gas pembakar
apabila dipadukan dengan O2 (oksigen) sehingga akan timbul busur api di
dalam torch welder yang dihubungkan selang oksigen dan asiteline
tersebut.
19.2.4.1. Peralatan las asitiline
1. Tabung oksigen
2. Tabung asitiline
3. Regulator asitiline dan oksigen
4. Pembakar las (torch welder)
5. Selang asitiline
6. Selang oksigen
7. Kacamata las
8. Korek api
9. Kawat las pengisi.

Gambar 19.2. Regulator


19.2.4.2. Tabung Oksigen
Disebut juga botol oksigen, klasifikasi botol atau tabung :

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

276

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1. Tekanan penuh 150 bar (kg/cm)


2. Tinggi 130 cm
3. Diameter 25 cm
4. Cara mengatur gas oksigen pada proses pengelasan
5. Buka kran tabung oksigen, lihat jarum penunjuk akan berputar
menunjukan tekanan penuh tabung oksigen 250 kg/cm.
6. Putar handle keran regulator pelan-pelan hingga jarum kerja regulator
menunjukan angka 8 pada skala penunjuk dan stop handel.
7. Mulai persiapan mengelas.
19.2.4.3. Tabung Asiteline
Disebut juga botol asiteline, klasifikasi botol atau tabung :
1. Isi penuh 250 liter gas asiteline
2. Tinggi 60 cm
3. Diameter 30 cm
Cara mengatur gas asitelin pada proses pengelasan
1. Buka kran tabung asiteline jarum regulator akan menunjukan isi
penuh tabung.
2. Putar handel regulator pelan-pelan hingga jarum menunjukan angka 5
pada skala penunjuk dan stop memutar handel.
3. Mulai persiapan mengelas.

Gambar 19.3. Generator Asiteline


19.2.4.4. Proses Pembukaan Torch Welder Untuk Mengatur Busur Api
1. Setelah pengaturan pada regulator oksigen dan asitiline dinyatakan
tepat (perbandingan antara oksigen dan aitiline)

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

277

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Buka keran asitiline pada torc welder sedikit saja, kemudian beri api
di ujung nozel (korek api), sehingga menyala pada ujungnya. Hindari
terjadi nyala balik akibat proses pembukaan penyalaan yang salah.
3. Setel kedua keran, sehingga membentuk nyala busur api di ujung
nozel dan sesuaikan bahan yang akan dilas.
4. Proses pengelasan sudah dapat dimulai.
19.2.4.5. Tahapan Melakukan Proses Las
1. Persiapan (chek kondisi tekanan tabung oksigen dan isi tabung
aitiline).
2. Siapkan benda kerja yang akan di las
3. Nyalakan pembakar, atur busur nyala api : netral (perbandingan 1:1).
4. Pegang batang pembakar pada posisi 60 70 dan kawat pengisi las
30 - 40 terhadap permukaan benda yang akan di las.
5. Panaskan bagian yang akan dilas mulai dari pinggir hingga timbul
kawah las.
6. Arahkan nyala busur api pada suatu tempat, jarak inti nyala sekitar 23 mm di atas bahan.
7. Dorong pelan-pelan dengan gerakan zig-zag / melingkar nyala busur
api sekaligus kawat pengisi las agar terjadi sambungan bahan yang di
las.
8. Lakukan membersihkan dengan mengetok palu ketok pada lasan dan
chek hasil lasan tersebut sehingga kerak las (flux) terbuang.
9. Bersihkan dan rapihkan peralatan las (tutup keran pada kedua tabung)
apabila sudah selesai digunakan.
19.2.4.6. Pemeriksaan dan Perbaikan Alur
Bentuk dan ukuran alur turut menentukan mutu lasan, karena itu
pemeriksaan terhadap ketelitian bentuk dan ukurannya harus juga
dilakukan pada saat sebelum pengelasan. Dalam hal ini yang penting
adalah besarnya celah akar yang harus sesuai dengan spesifikasi yang
telah ditentukan. Kalau celah akar lebih besar dari pada spesifikasi maka
harus diadakan perbaikan seperlunya, cara perbaikannya tergantung dari
pada besarnya celah dan jenis sambungannya.
Perbaikan celah akar dalam las tumpul dapat dilakukan sebagai berikut
ini:
1. Apabila celahnya kurang dari 6 mm, maka perbaikan penyem-pitan
alur dengan las isi pada sebelah atau kedua belah alur yang kemudian
diikuti dengan penggerindaan untuk mendapat-kan ukuran yang tepat.
2. Apabila celah antara 6 dan 16 mm, maka perngelasannya harus
dilakukan dengan pelat pembantu setebal 6 mm.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

278

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3. Bila kesalahannya lebih dai 16 mm maka seluruh bagian atau


sebagian dari pelat harus diganti.
4. Perbaikan celah akar pada las sudut sebagai berikut :
5. Celah lebarnya 1,5 mm atau kurang, dapat terus dilas tanpa perbaikan
dengan panjang kaki las sesuai dengan spesifikasi dan bila celahnya
lebih dari 1,5 mm tetapi kurang dari 4,5 mm pengelasan juga dapat
dilanjutkan tanpa perbaikan.
6. Bila celahnya lebih dari 4,5 mm maka perlu ditambahkan suatu
lapisan pelat atau bagian tersebut dipotong sepanjang 30 mm atau
lebih dan diganti dengan pelat atau bagian baru.
19.2.4.7. Pembersihan Alur
Kotoran-kotoran seperti karat, terak, minyak/gemuk, debu, air dan lain
sebagainya bila tercampur dengan logam las dapat menimbulkan cacat las
seperti retak, lubang halus yang dapat membahayakan konstruksi. Karena
itu kotoran-kotoran tersebut harus dibersihkan sebelum pelaksanaan
pengelasan, dalam hal las berlapis, terak yang timbul pada pengelasan
lapisan sebelumnya juga harus dibersihkan sebaik-baiknya.
Ada 2 cara membersihkan kotoran pada material las yaitu :
1. Cara mekanik dengan menggunakan sikat kawat baja, penyemprot
pasir.
2. Cara kimia dengan menggunakan aseton, soda api dan lainnya.
Disamping itu digunakan juga cara penyemprotan dengan api pada daerah
yang akan dilas dan sekitarnya dengan tujuan menguapkan air, membakar
minyak dan gemuk, menghembuskan karat dan terak serta merupakan
pelaksanaan pemanasan mula.
19.3.

MELAKSANAKAN KESELAMATAN KERJA

Akhir-akhir ini konstruksi las banyak sekali digunakan, sehingga


pelaksanaan pekerjaan las juga menjadi makin besar dan dengan
sendirinya kecelakaan-kecelakaan yang berhubungan dengan pengelasan
juga menjadi makin banyak. Kecelakaan-kecelakaan tersebut pada
umumnya disebabkan karena kurangnya kehati-hatian, cara memakai
peralatan yang salah, pemakaian pelindung yang kurang baik dan
kesalahan-kesalahan lainnya. Untuk menghindari kecelakaan tersebut
perlu penguasaan pengetahuan keselamatan dan mengetahui tindakantindakan apa yang harus diambil bila terjadi kecelakaan.
19.3.1. Kecelakaan Karena Cahaya dan Sinar
Selama proses pengelasan akan timbul cahaya dan sinar yang dapat
membahayakan juru las dan pekerja lain yang ada disekitar pengelasan.
Kecelakaan karena cahaya dan sinar las meliputi cahaya yang dapat

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

279

Teknika Kapal Penangkap Ikan

dilihat atau cahaya tampak dan yang tidak tampak. Cahaya atau sinar
yang berbahaya bagi pekerja las dan disekitarnya adalah :
1. Sinar Ultraviolet
2. Cahaya tampak
3. Sinar Inframerah
Karena hal ini maka pencegahan terhadap bahaya dari cahaya harus
diperhatikan dengan sungguh-sungguh.
19.3.2. Kecelakaan Karena Listrik
Banyak sekali jenis kecelakaan yang ditimbulkan oleh listrik dan
akibatnya dapat sampai pada kematian. Kadang-kadang kejutan listrik
yang kecilpun dapat mengakibatkan kematian, misalnya bila orang yang
terkejut lalu jatuh dari tempat yang tinggi.
Pencegahan terhadap bahaya listrik yaitu dengan cara sebagai berikut :
1. Penggunaan mesin dengan tegangan kedua yang rendah.
2. Penggunaan alat penurunan tegangan otomatik.
3. Penggunaan pemegang elektroda berisolator.
4. Penggunaan kabel pengelasan yang sesuai
5. Penghindaran terjadinya kecelaka-an listrik.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan untuk menghindari
terjadinya kecelakaan listrik adalah sebagai berikut :
1. Juru las harus memakai sarung tangan dan sepatu yang berisolator
dan memakai pakaian kerja.
2. Bila berkeringat harus berhenti dan mengeringkan terlebih dahulu
sebelum melanjutkan pengelasan.
3. Mesin las harus dilengkapi dengan alat penurun tegangan otomatik
4. Harus menggunakan kabel dan pemegang elektroda yang berisolator
sempurna
5. Pemegang elektroda harus diletakkan pada tempat yang berisolator
atau digantungkan bila tidak mengelas
6. Rumah mesin las harus diketanahkan/grounded dengan baik
7. Penggantian elektroda harus dilakukan dengan hati-hati
8. Dalam keadaan istirahat atau tidak mengelas, mesin las haus
dimatikan
19.3.3. Bahaya-Bahaya Lain Dari Pengelasan
Bahaya-bahaya lain dari pengelasan selain yang telah disebutkan diatas
adalah sebagai berikut :

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

280

Teknika Kapal Penangkap Ikan

19.3.3.1. Bahaya Ledakan


Dalam mengelas tanki sebelum dilakukan pengelasan, tanki harus bersih
dari minyak, gas yang mudah terbakar dan cat yang dapat terbakar.
Apabila dalam hal ini pembersihannya kurang sempurna akan terjadi
ledakan yang sangat membahayakan. Untuk menchecknya sebelum
pengelasan dilakukan, harus diadakan pemeriksa-an lebih dahulu untuk
memastikan bahwa tidak akan terjadi ledakan, karena itu pemeriksaan
tidak boleh hanya berdasarkan atas perkiraan saja tetapi harus dengan alat
deteksi untuk gas yang mudah terbakar.
19.3.3.2. Bahaya Kebakaran
Untuk mencegah terjadinya kebakaran maka bahan-bahan yang mudah
terbakar seperti bensin, solar, minyak, cat, kayu, kain, kertas dan bahanbahan lainnya harus ditempatkan ditempat khusus yang tidak terkena
percikan api las.
Bahaya kebakaran juga dapat terjadi karena kabel yang menjadi panas
yang disebabkan oleh hubungan yang kurang baik, kabel yang tidak
sesuai atau adanya kebocoran listrik karena isolasi yang rusak atau
terkelupas.
Kecelakaan akibat pengelasan sangat berbahaya bagi pekerja yang
melakukan pengelasan dan terhadap lingkungan di sekitar tempat kerja,
sehingga diperlukan kehati-hatian dan kecermatan dalam bekerja.
Kecelakaan dapat merugikan harta, benda dan jiwa manusia maka
pencegahan perlu dilakukan.
Sebelum melakukan pekerjaan, supaya dipersiapkan / mengenakan
peralatan untuk keselamatan kerja sesuai dengan jenis pekerjaannya.
19.3.4. Pengaturan Dan Pengawasan Lingkungan
Tempat kerja pengelasan harus dilengkapi dengan sistim ventilasi dan
pelindung pernafasan yang memadai sehingga kesehatan kerja terjamin,
diantaranya harus ada :
19.3.4.1. Ventilasi
Tujuan dari ventilasi adalah untuk membuang debu dan asap serta gas
sehingga udara di dalam ruang kerja tetap bersih dan nyaman. Untuk ini
ada dua pelaksanaan yaitu ventilasi seluruh gedung dan ventilasi tempat
kerja. Ventilasi seluruh gedung dapat dilaksanakan dengan mudah apabila
atapnya rendah. Tetapi bila atapnya tinggi gas dan asap telah bercampur
dengan udara sehingga diperlukan suatu sistim ventilasi yang lebih rumit.
Dengan demikian lebih baik digunakan ventilasi setempat.
Dalam ventilasi setempat debu asap dan gas yang baru terbentuk segera
dihisap ditempat terjadinya dan dibuang keluar. Sebelum dibuang
biasanya debu asap dipisahkan lebih dahulu dengan menggunakan alat
pemisah dan penampung debu yang bekerja berdasarkan filter, listrik,
energi enersia, gaya tarik bumi, gaya sentrifugal dan getaran suara.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

281

Teknika Kapal Penangkap Ikan

19.3.4.2. Pelindung Pernafasan


Bila pembersihan udara dengan ventilasi seperti diterangkan di atas tidak
mungkin untuk dilaksanakan atau tidak mencukupi sehingga diperkirakan
dapat membahayakan, maka pekerja-pekerja di tempat las diharapkan
memakai alat pelindung pernapasan untuk debu dan racun.
Alat pelindung debu harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan
dan dalam pemilihanya harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Mempunyai daya tampung yang tinggi
2. Sesuai dengan bentuk muka
3. Tidak mengganggu pernapasan
4. Tidak mengganggu pekerjaan
5. Kuat, ringan dan mudah dirawat
Alat pernafasan dengan pelindung racun biasanya dipakai dalam
pengelasan di tempat tertutup seperti
dalam tanki-tanki dan di
terowongan kapal.
19.3.5. Jenis Pekerjaan
Peralatan keselamatan digunakan saat melakukan pekerjaan dan jenis alat
disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dilakukan diantaranya sebagai
berikut ini :
19.3.5.1. Menggerinda
Peralatan keselamatan kerja yang digunakan antara lain adalah :
1. Kenakan kaca mata pelindung.
2. Kenakan sarung tangan.
3. Siapkan air untuk pendingin.
19.3.5.2. Mengelas
Peralatan keselamatan kerja yang digunakan antara lain adalah :
1. Kenakan kaca mata las / kedok las.
2. Kenakan sarung tangan.
3. Pakaian kerja kancingnya jangan terbuka.
4. Jauhkan barang-barang yang mudah terbakar.
5. Tempatkan APAR disekitarnya.
19.3.5.3. Membubut
Peralatan keselamatan kerja yang digunakan antara lain adalah :
1. Kenakan kaca mata pelindung.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

282

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Pasang lampu penerangan.


3. Lengan baju kerja digulung.
19.4.

MELAKUKAN KERJA BUBUT

Kelancaran kegiatan operasional mesin diatas kapal ditentukan oleh siap


tidaknya Anak Buah Kapal (ABK) untuk menunjang semua jenis kegiatan
tersebut. Salah satu sarana yang dimaksud adalah dilengkapinya
pengetahuan dan keterampilan tukang bubut diatas kapal. Keterampilan
ini sangatlah diperlukan dalam upaya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan
yang sifatnya insidential dan memiliki urgensi tinggi dalam
penyelesaiannya. Diantaranya adalah
penanganan khusus tentang
pembuatan benda kerja dan perbaikan komponen-komponen mesin yang
segera diselesaikan. Pemberian tindakan terhadap kerusakan-kerusakan
tersebut dapat memperlancar kegiatan operasional mesin dan kegiatankegiatan lain yang ada di atas kapal khususnya pada bagian mesin.
Mesin bubut adalah salah satu mesin perkakas yang fungsinya adalah
untuk memotong benda keja dengan menggunakan pahat pada proses
pembuatan komponen mesin atau peralatan lainnya yang paling sering
kita temukan pada bengkel reparasi kecil maupun di industri peralatan
besar.
Pada proses pekerjaan tidak jarang kita temukan adanya pekerjaan
permesinan yang kurang benar ataupun kadangkala dilaksanakan dengan
cara yang sama sekali salah, hal ini ditandai oleh :
1. Proses permesinan dimana geram atau sisa pemotongan yang
dihasilkan mempunyai bentuk yang terlalu lembut (bagaikan rambut),
sehingga proses tersebut menjadi sangat tidak efisien.
2. Kecepatan potong yang terlalu rendah, yang mengakibatkan
permukaan produk terlalu kasar. Dalam beberapa keadaan seperti
pemotongan dengan interupsi atau adanya beban kejut yang dilakukan
pada kecepatan yang terlalu rendah dapat memperpendek umur pahat
mesin bubut.
3. Kecepatan makan yang terlalu rendah demi untuk menghasilkan
permukaan yang halus, pada hal menurut spesifikasi (gambar tehnik)
permukaan yang relatif kasarpun sebenarnya sudah mencukupi.
4. Pahat bubut yang digunakan tidak sesuai dengan pekerjaan yang
dilakukan, yang dipandang dari segi penggunaan material maupun
geometriknya (bentuk dan sudut pahat)
5. Urutan proses maupun cara pencekaman benda kerja yang tidak
benar, yang mengakibatkan kesalahan geometrik produk yang
melebihi batas-batas toleransi yang diijinkan.
Dalam menunjang kegiatan perbaikan dan pembuatan benda kerja di atas
kapal khususnya pada bagian mesin, terdapat hal-hal penting yang harus
diketahui adalah :

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

283

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1. Dapat memahami tentang teori dasar dari penggunaan mesin bubut di


atas kapal.
2. Dapat memahami prosedur kerja dari mesin bubut.
3. Dapat memahami dan melaksanakan prosedur pembuatan benda kerja
dengan menggunakan mesin bubut.
19.4.1. Persiapan
Sebelum melakukan pekerjaan membubut supaya mengenakan atau
mempersiapkan alat bantu dan pelindung keselamatan kerja, antara lain :
1. Kaca mata pelindung.
2. Memasang lampu penerangan.
3. Lengan baju kerja digulung.
19.4.2. Peralatan Yang Harus Disiapkan
Peralatan yang harus disediakan dalam pekerjaan membubut adalah :
1. Alat-alat ukur.
2. Pahat bubut.
3. Peralatan mesin bubut.
4. Bahan yang akan dibubut.
5. Minyak/air untuk pelumasan dan pendinginan.
19.4.3. Cara Membubut
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan mesin bubut
adalah benda kerja dipasang dan dipegang oleh ujung poros utama
(spindel).

Gambar 19.4. Mesin Bubut

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

284

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Dengan jalan mengatur lengan pengatur, yang terdapat pada kepala diam.
Putaran poros utama (n) dapat dipilih. Harga putaran poros utama
umumnya dapat dibuat peringkat, dengan aturan yang telah distandarkan,
misalnya 630, 710, 800, 900, 1000, 1120, 1250, 1400, 1600, 1800 dan
2000 putaran permenit (rpm). Untuk mesin bubut dengan putaran motor
variabel, ataupun dengan sistim transmisi variabel, kecepatan putaran
motor utama tidak lagi bertingkat melainkan berkesinambungan (cotinue).
Pahat dipasang pada dudukan pahat dan kedalaman potong (a) diatur
dengan menggeser peluncur silang melalui roda pemutar (skala pada
pemutar menunjukkan selisih harga diameter, dengan demikian
kedalaman gerak transisi bersama-sama dengan kereta dan gerak
makannya diatur dengan lengan pengatur pada rumah roda gigi. Gerak
makan (f) yang tersedia pada mesin bubut bermacam-macam menurut
tingkatan yang telah distandarkan, misalnya 0,01, 0,112, 0,125, 0,14,
0,16. .
Elemen dasar dari proses bubut dapat diketahui atau dihitung dengan
menggunakan rumus yang dapat diturunkan dengan memperhatikan
gambar di bawah. Kondisi pemotongan ditentukan sebagai berikut :
Benda kerja
Do = diameter mula, satuannya mm
Dm = diameter akhir, satuannya mm
lt

Panjang permesinan, mm

Pahat
kf

Sudut potong utama,


satuannya derajat.

Vo

Sudut geram, satuannya


derajat.

Mesin bubut

= Kedalaman potong, mm

= (do dm ) / 2 mm

= gerak makan; mm

= putaran poros utama ; mm

1. Pasang benda yang akan dibubut pada catokannya.


2. Periksa kelurusan benda yang akan dibubut, dan distel sampai
mendapat kelurusan yang baik.
3. Tentukan pahat yang akan dipakai.
4. Tentukan putaran mesin bubut.
5. Selalu diukur sampai sesuai dengan yang diinginkan.
6. Saat membubut harus selalu memperhatikan benda yang dibubut.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

285

Teknika Kapal Penangkap Ikan

7. Beri pelumasan atau pendinginan pada pahat bubut.


8. Saat membubut berdiri agak menyamping.
9. Tempelkan pahat bubut pada benda sedikit demi sedikit.
19.5. CARA MENGEBOR
Tahapan melakukan pekerjaan mengebor adalah sebagai berikut ini:
1. Pasang mata bor pada tempat dan diikat kuat.
2. Periksa kelurusannya.
3. Bahan yang akan di bor diberi titik dengan centre punch.
4. Mata bor harus tegak lurus dengan bahan yang akan dibor dan letakan
tepat pada titik.
5. Di bawah bahan diberi bantalan dari plat yang lunak (kayu).
6. Beri pendingin pada mata bor.
7. Cara pengeboran yang baik.
8. Ragum dapat digunakan sebagai alat bantu waktu mengebor.

Gambar 19.5. Mesin Bor

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

286

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 20
MELAKUKAN DINAS JAGA MESIN

Yang dimaksud dengan dinas jaga diatas kapal adalah seorang atau
sekelompok orang yang pada periode tertentu bertugas menjaga dan
bertanggung jawab atas kondisi kapal dan kelancaran pekerjaan
operasional kapal yang sedang dilakukan. Bagi awak kamar mesin,
khususnya perwira mesin atau masinis, dinas jaga mesin adalah salah satu
tugas yang harus dilakukan pada waktu-waktu yang sudah ditentukan.
Bertugas dinas jaga berarti menjaga semua peralatan permesinan, baik
yang ada di kamar mesin maupun yang ada diluar mesin, terutama yang
sedang beroperasi. Tujuan utamanya adalah semua mesin tetap beroperasi
dengan normal, serta menjaga keselamatan kapal dan lingkungan laut.
Untuk para perwira mesin telah ditetapkan jam-jam jaganya, termasuk
tugas apa saja yang harus dilakukan selama waktu jaganya. Perlu digarisbawahi, perwira jaga mesin adalah penanggung jawab jaga dan bertindak
untuk dan atas nama Kepala Kamar Mesin. Biasanya Perwira Jaga mesin
dibantu rating tugas jaga dimana mereka tidak dibenarkan untuk bertugas
sendiri tanpa ada perwira jaga pada jam tugas mereka. Bisa saja semua
pekerjaan dilakukan oleh rating tugas jaga, tetapi tanggung jawabnya
tetap pada perwira atau masinis jaga.
Ini harus benar-benar dipahami oleh petugas dinas jaga, sehingga setiap
akan melakukan sesuatu, harus sepengetahuan atau seijin perwira mesin
jaga.

Gambar 20.1. Ruang Kontrol Kamar Mesin

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

287

Teknika Kapal Penangkap Ikan

20.1.

SYARAT SYARAT DINAS JAGA

Sesuai dengan ketentuan yang sudah diatur dalam STCW-1995 (Standard


Training and Certification of Watchkeeping) yang diterbitkan oleh badan
organisasi internasional IMO (International Maritime Organization), Bab
III. setiap petugas dinas jaga harus memiliki sertifikat kompetensi, baik
untuk Perwira Mesin maupun Rating (bawahan). Adapun persyaratan
untuk mendapatkan sertifikat kompetensi Perwira Dinas Jaga Mesin
tersebut, untuk kapal yang memiliki mesin penggerak utama dengan
kekuatan 750 kilowatt atau lebih, menurut Aturan STCW Seksi A-III/1
adalah:
1. Berbadan sehat sesuai ketentuan yang diberlakukan bagi semua calon
pelaut di Indonesia
2. Harus sudah berumur sekurang-kurangnya 18 tahun
3. Lulus dari sekolah umum tingkat SLTP dan/atau SLTA
4. Sudah mengikuti pendidikan sekurang-kurangnya 30 bulan di institusi
pendidikan dan pelatihan yang diakui, termasuk pelatihan dikapal
yang tercatat dibuku Rekord
5. Memenuhi standard kompetensi sesuai ketetapan Aturan STCW Seksi A-III/1
6. Berpengalaman berlayar di bagian mesin sebagai Masinis atau
Perwira Mesin paling kurang 6 bulan

Gambar 20.2. Handel Manuver


Sedangkan untuk Rating yang ikut membantu Perwira Jaga Mesin juga
harus memiliki sertifikat kompetensi sebagai bawahan yang ambil bagian
dalam tugas jaga di kamar mesin, atau yang ditunjuk untuk ikut bertugas
jaga secara berkala, dan sudah berumur tidak kurang dari 16 tahun, dan:
1. Telah menyelesaikan tugas belajar di institusi yang diakui, termasuk
pelatihan dikapal selama 6 bulan,

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

288

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Lulusan SLTP dan berbadan sehat


3. Telah menjalani pelatihan khusus, menjelang berlayar atau ketika
praktek di atas kapal selama sekurang-kurangnya 2 bulan.
4. Memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Aturan STCW
Seksi A-III/4.
Praktek berlayar sebagaimana disebutkan dalam persyaratan diatas, harus
meliputi pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas yang berkaitan dengan
fungsi-fungsi jaga di kamar mesin, dan harus mengikuti pelaksanaan
tugas-tugas tertentu yang dilakukan dibawah pengawasan langsung
Perwira Mesin atau Kepala Kamar Mesin yang memenuhi syarat.
Adapun persyaratan tehnis pengetahuan dan keterampilan yang harus
dimiliki oleh perwira mesin / masinis dan rating dinas jaga antara lain:
1. Mengetahui bagaimana cara melakukan komunikasi secara efektif
dengan anjungan dan KKM dengan alat-alat komunikasi yang tersedia
dikamar mesin, seperti telepon, telegraph, bunyi alarm kode, dll.
2. Mengetahui cara menjalankan dan mematikan semua mesin, baik
mesin induk maupun mesin-mesin lain yang harus dioperasikan untuk
melayani kebutuhan di kapal, terutama energi / arus listrik.
3. Khusus untuk mesin bantu generator, petugas dinas jaga harus
mampu menjalankan dan mematikan generator, terutama jika harus
diparalel secara benar dan aman.
4. Mampu menjalankan alat-alat / mesin-mesin bantu yang harus
dijalankan sesuai perintah maupun karena kondisinya mengharuskan
yang demikian. Sebagai contoh, perintah untuk memindahkan bahan
bakar atau air balas, memompa got kamar mesin, mengisi tanki
harian, dan lain-lain selama periode tugasnya.
5. Mampu membaca dan mengetahui batas-batas ukuran yang
ditentukan terhadap semua alat-alat ukur dan alat-alat kontrol yang
terdapat disemua alat/mesin yang sedang beroperasi dan mengisikan
hasil pengamatannya kedalam buku laporan / log book.
6. Mengetahui standard minimum isi/ukuran tangki-tangki bahan bakar,
minyak pelumas, air pendingin dan lain-lain, dan mengetahui
bagaimana menam-bahnya jika dianggap kurang, namun tidak
berlebihan.
7. Mampu membuat laporan dan/atau mengisi formulir-formulir yang
harus diisi sehubungan dengan tugas jaganya (log book, laporan
pemakaian spare parts, pemakaian bahan additive, check list, dll).
8. Mampu bertindak tepat dan cepat dalam hal peristiwa kecelakaan atau
keadaan darurat seperti membunyikan tanda-tanda peringa-tan, alarm,
dan mengetahui kemana harus melaporkan kejadiannya.
9. Mengetahui lokasi dan cara-cara penyelamatan diri dari kamar mesin
jika terjadi bahaya atau kecelakaan dan/atau keadaan darurat.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

289

Teknika Kapal Penangkap Ikan

10. Mampu mengatasi kerusakan-kerusakan kecil yang tidak


membahayakan operasional mesin yang terjadi seperti alarm palsu,
kebocoran pipa air, baut-baut pengikat yang kendor dan lain-lain

Gambar 20.3. Mengawasi Mesin


20.2.

PROSEDUR DINAS JAGA

Setiap petugas dinas jaga, sebagaimana persyaratan yang sudah


disebutkan di atas, harus mengetahui dengan baik apa saja yang harus
dilakukan selama bertugas. Untuk dikamar mesin, sesuai dengan jabatan
dan tugas-tugas khusus harian, petugas jaga harus mengetahui semua
jenis mesin-mesin dan lokasi masing-masing mesin. Lebih penting lagi
mereka harus memahami cara kerjanya, termasuk cara menjalankan dan
menghentikan setiap mesin yang menjadi tanggungjawabnya.
Selanjutnya, semua petugas dinas jaga harus memahami pengaturan dan
prosedurnya. Pengaturan dan prosedur tidak selalu sama disetiap kapal,
namun pada dasarnya adalah komposisi tugas jaga harus diatur
sedemikian rupa, sehingga petugas jaga dianggap mampu untuk
menjamin pengoperasian kamar mesin aman sesuai dengan kondisi
masing-masing kapal.
Untuk menentukan komposisi para petugas dinas jaga, beberapa hal yang
harus dipertimbangkan:
1. Kualifikasi dan pengalaman petugas jaga
2. Keselamatan jiwa, kapal, muatan, daerah dimana kapal berada,
terutama pelabuhan dan perlindungan lingkungan
3. Kepatuhan terhadap peraturan-peraturan internasional, nasional dan
lokal/setempat
4. Jenis kapal, jenis-jenis mesin dan kondisi masing-masing

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

290

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5. Efektifitas pengawasan terhadap semua permesinan berkaitan dengan


keamanan pengoperasian kapal yang terus menerus
6. Cara pengoperasian semua permesinan dalam kondisi khusus seperti
cuaca, perairan yang tercemar, perairan dangkal, penanganan mesin
jika terjadi kerusakan, dll.
7. Sistem atau cara mempertahankan pengoperasian mesin kapal secara
normal.
Selanjutnya, prosedur dinas jaga harus benar-benar dipahami, karena
dalam setiap bertugas, harus diawali dan diakhiri dengan timbang terima
jaga, yang walaupun kelihatannya biasa dan sederhana, tetapi dibalik itu
terdapat nilai tanggungjawab yang tidak kecil.
Dengan telah diberlakukannya ISM-Code (Aturan Manajemen
Keselamatan Internasional), maka setiap kapal seharusnya memiliki
Sistem Manajemen Keselamatan (SMK), dan semua sistem serta
aturannya tertulis dalam sebuah buku yang juga harus ada di kapal. Buku
ini harus dibaca, dipahami dan diikuti oleh semua awak kapal, termasuk
petugas dinas jaga.
Walaupun demikian masih ada beberapa kapal atau di kapal-kapal jenis
tertentu yang tidak mengikuti aturan ISM-Code dan tidak memiliki sistem
manajemen keselamatan. Dalam hal ini prosedur dinas jaga hanya
mengikuti apa yang biasanya diberlakukan di kapal tersebut.
Apakah kapal tersebut sudah memiliki sistem manajemen keselamatan
atau belum, ada beberapa ketentuan yang harus diikuti dan ditaati, yaitu
bahwa:
1. Petugas dinas jaga (baik perwira maupun rating) harus dalam kondisi
sehat, ini artinya, mereka yang sedang sakit tidak boleh diberi tugas
jaga, dan bagi yang akan diganti, tidak boleh menyerahkan tugas
jaganya kepada pengganti tugas jaga yang sedang sakit.
2. Petugas dinas jaga tidak boleh dalam keadaan mabuk akibat minuman
atau obat-obatan, baik sebelum maupun selama dinas jaga. Seperti
diatas, bagi petugas jaga yang akan digantikan juga tidak
menyerahkan tugasnya kepada mereka yang sedang mabuk karena
minuman dan obat-obatan (bukan mabuk laut).
3. Pimpinan tugas jaga (di kamar mesin) adalah perwira mesin yang
kompeten dan yang bertang-gungjawab kepada Kepala kamar mesin.
Selama dinas jaga, perwira mesin atau masinis akan bertindak untuk
dan atas nama Kepala kamar mesin. Adapun rating dinas jaga, hanya
membantu perwira mesin yang dinas jaga, dan harus mematuhi setiap
perintahnya selama berdinas jaga. Rating dinas jaga tidak
bertanggungjawab kepada Kepala kamar mesin.
4. Dalam hal-hal yang penting, atau terjadi sesuatu yang dapat
menimbulkan bahaya atau keadaan darurat, petugas dinas jaga harus
segera melaporkan peristiwanya kepada Kepala kamar mesin dan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

291

Teknika Kapal Penangkap Ikan

anjungan agar dapat diambil tindakan yang perlu. Dalam kondisi ini,
jika yang mengetahui kejadiannya pertama kali adalah rating, maka
rating dinas jaga harus melaporkan dulu kepada perwira dinas jaga.
Jika tidak dapat menemukan dengan segera, dapat segera langsung
melapor ke Kepala kamar mesin dan anjungan.
5. Dalam hal kejadian darurat tersebut diatas, jika terpaksa dan dianggap
penting, baik rating maupun perwira jaga dibenarkan untuk
melakukan setiap tindakan untuk
menanggulanginya, dan
melaporkan segala ikhwalnya kepada Kepala kamar mesin dan
anjungan segera sesudahnya.
6. Komunikasi dan saling meminta informasi antara pengganti dan yang
akan digantikan adalah hal yang sangat baik dan perlu dibiasakan
setiap saat pada waktu serah terima.
Selanjutnya petugas dinas jaga juga perlu mengetahui prosedur-prosedur
sewaktu menerima dan atau menyerahkan tugas dan bagaimana
rinciannya.
20.3.

MENERIMA TUGAS JAGA

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerima tugas jaga, atau
akan menggantikan jaga dari rekan kita yang sebelumnya bertugas,
diantaranya adalah :
1. Petugas pengganti harus hadir selambat-lambatnya 15 menit sebelum
jam tugas jaga mulai. Jadi misalnya tugas jaga 08.00 12.00, maka
pengganti jaga harus sudah di kamar mesin pada jam 07.45.
2. Sebelum dilakukan timbang terima, petugas pengganti harus
memeriksa keadaan seluruh kamar mesin dan lokasi-lokasi lain yang
menjadi bagian pengawasannya dan memastikan bahwa semua mesin
dan alat-alat yang beroperasi dalam keadaan normal, demikian juga
dengan keadaan tangki-tangki bahan bakar, minyak pelumas, air
pendingin dan lain-lain, harus berisi penuh atau tidak kurang dari
semestinya.
3. Memastikan bahwa jika suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh
petugas yang akan diganti sudah dilaksanakan dengan baik dan
dilaporkan. Jika pekerjaan tersebut belum selesai, harus dipastikan
apa dan bagaimana tindakan yang harus dilakukan selanjutnya dan
siapa yang harus melakukannya.
4. Memeriksa log-book dan buku / catatan-catatan lain yang perlu
apakah sudah diisi dengan benar dan semestinya, jika perlu
dicocokkan dengan keadaan sebenarnya, dan lain-lain.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

292

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 20.4. Serah Terima Jaga


20.4.

MENYERAHKAN TUGAS JAGA

Seperti telah diuraikan diatas, ada beberapa hal yang harus dipastikan
sebelum menyerahkan tugas jaga kepada pengganti, yaitu kondisi
kesehatan dan fisik dari para pengganti, apakah yang bersangkutan cukup
fit atau tidak untuk bertugas jaga.
Karena jika kita menyerahkan tugas jaga kepada pengganti yang tidak fit,
pihak yang menyerahkan tugas jaga juga akan ikut bertanggungjawab.
Dalam hal ini KKM harus diberitahu dan mintakan saran serta instruksi
selanjutnya.
Terlepas dari hal-hal tersebut, sebelum menyerahkan tugas jaga, pihak
yang akan digantikan wajib membereskan semua urusan jaga, artinya
harus dipastikan bahwa:
1. Kamar mesin dalam keadaan rapi dan bersih.
2. Semua mesin / alat-alat yang beroperasi dalam keadaan normal
3. Semua tangki-tangki berisi zat dengan jumlah, tekanan dan
temperatur normal
4. Keadaan kamar mesin bersih dan rapi, termasuk lantai dan tanggatangga.
5. Menyiapkan catatan dan informasi untuk diberikan kepada petugas
pengganti, mengenai pekerjaan atau hal-hal yang harus dilakukan
pada jam tugas jaga berikutnya karena belum selesai dikerjakan atau
karena sebab-sebab yang lain.
6. Log-book dan buku atau catatan-catatan lain sudah diisi sebagaimana
mestinya, termasuk jumlah pemakaian BBM/ minyak lumas selama
jaga, putaran mesin induk dan counter putaran mesin pada jam saat
terakhir jaga, dan lain-lain.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

293

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 20.5 Kamar Mesin Keadaan Bersih Saat Timbang Terima.


Jika semua sudah beres dan pihak pengganti puas, maka tugas jaga
diserahkan tepat pada saat atau jam pergantian jaga.
20.5.

JENIS JENIS TUGAS JAGA

Pada dasarnya, dinas jaga di kamar mesin diatur oleh KKM, sesuai
kebiasaan yang berlaku di kapal dan sesuai jumlah awak kapal yang ada.
Namun, berikut ini adalah jenis-jenis tugas jaga yang biasanya
diberlakukan diatas kapal.
Suatu kebiasaan yang berlaku, walaupun kadang-kadang tidak tercantum
dalam aturan yang diberlakukan adalah pembagian waktu tugas jaga serta
petugas dinas jaga pada periode-periode tersebut.
20.5.1. Tugas Jaga laut
Yang dimaksud dengan tugas jaga laut adalah, tugas jaga selama kapal
dalam keadaan berlayar, dimana mesin penggerak utama jalan. Jam tugas
jaga laut selama 24 jam dibagi menjadi 3 shift, masing-masing petugas
jaga melaksanakan tugas dua kali, dan setiap jaga 4 jam. Berikut
pembagian jam dinas jaga selama jaga laut: Seperti tabel di bawah ini :
Tabel 17 Pembagian Jam Dinas Jaga
NO

WAKTU

PETUGAS

24.00 04.00 12.00 16.00

Masinis II

04.00 08.00 16.00 20.00

Masinis I

08.00 12.00 20.00 24.00

Masinis III

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

294

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Biasanya setiap Masinis atau perwira mesin dibantu oleh rating dinas jaga
(Juru Minyak atau Oiler) tertentu yang ditunjuk.
Dalam prakteknya, tugas ini termasuk dan dimulai sejak aba-aba atau
perintah dari nakhoda yang populer disebut One Hour Notice atau
OHN, (Peringatan Satu Jam) untuk manouvre (mengolah gerak).
Mengolah gerak kapal adalah salah satu kegiatan kapal yang penting,
yang harus dilakukan, yaitu kegiatan kapal sewaktu:
1. Berangkat dari suatu pelabuhan
2. Tiba di suatu pelabuhan
3. Berlabuh jangkar
4. Berpindah dari suatu lokasi ke lokasi lain dalam area pelabuhan, baik
dari dermaga ke dermaga lain atau ke lokasi berlabuh jangkar dan
sebaliknya.
Perintah ONH adalah perintah nakhoda kepada seluruh awak kapalnya
agar mulai mempersiapkan semua peralatan dan permesinan untuk
manouver.
Mengolah gerak dianggap selesai jika nakhoda sudah mengeluarkan
perintah Finish With Engine atau FWE (Selesai Mesin).
Perintah satu jam (OHN) ini harus ditindaklanjuti sesuai prosedurprosedur yang telah ditetapkan untuk seluruh bagian, baik dek, mesin
maupun katering dan radio. Semua awak kapal yang terlibat langsung
dalam kegiatan manuver harus mulai melaksanakan prosedur persiapan,
standby, pelaksanaan olah gerak dan lain-lain, hingga selesai.
20.5.2. Tugas Jaga Kamar Mesin
Untuk bagian mesin, prosedur ini meliputi:
20.5.2.1. Persiapan
Tugas awak kapal mesin adalah menyiapkan mesin induk dan mesinmesin lain yang diperlukan, termasuk kebutuhan tenaga listrik yang
dalam keadaan ini memerlukan ekstra tenaga. Jadi, biasanya, perwira jaga
mesin pertama-tama memastikan ada dua generator yang harus jalan dan
di paralel. Jika sebelumnya hanya satu yang jalan, maka harus
menjalankan satu generator lagi dan diparalelkan dengan generator yang
sudah jalan.
Pekerjaan selanjutnya meliputi:
1. Menyiapkan log-book dan buku olah gerak serta buku / catatancatatan lain.
2. Mencocokkan jam kamar mesin dengan jam anjungan, melakukan tes
telegrap, tes kemudi dan lain-lain bersama-sama petugas jaga di
anjungan.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

295

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3. Menjalankan kompresor udara untuk mengisi tekanan botol angin


yang diperlukan untuk menjalankan mesin induk, hingga tekanannya
penuh / maksimum.
4. Menjalankan sistem pelumasan dan sistem pendingin mesin induk,
sekaligus memeriksa apakah jumlah minyak lumas dan air tawar
didalam sistem mencukupi, termasuk tekanan dan temperaturnya
5. Menjalankan sistem bahan bakar, sekaligus memeriksa jumlah bahan
bakar di tangki harian dan tangki-tangki lain yang relevan. Pekerjaan
ini juga termasuk memeriksa saringan bahan bakar, flowmeter
(mencatat posisinya) mencerat bahan bakar di tiap-tiap injektor yang
ada di kop silinder dll.
6. Menyiapkan arus listrik untuk mesin kemudi, mesin jangkar, capstan
(mesin penarik tali) dan lain-lain kebutuhan yang diminta oleh
perwira dek.
7. Menjalankan pompa untuk air dek, yaitu yang sebenarnya
digunakan untuk pemadam kebakaran, tetapi dalam olah gerak
biasanya digunakan untuk membersihkan jangkar dan rantainya.
8. Memutar motor induk dengan mesin pemutar (torn) untuk
memastikan tidak ada hambatan didalam silinder-silindernya.
9. Memutar mesin induk dengan tenaga udara tekan dari botol udara
(biasa disebut blow-up) untuk memastikan mesin induk dapat diputar
/ distart dengan udara.
10. Menyiapkan blower bantu (jika ada) untuk motor induk, yang
biasanya diperlukan sewaktu mesin induk distart agar mudah
dihidupkan.
11. Menyiapkan udara tekan untuk suling kapal, dan lain-lain, tergantung
fasilitas dan kondisi masing-masing kapal.
Selama mengerjakan hal-hal tersebut, komunikasi dengan perwira dek di
anjungan harus selalu dilakukan agar setiap perkembangan terpantau,
lebih-lebih sewaktu blow-up mesin induk, harus mendapat ijin dulu dari
anjungan.
Biasanya yang pertama dilakukan adalah, mencocokkan jam di kamar
mesin dengan jam di anjungan.
Demikian juga pengisian data dan keterangan-keterangan yang perlu
didalam loog-book, harus dilakukan seketika dan seteliti mungkin. Hal ini
perlu untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan dalam
pengisian waktu .Jika semuanya sudah dilakukan dan berjalan
sebagaimana mestinya, perwira mesin jaga melaporkan kepada anjungan
bahwa mesin sudah siap, dan menunggu perintah selanjutnya untuk
standby.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

296

Teknika Kapal Penangkap Ikan

20.5.2.2. Berangkat dari Pelabuhan


Dalam mengolah gerak, kamar mesin mengikuti perintah dari anjungan,
dan harus berusaha memenuhi semua perintah yang diberikan. Ini dimulai
saat perintah standby diberikan oleh anjungan. Tergantung jenis
konstruksi dan fasilitas peralatan komunikasi dan sistem starting / stop
mesin induk, pada dasarnya departemen mesin hanya mengikuti perintah
yang diberikan. Ada mesin induk yang hanya dapat dihidupkan dari
kamar mesin saja, tetapi ada juga yang dapat dihidupkan dan dimatikan
dari anjungan.
Untuk jenis yang terakhir, petugas jaga di kamar mesin hanya mengawasi
jalannya mesin induk, memeriksa temperatur dan tekanan, menjaga
tekanan udara tekan di botol angin, menjaga jumlah arus atau tenaga
listrik yang digunakan (melalui main switchboard), melakukan
penyetelan dan penyesuaian seperlunya,dan lain-lain.
Berbeda dengan mesin induk yang hanya dapat dijalankan dari kamar
mesin, petugas jaga (biasanya Masinis II) harus menghidupkan dan
mematikan mesin induk sesuai perintah dari anjungan melalui telegraph.
Apapun jenis dan fasilitas olah gerak atau manouver yang ada, selama
kapal mengolah gerak, hampir semua awak kapal mesin standby, terutama
para perwira mesin, termasuk KKM. Seluruhnya mengawasi jalannya
mesin-mesin yang dioperasikan, menjaga agar semua berjalan semestinya.
Kapal yang sedang mengolah-gerak dapat dikategorikan dalam keadaan
darurat. Seluruh awak kapal harus standby, siap sewaktu-waktu
dibutuhkan tenaganya.
Dalam kondisi mengolah gerak, setiap saat bisa terjadi kecelakaan,
apakah kapal tubrukan, menabrak dermaga, atau mesin induk tiba-tiba
mati padahal seharusnya jalan sehingga terjadi tabrakan. Itulah sebabnya,
kewaspadaan dan persiapan sebelum mengolah gerak sangat penting dan
prosedur mengolah gerak harus diikuti dengan seksama.
Selama mengolah gerak, mesin induk beroperasi dengan putaran yang
selalu berubah-ubah, sehingga tekanan dan temperatur air pendingin dan
minyak lumas harus dijaga agar tetap dalam kondisi yang aman, tidak
terlalu rendah, juga tidak terlalu tinggi. Dan pada jenis mesin induk yang
dihubungkan langsung dengan propeler, putarannya bukan saja selalu
berubah, tetapi mesin sering harus berputar kearah sebaliknya sehingga
mesin harus stop dulu, dan putarannya dibalik. Dengan seringnya jalan
dan stop, dibutuhkan banyak udara tekan, sehingga tekanan udara didalam
botol harus dikontrol dan tidak boleh kurang dan minimal tekanannya
bida digunakan untuk menjalankan mesin induk. Pada mesin induk yang
menggunakan kopling atau cpp (controlable pitch propeller), mesin induk
hanya distart satu kali saja, hingga mengurangi beban pengawasan.
Keadaan mengolah gerak ini dapat berlangsung sebentar saja, mungkin
kurang dari satu jam, tetapi juga bisa sampai lebih dari 12 jam, tergantung
dimana olah geraknya. Karena itu tugas jaga harus dapat disesuaikan dan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

297

Teknika Kapal Penangkap Ikan

diatur sedemikian rupa, sehingga walaupun tetap dalam keadaan standby,


faktor kelelahan manusia harus diperhatikan.
Yang harus diutamakan adalah, bahwa selama kapal mengolah gerak,
perhatian harus dicurahkan sepenuhnya. Seseorang yang kelelahan tidak
mungkin dapat mencurahkan seluruh perhatiannya terhadap tugasnya.
Walaupun ini kewenangan KKM untuk mengaturnya, tetapi yang
mengetahui dengan tepat lelah atau tidaknya seseorang adalah dirinya
sendiri. Karena itu setiap awak kapal harus selalu menjaga kondisi
kesehatannya sendiri.
Jika perintah mengolah gerak diawali oleh standby, maka akhir dari olah
gerak kapal diawali dengan begin of sea voyage jika berangkat menuju
suatu pelabuhan, atau finish with engine jika di pelabuhan. Pekerjaan
yang harus dilakukan dalam kedua jenis akhir olah gerak ini sangat
berbeda, dan akan dibahas sendiri-sendiri.
20.5.2.3. Dalam Pelayaran
Awal dari suatu pelayaran kapal adalah perintah begin of sea voyage
yang diberikan oleh nakhoda, baik melalui telegrap maupun melalui
telepon secara lisan. Waktunya harus dicatat secara rinci, disamping hari
dan tanggal, juga termasuk jam, menit dan detik. Jika perintah tersebut
diberikan, bukan berarti pekerjaan berkurang, bukan tinggal jaga laut saja,
tetapi bagi awak kapal mesin, dalam hal ini perwira mesin dan petugas
dinas jaga lain (oiler), harus menyiapkan mesin untuk pelayaran panjang,
yang meliputi:
1. Menaikkan putaran mesin induk, secara bertahap, dari putaran full
speed olah gerak hingga pada akhirnya mencapai putaran full speed
jelajah. Biasanya KKM sudah menentukan, berapa putaran
maksimum mesin induk ini.
2. Mengganti bahan bakar yang tadinya menggunakan bahan bakar
ringan (HSD atau MDF) dengan MFO yang lebih berat. Pekerjaan ini
tidak dapat dilakukan dengan hanya membuka atau menutup katupkatup saja, tetapi perlu menaikkan temperatur bahan bakar secara
pelan-pelan hingga temperatur tertentu yang telah ditetapkan oleh
KKM. Ini memerlukan perhatian dan pengawasan yang cukup serius.
Pemakaian bahan bakar akan menentukan apakah sebuah kapal dapat
dikatakan efisien atau tidak.
3. Menjalankan separator bahan bakar
4. Mencatat jumlah putaran mesin induk di counter putaran untuk dasar
perhitungan selama berlayar
5. Mencatat pemakaian bahan bakar yang tertera di flowmeter untuk
perhitungan selanjutnya.
6. Mengatur tekanan dan temperatur air pendingin dan minyak pelumas
sesuai yang telah ditentukan.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

298

Teknika Kapal Penangkap Ikan

7. Mengatur dan mengawasi tekanan uap di ketel, menjalankan ketel gas


buang (jika ada) dan mematikan ketel bakar. Yang harus diperhatikan
adalah tekanan ketel tidak boleh lebih rendah dari yang ditentukan,
tetapi masih aman sesuai kekuatannya.
8. Mengatur jumlah beban generator, dan mematikan salah satu
generator yang jalan.
9. Mematikan blower bantu motor induk, jika tekanan udara bilas atau
putaran turbocharger sudah cukup untuk mesin induk.
10. Membereskan semua alat atau mesin-mesin yang sudah tidak
diperlukan untuk olah gerak, mematikannya jika perlu.

Gambar 20.6. Separator Bahan Bakar


Sesudah semuanya beres, dan berjalan sesuai yang ditetapkan, maka tugas
selanjutnya barulah dianggap sebagai tugas jaga laut.
Tugas pokok selama pelayaran adalah pengawasan atas jalannya mesin
induk dan mesin-mesin lain yang dioperasikan dan menjaga agar tetap
dalam keadaan normal.
Pekerjaan rutin selama tugas jaga laut, antara lain meliputi:
1. Menghitung jumlah pemakaian bahan bakar, minyak pelumas, serta
mencatat pemakaian-pemakaian lain yang dilakukan selama tugas
jaga.
2. Mengawasi jumlah dan temperatur bahan bakar didalam tangki
harian, mencerat dan menambah jika dianggap perlu, demikian juga
dengan tekanan pompa-pompa bahan bakar, serta kondisi saringansaringannya. Jika perlu saringan dibersihkan.
3. Mengawasi jumlah dan temperatur serta tekanan minyak pelumas
dalam sistem, menambah jika perlu dan melakukan penyesuaianpenyesuaian seperlunya, termasuk saringan-saringannya.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

299

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Mengawasi jumlah dan temperatur serta tekanan air tawar pendingin


dalam sistem, menambah jika perlu dan melakukan penyesuaianpenyesuaian seperlunya.
5. Melakukan pencatatan (di log-book) terhadap tekanan dan temperatur
air pendingin (air tawar dan air laut), minyak pelumas, bahan bakar,
gas buang, udara bilas dll.
6. Menghitung jumlah putaran selama jaga, mencatat jarak yang
ditempuh kapal yang dapat diminta dari anjungan pada saat-saat akhir
dan awal jam jaga, dan lain-lain
Selain pekerjaan-pekerjaan rutin tersebut, biasanya masing-masing
perwira jaga mempunyai tugas sendiri yang harus dilakukan pada jamjam jaganya.

Gambar 20. 7 Saringan Udara Pneumatis


Pekerjaan masing-masing perwira jaga antara mengganti generator atau
pompa-pompa yang sedang jalan, membersihkan saringan-saringan, blowup dan blow-down air ketel, memeriksa kualitas air ketel, sounding
tangki-tangki bahan bakar, menghitung sisa bahan bakar dan pelumas dan
lain-lain, dimana biasanya perlu bantuan dari rating dinas jaga.
Adapun tugas tambahan bagi rating dinas jaga yang harus dilakukan
adalah, terutama, menjaga kebersihan dan kerapian kamar mesin termasuk
lantai-lantai, tangga-tangga, ruang kontrol dan lain-lain.
Pengawasan oleh petugas dinas jaga akan bertambah pada jam-jam kerja
harian, dimana ada pekerjaan harian yang mungkin harus membuka lantai
kamar mesin, tangga atau alat-alat pengaman. Dalam kondisi ini petugas
jaga disamping harus ekstra hati-hati juga perlu membantu mereka dalam
hal keselamatan, seperti memasang tanda peringatan, menyiapkan alatalat pengaman dan lain-lain. Walaupun demikian, petugas dinas jaga tidak
boleh terlibat langsung dengan pekerjaan harian, kecuali terpaksa, dan
harus lebih mementingkan tugas jaganya.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

300

Teknika Kapal Penangkap Ikan

20.5.2.4. Tiba di Pelabuhan Tujuan


Pada dasarnya mengolah gerak sewaktu kapal menjelang tiba di suatu
pelabuhan, dilakukan pekerjaan-pekerjaan yang merupakan kebalikan dari
pekerjaan sewaktu kapal berangkat. Seperti sewaktu akan berangkat dari
suatu pelabuhan, perintah mengolah gerak dimulai dari one hour notice
tiba, dimana perwira tugas jaga akan mulai melakukan persiapanpersiapan tiba, dan mulai mengolah gerak jika sudah ada perintah
standby dari anjungan. Persiapan yang biasa dilakukan adalah:
1. Menurunkan putaran mesin induk secara bertahap hingga mendekati
putaran full speed olah gerak.
2. Menyiapkan dan melakukan penggantian bahan bakar dari MFO
dengan MDO atau HSD pada waktu yang diperkirakan relevan, agar
pemakaian MDO bisa sehemat mungkin, namun pada waktu standby,
HSD atau MDO harus sudah sepenuhnya terpakai. Pekerjaan tersebut
termasuk menurunkan temperatur bahan bakarnya.
3. Menyiapkan dan menjalankan generator dan paralel dengan yang
sudah ada untuk menerima beban yang lebih besar.
4. Menyiapkan tenaga/arus listrik untuk mesin jangkar dan capstan
5. Menyiapkan udara tekan di botol udara dan mengisinya hingga
tekanan maksimum
6. Mematikan separator bahan bakar
7. Menyiapkan blower bantu untuk start mesin induk jika diperlukan.
8. Menjalankan kompresor udara dan mengisi botol angin
9. Menyiapkan log-book, buku manouver dan catatan lain-lain
Selanjutnya menunggu perintah standby dan melakukan olah gerak atau
manouver sesuai perintah melalui telegrap. Atau hanya melakukan
pengawasan terhadap jalannya mesin-mesin jika mesin induk
dioperasikan dari anjungan. Seperti halnya pada kondisi-kondisi olah
gerak, perhatian dan pengawasan harus dilakukan dengan penuh
kewaspadaan karena setiap ada kemungkinan keadaan darurat.
Seperti halnya dengan waktu berangkat, selama manouver, pengawasan
terhadap mesin dan alat-alat yang beroperasi harus lebih cermat,
memperhatikan temperatur, tekanan air pendingin, minyak pelumas
diperhatikan dan harus dijaga tetap pada kondisi yang seharusnya,
dan/atau disetel seperlunya. Jika putaran mesin induk sudah rendah dan
perlu bantuan blower, maka blower dijalankan (jika tidak bekerja secara
otomatis).
Catatan-catatan yang harus dibuat, termasuk di loog book dan dibuku olah
gerak, harus diisi dengan cermat, termasuk pemakaian bahan bakar yang
digunakan selama oleh gerak atau manouvre.
Jika perintah Finish With Engine muncul di telegrap, berarti kapal
selesai mengolah gerak, yang berarti kapal sudah berlabuh jangkar. Tugas

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

301

Teknika Kapal Penangkap Ikan

selanjutnya adalah menyelesaikan dan/atau mematikan mesin induk


dan mesin-mesin lain yang tadinya digunakan untuk mengolah gerak.
Pekerjaan ini sangat penting dan harus dilakukan dengan sebaik-baik agar
tidak terjadi masalah pada operasi selanjutnya.
20.5.2.5. Penyelesaian (Finishing)
Pekerjaan ini kelihatannya mudah dan sederhana, namun jika diabaikan,
akibatnya bisa fatal di kemudian hari.Tugas akan dimulai sewaktu
perintah Finish With Engine diberikan dari anjungan, baik melalui
telegraph maupun melalui telepon. Berarti tugas mesin induk selesai.
Agar kondisi mesin induk tetap sempurna dan siap dijalankan lagi, maka
beberapa prosedur dasar perlu dilakukan, antara lain:
1. Katup indikator dibuka, menutup katup-katup dan pompa sistem
bahan bakar
2. Mesin induk diblow-up untuk membuang sisa-sisa gas pembakaran
3. Pasang mesin pemutar (torn) dan putar mesin induk selama 10-15
menit.
4. Mematikan sistem pendingin dan sistem pelumas, jika temperatur
mesin induk sudah dingin atau mendekati temperatur udara
disekitarnya.
20.5.2.6. Tugas Jaga Pelabuhan
Tugas jaga pelabuhan sedikit lebih ringan dibandingkan dengan jaga laut.
Demikian juga dengan jam tugas jaga di pelabuhan berbeda dengan jam
tugas jaga dilaut atau selama pelayaran. Tugas jaga dipelabuhan untuk
perwira mesin atau Masinis adalah 24 jam atau sehari semalam.
Walaupun demikian, bkan berarti selama tugas jaga Masinis harus berada
dikamar mesin.
Hanya jika ada suatu pekerjaan yang harus dilakukan, maka perwira
mesin berada di kamar mesin. Jika tidak, dan keadaan dianggap aman,
perwira jaga dapat berada ditempat lain atau dikamarnya sendiri, bahkan
tidur. Yang selalu harus berada dikamar mesin adalah juru minyak atau
oiler, yang sehari bertugas selama 8 jam berturut-turut, secara bergantian.
Selama jaga pelabuhan, mesin induk tidak beroperasi, bahkan jika tidak
sedang bongkar muat, generator cukup satu saja yang dioperasikan. Jadi
walaupun kewaspadaan tetap harus tinggi, tetapi pengawasan terhadap
mesin-mesin yang beroperasi relatif lebih sedikit.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

302

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 20.8. Alat-alat Pengukur Generator


Walaupun demikian, kewaspadaan tetap harus dijaga, terutama dalam
menghadapi intervensi dari luar, misalnya tamu atau buruh.
Dan sering ada petugas / pejabat pelabuhan atau pihak-pihak resmi lain
yang datang ke kapal.
Kewaspadaan disini adalah, bukan karena mereka membahayakan kapal,
tetapi umumnya mereka tidak mengenal bahaya yang mungkin menimpa
mereka dikapal. Selain hal tersebut, di beberapa pelabuhan atau wilayah
tertentu memang sering terjadi pembajakan atau pencurian. Disini berlaku
peraturan dan prosedur ISPS Code, yang harus diterapkan dikapal, untuk
mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Pelaksanaan aturan dan prosedur
ISPS Code kadang-kadang berbeda dari satu pelabuhan dengan pelabuhan
lain.
Oleh karena itu, dalam hal ini perlu pengalaman dan informasi dari
pejabat setempat dan agen atau dari mereka yang lebih mengenal kondisi
pelabuhan dimana kapal berlabuh atau sandar didermaga.
Intervensi dari luar bukan hanya dari orang lain atau tamu saja, tetapi juga
dari laut, atau keadaan laut disekitar kapal. Kondisi cuaca dan alam
sekitar pelabuhan, seperti kedangkalan dan kondisi dasar laut (lumpur,
pasir) sangat mempengaruhi jalannya mesin, karena mesin memerlukan
air laut sebagai pendingin. Jika terlalu dangkal, kemungkinan lumpur
terisap pompa dan menyumbat saringan, sehingga mesin menjadi panas.
Jika disekitar kapal berlabuh terdapat sarang ubur-ubur, sering terisap
pompa pendingin sehingga berakibat sama, yaitu saringan buntu.
Akibatnya adalah, mesin menjadi panas, generator tiba-tiba mati sendiri
dan black-out, sehingga listrik di kapal padam.
20.6.

TUGAS JAGA DALAM KEADAAN KHUSUS

Kondisi pengoperasian kapal tidak pernah sama, dan selalu berbeda dari
satu waktu ke waktu lain, dari satu lokasi ke lokasi lain. Demikian juga
dengan kondisi cuaca dilaut yang tidak selamanya cerah dan sangat
tergantung pada musim dan atmosfir yang selalu berubah.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

303

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Demkian juga dengan lokasi dimana kapal berada pada suatu saat, tidak
pernah sama dan bahkan sering berubah cepat dan sangat berlawanan
dengan kondisi sebelumnya.
Untuk menghadapi hal-hal tersebut, perlu kewaspadaan tinggi dari
seluruh awak kapal, termasuk awak kamar mesin. Nakhoda dan/atau
perwira dinas jaga dianjungan akan memberitahukan keadaannya dan
meminta kewaspadaan dinas jaga dikamar mesin untuk sewaktu-waktu
melakukan tindakan yang perlu jika terjadi keadaan tidak terduga.
Berikut beberapa kondisi yang memerlukan perhatian khusus.
20.6.1 Kondisi Jarak Pandang dilaut Terbatas
Dalam keadaan ini kapal perlu membunykan suling untuk memberi tanda
bagi kapal-kapal lain yang berada disekitarnya.
Tergantung jenis suling kapal, tetap memerlukan energi yang harus
disediakan oleh kamar mesin.
Ada suling elektrik, ada yang
menggunakan udara bertekanan tinggi, dan ada juga yang memerlukan
uap untuk membunyikannya. Semuanya harus disiapkan dari kamar
mesin.
Selain itu, jika terjadi kejadian yang tidak dapat dielakkan, misalnya
tubrukan, atau nyaris tubrukan, mesin induk harus dapat segera
dioperasikan seperti dalam kondisi manouvre dan sewaktu-waktu distop
dan dihidupkan kembali. Untuk menyiagakan mesin induk dalam kondisi
manouver ini, berati mesin-mesin bantu tertentu harus disiapkan atau
dijalankan.
Secara singkat, dalam kondisi jarak pandang dilaut terbatas, banyak
kejadian yang mungkin terjadi, dan kewaspadaan yang tinggi dari setiap
petugas jaga, sangat diperlukan. Yang jelas, dalam kondisi jarak pandang
terbatas disuatu wilayah, dimana kapal berlayar, tugas jaga laut berubah
menjadi tugas jaga seperti halnya kapal dalam keadaan olah gerak atau
manuver, baik untuk bagian dek maupun untuk bagian mesin.
Jika memang membahayakan, biasanya KKM akan berada dikamar
mesin, memimpin sendiri dalam penjagaan mesin.
20.6.2. Berlayar di Perairan Sempit
Di daerah perairan yang sempit, seperti diselat atau didekat pantai,
dimana banyak kapal lain yang juga berlayar disekitarnya, perlu
kewaspadaan tinggi dari petugas jaga di anjungan. Bahkan biasanya
nakhoda harus hadir dan memimpin sendiri pengoperasian kapalnya.
Sama halnya dengan kapal diperairan yang berkabut atau jarak pandang
terbatas, maka kapal harus disiagakan dalam kondisi sama dengan
mengolah gerak.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

304

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Dalam hal ini, biasanya petugas jaga diperkuat dengan beberapa


personil mesin lain, dan jika dianggap perlu, KKM akan turun ke kamar
mesin ikut berjaga dan mengawasi situasinya.
20.6.3. Berlayar Dalam Keadaan Darurat
Keadaan darurat disini bisa berarti terjadinya musibah dikapal seperti
tenggelam atau nyaris tenggelam, kebakaran disalah satu lokasi di kapal,
atau kapal berada dalam bahaya karena cuaca dilaut yang sangat
berbahaya seperti berad diareal badai, taifun, ombak laut sangat tinggi dan
lain-lain.
Jika kapal berada didaerah dimana ada angin topan atau taifun, dan
dimana kapal selalu oleng baik kekiri-kanan maupun kedepan-belakang,
maka para petugas jaga harus waspada dan mengikat semua benda-benda
lepas yang mungkin bisa jatuh atau bergeser.
Mesin induk harus dijaga agar tetap jalan, dan putarannya harus diatur
semikian rupa, sehingga akibat kapal oleh, dan beban mesin induk juga
selalu berubah dari minimum yang tiba-tiba melebihi maksimum, mesin
tetap berjalan dengan risiko kecepatan kapal berkurang dan dibawah
normal. Keselamatan kapal akan terancam jika mesin induk tiba-tiba mati
sendiri dan kemungkinan bencana lain timbul akibat kapal tidak dapat
dikendalikan. Termasuk dalam situasi darurat adalah jika terjadi
tumpahan minyak dari kapal ke laut.
20.6.4. Terjadi Kebakaran
Dalam hal terjadi kebakaran dikapal, maka segera diberlakukan situasi
darurat dimana rol atau peran kebakaran diberlakukan. Kondisi demikian
diawali oleh bunyi sirine atau suling sebagaimana yang ditetpkan, yaitu 7
kali tiupan pendek diikuti satu kali tiupan panjang. Semua personil sudah
ditunjuk untuk melakukan satu tugas tertentu, dan semua porang harus
segera menuju pos masing-masing membawa alat atau perlengkapan yang
sudah ditentukan.
Nakhoda dan KKM segera mengorganisir upaya pemadaman bersamasama dengan regu-regu yang sudah ditentukan dalam peran darurat ini.
Upaya pembatasan dan pemadaman kebakaran, pertolongan terhadap
korban, pemulihan akibat kebakaran dan lain-lain harus dilakukan tanpa
menimbulkan kepanikan diantara para awak kapal, sehingga situasi panik
tersebut tidak menimbulkan masalah baru yang lebih serius.
Sementara itu, pengoperasian kapal tetap diupayakan tanpa melakukan
perubahan atau penyimpangan dari yang sudah ditentukan, kecuali

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

305

Teknika Kapal Penangkap Ikan

situasinya menghendaki demikian dan harus atas perintah nakhoda.


Dalam hal ini, petugas jaga biasanya diganti dengan regu dinas jaga yang
sudah ditentukan, dan tugasnya mempertahankan jalannya mesin-mesin
yang beroperasi, serta memberikan bantuan seperti menjalankan pompa
kebakaran, menyiapkan sistem pemadaman kebakaran lain yang
diperlukan seperti APAR Alat Pemadam Kebakaran Ringan) dan APAT
(Alat Pemadam Kebakaran Tetap).
Jika kebakaran sudah berhasil dipadamkan, maka nakhoda
memerintahkan membunyikan sirine atau suling tanda situasi darurat
selesai, dan regu pemulihan segera melakukan tugasnya. Sistem
pengoperasian kapal dikembalikan ke kondisi normal.
Jika kebakaran tidak berhasil dipadamkan dan situasi darurat berkembang
menjadi gawat, maka operasi penyelamatan diri diberlakukan.
20.6.5. Kandas/Tenggelam
Kapal kandas dapat terjadi di perairan dangkal atau diatas karang. Usaha
pertama jika kapal kandas adalah penyelamatan kapal agar terbebas dari
kandas. Namun hal ini sangat berisiko, yaitu jika akibat kandas, pelat
dasar kapal bocor, dan air laut masuk kekapal. Hal ini dapat
mengakibatkan kapal tenggelam karena masuknya air laut ke kapal.
Oleh karena itu, jika kapal mengalami kandas, maka pertama-tama yang
harus dilakukan adalah memastikan ada tidaknya kebocoran kapal yang
mengakibatkan air laut masuk kedalam ruang kapal. Untuk ini, biasanya
semua tangki dasar di sounding, yaitu diukur isinya dengan meteran
sounding.
Jika ditangki yang sebelumnya kosong dan setelah disounding ternyata
ada isinya, yaitu air laut, maka berarti bagian dasar tangki tersebut bocor,
dan harus dilakukan tindakan-tindakan pengamanan agar kebocoran tidak
meluas. Jika perlu, dan memungkinkan, air laut ditangki yang bocor
dipompa keluar kapal menggunakan pompa dikamar mesin. Namun
sebelum memompa air ditangki tersebut, harus memperhitungkan risiko
timbulnya pencemaran laut, yang sedapat mungkin dihindari.
Hal yang sama juga dilakukan dilantai dasar kamar mesin, petugas jaga
harus segera memeriksa semua tangki-tangki dibawah kamar mesin,
termasuk got-got yang biasanya dasarnya berhubungan langsung dengan
air laut. Jika air laut bertambah digot-got kamar mesin, berarti ada
kebocoran pelat dasar kapal dibawah kamar mesin. Harus dilakukan
tindak yang tepat agar kebocoran tidak meluas, dan air yang masuk
kekamar mesin harus segera dibuang ke laut menggunakan pompa got
(bilge pump) atau pompa dinas umum (GSP General Srvice Pump).

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

306

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Jika kebocoran tidak bisa diatasi, harus segera dilaporkan ke KKM dan
Nakhoda untuk dilakukan tindakan-tindakan lain yang lebih efektif, atau
keputusan lain yang memungkinkan.
Jika semua usaha penyelamatan ternyata tidak berhasil, tindakan dan/atau
keputusan terakhir adalah meninggalkan kapal (abandon ship) yang akan
dikeluarkan oleh Nakhoda.
20.7.

LAPORAN DINAS JAGA DAN BUKU HARIAN KAMAR


MESIN

Salah satu tugas yang harys dilaksanakan oleh petugas dinas jaga adalah
membuat laporan tertulis yang harus diisikan ke dalam buku-buku atau
formulir-formulir yang sudah disiapkan. Salah satu yang terpenting
adalah Buku Harian Kamar Mesin (dibagian Dek Buku Harian Kapal)
yang harus diisi dan ditandatangani oleh Perwira Dinas Jaga. Dikapal
buku ini dikenal dengan Loog book, dimana buku ini harus disyahkan dan
distempel oleh Pejabat Pelabuhan (Syahbandar atau Adminisrator
Pelabuhan) setempat, paling kurang satu bulan sekali, dimanapun kapal
ini berada. Sesuai ketentuan undang-undang, semua loog book harus dieksibitum atau disyahkan oleh Syahbandar dan disetempel.
Selain log book, laporan-laporan lain yang harus diisi oleh Perwira Dinas
Jaga adalah:
1. Abstract Log (Laporan bulanan) dan/atau laporan perjalanan (voyage
report) yang harus dilaporkan ke kantor pusat setiap bulan. Isinya
adalah kutipan dan ringkasan log book dan laporan-laporan lain yang
diperlukan perusahaan.
2. Laporan Tengah Hari (Noon Report), laporan yang harus dibua oleh
KKM setiap tengah hari (jam 12.00 siang) selama kapal berada dalam
pelayaran, yang isinya disamping posisi kapal, juga kecepatan,
putaran mesin, pemakaian bahan bakar dan air tawar, minyak
pelumas, stok pada saat tengah hari dan lain-lain.
3. Jam kerja mesin-mesin (Running Hours), baik mesin induk maupun
mesin-mesin lain. Laporan ini biasanya diisi oleh masing-masing
Perwira Mesin yang diserahi tugas perawatan mesin-mesin tertentu.
4. Sisa bahan bakar dikapal dan pemakaian bahan bakar (Fuel Used and
Remaining stock) yang biasanya diisi oleh Masnis II atau KKM,
setelah sesaat sebelumnya dilakukan pengecekan bahan bakar
disemua tangki-tangki simpan, termasuk tangki dasar, settling, tangki
harian dan lain-lain.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

307

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5. Pemakaian minyak lumas dan sisa / stok (Lub Oil Used and
Remaining Stock) yang diisi oleh Perwira Mesin yang bertugas untuk
itu setelah sebelumnya dilakukan pemeriksaan yang seksama setiap
harinya.
6. Pemakaian bahan-bahan lain seperti bahan kimia dan aditif (Chemcial
Used and Stock)
7. Pemakaian suku cadang (Spare part Used and Stock)
8. Pekerjaan perawatan dan perbaikan yang dilakukan, baik harian
maupun mingguan. Laporan ini akan dilaporkan setiap bulan ke
kantor pusat.
9. Laporan-laporan lain yang disyaratkan oleh kantor pusat, yang
biasanya bersifat jangka panjang, seperti rencana dok.

20.8.

PERSIAPAN FISIK DAN MENTAL

Kesiapan fisik dan mental bagi mereka yang bertugas dinas jaga, juga
diatur dalam Aturan STCW 95 Bab VIII, yaitu:
1. Semua orang yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas jaga sebagai
perwira dinas jaga dan/atau sebagai rating yang ambil bagian dinas
jaga harus diberi waktu istirahat paling sedikit 10 jam setiap hari.
2. Jam-jam istirahat ini hanya boleh dibagi paling banyak menjadi dua
periode istirahat, yang salah satunya paling sedikit tidak kurang dari 6
jam.
3. Persyaratan untuk periode istirahat yang diuraikan diatas tidak harus
diikuti jika berada, atau terjadi kondisi-kondisi mendesak
4. Walaupun ada ketentuan tersebut diatas, metode minimum 10 jam
dapat dikurangi menjadi paling sedikit 6 jam berturut-turut, asalkan
pengurangan semacam itu tidak lebih dari 2 hari dan paling sedikit
harus ada 70 jam istirahat selama periode 7 hari.

5. Perusahaan / pemilik kapal yang bersangkutan harus menetapkan


agenda jadwal jaga yang ditempatkan pada tempat-tempat yang
mudah dilihat sesuai ketentuan yang berlaku.
Apa yang sudah diuraikan dalam bab ini, tentunya belum dapat dikatakan
lengkap atau seluruh permasalahan dalam dinas jaga dibahas. Namun
diharapkan uraian diatas cukup memadai bagi siswa yang umumnya

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

308

Teknika Kapal Penangkap Ikan

belum pernah naik kapal, apalagi menjadi awak kapal. Yang jelas dan
perlu dipahami adalah, tugas-tugas jaga dikapal sangat berbeda dengan
apa yang biasa dilakukan dalam tugas-tugas didunia industri yang
lokasinya di darat.
Kapal mempunyai ciri yang sangat khas. Kecuali selalu berada diatas air
dan mengapung, pekerjaan dikapal tidak mengenal jam kerja yang tetap
seperti halnya didarat. Kapal harus beroperasi 24 jam sehari, dan tidak
boleh ada kelambatan. Sedikit kelambatan sangat mempengaruhi kinerja
atau performa kapal, termasuk para awak kapal yang mempunyai
tanggungjawab seperti petugas jaga.
Mudah-mudahan apa yang sudah disampaikan diatas dapat dipahami dan
bermanfaat bagi siswa SMK kapal niaga atau pelayaran, lebih-lebih bagi
mereka yang ingin berkarir dikapal.

BAB 21
MEMILIH BAHAN TEKNIK

21.1.

BAHAN TEKNIK

Di dalam perut bumi tempat kita tinggal ternyata banyak sekali


mengandung zat-zat yang berguna untuk keperluan hidup kita sehari-hari,
misalnya minyak tanah, bensin, solar dan lain-lainnya yang disebut
minyak bumi. Disamping itu juga terdapat unsur-unsur kimia yang

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

309

Teknika Kapal Penangkap Ikan

berguna bagi manusia seperti bijih besi, nikel, tembaga, uranium,


titanium, timah dan masih banyak lagi, beserta mineral dan batu-batuan.
Mineral adalah suatu bahan yang banyak terdapat di dalam bumi, yang
mempunyai bentuk dan ciri-ciri khusus serta mempunyai susunan kimia
yang tetap. Sedangkan batu-batuan merupakan gabungan antara dua
macam atau lebih mineral-mineral dan tidak mempunyai susunan kimia
yang tetap.
21.2.

PERSIAPAN PEMILIHAN BAHAN TEKNIK

Dalam memilih besi atau baja siswa harus mengetahui campuran besi, zat
arang (karbon) dan unsur lainnya seperti fosfor, belerang dan sebagainya
dalam prosentase yang kecil sekali. Unsur paduan itu diberikan dengan
maksud memperbaiki atau memberi sifat baja yang sesuai dengan sifat
yang dikehendaki pada baja.
Berdasarkan banyaknya karbon yang dikandung besi/baja, dapat
dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :
1. Besi atau baja tempa yang mengandung berkisar antara 0,01 s/d 1,7 %
karbon.
2. Besi atau baja tuang yang mengandung berkisar antara 2,3 s/d 3,5 %
karbon, baja ini sangat tidak baik untuk ditempa.
3. Besi atau baja yang kadar karbonnya berkisar antara 1,8 s/d 2,2 %,
tidak dibuat karena pada prosentase tersebut sifatnya kurang baik.
21.3.

PEMILIHAN BAHAN

Memilih bahan harus sesuai dengan peruntukannya, dan juga harus


diperhatikan kandungan dari bahan tersebut, agar sesuai dengan keinginan
kita. Jenis-jenis bahan yang biasa digunakan sebagai berikut ini :
21.3.1. Baja Karbon
Baja karbon adalah baja yang mengandung karbon sampai 1,7 %. Baja
karbon digolongkan menjadi tiga kelompok berdasarkan banyaknya
karbon yang terkandung dalam baja, yaitu :
1. Baja karbon rendah.
Baja yang mengandung karbon antara 0,10 s/d 0,30 %. Baja karbon
rendah dalam perdagangan dibuat dalam bentuk pelat, batangan untuk
keperluan tempa, pekerjaan mesin, dan lain-lain.
2. Baja karbon sedang.
Baja ini mengandung karbon antara 0,30 s/d 0,60 %. Baja karbon
sedang dalam perdagangan biasanya digunakan sebagai alat-alat
perkakas, baut, poros engkol, roda gigi, ragum, pegas, dan lain-lain.
3. Baja karbon tinggi.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

310

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Baja yang mengandung karbon antara 0,70 s/d 1,5 %. Baja karbon ini
banyak digunakan untuk keperluan pembuatan alat-alat konstruksi
yang berhubungan dengan panas yang tinggi atau dalam
penggunaannya akan menerima dan mengalami panas, misalnya
landasan, palu, gergaji, pahat, kikir, mata bor, bantalan peluru, dan
sebagainya.
Berdasarkan penggunaan baja dapat diklasifikasikan dalam dua grup yaitu
baja konstruksi dan baja perkakas. Baja kontruksi termasuk kontruksi
bangunan dan kontruksi mesin. Baja kontruksi bangunan umumnya
mengandung karbon sampai 0,3 % dengan kekuatan tarik dan batas
regang rendah serta tidak dapat dikeraskan. Sedangkan baja mesin
umumnya memiliki kadar karbon berkisar 0,3 s/d 0,6 %, mempunyai
kekerasan yang lebih besar, kekuatan tarik dan batas regang agak tinggi
serta dapat dikeraskan.
Kedua grup baja di atas masih digolongkan lagi menjadi baja yang tidak
dipadu, baja paduan rendah dan baja paduan tinggi, yaitu :
1. Baja yang tidak dipadu mengandung 0,06 s/d 1,5 % karbon, dengan
sedikit mangan (Mn), silisium (Si), fosfor (P), dan belerang (S).
2. Baja paduan rendah mengandung 0,06 s/d 1,5 % karbon dengan
tambahan 5 % bahan paduan.
3. Baja paduan tinggi mengandung 0,03 s/d 2,2 % karbon dengan lebih
dari satu bahan paduan sebanyak 5 % atau lebih.
21.3.2. Baja Kontruksi
Baja kontruksi digunakan untuk keperluan kontruksi bangunan dan
pembuatan bagian-bagian mesin. Berdasarkan campuran dan proses
pembuatannya , baja kontruksi dibedakan menjadi :
1. Baja karbon biasa.
2. Baja kontruksi kualitas tinggi.
3. Baja spesial.
Adapun baja kontruksi dikelompokakan dalam tiga jenis terdiri dari :
21.3.2.1. Baja Kontruksi Umum.
Baja kontruksi umum terdiri atas jenis baja karbon dan baja kualitas
tinggi yang dipadu. Penggunaan baja ini didasarkan atas pertimbangan
tegangan tarik minimumnya yang cukup tinggi. Baja ini banyak
digunakan pada kontruksi bangunan gedung, jembatan, poros mesin dan
roda gigi.
Baja untuk kontruksi umum diperdagangkan dalam dua jenis kualitas
yang biasanya dibedakan dengan pemberian nomer kode 2 dan 3.
Contoh :

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

311

Teknika Kapal Penangkap Ikan

St. 44 2 untuk kualitas tinggi.


St. 44 3 untuk kualitas istimewa (khusus).
21.3.2.2. Baja Otomat.
Baja otomat terdiri atas baja kualitas tinggi yang tidak dipadu dan baja
kualitas tinggin paduan rendah dengan kadar belerang (S) dan fosfor (P)
yang tinggi. Baja ini mengandung 0,07 s/d 0,065 % karbon, 0,18 s/d 0,4
% belerang, 0,6 s/d 1,5 % mangan, dan 0,05 s/d 0,4 % silisium.
Untuk keperluan menghaluskan permukaan ditambahkan lagi dengan
timbal (Pb) 0,15 s/d 0,3 %. Karena mengandung belerang (S) dan fosfor
(P) yang cukup tinggi, maka baja otomat sangat tidak baik untuk
pekerjaan las.
21.3.2.3. Baja Case Hardening
Baja case hardening diperoleh dengan menaruh baja lunak diantara bahan
yang kaya dengan karbon dan memanaskannya hingga di atas suhu kritis
atasnya (900 950 0 C) dalam waktu yang cukup lama untuk mendapatkan
lapisan permukaan yang banyak mengandung karbon.
Baja case hardening ini terdiri atas baja kualitas tinggi yang tidak dipadu
dan baja spesial yang tidak dipadu maupun yang dipadu. Supaya benda
kerja tetap liat, diusahakan kandungan karbon pada bagian permukaan
benda keja yang telah dikarbonisasikan tadi berkisar antara 0,6 0,9%.
21.3.3. Baja Perkakas
Baja perkakas banyak digunakan untuk bahan membuat perkakas,
misalnya stempel, kaliber, serta alat-alat potong. Baja perkakas
dikelompokkan berdasarkan :
1. Keadaan paduan : tidak dipadu, paduan rendah, dan paduan tinggi.
2. Bahan pendingin : air, minyak, dan udara.
3. Proses pengerasan : pengerjaan panas dan pengerjaan dingin.
Sifat-sifat baja perkakas tanpa paduan yang terpenting adalah sebagai
berikut :
1. Kandungan karbon antara 0,35 1,6 %.
2. Temperatur pengerasan 750 8500 C.
3. Temperatur tempering 100 3000 C.
4. Temperatur kerja sampai 200 0C.
Penggunaan baja perkakas tanpa paduan ditentukan oleh kandungan
karbonya, contoh :
1. 0,5 % karbon untuk pembuatan martil dan landasan tempa. Sifatnya
rapuh.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

312

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. 0,8 % karbon untuk pembuatan peniti, gunting, dan pisau. Sifatnya


rapuh.
3. 0,9 % karbon untuk pembuatan perkakas tukang kayu dan pahat.
Sifatnya rapuh dan keras. setengah keras.
4. 1,1 % karbon untuk pembuatan kikir, penggores, dan gunting. Sifatnya
setengah keras.
5. 1,3 % karbon untuk pembuatan mata bor, skraper, dan dies. Sifatnya
keras dan rapuh.
6. Lebih dari 1,3 % karbon untuk pembuatan reamer dan matres. Sifatnya
sangat keras.
Kondisi umum dari baja perkakas adalah pada temperatur di atas 2000 C
kemampuan potongnya hilang, oleh sebab itu baja perkakas tanpa paduan
digunakan untuk pembuatan alat-alat dan perkakas yang tidak mengalami
temperatur kerja yang tinggi. Karena kekuatan tarik dan batas regang
yang tinggi , baja ini digunakan pula sebagai bahan untuk alat-alat ukur.
Baja perkakas dapat disepuh dengan baik dan dikeraskan dengan
mencelupkannya ke dalam air.
21.3.4. Baja Paduan
Baja paduan adalah campuran antara baja karbon dengan unsur-unsur lain
yang akan mempengaruhi sifat-sifat baja, misalnya sifat kekerasan, liat,
kecepatan membeku, titik cair, dan sebagainya yang bertujuan
memperbaiki kualitas dan kemampuannya. Penambahan unsur-unsur lain
dalam baja karbon dapat dilakukan dengan satu atau lebih unsur,
tergantung dari karakteristik atau sifat khusus yang dikehendaki.
Unsur-unsur paduan untuk baja ini dibagi dalam dua golongan yaitu :
1. Unsur
yang membuat baja menjadi kuat dan ulet, dengan
menguraikannya ke dalam ferrite (misalnya Ni, Mn, sedikit Cr dan
Mo). Unsur ini terutama digunakan untuk pembuatan baja konstruksi.
2. Unsur yang bereaksi dengan karbon dalam baja dan membentuk
karbida yang lebih keras dari sementit (misalnya unsur Cr, W, Mo, dan
V). unsur ini terutama digunakan untuk pembuatan baja perkakas.
Pengaruh unsur paduan untuk memperbaiki sifat-sifat baja antara lain:
1. Silisium (Si) dapat menambah sifat elastis dan mengurangi
perkembangan gas di dalam cairan baja, sehingga persenyawaannya
lebih homogen. Makin besar unsur Si semakin sukar ditempa atau di
las. Baja dengan paduan silisium biasanya digunakan untuk membuat
pegas.
2. Mangan (Mn) merupakan unsur yang harus selalu ada di dalam baja
dengan jumlah yang kecil dan sebagai pencegah oksidasi, dengan
demikian setiap proses kimia dan proses metalurgi dapat berlangsung
dengan baik. Penambahan unsur mangan di dalam baja paduan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

313

Teknika Kapal Penangkap Ikan

menambah kekuatan dan ketahanan panas baja paduan itu serta


penampilan yang lebih bersih dan mengkilat.
3. Nikel (Ni) dapat mempertinggi kekuatan dan regangannya sehingga
baja paduan ini menjadi liat dan tahan tarikan. Penambahan unsur nikel
di dalam baja karbon berpengaruh pula terhadap ketahanan korosi.
Oleh karena itu baja paduan ini biasa digunakan untuk bahan membuat
sudu-sudu turbin, roda gigi, bagian-bagian mobil dan sebagainya.
4. Chromium (Cr) dapat memberikan kekuatan dan kekerasan baja lebih
meningkat, tahan korosi dan tahan aus. Dengan sifat-sifat itu membuat
baja paduan ini baik untuk bahan poros, dan roda gigi. Penambahan
unsur chromium biasanya diikuti dengan penambahan nikel.
5. Molibdenum (Mo) dengan penambahan molibdenum akan
memperbaiki baja karbon menjadi tahan terhadap suhu yang tinggi,
liat, dan kuat. Baja paduan ini biasa digunakan sebagai bahan untuk
membuat alat-alat potong, misalnya pahat.
6. Wolfram (W) dengan penambahan unsur ini memberikan pengaruh
yang sama seperti pada penambahan molibdenum dan biasanya juga
dicampur dengan unsur nikel (Ni) dan chromium (Cr). Baja paduan ini
memiliki sifat tahan terhadap suhu yang tinggi, karenanya banyak
digunakan untuk bahan membuat pahat potong yang lebih dikenal
dengan nama baja potong cepat (HSS /Hight Speed Steel).
7. Vanadium (V) dengan penambahan unsur ini akan memperbaiki
struktur kristal baja menjadi halus dan tahan aus, terlebih bila
dicampur dengan chromium. Baja paduan ini digunakan untuk
membuat roda gigi, batang penggerak, dan sebagainya.
8. Kobalt (Co) dengan penambahan unsur ini akan memperbaiki sifat
kekerasan baja meningkat dan tahan aus serta tetap keras pada suhu
yang tinggi. Baja paduan ini banyak digunakan untuk konstruksi
pesawat terbang atau konstruksi yang harus tahan panas dan tahan aus.
9. Tembaga (Cu), baja paduan yang memiliki ketahanan korosi yang
besar diperoleh dengan penambahan tembaga berkisar 0,5 1,5 %
tembaga pada 99,95 99,85 % Fe. Baja paduan ini disebut baja Armco
yang digunakan untuk membuat konstruksi jembatan, menara-menara,
dan lain-lain.
21.3.5. Besi Tuang
Pada umumnya besi tuang adalah paduan antara besi dengan zat arang.
Zat arang atau karbon yang terikat berkisar antara 2,3 3,6 %. Besi tuang
digolongkan dalam dua kelompok utama yaitu :
21.3.5.1. Besi Tuang Kelabu
Bahan untuk membuat besi tuang kelabu adalah besi kasar kelabu. Besi
kasar kelabu mempunyai kandungan silisium yang tinggi antara 1,5 5,5
% dan kadar mangan yang rendah. Dengan kandungan silisium yang

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

314

Teknika Kapal Penangkap Ikan

tinggi akan meningkatkan terbentuknya zat arang bebas, sehingga setelah


pendingin, besi tuang kelabu mengandung grafit. Grafit muncul dalam
besi sebagai pelat-pelat tipis yang disebut lamel grafit. Bentuk dan
banyaknya lamel grafit tergantung dari campuran kimiawi dan kecepatan
pendinginannya.
Silikon (Silisium) dan pendinginan yang lambat akan menaikkan
pembentukan grafit. Sedangkan mangan dengan pendinginan yang cepat
akan mengurangi pembentukan grafit. Lamel grafit mempunyai sifat
lunak, kekuatan tarik rendah, regangan kecil, dapat menerima gaya tekan
yang besar, meredam suara dan getaran. Besi tuang kelabu terdiri atas
perlit dan grafit. Perlit (pearlit) terdiri atas ferrit dan cementit.
Selain besi tuang berlamel grafit, masih ada dua jenis dari besi tuang
kelabu yaitu : besi tuang mekanik atau besi tuang berlamel grafit halus,
dan besi tuang speroidical atau besi tuang bergrafit bola.
1. Besi tuang mekanik adalah besi tuang yang sepenuhnya terdiri atas
grafit halus. Besi tuang mekanik mempunyai sifat tahan gesekan,
mempunyai kekuatan kejut yang tinggi dan dapat dikeraskan.
2. Besi tuang grafit bola juga sering disebut dengan nama besi nodular
atau besi ductile. Besi tuang ini mengandung grafit yang berbentuk
bola bundar, bagian tepinya tidak tajam dan strukturnya lebih
bersambung. Dengan adanya penambahan sedikit logam magnesium
(Mg) pada besi cair sebelum penuangan, grafit akan berada dalam
bentuk bola.
21.3.5.2. Besi Tuang Putih
Besi tuang putih mempunyai bidang patahan berwarna putih, yang
disebabkan oleh sementit yang putih. Bahan baku untuk pembuatan besi
tuang putih adalah besi kasar putih. Besi kasar putih memiliki kandungan
silisium yang rendah kurang dari 0,5 % dan kadar mangan yang rendah.
Karena kadar silisium yang rendah menyebabkan hanya terbentuk
sementit dan pearlit. Dengan demikian besi tuang putih setelah
didinginkan hanya terdiri atas pearlit dan sementit.
Termasuk didalam kelompok besi tuang putih adalah sebagai berikut :
1. Besi tuang tempa ada dua macam yaitu besi tuang black heart dan besi
tempa white heart.
2. Besi tuang tempa black heart dibuat dari besi tuang putih dengan
kandungan silisium yang rendah, dipanaskan hingga temperatur + 9000
C, dalam dapur yang selalu bebas dari oksigen di sekitarnya. Besi
tuang putih tersebut dimasukkan perlahan-lahan kedalam daerah
pemanasan menggunakan rangka bakar yang bergerak. Waktu
pemanasan selama + 48 jam. Pemanasan yang diperpanjang ini
menyebabkan sementit hancur menjadi lapisan grafit yang kasar,
karbon akan mengumpul seperti bunga mawar pada temper karbon.
Permukaan pecahan tampak gelap karena kandungan karbon, sebab

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

315

Teknika Kapal Penangkap Ikan

itulah besi tuang ini disebut black heart. Oleh karena strukturnya terdiri
atas temper karbon dan ferrite, maka menjadi lunak dan ulet. Besi
tuang tempa black heart sering digunakan dalam industri mobil karena
campuran antara sifat tuangan tahan getaran dan dapat dikerjakan
dengan mesin.
3. Besi tuang tempa white heart dibuat dari besi tuang putih yang
berkadar silisium rendah. Dalam proses pembuatannya besi tuang putih
ini dipanaskan hingga temperatur + 1000 C selama 100 jam dan
dihubungkan pada bahan oksidasi, seperti misalnya bijih besi merah
atau hemetit (Fe2O3). Selama proses pemanasan, karbon pada
permukaan tuangan dioksidasikan oleh bijih hematite dan akan hilang
sebagai gas karbon dioksi (CO2). Sesudah prose ini selesai pada bagian
yang tipis hanya akan mengandung ferrit dan pada bagian pecahan
akan memberikan warna besi putih yang disebut white heart. Proses
pembuatan besi tuang tempa white heart ini cocok untuk mengerjakan
bagian-bagian tipis yang dikehendaki keuletan tinggi.
4. Besi tuang keras dibuat dari besi kasar kelabu yang memiliki kadar
silisium yang tinggi antara 1,5 5,5 % dan kadar mangan yang rendah.
Besi tuang keras mempunyai lapisan luar yang tahan aus dan sangat
keras, tetapi bagian inti kurang keras dan kenyal. Pada proses
pembuatannya, benda tuang didinginkan secara cepat pada bagian
luarnya, sedangkan bagian intinya didinginkan secara perlahan-lahan.
Untuk memperoleh kecepatan pendinginan yang besar pada bagian
luar prose penuangan dilakukan dengan cara menuang ke dalam
cetakan yang terbuat dari logam seluruhnya.
5. Dengan cara pendinginan seperti ini benda tuang memperoleh lapisan
luar yang terdiri atas besi tuang putih dan bagian inti yang terdiri atas
baja tuang campuran sampai ferrit. Besi tuang keras banyak dipakai
untuk pembuatan rol pada mesin cetak, mesin gilingan padai, dan
mesin penggiling karet.
21.3.6. Baja Tuang
Baja tuang adalah baja yang dituang dalam bentuk tertentu, setelah
proses penungan selesai, benda tuang dipanasi hingga temperaturnya
antara 800 900 0 C kemudian didinginkan secara cepat pada temperatur
7000 C dan akhirnya didinginkan perlahan-lahan hingga diperoleh
struktur butiran yang halus. Baja tuang banyak digunakan untuk
pembuatan mesin-mesin yang besar, seperti rumah turbin, sudu-sudu
turbin, dan sebagai bagian-bagian motor bakar.
Kadar karbon dari baja tuang biasanya lebih rendah dari pada kadar
karbon dari besi tuang dan biasanya kurang dari 1,0 % C. sebagai unsure
tambahan selain karbon, baja tuang mengandung 0,20 0,70 % Si, 0,5
1,0 % Mn, fosfor dibawah 0,06 % dan belerang dibawah 0,06 %. Struktur
mikro baja tuang yang mempunyai kadar karbon kurang dari 0,8 % terdiri
atas ferrit dan perlit, kadar karbon yang lebih tinggi akan menambah

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

316

Teknika Kapal Penangkap Ikan

jumlah perlit. Apabila kadar karbon lebih besar dari 0,8 %, baja tuang ini
akan terdiri atas perlit dan sementit yang terpisah, kadar karbon yang
lebih tinggi akan menambah jumlah semenit.
Sifat-sifat yang khas dari baja tuang adalah kalu kandungan karbon
bertambah kekuatannya bertambah, sedangkan perpanjangannya
meningkat dan nilai tahan benturan berkurang, serta sukar di las.
Penambahan mangan akan memberikan kekuatan tarik yang lebih tinggi.
Penormalan akan memberikan butir-butir halus dan meningkatkan batas
regang dan kekuatan tariknya.
Perbaikan sifat-sifat baja tuang akan sangat nyata apabila kadar
karbonnya lebih tinggi. Apabila baja tuang ditemper pada suhu 6500 C
setelah dilunakkan, maka batas mulur dan kekuatan tariknya akan
menurun sedangkan perpanjangan dan pengecilan luasnya lebih baik.
21.4.

PEMBUATAN BAHAN

Pembuatan bahan dapat dicermati dari bahan utamanya, antara lain


sebagai berikut ini :
21.4.1. Pembuatan Besi Kasar
Bahan utama untuk membuat besi kasar adalah bijih besi. Berbagai
macam bijih besi yang terdapat di dalam kulit bumi berupa oksid besi dan
karbonat besi, diantaranya sebagai berikut:
1. Batu besi coklat (2Fe2O3 + 3H2O) dengan kandungan besi berkisar
40%.
2. Batu besi merah yang juga disebut hematit (Fe2O3) dengan kandungan
besi berkisar 50%.
3. Batu besi magnet (Fe2O4) berwarna hijau tua kehitaman, bersifat
magnetis dengan mengandung besi berkisar 60%.
4. Batu besi kalsit atau spat (FeCO3) yang juga disebut sferosiderit
dengan mengandung besi berkisar 40%.
Biji besi dari tambang biasanya masih bercampur dengan pasir, tanah liat,
dan batu-batuan dalam bongkah-bongkahan yang tidak sama besar. Untuk
kelancaran proses pengolahan biji besi, bongkah-bongkah tersebut
dipecahkan dengan mesin pemecah, kemudian disortir antara biji besi dan
batu-batuan ikutan dengan tromol magnet.
Pekerjaan selanjutnya adalah mencuci biji besi tersebut dan
mengelompokkan menurut besarnya, biji-biji besi halus dan butir-butir
yang kecil diaglomir di dalam dapur sinter atau rol hingga berupa bolabola yang dapat dipakai kembali sebagai isi dapur.
Setelah bijih besi itu dipanggang di dalam dapur panggang agar kering
dan unsur-unsur yang mudah menjadi gas keluar dari biji kemudian
dibawa ke dapur tinggi diolah menjadi besi kasar. Dapur tinggi

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

317

Teknika Kapal Penangkap Ikan

mempunyai bentuk dua buah kerucut yang berdiri satu di atas yang lain
pada alasnya. Pada bagian atas adalah tungkunya yang melebar ke bawah,
sehingga muatannya dengan mudah meluncur kebawah dan tidak terjadi
kemacetan. Bagian bawah melebar ke atas dengan maksud agar
muatannya tetap berada di bagian ini.
Dapur tinggi dibuat dari susunan batu tahan api yang diberi selubung baja
pelat untuk memperkokoh konstruksinya. Dapur diisi dari atas dengan
alat pengisi. Berturut-turut dimasukkan kokas, bahan tambahan (batu
kapur) dan bijih besi. Kokas adalah arang batu bara yaitu batu bara yang
sudah didestilasikan secara kering dan mengandung belerang yang sangat
rendah sekali. Kokas berfungsi sebagai bahan bakarnya dan
membutuhkan zat asam yang banyak sebagai pengembus. Agar proses
dapat berjalan dengan cepat udara pengembus itu perlu dipanaskan
terlebih dahulu di dalam dapur pemanas udara.
Batu kapur sebagai bahan tambahan gunanya untuk mengikat abu kokas
dan batu-batu ikutan hingga menjadi terak yang dengan mudah dapat
dipisahkan dari besi kasar. Terak itu sendiri di dalam proses berfungsi
sebagai pelindung cairan besi kasar dari oksida yang mungkin
mengurangi hasil yang diperoleh karena terbakarnya besi kasar cair itu.
Batu kapur (CaCO3) terurai mengikat batu-batu ikutan dan unsur-unsur
lain.
21.4.1.1. Proses Dapur Tinggi
Prinsip dari proses dapur tinggi adalah prinsip reduksi. Pada proses ini zat
karbon monoksida dapat menyerap zat asam dari ikatan-ikatan besi zat
asam pada suhu tinggi. Pada pembakaran suhu tinggi +18000 C dengan
udara panas, maka dihasilkan suhu yang dapat menyelenggarakan reduksi
tersebut.
Agar tidak terjadi pembuntuan karena proses berlangsung maka diberi
batu kapur sebagai bahan tambahan. Bahan tambahan bersifat asam
apabila biji besinya mempunyai sifat basa dan sebaliknya bahan tambahan
diberikan yang bersifat basa apabila bijih besi bersifat asam.
Gas yang terbentuk dalam dapur tinggi selanjutnya dialirkan keluar
melalui bagian atas dan ke dalam pemanas udara. Terak yang menetes ke
bawah melindungi besi kasar dari oksida oleh udara panas yang
dimasukkan, terak ini kemudian dipisahkan.
Setiap 4 sampai 6 jam dapur tinggi dicerat, pertama dikeluarkan teraknya
dan baru kemudian besi. Besi yang keluar dari dapur tinggi disebut besi
kasar atau besi mentah yang digunakan untuk membuat baja pada dapur
pengolahan baja atau dituang menjadi balok-balok tuangan yang
dikirimkan pada pabrik-pabrik pembuatan baja sebagai bahan baku.
Besi cair dicerat dan dituang menjadi besi kasar dalam bentuk balokbalok besi kasar yang digunakan sebagai bahan ancuran untuk pembuatan
besi tuang (di dalam dapur kubah) atau masih dalam keadaan cair
dipindahkan pada bagian pembuatan baja (dapur Siemen Martin).

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

318

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Terak yang keluar dari dapur tinggi dapat pula dimanfaatkan menjadi
bahan pembuatan pasir terak atau wol terak sebagai bahan isolasi atau
sebagai bahan campuran semen.
Besi cair yang dihasilkan dari proses dapur tinggi sebelum dituang
menjadi balok besin kasar sebagai bahan ancuran di pabrik penuangan,
perlu dicampur dahulu di dalam bak pencampur agar kualitas dan
susunannya seragam. Dalam bak pencampur dikumpulkan besi kasar cair
dari bermacam-macam dapur tinggi yang ada untuk mendapatkan besi
kasar cair yang sama dan merata. Untuk menghasilkan besi kasar yang
sedikit mengandung belerang di dalam bak pencampur tersebut
dipanaskan lagi menggunakan gas dapur tinggi.

Gambar 21.1. Dapur Tinggi Pengolahan Biji Besi Menjadi Besi

21.4.2. Pembuatan Baja dari Besi Kasar


Besi kasar sebagai hasil dari dapur tinggi masih banyak mengandung
unsur-unsur yang tidak cocok untuk bahan konstruksi, misalnya zat arang
(karbon) yang terlalu tinggi, fosfor, belerang, silisium dan sebagainya.
Unsur-unsur ini harus serendah mungkin dengan berbagai cara.
Untuk menurunkan kadar karbon dan unsur tambahan lainnya dari besi
kasar digunakan dengan cara sebagai berikut.
21.4.2.1. Proses Bessemer
Konvertor Bessemer adalah sebuah bejana baja dengan lapisan batu tahan
api yang bersifat asam. Dibagian atasnya terbuka sedangkan pada bagian
bawahnya terdapat sejumlah lubang-lubang untuk saluran udara. Bejana
ini dapat diguling-gulingkan.
Korvertor Bessemer diisi dengan besi kasar kelabu yang banyak
mengandung silisium. Silisium dan mangan terbakar pertama kali, setelah

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

319

Teknika Kapal Penangkap Ikan

itu baru zat arang yang terbakar. Pada saat udara mengalir melalui besi
kasar udara membakar zat arang dan campuran tambahan sehingga isi
dapr masih tetap dalam keadaan encer.
Setelah lebih kurang 20 menit, semua zat arang telah terbakar dan terak
yang terjadi dikeluarkan. Mengingat baja membutuhkan karbo sebesar 0,0
sampai 1,7 %, maka pada waktu proses terlalu banyak yang hilang
terbakar, kekurangan itu harus ditambah dalam bentuk besi yang banyak
mengandung karbon.
Dengan jalan ini kadar karbon ditingkatkan lagi. dari oksidasi besi yang
terbentuk dan mengandung zat asam dapat dikurangi dengan besi yang
mengandung mangan.
Udara masih dihembuskan ke dalam bejana tadi dengan maksud untuk
mendapatkan campuran yang baik. Kemudian terak dibuang lagi dan
selanjutnya muatan dituangkan ke dalam panci penuang. Pada proses
Bessemer menggunakan besi kasar dengan kandungan fosfor dan
belerang yang rendah tetapi kandungan fosfor dan belerang masih tetap
agak tinggi karena dalam prosesnya kedua unsur tersebut tidak terbakar
sama sekali.
Hasil dari konvertor Bessemer disebut baja Bessemer yang banyak
digunakan untuk bahan konstruksi. Proses Bessemer juga disebut proses
asam karena muatannya bersifat asam dan batu tahan apinya juga bersifat
asam. Apabila digunakan muatan yang bersifat basa lapisan batu itu akan
rusak akibat reaksi penggaraman.
21.4.2.2. Proses Thomas
Konvertor Thomas juga disebut konvertor basa dan prosesnya adalah
proses basa, sebab batu tahan apinya bersifat basa serta digunakan untuk
mengolah besi kasar yang bersifat basa. Muatan konvertor Thomas adalah
besi kasar putih yang banyak mengandung fosfor.
Proses pembakaran sama dengan proses pada konvertor Bessemer, hanya
saja pada proses Thomas fosfor terbakar setelah zat arangnya terbakar.
Pengaliran udara tidak terus-menerus dilakukan karena besinya sendiri
akan terbakar. Pencegahan pembakaran itu dilakukan dengan
menganggap selesai prosesnya walaupun kandungan fosfor masih tetap
tinggi.
Guna mengikat fosfor yang terbentuk pada proses ini maka diberi bahan
tambahan batu kapur agar menjadi terak. Terak yang bersifat basa ini
dapat dimanfaatkan menjadi pupuk buatan yang dikenal dengan nama
pupuk fosfat. Hasil proses yang keluar dari konvertor Thomas disebut
baja Thomas yang biasa digunakan sebagai bahan konstruksi dan pelat
ketel.
21.4.2.3. Proses Martin

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

320

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Proses lain untuk membuat baja dari bahan besi kasar adalah
menggunakan dapur Siemens Martin yang sering disebut proses Martin.
Dapur ini terdiri atas satu tungku untuk bahan yang dicairkan dan
biasanya menggunakan empat ruangan sebagai pemanas gas dan udara.
Pada proses ini digunakan muatan besi bekas yang dicampur dengan besi
kasar sehingga dapat menghasilkan baja dengan kualitas yang lebih baik
jika dibandingkan dengan baja Bessemer maupun Thomas.
Gas yang akan dibakar dengan udara untuk pembakaran dialirkan ke
dalam ruangan-ruangan melalui batu tahan api yang sudah dipanaskan
dengan temperatur 600 sampai 9000 C. dengan demikian nyala apinya
mempunyai suhu yang tinggi, kira-kira 18000 C. gas pembakaran yang
bergerak ke luar masih memberikan panas kedalam ruang yang kedua,
dengan menggunakan keran pengatur maka gas panas dan udara
pembakaran masuk ke dalam ruangan tersebut secara bergantian
dipanaskan dan didinginkan.
Bahan bakar yang digunakan adalah gas dapur tinggi, minyak yang
digaskan (stookolie) dan juga gas generator. Pada pembakaran zat arang
terjadi gas CO dan CO2 yang naik ke atas dan mengakibatkan cairannya
bergolak, dengan demikian akan terjadi hubungann yang erat antara api
dengan bahan muatan yang dimasukkan ke dapur tinggi. Bahan tambahan
akan bersenyawa dengan zat asam membentuk terak yang menutup cairan
tersebut sehingga melindungi cairan itu dari oksida lebih lanjut.
Setelah proses berjalan selama 6 jam, terak dikeluarkan dengan
memiringkan dapur tersebut dan kemudian baja cair dapat dicerat. Hasil
akhir dari proses Martin disebut baja Martin. Baja ini bermutu baik
karena komposisinya dapat diatur dan ditentukan dengan teliti pada
proses yang berlangsung agak lama.
Lapisan dapur pada proses Martin dapat bersifat asam atau basa
tergantung dari besi kasarnya mengandung fosfor sedikit atau banyak.
Proses Martin asam teradi apabila mengolah besi kasar yang bersifat asam
atau mengandung fosfor rendah dan sebaliknya dikatakan proses Martin
basa apabila muatannya bersifat basa dan mengandung fosfor yang tinggi.

21.4.2.4. Proses Oksi


Proses konvertor yang lebih modern adalah proses oksi, pada proses ini
menggunakan bahan besi kasar yang mempunyai komposisi kurang baik
apabila dikerjakan dengan konvertor Bessemer maupun Thomas. Disini
zat asam murni dihembuskan di atas cairan dan kadang-kadang juga
kedalam cairan besi, sehingga karbon, silisium, mangan dan sebagainya
terbakar. Hasil pembakaran unsur-unsur tersebut ditampung oleh bahan
tambahan batu kapur dan terikat menjadi terak yang mengapung di atas
cairan besi.
Proses pembakaran zat asam dengan zat arang terjadi pada panas yang
tinggi sekali, maka diperlukan pendinginan dengan jalan memberikan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

321

Teknika Kapal Penangkap Ikan

tambahan baja bekas. Hasil akhir dari proses ini adalah baja oksi yang
bermutu sangat baik karena pengaruh buruk dari unsur udara tidak ada.
Oleh karena itu baja oksi baik sekali digunakan sebagai bahan pembuatan
konstruksi dan komponen-komponen mesin, seperti : poros, baut, pasak,
batang penggerak dan lain-lainnya.
21.4.2.5. Proses Hoecsch
Proses Hoecsch merupakan penyempurnaan dari proses Martin. Caranya
adalah setelah muatan di dalam dapur Siemens Martin mencair kemudian
langsung dikeluarkan dan dimasukkan dalam kuali yang terbuka untuk
membakar fosfor dan belerang.
Sementara pembakaran dilakukan dapur Siemens Martin dibersihkan dan
kemudian lantai dapur ditaburi dengan serbuk bijih besi (Fe2O3 atau
Fe3O4).
Setelah selesai mengadakan pembakaran fosfor, belerang dan besi cair
yang berada di dalam kuali tadi dimasukkan kembali ke dalam dapur
Siemens Martin untuk menyelesaikan pembakaran unsur-unsur lain yang
belum hilang, terutama zat arang. Setelah proses pembakaran zat arang
dianggap selesai, terak yang terjadi dikeluarkan selanjutnya baja cair
ditampung dalam panci penuangan untuk dituang atau dicetak menjadi
balok tuangan.
21.4.2.6. Proses Bertrand Thield
Proses ini menggunakan dua buah dapur Siemens Martin. Pada dapur
yang pertama dilakukan pemijaran dan pembakaran untuk memisahkan
fosfor sedangkan dalam dapur kedua diisi dengan besi cair hasil dari
dapur yang pertama setelah teraknya dikeluarkan. Proses di dalam dapur
yang kedua tersebut juga diberi tambahan bijih besi yang baru.
21.4.2.7. Proses Dupleks
Proses ini dilakukan dengan cara mengeluarkan zat arang terlebih dahulu
yang berada konvertor-konvertor dan memurnikannya di dalam dapur
Siemens Martin. Proses Dupleks terutama dilakukan oleh pabrik-pabrik
baja yang berada di dekat perusahaan dapur tinggi. Setelah proses di
dalam dapur tinggi (setelah teraknya dihilangkan) cairan besi kasar itu
dimasukkan kedalam konvertor (Bessemer atau Thomas) dan dicampur
dengan batu kapur serta baja bekas dalam jumlah yang dikehendaki.
Pengembusan udara di dalam konvertor dilakukan sampai kandungan
fosfor menjadi rendah kira-kira 1 sampai 1,5 %, ditambah dengan kokas
yang telah digiling selanjutnya memindahkan isinya ke dalam dapur
Siemens Martin.
21.4.2.8. Proses Thalbot
Proses Thalbot dilakukan dengan menggunakan dapur Siemens Martin
yang dapat diputar-putar dan dijungkitkan. Setelah pemijaran didalam

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

322

Teknika Kapal Penangkap Ikan

dapur Martin, sebagian cairan dituangkan ke dalam panic tuang dan ke


dalam dapur tadi sambil ditambahkan besi kasar, bijih besi dan batu
kapur. Proses selanjutnya adalah menjaga agar cairan besi di dalam panic
tuang tadi tidak terjadi oksidasi, artinya mengusahakan pendinginan yang
cepat. Akibat dari cara ini adalah hasil yang diperoleh dalam setiap proses
dari satu dapur tidak sama kualitasnya. Baja yang dihasilkan dari proses
Thalbot adalah baja biasa seperti hasil dari proses konvertor Bessemer
maupun Thomas.
21.4.2.9. Proses Dapur Listrik
Dapur listrik digunakan untuk pembuatan baja yang tahan terhadap suhu
tinggi. Dapur ini mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
1. Jumlah panas yang diperlukan dapat dapat diatur sebaik-baiknya.
2. Pengaruh zat asam praktis tidak ada.
3. Susunan besi tidak dipengaruhi oleh aliran listrik.
Sedangkan kekurangannya adalah harga listrik yang mahal. Dapur listrik
dibagi menjadi dua kelompok yaitu dapur listrik busur cahaya dan dapur
listrik induksi.
21.5.

MENGHITUNG KEBUTUHAN BAHAN

Logam mempunyai beberapa sifat antara lain: sifat mekanis, sifat fisika,
sifat kimia dan sifat pengerjaan. Sifat mekanis adalah kemampuan suatu
logam untuk menahan beban yang diberikan pada logam tersebut.
Pembebanan yang diberikan dapat berupa pembebanan statis (besar dan
arahnya tetap), ataupun pembebanan dinamis (besar dan arahnya
berubah). Yang termasuk sifat mekanis pada logam, antara lain: kekuatan
bahan (strength), kekerasan elastisitas, kekakuan, plastisitas, kelelahan
bahan, sifat fisika, sifat kimia, dan sifat pengerjaan.
Para siswa diharapkan dapat menghitung kebutuhan bahan teknik sesuai
sifat logam dan pemanfaatannya dengan memperhatikan kriteria sebagai
berikut;
1. Keterandalan dari semua komponen.
2. Mampu tukar
3. Kegagalan bahan
4. Keamanan bahan
5. Nilai estetika
6. Mampu daur ulang
7. Mampu las
8. Perakitan
9. Lingkungan (temperatur, udara dan cairan)

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

323

Teknika Kapal Penangkap Ikan

21.6.

MELAKUKAN PENGUJIAN

Pengujian bahan terdiri dari pengujian merusak dan pengujian tidak


merusak (non destructive testing). Salah satu pengujian yang sering
dilakukan dalam bidang keteknikan adalah pengujian kekerasan. Uji
kekerasan ini digunakan untuk mengukur ketahanan logam terhadap
deformasi tetap dengan indentor bola Brinell, kerucut intan Rockwell,
kerucut piramida Vickers atau alat lainnya.
21.6.1. Kalibrasi
Kalibrasi dan pemeliharaan peralatan metrologi merupakan persyaratan
dasar pengendalian mutu. Timbangan dan alat ukur berat lainya, standar
untuk mengukur temperatur, tekanan, volume, viskositas, sifat listrik dan
optik memerlukan perhatian khusus.
Mesin uji untuk menentukan tegangan, regangan, keuletan, impak,
kekerasan, dan fatik memerlukan kalibrasi ulang oleh pembuat peralatan
tersebut atau oleh ahli yang berwenang.
Semua peralatan uji dan standar harus memiliki sertifikat, laporan atau
lembaran data yang mengesankan tanggal, ketelitian dan kondisi
kalibrasi. Selain itu harus dicatat pelaksanaan kalibrasi terakhir, tanggal
kalibrasi dan kapan kalibrasi ulang berikutnya harus dilaksanakan.
Mesin uji tarik harus dikalibrasi dan diberi sertifikat oleh perusahaan
pembuatnya, titik tera disegel. Kalibrasi ulang peralatan uji biasanya
dilakukan 1 tahun sekali dan diberi label.
21.6.2. Pengujian Merusak
Struktur logam sangat mempengaruhi sifat-sifat mekanis dari material
logam, dan untuk mengetahui sifat tersebut diperlukan pengujian
mekanis.
Pengujian bahan teknik yang sering dilakukan diantaranya adalah sebagai
berikut;
1. Pengujian tarik
2. Pengujian tekan
3. Pengujian keuletan
4. Pengujian kekerasan
5. Pengujian melar
6. Pengujian kelelahan
7. Pengujian keausan
21.6.3. Pengujian Tak Merusak

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

324

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Bahan atau konstruksi kemungkinan terjadi adanya cacat yang sangat


kecil sehingga diperlukan pengujian tak merusak, untuk memberikan
jaminan kualitas dan jaminan tidak adanya cacat yang membahayakan
dalam pemakaian.
Untuk mengetahui cacat tersebut umumnya dilakukan dengan pengujian
tak merusak sebagai berikut;
1. Radiografi
2. Ultrasonik
3. Inspeksi partikel maknetik
4. Arus eddy (eddy current)
5. Penetrasi warna

BAB 22
MENGGAMBAR TEKNIK

22.1.

PERLENGKAPAN MENGGAMBAR MESIN

Untuk menggambar teknik diperlukan peralatan gambar yang lengkap


berdasarkan aturan gambar teknik. Selain itu juga orang yang akan
menggambar teknik mesin harus memahami simbol-simbol gambar,
terampil, akurat dan tepat serta menyediakan peralatan gambar sesuai
standar yang dibutuhkan. Sebelumnya kita juga harus mengenal alat

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

325

Teknika Kapal Penangkap Ikan

gambar yang dipergunakan dalam bidang teknik gambar mesin antara


lain:
22.1.1. Meja gambar (Drawing Board)
Meja gambar harus mempunyai permukaan yang rata dengan tepian lurus.
Terbuat dari papan kayu yang terbaik (Kayu pohon cemara , Kayu
plywood). Papan ini dipakai untuk memasang kertas gambar dengan
ukuran disesuaikan (Ao = 1200 x 900 mm, Ai = 600 x 450 mm).
Ketebalan dari papan gambar tersebut adalah 25 50 mm. Pada
umumnya papan gambar ini dilapisi dengan alas kertas gambar dari
plastik lunak yang bermanfaat untuk menjaga kerusakan papan terhadap
goresan bekas garis tusukan jarum jangka. Papan gambar ini harus dapat
disetel kemiringannya, dapat diubah-ubah posisi kedudukannya sesuai
kondisi sewaktu menggambar.
Meja gambar juga harus dilengkapi dengan mesin gambar. Mesin gambar
yang biasa digunakan adalah jenis pita (arm type) dan jenis batang (track
type).
22.1.2. Mistar Gambar
Pada umumnya alat ini dibuat dari kayu, palstik dan mika. Mempunyai
fungsi membantu membuat garis, maka alat ini disebut juga alat tarik
garis. Mistar gambar terbagi beberapa jenis antara lain :
22.1.2.1. Papan Mistar (T-square)
Terdiri dari papan strip dari kayu sepanjang meja gambar disebut blade,
pada sebelah kiri ujungnya disambung papan kecil dibuat menyudut tegak
lurus terhadap blade disebut head. Hindari terjadinya garis error yang
disebabkan dari kondisi tegak lurus antara blade dan head. Alat ini jangan
digunakan untuk memotong kertas gambar.

22.1.2.2. Mistar Segitiga


Umumnya alat tarik garis segitiga ini berpasangan, mempunyai sudut 45
- 45 (250 mm 10 inci) dan sudut 30 - 60 (350 mm 9 inci). Periksa
alat ini sebelum dipergunakan, bila kotor harus diberishkan dengan lap
kain halus atau air sabun agar tidak mengotori kertas gambar.
22.1.3. Jangka (Kotak Jangka)
Merupakan peralatan gambar yang sangat penting dan harus tersedia saat
kita melakukan pekerjaan menggambar mesin. Kotak jangka tersebut
terdiri dari :
1.

Jangka besar yang ujung-ujungnya dapat ditukar-tukar (potlot atau


tinta).

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

326

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2.

Alat penyambung untuk membuat lingkaran besar.

3.

Jangka orleon atau jangka pegas.

4.

Pena penggaris

5.

Ada 4 (empat) macam jangka yang digunakan untuk menggambar


mesin

6.

Jangka besar mempunyai ukuran rengkang 100 200 mm

7.

Jangka menengah mempunyai ukuran rengkang 20 100 mm

8.

Jangka kecil mempunyai ukuran rengkang 5 30 mm

9.

Jangka O ring (jangka orleon atau jangka pegas) digunakan untuk


membuat lingkar jari-jari kecil

22.1.4. Pensil
Dalam menggambar teknik, pensil gambar masih sangat memegang
peranan, ada beberapa macam merk pensil yang terdapat di pasaran, yang
mempunyai tingkat kekerasan berbeda-beda. Tingkat kekerasan ini dibagi
menjadi 3 golongan dengan lambang hurup B (lunak), F/HB (sedang)
dan H (keras), lihat Tabel .dibawah ini
Tabel 18. Standar Kekerasan Pensil
Keras

Sedang

Lunak

4H

3H

2B

5H

2H

3B

6H

4B

7H

5B

8H

HB

6B

9H

7B

22.1.5. Rapido
Sejenis pensil yang berisi tinta cina. Kertas gambar yang menggunakan
pensil rapido khusus, yaitu kertas kalkir. Ukuran ujung rapido dapat
dikenali dari warna ujung tutup pensil tersebut.
Tabel 19. Warna dan Ukuran Pensil
Warna

Ukuran Pen (mm)

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

327

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Ungu

0.13

Merah

0.18

Putih

0.25

Kuning

0.35

Coklat Tua

0.5

Biru

0.7

Kuning Tua

1.0

Hijau

1.4

Abu-abu

2.0

Rapido harus dirawat secara baik, bila telah selesai digunakan bersihkan
dengan air biasa, jangan menggunakan minyak atau air panas.
22.1.6. Penghapus
Digunakan untuk menghilangkan garis pada gambar akibat goresan pensil
maupun tinta yang tidak perlu atau terjadi kesalahan penggambaran pada
kertas. Ada 3 macam penghapus yaitu penghapus karet (ruby erasen),
penghapus karet balok (artgun) dan mesin penghapus secara elektrik.
22.1.7. Kertas
Ada beberapa macam jenis kertas gambar yang sering dipakai, seperti
kertas gambar putih (untuk gambar yang menggunakan pensil), kertas
kalkir (untuk gambar yang menggunakan tinta/rapido), kertas film dan
lain-lain. Kertas gambar tersebut juga mempunyai ukuran yang telah
distandarkan, lihat Tabel di bawah ini.
Tabel 20. Ukuran Kertas Gambar
Tipe

Ukuran Kertas (mm)

A0

841 x 1189

A1

594 x 841

A2

420 x 594

A3

297 x 420

A4

218 x 297

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

328

Teknika Kapal Penangkap Ikan

22.2.

A5

148 x 210

A6

105 x 148

MEMBUAT GAMBAR MESIN

Dalam gambar masih dipergunakan aturan tertentu menurut bentuk dan


tebal tipisnya garis, memberi ukuran terhadap angka dan huruf. Hal ini
sangat penting dan harus diperhatikan dalam peraturan gambar mesin.
Untuk membedakan jenis material dalam gambar, maka gambar potongan
dari gambar pandangan digunakan arsir.
22.2.1. Garis
Dalam peraturan gambar mesin, ditentukan oleh gabungan bentuk dan
tebal garis. Macam-macam garis dan penggunaannya dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.
Tabel 21. Macam-Macam Garis Dan Penggunaannya
Jenis Garis
Garis

Bentuk

Penggunaan
Garis gambar dan tepi

Tebal
Garis
Tipis

Garis
khayal
yang
terjadi
perpotongan yang dibulatkan
Garis ukur,
penunjuk.

garis

bantu

dan

dari
garis

Garis arsir
Garis batas yang diputar tempat
Garis dasar ulir
Garis batas gambar yang berdampingan
dengan garis batas mula, sebelum diberi
Garis Bebas
Tipis

Garis potong yang menghilang kan


sebagian benda
Garis batas antara bagian benda yang
dipotong, dan sebagian benda dalam
pandangan

Garis Gores

Garis benda yang tidak kelihatan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

329

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Garis

Garis sumbu

Bertitik

Lingkaran jarak
Garis simetris
Gambar benda yang tidak pada tempatnya
Gambar benda yang terletak didepan
bidang potong
Kedudukan bagian benda yang dapat
dicapai

Garis

Bidang potong

Bertitik yang
dipertebal pada
ujungnya dan
pada perubahan
arah
Garis bertitik
tebal

Menunjukan bagian permukaan yang


mendapat perlakuan khusus

22.2.2. Angka dan Huruf


Dipergunakan dalam gambar untuk memberi ukuran, catatan dan judul
gambar. Ciri-ciri yang diperlukan pada huruf dan angka dalam gambar
tehnik adalah : jelas, seragam, dapat di reproduksi. Oleh karena itu huruf
dan angka harus digambar dengan cermat dan jelas, agar tidak
menimbulkan salah baca atau keraguan dari pembaca gambar.
22.2.2.1. Bentuk
Ditulis dengan bentuk miring atau tegak berdasarkan tipe standar A dan B
atau dengan standar JIS.
Tipe A tegak (1/14 h)
Contoh :
1234567890
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXY
Tipe A miring (1/14 h)
Contoh :
1234567890

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

330

Teknika Kapal Penangkap Ikan

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXY
Tipe B tegak (1/10 h)
Contoh :
1234567890
Abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
Tipe B miring (1/10 h)
Contoh :
1234567890
Abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
Standar ukuran huruf dan angka diambil sebagai dasar ukuran huruf besar
dengan ketinggian h (2.5, 3.5, 5, 7, 10, 14, 20 mm) tergantung
perbandingan ukuran gambar teknik yang dibuat.
22.2.2.2. Arsir
Dipergunakan untuk membedakan gambar potongan dari gambar
pandangan dengan jenis garis tipis, dengan miring 45 terhadap garis
sumbu atau garis gambar. Jarak garis arsir disesuiakan dengan besarnya
gambar. Tidak boleh terlalu jarang atau rapat dan harus sama besar untuk
mendapatkan gambar yang baik dan rapi. Jarak arsir harus lebar bila
bidang yang diarsir besar, rapat bila bidang gambar kecil. Agar gambar
kerja jelas, arsiran dari bagian yang berdampingan harus dibedakan
sudutnya. Untuk gambar pandangan tidak boleh di arsir.
22.2.3. Kolom Bagan Gambar
Menunjukan suatu daftar bagian ruang gambar yang ditempatkan pada
sudut kanan bawah dari gambar kerja. Untuk kolom bagian gambar
dengan daftara perincian khusus untuk gambar kerja yang mempunyai
komponen kontruksi atas mesin, contoh dapat dilihat Gambar 22.1.
22.3.

MENULIS UKURAN PADA GAMBAR

Dalam gambar tehnik mesin, ukuran pada gambar sangat penting,


termasuk angka ukur, garis ukur dan garis bantu yang terletak pada
gambar kerja.
22.3.1. Garis Ukur Dan Garis Bantu
Dalam menggambar teknik, garis yang ditarik harus tipis sebagai garis
pertolongan. Jangan menggunakan garis tebal di dalam garis ukur dan
garis bantu karena akan menimbulkan kekeliruan dalam mengerjakan.
Gunakan tebal garis dari garis pertolongan adalah sama dengan garis tipis
(seperempat tebal garis gambar).
22.3.2. Tinggi dan Arah Ukuran

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

331

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Garis ukur diusahakan horizontal pada bagian bawah garis gambar benda
kerja.
22.4.

PENERAPAN GAMBAR MESIN

Penerapan gambar mesin dapat digunakan untuk pekerjaan mengi


mengikir, membubut, mengetam, mengebor, memotong, mengelas dan
membuat komponen-komponen mesin baik dengan sistem manual atau
otomatis dengan bantuan komputer.

Gambar 22.1. Kolom Gambar

BAB 23

MENERAPKAN PENANGANAN HASIL TANGKAP

Penanganan dan penempatan ikan secara higienis merupakan prasyarat


dalam menjaga ikan dari kemunduran mutu karena baik buruknya
penanganan akan berpengaruh langsung terhadap mutu ikan sebagai
bahan makanan atau bahan mentah untuk pengolahan lebih lanjut.
Demikian juga penempatan ikan pada tempat yang tidak sesuai, misalnya
pada tempat yang bersuhu panas, terkena sinar matahari langsung, tempat
yang kotor dan lain sebagainya akan berperan mempercepat mundurnya
mutu ikan.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

332

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Produk perikanan termasuk produk yang memiliki sifat sangat mudah


rusak/busuk, sehingga sebaik apapun penanganan yang dilakukan tidak
akan mungkin membuat ikan tetap segar, namun demikian penanganan
yang dilakukan adalah dalam rangka menghambat proses penguraian
jaringan tubuh (pembusukan) sehingga ikan dapat disimpan selama
mungkin dalam keadaan baik. Oleh karenanya begitu ikan tertangkap
diangkat ke atas kapal harus secepat mungkin ditangani dengan baik dan
hati-hati untuk kemudian disimpan di cold storage atau diolah bahkan
langsung dimasak untuk dikonsumsi.
Banyak cara untuk penanganan ikan seperti penyiapan deck dan peralatan
yang higienis, penyortiran atau pemisahan ikan per jenis.
Pemilahan ikan yang rusak, pembersihan dan pencucian, perlindungan
dari sengatan matahari dan suhu tinggi, penyimpanan dalam ruang suhu
dingin (chilling room) termasuk di dalamnya pemalkahan, peng-es-an,
perendaman dengan air laut yang didinginkan (ice sea water, refrigerated
sea water dan lain sebagainya).
Dari uraian diatas maka prinsip yang harus dilakukan dalam penanganan
dan pembekuan hasil perikanan adalah mempertahankan kesegaran
dengan perlakuan yang cermat dan hati-hati serta cepat menurunkan suhu
ikan hingga 0o C.
23.1

PENANGANAN IKAN DI ATAS KAPAL

Penanganan ikan segar bertujuan untuk mengusahakan agar kesegaran


ikan dapat dipertahankan selama mungkin, atau setidak-tidaknya masih
cukup segar waktu ikan sampai ke tangan konsumen. Jadi begitu ikan
tertangkap dan diangkat ke atas kapal, harus secepat mungkin ditangani
dengan baik, benar dan hati-hati. Demikian selanjutnya sampai ikan
disimpan beku (di dalam cold storage) atau diolah (misalnya dengan
pengalengan) atau langsung dimasak untuk dimakan.
Daging ikan (termasuk hasil laut lainnya seperti udang dan kerang) sangat
cepat membusuk. Penanganan bagaimanapun baiknya dilakukan, tidak
akan mungkin membuat ikan tetap segar 100 %. Tetapi yang diusahakan
adalah menghambat proses pembusukan (penguraian jaringan) sehingga
ikan dapat disimpan selama mungkin dalam keadaan baik. Dalam
penanganam ikan, harus selalu diusahakan agar suhu selalu rendah,
mendekati 00 C. Harus selalu dijaga jangan sampai suhu ikan naik,
misalnya karena kena sinar matahari langsung atau karena kekurangan es
selama pengangkutan.
Sebab makin tinggi suhu, kecepatan
membusukpun akan juga semakin besar. Sebaliknya, bila suhu ikan akan
selalu dipertahankan serendah-rendahnya, maka proses terjadinya
pembusukan bisa diperlambat.
Usaha lain untuk mempertahankan kesegaran adalah menutupinya dengan
kain atau daun basah. Dengan menguapnya air pada lapisan penutup itu,
suhu ikan menurun juga harus dicegah supaya ikan tidak kena sinar

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

333

Teknika Kapal Penangkap Ikan

matahari langsung, karena pada suhu yang lebih tinggi, pembusukan akan
berjalan lebih cepat.
23.1.1 Penanganan Cepat
Agar hasil tangkapan atau ikan tidak cepat busuk atau berkurang nilai
ekonomisnya, maka harus dilakukan penanganan komoditi secepat
mungkin. Cara penanganan yang cepat dapat dilakukan seperti di bawah
ini :
1. Jangan meletakkan ikan segar/baru di atas ikan yang lebih tua usia
tangkapnya karena sementara menanti menunggu saat penyiangan,
tanganilah dahulu ikan yang lebih dahulu tertangkap.
2. Jangan menginjak ikan atau menyentuhnya dengan kaki karena ikan
akan rusak dan prose pembusukan akan cepat terjadi.
3. Siangi dan simpanlah ikan kecil sebelum ikan yang besar, sebab ikan
yang berukuran kecil lebih cepat membusuk.
4. Sedapat mungkin siangilah ikan selagi hidup, dagingnya akan
kelihatan lebih putih (karena hatinya terus memompakan darah ke
luar selama penyiangan hidup-hidup).
5. Ikan besar yang telah disiangi, cucilah dengan tangan terutama pada
bagian perutnya (terutama bagi ikan-ikan besar, ikan tuna misalnya).
6. Ikan-ikan kecil dapat dicuci dalam keranjang terbuka atau dalam
tangki dengan air mengalir.Tiriskan ikan setelah pencucian, tidak
boleh tertinggal air kotor di antara ikan.
7. Penyiangan dan pencucian menjadi sangat lebih penting apabila kita
menyimpan ikan tanpa menggunakan es.
8. Segera setelah dek atau geladak bersih dari ikan, dek harus dicuci
bersih, siap untuk menantikan naiknya tangkapan berikut.

23.1.2 Penyortiran
Sebelum jaring diangkat ke atas dek, semua peralatan yang nantinya
bersentuhan dengan ikan hendaknya dicuci bersih terlebih dahulu.
Setelah ikan sampai di dek, bersihkan segala kotoran yang ikut terjaring
(yang besar-besar), agar meminimalkan kontak fisik dengan kotoran yang
dapat membuat proses pembusukan.
Kemudian, cuci ikannya dengan cara menyemprotkan air laut sampai
segala kotoran yang kecil seperti lumpur, rumput laut dan binatangbinatang yang tidak dimanfaatkan, terpisah dari ikan.
23.1.2.1 Teknik Penyortiran
Ada beberapa teknik penyortiran yang sering digunkan antara lain :

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

334

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1.

Sortir ikan menurut jenisnya

2.

Sortir ikan menurut ukurannya

3.

Sortir ikan menurut harga pasar

Sebaiknya sortiran ikan tersebut diletakkan di wadah yang berlainan.


Jangan sampai terjadi ikan kakap dicampur dengan ikan tenggiri atau
kembung.
Setelah dilakukan penyortiran menurut jenis dan besarnya, ikan harus
secepat mungkin dicuci. Pencucian hendaknya memakai air laut yang
bersih.
Bila perlengkapan memungkinkan (seperti pada kapal pabrik atau factory
ship; dimana misalnya, dapat dicuci dengan air dingin) prinsip rantai
dingin harus segera diterapkan. Ikan-ikan yang sudah disiangi, dicuci
bersih. Karena sisa lendir, isi perut dan kotoran lain yang masih melekat
perlu disingkirkan.

Gambar 23.1. Penyortiran

23.1.2.2 Penyiangan
Sedangkan penyiangan ikan antara lain ditentukan dari ukuran badannya.
Ikan-ikan kecil seperti lemuru atau kembung, tentu saja tidak perlu
disiangi sebab mudah rusak.
Lain halnya dengan ikan kakap, yang kulitnya (terutama dinding perut)
relatif lebih kuat. Penyiangan bermanfaat uuntuk mempertahankan mutu
ikan adalah dengan mengenyahkan sumber pembusukannya yang
merupakan sumber alami bakteri. Sumber alami bakteri terdapat pada :
1.

Lapisan lendir di permukaan kulit


Pada ikan-ikan besar, misalnya ikan tuna, cara membersihkan atau
menghilangkan lapisan lendir yang terdapat di seluruh permukaan
tubuh ikan adalah dengan cara menyapunya dengan menggunakan
karet busa (spon) yang telah dibasahi air bersih. Menyapu ataupun

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

335

Teknika Kapal Penangkap Ikan

menggosoknya dengan sedemikian rupa jangan sampai kulitnya


menjadi rusak.
2. Insang
Membuang insang adalah dengan cara membuka kelopak insang yang
terdapat di belakang mulut, kemudian memotong pangkal insang di
kedua belah sisi kepala dan menariknya, membuangnya ke luar.
3. Isi perut
Sedangkan untuk membuang isi perut ikan sudah tentu bagian perut
ikan sebelah bawah harus disobek atau disayat menggunakan pisau.
Sobekan pada perut hendaknya sependek mungkin, supaya tidak
merusak bentuk.
Pekerjaan ini juga tergantung dari tindak lanjut pengolahan dan
permintaan pasaran. Bila akan dikemas dalam kaleng atau diolah menjadi
filet ikan tidak perlu disiangi. Demikian pula jika akan dijual di pasar
sebagai ikan segar.
Dengan menghilangkan sumber bakteri pembusuk tersebut pada ikan,
maka kesegaran ikan dapat dipertahankan selama mungkin. Semua sisasisa darah pada ikan yang besar harus dibersihkan, termasuk kelenjar
limpha yang melekat di bawah tulang belakang. Isi perut dan insang yang
telah dikeluarkan, hendaknya dibuang sejauh mungkin, jangan sampai
mengotori ikan-ikan yang belum maupun yang sudah disiangi, karena
akan menyebabkan proses pembusukan pada ikan.
23.2

PERSIAPAN MENYIMPAN HASIL TANGKAPAN

Hal yang harus diperhatikan atau disiapkan setelah kita melakukan


penangkapan antara lain :
23.2.1 Persiapan Dek
Dalam hal mempersiapkan dek sebagai suatu kegiatan awal sebelum para
Anak Buah Kapal (ABK) menangani ikan-ikan hasil tangkapan di atas
dek/geladak kapal, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yang
meliputi :
23.2.1.1 Persiapan personil ABK
Para anak buah kapal yang bertugas saat itu harus terlebih dahulu
mempersiapkan dirinya lengkap mengenakan pakaian kerja standar,
seperti :baju kerja/wear pack / mantel bila hujan helm kerja, sepatu boot
karet, sarung tangan (karet atau katun).
Mengingat bekerja di atas dek/geladak kapal banyak mengandung bahaya
(karena olengnya kapal akibat ombak) maka penggunaan perlengkapan
kerja tadi janganlah disepelekan.
23.2.1.2 Persiapan dek kerja

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

336

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Persiapan dek yang dimaksudkan adalah :


1. Menyiram dek dengan air laut menggunakan pompa .
2. Menyikat dek sampai bersih dari segala kotoran.
3. Gunakan sabun hijau untuk membersihkan minyak atau kotoran yang
sukar dihilangkan.
4. Membersihkan alat dan menempatkan peralatan kerja seperti
keranjang ikan, ganco pendek, ganco panjang, pisau ikan, golok,
sekop, dan lain-lain pada tempat tersendiri yang mudah dijangkau bila
diperlukan.
5. Jika pekerjaan itu dikerjakan pada siang hari, maka di bagian dek
kerja harus dipasang tenda/terpal dengan tujuan :

Lantai dek kerja tidak menjadi panas.

Ikan-ikan hasil tangkapan tidak terkena sinar matahari langsung


karena akan mempercepat penurunan mutu/kesegaran ikan.

Memberi kenyamanan kerja bagi ABK yang sedang bertugas.

Dalam memasang tenda tersebut harus diperhatikan dengan baik agar


pemasangannya jangan sampai menggangu pekerjaan lainnya di atas dek
atau pelayaran itu sendiri. Jika malam hari, lampu-lampu penerangan
kerja dihidupkan namun cahayanya jangan membaurkan lampu - lampu
penerangan navigasi kapal.
Kalau terdapat ikan dari tangkapan sebelumnya yang tersisa di geladak
(karena belum selesai ditangani), maka ikan-ikan tersebut harus
dipindahkan ke bak yang terpisah agar ikan yang sangat segar atau baru
tidak tercampur dengan yang lama.
Disamping membersihkan
permukaan dek serta peralatan kerja lainnya, pembersihan juga sangat
perlu diberlakukan terhadap papan-papan, rak-rak yang berada di dalam
palka (fish hold). Dinding palka juga harus bersih dari segala kotoran
darah maupun lendir ikan yang masih melekat.
Bila terdapat sisa-sisa es dari perjalanan sebelumnya, maka es itupun
harus dibuang habis karena telah banyak mengandung bakteri. Haruslah
dicamkan agar jangan sampai ikan-ikan hasil tangkapan yang masih segar
itu bersentuhan dengan sesuatu yang kotor sehingga ikan-ikan tadi
terkontaminasi dengan bakteri-bakteri yang akan mempercepat kerusakan
mutu ikan.
23.2.2 Persiapan Peralatan
Semua peralatan penanganan, penyaluran dan penyimpanan ikan yang
digunakan di atas kapal ikan harus didesain, dikonstruksi dan dibuat dari
material yang baik agar tidak mencemari ikan hasil tangkapan,
memudahkan, mempecepat dan meningkatkan efisiensi penanganan ikan
serta memudahkan dalam pencucian dan pembersihannya.
Kapal berikut semua fasilitas peralatan dan perlengkapannya berupa:

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

337

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1. Alat tangkap, alas dek, papan kurungan ikan dan perlengkapan


lainnya.
2. Palka, kerangka dan pembatasnya, dan lain-lain.
3. Bak, tangki, wadah, alat penanganan, pemotongan, pencucian,
penyaluran dan penyimpanan ikan yang berkontak dengan ikan
selama penanganan di kapal haruslah dicuci dengan bersih, disikat,
dibilas dan dikeringkan, baik sebelum hasil tangkapan dinaikkan ke
kapal, antara tiap tarikan jaring ikan, maupun sesudah selesai operasi
penangkapan di laut dan sesudah selesai operasi pembongkaran di
pelabuhan.
23.2.3 Dasar Penyimpanan Yang Baik
1. Segera dinginkan dan diberi es yang cukup.
Ikan harus berkontak dengan es, bukan dengan lainnya.Ikan yang
bersentuhan sesamanya lebih lambat menjadi dingin dibandingkan kalau
setiap ikan terbenam dalam hancuran es.
Selain itu, kalau ikan bersentuhan dengan papan rak atau tubuh ikan
lainnya, udara mungkin dienyahkan sama sekali, beberapa bakteri
pembusuk yang pasti berada disitu pada ketiadaan udara, segera
menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau busuk yang dapat menyebar
ke dalam daging ikan. Jenis herring dan white fish kadang-kadang
dipengaruhi oleh jenis pembusuk ini.
Es hancur mengandung banyak kantong-kantong udara sehingga ikan
yang di es secara baik tidak akan mengikuti bentuk pembusukan seperti di
atas yang menghasilkan ikan-ikan yang berbau busuk yang disebut bilgy
fish atau stinkers.
2. Air lelehan es mendinginkan dan menyegarkan ikan, sambil
menghayutkan lendir, darah dan kotoran.
Air lelehan es yang mengalir pada permukaan ikan, berbuat banyak pada
pendinginan ikan. Sebenarnya tidak semua ikan berkontak dengan es,
tetapi air lelehan dari es selama mengalir ke bawah banyak membantu
mendinginkan ikan dan juga memberi rupa yang segar kepada ikan.
Dibanding dengan pecahan es balok, maka kepingan es keping (flake es)
berkontak lebih baik dengan ikan sehingga ia lebih cepat menjadi dingin.
3. Pengusahaan suhu yang cukup rendah sekitar tumpukan ikan es.
Dalam praktek, sangat banyak es diperlukan untuk menjaga agar ikan
tetap tertutup oleh es dan suhu ikan tidak meningkat. Oleh karena itu,
suhu ruangan palka harus diusahakan cukup rendah untuk mencegah
pemborosan es. Kalau sebagian ikan ditumpuk menganga terhadap udara
(tidak tertutup es), maka untuk mencegah pembusukan, perlu memelihara
suhu udara sekitar 1,5C.
4. Pemeliharaan kebersihan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

338

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Segala peralatan, papan-papan, dan rak dalam palka harus bersih sebelum
ikan disusun. Sisa-sisa es dari perjalanan sebelumnya harus dibuang
habis, oleh karena es sisa itu banyak sekali mengandung bakteri
pembusuk. Ikan yang dihimpun dalam es kotor akan membusuk lebih
cepat dari pada ikan yang disimpan dalam es bersih.
5. Perlakuan dalam palka
Perlakuan yang utama adalah bahwa setibanya ikan dalam palka, harus
cepat-cepat didinginkan dan suhu dipelihara pada 0C hingga ia
dilabuhkan. Juga penting untuk mencegah tumpukan ikan dari penularan
pada bagian-bagian yang kotor dan mencegah rusaknya ikan akibat
himpitan dan gencetan.
23.2.4 Cara Menyimpan Ikan
Tahapan cara menyimpan ikan yang baik sebagai berikut ini :
23.2.4.1. Cara Penimbunan Ikan
1. Papan alas/dasar bak ikan harus dilapisi dengan es kira-kira setebal 15
cm, tebalnya alas es tergantung dari keadaan insulasi lantai, usianya
dan lamanya perjalanan. Sebaiknya ada ruang udara beberapa inci
antara dasar papan-papan bak dan lantai palka.
2. Kalau dasar bak terbuat dari logam, atau lantai palka tidak diinsulasi,
maka tebalnya alas es harus ditambah. Kalau tidak ada es tersisa antar
lapisan ikan dengan dasar bak waktu muatan dibongkar, berarti tidak
cukup tebalnya alas tersebut, sehingga ikan jadi panas dan mungkin
membusuk.
3. Lapisan pertama ikan harus disusun ke atas alas es tadi, di atasnya
ditaburi lagi es, untuk mengisi kekosongan antara ikan-ikan, yang
ideal adalah bahwa setiap ikan harus diselubungi oleh es.
4. Pada sisi ke arah dinding palka harus diisi banyak es terutama kalau
palka kapal itu tidak diinsulasi.
5. Pada penambahan susunan lapisan ikan selanjutnya, setiap lapisan
ikan harus ditutup oleh hancuran es, hingga himpunan itu berada
beberapa sentimeter dari atas.
6. Selapis 5 hingga 7 cm es harus ditaburkan dipuncak ikan dan es,
barulah dipasang papan-papan untuk rak berikutnya.
7. Himpunan tidak boleh disusun terlalu tinggi, artinya jangan sampai
papan-papan rak di atasnya didukung oleh himpunan ikan di
bawahnya.
8. Rak kedua dipersiapkan dengan menaruh alas es setebal 5 atau 7 cm,
barulah disusun lapisan-lapisan ikan dan es, lapisan teratas ditutupi
lagi dengan es tebal.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

339

Teknika Kapal Penangkap Ikan

9. Bagian atas dari rak-rak harus ditutup dengan es setebal 15 cm agar


ikan-ikan pada lapisan atas tidak ternganga menghadap ke geladak
(loteng), biarpun dipasang lilitan-lilitan pipa yang direfrigerasi atau
tidak.
10. Tinggi dari setiap himpunan pada rak tidak boleh lebih dari 45 cm.
11. Bentuk papan-papan rak harus demikian rupa sehingga dapat
mencegah mengalirnya air lelehan yang kotor ke atas ikan dalam rak
dibawahnya, tetapi air lelehan itu harus dialirkan ke dinding susunan
rak (bak).
12. Ikan tidak boleh disusun terlalu padat sehingga air lelehan tidak dapat
mengalir di antara ikan-ikan. Untuk menentukan apakah ikan telah
cukup di es, ukuran yang baik adalah harus selalu tersisa es sewaktu
muatan ikan di bongkar dipelabuhan.
23.2.4.2. Cara Susunan atau Lapisan Ikan
Cara ini adalah perbaikan dari metode penimbunan, ikan disusun hati-hati
selapis-selapis ke atas alas es pada tiap rak dan lapisan ikan teratas dalam
setiap rak ditutupi es. Penyimpanan yang baik adalah susunan rak (petak)
harus dibersihkan total sebelum penyusunan-lapisan dimulai.
Kalau papan rak berjarak kira-kira 23 cm antara sesamanya, maka
dianjurkan mengisi rak yang paling bawah hanya dengan es, teristimewa
kalau lantai palka ikan terbuat dari logam dan tidak di-insulasi. Lapisan es
setebal 5 cm harus disebar di atas papan rak berikutnya (di atasnya),
barulah disusun selapis ikan dengan perut menghadap ke bawah dan
kepala berhadapan dengan ekor di atas alas es tersebut. Setiap lapisan
ikan ditutupi lagi dengan selapis es setebal 5 atau 7 cm.
Papan-papan rak berikutnya lalu dipasang di atas penyangga atau siku dan
susunan-lapisan diteruskan. Kalau susunan rak telah penuh, lapisan ikan
teratas harus ditutupi dengan lapisan es yang tebal untuk menahan panas
yang merembes dari geladak. Pada arah sisi kapal setiap rak harus diberi
es extra, teristimewa kalau tidak ada insulasi dibagian sisi (lining) kapal
tsb.
23.2.4.3. Cara Pemetian (boxing method)
Kalau pelaksanaannya baik dan menggunakan peti yang tepat, cara ini
dapat melabuhkan ikan bermutu lebih baik dari pada kedua metode
lainnya,dan dengan demikian dapat mempunyai daya awet yang lebih
panjang setelah pendaratan.
Beberapa hal pokok pada cara pemetian :
1. Terlebih dahulu harus diberi alas es di dasar peti setebal 5 hingga
7cm,kemudian ikan (perut arah ke bawah)diisikan dan dicampur
dengan taburan es halus susunan lapisan akhirnya ditutup dengan
selapis es setebal 5 hingga 7cm. Pengesan yang cukup adalah penting,
ikan mulai membusuk segera setelah ia mati, kecepatan membusuk

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

340

Teknika Kapal Penangkap Ikan

itu lima kali lebih cepat pada 100C dibandingkan dengan pada suhu es
meleleh (00 C).
2. Susunan ikan tidak boleh terlalu tinggi sehingga ikan pada dasar peti
bakal tergencet,dan peti harus cukup panjang agar ikan besar tidak
membengkok dalam peti.
3. Peti-peti yang terletak pada dasar susunan harus ditaruh di atas balok
ganjal agar ia berjarak dari lantai palka,dan ruangan-ruangan udara
antara balok-balok ganjal diisi dengan es.
Dalam menggunakan peti dan menyusunnya diperhatikan pokok-pokok
berikut :
1.

Peti-peti harus bersih sebelum dimuat ikan.

2.

Peti tidak boleh terlalu besar/ berat agar dapat ditangani oleh 1 atau 2
orang saja baik di laut maupun di darat.

3.

Isi peti dan tanggal harus dicatat pada tiap peti pada saat
penyusunan,dan diatur pembongkarannya agar urut usia isi peti.

4.

Peti-peti harus mempunyai liang-liang pembuangan (drain holes)


yang disiapkan sedemikian rupa agar air lelehan tidak menggenang
dalam peti. Yang ideal,air itu jangan merembes kedalam peti yang
berada dibawahnya, biarpun perencanaannya sulit, setidak-tidaknya
air rembesan harus mengalir kesamping peti yang di bawahnya, tidak
merembes langsung ke dalam peti.

5.

Peti harus terbuat dari material yang mudah dibersihkan dan tidak
berpengaruh terhadap kondisi lingkungan dan tidak merusak
terhadap ikan. Peti harus kokoh agar tahan handling di kapal,dan
cocok diperlakukan dengan alat-alat mekanis untuk pembongkaran
dan handling di pangkalan, oleh karena satu dari keunggulan
pemetian di laut adalah bahwa ikan dapat dibongkar dan ditranspor
di darat dalam peti yang sama, yang berarti menghindari praktek
biasa yaitu pemindahan ikan dari 1 peti ke peti lainnya.

6.

Peti-peti tempat hasil perikanan, sebaiknya seragam dalam desain


dan ukuran sehingga dapat digunakan fasilitas sentral untuk
membersihkan, menyimpan dan mendisribusi peti-peti tersebut
sampai tujuan.

7.

Cara pemetian hasil perikanan termasuk cara yang sangat


memuaskan, daya himpunnya (stowage rate) mencapai 2,7 m3/ton
berarti jauh lebih besar dari 2 cara sebelumnya.

23.3.

PENDINGINAN DAN PEMBEKUAN IKAN

Penyimpanan hasil tangkapan merupakan tahapan lanjutan dalam sistim


penanganan ikan setelah penanganan di atas dek dan sebelum diteruskan
ke konsumen atau pengolahan lanjutan. Penyimpanan ikan segar di atas
kapal harus diusahakan selalu pada suhu rendah mendekati 0o C untuk
produk bukan beku, dan dibawah 0 o C untuk produk beku (frozen). Hal

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

341

Teknika Kapal Penangkap Ikan

yang harus dijaga dalam penanganan/penyimpanan adalah jangan sampai


suhu ikan naik, apalagi terkena sinar matahari langsung atau kekurangan
es dalam pengangkutan. Sebab semakin tinggi suhu, maka akan semakin
cepat proses penurunan mutu terjadi. Untuk itu dalam penyimpanan harus
selalu dipertahankan agar suhu ikan selalu dingin sehingga proses
pembusukan dapat diperlambat.
Beberapa cara penyimpanan ikan agar dapat dijaga mutunya adalah
terlindung dari panas matahari, penyimpanan dalam ruangan bersuhu
dingin (cool room), palka dingin, peng-es-an, perendaman dengan air laut
yang didinginkan (ice sea water, refrigerated sea water) dan lain
sebagainya.
Sedangkan untuk penyimpanan ikan untuk tempo lebih lama biasanya
digunakan metode penyimpanan di ruangan bersuhu lebih rendah dari 0o
C, penyimpanan dengan metode ini akan menghasilkan produk beku
(frozen). Dewasa ini telah berkembang cara penyimpanan yang lebih
praktis untuk memperoleh produk super dingin yaitu dengan
menggunakan es kering (dry ice) yang dapat menghasilkan suhu sampai 70oC.
Setelah dicuci, segera masukkan ikan tadi ke dalam palka dan diberi es.
Jangan dibiarkan terlalu lama di atas dek tanpa es atau kena sinar
matahari langsung. Waktu memindahkan/mengangkat ikan ke palka,
harus hati-hati dan cepat. Jangan sampai ikan dilempar-lempar, karena
dapat mengakibatkan luka dan air bekas cucian ikut terbawa. Ketika
diturunkan ke palka, hendaknya ikan diletakkan ke dalam keranjang
bambu/plastik atau peti kayu. Sejak ikan tertangkap sampai di-es,
hendaknya selalu diperlakukan dengan hati-hati. Hindarkan pemakaian
sekop dan garpu untuk memindahkan ikan. Sekop hanya digunakan untuk
mengangkat / menyerok es curai (crushed ice), sedangkan garpu hanya
digunakan untuk membongkar tumpukan es curai. Juga jangan sampai
ikan terinjak-injak di dek sehingga luka dan memar.

23.3.1. Pendinginan
Banyak cara untuk menurunkan suhu ikan segar. Cara paling sederhana
adalah menutupi ikan dengan terpal atau karung basah (dengan
menguapnya air pada terpal, suhu ikan akan turun). Cara lain yaitu,
pengesan (dalam keranjang berlapis daun pisang segar atau dalam cool
box), perendaman dengan air atau air laut yang didinginkan (iced sea
water atau refrigerated sea water = RSW) atau penyimpanan dalam
kamar dingin (cool room).
Dalam penanganan ikan segar, dikenal satu istilah penting yang disebut
rantai dingin = (cool chain), yaitu sejak ikan tertangkap sampai
pengolahan lebih lanjut atau dimasak didapur, hendaknya tetap berada
atau disimpan dalam suhu mendekati 00C, yang penting selama ikan
belum dijual atau diolah lebih lanjut, harus selalu berada di kotak
pendingin dengan persediaan es yang cukup.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

342

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Keuntungan pemakaian es sebagai bahan pendingin teristimewa karena es


mempunyai kesanggupan pendinginan yang sangat besar, 1 kg es dapat
melepaskan sejumlah besar (80 kilokalori) panas dari ikan, es tidak
merusak ikan, dapat dibawa-bawa (portable) dan murah harganya. Es
cepat mendinginkan ikan dan ikan tetap basah dan tidak mengering. Air
dari lelehan es segera pula menghanyutkan lendir, darah dan kotoran lain
dari permukaan ikan seolah-olah selalu dimandikan.
23.3.1.1. Menghitung Kebutuhan Es
Pada pendinginan ikan dengan es, panas berpindah dari ikan yang lebih
panas menuju es, ikannya menjadi dingin dan esnya meleleh. Banyaknya
es yang diperlukan untuk mendinginkan satu peti ikan yang suhunya 100C
dan beratnya 15 kg hingga suhunya menjadi 00C pertama kali yang harus
dihitung adalah :
berat ikan x perbedaan suhu x panas spesifik ikan
15 x (10-0)0C X 0,84 =26 kilo kalori
Oleh karena es menyerap 80 kilokalori per-kg es yang meleleh, maka
berat es yang dibutuhkan untuk mendinginkan ikan itu menjadi 00C
adalah 126/80 kg = 1,575 kg es, dibulatkan menjadi 1,6 kg es. Dalam
praktek, untuk mendinginkan seperti ikan yang akan diangkut dari
pelabuhan ke pasar ikan pedalaman, sebagian dari es digunakan untuk
mendinginkan petinya sendiri dan sebagian lainnya lagi meleleh selama
perjalanan oleh kemasukan panas ke dalam peti, sehingga lebih 1,6 kg es
yang diperlukan.
23.3.2. Pembekuan
Ikan beku adalah produk ikan yang sudah diberi perlakuan proses
pembekuan yang cukup untuk mereduksi suhu seluruh produk sampai
suatu tingkat suhu cukup rendah guna mengawetkan mutu ikan dan
tingkat suhu rendah ini tetap dipertahankan selama pengangkutan,
penyimpanan dan distribusi sampai saat (dan termasuk) waktu penjualan
akhir.
Dari batasan di atas dapat dijabarkan bahwa penyimpanan beku adalah
proses dimana panas dicegah berhubungan dengan ikan beku dengan cara
memelihara ikan yang sudah dibekukan pada suhu penyimpanan ikan
180 C atau lebih rendah. Perlu dicamkan bahwa proses pembekuan dan
proses penyimpanan beku adalah dua proses yang tegas berbeda , tidak
boleh disatukan atau dikacaukan.
23.4.

Menjaga Mutu Produk

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi atau menyebabkan terjadinya


penurunan kualitas ikan dan penyebab terjadinya pembusukan, di
antaranya penyebab yang berasal dari sumber-sumber alami, kerusakan
fisik ikan (luka) dan suhu panas. Ketiga faktor tersebut merupakan faktor
dominan terjadinya kerusakan mutu ikan.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

343

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Sumber-sumber alami terjadinya penurunan kualitas ikan adalah parasit,


bakteri pathogen, virus, biotoxins, biogenic amines dan bahan-bahan
kimia. Sumber-sumber ini sangat dominan dalam proses penurunan
kualitas dibandingkan sumber lainnya. Sedangkan penurunan kualitas
karena kekurang hati-hatian operator dalam penanganan ikan dapat
menyebabkan rusaknya fisik karena luka, lembam dan karena suhu panas.
Ada beberapa bagian yang menjadi pusat konsentrasi alami bakteri
pembusuk pada ikan yaitu selaput lendir, insang dan rongga perut. Oleh
karena itu pembersihan pada bagian-bagian ini sangatlah penting
diperhatikan, disamping upaya menghidari perpindahan bakteri dari luar
sehingga faktor kebersihan dan higienis menjadi sangat penting.
23.4.1. Faktor Terjadinya Penurunan Mutu Hasil Perikanan
1. Air lelehan es, disamping mendinginkan ikan, menghanyutkan pula
lendir bakteri, senyawa-senyawa hasil pembusukan dan darah
sehingga ikan tetap berupa dan berbau segar. Agar aliran ke bawah air
leleh tidak terhambat, maka ikan (teristimewa ikan kecil) tidak boleh
dipak terlalu sarat/rapat. Jadi penting diusahan agar tercipta aliran
bebas dan harus dicegah agar ikan tidak berada dalam genangan air
kotor di dasar tumpukan atau peti. Air lelahan es harus
ditiriskan/dialirkan keluar wadah (peti, palka dan kamar dingin).
2. Periode ikan sedang makan kenyang, kurang baik dimanfaatkan
namun tertangkap, berhubung perutnya penuh dengan sisa makanan
yang tinggi kadar enzym pencernaannya yang mengakibatkan daging
ikan cepat lembek dan membusuk.
3. Kotoran dan lalat perlu dicegah menengger ke atas ikan.
4. Air yang tercemar dari selokan atau comberan palka dan air
pelabuhan atau sungai yang kotor, jangan menyimbah atau
menyembur ikan, apalagi kalau mencelupkannya.
23.4.2. Cara Menjaga Mutu
Dalam pengawetan ikan dan hasil perikanan lainnya, semua usaha
dilakukan untuk memusnahkan atau setidak-tidaknya menghambat
pertumbuhan bakteri-bakteri yang merugikan, termasuk juga jenis mikro
organisme lainnya. Suhu lingkungan adalah salah satu syarat agar bakteri
dapat hidup secara normal. Dan, suhu ikan hidup masih cukup rendah
sehingga mikro organisme itu belum dapat hidup dengan baik. Akan
tetapi, segera setelah ikan mati dan proses autolisa berjalan, suhu ikan
berangsur-angsur naik dan pada suatu saat memungkinkan bagi
pertumbuhan bakteri pembusuk.
Usaha untuk mengurangi bakteri yang terdapat di bagian luar badan ikan,
antara lain misalnya :
1.

Pencucian sebaik-baiknya

2.

Pembuangan sisik lalu dicuci.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

344

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3.

Pencucian dengan air yang dicampuri chlor (chlorinasi).

4.

Penggunaan es yang mengandung zat-zat anti bakteri, dan bermacammacam pemakaian zat kimia.

Namun, cara-cara tersebut biasanya terlalu mahal dan memerlukan waktu


lama walaupun hasilnya kadang-kadang memuaskan. Oleh karena itu,
tidak banyak dipraktekkan untuk mempertahankan kesegaran ikan secara
besar-besaran. Karena bakteri tidak dapat tumbuh dengan baik pada suhu
rendah, maka usaha orang untuk menghambat atau menghentikan
kegiatan bakteri adalah dengan pengesan ikan segar atau
membekukannya.
Untuk mengurangi bakteri di dalam insang dapat dilakukan dengan
mencuci atau membuang insangnya, lalu mencucinya dengan air yang
cukup banyak. Sedangkan bakteri yang terdapat di dalam rongga perut,
dapat dikurangi dengan membuang semua isi perut dan mencucinya
bersih-bersih.
Tersayatnya daging perut akan memungkinkan bakteri masuk ke dalam
daging lewat luka sayatan itu, sehingga sebagian orang membiarkan ikan
tetap hidup di tepi pantai (untuk ikan laut dan kerang-kerangan = proses
purifikasi) tanpa diberi makan. Dengan demikian perut ikan menjadi
kosong dengan sendirinya.
Ada juga yang melukai ikan supaya sebagian besar darahnya dapat keluar
(bleeding), yaitu dengan mengeluarkan insangnya. Keluarnya banyak
darah menyebabkan ikan lebih putih dan pembusukkannya berkurang
sebab dengan keluarnya darah, maka pembuluh darah akan tersumbat
sehingga bakteri pembusuk dapat menyebar ke dalam daging.
Pada ikan yang diberi perlakuan pembekuan dan disimpan di dalam
gudang beku selama waktu tertentu, berlangsunglah sejumlah perubahan
pada ikan. Seandainya ikan beku itu dilelehkan dan diamati keadaannya,
mungkin terlihat perubahan berikut :
1.

Permukaan ikan mengering berhubung kehilangan uap air,


sedangkan rupa dan warnanya mengalami perubahan dari aslinya.
Tekstur ikan menjadi lunak (lembek).

2.

Pemisahan antara daging otot pada dan cairan jaringan. Cairan ini
dikenal sebagai drip yang merembes keluar kalau daging ikan
ditekan dengan jari artinya tidak dapat diserap kembali oleh daging.

3.

Sesudah ikan dimasak, tekstur rasanya tegar atau berserat dan


citarasa normal menghilang, tidak dapat dinikmati lagi.

Proses pengenyahan panas atau penurunan suhu selama ikan dibekukan,


berlangsung melalui tiga tahap.
1. Tahap pertama
Penurunan suhu ikan yang berlangsung sangat cepat, hingga suhunya
sedikit di bawah 00 C, yakni saat air ikan mulai membeku.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

345

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Tahap kedua
Tahap penahanan panas, artinya pengenyahan panas dari ikan
berlangsung lambat dan sukar, berhubung bagian terbesar dari air ikan
harus dirubah menjadi kristal es (air pada tubuh ikan meliputi 60 80%
dari berat tubuhnya). Hal ini berlangsung pada wilayah suhu antara 10
sampai 60 C.
3. Tahap ketiga
Pembekuan selanjutnya atas air ikan yang tersisa, mencapai suhu operasi
yang ditentukan sebelumnya, yang sama dengan suhu operasi
penyimpanan beku, misalnya 300 C. Penurunan dari 6 oC ke bawah
mencapai 180 C atau lebih rendah berlangsung relatif cepat.
Disarankan agar produk ikan beku disimpan pada suhu yang tepat sesuai
menurut jenis, tipe produk dan lamanya waktu penyimpanan yang
diinginkan. Bagi produk ikan beku yang akan digunakan sebagai bahan
mentah bagi pengolahan selanjutnya, dianjurkan menyimpan dalam
gudang beku pada 180 C atau lebih rendah.
Sebagai pedoman umum dapat dikemukakan bahwa daya awet dalam
gudang beku setiap jenis ikan dan tipe produk olahannya, akan sangat
tergantung pada tingkat suhu penyimpanan, semakin rendah suhu simpan
maka semakin panjang daya awetnya. Perlu diingatkan bahwa laju
penurunan mutu adalah fungsi dari suhu simpan dan waktu simpan.
Sebagai contoh, ikan cakalang beku masih tetap berkondisi baik selama 5
bulan pada 200C tetapi berkondisi baik mencapai 9 bulan pada 300C.
temperatur penyimpanan 200C bagi ikan kurus (yang berkadar lemak
rendah hanya beberapa persen) dan 300C bagi ikan berlemak (seperti
kembung, lemuru, dan lain-lain). Bagi ikan kurus yang akan disimpan
lebih setahun, dianjurkan menyimpannya pada suhu 300C. Suhu
penyimpanan beku bagi produk tuna yang akan dimanfaatkan untuk
sashimi, dianjurkan pada suhu
-500C hingga 600C.
Suhu
Pada 300C daya awet lebih panjang dari pada 200C.
penyimpanan, disamping harus serendah mungkin, harus pula seragam
dan konstan. Artinya, suhu rendah itu harus merata dan seragam pada
setiap titik dalam ruangan gudang beku dan harus konstan atau sedikit
saja berfluktuasi selama proses penyimpanan beku (disarankan fluktuasi
suhu itu tidak lebih dari + 20 C).
Penyeragaman dan pemerataan suhu rendah dalam gudang beku agak
sukar diciptakan, upaya ini tergantung pada cara penyusunan produk
beku, sistem pengaturan suhu rendah, cara pengoperasian gudang beku,
dan lain-lain. Yang harus diusahakan adalah kondisi ideal yakni suhu
rendah sama pada setiap titik dalam gudang beku, misalnya 300 C.
Jadi kesimpulannya, kemunduran mutu atau pembusukan ikan adalah
proses alamiah yang berlangsung setelah ikan mati, tetapi dengan cara
perlakuan atau penanganan (handling) yang baik, proses-proses tersebut

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

346

Teknika Kapal Penangkap Ikan

dapat diperlambat sehingga memperpanjang daya awet ikan sebagai


makanan.
Bakteri pembusuk hidup pada suhu 0 o 30o C (suhu optimal 15o C). Bila
suhu diturunkan dengan cepat sampai di bawah 0 o C, maka proses
pembusukan akan terhambat, karena pada suhu ini kegiatan bakteri
terhenti sama sekali. Sedangkan kegiatan enzym-enzym perusak telah
lebih dahulu terhambat. Dasar-dasar inilah yang digunakan untuk
mengawetkan ikan dengan es (termasuk pembekuan). Cara ini sering
digunakan untuk menyimpan ikan segar dan ikan asin, ikan asap serta
produk yang diolah dengan bahan pengawet asam asetat (marinade = acar
ikan).
Hasil tangkapan yang telah didinginkan dengan baik, akan berkurang
nilainya jika dalam penyimpanannya kurang memeperhatikan tempattempat yang dapat mengeluarkan/ merambatkan panas sehingga akan
menaikkan suhu ikan yang sedang didinginkan dan akhirnya akan
merusakkannya. Di kapal banyak sekali sumber-sumber panas yang perlu
dihindari atau dijauhkan dari lokasi produk makanan yang sedang
disimpan/didinginkan. Sumber-sumber tersebut bisa berupa lantai dek,
dinding kapal, pipa-pipa mesin dan pembuangan, dapur, kamar mesin dan
banyak lagi lainnya. Semuanya harus dijauhi atau paling tidak diproteksi
sehingga panas yang ditimbulkan jangansampai mempengaruhi produk
makanan / ikan yang disimpan tadi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :
1.

Selama pendinginan ikan, haruslah dicegah penerobosan udara panas


ke dalam palka khususnya ke dalam ikan melalui pintu palka yang
terbuka lebar dalam keadaan lama

2.

Melindungi ikan dari panas, aksi pembusukan, penularan dan


pencemaran. Pada seluruh mata rantai penanganan, ikan basah harus
dilindungi dari kemungkinan perembesan oleh panas ke dalam wadah
(peti, palka, dll).

3.

Kalau tidak cukup es ditaruh pada sisi-sisi dinding palka, panas dari
luar palka dapat mempengaruhi bagian-bagian terluar dari lapisanlapisan ikan, teristimewa kalau palka tidak di-insulasi. Insulasi yang
baik antara lapisan penutup (lining) palka dan dinding (kulit) kapal
merupakan jaminan yang baik terhadap distribusi es yang tidak
merata, penerobosan panas ke dalam dari air laut yang panas di luar,
dapat mengakibatkan pamakaian sejumlah es yang ekonomis.

4.

Kalau bagian atas susunan rak tidak ditutupi dengan lapisan es yang
tebal, maka lapisan ikan teratas akan menjadi panas akibat panas
yang meresap dari geladak.

5.

Ikan-ikan yang berada dalam peti yang disusun terlalu dekat kepada
tanktop atau lapisan penutup palka tanpa perlindungan es yang cukup
atau tanpa insulasi, maka isi peti akan menjadi panas dan segera
membusuk.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

347

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 24
MERAWAT ALAT PENANGKAP IKAN

Potensi sumberdaya perikanan di perairan Indonesia diperkirakan sebesar


4,5 juta ton/ tahun dan ZEE Indonesia sebesar 2,1 juta ton/ tahun atau
keseluruhannya 6,6 juta ton/ tahun. Potensi total tersebut diperkirakan
meliputi sumberdaya perikanan pelagis 3,5 juta ton/ tahun, demersal 2,5
juta ton/ tahun, tuna 166 ribu ton/ tahun, cakalang 275 ribu ton/ tahun,
udang 69 ribu ton/ tahun dan ikan karang 48 ribu ton/ tahun.
Dari seluruh potensi sumberdaya ikan tersebut, jumlah tangkapan yang
diperbolehkan (JTB) sebesar 5,01 juta ton per tahun. Dibandingkan
dengan realisasi produksinya diperkirakan sebesar 3.616.140 ton, maka
tingkat pemanfaatannya sekitar 57,0%, maka peluang pengembangannya
di beberapa perairan masih cukup besar. Untuk mengembangkan/
memanfaatkan sumberdaya ikan yang melimpah tersebut para nelayan
Indonesia menggunakan kurang lebih 29 macam golongan alat
penangkap. Bila diklasifikasikan (diringkas) menjadi lebih kecil lagi
meliputi antara 5-9 kelompok. Secara keseluruhan jumlah jenis alat
penangkap ikan, udang dan biota laut lainnya diperkirakan ada 250 jenis.
Dari jumlah tersebut sebagian besar (90%) adalah merupakan alat
penangkap tradisional, sedang sisanya dapat dikategorikan sebagai alat
penangkap modern atau semi modern.
24.1.

JENIS ALAT TANGKAP

Ada berbagai macam jenis alat untuk menangkap ikan yang biasa
digunakan, antara lain :

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

348

Teknika Kapal Penangkap Ikan

24.1.1. Jaring Rampus


Jaring rampus disebut juga jaring klitik atau jaring sirang adalah sejenis
jaring insang terbuat dari nilon benang tunggal dan dioperasikan didasar
perairan. Unit jaring rampus terdiri dari 30 tinting. Jumlah tingting yang
dioperasikan dalam setiap penawuran adalah 15 buah.
Desain jaring rampus pada umumnya seperti pada gambar 24.1.

Gambar 24.1. Jaring Rampus


Jaring rampus terbuat dari bahan nilon benang tunggal dengan diameter
0,25 mm dan berukuran mata 63,50 mm (2,50 Inc). Dimensi panjang
jaring 34,65 m dan dalam 3,92 m serta koefisien pengikatan adalah 0,49.
24.1.2. Jaring Payang
Secara keseluruhan dimensi alat tangkap jaring payang mempunyai
panjang rentang sayap jaring sisi kanan dan kiri 250 m serta panjang
bagian badan dan kantong 37 m. Rincian untuk bahan jaring payang
adalah sebagai berikut ini,
24.1.2.1. Sayap
Bahan dan ukuran dari sayap jaring payang seperti di bawah in :
1. Material PE 300d/12. Ukuran mata, jumlah mata, panjang dan lebar
sayap.
2. Bagian ujung sayap
3. Lebar mata jaring (mesh size) : panjang 5 , 10, panjang 50 mata dan
32 mata
4. serta lebar 40 mata dan 150 mata .
5. Bagian sayap tengah, panajang 352 mata dan lebar 190 mata.
6. Bagian sayap pangkal, lebar mata jaring 5 , panjang 106 mata dan
lebar 475 + 25 mata.
24.1.2.2. Badan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

349

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1. Material PE 300d/6, ukuran mata : jumlah mata, panjang dan lebar


badan jaring.
2. Bagian badan ke 1 (Bagian mulut).
3. Lebar mata jaring 2 inc, 1 inc, Panjang 187 mata, 360 mata dan lebar
2.000 mata, 4000 mata.
4. Bagian badan ke 2.
5. Lebar mata jaring 0,75 inc, Panjang 160,160,160 mata dan lebar
3.500, 3.000, 2.500 mata.
24.1.2.3. Kantong
Bahan dan ukuran dari kantong jaring payang dapat diketahui sebagai
berikut :
1. Material waring, Panjang 10 m dan lebar 12 m.
2. Tali-temali.
3. Material PE dan curalon, tali ris atas dan pelampung bahan PE
diameter 5 mm, panjang 165 mm.
4. Tali ris bawah bahan curalon diameter 12 mm, panjang 145m.
5. Tali selambar masing-masing bahan PE diameter 12 mm, panjang
250 m.
24.1.2.4. Pelampung
Bahan, ukuran dan jumlah pelampung pada jaring payang adalah sebagai
berikut ini :
1. Material synthetic plastik bentuk bulat diameter 20 cm.
2. Jumlah 4 buah dan pelampung tambahan diameter 28 cm 1 buah, jarak
pemasangan 6m, pelampung dipasang hanya pada daerah bagian
mulut jaring atau pangkal sayap.
2.1.1.1.Pemberat
Bahan, ukuran dan jumlah pemberat pada jaring payang adalah :
1. Material batu kali.
2. Ukuran berat 1,5 kg, jumlah 4 buah, pemasangan pada bagian daerah
mulut jaring.
Desain alat tangkap jaring payang mirip dengan alat tangkap fish net
dengan gambar desain seperti di bawah ini.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

350

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 24.2. Desain Jaring Payang


24.1.3. Purse Seine
Jaring cincin atau biasa disebut dengan purse seine adalah alat tangkap
yang dipergunakan untuk menangkap ikan pelagis yang bergerombol
seperti: kembung, lemuru, layang, tongkol, cakalang, dan lain sebagainya.
Pada dasarnya pukat cincin dibuat dari beberapa lembar jaring yang
berbentuk segi empat yang gunanya untuk menggurung gerombolan ikan
kemudian tali kerut (purse line) di bagian bawah jaring ditarik sehingga
jaring itu menyerupai kantong yang besar dan ditarik ke atas kapal pada
salah satu sisinya atau kedua sisinya sehingga kantong semakin mengecil
dan ikan dapat dipindahkan ke atas dek. Jaring merupakan dinding yang
tidak dapat ditembus oleh ikan, sehingga ikan terkurung di dalam kantong
(bunt) purse seine.
Alat tangkap ini merupakan alat tangkap yang selektif, kita dapat
memilih atau mengatur ukuran mata jaring (mesh size) yang digunakan
sehingga ikan-ikan yang kecil dapat meloloskan diri. Purse seine dibagi
menjadi dua, yaitu:
1. Purse seine dengan kantong (bunt) di tenggah biasanya penarikan
jaring dilakukan dari ke dua ujungnya, purse seine ini biasanya ditarik
dengan tenaga manusia.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

351

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Purse Seine kantongnya di pingging biasanya ditarik dengan mesin


penarik (power block) yang digerakan dengan hidrolik.
Alat tangkap ini merupakan alat tangkap yang selektif, kita dapat
memilih atau mengatur ukuran mata jaring (mesh size) yang digunakan
sehingga ikan-ikan yang kecil dapat meloloskan diri. Purse seine dibagi
menjadi dua, yaitu:
24.1.3.1. Bagian Utama
Sayap (wing), perut, bahu dan kantong merupakan dagian utama dari
pukat cincin, biasanya bagian ini dibuat dengan menggunakan benang
nylon (PA) atau bahan lainnya. Ukuran mata jaring (mesh size) biasanya
sama tetapi kadang kala berbeda. Hal ini disesuaikan dengan ikan yang
menjadi tujuan penangkapan. Pada setiap bagian jaring purse seine yang
menggunakan ukuran jaring yang berbeda, biasanya pada bagian sayap
merupakan menggunakan ukuran mata jaring yang paling besar dan
makin kearah kantong semakin mengecil.
Penggunaan benang pada umumnya kebalikan dari mata jaring, yaitu dari
sayap ke arah kantong semakin besar, maksudnya agar jaring pada
kantong lebih kuat. Sebab pada bagian kantong merupakan tempat
terkumpulnya ikan, sedangkan pada bagian sayap, perut dan bahu ukuran
benangnya relatif lebih kecil daripada ukuran beang pada kantong, hal ini
disebabkan pada bagian-bagian tersebut hanya merupakan bagian
penggiring ikan agar ikan berkumpul di kantong.
Desain jaring cincin sangat ditentukan oleh ukuran, bentuk badan dan
tingkah laku ikan (fish behavior) oleh jenis ikan yang menjadi tujuan
penangkapan. Berdasarkan hal ini kemudian ditentukan beberapa
parameter desain purse seine, seperti ukuran mata jaring, bahan jaring,
tali ris, pelampung, pemberat, cincin, hanging ratio dan extra buoyancy,
serta parameter lainnya sebagai berikut ini;
1. Penciutan (Shrinkage)
Penciutan pada pukat cincin dibutuhkan supaya jaring dapat melebar
kebawah dengan sempurna, biasanya pukat cincin jaringnya bersifat kaku
artinya penciutanya lebih kecil dari gillnet pada umumnya.
Penciutan pukat cincin biasanya kurang dari 30%. Penciutan bagian atas
kadang-kadang berbeda dengan penciutan bagian bawah, biasanya
penciutan bagian bawah lebih kecil daripada bagian atas sehingga tali ris
bawah lebih panjang dari tali ris atas.
2. Kelebihan Daya Apung (Extra Buoyancy)
Kelebihan daya apung atau biasa disebut dengan extra buoyancy adalah
selisih antara daya apung dengan daya tengelam. Extra buoyancy purse
seine biasanya berkisar antara 30% s/d 40%. Extra buoyancy pada alat
ini sebaiknya

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

352

Teknika Kapal Penangkap Ikan

sebesar-besarnya, sehingga alat ini dapat mengapung serta dapat


mengapungkan hasil tangkapan yang besar.
Rumus extra buoyancy adalah sebagai berikut :

EB(%)

TB TT
X100%
TB

Dimana :
EB = Extra buoyancy
TB = Total Daya apung
TT = Total Daya tenggelam
3. Pelampung (buoy)
Pelampung merupakan alat untuk mengapungkan seluruh jaring ditambah
dengan kelebihan daya apung (extra buoyancy), sehingga alat ini tetap
mampu mengapung walaupun di dalamnya ada ikan hasil tangkapan.
Bahan yang dipergunakan sebagai pelampung biasanya memiliki berat
jenis (bj) yang lebih kecil dibandingkan dengan bj air laut, selain itu
bahan tersebut tidak menyerap air. Pada umumnya pelampung purse
seine dibuat dari bahan plastik yang keras.
Ukuran pelampung disesuaikan dengan bentuk dan daya apung benda
tersebut, pelampung yang biasanya digunakan pada alat tangkap ini
berbentuk oval. Sedangkan jumlah pelampung tergantung dari extra
buoyancy yang diinginkan. Pelampung biasanya dipasang pada tali
pelampung (buoy line) yang besar ukuranya sama dengan tali ris atas
yang berbeda hanya arah pintalan tali tersebut.
4. Pemberat (Sinker)
Pemberat berfungsi untuk menenggelamkan badan jaring sewaktu
dioperasikan, semakin berat pemberat maka jaring utama akan semakin
cepat tenggelamnya. Tetapi
daya tenggelam ini tidak sampai
menenggelamkan pelampung jaring, sehingga pelampung jaring harus
memiliki extra buoyancy yang besar.
Pemberat dibuat dari benda yang berat jenisnya (bj) lebih besar dari bj air
laut, sehingga benda ini tenggelam di dalam air laut. Bahan yang biasa
dipergunakan adalah timah, bila menggunakan pemberat lain harus
dipergunakan bahan yang tidak mudah berkarat.
5. Tali Ris
Tali ris atas dan tali pelampung harus berbeda arah pintalanya,
maksudnya supaya jaring tetap lurus, demikian juga antara tali pemberat
dan tali ris bawah. Selain itu untuk memperkuat tali ris atas dengan tali
pelampung dan jaring serta untuk memperkuat tali ris bawah, tali
pemberat dan jaring ditambah dengan tali pengguat. Bahan tali ris ini

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

353

Teknika Kapal Penangkap Ikan

biasanya terbuat dari benang kuralon tetapi banyak juga yang


menggunakan polyester.

Gambar 24.3. Pemasangan Tali Ris Atas

Gambar 24.4. Pemasangan Tali Ris Bawah


6. Mata Pengguat (Selvage)
Selvage biasanya dibuat dari benang polyester (PE) atau kadang-kadang
mempergunakan bahan jaring sama dengan jaring utamna yang memiliki
ukuran mata (mesh size) yang sama dengan jaring utama tetapi ukuran
benangnya biasanya lebih besar. Selvage merupakan jaring yang
berfungsi untuk melindunggi bagian tepi jaring utama agar tidak cepat
rusak.
7. Tali ring
Tali ring adalah tali yang dipergunakan untuk mengantung cincin (ring)
pada tali ris bawah, bahan yang dipergunakan biasanya terbuat dari tali
kuralon.Tali ring dibuat 2 macam bentuknya yaitu tali ring kaki tunggal
dan kaki ganda.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

354

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 24.5. Tali Ring Kaki Tunggal

Gambar 24.6. Tali Ring Kaki Ganda

Gambar 24.7. Tali Ring Kaki Ganda (bentuk dasi)


8. Cincin (Ring)
Cincin atau biasa disebut ring pada umumnya berbentuk bulan, dimana
pada bagian tenggahnya merupakan tempat untuk lewatnya tali kerut, agar
ring terkumpul sehingga jaring bagian bawah tertutup. Bahan yang
dipergunakan biasanya dibuat dari besi dan kadang-kadang kuningan.
Ring ini selain memiliki fungsi seperti tersebut di atas berfungsi juga
sebagai pemberat.
9. Tali Kerut (Purse Line)
Tali kerut (purse line) yang biasa disebut oleh nelayan sebagai tali kolor
adalah tali yang berfungsi untuk menggumpulkan ris, sehingga bagian
bawah jaring tertutup dan ikan tidak dapat meloloskan diri.
Tali kerut harus dibuat dari bahan yang kuat sehingga pada umunya
ukuranya relatif lebih besar. Bahan yang dipergunakan biasanya kuralon
(PVA) dan kadang-kadang menggunakan tali polyester (PE), dan kadangkadang untuk purse seine dengan ukuran besar menggunakan tali baja.
(warp).
Ada beberapa ketentuan umum agar desain dapat dibaca dan dibuat alat
yang sebenarnya yaitu :

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

355

Teknika Kapal Penangkap Ikan

a) Panjang jaring digambar sama dengan tali pelampung


b) Dalam jaring adalah jumlah mata (mesh) dari atas kebawah, bila

memakai tali ris samping dalam jaring digambar sesuai panjang tali
ris samping
c) Data yang diperlukan dicantumkan langsung pada gambar atau dibuat

tabel sendiri.
d) Data yang dicantumkan langsung antara lain :

Panjang tali ris (atas, bawah, dan samping)

Jenis bahan dan ukurannya

Ukuran mata jaring, nomor benang, jumlah mata ke samping dan


kebawah

Hangging ratio

Daya apung (extra buoyancy).

24.1.3.2. Berdasarkan Letak Kantong pada Jaring Utama


1. Kantong terletak pada salah satu ujung jarring
2. Kantong terletak pada tenggah-tenggah jaring
24.1.3.3. Berdasarkan bentuk Jaring Utama purse seine
1. bentuk segi empat
2. bentuk trapesium
3. bentuk lekuk

Gambar 24.8. Bentuk Segi Empat

Gambar 24.9. Bentuk Trapesium

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

356

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 24.10. Bentuk Lekuk


24.1.3.4. Berdasarkan Jenis Ikan Yang Akan Ditangkap
1. Purse seine layang
2. Purse seine tongkol
3. Purse seine cakalang
4. Purse seine tuna
24.1.3.5. Berdasarkan Jumlah Kapal Yang Digunakan
1. Purse seine dengan satu buah kapal
2. Purseseine dengan dua buah kapal

Gambar 24.11. Purse Seine Dengan Satu Buah Kapal


24.1.4. Pukat Ikan / Trawl
Alat tangkap trawl adalah alat tangkap yang berbentuk kerucut yang
dioperasikan dengan menggunakan otter board untuk membuka mulut
jaringnya. Alat tangkap ini sering disebut juga pukat harimau, pukat ikan
atau pukat udang.
Trawl atau pukat udang adalah nama lain dari pukat harimau. Alat
tangkap ini sebenarnya telah dilarang dioperasikan di perairan Indonesia
yaitu sejak tanggal 1 Juli 1980 yaitu melalui Keputusan Presiden Nomor
39, karena diduga dapat merusak lingkungan dan sumberdaya ikan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

357

Teknika Kapal Penangkap Ikan

karena diduga dapat mengguras sumberdaya ikan dan sering menjadikan


ketegangan antar nelayan.
Hal ini menyebabkan produksi udang di Indonesia semakin menurun,
sehingga pemerintah berusaha mencari pengganti trawl, yang hasilnya
tidak diperoleh alat tangkap penganti yang memiliki kemampuan seperti
trawl.
Akhirnya pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 85 Tahun 1982
mengizinkan pukat udang (double rig shrimp net) dan pukat ikan (fish
net) yang merupakan modifikasi dari trawl dasar. Kedua alat ini prinsip
pengoperasiannnya sama dengan trawl.
Pukat udang adalah trawl yang dimodifikasi dengan alat pemisah ikan
(API) atau biasa disebut dengan BED (By Catch Excluder divice) pada
bagian anatara perut dan kantong. Alat tangkap ini boleh dioperasikan di
perairan Kepulauan Aru, key, Irian Jaya, Tanimbar dan Arafuru dengan
batas koordinat 130o Bujur Timur kearah timur. Maksud penambahan
API ialah untuk meloloskan kura-kura dan ikan yang tidak menjadi tujuan
penangkapan.
Sedangkan Pukat ikan tidak di tambah API tetapi hanya ukuran mata
jaringnya (mesh size) yang diperbesar. Maksudnya supaya ikan yang
masih kecil-kecil dapat meloloskan diri dari alat tangkap pukat ikan (fish
net), sehingga dapat berkembang biak.
Untuk
mempermudah
pemahaman maka istilah trawl di dalam modul ini digunakan untuk
menganti pukat udang dan pukat ikan.
Alat tangkap single trawl dan stern double trawl seperti disajikan pada
gambar di bawah ini;

Gambar 24.12. Single Trawl

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

358

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 24.13. Double Trawl


24.1.4.3. Bagian-Bagian Trawl
1. Badan Jaring
Badan jaring merupakan bagian utama (trawl), biasanya bagian ini terdiri
dari : sayap (wing) atas dan bawah, square (satu lembar jaring yang
berada di belakang pelampung bagian tenggah), baiting (punggung), belly
(perut), dan kantong (cod end) Pada pukat udang antara baiting dan
kantong dipasangi API.

Gambar 24.14. Badan Jaring Trawl


2. Tali Ris
Tali ris atas trawl biasanya terbuat dari kawat baja yang dibalut dengan
benang. Pada tali ris atas ini dipasangi pelampung yang berbentuk bola .
Jumlah dan ukurannya tergantung dari besarnya alat tangkap. Ris atas
biasa disebut juga dengan head line

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

359

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Tali ris bawah trawl biasanya terbuat dari kawat baja yang dibalut dengan
benang. Pada tali ris bawah ini dipasangi pemberat yang terbuat dari
rantai. Jumlah dan ukurannya tergantung dari besarnya alat tangkap.
Kadang kala pada bagian bawah ini dipasangi bobin (gelondong yang
terbuat dai besi atau karet). Ris bawah ini biasa disebut dengan ground
ropeatau foot rope
3. Tali Penarik (Warp)
Tali penarik yang biasa disebut dengan warp adalah tali yang
menghubungkan antara jaring dan kapal. Panjang warp biasanya berkisar
antara 3 6 kali kedalaman perairan. Biasanya terbuat dari kawat baja
dengan diameter > 14 mm.
4. Net Pendant (Bridle Line)
Net pendant adalah tali yang menghubungkan antara jaring dengan Tali
penghubung (joining wire), terbuat dari kawat baja dengan diameter 12
mm, panjangnya lebih kurang 25 m. Pada double rig trawl net pendant
langsung dihubungkan ke otter board.
5. Tali Penghubung (Joining Wire)
Tali penghubung biasa digunakan pada stern trawl. Tali penghubung ini
biasanya terbuat dari kawat baja dengan diameter > 14 mm, panjangnya
lebih kurang 25 m. Fungsi ini adalah untuk menghubungkan net pendant
dan otter pendant.
6. Otter Pendant
Otter pendant adalah tali baja yang menghubungkan antara otter board
dan joining wire, diameternya lebih kurang 12 mm, panjangnya lebih
kurang 3 m.
7. Ottrer Board
Otter board adalah papan/lembaran baja yang berfungsi untuk membuka
mulut jaring ke arah samping, cara kerja otter board seperti layanglayang. Besar kecilnya otter board tergantung dari besarnya jaring. Besar
pembukaan kesamping tergantung dari tali goci yang terdapat pada otter
board.
8. Alat Pemisah Ikan (BED)
Alat pemisah ikan biasanya terbuat dari kerangka baja berbentuk oval
pada bagian tenggahnya dipasangi jeruji, maksudnya ikan yang besar
tidak dapat menembus jeruji dan dapat meloloskan dari pintu bagian atas.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

360

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 24.15. Susunan Bagian Bagian Trawl


24.1.5. Long Line
Long line atau rawai tuna adalah alat tangkap yang terdiri dari rangkaian
tali dan pancing yang dipergunakan untuk menangkap ikan tuna yang
hidup di lautan. Alat tangkap long line ini sangat efektif untuk
menangkap ikan yang hidup sendiri (soliter) yang melakukan
perpindahan (migrasi) dari lautan yang satu ke lautan yang lain.
Alat tangkap long line merupakan alat tangkap yang selektif artinya
hanya ikan yang memiliki ukuran mulut tertentu yang dapat tertangkap.
Sedangkan cara operasinya secara pasif artinya alat tangkap hanya
diletakkan disuatu perairan dan menunggu ikan-ikan tuna untuk memakan
umpan.
24.1.5.3. Berdasarkan Letak Pemasangan Pada Saat Pengoperasian
1. Rawai permukaan (surface long line)

Gambar 24.16. Rawai Permukaan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

361

Teknika Kapal Penangkap Ikan

2. Rawai pertenggahan (sub surface long line)

Gambar 24.17. Rawai Pertengahan


3. Rawai dasar (bottom long line)

Gambar 24.18. Rawai Dasar


24.1.5.4. Berdasarkan Susunan Mata Pancing Pada Tali Utama
1. Rawai tegak (vertikal long line)
2. Rawai mendatar (horizontal long line)

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

362

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 24.19. Rawai Vertikal

Gambar 24.20. Rawai Horizontal


24.1.5.5. Berdasarkan jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan
Penggunaan long line juga dipilih berdasarkan ikan yang akan ditangkap
antara lain :
1. Rawai tuna (tuna long line)
2. Rawai albakora (albacore long line)
3. Rawai kakap dan lain sebagainya
24.1.5.6. Bagian-Bagian Dari Alat Tangkap Long Line
Pada umumnya rawai tuna (long line) terdiri dari gabungan beberapa
bagian yaitu : tali utama (main line), tali cabang utama (branch line), kilikili (swivel), tali cabang tambahan (skiyama), kawat baja (wire leader)
pancing (hook), tali pelampung (buoy line) dan pelampun (buoy). Untuk

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

363

Teknika Kapal Penangkap Ikan

membuat alat tangkap long line diperlukan bahan-bahan dan ukuran


seperti detalam Tabel berikut ini.
24.1.6. Jaring Insang /Gillnet
Badan jaring merupakan bagian utama (lihat Gambar) dari jaring insang,
biasanya bagian ini merupakan satu lapis lembaran jaring (webbing) atau
lebih yang memiliki ukuran mata jaring yang sama tiap lapisnya.

Gambar 24.21. Badan Gillnet


24.1.6.1. Tali Ris Atas (Float Line)
Tali ris atas gillnet terdiri dari dua utas tali, yaitu satu buah untuk
memasang pelampung yang disebut dengan tali ris utama yang lainnya
untuk memasang tali pengantung jaring. Kedua tali ini biasanya
berukuran sama tetapi berbeda arah pintalannya yaitu pintal kanan (S) dan
pintal kiri (Z).

Gambar 24.22. Tali Ris Atas

24.1.6.2. Tali Bawah (Sinker Line)


Tali ris bawah biasanya baik konstruksi, ukuran, maupun bahannya sama
dengan tali ris atas. Pada tali ris bawah yang satu dipasangi pemberat dan
yang lainnya dipasangkan pada jaring . Tetapi ada juga gillnet yang tidak
memiliki tali ris bawah, sebagai pemberatnya adalah benang saran yang
memiliki berat jenis (Bj) lebih besar dari Bj air laut, misalnya jaring
insang hanyut (drift gillnet).

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

364

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 24.23. Jaring Gill Net

Gambar 24.24. Tali Ris Bawah


24.1.6.3. Pelampung
Pelampung berfungsi sebagai alat apung bagi gillnet, pada gillnet
permukaan pelampung menjaga supaya jaring dapt berada pada
permukaan perairan, sedangkan pada gillnet dasar pelampung berfungsi
untuk menjaga jaring supaya vertikal terhadap permukaan perairan.
24.1.6.4. Pemberat
Pemberat berfungsi sebagai alat peningkat kecepatan tenggelam alat
tangkap atau untuk menempatkan alat tangkap pada kedalaman tertentu,
sekaligus berfungsi juga sebagai stabilisator bentuk alat tangkap di dalam
air. Umumnya alat penangkap ikan yang menggunakan bahan utama
webbing, pemberat di pasang pada ris bawah. Pemberat dipasang merata
sepanjang ris bawah berdasarkan rata-rata jumlah pemberat per meter
panjang ris bawah.
Pemberat pada gillnet permukaan berfungsi untuk menenggelamkan
bagian bawah jaring, pada gillnet pertengahan pemberat selain berfungsi
untuk menenggelamkan bagian bawah jaring, juga untuk

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

365

Teknika Kapal Penangkap Ikan

menenggelamkan seluruh jaring di dalam air pada kedalam tertentu. Hal


ini juga dipengaruhi oleh daya apung dari pelampung.

Gambar 24.25. Pemberat


24.1.6.5. Tali Slambar
Tali slambar adalah tali yang dipasang pada ujung jaring yang pertama
kali dan yang terakir diturunkan ke dalam air. Pada ujung tali slambar
yang pertama (slambar depan) dan yang terakir (slambar belakang)
diturunkan diberi pelampung tanda, kadang-kadang slambar belakang
diikatkan pada kapal. Panjang tali slambar disesuaikan dengan keinginan
ataupun panjang kapal penangkap.
Desain adalah suatu gambar atau pola untuk membuat suatu alat
penangkap ikan, biasanya memuat bentuk dan ukuran alat tangkap,
panjang jaring, jumlah mata ke bawah, tali ris, pelampung, dan pemberat
serta perlengkapan lainnya.
Desain jaring insang sangat ditentukan oleh ukuran, bentuk badan dan
tingkah laku ikan (fish behavior) oleh jenis ikan yang menjadi tujuan
penangkapan.
Berdasarkan hal ini kemudian ditentukanbeberapa
parameter desain jaring insang, seperti ukuran mata jaring, bahan jaring,
dan hanging ratio.
Ada beberapa ketentuan umum agar desain dapat dibaca dan dibuat alat
yang sebenarnya yaitu :
1. Panjang jaring digambar sama dengan tali pelampung
2. Dalam jaring adalah jumlah mata (mesh) dari atas kebawah, bila
memakai tali ris samping dalam jaring digambar sesuai panjang tali ris
samping
3. Data yang diperlukan dicantumkan langsung pada gambar atau dibuat
tabel sendiri.
Data yang dicantumkan langsung antara lain :
1. Panjang tali ris (atas, bawah, dan samping)
2. Jenis bahan dan ukurannya

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

366

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3. Ukuran mata jaring, nomor benang, jumlah mata ke samping dan


kebawah
4. Hangging ratio
5. Daya apung (extra buoyancy).
24.1.6.6. Penciutan Jaring (hanging ratio)
Penciutan (hanging ratio) adalah pajang jaring (webbing) dalam keadaan
mata tertutup dikurangi panjang tali ris berbanding dengan panjang tali
ris .Penciutan adalah berkurangnya ukuran panjang webbing dalam
keadaan mata jaring tertup setelah dipasang pada tali ris atas dan bawah.
Agar mata jaring terbuka maka webbing dipasangkan pada tali ris yang
panjangnya lebih kecil dari panjang webbing dalam keadaan mata tertutup
dengan distribusi jaring merata sepanjang tali ris atas dan bawah, kadang
kala penciutan pada bagian atas dan bawah tidak sama.
penciutan sering disebut juga dengan pemedekan (shrinkage atau
shortening). Guna shortening adalah agar alat tangkap memiliki daya
tangkap, sebab tanpa pemendekat maka jaring akan kaku dan ikan sulit
untuk tertangkap.Jaring insang untuk tujuan ikan tertangkap dengan
snagged, gilled, wedged, biasanya memiliki hangging 15 30% dan yang
bertujuan ikan terpuntal memiliki hanging 30 60 %
Contoh perhitungan shrinkage (S):
Selembar jaring (webbing) dalam keadaan mata tertutup (L) panjangnya
100 m, jaring tersebut akan dibuat menjadi alat penangkap ikan gillnet
dengan shrinkage 20%. Pertanyaan berapa panjang tali ris atas yang
dipergunakan . Jawab :
S(%)

L I
X100%
L

Dimana :
S

= Shrinkage

= Panjang webingg dalam keadaan mata tertutup

= Panjang tali ris

20%

100 I
X100%
100 I

20 = 100 I
Jadi panjang tali ris 100 20 = 80
24.1.6.7. Daya Apung
Daya apung adalah kemampuan suatu benda untuk terapung di air,
dengan demikian Bj pelampung harus lebih kecil dari Bj air laut (Bj air

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

367

Teknika Kapal Penangkap Ikan

laut lebih kurang 1025g). adapun rumus daya apung sebagai berikut : B =
V(1-C)
Dimana :
B

= Daya pung

=W:C

= Berat benda di udara

= Berat jenis benda

Contoh perhitungan
Sebuah pelampung plastik memiliki berat di udara 40 gram dengan berat
jenis (Bj) = 0,30, hitunglah daya apung pelampung plastik tersebut.
Jawab :
B = V(1-C) V = W: C
B =(W:C) x (1-C)
B = (W:C) x (1-C)
= (40 : 0,30) x (1-0,30)
= 133,3 x (1 0,30) = 93,3 gram
daya apung pelampung= 93,3 gram
24.1.6.8. Daya Tenggelam
Daya tengelam adalah kemampuan suatu benda untuk tengelam si dalam
air, dengan demikian Bj pelampung harus lebih besar dari Bj air laut (Bj
air laut lebih kurang 1025g). adapun rumus daya tenggelam sebagai
berikut :
T = V(C - 1)
Dimana :
T

= Daya tenggelam

=W:C

= Berat benda di udara

= Berat jenis benda

Contoh perhitungan
Sebuah pemberat yang terbuat dari timah memiliki berat di udara 20 gram
dengan berat jenis (Bj) = 11,30,
hitunglah daya tengelam pemberat tersebut .
Jawab:
T = V(C - 1) V = W: C

T =(W:C) x (C - 1)

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

368

Teknika Kapal Penangkap Ikan

T = (W:C) x (C - 1)
= (20 : 11,30) x (11,30 - 1)
= 1,77 x (10,30) = 18,23
daya tengelam pemberat = 18,23 gram
24.1.6.9. Kelebihan Daya Apung (Extra Buoyancy)
Kelebihan daya apung atau biasa disebut dengan extra buoyancy adalah
selisih antara daya apung dengan daya tengelam. Extra buoyancy gillnet
tergantung : bahan pembuatnya, bentuk gillnet, penempatan gillnet di
dalam air pada saat alat tangkap dioperasikan
Gillnet permukaan biasanya memiliki extra buoyancy antara 30% s/d
40%, untuk gillnet pertenggahan dengan extra buoyancy sama dengan
nol, dan gillnet dasar memiliki extra buoyancy negatif (Daya apung lebih
kecil dari daya tengelam). Rumus extra buoyancy adalah sebagai berikut :

EB(%)

TB TT
X100%
TB

Dimana :
EB = Extra buoyancy
TB = Total Daya apung
TT = Total Daya tenggelam
Contoh perhitungan
Sebuah Jaring gillnet akan dibuat dari selembar jaring nylon memiliki
berat di udara 10 kg , Bj = 1,14. Pelampung yang dipergunakan adalah
plastik dengan berat di udara setiap pelampungnya adalah 40 gram
dengan berat jenis 0,30. Bila gillnet tersebut merupakan gillnet
permukaan dengan extra buoyancy 20%, dan pemberat yang digunakan
terbuat dari timah yang setiap buahnya memiliki berat di udara 40 gram
dengan berat jenis (Bj) = 11,30 dengan jumlah pemberat 50 buah. Tali ris
atas menggunakan tali Polyethylene (PE) dengan berat diudara 3 kg,
sedangkan tali ris bawah menggunakan bahan yang sama tetapi lebih
kecil dengan berat diudara 1,5 kg, Bj PE = 0,96.
Hitunglah berapa Total daya apung dan jumlah pelampung yang yang
harus dipasang?
Jawab :
1. Nylon
Daya tenggelam T = V(C - 1)

V = W: C

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

T =(W:C) x (C - 1)

369

Teknika Kapal Penangkap Ikan

= (10 : 1,14) x (1,14-1)= 1,2 kg


2. Pemberat timah
Total berat diudara = 50 x 40 gr = 2000 gr = 2 kg
Daya tenggelam T = V(C - 1)

V = W: C

T =(W:C) x (C - 1)

= (2 : 11,3) x (11,3 1)= 1,8 kg


3. Tali ris atas dan bawah
Total berat diudara = 4,5 kg
Daya apung B = V(1- C)
V = W: C

B =(W:C) x (1 - C)

= (4,5 : 0,96) x (1 0,96)


= 0,20 kg
4. Total daya apungnya adalah:
(TT) = 1,2 + 1,8 0,20 = 2,8 kg
Extra buoyancy (EB) = 20%
EB(%)
20%

TB TT
X100%
TB

TB 2,8
X100%
TB

20 TB = 100 TB - 280
80 TB = 280
TB = 280 : 80 = 3,5 kg = 3500 gr
Jadi total daya apung = 3500 gr
5. Jumlah pelampung yang dibutuhkan adalah :
B = V(1-C)

V = W: C

B =(W:C) x (1-C)
B= (W:C) x (1-C)
3500= (W : 0,30) x (1 0,30)
3500= W/0,30 x 0,70
3500= 0,70W/0,30
W

= 1500 gram

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

370

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Jadi pelampung yang dibutuhkan


= 1500 gr : 40 gr = 37,5 buah
24.2.

Alat Bantu Penangkapan

Alat bantu penangkapan mempunyai peranan yang signifikan saat


digunakan di dalam mengoperasikan alat tangkap. Alat bantu yang
digunakan sebagai alat bantu penangkapan ikan di kapal antara lain :
1. Winch
Winch digunakan untuk menarik dan mengulur warp, untuk menarik lazy
line, mengangkat otter board untuk di bawa ke ujung boom dan
mengangkat bagian kantong ke atas dek kerja haulling. Dalam
pengoperasiannya winch ada yang membutuhkan tenaga listrik dan ada
yang tidak, seperti langsung dikopel dengan main engine sehingga tidak
membutuhkan tenaga listrik.
2. Garuk
Dipakai untuk memisahkan hasil tangkapan dan juga untuk menjaga
keselamatan kerja. Alat ini dibuat dari besi panjang dengan ukuran 30 cm.
3. Ganco
Digunakan untuk mengait lazy line pada saat haulling kemudian dikaitkan
ke winch untuk menarik alat tangkap pukat udang keatas dek.
4. Takal (blok)
Terbuat dari bahan besi dan terdiri dari satu keping yang digunakan untuk
membantu pada saat pengangkatan alat tangkap pukat udang keatas dek.
5. Stooper hook
Digunakan untuk menahan kantong jaring selama diatas kapal pada saat
haulling agar tidak tertarik kedalam air ketika selesai penarikan lazy line.
6. Fish finder
Fish finder dapat berguna untuk mengukur kedalaman perairan,
menggambarkan topografi bawah laut daerah perairan sehingga dapat
diketahui jenis dasar perairan apakah berlumpur, berpasir atau berlumpur
campur pasir dan berkarang, dan menentukan populasi ikan di dasar
perairan. Karena begitu pentingnya maka alat ini harus ada, jika tidak ada
maka proses penangkapan tidak akan memenuhi harapan. Dalam
pengoperasiannya alat ini memerlukan tenaga listrik.
7. Radar (Radio Detection and Ranging)
Pada kapal perikanan radar ini sangat penting, karena berfungsi untuk
menentukan posisi kapal sehingga dapat menghindari daerah-daerah yang
berbahaya, misalnya untuk menghindari tubrukan di laut, baik antar kapal
maupun dengan benda-benda disekitar perairan laut seperti gunung,
karang pada saat pelayaran berlangsung. Pengoperasian radar harus
memakai tenaga listrik.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

371

Teknika Kapal Penangkap Ikan

8. GPS (Global Position System)


Alat ini sangat dibutuhkan pada kapal perikanan, sebab mempunyai
fungsi dan peranan yang penting dalam keberhasilan penangkapan.
Diantaranya untuk menentukan posisi kapal di laut, yang sistem kerjanya
memakai perhitungan satelit. Maka alat ini sangat membantu operasional
dilaut, terutama ketika kapal mengadakan operasi penangkapan yang jauh
dari pantai/ pulau. Pada GPS model terbaru dilengkapi dengan cruise
track kapal. Dalam pengoperasian GPS ini juga harus memakai tenaga
listrik.
24.3. PERAWATAN
Perawatan alat tangkap ikan merupakan suatu kegiatan yang penting
dilakukan oleh awak kapal, setelah atau sebelum alat tangkap tersebut
digunakan. Hal tersebut untuk membuat alat tangkap tersebut bisa tahan
lama atau tidak cepat rusak dan nyaman saat dioperasikan.
Selain menjaga kebersihan dari alat tangkap tersebut setelah digunakan,
maka kegiatan perawatan yang juga harus dilakukan adalah sebagai
berikut ini:
24.2.1 Pemotongan jaring (Cuting)
Pemotongan jaring adalah cara untuk membentuk jaring atau
memperbaiki jarring yang robek. Pada alat tangkap trawl banyak
dilakukan pemotongan jaring untuk mendapatkan bentuk segi tiga
ataupun trapesium. Urutan pemotongan (cuting rate) akan memberikan
kombinasi tipe yang berbeda. Pemotongan
arah sejajar dengan
penjuraian jaring disebut dengan pemotongan Normal atau disebut N ,
pemotongan yang dilakukan memotong arah juraian jaring disebut
dengan potongan transversal atau disebut T, sedangkan potangan
dengan arah miring disebut dengan potongan bar atau disebut B. Untuk
lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

372

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Arah

Pemotongan

A r a h Y a rn

P e m o t o n g a n N ( N o rm a l)
a d a la h t e g a k lu r u s d e n g a n
a r a h p e n ju r a ia n ja rin g

Arah
Pemotongan

Arah Yarn

Pemotongan T (Transversal)
adalah sejajar dengan
arah penjuraian jaring

P e m o to n g a n B (B a r)
a d a la h m ir in g t e r h a d a p
a r a h p e n ju r a ia n ja r in g

Pe

A
m rah
ot
on
ga
n

A ra h Y a rn

Gambar. 24.26. Tehnik Pemotongan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

373

Teknika Kapal Penangkap Ikan

BAB 25
MENERAPKAN PENANGKAPAN IKAN DENGAN BERBAGAI
ALAT TANGKAP

25.1.

JARING CINCIN (Purse Seine)

Jaring cincin atau biasa disebut dengan purse seine adalah alat tangkap
yang dipergunakan untuk menangkap ikan pelagis yang bergerombol
seperti : kembung, lemuru, layang, tongkol, cakalang, dan lain
sebagainya.
Pada dasarnya pukat cincin dibuat dari beberapa lembar jaring yang
berbentuk segi empat atau hampir, yang gunanya untuk menggurung
gerombolan ikan kemudian tali kerut (purse line) di bagian bawah jaring
ditak sehingga jaring itu menyerupai kantong yang besar dan ditarik ke
atas kapal pada salah satu sisinya atau kedua sisinya sehingga kantong
semakin mengecil dan ikan dapat dipindahkan ke atas dek.
Jaring merupakan dinding yang tidak dapat ditembus oleh ikan, sehingga
ikan terkurung di dalam kantong (bunt) purse seine. Alat tangkap ini
merupakan alat tangkap yang selektif, yaitu dengan mengatur ukuran
mata jaring (mesh size) sehingga ikan-ikan yang kecil dapat meloloskan
diri.
Purse seine dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Purse seine dengan kantong (bunt) di tenggah .
Pada purse seine kantong di tenggah biasanya penarikan jaring dilakukan
dari ke dua ujungnya, purse seine ini biasanya ditarik dengan tenaga
manusia.
2. Purse seine dengan kantong di pinggir.
Purse Seine kantongnya di pingging biasanya ditarik dengan mesin
penarik (power block) yang digerakan dengan hidrolik. Pengoperasian
purse seine dapat dilakukan dengan satu buah dan dua buah kapal, hal ini
tergantung dari ukuran kapal, ukuran jaring, dan jenis hasil tangkapan.
Pukat cincin atau lazim disebut dengan purse seine adalah alat
penangkap ikan yang terbuat dari lembaran jaring berbentuk segi empat
pada bagian atas dipasang pelampung dan bagian bawah dipasang
pemberat dan tali kerut (purse line) yang berguna untuk menyatukan
bagian bawah jaring sehingga ikan tidak dapat meloloskan diri dari bawah
(vertikal) dan samping (horizontal), biasanya besar mata jaring
disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan ditangkap. Ukuran benang dan
mata jaring tiap-tiap bagian biasanya tidak sama. Disebut dengan pukat
cincin sebab pada jaring bagian bawah dipasangi cincin (ring) yang
berguna untuk memasang tali kerut (purse line) atau biasa juga disebut
juga tali kolor.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

374

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Purse seine dinamakan demikian karena sifat alat tangkap yang


menggurung gerombolan kemudian tali kerut (purse line) ditarik sehingga
jaring membentuk kantong yang besar, sehingga ikan-ikan terkurung.
Purse seine memiliki bentuk umum dan bagian-bagian yang sama
walaupun ada bermacam-macam purse seine.
25.1.1. Pengoperasian Purse Seine
Hal-hal yang harus dilakukan sebelum dan pada saat pengoperasian antara
lain :
25.1.1.1. Persiapan
Persiapan operasi penangkapan dimulai sejak masih di pelabuhan, adapun
persiapan yang harus dilakukan antara lain adalah :
1. Bahan bakar
2. Minyak pelumas
3. Bahan makanan
4. Penerangan
5. Minyak tanah
6. Peralatan navigasi (peta laut, kompas,teropong, satelit navisasi/GPS, )
7. Persiapan motor motor (motor induk dan motor bantu)
8. Menyusun alat tangkap
Penyusunan alat tangkap sebelum kapal purse seiner (kapal penangkap
ikan dengan purse seine) merupakan pekerjaan yang harus dikerjakan.
Penyusunan jaring di atas dek kapal biasanya disusun pada : samping kiri,
samping kanan, atau buritan kapal.
Penempatan alat tangkap di atas kapal ini disesuaikan arah putaran
baling-baling kapal. Pada kapal dengan baling-baling kapal putar kiri
(dilihat dari buritan kapal) biasanya pukat cincin diletakan di sisi kiri,
pada kapal dengan baling-baling putar kanan alat tangkap diletakan di sisi
kanan kapal, sedangkan penyusunan di buritan kapal dapat dilakukan
pada kapal baling-baling putar kiri maupun kanan.

Gambar 25.1. Penyusunan Jaring Di Sisi (Lambung) Kanan Kapal

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

375

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 25.2. Penyusunan Jaring Di Sisi (Lambung) Kiri Kapal

Gambar 25.3. Penyusunan Jaring Di Buritan (Dek Belakang)


25.1.1.2 Waktu Penurunan
Penangkapan dengan purse seine biasanya dilakukan pada sore (setelah
matahari terbenam sampai dengan pagi hari (menjelang matahari terbit),
kadang kala dilakukan siang hari.Waktu penangkapan ini berhubungan
dengan berkumpulnya ikan di alat penggumpul ikan (rumpon dan lampu).
Pada saat malam ikan-ikan pelagis yang menjadi target penangkapan
biasanya kumpul bergerombol di daerah sekitar rumpon, sehingga pada
saat ini paling tepat purse seine dioperasikan.
Tetapi ada pula operasi penangkapan tidak menggunakan rumpon tetapi
mencari gerombolan ikan yang ada dengan menggunakan alat bantu
pencari ikan/SONAR (Sound Navigation and Ranging) yaitu suatu alat
yang dapat dipergunakan untuk mengetahui keberadaan gerombolan ikan
di dalam laut.
Pada umumnya para nelayan mengoperasikan 2 s/d 4 kali sehari, hal ini
tergantung dari jumlah ikan yang tertangkap. Bila hasilnya banyak maka
operasi penangkapan sampai dengan penyimpanan hasil ke dalam palkah
relatif membutuhkan waktu yang lama, sehingga dalam satu hari hanya
melakukan dua kali penangkapan.
Demikian sebaliknya bila hasil tangkapan sedikit maka operasi
penangkan sampai dengan penyimpanan memerlukan waktu yang sedikit

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

376

Teknika Kapal Penangkap Ikan

pula, sehingga dalam satu hari dapat dioperasikan purse seine lebih dari
empat kali.
25.1.1.3 Daerah Penangkapan (Fishing Ground)
Daerah penangkapan atau lazim disebut fishing ground adalah suatu
daerah dimana ikan dapat ditangkap dengan hasil tangkapan ikan yang
mengguntungkan. Adapun syarat daerah penangkapan pengoperasian
purse seine yaitu :
1. Bukan daerah yang dilarang menangkap ikan
2. Terdapat ikan pelagis yang bergerombol
3. Perairannya relatif lebih dalam dibandingkan dengan dalamnya jaring
Operasi penangkapan yang membutuhkan rumpon sebagai alat bantu
menangkap ikan, maka kapal penangkap tersebut setelah sampai daerah
penangkapan yang diinginkan maka rumpon diturunnkan ke dalam
perairan dan diberi pelampung tanda kemudian ditinggalkan, biasanya
nelayan membawa lebih dari satu rumpon.
Tetapi ada pula rumpon tidak ditinggalkan, setelah kapal lego jangkar
(menurunkan jangkar) rumpon diturunkan ke dalam air kemudian
diikatkan satu buah di haluan di haluan dan satu buah di buritan kapal.
Lampu penerangan (listrik atau minyak tanah) dinyalakan di sekeliling
kapal sehingga kapal tersebut sanggat terang, maksudnya supaya ikan
bergerombol di sekitar kapal.
Penggunaan Sonar untuk mencari gerombolan ikan pada kapal penangkap
sanggat diperlukan tetapi cara mencari gerombolan ikan dapat dilihat
dengan memperhatikan tanda-tanda adanya ikan, yaitu :
1. Burung menyambar-nyambar ke permukaan air laut
2. Ikan-ikan yang melompat-lompat
3. Di permukaan laut terliahat ada buih-buih atau percikan air laut
4. Adanya riak-riak di permukaan
5. Warna air laut yang lebih gelap dari warna laut sekitarnya
25.1.1.4 Penurunan Alat Tangkap (Setting)
Ikan-ikan akan bergerombol di sekitar rumpon yang diberi penerangan
telah terlihat padat maka operasi penangkapan dapat dilaksanakan.
Pertama adalah melepas rumpon dari haluan kapal, rumpon yang di
buritan dinaikan ke atas kapal. Rumpon yang dilepas dan diberi tanda
serta penerangan, kemudian kapal hibob jangkar (menaikan jangkar)
menjauhi rumpon sampai dengan jarak yang optimum untuk melingkari
gerombolan ikan di sekitar rumpon.
Operasi penangkapan dengan purse seine perlu memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

377

Teknika Kapal Penangkap Ikan

1.

Arah angin

Yaitu jaring harus di atas, maksudnya jaring berada dimana arah angin
datang sedangkan kapal penangkap berada setelah alat tangkap. Sehingga
kapal tidak akan masuk ke dalam lingkaran purse seine,sebab kapal lebih
cepat terbawa angin dibandingkan dengan alat tangkap.

Gambar 25.4. Kedudukan Alat Tangkap Terhadap Angin


2. Arah arus
Kebalikan dari arah angin, yaitu kapal harus berada di atas arus sehingga
alat tangkap tidak hanyut di bawah kapal, sehingga menyulitkan
penarikan alat tangkap ke atas dek kapal.
3. Arah pergerakan gerombolan ikan.
Jaring harus menghadang arah pergerakan gerombolan ikan sehingga ikan
yang telah dilingkari tidak dapat meloloskan diri. Jaring diturunkan di
depan gerombolan ikan sehingga setelah selesai setting kapal berada di
belakang gerombolan ikan.

Gambar 25.5. Kedudukan Alat Tangkap Terhadap Arah Pergerakan Ikan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

378

Teknika Kapal Penangkap Ikan

4. Arah datangnya sinar matahari


Operasi penangkapan pada siang hari harus memperhatikan arah
datangnya sinar matahari, sebab bila penempatannya tidak sesuai maka
gerombolan ikan akan memencar sehingga operasi penangkapan tidak
berhasil. Terhadap datangnya sinar matahari alat tangkap harus diletakan
sesuai dengan datangnya sinar matahari dan kapal berada berlawanan
dengan datangnya sinar matahari.
Setelah penggaruh-penggaruh tersebut dipertimbangkan dan mencapai
jarak dengan gerombolan yang diinginkan maka pelingkaran jaring dapat
dimulai

Gambar 25.6. Kedudukan Kapal Penangkap Terhadap Arah Sinar Matahari

Adapun urut-urutan penurunan jaring sebagi berikut


1. Ujung-ujung tali ris (atas dan bawah) disatukan dengan tali kerut ,
kemudian diberi pelampung tanda dan pelampung tersebut di bawa
terjun kelaut oleh seorang anak buah kapal (ABK), pada kapal yang
beroperasi dengan dua kapal ujung tersebut di bawa oleh kapal yang
tidak membawa alat tangkap dan kapal yang satunya membawa alat
tangkap.
2. Setelah itu maka kapal penangkap akan melingkari gerombolan ikan
dimulai dengan menurunkan : jaring, pelampung, pemberat, dan
cincin, menuju ke arah pelampung tanda atau kapal pembawa ujung
jaring awal, bagi purse seine yang dioperasikan dengan dua buah
kapal. Kapal dengan baling-baling putar kanan maka arah pelingkaran
jaring ke arah kanan dan sebaliknya kapal dengan balin-baling putar
kiri pelingkaran jaring ke arah kiri
3. Pada saat pelingkaran sudah selesai maka ujung jaring yang satu
dinaikan ke kapal penangkap dan selanjutnya tali kerut ditarikk
hingga cincinnya terkumpul demikian juga jaring bagian bawah sudah
terkumpul menjadi satu di atas dek. Dengan demikian ikan-ikan sudah
terkurung di dalam jaring.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

379

Teknika Kapal Penangkap Ikan

25.1.1.5. Pengangkatan Alat dan Hasil Tangkapan


Pada keadaan tali kerut sudah ditarik cincin dan jaring bagian bwah sudah
terkumpul menjadi satu, maka:
1. Penarikan badan jaring dimulai dari ujung-ujung sayap, hal ini
dilakukan pada purse seine yang menggunakan kantong yang di
tenggah-tenggah jaring atau yang ditarik oleh tenaga manusia. Tetapi
pada purse seine yang ditarik dengan tenaga hidrolik (power block),
biasanya kantong dibuat pada salah satu ujung sayap. Penarikan jaring
dilakukan mulai dari ujung sayap yang tidak berkantong. Penarikan
dilakukan dengan melepas ring dari badan jaring, tetapi pada purse
seine yang ditarik manusia cincin tidak dilepaskan.
2. Setelah bagian wing, midle, shoulder naik keatas kapal, maka ikan
ikan terkurung pada bagian bunt yang relatif lebih sempit. Kemudian
ikan dinaikan ke atas kapal dengan memaki serok sampai dengan
ikan-ikan yang ada di dalam bunt terambil semua.
3. Bagian yang masih berada di dalam air di naikan keatas kapal dan
disusun kembali sehingga kapal siap setting.
4. Ikan hasil tangkapan dicuci bersih dan di simapan ke dalam palkah
pendingin. Cara penangan ikan di atas kapal dapat dilihat pada modul
penangan hasil tangkap.
25.2.

JARING PAYANG

Kapal yang digunakan jaring payang adalah jenis perahu compreng yang
terbuat dari kayu. Konstruksi bangunan dan tata letak ruangan perahu
tidak secara khusus seperti jenis perahu lainnya, yang ada hanyalah
ruangan sekat-sekat yang berada dibawah dek. Dimensi perahu, panjang
(L) 10,2 m, lebar (B) 2.75 , dalam (D) 1.0 m. Tenaga penggerak motor
diesel tempel (out boat) dengan kekuatan 15 HP. Kapal tidak dilengkapi
dengan alat bantu penangkapan (mekanik).
Perlengkapan alat
penanganan hasil berupa drum plastik atau keranjang plastik. Jumlah
anak buah kapal sebanyak 8 - 10 orang.
25.2.1. Daerah Penangkapan
Daerah penangkapan ikan jaring payang merupakan peraiaran pantai
dengan kedalaman anatara 30 80 m dan dioprasikan pada perairan
permukaan (pelagis).
25.2.2. Musim Penangkapan
Musim penangkapan ikan jaring payang dapat dioperasikan sepanjang
tahun dan pada puncaknya sekitar bulan Agustus hingga Oktober.
Trip operasi penangkapan ikan dilakukan setiap hari, berangkat dari
pangkalan pukul 03.00 pagi dan kembali pada pukul 06.00 pagi.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

380

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Pengoperasian jaring payang pada malam hari dengan tujuan


penangkapan jenis udang. Alat tangkap payang dapat dioperasikan
sebanyak sampai 8 kali atau tergantung banyaknya gerombolan ikan di
daerah penangkapan (fishing ground). Perbekalan bahan bakar untuk
mesin mampu menghabiskan sekitar 40 50 liter solar setiap trip, es
balok sebanyak 6 balok dan membawa perbekalan makanan.
25.2.3. Prosedur Penangkapan
Pengoperasian alat tangkap jaring payang pada umumnya dioperasikan
pada pagi hari sampai menjelang siang.

Gambar 25.7. Pengoperasian Jaring Payang


25.2.4. Cara pengoperasian Jaring Payang
Tahapan yang dilakukan untuk mengoperasikan jaring payang adalah :
1. Jaring payang dioperasikan pada siang hari khususnya untuk
menangkap jenis ikan, sedangkan untuk penangkapan jenis udang
(udang barat) dilakukan pada malam hari.
2. Prinsip pengoperasian jaring payang adalah dengan cara menggiring
gerombolan ikan dengan sayapnya kearah bagian kantong jaring.
3. Penawuran jaring, dilakukan bila sudah didapatkan gerombolan ikan
pada bagian permukaan perairan, penawuran jaring dilakukan pertama
dengan menurunkan pelampung tanda ( bendera ) yang kemudian
diikuti oleh tali selembar pertama, kemudian perahu terus bergerak
hingga tali selambar pertama selesai.
4. Jaring pada bagian sayap pertama diturunkan, badan dan kantong
jaring hingga pada bagian sayap jaring yang kedua dan tali selambar
yang kedua, dan kapal terus berjalan secara melingkar sambil

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

381

Teknika Kapal Penangkap Ikan

menurunkan tali selembar yang kedua menuju kearah pelampung


tanda yang pertama.
5. Setelah proses penawuran yang pertama selesai, kedua ujung tali
selembar ditarik masing-masing dengan bersama-sama.
6. Proses penarikan jaring, perahu dalam keadaan diam (mesin) mati.
7. Ikan hasil penangkapan dikeluarkan dari kantong dengan cara
menmbuka tali pada bagian ujung kantong, dan ikan ditempatkan
pada wadah.
8. Tali selambar dan jaring dibersihkan dan disusun kembali sesuai
dengan susunannya dan siap untuk dioperasikan lagi.
9. Proses penurunan jaring biasanya memerlukan waktu antara 5 7
menit dan penarikan jaring sekitar 10 15 menit.
25.2.5. Hasil Tangkapan Jaring Payang
Hasil tangkapan jaring payang adalah jenis ikan pelagis antara lain:
tongkol, tenggiri, tetengkek, manyung, layur, kembung, layang selar dan
jenis-jenis udang. Hasil tangkapan ikan per trip bila keadaan musim
mencapai 600 kg, serta hasil tangkapan udang mencapai 60 kg,
sedangakan bila tidak musim hasil tangkapan 10 kg 20 kg per-trip.
Jenis ikan pelagis yang tertangkap jaring payang antara lain : Tongkol,
Tenggiri, Tetengkek, Manyung, Layur, Kembung, Layang, Selar dan
Udang. Hasil tangkapan ikan pertrip pada keadaan musim dapat mencapai
500 s/d 600 kg, serta hasil tangkapan udang mencapai 50 s/d 60 kg.
Komposisi hasil tangkapan udang umumnya adalah udang jerbung 50 %,
udang windu 20 % dan udang dogol 30 %.
25.3.

PUKAT IKAN (Trawl)

Pukat ikan adalah nama lain dari pukat harimau atau biasa disebut dengan
trawl. Alat tangkap ini sebenarnya telah dilarang dioperasikan di perairan
Indonesia yaitu sejak tanggal 1 Juli 1980 yaitu melalui Keputusan
Presiden Nomor 39, karena diduga dapat merusak lingkungan dan
sumberdaya ikan karena diduga dapat mengguras sumberdaya ikan dan
sering menjadikan ketegangan antar nelayan.
Hal ini menyebabkan produksi udang di Indonesia semakin menurun,
sehingga pemerintah berusaha mencari penganti trawl , yang hasilnya
tidak diperoleh alat tangkap penganti yang memiliki kemampuan seperti
trawl
Akhirnya pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 85 Tahun 1982
mengizinkan pukat udang (double rig shrimp net) dan pukat ikan (fish
net) yang merupakan modifikasi dari trawl dasar. Kedua alat ini prinsip
pengoperasiannnya sama dengan trawl.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

382

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 25.8. Kapal Double Rig Trawl Sedang Beroperasi


Pukat udang adalah trawl yang dimodifikasi dengan alat pemisah ikan
(API) atau biasa disebut dengan BED (By Catch Excluder divice) pada
bagian anatara perut dan kantong. Alat tangkap ini boleh dioperasikan di
perairan Kepulauan Aru, key, Irian Jaya, Tanimbar dan Arafuru dengan
batas koordinat 130o Bujur Timur kearah timur. Maksud penambahan
API ialah untuk meloloskan kura-kura dan ikan yang tidak menjadi tujuan
penangkapan.
Sedangkan Pukat ikan tidak di tambah API tetapi hanya ukuran mata
jaringnya (mesh size) yang diperbesar. Maksudnya supaya ikan yang
masih kecil-kecil dapat meloloskan diri dari alat tangkap pukat ikan (fish
net), sehingga dapat berkembang biak.
Untuk
mempermudah
pemahaman maka istilah trawl di dalam buku ini digunakan untuk
menganti pukat udang dan pukat ikan.
25.3.1. Klasifikasi Trawl
Pengklasifikasian trawl dibagi berdasarkan :
25.3.1.1. Menurut Tempat Penurunan Jaring
1. Stern trawl, yaitu alat tangkap diturunkan dari buritan kapal
2. Side trawl yaitu alat tangkap diturunkan dari sisi lambung kapal
25.3.1.2. Berdasarkan Tempat Jumlah Jaring Pada Saat Dioperasikan
1. Satu buah biasanya dioperasikan melalui buritan dan kadang-kadang
melalui sisi lambung kapal
2. Dua buah biasa disebut dengan double rig trawl, alat ini dioperasikan
melalui boom (tiang) samping kiri dan kanan
25.3.1.3. Berdasarkan Jumlah Kapal
1. Satu buah kapal
2. Dua buah kapal (paranzella)

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

383

Teknika Kapal Penangkap Ikan

25.3.1.4. Berdasarkan Letak Alat Tangkap Sewaktu Dioperasikan


1. Trawl dasar (bottom trawl)
2. Trawl pertenggahan (mid water trawl)
3. Trawl Permukaan (Surface Trawl)
25.3.1.5. Berdasarkan Jumlah Panel
1. Dua panel
2. Empat panel
3. Enam panel
25.3.2. Pengoperasian Alat Tangkap Trawl
Sebelum mengoperasikan alat tangkap trawl, persiapn yang harus
dilakukan adalah :
25.3.2.1. Persiapan
Persiapan operasi penangkapan dimulai sejak masih di pelabuhan, adapun
persiapan yang harus dilakukan antara lain adalah :
1. Bahan bakar
2. Minyak pelumas
3. Bahan makanan
4. Penerangan
5. Minyak tanah
6. Peralatan navigasi (peta laut, kompas, teropong, satelit navisasi/gps, )
7. Persiapan motor motor (motor induk dan motor bantu)
8. Menyusun alat tangkap
Peralatan harus dipersiapkan secara cermat sebelum operasi
penangkapamn dimulai, adapun persiapan tersebut yaitu : jaring disusun
di atas geladak (dek). Pengoperasian trawl dapat dibagi menjadi tiga
tahapan yaitu : setting, towing, dan hauling.
25.3.2.2. Daerah Penangkapan (Fishing ground)
Daerah penangkapan atau lazim disebut fishing ground adalah suatu
daerah dimana ikan dapat ditangkap dengan hasil tangkapan ikan yang
mengguntungkan. Adapun syarat daerah penangkapan pengoperasian
trawl adalah :
1. Bukan daerah yang dilarang menangkap ikan
2. Dasar perairan merupakan pasir dan lumpur atau kombinasi dari
keduanya

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

384

Teknika Kapal Penangkap Ikan

3. Perairannya relatif dangkal kurang dari 100 m.


25.3.2.3. Penurunan Alat (Setting)
Cara penurunan alat adalah sebagai berikut :
1. Kapal maju perlahan dengan haluan yang telah ditentukan
2. kantong yang telah diikat diturunkan kedalam air diikuti dengan
bagian jaring, sayap, net pendant, joining wire, otter pendant, otter
board, dan warp.
3. Warp diulur (harea) dari penggulung warp (trawl winch) sepanjang 3
6 kali kedalaman perairan.
4. Setelah mencapai panjang warp sesuai dengan perhitungan maka warp
pada trawl winch dikunci, sehingga tidak bertambah lagi. Maka
kegiatan selanjutnya adalah towing
25.3.2.4. Penurunan Double Rig Trawl
Pada prinsipnya sama dengan stern trawl, tetapi pada double rig trawl
jaring telah digantung di rig kiri dan kanan. Adapun urut-urutan setting
pada double rig trawl sebagi berikut :
1. Kapal maju perlahan dengan haluan yang telah ditentukan.
2. Kantong yang telah diikat diturunkan kedalam air diikuti dengan
bagian jaring , sayap, net pendant, jotter board, dan warp. Jaring kiri
kanan diarea bersamaan.
3. Warp diulur (harea) dari penggulung warp (trawl winch) sepanjang 3
6 kali kedalaman perairan.
4. Setelah mencapai panjang warp sesuai dengan perhitungan maka warp
pada trawl winch dikunci, sehingga tidak bertambah lagi. Maka
kegiatan selanjutnya adalah towing.
25.3.2.5. Penarikan Alat (Towing)
Penarikan alat tangkap di dalam air (towing) atau lebih tepatnya adalah
penyeretan trawl di dalam air biasanya dilakukan dengan kecepatan antara
3 sampai dengan 5 knot (mil/jam).
Towing dilakukan selama 2 sampai dengan 3 jam pada kedalaman
perairan yang hampir sama kedalamannya. Pada saat towing dilaksanakan
anak buah kapal (ABK) dek yang bertugas jaga di ruang kemudi harus
selalu memperhatikan fish finder (alat untuk mengetahui gerombolan ikan
dan dasar perairan) dan keadaan sekeliling kapal, hal ini dilakukan untuk
menghindari trawl tersangkut pada dasar perairan dan tabrakan dengan
kapal lainnya.
Jika dasar perairan semakin dangkal atau ada tonjolan maka kapal
ditambah kecepatanya sampai tonjolan itu dilewati, atau dengan
memperpendek warp sehingga jaring tidak tersamgkut pada tonjolan

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

385

Teknika Kapal Penangkap Ikan

tersebut. Towing pada kapal stern trawl dan double rig trawl pada
prinsipnya sama.
25.3.2.6. Penaikan Alat Tangkap (Hauling)
Hauling adalah menaikan alat tangklap ke atas dek kapal, hal ini
dilakukan setelah towing dianggap cukup. Adapun urut-urutan hauling
sebagai berikut :
1. Trawl winch dihidupkan kemudian kuncinya dilepas dan warp mulai
ditarik sampai dengan otter board . kemudian lazy line yaitu tali yang
menghubungkan antara kantong jaring dan net pendant, maksudnya
agar hanya kantongnya saja yang ditarik keatas dek kapal, sedangkan
badan jaring tetap di dalam air. Hal ini diperlukan untuk mempercepat
waktu hauling.
2. Setelah otter board naik ke atas dek, biasanya diikatkan pada tiang
buritan (gallow). Kemudian lazy line ditarik dengan menggunakan
penggulung (capstand) sampai dengan seluruh kantong jaring naik ke
atas dek.
3. Kantong digantungkan pada boom belakang dan dibuka tali pengikat
kantongnya, sehinnga ikan-ikan hasil tangkapan tercurah di dek
belakang.
4. Setelah isi kantong dikeluarkan semua, kemudian kantong diikat
kembali dan siap untuk dilaksanakan setting.
5. Ikan hasil tangkapan dipilih (sortir) sesua jenis dan ukuran ikan ,
kemudian dicuci dan disimpam ke dalam palkah. Maka selesailah
operasi penangkapan, dan dapat operasi penangkapan dapat
dilanjutkan kembali.
Pada operasi penangkapan dengan kapal double rig traw pada dasarnya
sama dengan stern trawl tetapi pada kapal double rig trawl yang dinaikan
dua jaring yaitu jaring kiri dan kanan secara bersamaan. Hasil tangkapan
yang diperoleh biasanya ikan-ikan dasar (kakap, kerapu, kurisi, udang dan
lain sebagainya).
25.4.

JARING INSANG (Gillnet)

Jaring insang atau lazim disebut dengan gillnet adalah alat penangkap
ikan yang terbuat dari lembaran jaring berbentuk segi empat pada bagian
atas dipasang pelampung dan bagian bawah dipasang pemberat, biasanya
besar mata jaring disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan ditangkap.
Disebut dengan jaring insang sebab ikan yang tertangkap biasanya terjerat
pada tutup insangnya, walaupun tidak selalu demikian.
Gillnet berbentuk empat persegi panjang yang menyerupai net pada
permainan bulu tangkis. Jaring ini pada bagian atas dipasang pelampung
dan bagian bawah dipasang pemberat. Jaring insang yang biasa disebut
dengan gillnet biasanya dipasang secara pasif menunggu ikan yang
menabraknya. Jaring insang merupakan alat tangkap yang selektif,

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

386

Teknika Kapal Penangkap Ikan

maksudnya jika diameter tubuh ikan lebih kecil dari ukuran mata jaring
maka akan lolos dan yang ukuranya sama atau lebih besar akan
tertangkap. Hal ini akan sangat bermanfaat dalam pengaturan populasi
ikan di suatu perairan, misalnya dengan membatasi ukuran mata jaring
(mesh size) sehingga ikan-ikan yang masih kecil dapat meloloskan diri.
Gillnet dioperasikan secara vertikal dengan memotong alur gerakan
renang ikan. Pada umumnya alat tangkap ini ditujukan untuk menangkap
ikan-ikan yang memiliki ukuran badan yang seragam seperti tongkol,
cakalang, kembung, layang, bawal, kakap, dan lain sebagainya, ikan-ikan
ini terjerat pada insangnya. Namun demikian kenyataanya ikan yang
sangat besar seperti hiu, tuna, marlin dan lain sebagainya tertangkap
disebabkan ikan-ikan ini terpuntal oleh gillnet, bahkan kepiting dan
udangpun tertangkap juga oleh alat tangkap ini.

Gambar 25.9. ABK Sedang Menarik Jaring Gill Net


Konstruksi jaring insang sangat sederhana, yang terdiri dari satu lembar
jaring yang disebut dengan satu pis (piece). Alat tangkap gillnet biasanya
dioperasikan baik oleh perusahaan yang besar sampai dengan nelayan
kecil dengan perahu yang sangat sederhana. Satu kapal penangkap dengan
ukuran 5 10 GT biasanya membawa antara 40 sampai dengan 50 pis
gillnet. Pembuatan gillnet sangat ditentukan oleh: ukuran ikan, bentuk
badan dan tingkah laku ikan (fish behavior) yang menjadi tujuan
penangkapan.
Adapun cara ikan tertangkap oleh gillnet yaitu sebagai berikut :
1. Terjerat pada sebelum tutup insangnya disebut dengan snagged
2. Tertjerat pada celah insangnya (overculum) disebut dengan gilled
3. Terjerat setelah celah insang disebut dengan wedged
4. Terpuntal ( misalnya pada: kaki; sirip; sungut ,dll) disebut dengan
entangled

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

387

Teknika Kapal Penangkap Ikan

25.4.1. Klasifikasi
Pengklasifikasian jaring gillnet dibagi berdasarkan :
25.4.1.1. Berdasarkan Bentuk Jaring dan Waktu Dioperasikan
1. Gillnet mendatar
2. Gillnet lingkar (encircling gillnet)
25.4.1.2. Berdasarkan Jumlah Lembar Jaring
1. Gillnet tunggal atau biasa disebut gillnet saja yaitu gillnet yang dibuat
dari satu lapis jaring, digunakan untuk menangkap ikan dasar atau
permukaan
2. Gillnet dua lapis (lapdu) yaitu gillnet yang dibuat dari dua
jaring, digunakan untuk menangkap induk udang

lapis

3. Gillnet tiga lapis atau disebut dengan jaring tiga lapis (jatilap) umum
juga disebut dengan trammelnet yaitu gillnet yang dibuat dari tiga
lapis jaring, digunakan untuk menangkap udang
25.4.2. Pengoperasian Alat Tangkap Gillnet
Sebelum mengoperasikan gillnet, maka persiapan sangat perlu dilakukan
sebelum memulai pengoperasian
hal tersebut bermanfaat untuk
meminimalkan ganngguan dan bahaya didalam pengoperasian. Persiapan
yang dilakukan adalah
25.4.2.1. Persiapan
Peralatan harus dipersiapkan secara cermat sebelum operasi
penangkapamn dimulai, adapun persiapan tersebut yaitu : jaring disusun
di atas geladak (dek) kapal dengan memisahkan antara pelampung dan
pemberat, pada ujung depan jaring dipasang tali selambar dan
dihubungkan dengan pelampung tanda. Biasanya pelampung ini
ukurannya relatif lebih besar, kadang kala diberi bendera.
Penyusunan jaring insang di atas kapal disesuaikan dengan bentuk atau
tipe kapal yang dipergunakan, adapun penyusunan diatas kapal biasanya
diletakan pada buritan, samping kiri , dan samping kanan.
25.4.2.2. Daerah Penangkapan
Daerah penangkapan (fishing ground) adalah suatu daerah dimana ikan
dapat ditangkap dengan alat tangkap dengan hasil yang mengguntungkan.
Adapun syarat daerah penangkapan yaitu :
1. Bukan daerah yang dilarang menangkap ikan
2. Bukan alur pelayaran umum
3. Dasar perairan tidak berkarang (untuk gillnet dasar)
4. Arusnya tidak terlalu kuat (kurang dari 4 knot)

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

388

Teknika Kapal Penangkap Ikan

5. Banyak terdapat ikan


25.4.2.3. Waktu Penangkapan
Saat yang tepat untuk menurunkan alat tangkap gillnet tergantung bahan
yang dipergunakan. Bahan benang multi filamen biasanya alat tangkap ini
akan berhasil untuk penangkapan bila perairan gelap , misalnya; malam
hari, gelap bulan, airnya keruh, dll). Alat tangkap ini berada di dalam air
pada saat pengoperasian berkisar antara 3 5 jam, sehingga dalam satu
hari dapat dioperasikan 2 s/d 4kali. Sedangkan jaring monofilamen
biasanya dioperasikan pada saat cerah (siang hari atau terang bulan).
Lama alat tangkap di dalam air selama pengoperasian jaring ini antara 2
3 jam sehingga dalam satu hari dapat dioperasikan antara 4 s/d 6 kali.
Lama pengoperasian di dalam air ditentukan juga oleh banyaknya alat
tangkap, pada kapal yang besar dengan jumlah alat tangkap yang banyak
operasikan penangkapan paling banyak dilakukan dua kali dalam sehari.
25.4.2.4. Penurunan (Setting)
Penurunan alat tangkap atau biasa disebut setting dilakukan setelah kapal
sampai di daerah penangkapan. Adapuin urut-urutan setting gillnet
sebagai berikut :
1. Kapal diusahakan untuk mengikuti arah angin agar angin dan berada
pada daerah penurunanan alat tangkap, hal ini untuk menimalkan
gannguan pada saat penangkapan
2. Jaring diturunkan dengan melepas pelampung tanda dan dengan
diikuti tali slambar depan, jaring, dan yang terakhir ujung jaring
diikatkan pada kapal atau pada tali slambar belakang dan diikuti
dengan pelampung tanda.
3. Harus diusahakan alat tangkap dapat memotong arus antara 40o s/d
90o terhadap arus.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

389

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 25.10. Posisi Kapal Pada Saat Penurunan Alat.


25.4.2.5. Penaikan (Hauling) Alat Tangkap
Setelah jaring berada di dalam air jaring dapat ditarik (hauling) ke atas
dek kapal untuk di ambil hasil tangkapan. Lamanya hauling tergantung
jumlah alat tangkap dan hasil tangkapnya . semakin banyak alat tangkap
dan hasilnya maka hauling dapat dilakukan lebih lama, dan sebaliknya
bila alat tangkap jumlah nya sedikit cepat pula selesainya.
Jaring dinaikan ke atas dek kapal dengan urut-urutan kebalikan dari uruturutan setting. Ikan hasil tangkapan dilepas dari jaring dengan hati-hati
supaya tidak rusak, kemudian hasil tangkapan ditanagani sesuai prosedur
penanganan ikan di atas kapal dan disimpan . Kemudian jaring dirapikan
untuk siap kembali dioperasikan.
25.5.

LONG LINE

Rawai tuna tuna long line adalah alat tangkap yang berupa rangkaian tali
dan pancing yang dipergunakan untuk menangkap ikan tuna yang hidup
di lautan. Alat tangkap tuna long line adalah alat tangkap yang efektif
untuk menangkap ikan yang hidup sendiri (soliter) yang melakukan
perpindahan (migrasi) dari lautan yang satu ke lautan yang lain.
Tuna long line adalah alat tangkap dari golongan line fishing, terutama
ditujukan untuk ikan yang besar. Tuna yang menjadi tujuan penangkapan
berada pada kedalaman yang dalam dan mempunyai daerah penyebaran
yang sanggat luas.
Produksi ikan tuna sebagian besar dihasilkan oleh long line yaitu lebih
kurang 40%, dan selebihnya dihasilkan oleh purse seine, trolling (pancing
tunda) , gillnet dan alat tangkap lainnya.
Alat tangkap tuna long line adalah alat tangkap yang selektif artinya
hanya ikan yang memiliki ukuran mulut tertentu yang dapat tertangkap.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

390

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Sedangkan cara operasinya secara pasif artinya alat tangkap hanya


diletakkan disuatu perairan dan menunggu ikan-ikan yang memakan
umpan hasil tangkapan. Dalam satu satuan alat tangkap tuna long line
disebut dengan satu basket, pada setiap basketnya terdiri dari : Tali utama
(main line), Tali cabang (branch line), pancing (hook), tali pelampung
(buoy line) dan pelampung (buoy). Faktor yang menentukan berhasilnya
operasi penangkapan ikan dengan tuna long line adalah: tersedianya
sumberdaya ikan tuna, adanya kapal penangkapan dan alat tangkap tuna
long line yang baik, serta sumberdaya manusia yang menguasi ilmu dan
teknologi penangkapan ikan tuna.
25.5.1. Alat Bantu Penangkapan
Alat bantu yang biasa digunakan dalam operasi penangkapan dengan
tuna long line adalah :
1. Radio buoy, yaitu pelampung yang diberi pemancar radio yang
berfrekuensi tunggal yang berupa kode morse. Radio buoy dipasang
pada awal, pertengahan dan akhir dari rangkain yang panjang. Dalam
satu unit alat tangkap biasanya digunakan 4 8 buah radio buoy, hal
ini tergantung jumlah basket yang dioperasikan. Kode morse itu
merupakan nama panggilan (call-sign) dari masing-masing radio buoy
dan sinyal pancaran radio tersebut dapat ditangkap dan diketahui
arahnya dari kapal dengan menggunakan Radio Direction and Finder
(RDF) yang itu suatu radio yang dapat menerima frekwensi tunggal
dan dapat menentukan arahnya dari kapal yang mengoperasikan RDF
tersebut. Sehingga apabila dalam pelaksanaan hauling long line
tersebut hilang maka dapat dicari
2. RDF. Seperti telah ditulis di atas yaitu untuk mencari sinyal radio
buoy.
3. Line hauler, yaitu alat penarik tali utama yang biasanya digerakan
dengan tenaga hidrolik
4. Roller, yaitu gelondong yang digunakan untuk menggurangi gesekan
antara tali utama dan dinding kapal atauapun lambung kapal saat tali
utama tersebut ditarik keatas kapal
5. Line thrower, yaitu alat yang digunakan untuk melempar tali utama
ke laut pada saat setting, alat ini digerakan dengan tenaga hidrolik
(alat ini digunakan pada rawai tuna sistem box /kotak.
6. Line arranger, yaitu alat yang dipergunakan untuk menyusun tali
utama kedalam sebuah tempat (alat ini digunakan pada rawai tuna
sistem box /kotak)
25.5.2. Pengoperasian Long Line
Sebelum mengoperasikan longline maka kita harus melakukan persiapan.
Persiapan yang dilakukan sebagai berikut ini:

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

391

Teknika Kapal Penangkap Ikan

25.5.2.1. Persiapan
Persiapan operasi penangkapan dimulai sejak masih di pelabuhan, adapun
persiapan yang harus dilakukan antara lain adalah :
1. Bahan bakar
2. Minyak pelumas
3. Umpan segar
4. Bahan makanan
5. Penerangan
6. Peralatan navigasi (peta laut, kompas, teropong, satelit navisasi/gps)
7. Persiapan motor motor (motor induk dan motor bantu)
8. Menyusun alat tangkap dan memeriksa kelengkapannya
25.5.2.2. Daerah Penangkapan (Fishing Ground)
Daerah penangkapan atau lazim disebut fishing ground adalah suatu
daerah dimana ikan dapat ditangkap dengan hasil tangkapan ikan yang
mengguntungkan. Adapun syarat daerah penangkapan pengoperasian tuna
long line yaitu :
1. Bukan daerah yang dilarang menangkap ikan
2. Terdapat ikan tuna
3. Alat tangkap dapat dengan mudah dioperasikan
4. Lokasinya secara ekonomis mengguntungkan
Daerah penangkapan ikan tuna biasanya berada pada perairan dalam
(samudera). Ikan tuna menyebar secara vertikal maupun horizontal.
Penyebaran horizontal adalah penyebaran menurut letak geografis
samudera, penyebaran vertikal atau penyebaran menurun kedalaman
perairan.
Penyebaran secara horizontal perlu diketahui untuk menentukan daerah
penangkapan, sedangkan penyebaran secara vertikal diperlukan untuk
mengetahui lapisan renang ikan, hal ini perlu untuk menentukan
kedalaman mata pancing. Secara vertikal tuna menyebar sampai dengan
ratusan meter di bawah laut .
Daerah penyebaran tuna di perairan Indonesia secara horizontal yaitu di
Samudera Hindia sebelah Barat Pulau Sumatera, Selatan Pulau Jawa, Laut
Timor, Laut Sulawesi, Laut Flores, Laut Banda, dan Laut
Arafura.Penyebaran secara vertikal tuna di perairan trapis sangat
dipengaruhi oleh lapisan termoklin, lapisan termoklin yang mengalami
perubahan suhu sanggat besar.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

392

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Gambar 25.11. Daerah Penangkapan Tuna Di Indonesia


25.5.2.3. Hasil Tangkapan
Penangkapan dengan menggunakan rawai tuna dimaksudkan untuk
menangkap ikan tuna yang termasuk ke dalam ordo percomorphii, famili
scombroidae yang terdiri dari genus Auxis, Thunnus, Katswuwonus, dan
Euthynnus. Selain itu juga tertangkap ikan lain seperti : cucut (isurus
glaucus), layaran (Istiophorus platypterus), tenggiri (Scombreromorus
spp.).
Jenis-jenis ikan yang dapat tertangkap rawai tuna dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.
Tabel 22. Jenis-Jenis Ikan Yang Tertangkap Oleh Rawai Tuna
Ilmiah

Inggris

Indonesia

Thunnus thynnus orientalis

Bluefin tuna

Tuna sirip biru

Thunnus thynnus maccoyii

Southern bluefin
tuna

Tuna sirip biru


selatan

Thunnus allalunga

Albacore

Albakora

Thunnus obesus

Bigeye tuna

Mata besar

Thunnus albacares

Yellowfin tuna

Madidihang

Thunnus tonggol

Northernbluefin
tuna

Tuna sirip biru


selatan

Thunnus atlanticus

Blackfin tuna

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

393

Teknika Kapal Penangkap Ikan

Katsuwonus pelamis

skipjack

Tetrapturus angustirostris

Shorbil spearfis

Istiophorus orientalis

sailfish

Layaran

Tetrapturus audax

Striped marlin

Setuhuk loreng

Macaira nigricans

Blue marlin

Setuhuk biru

Macaira indica

Black marlin

Setuhuk putih

Cakalang
-

Adapun ikan yang tertangkap di perairan indonesia terdapat enam jenis


yaitu : albakora, madidihang, mata besar, cakalang, sirip biru selatan, dan
sirip biru utara. Hasil tangkapan pada pengoperasian rawai tuna sangat
dipengaruhi oleh:
1. Kepadapat gerombolan ikan di daerah penangkapan
2. Keadaan cuaca dan curah hujan
3. Jarak pancing yang satu dengan yang lain
4. Keadan jenis umpan
25.5.2.4. Umpan
Umpan pada perikanan rawai tuna sangat diperlukan, umpan yang
digunakan adalah ikan segar beku, tetapi pada saat ini dipergunakan pula
umpan hidup yaitu dengan umpan bandeng.
Penggunaan umpan ikan segar harus memenuhi persyaratan yaitu:
1. Memiliki warna yang cerah dan mengkilat di dalam air, sehingga
dapat menarik perhatian ikan tuna.
2. Mempunyai bau yang khas yaitu bau air laut (anyir).
3. Tahan terkait pad mata pancing selama di dalam air.
4. Mudah didapat dan tersedia dalam jumlah banyak.
5. Harga relatif murah.
6. Sirip tidak terlalu tebal tetapi kuat, punggung harus kuat.
7. Bentuk badan memanjang, panjang berkisar antara 15 25 cm, lebar
berkisar 35 cm.
Beberapa jenis ikan yang dapat dijadikan umpan yaitu : bandeng (chanos
chanos), lemuru (sardinella longiceps), Cumi-cumi (Loligo spp),
Kembung (Rastrelliger spp), Layang (Decapterus spp). Umpan dapat

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

394

Teknika Kapal Penangkap Ikan

dipasang pada celah tutup insang, mata, mulut, sirip pungung pertama,
badan, ekor ataupun bagian lainnya.
25.5.2.5. Penurunan Alat Tangkap (Setting)
Penurunan atau penglepasan alat tangkap biasa disebut dengan setting
dilakukan di buritan kapal yaitu dilakukan pada waktu sebelum matahari
tenggelam ataupun sebelum matahari terbit.
Beberapa hal yang harus
yaitu:

dipersiapakan sebelum pelaksanaan setting

1. Mempersiapkan umpan, radio buoy, basket alat tangkap dan kesiapan


anak buah kapal (ABK)
2. Menentukan haluan setting, diusahakan angin datang dari buritan
kapal. Hal ini dimaksudkan supaya pada saat hauling kapal mudah
dikendalikan, sebab angin dari depan.
Pelepasan rawai tuna dimulai dengan menurunkan radio buoy , kemudian
berturut-turut diikuti tali pelampung, tali utama, tali cabang sehingga
semua alat berada di dalam air. Kemudian radio buoy adalah alat bantu
oenangkapan yang terakhir kali dilepas. Setting memerlukan waktu 4 5
jam untuk alat tangkap long line sebanya 2000 mata pancing (200 basket).
Pada saat setting kecepatan kapal antara 5 7 knot, tergantung kedalaman
mata pancing yang diinginkan. Jarak yang ditempuh dalam satu kali
setting antara 20 - 35 mil (37 65km).
Rawai tuna tuna long line adalah alat tangkap yang berupa rangkaian tali
dan pancing yang dipergunakan untuk menangkap ikan tuna yang hidup
di lautan. Alat tangkap tuna long line adalah alat tangkap yang efektif
untuk menangkap ikan yang hidup sendiri (soliter) yang melakukan
perpindahan (migrasi) dari lautan yang satu ke lautan yang lain.
Tuna long line adalah alat tangkap dari golongan line fishing, terutama
ditujukan untuk ikan yang besar. Tuna yang menjadi tujuan penangkapan
berada pada kedalaman yang dalam dan mempunyai daerah penyebaran
yang sanggat luas.
Produksi ikan tuna sebagian besar dihasilkan oleh long line yaitu lebih
kurang 40%, dan selebihnya dihasilkan oleh purse seine, trolling (pancing
tunda) , gillnet dan alat tangkap lainnya.
Alat tangkap tuna long line adalah alat tangkap yang selektif artinya
hanya ikan yang memiliki ukuran mulut tertentu yang dapat tertangkap.
Sedangkan cara operasinya secara pasif artinya alat tangkap hanya
diletakkan disuatu perairan dan menunggu ikan-ikan yang memakan
umpan hasil tangkapan. Dalam satu satuan alat tangkap tuna long line
disebut dengan satu basket, pada setiap basketnya terdiri dari : Tali utama
(main line), Tali cabang (branch line), pancing (hook), tali pelampung
(buoy line) dan pelampung (buoy). Faktor yang menentukan berhasilnya
operasi penangkapan ikan dengan tuna long line adalah: tersedianya
sumberdaya ikan tuna, adanya kapal penangkapan dan alat tangkap tuna

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

395

Teknika Kapal Penangkap Ikan

long line yang baik, serta sumberdaya manusia yang menguasi ilmu dan
teknologi penangkapan ikan tuna.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

396

Anda mungkin juga menyukai