Anda di halaman 1dari 15

2.2.

1 Klarifikasi Istilah
1. Stroke
Suatu keadaan dimana suplai darah terhenti di otak
2. Sering Lupa
Stroke
Gangguan pembuluh darah otak, baik berupa penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah
yang bermanifestasi pada kelumpuhan system sensorik dan motorik.
3. Hemiparese dextra spastic ( Kelemahan separuh tubuh sebelah kanan)
Kehilangan sensasi sensorik di sebelah kanan yang disertai dengan kejang.
4. Konjungtiva
Membran halus yang melapisi kelopak mata dan menutupi bola mata
5. Sclera
Bagian Putih pada bola mata
6. Ikterik
Tampak kekuningan
7. Iktus Cordis
Denyut jantung
8. Stem fremitus
Pemeriksaan paru-paru yang dilakukan secara palpasi
9. Vesikuler
Bunyi paru-paru normal
10. Kolestrol
Lemak sterol yang ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma
11. MMSE ( Mini- Mental State Examination )
12. Infrak di basal ganglia sinistra
2.2.2 Identifikasi Masalah
1. Tn. Amir, 65 tahun, datang ke UGD RSMH karena sering lupa jalan pulang kerumah
(kesasar) sejak 2 bulan yang lalu
2. Tiga bulan sebelumnya penderit pernah menderita stroke. Saat ini penderita masih
mengalami kelemahan separuh tubuh sebelah kanan.
3. Sebelum menderita stroke penderita sering lupa apa yang telah dikerjakannya. Akhir-akhir
ini pasien juga lupa mandi dan tidak mengenali anggota keluarganya lagi.
4. Pemeriksaan Fisik :
TD : 170/100 mmHg, Fungsi Motorik : Hemiparese dextra spastik ( kekuatan 4 )
5. Pemeriksaan laboratorium :
kolesterol total 265 mg/dl, LDL 180 mg/dl, HDL 40 mg/dl, trigliserida 200 mg/dl
Hasil Neuropsikiatrik tes : MMSE: 15
CT scan kepala : Infark di basal ganglia sinistra
2.2.3 Analisis Masalah
1. a. Apa makna Tn amir sering lupa jalan pulang ke rumah ( kesasar ) sejak 2 buln yang
lalu ? ( feri, amel, kaisar)
b. Apa penyebab Tn Amir sering lupa jalan pulang ke rumah ( kesasar) sejak 2 bulan yang

lalu ? ( ayik, roro, ayu )


c. bagaimana hubungan keluhan dengan usia Tn.Amir ? ( siska, dipta, bella )
d. Bagaimana anatomi, Histologi, dan Fisiologi Otak ? ( dian, feri, amel )
e. Kemungkinan pada bagian otak manakah yang terganggu ? ( kaisar, ayik, roro )
2. a. Apa penyebab stroke ? ( ayu, siska, dipta )
b. Bagaimana patofisiologi stroke ? ( bella, dian, feri )
c. Apa saja faktor resiko stroke ? ( amel, kaisar, ayik )
d. Bagaimana penyebab hemiparese dextra spastik ? ( roro, ayu, siska )
e. Bagaimana patofisiologi hemiparese dextra spastik ? ( dipta, bella, dian )
f. Bagaimana hubungan stroke, hemiparese dextra spastik dengan keluhan utama ? ( feri,
amel, kaisarr )
3. a. Apa makna Tn. Amir sering lupa apa yang dikerjakannya ? ( ayik, roro, ayu )
b. Apa makna Tn. Amir akhir-akhir ini lupa mandi ? (siska, dipta, bella )
c. Apa makna Tn. Amir akhir-akhir ini tidak mengenali anggota keluarganya lagi ? ( dian,
feri, amel)
d. Apa penyebab Tn. Amir sering lupa apa yang dikerjakannya ? ( kaisar, ayik, roro )
e. Apa penyebab Tn Amir akhir-akhir ini lupa mandi ? ( ayu, siska, dipta )
f. Apa penyebab Tn. Amir akhir- akhir ini tidak mengenali anggota keluarganya ?
( bella, dian, feri )
g. Bagaimana patofisiologi gangguan mengingat ? ( amel, kaisar, ayik )
4. Interpretasi :
A. TD : 170/100 mmHg ( roro, ayu, siska )
B. Fungsi Motorik : Hemiparese dextra spastik ( dipta, bella, dian )
5. Interpretasi :
A. Kolestrol total : 265 mmHg % ( feri, amel, kaisar )
B. LDL : 180 mg % ( ayik, roro, ayu )
C. HDL : 40 mg% ( siska, dipta, bella )
D. Trigliserida : 200 mg% ( dian, feri, amel )
E. Hasil Neuropsikiatrik tes : MMSE: 15 ( kaisar, ayik, roro )
F. CT scan kepala : Infark di basal ganglia sinistra ( ayu, siska, dipta )
G. Gambaran Infark di basal ganglia sinistra ( bella, dian, feri )
H. Bagaimana cara pemeriksaan MMSE ( amel, kaisar ayik )
6. Bagaimana Cara mendiagnosis kasus ini ( roro, ayu, siska )
7. DD ( dipta, bella, dian )
8. Pemeriksaan penunjang ( feri, amel, kaisar )
9. WD ( ayik, roro, ayu )
10. Penatalaksanaan ( siska, dipta, bella )
11. Komplikasi ( dian, feri, amel )
12. Prognosis ( kaisar, ayik, roro )

13. KDU ( ayu, siska, dipta )


14. Pandangan Islam ( bella, dian, feri )
L.E
1. Anatomi, histologi dan fisiologi otak
2, Stroke
3. Hipertensi
4. Dislipidemia
5. MMSE
6. Demensia Vesikuler
7. Pandangan islam

Anatomi
Otak terdiri dari empat bagian besar, yaitu serebrum (otak besar), serebelum (otak
kecil), brainstem (batang otak), dan diensefalon.
Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan korteks
serebri. Masing-masing hemisfer serebri terdiri dari lobus frontalis (area motorik
primer yang bertanggung jawab untuk gerakan-gerakan voluntar), lobus parietalis
(berperan pada kegiatan memproses dan mengintegrasi informasi sensorik yang
lebih tinggi tingkatnya), lobus temporalis (area sensorik untuk impuls pendengaran)
dan lobus oksipitalis (mengandung korteks penglihatan primer dan menerima
informasi penglihatan dan menyadari sensasi warna).
Serebelum terletak di dalam fossa cranii posterior dan ditutupi oleh
duramater yang menyerupai atap tenda, yaitu tentorium yang memisahkannya dari
bagian posterior serebrum. Fungsi utamanya adalah sebagai pusat refleks yang
mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan
kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.
Bagian-bagian batang otak dari bawah ke atas adalah medula oblongata, pons
dan mesensefalon (otak tengah). Medula oblongata merupakan pusat refleks yang
penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan,
pengeluaran air liur dan muntah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang
penting pada jaras kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan
serebelum.
Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisi
aquedikus sylvius, beberapa traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat
stimulus saraf pendengaran dan penglihatan. Diensefalon di bagi empat wilayah
yaitu talamus, subtalamus, epitalamus dan hipotalamus. Talamus merupakan stasiun
penerima dan pengintegrasi subkortikal yang penting. Subtalamus fungsinya belum
dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus akan menimbulkan
hemibalismus yang ditandai dengan gerakan kaki atau tangan yang terhempas kuat
pada satu sisi tubuh. Epitalamus berperanan pada beberapa dorongan emosi dasar
seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem
susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan emosi.

Sirkulasi darah otak


Otak menerima 17% curah jantung dan menggunakan 20% konsumsi oksigen
total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh dua
pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Dan dalam rongga
kranium, keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem anastomosis,
yaitu sirkulus Willisi.
Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria karotis komunis
kira-kira setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis interna masuk ke dalam tengkorak
dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum, menjadi arteri serebri anterior dan
media. Arteri serebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti
nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, kapsula interna, korpus kolosum dan
bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis serebri, termasuk
korteks somestetik dan korteks motorik.
Arteri serebri media mensuplai darah untuk lobus temporalis, parietalis dan
frontalis korteks serebri. Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria
subklavia sisi yang sama. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen
magnum, setinggi perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua arteri ini bersatu
membentuk arteri basilaris, arteri basilaris terus berjalan sampai setinggi otak

tengah, dan di sini bercabang menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri
posterior. Cabang-cabang sistem vertebrobasilaris ini memperdarahi medula
oblongata, pons, serebelum, otak tengah dan sebagian diensefalon. Arteri erebri
posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diensefalon, sebagian lobus
oksipitalis dan temporalis, apparatus koklearis dan organ-organ vestibular.
Darah di dalam jaringan kapiler otak akan dialirkan melalui venula-venula
(yang tidak mempunyai nama) ke vena serta di drainase ke sinus duramater dari
sinus, melalui vena emisaria akan dialirkan ke vena-vena ekstrakranial.
Fisiologi Otak

Bagian lobus otak

Fungsi-fungsi
1. Presental gyrus merupakan area motor kontralateral dari

wajah, lengan, dan tungkai.


2. Area Broca merupakan pusat bicara motorik pada lobus

dominan.
Lobus frontal

3. Suplementari motor area untuk kontralateral kepala, dan

lirikan mata.
4. Area prefrontal merupakan area untuk kepribadian dan

inisiatif.
5. Lobulus parasental merupakan pusat kontrol inhibisi untuk

miksi dan defekasi.


1. Gyrus presentral merupakan korteks sensoris yang menerima

jaras afferent dari posisi, raba, dan gerakan pasif.


Lobus parietal

2. Gyrus

angularis dan supramarginal hemisfer dominan

merupakan bagian area Wernics dimana masukan auditori


dan visual di integrasikan. Lobus non dominan penting untuk
konsep body image dan sadar akan lingkungan luar.
1. Korteks auditori terletak pada permukaan gyrus temporal

superior (=gyrus heschl). Hemisfer dominan penting untuk


pendengaran bahasa, sedangkan hemisfer non-dominan untuk
mendengar nada, ritme, dan musik.
2. Gyrus temporalis media dan inferior berperan dalam fungsi

Lobus temporal

belajar dan sensori.


3. Lobus limbik terletak pada bagian inferior medial lobus

temporal, termasuk hipokampus dan gyrus parahipokampus.


Sensasi olfaktoris melalui jaras ini, juga emosi (sifat efektif).
4. Jaras visual melalui bagian dalam lobus temporal sekiar cornu

posterior ventrikel lateral.


Lobus occipital

Penglihatan

Mekanisme Patofisiologi Umum

Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi dimana saja di dalam arteri-arteri yang
membentuk sirkulus Willisi : arteria karotis interna dan sistem vertebrobasilar atau semua
cabang-cabangnya. Secara umum, apabila aliran darah ke jaringan otak terputus selama 15
sampai 20 menit, akan terjadi infark atau kematian jaringan. Proses patologik yang mendasari
mungkin salah satu dari berbagai proses yang terjadi di dalam pembuluh darah yang
memperdarahi otak. Patologinya dapat berupa (1) keadaaan penyakit pada pembuluh itu
sendiri, seperti pada aterosklerosis dan trombosis, robeknya dinding pembuluh, atau
peradangan; (2) berkurangnya perfusi akibat gangguan status aliran darah, misalnya syok atau
hipervisikositas darah; (3) gangguan yang berasal dari jantung atau pembuluh ekstrakranium;
atau (4) ruptur vaskular di dalam jaringan otak atau ruang subaraknoid.
Penyebab Suatu Stroke
Halangan/Rintangan dari suatu arteri
Halangan dari suatu arteri di otak oleh suatu bekuan/gumpalan (thrombosis) adalah penyebab
yang paling umum dari suatu stroke. Bagian dari otak yang disuplai oleh pembuluh darah
yang tersumbat kemudian dicabut/dirampas darah dan oksigennya. Sebagai akibat dari
pencabutan atau perampasan darah dan oksigen, sel-sel dari bagian otak itu mati. Secara khas,
suatu bekuan atau gumpalan terbentuk dalam sebuah pembuluh darah kecil didalam otak
yang sebelumnya telah dipersempit yang disebabkan oleh suatu keanekaragaman faktorfaktor risiko termasuk:
* tekanan darah tinggi (hipertensi),
* kolesterol tinggi,
* diabetes, dan
* merokok

Tn. Amir

Umur 65 tahun

Pada usia > 50 tahun, terjadi:


- elastisitas p. darah
pada a.
- daya regang p. darah korteks cerebri

Kemunduran memori (area Wernicke lobus parietal) lupa dg keg. sehari-hari

Hemiparese dekstra spastik abnormal


Berkurangnya gerakan dan kekuatan pada ekstremitas kanan disertai hipertonus,
hiperefleks, dan adanya refleks patologis pada ekstremitas yang lumpuh tersebut.
HDL 45 mg/dl (normal > 65 mg/dl)
Interpretasi : abnormal terjadi penurunan HDL : dislipidemia

Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan Laboratorium
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik pada demensia.
Pemeriksaan laboratorium ini hanya untuk menyingkirkan penyebab penyakit
demensia lainnya, seperti pemeriksaan darah rutin, B12, Calsium, Fosfor, BSE, fungsi
renal dan hepar, tiroid, asam folat, serologi sifilis, screening antibody yang dilakukan
secara selektif.
2) CT Scan dan MRI
CT (computerized tomography, sering disebut CT scan) adalah pemeriksaan
non-invasif yang dapat melihat anatomi kepala menurut irisan dengan berbagai
ketebalan. Indikasi spesifik CT adalah episode pertama psikosis di atas unmur 40
tahun, episode pertama gangguan afektif setelah umur 50 tahun, episode pertama
gangguan kepribadian di atas usia 40 tahun, gerakan involunter abnormal, delirium
atau demensia yang tak diketahui penyebabnya, katatonia persisten, dan anorexia
nervosa.
MRI (magnetic resonance imaging) mempunyai beberapa kelebihan
dibandingkan CT, yaitu tidak melibatkan radiasi radioaktif, irisan dapat dilakukan
pada berbagai bidang, dapat lebih baik mendiferensiasi masa putih (white mass) dan
abu-abu (grey mass) otak sehingga lebih sensitive untuk kelainan anatomik otak, dan
lebih baik untuk melihat kelainan di fossa posterior dan batang otak.
Selain itu, MRI juga untuk menilai peningkatan intensitas pada daerah kortikal
dan periventrikuler (Capping anterior horn pada ventrikel lateral). Capping ini
merupakan predileksi untuk demensia awal. Selain didapatkan kelainan di kortikal,
gambaran atropi juga terlihat pada daerah subkortikal seperti adanya atropi
hipokampus, amigdala, serta pembesaran sisterna basalis dan fissura sylvii.
Pada demensia vaskular yang mengalami abnormalitas substansia alba, dengan
pemeriksaan MRI didapat daerah subkorteks bilateral berupa gambaran hiperdens
abnormal yang umumnya tampak di beberapa tempat.
3) Tes Aphasia
Tes aphasia dapat dilakukan dengan menanyakan beberapa pertanyaan pada pasien
dan pertanyaan yang diajukan mula-mula sederhana makin lama makin kompleks.
Pertanyaan dibuat sedemikian sehingga cukup dijawab oleh pasien dengan ya atau
tidak, bila perlu dengan anggukan dan gelengan kepala. Hal ini terutama bila kita
memeriksa pasien afasia yang non-fluent.
Contoh pertanyaan : "Apakah ibu yang ada disamping saya ini, istri bapak?" "Apakah
bapak sudah sarapan pagi tadi?"

Pertanyaan dapat disusun dan disesuaikan dengan latar belakang pendidikan dan
kedudukan sosial pasien. Pertanyaan-pertanyaan formal pada tes afasia tentu
menggunakan kalimat yang dibuat sedemikian rupa hingga mempunyai kesukaran
linguistik. Pengulangan kata/kalimat juga dimulai dari yang sederhana sampai yang
sulit.
Contoh kata yang sederhana "makan" dan yang sulit "menjajaki".
Kalimat mudah "Udara hari ini cerah" dan kalimat sulit "Musim kemarau yang
panjang dan kering tahun ini merupakan bencana bagi kami.
Penyebutan nama benda dapat dilakukan dengan menyuruh pasien menyebutkan
beberapa nama benda yang ada disekitarnya.

Jenis afasia ditentukan dengan kemampuan linguistik sebagai berikut:

Afasia

Bicara spontan

Penyamaan

Pengulangan

Penyebutan

Wernicke

Fluent

Buruk

buruk

Buruk

Broca

non-fluent

Baik

buruk

Buruk

konduksi

Fluent

Baik

buruk

Buruk

global

non-fluent

Buruk

buruk

Buruk

anomik

Fluent

Baik

baik

Buruk

4) Tes Psikologis (Psikometrik)


Pemeriksaan psikometrik berguna untuk:
1) Membantu mengidentifikasi lesi fokal
2) Memberikan gambaran data dasar
3) Membantu diagnosis
4) Mengidentifikasi kekuatan/kelebihan pasien untuk dipakai perencanaan
terapi.
Tes yang bermanfaat untuk klinikus adalah WAIS, tes Bender Gestalt,
tes Luris, dan tes baterai Halstead & Reitan (sangat banyak memakan waktu;
tidak dipergunakan secara rutin). Tes skrining yang singkat, namun

bermanfaat adalah pemeriksaan status mini mental (MMSE) dari Folstein,


dilengkapi dengan tes menggambar jam.
Mini-Mental State Examination (MMSE) digunakan bila pada pasien
dicurigai adanya demensia. Tes ini dibuat berdasarkan wawancara
pemeriksaan status mental standar dan terdiri atas pemeriksaan terhadap
orientasi, memori untuk registrasi dan recall (segera dan ingatan tunda 3
objek), atensi (pengurangan seri tujuh), member nama objek yang umum
(verbal skill), mengikuti perintah lisan dan tertulis, keterampilan menulis,
dan menggambar figure sederhana (praxis skills). Tes ini untuk menilai
secara global fungsi kognitif. Jika betul pada semua item akan menghasilkan
skor 30. Skor di bawah 24 biasanya mengidentifikasikan hendaya kognitif.

b.

Pedoman Diagnostik Demensia Vaskular berdasarkan PPDGJ-III


- Terdapatnya gejala demensia
- Hendaya fungsi kognitif biasanya tidak merata (mungkin terdapat hilangnya
daya ingat, gangguan daya pikir, gejala neurologis fokal). Daya tilik diri
-

(insight) dan daya nilai (judgment) secara relatif tetap baik.


Suatu onset yang mendadak atau deteriorasi yang bertahap, disertai adanya
gejala neurologis fokal, meningkatkan kemungkinan diagnosis demensia
vaskuler. Pada beberapa kasus, penetapan hanya dapat dilakukan dengan

pemeriksaan CT-Scan atau pemeriksaan neuropatologis.


Diagnosis Multiaxial
Axis I
: F01 Demensia Vaskular
Axis II
: Tidak ada diagnosis
Axis III
: I00-I99 Penyakit Sistem Sirkulasi
Axis IV
: Tidak ada diagnosis
Axis V
: GAF Scale 100-91 gejala tidak ada, berfungsi maksimal, tidak
ada masalah yang tak tertanggulangi.

Gejala

Demen
sia
vaskul
er

Demen
sia
senilis

Alzhei
mer

Kas
us

Demensi
a

Disorien
tasi

Ganggu
an
memori

Riwayat
hiperten
si

+/-

Intelektu
al

+/-

Stroke

Epidemiologi VaD (Vascular Disease)


Data dari negara-negara Eropa dilaporkan prevalensi 1,6% pada kelompok
usia lebih dari 65 tahun dengan insidensi 3,4 tiap 1000 orang per tahun. Penelitian di
Swedia memperlihatkan angka resiko terkena VaD sepanjang hidup 34,5% pada pria
dan 19,4% pada wanita bila semua tingkatan gangguan kognisi dimasukkan dalam
perhitungan (defisit kognisi dapat terjadi setelah serangan stroke). Penelitian terakhir
memperlihatkan bahwa demensia terjadi pada rata-rata seperempat hingga sepertiga
dari kasus-kasus stroke.
Prevalensi dari semua bentuk demensia termasuk demesia vaskuler, naik
seiring dengan bertambahnya usia. Di Eropa, prevalensi demensia vaskuler
diperkirakan sekitar 1,5-4,8 % pada individu berusia antara 70 hingga 80 tahun.
Penatalaksanaan
a) Stroke
Terapi pemeliharaan (pencegahan) stroke yang mungkin terjadi lagi:
Anti platelet
Aspirin dengan mekanisme kerja menghambat sintesis tromboksan (senyawa
yang berperan dalam proses pembekuan darah)
Dosis: 4-6 x 325-650 Mg/hari
Perhatian: adanya suatu interaksi obat antara obat Anti Diabetik dan Aspirin
dapat menyebabkan penurunan kadar gula darah.
Hal yang harus dilakukan dokter:

1. Beri penyuluhan mengenai cara pemberian obat, dengan memberi tahu


bahwa jika ingin mengkonsumsi obat Anti Diabetik dengan Aspirin minimal
diberi rentang waktu minimal 30-60 menit setelah minum obat yang pertama.
2. Tanyakan juga riwayat penyakit gastritis, agar bisa diberikan obat-obat terapi
untuk melindungi mukosa lambung itu sendiri.
3. Dokter memantau kemungkinan gangguan atau perdarahan GIT.

b) Hipertensi
Pada kasus diketahui pasien menderita diabetes dan hipertensi maka kondisi
ini memiliki kendala karena dapat mencetuskan resistensi insulin. Dalam hal ini
sebaiknya digunakan suatu ACE-Inhibitor atau -Blocker dan Antagonis Ca.
ACE-inhibitor: Kaptopril (Capoten)
Dosis : 2-3x25 Mg/hari
Atau
-Blocker selektif : Propranolol
Dosis awal : 2 x 40 Mg/hari diteruskan dosis pemeliharaan 120-240 Mg/hari

c) Demensia Vaskular
Golongan Kolinesterase-Inhibitors (ChE-1)
Donepezil: paling bermakna diantara golongan kholinergik, manfaat pada stadium
ringan sampai sedang.
Mekanisme kerja: menghambat degradasi Ach di sinaps dengan cara menghambat
pemecahannya.
Dosis: 1 dd 5 Mg a.n. (Sebelum tidur)
Sesudah 4 minggu 1 dd 10 Mg.
Penatalaksanaan Non Farmakologi
a) Dislipidemia diabetik (Dabetes Melitus)
1) Penyuluhan
difokuskan pada keluarga seperti
-

Adanya yang mengawasi minum obat (efek obat diberitahukan juga)

Menghindari makan-makanan yang berlemak secara berlebihan

Diarahkan pasien agar rutin kontrol ke dokter minimal 1 bulan sekali.

2) Terapi nutrisi
Pembatasan jumlah kalori dan jumlah lemak.

3) Olahraga
Pada prinsipnya pasien dianjurkan untuk meningkatkan aktivitas fisik
sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. Semua jenis aktivitas fisik
bermanfaat, seperti jalan kaki, naik sepeda, berenang, dll. Penting sekali
diperhatikan agar jenis olahraga disesuaikan dengan kemampuan dan
kesenangan pasien, selain itu agar dilakukan secara terus menerus.

b) Stroke
Terapi rehabilitasi medik (fisioterapi)
-

Latihan ke berdiri dan posisi duduk

Latihan berjalan, latihan lengan

Terapi wicara dan bahasa

c) Hipertensi
-

Diet : mengurangi garam dalam diet dan membatasi kolesterol.

Olahraga teratur

Membatasi minum kopi

Menghindari minum alkohol

Cukup istirahat dan tidur

d) Demensia
Psikoterapi (bisa juga ditujukan untuk semua keluhan yang ada pada pasien).
Lakukan intervensi psikodinamika pada anggota keluarga dari pasien demensia
mungkin menjadi bantuan yang sangat besar.

Q.S An Nahl : 70

Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada
yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak
mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
QS.An-Nahl:70 menjelaskan bahwa seorang manusia yang bertambah umurnya
akan mengalami penurunan ingatan yang dapat menyebabkan pikun atau lupa.