Anda di halaman 1dari 40

Akuntansi Sektor Publik

REGULASI DAN STANDAR SEKTOR PUBLIK


By : 1. Randi Eka Putra (P2600214004)
2. Widyawati (P2600214006)
3. Sitti Zainab (P2600214007)

PENDAHULUAN
Sektor publik adalah bagian dari ekonomi yang berkaitan dengan
penyediaan layanan pemerintah. Sektor-sektor yang meliputi sektor publik
antara lain badan-badan pemerintahan (pemerintah pusat dan daerah
serta unit-unit kerja pemerintah), perusahaan milik negara BUMN/BUMD,
yayasan, ormas dan orpol, LSM, Universitas dan organisasi nirlaba
lainnnya. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, sektor publik didefinisikan
sebagai suatu entitas yang aktivitasnya berhubungan dengan penyediaan
barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dan hak publik.
Organisasi sektor publik adalah organisasi yang berorientasi pada
kepentingan publik berupa penyediaan barang dan jasa untuk memenuhi
kebutuhan dan hak publik. Organisasi publik sering dilihat pada bentuk
organisasi pemerintah yang dikenal sebagai birokrasi pemerintah
(organisasi

pemerintahan).

Ndraha Organisasi

publik

Menurut

adalah

Prof.

organisasi

yang

Dr.

Taliziduhu

didirikan

untuk

memenuhi kebutuhan msyarakat akan jasa publik dan layanan civil.


Karena orientasinya pada kepentingan publik maka organisasi ini
biasanya tidak berorientasi pada laba sebagai tujuan akhirnya. Namun
sebagai sebuah organisasi, proses manajemen tetap berjalan dalam

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 1

Akuntansi Sektor Publik

organisasi sektor publik. Kegiatan perencanaan, pengendalian biaya dan


kegiatan serta evaluasi & pengendalian tetap dijalankan di organisasi
sektor publik seperti halnya di sektor swasta. Selain itu, organisasi publik
juga harus memberikan pertanggungjawaban kepada publik melalui
laporan

keuangan

karena

mengelola

dana

publik

(masyarakat/

pemerintah).
Akan tetapi Mahmudi (2010:34) mengatakan organisasi sektor
publik sering digambarkan tidak produktif, tidak efisien, selalu rugi, rendah
kualitas, kurang inovasi dan kreativitas serta berbagai kekurangan lainnya.
Akibat buruknya pengelolaan organisasi sektor publik memunculkan
kritikan keras sehingga mendorong terjadinya reformasi manajemen
sektor publik. Salah satu gerakan reformasi sektor publik yang paling
populer adalah konsep New Public Management yang disingkat NPM.
NPM ini kemudian menyebabkan reformasi akuntansi di sektor publik.
Djamhuri dan Mahmudi (2006:318) dalam RA Damayanti (2013)
menarik kesimpulan tentang hubungan antara konsep New Public
Management dengan reformasi akuntansi di organisasi sektor publik
sebagai berikut :
The implication of adopting New Public Management model is the
need to conduct a series of reform in public sector, i.e. accounting,
budgeting reform, financial management reform, audit reform, as
well as institutional reform. The migration to accrual accounting

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 2

Akuntansi Sektor Publik

from cameral (cash basis) accounting and single entry is one form
of public sector accounting reform.
Sedangkan menurut Bunea dan Cosmina (2008:1) dalam RA
Damayanti (2013) menggambarkan hubungan New Public Management
dengan reformasi akuntansi di sektor publik sebagai berikut:
New Public Management is focused on efficiency, as governments
around the world are being asked to do more with less and to be
fully accountable to the community for resources entrusted to them.
Accounting plays a crucial role in New Public Management
developments as the means by which measurements are made,
achievements are documented, and negotiations take place.
Standar akuntansi merupakan pedoman umum atau prinsip-prinsip
yang

mengatur perlakukan akuntansi

dalam

penyusunan

laporan

keuangan untuk tujuan pelaporan kepada para pengguna laporan


keuangan, sedangkan prosedur akuntansi merupakan praktek khusus
yang digunakan untuk mengimplementasikan standar. Untuk memastikan
diikutinya prosedur yang telah ditetapkan, sistem akuntansi sektor publik
harus dilengkapi dengan sistem pengendalian intern atas penerimaan dan
pengeluaran dana publik.
Penetapan standar akuntansi sangat diperlukan untuk memberikan
jaminan dalam aspek konsistensi pelaporan keuangan. Tidak adanya
standar akuntansi yang memadai akan menimbulkan implikasi negatif

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 3

Akuntansi Sektor Publik

berupa rendahnya reliabilitas dan objektivitas informasi yang disajikan,


inkonsistensi dalam pelaporan keuangan serta menyulitkan pengauditan.
Berdasarkan uraian di atas penulis akan mencoba mengurai
tentang regulasi dan standar akuntansi yang digunakan dalam sektor
publik, khususnya di pemerintahan yang ada di negara Indonesia.
Tujuan yang ingin dicapai sehubungan dengan tulisan ini antar lain
sebagai berikut : 1) Untuk mengetahui regulasi dan standar akuntansi
sektor publik yang ada di Indonesia. 2) Untuk mengetahui regulasi dan
standar internasional akuntansi sektor publik.
REGULASI DAN STANDAR AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Akuntansi sektor publik memiliki standar yang sedikit berbeda
dengan akuntansi biasa karena akuntansi biasa belum mencakup
pertanggungjawaban kepada masyarakat yang ada di sektor publik. Ikatan
Akuntansi Indonesia sebenarnya telah memasukan standar untuk
organisasi nirlaba di Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).
Standar ini tercantum pada PSAK nomor 45 tentang organisasi nirlaba.
Namun, standar ini belum mengakomodasi praktik-praktik lembaga
pemerintahan ataupun organisasi nirlaba yang dimilikinya. Karena itu,
pemerintah mencoba menyusun suatu standar yang disebut dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
Standar

akuntansi

sektor

publik

juga

telah

diatur

secara

internasional. Organisasi yang merancang standar ini adalah International


Federation of Accountants-IFAC (Federasi Akuntan Internasional). Mereka

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 4

Akuntansi Sektor Publik

membuat suatu standar akuntansi sektor publik yang disebut International


Public Sector Accounting Standards-IPSAS ( Standar Internasional
Akuntansi Sektor Publik ). Standar ini menjadi pedoman bagi perancangan
standar akuntansi pemerintahan di setiap Negara di dunia.
Proses penetapan dan pelaksanaan standar akuntansi sektor
publik merupakan masalah yang serius bagi praktek akuntansi, profesi
akuntan, dan bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Pembuatan suatu
standar mungkin dapat bermanfat bagi suatu pihak, namun dapat juga
merugikan bagi pihak lain. Penentuan mekanisme yang terbaik dalam
menetapkan keseragaman standar akuntansi merupakan faktor penting
agar standar akuntansi dapat diterima pihak-pihak yang berkepentingan
dan bermanfaat bagi pengembangan akuntansi sektor publik itu sendiri.
Menurut Mardiasmo (Mardiasmo, 2004) ada beberapa hal yang
harus dipertimbangkan dalam penetapan standar akuntansi, antara lain:
1. Standar memberikan pedoman tentang informasi yang harus disajikan
dalam laporan posisi keuangan, kinerja, dan aktivitas sebuah
organisasi bagi seluruh pengguna informasi.
2. Standar memberikan petunjuk dan aturan tindakan bagi auditor yang
memungkinkan pengujian secara hati-hati dan independen saat
menggunakan keahlian dan integritasnya dalam mengaudit laporan
suatu organisasi serta saat membuktikan kewajaran.
3. Standar memberikan petunjuk tentang data yang perlu disajikan yang
berkaitan dengan berbagai variabel yang patut dipertimbangkan
dalam bidang perpajakan, regulasi, perencanaan serta regulasi

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 5

Akuntansi Sektor Publik

ekonomi dan peningkatan efisiensi ekonomi serta tujuan sosial


lainnya.
4. Standar menghasilkan prinsip dan teori yang penting bagi seluruh
pihak yang berkepentingan dalam disiplin ilmu akuntansi.
PERKEMBANGAN REGULASI DAN STANDAR AKUNTANSI SEKTOR
PUBLIK DI INDONESIA
Regulasi Akuntansi Sektor Publik di Era Pra Reformasi
Peraturan dan karakter pengelolaan keuangan daerah yang ada
pada masa Era pra Reformasi dapat dirincikan sebagai berikut :
1. UU Nomor 5 Tahun 1975 tentang Pengurusan, Pertanggungjawaban
dan Pengawasan Keuangan Daerah.
2. PP Nomor 6 Tahun 1975 tentang Penyusunan APBD, Pelaksanaan
Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD.
Indikator kinerja Pemda, yaitu meliputi :
Perbandingan anggaran dan realisasi,
Perbandingan standar dan realisasi,
Target prosentase fisik proyek.
3. Kepmendagri No.900 tahun 1980 tentang Manual Administrasi
Keuangan Daerah. Dalam sistem ini, pencatatan transaksi ekonomi
diperkenalkan double entry bookkeeping.
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1994 tentang
Pelaksanaan APBD.
5. UU Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi Daerah.
6. Kepmendagri Nomor 3 Tahun 1999 tentang Bentuk dan susunan
Perhitungan APBD. Bentuk laporan perhitungan APBD :
Perhitungan APBD
Nota Perhitungan
Perhitungan Kas dan Pencocokan sisa Kas dan sisa Perhitungan
(PP/1975)

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 6

Akuntansi Sektor Publik

Regulasi Akuntansi Sektor Publik di Era Reformasi


Tujuan dari regulasi Akuntansi Sektor Publik di Era Reformasi
adalah untuk mengelola keuangan negara/daerah menuju tata kelola yang
baik. Bentuk Reformasi yang ada meliputi :
1.
2.
3.
4.

Penataan peraturan perundang-undangan;


Penataan kelembagaan;
Penataan sistem pengelolaan keuangan negara/daerah; dan
Pengembangan sumber daya manusia di bidang keuangan.

Paradigma Baru Akuntansi Sektor Publik di Era Reformasi


Kebutuhan atas standar akuntansi sektor publik terus berkembang
akibat kedinamisan regulasi pemerintah. Kedinamisan ini ditandai dengan
pelaksanaan otonomi daerah dan reformasi keuangan.
Otonomi daerah berlaku akibat Undang-undang Nomor 22 Tahun
1999 tentang Pemerintah Daerah. UU ini menjelaskan bahwa pemerintah
melaksanakan otonomi daerah dalam rangka penyelenggaraan urusan
pemeirntah yang lebih efisien, efektif, dan bertanggun jawab. UU ini mulai
berlaku sejak tahun 2001.
Lalu, pemerintah merasa UU Nomor 22 Tahun 1999 tidak lagi
sesuai dengan perkembangan yang ada. Oleh karena itu, pemerintah
mengeluarkan UU baru, yaitu :
1. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
yang kemudian di ubah menjadi Undang-undang Nomor 8 Tahun
2005, dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 sebagai perubahan

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 7

Akuntansi Sektor Publik

kedua. Kemudian digantikan dengan Undang-undang baru yaitu


Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah,
2. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimabangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Undang-undang di atas menjadikan pedoman pelaksanaan otonomi
daerah lebih jelas dan terperinci, khusunya tentang pengelolaan keuangan
daerah dan pertanggungjawaban.
Perubahan undang-undang tersebut merupakan salah satu hal
yang signifikan dalam perkembangan otonomi daerah. Perubahan itu
sendiri dilandasi oleh beberapa hal, antara lain :
1. Adanya semangat desentralisasi yang menekankan pada upaya
efektivitas dan efisiensi pengelolaan sumber daya daerah.
2. Adanya semangat tata kelola yang baik (good governance).
3. Adanya konsekuensi berupa penyerahan urusan dan pendanaan
(money follows function) yang mengatur hak dan kewajiban daerah
terkait dengan keuangan daerah.
4. Perlunya penyelarasan dengan paket Undang-undang (UU) Keuangan
Negara, yaitu UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang keuangan Negara,
UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang perbendeharaan negara, UU Nomor
15 Tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan Negara, serta UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Peraturan

perundangan

terus

bergerak

dinamis

khususnya

Peraturan Pemerintahan (PP) sebagai turunan berbagai undang-undang


di atas, antara lain :

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 8

Akuntansi Sektor Publik

1.
2.
3.
4.
5.

PP Nomor 23 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.


PP Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
PP Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah.
PP Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.
PP Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan

Daerah.
6. PP Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah kepada Daerah.
7. PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
8. PP Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan
Penerapan Standar Pelayanan Minimal.
9. PP 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah
STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAH (SAP)
SAP adalah Standar Akuntansi Pemerintah yang diterbitkan oleh
Komite Standar Akuntansi Pemerintah. Sesuai dengan UU Nomor 17
Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, SAP ditetapkan sebagai PP
(Peraturan Pemerintah) yang diterapkan untuk entitas pemerintah dalam
menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan
Keuangan

Pemerintah

Daerah

(LKPD).

Setiap

entitas

pelaporan

pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib menerapkan SAP.


SAP diterapkan dengan PP Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 13 Juni
2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah (PP SAP). Namun pada
tahun 2010 diterbitkan PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan, sehingga sejak saat itu PP No. 24 Tahun 2005
dinyatakan tidak berlaku lagi. PP Nomor 71 Tahun 2010 mengatur
penyusunan dan penyajian laporan keuangan berbasis akrual.
SAP diyakini akan berdampak pada peningkatan kualitas pelaporan
keuangan di pemerintah pusat dan daerah. Ini berarti informasi keuangan

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 9

Akuntansi Sektor Publik

pemerintahan akan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan di


pemerintahan dan juga terwujudnya transparansi serta akuntabilitas.

Tahap-tahap penyiapan SAP adalah sebagai berikut :

1.

Identifikasi Topik untuk Dikembangkan Menjadi Standar

2.

Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) di dalam KSAP

3.

Riset Terbatas oleh Kelompok Kerja

4.

Penulisan Draf SAP oleh Kelompok Kerja

5.

Pembahasan Draf oleh Komite Kerja

6.

Pengambilan Keputusan Draf untuk Dipublikasikan

7.

Peluncuran Draf Publikasian SAP (Exposure Draft)

8.

Dengar Pendapat Terbatas (Limited Hearning) dan Dengar


Pendapat Publik (Public Hearning)

9.

Pembahasan Tanggapan dan Masukan terhadap Draf Publikasian

10.

Finalisasi Standar

KERANGKA KONSEPTUAL AKUNTANSI PEMERINTAH


Tujuannya Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan adalah

sebagai acuan bagi :


1.

Penyusun standar akuntansi pemerintahan dalam melakukan


tugasnya;

2.

Penyusun laporan keuangan dalam menanggulangi masalah


akuntansi yang belum diatur dalam standar;

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 10

Akuntansi Sektor Publik

3.

Pemeriksa dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan


keuangan disusun sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan;
dan

4.

Para pengguna laporan keuangan dalam menafsirkan informasi


yang disajikan pada laporan keuangan yang disusun sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan.

PP 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah sebagai


pengganti PP 24 tahun 2005
Pada tahun 2010 terbit PP 71 tahun 2010 tentang Standar
Akuntansi Pemerintah sebagai pengganti PP 24 tahun 2005. Diharapkan
setelah

PP

ini

pelaksanaannya

terbit
baik

maka
berupa

akan

diikuti

Peraturan

dengan

Menteri

aturan-aturan

Keuangan

untuk

pemerintah pusat maupun Peraturan Menteri Dalam Negeri untuk


pemerintah daerah. Ada yang berbeda antara PP 71 tahun 2010 ini
dengan PP-PP lain. Dalam PP 71 tahun 2010 terdapat 2 buah lampiran.
Lampiran I merupakan Standar Akuntansi Pemerintah berbasis Akrual
yang

akan

dilaksanakan

selambat-lambatnya

mulai

tahun

2014,

sedangkan Lampiran II merupakan Standar Akuntansi Pemerintah


berbasis Kas Menuju Akrual yang hanya berlaku hingga tahun 2014.
Lampiran I berlaku sejak tanggal ditetapkan dan dapat segera diterapkan
oleh setiap entitas (strategi pentahapan pemberlakuan akan ditetapkan

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 11

Akuntansi Sektor Publik

lebih lanjut oleh Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri),


sedangkan Lampiran II berlaku selama masa transisi bagi entitas yang
belum siap untuk menerapkan SAP Berbasis Akrual. Dengan kata lain,
Lampiran II merupakan lampiran yang memuat kembali seluruh aturan
yang ada pada PP 24 tahun 2005 tanpa perubahan sedikit pun.
Laporan keuangan yang dihasilkan dari penerapan SAP Berbasis
Akrual dimaksudkan

untuk memberi manfaat lebih baik bagi para

pemangku kepentingan, baik para pengguna maupun pemeriksa laporan


keuangan pemerintah, dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Hal
ini sejalan dengan salah satu prinsip akuntansi yaitu bahwa biaya yang
dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang diperoleh.
Secara definisi, sistem akuntansi akrual adalah suatu metode
pencatatan transaksi atau peristiwa dan pengakuan biaya (beban)
berdasarkan

periode

terjadinya

peristiwa

atau

transaksi

tersebut.

Sedangkan menurut metode single entry atau cash basis pencatatan dan
pengakuan peristiwa dilakukan saat pembayaran dilakukan.
Dalam sistem akrual, pencatatan biaya depresiasi suatu aset
dibebankan ke periode waktu selama suatu aset tersebut digunakan
berdasarkan biaya harga pembelian aset. Sedangkan menurut sistem
akuntansi berbasis kas, biaya pengadaan aset tersebut dibebankan ke
periode saat dilakukan pembayaran atas harga aset.
Isu tentang pentingnya timing dalam pengakuan / recognition suatu
transaksi atau peristiwa ekonomi merupakan hal yang sangat penting

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 12

Akuntansi Sektor Publik

dalam lingkungan sistem akrual, sehingga lebih membantu dalam


meningkatan

akuntabilitas

pengambilan

keputusan.

Angka-angka

akuntansi berdasarkan sistem akrual dianggap lebih informatif, membawa


implikasi yang signifikan untuk pimpinan daerah dalam mengalokasikan
sumber daya yang dimiliki.
Penggunaan akuntansi akrual merupakan salah satu ciri dari
praktik manajemen keuangan modern (sektor publik) yang bertujuan untuk
memberikan informasi yang lebih transparan mengenai biaya (cost)
pemerintah dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di dalam
pemerintah dengan menggunakan informasi yang diperluas, tidak sekadar
basis kas. Secara umum, akuntansi akrual telah diterapkan di negaranegara yang lebih dahulu melakukan reformasi manajemen publik. Tujuan
kuncinya adalah untuk meminta pertanggungjawaban para manajer dari
sisi keluaran (output), hasil (outcome) dan pada saat yang sama
melonggarkan kontrol atas masukan (input). Para manajer di sektor publik
diminta agar bertanggung jawab untuk seluruh biaya yang berhubungan
dengan output/outcome yang dihasilkannya, tidak sekadar dari sisi
pengeluaran kas. Dengan demikian akuntansi akrual dapat mendukung
pengambilan keputusan oleh para manajer secara efisien dan efektif
(Organisation for Economic Co-operation and Development, 2002:11).
Memperkenalkan akuntansi akrual mendapatkan tantangan dalam
proses

adopsinya

sehingga

membutuhkan

pendekatan

bertahap

(Treasury, 2005:40). Perlu diketahui bahwa tidak ada perubahan

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 13

Akuntansi Sektor Publik

mendadak dari kas ke akrual. Perubahan basis akuntansi dilakukan


bertahap melalui basis kas, basis kas yang dimodifikasi, basis akrual
dimodifikasi, dan terakhir basis akrual. Kas yang dimodifikasi berbeda dari
basis kas dalam akhir tahun penyesuaian dilakukan untuk beberapa noncash item seperti piutang dan utang. Akrual Modifikasi berbeda dari
akuntansi berbasis akrual dalam aset modal tidak diakui sebagai aset
melainkan sebagai pengeluaran secara penuh dalam periode di mana
mereka dibeli.
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP):
PSAP Nomor 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan;
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran;
PSAP Nomor 03 tentang Laporan Arus Kas;
PSAP Nomor 04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan;
PSAP Nomor 05 tentang Akuntansi Persediaan;
PSAP Nomor 06 tentang Akuntansi Investasi;
PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap;
PSAP Nomor 08 tentang Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan;
PSAP Nomor 09 tentang Akuntansi Kewajiban;
PSAP Nomor 10 tentang Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan
Akuntansi, dan Peristiwa Luar Biasa;
PSAP Nomor 11 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian;
PSAP Nomor 12 tentang Laporan Operasional.

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 14

Akuntansi Sektor Publik

Komponen Laporan Keuangan berdasarkan PP 71 tahun 2010


yaitu:
1. Laporan Realisasi Anggaran
2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL)
3. Neraca
4. Laporan Arus Kas
5. Laporan Operasional
6. Laporan Perubahan Ekuitas
7. Catatan atas Laporan Keuangan

PSAK Nomor 45 (Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba)


PSAK adalah standar akuntansi yang dibuat oleh Ikatan Akuntansi
indonesia (IAI) yang wajib digunakan sebagai pedoman dalam menyajikan
informasi keuangan setiap perusahaan. PSAK menyediakan sebuah
kerangka kerja untuk merumuskan konsep yang menggarisbawahi
persiapan dan penyajian informasi keuangan untuk pihak luar.
Untuk organiasi nirlaba, IAI menerbitkan Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan Nomor 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi
Nirlaba , dalam PSAK tersebut antara lain menguraikan tentang:
1. Tujuan Laporan Keuangan:
Tujuan utama laporan keuangan organisasi nirlaba pada dasarnya
memiliki

kesamaan

dengan

tujuan

laporan

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 15

keuangan

organisasi

Akuntansi Sektor Publik

komersial, yaitu menyajikan informasi yang relevan atas kegiatan-kegiatan


yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Namun, dikarenakan adanya
perbedaan tujuan organisasi, menyebabkan adanya perbedaan pada
kalangan pemakai laporan keuangan dan isi dari laporan keuangan
tersebut. PSAK Nomor 45 memberikan pengertian tujuan laporan
keuangan organisasi nirlaba adalah untuk menyediakan informasi yang
relevan untuk memenuhi kepentingan para penyumbang, anggota
organisasi, kreditur, dan pihak lain yang menyediakan sumber daya bagi
organisasi nirlaba.

2. Sifat Pembatasan Dana


Menurut PSAK Nomor 45 Laporan keuangan untuk organisasi nirlaba
terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan aktivitas, laporan arus kas,
dan catatan atas laporan keuangan. Dalam melakukan penyusunan
laporan keuangan memperhatikan sifat pembatasan dana, menurut PSAK
Nomor 45 mendefinisikan sebagai berikut:
Pembatasan permanen adalah pembatasan penggunaan sumber
daya yang ditetapkan oleh penyumbang agar sumber daya tersebut
dipertahankan secara permanen, tetapi organisasi diizinkan untuk

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 16

Akuntansi Sektor Publik

menggunakan sebagian atau semua penghasilan atau manfaat


ekonomi lainnya yang berasal dari sumber daya tersebut.
Pembatasan temporer adalah pembatasan penggunaan sumber
daya oleh penyumbang yang menetapkan agar sumber daya
tersebut dipertahankan sampai dengan periode tertentu atau
sampai dengan terpenuhinya keadaan tertentu.
Sumbangan terikat adalah sumber daya yang penggunaannya
dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyumbang. Pembatasan
tersebut dapat bersifat permanen atau temporer.
Sumbangan tidak terikat adalah sumber daya yang penggunaannya
tidak dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyumbang.
3. Komponen Laporan Keuangan
Menurut PSAK Nomor 45 menjelaskan bahwa komponen laporan
keuangan organisasi nirlaba meliputi :
a. Laporan Posisi Keuangan,
Tujuan laporan posisi keuangan adalah untuk menyediakan
informasi mengenai aktiva, kewajiban, dan aktiva bersih dan informasi
mengenai hubungan di antara Universitas-Universitas tersebut pada
waktu tertentu.

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 17

Akuntansi Sektor Publik

Informasi dalam laporan posisi keuangan yang digunakan bersama


pengungkapan dan informasi dalam laporan keuangan lainnya, dapat
membantu para penyumbang, anggota organisasi , kreditur, dan pihakpihak lain untuk menilai:
Kemampuan

organisasi

untuk

memberikan

jasa

secara

berkelanjutan; dan
Likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi
kewajibannya, dan kebutuhan pendanaan eksternal.
Laporan

posisi

keuangan,

termasuk

catatan

atas

laporan

keuangan, menyediakan informasi yang relevan mengenai likuiditas,


fleksibilitas keuangan, dan hubungan antara aktiva dan kewajiban.
Informasi tersebut umumnya disajikan dengan pengumpulan aktiva dan
kewajiban yang memiliki karakteristik serupa dalam suatu kelompok yang
relatif homogen. Laporan keuangan mencakup organisasi secara
keseluruhan dan harus menyajikan total aktiva, kewajiban, dan aktiva
bersih.

b. Laporan Aktivitas,
Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi
mengenai :

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 18

Akuntansi Sektor Publik

Pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan


sifat aktiva bersih.
Hubungan antar transaksi, dan peristiwa lain.

Bagaimana

penggunaan

sumber

daya

dalam

pelaksanaan

berbagai program atau jasa.


Informasi dalam laporan aktivitas, yang digunakan bersama dengan
pengungkapan informasi

dalam laporan

keuangan lainnya,

dapat

membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditur dan pihak


lainnya untuk :
Mengevaluasi kinerja dalam suatu periode.

Menilai upaya, kemampuan dan kesinambungan organisasi dan


memberikan jasa
Menilai pelaksanaan tanggung jawab dan kinerja manajer.

Laporan aktivitas menyajikan jumlah perubahan aktiva bersih


terikat permanen, terikat temporer, dan tidak terikat dalam suatu periode.
Laporan aktivitas juga menyajikan keuntungan dan kerugian yang diakui
dari investasi dan aktiva lain (atau kewajiban) sebagai penambah atau
pengurang aktiva bersih tidak terikat, kecuali jika penggunaannya dibatasi

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 19

Akuntansi Sektor Publik

oleh penyumbang, dan menyajikan beban sebagai pengurang aktiva


bersih tidak terikat.
Sumbangan disajikan sebagai penambah aktiva bersih tidak terikat,
terikat permanen, atau terikat temporer, tergantung pada ada tidaknya
pembatasan. Dalam hal sumbangan terikat yang pembatasannya tidak
berlaku lagi dalam periode yang sama, dapat disajikan sebagai
sumbangan tidak terikat sepanjang disajikan secara konsisten dan
diungkapkan sebagai kebijakan akuntansi.
Laporan aktivitas menyajikan keuntungan dan kerugian yang diakui
dari investasi dan aktiva lain (atau kewajiban) sebagai penambah atau
pengurang aktiva bersih tidak terikat, kecuali jika penggunaannya dibatasi.
Laporan aktivitas menyajikan jumlah pendapatan dan beban secara bruto.
Namun demikian pendapatan investasi, dapat disajikan secara neto
dengan syarat beban-beban terkait, seperti beban penitipan dan beban
penasihat investasi, diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Laporan aktivitas atau catatan atas laporan keuangan harus menyajikan
informasi mengenai beban menurut klasifikasi fungsional, seperti menurut
kelompok program jasa utama dan aktivitas pendukung. Di samping itu,
organisasi nirlaba dianjurkan untuk menyajikan informasi tambahan
mengenai beban menurut sifatnya. Misalnya, berdasarkan gaji, sewa,
listrik, bunga, penyusutan.
c. Laporan Arus Kas

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 20

Akuntansi Sektor Publik

Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi mengenai


penerimaan dan pengeluaran kas dalam suatu periode.

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)


SPKN

adalah

Standar

Pemeriksaan

Keuangan

Negara

sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 5 UU Nomor 15 tahun 2004


tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
SPKN ini ditetapkan dengan peraturan BPK Nomor 1 Tahun 2007
sebagaimana

amanat

UU

yang

ada.

Dengan

demikian,

sejak

ditetapkannya Peraturan BPK ini dan dimuatnya dalam Lembaran Negara,


SPKN ini akan mengikat BPK maupun pihak lain yang melaksanakan
pemeriksaan keuangan negara untuk dan atas nama BPK.

SPKN berlaku untuk :


1. Badan Pemeriksaan Keuangan RI
2. Akuntan publik atau pihak lainnya yang melakukan pemeriksaan
atas pengelolaan keuangan negara untuk dan atas nama BPK-RI.
3. Acuan dalam menyusun standar pemeriksaan sesuai dengan
kedudukan, tugas pokok dan fungsi masing-masing.
4. Pihak-pihak lain yang ingin menggunakan SPKN.
Tujuan SPKN adalah untuk menjadi ukuran mutu bagi para

pemeriksa dan organisasi pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan


atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Pemeriksa juga

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 21

Akuntansi Sektor Publik

memiliki tanggung jawab secara profesi dalam melaksanakan dan


melaporkan hasil pemeriksaan sebagaimana diatur dalam SPKN.

REGULASI DAN STANDAR INTERNASIONAL AKUNTANSI SEKTOR


PUBLIK
Saat ini, banyak entitas yang termasuk dalam kategori organisasi
sektor publik yang telah mengimplementasikan akuntansi dalam sistem
keuangannya. Akan tetapi, praktik akuntansi yang dilakukan oleh entitasentitas tersebut memiliki banyak perbedaan khususnya dalam proses
pelaporan keuangan. Hal tersebut sangat dimungkinkan oleh belum
banyaknya pemerintah suatu negara yang menerbitkan standar baku
akuntansi untuk mengatur praktik akuntansi bagi organisasi sektor publik.
Berdasarkan

kebutuhan

tersebut, International

Federation

of

Accountants-IFAC (Federasi Akuntan Internasional) membentuk sebuah


komite khusus yang bertugas menyusun sebuah standar akuntansi bagi
organisasi sektor publik yang berlaku secara internasional yang kemudian
disebut International Public Sector Accounting Standards-IPSAS (Standar
Internasional Akuntansi Sektor Publik). Dalam pelaksanaannya, komite
tersebut tidak hanya menyusun standar tetapi juga membuat program
yang sistematis yang mendorong aplikasi IPSAS oleh entitas-entitas
publik di seluruh dunia.

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 22

Akuntansi Sektor Publik

IPSAS adalah standar akuntansi untuk entitas sektor publik yang


berlaku secara internasional yang dikembangkan oleh International Public
Sector Accounting Standards Board (IPSASB). IPSASB merupakan badan
yang bernaung di bawah International Federation of Accountants (IFAC),
organisasi profesi akuntansi di tingkat internasional yang didirikan di
Munich pada tahun 1977.
Dalam pelaksanaannya, IFAC tidak hanya menyusun standar tetapi
juga membuat program yang sistematis yang mendorong aplikasi IPSAS
oleh entitas-entitas publik di seluruh dunia.
IPSAS meliputi serangkaian standar yang dikembangkan untuk
basis akrual (accrual basis), namun juga terdapat suatu bagian IPSAS
yang terpisah guna merinci kebutuhan untuk basis kas (cash basis).
Dalam hal ini, IPSAS dapat diadopsi oleh organisasi sektor publik yang
sedang dalam proses perubahan dari cash basis ke accrual basis. Jika
demikian, maka organisasi sektor publik yang telah memutuskan untuk
mengadopsi basis akrual menurut IPSAS, harus mengikuti ketentuan
waktu mengenai masa transisi dari basis kas ke basis akrual yang diatur
oleh IPSAS.
Pada akhirnya, cakupan yang diatur dalam IPSAS meliputi seluruh
organisasi sektor publik termasuk juga lembaga pemerintahan baik
pemerintah pusat, pemerintah regional (provinsi), pemerintah daerah
(kabupaten/kota), dan komponen-komponen kerjanya (dinas-dinas).

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 23

Akuntansi Sektor Publik

International Federation of Accountants (IFAC) yang didirikan di


Munich pada tahun 1977, merupakan federasi dan organisasi akuntan
internasional. Standar akuntansi yang diterbitkan IFAC juga tetap
menunjukkan bahwa sektor bisnis dan sektor public tetap berbeda. Hal ini
diwujudkan dalam pembentukan dua badan penyusun standar yang
terpisah yaitu IASB yang menyusun standar untuk sektor bisnis
sedangkan untuk sektor public ada IPSASB. IASB menerbitkan IAS
sedangkan IPSASB menerbitkan IPSAS.
Mengacu pada International Accounting Standards (IAS / IFRS)
IPSAS bukan untuk mengganti standar yang ada di suatu negara, tapi
untuk mengembangkan atau merevisi standar yang ada .
IPSAS dikembangkan menurut basis akrual (sebelum revisi) IPSAS
yang diterbitkan oleh IPSASB terkait dengan pelaporan keuangan sektor
publik, baik untuk yang masih menganut basis kas (cash basis) maupun
yang telah mengadopsi basis akrual (accrual basis).
IPSAS yang berbasis akrual dikembangkan dengan mengacu
kepada International Financial Reporting Standards (IFRS), standar
akuntansi bisnis yang diterbitkan oleh International Accounting Standards
Board (IASB), sepanjang ketentuan-ketentuan di dalam IFRS dapat
diterapkan

di

sektor

publik.

Meskipun

demikian,

IPSASB

tetap

memperhatikan isu-isu yang spesifik di sektor publik yang tidak tercakup


di dalam IFRS.

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 24

Akuntansi Sektor Publik

Dalam edisi revisi, ED 27 dianut dua basis yaitu basis akrual dan
juga basis kas. Sebagaimana dinyatakan dalam paragraph 2 An entity
that prepares and presents general purpose financial statements under
accrual or cash basis of accounting in accordance with. Selanjutnya
dalam paragraph 4 dinyatakan jika basis akrual yang digunakan maka
harus dibaca berkaitan dengan IPSAS sedangkan jika digunakan basis
kas maka standar harus dibaca dalam konteks IPSAS basis kas (The
Cash Basis IPSAS, Financial Reporting Under the Cash Basis of
Accounting).
Menurut

IPSAS,

laporan

keuangan

akrual

secara

umum

setidaknya terdiri dari :

Statement of Financial Position (neraca)


Statement of Financial Performance (Laporan Kinerja Keuangan)
Statement of Changes In Net Assets / Equity (Laporan Perubahan
dalam Aset Bersih/ Ekuitas)
Cash Flow Statement (Laporan Arus Kas)
Accounting Policies and Notes to The Financial Statements (Catatan
atasKebijakan Akuntansi dan Catatan atas Laporan Keuangan).
Sampai tahun 2010, standar akuntansi sector public yang telah

dikeluarkan oleh IPSASB, yang dikenal dengan nama International Public


Sector Accounting Standards(IPSAS), yaitu :
IPSAS 1 : Presentation of Financial Statements (Penyajian Laporan
Keuangan)

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 25

Akuntansi Sektor Publik

menetapkan pertimbangan keseluruhan penyajian laporan keuangan,


pedoman struktur laporan keuangan tersebut dan persyaratan minimum
untuk konten mereka di bawah dasar akrual.
IPSAS 2 : Cash Flow Statements (Laporan Arus Kas)
memerlukan penyediaan informasi mengenai perubahan kas dan setara
kas selama periode operasi, investasi dan pendanaan.
IPSAS 3 : Accounting Policies, Changes in Accounting Estimates
and Errors (Surplus atau Defisit Bersih)
Surplus atau Defisit Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar
dan Perubahan Kebijakan Akuntansi, menentukan perlakuan akuntansi
atas perubahan estimasi akuntansi, perubahan kebijakan akuntansi dan
koreksi atas kesalahan mendasar, mendefinisikan item luar biasa dan
mensyaratkan pengungkapan terpisah item tertentu dalam laporan
keuangan.
IPSAS 4 : The Effects of Changes in Foreign Exchange Rates
(Pengaruh Perubahan Tukar Mata Uang Asing)
berkaitan dengan akuntansi untuk transaksi mata uang asing dan operasi
asing. IPSAS 4 menetapkan persyaratan untuk menentukan nilai tukar
yang digunakan untuk dasar pencatatan transaksi tertentu dan saldo dan
bagaimana mengenali dalam laporan keuangan dampak keuangan
perubahan nilai tukar.
IPSAS 5 : Borrowing Costs (Biaya Pinjaman)

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 26

Akuntansi Sektor Publik

mengatur perlakuan akuntansi untuk biaya pinjaman dan membutuhkan


baik langsung membebankan biaya pinjaman atau, sebagai pengobatan
alternatif yang diizinkan, kapitalisasi biaya pinjaman yang langsung dapat
diatribusikan dengan perolehan, konstruksi atau produksi suatu kualifikasi
aset.
IPSAS 6 : Consolidated and Separate Financial Statements (Laporan
Keuangan Konsolidasi dan Akuntansi Entitas)
mengharuskan semua entitas pengendalian untuk menyiapkan laporan
keuangan konsolidasi yang mengkonsolidasikan seluruh entitas yang
dikendalikan pada baris dengan metode garis. Standar juga berisi diskusi
rinci tentang konsep kontrol seperti itu diterapkan pada sektor publik dan
panduan untuk menentukan apakah kontrol ada untuk tujuan pelaporan
keuangan.
IPSAS 7 : Investments in Associates (Akuntansi untuk Investasi
dalam Perusahaan Asosiasi)
mengharuskan semua investasi pada perusahaan asosiasi diperhitungkan
dalam laporan keuangan konsolidasi dengan menggunakan metode
ekuitas, kecuali jika investasi dibeli dengan tujuan untuk dijual dalam
waktu dekat dalam hal metode biaya diperlukan.
IPSAS

8 : Interests

in

Joint

Ventures

Kepentingan dalam Ventura Bersama)

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 27

(Pelaporan

Keuangan

Akuntansi Sektor Publik

membutuhkan konsolidasi proporsional untuk diadopsi sebagai patokan


untuk

perlakuan

akuntansi

untuk

venturer

bersama

tersebut

ditandatangani oleh entitas sektor publik. Namun, IPSAS 8 juga


memungkinkan - sebagai alternatif diperbolehkan - usaha bersama yang
akan dicatat dengan menggunakan metode ekuitas.
IPSAS 9 : Revenue from Exchange Transactions (Pendapatan dari
Transaksi Bursa)
menetapkan persyaratan untuk perlakuan akuntansi pendapatan dari
transaksi pertukaran. Non-tukar pendapatan, seperti perpajakan, tidak
dibahas dalam standar ini. Non-tukar pendapatan harus ditangani sebagai
proyek terpisah.
IPSAS 10 : Financial Reporting in Hyperinflationary Economies
(Pelaporan Keuangan dalam Hyperinflationary Ekonomi)
menggambarkan karakteristik perekonomian yang menunjukkan apakah
itu mengalami masa hiperinflasi dan menyediakan panduan ulangan
laporan keuangan di lingkungan hyperinflationary untuk memastikan
informasi yang berguna disediakan.
IPSAS 11 : Construction Contracts (Kontrak Konstruksi)
berkaitan dengan kedua kontrak komersial dan non-komersial dan
menyediakan panduan dalam alokasi biaya kontrak dan, jika diperlukan,
kontrak pendapatan untuk periode pelaporan di mana pekerjaan
konstruksi dilakukan.

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 28

Akuntansi Sektor Publik

IPSAS 12 : Inventories (Persediaan)


mengatur perlakuan akuntansi persediaan yang diselenggarakan oleh
perusahaan sektor publik dan berhubungan dengan persediaan yang
dimiliki untuk dijual dalam transaksi bursa dan persediaan tertentu yang
dimiliki untuk distribusi tanpa dikenakan biaya atau nominal. IPSAS tidak
termasuk dari ruang lingkup kerja dalam kemajuan layanan yang akan
diberikan tanpa biaya atau nominal dari penerima karena mereka tidak
ditangani oleh IAS 2 Persediaan dan karena mereka melibatkan isu-isu
sektor publik tertentu yang memerlukan pertimbangan lebih lanjut.
IPSAS 13 : Leases (Sewa)
IPSAS ini didasarkan pada IAS 17 Sewa. The IPSAS menetapkan
persyaratan untuk pelaporan keuangan sewa dan transaksi penjualan dan
penyewaan kembali oleh entitas sektor publik, baik sebagai penyewa atau
lessor. PSC memutuskan bahwa karena IPSAS di Sewa dan IPSAS yang
diusulkan tentang Aset Tetap sangat erat terkait, itu lebih baik bahwa dua
IPSASs akan dirilis pada waktu yang sama. Dengan demikian, pelepasan
IPSAS ini telah ditangguhkan untuk kemudian pada tahun 2001. (Lihat
bagian di Work in Progress di bawah ini untuk laporan tentang kemajuan
dalam IPSAS tentang Aset Tetap.)
IPSAS 14 : Events After the Reporting Date (Peristiwa Setelah
Tanggal Pelaporan)
IPSAS didasarkan pada IAS 10, Peristiwa Setelah Tanggal Neraca (revisi
1999), tetapi telah mengalami perubahan dimana diperlukan untuk
Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 29

Akuntansi Sektor Publik

mencerminkan lingkungan sektor usaha publik. Standar menetapkan


kriteria untuk menentukan apakah laporan keuangan harus disesuaikan
untuk sebuah event yang

terjadi setelah tanggal pelaporan. Ia

membedakan antara peristiwa adjustable (orang-orang yang memberikan


bukti dari kondisi yang ada pada tanggal pelaporan) dan acara nonadjustable (mereka yang menunjukkan kondisi yang muncul setelah
tanggal pelaporan.
IPSAS 15 : Financial Instruments: Disclosure and Presentation
(Instrumen Keuangan : Penyajian dan Pengungkapan)
IPSAS didasarkan pada IAS 32, Instrumen Keuangan: Penyajian dan
Pengungkapan (Revisi 1998). Standar mencakup persyaratan untuk
pengungkapan tentang kedua pada lembar-neraca dan off-balance
(laporan posisi keuangan) instrumen, dan klasifikasi instrumen keuangan
sebagai aset keuangan, kewajiban atau ekuitas. Beberapa responden
mencatat bahwa IPSAS akan aplikasi terbatas hanya untuk entitas sektor
publik yang tidak memiliki aset keuangan, kewajiban atau ekuitas. PSC
telah dimasukkan sebagai lampiran ke IPSAS panduan untuk membantu
perusahaan dalam mengidentifikasi persyaratan Standar yang akan
dikenakan kepada mereka.
IPSAS 16 : Investment Property (Properti Investasi)
IPSAS 16 Investasi Properti didasarkan pada IAS 40, Investasi Properti
(diterbitkan 2000) dan menyediakan panduan untuk mengidentifikasi
properti investasi di sektor publik. Standar ini :
Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 30

Akuntansi Sektor Publik

a. mengharuskan properti investasi awalnya diakui sebesar harga


perolehan dan menjelaskan bahwa di mana aset diperoleh tanpa
biaya atau nominal, biaya adalah nilai wajarnya pada tanggal itu
adalah pertama kali diakui dalam laporan keuangan;
b. mensyaratkan bahwa setelah pengakuan awal properti investasi
diukur konsisten dengan baik model nilai wajar atau model biaya dan
c. memasukkan ketentuan peralihan untuk adopsi awal IPSAS
IPSAS 17 : Property, Plant, and Equipment (Aktiva Tetap)
IPSAS 17 Aktiva Tetap, mengatur perlakuan akuntansi aset tetap,
termasuk dasar dan waktu pengakuan awal mereka, dan penentuan
jumlah mereka terus-menerus tercatat, pembebanan penyusutan. Tidak
memerlukan atau melarang pengakuan aset warisan.
IPSAS 18 : Segment Reporting (Pelaporan Segmen)
Menetapkan prinsip pelaporan informasi keuangan tentang kegiatan
dibedakan dari pemerintah atau badan sektor publik lainnya yang sesuai
untuk mengevaluasi kinerja masa lalu entitas dalam mencapai tujuan dan
untuk membuat keputusan tentang alokasi sumber daya masa depan.
IPSAS 19 : Provisions, Contingent Liabilities and Contingent Assets
(Provisi, Kewajiban Kontinjensi dan Aset Kontinjensi)
Standar ini mendefinisikan ketentuan, kewajiban kontinjensi dan aktiva
kontinjensi, dan mengidentifikasi keadaan di mana ketentuan harus diakui,
bagaimana mereka harus diukur dan pengungkapan yang harus dibuat
tentang mereka. Standar juga mensyaratkan bahwa informasi tertentu

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 31

Akuntansi Sektor Publik

diungkapkan tentang kewajiban kontinjensi dan aktiva kontinjensi dalam


catatan atas laporan keuangan untuk memungkinkan pengguna untuk
memahami sifat mereka, waktu, dan jumlah.
IPSAS 20 : Related Party Disclosures (Pengungkapan Pihak Terkait)
IPSAS 20 mensyaratkan pengungkapan adanya hubungan istimewa di
mana kontrol ada dan pengungkapan informasi tentang transaksi antara
perusahaan dan pihak terkait dalam keadaan tertentu. Informasi ini
diperlukan untuk tujuan akuntabilitas dan untuk memfasilitasi pemahaman
yang lebih baik dari posisi keuangan dan kinerja perusahaan pelapor. Isuisu utama dalam pengungkapan informasi mengenai pihak yang
mempunyai hubungan istimewa adalah mengidentifikasi kendali pihak
atau secara signifikan mempengaruhi entitas pelaporan dan menentukan
informasi apa yang harus diungkapkan mengenai transaksi dengan pihakpihak.
IPSAS 21 : Impairment of Non-Cash-Generating Assets (Penurunan
Non-Cash-Generating Aset IPSAS 20)
mengatur prosedur yang entitas menerapkan untuk menentukan apakah
suatu aset non-kas-menghasilkan terganggu dan untuk memastikan
bahwa kerugian penurunan nilai diakui. Standar ini juga menentukan
kapan

suatu

entitas

akan

membalikkan

pengungkapan yang diperlukan.

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 32

penurunan

nilai

dan

Akuntansi Sektor Publik

IPSAS 22 : Disclosure of Information about the General Government


Sector

(Pengungkapan

Informasi

Keuangan

tentang

Sektor

Pemerintah Umum)
IPSAS 22 menetapkan persyaratan bagi pemerintah yang memilih untuk
mengungkapkan informasi tentang sektor pemerintah umum dan yang
menyiapkan laporan keuangan mereka di bawah dasar akrual.
IPSAS 23 : Revenue from Non-Exchange Transactions (Taxes and
Transfers) (Pendapatan dari Transaksi Luar Bursa (Pajak dan
Transfer))
IPSAS 23 alamat:
a. Pengakuan dan pengukuran pendapatan dari pajak,
b. Pengakuan pendapatan dari transfer, yang meliputi hibah dari
pemerintah

lainnya

dan

organisasi

internasional,

hadiah

dan

sumbangan,
c. Bagaimana kondisi dan pembatasan penggunaan sumber daya
dialihkan harus tercermin dalam laporan keuangan.
IPSAS

24 : Presentation

Statements

(Penyajian

of

Budget

Informasi

Information

Anggaran

in Financial

dalam

Laporan

Keuangan)
IPSAS 24 berlaku untuk entitas yang menerapkan basis akrual pelaporan
keuangan. Ini mengidentifikasi pengungkapan dibuat oleh pemerintah dan
entitas sektor publik lainnya yang membuat anggaran yang disetujui
mereka tersedia untuk umum. Juga, itu memerlukan entitas sektor publik
untuk menyertakan perbandingan anggaran dan jumlah aktual dalam
Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 33

Akuntansi Sektor Publik

laporan keuangan dan penjelasan tentang perbedaan material antara


anggaran dan jumlah sebenarnya.
IPSAS 25 : Employee Benefits Imbalan Kerja
IPSAS 25 menetapkan persyaratan pelaporan untuk empat kategori
manfaat karyawan dibahas dalam 19 IASB's IAS Imbalan Kerja. Ini adalah
imbalan kerja jangka pendek, seperti upah dan iuran jaminan sosial;
pasca-kerja, termasuk pensiun dan tunjangan pensiun lainnya; lain
imbalan kerja jangka panjang, dan pesangon. Para IPSAS baru juga
berkaitan dengan isu-isu spesifik untuk sektor publik, termasuk tingkat
diskonto yang berkaitan dengan imbalan pasca-kerja, pengobatan imbalan
pasca-kerja yang diberikan melalui komposit program jaminan sosial, dan
manfaat cacat jangka panjang. IPSAS 25 berlaku efektif untuk pelaporan
periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2011.
IPSAS 26 : Impairment of Cash-Generating Assets (Penurunan Nilai
Aktiva Kas-Pembangkit)
Beberapa entitas sektor publik (selain usaha bisnis pemerintah, yang
sudah akan menggunakan SAK penuh) dapat beroperasi aktiva dengan
tujuan utama menghasilkan kembali komersial (daripada menyediakan
pelayanan publik). IPSAS 26, yang didasarkan pada PSAK 36 Penurunan
Nilai Aktiva, berlaku untuk aktiva tersebut. Ini menetapkan prosedur bagi
badan sektor publik untuk menentukan apakah aset penghasil kas telah
kehilangan manfaat ekonomi masa depan atau potensi layanan dan untuk
memastikan bahwa kerugian penurunan nilai diakui dalam laporan
Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 34

Akuntansi Sektor Publik

keuangan. Non kas-menghasilkan aset, yang digunakan terutama untuk


penyediaan layanan, ditangani secara terpisah dalam IPSAS 21
Penurunan Non-Cash-Generating Aset. IPSAS 26 berlaku efektif untuk
pelaporan periode yang dimulai pada atau setelah 1 April 2009.
IPSAS 27 : Agriculture (Pertanian)
IPSAS 27 mengatur perlakuan akuntansi dan pengungkapan yang terkait
dengan kegiatan pertanian, hal yang tidak tercakup dalam standar lain.
kegiatan pertanian pengelolaan oleh entitas dari transformasi biologis
hewan hidup atau tanaman (aktiva biologi) untuk dijual atau untuk
distribusi tanpa biaya atau dengan biaya nominal atau untuk dikonversi
menjadi hasil pertanian atau dalam aset biologis tambahan. IPSAS 27
terutama diambil dari IAS 41 IASB Pertanian, dengan perubahan terbatas
berurusan dengan isu-isu spesifik sektor publik. Sebagai contoh, IPSAS
27 alamat aset biologis yang dimiliki untuk mentransfer atau distribusi
tanpa biaya atau dengan biaya nominal untuk lain badan-badan sektor
publik atau tidak-untuk organisasi nirlaba. 27 IPSAS juga mencakup
persyaratan

pengungkapan

yang

bertujuan

untuk

meningkatkan

konsistensi dengan dasar statistik akuntansi yang mengatur Statistik


Keuangan Pemerintah Manual. IPSAS 27 berlaku efektif untuk laporan
keuangan tahunan yang mencakup periode yang dimulai pada atau
setelah tanggal 1 April 2011, dengan aplikasi sebelumnya dianjurkan.

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 35

Akuntansi Sektor Publik

IPSAS

28 : Financial

Instruments:

Presentation

(Instrumen

Keuangan : Penyajian)
IPSAS 28 menarik terutama pada IAS 32 dan menetapkan prinsip-prinsip
penyajian instrumen keuangan sebagai kewajiban atau ekuitas dan saling
hapus aset keuangan dan kewajiban keuangan.
IPSAS 29 : Financial Instruments: Recognition and Measurement
(Instrumen Keuangan : Pengakuan dan Pengukuran)
IPSAS 29 menarik terutama pada IAS 39, menetapkan prinsip untuk
pengakuan dan pengukuran aset keuangan, kewajiban keuangan, dan
kontrak untuk membeli atau menjual item non-keuangan.
IPSAS

30 : Financial

Instruments:

Disclosures

(Instrumen

Keuangan : Pengungkapan)
IPSAS 30 mengacu pada IFRS 7 dan membutuhkan pengungkapan jenis
pinjaman yang dijelaskan dalam IPSAS 29. Hal ini memungkinkan
pengguna untuk mengevaluasi: pentingnya instrumen keuangan dalam
posisi keuangan entitas dan kinerja, sifat dan tingkat risiko yang timbul
dari instrumen keuangan yang entitas yang terkena, dan bagaimana
risiko-risiko tersebut dikelola.
IPSAS 31 : Intangible Assets (Aktiva tidak berwujud)
IPSAS 31 meliputi akuntansi dan pengungkapan aktiva tidak berwujud.
Hal ini terutama diambil dari IAS 38 Aktiva Tidak Berwujud. Hal ini juga

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 36

Akuntansi Sektor Publik

mengandung ekstrak dari 32 Aktiva tidak berwujud-SIC Web Site Biaya,


menambahkan panduan aplikasi dan ilustrasi yang belum dimasukkan ke
dalam IAS. Pada titik ini, IPSAS 31 tidak berhubungan dengan isu sektor
unik publik, seperti kekuasaan dan hak-hak yang diberikan oleh undangundang, konstitusi, atau dengan cara setara; yang IPSASB akan
mempertimbangkan kembali penerapan standar ini kekuasaan dan hakhak dalam konteks yang konseptual kerangka kerja proyek yang saat ini
sedang dalam penyelesaian.

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 37

Akuntansi Sektor Publik

Daftar Pustaka
Anonim, 2007, Pedoman Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP),
Penerbit Komite Standar Akuntansi Pemerintahan, Jakarta;
Anonim. 2014. Isi International Public Sector Accounting Standards.
Accounting-media.blogspot.co.id.

Diakses

pada

tanggal

14

September 2015.
Bastian, Indra. 2006. Akuntansi Sektor Publik : Suatu Pengantar,
Penerbit Erlangga, Jakarta.
Damayanti, RA. 2013. Akuntansi Akrual dan Penerapannya di Sektor
Publik : Sebuah Agenda Pembaruan, Modul Star BPKP, Jakarta.
Djamhuri, A. dan Mahmudi. 2006. New Public Mananagement,
accounting reform and institutional perspective of public
sector

accounting

in

indonesia.

Jurnal

Bisnis

dan

Akuntansi,3:301-321.
http://www.ilmu-ekonomi.com/2012/02/pernyataan-standar-akuntansikeuangan.html. Diakses pada tanggal 14 September 2015.
http://jurnalakuntansikeuangan.com/istilah-definisi-akuntansi-psak.
Diakses pada tanggal 14 September 2015.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2011. Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan

(PSAK)

tentang

Pelaporan

Nirlaba. Penerbit DSAK, Jakarta.

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 38

Keuangan

Entitas

Akuntansi Sektor Publik

International Public Sector Accounting Board. 2011. International Public


Sector Accounting Standards. London: International Public
Sector Accounting Board.
Jerry, Andi. 2013. Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik. Ar-aralfajri.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 14 September 2015.
Jerry, Andi. 2013. Regulasi dan Standar Internasional Akuntansi
Sektor Publik. Ar-ar-alfajri.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 14
September 2015.
Mardiasmo. 2004. Akuntansi Sektor Publik (Edisi Kedua). Penerbit Andi
Yogyakarta.
Ndaraha, Taliziduhu. 2003. Budaya Organisasi. Penerbit PT. Rineka
Cipta Jakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan.
Peraturan BPK Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan
Keuangan Negara.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
UU Nomor 15 tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara.
www.google.com- widi.staff.gunadarma.ac.id/Pengantar

ASP.

Diakses

pada tanggal 14 September 2015.


www.google.com-Bambang Kesit (2010). Akuntansi Sektor Publik. Diakses
pada tanggal 14 September 2015.

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 39

Akuntansi Sektor Publik

Regulasi dan Standar Akuntansi Sektor Publik Page 40