Anda di halaman 1dari 10

BAB V

SINEMATOGRAFI
Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris Cinematography yang berasal dari
bahasa Latin kinema 'gambar'. Sinematografi sebagai ilmu terapan merupakan bidang
ilmuyang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar
tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat
mengemban cerita).
Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan
cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannyapun mirip.
Perbedaannya, peralatan fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi
menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar
tunggal,

sedangkan

pada

sinematografi

memanfaatkan

rangkaian

gambar.

Jadi

sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik perangkaian gambar atau
dalam sinematografi disebut montase (montage).
Sinematografi sangat dekat dengan film dalam pengertian sebagai media penyimpan
maupun sebagai genre seni. Film sebagai media penyimpan adalah pias (lembaran kecil)
selluloid yakni sejenis bahan plastik tipis yang dilapisi zat peka cahaya. Benda inilah yang
selalu digunakan sebagai media penyimpan di awal pertumbuhan sinematografi. Film
sebagai genre seni adalah produk sinematografi.
A. Definisi Sinematografi
Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris Cinematography yang berasal
dari bahasa Latin kinema 'gambar'. Sinematografi sebagai ilmu terapan merupakan bidang
ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan
gambar tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat
mengemban cerita).
Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan
cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannyapun mirip.
Perbedaannya, peralatan fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi
menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar
tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar. Jadi sinematografi
adalah gabungan antara fotografi dengan teknik perangkaian gambar atau dalam
sinematografi disebut montase (montage).Sinematografi sangat dekat dengan film dalam
pengertian sebagai media penyimpan maupun sebagai genre seni. Film sebagai media
penyimpan adalah pias (lembaran kecil) selluloid yakni sejenis bahan plastik tipis yang
dilapisi zat peka cahaya. Benda inilah yang selalu digunakan sebagai media penyimpan di
awal pertumbuhan sinematografi. Film sebagai genre seni adalah produk sinematografi.

B. Film sebagai Produk Sinematografi


Film adalah gambar-hidup, juga sering disebut movie. Film, secara kolektif, sering
disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak. Film juga
sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa di kenal di dunia para sineas
sebagai seluloid. Pengertian secara harafiah film (sinema) adalah Cinemathographie yang
berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie = grahp (tulisan = gambar = citra),
jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar kita dapat melukis gerak
dengan cahaya, kita harus menggunakan alat khusus, yang biasa kita sebut dengan kamera.
Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figur
palsu) dengan kamera, dan/atau oleh animasi. Kamera film menggunakan pita seluloid (atau
sejenisnya, sesuai perkembangan teknologi). Butiran silver halida yang menempel pada pita
ini sangat sensitif terhadap cahaya. Saat proses cuci film, silver halida yang telah terekspos
cahaya dengan ukuran yang tepat akan menghitam, sedangkan yang kurang atau sama sekali
tidak terekspos akan tanggal dan larut bersama cairan pengembang (developer).
Definisi Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang
merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas
sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan
hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses
kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat
dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau
lainnya;
Istilah film pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik yang dilapisi
dengan zat peka cahaya. Media peka cahaya ini sering disebut selluloid. Dalam bidang
fotografi film ini menjadi media yang dominan digunakan untuk menyimpan pantulan cahaya
yang tertangkap lensa. Pada generasi berikutnya fotografi bergeser padapenggunaan media
digital elektronik sebagai penyimpan gambar.
Dalam bidang sinematografi perihal media penyimpan ini telah mengalami
perkembangan yang pesat. Berturut-turut dikenal media penyimpan selluloid (film), pita
analog, dan yang terakhir media digital (pita, cakram, memori chip). Bertolak dari pengertian
ini maka film pada awalnya adalah karya sinematografi yang memanfaatkan media selluloid
sebagai penyimpannya.
Sejalan dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi, maka
pengertian film telah bergeser. Sebuah film cerita dapat diproduksi tanpa menggunakan
selluloid (media film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit film yang menggunakan media
selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap pasca produksi gambar yang telah
diedit dari media analog maupun digital dapat disimpan pada media yang fleksibel. Hasil
akhir karya sinematografi dapat disimpan Pada media selluloid, analog maupun digital.

Perkembangan teknologi media penyimpan ini telah mengubah pengertian film dari
istilah yang mengacu pada bahan ke istilah yang mengacu pada bentuk karya seniaudiovisual. Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang menggunakan
audio (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.Istilah film pada mulanya mengacu pada
suatu media sejenis plastik yang dilapisi dengan zat peka cahaya. Media peka cahaya ini
sering disebut selluloid. Dalam bidang fotografi film ini menjadi media yang dominan
digunakan untuk menyimpan pantulan cahaya yang tertangkap lensa.
Pada generasi berikutnya fotografi bergeser padapenggunaan media digital elektronik
sebagai penyimpan gambar. Dalam bidang sinematografi perihal media penyimpan ini telah
mengalami perkembangan yang pesat. Berturut-turut dikenal media penyimpan selluloid
(film), pita analog, dan yang terakhir media digital (pita, cakram, memori chip). Bertolak dari
pengertian ini maka film pada awalnya adalah karya sinematografi yang memanfaatkan
media selluloid sebagai penyimpannya.
Sejalan dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi, maka
pengertian film telah bergeser. Sebuah filmcerita dapat diproduksi tanpa menggunakan
selluloid (media film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit film yang menggunakan media
selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap pasca produksi gambar yang telah
diedit dari media analog maupun digital dapat disimpan pada media yang fleksibel. Hasil
akhir karya sinematografi dapat disimpan Pada media selluloid, analog maupun
digital.Perkembangan teknologi media penyimpan ini telah mengubah pengertian film dari
istilah yang mengacu pada bahan ke istilah yeng mengacu pada bentuk karya seniaudiovisual. Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang menggunakan
audio (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.
C. Teknik Pengambilan Gambar
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan perangkat kamera. Sebelum
melakukan shooting ada baiknya jika seorang juru kamera persiapan-persiapan sebagai
berikut:
1.

Penguasaan terhadap perangkat kamera yang akan digunakan. Sebaiknya mengikuti


aturan penggunaan yang tertulis pada manual book. Pahami kelebihan dan
kekurangannya.

2.

Setelah paham dengan seluk beluk kamera, pahami juga adegan apa dan teknik yang
bagaimana yang diinginkan.

3.

Membuat breakdown peralatan yang akan digunakan seperti baterai, mikrofon, kabel
extension, dll.

4.

Pastikan baterai dalam kondisi prima dan penuh, dan semua fasilitas di kamera
berjalan dengan baik.

Dalam kegiatan produksi video/ film, terdapat banyak jenis kamera yang digunakan.
Pembagian jenis kamera video/ film dibedakan atas media yang digunakan untuk menyimpan
data (gambar & suara) yang telah diambil.
Seperti halnya pada fotografi, gambar yang telah diambil disimpan pada gulungan film.
Namun pada kamera jenis ini, disamping gulungan film juga terdapat pita magnetik untuk
menyimpan data suara. Dalam 1 detik pengambilan gambar, dibutuhkan sekitar 30 frame
film. Adapun jenis film yang digunakan adalah film positif (slide), dimana untuk melihat
isinya harus dicuci terlebih dulu di laboratorium film dan diproyeksikan dengan
menggunakan proyektor khusus.
Pengambilan gambar terhadap suatu objek dapat dilakukan dengan lima cara:
1) Bird Eye View
Teknik pengambilan gambar yang dilakukan dengan ketinggian kamera berada di atas
ketinggian objek. Hasilnya akan terlihat lingkungan yang luas dan benda-benda lain
tampak kecil dan berserakan.
2) High Angle
Sudut pengambilan dari atas objek sehingga mengesankan objek jadi terlihat kecil.
Teknik ini memiliki kesan dramatis yaitu nilai kerdil.
3) Low Angle
Sudut pengambilan dari arah bawah objek sehingga mengesankan objek jadi terlihat
besar. Teknik ini memiliki kesan dramatis yaitu nilai agung/ prominance, berwibawa,
kuat, dominan.
4) Eye Level
Sudut pengambilan gambar sejajar dengan objek. Hasilnya memperlihatkan
tangkapan pandangan mata seseorang. Teknik ini tidak memiliki kesan dramatis
melainkan kesan wajar.
5) Frog Eye
Sudut pengambilan gambar dengan ketinggian kamera sejajar dengan alas/dasar
kedudukan objek atau lebih rendah. Hasilnya akan tampak seolah-olah mata penonton
mewakili mata katak.
D. Prinsip dan Bagian Kamera
Dalam kegiatan produksi video/ film, terdapat banyak jenis kamera yang digunakan. Pembagian jenis
kamera video/ film dibedakan atas media yang digunakan untuk menyimpan data (gambar & suara)
yang telah diambil.
Seperti halnya pada fotografi, gambar yang telah diambil disimpan pada gulungan film. Namun pada
kamera jenis ini, disamping gulungan film juga terdapat pita magnetik untuk menyimpan data suara.
Dalam 1 detik pengambilan gambar, dibutuhkan sekitar 30 frame film. Adapun jenis film yang
digunakan adalah film positif (slide), dimana untuk melihat isinya harus dicuci terlebih dulu di
laboratorium film dan diproyeksikan dengan menggunakan proyektor khusus.

Kamera jenis ini menyimpan data gambar dan suara pada pita magnetik. Secara umum terdapat 2 jenis
kamera :

1) Analog (AV)
Data yang disimpan sebagai pancaran berbagai kuat sinyal (gelombang) pada pita kamera
perekam. Macam kamera jenis ini antara lain VHS, S VHS, 8mm, dan Hi 8.

2) Digital (DV)
Kamera perekam video digital menyimpan data dalam format kode biner bit per bit yang
terdiri atas rangkaian 1 (on) dan 0 (off). Jenis kamera ini antara lain mini DV, dan Digital 8.
Secara umum bagian-bagian kamera video terdiri atas :
1. Baterai untuk catu daya
2. Tempat kaset
3. Tombol Zoom
4. Tombol Recorder
5. Port Output video / audio (bisa berupa analog ataupun digital)
6. Cincin Fokus
7. Jendela preview (View Fender)
8. Mikrofon
9. Tombol kontrol cahaya
10. Tombol Player (untuk memainkan kembali video).
11. Terminal DC Input.
Selain itu juga banyak terdapat fasilitasfasilitas tambahan yang berbeda antara kamera satu dengan
kamera lainnya. Fasilitas itu antara lain lampu infra merah untuk pengambilan gambar pada tempat
yang gelap, edit teks langsung dari kamera, efek-efek video lain, slow motion dan masih banyak lagi.

Sudut Kamera (Camera Angle)


1) Extreme Close Up (ECU/XCU) : pengambilan gambar yang terlihat sangat detail
seperti hidung pemain atau bibir atau ujung tumit dari sepatu.
2) Big Close Up (BCU) : pengambilan gambar dari sebatas kepala hingga dagu.
3) Close Up (CU) : gambar diambil dari jarak dekat, hanya sebagian dari objek yang
terlihat seperti hanya mukanya saja atau sepasang kaki yang bersepatu baru
4) Medium Close Up : (MCU) hampir sama dengan MS, jika objeknya orang dan
diambil dari dada keatas.
5) Medium Shot (MS) : pengambilan dari jarak sedang, jika objeknya orang maka yang
terlihat hanya separuh badannya saja (dari perut/pinggang keatas).
6) Knee Shot (KS) : pengambilan gambar objek dari kepala hingga lutut.
7) Full Shot (FS) : pengambilan gambar objek secara penuh dari kepala sampai kaki.
8) Long Shot (LS) : pengambilan secara keseluruhan. Gambar diambil dari jarak jauh,
seluruh objek terkena hingga latar belakang objek.

9) Medium Long Shot (MLS) : gambar diambil dari jarak yang wajar, sehingga jika
misalnya terdapat 3 objek maka seluruhnya akan terlihat. Bila objeknya satu orang
maka tampak dari kepala sampai lutut.
10) Extreme Long Shot (XLS): gambar diambil dari jarak sangat jauh, yang ditonjolkan
bukan objek lagi tetapi latar belakangnya. Dengan demikian dapat diketahui posisi
objek tersebut terhadap lingkungannya.
11) One Shot (1S) : Pengambilan gambar satu objek.
12) Two Shot (2S) : pengambilan gambar dua orang.
13) Three Shot (3S) : pengambilan gambar tiga orang.
14) Group Shot (GS): pengambilan gambar sekelompok orang.
Gerakan kamera akan menghasilkan gambar yang berbeda. Oleh karenanya maka dibedakan
dengan istilah-istilah sebagai berikut:
1) Zoom In/ Zoom Out : kamera bergerak menjauh dan mendekati objek dengan
menggunakan tombol zooming yang ada di kamera.
2) Panning : gerakan kamera menoleh ke kiri dan ke kanan dari atas tripod.
3) Tilting : gerakan kamera ke atas dan ke bawah. Tilt Up jika kamera mendongak dan
tilt down jika kamera mengangguk.
4) Dolly : kedudukan kamera di tripod dan di atas landasan rodanya. Dolly In jika
bergerak maju dan Dolly Out jika bergerak menjauh.
5) Follow : gerakan kamera mengikuti objek yang bergerak.
6) Crane shot : gerakan kamera yang dipasang di atas roda crane.
7) Fading : pergantian gambar secara perlahan. Fade in jika gambar muncul dan fade out
jika gambar menghilang serta cross fade jika gambar 1 dan 2 saling menggantikan
secara bersamaan.
8) Framing : objek berada dalam framing Shot. Frame In jika memasuki bingkai dan
frame out jika keluar bingkai.
Teknik pengambilan gambar tanpa menggerakkan kamera, jadi cukup objek yang bergerak.
Objek bergerak sejajar dengan kamera.
Walk In : Objek bergerak mendekati kamera.
Walk Away : Objek bergerak menjauhi kamera.
Teknik ini dikatakan lain karena tidak hanya mengandalkan sudut pengambilan, ukuran
gambar, gerakan kamera dan objek tetapi juga unsur- unsur lain seperti cahaya, properti dan
lingkungan. Rata-rata pengambilan gambar dengan menggunakan teknik-teknik ini
menghasilkan kesan lebih dramatik.

a.

Backlight Shot: teknik pengambilan gambar terhadap objek dengan pencahayaan dari
belakang.

b.

Reflection Shot: teknik pengambilan yang tidak diarahkan langsung ke objeknya tetapi
dari cermin/air yang dapat memantulkan bayangan objek.

c.

Door Frame Shot: gambar diambil dari luar pintu sedangkan adegan ada di dalam
ruangan.

d.

Artificial Framing Shot: benda misalnya daun atau ranting diletakkan di depan
kamera sehingga seolah-olah objek diambil dari balik ranting tersebut.

e.

Jaws Shot: kamera menyorot objek yang seolah-olah kaget melihat kamera.

f.

Framing with Background: objek tetap fokus di depan namun latar belakang
dimunculkan sehingga ada kesan indah.

g.

The Secret of Foreground Framing Shot: pengambilan objek yang berada di depan
sampai latar belakang sehingga menjadi perpaduan adegan.

h.

Tripod Transition: posisi kamera berada diatas tripod dan beralih dari objek satu ke
objek lain secara cepat.

i.

Artificial Hairlight: rambut objek diberi efek cahaya buatan sehingga bersinar dan
lebih dramatik.

j.

Fast Road Effect: teknik yang diambil dari dalam mobil yang sedang melaju kencang.

k.

Walking Shot: teknik ini mengambil gambar pada objek yang sedang berjalan.
Biasanya digunakan untuk menunjukkan orang yang sedang berjalan terburu-buru
atau dikejar sesuatu.

l.

Over Shoulder : pengambilan gambar dari belakang objek, biasanya objek tersebut
hanya terlihat kepala atau bahunya saja. Pengambilan ini untuk memperlihatkan
bahwa objek sedang melihat sesuatu atau bisa juga objek sedang bercakap-cakap.

m. Profil Shot : jika dua orang sedang berdialog, tetapi pengambilan gambarnya dari
samping,

kamera

satu

memperlihatkan

orang

pertama

dan

kamera

dua

memperlihatkan orang kedua.


E. Proses produksi film animasi 2 dan 3 dimensi
Ada dua proses pembuatan film animasi, diantaranya adalah secara konvensional dan digital.
Proses secara konvensional sangat membutuhkan dana yang cukup mahal, sedangkan proses
pembuatan digital cukup ringan. Sedangkan untuk hal perbaikan, proses digital lebih cepat
dibandingkan dengan proses konvensional. Tom Cardon seorang animator yang pernah
menangani animasi Hercules mengakui komputer cukup berperan. "Perbaikan secara
konvensional untuk 1 kali revisi memakan waktu 2 hari sedangkan secara digital hanya
memakan waktu berkisar antara 30-45 menit." Dalam pengisian suara sebuah film dapat
dilakukan sebelum atau sesudah filmnya selesai. Kebanyakan dubbing dilakukan saat film

masih dalam proses, tetapi kadang-kadang seperti dalam animasi Jepang, sulih suara justru
dilakukan setelah filmnya selesai dibuat.
1. Proses Produksi Animasi 2 Dimensi
a. Teknik Secara Celluloid (konvensional)
Teknik Celluloid (kadang-kadang disebut menjadi cell) ini merupakan teknik mendasar
dalam pembuatan film animasi klasik. Setelah gambar mejadi sebuah rangkaian gerakan
maka gambar tersebut akan ditransfer keatas lembaran transparan (plastik) yang tembus
pandang/ sel (cell) dan diwarnai oleh Ink and Paint Departement. Setelah selesai film tersebut
akan direkam dengan kamera khusus, yaitu multiplane camera di dalam ruangan yang serba
hitam.
Objek utama yang mengeksploitir gerak dibuat terpisah dengan latar belakang dan depan
yang statis. Dengan demikian, latar belakang (background) dan latar depan (foreground)
dibuat hanya sekali saja. Cara ini dapat menyiasati pembuatan gambar yang terlalu banyak.

Pra-produksi:
o

Ide Cerita,

Skenario/ Naskah Cerita,

Concept Art,

Storyboard,

Dubbing awal,

Musik dan sound FX

Produksi:
o

Lay out (Tata letak),

Key motion (Gerakan kunci/ inti),

In Between (Gambar yang menghubungkan antara gambar inti ke gambar inti


yang lain)

Clean Up (Membersihkan gambar dengan menjiplak)

Background (Gambar latar belakang),

Celluloid (Ditransfer keatas plastik transparan)

Coloring (Mewarnai dengan tinta dan cat).

Pasca-produksi:
o

Composite,

Camera Shooting (Gambar akan diambil dengan kamera, dengan mengambil


frame demi frame),

Editing,

Rendering,

Pemindahan film kedalam roll film.

b. Teknik Secara Digital Komputer


Setelah perkembangan teknologi komputer di era 80-an, proses pembuatan animasi 2 dimensi
menjadi lebih mudah. Yang sangat nyata dirasakan adalah kemudahan dalam proses
pembuatan animasi. Untuk penggarapan animasi sederhana, mulai dari perancangan model
hingga pengisian suara/dubbing dapat dilakukan dengan mempergunakan satu personal
komputer. Setiap kesalahan dapat dikoreksi dengan cepat dan dapat dengan cepat pula
diadakan perubahan. Sementara dengan teknik konvensional, setiap detail kesalahan kadangkadang harus diulang kembali dari awal. Proses pembuatan animasi 2Dimensi digital terdiri
dari:

Pra-produksi:
o

Ide Cerita,

Skenario/ Naskah Cerita,

Concept Art,

Storyboard,

Dubbing awal,

Musik dan sound FX

Produksi:
o

Lay out (Tata letak),

Key motion (Gerakan kunci/ inti),

In Between (Gambar yang menghubungkan antara gambar inti ke gambar inti


yang lain)

Background (Gambar latar belakang),

Scanning

Coloring.

Pasca-produksi:
o

Composite,

Editing,

Rendering,

Pemindahan film kedalam berbagai media berupa VCD, DVD, VHS dan
lainnya.

2. Proses Produksi Animasi 3 Dimensi


Proses pembuatan animasi 3 dimensi ini kebanyakan di kerjakan dengan komputer,
sehingga proses pembuatannya cepat dan tidak memerlukan waktu yang lama dan biaya yang
mahal.
Proses animasi ini sering di dominasi oleh negara amerika yang banyak
menghasilkan industri animasi 3 dimensi yang berbeda dengan jepang yang lebih di dominasi
dengan animasi 2 dimensi. Proses yang di kerjakan dalam pembuatan animasi 3 dimensi ini
hampir sama dengan proses pembuatan animasi 2 dimensi.

Pra-produksi:
o

Ide Cerita,

Skenario/ Naskah Cerita,

Concept Art,

Storyboard,

Animatic Storyboard

Casting dan Recording,

Musik dan sound FX

Produksi:
o

Modeling 2D ke 3D (mulai dari karakter, background, accesories dll),

Pemberian tekstur pada karakter, background, accesories

Penganimasian (rigging, Skinning, dan animasi serta kamera)

Rendering

Pasca-produksi:
o

Composite,

Editing,

Rendering,

Pemindahan film kedalam roll film.

DAFTAR PUSTAKA
Agus Mulyono, Dasar-dasar Sinematografi (20-1-2014)
Wiki pedia, Cinematography 920-1-2014) http: //www.wiki pedia