Anda di halaman 1dari 4

3.

2 Analisis
Kebutuhan seseorang untuk mengkategorikan dirinya berdasarkan gender telah
membentuk cara mereka berinteraksi satu-sama lain selama ini. Berkaitan dengan konsep
hegemoni maskulinitas yang digunakan dalam penelitian kali ini, kategorisasi berdasarkan
gender tersebut telah membawa dampak yang buruk, terutama dalam konstruksi gender dan
seksualitas. Dampak buruk yang dimaksud berkaitan dengan meningkatnya kekerasan dan
agresi yang digunakan sebagai bentuk aktualisasi dari sifat homofobia, terutama oleh kaum
laki-laki.
Dalam pembahasan ini, konsep hegemoni maskulinitas digunakan untuk menganalisa
sebuah film berjudul Boys Dont Cry yang jalan ceritanya sudah dijelaskan pada sub-bab
sebelumnya. Pada bagian ini akan diidentifikasi beberapa bagian dari film yang menunjukkan
hegemoni maskulinitas, yaitu; (1) ekspektasi maskulinitas, (2) celebration of toughness, (3)
kebutuhan untuk mengkategorisasikan gender, dan (4) gendered violence.

Ekspektasi Maskulinitas
Bagian awal dari film menampilkan Brandon yang sedang mengendarai mobil
sendirian pada malam hari. Lalu kemudian ada sebuah mobil yang melewatinya dengan cepat
diikuti oleh kejaran mobil polisi. Adegan ini menunjukkan sisi maskulinitas yang signifikan,
dimana perilaku ugal-ugalan dalam mengendarai mobil dianggap merupukan sesuatu yang
sangat maskulin. Disamping itu, segala sesuatu tentang mobil juga lekat kaitannya dengan
sisi maskulin seseorang. Lebih dalam lagi, praktik yang berhubungan dengan mobil juga
dipandang sebagai bentuk power dan status seorang laki-laki. Adegan awal ini kemudian
terulang kembali pada pertengahan film dimana kemudian Brandon yang terlibat langsung
dalam kejar-kejaran dengan polisi, menunjukkan sisi maskulin yang ingin ditampilkan oleh
Brandon.
Selain itu juga ditunjukkan bagaimana Brandon mencoba untuk menyesuaikan
penampilan dan perilakunya sehingga sesuai dengan ekspektasi maskulinitas yang sudah
terkonstruksi dalam lingkungan sosialnya. Konstruksi maskulinitas ini menggaris-bawahi
kepercayaan bahwa laki-laki harus menunjukkan sisi dominan dibanding wanita, dimana lakilaki berperan sebagai pemimpin, sebagai syarat untuk diterima di tengah masyarakat. Melalui
peran tersebut, laki-laki diajari sejak kecil untuk menjadi kuat dan tidak boleh menangis

karena akan menunjukkan kelemahannya. Pandangan ini lah yang kemudian membuat anak
laki-laki dan anak perempuan dibesarkan dengan cara yang berbeda, dan sebagai hasilnya
akan mendapatkan pengalaman tumbuh besar yang berbeda pula. Dalam film ini, untuk
mendapatkan sisi maskulinitasnya, Brandon mencukur rambut, berbicara dengan cara seperti
laki-laki, dan menggunakan pakaian yang sangat maskulin. Selain melalui penampilan,
Brandon juga berusaha merubah sikapnya menjadi lebih agresif, sikap yang dipandang sangat
berkaitan dengan laki-laki oleh masyarakat. Terakhir, sisi maskulin juga ditunjukkan Brandon
melalui gayanya dalam melakukan hubungan seksual. Adegan ini Ia lakukan dengan Lana,
dimana ditunjukkan Brandon adalah pihak yang mendominasi dalam aktivitas seksual
tersebut, sementara Lana berperan sangat submisif.

Celebration of Toughness
Bagian ini menunjukkan bagaimana kekuatan yang didapatkan dari status maskulin
ditunjukkan melalui aksi-aksi kekerasan, seperti misalnya perkelahian di bar dan kebutkebutan. Brandon melakukan berbagai aksi tersebut untuk membuktikan maskulinitasnya dan
mendapatkan pengakuan dari kedua teman laki-lakinya, John dan Tom. Ekspektasi mengenai
bagaimana menjadi seorang laki-laki sejati, menyebabkan stigma negatif terhadap siapapun
yang tidak sepaham dengan pandangan sosial terkonstruksi tersebut. Ejekan-ejekan seperti
wimp, faggot, sissy, dan pussy akan diberikan kepada mereka yang tidak bisa membuktikan
identitas maskulinnya. Hal ini ditunjukkan melalui adegan dimana Brandon dipaksa untuk
melukai dirinya sendiri dengan pisau sebagai pembuktian maskulinitasnya. Brandon
kemudian menolak dengan mengatakan I guess Im just a pussy compared to you.

Kebutuhan untuk Mengkategorisasikan Gender


Kategorisasi gender, berdasarkan seksualitas biologis, mendikte bagaimana setiap
individu memperlakukan individu lainnya. Adegan dimana Brandon dipaksa untuk masuk ke
kamar mandi dan dibuka celananya secara paksa oleh John dan Tom, menunjukkan
kebutuhan untuk mengidentifikasi gender berdasarkan jenis kelamin. Teman-teman Brandon
tidak menyadari identitas asli Brandon hingga Ia ditangkap atas tindakan kriminalnya pada
masa lalu dan kemudian ditempatkan di penjara khusus wanita. Setelah dibebaskan, John dan

Tom mengonfrontasi Brandon di rumah Lana, terlebih setelah melihat nama asli Brandon di
surat kabar yang tertulis sebagai Teena Brandon.
Setelah John dan Tom mengidentifikasi gender Brandon sebagai wanita, mereka
kemudian membawa Brandon ke sebuah pabrik kosong untuk kemudian disiksa dan
diperkosa secara bergiliran. Keesokan harinya Brandon melapor kepada kepolisian atas
perlakuan tidak manusiawi yang dialaminya tersebut, tetapi kemudian Brandon malah
mendapatkan perlakuan tidak adil dari polisi yang memeriksanya. Mereka menyalahkan
Brandon atas kejadian tersebut karena Brandon dianggap menyimpang secara seksual. Ketika
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap Brandon, topik pertanyaan malah menyimpang
dari tindakan kriminal yang dialami Brandon dan lebih mengarah pada penyimpangan gender
dan seksualitas. Adegan ini menunjukkan perlakuan tidak adil yang selama ini sering dialami
para kaum LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgendered, Queer) saat melaporkan
tindakan kriminal atas dasar stigma homofobik kepada kepolisian.

Gendered Violence
Dalam membahas hal ini penting untuk memahami konfigurasi dan pandangan gender
dalam hegemoni maskulinitas. Dalam konsep hegemoni maskulinitas, gendered violence
yang dilakukan oleh laki-laki bertujuan untuk menunjukkan kontrol, dominasi, dan
menyatakan otoritas serta power.1 Dalam kehidupan sosial pun ada hubungan yang sangat
erat kaitannya antara menjadi laki-laki dan berbuat kekerasan. Kekerasan diasosiasikan
dengan hegemoni maskulinitas sebagai norma budaya, menjustifikasi kaum laki-laki untuk
menggunakan kekerasan sebagai salah satu metode untuk menyelesaikan masalah.
Adegan dalam film, dimana terjadi setelah John dan Tom menemukan fakta bahwa
Brandon bukanlah seorang laki-laki, menggambarkan gendered violence digunakan sebagai
cara untuk menyatakan maskulinitas John dan Tom kepada Brandon. John dan Tom
menggunakan pelecehan dan pemerkosaan sebagai cara untuk memaksakan maskulinitasnya,
memaksa Brandon untuk menerima keadaan alaminya sebagai wanita dan berperan submisif.
1 Kordvani, A. 2002. Hegemonic Masculinity, Domination and Violence against
Women. Expanding Our Horizons: Understanding the Complexities of Violence
Against Women. Dikutip melalui
http://www.studentpulse.com/articles/869/2/hegemonic-masculinity-in-boys-dontcry-1999 [31-10-2015]

Keadaan seksual Brandon dianggap sebagai ancaman bagi posisi John dan Tom dalam
lingkungan sosial mereka, dan penggunaan gendered violence mengizinkan mereka untuk
memaksakan kembali kontrolnya terhadap wanita.

Pada akhirnya, setelah John dan Tom mengetahui bahwa Brandon telah melaporkan tindakan
mereka kepada kepolisian, mereka berencana untuk membunuh Brandon. Pembunuhan
berencana ini dilakukan di rumah Candace, salah satu teman Brandon, dimana John
menembak Brandon tepat di kepalanya sementara Tom menembak Candace di depan anaknya
sendiri. John kemudian menikam Brandon beberapa kali sebelum meninggalkan tempat
kejadian. Film ini berakhir dengan adegan dimana ditunjukkan sebuah jalanan di tengah
padang pasir, yang merepresentasikan kebebasan yang diinginkan Brandon selama hidupnya
dan tidak pernah dia rasakan. Kenyataanya, Brandon sedang bersiap untuk kabur dengan
Lana tepat sebelum eksekusi tersebut dilaksanakan. Pengalaman Brandon sebagai seorang
transgender, yang digambarkan dalam film, menunjukkan kategori gender yang dibatasi
sebagai bagian dari budaya yang diterima masyarakat luas. Untuk dianggap sebagai seorang
laki-laki sejati, seseorang harus menunjukkan sebagian dari dirinya yang dianggap oleh
masyarakat sebagai maskulin.