Anda di halaman 1dari 4

Risky Febrian

170210110049

Peruvian Columbian Asylum Case


Salah satu contoh konsep dari hukum regional yang diterapkan di Amerika Latin
adalah Lembaga suaka diplomatik. Dalam lembaga ini, kita akan mengenal tentang
suaka. Sebelumnya, akan dijelaskan tentang pengertian dari suaka. Suaka, merupakan
sebuah bentuk perlindungan yang diberikan kepada satu negara, terhadap warga negara
lainnya yang ditujukan untuk perlindungan. Suaka yang dalam bahasa Inggris ini
disebut dengan Asylum, dapat memberikan perlindungan baik secara aktif maupun
sementara, yaitu bentuk perlindungan sementara dalam konteks territorial, dan juga
bentuk perlindungan aktif secara menyeluruh di tempat Suaka tersebut diberikan.
Karena hal tersebut, dikenal dua jenis Suaka atau Asylum: Yang pertama disebut dengan
Suaka Territorial dan yang kedua disebut dengan Suaka Diplomatik. Suaka teritorial
adalah suaka yang diberikan kepada seseorang yang lari kedalam wilayah dari negara
lain. Suaka diplomatik adalah suaka yang diberikan kepada seseorang yang meminta
perlindungan di wilayah perwakilan diplomatik negara asing. Contohnya pada utusan
diplomatik atau kedutaan, gedung konsuler, markas besar organisasi internasional, kapal
dagang dan para pengungsi.1
Contoh kasus dari Suaka Diplomatik ini adalah kasus Suaka di Peru dan Kolumbia, atau
sering disebut dengan Peruvian Columbian Asylum Case. Kasus ini bermula saat terjadi
pemberontakan di Peru pada tanggal 3 Oktober 1948, akan tetapi pemberontakan ini
berhasil diselesaikan dalam waktu singkat. Sehari setelahnya, Peru memberikan sebuah
dekrit yang berisi pelarangan atas aktivitas politik sebuah partai politik, yaitu American
Peoples Revolutionary Alliance yang dinilai sebagai aktor utama dalam pemberontakan
di Peru tersebut, dimana partai ini dipimpin oleh Victor Raul Haya de la Torre.
Kemudian, de la Torre tidak tinggal diam, ia kabur ke Kolumbia untuk meminta
suaka perlindungan. Pada tanggal 3 Januari 1949, Torre diberi perlindungan oleh Duta
Besar Colombia di Lima dan mengumumkan suaka tersebut kepada Menteri Luar
Negeri Peru. Kolumbia kemudian juga meminta kepada Peru untuk memberikan safe
conduct pass kepada de la Torre dengan menganggap de la Torre adalah seorang
political offender dan meminta kepada Peru untuk memberikan izin agar de la Torre
1 Starke,J.G., An Introduction to International Law, Eighth Edition, London,
Butterworthd, 1977, hlm 387.

Hukum Internasional 1

Risky Febrian
170210110049

diizankan meninggalkan Peru. Peru kemudian menolak, dengan beralasan bahwa cara
yang dilakukan Kolumbia hanya berdasarkan pandangan sepihak saja dan tidak sesuai
dengan klasifikasi dari pemberian Suaka pada perjanjian yang menjelaskan tentang
klasifikasi Suaka Politik, yaitu Konvensi Montevideo pada 1933 dan juga Konvensi
Havana. Lalu, Peru menganggap bahwa kejahatan yang dilakukan oleh de la Torre
hanya sebuah kejahatan umum, dan bukan merupakan kejahatan yang tertera di
perjanjian suaka dan pantas untuk diberi perlindungan politik. Karena tidak dapat
mencapai kesepakatan, maka kedua negara ini kemudian membawa kasus ini ke
Mahkamah Internasional.
Mahkamah Internasional berpendapat bahwa memang benar, dalam hal ini
Kolumbia tidak mempunyai hak untuk mengklasifikasikan dan memaksakan pemberian
suaka dengan mengabaikan keputusan dari pihak kedua, yaitu Peru. Akan tetapi,
pengadilan juga menolak menmbenarkan bahwa kejahatan yang dilakukan de la Torre
merupakan kejahatan umum. Pada intinya Mahkamah Internasional mengakui bahwa
Torre merupakan buangan politik dan kolombia tidak diharuskan untuk menganinya
terlalu jauh dari pemerintah Peru. Dalam kasus ini Peru tidak harus memberikan Safe
conduct Pass untuk meninggalkan negaranya, tapi tidak dengan Kolombia berhak
untuk membantu buangan politik dari Peru.
Kolumbia kemudian membawa tuntutan kepada Peru, dan menyatakan bahwa
Kolumbia telah benar dalam pemberian suaka, selain berdasarkan penjelasan yang
tertera dalam perjanjian tentang suaka politik, "hukum internasional Amerika yang
berlaku umum" di samping aturan-aturan yang timbul dari perjanjian yang telah
disepakati, yang tergantung pada kondisi regional atau adat (kebiasaan) masyarakat
yang khas dari Negara-Negara Amerika Latin juga dapat digunakan dalam pemberian
suaka ini.
Sedangkan dalam pandangan Mahkamah Internasional, Negara yang bergantung
pada aturan adat (kebiasaan) harus dapat membuktikan bahwa kebiasaan telah menjadi
hukum sehingga dapat mengikat pihak lain. Pemerintah Kolombia harus membuktikan
bahwa aturan yang ada tersebut masih digunakan secara konstan (terus menerus) dan
seragam dilakukan oleh negara yang bersangkutan, dan penggunaannya juga merupakan
ekspresi dari hak negara yang melakukan pemberian suaka serta kewajiban dalam

Hukum Internasional 1

Risky Febrian
170210110049

teritorialnya. Dalam Pasal 38 dari undang-undang pengadilan, yang merujuk pada


kebiasaan internasional "sebagai bukti dari praktek umum diterima sebagai hukum".
Pengadilan karenanya tidak dapat menemukan bahwa pemerintah Kolombia
telah membuktikan eksistensi adat (kebiasaan). Ada juga adat (kebiasaan) tertentu yang
hanya ada di Negara Amerika Latin, itu tidak dapat dijadikan dasar untuk melawan Peru
yang jauh dari memiliki sikap menganut prinsip yang berbeda, dan sebaliknya, menolak
dengan menahan diri dari meratifikasi Konvensi Montevideo tahun 1933 dan 1939
tentang aturan mengenai kualifikasi pelanggaran dalam hal suaka diplomatik.
Dr.J.M Yepes, mewakili dirinya menawarkan jalan keluar untuk Peru,
berdasarkan penerimaan buangan di negara lain, yang selanjutnya Peru dapat
memberikan Safe Conduct Pass. Pada akhirnya kedua negara membentuk komisi
yang dibuat oleh perwakilan negara masing-masing. Perwakilan Kolombia diwakili oleh
Alberto Zuleta Angel dan Carlos Sanz de Santamaria, sedangkan Peru diwakili oleh
David Aguliar Corneja dan Herman Bellido. Dan menawarkan beberapa langkah, yang
diberikan Yepes, diluar dari kesepakatan bahwa Presiden Peru telah menyepakatinya,
tapi komisioner menolak fakta dan menolak menyetujuinya. kolombia secara simbolik
menerima buangan dari Minister of Justice Peru. Akhirnya Torre menyetujui keputusan
tanpa banyak bicara. Meskipun banyak orang yang memperdebatkan cara ini, telah
disampaikan sebelumnya Mahkamah ini sudah diuji coba dan memberikan bahwa
Kolombia secara simbolis hanya menangani buangan dan Peru tidak memberikan Safe
Conduct Pass dan kasus ini berakhir pada 6 April 1954.
Dapat ditarik kesimpulan yang sesuai dengan Konvensi Havana, hubungan
hukum antara pihak yang berkenanan dapat dinyatakan telah menyelesaikan tugasnya.
Dalam hal ini tidak memberikan saran praktis mengenai berbagau kursus yang mungkin
di ikuti dengan maksud untuk terminating suaka, karena dengan itu, akan berawal dari
fungsi yurisdiksi. Akan tetapi dapat diasumsikan bahwa para pihak, bahwa hukum
timbal balik hubungan mereka dibuat secara jelas, dan dapat menemukan solusi yang
praktis dan membantu men\cari petunjuk dari pertimbangan kesopanan dan bertetangga
yang baik dalam hal suaka dan selalu diadakan tempat yang terlihat dalam hubungan
antara Repubilik Amerika Latin.

Hukum Internasional 1

Risky Febrian
170210110049

Selain itu dapat disimpulkan dalam kasus ini tidak saling menggantikan tapi
saling melengkapi antara peru dan Kolombia. Dan kasus ini menghasilkan dalam
masalah suaka dan sekaligus melengkapi konvensi Havana yang belum lengkap, dimana
peran kedutaan dalam suatu negara tidak dapat diganggu atau dicampur tangani
kebijakanya dan kedaulatanya, namun disisi lain ada hukum yang universal dan
mengatur serta mengharuskan semuanya untuk tunduk dan patuh pada hukum negara
itu.

Hukum Internasional 1