Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL KEGIATAN PENYULUHAN

DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG


PADA ACARA POSYANDU DESA BANTUR KECAMATAN BANTUR
KABUPATEN MALANG

Oleh:
ANDIKA FUSHIGI

115070200131002

DINA MUKMILAH MAHARIKA

115070201131024

YEPY HESTI RIANI

115070207131007

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

HALAMAN PENGESAHAN
PROPOSAL KEGIATAN PENYULUHAN
DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG

Disusun untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Jiwa


di Desa Bantur, Kab. Malang

Oleh :
Andika Fushigi

115070200131002

Dina Mukmilah Maharika

115070201131024

Yepy Hesti Riani

115070207131007

Telah diperiksa kelengkapannya pada :


Hari

: Senin

Tanggal : 10 Agustus 2015

Perseptor Akademik

( Ns. Retno Lestari, S.Kep, MN )


NIP. 198009142005022001

Perseptor Klinik

(Ns. Soebagijono, S.Kep, M.Kes )


NIP. 1968109 1999003 1003

PAKET PENYULUHAN DETEKSI DINI PERKEMBANGAN DAN


PERTUMBUHAN BALITA
Pokok Bahasan

: Deteksi Dini Perkembangan dan Pertumbuhan Balita

Sasaran

: Ibu-Ibu Posyandu

Tempat

: Posyandu

Hari/Tanggal

: Senin, 10 Agustus 2015

Waktu

: 30 menit

Penyuluh

: Andika Fushigi, Dina Mukmilah Maharika, Yepy Hesti R

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun
manusia seutuhnya antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan
anak yang dilakukan sedini mungkin sejak anak masih didalam kandungan.
Upaya kesehatan ibu yang dilakukan sebelum dan semasa hamil hingga
melahirkan, yang ditujukan untuk menghasilkan keturunan yang sehat dan
lahir dengan selamat ( intact survival ). Upaya yang dilakukan sejak anak
masih berada dalam kandungan sampai lima tahun pertama kehidupannya.
Anak-anak adalah generasi penerus penentu masa depan bangsa.
Kualitas generasi penerus tergantung kepada kualitas tumbuh kembang
terutama pada masa Balita. Penyimpangan tumbuh kembang pada anak
harus dapat dideteksi sejak dini, terutama sebelum anak berumur 3 tahun
supaya segar dapat diintervensi. Karena jika penangananmya terlambat,
akibatnya penyimpangan yang terjadi akan semakin sukar diperbaiki. anakanak tidak hanya perlu dipantau pertumbuhan fisik seperti berat badan dan
tinggi badannya saja. Tetapi juga perkembangan otak dan kecerdasannya, -yang antara lain dapat dilihat dari perkembangan motorik halus, motorik
kasar dan lainnya.
Mengingat jumlah balita di Indonesia sangat besar yaitu 10 % dari
seluruh populasi, maka sebagai calon generasi penerus bangsa, kualitas
tumbuh kembang balita di Indonesia perlu mendapat perhatian serius yaitu
mendapat gizi yang baik, stimulasi yang memadai serta terjangkau oleh
pelayanan

kesehatan

berkualitas

penyimpangan tumbuh kembang.

termasuk

deteksi

dan

intervensi

Pertumbuhan dan perkembangan anak secara fisik, mental, sosial,


emosional dipengaruhi oleh gizi, kesehatan dan pendidikan. Hal ini telah
banyak dibuktikan dari berbagai penelitian. Salah satu hasil dari penelitian
adalah bahwa pada 4 tahun pertama usia anak, perkembangan kognitifnya
mencapai 50%, kurun waktu 8 tahun mencapai 80%, dan mencapai 100%
saat anak mencapai usia 18 tahun. Setiap orangtua menginginkan anakanaknya menjadi anak yang pintar, sehat, berkualitas dan sukses di masa
depan. Salah satu upaya untuk mencapai hal tersebut dengan melakukan
pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak dengan deteksi dini.
Deteksi dini tumbuh kembang anak / balita adalah kegiatan atau
pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh
kembang pada balita dan anak pra sekolah. Dengan ditemukan secara dini
penyimpangan atau masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan
lebih mudah dilakukan. Oleh karena itu begitu pentingnya deteksi dini
pertumbuhan

dan

perkembangan

pada

balita,

maka

kami

tertarik

mengadakan penyuluhan deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan pada


balita.
B. Tujuan instruksional
1. Tujuan umum
Setelah mengikuti penyuluhan tentang deteksi dini pertumbuhan dan
perkembangan pada balita selama 30 menit diharapkan peserta mengerti
pentingnya deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan pada

bayi/

balita.
2. Tujuan khusus
Setelah mendapat penyuluhan tentang deteksi dini pertumbuhan dan
perkembangan pada balita, diharapkan peserta mampu :
1) Menjelaskan

pengertian

deteksi

dini

pertumbuhan

dan

perkembangan pada balita


2) Menjelaskan tujuan deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan
pada balita
3) Menjelaskan jenis-jenis deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan
pada balita
4) Menjelaskan kelainan-kelainan pertumbuhan dan perkembangan
pada balita

5) Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan


pada anak.
C. Materi Penyuluhan
1.
2.
3.
4.
5.

Pengertian deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan pada balita


Tujuan deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan pada balita
Jenis-jenis deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan pada balita
Kelainan-kelainan pertumbuhan dan perkembangan pada balita
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada
anak.

D. Sasaran
Sasaran penyuluhan adalah pasien, keluarga pasien, dan pengunjung.
E. Metode
Metode yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab
F. Media
Media yang digunakan adalah leaflet
G. Kegiatan Penyuluhan
Tahap
Pembukaan

Penyajian

Waktu
5 menit

Kegiatan Penyuluhan
Membuka dengan salam
Memperkenalkan diri
Menjelaskan maksud dan
tujuan penyuluhan
Kontrak waktu
Menggali pengetahuan
peserta sebelum
dilakukan penyuluhan
15 menit Menjelaskan tentang:
1) pengertian deteksi dini
pertumbuhan dan
perkembangan pada
balita
2) tujuan deteksi dini
pertumbuhan dan
perkembangan pada
balita
3) jenis-jenis deteksi dini
pertumbuhan dan
perkembangan pada
balita
4) kelainan-kelainan
pertumbuhan dan
perkembangan pada
balita
5) Faktor-faktor yang
mempengaruhi
pertumbuhan dan
perkembangan pada
anak.
Memberi kesempatan untuk
bertanya/diskusi tentang

Kegiatan peserta
Mendengarkan
Memperhatikan
Menjawab
pertanyaan

Metode
Ceramah

Mendengarkan
Memberikan
tanggapan dan
pertanyaan
mengenai hal
yang kurang
dimengerti

Ceramah,
Tanya
jawab

Media
-

Leaflet

materi penyuluhan
10 menit Menggali pengetahuan
Menjawab
peserta setelah dilakukan
pertanyaan
penyuluhan
Memberikan
Menyimpulkan hasil
tanggapan balik
kegiatan penyuluhan
Menutup dengan salam

Penutup

Ceramah,
Tanya
jawab

H. Evaluasi
1. Proses :
a. Jumlah peserta penyuluhan minimal 5 peserta
b. Media yang digunakan adalah leaflet
c. Waktu penyuluhan adalah 30 menit
d. Persiapan penyuluhan dilakukan beberapa hari sebelum kegiatan
penyuluhan
e. Pembicara diharapkan menguasai materi dengan baik
f.

Tidak ada peserta yang meninggalkan ruangan saat kegiatan


penyuluhan berlangsung

g. Peserta aktif dan antusias dalam mengikuti kegiatan penyuluhan


2. Hasil

a. Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan peserta diharapkan mengerti


dan memahami tentang pengertian, tujuan, jenis-jenis deteksi dini
pertumbuhan dan perkembangan pada balita, kelainan-kelainan dan
faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
pada balita
b. Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan ada perubahan
perilaku kesehatan, yaitu: secara rutin memeriksakan kesehatan anak
terutama untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak.
I.

Materi (lampiran 1)

J. Post Test (Lampiran 2)


K. Daftar Pustaka (lampiran 3)
Lampiran 1
Materi Penyuluhan
A. Pengertian
1) Pertumbuhan

Leaflet

Bertambahnya ukuran fisik (anatomi) dan struktur tubuh dalam arti


sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak)
sel-sel tubuh dan juga karena bertambah besarnya sel, jadi pertumbuhan
lebih ditekankan pada pertambahan ukuran fisik seseorang yaitu menjadi
lebih besar atau lebih matang bentuknya, seperti pertambahan ukuran
beratbadan, tinggi badan, dan lingkar kepala. (IDAI, 2002).
Bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler
berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau
keseluruhan sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat
(Depkes RI, 2005).
2) Perkembangan
Bertambahnya kemampuan dari struktur / fungsi tubuh yang lebih
kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirkan, dan diramalkan sebagai
hasil dari proses diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ organ dan
sistemnya yang terorganisasi (IDAI, 2002).
Bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam
kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialasi dan
kemandirian (Depkes RI, 2005).
3) Deteksi dini tumbuh kembang anak / balita
Kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya
penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah.
B. Tujuan
Memudahkan untuk membuat rencana tindakan intervensi terutama
ketika harus melibatkan ibu/keluarga agar mendapatkan hasil yang lebih baik
dibandingkan

dengan kelainan yang sudah

menetap. Bila

penyimpangan

terlambat diketahui maka intervensinya lebih sulit dan hal ini akan
berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

C. Jenis-jenis Deteksi Dini


Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan
Bertujuan untuk mengetahui atau menemukan status gizi kurang atau
tidak, gizi buruk, maupun pertambahan lingkar kepala (makrosefali atau
mikrosefali).

Deteksi dini penyimpangan perkembangan

Yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan)


gangguan daya lihat dan daya dengar.

Deteksi dini penyimpangan mental emosional


Yaitu untuk melihat adanya masalah mental emosional, autisme dan
gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.

D. Kelainan-kelainan Perkembangan Anak


Gangguan bicara dan bahasa
Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan
anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan berbicara
dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap. Afasia adalah
gangguan fungsi bicara pada seseorang akibat kelainan. Orang yang
menderita afasia tidak mampu mengerti maupun menggunakan bahasa lisan.
Penyakit afasia biasanya berkembang cepat sebagai akibat dari luka
pada kepala atau stroke, tetapi juga dapat berkembang secara lambat
karena tumor otak, infeksi, atau dementia.
Deteksi dini pada gangguan bicara dan bahasa dapat dilakukan :
Dapat dilihat dari saat

pertambahan usia kemampuan bicaranya

menurun. Bila sebelumnya sering mengoceh kemudian mengocehnya


menghilang atau sebelumnya bisa mengucapkan kata mama dan papa
kemudian menghilang.
Deteksi dini lain adalah keterlambatan sesuai dengan tahapan usia, yaitu:
4.6 bulan
Tidak menirukan suara yang dikeluarkan orang tuanya
Pada usia 6 bulan belum tertawa atau berceloteh
8-10 bulan
Usia 8 bulan tidak mengeluarkan suara yang menarik perhatian
Usia 10 bulan, belum bereaksi ketika dipanggil namanya
9-10 bln, tidak memperlihatkan emosi seperti tertawa atau menangis
12-15 bulan
12 bulan, belum menunjukkan mimik, belum mampu mengeluarkan
suara, dan tidak menunjukkan usaha berkomunikasi bila membutuhkan
sesuatu.
15 bulan, belum mampu memahami arti tidak boleh atau daag, tidak
memperlihatkan 6 mimik yang berbeda, dan belum dapat mengucapkan
1-3 kata.
18-24 bulan

18 bulan, belum dapat mengucapkan 6-10 kata, tidak menunjukkan ke


sesuatu yang menarik perhatian
18-20 bulan, tidak dapat menatap mata orang lain dengan baik
21 bulan, belum dapat mengikuti perintah sederhana
24 bulan, belum mampu merangkai 2 kata menjadi kalimat, tidak
memahami fungsi alat rumah tangga seperti sikat gigi dan telepon, belum
dapat meniru tingkah laku atau kata-kata orang lain, dan tidak mampu
meunjukkan anggota tubuhnya bila ditanya.
30-36 bulan
30 bulan, tidak dapat dipahami oleh anggota keluarga
36 bulan, tidak menggunakan kalimat sederhana, pertanyaan dan tidak
dapat dipahami oleh orang lain selain anggota keluarga
3-4 tahun
3 tahun, tidak mengucapkan kalimat, tidak mengerti perintah verbal dan
tidak memiliki minat bermain dengan sesamanya
3,5 tahun, tidak dapat menyelesaikan kata seperti ayah diucapkan aya
4 tahun, masih gagap dan tidak dapat dimengerti secara lengkap
Cerebral Palsy
Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif,
yang disebabkan oleh kerusakan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat
yang sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya.
Deteksi Dini Tipe Spastik
Umur 3 bulan pertama
Pada masa neonatal (0-14 hari) terdapat gerak yang terbatas, lengan
terletak kaku dekat badan. Dalam posisi tengkurap, kedua kaki besilangan,
gerak asimetris. Angkat dalam posisi terlentang, bayi seperti semaput, lemas,
kepala terkulai. Dalam posisi duduk, leher terkulai. Refleks primitif tidak
nampak (0-4 bulan) misal refleks genggam, refleks moro (refleks memeluk
saat terkejut), refleks babinski (kaki dan jarinya megar saat disentuh).
Umur 4-8 bulan
Amati kualitas dan simetrisitas gerakan anak. Berikan kubus atau
mainan. Perhatikan apakah ada kekakuan ketika anak meraih mainan
tesebut atau tidak.
Umur 9 bulan ke atas
Anak disuruh menyusun kubus atau menyusun manik-manik dengan
tali, perhatikan ada tremor/ ataksia atau tidak. Bila anak berjalan, perhatikan

apakah dengan ujung jari kaki atau kelainan jalan yang lain. Berdirikan anak
dengan 1 kaki, ada kelumpuhan kaki atau tidak. Perhatikan apakah ada
retardasi mental atau tidak.
Deteksi Dini Tipe Athetoid
Bentuk khas berupa ekstensi (pada siku) dan pronasi (pada pergelangan
tangan). Sering disertai kesulitan menghisap dan menelan. Ada ataksia dalam
meraih benda. Setelah umur 1 tahun, terdapat kesulitan dalam pandangan
vertical.
Deteksi Dini Tipe Rigid
Rigiditas pada semua anggota gerak. Kelainan tipe ini biasanya disertai
dengan retardasi mental.
Deteksi Dini Tipe Ataxia
Terdapat tanda-tanda ataksia ketika anak meraih benda pada waktu
duduk atau berjalan.
Gangguan autism
Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang gejalanya
muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek
perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang
mempengaruhi

anak

secara

mendalam.

Gangguan

perkembangan

yang

ditemukan pada autisme mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi dan


perilaku. Deteksi dini dengan kemungkinan adanya gangguan autisme dapat
dilihat jika:
Tidak ada senyum sosial pada usia >4 bulan.
Anak tidak mengoceh (tidak seakan-akan seperti berbicara) sebelum usia 12
bulan.
Anak cuek saja, tidak melakukan gerak-tubuh (gesture) yang mempunyai arti
(misalnya tidak menunjuk sesuatu, tidak melambai, dsb), sebelum usia 12
bulan.
Tidak mengucapkan satu katapun sebelum usia 16 bulan.
Tidak bicara spontan dengan kalimat 2 atau lebih kata sebelum usia 2 tahun
(24 bulan).
Tidak berespons jika dipanggil namanya.
Hilangnya kemampuan bicara/bahasa dan keterampilan sosial pada usia

berapapun.
Terlihat tidak tahu bagaimana bermain dengan mainan
Mungkin hanya membariskan/menjajarkan mainan atau benda-benda lain
Hanya asyik pada satu mainan atau benda tertentu saja
Fisik normal dan mempunyai kemampuan menghapal tinggi

Sebagian anak mungkin sering mengepak-ngepakkan tangannya berulangulang (hand flapping), ataupun jalan jinjit (toe walking).
Deteksi dini atau skrining terhadap autisme dapat dilakukan secara
sederhana

dengan tools (perangkat)

yang

sederhana

misalnya

dengan

STAT (Screening Tool for Autism in Two-Year-Olds) atau dengan CHAT/MCHAT (Modified Checklist for Autism in Toddler).
Retardasi Mental
Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensia yang rendah
( IQ<70) yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan
beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap
normal. Deteksi dini dibawah ini merupakan deteksi dini berdasarkan hasil
penilaian IQ, yaitu :

Retardasi Mental Ringan (mild) : bila nilai IQ berkisar 50-55 sampai 70.
Kelompok ini merupakan bagian terbesar dari retardasi mental.

Kebanyakan dari mereka ini termasuk dari tipe social-budaya dan diagnosis
dibuat setelah anak beberapa kali tidak naik kelas. Golongan ini termasuk
mampu didik, artinya selain dapat diajar baca tulis bahkan bias bisa sampai kelas
4-6 SD, juga bisa dilatih keterampilan tertentu sebagai bekal hidupnya kelak dan
mampu mandiri seperti orang dewasa yang normal. Tetapi pada umumnya
mereka ini kurang mampu menghadapi stress sehingga tetap membutuhkan
bimbingan dari keluarganya.

Retardasi mental sedang (moderate) : bila nilai IQ berkisar antara 40-35


sampai 50-55.
Kelompok ini kira-kira 12% dari seluruh penderita retardasi mental,

mereka ini mampu latih tetapi tidak mampu didik. Taraf kemampuan
intelektualnya hanya dapat sampai kelas dua SD saja, tetapi dapat dilatih
menguasai suatu keterampilan tertentu, misalnya pertukangan, pertanian, dll.
Apabila bekerja nanti mereka ini perlu pengawasan. Mereka juga perlu dilatih
bagaimana mengurus diri sendiri. Kelompok ini juga kurang kurang mampu
menghadapi stress dan kurang mandiri sehingga perlu bimbingan dan
pengawasan.

Retardasi mental berat (severe) : bila nilai IQ berkisar antara 25-20


sampai 35-40.
Sekitar 7% dari seluruh penderita retardasi mental masuk kelompok ini.

Diagnosis mudah ditegakkan secara dini karena selain adanya gejala fisik yang

menyertai juga berdasarkan keluhan dari orang tua dimana anak sejak awal
sudah terdapat keterlambatan perkembangan motorik dan bahasa. Kelompok ini
termasuk tipe klinik. Mereka dapat dilatih hygiene dasar saja dan kemampuan
berbicara yang sederhana, tidak dapat dilatih keterampilan kerja, dan
memerlukan pengawasan dan bimbingan sepanjang hidupnya.

Retardasi mental sangat berat (Profound) : bila nilai IQ berada di bawah


20 atau 25.
Kelompok ini sekitar 1% dan termasuk dalam tipe klinik. Diagnosis dini

mudah dibuat karena gejala baik mental dan fisik sangat jelas. Kemampuan
berbahasanya sangat minimal. Mereka ini seluruh hidupnya tergantung orang
disekitarnya.
Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)
Gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak
hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung
berlebihan. Hal ini ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa
diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang
tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain
sering digunakan adalah suka meletup-letup, aktivitas berlebihan, dan suka
membuat keributan.
Ada beberapa hal penting yang dapat memudahkan kita mengetahui
gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH), yaitu:

Inatensi, yaitu kurangnya kemampuan untuk memusatkan perhatian.

Contoh : Jarang menyelesaikan perintah sampai tuntas, mainan, dll sering


tertinggal, sering membuat kesalahan, mudah beralih perhatian (terutama
oleh rangsang suara).

Hiperaktif, yaitu perilaku yang tidak bisa diam.

Contoh : Banyak bicara, tidak dapat tenang/diam, mempunyai kebutuhan untuk


selalu bergerak, sering membuat gaduh suasana, selalu memegang apa yang
dilihat, sulit untuk duduk diam, lebih gelisah dan impulsif dibandingkan dengan
mereka yang seusia, suka teriak-teriak.

Impulsif,

yaitu

kesulitan

untuk

menunda respon (dorongan

untuk

mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak sabar).


Contoh : Sering mengambil mainan teman dengan paksa, tidak sabaran, reaktif,
sering bertindak tanpa dipikir dahulu.

Sikap menentang

Contoh : Sering melanggar peraturan, bermasalah dengan orang-orang yang


memiliki otoritas, lebih mudah merasa terganggu, mudah marah (dibandingkan
dengan mereka yang seusia).

Cemas

Contoh : Banyak mengalami rasa khawatir dan takut, cenderung emosional,


sangat sensitif terhadap kritikan, mengalami kecemasan pada situasi yang baru
atau yang tidak familiar, terlihat sangat pemalu dan menarik diri.

Problem sosial

Contoh : Hanya memiliki sedikit teman, sering memiliki rasa rendah diri dan tidak
percaya diri.
E. Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang balita

Faktor Herediter
Faktor herediter merupakan factor yang dapat diturunkan sebagai dasar
dalam mencapai tumbuh kembang anak, factor herditer meliputi factor
bawaan,

jenis

kelamin,

ras,

dan

suku

bangsa.

Pertumbuhan

dan

perkembangan anak dengan jenis kelamin laki-laki setelah lahir akan


cenderung cepat dibandingkan dengan anak perempuan serta akan bertahan
sampai usia tertentu. Baik anak laki-laki atau anak perempuan akan
mengalami pertumbuhan yang lebih cpat ketika mereka mencapai masa

pubertas. (Alimul, 2008 : 11).


Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan merupakan factor yang memegang peranan penting dalam
menentukan tercapai atau tidaknya potensi yang sudah dimiliki. Faktor
lingkungan ini dapat meliputi lingkungan prenatal (yaitu lingkungan dalam
kandungan) dan lingkungan postnatal (yaitu lingkungan setelah bayi lahir)
Faktor

lingkungan

secara

garis

besar

dibagi

menjadi

Faktor lingkungan prenatal


Gizi pada waktu ibu hamil
Zat kimia atau toksin
Hormonal
Faktor lingkungan postnatal
Budaya lingkungan. Dalam hal ini adalah budaya dalam masyrakat
yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, budaya
lingkungan

dapat

menentukan

mempersepsikan pola hidup sehat.


Status sosial ekonomi

bagaimana

seseorang

Anak dengan keluaraga yang memiliki sosial ekonoi tinggi umumnya


pemenuhan kebutuhan gizinya cukup baik dibandingkan dengan anak

dengan sosial ekonomi rendah


Nutrisi
Nutrisi menjadi kebutuhan untuk tunbuh dan berkembang selama masa
pertumbuhan, dalam nutrisi terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan
untuk pertumbuhan dan perkembangan seperti protein, karbohidrat, lemak,

mineral, vitamin, dan air

Iklim dan cuaca


Pada saat musim tertentu kebutuhan gizi dapat dengan mudah diperoleh
namun pada saat musim yang lain justru sebaliknya, sebagai contoh pada
saat musim kemarau penyediaan air bersih atau sumber makanan sangatlah
sulit
Olahraga atau latihan fisik
Dapat memacu perkembanagn anak karena dapat meningkatkan sirkulasi
darah sehingga suplai oksigen ke seluruh tubu dapat tertur serta
dapatmeningkatkan stimulasi perkembangan tulang, otot, dan pertumbuhan
sel lainnya
Posisi anak dalam keluarga
Secara umum anak pertama memiliki kemampuan intelektual lebih menonjol
dan cepat berkembang karena sering berinteraksi dengan orang dewasa
namun dalam perkembangan motoriknya kadang-kadang terlambat karena
tidak

ada

stimulasi

yang

biasanya

dilakukan

saudara

kandungnya,

sedangkan pada anak kedua atau tengah kecenderungan orang tua yang
sudah biasa dalam merawat anak lebih percaya diri sehingga kemamapuan
anak untuk berdaptasi lebih cepat dan mudah meski dalm perkembangan
intelektual biasanya kurang dibandingkan dengan ank pertamanya
Status kesehatan
Apabila anak berada dalam kondisi sehat dan sejahtera maka percepatan
untuk tumbuh kembang menjadi sangat mudah dan sebaliknya.contoh
apabila anak mempunyai penyakit kronis yang ada pada diri anak maka
pencapaian kemampuan untuk maksimal dalam tumbuh kembang akan
terhambat karena anak memiliki masa kritis
Faktor hormonal
Faktor hormonal yang berperan dalam tumbuh kembang anakantara lain
hormone somatotropin, tiroid dan glukokortikoid. Hormone somatotropin
(growth hormone) berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan
dengan menstimulasi terjadinya proliferasi sel kartilgo dan system skeletal,

hormone

tiroid

berperan

menstimulasi

metabolism

tubuh.

Hormone

glukokortiroid mempunyai fungsi menstimulasi pertumbuhan sel intertisial dari


testis (untuk memproduksi testosteron) dan ovarium (untuk memproduksi
estrogen), selnjutnya hormone tesebut menstimulasi perkembangan seks,
baik pada anak laki-laki maupun perempua yang sesuai dengan peran
hormonnya (wong 2000) (Alimul, 2008 : 13).

Lampiran 2
Post Tes
1. Apa pengertian dari deteksi dini tumbuh kembang pada anak?
a. Kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya
penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah.
b. Kegiatan atau pemeriksaan untuk mengetahui status kesehatan anak
2. Apa tujuan deteksi dini tumbuh kembang pada anak?
a. Agar memudahkan dalam menangani apabila ada gangguan tumbuh
kembang
b. Agar memudahkan untuk mengobati anak yang sakit
3. Sebutkan jenis-jenis deteksi dini tumbuh kembang pada anak?
a. Deteksi dini mendesak dan tidak mendesak
b. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, deteksi dini penyimpangan
perkembangan, deteksi dini penyimpangan mental emosional
4. Berikut ini yang termasuk dalam kelainan tumbuh kembang pada anak
adalah:
a. Gangguan bicara dan bahasa
b. Gangguan dalam menelan makanan
5. Berikut ini yang termasuk dalam faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh
kembang anak adalah:
a. Gizi pada waktu ibu hamil, hormonal
b. Jenis mainan dan pakaian

Lampiran 3
DAFTAR PUSTAKA

Abdul, dkk. 2004. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia.
Depkes RI. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Tumbuh
Kembang Anak ditingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.

Jakarta.

2006.Yupi
Supartini. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.