Anda di halaman 1dari 7

Fosfat

BY SEANDY FIRMANSYAH , AT 00.17 , HAVE 0 COMMENTS

Di perairan unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai


elemen, melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut
(ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organik yang berupa partikulat.
Senyawa fosfor membentuk kompleks ion besi dan kalsium pada kondisi
aerob, bersifat tidak larut, dan mengendap pada sedimen sehingga tidak
dapat dimanfaatkan oleh algae akuatik (Jeffries dan Mill dalam Effendi
2003).
Fosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan.
Karakteristik fosfor sangat berbeda dengan unsur-unsur utama lain yang
merupakan penyusun boisfer karena unsur ini tidak terdapat di atmosfer.
Pada kerak bumi, keberadaan fosfor relatif sedikit dan mudah mengendap.
Fosfor juga merupakan unsur yang esensial bagi tumbuhan tingkat tinggi
dan algae, sehingga unsur ini menjadi faktor pembatas bagi tumbuhan
dan algae akuatik serta sangat mempengaruhi tingkat produktivitas
perairan. Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa
kimia yang merupakan materi dasar makhluk hidup dan tak hidup. Siklus biogeokimia atau siklus organik anorganik adalah siklus unsur
atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut
tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus
biogeokimia.

Sumber dan Distribusi


Fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme
untuk pertumbuhan dan sumber energi. Fosfor di dalam air laut, berada dalam
bentuk senyawa organik dan anorganik. Dalam bentuk senyawa organik,
fosfor dapat berupa gula fosfat dan hasil oksidasinya, nukloeprotein dan
fosfo protein. Sedangkan dalam bentuk senyawa anorganik meliputi
ortofosfat dan polifosfat. Senyawa anorganik fosfat dalam air laut pada
umumnya berada dalam bentuk ion (orto) asam fosfat (H 3PO4), dimana
10% sebagai ion fosfat dan 90% dalam bentuk HPO 42-. Fosfat merupakan
unsur yang penting dalam pembentukan protein dan membantu proses
metabolisme sel suatu organisme (Hutagalung et al, 1997). Sumber fosfat
diperairan laut pada wilayah pesisir dan paparan benua adalah sungai.
Karena sungai membawa hanyutan sampah maupun sumber fosfat
daratan lainnya, sehingga sumber fosfat dimuara sungai lebih besar dari
sekitarnya. Keberadaan fosfat di dalam air akan terurai menjadi senyawa
ionisasi, antara lain dalam bentuk ion H2PO4-, HPO42-, PO43-. Fosfat
diabsorpsi oleh fitoplankton dan seterusnya masuk kedalam rantai
makanan. Senyawa fosfat dalam perairan berasal daari sumber alami
seperti erosi tanah, buangan dari hewan dan pelapukan tumbuhan, dan
dari laut sendiri. Peningkatan kadar fosfat dalam air laut, akan
menyebabkan terjadinya ledakan populasi (blooming) fitoplankton yang
akhirnya dapat menyebabkan kematian ikan secara massal. Batas
optimum fosfat untuk pertumbuhan plankton adalah 0,27 5,51 mg/liter
(Hutagalung et al, 1997).

Fosfat dalam air laut berbentuk ion fosfat. Ion fosfat dibutuhkan pada
proses fotosintesis dan proses lainnya dalam tumbuhan (bentuk ATP dan
Nukleotid koenzim). Penyerapan dari fosfat dapat berlangsung terus
walaupun dalam keadaan gelap. Ortofosfat (H 3PO4) adalah bentuk fosfat
anorganik yang paling banyak terdapat dalam siklus fosfat. Distribusi
bentuk yang beragam dari fosfat di air laut dipengaruhi oleh proses
biologi dan fisik. Dipermukaan air, fosfat di angkut oleh fitoplankton sejak
proses fotosintesis. Konsentrasi fosfat di atas 0,3 m akan menyebabkan
kecepatan pertumbuhan pada banyak spesies fitoplankton. Untuk
konsentrasi dibawah 0,3 m ada bagian sel yang cocok menghalangi dan
sel fosfat kurang diproduksi. Mungkin hal ini tidak akan terjadi di laut sejak
NO3 selalu habis sebelum PO4 jatuh ke tingkat yang kritis. Pada
musim panas, permukaan air mendekati 50% seperti organik-P. Di laut
dalam kebanyakan P berbentuk inorganik. Di musim dingin hampir semua
P adalah inorganik. Variasi di perairan pantai terjadi karena
prosesupwelling dan kelimpahan fitoplankton. Pencampuran yang terjadi
dipermukaan pada musim dingin dapat disebabkan oleh bentuk linear di
air dangkal. Setelah musim dingin dan musim panas kelimpahan fosfat
akan sangat berkurang.
Fosfor berperan dalam transfer energi di dalam sel, misalnya yang
terdapat pada ATP (Adenosine Triphospate) dan ADP (Adenosine
Diphosphate). Ortofosfat yang merupakan produk ionisasi dari asam
ortofosfat
adalah
bentuk
fosfor
yang
paling
sederhana
di
perairan. Ortofosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan secara
langsung oleh tumbuhan akuatik, sedangkan polifosfat harus mengalami hidrolisis
membentuk ortofosfat terlebih dahulu sebelum dapat dimanfaatkan sebagai sumber
fosfat. Setelah masuk kedalam tumbuhan, misalnya fitoplankton, fosfat anorganik
mengalami perubahan menjadi organofosfat. Fosfat yang berikatan dengan ferri
[Fe2(pO4)3] bersifat tidak larut dan mengendap didasar perairan. Pada saat terjadi
kondisi anaerob, ion besi valensi tiga (ferri) ini mengalami reduksi menjadi ion besi
valensi dua (ferro) yang bersifat larut dan melepaskan fosfat keperairan, sehingga
meningkatkan keberadaan fosfat diperairan (Effendi 2003).
Spesiasi Kimia
Secara rinci perputaran campuran organik P yang ditunjukkan di permukaan air
secara garis besar tidak diketahui. Sepenuhnya adalah larutan inorganik fosfor
seperti hasil ionisasi pada H3PO4
H3PO4 .....................................
H3PO4 .....................................
H3PO4 .....................................

H+ + H2PO4
H+ + HPO42H+ + PO43-

Pecahan pada bentuk ini dibatasi oleh pH dan komposisi pada air. Ionisasi konstan
untuk tiga tahap penguraian dapat didefinikan sebagai :
K1= [H+] [H2PO4] [H3PO4]
K2 = [H+] [HPO42-] [H2PO4-]
K3 = [H+] [PO33-] [HPO42-]

Pehitungan persen pada beragam bentuk fosfat di H 2O, NaCl, air laut, seperti
sebuah fungsi pada pH. Di laut dalam ion fosfat bentuknya lebih penting (50% pada
P= 1000 bar atau 10.000 m ). H 2PO4-bebas adalah lebih besar dengan persentase
49%, MgPO4-, 46%, dan 5% CaHPO 4. Sementara PO43- 27% seperti MgPO4- dan
73% seperti CaPO4.

Gambar 1. Grafik Spesiasi Fosfat

Proses pengambilan secara Fisik dan Biologi


Ortofosfat dihasilkan dari dekomposisi tanaman atau jaringan yang membusuk,
karena hal tersebut merupakan proses yang mudah dan cepat maka terjadi sangat
tinggi di kolom perairan sehingga menyediakan fosfat untuk tanaman ( Davis dalam
Effendi, 1987). Ketika fitoplankton mati, organik-P dengan cepat berubah menjadi
fosfat. Banyak fitoplankton dikonsumsi oleh zooplankton dimana proses ini
menghasilkan PO4.
Inorganik fosfat terlarut terdiri atas 90% dari total fosfor selama waktu ketika
produksi organik, maka dari itulah proses pengambilan rendah. Tipe ini muncul saat
musim dingin. Saat musim panas, ketika produktifitas tinggi inorganik fosfat
berkurang setengah dari jumlah total.
Siklus Alami Fosfat
Banyak sumber fosfat yang di pakai oleh hewan, tumbuhan, bakteri, ataupun
makhluk hidup lain yang hidup di dalam laut. Misalnya saja fosfat yang berasal dari
feses hewan (aves). Sisa tulang, batuan, yang bersifat fosfatik, fosfat bebas yang
berasal dari proses pelapukan dan erosi, fosfat yang bebas di atmosfer, jaringan
tumbuhan dan hewan yang sudah mati. Di dalam siklus fosfor banyak terdapat
interaksi antara tumbuhan dan hewan, senyawa organik dan inorganik, dan antara
kolom perairan, permukaan, dan substrat. Contohnya beberapa hewan melepaskan
sejumlah fosfor padat di dalam kotoran mereka.
Dalam perairan laut yang normal, rasio N/P adalah sebesar 15:1. Ratio N/P yang
meningkat potensial menimbulkan blooming atau eutrofikasiperairan, dimana terjadi

pertumbuhan fitoplankton yang tidak terkendali. Eutrofikasi potensial berdampak


negatif terhadap lingkungan, karena berkurangnya oksigen terlarut yang
mengakibatkan kematian organisme akuatik lainnya (asphyxiation), selain
keracunan
karena
zat
toksin
yang
diproduksi
oleh
fitoplankton
(genus Dinoflagelata). Fitoplankton mengakumulasi N, P, dan C dalam tubuhnya,
masing masing dengan nilai CF (concentration factor) 3 x 104 untuk P, 16(3 x
104) untuk N dan 4 x 103 untuk C (Sanusi 2006).
Ketersediaan Fosfor
Studi tentang sirkulasi fosfor di lingkungan perairan laut merupakan perhatian di
berbagai bidang ilmu bidang ilmu. Dengan menggunakan 32P para peneliti
menghasilkan kesimpulan umum bahwa bahwa konsentrasi fosfor akan berubah
karena fosfor merupakan salah satu zat yang digunakan oleh fitoplankton dalam
proses metabolisme. Damanhuri (1997) menyatakan bahwa kadar fosfat akan
semakin tinggi dengan menurnya kedalaman. Konsentrasi fosfat relatif konstan pada
perairan dalam biasanya terjadi pengendapan sehingga nutrien meningkat seiring
dengan waktu karena proses oksidasi f dan bahan organik. Adanya proses run
of yang berasal dari daratan akan mensuplai kadar fosfat pada lapisan permukaan,
tetapi ini tidak terlalu besar. Penambahan terbesar dari lapisan dalam melalui proses
kenaikan masa air.
Fosfor muncul pada bagian yang beragam di dalam lingkungan bahari, beberapa
muncul dalam bentuk susunan organik seperti protein dan gula, beberapa juga
muncul dalam bentuk kalsium organik dan sebagian dalam bentuk inorganik dan
partikel besi fosfat, lalu juga dalam bentuk fosfat terlarut, walaupun fosfor muncul
dalam konsentrasi dibawah nitrogen, tapi pada kenyataanya fosfor dapat dengan
mudah di buat atau tersedia di dalam atau tersedia di dalam zona penetrasi cahaya
yang mencegah fosfor menjadi faktor pembatas di dalam produktifitas bahari.
Diperairan, bentuk unsur fosfor berubah secara terus menerus akibat proses
dekomposisi dan sintesis antara bentuk organik, dan bentuk anorganik yang
dilakukan oleh mikroba. Semua polifosfat mengalami hidrolisis membentuk
ortofosfat. Perubahan ini bergantung pada suhu yang mendekati titik didih,
perubahan polifosfat menjadi ortofosfat berlangsung cepat. Kecepatan ini meningkat
dengan menurunnya nilai pH. Perubahan polifosfat menjadi ortofosfat pada air
limbah yang mengandung banyak bakteri lebih cepat dibandingkan dengan
perubahan yang terjadi pada air bersih.
Keberadaan fosfor diperairan alami biasanya relative kecil, dengan kaar yang lebih
sedikit dari pada kadar nitrogen. Fosfor tidak bersifat toksik bagi manusia, hewan,
dan ikan. Keberadaan fosfor secara berlebihan yang disertai dengan keberadaan
nitrogen dapat menstimulir ledakan pertumbuhan algae di perairan (algae bloom).
Algae yang berlimpah ini dapat membentuk lapisan pada permukaan air, yang
selanjutnya dapat menghambat penetrasi oksigen dan cahaya mathari sehingga
kurang menguntungkan bagi ekosistem perairan. Pada saat perairan cukup
mengandung fosfor, algae mengakumulasi fosfor di dalam sel melebihi

kebutuhannya. Fenomena yang demikian dikenal istilah konsumsi berlebih (luxury


consumption). Kelebihan fosfor yang diserap akan dimanfaatkan pada saat
perairan mengalami defisiensi fosfor, sehingga algae masih dapat hidup untuk
beberapa waktuselama periode kekeurangan pasokan fosfor (Effendi 2003).
Berdasarkan kadar fosfat total, perairan diklasifikasikan menjadi tiga yaitu: perairan
dengan tingkat kesuburan rendah yang memiliki kadar fosfat total berkisar antara 0
0.02 mg/liter; perairan dengan tingkat kesuburan sedang memiliki kadar fosfat 0.021
0.05 mg/liter; dan perairan dengan tingkat kesuburan tinggi, memiliki kadar fosfat
total 0.051 0.1 mg/liter (Effendi, 2003)
Siklus

fosfor

Gambar 2. Siklus Fosfor di alam

Gambar 3. Siklus Fosfat di Laut

Fosfor merupakan bagian protoplasma yang penting, cenderung beredar,


senyawa-senyawa organikterurai dan akibatnya menghasilkan fosfat yang kembali

tersedia bagi tumbuh-tumbuhan. Reservoir yang tersbesar dari fosfor adalah bukan
udara, melainkan batu-batuan atau endapan-endapan lain yang telah terbentuk pada
abad-abad geologis yang telah lalu. Dan semua itu berangsur-angsur terkikis,
melepaskan fosfat kedalam ekosistem-ekosistem, tetapi banyak juga yang lepas
kedalam laut, dimana sebagian dari padanya di endapkan dalam sedimen-sedimen
dangkal, dan sebagian lagi hilang ke sedimen-sedimen yang lebih dalam. Cara-cara
pengendalian fosfor kedaurnya sekarang atau yang ada kurang mencukupi untuk
mengganti yang hilang (Odum, 1993).
Di beberapa bagian dari dunia sekarang ini tidak terdapat pengangkatan atau
pemunculan sedimen yang luas, dan kegiatan burung-burung laut dan ikanpun
(dibawa oleh binatang dan manusia kedarat) tidak cukup. Burung-burung laut jelas
berperan penting dalam pengambilan fosfor ke dalam daur (bukti endapan Guano di
Peru yang terkenal). Pemindahan fosfor dan bahan-bahan lain oleh burung-burung
dari laut ke dartan masih terus berlangsung, tetapi tidak dengan laju yang sama.
Tampaknya manusia juga berperan dalam proses penghilangan fosfor. Walaupun
manusia banyak mengambil ikan laut, Hutchinson menaksir bahwa hanya kurang
lebih 60.000 ton fosfor unsur pertahun yang dikembalikan dalam jalan ini,
dibandingkan dengan satu atau dua juta ton batuan fosfat yang ditambang dan
kebanyakan tercuci serta hilang. Ahli-ahli pertanian memberitahukan, tidak perlu
khawatir karena batuan fosfat cadangan masih besar. Justru sekarang, manusia
lebih memperhatikan kekacauan dan kemacetan lalu lintas fosfat yang larut dalam
jalan-jalan perairan yang di akibatkan dari meningkatnya pengikisan yang tidak
dapat di imbangi atau diganti oleh sisitem protoplasma dan sedimentasi (Odum,
1993).
Fosfor tidak bergerak secara merata dan lancar dari organisme ke lingkungan dan
kembali ke organisme. Umumnya laju pengambilan lebih cepat dari pada laju
pelepasan. Tumbuh-tumbuhan siap mengambil fosfor dalam keadaan gelap maupun
keadaan-keadaan lain apabila mereka tidak dapat mempergunakannya. Selama
periode pertumbuhan yang cepat dari produsen-rodusen yang sering kali terjadi
dalam musim semi, semua fosfor yang tersedia sudah terikat dalam produsenprodusen dan konsumen-konsumen. Konsentrasi fosfor pada sesuatu saat
dapat mempunyai sedikit hubungan dengan produktifitas ekosistem.
Tingkat yang rendah dari fosfat yang larut berarti bahwa sistemnya
dimiskinkan atau sistemnya secara metabolisme sangat giat, hanya
dengan pengukuran laju dari pemasukan keadaan sebenarnya dapat
ditentukan (Odum, 1993)
Daftar Pustaka
Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta : Kanisius
Hutagalung, Horas P, Deddy Setiapermana, dan Hadi Riyono. 1997. Metode
Analisis Air Laut, Sedimen, dan Biota. Jakarta : Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia.
Odum, Eugene P. 1993. Dasar Dasar Ekologi. Yogyakarta : Universitas Gadjah
Mada

Sanusi, Harpasis. 2006. KIMIA LAUT Proses Fisik Kimia dan Interaksinya dengan
Lingkungan. Institut Pertanian Bogor : Departemen Ilmu dan Teknologi
Kelautan