Anda di halaman 1dari 56

GAMBARAN UMUM

KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA


2.1.

Kondisi Geografis, Administrasi dan Kondisi Fisik


Kabupaten Bolaang Mongondow Utara merupakan salah satu daerah
otonomi di Provinsi Sulawesi Utara yang secara geografis berada pada 0-30, 10 Lintang Utara dan 123 01 26,4 Bujur Timur-12401 30,2 Bujur Timur. Luas
Wilayah 185.686 Ha (1.856,86 Km), 12,3% dari luas Provinsi Sulawesi Utara.
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dilalui oleh jalan Trans Sulawesi dipesisir
pantai utara Kabupaten Bolaang Mongondow Utaradimana jalan ini berfungsi
sebagai jalur lalu lintas dari dan kedaerah Minahasa, Manado dan Bitung
disebelah timur dan Provinsi Gorontalo disebelah barat.
Gambar II. 1
Letak strategis Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

II - 1

Kabupaten Bolaang Mongondow Utara merupakan salah satu Daerah


Otonom Hasil Pemekaran yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara, batas-batas
daerahnya meliputi :
1.
2.

Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi;


Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sangtombolang (Kabupaten

3.

Bolaang Mongondow);
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Posigadon (Kabupaten

4.

Bolaang Mongondow); dan


Sebelah Barat berbatasan

dengan

Kecamatan Atinggola

(Kabupaten

Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo).


Adapun kondisi topografi tanah di Bolaang Mongondow Utara datar sampai
berombak (25%), berombak sampai berbukit (40%) dengan keadaan tanah yang
tergolong subur. Secara umum kondisi topografi tanah di kecamatan Sangkup rata
dan yang berbukit di desa Sidodadi hingga 170 m dpl dan desa Pangkusa hingga
50 m dpl. Di kecamatan Bintauna pada umumnya rata dan yang berbukit hanya di
desa Mome dan Huntuk s/d 8 m dpl. Di kecamatan Bolangitang Timur juga
sebagian besar dataran kecuali desa Mokodidek berbukit 60 m dpl dan desa
Biontong 18 m dpl. Wilayah berbukit juga terdapat di desa Solo dan Komus Dua
kecamatan Kaidipang 15 m dpl, dan desa-desa Komus satu dan Batu tajam
kecamatan Pinogaluman 25 m dpl diatas permukaan laut.
Kabupaten Bolaang Ongondow Utara lebih banyak dipengaruhi oleh iklim
tropis dengan suhu sekitar 20 C-32 C, curah hujan rata-rata 500 mm/tahun.
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara adalah salah satu bagian dari Provinsi
Sulawesi Utara terletak antara 0-30 1-0 Lintang Utara dan 123-124 Bujur
Timur. Luas wilayah 185.686 ha (1.856,86 km2) 12.3% dari luas Sulawesi Utara.
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dilalui oleh jalan Trans Sulawesi di pesisir
pantai Utara kabupaten Bolaang Mongondow dimana jalan ini berfungsi sebagai
jalur lalu lintas barang dan orang dari dan ke daerah Minahasa, Manado dan
Bitung disebelah timur dan Provinsi Gorontalo disebelah Barat1.

Gambar II.2
Peta Administrasi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
1

Kabupaten Dalam Angka Tahun 2011

II - 2

Cat : tidak ada tabel administratif


2.1.1. Iklim
Berdasarkan hasil analisis data curah hujan yang tersebar di wilayah
wilayah Bolaang Mongondow Utara, tipe iklim wilayah bervariasi mulai dari bertipe
A hingga D (klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson) yakni daerah basah dengan
vegetasi masih hutan hujan tropika hingga agak kering (Gambar I.2.). Klasifikasi
ini berdasarkan nilai Q yang berkisar antara 12,5% s/d 100%.
Nilai Q merupakan persentase antara rata-rata bulan kering dibandingkan
dengan rata-rata bulan basah sebagaimana disajikan pada Tabel 3-1

Tabel II.1. Tipe Iklim


N
o
1

Lokasi
stasiun

Curah hujan rataJumlah Bulan


rata
Basah
mm/th

Jumlah
Bulan

Q%

Iklim

Kering

1052,15

100

Bintauna
2

1813,70

22,
2

Pangkusa
3

1204,78

40

1595,95

12,

II - 3

5
5

Bumbung
6
7

1218,05

66,
7

2107,83

25

1092,63

66,
7

Sumber: BP DAS Tondano, 2010

2.1.2. Curah Hujan


Rata-rata curah hujan bulanan di wilayah DAS berdasarkan data dari
stasiun curah hujan yang mewakili wilayah yaitu stasiun Pangkusa mewakili
daerah hulu dan stasiun Buko mewakili wilayah hilir. Data curah hujan selang
tahun 2002 sampai dengan tahun 2008 disajikan pada Tabel II-2 dan Tabel II-3.
Berdasarkan data tersebut di atas curah hujan maksimum bulanan di
wilayah hulu berkisar antara 39 mm - 126 mm. Sedangkan di wilayah hilir 67 mm 160 mm. Curah hujan tahunan berkisar 1185 - 1470 mm/tahun di wilayah hulu
sedangkan di wilayah hilir berkisar antara 1185 - 2337 mm/tahun.

Dari data

tersebut terlihat kecenderungan bahwa curah hujan di wilayah hilir lebih tinggi di
bandingkan dengan daerah hulu.
Tabel II.2. Rata-Rata Curah Hujan(mm) Di Wilayah Hilir DAS
Sangkup-Langi (Stasiun penakar hujan Buko)Tahun 2002-2008.
Bulan
Tahun
Jan

FeP

Mar

Apr

Me
i

0.27

0.00

0.00

0.1
0

Jun

Jul

Aug

Se
p

Ok
t

No
v

De
s

0.1
9

2.33

0.5
5

2002

7.13

0.54

1.48

0.47

1.3
5

2003

4.55

4.29

2.48

1.20

3.1
0

1.67

0.71

0.68

2.0
0

1.9
7

2.17

6.8
1

2004

5.35

4.76

2.42

0.97

2.8
4

0.50

0.81

0.26

0.0
0

0.5
5

1.43

2.8
9

2005

11.74

3.52

2.10

2.27

3.0
0

1.43

0.00

0.61

1.2
7

2.4
8

4.47

2.8
1

2006

7.16

8.18

6.45

1.90

2.5

7.00

0.29

0.00

0.3

0.0

1.97

3.7

II - 4

8
2007

10.61

2008

7.18

6.13

7.32

3.39
3.52

1.37

0.0
0

4.60

0.9
0

4.83
2.33

1.77
3.35

1.45

1.6
3

2.3
9

4.03

4.8
0

3.0
0

7
6.13

5.3
2

3.43

7.1
6

Sumber: BP DAS Tondano, 2010

Tabel II.3. Rata-Rata Curah Hujan Di Wilayah Hulu DAS SangkupLangi


(Stasiun penakar hujan Pangkusa)Tahun 2002-2008.
Bulan
Tahun
Jan
Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt
Nov
Des
2002

9.53

4.45 6.69 1.37 5.57 3.71 0.00

0.43

0.00

0.96

4.53

1.77

2003

3.76

6.83 9.38 3.17 5.47 0.00 3.25

1.99

1.80

5.00

1.41

5.26

11.21 13.44 10.87 5.95 7.15 7.22 3.32

0.00

2.64

2.06

0.10

3.70

2004
2005

3.51

5.73 0.65 1.53 1.95 4.64 2.15

0.00

1.65

4.65

4.13

5.25

2006

7.23

1.83 0.55 1.49 0.23 0.00 0.00

0.67

1.34

0.00

0.00

0.00

2007

12.52

1.02 1.57 1.17 3.70 3.26 0.19

3.06

4.03

2.25

6.34

8.92

2008

7.01

1.55 1.56 2.41 3.86 3.52 2.95

1.05

1.35

1.56

7.13

10.85

Sumber: BP DAS Tondano, 2010

2.1.3. Temperatur
Rata-rata temperatur udara bulanan berkisar antara 28 oC - 30oC dengan
suhu udara rata-rata bulanan 29oC (BPP- Bintauna). Suhu terendah terjadi pada
bulan November/Desember dan tertinggi Bulan Juni/Juli. Secara umum pola
sebaran suhu udara mengikuti pola penyebaran lama penyinaran matahari. Makin
lama penyinaran, suhu udara cenderung meningkat.
2.1.3.1.

Kelembaban Udara

Kelembaban relatif merupakan ukuran kandungan uap air di udara


dibandingkan dengan kandungan uap air maksimum (keadaan jenuh) pada suhu
tertentu. Keadaan ini sangat berhubungan dengan keadaan curah hujan,
keawanan, suhu udara dan jumlah kandungan air.

II - 5

Kelembaban relatif udara relatif tinggi. Rata-rata kelembaban relatif bulanan


adalah 84.4%. Kelembaban relatif udara terendah terjadi pada Bulan Agustus
(80%) dan tertinggi pada bulan Desember yaitu 88.3% (BPP Bintauna).
Kelembapan udara berkisar antara 80 -93%. Keadaan ini berhubungan dengan
keadaan unsur iklim lainnya seperti curah hujan, prosentase keawanan, suhu
udara, dan kandungan air. Secara umum lokasi studi termasuk daerah relatif
lembab dengan kandungan uap air yang relatif tinggi.
2.1.4. Radiasi Matahari
Radiasi matahari yang diterima statu permukaan sangat dipengaruhi oleh
letak tempat dan lintang. Intensitas radiasi matahari wilayah studi pada bulan Juli,
Agustus dan September relatif tinggi dibandingkan bulan-bulan lain. Pada Bulan
Desember intensitas radiasi matahari terendah, karena pada bulan tersebut curah
hujan relatif tinggi dan tingkat keawanan pada bulan tersebut relatif tinggi
persentasenya.
2.1.5. Kecepatan Angin
Kecepatan angin beragam dari waktu ke waktu. Pengukuran arah dan
kecepatan angin sesaat dengan menggunakan alat anemometer terukur
kecepatan angin dengan kisaran 1,35 - 3 m/detik dan arah angin umumnya dari
barat (PPLH-SDA, 2008).
2.1.6. Evapotranspirasi Potensial
Parameter iklim yang juga cukup penting adalah evapotranspirasi yang
menggambarkan

proses

hilangnya

air

dari

permukaan/vegetasi.

Tingkat

evapotranspirasi di wilayah DAS Sangkup cukup tinggi dengan rata-rata tahun 4,6
mm/hari dan hampir konstan sepanjang tahun. Evapotranspirasi maksimum terjadi
pada bulan Oktober - November sebesar 5,3 mm/hari yang minimum pada bulan
Juni yang mencapai 3,7 mm/hari (PPLH-SDA, 2007).
2.1.7. Topografi, Jenis dan Struktur Tanah
Adapun kondisi topografi tanah di Bolaang Mongondow Utara datar sampai
berombak (25%), berombak sampai berbukit (40%) dengan keadaan tanah yang
tergolong subur. Secara umum kondisi topografi tanah di kecamatan Sangkup rata
dan yang berbukit di desa Sidodadi hingga 170 m dpl dan desa Pangkusa hingga

II - 6

50 m dpl. Di kecamatan Bintauna pada umumnya rata dan yang berbukit hanya di
desa Mome dan Huntuk s/d 8 m dpl. Di kecamatan Bolangitang Timur juga
sebagian besar dataran kecuali desa Mokodidek berbukit 60 m dpl dan desa
Biontong 18 m dpl. Wilayah berbukit juga terdapat di desa Solo dan Komus Dua
kecamatan Kaidipang 15 m dpl, dan desa-desa Komus satu dan Batutajam
kecamatan Pinogaluman 25 m dpl diatas permukaan laut.
Proses pembentukan tanah dipengaruhi oleh lima faktor yaitu: iklim, bahan
induk, topografi, organisme, dan waktu. Diantara lima faktor tersebut, bahan induk
dan topografi tampaknya berpengaruh lebih dominan, sehingga dijumpai sifat-sifat
tanah yang bervariasi. Faktor iklim yang cukup kering, pengaruhnya relatif
seragam untuk seluruh daerah penelitian.
Tanah-tanah

di

daerah

penelitian

terbentuk

dari

bahan

induk

aluvium/endapan, marin, alluvium & koluvium, breksi dan batu pasir, lavilli, abu
dan batuapung, breksi dan lava, tufa, dan breksi andesit, pada kondisi iklim basah
dengan bentuk wilayah datar hingga bergunung. Ketiga faktor tersebut sangat
berpengaruh terhadap proses pembentukan dan sifat-sifat tanahnya.

Gambar II.3
Proporsi Luas Beberapa Jenis Tanah di
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

II - 7

Gambar II.4.
Peta Jenis tanah di kabupaten Bolaang Mongondow Utara

2.1.8. Hidrologi
Secara hidrologis, wilayah kabupaten Bolaang Mongondow Utara
termasuk dalam Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) Sangkup Langi. Luas
SWP DAS Sangkub Langi adalah 287.019 Ha, yang terbagi dalam 8 SWP Sub
DAS, yaitu:
a)

SWP Sub DAS Ayong

SWP Sub DAS Ayong memiliki luas 32.902 Ha yaitu sekitar 11.46 % dari luas total
DAS Sangkub Langi. SWP Sub DAS Ayong memiliki 8 sungai yang secara
individual mengalir ke Laut Sulawesi. Di antaranya adalah sungai-sungai Ayong,
Modapaan, Pangi, Sauk, Bayabuta dan Baturapa. Sungai Ayong dipilih menjadi
sungai utama karena memiliki panjang sungai yang terpanjang diantara yang
lainnya.

II - 8

b)

SWP Sub DAS Biontong

SWP Sub DAS Biontong memiliki luas 21.333 Ha yaitu sekitar 7.43 % dari luas
total DAS Sangkub Langi. SWP Sub DAS Biontong memiliki 6 sungai yang secara
individual mengalir ke Laut Sulawesi. Diantaranya adalah sungai-sungai Bohabak,
Biontong, Mome, dan Nono. Sungai Biontong dipilih menjadi sungai utama karena
memiliki panjang sungai yang terpanjang diantara yang lainnya.
c)

SWP Sub DAS Biyou

SWP Sub DAS Biyou memiliki luas 42.906 Ha yaitu sebesar 14.95% dari total luas
DAS Sangkub Langi. SWP Sub DAS Biyou memiliki outlet pada sungai Sangkub.
Sungai Biyou merupakan cabang sungai dari sungai Sangkub.

d)

SWP Sub DAS Bolangitang

SWP Sub DAS Bolangitang memiliki luas 53.691 Ha yaitu sebesar 18.71% dari
total luas DAS Sangkub Langi. SWP Sub DAS Bolangitang memiliki 16 sungai
yang secara individual mengalir ke Laut Sulawesi. Diantaranya adalah sungai
Keakar, sungai Nunuka, sungai Saleo, dan Sungai Bolangitang. Sungai
Bolangitang dipilih menjadi sungai utama karena memiliki panjang sungai yang
terpanjang diantara yang lainnya.
e)

SWP Sub DAS Gambuta

SWP Sub DAS Gambuta memiliki luas 35.061 Ha yaitu sebesar 12.22% dari total
luas DAS Sangkub Langi. SWP Sub DAS Gambuta memiliki outlet pada sungai
Sangkub. Sungai Gambuta merupakan cabang sungai dari sungai Sangkub.
a)
SWP Sub DAS Lolak
SWP Sub DAS Lolak memiliki luas 20.582 Ha yaitu sebesar 7.17% dari total luas
DAS Sangkub Langi. Terdapat 3 sungai pada SWP Sub DAS Lolak yang mengalir
menuju Laut Sulawesi yaitu sungai Dulangon, sungai Motobang, dan sungai Lolak.
Sungai Lolak dipilih menjadi sungai utama karena memiliki panjang sungai yang
terpanjang diantara yang lainnya.
f)

SWP Sub DAS Maelang

SWP Sub DAS Maelang memiliki luas 15.715 Ha yaitu sebesar 5.48% dari total
luas DAS Sangkub Langi. Terdapat 22 sungai pada SWP Sub DAS Maelang yang
mengalir menuju Laut Sulawesi diantaranya sungai Pangi, sungai Domisil, sungai

II - 9

Moilobai, sungai Posyanga, sungai Bolangat, dan sungai Maelang. Sungai


Maelang dipilih menjadi sungai utama karena memiliki panjang sungai yang
terpanjang diantara yang lainnya.
g)

SWP Sub DAS Sangkub

SWP Sub DAS Sangkub memiliki luas 64.830 Ha yaitu sebesar 22.59% dari total
luas DAS Sangkub Langi. Hanya terdapat satu sungai pada SWP Sub DAS
Sangkub yang mengalir menuju Laut Sulawesi yaitu sungai Sangkub.
2.1.9. Morfologi dan Kemiringan Lereng
Kondisi

morfologi

wilayah

kabupaten

Bolaang

Mongondow

Utara

ditunjukkan pada Gambar I-4 dan Tabel I-6.


Gambar II. 5
Peta Kondisi Morfologi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

Tabel II.4
Proporsi Luas bentuk Wilayah di kabupaten Bolmut
Kelas lereng

Luas, ha

II - 10

Datar

29,527.73

Landai

5,765.40

Agak Curam

30,433.19

Curam

80,530.10

Sangat Curam

46,894.52

Catatan : tidak terdapat tabel dan peta DAS,serta tabel kondisi air tanah
2.2.

Kondisi Demografi
Luas wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara adalah 185.686 ha
(1.856,86 km) 12,3% dari luas Sulawesi Utara. Terbagi atas 6 Kecamatan dan
91 Desa/Kelurahan, sedangkan penduduk Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
hingga akhir Tahun 2010 berjumlah 70.762 jiwa, yang terbagi menurut jenis
kelamin Laki-laki 36.061 jiwa dan Perempuan 34.701 jiwa.
Keadaan topografi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara datar sampai
berombak (25%), berombak sampai berbukit (40%) dengan keadaan tanah yang
tergolong subur. Kecamatan Sangkub rata, sedangkan yang berbukit terletak di
Desa Sidodadi hingga mencapai 170 m dpl dan Desa Pangkusa hingga 50 m dpl.
Kecamatan Bintauna pada umumnya rata, sedangkan yang berbukit terletak di
Desa Mome dan Huntuk hingga mencapai 8 m dpl. Kecamatan Bolangitang Timur
juga sebagian besar dataran, kecuali terletak di Desa Mokoditek bergelombang
sampai benrbukit 60 m dpl dan Desa Biontong 18 m dpl. Sedangkan
Kecamatan kaidipang terdapat beberapa Desa yang berbukit yaitu Solo dan
Komus Dua 15 m dpl.Kecamatan Pinogaluman topografi berbukit terdapat pada
Desa Komus Satu dan Batutajam mecapai 25 m dpl diatas permukaan laut.
Terdapat 2 gunung di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, yaitu gunung
Gambuta dengan ketinggian 1.954 M sedangkan yang paling rendah adalah
gunung Paupau dengan ketinggian 1.815 M dengan letak di Kecamatan
Bolangitang.
2.1. Sebagai daerah yang terletak pada lintasan garis Katulistiwa, Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara memiliki suhu 200 C - 320 C. Mengenal dua
musim saja sebagaimana umumnya wilayah tropis yaitu musim kemarau
dan musim hujan yang selalu basah dan banyak hujan. Curah hujan di
daerah ini cukup tinggi dapat mencapai 211,17 mm per tahun, dan terendah
pada bulan Agustus yaitu 61,00 mm. dengan kondisi iklim seperti ini maka
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara di untungkan khususnya di sektor

II - 11

pertanian. Musim kemarau dan musim penghujan tidak datang bersamaan


waktunya untuk semua wilayah ini, musim penghujan jatuh antara Bulan
April - Juli sedang musim kemarau jatuh antara Bulan Oktober-Desember,
dibagian tengah musim penghujan jatuh antara April - Juli, dibagian utara
musim hujan antara Bulan Oktober - Februari sedangkan musim kemarau
jatuh antara Bulan April Juli.
Catatan : kondisi demografi bukan topografi
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara mempunyai jumlah penduduk 70.693
Dilihat perkecamatan maka penyebaran penduduk paling banyak adalah
kecamatan Kaidipang 145 jiwa per km.kecamatan yang memiliki tingkat
kepadatan penduduk terendah adalah kecamatan sangkub dan kecamatan
bolangitang Timur. Rata-rata tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara cukup Merata,dengan tingkat kepadatan 15,68
hingga 85,63 jiwa km.
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara mempunyai jumlah penduduk 70.693
Dilihat perkecamatan maka penyebaran penduduk paling banyak adalah
kecamatan Kaidipang 145 jiwa per km.kecamatan yang memiliki tingkat
kepadatan penduduk terendah adalah kecamatan sangkub dan kecamatan
bolangitang Timur. Rata-rata tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara cukup Merata,dengan tingkat kepadatan 15,68
hingga 85,63 jiwa km.

Tabel II.5
Luas Wilayah Perkecamatan dan Tingkat Kepadatan Penduduk
Tahun 2011.

No

Kecamatan

Jumlah
Penduduk

Luas (km)

Kepadatan Penduduk
(Org/Km)

Sangkub

8.906

567,85

15,68

Bintauna

12.654

348,94

36,26

Bolangitang Timur

Bolangitang Barat

12.859
14.042
12.334

293,75
445,64
85,09

43,78
31,51
144,95

Kaidipang

Pinogaluman
Total

9.898

115,59

85,63

70.693

1.856,86

38,07

Sumber :Bolaang Mongondow Utara Dalam Angka, BPS 2011.

II - 12

Adapun jumlah penduduk terbanyak di kecamatan Bolangitang Barat 14.042


(20%)orang, sedangkan yang paling sedikit adalah kecamatan Sangkub
berjumlah 8.906 (13%). Adapun komposisi penduduk menurut jenis kelamin
dan sex ratio di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara perkecamatan dapat
dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel II.6
Komposisi Penduduk Perkecamatan Menurut Jenis Kelamin dan Sex
Ratio Di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

No

Kecamatan

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

Sex Ratio

4.606
6.475

4.300
6.179

8.906
12.654

107.12
104.79

6.288
6.814
6.049
4.812

12.859
14.042
12.334
9.898

104.50
106.08
103.90
105.69

34.442

70.693

105.25

Sangkub

Bintauna

Bolangitang Timur

Bolangitang Barat

Kaidipang

6.571
7.228
6.285
5.086

Pinogaluman
Total

36.251

Sumber :Bolaang Mongondow Utara Dalam Angka, BPS 2011.

tabel diatas menggambarkan bahwa pertumbuhan pendudukdengan jumlah


keseluruhan yaitu 70.762 jiwa. Terbagi atas Laki laki 36.251jiwa sedangkan
Perempuan 34.442 jiwa dengan total rasio untuk 6 kecamatan 105.25.
Struktur usia penduduk Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang terbagi
kedalam kelompok umur dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Kelompok
umur 5 - 9 berjenis kelamin laki laki dengan jumlah 4.368 jiwa atau 12,39
%, dan kelompok umur 10 - 14 tahun berjenis kelamin laki laki berjumlah
3.851 atau 10,92 %.
Tabel II.7
Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Tahun 2011
KELOMPOK

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

JUMLAH

3.685

3.548

7.233

5-9

4.368

4.006

8.374

10 - 14

3.851

3.455

7.306

15 - 19

2.146

2.966

6.112

20 - 24

2.333

2.305

4.638

25 - 29

2.813

2.778

5.591

UMUR
0-4

II - 13

30 - 34

2.866

2.846

5.712

35 - 39

3.104

2.846

5.950

40 - 44

2.512

2.301

4.813

45 - 49

2.101

2.061

4.162

50 - 54

1.761

1.586

3.347

55 - 59

1.293

1.229

2.522

60 - 64

855

822

1.677

65 - 69

654

679

1.333

70 - 74

437

475

912

75 +
472
539
1.011
Jumlah
36.251
34.442
70.693
Sumber :Bolaang Mongondow Utara Dalam Angka, BPS 2011.

Tabel II.8
Posisi Laju Pertambahan Penduduk Kabupaten Bolaang Mongondow
Utara

Jenis Kota

Laju Pertambahan Penduduk Tahun 2003


2009
Tertinggi

Terendah

Rata-rata

Kota Metropolitan

3,99 %.

-1,41 %.

1,66 %

Kota Besar

7,57%

-1,65 %.

2,86 %

Kota/Kabupaten
Sedang

6,06 %

-1,76 %.

1,64 %.

Kota/Kabupaten
Kecil

3,87 %

0,86 %.

2,3 %

Kab. Bolaang
Mongondow
Utara
Kota/Kabupaten di
Indonesia

2,22%

1,82%

Gambar II.6
Perkembangan Jumlah Penduduk
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tahun 2003-2009

II - 14

Berdasarkan laju pertumbuhan penduduk tersebut maka Kabupaten Bolaang


Mongondow

tergolong

sebagai

Kabupaten

Kecil

dimana

tingkat

pertumbuhannay masuk pada range 0,86% sampai 3,87% dengan rata-rata


pertumbuhan untuk kota kecil adalah 2,3% per tahun. Lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel berikut.

Jumlah Penduduk Menurut Struktur Agama


Berdasarkan data jumlah penduduk menurut struktur agama, di Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara penduduk mayoritas memeluk Agama Islam
(84,98%). Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel II.9
Jumlah Penduduk Menurut Agama di Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara Tahun 2009
Agama / Kepercayaan
No

Kecamatan

Jumlah
Islam

Kristen

Katolik

Hindu

Sangkub

6.522

2.819

62

Bintauna

10.696

2.138

Bolang Itang Timur

9.472

3.022

Bolang Itang Barat

14.232

Kaidipang

10.099

1.259

Pinogaluman

9.113

1.239

Budha
-

Lainnya
-

9.403

12.845

12.499

14.232

70

11.428

10.355

II - 15

Jumlah / Total

60.134

Prosentase

84,98%

10.477
14,81%

143

0,20%

0,01%

0,01%

70.762

0,00%

Sumber : Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Dalam Angka Tahun 2010

Tenaga Kerja
Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. Jumlah dan
komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan
berlangsungnya proses demografi. Pada tahun 2009, di Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara tercatat sebanyak 1.332 pencari kerja terdaftar di Dinas
Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Dari
tabel dibawah ini dapat diketahui juga bahwa di Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara masih banyak terdapat pengangguran intelektual
(65,54%).

Tabel II.10
Jumlah Pencari Kerja Terdaftar yang Belum Ditempatkan Menurut
Pendidikan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tahun 2009.
Pencari Kerja Terdaftar
No

Jenis Pendidikan
Laki-Laki

Perempuan

Total

Prosentase
(%)

SD

0,15%

SLTP

0,08%

SLTA

60

8
0

140

10,51%

Sarjana Muda (DIII)

106

21
0

316

23,72%

Sarjana

602

27
1

873

65,54%

771

561

1.332

100,00%

Jumlah

Sumber : Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Dalam Angka Tahun 2010

Catatan : tabel jumlah penduduk kab. Bolmut tidak 3-5 tahun hanya tahun
2011, serta tidak ada proyeksi jumlah penduduk 5 tahun mendatang.
2.3.

Keuangan dan Perekonomian Daerah


Besaran PDRB menurut sektor usaha menggambarkan nilai produk barang
dan jasa yang tercipta sebagai hasil dari kegiatan ekonomi masyarakat di suatu
wilayah tertentu.PDRB Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dihitung dengan

II - 16

menggunakan pendekatan produksi menurut lapangan usaha. Nilai PDRB


Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tahun 2011 Atas Dasar Harga Berlaku
(ADHB) berjumlah Rp. 892,236 Milyar Rupiah sedangkan nilai PDRB Atas Dasar
Harga Konstan (ADHK) pada tahun 2010 sebesar Rp. 416,865 Milyar Rupiah.
Ada 3 (tiga) leading sektor yang berkontribusi penuh terhadap nilai nilai tersebut
antara lain :
1.

Sektor Primer (Pertanian; Pertambangan dan Penggalian);

2.

Sektor Sekunder (Industri Pengolahan; Listrik, Gas Dan Air Bersih;


Bangunan);

3.

Sektor Tersier (Perdagangan; Hotel Dan Restoran; Pengangkutan Dan


Komunikasi; Keuangan; Persewaan Dan Jasa Perusahaan; Jasa Jasa).
Tabel II.11
Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007 2011
Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

Sumber :Bolaang Mongondow Utara Dalam Angka, BPS 2011.

Struktur perekonomian dilihat dari tiga klasifikasi sektor atas dasar


harga berlaku yang terdiri dari sektor primer (Pertanian;Pertambangan &
Penggalian), sektor sekunder (Industri Pengolahan;Listrik, Gas & Air Bersih;
Bangunan) dan sektor tersier (Perdagangan, Hotel & Restoran; Pengangkutan &
Komunikasi; Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan; Jasa-jasa) menunjukkan

II - 17

bahwa pada tahun 2009 kontribusi terbesar berasal dari sektor primer yaitu
sebesar 44,08 persen diikuti sektor tersier sebesar 43,34 persen, dan sektor
sekunder sebesar 14,58 persen.
Struktur perekonomian tahun 2009 dilihat dari PDRB atas dasar harga
konstan menunjukkan bahwa kontribusi sektor primer sebesar 44,89 persen diikuti
sektor tersier sebesar 40,61 persen, dan sektor sekunder sebesar 14,50 persen.
Perekonomian Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang masih sangat
tergantung kepada sektor primer jika dilihat menurut lapangan usaha maka
sebagian besar output yang dihasilkan berasal dari lapangan usaha pertanian.
Keadaan tahun 2009 kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB atas dasar harga
berlaku sebesar 34,87 persen yang diikuti oleh sektor Jasa-Jasa sebesar 31,09
persen; kemudian sektor Bangunan sebesar 11,39 persen;
Dilihat dari PDRB atas dasar harga konstan besarnya kontribusi menurut
lapangan usaha terhadap PDRB menunjukkan bahwa sektor pertanian sebesar
36,54 persen; sektor Jasa-Jasa sebesar 26,53 persen; kemudian sektor Bangunan
sebesar 11,20 persen.

Tabel II.12
Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007 2011
Atas Dasar Harga Berlaku (ADHK)
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

Sumber :Bolaang Mongondow Utara Dalam Angka, BPS 2011.

II - 18

Secara umum pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bolaang Mongondow


Utara terus menerus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari besaran
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) selama 3 tahun terakhir atas dasar
harga konstan, dimana angka PDRB pada tahun 2007 sebesar 311,158.07 juta
rupiah, dan pada tahun 2008 telah meningkat menjadi 331,391.78 juta rupiah,
kemudian pada tahun 2009 telah pula meningkat menjadi

354,035.03

juta

rupiah. Pertumbuhan dari tahun 2007 ke 2008 sebesar 6.5% dan dari 2008 ke
2009 sebesar 6.8%.
Sektor pertanian yang menjadi penyumbang terbesar dalam struktur
perekonomian, juga memiliki angka LQ (Location Quotien) PDRB yang cukup
bagus terhadap provinsi Sulawesi Utara, yakni dengan angka 1.93 pada tahun
2008 dan 1.94 pada tahun 2009. Selain itu sektor jasa-jasa ternyata juga memiliki
daya saing yang cukup baik, dengan LQ sebesar 1.61 pada tahun 2009. Sektor
lain yang memiliki angka LQ yang baik adalah sektor pertambangan dan
penggalian yakni dengan angka 1.96 pada tahun 2009. Hanya tiga sektor tersebut
(pertanian, pertambangan dan jasa-jasa) yang memiliki angka LQ lebih dari 1,
yang berarti memiliki potensi keunggulan komparatif (ekspor) di tingkat provinsi.
Dari gambaran struktur diatas menunjukkan bahwa kontribusi sektor tersier
cukup signifikan terhadap perekonomian Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
dan sebagian besar berasal dari sub sektor pemerintahan.
Berdasarkan pentingnya angka kontribusi sektor primer dan tersier yang
menopang pertumbuhan perekonomian daerah, maka dapat dikatakan bahwa
perekonomian Kabupaten Bolaang Mongondow Utara masih sangat tergantung
kepada sumber daya alam yang melimpah dan bantuan dana dari pemerintah.
Selain itu, dalam kelompok sektor pertanian, sub sektor tanaman bahan
makanan dan sub sektor perkebunan menempati posisi terbesar dalam prosentasi
kontribusi PDRB pada tahun 2009, masing-masing sebesar 13.86% dan 11.33%.
Tabel II.13
PDRB Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tahun 2009

II - 19

2.3.1

Pertumbuhan Ekonomi;
Salah satu indikator penting yang digunakan untuk mengamati hasil
pembangunan terutama pada bidang ekonomi di suatu wilayah yaitu
dengan melihat pertumbuhan ekonomi.Indikator tersebut digunakan untuk
mengukur tingkat pertumbuhan perekonomian suatu wilayah, yang juga
memberikan

indikasi

tentang

sejauh

mana dampak

dari

aktivitas

perekonomian selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten


Bolaang Mongondow Utara selama periode tahun 2007 sampai dengan

II - 20

tahun 2011 terus mengalami pertumbuhan positif setiap tahunnya dapat


dilihat pada tabel berikut :
Tabel II.14
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
Tahun 2007 2011

TAHUN

PERTUMBUHAN EKONOMI
BOLMONG UTARA
SULAWESI UTARA

NASIONAL

2007

(%)
6,89

(%)
6,47

(%)
6,28

2008

6,50

7,56

6,06

2009

6,83

7,83

4,30

2010

6,91

7,12

6,10

2011

7,62

7,30

6.50

Sumber :Bolaang Mongondow Utara Dalam Angka, BPS 2011

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten


Bolaang Mongondow Utara Tahun 2011 lebih besar dibandingkan dengan
pertumbuhan ekonomi Provinsi dan Nasional.
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sangat kaya dengan berbagai
potensi daerah meliputi Pertanian ( tanaman pangan, perkebunan,
peternakan dan kehutanan), Perikanan dan kelautan, Pertambangan dan
Pariwisata. Pengembangan industri di masa datang sangat dimungkinkan
oleh ketersediaan bahan baku dari sektor-sektor terkait tersebut diatas.
a.

Sektor Pertanian

Data terakhir tahun 2009 Kabupaten Bolaang Mongondow Utara mampu


menghasilkan komoditas tanaman pangan masing-masing sebanyak
25.943 ton padi (sawah + ladang) merupakan 9 % dari jumlah produksi
kabupaten Bolaang Mongondow sebelum dimekarkan. Jumlah tersebut
diperoleh dari luas tanam berjumlah 5.211 ha ( 9%) Luas lahan sawah
dan ladang Kabupaten Bolaang Mongondow.Hasil produksi lainnya adalah:
Jagung produksi 6.422,27 ton dari luas tanam berjumlah 4.395 ha, ubi
kayu produksi 356,07 ton dari luas tanam berjumlah 310 ha, ubi jalar
produksi 112,58 ton dari luas tanam berjumlah 141 ha, kacang tanah
jumlah produksi 231,22 ton dari luas tanam berjumlah 349 ha, kedelai
produksi 373,24 ton dari luas tanam 583 ha dan kacang hijau jumlah
produksi 242,41 ton dari luas tanam 289 ha.

II - 21

Khusus subsektor perkebunan kabupaten Bolaang Mongondow Utara


memiliki luas lahan dalam jumlah besar masing-masing untuk tanaman
kelapa rakyat 13.319 ha, cengkeh 204 ha, coklat 1.939 ha, panili 92
ha, kopi 146 ha dan pala 7,5 ha.
Produktifitas pertanian yang masih rendah sebagian karena pemanfaatan
lahan oleh masyakat yang tidak maksimal. Data potensi lahan yang bisa
dimanfaatkan setiap tahun adalah sebagai berikut :
Tabel II.15
Data potensi lahan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
Tahun 2007 2011

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Sawah Irigasi
Sawah Irigasi Setengah Tehnis
Sawah Tadah Hujan
Ladang Atau Tegalan
Perkebunan
Tambak Atau Kolam
Hutan
Pekarangan
Lain-Lain
Jumlah

1.637
907
5.871
16.288
13,27
49,25
121.637,75
4.882
5.402
169.950

Ha
Ha
Ha
Ha
Ha
Ha
Ha
Ha
Ha
Ha

Sebagai daerah wilayah pesisir pantai Kabupaten Bolaang Mongondow


Utara adalah salah satu produsen ikan dan hasil lautnya di Sulawesi Utara
dan setiap harinya diproduksi untuk kosumsi masyarakat juga paling
penting sebagai bahan baku industri di Bitung serta untuk

komoditas

eksport. Khususnya perikanan darat lebih banyak masih potensial terutama


untuk tambak udang dan air payau.
Catatan : pertumbuhan ekonomi sebaiknya dalam bentuk tabel dengan
sedikit narasi.
b.

Sektor pertambangan/ penggalian

Di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sudah pernah dilakukan


penelitian/surpey potensi tambang antara lain ditemukan pasir besi, emas,
batu

bara,

granit,

batu

gamping

dan

lain-lain.

Dalam

rangka

pengembangan daerah maka dibutukan penelitian selanjutnya bahkan


eksplorasi dan eksploitasi.

II - 22

c.

Potensi pariwisata yang dimiliki Kabupaten Bolaang Mongondow Utara


terdiri atas :
1.

Budaya dan Adat Istiadat Kerajaan Kaidipang;

2.

Budaya dan Adat Istiadat Kerajaan Bintauna;

3.

Objek Wisata Alam ;

4.

Pulau tanjung sidupa;

5.

Pulau Bongkil;

6.

Pulau damar;

7.

Batu Pinagut;

8.

Tanjung Haji;

9.

Pelabuhan Boroko.

Keberhasilan pembangunan perekonomian di suatu wilayah seringkali


diukur melalui tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai wilayah
tersebut.untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi yang terjadi di suatu
wilayah, indikator umum yang dapat digunakan adalah Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB). Berapa persen perkembangan atas nilai PDRB
yang terjadi pada tahun tersebut dibandingkan dengan tahun sebelumnya
mencerminkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjadi di wilayah
tersebut.
Perekonomian di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara masih tergolong
tradisional. Hal ini tercermin dari besarnya kontribusi sektor primer
terhadap pembentukan PDRB, yang mencapai 43,58%. Artinya roda
perekonomian daerah ini sebagian besar masih ditopang oleh sumber daya
alam yang dapat dinikmati secara langsung.Sementara itu sektor sekunder
masih belum dapat berperan banyak.Sektor sekunder terdiri atas; Sektor
Industri Pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor
bangunan. Kontribusi sector sekunder bagi penciptaan nilai tambah di
daerah ini hanya 15,57%. Sektor tersier, yang mencakup ; sector
perdagangan, sektor angkutan dan komunikasi, sector keuangan, dan
sektor jasa-jasa, justeru memberikan sumbangan yang cukup signifikan
terhadap pembentukan PDRB Kabupaten ini. Sektor ini membentuk 40,85

II - 23

% PDRB, dan sebagian besar dibentuk oleh subsektor jasa pemerintahan.


Nilai-nilai

kontribusi

sektor

diatas,

memberikan

gambaran

bahwa

perekonomian Bolaang Mongondow Utara utamanya ditopang oleh yang


pertama ialah hasil alam yang melimpah, dan yang kedua ialah dana
perimbangan pusat, sementara sektor industri belum dapat dijadikan
penopang utama perekonomian mengingat nilainya yang masih relatif kecil.
Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara tahun 2010 terhitung sebesar 557 Milyar
rupiah.Dari 9 sektor yang ada pada PDRB, pada tahun 2010 semua sector
ekonomi tersebut mengalami pertumbuhan yang positif.Bila diurutkan
pertumbuhan PDRB menurut sector eknomi dari yang tertingi ke yang
terendah, maka pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sector jasa-jasa
sebesar 23.78 persen, diikuti oleh pertanian sebesar 16.04 persen. Sector
ekonomi ketiga tertinggi pertumbuhannya adalah bangunan sebesar 14.65
persen, keempat sector pertambangan dan penggalian sebesar 11,69
persen, dan kelima adalah sector perdagangan, hotel dan restoran yang
hanya tumbuh 8,49 persen.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tahun 2010
sebesar 6,85 % meningkat sebesar 0,02 % dari tahun 2009 yang hanya
sebesar 6,83 % sedangkan pada akhir tahun 2011 diperkirakan angka
pertumbuhan ekonomi akan mencapai angka 6,85 % masih jauh dari angka
pertumbuhan provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2010 yang sebesar
7,01%. Kemampuan subsector keuangan dalam hal bergairahnya Bank
dalam berinvestasi dan mengucurkan modal di kabupaten Bolaang
Mongondow Utara akan mempengaruhi angka perkiraan tersebut.
Penyerapan anggaran (APBD II, APBD I dan APBN) 2012 dan konsumsi
masyarakat, akan sangat diharapkan sebagai sumber pertumbuhan
ekonomi tahun 2012 ini, sehingga keberhasilan pelaksanaan anggaran itu
akan menjadi taruhan yang amat besar bagi pemerintah daerah, karena
sumber pertumbuhan dari ekspor dan investasi swasta masih sulit
diharapkan.

2.3.2

Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2013 dan Tahun


2014.

II - 24

Pertumbuhan

ekonomi

merupakan

suatu

indikator

dari

dampak

kebijaksanaan pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang


ekonomi.Pertumbuhan

ekonomi

tersebut

merupakan

kontribusi dari

pertumbuhan berbagai macam sektor ekonomi, yang secara tidak


langsung menggambarkan tingkat perubahan ekonomi yang terjadi. Bagi
daerah, indikator ini penting untuk mengetahui keberhasilan pembangunan
yang telah dicapai dan berguna untuk menentukan arah pembangunannya
dimasa yang akan datang.
Upaya upaya yang di butuhkan guna mengantisipasi permasalahan yang
ada, dari aspek ekonomi adalah intensifikasi pusat pusat pertumbuhan
yang telah ada dan pengembangan sub sub pusat pertumbuhan
perekonomian baru. Akan tetapi, pengembangan ekonomi di perhadapkan
kepada permasalahan permasalahan

seperti kapasitas sumber daya

alam, pemasaran, distribusi dan tehnologi yang tentunya membutuhkan


sumber daya manusia yang terampil baik dari aspek manajerial maupun
tehnologi. Tantangan bagi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara kedepan
tahun 2011 dan tahun 2012 adalah menerapkan strategi pengembangan
kegiatan ekonomi daerah yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan serta
cukup andal dalam mengantisipasi pengangguran dan kemiskinan.
Disamping itu, dalam pengembangan kegiatan ekonomi diarahkan untuk
memantapkan landasan ekonomi daerah yang mandiri

dijiwai nilai-nilai

religius berbasis perdagangan dan jasa untuk mewujudkan Kabupaten


Bolaang Mongondow Utara melalui :
1.

Mengembangan ekonomi kerakyatan melalui peningkatan kesempatan


berusaha, optimalisasi potensi ekonomi lokal, pemberdayaan usaha
sektor informal, Koperasi dan UKM serta keadilan kesempatan untuk
berusaha dalam iklim yang kondusif

2.

Mendorong pertumbuhan ekonomi secara

adil dan merata dengan

prioritas pada bidang perdagangan dan jasa sebagai tulang punggung


perkonomian daerah dengan memacu wilayah pengembangan.
3.

Meminimalisasikan gejolak fluktuasi ekonomi dengan memberikan


bantuan dan proteksi kepada masyarakat miskin agar tetap mampu
mencukupi kebutuhan dasar minimumnya.

II - 25

4.

Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dalam


bentuk

pemantapan

kehidupan

beragama,

pelayanan

dasar,

pendidikan, penyediaan fasilitas kesehatan, fasilitas sosial, dan


fasilitas umum yang layak dengan memprioritaskan pada golongan
masyarakat miskin.
5.

Meningkatkan iklim investasi guna mendorong agar dapat mengurangi


hambatan-hambatan baik yang berkaitan dengan ketenagakerjaan,
permodalan,

infrastruktur,

kelembagaan

serta

kepastian

dan

keamanan berinvestasi.
6.

Mengoptimalkan pendapatan melalui intensifikasi, ekstensifikasi dan


diversifikasi

sumber-sumber

pendapatan

tanpa

membebani

masyarakat.
7.

Mengoptimalkan pengelolaan Asset dan kekayaan daerah agar dapat


memberikan

nilai

tambah

bagi

pendapatan

daerah,

melalui

profesionalisme manajemen.
8.

mendirikan BUMD dan/atau perusahaan milik Pemerintah daerah yang


profitable dan menumbuhkembangkan iklim yang sehat di BUMD
sehingga mampu memberikan kontribusi optimal bagi pendapatan
daerah termasuk

9.

Mengembangkan iklim kondusif bagi peningkatan swadaya melalui


pola/skema kemitraan baik antara pemerintah daerah dengan
masyarakat, pemerintah daerah dengan swasta atau masyarakat
dengan swasta.

Struktur ekonomi kota diarahkan untuk mewujudkan

struktur perekonomian kota yang kokoh dimana perdagangan dan jasa


menjadi basis aktivitas perekonomian yang

didukung oleh aktivitas

perekonomian lainnya.
10. Setiap pengeluaran daerah harus mendasarkan pada, standar analisa
belanja, standar harga, tolok ukur kinerja, dan standar pelayanan
minimal serta memperhatikan prinsip efisien dan efektif.

Strategi kebijakan makro Pembangunan Kabupaten Bolaang Mongondow


Utara ke depan secara diskriptif dikelompokkan ke dalam tiga agenda
pembangunan sebagai berikut :

II - 26

Pertama,

Meningkatkan

penguatan

kelembagaan

menuju

good

governance dapat terwujud dengan pendekatan penguatan kapasitas


masyarakat, swasta, dan aparatur dimana pemerintah menjadi faktor
utama, sehingga untuk dapat mewujudkannya maka

yang

harus

diterapkan adalah melakukan Reformasi Birokrasi. Beberapa hal yang


perlu dilakukan dalam konteks me-reform birokrasi adalah melalui
pengembangan kapasitas manajemen pemerintah daerah, SDM aparatur
dan

pengelolaan

keuangan

daerah

berdasarkan

prinsip-prinsip

pemerintahan kewirausahaan.Di atas landasan sistem pemerintahan


kewirausahaan

tersebut,

dikembangkan

sistem

perencanaan

yang

terintegrasi dan sistem keuangan berbasis kinerja yang memungkinkan


akses masyarakat terhadap informasi pembangunan daerah semakin
meningkat.Di

samping

itu,

untuk

menciptakan

akuntabilitas

penyelenggaraan pemerintah daerah, maka dikembangkan mekanisme


pengawasan pelaksanaan pembangunan yang intensif. Dengan begitu,
diharapkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah
semakin luas, demikian pula dengan respon balik masyarakat terhadap
kinerja pemerintahan semakin cepat sehingga memudahkan pemerintah
daerah menempuh recovery kebijakan publik dalam memperbaiki kualitas
Pelayanan kepada masyarakat.
Kedua, diarahkan untuk dua sasaran pokok yaitu pemenuhan hak-hak
dasar masyarakat dibidang pendidikan dan kesehatan demi terwujudnya
masyarakat yang mandiri dan sejahtera, serta peningkatan kualitas
kehidupan beragama dan pengembangan kebudayaan lokal yang relevan
untuk pengembangan produktifitas demi terwujudnya masyarakat yang
religius.Hak-hak dasar masyarakat dibidang pendidikan dalam bentuk
bebas dari buta huruf, kebodohan, keterbelakangan, minimnya fasilitas
pendidikan, putus sekolah, yang berakibat pada rendahnya partisipasi
masyarakat dalam bidang pendidikan.Untuk itu pemenuhan kebutuhan
dasar masyarakat di bidang pendidikan adalah hak untuk memperoleh
akses atas kebutuhan pendidikan.Sedangkan di bidang kesehatan, hakhak dasar masyarakat dalam bentuk bebas dari penyebaran penyakit
menular,

kurang

gizi,

tingginya

angka

kematian

bayi

dan

ibu

melahirkan.Untuk itu pemenuhan kebutuhan masyarakat di bidang


kesehatan adalah hak untuk memperoleh akses atas kebutuhan kesehatan

II - 27

secara merata dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.Di


dalam pengembangan diri ini, masyarakat harus tetap berdiri di atas sendisendi agama dan budaya.
Ketiga, diarahkan untuk memenuhi hak-hak dasar masyarakat dalam
bentuk bebas dari kemiskinan, pengangguran, minimnya sandang, pangan,
dan papan, serta keterbatasan infrastruktur dasar ekonomi.Untuk itu,
peningkatan ekonomi masyarakat lebih ditekankan pada peningkatan
akses masyarakat ke sumber-sumber ekonomi serta menjadikan pertanian
dan perikanan sebagai sektor unggulan yang berbasis komoditas andalan
padi sawah, jagung, perikanan tangkap, dan sumber daya perikanan
lainnya.
Sebagai salah satu daerah baru, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
secara

bertahap

harus

terus

mempersiapkan/memantapkan

dan

mengembangkan daya saing daerah untuk mendorong peningkatan


prekonomian

masyarakat

agar

lebih

efektif,

produktif

dan

efisien.Produktifitas masyarakat disemua sektor harus terus-menerus


diupayakan meningkat juga untuk menciptakan nilai tambah (addedvalue).Dalam hal ini mobilitas barang dan orang (masuk dan keluar) harus
sedemikian lancar dan efisien sehingga tercipta keuntungan/marjin yang
memadai (ekonomis) dan dapat mendorong peningkatan produksi,
menggairahkan dunia usaha dan investasi serta sektor-sektor lainnya.
Disisi lain perbaikan dan peningkatan produktifitas serta terciptanya
peluang ekonomi dan lapangan kerja diberbagai sektor dapat membantu
masyarakat miskin memperoleh penghasilan. Untuk itu peran sektor-sektor
penunjang (prasarana/sarana) dibidang transportasi, prasarana/sarana
produksi pertanian dan perikanan, industri, dan perdagangan, pariwisata
dan jasa-jasa lainnya harus tersedia secara memadai.Disamping itu pula
faktor ketersediaan/kemampuan sumber daya manusia harus merupakan
prioritas utama yang dibarengi pula oleh prilaku dan nilai-nilai yang dianut
masyarakat berorientasi kepada kamajuan, produktifitas, efisiensi dan
berahlak baik. Pada dasarnya perolehan/peningkatan nilai tambah akan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan secara kumulatif makin
menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Produktifitas masyarakat dapat ditingkatkan di sektor-sektor pertanian
(tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, kehutanan),

II - 28

pariwisata sektor jasa dan lain-lain. Kondisi letak daerah yang berada
dijalur perdagangan trans Sulawesi baik melalui darat dan laut, dan
adanya ketersediaan infrastruktur yang memadai berupa prasarana/sarana
diberbagai

sektor

serta

tersedianya

sumber

daya

manusia

yang

mempunyai ethos kerja baik diperkirakan akan menjadi daya dukung dan
pendorong yang sangat kuat bagi upaya membangun daerah kedepan.
Catatan : untuk tantangan dan prospek perekonomian sebaiknya
dipersingkat
2.3.3

Arah Kebijakan Keuangan Daerah


Pergantian Pemerintah dari orde baru kepada orde reformasi menuntut
pelaksanaan otonomi daerah yang memberikan kewenangan yang luas,
nyata

dan

bertanggungjawab

proporsional.Pemberian

kewenagan

kepada
ini

telah

daerah

secara

diwujudkan

dengan

pengaturan pembagian, dan pemanfaatan sumber daya dan perimbangan


keuangan pusat dan daerah sesuai demokrasi dan peran serta
masyarakat. Secara konkrit pengaturan ini dilakukan dengan telah
diterbitnya Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Sebagai subsistem dari pengelolaan keuangan negara dan merupakan
kewenangan pemerintah daerah, pelaksanaan pengelolaan keuangan
daerah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah. Ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini
telah dijabarkan secara lebih rinci dan teknis dalam Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah.
Sumber-sumber keuangan daerah secara proporsional diwujudkan dengan
pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya daerah yang bisa
dijadikan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta perimbangan keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Daerah.Sumber pembiayaan pemerintahan
daerah dalam rangka perimbangan keuangan Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan

Daerah

diperoleh

berdasarkan

asas

desentralisasi,

dekonsentrasi dan tugas pembantuan.

II - 29

Berlakunya kebijakan otonomi daerah, penyelenggaraan pemerintahan


daerah dilaksanakan dengan lebih berorientasi kepada kepentingan
daerah.Untuk itu, pengaturan alokasi sumber daya daerah yang dapat
memberi kepuasan bagi masyarakat, membuka kesempatan lapangan
kerja serta perwujudan layanan publik yang efisien, menjadi sangat
penting.
2.3.4

Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan;


Kebijakan pembangunan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara pada
tahap sekarang ini yakni pada tahun keempat sesudah dimekarkan adalah
menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar yang
bersifat prinsipil sebagai pijakan/tumpuan yakni kelanjutan programprogram sebelumnya, agar bisa melangkah lebih jauh kedepan. Kebijakan
awal dimaksud berkaitan dengan penyediaan infrastruktur pemerintahan
agar proses pelaksanaan tugas administrasi pemerintahan dan pelayanan
masyarakat

berjalan

lancar

serta

berdayaguna

dan

berhasilguna.

Penyediaan prasarana/sarana pemerintahan yang memadai erat kaitannya


pula dengan upaya mendorong ethos kerja dan profesionalisme aparatur
disemua bidang tugas.Sejalan dengan hal itu bersamaan pula dengan
upaya meningkatkan kemampuan tehnis dan kesejahteraan aparatur.
Penyiapan infrastruktur juga terhadap sektor-sektor prioritas seperti
pendidikan, kesehatan, perhubungan, pariwisata, pertanian dan pengairan,
serta aspek-aspek yang dibutuhkan untuk memajukan dunia usaha serta
investasi dan lain-lain. Sejalan dengan hal itu juga di prioritaskan
kebijakan / program-program penyediaan data dan informasi yang sangat
diperlukan dalam rangka merencanakan dan menata perekonomian
daerah.
Pada tahun 2012 Proses yang sama untuk memperoleh dana sudah
dilakukan

mulai

dengan menjaring

kebutuhan masyarakat

dengan

identfikasi persoalan yang dihadapi masyarakat desa melalui Musrenbang


Desa dan kecamatan serta usulan-usulan melalui Renja-SKPD yang tidak
lain juga dari desa. Secara keseluruhan jumlah usulan dana Rencana Kerja
Pembangunan Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tahun 2012
berjumlah Rp. 964.214.718.838,- Angka ini tentunya terlalu tinggi jika

II - 30

dibandingkan dengan kemampuan pembiayaan daerah yang hanya Rp.


354.506.801.545.00,- pada tahun 2011.
Sebagaimana daerah lain yang merupakan daerah pemerakaran kerangka
pendanaan masih menitik beratkan pada dana perimbangan dari
pemerintah pusat baik DAU maupun DAK untuk pembiayaan program
kegiatan pemerintah daerah, jumlah dana diproyeksikan tidak akan
bergeser dari angka tahun-tahun sebelumnya. Untuk tahun 2012 di
proyeksikan jumlah pendapatan adalah sebesar Rp. 358.424.960.545.
Tabel II.16
Realisasi dan Proyeksi/Target Pendapatan
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
Tahun 2010 s.d Tahun 2013
JUMLAH
NO

URAIAN

REALISASI TAHUN
2011

PROYEKSI TAHUN
2012

PROYEKSI
/TARGET TAHUN
2013

4.122.000.000

4.827.900.000

5.081.095.000

5.081.095.000

599.750.000

637.725.000

700.345.000

700.345.000
1.880.750.000

REALISASI TAHUN
2010

1.1

PENDAPATAN ASLI DAERAH

1.1.1

Pendapatan Pajak Daerah

1.1.2

Hasil Retribusi Daerah

1.862.250.000

1.775.750.000

1.880.750.000

1.1.3

Lain-lain Pendapatan yang sah

1.660.000.000

2.414.425.00

2.500.000.00

2.500.000.00

1..2

DANA PERIMBANGAN

268.283.716.000

292.010.167.200

293.057.131.200

293.057.131.200

1.2.1

Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak

16.396.772.000

18.031.994.200

18.031.994.200

18.031.994.200

Dana Alokasi Umum

208.126.844.000

228.524.637.000

228.524.637.000

228.524.637.000

Dana Alokasi Khusus

43.760.100.000

45.453.500.000

46.500.500.000

46.500.500.000

LAIN LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG


SAH

38.639.772.000

57.668.734.345

60.286.734.345

60.286.734.345

Pendapatan Hibah

2.801.543.000

1.300.000.000

1.300.000.000

1.300.000.000

Dana Bagi Hasil Pajak Dari Provinsi dan


Pemerintah Daerah Lainnya

5.938.259.950

6.532.085.945

7.532.085.945

7.532.085.945

1.2.2
1.2.3
1.3
1.3.1
1.3.2
1.3.3

Pendapatan Lainnya

JUMLAH PENDAPATAN DAERAH


(1.1 +1.2+1.3)

2.3.5

29.900.000.000

50.454.648.400

51.454.648.400

51.454.648.400

311.045.518.950

354.506.801.545

358.424.960.545

358.424.960.545

Arah Kebijakan Keuangan Daerah.


a.

Arah Kebijakan Pendapatan Daerah;


Kebijakan Pendapatan Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
2012 diarahkan pada:
1. Optimalisasi usaha intensifikasi dan ekstensifikasi pajak dan
retribusi daerah;

II - 31

2. Perluasan dan peningkatan Sumber Penerimaan dan Pembiayaan


Daerah serta mendorong peningkatan tertib Administrasi Keuangan
Daerah;
3. Pengembangan fasilitasi dibidang Pajak dan Retribusi Daerah serta
lain-lain pendapatan daerah yang sah;
4. Pembangunan sarana dan prasarana pelayanan;
5. Pengembangan/peningkatan sarana dan prasarana pelayanan
masyarakat;
6. Penyederhanaan peraturan perundang-undangan, pengembangan
manajemen pendapatan Daerah dengan prinsip profesionalitas,
efisiensi, transparan dan bertanggung jawab;
7. Peningkatan

kapabilitas

dan

profesionalisme

Sumber

Daya

Manusia Aparatur di bidang Pengelolaan Keuangan Daerah;


8. Peningkatan target pendapatan daerah baik pajak langsung
maupun

tidak

langsung

secara

terencana

sesuai

kondisi

perekonomian dengan memperhatikan kendala, potensi, dan


coverage ratio yang ada;
9. Mengembangkan
diterima

kebijakan

masyarakat,

pendapatan

partisipatif,

daerah

bertanggung

yang
jawab

dapat
dan

berkelanjutan;
10.Perluasan sumber-sumber penerimaan daerah.
Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah, komponen Pendapatan Daerah terdiri dari 3 (tiga)
kelompok yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan
Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah.
Pendapatan Asli Daerah merupakan cerminan kemampuan dan potensi
daerah, sehingga besarnya penerimaan PAD dapat mempengaruhi kualitas
otonomi

daerah.Semakin

tinggi

kualitas

otonomi

daerah,

maka

ketergantungan dengan Pemerintah Pusat semakin berkurang.Sedangkan


Dana perimbangan merupakan sumber Pendapatan Daerah yang berasal
dari APBN untuk mendukung pelaksanaan kewenangan Pemerintahan
Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi kepada daerah

II - 32

utamanya peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang


semakin baik.
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah dilaksanakan melalui rencana kerja
sebagai berikut :
a)

Meningkatkan kualitas pelayanan publik;

Upaya peningkatan kualitas pelayanan diarahkan pada tujuan untuk


semakin

mendekatkan

dan

memudahkan

masyarakat

serta

menyederhanakan sistem dan prosedur pelayanan yang wujud nyatanya


adalah

percepatan

waktu

dan

kepuasan

masyarakat

terhadap

pelayanan.Pengembangan sarana dan prasarana untuk mendukung


peningkatan kualitas pelayanan;
b)

Memanfaatkan sumber daya dan mensinergikan Potensi Daerah;

Dengan Program/Kegiatan Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan


Keuangan

Daerah,

peningkatan

hubungan/kerjasama

antar

Kabupaten/Kota dibidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah serta Lainlain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah
Mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur yang potensial,
profesional serta;
c) Membangun sistem kelembagaan yang berbasis kompetensi.
SDM dalam pengertian ini mencakup kuantitas dan kualitas.Kedua aspek
tersebut harus dikembangkan secara berimbang dan paralel.Beberapa
kebijakan yang dilakukan adalah melalui diklat, pelatihan etika pelayanan,
pemahaman terhadap peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan pemungutan Pendapatan Asli Daerah.

b.

Arah Kebijakan Belanja Daerah;


Rencana Belanja Daerah Tahun Anggaran 2012 disusun dengan
memperhatikan dan mempertimbangkan potensi dan peluang yang
dihadapi. Kebijakan Belanja Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow
Utara tahun 2011 diarahkan pada:

II - 33

a) Memprioritaskan alokasi anggaran belanja daerah pada sektorsektor peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan,
pangan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang berkualitas;
b) Meningkatkan anggaran belanja daerah untuk program-program
penanggulangan kemiskinan serta pemberdayaan masyarakat yang
berkelanjutan serta partisipatif;
c) Mengarahkan alokasi anggaran belanja daerah pada pembangunan
infrastruktur pedesaan dalam rangka memperluas lapangan kerja di
pedesaan melalui pendekatan program padat karya;
d) Stimulasi pertumbuhan sektor riil melalui penyediakan bantuan
dana bergulir bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dalam
rangka memberdayakan UMKM;
e) Meningkatkan
efisiensi

kepedulian

belanja

dalam

terhadap
pelayanan

penerapan
publik

prinsip-prinsip

sesuai

Peraturan

Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, yang meliputi manfaat ekonomi,


faktor eksternalitas, kesenjangan potensi ekonomi, dan kapasitas
administrasi,

kecenderungan

masyarakat

terhadap

pelayanan

publik, serta pemeliharaan stabilitas ekonomi makro;


f) Meningkatkan

efektivitas

kebijakan

belanja

daerah

melalui

penciptaan kerja sama yang harmonis antara eksekutif, legislatif,


serta partisipasi masyarakat dalam pembahasan dan penetapan
anggaran belanja daerah;
g) Pemenuhan

belanja

sesuai

urusan-urusan

yang

menjadi

kewenangan Pemerintah Propinsi, baik urusan wajib maupun


urusan pilihan sesuai dengan peraturan perundangan;
h) Melanjutkan proyek-proyek strategis yang bersifat (multi years)
sesuai tahapan;
i) Belanja penanganan bencana alam dan paska bencana alam
dialokasikan dengan pola ploting mengambang yang sewaktuwaktu dapat dibelanjakan;
j) Memenuhi prinsip keadilan tidak hanya terkonsentrasi pada lokus
tertentu serta dengan tetap memperhatikan aspirasi masyarakat;

II - 34

k) Mengacu pada sinkronisasi kebijakan antara Pemerintah Pusat dan


Propinsi.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 tahun 2007
tentang Perubahan Pertama Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor
13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengeloaan Keuangan Daerah,
bahwa struktur belanja terdiri dari Belanja Tidak Langsung dan Belanja
Langsung.
Pada RKPD Tahun Anggaran 2012, diproyeksikan dana untuk Belanja
Keseluruhan adalah sebesar Rp. 344.027.512.853,- terdiri dari belanja
Tidak Langsung sebesar Rp. 135.814065.690,-, meliputi : Belanja
Pegawai sebesar Rp. 115.092.692.764,-, Belanja Hibah dialokasikan
sebesar Rp. 6.443.445.000,-, Belanja Bantuan Sosial sebesar Rp.
1.550.000.000,-,

Belanja

Bantuan

Keuangan

Kepada

Provinsi/

Kabupaten/ Kota dan Pemerintah Desa sebesar sebesar Rp.


12.227.927.925,-, Belanja Langsung dialokasikan dana sebesar Rp.
208.213.447.163,-yang terdiri dari belanja Pegawai sebesar Rp.
15.437.360.000,-,

Belanja

Barang

dan

Jasa

sebesar

Rp.

77.077.459.180,- dan Belanja Modal sebesar Rp. 115.698.627.983,.


Adapun Realisasi dan Proyeksi Belanja Tidak Langsung dan belanja
langsung daerah dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel II.17
Realisasi dan ProyeksiBelanja Daerah
Tahun 2010 s/d Tahun 2013
JUMLAH
URAIAN

REALISASI
TAHUN
2010

2.1

BELANJA TIDAK LANGSUNG

114.749.642.58
7

127.539.792.24
6

135.814065.690

142.604.768.97
3

2.1.
1

Belanja Pegawai

93.327.642.587

107.578.792.24
6

115.092.692.76
4

120.847.327.40
2

2.1.
2

Belanja Hibah

7.910.000.000

4.675.000.000

6.443.445.000

6.765.617.250

2.1.
3

Belanja Bantuan Sosial

2.862.000.000

4.126.000.000

1.550.000.000

1.627.500.000

2.1.
4

Belanja Bantuan Keuangan


Kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota
dan Pemerintah Desa

10.000.000.000

10.660.000.000

12.227.927.925

12.839.324.321

2.1.

Belanja Tidak Terduga

650.000.000

500.000.000

500.000.000

525.000.000

NO

REALISASI
TAHUN
2011

TAHUN
BERJALAN
2012

PROYEKSI
/TARGET PADA
TAHUN 2013

II - 35

JUMLAH
NO

REALISASI
TAHUN
2010

URAIAN

REALISASI
TAHUN
2011

TAHUN
BERJALAN
2012

PROYEKSI
/TARGET PADA
TAHUN 2013

5
2.2

BELANJA LANGSUNG

248.732.197.34
2

256.679.937.28
6

208.213.447.16
3

218.624.119.52
1

2.2.
1

Belanja Pegawai

12.965.765.500

16.107.862.500

15.437.360.000

16.209.228.000

2.2.
2

Belanja Barang dan Jasa

79.227.802.496

83.045.812.015

77.077.459.180

80.931.332.139

2.2.
3

Belanja Modal

156.538.629.34
6

157.526.262.771

115.698.627.98
3

121.483.559.38
2

363.481.839.9
29

384.219.729.5
32

344.027.512.8
53

361.228.888.4
94

TOTAL JUMLAH BELANJA (2.1


+ 2.2)

c.

Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah.


Pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana diamanatkan dalam
Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 membawa pro dan kontra
terhadap pelaksanaan pembiayaan atas beberapa kewenangan yang
akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Mekanisme pembiayaan
pelaksanaan otonomi daerah diutamakan semaksimal mungkin berasal
dari potensi penerimaan asli daerah baik melalui pajak daerah.retribusi
daerah maupun dari laba BUMD dan penerimaan lain yang dianggap
sah serta potensi penerimaan lain yang masih belum terjangkau oleh
PAD atau lebih dikenal dengan Kapasitas Fiskal Daerah.
Dalam jangka panjang ketika daerah telah mampu mengalokasikan
dana

pembangunan

ke

semua

urusan

yang

menjadi

kewenangannya.maka ada kemungkinan daerah akan mengalami


kekurangan

dana

untuk

melaksanakan

pembangunan.

Namun

kenyataannya tidaklah demikian.karena pembebanan belanja pegawai


pusat yang didaerahkan juga menjadi beban DAU sehingga banyak
daerah yang justru mengalami kekurangan dana. Walaupun akhirnya
pemerintah pusat memberikan tambahan jumlah DAU kepada daerah
yang mengalami defisit.namun kemungkinan akan terjadi kondisi
daerah kekurangan dana untuk melaksanakan pembangunan tetap
saja ada. Langkah yang diperlukan untuk mengatasi hal tersebut
adalah peran pembiayaan daerah yang menutup selisih antara

II - 36

pendapatan daerah dan belanja daerah.Jika pendapatan daerah lebih


kecil daripada belanja daerah.maka terjadi transaksi keuangan yang
defisit.dan harus ditutupi dengan penerimaan daerah. Sebaliknya.jika
pendapatan daerah lebih besar daripada belanja daerah.maka terjadi
transaksi

keuangan

pengeluaran

daerah

yang

surplus.dan

yang

di

harus

diharapkan

digunakan

dari

untuk

sumber-sumber

lain.seperti : masyarakat.swasta serta pemerintah pusat (APBN).


Kebijakan Umum peningkatan sumber pembiayaan adalah dengan
meningkatkan manajemen pembiayaan daerah yang mengarah pada
akurasi.efisiensi.efektifitas dan profitabilitas. Sedangkan strategi yang
diambil adalah sebagai berikut :
Apabila APBD surplus maka harus digunakan untuk pengeluaran
daerah. Sedangkan pinjaman kepada Pemerintah Pusat /Daerah
lain dan / atau pendanaan belanja diutamakan untuk membayar
pokok utang.penyertaan modal (investasi) daerah. pemberian
peningkatan jaminan sosial ;
Apabila APBD defisit. maka ditutupi dari penerimaan : Sisa Lebih
Perhitungan Anggaran

Tahun

Lalu

(Silpa);

Pencairan

dana

cadangan; Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan;


Penerimaan pinjaman daerah; Penerimaan kembali pemberian
pinjaman; dan penerimaan piutang daerah ;
Apabila Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tidak mencukupi untuk
menutup defisit APBD.maka ditutup dengan dana pinjaman.
Catatan : untuk keuangan dan perekonomian daerah sebaiknya dipersingkat, kalau
bisa dalam bentuk tabel dengan sedikit narasi sehingga lebih padat, singkat dan
jelas. Pada bagian ini seharusnya yang ditampilkan hal- hal sebagai berikut :
Tabel rekapitulasi realisasi APBD untuk periode 5 tahun
terisi lengkap
Tabel rekapitulasi realisasi belanja modal sanitasi SKPD
untuk periode 5 tahun terisi lengkap
Tabel rekapitulasi realisasi belanja modal sanitasi
subsektor untuk periode 5 tahun terisi lengkap
Tabel realisasi retribusi sanitasi per subsektor untuk
periode 5 tahun terisi lengkap
Tabel belanja modal sanitasi perpenduduk untuk periode
5 tahun terisi lengkap
Tabel kemampuan fiskal/ruang fiskal kab./kota terisi
lengkap

II - 37

Untuk Kab. Bolmut belum ada data tentang hal-hal diatas.


2.4.

Tata Ruang Wilayah


Perubahan Undang-Undang tentang Penataan Ruang dari Undang-Undang
Nomor 24 Tahun 1992 menjadi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 telah
mengubah kebijakan penataan ruang untuk pemerintah pusat maupun daerah.
Selain itu ada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
telah menggeser paradigma pembangunan wilayah di Indonesia. Paradigma
pembangunan wilayah telah bergeser dari sentralisasi kearah desentralisasi
pembangunan.
Maksud penataan ruang adalah terwujudnya suatu penataan ruang wilayah
yang lebih sinergis antar wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dengan
wilayah kabupaten lainnya di Provinsi Sulawesi Utara sesuaidengan ketentuan
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Penataan ruang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara bertujuan untuk
menjadikan Ruang Wilayah Kabupaten sebagai Pusat Unggulan Pertanian
Tanaman

Pangan,

Perikanan,

Kelautan,

Industri

dan

Pariwisata

yang

mensejahterakan masyarakat serta berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.


Kebijakan penataan ruang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, terdiri
atas :
a.

Pengembangan kawasan Agropolitan;

b.

Pengembangan kawasan Minapolitan;

c.

Pengembangan kawasan Industri;

d.

Pengembangan kawasan Pariwisata; dan

e.

Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.

Pusat-pusat kegiatan yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a, terdiri atas :
a.

Pusat Kegiatan Wilayah Promosi (PKWp)

b.

Pusat Kegiatan Lokal (PKL)

c.

Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp)

d.

Pusat Pelayanan Kawasan (PPK)

e.

Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL)

II - 38

PKWp yaitu Desa Boroko Kecamatan Kaidipang, PKL yaitu Desa Pimpi,
Kecamatan Bintauna, dan Desa Bolangitang, Kecamatan Bolangitang Barat. PKLp
sebagaimana dimaksud meliputi Desa Bohabak, Kecamatan Bolangitang Timur,
Desa Buko Kecamatan Pinogaluman; dan Desa Sangkub Kecamatan Sangkub.
PPK sebagaimana dimaksud pada huruf d, terdiri atas Desa Binjeta Kecamatan
Bolangitang Timur,

Desa Saleo Kecamatan Bolangitang Timur dan Desa

Jambusarang Kecamatan Bolangitang Barat.


PPL sebagaimana dimaksud pada huruf e, terdiri atas :
a.

Desa Sangtombolang, Kecamatan Sangkub;

b.

Desa Sangkub I, Kecamatan Sangkub;

c.

Desa Sangkub II di Kecamatan Sangkub;

d.

Desa Tuntung, Kecamatan Pinogaluman;

e.

Desa Tontulow, Kecamatan Pinogaluman;

f.

Desa Tombulang Pantai, Kecamatan Pinogaluman;

g.

Desa Biontong, Kecamatan Bolangitang Timur;

h.

Desa Biontong I, Kecamatan Bolangitang Timur;

i.

Desa Bohabak I, Kecamatan Bolangitang Timur;

j.

Desa Bohabak II, Kecamatan Bolangitang Timur;

k.

Desa Ollot II, Kecamatan Bolangitang Barat;

l.

Desa Sonuo, Kecamatan Bolangitang Barat; dan

m. Desa Bolangitang II, Kecamatan Bolangitang Barat.


2.4.1. Sistim Transportasi darat
Jalan merupakan prasarana untuk memperlancar kegiatan ekonomi. Makin
meningkatnya

usaha

pembangunan

jalan

pembangunan
untuk

menuntut

memudahkan

pula

mobilitas

peningkatan

penduduk

dan

memperlancar hubungan transportasi antar daerah, terutama daerah


pedesaan, daerah perbatasan dan daerah-daerah terpencil.
Panjang jalan di seluruh wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
pada tahun 2009 mencapai 264,93 Kilometer. Panjang jalan yang berada
dibawah wewenang Negara adalah 93,1 Kilometer, dibawah wewenang
Pemerintah provinsi tidak ada, dan sisanya 171,83 Kilometer berada
dibawah wewenang Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

II - 39

Persentase panjang jalan menurut kondisi jalan ialah 75.2 persen jalan
aspal, dan 24.8 persen jalan belum diaspal

Gambar II.7
Persentase Panjang Jalan menurut Pemerintahan yang Berwenang

Gambar II.8
Panjang Jalan menurut Jenis Permukaan, di Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara

II - 40

Tabel II.18
Panjang Jalan menurut Pemerintahan yang Berwenang
di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
( Km )
Tahun

Negara

Propinsi

Kabupaten

Jumlah

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

2009

93.1

171.83

264.93

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum dan Pemukiman Prasarana Wilayah Kab. Bolaang
Mongondow Utara

Tabel II.19
Panjang Jalan menurut Jenis Permukaan
di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
No

Dibawah Wewenang

Aspl

Tidak Aspal

Jumlah

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

Negara

93.1

93.1

Propinsi

Kabupaten

106.13

65.7

171.83

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum dan Pemukiman Prasarana Wilayah Kab. Bolaang
Mongondow Utara.

Gambar II.19
Jaringan Jalan Existing di Kab. Bolaang Mongondow Utara

II - 41

Data Jaringan Jalan Existing

Jalan Arteri

; (Trans Sulawesi Jalan Nasional).

Jalan Kolektor Primer

; (Dalam Kawasan Perkotaan Boroko).

Jalan Kolektor Sekunder


Kecamatan serta Antar Desa).
Jalan Lokal

; (Pusat Kegiatan dalam Kota Boroko dan dalam


; (tersebar dalam Desa-Desa).

2.4.2. Sistem Jaringan Transportasi Laut


Sistem jaringan transportasi laut meliputi :
a.

Tatanan kepelabuhanan
Tatanan kepelabuhanan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
sebagaimana dimaksud terdiri atas :
Pelabuhan pengumpan (Ke depan Sebagai Pelabuhan Pengumpul
Tersier/Nasional), yaitu Pelabuhan Laut Tanjung Sidupa di Tuntung
Kecamatan Pinogaluman serta Terminal khusus, yaitu Pelabuhan
Wisata di Boroko Kecamatan Kaidipang.
Alur pelayaran sebagaimana dimaksud terdiri atas :
1.

Tanjung Sidupa-Tolitoli-Tarakan

2.

Tanjung Sidupa-Ternate-Sorong (wilayah Timur Indonesia)

II - 42

3.

Tanjung Sidupa- Bitung - Ternate (Provinsi Maluku Utara)

4.

Tanjung Sidupa- Luwuk (Provinsi Sulawesi Tengah)

5.

Tanjung Sidupa- Melonguane - Morotai (Provinsi Maluku Utara);


dan

6.

Tanjung Sidupa- Gorontalo (Provinsi Gorontalo)

7.

Tanjung Sidupa Anggrek Buol Toli-toli Pantoloan (Provinsi


Sulawesi Tengah)

8.

Tanjung Sidupa Ampana (Sulawesi Tengah)

Alur pelayaran Lokal, terdiri atas :


1.

Tanjung Sidupa Amurang (Minahasa Selatan)

2.

Tanjung Sidupa Bitung

3.

Tanjung Sidupa-Manado

4.

Tanjung Sidupa- Likupang (Minahasa Utara)

5.

Tanjung Sidupa-Labuan Uki (Bolaang Mongondow)

6.

Tanjung Sidupa Torosik (Bolaang Mongondow Selatan)

2.4.3. Kelistrikan
1. Rencana Pengembangan Pembangkit tenaga listrik
sebagaimana dimaksud terdiri atas :
2. Rencana PLTD Bintauna kapasitas kurang lebih 1,9 MW;
3. Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), di
Sungai Bumiong desa
4. Paku dengan Kec. Bolangitang Barat kapasitas kurang lebih
1,6 MW.
5. Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), di
Sungai Sangkub
6. desa PangkusaKec. Sangkub kapasitas kurang lebih 5 MW.
7. Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), di Desa
BinjeitaKec. Bolangitang Timur
8. kapasitas kurang lebih 2 x 25 MW.
9. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dengan kapasitas
kurang lebih 1,0 MW;
10. Pembangkit Listrik Tenaga Ombak (PLTO), dengan kapasitas
kurang lebih 1,0 MW;

2.4.4. Sistem Wilayah Sungai,


Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi Wilayah Sungai
(WS) Lintas Provinsi,

berupa WS Dumoga Sangkub yang meliputi

Daerah Aliran Sungai (DAS) Dumoga, DAS Sangkub, DAS Buyat, DAS
Andagile, DAS Bulawa, dan DAS Tutiawa yang rinciannya tercantum

II - 43

sebagai lembaran Lampiran I.g yang merupakan bagian yang tak


terpisahkan dan Peraturan Daerah ini.
2.4.5. Sistem pengendalian banjir dan pengamanan
sebagaimana dimaksud terdiri atas:

pantai

Perlindungan daerah tangkapan air;


a.

normalisasi sungai;

b.

perbaikan drainase;

c.

pembangunan tanggul pada sungai yang rawan banjir dan longsor;

d.

pembangunan, rehabilitasi serta operasi dan pemeliharaan bangunanbangunan pengendali banjir.

1)

Sistem

prasarana

pengelolaan

lingkungan

121dsistem

jaringan

persampahan;

2)

a.

prasarana air baku untuk air minum;

b.

Sistem jaringan air minum ke kelompok pengguna; dan

c.

sistem jaringan drainase; dan

d.

jalur evakuasi bencana.

Sistem jaringan prasarana persampahan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) huruf a meliputi:
a. Peningkatan sistem pengolahan sampah di TPA untuk wilayah
pelayanan Kecamatan Kaidipang, Pinogaluman dan Bolangitang
Barat berada di Desa Komus II Timur Kec. Kaidipang dengan sistem
lahan urug (sanitary landfill).
b. Peningkatan sistem pengolahan sampah di TPA untuk wilayah
pelayanan

Kecamatan Bintauna, Kecamatan Sangkub dan

Kecamatan Bolangitang Timur, berada di desa mome di dengan


sistem lahan urug (sanitary landfill);
3)

Jaringan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (10), terdiri


atas:
a. Sumber mata air (SMA) Sungai Sangkub(berada di Bolaang
Mongondow Utaradan Kotamobagu) dengan debit kurang lebih
30.000 l/dt

II - 44

b. Sumber Air Baku (SAB) Sungai Sangkub - Lolak di Bolaang


Mongondow dan Bolaang Mongondow Utarasepanjang kurang lebih
10 km.
4)

Rencana pengembangan jaringan air minum sebagaimana dimaksud


pada ayat (10), terdiri atas:
a. Sumber Air Sungai dan Danau (SASD), meliputi : Sungai Sangkub,
debit kurang lebih 200 l/dt; Sungai Bintauna, debit kurang lebih 250
l/dt; Sungai Bolangitang, debit kurang lebih 150 l/dt; Sungai
Kaidipang, debit kurang lebih 200 l/dt; Sungai Buko, debit kurang
lebih 200 l/dt; dan Sungai Dumoga, debit kurang lebih 300 l/dt.
b. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Minummeliputi : Sungai Sangkub,
debit kurang lebih 200 l/dt; Sungai Bintauna, debit kurang lebih 250
l/dt; Sungai Bolangitang, debit kurang lebih 150 l/dt; Sungai
Kaidipang, debit kurang lebih 200 l/dt; Sungai Buko, debit kurang
lebih 200 l/dt; dan Sungai Dumoga, debit kurang lebih 300 l/dt

5)

Sistem jaringan drainase sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf


b, meliputi :
a. Pengembangan sistem pembuangan air limbah terpadu antar
lingkungan yang dilakukan dengan cara menggunakan sistem
pengolahan air limbah sebelum masuk ke badan air penerima;
b. Pengembangan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT) regional di
Desa Komus II Timur Kecamatan Kaidipang. Sistem pengolahan
jaringan air limbah pada IPLT dilakukan dengan sistem off site;
c. Pengembangan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) pada
fasilitas-fasilitas kesehatan seperti kawasan Rumah Sakit dan
PUSKESMAS.
d. Rencana sistem jaringan drainase saluran sekunder dan drainase
tersier/mikro dimaksudkan untuk menampung aliran air permukaan
di kawasan permukiman dan jalan-jalan dalam sistem daerah aliran
sungai;

Catatan : untuk tata ruang wilayah harus menampilkan hal-hal


sebagai berikut:
Tabel rencana pola ruang di dalam RTRW terisi lengkap

II - 45

Terdapat peta rencana struktur ruang


Terdapat peta rencana pola ruang

Untuk kab. Bolmut belum ada tabel dan peta rencana dan pola ruang.
2.5.

Sosial dan Budaya


Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan salah satu modal dasar
pembangunan, sebaliknya sumber daya yang tidak berkualitas akan menjadi
beban pembangunan. Oleh karena itu juga salah satu indikator keberhasilan
pembangunan diukur dengan kualitas sumber daya manusia.

Angka Indeks

Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara masih


tergolong rendah yakni 72,27, berada di peringkat ke-13 Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Utara dan peringkat 182 nasional. Masih rendahnya angka
partisipasi pendidikan baik APK maupun APM, rata-rata lama sekolah masih
rendah, angka melek huruf. masih rendah yang diakibatkan oleh:

Kondisi dan ketersedian gedung sekolah dan peralatan yang belum memadai;

Penyediaan guru yang belum cukup dan belum merata terutama untuk mata
pelajaran pokok seperti Matematika, Ipa, Biologi, Bahasa Inggris,dll;

Strata pendidikan guru disemua jenjang pendidikan sebagian besar belum


sesuai kompetensi.

Masih rendahnya usia harapan hidup, masih tingginya angka kesakitan dan
angka kematian anak yang diakibatkan oleh :

Belum Tersedianya Sarana Kesehatan Rawat Inap yang memadai terutama


Rumah Sakit;

Pelayanan kesehatan disemua wilayah Bolmut belum optimal karena kurang


tersedianya tenaga medis ( dokter umum, dokter spesialis, perawat ) dan
obat-obatan serta sarana dan prasarana lainnya;

Kondisi lingkungan pemukiman yang kurang menunjang perangkat kesehatan


masyarakat yakni buruknya drainase dan ketersediaan MCK yang sangat
kurang;

Belum meratanya sarana kesehatan (Poskesdes) di tiap desa.


Upaya

pemerintah

daerah

untuk

memacu

pembangunan

ekonomi

membawa dampak kepada penurunan jumlah penduduk miskin yang sangat


signifikan beberapa tahun terakhir. Angka kemiskinan pada tahun 2010 dapat

II - 46

ditekan hingga angka 14,21% dari angka 25,62% tahun 2007. Walaupun demikian
angka tersebut masih jauh diatas capaian provinsi dan nasional namun komitmen
pemerintah daerah untuk terus memperbaiki taraf hidup masyarakat

sehingga

ditargetkan angka kemiskinan pada tahun 2011 dapat dicapai hingga dibawah
10%.
Sebaran penduduk miskin perkecamatan dengan prosentase tertinggi
terdapat di Kecamatan Pinogaluman, sedangkan yang terendah terdapat di
Kecamatan Bintauna
Catatan : belum terlihat hal-hal dibawah ini :
Tabel fasilitas pendidikan (SD, SMP, SMA/setara) di
kab./kota tersedia
Tabel jumlah penduduk miskin per kecamatan
Tabel jumlah rumah per kecamatan

Data yang ada tidak perkecamatan.

2.6.

KEPALA
BADAN

Kelembagaan Pemerintah Daerah.


SEKRETARIA
T

STRUKTUR ORGANISASI
SUB BAGIAN
SUB BAGIAN
SUB BAGIAN
BADAN PERENCANAAN
PEMBANGUNAN
DAERAH
PERENCANA
AN
DAN
PELAPORAN

KEUANGAN

BIDANG
MAKRO

BIDANG
PERENCANA
AN
WILAYAH

BIDANG
PERENCANA
AN

BIDANG

SUB BAGIAN

SUB BAGIAN

SUB BAGIAN

SUB BAGIAN

SUB BAGIAN

SUB BAGIAN

SUB BAGIAN

SUB BAGIAN

UMUM

II - 47

STRUKTUR ORGANISASI DINAS PEKERJAAN UMUM


KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA

II - 48

KEPALA DINAS

SEKRETARIAT

SUB BAGIAN
PERENCANAAN
DAN PELAPORAN

SUB BAGIAN
KEUANGAN

BIDANG
CIPTA KARYA

BIDANG
BINA MARGA

SUB BAGIAN
UMUM

BIDANG
PENGAIRAN

SEKSI
Pembangunan
Jalan/Jembatan

SEKSI
Pengembangan Wilayah dan
Tata Ruang

SEKSI
Pengembangan Pengairan

SEKSI
Pemeliharaan Jalan/Jembatan

SEKSI
Pemeliharaan Pemukiman

SEKSI
Operasi dan Pemeliharaan
Pengairan

SEKSI
Lab dan Pengendalian Mutu

SEKSI
Bangunan Gedung

SEKSI
Sumber Daya Air Bersih

UPTD
UPTD

UPTD UPTD
Peralatan
Workshop

UPTD

UPTD

UPTD

UPTDUPTD

STRUKTUR ORGANISASI DINAS KESEHATAN


KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA

II - 49

KEPALA DINAS

SEKRETARIAT

SUB BAGIAN
PERENCANAAN
DAN PELAPORAN

BIDANG
PENGENDALIAN
PENYAKIT DAN
PENYEHATAN
LINGKUNGAN

BIDANG
PELAYANAN DAN
FARMASI

SUB BAGIAN
KEUANGAN

BIDANG BINA
KESEHATAN
MASYARAKAT DAN
PROMOSI KESEHATAN

SUB BAGIAN
UMUM

BIDANG
BINA PROGRAM

SEKSI
Surveylan Epidemiologi
Imunisasi dan
Kesehatan Matra

SEKSI
Bina Pelayanan
Kesehatan Dasar dan
Rujukan

SEKSI
Kesehatan Gizi
Masyarakat

SEKSI
Perencanaan dan
Penyusunan Anggaran

SEKSI
Pengendalian Penyakit
Menular dan Penyakit
Tidak Menular

SEKSI
Bina Keperawatan dan
Kesehatan Lainnya

SEKSI
Kesehatan Ibu dan Anak

SEKSI
Monitoring dan Evaluasi
Program Kesehatan

SEKSI
Penyehatan
Lingkungan

SEKSI
Bina Kefarmasian dan
Alat Kesehatan

SEKSI
Promosi Kesehatan dan
Kesehatan Komunitas

SEKSI
Data dan Informasi

UPTD

II - 50

Gambar 2.6 Sistematika Kinerja SKPD Sektor Persampahan,


permukiman dan Drainase Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

PERSAMPAHAN

AIR BERSIH

DRAINASE

REGULATOR :

REGULATOR :

REGULATOR :

BAPPEDA
BADAN LINGKUNGAN HIDUP
DINAS KESEHATAN

OPERATOR :
BADAN LINGKUNGAN HIDUP

BAPPEDA
DINAS PEKERJAAN UMUM
DINAS KESEHATAN

OPERATOR :
DINAS PEKERJAAN UMUM

BAPPEDA
DINAS PEKERJAAN UMUM

OPERATOR :
DINAS PEKERJAAN UMUM

Catatan : belum ada hal-hal sbb:

Tabel daftar peraturan terkait sanitasi


Tabel pemangku kepentingan dalam pembangunan dan
pengelolaan sanitasi

2.10

Tata Ruang Wilayah


Gambaran umum dalam pengembangan kawasan yang tercakup dalam
sistem pemanfaatan ruang, yang mampu mendorong pengembangan peningkatan
perekonomian dalam sektor Pertanian/perkebunan, Kehutanan, Pariwisata,
perindustrian dan Pertambangan serta sektor lainnya yang menjadi sentra
unggulan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Hal tersebut perlu mendapatkan
perhatian penting dari semua Stakeholder daerah untuk menjadi prioritas dalam
hal pengembangannya, dengan demikian sumberdaya-sumberdaya tersebut perlu
dipetakan dalam hal pola pemanfaatannya diatur dalam skema Tata Raung
Wilayah dengan dukungan payung hukum dalam hal ini Peraturan Daerah
(PERDA), sebagai legalitas formal, agar tidak terjadi tumpang tindih pemanfaatan
dalam suatu kawsan yang sama.

II - 51

Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wialayah Kabupaten Bolaang


Mongondow Utara sudah dalam tahap pembahasan yang akan menuju pada
proses pengesahaan.
Kebijakan RTRWN yang terkait dengan pengembangan Wilayah Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara merupaka perwujudan dan penjabaran dari RPJMD
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Dengan memperhatikan potensi dan
kondisi daerah, maka untuk waktu lima tahun ke depan bagi Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara diharapkan akan terwujud beberapa kondisi sebagaimana yang
terangkum dalam visi daerah, yaitu:Kabupaten Padi
Berangkat dari visi dan misi yang telah disebutkan diatas, maka untuk lima tahun
ke depan tujuan pembangunan daerah adalah:
Mewujudkan Bolaang Mongondow Utara sebagai Kabupaten Padi yang
mandiri dalam pangan, berdaya saing dalam agribisnis dan agroindustri
sehingga tercipta kemandirian dalam segala hal dengan masyarakat yang
religius dan sejahtera.
Sasaran-sasaran pembangunan ditetapkan sebagai berikut:
1.

Terwujudnya kemandirian pangan dengan peningkatan produktivitas agribisnis


dan agriindustri berbasis padi yang terus melakukan penyesuaian terhadap
perubahan domestik dan global.

2.

Terwujudnya daya saing dengan meningkatnya produktivitas di daerah melalui


inovasi, investasi dan perdagangan.

3.

Terciptanya kemandirian di segala bidang dengan meningkatkan efisiensi


disemua

sektor

dan

mengurangi

ketergantungan

terhadap

fasilitas

pemerintah.
4.

Terus ditingkatkan suasana religius yang bernuansa agamais serta selalu


mengedapankan nilai nilai agama dan bermasyarakat serta menghilangkan
faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan.

5.

Tercapainya masyarakat yang sejahtera.

2.10.1 Struktur Ruang Wilayah Kabupaten/Kota


Struktur Ruang wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dalam kerangka RTRW
merupakan keterkaitan hirarki pemanfaatan lintas sektor dan lintas wilayah, hal tersebut
dapat dilihat dari sistem prasarana wilayah terutama jarringan transportasi yang menjadi
aksebilitas penting dalam menghubungkan kebutuhan daerah dengan wilayah-wilayah
disekitar kabupaten dan wilayah lain diluar wilayah kabupaten.

II - 52

Sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten meliputi sistem prasarana transportasi,


energi, telekomunikasi, dan sumber daya air yang mengintegrasikannya dan memberikan
layanan bagi fungsi kegiatan yang ada di wilayah kabupaten serta mampu memberikan
dukungan distribusi bagi wilayah tetangga diluar wilayah kabupaten.
Tabel 2.25
Struktur Pusat PelayananKabupatenBolaang Mongondow Utara
DalamLingkup RTRW Provinsi Sulawesi Utara
Hirarki
Pelayanan

Sekunder B

Tersier C

Kota

Boroko

Bintauna

Orde
Kota

II

Arahan Fungsi Utama


-

Pusat pemerintahan Kabupaten

Perikanan tangkap

Pariwisata

Pelayanan kegiatan pertanian pangan


lahan kering

III
-

Pelayanan kegiatan perikanan


tangkap
Pelayanan Perkebunan

Sumber : RTRW Provinsi Sulawesi Utara 2009-2029


Tabel 2.26
Arahan Penetapan Hirarki Kota dan Fungi Administratif
Status Administratif

Orde Kota

Skala Pusat
Pelayanan
Kegiatan

Boroko

Ibu Kota Kabupaten

III

PKW

Bolang Itang

Ibu Kota Kecamatan

III

PKL

Bintauna

Ibu Kota Kecamatan

III

PKL

Nama Kota/ Pusat


Permukiman

Sumber : RTRW Provinsi Sulawesi Utara 2009-2029

2.10.2

Pola ruang Wilayah Kabupaten/kota

Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi
peruntukkan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
Pola ruang wilayah kabupaten merupakan gambaran pemanfaatan ruang wilayah

II - 53

kabupaten. baik untuk pemanfaatan yang berfungsi lindung maupun budidaya. Pola ruang
wilayah kabupaten merupakan penjabaran lebih rinci dari Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi yang direplikasikan kedalam sistem
pemanfaatan Ruang Kabupaten.
2.11

Konsep Pengembangan Wilayah


Konsep Rencana Struktur Ruang

Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara merupakan


kerangka sistem pusat-pusat pelayanan kegiatan Kabupaten Boalaang Mongondow Utara
yang berhierarki dan satu sama lain dihubungkan oleh sistem jaringan prasarana wilayah
Kabupaten Boalaang Mongondow Utara.
Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara berfungsi:
a.

Sebagai arahan pembentuk sistem pusat-pusat pelayanan wilayah Kabupaten


Boalaang Mongondow Utara yang memberikan layanan bagi wilayah Kabupaten
Boalaang Mongondow Utara;

b.

Sebagai arahan perletakan jaringan prasarana wilayah Kabupaten Boalaang


Mongondow Utara sesuai dengan fungsi jaringannya yang menunjang keterkaitan
antar pusat-pusat pelayanan Kabupaten Boalaang Mongondow Utara; dan

c.

Sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka menengah lima tahunan
untuk 20 (dua puluh) tahun.

Pusat pelayanan di wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara merupakan pusat


pelayanan sosial, budaya, ekonomi, dan/atau administrasi masyarakat yang melayani
wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara dan regional, yang meliputi:
a.

Pusat pelayanan Kabupaten Boalaang Mongondow Utara, melayani seluruh wilayah


Kabupaten Boalaang Mongondow Utara dan/atau regional

b.

Subpusat pelayanan Kabupaten Boalaang Mongondow Utara, melayani sub-wilayah


Kabupaten Boalaang Mongondow Utara.

c.

Pusat lingkungan, melayani skala lingkungan wilayah Kabupaten Boalaang


Mongondow Utara.

2.12

Konsep Rencana Pola Ruang

Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara merupakan rencana
distribusi peruntukan ruang dalam wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara yang

II - 54

meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan rencana peruntukan ruang
untuk fungsi budi daya.
Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara berfungsi:
a. Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan
kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow
Utara;
b. Mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukan ruang;
c. Sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka menengah lima tahunan
untuk 20 (dua puluh) tahun; dan
d. Sebagai dasar pemberian izin pemanfaatan ruang pada wilayah Kabupaten Boalaang
Mongondow Utara.
Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara dirumuskan
berdasarkan:
a. Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow
Utara;
b. Dayadukung dan daya tampung lingkungan hidup wilayah Kabupaten Boalaang
Mongondow Utara;
c. Kebutuhan ruang untuk pengembangan kegiatan sosial ekonomi dan lingkungan; dan
d. Ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara dirumuskan dengan
kriteria:
a. Merujuk rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRWN beserta rencana rincinya;
b. Merujuk rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRW provinsi beserta rencana
rincinya;
c. Memperhatikan rencana pola ruang wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara
yang berbatasan;
d. Memperhatikan mitigasi bencana pada wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow
Utara;
e. Memperhatikan kepentingan pertahanan dan keamanan dalam wilayah Kabupaten
Boalaang Mongondow Utara;
f.

Menyediakan ruang terbuka hijau minimal 30 % dari luas wilayah Kabupaten


Boalaang Mongondow Utara;

g. Menyediakan ruang untuk kegiatan sektor informal;

II - 55

h. Menyediakan ruang terbuka non hijau untuk menampung kegiatan sosial, budaya, dan
ekonomi masyarakat Kabupaten Boalaang Mongondow Utara; dan
i.

Jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada
wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara bersangkutan;

j.

Mengacu pada klasifikasi pola ruang wilayah Kabupaten Boalaang Mongondow Utara
yang terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budi daya.

Catatan : seharusnya bagian ini tata ruang wilayah ada sebelum sosial budaya, tata
ruang wilayah 2.4 diganti dengan 2.10
Catatan : isi bab 2, sebaiknya lebih singkat, padat, jelas sehingga jumlah halaman
lebih berkurang, disaran kan jumlah halaman hanya 10 halaman.

II - 56