Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hipernatremia

dan

hiponatremia

sering

terjadi

pada

usia

lanjut.

Hipernatremia pada usia lanjut paling sering disebabkan oleh kombinasi dari
asupan cairan yang tidak adekuat dan bertambahnya kehilangan asupan
kehilangan cairan. Gangguan mekanisme dari rasa haus dan hambatan akses
terhadap cairan (sekunder dari gangguan mobilitas atau menelan) terus
berkontribusi dalam timbulnya hipernatremia pada usia lanjut selain adanya
keterlambatan eskresi natrium. Kehilangan air murni pada keadaan demam,
hiperventilasi dan diabetes insipidus. Lebih sering, kehilngan airhipoteonik
disebabkan oleh problem saluran cerna. , luka bakar, terapi diuretika atau dieresis
osmotic. Seringkali deteksi hipernatremia pada usia lanjut terlambat dilakukan
sehingga usia lanjut yang lemah dapat jatuh pada keadaan hipernatremia yang
bermakna.
Pada penderita dengan demensia sangat mudah mengalami hipernatremia
karena penurunan rasa haus, gangguan kemampuan untuk meminta air karenan
penurunanrasa haus, gangguan kemampuan untuk meminta air dan mungkin,
rendahnya kadar vasopressin. Penyebab penting lainnya adalah hiperkalsemia
yang mungkin dapat menyebabkan kerusakan sel pada gelung Henle dan
berinteraksi dengan vasopressin pada tingkat duktus kolektus. Hipokalemia yang
bermakna juga dapat menyebabkan hipernatremia.
Hipernatremia paling sering terjadi pada usia lanjut. Pada orang tua biasanya rasa
haus lebih lambat terbentuk dan tidak begitu kuat dibandingkan dengan anak
muda. Usia lanjut yang hanya mampu berbaring di tempat tidur saja atau yang
mengalami demensia (pilkun), mungkin tidak mampu untuk mendapatkan cukup
air walaupun saraf-saraf harusnya masih berfungsi
1.2 Tujuan
1.

Dapat mengetahui definisi hipernatremia

2.

Dapat mengetahui ciri-ciri hipernatremia

3.

Dapat mengetahui penyebab hipernatremia

4.

Dapat mengetahui gejala, diagnose, dan pengobatan hipernatremia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Hipernatremia (kadar natrium darah yang tinggi) adalah suatu keadaan
dimana kadar natrium dalam darah lebih dari 145 mEq/L darah. Hipernatremia
atau hypernatraemia adalah sebuah gangguan elektrolit yang didefinisikan oleh
tingkat natrium tinggi dalam darah. Hipernatremia

ini umumnya tidak

disebabkan oleh kelebihan natrium, melainkan dengan defisit relatif gratis air
dalam tubuh. Untuk alasan ini, hipernatremia sering sinonim dengan istilah
dehidrasi.
Air hilang dari tubuh dalam berbagai cara, termasuk keringat, kerugian
insensible dari bernapas, dan dalam tinja dan urin. Jika jumlah air yang tertelan
secara konsisten berada di bawah jumlah air yang hilang, tingkat natrium serum
akan mulai meningkat, yang mengarah ke hipernatremia. Jarang, hipernatremia
dapat disebabkan oleh konsumsi garam besar, seperti yang mungkin terjadi dari
minum air laut.
Biasanya, bahkan peningkatan kecil di konsentrasi natrium serum di atas
hasil batas normal pada sensasi kuat haus, peningkatan asupan air bebas, dan
koreksi abnormalitas. Oleh karena itu, hipernatremia paling sering terjadi pada
orang-orang seperti bayi, yang dengan status mental terganggu, atau orang tua,
yang mungkin memiliki mekanisme haus utuh tetapi tidak dapat meminta atau
mendapatkan air.
Natrium adalah salah satu elektrolit yang amat dibutuhkan tubuh untuk
menjaga metabolisme tubuh. Salah satu fungsi elektrolit ini adalah untuk
kontraksi dan pergerakan manusia, dan juga untuk menjaga cairan tubuh karena
fungsi dari natrium ini yang dapat menarik air.
Hipernatremia

dan

hiponatremia

sering

terjadi

pada

usia

lanjut.

Hpernatremia pada usia lanjut paling sering disebabkan oleh kombinasi dari
asupan cairan yang tidak adekuat dan bertambahnya kehilangan asupan
kehilangan cairan. Gangguan mekanisme dari rasa haus dan hambatan akses
terhadap cairan (sekunder dari gangguan mobilitas atau menelan) terur

berkontribusi dalam timbulnya hipernatremia pada usia lanjut selain adanya


keterlambatan eskresi natrium. Kehilangan air murni pada keadaan demam,
hiperventilasi dan diabetes insipidus. Lebih sering, kehilngan airhipoteonik
disebabkan oleh problem saluran cerna. , luka bakar, terapi diuretika atau dieresis
osmotic. Seringkali deteksi hipernatremia pada usia lanjut terlambat dilakukan
sehingga usia lanjut yang lemah dapat jatuh pada keadaan hipernatremia yang
bermakna. Pada penderita dengan demensia sangat mudah mengalami
hipernatremia karena penurunan rasa haus, gangguan kemampuan untuk meminta
air karenan penurunanrasa haus, gangguan kemampuan untuk meminta air dan
mungkin, rendahnya kadar vasopressin. Penyebab penting lainnya adalah
hiperkalsemia yang mungkin dapat menyebabkan kerusakan sel pada gelung
Henle dan berinteraksi dengan vasopressin pada tingkat duktus kolektus.
Hipokalemia yang bermakna juga dapat menyebabkan hipernatremia.
2.2 Pembagian Hypernatremia
Hipernatremia (natrium serum di atas 150 mEq/L) merupakan gangguan
elektrolit yang lazim dijumpai pada pasien di bangsal perawatan dan unit rawat
intensif. Pasien hipernatremia dikelompokkan dalam 3 kategori:
1)

Ringan, kadar serum 151 sampai 155 mEq/L;

2)

Moderate, 156 sampai 160 mEq/L; dan

3)

Berat, di atas 160 mEq/L.


Kategori ini walau terkesan ditentukan sepihak, berasal dari rekomendasi

Bingham and the Brain Trauma Foundation. Walaupun ada pasien dengan usia
lanjut, gangguan mental dan penghuni panti wreda masuk rumah sakit dengan
hipernatremia, pada kebanyakan kasus, hipernatremia berkembang selama
perawatan. Biasanya hipernatremia diakibatkan oleh kehilangan air bebas (renal,
enteral, dan insensible) yang disertai kurangnya asupan air bebas (gangguan
mekanisme haus atau sukar mendapatkan air) serta terapi yang tidak tepat dengan
cairan isotonik. Pasien rawat-inap dengan hipernatremia memiliki angka
kematian lebih tinggi (40%-60%) dibandingkan pasien tanpa hipernatremia ketika
masuk rumah sakit. Kekerapan yang dilaporkan pada populasi rumah sakit
berkisar antara 0.3% sampai 3.5%. Pasien yang masuk ICU lebih sering

mengalami hipernatremia dibandingkan pasien bangsal. Karena hipernatremia


sering merupakan kondisi iatrogenik yang terkait dengan mortalitas tinggi,
beberapa ahli telah menyimpulkan bahwa ini bisa dipandang sebagai indikator
dari kualitas perawatan. Pasien sakit kritis dengan penyakit neurologi atau bedah
saraf memiliki banyak faktor yang membuat mereka lebih rentan mengalami
hipernatremia. Mereka sering memiliki mekanisme haus yang terganggu karena
berubahnya kesadaran atau penyakit sistem saraf yang mempengaruhi persepsi
haus.
Pasien-pasien ini mungkin juga mengidap diabetes insipidus akibat disfungsi
hipofisis atau hipotalamus. Meningkatnya insensible loss akibat demam juga
merupakan faktor kontribusi. Lebih penting lagi, pada pasien dengan edema
serebral dan peningkatan tekanan intrakranial, hipernatremia sering merupakan
akibat dari penggunaan diuretik osmotik (mannitol) atau salin hipertonik.
Hipernatremia mungkin memiliki peran terapeutik pada pasien yang mendapat
terapi osmotik. Pada orang dewasa dengan edema serebral pasca bedah atau pasca
trauma yang diterapi dengan NaCl; 3%, penurunan tekanan intrakranial telah
diperlihatkan berkorelasi dengan kenaikan kadar serum. Pada pasien anak dengan
trauma kepala yang diterapi dengan salin hipertonik, hipernatremia berkorelasi
dengan kontrol yang lebih baik terhadap tekanan intrakranial tanpa efek samping
bermakna. Kendati demikian, hipernatremia juga telah ditunjukkan berhubungan
dengan disfungsi ginjal pada populasi ini. Jadi, pada pasien yang mendapat terapi
osmotik, kadar natrium serum yang ideal sering sukar ditetapkan. Di satu sisi,
hipernateremia mungkin bermanfaat dalam mengendalikan tekanan intrakranial.
Di sisi lain, berdasarkan kajian-kajian yang dilaksanakan di basal penyakit
dalam-bedah dan ICU, hipernatremia diikuti dengan peningkatan morbiditas dan
mortalitas.
Dalam memberikan terapi osmotik yang baik, perlu diantisipasi dampak
hipernatremia terhadap mortalitas pada populasi khusus ini. Juga penting
ditentukan ambang sampai mana kadar natrium serum bisa ditinggikan dengan
aman. Hubungan antara hipernatremia dan mortalitas pada pasien ini belum
pernah dikaji sebelumnya.

2.3 Ciri-ciri Hipernatremia


1)

Selalu menunjukkan dehidrasi seluler

2)

Pada kebanyakan kasus, penyebab adalah net water loss.

3)

Overloading natrium (Meylon) juga bisa menjadi penyebab

4)

Lebih sering pada bayi dan lansia. Pada lansia gejala belum terlihat sebelum
kadar > 160 mmol/L

5)

Pada hipernatremia akut (terjadi dalam beberapa jam), laju penurunan yg


dianjurkan 1 mmol/L/jam. Pada hipernatremia kronis, laju koreksi adalah 0.5
mmol/L/jam untuk mencegah edema serebral. Lebih tepatnya adalah 10
mmol/L/24jam.

6)

Kebutuhan obligatorik (rumatan) juga harus ditambahkan. Sebagai contoh


volume untuk koreksi 2.1 L dan rumatan 1.5 L maka dalam sehari diberikan
3.6 L atau 150 ml/jam.

2.4 Beberapa pertimbangan sebelum mengoreksi Hipernatremia:


1)

Hipernatremia selalu menunjukkan dehidrasi seluler

2)

Pada kebanyakan kasus, penyebabnya adalah kehilangan air bebas (misal


setelah pemberian manitol)

3)

Pemberian beban natrium berlebihan (Meylon) juga bisa menjadi faktor


kontribusi

4)

Hipernatremia lebih berbahaya pada bayi, pasien usia lanjut dan pasien
neurologi. Pada lansia gejala belum muncul sebelum kadar natrium melewati
160 mmol/L

5)

Pada hipernatremia akut (yang terjadi dalam beberapa jam), laju penurunan
yang dianjurkan adalah 1 mmol/L/jam. Pada hipernatremia kronik, laju
koreksi adalah 0.5 mmol/L/jam untuk menghindari edema serebral. (lebih
tepatnya 10 mmol/L/24 jam)

6)

Kebutuhan rumatan obligat perlu ditambahkan.

7)

Pada prinsipnya 1 L larutan yang mengandung natrium akan menaikkan atau


menurunkan kadar Na+ plasma

Besarnya perubahan kadar Na+ plasma bisa dihitung dengan rumus:

Air tubuh pada dewasa

Na larutan infus Na serum


Air tubuh 1

adalah 60% berat badan, sedangkan pada anak 70% berat badan
2.5 Penyebab
Pada hipernatremia, tubuh mengandung terlalu sedikit air dibandingkan
dengan jumlah natrium. Konsentrasi natrium darah biasanya meningkat secara
tidak normal jika kehilangan cairan melampaui kehilangan natrium, yang
biasanya terjadi jika minum terlalu sedikit air. Konsentrasi natrium darah yang
tinggi secara tidak langsung menunjukkan bahwa seseorang tidak merasakan haus
meskipun seharusnya dia haus, atau dia haus tetapi tidak dapat memperoleh air
yang cukup untuk minum.
Hipernatremia juga terjadi pada seseorang dengan:
fungsi ginjal yang abnormal
diare
muntah
demam
keringat yang berlebihan.
Hipernatremia paling sering terjadi pada usia lanjut. Pada orang tua biasanya
rasa haus lebih lambat terbentuk dan tidak begitu kuat dibandingkan dengan anak
muda.
Usia lanjut yang hanya mampu berbaring di tempat tidur saja atau yang
mengalami demensia (pilkun), mungkin tidak mampu untuk mendapatkan cukup
air walaupun saraf-saraf hausnya masih berfungsi.
Selain itu, pada usia lanjut, kemampuan ginjal untuk memekatkan air kemih
mulai berkurang, sehingga tidak dapat menahan air dengan baik. Orang tua yang
minum diuretik, yang memaksa ginjal mengeluarkan lebih banyak air, memiliki
resiko untuk menderita hipernatremia, terutama jika cuaca panas atau jika mereka
sakit dan tidak minum cukup air.

Hipernatemia selalu merupakan keadaan yang serius, terutama pada orang


tua. Hampir separuh dari seluruh orang tua yang dirawat di rumah sakit karena
hipernatremia meninggal. Tingginya angka kematian ini mungkin karena
penderita juga memiliki penyakit berat yang memungkinkan terjadinya
hipernatremia.
Hipernatremia dapat juga terjadi akibat ginjal mengeluarkan terlalu banyak
air,

seperti

yang

terjadi

pada

penyakit diabetes

insipidus. Kelenjar

hipofisa mengeluarkan terlalu sedikit hormon antidiuretik (hormon antidiuretik


menyebabkan ginjal menahan air) atau ginjal tidak memberikan respon yang
semestinya terhadap hormon. Penderita diabetes insipidus jarang mengalami
hiponatremia jika mereka memiliki rasa haus yang normal dan minum cukup air.
Tubuh kita ini adalah ibarat suatu jaringan listrik yang begitu kompleks,
didalamnya terdapat beberapa pembangkit lokal seperti jantung, otak dan ginjal.
Juga ada rumah-rumah pelanggan berupa sel-sel otot. Untuk bisa mengalirkan
listrik ini diperlukan ion-ion yang akan mengantarkan perintah dari pembangkit
ke rumah-rumah pelanggan. Ion-ion ini disebut sebagai elektrolit. Ada dua tipe
elektrolit yang ada dalam tubuh, yaitu kation (elektrolit yang bermuatan positif)
dan anion (elektrolit yang bermuatan negatif). Masing-masing tipe elektrolit ini
saling bekerja sama mengantarkan impuls sesuai dengan yang diinginkan atau
dibutuhkan tubuh.
Beberapa contoh kation dalam tubuh adalah Natrium (Na+), Kaalium (K+),
Kalsium (Ca2+), Magnesium (Mg2+). Sedangkan anion adalah Klorida (Cl),
HCO3, HPO4, SO4. Dalam keadaan normal, kadar kation dan anion ini sama
besar sehingga potensial listrik cairan tubuh bersifat netral. Pada cairan ektrasel
(cairan diluar sel), kation utama adalah Na+ sedangkan anion utamanya adalah Cl-.
Sedangkan di intrasel (di dalam sel) kation utamanya adalah kalium (K+).
Disamping sebagai pengantar aliran listrik, elektrolit juga mempunyai
banyak manfaat, tergantung dari jenisnya. Contohnya :
Natrium

: fungsinya sebagai penentu utama osmolaritas dalam darah dan


pengaturan volume ekstra sel.

Kalium

: fungsinya mempertahankan membran potensial elektrik dalam


tubuh.

Klorida

: fungsinya mempertahankan tekanan osmotik, distribusi air pada


berbagai cairan tubuh dan keseimbangan anion dan kation
dalam cairan ekstrasel.

Kalsium

: fungsi utama kalsium adalah sebagai penggerak dari otot-otot,


deposit utamanya berada di tulang dan gigi, apabila diperlukan,
kalsium ini dapat berpindah ke dalam darah.

Magnesium : Berperan penting dalam aktivitas elektrik jaringan, mengatur


pergerakan Ca2+ ke dalam otot serta memelihara kekuatan
kontraksi jantung dan kekuatan pembuluh darah tubuh.
Ada dua macam kelainan elektrolit yang terjadi kadarnya terlalu
tinggi (hiper) dan kadarnya terlalu rendah (hipo). Peningkatan kadar konsentrasi
Natrium dalam plasma darah atau disebut hipernatremia akan mengakibatkan
kondisi tubuh terganggu seperti kejang akibat dari gangguan listrik di saraf dan
otot tubuh. Natrium yang juga berfungsi mengikat air juga mengakibatkan
meningkatnya tekanan darah yang akan berbahaya bagi penderita yang sudah
menderita tekanan darah tinggi. Sumber natrium berada dalam konsumsi
makanan sehari-hari kita; garam, sayur-sayuran dan buah-buahan banyak
mengandung elektrolit termasuk natrium.
Banyak kondisi yang mengakibatkan meningkatnya kadar natrium dalam
plasma darah. Kondisi dehidrasi akibat kurang minum air, diare, muntah-muntah,
olahraga berat, sauna menyebabkan tubuh kehilangan banyak air sehingga darah
menjadi lebih pekat dan kadar natrium secara relatif juga meningkat. Adanya
gangguan ginjal seperti pada penderita Diabetes dan Hipertensi juga
menyebabkan tubuh tidak bisa membuang natrium yang berlebihan dalam darah.
Makan garam berlebihan serta penyakit yang menyebabkan peningkatan
berkemih (kencing) juga meningkatkan kadar natrium dalam darah.
Sedangkan hiponatremia atau menurunnya kadar natrium dalam darah dapat
disebabkan oleh kurangnya diet makanan yang mengandung natrium, sedang

menjalankan terapi dengan obat diuretik (mengeluarkan air kencing dan


elektrolit), terapi ini biasanya diberikan dokter kepada penderita hipertensi dan
jantung, terutama yang disertai bengkak akibat tertimbunnya cairan. Muntahmuntah yang lama dan hebat juga dapat menurunkan kadar natrium darah, diare
apabila akut memang dapat menyebabkan hipernatremia tapi apabila berlangsung
lama dapat mengakibatkan hiponatremia, kondisi darah yang terlalu asam
(asidosis) baik karena gangguan ginjal maupun kondisi lain misalnya diabetes
juga dapat menjadi penyebab hiponatremia. Akibat dari hiponatremia sendiri
relatif sama dengan kondisi hipernatremia, seperti kejang, gangguan otot dan
gangguan syaraf.
Disamping natrium, elektrolit lain yang penting adalah kalium. Fungsi
kalium sendiri mirip dengan natrium, karena kedua elektrolit ini ibarat kunci dan
anak kunci yang saling bekerja sama baik dalam mengatur keseimbangan osmosis
sel, aktivitas saraf dan otot serta keseimbangan asam basa.
Penyebab utama dari hipernatremi:
1.

Cedera kepala atau pembedahan saraf yang melibatkan kelenjar hipofisa

2.

Gangguan dari elektrolit lainnya (hiperkalsemia dan hipokalemia)

3.

Penggunaan obat (lithium, demeclocycline, diuretik)

4.

Kehilangan cairan yang berlebihan (diare, muntah, demam, keringat


berlebihan)

5.

Penyakit sel sabit

6.

Diabetes insipidus.

Penyebab umum hipernatremia meliputi:


1.

Hipovolemik

a.

Kurangnya asupan air, biasanya pada pasien lanjut usia atau cacat yang tidak
dapat mengambil air sebagai kehausan mereka menentukan. Ini adalah
penyebab paling umum hipernatremia.

b.

Berlebihan kerugian air dari saluran kencing, yang mungkin disebabkan oleh
glycosuria, atau diuretik osmotik lainnya.

c.

kerugian air yang terkait dengan berkeringat ekstrim.

d.

diare berair Parah

2.

Euvolemic
Ekskresi berlebihan o air dari ginjal yang disebabkan oleh diabetes

insipidus, yang melibatkan baik produksi memadai dari vasopressin, hormon, dari
kelenjar pituitari atau respon gangguan ginjal untuk vasopresin.
3.

Hypervolemic

a.

Pengambilan cairan hipertonik (cairan dengan konsentrasi zat terlarut lebih


tinggi daripada sisa tubuh). Ini relatif jarang, walaupun bisa terjadi setelah
resusitasi yang kuat di mana pasien menerima suatu volume besar dari
larutan

natrium

bikarbonat

terkonsentrasi.

menelan

air

laut

juga

menyebabkan hipernatremia karena air laut adalah hipertonik.


b.

Karena keadaan penyakit seperti sindrom Conn atau Cushings Disease


Mineralcorticoid kelebihan.

Berapa jumlah garam yang ideal untuk tubuh?


Seorang peneliti dari New York yang bernama Dr. Lewis K Dahl
menginformasikan, bahwa tubuh idealnya butuh sekitar 2 gram atau sendok teh
garam per hari. Tapi, umumnya dalam kehidupan sehari-hari, kita justru
mengkonsumsi garam yang mencapai 5 gram hingga 6 gram per hari atau bahkan
lebih. Hal itu akan membuat ginjal bekerja keras untuk mempertahankan
keseimbangan cairan dan asam-basa agar sistem tubuh tak kacau dan tubuh tidak
terganggu akibat kelebihan sodium.
Dengan tanpa mengkonsumsi garam dapur tubuh seseorang tidak akan
kekurangan sodium dan natrium, karena kita dapat memperoleh garam alami dari
makanan lain seperti sayur-sayuran dan hasil laut.
2.6 Bahan Makanan yang Banyak Mengendung Natrium
Kelebihan natrium pada tubuh manusia dapat menyebabkan kelebihan
cairan, sehingga elektrolit ini dapat menyebabkan peningkatan dari tekanan darah
dikarenakan fungsi jantung yang bekerja keras dalam memompakan cairan yang

banyak. Tentunya sudah tidak asing lagi mungkin beberapa dari Anda sudah
pernah mendengar kalau bagi yang menderita hipertensi adalah dengan
mengurangi jumlah garam pada makanan Anda karena fungsi dari natrium yang
sudah dijelaskan diatas.
Selain dari garam ternyata natrium juga banyak terkandung dalam beberapa
jenis makanan dan minuman yang Anda konsumsi sehari-hari diantaranya adalah:
1.

Minuman bersoda
Soda itu mengandung suatu natrium bikarbonat, tentunya bagi Anda yang

memiliki hipertensi dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi soda dalam jumlah


yang banyak apalagi terlalu sering.
2.

Makanan kaleng
Makanan kaleng mengandung natrium benzoat sebagai pengawet agar

makanan kaleng ini dapat bertahan dalam waktu yang lama.


3.

Ikan asin
Sudah pasti dalam pengawetannya ikan asin ini menggunakan garam dalam

jumlah yang tidak sedikit, sehingga dianjurkan untuk mengurangi bahkan


menghindari ikan asin pada pasien yang menderita hipertensi.
4.

Minuman elektrolit
Minuman berelekrolit atau minuman isotonik di buat sedemikian rupa kaya

akan elektrolit terutama natrium supaya lebih mudah diserap oleh tubuh dan
menggantikan cairan yang hilang. Bagi penderita hipertensi sebaiknya
mengurangi minuman.
5.

Daging asap & sosis


Minuman berelekrolit atau minuman isotonik di buat sedemikian rupa kaya

akan elektrolit terutama natrium supaya lebih mudah diserap oleh tubuh dan
menggantikan cairan yang hilang. Bagi penderita hipertensi sebaiknya
mengurangi minuman jenis ini.
5.

Daging asap dan sosis


Penyedap rasa, kecap, saus tomat & sambal, bumbu perendam, dan bumbu-

bumbu penyedap lainnya ternyata mengandung tinggi natrium, sebaiknya Anda


mengurangi jumlah pemakaian bumbu-bumbu ini bagi penderita hipertensi dalam

jumlah banyak.
6.

Makanan instan: bubur dan mie


Memang beras dan tepung gandum dalam bentuk alamiah mengandung

rendah sekali natrium, namun bila sudah diproses dalam bentuk kemasan akan
mengandung tinggi sekali natrium baik berasal dari zat pengawet dan juga
bumbu-bumbu untuk rasanya.
2.7 Gejala Hipernatremia
Gejala utama dari hipernatremia merupakan akibat dari kerusakan otak.
Hipernatremia yang berat dapat menyebabkan:
kebingungan
kejang otot
kejang seluruh tubuh
koma
kematian.
Manifestasi klinis dari hipernatremia bisa halus, terdiri dari kelesuan,
kelemahan, lekas marah, dan edema. Dengan peningkatan yang lebih berat dari
tingkat natrium, kejang dan koma dapat terjadi.
Gejala berat biasanya karena elevasi akut konsentrasi natrium plasma di atas
158 mEq/L (Normal biasanya sekitar 135-145 mEq/L [rujukan?]). Nilai di atas
180 mEq / L .Yang berhubungan dengan tingkat kematian tinggi, terutama pada
orang dewasa. tingkat tinggi Namun seperti natrium jarang terjadi tanpa parah
kondisi medis berdampingan.
Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan darah dan gejala-gejalanya.
Pengobatan
Dasar pengobatan adalah pemberian air untuk memperbaiki defisit air relatif.
Air dapat diganti oral atau intravena. Air saja tidak dapat diberikan sebagai

intravena (karena masalah osmolaririty) bukan dapat diberikan dengan tambahan


dekstrosa atau salin larutan infus. Namun, koreksi hipernatremia yang terlalu
cepat berpotensi sangat berbahaya. Tubuh (di otak khususnya) menyesuaikan
dengan konsentrasi natrium yang lebih tinggi. Cepat menurunkan konsentrasi
natrium
Dengan air, sekali adaptasi ini telah terjadi, menyebabkan air mengalir ke
dalam sel otak dan menyebabkan pembengkakan. Hal ini dapat mengakibatkan
edema serebral, berpotensi mengakibatkan kejang, kerusakan otak permanen,
atau kematian. Oleh karena itu, hipernatremia signifikan harus diperlakukan
dengan hati-hati oleh dokter atau profesional medis lainnya dengan pengalaman
dalam pengobatan ketidakseimbangan elektrolit.
Hipernatremia diobati dengan pemberian cairan. Pada semua kasus terutama
kasus ringan, cairan diberikan secara intravena (melalui infus). Untuk membantu
mengetahui apakah pembelian cairan telah mencukupi, dilakukan pemeriksaan
darah setiap beberapa jam. Konsentrasi natrium darah diturunkan secara perlahan,
karena perbaikan yang terlalu cepat bisa menyebabkan kerusakan otak yang
menetap.
Pemeriksaan darah atau air kemih tambahan dilakukan untuk mengetahui
penyebab tingginya konsentrasi natrium. Jika penyebabnya telah ditemukan, bisa
diobati secara lebih spesifik. Misalnya untuk diabetes insipidus diberikan hormon
antidiuretik (vasopresin).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Natrium adalah salah satu elektrolit yang amat dibutuhkan tubuh untuk
menjaga metabolisme tubuh. Salah satu fungsi elektrolit ini adalah untuk
kontraksi dan pergerakan manusia, dan juga untuk menjaga cairan tubuh karena
fungsi dari natrium ini yang dapat menarik air.
Kelebihan natrium pada tubuh manusia dapat menyebabkan kelebihan
cairan, sehingga elektrolit ini dapat menyebabkan peningkatan dari tekanan darah
dikarenakan fungsi jantung yang bekerja keras dalam memompakan cairan yang
banyak.
Hipernatremia atau hypernatraemia adalah sebuah gangguan elektrolit yang
didefinisikan oleh tingkat natrium tinggi dalam darah. Hipernatremia ini
umumnya tidak disebabkan oleh kelebihan natrium, melainkan dengan defisit
relatif gratis air dalam tubuh. Pada hipernatremia, tubuh mengandung terlalu
sedikit air dibandingkan dengan jumlah natrium. Konsentrasi natrium darah
biasanya meningkat secara tidak normal jika kehilangan cairan melampaui
kehilangan natrium, yang biasanya terjadi jika minum terlalu sedikit air.
3.2 Saran
Untuk

menghindari

kelebihan

natrium

(hypernatrium)

hendaknya

mengkonsumsi bahan makanan yang tidak terlalu tinggi kandungan natriumnya.


Karena hal itu akan membuat ginjal bekerja keras untuk mempertahankan
keseimbangan cairan dan asam-basa agar sistem tubuh tak kacau dan tubuh tidak
terganggu akibat kelebihan sodium. Dengan tanpa mengkonsumsi garam dapur
tubuh seseorang tidak akan kekurangan sodium dan natrium, karena kita dapat
memperoleh garam alami dari makanan lain seperti sayur-sayuran dan hasil laut.
Selain itu juga dengan banyak minum air agar tidak terjadi defisit cairan dalam
tubuh dan mencegah terjadinya dehidrasi.

DAFTAR PUSTAKA
Adrogue, HJ; and Madias, NE. 2000. Primary Care: Hypernatremia. New
England Journal of Medicine; 342(20):1493-1499
Aiyagari V, Deibert E, Diringer MN. 2006. Hypernatremia In the Neurologic
Intensive Care Unit: How High is too High?. Journal of Critical Care. Vol.
21, Page: 163172.
Pizzaro D, posada G, levine, MM. 1984. Hypernatremic Diarrheal Dehydration
Treated
With Slow (12 hour) Oral Rehydration Therapy : a
Pleliminari Report.
Pizarro D, Posada G, Mahalanabis D, Sandi L.. 1988. Comparison of efficacy of a
Glucose/Glycine/Glycylglycine electrolyte solution versus the standard
WHO/ORS in diarrheic dehydrated children, 1988