Anda di halaman 1dari 20

askep Jiwa dengan Gangguan Perilaku Kekerasan

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA dengan GANGGUAN


PERILAKU KEKERASAN
A. KONSEP MEDIS
1.Pengertian
Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk
melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993). Berdasarkan defenisi ini
maka perilaku kekerasan dapat dibagi dua menjadi perilaku kekerasan scara verbal dan fisik
(Keltner et al, 1995). Sedangkan marah tidak harus memiliki tujuan khusus. Marah lebih
menunjuk kepada suatu perangkat perasaan-perasaan tertentu yang biasanya disebut dengan
perasaan marah (Berkowitz, 1993)
Kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap kecemasan
yang dirasakan sebagai ancaman (Keliat, 1996)
Ekspresi marah yang segera karena sesuatu penyebab adalah wajar dan hal ini kadang
menyulitkan karena secara kultural ekspresi marah tidak diperbolehkan. Oleh karena itu marah
sering diekspresikan secara tidak langsung.
Sedangkan menurut Depkes RI, Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
penyakit jiwa, Jilid III Edisi I, hlm 52 tahun 1996 : Marah adalah pengalaman emosi yang kuat
dari individu dimana hasil/tujuan yang harus dicapai terhambat.
Kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan mempersulit sendiri dan
mengganggu hubungan interpersonal. Pengungkapan kemarahan dengan langsung dan
konstruktif pada waktu terjadi akan melegakan individu dan membantu orang lain untuk
mengerti perasaan yang sebenarnya. Untuk itu perawat harus pula mengetahui tentang respons
kemarahan sesorang dan fungsi positif marah.

2.Penyebab

FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan factor predisposisi, artinya mungkin
terjadi/ mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika faktor berikut dialami oleh individu:
1. Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul
agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina,
dianiaya atau sanksi penganiayaan.
2. Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan, sering mengobservasi
kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi
perilaku kekerasan.
3. Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan kontrol sosial yang
tidak pasti terhadap pelaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan yang
diterima (permissive).
4. Bioneurologis, banyak bahwa kerusakan sistem limbik, lobus frontal, lobus temporal dan
ketidakseimbangan neurotransmitter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan.
FAKTOR PRESPITASI
Faktor prespitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain.
Kondisi klien seperti ke lemahan fisik (penyakit fisik) , keputusan, ketidakberdayaan, percaya
diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula dengan situasi
lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang
dicintai/ pekerjaan dan kekerasan merupakan faktor penyebab yang lain. Interaksi sosial yang
provokatif dan konflikdapat pula memicu perilaku kekerasan.
3. Rentang Respon
Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan/
kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman (Stuart dan Sundeen, 1996).
Perasaan marah normal bagi tiap individu, namun perilaku yang dimanifestasikan oleh perasaan
marah dapat berfluktuasi sepanjang rentang adaptif dan maladaptif (Gambar 1).

Respons

Respons

Adaptif
Asertif

Maladaptif
Frustasi

Pasif

Agresif

Kekerasan

Gambar 1. Rentang Respon Marah


Kegagalan yang menimbulkan frustasi dapat menimbulkan respon pasif dan melarikan
diri atau respon melawan dan menantang. Respon melawan dan menantang merupakan respon
yang maladaptif, yaitu agresif-kekerasan perilaku yang menampakkan mulai dari yang rendah
sampai yang tinggi, yaitu:
Asertif : mampu menyatakan rasa marah tanpa menyakiti orang lain dan merasa lega.
Frustasi : Merasa gagal mencapai tujuan disebabkan karena tujuan yang tidak realistis.
Pasif : Diam saja karena merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan yang sedang dialami.
Agresif: memperlihatkan permusuhan, keras dan menuntut, mendekati orang lain dengan
ancaman, memberi kata-kata ancaman tanpa niat melukai. Umumnya klien masih dapat
mengontrol perilaku untuk tidak melukai orang lain.
Kekerasan: sering juga disebut gaduh-gaduh atau amuk. Perilaku kekerasan ditandai dengan
menyentuh orang lain secara menakutkan, memberi kata-kata ancaman-ancaman, melukai
disertai melukai pada tingkat ringan, dan yang paling berat adalah melukai/ merusak secara
serius. Klien tidak mampu mengendalikan diri.
4. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala, perilaku kekerasan yaitu suka marah, pandangan mata tajam, otot tegang,
nada suara tinggi, berdebat, sering pula memaksakankehendak, merampas makanan dan
memukul bila tidak sengaja.
1. Motor agitation
Gelisah, mondar-mandir, tidak dapat duduk tenang, otot tegang, rahang mengencang,
pernafasan meningkat, mata melotot, pandangan mata tajam.

2. Verbal
Memberi kata-kata ancaman melukai, disertai melukai pada tingkat ringan, bicara keras, nada
suara tinggi, berdebat.
3. Efek
Marah, bermusuhan, kecemasan berat, efek labik, mudah tersinggung.
4. Tingkat Kesadaran
Bingung, kacau, perubahan status mental, disorientasi dan daya ingat menurun
B. KONSEP KEPERAWATAN
1.Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap
pengkajian terdiri dari pengumpulan data, klasifikasi data, analisa data, dan perumusan masalah
atau kebutuhan klien atau diagnosa keperawatan.
a. Pengumpulan data
Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual.
a). Aspek biologis
Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi
epineprin sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka merah, pupil melebar,
pengeluaran urine meningkat. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya
kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku, dan refleks
cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.
b). Aspek emosional
Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, frustasi,
dendam, ingin memukul orang lain, mengamuk, bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan
menuntut.
c).Aspek intelektual
Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual, peran
panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam
proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Perawat perlu mengkaji cara klien marah,
mengidentifikasi penyebab kemarahan, bagaimana informasi diproses, diklarifikasi, dan
diintegrasikan.
d).Aspek sosial

Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah
sering merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan
mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan
kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses tersebut dapat mengasingkan
individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak mengikuti aturan.
e).Aspek spiritual
Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. Hal
yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang
dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa.
Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa perawat perlu mengkaji individu secara
komprehensif meliputi aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual yang secara singkat
dapat dilukiskan sebagai berikut :
Aspek fisik terdiri dari :muka merah, pandangan tajam, napas pendek dan cepat,
berkeringat, sakit fisik, penyalahgunaan zat, tekanan darah meningkat. Aspek emosi : tidak
adekuat, tidak aman, dendam, jengkel. aspek intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme,
berdebat, meremehkan. aspek sosial : menarik diri, penolakan, kekerasan, ejekan, humor.
b. Klasifiaksi data
Data yang didapat pada pengumpulan data dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu data
subyektif dan data obyektif. Data subyektif adalah data yang disampaikan secara lisan oleh klien
dan keluarga. Data ini didapatkan melalui wawancara perawat dengan klien dan keluarga.
Sedangkan data obyektif yang ditemukan secara nyata. Data ini didapatkan melalui obsevasi atau
pemeriksaan langsung oleh perawat
c. Analisa data
Dengan melihat data subyektif dan data objektif dapat menentukan permasalahan yang
dihadapi klien dan dengan memperhatikan pohon masalah dapat diketahui penyebab sampai pada
efek dari masalah tersebut. Dari hasil analisa data inilah dapat ditentukan diagnosa keperawatan.
MASALAH KEPERAWATAN
POHON MASALAH
Resiko mencederai,Orang lain

Perilaku Kekerasan (CP)

2. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko mencederai,Orang lain berhubungan dengan perilaku kekerasan
2. Perilaku Kekerasan (CP) berhubungan dengan Gangguan konsep diri
1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan/
amuk.
a. Data subjektif

Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh, ingin
membakar atau mengacak-acak lingkungannya.

b. Data objektif

Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan tindakan kekerasan


pada orang-orang disekitarnya.

2. Perilaku kekerasan / amuk dengan gangguan harga diri: harga diri rendah.
a. Data Subjektif :

Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.

Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau
marah.

Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.

b. Data Objektif

Mata merah, wajah agak merah.

Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.

Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.

Merusak dan melempar barang barang.

Intervensi Keperawatan
1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku
kekerasan/ amuk
Tujuan Umum :

Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya

Tujuan Khusus :
a.

Klien dapat membina hubungan saling percaya.


Tindakan :
1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan
jelaskan tujuan interaksi.
2. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
3. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
4. Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat.
5. Beri rasa aman dan sikap empati.

6. Lakukan kontak singkat tapi sering.


Rasional :
Hubungan saling percaya memungkinkan terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk
intervensi selanjutnya.
b. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Tindakan :
1. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
Rasional : Informasi dari klien penting bagi perawat untuk membantu kien dalam menyelesaikan
masalah yang konstruktif.
2. Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
Rasional : pengungkapan perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam akan
menolong pasien untuk sampai kepada akhir penyelesaian persoalan.
c. Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan.
Tindakan :
1. Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
Rasional : Pengungkapan kekesalan secara konstruktif untuk mencari penyelesaian masalah yang
konstruktif pula.
2. Observasi tanda perilaku kekerasan.
Rasional : mengetaui perilaku yang dilakukan oleh klien sehingga memudahkan untuk intervensi.
3. Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
Rasional : memudahkan klien dalam mengontrol perilaku kekerasan.

d. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.


Tindakan:
1. Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Rasional : memudahkan dalam pemberian tindakan kepada klien.
2. Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Rasional : mengetahui bagaimana cara klien melakukannya.
3. Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai
Rasional : membantu dalam memberikan motivasi untuk menyelesaikan masalahnya.
e. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan:
1. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
Rasional : mencari metode koping yang tepat dan konstruktif.
2. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
Rasional : mengerti cara yang benar dalam mengalihkan perasaan marah.
f. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Tindakan :
1. Tanyakan kepada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat
Rasional : menambah pengetahuan klien tentang koping yang konstruktif.
2. Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.

Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang positif, meningkatkan harga diri klien.
3. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.

Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur
atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.

Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal/ tersinggung.

Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara cara marah yang sehat, latihan asertif,
latihan manajemen perilaku kekerasan.

Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.

Rasional : dengan cara sehat dapat dengan mudah mengontrol kemarahan klien.
g. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
Tindakan:
1. Bantu memilih cara yang paling tepat.
Rasional : memotivasi klien dalam mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.
2. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
Rasional : mengetahui respon klien terhadap cara yang diberikan.
3. Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
Rasional : mengetahui kemampuan klien melakukan cara yang sehat.
4. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
Rasional

5. Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.


Rasional : mengetahui kemajuan klien selama diintervensi.
h. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan
Tindakan :
1. Identifikasi kemampuan keluarga merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan
keluarga selama ini.
Rasional : memotivasi keluarga dalam memberikan perawatan kepada klien.
2. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.
Rasional : menambah pengetahuan bahwa keluarga sangat berperan dalam perubahan perilaku
klien.
3. Jelaskan cara cara merawat klien
Rasional : meningkatkan pengetahuan keluarga dalam merawat klien secara bersama.
i. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan:
1. Jelaskan jenis jenis obat yang diminum klien pada klien dan keluarga.
Rasional : menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang obat dan fungsinya.
2. Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizin dokter.
Rasional : memberikan informasi pentingnya minum obat dalam mempercepat penyembuhan.
2. Perilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah
a. Tujuan Umum :

Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal

b. Tujuan khusus :

Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat

Tindakan :

Bina hubungan saling percaya,

Beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya.

Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.

Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab
serta mampu menolong dirinya sendiri.

Rasional : hubungan saling percaya memungkinkan klien terbuka pada perawat dan sebagai
dasar untuk intervensi selanjutnya.
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
Tindakan :

Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.

Rasional : mengidentifikasi hal-hal positif yang masih dimiliki klien.

Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif

Rasional : pemberian penilaian negatif dapat menurunkan semangat klien dalam hidupnya.

Utamakan memberi pujian yang realistis.

Rasional : meningkatkan harga diri klien.


3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Tindakan :

Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit

Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat digunakan.

Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah.

Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat dilanjutkan.

Berikan Pujian
Rasional : meningkatkan harga diri dan merasa diperhatikan.
4. Klien dapat menetapkan/ merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
Tindakan :

Minta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan di rumah sakit.
Rasional : agar klien dapat melakukan kegiatan yang realistis sesuai kemampuan yang dimiliki.

Bantu klien melakukannya jika perlu beri contoh.


Rasional : menuntun klien dalam melakukan kegiatan.

Beri pujian atas keberhasilan klien.


Rasional : meningkatkan motivasi untuk berbuat lebih baik.

Diskusikan jadwal kegiatan harian atas kegiatan yang telah dilatih.


Rasional : mengidentifikasi klien agar berlatih secara teratur.
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuannya
Tindakan :

Beri kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.

Rasional : tujuan utama dalam penghayatan pasien adalah membuatnya menggunakan respon
koping mal adaptif dengan yang lebih adaptif.

Beri pujian atas keberhasilan klien.

Rasional : meningkatkan harga diri klien.

Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan.


6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
Tindakan :

Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri
rendah.

Rasional : meningkatkan pengetahuan keluarg a dalam merawat klien secara bersama.

Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.

Rasional : meningkatkan peran serta keluarga dalam membantu klien meningkatkan harga diri
rendah.

Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.

Rasional : memotivasi keluarga untuk merawat klien.

Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

Rasional : Memberikan pemahan keluarga atas kondisi klien

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN
Pertemuan I

Masalah : Perilaku Kekerasan


Pertemuan : ke 1 (satu)
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Klien datang ke rumah sakit diantar keluarga karena dirumah sering marah-marah dan ingin
memukul seseorang yang menasehatinya.
2. Diagnosa Keperawatan
Risiko mencederai orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan
3. Tujuan khusus
Membina hubungan saling percaya
Mengidentifikasi penyebab marah
B. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
Selamat pagi, nama saya ..., panggil saya ....., saya perawat di sini. Namanya siapa, senang
dipanggil apa?

b. Evaluasi/validasi
Ada apa dirumah sampai dibawa kemari?
c. Kontrak
Topik
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang hal-hal yang menyebabkan Mas/mbak marah?
Tempat
Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tunggu saja?
Waktu
Mau berapa lama? Bagaimana kalau 10 menit saja?
2. Kerja
Apa yang membuat Mas/mbak marah-marah?
Apakah ada yang membuat Mas/mbak kesal?
Apakah sebelumnya Mas/mbak pernah marah?
Apa penyebabnya? Apakah sama dengan yang sekarang?
Baiklah, jadi ada yang menyebabkan Mas/mbak marah-marah ya!
3. Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan Mas/mbak setelah kita bercakap-cakap?
b. Evaluasi Objektif
Coba sebutkan 3 penyebab Mas/mbak marah-marah, bagus sekali
c. Rencana tindak lanjut
Baiklah, waktu kita sudah habis, nanti coba Mas/mbak ingat lagi, penyebab marah yang belum
kita bicarakan

d. Kontrak
Topik
Nanti kita akan bicarakan perasaan Mas/mbak pada saat marah dan cara marah yang biasa
Mas/mbak lakukan
Tempat
Mau dimana kita bicara? Bagaimana kalau disini?
Waktu
Kira-kira 30 menit lagi ya, sampai nanti

STRATEGI PELAKSANAAN
Masalah : Perilaku Kekerasan
Pertemuan : ke 2 (dua)
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Klien dapat menyebutkan penyebab marah
2. Diagnosa Keperawatan
Risiko mencederai orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan
3. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan
b. Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
c. Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan klien
B. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan

1. Orientasi
a. Salam terapeutik
Selamat pagi Mas/mbak
b. Evaluasi/validasi
Bagaimana perasaan Mas/mbak saat ini?
Apakah masih ada penyebab marah Mas/mbak yang lain?
c. Kontrak
Topik
Baiklah kita akan membicarakan perasaan Mas/mbak saat sedang marah
Tempat
Mau dimana? Bagaimana kalau di ruang tunggu saja?

Waktu
Mau berapa lama? Bagaimana kalau 15 menit saja?
2. Kerja
Mas/mbak pada saat dimarahi oleh ibu apa yang Mas/mbak rasakan?
Apakah ada perasaan kesal, tegang, mengepalkan tangan, mondar-mandir?
Lalu apa yang biasanya Mas/mbak lakukan?
Apakah sampai memukul? Atau Cuma marah-marah saja?
Mas/mbak , coba praktekkan cara marah pada ....., anggap perawat (saya) adalah orang tua
yang membuat Mas/mbak jengkel,(beri apresiasi wah bagus sekali)
Nah, bagaimana perasaan Mas/mbak setelah memukul meja?
Apakah masalahnya selesai?
Apa akibat perilaku Mas/mbak ?
Betul, tangan jadi sakit, meja bisa rusak, masalah tidak selesai dan akhirnya dibawa kerumah
sakit

Bagaimana Mas/mbak, maukah belajar cara mengungkapkan marah yang benar dan sehat
Baiklah waktu kita sudah habis
3. Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan Mas/mbak setelah kita bercakap-cakap?
b. Evaluasi Objektif
Apa saja tadi yang kita bicarakan?
Benar, perasaan saat marah, apa saja tadi?ya betul, lagi, OK!
Lalu cara marah yang lama, apa saja tadi? Ya betul, lagi, OK!
Dan akibat marah, apa saja? Ya betul, sampai dibawa kerumah sakit
c. Rencana tindak lanjut
Baiklah, sudah banyak yang kits bicarakan, nanti coba ingat-ingat lagi perasaan Mas mbak
sewaktu marah, dan cara Mas/mbak marah serta akibat yang terjadi, kalau di rumah sakit ada
yang membuat Mas/mbak marah beritahu saya ya

d. Kontrak
Waktu
Besok satu bulan lagi kita ketemu ya
Tempat
Bagaimana kalau disini lagi?
Topik
Besok kita mulai latihan cara marah yang baik dan sehat, sampai besok ya!
DAFTAR PUSTAKA

Keliat Budi Anna, 2002, Asuhan Keperawatan Perilaku Kekerasan, FIK, UI : Jakarta.

Yosep,Iyus S.Kp.,M.Si,2009.Keperawatan Jiwa.Refika Aditama:Bandung

Dadang Hawari, 2001, Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Schizofrenia, FKUI;
Jakarta.

Depkes RI, 1996, Direktorat Jendral Pelayanan Medik Direktorat Pelayanan


Keperawatan, 2000, Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan, Jakarta.

Depkes RI, 1996, Proses Keperawatan Jiwa, jilid I.

Keliat Budi Anna, dkk, 1998, Pusat Keperawatan Kesehatan Jiwa, penerbit buku
kedokteran EGC : Jakarta.

Keliat Budi Anna, 1996, Marah Akibat Penyakit yang Diderita, penerbit buku kedokteran
EGC ; Jakarta