Anda di halaman 1dari 30

Laboratorium Ilmu Kulit dan Kelamin

Tutorial Kasus

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

Morbus Hansen Tipe Multi Basiler (MB)

Oleh :
Rahayu Asmarani
Suryanti Suwardi
Syahidah Amaniyya Ramadhan

Pembimbing :
dr. H. M. Darwis Toena, Sp. KK

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


Laboratorium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...................................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN.............................................................................................
BAB 2 LAPORAN KASUS..........................................................................................
1.1

ANAMNESIS.................................................................................................

1.2

PEMERIKSAAN FISIK.................................................................................

1.3

DIAGNOSIS BANDING................................................................................

1.4

PEMERIKSAAN PENUNJANG....................................................................

1.5

DIAGNOSIS KERJA......................................................................................

1.6

PENATALAKSANAAN.................................................................................

1.7

PROGNOSIS..................................................................................................

BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................


BAB 4 PEMBAHASAN.............................................................................................
BAB 5 KESIMPULAN...............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................

BAB 1
PENDAHULUAN
Penyakit kusta atau Morbus Hansen adalah salah satu penyakit menular
yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud
bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi,
budaya, keamanan dan ketahanan nasional.
Setiap tahunnya tercatat ratusan ribu kasus Morbus Hansen baru diseluruh
dunia. Menurut kalkulasi WHO, pada tahun 2007 saja terdapat 254.525 kasus
baru. Di Indonesia sendiri, tiap tahunnya terdapat 20.000 kasus baru, dan
merupakan Negara ketiga terbanyak setelah India dan Brazil

(1)

. Di Indonesia

penderita Morbus Hansen terdapat hampir diseluruh daerah dengan penyebaran


yang tidak merata. Suatu kenyataan, di Indonesia bagian Timur terdapat angka
kesakitan kusta yang lebih tinggi. Penderita kusta 90% tinggal diantara keluarga
mereka dan hanya beberapa persen saja yang tinggal dirumah sakit kusta, koloni
penampungan atau perkampungan kusta.
Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, termasuk
sebagian petugas kesehatan karena dapat terjadi ulserasi, mutilasi,dan deformitas.
Penderita penyakit ini bukan menderita karena penyakitnya saja, tetapi juga
karena dikucilkan masyarakat sekitarnya. Dampak social terhadapa penyakit ini
sedemikian besarnya, sehingga menimbulkan keresahan yang sangat mendalam.
Tidak hanya penderita sendiri, tetapi pada keluarganya, masyarakat dan Negara.
Masih banyak yang menganggap bahwa penyakit Morbus Hansen merupakan
penyakit menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, dan menyebabkan
kecacatan. Akibat anggapan yang salah ini penderita Morbus Hansen merasa putus
asa sehingga tidak tekun untuk berobat (2; 3).

BAB 2
LAPORAN KASUS
1.1
1.1.1

ANAMNESIS
Identitas
Nama

: Tn. A

Umur

: 50 tahun

Alamat

: Jl. Durian I No. 59 RT. 64

Pekerjaan : Guru SMK (PNS)


Anamnesis dilakukan dengan autoanamnesis. Anamnesis dan pemeriksaan
fisik dilakukan pada tanggal 23 Oktober 2015 di Poliklinik Kulit dan Kelamin
RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
1.1.2

Keluhan Utama
Wajah dan badan terasa kebas.

1.1.3

Riwayat Penyakit Sekarang


Wajah dan badan terasa kebas sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu,

awalnya muncul bercak- bercak putih di badan yang tidak terasa gatal, sehingga
pasien tidak menghiraukannya. Lalu kurang lebih 1 tahun kemudian, bercakbercak juga muncul di tangan dan kakinya, bercak tersebut semakin meluas
hingga ke telapak tangan dan wajah, tepinya menebal, dan mati rasa. Selain itu,
pasien juga merasakan tangan dan kakinya mulai terasa keram, dan lama
kelamaan menjadi terasa kebas. Pasien juga mengaku telapak tangannya sering
melepuh bila terkena panas misalnya saat mengendarai motor, dan beberapa kuku
jari tangannya menghitam dan seperti akan terlepas. Selain itu pasien juga
mengeluhkan nyeri pada telapak tangannya karena luka bakar saat memegang
piring berisi nasi panas, dan tanpa di sadari beberapa jam kemudian tangannya
melepuh. Pasien memiliki riwayat diabetes sejak 5 tahun terakhir, dan rutin
minum obat.

1.1.4

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan serupa, namun saat

pasien tinggal di Manado 15 tahun yang lalu, ada tetangga pasien yang menderita
kusta.
1.2
1.2.1

1.2.2

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisata
Keadaan umum

: tampak sakit ringan

Kesadaran

: komposmentis

Kepala

: normosefali

LeherDada/Punggung/Perut

: dalam batas normal

Ekstremitas

: dalam batas normal

Pembesaran Kelenjar

: tidak dilakukan pemeriksaan

Status Dermatologis
Lokalisasi Ekstremitas Superior
a) Regio Generalisata
Efloresensi

: makula dengan tepi yang meninggi dan eritema


ukuran plakat, berbatas tegas dengan penyebaran
generalisata, dengan erosi di bagian plantar
manus sinistra

Fungsi Sensorik : anastesi (+) pada lesi


Fungsi Motorik :paresis (-)
Fungsi Otonom : edema digiti (-), kulit kering (-)
Deformitas

: kuku seperti mau terlepas

1.2.3

Foto Klinis

1.3

DIAGNOSIS BANDING
Morbus Hansen tipe Multi Basiler
Tinea Versikolor
Pitiriasis Rosea

1.4

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil pemeriksaan BTA pada cuping telinga kanan, kiri dan bokong: (-)

1.5

DIAGNOSIS KERJA
Morbus Hansen tipe Multi Basiler

1.6

PENATALAKSANAAN
Farmakologi:
Diberikan pengobatan MDT-MB selama 12 bulan
-

Rifampisin 600 mg/bulan


Klofazimin 300 mb/bulan (diawasi petugas) dan dilanjutkan besok 50

mg/hari
Dapson 100 mg/hari

Non Farmakologi:
Memberikan edukasi, yaitu :

Lama pengobatan dan cara minum obat

Efek samping yang dapat timbul karena obat

Kusta dapat disembuhkan, bila minum obat teratur dan lengkap

Bahaya yang terjadi bila minum obat tidak teratur yaitu dapat
menularkan kepada keluarga dan orang lain, dan juga dapat menjadi
cacat.

Bila ada keluhan selama masa pengobatan diminta segera periksa ke


Puskesmas.
8

Bila penderita kehilangan rasa raba atau sakit, menjelaskan bagaimana


perawatan diri untuk mencegah cacat

1.7

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad sanationam

: bonam

Quo ad kosmetika

: bonam

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1

Definisi dan Sinonim


Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi yang kronik yang disebabkan oleh

Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat, yang menyerang saraf


tepi dan kemudian menimbulkan suatu kelainan kulit (2).
Kuman penyebab penyakit Kusta, ditemukan pertama kali oleh sarjana
dari Norwegia Gerhard Hendrik Armauer Hansen pada tahun 1873, maka dari itu
Kusta dikenal juga dengan nama Morbus Hansen, sesuai dengan penemu kuman
penyebab kusta tersebut. Kata lepra disebut dalam kitab injil, terjemahan dari
bahasa Hebrew zaraath (2).
3.2

Epidemiologi
Penyebaran penyakit Morbus Hansen dari suatu tempat ke tempat lain

sampai tersebar di seluruh dunia disebabkan oleh perpindahan penduduk yang


terinfeksi penyakit tersebut. Penderita kusta tersebar di seluruh dunia, walaupun
terbanyak di daerah tropik dan subtropik. Penyebarannya terutama di benua
Afrika, Asia, Amerika Latin serta masyarakat yang social ekonominya rendah (2; 4).
Morbus Hansen dapat menyerang semua umur, anak-anak lebih rentan
daripada orang dewasa. Di Indonesia penderita anak-anak dibawah umur 14 tahun
didapatkan 13%, tetapi anak dibawah umur 1 tahun jarang sekali. Frekuensi
tertinggi terdapat pada kelompok umur antara 25-35 tahun (2).
Menurut Ress (1975) dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan
perkembangan penyakit Morbus Hansen hanya tergantung dari dua hal yakni
jumlah atau keganasan Micobaterium leprae dan daya tahan tubuh penderita.
Disamping itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah (3):

Usia: Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa, insidens rate 10-20
tahun; puncak prevalensi 30-50 tahun.

Jenis kelamin: laki-laki lebih banyak yang terjangkit

Ras: bangsa Asia dan Afrika lebih banyak terjangkit

10

Kesadaran social: Umumnya Negara-negara endemis adalah Negaranegara tingkat sosial ekonomi rendah

Lingkungan: fisik, biologi, sosial,yang kurang sehat.

Demografi: penyakit yang berkembang di seluruh dunia; 600.000 kasus


baru per tahun; 1,5-8 juta total kasus di seluruh dunia. Lebih dari 80%
kasus terdapat di India, China, Myanmar, Indonesia, Brazil, Nigeria (5).

3.3

Etiologi
Penyebab Morbus hansen adalah Mycobacterium leprae, yang ditemukan

oleh warga negara Norwegia, G.A Armauer Hansen pada tahun 1873 dan sampai
sekarang belum dapat dibiakkan dalam media buatan. Kuman Mycobacterium
leprae berbentuk basil dengan ukuran 3-8 m x 0,5 m, tahan asam dan alkohol
serta bersifat Gram positif. Mycobacterium leprae hidup intraseluler dan
mempunyai afinitas yang besar pada sel saraf (sel Schwan) dan sistem retikulo
endotelial (2).
3.4

Patogenesis
Spektrum klinis dari Morbus Hansen tergantung pada variasi batasan

imunologi host untuk mengembangkan Cell mediated Imunity yang efektif


terhadap Mycobacterium leprae. Organisme dapat menginvasi dan bereplikasi
pada syaraf tepi dan menginfeksi endotel dan sel fagosit pada banyak organ (2).
Bila basil M. leprae masuk kedalam tubuh seseorang, dapat timbul gejala
klinis sesuai dengan kerentanan orang tersebut. Masa inkubasi yaitu 20-40 tahun
(kebanyakan 5-7 tahun). Bakteri ini pertama kali menyerang saraf tepi, yang
selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas,
sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang dan juga testis, kecuali susunan saraf
pusat. Morbus Hansen merupakan penyakit menahun jangka panjang yang dapat
menyebabkan anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya (2).
Cara-cara penularan penyakit Morbus Hansen sampai saat ini masih
merupakan tanda tanya. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit
ini adalah:

11

Melalui sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita
yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2-7 x 24 jam.

Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15


tahun, keduanya harus ada lesi baik mikroskopis maupun makroskopis,
dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.
M. leprae mempunyai patogenitas yang rendah, sebab penderita yang
mengandung kuman lebih banyak belum tentu memberikan gejala yang
lebih berat bahkan dapat sebaliknya. Ketidakseimbangan antara derajat
infeksi dengan derajat penyakit, tidak lain karena respon imun yang
berbeda yang menyebabkan timbulnya reaksi granuloma setempat atau
menyeluruh yang dapat sembuh sendiri atau progresif. Oleh karena itu
penyakit ini dapat disebut sebagai penyakit imunologik. Gejala klinisnya
lebih sebanding dengan tingkat reaksi selularnya daripada intensitasnya
infeksi (2).

3.5

Gejala Klinis
Manifestasi klinis dari lepra sangat beragam, namun terutama mengenai

kulit, saraf, dan membran mukosa. Gejala dan keluhan penyakit bergantung pada
multiplikasi dan diseminasi kuman M. Leprae, respon imun penderita terhadap
kuman M. Leprae serta komplikasi yang diakibatkan oleh kerusakan saraf perifer.
Adapun gejala-gejala khas Morbus Hansen adalah (3):

Muncul gambaran kulit yang lebih putih (hipopigmentasi) bersisik, yang


tidak gatal dan lama-lama meluas.

Pada lesi tersebut terjadi anastesi. Hal ini menandakan bahwa bakteri telah
menyerang saraf tepi.

Gejala yang berat mencakup kerontokan rambut, kekakuan sendi, putusnya


jari-jari sampai timbulnya luka-luka (ulkus) akibat kusta.

Apabila terdapat gejala yang mengarah ke kusta, maka perlu dilakukan


pemeriksaan untuk mencari mikobakterium tersebut dengan suatu
pengecatan basil tahan asam.

12

Dapat pula disertai pembengkakan saraf tepi maupun cabang-cabang saraf


tepi terutama pada saraf ulnaris, medianus, aurikularis magnus serta
peroneus.

Kelenjar keringat kurang bekerja sehingga kulit menjadi tipis dan


mengkilat.

Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit

Alis rambut rontok

Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut fasies leomina (muka


singa).

3.6

Klasifikasi
Klasifikasi penyakit kusta berdasarkan spektrum klinik, guna menentukan

penatalaksanaan dan penentuan prediksi terjadinya kecacatan, dapat digunakan


klasifikasi sebagai berikut (2):
1.

Klasifikasi Madrid
Klasifikasi Madrid merupakan klasifikasi yang paling sederhana

yang

ditentukan

atas

dasar

kriteria

klinik,

bakteriologik,

dan

histopatologik. Ini sesuai dengan rekomendasi Internasional Leprosy


Association di Madrid tahun 1953. Klasifikasi Madrid tersebut
memutuskan bahwa penyakit kusta dibagi atas : tipe indeterminate (I), tipe
tuberkuloid (T), tipe borderline-dimorphous (B) dan tipe lepromatosa (L).
2.

Klasifikasi Ridley & Jopling


Klasifikasi penyakit kusta ini lebih dikaitkan dengan spektrum klinik

kusta yang sangat lebar rentangnya. Bisa dari kekebalan paling rendah
seorang penderita sampai pada kekebalan yang tinggi. Maka klasifikasi ini
didasarkan gejala klinik, bakteriologik, histopatologik, dan imunologik.
Menurut klasifikasi ini terdapat 5 (lima) tipe klinik penyakit kusta yang
erat hubungannya dengan sistem kekebalan yaitu:

Tipe I: makula hipopigmentasi berbatas tegass, anastesi dan anhidrasi,


pemeriksaan bakteriologik (-), tes lepromin (+).

13

Tipe TT (polar tuberkuloid): makula eritomatosa bulat atau lonjong,


permukaan kering, batas tegas, bagian tengah sembuh, bakteriologik
(-), tes lepromin positif kuat.

Tipe BT (borderline tuberkuloid): makula eritematosa tidak teratur,


batas tak tegas, kering. Mula-mula ada tanda kontraktur, anastesi,
pemeriksaan bakteriologik (+/-), tes Lepromin (+/-).

Tipe BB (midborderline): makula eritematosa, menonjol, bentuk tidak


teratur, kasar, ada lesi satelit, penebalan syaraf dan kontraktur,
pemeriksaan bakteriologik (+), tes Lepromin (-).

Tipe BL (borderline Lepromatous): makula infiltrat merah mengkilat,


tak teratur, batas tak tegas, pembengkakan saraf, pemeriksaan
bakteriologik ditemukan banyak basil, tes Lepromin (-).

Tipe LL (lepromatous): infiltrat difus berupa nodula simetris,


permukaan mengkilat, saraf terasa sakit, anastesi. Pemeriksaan
bakteriologis positif kuat, tes Lepromin (-) (Sjamsoe, 2007).
Konsep ini dapat digunakan untuk menentukan keadaan imunitas

yang stabil dan keadaan imunitas yang labil, dimana pada tipe polar
tuberkuloid dan polar lepromatosa merupakan keadaan imunitas yang
stabil sedangkan tipe borderline lepromatosa, mide lepromatosa dan
bordeline tuberkuloid merupakan keadaan imunitas yang lebih.
3.

Klasifikasi WHO
Sejak program eliminasi kusta dilaksanakan secara merata di seluruh
dunia oleh WHO dengan memperkenalkan MDT, maka klasifikasi kusta
perlu ada standarisasi dengan lebih disederhanakan, oleh karena itu WHO
menyepakati untuk membagi menjadi 2 (dua) tipe yaitu (2):

14

Tabel 1. Klasifikasi kusta berdasarkan WHO


PB
Lesi Kulit

Kerusakan

MB

1-5 lesi

> 5 lesi

Hipopigmentasi/eritema

Distribusi lebih simetris

Distribusi tidak simetris

Hilangnya sensasi kurang

Hilangnya

sensasi

yang

jelas
Hanya satu cabang

jelas
Banyak cabang saraf

saraf
3.7

Kusta Reaktif
Reaksi kusta termasuk dalam pembahasan imun patologik, yaitu terjadi

gangguan pada Cell Mediated Immunity dan terjadi peningkatan aktivitas


makrofag, Natural Killer Cell, peran komplemen juga berpengaruh, sebetulnya
reaksi imun itu dapat menguntungkan, tetapi bisa juga merugikan seperti kusta
reaktif (2).
Kusta reaktif adalah interupsi dengan episode akut pada perjalanan
penyakit yang sebenarnya sangat kronik. Adapun patofisiologiknya belum jelas,
terminologi

dan

klasifikasinya

masih

bermacam-macam.

Mengenai

patofisiologisnya yang belum jelas itu akan diterangkan secara imunologik (2).
Reaksi imun dapat menguntungkan, tetapi dapat pula merugikan yang
disebut reaksi imun patologik, dan reaksi kusta ini tergolong di dalamnya
dalamnya. Dalam klasifikasi yang bermacam-macam itu, yang tampaknya paling
banyak dianut pada akhir-akhir ini, yaitu (2):

Tipe 1 : Reaksi Reversal, ini merupakan contoh imunopatologi reaksi


hipersensitivitas tipe IV.
Gejala klinik reversal umumnya terdapat rasa nyeri dan
terderness pada saraf, adanya neuritis dan inflamasi yang begitu cepat pada
kulit. Keadaan yang dulunya hipopigmentasi menjadi eritema, lesi eritema
makin menjadi eritematosa, lesi makula menjadi infiltrat, yang infiltrat
makin infiltratif dan lesi lama makin bertambah luas.

15

Secara histologi ditemukan epiteloid dari sel granuloma, dan sel


limfosit yang banyak, ditemukannya basil lepra yang banyak, epiteloid
mensekresi TNF.

Tipe 2 : Eritema

Nodusum

Leprosum

(ENL),

ini

merupakan

hipersensivitas humoral yaitu peran IgM, IgG, dan komplomen,


suatu contoh imunopatologi hipersensitivitas tipe III.
ENL terutama timbul pada tipe lepromatosa polar dan dapat pula
pada BL, berarti makin tinggi tingkat multibasilnya makin besar
kemungkinan timbulnya ENL. Pada kulit akan timbul gejala klinis yang
berupa nodus eritema, dan nyeri dengan tempat predileksi di lengan dan
tungkai. Bila mengenai organ lain dapat menimbulkan gejala seperti
iridosiklitis, neuritis akut, limfadenitis, arthritis, orkitis, dan nefritis yang
akut dengan adanya proteinuria (disertai non pitting oedema). ENL dapat
berkembang menjadi perbaikan setelah mendapatkan kontrikosteroid,
secara histologi ditemukannya foamy histiocyte, dan limfosit tidak banyak.
Fenomena Lucio: merupakan reaksi kusta bentuk lain, yang
sebetulnya merupakan reaksi kusta tipe 2 yang sangat berat. Kusta tipe ini
terutama ditemukan di Meksiko dan Amerika Tengah, namun dapat juga
dijumpai di negeri lain dengan prevalensi rendah. Gambaran klinis dapat
berupa plak atau infiltrat difus, berwarna merah muda, bentuk tak teratur
dan terasa nyeri. Lesi terutama di ekstrimitas, kemudian meluas ke seluruh
tubuh. Lesi yang berat tampak lebih eritematosa, disertai purpura, dan
bula, kemudian dengan cepat terjadi nekrosis serta ulserasi yang nyeri.
Lesi lambat menyembuh dan akhirnya terbentuk jaringan parut. Titer
kompleks imun yang beredar dan krioglobulin sangat tinggi pada semua
penderita.
Reasi kusta reversal muncul umumnya 6 (enam) bulan setelah pengobatan
dengan obat anti kusta, sedangkan obat lain seperti progesterone, vitamin A,
Mycobacterium leprae yang mati dan hancur menjadi banyak fragmen artinya
banyak sekali antigen yang dilepaskan dan bereaksi dengan antibodinya serta
mengaktifkan sistem komplemen membentuk kompleks imun. Potassium idide

16

merupakan faktor presipitasi, pada tipe ENL lebih banyak terjadi pada pengobatan
tahun kedua (6).
Kompleks imun terus beredar di dalam sirkulasi darah yang akhirnya dapat
bersarang diberbagai organ seperti kulit dan timbul gejala klinis yang berupa
nodul, eritema dan nyeri dengan predileksi di lengan dan tungkai. Pada organ
mata akan menimbulkan gejala iridosiklitis, pada saraf perifer gejala neuritis akut,
pada kelenjar getah bening gejala limfadenitis, pada sendi nefritid yang akut
dengan adanya protein urin (6).
Tipe reversal dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan destruksi saraf
yang bersifat irreversibel, sehingga mengalami ketidakmampuan dalam fungsi
organ normal, kondisi diperberat dengan cell mediated immunity gagal
menghadapi antigen Mycobacterium leprae (6).
3.8

Komplikasi
Menurut WHO (1980) batasan istilah dalam cacat akibat kusta adalah (6; 7):

Impairment: segala kehilangan atau abnormalitas struktur atau fungsi yang


bersifat

psikologik,

fisiologik

atau

anatomic,

misalnya

leproma,

ginekomastia, madarosis, claw hand, ulkus dan absorbs jari.

Disability:

segala

keterbatasan

atau

kekurangmampuan

(akibat

impairment) untuk melakukan kegiatan dalam batas-batas kehidupan yang


normal bagi manusia. Diassability ini merupakan objektivitas impairment,
yaitu gangguan pada tingkat individu termasuk ketidakmampuan dalam
aktivitas sehari-hari, misalnya memegang benda atau memakai baju
sendiri.

Handicap: kemunduran pada seorang individu (akibat impairment atau


diability) yang membatasi atau menghalangi penyelesaian tugas normal
yang bergantung pada umur, seks, dan faktor sosial budaya. Handicap ini
merupakan efek penyakit kusta yang berdampak sosial, ekonomi, dan
budaya.

Deformity: kelainan struktur anatomis.

17

Dehabilitation: keadaan/proses pasien kusta (handicap) kehilangan status


sosial secara progresif, terisolasi dari masyarakat, keluarga dan temantemannya.

Destution: dehabilitasi yang berlanjut dengan isolasi yang menyeluruh dari


seluruh masyarakat tanpa makanan atau perlindungan (shelter).

3.9

Pemeriksaaan Penunjang
Adapun pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan untuk menegakkan

diagnosa Morbus Hansen antara lain (6):

Pemeriksaan anastesi dengan jarum atau air dingin/air panas

Tes keringat dengan pensil tinta: pada lesi akan hilang, sedangkan pada
kulit normal ada bekas tinta (tes Gunawan)

Pemeriksaan histopatologi diperlukan untuk klasifikasi penyakit

Tes lepromin digunakan untuk klasifikasi penyakit

Pemeriksaan bakteriologik untuk menentukan indeks bakteriologik (IB)


dan indeks morfologi (IM). Pemeriksaan ini penting untuk menilai hasil
pengobatan dan menentukan adanya resistensi pengobatan.

3.10

Diagnosis
Diagnosis penyakit Morbus Hansen didasarkan gambaran klinis,

bakterioskopis, dan histopatologis. Diantara ketiganya, diagnosis secara klinislah


yang terpenting dan paling sederhana. Hasil bakteriologis memerlukan waktu
paling sedikit 15-30 menit, sedangkan histopatologik 10-14 hari (2).
Kerokan dengan pisau skalpel dari kulit, selaput lendir hidung bawah atau
biopsi dari cuping telinga, dibuat sediaan mikroskopis pada gelas alas dan
diwarnai dengan teknis Ziehl Neelsen. Biopsi kulit atau saraf yang menebal
memberikan gambaran histologis yang khas (3).
3.11

Diagnosis Banding
Diagnosa banding untuk Morbus Hansen yaitu hipopigmentasi dengan

granuloma, sarcoides, leishmaniasis, lupus vulgaris, lymphoma, granuloma


annulare (5).
18

3.12

Pengobatan
Tujuan utama program pemberantasan kusta adalah menyembuhkan pasien

kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari
pasien kusta terutama tipe yang menular kepada orang lain untuk menurunkan
insiden penyakit (8).
Regimen pengobatan kusta di Indonesia disesuaikan dengan rekomendasi
WHO (1995), yaitu program Multi Drug Therapy (MDT) dengan kombinasi obat
medikamentosa utama yang terdiri dari Rifampisin, Klofazimin (Lamprene) dan
DDS (Dapson/4,4-diamino-difenil-sulfon) yang telah diterapkan sejak tahun 1981
(8)

Gambar 1. Regimen MDT (Obat Kombinasi) Kusta

19

Regimen MDT (Obat Kombinasi) yang dianjurkan oleh WHO adalah:


a. Penderita Kusta Pausibasiler (PB)
Dewasa:

Pengobatan bulanan: Hari pertama (dosis yang diminum di depan


petugas) 2 kapsul Rifampisin dan 1 tablet Dapsone.

Pengobatan harian: Hari ke 2 sampai hari ke 28 (dibawa pulang) 1


tablet Dapsone. Penderita akan memperoleh obat MDT dari
Puskesmas sebanyak 6 blister untuk diminum selama 6-9 bulan.
Tabel 2. Obat dan dosis regimen MDT-PB

Obat & Dosis


MDT-Kusta
PB
Rifampisin
(diawasi

Dewasa
BB < 35 Kg

450 mg/bulan

petugas)
Dapsone
(swakelola)

Anak

BB > 35 kg
600
mg/bulan

50 mg/hari
(1-2

100 mg/hr

mg/kgBB/hr)

10-14 tahun
450 mg/bulan
(12-15
mg/kgBB/bulan)
50 mg/hr
(1-2 mg/kgBB/hr)

Pengobatan MDT untuk kusta tipe PB dilakukan dalam 6 dosis


minimal yang diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah selesai minum 6
dosis maka dinyatakan RFT (Released From Treatment = berhenti minum
obat kusta meskipun secara klinis lesinya masih aktif). Menurut WHO
(1995) tidak lagi

dinyatakan

RFT teetapi

menggunakan

istilah

Completion of Treatment Cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.

20

b. Penderita Kusta Multibasiler (MB)


Dewasa:

Pengobatan bulanan: Hari pertama (dosis yang diminum didepan


petugas) 2 kapsul Rifampisin, 3 kapsul Lampren (Klofazimin), dan 1
tablet Dapsone.

Pengobatan harian hari ke 2-28: 1 tablet Lampren dan 1 tablet


Dapsone diminum setiap hari. Setiap penderita kusta tipe MB akan
mendapatkan 12 blister obat MDT dari Puskesmas untuk diminum
selama 12 bulan.
Tabel 3. Obat dan Dosis regimen MDT-MB
Obat & Dosis

MDT-Kusta MB
Rifampisin
(diawasi

Dewasa
BB < 35 Kg
BB > 35 kg
450 mg/bulan

petugas)

Klofazimin

600
mg/bulan

Anak
10-14 tahun
450 mg/bulan
(12-15
mg/kgBB/bulan)
200 mg/bulan

300 mb/bulan (diawasi petugas)

(diawasi) dan

dan dilanjutkan esok 50 mg/hari

dilanjutkan esok

(swakelola)

50 mg/hari
(swakelola)

Dapsone
(swakelola)

50 mg/hari
(1-2

100 mg/hr

mg/kgBB/hr)

50 mg/hr
(1-2 mg/kgBB/hr)

Pengobatan MDT untuk kusta tipe MB dilakukan dalam 24 dosis


yang diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan. Sesudah selesai
minum 24 dosis maka dinyatakan RFT meskpun klinis lesinya masih aktif
dan pemeriksaan bakteri BTA positif. Menurut WHO (1998) pengobatan
MB diberikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan
pasien langsung dinyatakan RFT.

21

Namun dibalik program MDT, ternyata masih terdapat efek samping


yang ditimbulkan MDT yang dilaporkan. Berikut ini tindak lanjut terhadap
efek samping MDT yang mungkin terjadi (Rekomendasi UPK Kusta
Depkes RI dan WHO, tahun 2000), yaitu sebagai berikut:
Tabel 4. Efek samping MDT dan tindak lanjut
Regimen
MDT
Rifampisin

Efek Samping

Tindak Lanjut

Urin, tinja, keringat

Obat MDT

berwarna merah

dapat diteruskan

Obat
Substitusi
Etionamid dan

Warna kulit menjadi


Klofazimin

hitam
(hiperpigmentasi)

Protionamid

Obat MDT
dapat diteruskan

(Tidak
dianjurkan, RS
hepatotoksik)

Dapsone

Gatal, merah pada

Stop dapsone

kulit. Bila berat kulit

dan segera

kepala dan seluruh

rujuk penderita

tubuh dapat terkelupas

ke RS

Setelah minum obat tersebut diatas maka penderita dinyatakan: Release


From Treatment (RFT/Sembuh).
Terdapat beberapa hal yang perlu disampaikan sehingga penderita
mendapat penjelasan sebelum diberikan pengobatan MDT, antara lain (6):
1. Lama pengobatan
2. Cara minum obat
3. Kusta dapat disembuhkan, bila minum obat teratur dan lengkap
4. Bahaya yang terjadi bila minum obat tidak teratur yaitu dapat menularkan
kepada keluarga dan orang lain, dan juga dapat menjadi cacat.
5. Bila ada keluhan selama masa pengobatan diminta segera periksa ke
Puskesmas.
6. Bila penderita kehilangan rasa raba atau sakit, jelaskan pentingnya
perawatan diri untuk mencegah cacat

22

7. Penderita yang sudah cacat fisik tidak akan kembali normal, tetapi
perawatan diri tetap diperlukan supaya cacat tidak berlanjut.
Walaupun saat ini terdapat pengobatan MDT terbaru dengan sistem ROM
(Rifampicin-Ofloksasin-Minosiklin)

dan

pengembangan

obat

alternatif

(Klaritromisin, Eritromisin, Roksitromisin dan sebagainya), tetapi tetap masih


dianjurkan regimen MDT-WHO (1995) dengan Rifampisin-Klofazimin-DDS
sebagai terapi medikamentosa utama dari penatalaksanaan Kusta di Indonesia.

BAB 4
PEMBAHASAN

23

Pada laporan kasus ini kami melaporkan pasien Tn. A usia 50 tahun
dengan keluhan utama wajah dan badan terasa kebas sejak 5 tahun sebelum pasien
datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD AWS, awalnya muncul bercakbercak putih di badan yang tidak terasa gatal. Selain itu pasien juga mengeluhkan
nyeri pada telapak tangannya karena luka bakar saat memegang piring berisi nasi
panas, dan tanpa di sadari beberapa jam kemudian tangannya melepuh. Diagnosis
pada pasien ini yaitu Morbus Hansen tipe Multibasiler yang didasarkan pada
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Berdasarkan data identitas yang didapatkan dari anamnesis, pasien adalah
seorang laki-laki usia 50 tahun. Hal tersebut sesuai dengan literatur yang ada,
yaitu secara epidemiologi, Morbus Hansen lebih banyak menyerang laki-laki
daripada perempuan dengan usia puncak prevalensi yaitu 30-50 tahun (6).
Kemudian dari data anamnesis, yaitu keluhan muncul bercak putih yang
dialami pasien tersebut mati rasa sejak 5 tahun yang lalu. Hal tersebut telah
dikonfirmasi dengan pemeriksaan fisik melalui pemeriksaan sensorik pada regio
wajah, antebrachii anterior sinistra, dorsum manus, dan palmar manus, plantar dan
dorsum pedis dekstra et sinistra maka didapatkan tanda positif hipoanestesi
terhadap rangsang taktil dan nyeri pada tempat lesi daripada kulit normal. Hal
tersebut menandakan bahwa bakteri telah menyerang saraf tepi

(6)

. Sedangkan

waktu lamanya pasien mengalami keluhan mati rasa selama 5 tahun tersebut
menunjukkan onset penyakit yang dialami yang terjadi perlahan-lahan.
Pada pemeriksaan fisik status dermatologis didapatkan adanya makula
hipopigmentasi dengan tepi eritema, sebanyak lebih dari 5 lesi, batas tegas dengan
central clearing, anestesi jelas dan distribusi lesi simetris yaitu pada kedua lengan,
pada badan, punggung, wajah yaitu pipi kanan dan kiri mengarahkan pada kondisi
Morbus Hansen tipe Multibasiler. Selain itu, tidak ditemukan adanya mati rasa
pada daerah distal keempat ekstremitas, sehingga dapat disingkirkan bahwa mati
rasa tidak berkaitan dengan riwayat diabetes yang dialami pasien sejak 5 tahun
terakhir tersebut.
Pada pemeriksaan fisik status dermatologis didapatkan adanya makula
eritematosa ukuran plakat batas tegas dengan penyebaran generalisata, tampak
erosi. makula eritematosa, makula hipopigmentasi dengan predileksi pada kedua

24

ekstremitas, tubuh dan wajah. Oleh karena itu diagnosis banding pada pasien ini
yaitu Tinea Versikolor, dan Pitiriasis Rosea. Tinea Versikolor biasanya tampak
makula soliter dan biasanya koalesen dan tertutup oleh skuama dengan lokasi lesi
pada wajah, leher, dada, punggung, ekstremitas, maupun selangkangan. Namun
biasanya disertai dengan gambaran klinis khas yaitu gatal bila berkeringat (3).
Pitiriasis Rosea dimulai dengan sebuah lesi inisial berbentuk eritema dan skuama
halus, umumnya di badan, solitar, berbentuk oval dan anular, dengan diameter
kira-kira 3 cm. Selanjutnya lesi akan memberikan gambaran yang khas dengan
susunan yang sejajar dengan costa hingga menyerupai pohon cemara terbalik.
Tempat predileksi di badan, lengan atas bagian proksimal, dan paha atas(5,6).

Gambar 2.1. Pitiriasis Rosea

Jadi dapat disimpulkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan penunjang bahwa diagnosis pada pasien ini yaitu Morbus Hansen
tipe Mulltibasiler. Diagnosis ini didasarkan pada penemuan 1 dari 3 tanda
kardinal, yaitu bercak kulit hipopigmentasi atau eritematosa yang mati rasa, dan
tidak ditemukannya M. lepra sebagai BTA pada pemeriksaan laboratorium (6).
Pengobatan MDT untuk kusta tipe MB dilakukan dalam 24 dosis yang
diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan. Sesudah selesai minum 24 dosis
maka dinyatakan RFT meskpun klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri
BTA positif. Menurut WHO (1998) pengobatan MB diberikan untuk 12 dosis
yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien langsung dinyatakan RFT.
Regimen pengobatan untuk penderita kusta tipe Multibasiler dewasa yaitu:

25

Pengobatan bulanan: Hari pertama (dosis yang diminum didepan petugas)


2 kapsul Rifampisin, 3 kapsul Lampren (Klofazimin), dan 1 tablet
Dapsone.

Pengobatan harian hari ke 2-28: 1 tablet Lampren dan 1 tablet Dapsone


diminum setiap hari. Setiap penderita kusta tipe MB akan mendapatkan 12
blister obat MDT dari Puskesmas untuk diminum selama 12 bulan.
Beberapa hal yang perlu disampaikan sebelum pemberian MDT yaitu lama

pengobatan, cara minum obat, efek samping obat yang dapat timbul,
kemungkinan sembuhnya penyakit kusta bila meminum obat teratur dan lengkap,
bahaya yang terjadi bila minum obat tidak teratur yaitu dapat menularkan kepada
keluarga dan orang lain, dan juga dapat menjadi cacat, bagaimana bila selama
pengobatan muncul efek samping. Bila penderita kehilangan rasa raba atau sakit,
dijelaskan pentingnya perawatan diri untuk mencegah cacat (6).
Pada pasien ini telah terjadi gangguan fungsi sensoris, sehingga
pengobatan terhadap penyakitnya harus segera mungkin dilakukan agar tidak
terjadi komplikasi berupa kecacatan. Kecacatan dapat terjadi apabila penderita
kusta tersebut terlambat didiagnosis dan tidak mendapatkan MDT pada riwayat
sebelumnya. Kerusakan saraf terutama berbentuk nyeri saraf, hilangnya
sensibilitas, dan berkurangnya kekuatan otot. WHO Expert Committee on Leprosy
membuat klasifikasi cacat pada tangan dan kaki, serta mata bagi penderita kusta
(6)

.
Cacat Pada Tangan dan Kaki
Ting
kat 0

Tidak ada gangguan sensibilitas, tidak ada kerusakan atau


deformitas yang terlihat.

Ting

Ada gangguan sensibilitas, tanpa kerusakan atau deformitas yang

kat 1
terlihat.
Ting
Terdapat kerusakan atau deformitas
kat 2
Catatan : kerusakan atau deformitas pada tangan dan kaki termasuk
ulserasi, absorpsi, mutilasi, dan kontraktur.

26

Prognosis pada pasien ini baik pada sisi vitam, sanasionam dan
kosmetikam, karena jika benar mendapatkan terapi yang sesuai, maka kondisi
pasien akan menjadi baik.

27

BAB 5
KESIMPULAN

Telah dilaporkan kasus Morbus Hansen tipe multibasiler pada laki-laki


berusia 50 tahun, dimana dari anamnesis didapatkan keluhan wajah dan badan
terasa kebas sejak 5 tahun sebelum pasien datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin
RSUD AWS, awalnya muncul bercak- bercak putih di badan yang tidak terasa
gatal. Selain itu pasien juga mengeluhkan nyeri pada telapak tangannya karena
luka bakar saat memegang piring berisi nasi panas, dan tanpa di sadari beberapa
jam kemudian tangannya melepuh. Kemudian dari pemeriksaan fisik ditemukan
makula dengan tepi yang meninggi dan eritema dengan ukuran plakat, berbatas
tegas dengan penyebaran generalisata, dengan erosi di bagian plantar manus
sinistra. Diagnosis banding pasien ini adalah Tinea Versikolor, dan Pitiriasis
Rosea. Penatalaksanaan pada pasien ini dengan program Multi Drug Therapy
(MDT) dengan kombinasi obat medikamentosa yang digunakan terdiri dari
Rifampisin, Klofazimin dan Dapson selama 12 bulan.

28

DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. Guide to Eliminate Leprosy as a Public Health Problem. First Edition.


World Health Organization. USA. 2000. [Online] Januari 4, 2014.
http://www.who.int/lep/resources/Guide_Int_E.pdf .
2. Kokasih, I Made Wisnu, E. Sjamsoe Daili, S. L. Menaldi. Kusta. [book
auth.] M. Hamzah, S. Aisah Djuanda. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007, pp. 73-88.
3. Zulkifli. Penyakit Kusta dan Masalah yang Ditimbulkannya. 2003. [Online]
2003. [Cited: Februari 9, 2014.] http://library.usu.ac.id/download/fkmzulkifli2.pdf.
4. Harahap, Mawardi. Penyakit Kulit. Jakarta : Hipokrates, 2000.
5. Wolff, K. Goldsmith, L. A. Katz, S. I. Gilchrest, B. A. Paller, A. S. Leffel, D.
J. editors. [book auth.] McGraw-Hill. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis
of Clinical Dermatology. Sixth Edition. New York : s.n., 2009, pp. 665-671.
6. Daili, Emmy S. Sjamsoe et all. Kusta. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2003.
7. D., Sofianty. Memahami Seluk Beluk Penyakit Kusta. [Online] 2009. [Cited:
Februari

4,

2014.]

http://www.surabaya-

ehealth/org/administrator/berita/memahami-seluk-beluk-penyakit-kusta..
8. Pramesemara. Penatalaksanaan Kusta di Indonesia. [Online] 2009. [Cited:
Februari

4,

2014.]

http://pramareola14.wordpress.com/2009/12/09.penatalaksanaan-kusta-diindonesia/.

29