Anda di halaman 1dari 28

REFORMASI TATA KELOLA DAN AKUNTABILITAS

Kegagalan Enron, WorldCom, KAP Arthur-Andersen merupakan pemicu tentang


harapan baru dalam tata kelola dan akuntabilitas di Amerika. Para politisi Amerika
menciptakan kerangka tata kelola dan akuntabilitas baru yang dikenal dengan SarbanesOxley Act untuk memulihkan kembali kepercayaan masyarakat dan memfokuskan kembali
tata kelola perusahaan pada tanggung jawab direksi terhadap kewajiban fidusia mereka
terhadap kepentingan shareholders dan masyarakat.
I. Ancaman Bagi Tata Kelola Perusahaan dan Akuntabilitas yang Baik
1. Salah mengartikan tujuan dan kewajiban fidusia
Pada kasus Enron, perusahaan melakukan manipulasi untuk keuntungan jangka pendek yang
ternyata berakibat fatal bagi perusahaan itu sendiri.
2. Kegagalan untuk mengidentifikasi dan mengelola resiko etika.
Resiko etika terjadi ketika terdapat kemungkinan ekspektasi stakeholder tidak terpenuhi.
Menemukan resiko etika penting untuk menghindari kehilangan dukungan dari stakeholder.
3. Konflik kepentingan
Konflik kepentingan terjadi ketika penilaian indepenpen atau pengambilan keputusan
seseorang goyah atau ada kemungkinan goyah karena adanya kepentingan lain yang
bergantung pada penilaian tersebut. Sumber utama konflik kepentingan adalah hubungan
dan keluarga dan kepentingan ekonomi.
II. Elemen Penting dari Tata Kelola dan Akuntabilitas
Mengembangkan, menerapkan, dan Kode Etik Mengelola Budaya Direktur, pemilik, dan
manajemen senior dalam proses mewujudkan bahwa mereka dan karyawan mereka perlu
memahami bahwa: Organisasi organisasi akan lebih baik jika memperhatikan kepentingan
stakeholder,

dan

bukan

hanya

shareholder

dan

dalam

membuat

keputusan

mempertimbangkan nilai etis yang penting.


III. Menurut Murphy, tiga pendekatan yang dapat diterapkan untuk menanamkan prinsip-prinsip
etika ke dalam bisnis, yaitu:
1.

Credo perusahaan yang mendefinisikan dan mengarahkan kepada nilai-nilai perusahaan.


Credo adalah pernyataan ringkas dari penyerapan nilai-nilai suatu perusahaan

a.

Credo dapat diinterpretasikan dengan simple sebagai sebuah pernyataan misi dari
organisasional, bukan sebagai sebuah dokumen

b.

Credo tidak dapat didudukkan dalam waktu yang cukup lama sehingga belum dapat dinilai.

2.

Program etika dimana perusahaan berfokus pada isu-isu etika


Program etika menyediakan petunjuk yang lebih detail untuk menyelesaikan masalah etika
yang potensial daripada credo umum.

3.

Kode etik yang memberikan panduan spesifik untuk karyawan di area bisnis fungsional
Kode etika adalah mekanisme structural perusahaan yang digunakan sebagai tanda komitmen
mereka terhadap prinsip-prinsip etika. Mekanisme dirasakan sebagai cara yang paling efektif
untuk mendukung kebiasaan etika bisnis. Kode etika biasanya membahas isu-isu seperti
konflik kepentingan, kompetitor, privasi, pemberian dan penerimaan pemberian, dan
kontribusi politik.
Penelitian Murphy tentang etika dalam manajemen menghasilkan kesimpulan yang harus
diingat manajer perusahaan yaitu:

1. Tidak ada pendekatan ideal tunggal untuk etika perusahaan.


Rekomendasinya dimulai dari perusahaan kecil dengan sebuah credo dan juga sebuah
perusahaan besar dengan mempertimbangkan program yang disesuaikan. Hal itu
dimungkinkan untuk mengintegrasikan program-program dan menghasilkan sebuah hybrid
contohnya dalam berurusan dengan insider trading.
2. Manajemen puncak harus berkomitmen.
Manajer senior harus memenangkan rancangan etika tertinggi bagi perusahaan mereka.
Komitmen ini tampak jelas melalui pernyataan keras dan jelas dalam surat CEO, laporan,
dan pernyataan publik
3. Pengembangan suatu struktur tidak cukup untuk perusahaan itu sendiri.
Struktur tidak akan berguna jika tidak didukung oleh proses manajerial. Credo pertemuan
pada Security Pasific dan seminar di Chemical Bank adalah contoh dari proses yang
mendukung struktur.
4. Meningkatkan kesadaran etis dari suatu organisasi tidak mudah

Banyak perusahaan yang telah menghabiskan waktu dan uang untuk mengembangkan,
mendiskusikan, merevisi, dan mengkomunikasikan prinsip-prinsip etika perusahaan. dan
pada kenyataannya itu semua tidak menjamin peningkatan kesadaran etis

ANALISIS PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE ( TATA


KELOLA) STUDI KASUS ENRON CORP.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Good Corporate Governance (CG) merupakan isu yang relatif baru dalam dunia manajemen
bisnis. Secara umum, Corporate Governance terkait dengan sistem mekanisme hubungan
yang mengatur dan menciptakan insentif yang pas diantara para pihak yang mempunyai
kepentingan pada suatu perusahaan agar perusahaan dimaksud dapat mencapai tujuan-tujuan
usahanya secara optimal.
Corporate Governance itu adalah suatu sistem yang dibangun untuk mengarahkan dan
mengendalikan perusahaan sehingga tercipta tata hubungan yang baik, adil dan transparan di
antara berbagai pihak yang terkait dan memiliki kepentingan (stakeholder) dalam perusahaan.
Good Corporate Governance (GCG) juga berarti suatu proses dan struktur yang digunakan
untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan akuntabilitas perusahaan dengan tujuan utama
mempertinggi nilai saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan
stakeholder lain.
Good Corporate Governance (GCG) mendapatkan perhatian luas setelah terjadinya
berbagai /krisis seperti krisis moneter di Indonesia ataupun skandal Enron di Amerika
Serikat. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pentingnya CGC maka kami melakukan
studi mengenai pelanggaran CGC yang terjadi pada Enron dan PT Katarina Utama Tbk.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam menyusun makalah ini, kami menggunakan skema 5W+1H dalam merumuskan
masalah mengenai
1. Apa yang terjadi pada skandal Enron
2. Siapa pihak-pihak yang terlibat dan terkena dampak dari skandal Enron
3. Kapan terjadinya runtutan skandal Enron
4. Mengapa skandal Enron dapat terjadi
5. Prinsip GCG apa saja yang telah dilukai oleh Enron
6.

Bagaimana dampak skandal Enron terhadap tata kelola dan profesi akuntan

1.3 Tujuan Penulisan


Memahami isu-isu, prinsip-prinsip, dan praktik-praktik yang terlibat dalam harapan-harapan
baru ini merupakan hal yang penting untuk mengantisipasi dan mempertimbangakan hal apa
saja yang sesuai untuk tata kelola dan perilaku yang tepat bagi perusahaan dan para akuntan
profesional di masa depan. Dihadapkan dengan pilihan menerapkan suatu aliran pedoman dan
peraturan baru, para pebisnis dan akuntan profesional akan menemukan bahwa tugas mereka
difasilitasi oleh pemahaman akan esensi etika yang berdasarkan apda inisiatif-inisiatif yang
baru.
PEMBAHASAN
Studi Kasus 1: Skandal Enron dalam Runtutan Reformasi Tata Kelola
Sekilas Tentang Enron Corporation dan KAP Anderson Enron Corporation
Pada tahun 1985, Enron didirikan oleh Kenneth Lay melalui merger antara Houston Natural
Gas dan InterNorth. Perusahaan yang bergerak di bidang energi tersebut melakukan
penjualan listrik dengan menggunakan harga pasar pada awal tahun 1990. Adanya hasil
Kongres Amerika Serikat yang memutuskan untuk melakukan deregulasi penjualan gas alam
telah menyebabkan Enron mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan. Enron
merupakan penjual gas alam terbesar pada tahun 1992 di Amerika Utara, kontrak penjualan
gas Enron menghasilkan laba sebelum pajak sebesar $122 juta, dan merupakan penyumbang
kedua terbesar dalam laba usaha perusahaan.
Dalam upaya untuk memperluas pertumbuhan bisnis perusahaan, Enron menerapkan strategi
bisnis diversifikasi. Perusahaan tersebut memiliki dan mengoperasikan berbagai aset meliputi
gas pipelines, electricity plants, pulp and paper plants, water plants, dan broadband services.
Perkembangan pesat Enron telah menyebabkan harga saham perusahaan tersebut mengalami
kenaikan sebesar 311% dari awal tahun 1990 sampai akhir tahun 1998. Pada tahun 1999
harga saham mengalami kenaikan sebesar 56% dan pada tahun 2000 sebesar 87%. Harga
saham per lembar perusahaan adalah sebesar $83.13.
Dari hasil survey majalah Fortune tentang Most Admired Company, Enron dinobatkan
sebagai the Most Innovative Company di Amerika.
Pada tahun 2001, Enron telah menjadi konglomerat yang memiliki dan mengoperasikan gas
pipelines, electricity plants, pulp and paper plants, water plants, dan broadband
services berskala internasional, dan sahamnya diperdagangkan secara luas di pasar modal.
Sepanjang akhir periode 1990-an, saham Enron naikks ecara perlahan-lahan di NYSE,
dengan rentang perdagangan $20-$40. Dalam beberapa bulan awal tahun 2000 harga saham
Enron melonjak menjadi $70 dan mencapai puncaknya pada Agustus 2000 pada harga $90,56
dan menutup tahun dengan harga saham mendekati $80. Pada tahun 2001, tren tersebut
menurut secara drastis hingga suatu titik dimana saham Enron sebenarnya sudah tidak
berharga lagi. Pada tanggal 2 April 2002, saham Enron hanya bernilai 24 sen pada
pasar over-the-counter.
KAP Arthur Andersen
KAP Arthur Andersen didirikan pada tahun 1913 oleh Arthur Andersen dan Clarence Delany
sebagai Anderse Delany & Co. Perusahaan tersebut berubah nama menjadi Arthur Andersen
& Co. pada tahun 1918.

Andersen memimpin perusahaan sampai kematiannya pada tahun 1947, beliau adalah aktivis
pembentukan standar dalam industri akuntansi. Ketika munculnya opsi saham dalam bentuk
kompensasi, Arthur Andersen adalah KAP pertama yang mengusulkan ke FASB bahwa opsi
saham harus disertakan pada laporan biaya sehingga berdampak pada laba bersih seperti
kompensasi dalam bentuk tunai.
Setelah konsultasi IT ditetapkan pada tahun 1980, Arthun Andersen pun mengembangkan
praktek konsultasi di bidang IT tersebut, sementara KAP lain masih berfokus pada konsultasi
jasa audit. Pada akhir tahun 1990-an, Arthur Andersen telah berhasil mengali-tigakan
pendapatan per saham para partnernya.
Sesuai perkiraan, Arthur Andersen berjuang untuk menyeimbangkan antara faithfulness to
accouting standards dengan its clients desire to maximize profits, khususnya di laporan
laba rugi kuartalan. Arthur Andersen telah diduga terlibat dalam penipuan akuntansi dan audit
pada Sunbeam Products, Waste Management Inc., Asia Pulp & Paper, Baptist Foundation of
Arizona, WorldCom, dan Enron.
Kronologis Kasus
1985 Perusahaan gas alam Houston Natural Gas dan perusahaan sistem
perpipaan,InterNorth melakukan merger dan membentuk enron. Kenneth Lay, ekonom
dan mantan Departemen Interior US yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Houston
Natural Gas terpilih sebagai CEO.
1987 Enron memiliki hutang sampai dengan 75% dari nilai pasar saham.
1989 Enron mulai melebarkan sayap bisnisnya dalam perdagangan gas alam dan
komuditas lainnya.
1990 Lay mempekerjakan Jeffrey Skilling, seorang lulusan muda MBA Harvard
untuk menjadi kepala departemen keuangan Enron yang bertugas untuk memimpin usaha
perusahaan untuk fokus pada perdagangan komoditi lainnya.
1991 Richard Causey berhenti dari Arthur Andersen dan bergabung dengan Enron
sebagai Assistant Controller.
1993 Sheron Wattkins mulai bekerja di Enron. Pada kasus Enron ini ia sebagai wakil
presiden. Diamenyadari bahwa meskipun harga saham cukup tinggi sehingga nilai lebih
dapat digunakan untuk menutupi hutang entitas khusus, namun ia tahu bahwa ketika
harga saham turun akan memicu tak solvabelnya entitas dan mengembalikan hutang pada
laporan keuangan Enron.
1997 Skilling diangkat menjadi President and Chief Operating Officer of Enron. Di
tahun iniFastow menciptakan Chewco, sebuah partnership, untuk membeli saham pensiun
University of California di perusahaan jount venture yang dijuluki JEDI, tetapi Chewco tidak
memenuhi persyaratan untuk dapat disimpan di balance sheet Enron. Akhirnya, tahap
pertama yang memicu kejatuhan Enron dimulai, yaitu: menyembunyikan utang dan
menggelembungkan laba
1998 Fastow diangkat menjadi Chief Finance Officer.
1999 Causey diangkat menjadi Chief Accounting Office. Fastow menciptakan SPE
pertama, LJM, yang konon dibuat untuk membeli kinerja buruk aset Enron dan lindung
nilai (hedge) investasi-investasi beresiko. SPE LJM ini membantu Enron dalam
menyembunyikan utang perusahaan dan menggelembungkan laba. Direksi Enron menyetujui
rencana Fastow untuk menjalankan SPE yang melakukan penawaran dengan Enron, sekaligus
terus menjabat sebagai Chief Financial Officer Enron. Causey dan mantan Chief Risk
Officer, Rick Buy, dtugaskan untuk mengawasi kesepakatan tersebut untuk melindungi
kepentingan Enron..

Agustus 2000 Harga saham Enron mencapai titik tertinggi yaitu $90.
Desember 2000 Enron mengumumkan bahwa Skiling yang pada saat itu menjabat
sebagai President and Chief Operating Officer akan meneruskan posisi Lay, yaitu sebagai
CEO Enron DI Februari 2001 nanti. Lay tetap sebagai Chairman of the Board of Directors.
2001 Sherron Watkins yang pada saat itu sebagai wakil presiden di bawah Fastow,
mulai curiga dengan praktek akuntansi yang dilakukan Fastow. Sepanjang harga saham Enron
cukup tinggi, nilainya akan mencukupi untuk menutupi saldo hutang SPE dan hutang tersebut
tetap di luar pembukuan Enron. Tetapi, jika harga saham jatuh, maka akan memicu aturan
yang memaksa perusahaan untuk membubarkan SPE dan memasukkan hutang dan aset yang
terlalu tinggi pada laporan keuangan Enron.Namun, di semester ke dua tahun 2001, saham
Enron mulai jatuh dari angka $80 per saham. Karena harga sahamnya jatuh, akuntan Enron
berjuang untuk menghimpun hutang dan aset pada Spesial Purpose Entities sehingga dapat
menghindari pencatatan tersebut di laporan keuangan perusahaan.
14 Agustus 2001 Karena para investor mulai curiga dan harga saham Enron jatuh sampai
$ 47 per saham, Skilling tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatan presiden dan CEO dengan
alasan pribadi. Lay kembali menjadi CEO.
22 Agustus 2001 Setelah semakin yakin bahwa Enron dalam keadaan mengkhawatirkan,
Sherron Watikins secara pribadi menemui Ken Lay dan Legal Departement dengan
membawa enam halaman surat yang menjelaskan pelanggaran akuntansi yang
berhubungan dengan Special Purpose Entities dan memperingatkan mereka tentang
kecurangan yang dilakukan, yang kemudian ia sebut kecurangan akuntansi the worst
accounting fraud I had ever seen.Namun demikian Lay dan pengacaranya hanya diam
saja, Lay berpendapat bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang telah dilakukannya
meskipun Special Purpose Entities harus dibongkar karena harga saham Enron yang terus
menurun. Lay malah mengumumkan pada pekerja dan investor bahwa pertumbuhan
Enron di masa mendatang baik, dan menganjurkan pada investor untuk terus
menanamkan saham di Enron. Ironisnya, Lay dan eksekutif lainnya menjual secara diamdiam saham mereka. Watkins juga mengontak temannya di Arthur Anderson untuk
mendiskusikan permasalahannya pada kepala auditor, namun tidak dilakukan oleh temannya
itu.
16 Oktober 2001 Enron mengumumkan kerugian sebesar $638 pada kuartal III. Enron
juga mengambil alih hutang dan aset entitas khusus, hal ini menurunkan $544 juta atas
laba dan mengurangi nilai ekuitas pemegang saham sebesar $1.2 milyar yang berasal dari:
write-off terkait gagalnya usaha perdagangan broadband dan air, transaks SPE LJM2,
kemitraan yang awalnya dibuat oleh Fastow untuk hedging nilai aset dan menjaga ratusan
juta dollar utang dari rekening perusahaan.
19 Oktober 2001 Securities and Exchange Commission mengeluarkan perintah
penyelidikan atas keuangan Enron.
22 Oktober 2001 SEC mengumumkan bahwa mereka sedang menyelidiki Special
Purpose Entities yang dimiliki Enron. Lay mengatakan, We will cooperate fully with the
SEC and look forward to the opportunity to put any concern about these transactions to rest.
24 Oktober 2001 Fastow dipecat dari Enron.
5 November 2001 Bendahara Enron, Ben Glisan Jr. dan pengacara Enron, Kristina
Mordaunt, dipecat karena berinvestasi di SPE bentukan Fastow. Masing-masing
menginvestasikan $5,800 di 2001 dan menerima pengembalian $1,000,000 hanya dalam
beberapa minggu kemudian.
8 November 2001 SEC memerintahkan Enron untuk menyajikan kembali seluruh laporan
keuangannya selama 5 tahun, dari tahun 1997-2001, untuk menggabungkan SPEnya ke dalam
laporan keuangan perusahaan. Penyajian kembali dibuat untuk mengurangi ekuitas pemegang
saham sebesar 1,2 milyar dolar AS dan untuk menambah hutang perusahaan sebesar 2,6

milyar dolar AS. Penyajian kembali ini, mencakup transaksi dengan kemitraan Fastow yang
lain: LJM Cayman, LJM1, Chewco dan Chewco Investment. Chewco dikelola oleh karyawan
Enron Global Finance, Kopper yang dilaporkan kepada Fastow.Penyajian kembali terkait
LJM1 dan Chewco, seperti yang sebelumnya dibebankan pada laba dan pengurangan ekuitas
pemegang saham, jumlahnya sangat besar. Hal ini mengurangi mengurangi laporan laba rugi
Enron sebesar $28juta pada tahun 1997 (dari total $105juta); $133 juta pada tahun 1998 (dari
total $703); $248juta pada tahun 1999 (dari total $893); dan $99juta pada tahun 2000 (dari
total $979).Penyajian kembali tersebut mengurangi ekuitas pemegang saham yang dilaporkan
sebesar $258 juga pada tahun 1997; $391juta pada tahun 1998; $710 juta pada tahun 1999;
dan $754juta pada tahun 2000.Penyajian kembali tersebut juga meningkatkan laporan utang
sebesar $711 juta pada tahun 1997; $561 juta pada tahun 1998; $685 juta pada tahun 1999;
dan $628 juta pada tahun 2000.Enron juga mengungkapkan untuk pertama kalinya bahwa
mereka telah mengetahui juga Fastow menerima lebih dari $30 juta dari LJM1 dan LJM2.
Pengumuman ini menghancurkan kepercayaan pasar dan para investor terhadap Enron.
9 November 2001 Dynegy Inc., rival Enron, menyatakan perjanjian untuk membeli lebih
dari $8 miliar dalam bentuk saham
19 November 2001 Enron merevisi laba kuartal III dan menyatakan utang sebesar $690
juta yang jatuh tempo pada 27 November 2001
28 November 2001 Saham Enron terjun bebas dibawah $1 yaitu 24 sen membuat
Dynegy membatalkan rencana pembelian saham Enron.
2 Desember 2001 Enron menyatakan kebangkrutan / palit, ribuat pekerja diberhentikan
9 Januari 2002 Departemen Kehakiman menegaskan bahwa investigasi kriminal terhadap
Enron telah dimulai
10 Januari 2002 White House mengungkapkan bahwa Lay meminta bantuan dari dua
orang anggota kabinet sesaat sebelum Enron runtuh, tetapi tidak mendapat respon. Auditor
Enron, Arthur Anderson terbukti menghancurkan dokumen-dokumen Enron
23 Januari 2002 Lay mengundurkan diri dari jabatan Chairman of Board of Directors dan
CEO Enron
25 Januari 2002 Cliff Baxter, mantan kepala unit perdagangan yang kemudian sempat
menjadi wakil presiden (sebelum mengundurkan diri pada Mei 2001) ditemukan tewas bunuh
diri dengan luka tembak.
Februari 2002 Sherron Watkins hadir sebelum kongress komite dan membuka pada
publik apa yang ia ketahui seputar praktik akuntansi perusahaan. Ia dilabeli
whistlebower pemberani oleh pers
4 Februari 2002 Lay mengundurkan diri dari Board of Directors
7 Februari 2002 Skiling, Fastow, dan mantan ajudan Fastow, Michael Kopper muncul
dalam KOngres dengan McMahon dan pengancara Enron, Jordan MIntz. Skiling bersaksi
sedangkan Fastow dan Kopper meminta Hak Amandemen Kelima
12 Februari 2002 Lay meminta Hak Amandemen Kelima pada sidang Senat setelah
menyatakan kesedihan yang mendalam atas keruntuhan Enron.
28 Februari 2002 KAP Andersen menawarkan ganti rugi $750 jutar untuk menyelesaikan
berbagai gugatan hukum yang diajukan kepada KAP Andersen. Pemerintahan Amerika (The
US General Services Administration) melarang Enron dan KAP Andersen untuk melakukan
kontrak pekerjaan dengan lembaga pemerintahan di Amerika.
14 Maret 2002 Mantan Auditor Arthur Anderson untuk Enron, David Dunchan, didakwa
karena telah menghancurkan dokumen Enron terkait usaha penggagalan investigasi. KAP
Andersen terus menerima konsekwensi negatif dari kasus Enron berupa kehilangan klien,
pembelotan afiliasi yang bergabung dengan KAP yang lain dan pengungkapan yang
meningakat mengenai keterlibatan pegawai KAP Andersen dalam kasus Enron.

22 Maret 2002 Mantan ketua Federal Reserve, Paul Volkcer, yang direkrut untuk
melakukan revisi terhadap praktek audit dan meningkatkan kembali citra KAP Andersen
mengusulkan agar manajeman KAP Andersen yang ada diberhentikan dan membentuk suatu
komite yang diketuai oleh Paul sendiri untuk menyusun manajemen baru.
26 Maret 2002 CEO Andersen Joseph Berandino mengundurkan diri dari jabatannya
9 April 2002 David Duncan, mantan auditor Andersen untuk Enron, mengaku bersalah
karena telah mengintruksikan stafnya untuk menghancurkan dokumen sesuai kebijakan
perusahaan. Jeffrey McMahon mengumumkan pengunduran diri sebagai presiden dan Chief
Opereting Officer Enron yang berlaku efektif 1 Juni 2002.
15 Juni 2002 Andersen dihukum. Juri federal di Houston menyatakan KAP Andersen
bersalah telah melakukan hambatan terhadap proses peradilan,KAP Andersen diberhentikan
sebagai auditor Enron pada pertengahan Juni 2002. sementara KAP Andersen menyatakan
bahwa penugasan Audit oleh Enron telah berakhir pada saat Enron mengajukan proses
kebangkrutan pada 2 Desember 2001.
21 Agustus 2002 Kopper mengaku bersaalah atas pencucian uang dan konspirasi, mantan
eksekutif Enron pertama yang mencapai kesepakatan dengan Jaksa. Ia mengidentifikasikan
serangkaian SPE yang dirancang untuk membentuk imej palsu Enron yang sehat secara
finansial, sementara ia memperkaya dirinya, Fastow, dan lainnya.
12 September 2002 Tiga mantan bankir National Westminster Bank didakwa atas
penipuan kawat untuk menyedot jutaan dollar dalam pendapatan yang ditujukan untuk atasan
mereka melalui investasi dalam SPE Fastow. Mereka berjuang untuk mendapatkan ekstradisi
16 Oktober 2002 Andersen dihukum dengan masa percobaan dan denda $500,000,
Arthur Andersen telah diblokir dan dilarang beroperasi sebagai KAP, dan hanya beberapa
ratus karyawan yang tersisa setelah hukuman ini.
17 Oktober 2002 Manten trader terbaik Enron, Timothy Belden, mengaku bersalah atas
wire-fraud dan partisipasinya dalam skema untuk memainkan pasar energi selama krisis
energi di California pada tahun 2000-2001
31 Oktober 2002 Fastow didakwa dengan 78 tuduhan konspirasi, penipuan, pencucian
uang, dan lainnya
26 November 2002 Mantan eksekutif tingkat menengah Enron, Larry Lawyer, mengaku
bersalah karena telah mengajukan formulir pajak palsu sehingga $80,000 pendapatan Enron
disalurkan kepadanya sebagai hadiah atas manipulasi pajak yang dilakukannya.
4 Februari 2003 Mantan trader Enron, Jeffrey Richted, mengaku bersalah atas tindakan
konspirasi dan tidak jujur terhadap FBI dengan tujuan untuk membantu memanipulasi pasar
listrik di California pada tahun 2000.
12 Maret 2003 Dakwaan atas tuduhan memalsukan $111juta pendapatan dari gagalnya
kesepakatan video-on-the-mand dengan Blockbuster dijatuhkan terhadap 2 mantan eksekutif
akuntan dan keuangan: Kevin Howard dan Michael Krautz
30 April 2003 Dakwaan terhadap Fastow meningkat dari yang awalnya 78 dakwaan
(31/10/2009) menjadi 98 dakwaan, sementara istrinya Lea Fastow, didakwa atas kejahatan
dan konspirasi pajak dan berpartisipasa dalam beberapa kegiatan suaminya. Lima mantan
board eksekutif lainnya dituduh berbohong pada Wall Street dan investor mengenai
kemampuan jaringan Enron untuk menggelembungkan Saham Enron. Mantan bendahara
Enron, Glisan, didakwa atas konspirasi dan pencucian uang dalam penawaran SPE yang
dilakukan Fastow. Mantan eksekutif keuangan, Dan Boyle, didakwa atas konspirasi dalam
penjualan pembangkit listrik palsu di dekat Nigeria ke Merrill Lynch, untuk memenuhi target
pendapatan Enron
10 September 2003 Glisan mengaku bersalah atas perilaku konspirasi dan langsung
dijebloskan di penjara selama 5 tahun, menjadikannya mentan eksekutif pertama yang berada
di balk jeruji besu. Kemudian Glisan mulai bekerja sama dengan Jaksa.

17 September 2003 Dakwaan terbuka atas 3 mantan bankir Merrril Lynch atas peran
mereka dalam kesepakatan pembangkit listrik palsu di Neigeria. Mantan eksekutif Merril
Lynch keempat dan mantan akuntan Enron kemudian dibebankan atas dakwaan yang sama.
30 Oktober 2003 David Delainey, mantan chief executife di unit trading Enron, mengaku
bersalah atas tuduhan insider tradng, ia mengakui bahwa ia berada dalam skema manajemen
senior untuk memanipulasi pendapatan perusahaan dan melampaui ekspektasi Wallstreet
dengan menjual $4,2 juta dalam bentuk saham.
14 Januari 2004 Andrew Fastow mengaku bersalah atas 2 tuduhan konspirasi dan setuju
untuk mendekam di penjara selama 10 tahun
22 Januari 2004 Mantan akuntan top Enron, Causey, mengaku tidak tahu menahu tentang
konspirasi dan tuduhan sebagai arsitek utama dalam skema penipuan yang menyesatkan
investor
19 Februari 2004 Skiling menambahkan dakwaan Causey dan mengaku tidak bersalah
agar lepas dari 30 tuduhan termasuk: konspirasi, penipuan, dan insider trading.
6 Mei 2004 Lea Fastow, mengaku bersalah atas tuduhan formulir pajak palsu, karena
termasuk kejahatan ringan LEa dihukum maksimal 1 tahun penjara.
19 Mei 2004 Mantan sekretaris Enron, Paula Rieker, mengaku bersalah atas satu tuduhan
insider trading untuk menjua saham pada tanggal 5 July, mengetahui bahwa Enron
kehilangan uang lebih banyak daripada yang diklaim oleh publik
7 Juli 2004 Dakwaan penyegelan terhadap Lay diserahkan
8 Juli 2004 Lay menyerah kepada FBI. Dakwaan terbuka atas tuduhan berpartisipasi
dalam konspirasi untuk memanipulasi hasil keuagan Kuartalan; membuat pernyataan publik
palsu dan menyesatkan mengenai kinerja keuangan perusahaan; mengabaikan faktafakta
yang diperlukan untuk membuat laporan keuangan yang akuran dan adil. Lay mengaku tidak
tahu (plead innocent).
15 Juli 2004 Hakim US Bankruptcy, Judge Arthur Gonzalez, menegaskan rencana
reorganisasi Enron dimana sebagian besar kreditur akan menerima sekitar seperlima dari $63
juta yang mereka miliki dalam bentuk tunai atau saham.
30 Juli 2004 Mantan CEO Broadband Enron, Kenneth Rice, mengaku bersalah atas
penipuan sekuritas dan menggelapkan $13,7 juta dalam bentuk tunai dan properti yang
meliputi perhiasan dan sepasang mobil sport.
5 Agustus 2004 Mantan trader top Enron, John Forney, mengaku bersalah di San
Francisco atas manipulasi harga listrik selama krisis listrik di California pada tahun 2000
2001
25 Agustus 2004 Mantan kepala investor relations, Mark Koenig, mengaku bersalah
karena telah membantu dan bersengkokol dalam penipuan sekuritas. Koenig membantu
menyajikan laporan keuangan palsu kepada investor
31 Agustur 2004 Mantan COO Enron, Kevin Hannon, mengaku bersalah atas 1 tuduhan
konspirasi.
20 September 2004 Sidang atas penipuan dan konspirasi 4 mantan eksekutif Merril
Lynch Bank dan 2 mantan eksekutif mengah Enron dimulai
7 Oktober 2004 Mantan asisten bendahara Enron, Timothy Despain, mengaku bersalah
atas konspirasi dan bersedia untuk bekerjasama dengan Jaksa
15 Oktober 2004 Seorang hakim Inggris mendakwa 3 bankir Inggris dari Merril Lynch di
Amerika Serikat atas tuduhan penipuan yang berkaitan dengan Enron dapat diekstradisi untuk
diadili di Texas. Mereka masih berjuang melawan putusan tersebut
19 Oktober 2004 Seorang hakim federal memberikan tuntutan terpisah dari Skiling dan
Causey atas tuduhan penipuan bank dan berbohong kepada bank mengenai penggunaan

pinjaman untuk membeli saham Enron, tetapi tetap memberikan hukuman yang sama untuk
ketiganya dalam tuntutan yang lain.
3 November 2004 Juri memvonis 4 mantan eksekutif Merril Lynch Bank, termasuk
mantan kepala investasi perbankan, Daniel Bayly, dan mantan eksekutif menengah Enron,
atas penipuan dalam kasus pembangkit listrik palsu di Niagara. Seorang mantan akuntan
Enron dibebaskan.
24 Februari 2005 Seorang hakim federal menjadwalkan sidang peradilan untuk Lay,
Skiling, dan Causey pada 17 Januari 2006.
18 April 2005 Sidang peradilan Enron dimulai
31 Mei 2005 US Supreme Courte (Mahkamah Agung US) memutuskan hukuman mantan
auditor Andersen yang menghancurkan dokumen secara massal tanpa harus menemukan
maksud kriminal dibalik tindakan tersebut.
15 Juli 2005 Mantan akuntan eksekutif Enron, Christopher Calger, mengaku bersalah atas
tuduhan konspirasi yaitu berpartisipasi dalam skema pengakuan pendapatan prematur yang
tidak benar
20 Juli 2005 Juri dalam persidangan Enron membebaskan 3 dari 5 terdakwa pada
beberapa tuduhan, namun mengalami deadlock pada 164 dakwaan. Kelima terdakwa tersebut
akan diadili dalam 3 sidang terpisah, Mai, Juni, dan September 2006.
12 Desember 2005 Seorang hakim menyetujui penarikan pengakuan bersalah dari
mantan auditor Anderson yang mengaudit Enron, Duncan.
28 Desember 2005 Causey mengaku beralah atas penipuan sekuritas dan bersedia
mendekam di penjara selama 7 tahun dan melayani pemerintah. Hakim US District, Judge
Sim Lake, menjadwalakn ulang sidang Lay dan Skiling menjadi 30 Januari 2006
25 Mei 2006 Dalam jejak juri, Lay dan Skiling terbukti melakukan kecurangan
Juli 2006 Kenneth Lay meninggal karena serangan jantung sebelum ia dihukum
September 2006 Fastow menerima hukuman 10 tahun penjara
Oktober 2006 Skiling dihukum 24 tahun penjara atas penipuan
November 2006 Causey dijatuhi hukuman 5 tahun penjara
Who: Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Skandal Enron-Andersen
Pihak dari Enron Corporation
a. Kenneth Lay (Founder, Chairman dan CEO)
Enron ini dibangun dengan hutang dan dalam kegiatan operasionalnya dia juga berhutang lagi
kepada pihak lain. Sehingga hutangnya semakin bertambah banyak. Ken Lay adalah
seseorang yang telah mendirikan Enron, tetapi dia membangun Enron dengan banyak hutang
kepada pihak lain. Ketika Enron mengalami keadaan yang sulit, dalam hal ini dalam keadaan
hampir bangkut, Ken Lay mengatakan perusahaannya dalam keadaan yang baik-baik saja.
Ken Lay ini adalah orang yang licik. Dia secara diam-diam mulai menjual saham yang dia
miliki. Para investor yang lainnya tidak mengetahui bahwa perusahaan tesebut mengalami
sebuah masalah, sehingga banyak orang yang masih mau membeli saham yang dijual oleh
Ken Lay tersebut.
b. Jeffrey Skiing (Mantan Presiden, dan COO)
Jeffrey Skilling ini adalah seorang yang sangat pintar. Dia berhasil membuat Enron menjadi
sebuah perusahaan perdagangan yang sangat besar dan ekspansif. Namun, karena ambisinya
mengesampingkan rambu-rambu aturan yang berlaku baik aturan SEC maupun prinsip
akuntansi yang berterima umum.

Ia bersama Andrew Fastow memanipulasi laporan keuangan Enron. Skilling merekrut


Andrew Fastow, seorang ahli keuangan, untuk membantu menjalankan bisnis perdagangan
gas alam, dan keduanya telah datang dengan gagasan yang pandai dalam melaporkan nilai
dari kontrak jangka panjang yang mereka beli atau jual.
Mereka membujuk Komisi Bursa Saham dan Surat Berharga (SEC) AS untuk membolehkan
mereka memakai metode menilai pada harga pasar (mark to market) untuk diberlakukan
pada kontrak mereka. Dengan metode tersebut akan membuat tingkat diskonto yang rendah
pada kontrak mereka, sehingga membuat Enron melaporkan nilai aset (kontrak) dan laba
yang tinggi pada investor. Padahal kenyataannya nilai asset dan laba mereka lebih rendah dari
yang mereka laporkan.
c. Andrew Fastow (Mantan CFO)
Dia memanipulasi untuk membentuk anak perusahaan yang hanya dipakai oleh Enron untuk
mendapatkan pinjaman dana dari bank. Sehingga dalam laporan keuangan yang dimiliki oleh
Enron tidak mengalami penambahan hutang. dia bersama dengan orang-orang lainnya di
Enron, memperkaya dirinya sendiri dengan mendapatkan gaji yang tinggi dan pendapatan
saham dari SPE yang dibentuk olehnya itu.
Dia mencoba memecat Sherron Watkins yang menghadap anggota kongres dan di hadapan
umum mengutarakan apapun yang ia tahu tentang praktek akuntansi perusahaan. Dia juga
merampas komputer Sherron Watkins ketika dia mengetahui bahwa dia mencoba
memperingatkan atasannya tentang masalah yang akan terjadi jika Enron terus melakukan
manipulasi data tersebut.
d. Board of Directors
Dewan Direksi Enron gagal melidungi pemegam saham Enron dan memberikan konstribusi
pada kejatuhan perusahaan publik terbesar ketujuh di AS, dengan membiarkan Enront terlibat
dalam praktik akuntansi beresiko tinggi, konflik transaksi kepentingan yang tidak pantas,
pengungkapan kegiatan penghancuran dokumen penting, dan kompensasi eksekutif yang
berlebihan. Dewan mengetahui hal ini tetapi lebih memilih untuk menutup mata dan
merugikan pemegang saham, karyawan, dan rekan bisnis.
e. Karyawan Enron
Enron memaksa karyawan dalam hal pengelolaan dana pensiun, dimana diharuskanpembelian
saham perusahaan sebagai dana pensiun, karyawan percaya atas reputasiperusahaan. Tujuan
Enron adalah menaikan harga saham perusahaan dengan cara ini. Dan pada saat masa
jatuhnya enron, para ekskutif yang terlebih dahulu tahu telah menjualsahamnya, sedangkan
karyawan hanya dapat menjual saham sampai pada harga 26 sen. Sangat banyak terjadi
kerugian pada karyawan. Baik financial maupun moral. Karyawan Enron banyak yang tidak
diterima di perusahaan lain.
f. Sheron Wattkins
Sherron adalah seorang akuntan profesional yang kompeten dan telah bekerja untuk Arthur
Andersen selama bertahun-tahun sebelum bergabung dengan Enron. Dia mengeluhkan
praktik akuntansi agresif yang dilakukan oleh Enron. Ketika Lay tidak merespon surat yang
ia tulis, Sharron pun memberikan kesaksian di depan komte penyelidikan. Seandainya ada
anggota dewan yang mendengarkan kekhawatirannya mengenai Enron, mungkin tindakan
pencegahand dapat dilakukan.
Pihak dari KAP Arthur Andersen

Arthur Andersen memberikan sedikitnya 5 jasa atestasi dan non atestasi sekaligus. Peran
Arhur Andersen dalam skandal Enron adalah sebagai berikut:

Sebagai Eksternal Auditor Enron

Sebagai Konsultan akuntansi dan manajemen berkaitan dengan pengakuan SPE

Sebagai Internal Auditor Enron

Sebagai konsultan perpajakan Enron

Sebagai penasihat, pengkasi dari pengungkapan masalah keuangan.

Budaya internal AA didorong oleh keinginan untuk mendapatkan penghasilan, sehingga


Enron adalah salah satu sumber kekayaan AA. Mengingat fakta ini, AA dan personelnya
dihadapkan pada beberapa konflik kepentingan, yang mungkin telah dilanggar dan
melemahkan tekad mereka untuk bertindak dalam hubungan fidusia mereka sebagai auditor,
termasuk:
1) Mengaudit kerja mereka sendiri sebagai konsultan SPE, menyebabkan kurangnya
objektivitas
2) Kepentingan diri sendiri berperang melawan kepentingan umum yang mengarah ke
keingininan untuk membuat manajemen Enron puas, yaitu:

Kehilangan honor audit yang sangat besar

Mitra yang tidak disukai Enron telah dihapus dari audit

Ketidakpatuhan dengan kebijakan perusahaan dan kode etik, dan tidak


memberitaukan hal ini kepada Board of Directors

Perdebatan internal AA atas praktik akuntansi enrosn tidak disampaikan ke Komite


Audit Internal Enron

Pengungkapan publik tidak memuaskan investor

3). Staf auditor AA banyak yang meninggalkan AA dan kemudian bergabung dengan
Enron.Kekurangan AA diatas sebagian disebabkan oleh:

Kurangnya kompetensi, seperti yang ditampilkan dalam keputusan Ryhtmhs


NetConnections

Kegagalan pengendalian intern AA mengenai kepedulian terhadap Kendali Mutu


atau Standar Praktik yang telah ditolak oleh personel audit yang bertanggung jawab
terhadap Enron.

Kurangnya informasi yang disebabkan oleh: staf Enron tidak memberikan informasi
pentin, atau kegagalan sebagian personel AA dalam menemukan informasi.

Kesalahpahhaman tentang peran fidusia yang perlu dilakukan auditor

g. David B. Duncan
David menjadi karyawan Andersen selama 20 tahun, ia bertanggung jawab atas Enron sejak
1997, ia dibayar lebih dari $1 juta. David dipecat dari Andersen pada Januari 2002 dan
dibebankan hukuman karena telah memerintahkan staff Andersen untuk menghancurkan lebih
dari 1 ton dokumen yang berkaitan dengan Enron. Pada 9 April 2002, David mengaku
bersalah dengan hukuman maksimum 10 tahun, tetapi karena ia mengaku bersalah dan
bersedia menjadi saksi kemungkinan hukuman tsb dapat diringankan.
Pihak Lain
a. Securities and Exchange Commission (US SEC)
SEC juga harus bertanggungjawab pada kasus ini karena mereka memberikan persetujuan
kepada Skilling dan Andrew Fastow untuk menggunakan metode akuntansi yang
menguntungkan bagi mereka.
Dalam hal ini seharusnya SEC tidak menyetujui hal tersebut, karena hanya akan
menguntungkan beberapa pihak saja, dan pihak lainnya akan dirugikan dengan
diperbolehkannya penggunaan metode tersebut.
Jika SEC tidak memperbolehkan mereka menggunakan metode tersebut, mungkin saja kasus
ini tidak akan menjadi separah ini. Dan banyak pihak yang bisa diselamatkan atau
dihindarkan dari kasus ini.
b. Mitra Kerja
Mitra kerja dan konsumen Enron dirugikan dalam hal ini, sebut saja Blockbuster. Begitupun
dengan pemasok dan kreditor yang bekerja sama dengan Enron.
c. Investor
Sebagai hasil dari skandal Enron, investor baik pribadi maupun kelompok, kehilangan jutaan
dollar karena mereka mendapatkan informasi yang salah mengani kinerja keuangan
perusahaan, semua pemegang saham kehilangan uang yang telah mereka investasikan setelah
Enron jatuh bangkrut. Pemegang saham kehilangan hampir $11miiliar ketika harga saham
Enron yang tadinya mencapai $90 menjadi anjlok ke angka 24 sen. Investor yang trauma sulit
untuk kembali berinvestasi setelah skandal ini.
d. White House
Skandal ini semakin rumit dengan ditengarainya keterlibatan banyak pejabat tinggi gedung
putih dan politisi di Senat Amerika Serikat yang pernah menerima kucuran dana politik dari
perusahaan ini. Bahkan, tercatat 35 pejabat penting pemerintahan George W. Bush
merupakan pemegang saham Enron.

Dalam daftar perusahaan penyumbang dana politik, Enron tercatat menempati peringkat ke36, dan penyumbang peringkat ke-12 dalam penggalangan dana kampanye Bush. Akibat
pertalian semacam itu, banyak orang curiga pemerintahan Bush dan para politisi telah dan
akan memberikan perlakuan istimewa, baik dalam bisnis Enron selama ini maupun dalam
proses penyelamatan perusahaan itu.
e. Jaksa Penuntut Enron dan Departement of Justice
Penuntutan terhadap Enron (yang seringkali diprakarsai oleh SEC) telah menyebabkan
peningkatan ekspektasi kinerja dan agresivitas kejaksaan, di mana penjahat kelas eksekutif
dicurigai. Eliot Spitzer (Attoney General for The Northen District of Illinnois) dan Patrick J.
Fitzgerald (US Attorney for the Nothern District of Illinois) muncul sebagai jaksa umum
dengan ikon anjing penyerang yang mengejar setiap eksekutif Enron dengan penuh
semangat. Spitzer lebih mengutamakan penjahat selebriti dan eksekutif senior sebagai contoh
bagi orang lain, terutamaa saat SEC lambat untuk bertindak.
Spitzer dan Fitgerald menggunakan praktik penawaran-penawaran saksi yang lebih rendah
bagi eksekutif yang tidak terlalu senior, terutama CFO, untuk ditukar dengan informasi dan
kesaksian yang dapat digunakan terhadap eksekutif yang lebih senior.
Penyebab Terjadinya Skandal Enron
Begitu kompleksnya model usaha yang dimiliki oleh Enron, yang terdiri dari beragam
produk, termasuk aset tetap dan perdagangan yang melampaui skala nasional telah
menyebabkan adanya keterbatasan akuntansi. Enron mengambil keuntungan penuh dari
keterbatasan akuntansi tersebut untuk menyusun dan memoles laporan keuangan perusahaan.
Dua hal utama yang mendasari permasalahan pada laporan keuangan Enron adalah
perdagangan yang meliputi kontrak jangka panjang yang kompleks dan struktur transaksi
finansial perusahaan yang berupa konsolidasi entitas bertujuan khusus (special purpose
entities).
Trading Business dan Market-to-Market Accounting
Pada bisnis gas alam Enron, perlakuan akuntansinya sangatlah mudah, yaitu pada setiap
periode tertentu, perusahaan akan membuat daftar biaya supply gas dan pendapatan aktual
yang diterima dari penjualan tersebut.
Namun pada bisnis perdagangan, Enron mengadopsi mark-to-market accounting, yakni
begitu sebuah kontrak jangka panjang ditandatangani, present value dari future inflows dari
kontrak tersebut diakui sebagai pendapatan dan present value dari biaya kontrak tersebut
dianggap sebagai biaya. Dalam hal ini, keberlangsungan kontrak jangka panjang tersebut
seringkali dipertanyakan. Dengan adanya kesulitan untuk penerapan matching principle
antara profit dan cash, telah memberikan laporan yang menyesatkan bagi investor. Unrealized
gains and losses pada market value dari kontrak jangka panjang (yang tidak di-hedging)
kemudian dilaporkan sebagai bagian dari pendapatan tahunan pada saat terjadinya. Sebagai
contoh, Enron melakukan kontrak kerjasama dengan Blockbuster Video pada tahun 2000.
Pilot Project tersebut terdapat di Portland, Seattle dan Salt Lake City. Berdasarkan proyek
tersebut Enron kemudian mengakui estimasi profit sebesar $ 110 juta walaupun berbagai
kalangan mempertanyakan keberlangsungan teknis dari proyek tersebut dan permintaan
pasar. Ketika jaringan tersebut gagal, Blockbuster menarik kerjasamanya dan Enron tetap
meneruskan untuk mengakui future profit walaupun kontrak tersebut berakhir dengan
kerugian.

Special Purpose Entities


Enron telah menggunakan ratusan special purpose entities sampai dengan tahun 2001 dimana
kebanyakan SPE tersebut digunakan untuk mendanai pembelian forward contract dengan
produsen gas untuk menyuplai gas dalam sebuah kontrak jangka panjang. Namun beberapa
SPE kontroversial didesain secara khusus untuk mendapatkan tujuan pelaporan keuangan
yaitu memenuhi ekspektasi investor.
Sebagai contohnya, pada tahun 1997, Enron berkeinginan untuk membeli kepemilikan dari
beberapa joint venture, namun Enron tidak mau memperlihatkan hutang miliknya yang
digunakan untuk membiayai akuisisi tersebut pada neraca perusahaan. Maka Enron
menggunakan Chewco, sebuah SPE yang dikontrol oleh Enron untuk menerbitkan hutang
dengan Enron sebagai penjamin untuk medapatkan kepemilikan pada joint venture seharga $
383 juta.
Transaksi tersebut telah diatur sedemikian rupa sehingga Enron tidak harus mengkonsolidasi
Chewco ataupun joint venture tersebut pada laporan keuangannya, sehingga Enron tidak
perlu mengakui hutang pada pembukuannya.
Seperti yang telah diakui Enron pada bulan Oktober 2001, bahwa mereka telah melanggar
standar akuntasi yang mengharuskan sedikitnya 3% dari aset dimiliki oleh investor ekuitas
independen. Dengan mengabaikan persyaratan tersebut, Enron dapat menghindari konsolidasi
dari SPE tersebut. Sebagai akibatnya, neraca perusahaan tersebut mengalami understated
pada liabilitas dan overstated pada ekuitas dan pendapatan. Selain itu, Enron hanya
melakukan pengungkapan minim mengenai hubungannya dengan SPE. Perusahaan tersebut
hanya mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan hedging untuk menurunkan resiko
pada investasinya melalui transaksi dengan SPE. Sehingga investor tidak menyadari bahwa
SPE tersebut telah menggunakan saham dan jaminan finansial dari Enron, sehingga Enron
tidak terproteksi dari resiko. Di samping itu, Enron juga memperbolehkan beberapa karyawan
kunci di perusahaan untuk menjadi partner di SPE tersebut.
Secara garis besar, SPE dapat digunakan secara tidak etis dan ilegal untuk:

Melebih-lebihkan pendapatan dan laba

Meningkatkan kas dan menyembunyikan utang ata kewajiban

Menutupi kerugian terhadap investasi saham Enron pada perusahaan lain

Menghindari-aturan-aturan akuntansi untuk penilaian saham Enron

Secara tidak benar memperkaya beberapa eksekutif Enron

Memanipulasi harga saham Enron sehingga menyesatkan investor dan memperkaya


eksekutif Enron yang memegang opsi saham.

Penghindaran Pajak

Beberapa Bank, KAP, bankir investasi, dan kantor pengacara bahkan politisi diduga
memberikan konsultasi mengenai penyembunyian pajak terstruktur pada 12 transaksi besar
yang mencapai $2 miliar dari tahun 1995-2001. Manajemen Enron menemukan bahwa
transaksi pajak tidak hanya bisa menghemat pajak, tetapi dapat digunakan untuk menciptakan
laba dalam lapora keuangan. Setelah itu, departemen pajak Enron tampak sebagai pusat
revenue center.
Secara umum, empat strategi yang digunakan Enron dalam transaksi terstruktur tersebut
adalah:
1. Duplikasi kerugian ekonomi tunggal (mengurangi kerugian yang sama sebanyak dua
kali)
2. Pergeseran dari DPP aset tak tersusutkan (tidak kena pajak) menjadi suatu aset
terususutkan (kena pajak)
3. Timbulnya biaya pemotongan pajak untuk pembayaran pokok
4. Timbulnya biaya jasa bagi pihak yang memberikan bantuan untuk WP lain.
Enron mencatat kredit yang timbul dari 2 strategi pertama sebagai pendapatan keuangan.
Enron sengaja terlibat dalam transaksi yang sedikit atau tanpa tujuan bisnis untuk
mendapatkan perlakuan pajak dan akuntansi yang menguntungkan. Sedangkan transaksitransaksi rumit, kompleksitasknya direkayasa dengan saran dari penasihat luar yang canggih.
Para penasihat ini adalah:
Arthur Andersen, Banker Trust, Vinson Elkins, Deloitte Touche, Akun-Gump-Straus, Chase
Manhattan, Deutsche Bank, dan Ernst Young.
Pada kasus ini, Lea Fastow, istri Andrew Fastow yang pernah menjabat sebagai asisten
bendaharan mengaku bersalah atas tuduhan penipuan pajak, ia mengajukan formulir pajak
palsu. Lea dihukum 1 tahun penjara.
Budaya Perusahaan, Konflik Kepentingan, Whistle-Blower
Banyak karyawan Enron mengetahui tentang kurangnya integritas dalam transaksi SPE,
tetapi hanya sedikit karyawan yang berani maju untuk melaporkannya, dan Dewan Direksi
Enron tidak mendengar keluhan mereka.
Kekurangan integritas pada budaya Enron berada dalam taraf yang cukup menyedihkan.
Salah satu teka-teki Enron yang tidak dijelaskan adalah mengapa orang-orang yang
memiliki interaksi berkelanjutan dengan anggota dewan ternyata tidak maju untuk
mengungkapkan kejanggalan tsb?, seperti:

Richard Causey, Chief Accounting Officer

Richard Buy, Chief Risk Officer

Ben Glisan, Bendahara dan akuntan senior

Jika mereka memiliki loyalitas kepada perusahaan, seharusnya mereka melaporkan kejanggal
SPE kepada anggota dewan. Kurangnya loyalitas ini ada hubungannya dengan keinginan
untuk memuaskan Fastow dan Lay yang memberikan pengaruh signifikasn terhadap rencana
insentif opsi saham enron.
Kegagalan Fungsi Dewan Direksi
Dewan Direksi beroperasi di bawah undang-undang yang membebankan tugas fidusia kepada
mereka untuk bertindak dengan itikad baik, sewajarnya, dan dalam kepentingan terbaik dari
perusahaan an pemegang sahamnya.
Dalam kerangka kerja tata kelola, Dewan Direksi Enron bertanggung jawab untuk mengawasi
lini bisnis Enron dan strategi untuk membiayainya. Salah satu bidang usaha Enron, yaitu:
bisnis perdagangan energi secara online, memerlukan akses ke lini kredit yang luas.
Pada saat yang sama, sifat dari bisnis ini menyebabkan fluktuasi laba yang besar dari triwulan
ke triwuan, sehingga mengarah pada pendanaan berbiaya rendah. Lini bisnis lainnya, yaitu:
jaringan serat optik (yang sebagian besar tidak berguna) juga kekurangan kas.
Semua anggota Dewasn Dieksi sangat menyadari dan mendukung fokus Enron di peringkat
kredit, arus kas dan beban utang. Semua orang akrab dengan strategi asset light. Disinilah
titik dimana Dewan Direksi Enron tidak menjalankan tugas fidusia, mereka hanya bertindak
demi kepentingan perusahaan bukan pemegang saham.
Dampak dan Keberlanjutan Skandal Enron
Meskipun sebelumnya telah ada upaya untuk memperkuat tata kelola dan praktik akuntansi
sebelum terjadinya skandal Enron, gaung reformasi atas tata kelola baru terdengar keras
setelah terjadi kemarahan publik atas skandal Enron pada bulan Desember 2001. Presiden
Bush berjanji untuk melakukan reformasi lebih lanjut untuk memperlambat dorongan pasar.
Namun, gagal karena tak lama setelah skandal Enron, datang berita mengejutkan bahwa
perusahaan raksasa WorldCom juga mengalami kesulitas keuangan.
Munculnya WorldCom
Pada tahun 1990 terjadi masalah fundamental ekonomi pada WorldCom yaitu terlalu
besarnya kapasitas telekomunikasi. Masalah ini terjadi karena pada tahun 1998 Amerika
mengalami resesi ekonomi sehingga permintaan terhadap infrastruktur internet berkurang
drastis. Hal ini berimbas pada pendapatan WorldCom yang menurun drastis sehingga
pendpatan ini jauh dari yang diharapkan. Padahal untuk biaya akuisisi dan untuk membiayai
investasi infrastruktur WorldCom menggunakan sumber pendanaan dari luar atau utang.
Nilai pasar saham perusahaan WorldCom turun dari sekitar 150 milyar dollar (januari 2000)
menjadi hanya sekitar $150 juta (1 juli 2002). Keadaan ini membuatan pihak manajemen
berusaha melakukan praktek-praktek akuntansi untuk menghindari berita buruk tersebut.
Dalam laporannya pada 25 Juni WorldCom mengakui bahwa perusahan mengklasifikasikan
lebih dari $ 3,8 milyar untuk beban jaringan sebagai pengeluaran modal. Beben jaringan
adalah beban yang dibayar oleh WorldCom kepda perusahaan lain untuk jaringan
telekomunikasi, seperti biaya akses dan biaya pengiriman pesan bagi WorldCom. Dilaporkan

sekitar $ 3,005 milyar telah salah diklasifiksi pada tahun 2001, sementara sisanya sekitar $
797 juta pada triwulan pertama tahun 2002.berdasarkan data WorldCom $14,7 milyar pad
tahun 2001 disajikan sebagai biaya.
Dengan memindahkan akun beban kepada akun modal, WorldCommampu menaikkan
pendapatan atau laba. WorldCom mampu menaikan laba karena akun beban dicatat lebih
rendah, sedangkan akun aset dicatat lebih tinggi karena beban kapitalisasi disajikan sebagai
beban investasi.
Pada 25 Juni 2002, saham WorldCom dari $64,5 pada pertengahan 1999 menjadi kurang dari
$2 per saham. Dan turun lagi hingga kurang dari $1 yang akhirnya nilai sahamnya kurang
dari 1 sen. Para pegawai WorldCom yang mempunyai saham perusahaan sebagai bagian dari
dana pensiun mereka juga mengalami kerugian. Pada akhir tahun 2000 sekitar 32 % atau
$642,3 juta dana pensiun mereka berupa saham.Dan mengumumkan akan memberhentikan
17.000 karyawan dari total 85 ribu karyawan.
Pada 21 Juli 2002, WorldCom mengikuti program proteksi kebangkrutan sementara dari
departemen kehakiman Amerika serikat. WorldCom melaporkan aset sebesar $103 milyar
dengan total utang $41 milyar. Kebangkrutan WorldCom merupakan kebangkrutan yang
paling besar di Amerika Serikat
Pada tahun 2004 WorldCom berubah nama mnjadi MCI, dan CEO WorldCom diganti dari
Ebbers menjadi John Sidgemore. Scott D. Sullivan didakwa dengan hukuman penjara
maksimum 25 tahun penjara sedangkan Ebbers didakwa dengan hukuman penjara lebih dari
25 tahun.
Disahkannya SOX
Pengumuman oleh WorldCom tentang manipulasi laba akuntansi secara besar-besaran telah
memukul pasar modal, media dan juga politisi. Maka pada 30 juli 2002 disahkanlah
Sarbanes-oxley act, yaitu undang-undang baru yang mengatur reformasi tata kelola. Nama
Sarbanes-oxley sendiri diambil dari dua orang politisi yang menjadi inisitor undang-undang
tersebut.
SOX adalah hukum keamanan AS yang paling jauh jangakauannya, yang berlaku semenjak
US security Act of 1933 dan Securities Exchange Act of 1934, yang mendorong SEC pada
tahun 1934 untuk menjalankan undang-undang tersebut. Banyak ketentuan SOX memerlukan
implementasi tindakan SEC, dan studi lebih lanjut untuk memperoleh jalan yang terbaik
sebagai pedoman masa depan.
SOX telah menciptakan sebuah kerangka kerja peraturan internasional bagi perusahaan dalam
mencari akses ke pasar modal AS dan auditornya. SOX menetapkan standar baru pada tata
kelola yang akan diterapkan pada semua perusahaan perusahaan yang telah terdaftar di SEC,
yaitu yang terdaftar dibursa saham AS termasuk perusahaan-perusahaan asing besar yang
terdaftar di bursa AS. Lebih dari 200 perusahaan terbesar di Kanada, dan banyak perusahaan
internasional besar lainnya, harus mematuhi peraturan ini.
Demikian juga SOX menetapkan kerangka kerja baru untuk profesi akuntansi AS yang
menggantikan pengaturan diri oleh profesi dengan Public Company Accounting Oversight
Board (PCAOB). PCAOB akan mengawasi semua KAP yang mengaudit perusahaan yang

terlah terdaftar di SEC, seperti halnya perturan akuntansi dan pengungkapan perusahaanperusahaan tersebut.
Bencana keuangan sebelumnya, termasuk kegagalan tata kelola Enron, Arthur Andersen, dan
WorldCom, meningkatkan kesadaran di AS, Kanada, Australia dan Inggris bahwa kerangka
tata kelola harus diperbaiki. Secara khusus, dalam rangka menghadapi krisis kredibilitas tata
kelola dan mengembalikan kepercayaan dalam system pasar modal
Perusahaan saat ini, tindakan yang dibutuhkan untuk memenuhi harapan masyarakat
mencakup hal-hal sebagai berikut

Klarifikasi peran, tanggung jawab dan akuntabilitas dari dewa direksi, subkomitenya,
diri para direktur pribadi dan auditor.

Memastikan bahwa para direktur memiliki informasi yang cukup mengenai rencana
dan kegiatan perusahaan, kecukupan kebijakan dan pengendalian internal untuk
memastikan kepatuhan, dan kepatuhan actual, termasuk keprihatinan para whistleblower.

Memastikan bahwa para direktur memiliki kompetensi keuangan yang memadai dan
keahlian lainnya yang diperlukan.

Memastikan bahwa laporan keuangan akurat, lengkap, dapat dpahamidan transparan.

Memastikan bahwa standar akuntansi memadai untuk melindungi kepentingan para


investor.

Dampak SOX Terhadap Tata Kelola, Akuntabilitas dan Manajemen


Kerangka tata kelola SOX akan memfokuskan perhatian pada direktud dan manajemen pada
isu-isu yang sangat penting mengenai tata kelola dan proses pelaporan yang baik. Secara
khusu, perkembangan berikut akan membawa perubahan positif dan perubahan jangka
panjang yang:

Fokus spesifik pada peningkatan akuntabilitas dan pelaporan kepada pemegam saham
publik; pengendalian intern terkait dan sitem whistle-blower; serta atas sertifikasi
CEO dan CFO, sertifikasi palsu akan dianggap sebagai tindak pidana.

Penguatan peran komite audit, independensi penuh para direktur yang menjabat, arus
informasi, serta kemampuan auditor untuk melaporkan dan terlibat dengan komite
dalam diskusi yang bermakna.

Klasifikasi peran, tanggun jawab, dan kompetensi dari para direktud dan komite
dewan.

Definis konflik kepentingan dan pentingnya menghindari situasi tersebut, serta kode
etik bagi CFO dan lainnya

Peningkatan denda yang dijatuhkan atas kesalahan.

Namun, sulitnya menemukan pakar keuangan untuk menjabat sebagai direktur dan komite
menjadi suatu tantangan tersendiri. Persyaratan waktu dan risiko hukum telah meningkat,
memaksa pengurangan jumlah anggota dewan direksi, serta honor dewan dan komite audit
menjadi lebih tinggi. Pelatihan kompetensi direktur sedang tumbuh dan akan menjadi suatu
norma.
Kecil kemungkinannya bahwa perusahaan-perusahaan kecil dan perusahaan asing secara
sukarela akan mengadopsi sepenuhnya rezim tata kelola baru ini karena memakan waktu dan
biaya. Hal ini mungkin menciptakan sistem tata kelola 2 tingkat yang mungkin tidak
mendukung beberapa investor. Beberapa perusahaan akan mengundurkan diri dari SEC dan
Pasar Modal AS, seperti yang sudah dilakukan oleh Porsche.
Pada akhirnya, jika sistem tata kelola SOX telah dilaksanakan, akankah kasus kegagalan
Enron, WorldCom, dan bencana keuangan lainnya dapat dihindari? Tentu saja tidak,
contohnya Lehman Brothers, paling tidak kini upaya untuk menghindarinya menjadi lebih
tinggi.
Dampak Terhadap Profesi Akuntan dan Praktik Audit
Menurut SOX salah satu penyebab terjadinya kekacauan / fraud terhadap laporan keuangan
adalah kondisi hiruk-pikuknya jasa yang diberikan kantor akuntan publik, atau dikenal
dengan multi-disciplinary practice. Untuk menghindari conflict of interest dalam kode etik
akuntan; independent in appearance, sehingga dalam SOX Section 201 membatasi jasa-jasa
non-audit. jasa-jasa berikut apabila diberikan bersamaan dengan jasa audit akan bertentangan
dengan hukum (unlawful):

Pembukuan, atau jasa lain berkaitan dengan jasa pencataran akuntansi dan
penyusunan laporan keuangan dari klien yang diaudit.

Desain dan implementasi dari system informasi keuangan.

Jasa appraisal atau valuation service, pendapat mengenai kewajaran (fairness


opinions), atau laporan mengenai sumbangan dalam bentuk jasa (contribution-in-kind
reports)

Jasa aktuarial.

Jasa-jasa audit internal (internal audit outsourcing services)

Selain itu, agar auditor tidak terlalu dekat dengan klien sehingga dapat kehilangan
objektivitasnya, SOX juga mengatur rotasi atau pertukaran auditor. hal ini diatur dalam SOX
Section 203, menetapkan rotasi dari lead audit partner dan concurring audit partner setiap 5
(lima) tahun.

Profesi akuntansi AS kehilangan kebebasannya untuk menawarkan layanan non-audit kepada


klien. Layanan non-audit yang ditawarkan telah dipangkas, dan karena layanan tersebut
biasanya harus disediakan oleh perusahaan yang tidak melakukan audit perusahaan sehingga
menjadi kurang efisien atau lebih mahal untuk melakukan audit kepada klien.
Margin upah layanan audit meningkat secara dramatis sebagai akibat dari tuntutan yang
sangat besar terhadap kepatuhan pengerjaan Section 404 bersama dengan tinjauan atas
integritas pengendalian intern perusahaan dan keakuratan laporan keuangan. LOnjakan
permintaan jasa audit menimbulkan kurangnya tenaga audit yang memenuhi syarat. Ada
semacam protes terhadap biaya kepatuhan pengerjaan sesuai Section 404, diperkirakan
sebesar $7,8 juta pada tahun 2004 untuk masing-masing perusahaan. SEC berdalih mereka
tidak pernah mengatakan bahwa pekerjaan audit harus benar-benar lengkap, tetapi
berdasarkan penilaian. Hal ini sedikit melegakan ketakutan dari beberapa CEO dan CFO
yang khawatir akan hukuman penjara, serta pengacara dan auditor yang menyarankan
pendekatan ultrakonservatif.
Meskipun demikian biaya pengerjaan Section 404 sangatlah besar. Namun jumlah biaya
seluruh perusahaan terdaftar US jika digabungkan ($5miliar) hasilnya masih lebih kecil dari
padajumlah uang yang lenyap pada skandal Enron ($90 miliar). Hubungan cost-benefir
bahkan lebih menguntungkan jika kerugian dari skandal perusahaan lainnya di masa depan
dapat dihindari. Biaya ini pun seharusnya semkin mengecil dari waktu ke waktu. Sistem
pengendalian intern yang lebih baik juga meningkatkan biaya audt tahunan secara moderat.
Di AS dan yuridiksi asing, beberapa kantor akuntan profesional kecil telah mendahului audit
SEC atau pendaftar pasar saham karena mereka tetap ingin memelihara margin praktik yang
terintegrasi. Hal ini berarti bahwa sistem auditor dua tingkat dikembangkan di seluruh dunia.
Satu untuk perusahaan besar dan satu untuk perusahaan kecil.
Dampak penuh SOX terus berkembang, tetapi penguatan akuntabilitas, serta penguatan
standar independensi dan hubungan auditor ke subkomite audit, akan membantu auditor
melayani kepentingan publik.
Dampak Terhadap Profesi Akuntan dan Praktik Audit di Indonesia
Pembentukan Sarbanes-Oxley Act berdampak terhadap profesi akuntansi di Indonesia ada
beberapa peraturan yang keluarkan di Indonesia terkait dengan pembentukan Sarbanes-Oxley
Act diantaranya:
1. Keputusan Mentri Keuangan (KMK) Tgl 30 Sept 2002, No.
423/KMK.06/2002 Tentang Jasa Akuntan Publik. Selanjutnya Menteri Keuangan RI
pada tanggal 5 Pebruari 2008 menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan No.
17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik yang merupakan penyempurnaan
Keputusan Menteri Keuangan No. 423/KMK.06/2002 dan No.
359/KMK.06/2003 Tentang Jasa Akuntan Publik yang dianggap sudah tidak
memadai).
2. Keputusan Menteri BUMN Tgl 31 Juli 2002, Nomor: KEP-117/M-MBU/2002 Tetang
Penerapan Praktek Good Corporate Governance Pada BUMN

3. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) Tgl 12 Nov 2002,
Nomor: KEP-20/PM/2002. Tentang Independensi Akuntan yang memberikan jasa
audit di Pasar Modal
4. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) Tgl 22 Des 2003,
Nomor: KEP- 40/PM/2003. Tentang Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan
5. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) Tgl24 Sept 2004,
Nomor : KEP 29/PM/2004, Tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja
Komite Audit
Perusahaan yang telah menerapkan SOX di Indonesia contohnya adalah PT Telekomunikasi
Indonesia, Tbk. Sebagai perusahaan yang telah tercatat di bursa saham dalam negeri dan luar
negeri berkomitmen penuh untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan serta praktek
tata kelola perusahaan dengan pembenahan internal dan pemenuhan standard internasional.
Standard internasional khususnya aturan yang ditetapkan oleh US Securities and Exchange
Commission (US SEC) yang harus diadopsi oleh PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, sebagai
salah satu perusahaan yang telah listing di New York Stock Exchange (NYSE), adalah
Sarbanes Oxley Act (SOA). Sistem pengendalian internal yang tercantum dalam Sarbanes
Oxley Act merupakan unsur penting dalam praktek Good Corporate Governance. PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk saat ini menerapkan tiga section Sarbanes Oxley Act, yaitu
section 302, section 404, dan section 906. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan tiga section
tersebut dapat diterapkan sebagai langkah awal implementasi Sarbanes Oxley Act. Sedangkan
untuk section lainnya, kemungkinan di masa mendatang juga akan diterapkan secara bertahap
bila perusahaan telah mampu menjalankan tiga section tersebut dengan lengkap dan benar,
serta adanya pertimbangan manajemen terhadap benefit yang diperoleh.
Dampak Terhadap Trend Etika Bisnis
Kasus Enron, Arthur andersen, dan WorldCom memberikan kesadaran yang jah lebih besar
dari masalah-masalah dan tren etika yang sedang berjalan, termasuk konflik kepentingan dan
kontrol kepentingan pribadi, tugas fidusia direksi kepada pemegang saham, tugas perusahaan
dan auditor terhadap kepentingan umum, serta mkana sebuah bisnis yang baik dalam
mengembangkan suatu etika budaya.
Etika budaya tersebut harus didasarkan pada kejujuran, keadilan, elas kasihan, integritas,
kemampuan meramalkan dan tanggung jawab, serta terfokus pada pengembangan
kepercayaan dan respek untuk kepentingan stakeholders. Pada kenyataannya, perusahaanperusahaan AS dan asing yang memiliki tata kelola yang baik telah melakukannya, hal ini
mengindikasikan bahwa mereka sudah melakukan apa yang direkomendasikan oleh SOX.
Etika dan reputasi menjadi lebih dikatikan secara langsung daripada sebelumnya. Sebagai
contoh, Arthur Andersen dijatuhkan denda $500,000. Denda ini tidak signifikan dibandingkan
dengan kehilagan pendapatan di masa mendatang.
Sebuah perusahaan dengan reputasi tinggi dan memiliki 85,000 karyawan hancur dalam
waktu kurang dari 1 tahun. Manajemen risiko yang komprehensif harus mencakup risiko
etika dan perkiraan yang lebih tinggi.
Strategi modern, pendekatan-pendekatan audit berbasis risiko harus memasukan risiko etika.
Sistem pengendalian intern harus mencakup pemantauan risiko etika, dan sistem baru harus

terus dikembangkan untuk mendukungnya. Akhirnya, kebutuhan untuk bisnis dan pendidikan
etika profesional menunjukkan betapa pentingnnya etika untuk perusahaan dan budaya
perusahaan, serta kinerja para akuntan profesional kini semakin jelas.
Dampak Skandal Enron Terhadap AS
Dari segi politik, pemerintahan Bush, yang menerima kontribusi dari Enron, menemukan diri
mereka berada pada posisi antar mengembalikan dana untuk Enron atau menymbangkannya
untuk amal. Enron juga mempengaruhi Amerika Serikat dalam beberapa hal penting. Jika ada
satu hal positif yang dapat diceritakan mengenai skandal Enron, satu hal itu adalah bahwa
skandal itu sendiri meningkatkan kesadaran akan pentingnya integritas dalam Akuntansi dan
bisnis, dan menyebabkan terciptanya pengamanan baru untuk memastikan bahwa skandal
seperti ini tidak akan terjadi lagi, setidaknya tidak separah Enron.
Enron dengan sengaja menciptakan krisis listrik palsu di California pada tahun 2000-2001.
Antara 30%-50% perusahaan di industri energi di Califfornia gulung tikar, bahkan mencapai
76% saat Enron mendorong harga listrik lebih tinggi sampai 9 kali lipat.
Analisis Kasus
Pelanggaran 5 Prinsip Tata Kelola pada kasus Enron-Anderson
National Committee on Governance (NCG,2006) memublikasikan Indonesias Core of Good
Corporate Governance pada 17 Oktober 2006.
Dalam kode GCG ini, NCG mengemukakan lima prinsip GCG, yaitu:
1. Transparansi (transparency)
Berkaitan dengan kewajiban bagi para pengelola untuk menjalankan prinsip keterbukaan
dalam proses keputusan dan penyampaian informasi. Keterbukaan dalam menyampaikan
informasi juga mengandung arti bahwa informasi yang disampaikan harus lengkap, benar dan
tepat waktu kepada semua pemangku kepentingan.
Dalam Skandal Enron dimensi Transparasi jelas dilanggar, hal ini dapat dilihat pada:

2.

Pembentukan SPE dengan tujuan melebih-lebihkan laba, meningkatkan kas dan


menyembunyikan utang, menutup-nutupi kerugian terhadap investasi saham Enron
pada perusahaan lain

Memberikan informasi kinerja perusahaan yang menyesatkan kepada investor dan


karyawan sehingga investor dan karyawan membeli saham Enron dalam jumlah besar
pada saat harga saham Enron tinggi, sebelum anjloknya harga saham.

Tidak memasukan transaksi SPE dalam Laporan Konsolidasi Enron, sehingga angka
yang ada dalam neraca tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

Penghancuran dokumen terkait SPE sebanyak lebih dari 1 ton kertas dengan tujuan
menutup-nutupi kebenaran dan menghambat penyidikan

Akuntabilitas (accountability)

Prinsip akuntabilitas adalah prinsip dimana para pengelola berkewajiban untuk membina
system akuntansi yang efektif untuk menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya.
Untuk itu, diperlukan kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertangungjawaban setiap organ
sehingga pengelolaan berjalan efektif.
Dalam skandal Enron, pihak manajemen tidak mengelola sistem akuntansi yang efektif
sehingga menghasilkan laporan keuangan yang tidak dapat dipercaya, hal ini dapat dicermati
pada:

SEC membolehkan buah perusahaan untuk mengeluarkan pencatatan SPE dari


laporan keuangannya. Hal ini diperbolehkan jika terdapat pihak independen yang
mempunyai control atas entitas tujuan tersebut dan apabila pihak independen tersebut
memiliki setidaknya 3% dari seluruh SPE tersebut. Peraturan tersebut kurang tepat,
karena seharusnya perusahaan tidak boleh mengeluarkan pencatatan SPE dari laporan
keuangannya. Hal tersebut seharusnya dilaporkan dalam laporan keuangan konsilidasi
yang dimiliki oleh perusahaan induk. Dalam kasus Enron ini, hal tersebut tidak dicatat
dan tidak dilaporkan dalam laporan keuangan konsilidasi perusahaan induk, ditambah
lagi pihak yang memiliki SPE adalah pihak internal Enron.

Melakukan skema prabayar, yakni mencatat transaksi prabayar dalam pengiriman


energi masa depan sebagai laba operasi dan arus kas saat ini, bukan sebagai arus kas
dari operasi pembiayaan.

Perhitungan pajak yang salah yaitu mengakui kerugian yang sama sebanyak dua kali
dan mencatatnya sebagai pendapatan; dan merubah dpp aset tak tersusutkan (tidak
kena pajak) menjadi aset tersusutkan (kena pajak)

Melakukan praktik asset light, yaitu menjual aset pembangkin listrik secara langsung
atau menjual kepentingan di dalamnya kepada investor secara lansung, dan mencatat
pendapatan tersebut sebagai laba dari hasil monetizing dan syndicating

3. Responsibilitas (responsibility)
Prinsip responsibilitas adalah prinsip di mana para pengelola wajib memberikan
pertanggungjawaban atas semua tindakan dalam mengelola perusahaan kepada para
pemangku kepentingan sebagai wujud kepercayaan yang diberikan kepadanya. Prinsip
tanggung jawab ada sebagai konsekuensi logis dari kepercayaan dan wewenang yang
diberikan oleh para pemangku kepentingan kepada para pengelola perusahaan.
Skandal Enron memberikan contoh pelanggaran tanggung jawab ini mempunyai dalam
berbagai dimensi, yaitu:
1) Dimensi ekonomi, Enron tidak bertanggungjawab untuk memberian keuntungan
ekonomis bagi para pemangku kepentingan. Dimensi ini juga melanggar prinsip fairness
dimana tidak semua pemangku kepentingan mendapatakan keuntungan ekonomis yang sama
bahkan ada yang dirugikan.
2) Dimensi hukum, tanggung jawab manajemen Enron tidak diwujudkan dalam bentuk
ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Enron melakukan ratusan transaksi

yang melanggar hukum, mulai dari konspirasi, penipuan, pemalsuan laporan, insider trading,
penipuan pajak, pencucian uang, dan penipuan sekuritas.
Vinson dan Elkins, pengacara eksternal Enron sudah sudah menyadari adanya risiko tak
terkendali dalam transaksi yang dilakukan Enron, mereka juga telah mengajukan laporan
penjabaran risiko kepada Lay, namun akibat loyalitasnya kepada Lay mereka tetap
menyetujui SPE yang dikelola oleh Faslow dan SPE lain. Padahal dalam etika hukum,
pengacara eksternal memiliki kewajiban etis yang jelas untuk menarik diri dari transaksi di
mana klien jelas melanggar hukum.
3)
Dimensi moral, artinya sejauh mana wujud tanggung jawab tindakan manajemen
tersebut telah dirasakan keadilannya bagi semua pemangku kepantingan. Selama prinsip
fairness tidak terpenuhi, dimensi moral sulit untuk dipertanggunjawabkan. Selain itu kegiatan
perusahaan Enron tidak menghormati nilai-nilai dasar yang mendasari ketertarikan pemangku
kepentingan (hypernorms) sehingga saat mendekati detik-detik keterpurukan, Enron tidak
mendapat dukungan dari pemangku kepentingan selain dengan cara curang.
4) Dimensi spiritual, artinya sejauh mana tindakan manajemen telah mampu mewujudkan
akuntabilitas diri atau telah dirasakan sebagai bagian dari ibadah sesuai dengan ajaran agama
yang diyakininya. Eksekutif Enron hanya mengejar tujuan lahirian dengan mengabaikan
tujuan spiritual, dengan ini tahap yang dicapai hanya PQ dan IQ saja.
4. Independensi (independency)
Independensi adalah keadaan di mana para pengelola dalam mengambil suatu keputusan
bersifat professional, mandiri, bebas dari konflik kepentingan, dan bebas dari
tekanan/pengaruh dari mana pun yang bertentangan dengan perundang-undangan yang
berlaku dan prinsip-prinsip pengelolaan yang sehat.
Pelanggaran prinsip ini terjadi pada, sebagai perikut:

Arthur Ardensen menyediakan setidaknya 5 layanan kepada Enron yaitu: (1) sebagai
auditor eksternal yang mengaudit kewajaran laporan keuangan Enron; (2) sebagai
Konsultan akuntansi dan manajemen, termasuk saat transaksi SPE; (3) sebagai
penasihat perpajakan; (4) sebagai internal auditor Enron; (5) sebagai penasihat
masalah keuangan. Kelima layanan tersebut memiliki fungsi yang saling bertabrakan
bahkan tumpang tindih hingga menyebabkan hilangnya objektivitas Arthur Andersen.

Banyaknya auditor Arthur Andersen yang kemudian pindah dan menjabat sebagai
eksekutif Enron, seperti: Richard Causey, Sheron Wattkins, dan staff lainnya

SPE seharusnya dimiliki oleh pihak independen, tetapi SPE yang bertransaksi dengan
Enron adalah bentukan Fastow yang merupakan CFO Enron

5. Kesetaraan (fairness)
Perlakuan yang setara merupakan prinsip agar para pengelola memperlakukan semua
pemangku kepentingan secara adil dan merata, baik pemangku kepentingan primer (pemasok,
pelanggan, karyawan, pemodal) maupun pemangku kepentingan sekunder (pemerintah,

masyarakat dan yang lainnya). Prinsip ini juga sangat erat dan tumpang tindih dengan prinsip
akuntabilitas dan tanggung jawab.
Enron memperlakukan pemangku kepentingannya dengan tidak adil, yaitu:

Karyawan memperkaya diri mereka sendiri tanpa persetujuan Dewan Direksi


(Kompensasi berlebihan).

Konflik kepentingan yang tidak pantas, yaitu adanya Insider Trading dimana Dewan
Direksi menyetujui CFO untuk mengoperasikan dana ekuitas swasta SPE LJM yang
melakukan transaksi bisnis dengan Enron dan meperoleh keuntungan dari biaya
Enron.

Kegagalan tugas fidusida Dewan Direksi yaitu: gagal melindungi pemegang saham
Enron dari kegiatan yang tidak adil sehingga merugikan pemegang saham, karyawan,
dan rekan bisnis.

Memanipulas krisis listrik di California dan menerapkan skema prabayar dan


menetapkan harga listrik sangat tinggi sampai 9kali lipat demi keuntungan eksekutif
Enron. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan di industri sejenis gulung tikar,
pengangguran di California bertambah, masyarakan kesulitan mendapatkan listrik dan
harus membayar mahal untuk itu.

Karyawan diperlakukan tidak adil. Enron mengharuskan dana pensiun karyawannya


diubah dalam bentuk saham. Tujuan Enron adalah menaikan harga saham perusahaan
dengan cara ini. Dan pada saat masa jatuhnya enron, para ekskutif yang terlebih
dahulu tahu telah menjuals ahamnya, sedangkan karyawan hanya dapat menjual
saham sampai pada harga 26 sen. Sangat banyak terjadi kerugian pada karyawan.
Baik financial maupun moral. Karyawan Enron banyak yang tidak diterima di
perusahaan lain.

Pelanggaran Etika dari Sudut Pandang Agency Theory


Jika dilihat dari Agency Theory, Andersen sebagai KAP telah menciderai kepercayaan dari
pihak stock holder atau principal untuk memberikan suatu fairrness information mengenai
pertanggungjawaban dari pihak agent dalam mengemban amanah dari principal. Pihak agent
dalam hal ini manajemen Enron telah bertindak secara rasional untuk kepentingan dirinya
(self interest oriented) dengan melupakan norma dan etika bisnis yang sehat.
Lalu apa yang dituai oleh Enron dan KAP Andersen dari sebuah ketidak jujuran, kebohongan
atau dari praktik bisnis yang tidak etis adalah hutang dan sebuah kehancuran yang
menyisakan penderitaan bagi banyak pihak disamping proses peradilan dan tuntutan hukum.
Artinya secara kasat mata kasus Enron (baik manajemen Enron maupun KAP Andersen) telah
melakukan malpraktik jika dilihat dari etika bisnis dan profesi akuntan antara lain :
1.

Adanya praktik discrimination of information/unfair discrimination, melalui


suburnya praktik insider trading, dimana hal ini sangat diketahui oleh Board of

Director Enron, dengan demikian dalam praktik bisnis di Enron sarat dengan
collusion. Kondisi ini diperkuat oleh Bussines Round Table (BRT), pada tanggal 16
Pebruari 2002 menyatakan bahwa : (a). Tindakan dan perilaku yang tidak sehat dari
manajemen Enron berperan besar dari kebangkrutan perusahaan; (b). Telah terjadi
pelanggaran terhadap norma etika corporate governance dan corporate responsibility
oleh manajemen perusahaan; (c). Perilaku manajemen Enron merupakan pelanggaran
besar-besaran terhadap kepercayaan yang diberikan kepada perusahaan.
2.

Adanya Deception Information, yang dilakukan pihak manajemen Enron


maupun KAP Arthur Andersen, mereka mengetahui tentang praktek akuntansi dan
bisnis yang tidak sehat. Tetapi demi trust dari investor dan publik kedua belah pihak
merekayasa laporan keuangan mulai dari tahun 1985 sampai dengan Enron menjadi
hancur berantakan.Bahkan CEO Enron saat menjelang kebangkrutannya masih tetap
melakukan Deception dengan menyebutkan bahwa Enron secara berkesinambungan
memberikan prospek yang sangat baik. KAP Andersen tidak mau mengungkapkan apa
sebenarnya terjadi dengan Enron, bahkan awal tahun 2001 berdasarkan hasil evaluasi
Enron tetap dipertahankan, hal ini dimungkinkan adanya coercion atau bribery, karena
pihak Gedung Putih termasuk Wakil Presiden Amerika Serikat juga di indikasikan
terlibat dalam kasus Enron ini.

3.

Arthur Andersen, merupakan kantor akuntan publik- The big six- yang
melakukan Audit terhadap laporan keuangan Enron Corp. tidak hanya melakukan
manipulasi laporan keuangan Enron, KAP Andersen telah melakuklan tindakan yang
tidak etis dengan menghancurkan dokumen-dokumen penting yang berkaitan dengan
kasus Enron. Arthur Andersen memusnahkan dokumen pada periode sejak kasus
Enron mulai mencuat ke permukaan, sampai dengan munculnya panggilan
pengadilan. Walaupun penghancuran dokumen tersebut sesuai kebijakan internal
Andersen, tetapi kasus ini dianggap melanggar hukum dan menyebabkan kredibilitas
Arthur Andersen hancur. Disini Andersen telah ingkar dari sikap profesionallisme
sebagai akuntan independen dengan melakukan tindakan knowingly and recklessly
yaitu menerbitkan laporan audit yang salah dan meyesatkan (deception of
information).

PENUTUP
Kesimpulan
Studi Kasus Enron
1.

Kebohongan yang dilakukan pada sebuah sistem terbuka seperti organisasi


Enron cepat atau lambat pasti akan terbongkar dan dapat menyeret segolongan nama
yang terkait dengan skandal perusahaan ini ke dalam pengadilan yang berujung pada
penjara.

2.

Kasus kasus kejahatan ekonomi tingkat tinggi selalu saja mengorbankan


kepentingan orang banyak. Telah terjadi pelanggaran terhadap kode etik berbagai
profesi seperti akuntan, pengacara dan sebagainya, dimana segelintir profesional
tersebut serakah dengan memanfaatkan ketidaktahuan dan keawaman banyak orang.
Hal ini mengakibatkan bencana yang mencelakakan banyak pihak seperti ribuan
pekerja, pemegang saham, para pemasok, kreditor, dan pihak-pihak lainnya.

3.

Terbongkarnya praktek persekongkolan tingkat tinggi ini menjadi bukti bahwa


praktek bisnis yang bersih dan transparan akan lebih langgeng ( sustainable ). Prinsip
prinsip tata kelola korporasi yang baik ( good corporate governance ) harus dijaga
dan dipelihara. Pengelolaan haruslah dilakukan secara transparan, fair, akuntabel,
serta menjaga keseimbangan lingkungan.

4.

Bagi pihak hukum, baik pengadilan maupun pengacara harus dengan tegas dan
bijak untuk menangani kasus seperti ini agar tidak terjadi kejanggalan dan kerancuan
dalam penyelesaian kasus kasus seperti ini di kemudian hari. Segala bentuk
kejahatan tidak boleh ditoleransi.

3.2 Saran
Studi Kasus Enron
Kasus Enron menjadi sebuah pelajaran bagi dunia bisnis di seluruh dunia. Apabila suatu
praktik atau perilaku yang dilandasi dengan ketidak-baikan akhirnya akan menuai ketidakbaikan pula. Saran dari kelompok kami untuk entitas bisnis agar tidak jatuh seperti yang
dialami Enron :
1. Menjunjung tinggi nilai-nilai spiritualitas dan etika agar setiap perilaku senantiasa
berpijak untuk kebaikan semua.
2. Jangan melakukan hal yang dapat merugikan orang banyak untuk memperkaya diri
sendiri.
3. Saran bagi KAP Arthur Anderson :
4. Menjunjung tinggi kejujuran dan profesionalitas
5. Mematuhi kode etik menggunakan prinsip Akuntansi Berterima Umum
6. Menjaga integritas profesi dan tidak merangkap jabatan sekaligu