Anda di halaman 1dari 9

IDENTIFIKASI BAHAN BERBAHAYA DALAM

KRIM PEMUTIH MERK X


Yustika Natalia Trisnawati, 30209012
Program Studi D-III Analis Farmasi Makanan dan Minuman
Fakultas Farmasi Institut Ilmu Kesehatan
ABSTRACT
Cosmetic is very important matter among womankind, for example
whitening cream. The are many cosmetics do not compatible with the consumer
skin is caused by existence of dangerous substance research namely to know there
is not content dangerous substance in whitening cream brand X. In this
research, to identification the Hydroquinone it used by thin layer chromatography
as accrording to method procedure analyze the preparation of make up year 1988.
The sample is whitening cream brand X. The result from research which have
been used to indicate that the sample of whitening cream brand X at
identification Hydroquinone anticipated do not contain the Hydroquinone because
Rf of sample 0. In the test of qualitative mercury with two method equally
positive because the result of first test is colors ranging from arrange to bright red
and at second test wire of Cu to change become while shine. Conclusion from this
research that sample of whitening cream brand X containing dangerous
substance that is mercury.
Keywords : Whitening cream, Hydroquinone, Mercury and KLT.
ABSTRAK
Kosmetik merupakan hal yang sangat penting di kalangan kaum wanita,
contohnya krim pemutih. Banyak krim pemutih yang tidak cocok dengan kulit
konsumen karena adanya penambahan bahan berbahaya seperti Hidrokuinon dan
Merkuri. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui ada tidaknya
kandungan bahan berbahaya dalam krim pemutih merk X. Dalam penelitian ini,
untuk identifikasi Hidrokuinon dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis
Tipis. Sedangkan dalam analisa Merkuri / raksa menggunakan uji kualitatif sesuai
dengan prosedur metode analisis sediaan rias tahun 1988. Dengan sampel krim
pemutih merk X. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan
bahwa sampel krim pemutih merk X pada identifikasi Hidrokuinon diduga tidak
mengandung Hidrokuinon karena Rf sampel 0. Dalam uji kualitatif Merkuri /
Raksa dengan dua metode uji sama-sama positif karena hasil uji pertama berwarna
jingga dan pada uji kedua kawat Cu berubah menjadi putih mengkilat.
Kesimpulan dari penelitian ini bahwa sampel krim pemutih merk X
mengandung bahan berbahaya yaitu Merkuri/ raksa.
Kata Kunci : Krim Pemutih, Hidrokuinon, Merkuri dan KLT.

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Kulit yang mulus, bersih dan
sehat merupakan dambaan setiap
orang. Kesehatan kulit dapat
mencerminkan kesehatan seseorang
keseluruhan. Selain itu, kulit juga
menjadi
ukuran
kecantikan.
Sayangnya, orang tidak menyadari
bahwa pola hidup dan lingkungan
turut mempengaruhi kesehatan kulit.
Pola hidup dan lingkungan yang
tidak
sehat
pada
gilirannya
menimbulkan banyak masalah kulit,
antara lain, jerawat, kulit kering,
kasar, berkerut, berminyak dan flek
di wajah.
Faktor
lain
yang
juga
menyebabkan masalah kulit adalah
kosmetik.
Terkadang
kaum
perempuan tergiur untuk membeli
kosmetik berdasarkan rekomendasi
seorang teman atau iklan yang begitu
gencar di televisi. Padahal belum
tentu kosmetik tersebut cocok untuk
jenis kulit pemakai.
Dalam keseharian pun kita
menggunakan kosmetik perawatan,
seperti susu pembersih, penyegar,
hand and body lotion, krim siang,
krim malam, dan krim mata. Fungsi
dari kosmetik perawatan adalah
mengangkat
kotoran
yang
mencemari kulit, mempertahankan
komposisi cairan kulit, melindungi
kulit dari paparan sinar ultra violet,
memperlambat timbulnya kerutan
dan melembutkan kulit yang kasar.
(Wasitaatmadja, 1997). Tetapi pada
kenyataannya, tidak semua kosmetik
itu aman dan bisa melindungi kulit.
Terkadang kosmetika dicampur
dengan bahan-bahan yang berasal
dari obat topikal yang dapat
mempengaruhi struktur dan faal sel

kulit. Bahan-bahan tersebut misalnya


: anti jerawat (sulfur, resorsin), anti
jasad renik (heksaklorofen), anti
pengeluaran keringat (alumunium
klorida), plasenta atau hormon
(estrogen). Bahan-bahan inilah yang
kemudian dikenal sebagai kosmedik
atau kosmeto-medik.
(Wasitaatmadja, 1997).
Dalam beberapa kosmetik
dapat ditemukan berbagai bahan
kimia yang berbahaya bagi kulit,
seperti merkuri dan hidrokinon.
Bahan-bahan tersebut sebetulnya
sudah dilarang penggunaannya sejak
tahun 1998 melalui Peraturan
Menteri
Kesehatan
RI
No.445/MENKES/PER/V/1998.
Sejauh ini bahan-bahan kimia
tersebut belum tergantikan dengan
bahan-bahan lainnya yang bersifat
lebih alami. Bahan-bahan kimia
tersebut dapat memicu timbulnya
kanker.
Dalam hal ini, sebelum
kosmetik dipasarkan atau disalurkan
kepada konsumen harus dianalis
terlebih dahulu, apakah kosmetik
tersebut berbahaya bagi kosumen
atau tidak agar produk yang
dihasilkan
tidak
merugikan
konsumen sehingga aman untuk
digunakan. Selain itu, sebelum
membeli kosmetik para konsumen
sebaiknya mengetahui bahan-bahan
yang terkandung dalam kosmetik
tersebut. Dengan demikian dapat
meminimalisir dari kerusakan kulit
yang ditimbulkan.
Dari beberapa kejadian yang
telah dijelaskan di atas, maka penulis
ingin melakukan sebuah penelitian
dengan
mengangkat
judul
Identifikasi
Bahan
Berbahaya
Dalam Krim Pemutih Merk X.

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di
atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah apakah dalam
sampel krim pemutih merk X
mengandung bahan berbahaya?
C.

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengidentifikasi ada
tidaknya bahan berbahaya dalam
krim pemutih merk X.
D.

Batasan Masalah
Bahan berbahaya yang akan
diteliti oleh penulis dalam penelitian
ini adalah Hidrokuinon dan Merkuri
(Hg / raksa).

METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Waktu
Identifikasi
bahan
berbahaya
dalam
krim
pemutih merk X dan
pengambilan
data
dilaksanakan pada bulan 20
Desember
2011 21
Desember 2011
2. Tempat
Identifikasi
bahan
berbahaya
dalam
krim
pemutih merk X dilakukan
di Laboratorium Analisa
Obat, Institut Ilmu Kesehatan
Bhakti Wiyata, Kediri.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada
identifikasi bahan berbahaya
dalam krim pemutih merk
X yakni :

a. Beaker glass 50 ml merk


Pyrex
b. Neraca analitis merk
Mettler Toledo AL204
c. Spatula
d. Labu ukur 25 ml merk
Pyrex
e. Bejana
kromatografi
(chamber)
f. Pipet ukur 1 ml, 5 ml, 10
ml merk Pyrex
g. Batang pengaduk
h. Lampu spiritus, kaki tiga
dan asbes
i. Pipa kapiler 10 l
j. Kertas saring
k. Corong pisah merk Pyrex
2. Bahan
Bahan-bahan
yang
dibutuhkan dalam identifikasi
bahan berbahaya dalam krim
pemutih merk X yakni :
a. Krim pemutih merk X
b. Asam klorida (HCl) 4 M
c. Etanol
d. Silica gel GF 254 nm
e. Toluen dan Asam Asetat
Glasial
f. Metanol dan Khloroform
g. Aquadest
h. Eter
i. HCl 25 % dan HNO3
(3:1)
j. KI
C. Prosedur Kerja
1. Larutan Uji :
Sejumlah
cuplikan
setara
dengan
25
mg
Hidrokuinon
ditimbang
seksama, ditambah 0,25 ml
HCl 4 M dan 5 ml Etanol
(95%). Kemudian dilelehkan.
Dituang ke dalam labu
tentukur 25 ml, ditambah

Etanol
sampai
kemudian saring (A).

tanda,

2. Larutan Baku
Sejumlah 25 mg
Hidrokuinon BBP ditimbang
seksama, dimasukkan ke
dalam labu tentukur 25 ml,
ditambah 0,25 ml HCl 4 M.
Kemudian ditambah Etanol
sampai tanda (B).
3. Identifikasi KLT
a. Fase diam =
Silica Gel GF 254 nm
b. Fase gerak =
1) Toluen : Asetat Glasial
(8:20)
2) Metanol : Khloroform
(1:1)
c. Penjenuhan =
Dengan kertas saring
d. Volume penotolan =
Larutan A dan Larutan B
@ 10l
e. Jarak rambat = 10 cm
f. Penampak bercak =
Cahaya Ultra Violet
4. Cara Kerja
a.
Diatas silica gel GF 254
nm ditotolkan larutan A
dan B dengan volume
penotolan masing-masing
sebanyak 10l dengan
menggunakan
pipa
kapiler dengan jarak 0,5
cm dari bagian bawah.
b.
Jenuhkan larutan fase
gerak dengan kertas
saring.
c.
Kemudian silica gel GF
254 nm dimasukkan ke
dalam chamber yang
berisi fase gerak yaitu
Toluen dan Asam Asetat

d.
e.

f.

g.

Glasial
dengan
perbandingan 8:20 dan
Metanol : Khloroform
(1:1).
Lalu dibiarkan fase gerak
(pelarut) naik ke atas.
Setelah itu silica gel GF
254 nm diangkat dan
dikeringkan.
Untuk mengetahui lokasi
dari noda dapat dilihat
dengan
menggunakan
cahaya ultra violet 254
nm.
Kemudian diukur harga
Rf-nya.
(Metode
Analisis
=
54/KO/92 dan Metode
Analisis Sediaan Rias,
1988).

D. Analisa Raksa Dalam Krim


1. Larutan uji
a. Ditimbang 5 gram sampel
kemudian diekstraksi 3x
dengan 25 ml eter dan
dipusingkan.
b. Fase eter dibuang, fase air
ditambah 10 ml campuran
larutan HCl 25 % dan
HNO3 (3:1).
c. Dipanaskan
sampai
kering kemudian diulangi
dengan ditambah 10 ml
campuran larutan HCl
25% dan HNO3 (3:1).
d. Sisa penguapan ditambah
dengan
10
ml
air
(aquadest)
dipanaskan,
kemudian
didinginkan
dan disaring.
2. Cara Uji
a. 1 ml Larutan uji ditambah
larutan KI lewat dinding
jingga KI berlebih
hilang.

b. Kawat Cu diampas
ditambah larutan uji
diamkan digosok
mengkilat,
dipanaskan
mengkilat.
(Metode Sediaan Rias,
1988 ).

2. Data Analisa Raksa Dalam


Krim

HASIL dan PENGOLAHAN


DATA
A. Hasil Penelitian
1. Data Kromatografi Lapis
Tipis pada Analisa
Hidrokuinon
Pada penelitian yang
dilakukan
secara
Kromatografi Lapis Tipis
setelah sampel dan baku
pembanding ditotolkan ke
lempeng silica gel GF
254nm, dimasukkan ke dalam
chamber. Setelah dieluasi
lempeng dikeringkan pada
udara
bebas.
Kemudian
diamati penampak bercaknya
pada sinar ultra violet 254 nm
dan didapatkan data sebagai
berikut :
a. Hasil kromatogram pada
fase gerak Toluen : Asam
Asetat Glasial (8:20)
Jarak baku : 6,3 cm
Jarak sampel : 0 cm
Jarak eluen : 8,5 cm
b. Hasil kromatogram pada
fase gerak metanol :
khloroform (1:1)
Jarak baku : 6,8 cm
Jarak sampel : 0 cm
Jarak eluen : 8,5 cm

(a)
(b)
Gambar 4.1 Hasil Analisa
Raksa / Merkuri Uji
Pertama
Keterangan :
Gambar (a) : 1 ml larutan uji
sebelum
ditambahkan
larutan KI.
Gambar (b) : 1 tetes larutan uji
+ 1 tetes larutan
KI lewat dinding
jingga (+).

(a)

(b)

Gambar 4.2 Hasil Analisa Raksa /


Merkuri Uji Kedua

Keterangan :
Gambar (a) : kawat Cu
sebelum
dituangi
larutan uji

Gambar (b)

: kawat Cu
setelah
dituangi
larutan uji
kawat Cu
berubah
menjadi
warna putih
mengkilat
(+).

B.

Pengolahan Data
Perhitungan harga Rf pada
analisa Hidrokuinon dengan
metode Kromatografi Lapis
Tipis :
Harga Rf =
Jarak titik tengah noda dari titik awal
Jarak tepi muka pelarut dari titik awal

1. Perhitungan harga Rf pada


fase gerak Toluen : Asam
Asetat Glasial (8:20)
Harga Rf baku
=

6,3 cm
8,5 cm

= 0,74

Harga Rf sampel
=

0cm
=0
8,5cm

2. Perhitungan harga Rf pada


fase
gerak
Metanol
:
Khloroform (1:1)
Harga Rf baku

6,8cm
8,5cm
Harga Rf sampel
0cm
=
=0
8,5cm

3. Perhitungan Rf Selisih
b) Rf selisih 1
= | Rf baku Rf sampel |
= | 0,74 0 |
= 0,74
( 0,1 mengandung )
c) Rf selisih 2
= | Rf baku Rf sampel |
= | 0,8 0 |
= 0,8
( 0,1 mengandung)
4. Kesimpulan :
Jadi,
sampel
krim
pemutih merk X diduga
tidak
mengandung
hidrokuinon karena Rf selisih
kedua fase gerak yang
berbeda lebih dari 0,1.
PEMBAHASAN
Uji keberadaan bahan berbahaya
yakni hidrokuinon dalam krim
pemutih merk X menggunakan
metode Kromatografi Lapis Tipis
dengan 2 fase gerak yang berbeda
yaitu Toluen : Asam Asetat Glasial
dengan perbandingan 8:20 dan
Metanol : Khloroform dengan
perbandingan 1:1. Dari hasil
penelitian dengan menggunakan
kedua eluen tersebut didapatkan
harga Rf sampel masing-masing 0
dan Rf baku pada fase gerak Toluen :
Asam Asetat Glasial (8:20) = 0,74 ;
pada fase gerak Metanol:Khloroform
(1:1) = 0,8. Dalam hal ini dapat
dilihat bahwa Hidrokuinon tidak
tereluasi dan Rf selisih masingmasing fase gerak juga lebih dari 0,1.
Jadi, sampel tersebut diduga tidak
mengandung Hidrokuinon.
Jika dalam hasil Kromatografi
Lapis Tipis Rf sampel tidak naik,
maka untuk mengetahui sampel
tersebut mengandung Hidrokuinon
atau tidak dilakukan penampak

bercak yakni cahaya ultra violet 254


nm. Pengukuran hidrokuinon pada
lempeng kromatografi dilakukan
dalam waktu yang tidak lama dari
saat penyinaran, maksimal 24 jam.
Hal ini disebabkan karena sifat
Hidrokuinon yang tidak stabil oleh
cahaya. Semakin lama jarak waktu
pengukuran maka semakin berkurang
jumlah Hidrokuinon yang berkurang.
Selain
Hidrokuinon,
dalam
penelitian
ini juga melakukan
identifikasi
adanya
kandungan
merkuri (Hg/raksa). Di dalam cara
pengujian merkuri, dilakukan dengan
dua cara. Dari hasil pengujian
pertama dapat diketahui bahwa
sampel positif mengandung merkuri /
raksa. Hal ini ditandai dengan
berubahnya warna larutan uji
menjadi jingga setelah ditetesi
dengan larutan KI lewat dinding.
Untuk mempertegas hasil dari uji
pertama, maka dilakukan pengujian
dengan cara kedua yakni dengan
menggunakan kawat Cu. Hasil pada
pengujian kedua juga positif, yang
ditandai dengan berubahnya warna
dari kawat Cu (tembaga) menjadi
putih mengkilat setelah dituangi
dengan larutan uji.
Dalam pembuatan larutan uji
untuk analisa merkuri atau raksa
sampel harus diekstraksi terlebih
dahulu
sebanyak
3x
dengan
menggunakan 25 ml eter. Pada
proses ekstraksi terbentuk 2 fase
yang berbeda. Fase eter di bagian
atas dan fase air di bagian bawah.
Hal ini disebabkan karena eter
memiliki berat jenis yang lebih
rendah bila dibandingkan dengan air.
Maka, dari penelitian di atas
dapat ditunjukkan bahwa sampel
krim pemutih merk X mengandung

bahan berbahaya yaitu


(Hg/raksa).

Merkuri

PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari karya tulis
ilmiah ini adalah krim pemutih merk
X mengandung bahan berbahaya
yaitu Merkuri ( Hg/ Raksa ) karena
pada pengujian Merkuri ( Hg/ Raksa)
yang pertama, larutan uji berubah
menjadi berwarna jingga setelah
ditetesi larutan KI lewat dinding dan
pada pengujian kedua, kawat Cu
berubah warna menjadi putih
mengkilat.
B. Saran
1. Saran untuk penelitian :
a. Diperlukan
penelitian
kandungan
bahan-bahan
berbahaya yang lain dalam
krim pemutih merk X.
b. Pada penelitian berikutnya
disarankan
menggunakan
metode
lain
yang
menggunakan alat lebih
canggih.
c. Sebaiknya
menggunakan
reagen yang baru supaya
hasilnya dapat lebih spesifik
2. Saran untuk masyarakat :
a. Konsumen hendaknya lebih
selektif
dalam
memilih
kosmetik terutama krim
pemutih yang beredar di
pasaran.
b. Dalam membeli kosmetik,
sebaiknya
memperhatikan
izin produksinya, apakah
benar-benar dari Badan POM
maupun dari Dinas Kesehatan
atau tidak.
c. Masyarakat sebaiknya tidak
tertarik pada iklan-iklan

kosmetik yang belum jelas


ataupun membeli kosmetik
atas dasar rekomendasi dari
seseorang.
d. Masyarakat
sebaiknya
membeli kosmetik yang
cocok untuk kebutuhan kulit
masing-masing
dan
memperhatikan
efek
sampingnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,
1195.
Farmakope
Indonesia Edisi IV. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Anonim, 1980. Kodek Kosmetik
Indonesia
Volume
II.
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Anonim. 1992. Metode Analisa.
Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Jr.

Day, Underwood, A.L.1989.


Analisis Kimia Kuantitatif Edisi
Kelima. Jakarta : Erlangga.

Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar


Kimia Analitik. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia.
Kartodidjojo,
Sugijarti.
1988.
Beberapa
Metode
Analisis
Sediaan
Rias.
Jakarta
:
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Moeloek. 1998. Undang-undang
Tentang Permenkes RI No.

445/Menkes/Per/V/
Jakarta.

1998.

Ngatidjan. 2006. Toksikologi :


Racun, Keracunan, dan Terapi
Keracunan. Yogyakarta: Bagian
Farmakologi & Toksikologi
Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta.
P. Hadyana, Setiono, A.L. 1994.
Buku Ajar Vogel Kimia Analisis
Kuantitatif Anorganik Edisi 4.
Indonesia : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Roth, H.J., Blascke, G. 1994.
Analisis Farmasi. Yogyakarta :
Gadjah Mada University Press.
Stahl, Egon. 1985. Analisi Obat
Secara
Kromatografi
Dan
Mikroskopi. Bandung: Penerbit
ITB.
Tono, Eddy. 1999. Teknik Membuat
Kosmetik dan Tip Kecantikan.
Jakarta : PT. Rineka Cipta. Hal.
32.
Wasitaatmadja, Sjarif M, 1997.
Penuntun Ilmu Kosmetik Medik.
Jakarta : Penerbit Universitas
Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai