Anda di halaman 1dari 8

STRUMA NON TOKSIK

A. Pendahuluan
Struma non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid pada pasien eutiroid,
tidak berhubungan dengan neoplastik atau proses inflamasi. Dapat difus dan simetris
atau nodular.
Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka
pembesaran ini disebut struma nodusa. Struma nodusa disertai tanda-tanda
hipertiroidisme disebut struma nodusa non-toksik. Struma nodusa atau adenomatosa
terutama ditemukan di daerah pegunungan karena defisiensi iodium. Biasanya tiroid
sudah mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada
saat dewasa. Struma multinodusa terjadi pada wanita usia lanjut dan perubahan yang
terdapat pada kelenjar berupa hiperplasi sampai bentuk involusi. Kebanyakan
penderita struma nodusa tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme
dan hipertiroidisme. Nodul mungkin tunggal tetapi kebanyakan berkembang menjadi
multinoduler yang tidak berfungsi. Degenerasi jaringan menyebabkan kista atau
adenoma. Karena pertumbuhannya sering berangsur-angsur, struma dapat menjadi
besar tanpa ada gejala kecuali benjolan di leher. Walaupun sebagian struma nodusa
tidak mengganggu pernapasan karena menonjol ke depan, sebagian lain dapat
menyebabkan penyempitan trakea jika pembesarannya bilateral. Pendorongan
bilateral dapat dicitrakan dengan foto Rontgen polos (trakea pedang). Penyempitan
yang berarti menyebabkan gangguan pernapasan sampai akhirnya terjadi dispnea
dengan stridor inspiratror.
B. Anatomi Tiroid
Kelenjar tiroid/gondok terletak di bagian bawah leher, kelenjar ini memiliki
dua bagian lobus yang dihubungkan oleh ismus yang masing-masing berbentuk
lonjong berukuran panjang 2,55 cm, lebar 1,5 cm, tebal 1-1,5 cm dan berkisar 10-20
gram.

Kelenjar

tiroid

sangat

penting

untuk

mengatur

metabolisme

dan

bertanggungjawab atas normalnya kerja setiap sel tubuh. Kelenjar ini memproduksi
hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormon tersebut ke
dalam aliran darah. Terdapat 4 atom yodium di setiap molekul T4 dan T3 atom yodium
pada setiap molekul T3. Hormon tersebut dikendalikan oleh kadar hormon
perangsang tiroid TSH (thyroid stimulating hormone) yang dihasilkan oleh lobus
anterior kelenjar hipofisis. Yodium adalah bahan dasar pembentukan hormon T3 dan
T4 yang diperoleh dari makanan dan minuman yang mengandung yodium. Gambar
anatomi tiroid dapat dilihat dibawah ini.

C. Fisiologi Kelenjar Tiroid


Hormon tiroid memiliki efek pada pertumbuhan sel, perkembangan dan
metabolisme energi. Selain itu hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan
pematangan jaringan tubuh dan energi, mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan
reaksi metabolik, menambah sintesis asam ribonukleat (RNA), menambah produksi
panas, absorpsi intestinal terhadap glukosa, merangsang pertumbuhan somatis dan
berperan dalam perkembangan normal sistem saraf pusat. Tidak adanya hormonhormon ini, membuat retardasi mental dan kematangan neurologik timbul pada saat
lahir dan bayi.
D. Etiologi
Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tiroid merupakan
faktor penyebab pembesaran kelenjar tiroid, antara lain :

1) Defisiensi iodium
Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi
air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah
pegunungan.
2) Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tiroid
- Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol,
-

lobak, kacang kedelai)


Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya: thiocarbamide,

sulfonylurea dan litium).


3) Hiperplasi dan involusi kelenjar tiroid
Pada umumnya ditemui pada masa pertumbuhan, pubertas, menstruasi,
kehamilan, laktasi, menopause, infeksi dan stress lainnya. Dimana menimbulkan
nodularitas kelenjar tiroid serta kelainan arsitektur yang dapat berkelanjutan
dengan berkurangnya aliran darah didaerah tersebut.
E. Patofisiologi
Iodium merupakan bahan utama yang dibutuhkan untuk pembentukan hormon
tiroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk kedalam sirkulasi darah
dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tiroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida
menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon (TSH)
yang kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid.
Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T 4) dan
molekul triiodotironin (T3).
Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid
Stimulating Hormon (TSH) dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang
triiodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan
keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tiroid sekaligus
menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif
meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan
pembesaran kelenjar tiroid.
F. Manifestasi Klinis
Struma nodusa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal :

1. Berdasarkan jumlah nodul : bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodusa
soliter (uninodusa) dan bila lebih dari satu disebut multinodusa.
2. Berdasarkan kemampuan menangkap yodium radioaktif : nodul dingin, nodul
hangat, dan nodul panas.
3. Berdasarkan konsistensinya : nodul lunak, kistik, keras, atau sangat keras.
Pada umumnya pasien struma nodusa datang berobat karena keluhan kosmetik
atau ketakutan akan keganasan. Sebagian kecil pasien, khususnya yang dengan struma
nodusa besar, mengeluh adanya gejala mekanis, yaitu penekanan pada esophagus
(disfagia) atau trakea (sesak napas). Gejala penekanan ini juga oleh tiroiditis kronis
karena konsistensinya yang keras. Biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila
timbul perdarahan di dalam nodul.
Keganasan tiroid yang diinfiltrasi nervus rekurens menyebabkan terjadinya
suara parau. Kadang-kadang penderita datang karena adanya benjolan pada leher
sebelah lateral atas yang ternyata adalah metastase karsinoma tiroid pada kelenjar
getah bening, sedangkan tumor primernya sendiri ukurannya masih kecil. Atau
penderita datang karena benjolan di kepala yang ternyata suatu metastase karsinoma
tiroid pada kranium.
G. Diagnosis
Anamnesa sangatlah penting untuk mengetahui patogenesis atau macam
kelainan dari struma nodusa non toksika tersebut. Perlu ditanyakan apakah penderita
dari daerah endemis dan banyak tetangga yang sakit seperti penderita (struma
endemik). Apakah sebelumnya penderita pernah mengalami sakit leher bagian depan
bawah disertai peningkatan suhu tubuh (karsinoma kronis). Apakah ada yang
meninggal akibat penyakit yang sama dengan penderita (karsinoma tiroid tipe
noduler).
Pada status lokalis pemeriksaan fisik perlu dinilai :
1. Jumlah nodul
2. Konsistensi
3. Nyeri pada penekanan : ada atau tiduk
4. Pembesaran kelenjar getah bening

Inspeksi dari depan penderita, nampak suatu benjolan pada leher bagian depan
bawah yang bergerak ke atas pada waktu penderita menelan ludah. Diperhatikan kulit
di atasnya apakah hiperemi, seperti kulit jeruk, ulserasi.
Palpasi dari belakang penderita dengan ibu jari kedua tangan pada tengkuk
penderita dan jari-jari lain meraba benjolan pada leher penderita. Pada palpasi harus
diperhatikan :
o Lokalisasi
o
o
o
o
o

benjolan terhadap trakea (mengenai lobus kiri, kanan atau

keduanya)
Ukuran (diameter terbesar dari benjolan, nyatakan dalam sentimeter)
Konsistensi
Mobilitas
Infiltrat terhadap kulit/jaringan sekitar
Apakah batas bawah benjolan dapat diraba (bila tak teraba mungkin ada
bagian yang masuk ke retrosternal)
Meskipun keganasan dapat saja terjadi pada nodul yang multipel, namun pada

umumnya pada keganasan nodulnya biasanya soliter dan konsistensinya keras sampai
sangat keras. Yang multiple biasanya tidak ganas kecuali bila salah satu nodul tersebut
lebih menonjol dan lebih keras daripada yang lain.
Harus juga diraba kemungkinan pembesaran kelenjar getah bening leher,
umumnya metastase karsinoma tiroid pada rantai juguler. Pemeriksaan penunjang
meliputi :
1. Pemeriksaan Sidik Tiroid (I131)
Pemeriksaan ini tidak untuk membedakan jinak atau ganas secara pasti.
Dengan sifat jaringan tiroid dapat menyengat I131, maka pemeriksaan ini akan
dapat memberikan beberapa gambaran aktivitas, bentuk dan besar kelenjar tiroid.
Kegunaan pemeriksaan ini ialah untuk : memperlihatkan nodul (soliter,
multipel

atau

retrosternal),

mencari

occult

neoplasma

pada

tiroid,

mengidentifikasi sisa jaringan tiroid setelah operasi tiroid, mengidentifikasi


ektopik tiroid, mencari daerah metastasis setelah total tiroidektomi.

Pada pemeriksaan ini pasien diberi Nal peroral dan setelah 24 jam
secara fotografik ditentukan konsentrasi yodium radioaktif yang ditangkap oleh
tiroid. Dari hasil sidik tiroid dibedakan 3 bentuk :
Nodul dingin (cold nodule) bila penangkapan yodium nihil atau kurang
dibandingkan sekitarnya. Hal ini menunjukkan sekitarnya.
Nodul panas (hot nodule) bila penangkapan yodium lebih banyak daripada
sekitarnya. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
Nodul hangat (warm nodule) bila penangkapan yodium sama dengan
sekitarnya. Ini berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid yang lain.
Dari beberapa laporan didapatkan bahwa : 20-30% solitary cold
nodule adalah ganas dan 2% multiple cold nodule adalah ganas.
2. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dapat membedakan antara padat, cair, dan beberapa
bentuk kelainan, tetapi belum dapat membedakan dengan pasti ganas atau jinak.
Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG, yaitu :
Kista
Adenoma
Kemungkinan karsinoma
Tiroiditis
3. Biopsi aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration biopsy/FNAB)
Mempergunakan jarum suntik no. 22-27. Pada kista dapat juga dihisap
cairan secukupnya, sehingga dapat mengecilkan nodul. Dilakukan khusus pada
keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Biopsi aspirasi jarum halus (FNA)
tidak nyeri, hampir tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas.
Kerugian pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negatif palsu karena lokasi
biopsi kurang tepat, teknik biopsi kurang benar, pembuat preparat yang kurang
baik atau positif palsu karena salah interpretasi oleh ahli sitologi.
4. Termografi
Metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada suatu
tempat dengan memakai Dynamic Telethemography. Pemeriksaan ini dilakukan
khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Hasilnya disebut

panas apabila perbedaan panas dengan sekitarnya >0,9C dan dingin apabila
<0,9C. Pada penelitian didapatkan bahwa pada yang ganas semua hasilnya
panas. Pemeriksaan ini paling sensitif dan spesifik apabila dibandingkan dengan
pemeriksaan lain.
5. Petanda Tumor
Pada pemeriksaan ini yang diukur adalah peninggian tiroglobulin (Tg)
serum. Kadar Tg serum normal antara 1,5-3,0 ng/ml, pada kelainan jinak rata-rata
323 ng/ml, dan pada keganasan rata-rata 424 ng/ml.
H. Penatalaksanaan
Indikasi operasi pada struma nodusa non toksik adalah :
1. Keganasan
2. Penekanan
3. Kosmetik
Tindakan operasi yang dikerjakan tergantung jumlah lobus tiroid yang terkena.
Bila hanya satu sisi saja dilakukan subtotal lobektomi, sedangkan kedua lobus
terkenan dilakukan subtotal tiroidektomi. Bila terdapat pembesaran kelenjar getah
bening leher maka dikerjakan juga deseksi kelenjar leher fungsional atau deseksi
kelenjar leher radikal/modifikasi tergantung ada tidaknya ekstensi dan luasnya
eksetensi di luar kelenjar getah bening.

Radioterapi diberikan pada keganasan tiroid yang :


1.
2.
3.
4.

Inoperabel
Kontraindikasi operasi
Ada residu tumor setelah operasi
Metastase yang non resektabel
Hormonal terapi dengan ekstrak tiroid diberikan selain untuk suplemen juga

sebagai supresif untuk mencegah terjadinya kekambuhan pada pasca bedah karsinoma
tiroid diferensiasi baik (TSH dependence). Terapi supresif ini juga ditujukan terhadap

metastase jauh yang tidak resektabel dan terapi adjuvant pada karsinoma tiroid
diferensiasi baik yang inoperabel.