Anda di halaman 1dari 49

1.

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Sesuai dengan UndangUndang Nomor 26 Tahun
2007 tentang Penataan
Ruang, tujuan dari penataan
ruang adalah untuk
mewujudkan ruang wilayah
nasional yang aman, nyaman,
produktif, dan berkelanjutan
berlandaskan wawasan
nusantara dan ketahanan
nasional dengan:
a. terwujudnya
keharmonisan antara
lingkungan alam dan
lingkungan buatan;
b. terwujudnya
keterpaduan dalam
penggunaan sumber daya
alam dan sumber daya
buatan dengan
memperhatikan sumber
daya manusia; dan

MAKSUD :
PEDOMAN INI DIMAKSUDKAN SEBAGAI ACUAN
DALAM PELAKSANAAN KLHS DALAM
PENYUSUNAN RTR OLEH PEMERINTAH ATAU
PEMERINTAH DAERAH.

TUJUAN :
PEDOMAN INI BERTUJUAN MEWUJUDKAN RTR
YANG SUDAH MENGINTEGRASIKAN PRINSIP
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN SESUAI
DENGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
YANG BERLAKU.

c. terwujudnya pelindungan
fungsi ruang dan
pencegahan dampak
negatif terhadap
lingkungan akibat
pemanfaatan ruang.

Modul KLHS-RRTR

RUANG LINGKUP
Pedoman ini memuat kedudukan dan muatan KLHS dalam penyusunan RTR; prinsip dasar,
persyaratan, dan mekanisme pelaksanaan KLHS; integrasi KLHS dalam penyusunan RTR; dan
dokumentasi KLHS dalam penyusunan RTR, baik rencana umum tata ruang maupun
rencana rinci tata ruang.
Rencana umum tata ruang terdiri atas Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) nasional,
provinsi, kabupaten, dan kota. Sedangkan rencana rinci tata ruang meliputi RTR
pulau/kepulauan, RTR kawasan strategis nasional, RTR kawasan strategis provinsi, RTR
kawasan strategis kabupaten/kota, dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) kabupaten/kota.

KEDUDUKAN PEDOMAN:

Modul KLHS-RRTR

FUNGSI PEDOMAN:
A. ACUAN DALAM MEMBERIKAN PENGERTIAN
DAN WAWASAN DALAM MELAKSANAKAN
KLHS DALAM PENYUSUNAN RTR; DAN
B. MEMBERIKAN
ARAHAN
KETENTUAN
MUATAN, PROSES PELAKSANAAN KLHS,
DAN PENDOKUMENTASIAN KLHS DALAM
PENYUSUNAN RTR.

MANFAAT PEDOMAN:
MANFAAT PEDOMAN INI YAITU UNTUK DAPAT
MELAKSANAKAN KLHS DEMI MEWUJUDKAN RTR
YANG MENGINTEGRASIKAN PRINSIP
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN SESUAI
DENGAN KETENTUAN PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN.

PENGGUNA PEDOMAN:
PENGGUNA PEDOMAN INI ADALAH PEMERINTAH
ATAU PEMERINTAH DAERAH DALAM RANGKA
PELAKSANAAN
KLHS
SEBAGAI
DOKUMEN
PELENGKAP PERENCANAAN TATA RUANG.
MASYARAKAT DAN PEMANGKU KEPENTINGAN
LAINNYA DAPAT MENGGUNAKAN PEDOMAN INI
UNTUK MENGETAHUI PROSES
PENYUSUNAN
KLHS
DAN
MEMILIKI
PERAN
DALAM
MEMBERIKAN
INFORMASI
DAN MASUKAN
DALAM PELAKSANAAN KLHS.

Modul KLHS-RRTR

2. KEDUDUKAN DAN MUATAN


KLHS DALAM PENYUSUNAN RTR

KEDUDUKAN KLHS:
Sesuai dengan tujuan pelaksanaan KLHS untuk mencapai kinerja pembangunan
berkelanjutan, maka kedudukan pelaksanaan KLHS adalah:
a. bagian dari tahapan pengolahan dan analisis dalam penyusunan RTR;
b. masukan untuk perumusan kebijakan dan strategi RTR; dan
c. pemberi rekomendasi alternatif rencana dan indikasi program, dan/atau upaya
pencegahan atau mitigasi dari rencana dan indikasi program setelah kebijakan dan strategi
penataan ruang, rencana jaringan infrastruktur dan arahan pola ruang dirumuskan.

Modul KLHS-RRTR

Kedudukan KLHS dalam Penyusunan RTR

Modul KLHS-RRTR

MUATAN KLHS DALAM


PENYUSUNAN RRTR:
Berdasarkan Pasal 16 UU no
32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan
Hidup, KLHS memuat kajian
antara lain:
a. Kapasitas daya dukung
dan daya tampung
lingkungan hidup untuk
pembangunan
b. Perkiraan mengenai
dampak dan risiko
lingkungan hidup
c. Kinerja layanan/jasa
ekosistem
d. Efisiensi Pemanfaatan
Sumber Daya Alam
e. Tingkat kerentanan dan
kapasitas adaptasi
terhadap perubahan
iklim
f.

Tingkat ketahanan dan


potensi keanekaragaman
hayati

A. KAPASITAS DAYA DUKUNG DAN DAYA TAMPUNG


LH UNTUK PEMBANGUNAN
Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan
hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup
lain, dan keseimbangan antarkeduanya. Daya dukung lingkungan
hidup dikaji untuk mengetahui kapasitas lingkungan alam dan
sumber daya untuk mendukung kegiatan manusia sebagai
pengguna ruang.
Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan
hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang
masuk atau dimasukkan ke dalamnya.

B. PERKIRAAN MENGENAI DAMPAK DAN RISIKO LH


Perkiraan dampak dan risiko lingkungan hidup yang perlu dikaji
dapat berupa dampak dan risiko lingkungan hidup yang bersifat
kuantitatif maupun kualitatif. Dampak dan risiko lingkungan
bersifat kuantitaif adalah dampak dan risiko terkait dengan
pengaruh fisik atau kimiawi seperti tingkat pencemaran udara,
tingkat pencemaran air, dan sebagainya. Sementara itu, dampak
dan risiko lingkungan bersifat kualitatif adalah dampak yang
berkaitan dengan aspek sosial budaya, seperti respon
masyarakat,
dampak pembangunan terhadap kondisi sosial
ekonomi masyarakat, dan
sebagainya. Melalui perkiraan
mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup ini dapat
diketahui
apakah implementasi
rencana
tata
ruang
menimbulkan dampak positif atau negatif terhadap ekosistem
pada suatu wilayah atau kawasan.
Sedangkan dalam skala yang lebih rinci, di dalam
penyelenggaraan suatu usaha maupun kegiatan harus selalu
mempertimbangkan dampak dan resiko yang ditimbulkan. Hal
ini perlu dikaji lebih mendalam khususnya bagi RTR yang
berskala detail sehingga KLHS dapat menjadi pertimbangan
dalam proses pengambilan keputusan.

Modul KLHS-RRTR

MUATAN KLHS DALAM


PENYUSUNAN RRTR:

C. KINERJA LAYANAN/JASA EKOSISTEM

Berdasarkan Pasal 16 UU no
32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan
Hidup, KLHS memuat kajian
antara lain:

Ekosistem mampu menyediakan manfaat baik secara fisik


yang dapat langsung dirasakan oleh manusia, seperti bahan
pangan, air, dan sebagainya, maupun tidak langsung misalnya
untuk mengatur iklim global. Penyusunan kebijakan dan
program pembangunan seharusnya tidak mengganggu
lingkungan yang mengakibatkan jasa ekosistem berkurang.

a. Kapasitas daya dukung


dan daya tampung
lingkungan hidup untuk
pembangunan

Tingginya permintaan terhadap layanan/jasa ekosistem akan


berlangsung sejalan dengan peningkatan degradasi lingkungan
dan munculnya pertukaran antarjasa lingkungan. Untuk itu,
dalam menelaah kinerja layanan/jasa ekosistem perlu
memperhatikan perkiraan permintaan dan konsumsi sumber
daya alam, jumlah populasi manusia yang menggunakan
ekosistem, dan dampak pemanfaatan suatu ekosistem terhadap
ekosistem lainnya.

b. Perkiraan mengenai
dampak dan risiko
lingkungan hidup
c. Kinerja layanan/jasa
ekosistem
d. Efisiensi pemanfaatan
sumber daya alam
e. Tingkat kerentanan dan
kapasitas adaptasi
terhadap perubahan
iklim
f.

Tingkat ketahanan dan


potensi keanekaragaman
hayati

Modul KLHS-RRTR

D. EFISIENSI PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM


Sumber daya alam sebagai salah satu modal dasar pembangunan
harus dimanfaatkan sepenuhnya dengan cara yang tidak
merusak. Oleh karena itu, pemanfaatan sumber daya alam harus
dilakukan secara efisien. Apalagi di negara berkembang,
terdapat cukup banyak hambatan dalam proses pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya alam tersebut.
Dengan demikian, diperlukan suatu kajian untuk merencanakan
bagaimana pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam
tersebut agar berkelanjutan. Melalui perhitungan efisiensi
pemanfaatan sumber daya alam, dapat diperkirakan pula apakah
implementasi suatu rencana tata ruang dapat memanfaatkan
sumber daya alam secara efisien atau tidak.

MUATAN KLHS DALAM


PENYUSUNAN RRTR:
Berdasarkan Pasal 16 UU no
32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan
Hidup, KLHS memuat kajian
antara lain:
a. Kapasitas daya dukung
dan daya tampung
lingkungan hidup untuk
pembangunan
b. Perkiraan mengenai
dampak dan risiko
lingkungan hidup

E. TINGKAT KERENTANAN DAN KAPASITAS ADAPTASI


THD PERUBAHAN IKLIM
Kerentanan dampak perubahan iklim dapat dilihat melalui
pemetaan kerentanan yang dilihat dari kondisi geografis wilayah
atau kawasan, kondisi topografi, interaksi lautan- atmosferdaratan, analisis iklim historis, dan analisis pola atau tren
curah hujan. Kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim ini
dapat dilihat dari daya dukung lingkungan, ketersediaan
relugasi, adanya kelembagaan yang kuat, dan ketersediaan
sumber daya manusia.
Dalam perencanaan tata ruang, kajian resiko sebagai salah satu
masukan dalam proses perencanaan adaptasi perubahan iklim
seharusnya sudah dilaksanakan. KLHS dapat menjadi pelengkap
kajian tersebut dengan melaksanakan kajian mendalam yang
mengarusutamakan perubahan iklim untuk diintegrasikan dalam
proses perumusan kebijakan, rencana, maupun programprogram dalam RTR.

c. Kinerja layanan/jasa
ekosistem

`
d. Efisiensi pemanfaatan
sumber daya alam
e. Tingkat kerentanan dan
kapasitas adaptasi
terhadap perubahan
iklim
f.

Tingkat ketahanan dan


potensi keanekaragaman
hayati

Modul KLHS-RRTR

F. TINGKAT KETAHANAN DAN POTENSI


KEANEKARAGAMAN HAYATI
Pembangunan ekonomi daerah dan infrastruktur memerlukan
perencanaan yang matang sebab bukan tidak mungkin akan
mengakibatkan dampak buruk bagi kelestarian lingkungan dan
keanekaragaman hayati pada jangka panjang. Terlebih untuk
kawasan yang dilindungi, sejumlah ketentuan khusus harus
ditetapkan dan ketentuan tersebut muncul dari hasil kajian
terhadap perkiraan dampak dari pembangunan di sekitar
kawasan tersebut.

3. PRINSIP DASAR, PERSYARATAN DAN


MEKANISME PELAKSANAAN KLHS

PRINSIP DASAR PELAKSANAAN KLHS:


Pelaksanaan KLHS dalam penyusunan RTR perlu merujuk pada prinsip dasar sebagai berikut:
a. KLHS dilakukan untuk 1 (satu) dokumen RTR;
b. Pelaksanaan KLHS dilakukan setelah delineasinya ditetapkan dan setidaknya telah memiliki arahan
kebijakan penataan ruang yang akan dituangkan ke dalam RTR atau setidaknya telah memiliki tema
penataan BWP khusus bagi RDTR;
c. Lingkup wilayah yang menjadi objek KLHS paling sedikit sama dengan lingkup perencanaan;
d. Pelaksanaan KLHS memenuhi kriteria kinerja sebagai berikut: terintegrasi; berkelanjutan; terfokus; dan
iteratif ; sesuai dengan tahapan dan kedalaman penyusunan RTR;
e. Pelaku pelaksanaan KLHS dalam penyusunan RTR diutamakan yaitu penyusun RTR dengan ahli lingkungan
sebagai tim penyusun KLHS;
f.

Analisis yang dilakukan dalam KLHS memiliki masa perkiraan kajian yang sama dengan analisis dalam RTR
yaitu 20 (dua puluh) tahun;

g. Kedetilan KLHS disesuaikan dengan kedetilan RTR;


h. Analisis KLHS lebih difokuskan pada isu-isu strategis lingkungan hidup dan fokus pada agenda
keberlanjutan yang bergerak dari sumber persoalan dampak lingkungan;
i.

Analisis KLHS yang dilaksanakan mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai dampak RTR
terhadap kondisi fisik lingkungan hidup dan implikasi sosial;

j.

Data, rumusan isu strategis, analisis, serta rumusan alternatif rekomendasi harus konsisten;

k. Pelaksanaan KLHS untuk revisi RTR, dimana telah terdapat dokumen KLHS sebelumnya, dilakukan dengan
memperhatikan dokumen KLHS sebelumnya;
l.

Pelaksanaan KLHS bersifat partisipatif dengan melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya
dalam penentuan isu strategis dan dalam pengambilan keputusan rekomendasi;

m. Pelaksana KLHS dapat menggunakan pedoman penjaminan kualitas KLHS yang disusun oleh
kementerian/lembaga yang membidangi lingkungan hidup sebagai pengontrol kualitas proses dan
substansi; dan
n. Konsultasi publik dilakukan paling sedikit 2 (dua) kali pada saat tahap pelingkupan dan setelah
dirumuskannya rekomendasi (seminar akhir) atau dapat dilaksanakan pula bersamaan dengan konsultasi
publik pada saat proses penyusunan RTR.

Modul KLHS-RRTR

PERSYARATAN PELAKSANAAN KLHS


Persyaratan dalam penerapan pedoman pelaksanaan KLHS dalam penyusunan RTR
adalah sebagai berikut:
a. Pelaksana KLHS adalah Pemerintah dan pemerintah daerah yang dapat dibantu oleh
tenaga ahli dan/atau tim ahli yang memiliki kemampuan dan keahlian di bidang
Perencanaan Wilayah dan Kota serta Ilmu Lingkungan;
b. Pemangku kepentingan dalam pelaksanaan
pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha;

KLHS

adalah

Pemerintah,

c. Pelaksanaan KLHS perlu melibatkan pemangku kepentingan secara aktif;


d. Dokumen RTR yang dilaksanakan KLHS adalah dokumen RTR yang sedang dalam
proses penyusunan dan telah memiliki deliniasi wilayah yang tetap; dan
e. Menggunakan peta kerja untuk melakukan kajian yang berbasis pada peta
rencana struktur ruang dan pola ruang dengan skala sesuai RTR yang sedang disusun.

MEKANISME PELAKSANAAN KLHS


Pelaksanaan KLHS dalam penyusunan RTR dibagi menjadi beberapa tahap meliputi:
a. Tahap Persiapan;
b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh; dan
e. Tahap Perumusan Alternatif dan Rekomendasi.

Modul KLHS-RRTR

10

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:
a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh;
dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

A. TAHAP PERSIAPAN
Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan meliputi:
a. pengumpulan dokumen RTR yang sedang dalam proses
penyusunan dan telah memiliki deliniasi wilayah yang tetap
atau dokumen RTR yang akan direvisi;
b. penyusunan format data dan informasi
dikumpulkan, berupa daftar informasi dasar;

yang

akan

c. penyiapan peta dasar guna lahan dengan skala sesuai dengan


RTR; dan
d. penyusunan jadwal pelaksanaan KLHS.

Contoh Daftar Informasi Dasar KLHS pada tabel dibawah ini:


Aspek
Fisik
Kimia

Ekologi

Jenis Data
Geologi
Iklim
Topografi
Hidrologi
Kualitas Air
Kualitas Udara
Daerah rawan bencana
Fitur ekologi kritis/penting
Habitat penting
Spesies penting

Sosial
Ekonomi

Kawasan konservasi
dll
Penggunaan lahan
Demografi
Budaya dan tradisi
Ekonomi
Kegiatan ekonomii utama
khusus
(pertambangan/perkebunan/
pariwisata)
Sarana dan prasana

Bentuk Data
Peta
Deskripsi
Peta
Peta
Tabel/Grafik
Tabel/Grafik
Peta
Deskripsi
Deskripsi

Keterangan

Deskripsi

IUCN

Parameter
Parameter

Peta/Deskripsi
Peta/Deskripsi
Tabel/Deskripsi
Deskripsi
Deskripsi
Peta/Deskripsi

Eksisting

Time series
Time series

Peta/Deskripsi

Eksisting

dll

Modul KLHS-RRTR

11

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:
a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pra-Pelingkupan;

B. TAHAP PRA-PELINGKUPAN
Pra pelingkupan adalah rangkaian persiapan sebelum dilakukan
proses pelingkupan, antara lain dilakukan dengan mempersiapkan
daftar isu strategis lingkungan, isu sosial budaya, dan isu ekonomi.

c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh;
dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

Tahap pra-pelingkupan (pre-scoping) bertujuan untuk menyusun


informasi dasar (baseline), melakukan kajian terhadap RTR, dan
perumusan isu strategis lingkungan hidup awal.
Persyaratan untuk melakukan tahap ini adalah:
a. deliniasi wilayah kajian sudah ditentukan;
b. konsep pengembangan sudah ditentukan; dan
c. informasi dasar lingkungan yang meliputi aspek fisik
lingkungan, keanekaragaman hayati, sosial, dan ekonomi
sudah tersusun.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap pra-pelingkupan adalah:
a. Kegiatan Penyusunan dan Penyajian Informasi Dasar
Pemahaman kondisi lingkungan serta kecenderungannya
dibutuhkan baik bagi perencanaan tata ruang dan pelaksanaan
KLHS. Pada umumnya KLHS bergantung pada ketersediaan
data sekunder, namun dapat dilakukan pengumpulan data
primer untuk isu yang sensitif dan/atau informasi yang
jumlahnya sedikit. Kegiatan yang dilakukan pada tahap
penyusunan informasi dasar meliputi:
1. menguraikan tentang informasi dasar meliputi aspek fisik
lingkungan (eksisting) dan lingkungan hidup, ekologis dan
sosial ekonomi, yang disesuaikan dengan kondisi dan
karakteristik masing-masing wilayah.
2. memetakan kelompok informasi tersebut menggunakan
pemetaan sistem informasi geografis (peta SIG).

Modul KLHS-RRTR

12

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:
a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh;
dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

`
b. Kajian Konsep Pengembangan
Kegiatan yang dilakukan
pengembangan meliputi:

pada

tahap

kajian

1. mengidentifikasi tujuan dan sasaran dari RTR yang


disusun; dan
2. mengidentifikasi arahan rencana struktur ruang dan
rencana pola ruang.
c. Perumusan Isu Lingkungan Hidup Awal
Keluaran dari kegiatan ini adalah data dan informasi dasar
pada wilayah yang direncanakan serta daftar panjang potensi
konflik dan masalah yang akan menjadi kendala terkait dengan
RTR kawasan tersebut. Contoh isu-isu lingkungan hidup awal
dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Isu
Kualitas dan
sumber air

Penggunaan
Lahan

Deskripsi
Contoh KSN berbasis Pendayagunaan Sumber Daya Alam
Di sepanjang lembah Danau Towuti, yang meliputi Danau
Motano, populasi penduduk berkembang dengan cepat.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jenkins dkk, 2009,
dibuktikan bahwa klasifikasi terancam punah dari Ikan Moncong
Hitam (Nomorhamphus towoetii), danau ini tercemar oleh
tambang nikel di dekatnya dan stasiun pembangkit listrik tenaga
air.
-

Konflik penggunaan lahan, misalnya untuk kehutanan


dengan
pertambangan,
dan
perkebunan
dengan
pertambangan serta kehutanan dan perkebunan.
Masih banyak sengketa kepemilikan lahan dan izin
penggunaan lahan. Di Kabupaten Morowali dan Konawe,
terdapat perselisihan kepemilikan hak pertambangan antara
beberapa KK dari perusahaan pertambangan dari
pemerintah pusat, dan otoritas pertambangan dari
pemerintah daerah, baik untuk eksplorasi maupun
eksploitasi.
Di daerah pegunungan, hutan mulai diekspos dan
memburuk.
Pergeseran fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan /
ladang akan berpotensi menciptakan perubahan fungsi
dalam cagar alam.
Potensi lahan untuk perkebunan tidak digunakan secara
optimal.
Pola permukiman masih terkonsentrasi di kompleks
perkebunan kota, pertambangan, dan area transmigrasi.
Banyak konsesi pertambangan yang terletak di kawasan
hutan produksi, beberapa bahkan berada dalam hutan
lindung.

Sumber: KLHS KSN Soroako dan sekitarnya

Modul KLHS-RRTR

konsep

13

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:
a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh;
dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

C. TAHAP PELINGKUPAN
Pelingkupan adalah rangkaian langkah untuk menetapkan nilai
penting KLHS, tujuan KLHS, isu pokok, ruang lingkup KLHS,
kedalaman kajian dan kerincian penulisan dokumen, pengenalan
kondisi awal, dan telaah awal kapasitas kelembagaan. Kegiatan ini
dilakukan melalui pendekatan sistematis dan metodologis yang
memenuhi kaidah ilmiah dan disertai konsultasi publik.
Tahap pelingkupan (scoping) bertujuan untuk memantapkan isuisu strategis lingkungan hidup dengan melakukan penilaian
terhadap isu-isu lingkungan hidup awal dan menetapkan isu
strategis yang disepakati oleh semua pemangku kepentingan
(stakeholders).
Persyaratan untuk melakukan tahap ini adalah:
a. tahap pra-pelingkupan telah selesai dilakukan;
b. isu lingkungan hidup awal telah dirumuskan; dan
c. melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders).

Persiapan untuk melakukan pelingkupan meliputi:


a. persiapan peta-peta overlay antara peta rencana dengan
kondisi eksisting;
b. pengkajian hasil pra-pelingkupan dan peta-peta overlay oleh
tim KLHS; dan
c. persiapan material untuk sesi pelingkupan oleh kelompok
keahlian (misal: matriks pelingkupan).

Pada tahap perumusan isu strategis ini kegiatan yang dilakukan


adalah menetapkan isu-isu strategis yang potensial sebagai akibat
dari dampak perencanaan tata ruang yang disusun serta konflik
lingkungan yang diperkirakan muncul.

Modul KLHS-RRTR

14

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:

Kegiatan yang dilakukan pada tahap pelingkupan adalah:

a. Tahap Persiapan

a. Penilaian dan Penetapan Isu Strategis

b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh;
dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

1. Penilaian isu strategis dapat dilakukan dengan dua acara,


yaitu:
a. Penilaian dengan merujuk pada pandangan para pakar
sesuai dengan bidang keahlian yang difokuskan pada
kajian isu strategis lingkungan pada kawasan yang
direncanakan; dan
b. Konsultasi publik yang dilakukan dengan melibatkan
para pemangku kepentingan dalam menetapkan isuisu strategis.
2. Penetapan isu strategis didasarkan pada kriteria:
a. menjadi fokus perhatian utama di wilayah
perencanaan dan memiliki relevansi tinggi terhadap
kepentingan wilayah perencanaan.
b. skala dampak dari rencana tata ruang, yaitu
dampak yang berpotensi berskala regional, nasional,
atau bahkan internasional;
c. interaksi antar dampak, yaitu ketika terjadi konflik
antar unsur-unsur RTR;
d. dampak yang dapat ditimbulkan akibat gabungan
beberapa aspek dari RTR jika tidak ditangani; dan
e. berpotensi mengganggu pelaksanaan pembangunan
berkelanjutan.

Modul KLHS-RRTR

15

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:

`
Ilustrasi Definisi Isu Lingkungan Strategis

a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh;
dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

Berdasarkan gambar ilustrasi di atas, terlihat bahwa suatu


dikatakan sebagai isu strategis apabila suatu kegiatan
menimbulkan dampak terhadap aspek-aspek fisik lingkungan
hidup, ekologis, dan sosial-ekonomi. Masing-masing dampak
terkait sehingga menghasilkan akumulasi dampak yang besar.

isu lingkungan
pembangunan
dan lingkungan
tersebut saling

Untuk melakukan pelingkupan ini dapat digunakan berbagai metode seperti:


matriks, pohon analisis, pemodelan dan simulasi, analisis multi- kriteria, analisis
skenario dan kecenderungan, analisis hirarki (analytical hierarchy process),
analisis hubungan (kausalitas atau keterkaitan), model analisis Delphi, atau model
analisis lainnya. Selain itu hasil pelingkupan isu-isu strategis perlu dipresentasikan
dalam bentuk peta isu-isu strategis.

Modul KLHS-RRTR

16

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:

Kegiatan yang dilakukan pada tahap pelingkupan adalah:

a. Tahap Persiapan

b. Konsultasi Publik (Pelibatan Pemangku Kepentingan)

b. Tahap Pra-Pelingkupan;

Tujuan dari pelaksanaan konsultasi publik adalah:

c. Tahap Pelingkupan;

1. untuk menyampaikan temuan isu-isu strategis lingkungan


terkait kawasan yang direncanakan;

d. Tahap Kajian Pengaruh;


dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

2. untuk memperoleh informasi tambahan yang dapat


mendukung tahapan analisis KLHS lebih lanjut;
3. untuk menanggapi masukan dan tanggapan serta
menyepakati isu strategis lingkungan hidup yang akan
dikaji lebih lanjut; dan
4. untuk mendokumentasikan hasil diskusi dan kesepakatan
pada forum FGD tahap pelingkupan sebagai bahan
pertimbangan pada tahap analisis.
Pelibatan pemangku kepentingan dalam tahap pelingkupan ini
diawali dengan pemetaan pemangku kepentingan. Pemetaan
ini berguna untuk memilih pemangku kepentingan yang
berpengaruh dan memiliki tingkat kepentingan yang tinggi
terhadap rencana tata ruang yang akan disusun. Secara umum
pemangku kepentingan dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
1. penyusun rencana tata ruang, baik pemerintah pusat dan
pemerintah daerah;
2. instansi lain terkait yang membidangi lingkungan hidup
serta instansi sektor lain seperti: kehutanan, pertanian,
pertambangan, pariwisata, dan sektor lain sesuai dengan
kekhususan rencana tata ruang yang disusun;
3. masyarakat yang memiliki informasi dan/atau keahlian,
baik berasal dari perguruan tinggi, asosiasi profesi,
lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, dan
unsur pemerhati lingkungan hidup;
4. masyarakat yang terkena dampak, meliputi: lembaga adat,
organisasi masyarakat, tokoh masyarakat, dan unsur
masyarakat lainnya.

Modul KLHS-RRTR

17

Modul KLHS-RRTR

18

CONTOH MATRIKS PELINGKUPAN ISU

Modul KLHS-RRTR

19

CONTOH MATRIKS PELINGKUPAN ISU

Modul KLHS-RRTR

20

CONTOH MATRIKS PELINGKUPAN ISU

Modul KLHS-RRTR

21

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:
a. Tahap Persiapan

`
Sedangkan untuk membantu mengidentifikasi stakeholder dapat
melihat contoh format yang termuat dalam tabel-tabel sebagai
berikut:

b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh;
dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

Contoh Format Identifkasi Pemangku Kepentingan


Pemangku
Kepentingan
Pemerintah

Yang
Mempengaruhi RTR
KemenPUPR; Bappeda
Provinsi
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.

Organisasi Non
Pemerintah
Perguruan
Tinggi/Akademisi
Dunia Usaha

Institusi/Asosiasi
Organisasi
Tokoh
Masyarakat/T.Agama
Masyarakat

Lain-lain

No.

Modul KLHS-RRTR

Tahapan
Proses
KLHS

1.

Baseline

Masyarakat dan
Pemangku
Kepentingan
Lainnya Yg
Dilibatkan
Bappeda

2.
3.
4.
5.

Yang
dipengaruhi RTR
Bappeda Provinsi, Dinas
Tata Ruang Kab;
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.

Bentuk/Forum/
Cara Pelibatan

FGD

Pokok-pokok
Substansi Yang
Dibahas atau
Dimintakan
Masukan
Data
dan
Informasi
Kondisi Eksisting

22

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:

D. TAHAP KAJIAN PENGARUH


a. Tahap Persiapan

d. Tahap Kajian Pengaruh;


dan

Tahap kajian pengaruh merupakan tahap analisis lanjutan setelah


isu-isu strategis disepakati. Hal ini bertujuan untuk
memperkirakan dan menghitung besaran dampak dari isu
strategis. Pada tahap ini dapat menggunakan beragam metode
yang digunakan untuk analisis dan prediksi konsekuensi
lingkungan, baik berupa:

e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

a. Model Deskriptif, yaitu model yang menerangkan


bagaimana kelompok mengambil keputusan tertentu dengan
ciri:

b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;

1. bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis


fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti
secara tepat;
2. berdasar pada realitas observasi dan berusaha
menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai
dengan apa adanya;
3. tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel
penelitian (non eksperimen);
4. penelitian memungkinkan untuk melakukan hubungan
antar variabel, menguji hipotesis, mengembangkan
generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki
validitas universal; dan
5. pengumpulan data dilakukan untuk menguji pertanyaan
penelitian atau hipotesis yang berkaitan dengan keadan
dan kejadian sekarang.
b. Model Black-Box Empiris Statistik, yaitu model yang
menggunakan prosedur yang berbasis teori-teori dengan
memanfaatkan parameter yang paling signifikan dan hanya
memperhatikan input utama dan output dalam anailisis suatu
sistem dengan ciri:
1. tidak bergantung pada pengetahuan tentang prinsipprinsip dasar dan mekanisme yang ada dalam sistem yang
dipelajari;
2. mencerminkan fakta bahwa hanya sedikit bagian dari
mekanisme proses sebenarnya yang diketahui; dan
3. fenomena yang mendasari penelitian tidak diketahui
atau dipahami dengan baik.

Modul KLHS-RRTR

23

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:
a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh;
dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

`
c. Model Skenario Kebijakan dan Analisis Kualitatif, yaitu
model yang menggunakan teknik analisis mendalam yang
mengkaji masalah kebijakan secara kasus per kasus untuk
dapat melahirkan gagasan atau pemikiran mengenai caracara pemecahannya. Oleh karena sifat masalah yang berbeda
satu sama lain, maka cara pemecahannya pun akan berbeda
antara satu masalah dengan masalah yang lain.

Tahap ini pada akhirnya akan menghasilkan masukan alternatif


perbaikan muatan rencana tata ruang, termasuk mencegah atau
mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup.
Telaah pengaruh sudah dapat dilakukan sejak dibuat:
a. rancangan/konsep kebijakan (dan strategi);
b. rancangan/konsep rencana struktur dan pola ruang; dan/atau
c. rancangan/konsep indikasi program.

Metode untuk kajian pengaruh ini disesuaikan dengan aspek


kajian. Alat analisis yang dapat digunakan untuk pengkajian
pengaruh antara lain:
a. model statistik;
b. penggunaan standar dan kriteria (seperti: baku mutu
pencemaran);
c. analisis sistem informasi geografis (SIG);
d. threshold analysis dan footprint analysis; atau
e. metode lainnya.

Modul KLHS-RRTR

24

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:
a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh;
dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

`
d. Model Skenario Kebijakan dan Analisis Kualitatif, yaitu
model yang menggunakan teknik analisis mendalam yang
mengkaji masalah kebijakan secara kasus per kasus untuk
dapat melahirkan gagasan atau pemikiran mengenai caracara pemecahannya. Oleh karena sifat masalah yang berbeda
satu sama lain, maka cara pemecahannya pun akan berbeda
antara satu masalah dengan masalah yang lain.

CONTOH HASIL PELINGKUPAN ISU STRATEGIS LINGKUNGAN


HIDUP UNTUK DIANALISIS LEBIH LANJUT

TIPE
Fisik - Kimia

Ekologis

Sosial
Ekonomi

KONFLIK

KAWASAN YANG
TERPENGARUH/TERDAMPAK
KSN
Sorowako
secara
menyeluruh
Sorowako, Bahodopi, Routa

Masalah
hidrologis
Menurunnya
kualitas udara
Menurut kualitas Danau Matano, Mahalona
air
dan Towuti, dan kawasan
sekitarnya,
termasuk
perairan pantai
Menurunnya
Kawasan
konsesi
kualitas tanah
pertambangan
Fragmentasi
KSN
Sorowako
secara
habitat
menyeluruh
Potensi
Lakes Matano, Mahalona dan
berpengaruhnya Towuti, dan daerah sekitar
pada spesies inti
dan spesies yang
terancam punah
AncamanLembo,
Bungu
Barat,
ancaman
Wasuponda, dll
terhadap
kehidupan
masyarakat dan
budaya lokal

Sumber: KLHS KSN Sorowako dan sekitarnya

Modul KLHS-RRTR

25

MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:
a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh;
dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

E. TAHAP PERUMUSAN ALTERNATIF DAN


REKOMENDASI
Tahap perumusan alternatif dan rekomendasi dilakukan
terhadap rencana yang disusun dengan pertimbangan hasil
analisis dampak lingkungan setelah tahap kajian pengaruh
dilakukan. Rekomendasi KLHS dapat bersifat spasial dan nonspasial, namun yang diintegrasikan dalam RTR adalah
rekomendasi yang bersifat spasial.
Sedangkan rekomendasi yang bersifat non-spasial diakomodir
dalam dokumen sebagai catatan untuk dapat ditindaklanjuti oleh
pihak lain yang terkait. Rekomendasi-rekomendasi tersebut dapat
berupa:
a. alternatif skenario perencanaan guna lahan dan infrastruktur;
atau
b. mitigasi terhadap dampak lingkungan yang potensial
ditimbulkan dari suatu rencana yang ditetapkan.
Untuk menunjukkan konsistensi tiap pelaksanaan KLHS dan
memperlihatkan hasil integrasi KLHS ke dalam RTR, dapat dibuat
sebuah tabel sebagai berikut:

Selain itu, perlu adanya penjelasan tentang pihak-pihak terkait


yang perlu menindaklanjuti rekomendasi yang dihasilkan, baik
yang spasial maupun non- spasial, seperti dapat dilihat pada tabel
sebagai berikut:

Modul KLHS-RRTR

26

`
MEKANISME PELAKSANAAN
KLHS:

Rekomendasi Perbaikan RTR

a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh;
dan
e. Tahap Perumusan
Alternatif dan
Rekomendasi.

Secara umum tahap-tahap pelaksanaan KLHS untuk penyusunan


semua jenis rencana tata ruang sama yakni persiapan, prapelingkupan, pelingkupan, kajian pengaruh, dan perumusan
alternatif rekomendasi. Namun kedetilan informasi dasarnya dan
muatan KLHS akan berbeda tergantung jenis dan skala rencana tata
ruang yang akan disusun. Untuk rencana rinci, terutama RTR KSN
berbasis objek dan RDTR, kedalaman informasinya akan lebih detil
sehingga dalam rangka konsultasi publik sebaiknya melibatkan
hingga lapisan masyarakat yang merasakan dampak pembangunan
secara langsung.
Pelaksanaan KLHS untuk rencana rinci, khususnya untuk kawasan
strategis nasional berbasis objek dan RDTR, memiliki perbedaan
dengan KLHS untuk rencana umum tata ruang dan rencana rinci
lainnya. Namun perbedaan ini tidak terlalu mendasar secara proses
maupun prosedur, hanya pada skala kedalaman informasi dasar,
muatan, dan pengintegrasian rekomendasi KLHS. Khusus untuk
RDTR, KLHS dibuat tidak berdasarkan isu strategis lingkungan hidup
yang berkembang di lingkup perencanaan rencana detail
saja, melainkan juga hasil turunan dari apa yang diamanatkan
dalam RTRW Kabupaten/Kota. Dengan demikian, KLHS untuk
RDTR harus dapat menjawab isu strategis lingkungan hidup yang
termuat dalam RTRW Kab/Kota secara lebih detail dan memuat
upaya-upaya mitigasi yang lebih konkret. Untuk lebih jelasnya
dapat melihat Tabel dibawah ini.

Modul KLHS-RRTR

27

Proses Pelaksanaan KLHS untuk Beberapa Dokumen Perencanaan


RENCANA UMUM TATA
RUANG
KLHS

Persiapan

RTRW
Nasional/Provinsi/Kabupaten/
Kota

Pra
Pelingkupan

Modul KLHS-RRTR

Penentuan lingkup kegiatan


penyusunan RTR dan
pelaksanaan KLHS;
penyiapan rencana
anggaran dan biaya;
penyusunan Kerangka
Acuan Kerja;
penyiapan dokumen
rancangan rencana yang
akan dikaji;
penyusunan format data
dan informasi yang akan
dikumpulkan, berupa daftar
informasi dasar;
penyiapan peta dasar guna
lahan dengan skala sesuai
dengan RTR; dan
penyusunan jadwal
kegiatan pengumpulan data
serta penyiapan tim survey
ke lapangan.

Pengkajian aspek
lingkungan hidup yang ada
dalam RTR;
pengumpulan data dan
informasi lingkungan hidup
(desk study);
baseline, memuat informasi:
fisik dan lingkungan
hidup
Informasi ekologis
sosial ekonomi
pemetaan kelompok
informasi dasar;
pengkajian konsep
pengembangan;
identifikasi awal isu
strategis lingkungan hidup.
Contoh isu strategis
lingkungan hidup:
a. RTRW Nasional:
Revitalisasi RTRW N
diperlukan untuk
mempertegas peran dan
fungsi RTRWN sebagai
kebijakan spasial
pembangunan
kewilayahan dan

RENCANA RINCI TATA RUANG


RTR Pulau, RTR
KSN Berbasis
Kawasan, RTR
Kawasan Strategis
Provinsi
sama dengan
rencana umum

sama dengan
rencana umum

RTR Kawasan
Strategis Kab/Kota,
RTR KSN Berbasis
Objek
sama dengan
rencana umum

sama dengan
rencana umum

RDTR

Penyiapan dokumen
rancangan rencana
yang akan dikaji (draft
RDTR minimal sudah
terbentuk dan/atau
dalam bentuk Materi
Teknis RDTR);
Penyusunan format
data dan informasi
yang akan
dikumpulkan, berupa
daftar informasi dasar
(informasi dasar
disesuaikan dengan
kebutuhan kajian dan
sesuai dengan data
dasar penyusunan
RDTR);
Penyiapan peta dasar
dengan skala sesuai
dengan RTR (peta
dasar diambil dari
peta dasar dalam
penyusunan RDTR);
dan
Penyusunan jadwal
kegiatan
pengumpulan data
serta penyiapan tim
survey ke lapangan.
sama dengan rencana
umum

Contoh isu strategis Hal-hal khusus yang


Hal-hal khusus yang perlu
lingkungan hidup:
perlu diperhatikan:
diperhatikan:
a. RTR Pulau:
dalam penyusunan
- dalam
tekanan
baseline data, dapat
penyusunan
penduduk,
baseline data,
ditambahkan data
meluasnya
dapat
pendukung lainnya
jumlah lahan
ditambahkan data
sesuai karakteristik
kritis, degradasi
pendukung
masing-masing
dan deforestasi
lainnya sesuai
wilayah;
hutan (Studi
karakteristik
penyiapan peta kerja
Kasus Pulau
masing-masing
menggunakan peta
Jawa).
wilayah;
dasar sesuai dengan
b. RTR KSN
penyiapan peta
skala peta masingberbasis
masing rencana rinci.
kerja
kawasan:
pada tahap
menggunakan
Konflik antara
pengkajian konsep
peta dasar sesuai
peningkatan
dengan skala peta
pengembangan, perlu
aktivitas
masing-masing
mengidentifikasi
tambang di
rencana rinci.
rencana
area penting
pada tahap
pengembangan yang
yang
tertuang dalam RTR
pengkajian
mengandung
dan KLHS
konsep
keragaman
kabupaten/kota.
pengembangan,
hayati berupa
identifikasi awal isu
perlu
sejumlah
strategis perlu
mengidentifikasi

28

sektoral yang mengikat


b. RTRW Provinsi: Alih
fungsi kawasan suaka
alam menjadi kawasan
budi daya, sehingga
mengakibatkan
menurunnya tingkat
keanekaragaman hayati
pada kawasan suaka
alam.
c. RTRW Kabupaten:
Bencana banjir dan
genangan yang
mengakibatkan
kerusakan kawasan
pertanian dan
penurunan produksi
pangan.
d. RTRW Kota: Penurunan
prosentase ruang
terbuka hijau secara
signifikan, sehingga
penyediaan ruang
terbuka hijau kota tidak
memenuhi kebutuhan
untuk fungsi ekologis
dan sosial.

spesies
endemik (Studi
Kasus KSN
Sorowako).

Pra pelingkupan
dapat dilakukan
apabila:
deliniasi
wilayah
kajian sudah
ditentukan;
konsep
pengemban
gan sudah
ditentukan;

dan
informasi
dasar sudah
tersusun.

Pra pelingkupan dapat


dilakukan apabila:

deliniasi wilayah kajian


sudah ditentukan;

konsep
pengembangan sudah
ditentukan; dan

informasi dasar sudah


tersusun.

Pelingkupan

Modul KLHS-RRTR

Penilaian daftar isu


lingkungan hidup awal oleh
para ahli.
Identifikasi pemangku
kepentingan.
Penetapan dan
penyepakatan isu strategis

sama dengan
rencana umum

rencana
pengembangan
yang tertuang
dalam RTR dan
KLHS

kabupaten/kota.
identifikasi awal
isu strategis
lingkungan hidup
perlu
melihat/mengacu
materi teknis dan
KLHS RTR
provinsi,
kabupaten, dan
kota.
Contoh isu
strategis
lingkungan hidup:
sanitasi
lingkungan kurang
baik, dicirikan
dengan air

permukaan dan
air tanah tercemar
limbah domestik
(studi kasus: KSN
Prambanan) dan
potensi gangguan
suara terhadap
masyarakat
sekitar dari alatalat (studi kasus:
KSN Teknologi
Tinggi Stasiun
Pengamat
Dirgantara di
Kotababang).
Pra pelingkupan
dapat dilakukan
apabila:

deliniasi
wilayah
kajian sudah
ditentukan;

konsep
pengemban
gan sudah
ditentukan;
dan

informasi
dasar sudah
tersusun.

melihat/mengacu
materi teknis dan
KLHS RTR provinsi,
kabupaten, dan kota.
Contoh isu strategis
lingkungan hidup:
BWP Waibakul
bertujuan untuk
mewujudkan kawasan
Perkotaan Waibakul
sebagai kota transit
yang didukung oleh
perdagangan dan jasa
serta berbasis
agropolitan, akan
memunculkan isu
strategis berupa
penanganan kota
transit agar tidak
menghilangkan fungsi
yang mendukung
agropolitan.
Syarat pra
pelingkupan dapat
dilakukan apabila:
delineasi wilayah
kajian sudah
ditentukan;
tema penataan
BWP sudah
ditentukan; dan
informasi dasar
sudah tersusun.

sama dengan
rencana umum

sama dengan rencana


umum

Hal-hal khusus yang


perlu diperhatikan:
penetapan dan
penyepakatan isu
strategis

Hal-hal khusus yang perlu


diperhatikan:
persiapan peta-peta
overlay antara peta
rencana dengan

29

RENCANA UMUM TATA


RUANG
KLHS

RTRW
Nasional/Provinsi/Kabupaten/
Kota

Kajian
Pengaruh

Perumusan
alternatif/
Rekomendasi

lingkungan hidup serta


instansi sektor lain seperti
kehutanan, pertanian,
pertambangan, pariwisata,
dan sektor lain sesuai
dengan kekhususan RTR
yang disusun;
masyarakat yang memiliki
informasi dan/atau keahlian:
baik berasal dari perguruan
tinggi, asosiasi profesi,
lembaga swadaya
masyarakat, tokoh
masyarakat, dan unsur
pemerhati lingkungan hidup;
masyarakat yang terkena
dampak meliputi lembaga
adat, organisasi
masyarakat, tokoh
masyarakat, dan unsur
masyarakat lainnya.
Analisis lanjutan terhadap
isu strategis lingkungan
hidup yang telah disepakati;
dapat menggunakan
beragam metode yang
digunakan untuk analisis
dan prediksi konsekuensi
lingkungan;
telaah pengaruh sudah
dapat dilakukan sejak
dibuat:
rancangan/konsep
kebijakan (dan
strategi);
rancangan/konsep
rencana struktur dan
pola ruang; dan/atau
rancangan/konsep
indikasi program.

Rekomendasi KLHS dapat


bersifat spasial dan non spasial.
Namun, yang diintegrasikan
dalam RTR adalah rekomendasi
yang bersifat spasial, dapat
berupa:
perbaikan pada tujuan,
kebijakan, dan strategi
penataan ruang;
alternatif skenario
perencanaan guna lahan
dan infrastruktur; atau
mitigasi terhadap dampak
lingkungan yang potensial
ditimbulkan dari suatu
rencana yang ditetapkan.
Rekomendasi yang bersifat non
spasial diakomodir dalam
dokumen sebagai catatan untuk

Modul KLHS-RRTR

RENCANA RINCI TATA RUANG


RTR Pulau, RTR
KSN Berbasis
Kawasan, RTR
Kawasan Strategis
Provinsi

RTR Kawasan
Strategis Kab/Kota,
RTR KSN Berbasis
Objek

sama dengan
rencana umum

sama dengan
rencana umum

Rekomendasi
KLHS yang
diintegrasikan
dalam RTR bersifat
spasial, dapat
berupa:
alternatif
skenario
perencanaan
guna lahan dan
infrastruktur;
atau
mitigasi
terhadap
dampak
lingkungan
yang potensial
ditimbulkan
dari suatu
rencana yang

Rekomendasi KLHS
yang diintegrasikan
dalam RTR bersifat
spasial, dapat berupa:
alternatif skenario
perencanaan
zona, jaringan,
serta sarana dan
prasarana; atau
alternatif tema
penanganan
(program utama)
kawasan/objek
yang
diprioritaskan.

RDTR

Analisis lanjutan
terhadap isu strategis
lingkungan hidup
yang telah disepakati
dengan metode
analisis kualitatif;
telaah pengaruh
sudah dapat
dilakukan sejak
dibuat:
rancangan/konsep
penataan BWP
rancangan/konsep
rencana pola
ruang dan jaringan
prasarana;
dan/atau
rancangan/konsep
indikasi program
prioritas RDTR.
Rekomendasi KLHS yang
diintegrasikan dalam RTR
bersifat spasial, dapat
berupa:
- sub BWP yang
diprioritaskan;
- masukan bagi
peraturan zonasi;
atau
- mitigasi terhadap
dampak lingkungan
yang potensial
ditimbulkan dari suatu
rencana yang
ditetapkan.
- penentuan tingkat
kepadatan ruang;
- ketentuan-ketentuan
yang akan ditetapkan
dalam PZ, seperti

30

RENCANA UMUM TATA


RUANG
KLHS

RTRW
Nasional/Provinsi/Kabupaten/
Kota
dapat ditindaklanjuti oleh pihak
lain.
Dalam tahap ini dilaksanakan
kembali konsultasi publik
berupa seminar akhir dengan
pemangku kepentingan yang
diundang minimal sama dengan
konsultasi publik pertama (yang
dipaparkan adalah hasil analisis
terhadap isu strategis yang
telah disepakati dan
rekomendasi KLHS sudah
diakomodir dalam dokumen
RTR).

Modul KLHS-RRTR

RENCANA RINCI TATA RUANG


RTR Pulau, RTR
KSN Berbasis
Kawasan, RTR
Kawasan Strategis
Provinsi
ditetapkan.

RTR Kawasan
Strategis Kab/Kota,
RTR KSN Berbasis
Objek

RDTR

KDB, KLB, KDH,


sempadan, dan
lainnya; dan
- besaran kegiatan
pada tiap fungsi
kawasan.
Meskipun KLHS
menghasilkan
rekomendasi berupa
mitigasi-mitigsi dampak
lingkungan, namun dalam
lingkup RDTR tetap
diperlukan AMDAL
sebagai dokumen
kelayakan pembangunan.

31

4. INTEGRASI KLHS DALAM


PENYUSUNAN RTR

`
Sesuai Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, perencanaan
tata ruang merupakan suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola
ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Pelaksanaan KLHS
harus terintegrasi di dalam perencanaan tata ruang dan dilakukan hanya sampai dengan
proses penyusunan RTR. Pelaksanaan KLHS diintegrasikan dengan penyusunan RTR
sebagai satu-kesatuan (embedded), dimana selama berlangsungnya proses
penyusunan RTR ahli/tim ahli lingkungan berada dalam satu tim dengan perencana tata
ruang. Hal ini sangat penting karena memungkinkan integrasi menyeluruh aspek
lingkungan pada proses penyusunan RTR, sehingga tujuan KLHS sebagai alat untuk
meningkatkan kualitas RTR yang disusun akan tercapai. Namun terdapat catatan perlu
dihindari konflik kepentingan karena berada dalam tim yang sama.

Pengintegrasian KLHS sebagai satu-kesatuan dalam penyusunan RTR dapat dilihat pada
Gambar dibawah ini:

Modul KLHS-RRTR

32

Penjabaran Proses dan Integrasi KLHS dalam Penyusunan RTR

Modul KLHS-RRTR

33

5. DOKUMENTASI KLHS

`
Dokumentasi pelaksanaan KLHS meliputi pelaporan hasil KLHS maupun prosedur dalam
pelaksanaan KLHS. Sistematika isi laporan KLHS dalam penyusunan RTR tidak ada standar baku,
tetapi terdapat muatan minimum sebagaimana dijabarkan berikut.
Laporan KLHS untuk penyusunan RTR setidaknya memuat:
a. gambaran tentang rencana tata ruang;
b. penjelasan tentang informasi lingkungan.
c. peraturan terkait dan sasaran lingkungan yang ditetapkan (terkait dengan rencana tata
ruang);
d. hasil KLHS pada isu strategis, meliputi: kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup untuk pembangunan, perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup,
kinerja layanan/jasa ekosistem, efisiensi pemanfaatan sumber daya alam, tingkat kerentanan
dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim, dan tingkat ketahanan dan potensi
keanekaragaman hayati;
e. rumusan alternatif penyempurnaan rencana tata ruang; dan
f.

rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan.

Dalam hal RTR yang disusun merupakan tindak lanjut dari proses revisi RTR sebelumnya, laporan
KLHS memuat pula hal-hal sebagai berikut:
a. penjelasan tentang informasi lingkungan eksisting sebelum dan sesudah implementasi RTR
b. isu-isu strategis lingkungan hidup yang mengacu pada KLHS sebelumnya atau issu strategis
lingkungan hidup baru sesuai hasil konsultasi publik

Seluruh tahapan pelaksanaan KLHS dalam penyusunan RTR perlu didokumentasikan dan dapat
diakses oleh masyarakat. Dokumentasi pelaksanaan KLHS memuat seluruh proses dan hasil
pelaksanaan KLHS dalam penyusunan serta revisi RTR, termasuk dokumentasi rangkaian urutan
tahapan pelaksanaan KLHS yang dikerjakan dan laporan pelaksanaan dan kesimpulan dari setiap
pembahasan dan konsultasi publik.

Modul KLHS-RRTR

34

Dokumen KLHS dapat dibuat dengan outline:


a. Pendahuluan
b. Gambaran Umum dan Isu Strategis Lingkungan Hidup Wilayah Perencanaan
c. Kajian Aspek Lingkungan Hidup
d. Rumusan Alternatif Rekomendasi KLHS dan Mitigasi untuk Perencanaan Tata Ruang
e. Lampiran-lampiran (Daftar Pemangku Kepentingan
Notulensi, dan Dokumentasi Konsultasi Publik)

yang

Terlibat,

Berita

Acara,

Dokumentasi pelaksanaan KLHS disiapkan oleh pemrakarsa rencana tata ruang dan menjadi
lampiran dokumen rencana tata ruang dan dibuat salinannya bagi instansi lingkungan hidup.
Dokumen publik ini dapat diakses oleh masyarakat. Dalam kasus-kasus tertentu, pemrakarsa
rencana tata ruang dapat mengadakan konferensi pers atau pengumuman publik untuk
mensosialisasikan pelaksanaan KLHS dalam rangka penyusunan RTR.

Modul KLHS-RRTR

35

6. CONTOH KLHS STUDI KASUS


KLHS RTRW KAB KEP
ANAMBAS (2012)
`

A. PENGKAJIAN PENGARUH KRP THD KONDISI LH KABUPATEN KEP ANAMBAS


1. Identifikasi Kebijakan, Rencana dan/atau Program (KRP) RTRW Kabupaten Kepulauan Anambas
Adapun kebijakan dan strategi penataan ruang Kabupaten Kepulauan Anambas dapat dilihat pada
Tabel berikut ini.
Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang
Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2011-2031

No
1

Kebijakan
Pengembangan wilayah berbasis
sektor kelautan dan perikanan

Strategi
a. Mengembangkan kawasan minapolitan;
b. Mengembangkan kawasan ekonomi khusus;
c. Mengembangkan sektor ekonomi sekunder dan
tersier berbasis sektor kelautan dan perikanan;
d. Meningkatkan kelembagaan memperkuat
produksi kelautan dan perikanan;

misi

e. Meningkatkan
infrastruktur
penunjang
pengembangan kawasan minapolitan; dan
f. Meningkatkan
perikanan.
2

Pengembangan wilayah berbasis


sektor pertanian, peternakan, dan
perkebunan

pemasaran

hasil

kelautan

dan

a. Mengembangkan kawasan agropolitan;


b. Meningkatkan produktivitas sektor pertanian
melalui intensifikasi lahan dan modernisasi
pertanian dengan pengelolaan yang ramah
lingkungan;
c. Mengembangkan sektor ekonomi sekunder dan
tersier berbasis sektor pertanian, perternakan, dan
perkebunan;
d. Meningkatkan kelembagaan memperkuat misi
produksi pertanian, peternakan dan perkebunan;
e. Meningkatkan
infrastruktur
penunjang
pengembangan kawasan agropolitan; dan
f. Meningkatkan
pemasaran
peternakan dan perkebunan.

Modul KLHS-RRTR

hasil

pertanian,

36

No
3

Kebijakan
Pengembangan wilayah
berbasis sektor pariwisata

Strategi
a. Mengembangkan
industri
dan
destinasi
pariwisata berbasiskan alam dan budaya yang
berdaya saing dan ramah lingkungan;
b. Mengembangkan industri kerajinan untuk
mendukung pengembangan kegiatan pariwisata;
c. Meningkatkan kelembagaan memperkuat misi
pengembangan pariwisata;
d. Meningkatkan
infrastruktur
dan
fasilitas
penunjang pengembangan kawasan pariwisata;
dan
e. Meningkatkan pemasaran kepariwisataan

Pengelolaan sumber daya alam


yang berkelanjutan

a. Mengelola sumberdaya alam tak terbarukan dan


sumberdaya alam terbarukan secara bijaksana
dan berkelanjutan;
b. Mengendalikan pemanfaatan sumberdaya alam
secara bijaksana untuk menjamin kepentingan
generasi masa kini dan generasi masa depan;
c. Mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber
daya tambang dengan tetap memperhatikan
kelestarian lingkungan; dan
d. Mengembangkan pemanfaatan potensi sumber
daya gas bumi dan energi surya untuk
pemenuhan kebutuhan energi listrik.

Pengembangan pusat-pusat
pemukiman untuk mendukung
pengembangan ekonomi
wilayah

a. Mengembangkan pusat-pusat permukiman pada


kawasan agropolitan, kawasan minapolitan, dan
lokasi lain yang sesuai dengan daya dukung
lahan; dan
b. Mengembangkan infrastruktur, fasilitas umum,
dan fasilitas sosial pada kawasan permukiman.

Pengembangan fungsi pusat


kegiatan yang terintegrasi

a. Mengembangkan pusat-pusat kegiatan dengan


skala pelayanan provinsi dan kabupaten;
b. Meningkatkan interaksi antara
Kabupaten dengan pusat-pusat
perkotaan dan perdesaan;

Ibu Kota
pelayanan

c. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan


prasarana perkotaan;
d. Meningkatkan dan mengembangkan
umum dan fasilitas sosial; dan

fasilitas

e. Mengembangkan pusat kegiatan perdagangan dan


jasa untuk mendukung kegiatan primer dan
sekunder.
7

Pengembangan prasarana dan


sarana wilayah yang
berkualitas dan berhirarki

a. Mengembangkan
prasarana
dan
sarana
transportasi antara perkotaan dan perdesaan
sesuai dengan hirarkinya;
b. Mengembangkan prasarana energi listrik dan
meningkatkan infrastruktur pendukung;
c. Meningkatkan
telekomunikasi;

jangkauan

pelayanan

d. Mengoptimalkan
pendayagunaan
pengelolaan prasarana sumberdaya air; dan

Modul KLHS-RRTR

dan

37

No

Kebijakan

Strategi
e. Mengembangkan dan mengoptimalkan sistem
pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Pemantapan fungsi kawasan


lindung

a. Menetapkan tata batas kawasan lindung dan


budidaya untuk memberikan kepastian rencana
pemanfaatan ruang dan investasi;
b. Menyusun
dan
melaksanakan
rehabilitasi lingkungan;

program

c. Mengendalikan alih fungsi lahan pada kawasan


lindung;
d. Mengembangkan kawasan Ruang Terbuka Hijau
(RTH) pada kawasan perkotaan;
e. Meningkatan pengelolaan
pengendalian kerusakan,
lingkungan;

lingkungan hidup,
dan pencemaran

f. Mengembangkan daerah perlindungan laut untuk


kepentingan konservasi sumberdaya ikan dan
lingkungannya;
g. Mengelola kawasan lindung taman laut nasional
sebagai destinasi wisata bahari; dan
h. Menjalin kerjasama regional, nasional, dan
internasional dalam rangka memulihkan fungsi
kawasan lindung.
9

Peningkatan fungsi kawasan


untuk pertahanan dan
keamanan negara

a. Mendukung penetapan Kawasan Strategis


Nasional dengan fungsi khusus Pertahanan dan
Keamanan;
b. Mengembangkan kegiatan budidaya secara
selektif di dalam dan di sekitar Kawasan Strategis
Nasional dengan fungsi Pertahanan dan
Keamanan,
untuk
menjaga
fungsi
dan
peruntukannya;
c. Mengembangkan Kawasan Lindung dan/atau
Kawasan budidaya tidak terbangun di sekitar
Kawasan Strategis Nasional dengan fungsi khusus
pertahanan sebagai zona penyangga; dan
d. Menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan
dan keamanan

Sumber: RTRW Kabupaten Kepulauan Anambas 2011 - 2031

Modul KLHS-RRTR

38

2. Matriks Pengkajian Pengaruh KRP Terhadap Lingkungan


Untuk setiap KRP, dihitung dampak (+) dan dampak (-) yang timbul (perhitungan dilakukan menurut
baris matriks). Kebijakan yang menimbulkan frekuensi dampak (+) atau dampak (-) yang paling
tinggi, dipandang sebagai kebijakan yang paling penting atau prioritas untuk dikaji.
Begitu juga isu-isu lingkungan hidup, dampak (+) dan dampak (-) yang timbul (perhitungan dilakukan
menurut kolom matriks). Isu-isu lingkungan hidup yang paling tinggi frekuensinya terkena dampak
(+) dan dampak (-) , dipandang sebagai isu strategis untuk dikaji.
Adapun Matriks Kajian Dampak Kebijakan, Rencana, dan/atau Program Terhadap Isu-Isu Lingkungan
Hidup dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:
Adapun kebijakan dan strategi penataan ruang Kabupaten Kepulauan Anambas dapat dilihat pada
Tabel berikut ini.

Modul KLHS-RRTR

39

Tabel Matriks Pengaruh Kebijakan, Rencana, dan/atau Program (KRP) Terhadap Lingkungan Berdasarkan Isu-Isu Lingkungan Hidup
Isu Strategis
Sosial

Kebijakan, Rencana,
dan/atau Program (KRP)

Kebijakan Penataan Ruang Wilayah


a. Mengembangkan
kawasan minapolitan
b. Mengembangkan
kawasan ekonomi
khusus
c. Mengembangkan sektor
ekonomi sekunder dan
tersier berbasis sektor
kelautan dan perikanan
Pengembangan
d. Meningkatkan
wilayah berbasis
kelembagaan
sektor kelautan
memperkuat misi
dan perikanan
produksi kelautan dan
perikanan
e. Meningkatkan
infrastruktur penunjang
pengembangan kawasan
minapolitan
f. Meningkatkan
pemasaran hasil
kelautan dan perikanan

Pengembangan
wilayah berbasis
sektor pertanian,
peternakan dan
perkebunan

Pengembangan
wilayah berbasis
sektor pariwisata

Modul KLHS-RRTR

a. Mengembangkan
kawasan agropolitan
b. Meningkatkan
produktivitas sektor
pertanian melalui
intensifikasi lahan dan
modernisasi pertanian
dengan pengelolaan
yang ramah lingkungan;
c. Mengembangkan sektor
ekonomi sekunder dan
tersier berbasis sektor
pertanian, perternakan,
dan perkebunan;
d. Meningkatkan
kelembagaan
memperkuat misi
produksi pertanian,
peternakan dan
perkebunan;
e. Meningkatkan
infrastruktur penunjang
pengembangan kawasan
agropolitan; dan
f. Meningkatkan
pemasaran hasil
pertanian, peternakan
dan perkebunan.

a. Mengembangkan
industri dan destinasi
pariwisata berbasiskan

Kelautan dan Perikanan

Terbatasnya
kualitas SDM
dan Belum
Optimal
Partisipasi
Masy dlm
Pembangunan

Degradasi
dan
Pencemaran
Wilayah
Pesisir

Pariwisata

Perhubungan

Energi dan Sumberdaya Mineral

Kehutanan

Pertanian
Perkebunan

Perubahan Iklim dan Aksi


Penurunan Emisi Gas
Rumah Kaca
Frekuensi
Dampak
(+)

Frekuensi
Dampak
(-)

10

Ketersediaan
Energi Listrik

Potensi
Pertmbangan
Minyak dan
Gas Lepas
Pantai dan
Bahan
Tambang

Permasalah
an padu
serasi
penetapan
kawasan
lindung

Ketahanan
Pangan

Ancaman
Kenaikan
Muka Air
Laut

Ancaman
Peningkatan
Gas Rumah
Kaca

Pelestarian
Terumbu
Karang

Belum
Optimalnya
Pengelolaan
Perikanan
Tangkap
dan Budaya

Sampah
domestik
dan
pencemaran
laut

Potensi dan
Obyek Wisata
Bahari Belum
Dikembangkan
Optimal

Rendahnya
transportasi
antar pulau

Ketersediaan
Air Bersih

40

Isu Strategis
Sosial

Kebijakan, Rencana,
dan/atau Program (KRP)

b.

c.

d.

e.

alam dan budaya yang


berdaya saing dan
ramah lingkungan;
Mengembangkan
industri kerajinan untuk
mendukung
pengembangan kegiatan
pariwisata;
Meningkatkan
kelembagaan
memperkuat misi
pengembangan
pariwisata;
Meningkatkan
infrastruktur dan
fasilitas penunjang
pengembangan kawasan
pariwisata; dan
Meningkatkan
pemasaran
kepariwisataan

Kelautan dan Perikanan

Terbatasnya
kualitas SDM
dan Belum
Optimal
Partisipasi
Masy dlm
Pembangunan

Degradasi
dan
Pencemaran
Wilayah
Pesisir

Pariwisata

Perhubungan

Energi dan Sumberdaya Mineral

Kehutanan

Pertanian
Perkebunan

Perubahan Iklim dan Aksi


Penurunan Emisi Gas
Rumah Kaca

Ancaman
Peningkatan
Gas Rumah
Kaca

Frekuensi
Dampak
(+)

Frekuensi
Dampak
(-)

10

10

Ketersediaan
Energi Listrik

Potensi
Pertmbangan
Minyak dan
Gas Lepas
Pantai dan
Bahan
Tambang

Permasalah
an padu
serasi
penetapan
kawasan
lindung

Ketahanan
Pangan

Ancaman
Kenaikan
Muka Air
Laut

Pelestarian
Terumbu
Karang

Belum
Optimalnya
Pengelolaan
Perikanan
Tangkap
dan Budaya

Sampah
domestik
dan
pencemaran
laut

Potensi dan
Obyek Wisata
Bahari Belum
Dikembangkan
Optimal

Rendahnya
transportasi
antar pulau

Ketersediaan
Air Bersih

a. Mengelola sumberdaya

Pengelolaan
sumber daya alam
yang berkelanjutan

alam tak terbarukan dan


sumberdaya alam
terbarukan secara
bijaksana dan
berkelanjutan;
b. Mengendalikan
pemanfaatan
sumberdaya alam secara
bijaksana untuk
menjamin kepentingan
generasi masa kini dan
generasi masa depan;
c. Mengoptimalkan
pemanfaatan potensi
sumber daya tambang
dengan tetap
memperhatikan
kelestarian lingkungan;
dan
d. Mengembangkan
pemanfaatan potensi
sumber daya gas bumi
dan energi surya untuk
pemenuhan kebutuhan
energi listrik.

a. mengembangkan pusatPengelolaan pusatpusat permukiman


untuk mendukung
pengembangan
ekonomi wilayah

Modul KLHS-RRTR

pusat permukiman pada


kawasan agropolitan,
kawasan minapolitan,
dan lokasi lain yang
sesuai dengan daya
dukung lahan; dan
b. mengembangkan
infrastruktur, fasilitas

41

Isu Strategis
Sosial

Kebijakan, Rencana,
dan/atau Program (KRP)

Kelautan dan Perikanan

Terbatasnya
kualitas SDM
dan Belum
Optimal
Partisipasi
Masy dlm
Pembangunan

Degradasi
dan
Pencemaran
Wilayah
Pesisir

Pariwisata

Perhubungan

Energi dan Sumberdaya Mineral

Kehutanan

Pertanian
Perkebunan

Perubahan Iklim dan Aksi


Penurunan Emisi Gas
Rumah Kaca
Frekuensi
Dampak
(+)

Frekuensi
Dampak
(-)

10

10

Ketersediaan
Energi Listrik

Potensi
Pertmbangan
Minyak dan
Gas Lepas
Pantai dan
Bahan
Tambang

Permasalah
an padu
serasi
penetapan
kawasan
lindung

Ketahanan
Pangan

Ancaman
Kenaikan
Muka Air
Laut

Ancaman
Peningkatan
Gas Rumah
Kaca

Pelestarian
Terumbu
Karang

Belum
Optimalnya
Pengelolaan
Perikanan
Tangkap
dan Budaya

Sampah
domestik
dan
pencemaran
laut

Potensi dan
Obyek Wisata
Bahari Belum
Dikembangkan
Optimal

Rendahnya
transportasi
antar pulau

Ketersediaan
Air Bersih

umum, dan fasilitas


sosial pada kawasan
permukiman.

a. mengembangkan pusat-

b.

Pengembangan
fungsi pusat
kegiatan yang
terintegrasi

c.

d.

e.

pusat kegiatan dengan


skala pelayanan provinsi
dan kabupaten;
meningkatkan interaksi
antara Ibu Kota
Kabupaten dengan
pusat-pusat pelayanan
perkotaan dan
perdesaan;
meningkatkan kualitas
dan kuantitas sarana
dan prasarana
perkotaan;
meningkatkan dan
mengembangkan
fasilitas umum dan
fasilitas sosial; dan
mengembangkan pusat
kegiatan perdagangan
dan jasa untuk
mendukung kegiatan
primer dan sekunder.

a. mengembangkan

b.
Pengembangan
prasarana dan
sarana wilayah
yang berkualitas
dan berhirarki

c.
d.

e.

prasarana dan sarana


transportasi antara
perkotaan dan
perdesaan sesuai
dengan hirarkinya;
mengembangkan
prasarana energi listrik
dan meningkatkan
infrastruktur
pendukung;
meningkatkan
jangkauan pelayanan
telekomunikasi;
mengoptimalkan
pendayagunaan dan
pengelolaan prasarana
sumberdaya air; dan
mengembangkan dan
mengoptimalkan sistem
pengelolaan lingkungan
berkelanjutan.

a. menetapkan tata batas


Pemantapan fungsi
kawasan lindung

Modul KLHS-RRTR

kawasan lindung dan


budidaya untuk
memberikan kepastian
rencana pemanfaatan
ruang dan investasi;
b. menyusun dan
melaksanakan program

42

Isu Strategis
Sosial

Kebijakan, Rencana,
dan/atau Program (KRP)

Kelautan dan Perikanan

Terbatasnya
kualitas SDM
dan Belum
Optimal
Partisipasi
Masy dlm
Pembangunan

Degradasi
dan
Pencemaran
Wilayah
Pesisir

Pariwisata

Perhubungan

Energi dan Sumberdaya Mineral

Kehutanan

Pertanian
Perkebunan

Perubahan Iklim dan Aksi


Penurunan Emisi Gas
Rumah Kaca

Ancaman
Peningkatan
Gas Rumah
Kaca

Frekuensi
Dampak
(+)

Frekuensi
Dampak
(-)

Ketersediaan
Energi Listrik

Potensi
Pertmbangan
Minyak dan
Gas Lepas
Pantai dan
Bahan
Tambang

Permasalah
an padu
serasi
penetapan
kawasan
lindung

Ketahanan
Pangan

Ancaman
Kenaikan
Muka Air
Laut

11

Pelestarian
Terumbu
Karang

Belum
Optimalnya
Pengelolaan
Perikanan
Tangkap
dan Budaya

Sampah
domestik
dan
pencemaran
laut

Potensi dan
Obyek Wisata
Bahari Belum
Dikembangkan
Optimal

Rendahnya
transportasi
antar pulau

Ketersediaan
Air Bersih

rehabilitasi lingkungan;

c. mengendalikan alih
d.

e.

f.

g.

h.

fungsi lahan pada


kawasan lindung;
mengembangkan
kawasan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) pada
kawasan perkotaan;
meningkatan
pengelolaan lingkungan
hidup, pengendalian
kerusakan, dan
pencemaran lingkungan;
mengembangkan daerah
perlindungan laut untuk
kepentingan konservasi
sumberdaya ikan dan
lingkungannya;
mengelola kawasan
lindung taman laut
nasional sebagai
destinasi wisata bahari;
dan
menjalin kerjasama
regional, nasional, dan
internasional dalam
rangka memulihkan
fungsi kawasan lindung.

a.

Peningkatan fungsi
kawasan untuk
pertahanan dan
keamanan negara

Modul KLHS-RRTR

mendukung penetapan
Kawasan Strategis
Nasional dengan fungsi
khusus Pertahanan dan
Keamanan;
b. mengembangkan
kegiatan budidaya
secara selektif di dalam
dan di sekitar Kawasan
Strategis Nasional
dengan fungsi
Pertahanan dan
Keamanan, untuk
menjaga fungsi dan
peruntukannya;
c. mengembangkan
Kawasan Lindung
dan/atau Kawasan
budidaya tidak
terbangun di sekitar
Kawasan Strategis
Nasional dengan fungsi
khusus pertahanan
sebagai zona penyangga;
dan
d. menjaga dan
memelihara aset-aset
pertahanan dan
keamanan.

43

Isu Strategis
Sosial

Kebijakan, Rencana,
dan/atau Program (KRP)

Frekuensi Dampak
(+)
Frekuensi Dampak
(-)

Kelautan dan Perikanan

Terbatasnya
kualitas SDM
dan Belum
Optimal
Partisipasi
Masy dlm
Pembangunan

Degradasi
dan
Pencemaran
Wilayah
Pesisir

0
0

16
12

Pariwisata

Pelestarian
Terumbu
Karang

Sampah
domestik
dan
pencemaran
laut

Potensi dan
Obyek Wisata
Bahari Belum
Dikembangkan
Optimal

Rendahnya
transportasi
antar pulau

Ketersediaan
Air Bersih

14
13

14
5

10
15

22
4

32
0

14
28

Keterangan
: KRP menimbulkan dampak positif terhadap lingkungan hidup

(-)

: KRP menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup

: KRP tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup

Modul KLHS-RRTR

Energi dan Sumberdaya Mineral

Belum
Optimalnya
Pengelolaan
Perikanan
Tangkap
dan Budaya

Sumber: Hasil Analisis, 2012

(+)

Perhubungan

44

Kehutanan

Pertanian
Perkebunan

Perubahan Iklim dan Aksi


Penurunan Emisi Gas
Rumah Kaca

Ketersediaan
Energi Listrik

Potensi
Pertmbangan
Minyak dan
Gas Lepas
Pantai dan
Bahan
Tambang

Permasalah
an padu
serasi
penetapan
kawasan
lindung

Ketahanan
Pangan

Ancaman
Kenaikan
Muka Air
Laut

Ancaman
Peningkatan
Gas Rumah
Kaca

17
24

9
12

13
14

11
5

14
21

17

Frekuensi
Dampak
(+)

Frekuensi
Dampak
(-)

Berdasarkan tabel matriks diatas, dapat disimpulkan bahwa kebijakan yang menimbulkan
frekuensi dampak (+) atau dampak (-) yang paling tinggi, yakni kebijakan yang paling
penting atau prioritas untuk dikaji dalam strateginya, yaitu sebagai berikut :
1. Pengembangan wilayah berbasis sektor kelautan dan perikanan, dengan strategi
sebagai berikut :

Mengembangkan kawasan minapolitan

Meningkatkan infrastruktur penunjang pengembangan kawasan minapolitan

2. Pengembangan wilayah berbasis sektor pertanian, peternakan dan perkebunan,


dengan strategi sebagai berikut :

Mengembangkan kawasan agropolitan

Meningkatkan infrastruktur penunjang pengembangan kawasan agropolitan

3. Pengembangan wilayah berbasis sektor pariwisata, dengan strategi sebagai berikut :

Mengembangkan industri dan destinasi pariwisata berbasiskan alam dan budaya


yang berdaya saing dan ramah lingkungan

Meningkatkan infrastruktur dan fasilitas penunjang pengembangan kawasan


pariwisata;

Meningkatkan pemasaran kepariwisataan

4. Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, dengan strategi sebagai berikut :

Mengelola sumberdaya alam tak terbarukan dan sumberdaya alam terbarukan


secara bijaksana dan berkelanjutan

Mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya tambang dengan tetap


memperhatikan kelestarian lingkungan; dan

Mengembangkan pemanfaatan potensi sumber daya gas bumi dan energi surya
untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik.

5. Pengelolaan pusat-pusat permukiman untuk mendukung pengembangan ekonomi


wilayah, dengan strategi sebagai berikut :

mengembangkan pusat-pusat permukiman pada kawasan agropolitan, kawasan


minapolitan, dan lokasi lain yang sesuai dengan daya dukung lahan

mengembangkan infrastruktur, fasilitas umum, dan fasilitas sosial pada kawasan


permukiman.

6. Pengembangan prasarana dan sarana wilayah yang berkualitas dan berhirarki,


dengan strategi sebagai berikut :

mengembangkan prasarana dan sarana transportasi antara perkotaan dan


perdesaan sesuai dengan hirarkinya

Modul KLHS-RRTR

45

mengembangkan prasarana energi listrik dan meningkatkan infrastruktur


pendukung;

meningkatkan jangkauan pelayanan telekomunikasi

mengoptimalkan pendayagunaan dan pengelolaan prasarana sumberdaya air

mengembangkan

dan

mengoptimalkan

sistem

pengelolaan

lingkungan

berkelanjutan
7. Pemantapan fungsi kawasan lindung, dengan strategi sebagai berikut :

menetapkan tata batas kawasan lindung dan budidaya untuk memberikan


kepastian rencana pemanfaatan ruang dan investasi;

mengendalikan alih fungsi lahan pada kawasan lindung

mengembangkan kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada kawasan perkotaan

meningkatan pengelolaan lingkungan hidup, pengendalian kerusakan, dan


pencemaran lingkungan

mengembangkan daerah perlindungan laut untuk kepentingan konservasi


sumberdaya ikan dan lingkungannya;

mengelola kawasan lindung taman laut nasional sebagai destinasi wisata bahari;
dan

menjalin kerjasama regional, nasional, dan internasional dalam rangka


memulihkan fungsi kawasan lindung

8. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara, dengan


strategi sebagai berikut :

Mengembangkan Kawasan Lindung dan/atau Kawasan budidaya tidak terbangun


di sekitar Kawasan Strategis Nasional dengan fungsi khusus pertahanan sebagai
zona penyangga

Sedangkan isu-isu lingkungan hidup yang menimbulkan frekuensi dampak (+) atau
dampak (-) yang paling tinggi, yakni dipandang sebagai isu strategis diantaranya :
Tabel Isu Lingkungan Berdasarkan Frekuensi Dampak Positif dan Dampak Negatif
No
1
2
3
4
5
6

Isu Lingkungan
Terbatasnya kualitas SDM dan Belum Optimal Partisipasi Masyarakat
dalam pembangunan
Degradasi dan Pencemaran Wilayah Pesisir
Pelestarian Terumbu Karang
Belum Optimalnya Pengelolaan Perikanan Tangkap dan Budaya
Sampah domestik dan pencemaran laut
Potensi dan Obyek Wisata Bahari Belum Dikembangkan Optimal

Modul KLHS-RRTR

Frekuensi
Dampak
(+)
(-)
0

16
14
14
10
22

12
13
5
15
4
46

No

Isu Lingkungan

7
8
9
10

Rendahnya transportasi antar pulau


Ketersediaan Air Bersih
Ketersediaan Energi Listrik
Potensi Pertambangan Minyak dan Gas Lepas Pantai dan Bahan
Tambang
11 Permasalahan padu serasi penetapan kawasan lindung
12 Ketahanan Pangan
13 Ancaman Kenaikan Muka Air Laut
14 Ancaman Peningkatan Gas Rumah Kaca
Sumber: Hasil Analisis, 2012

Frekuensi
Dampak
(+)
(-)
32
0
14
28
17
24
9

12

13
11
14
17

14
5
21

Berdasarkan tabel diatas, jika dikelompokkan pada masing-masing frekuensi dampak, 5


(lima) isu lingkungan dengan dampak positif tertinggi adalah sebagai berikut :
a. Rendahnya transportasi antar pulau, dengan frekuensi dampak 32
b. Potensi dan Obyek Wisata Bahari Belum Dikembangkan Optimal, dengan frekuensi
dampak 22
c. Ketersediaan Energi Listrik, dengan frekuensi dampak 17
d. Ancaman Peningkatan Gas Rumah Kaca, dengan frekuensi dampak 17
e. Degradasi dan Pencemaran Wilayah Pesisir, dengan frekuensi dampak 16
Sedangkan 5 (lima) isu lingkungan dengan dampak negatif tertinggi adalah sebagai
berikut:
a. Ketersediaan Air Bersih, dengan frekuensi dampak 28
b. Ketersediaan Energi Listrik, dengan frekuensi dampak 24
c. Ancaman Kenaikan Muka Air Laut, dengan frekuensi dampak 21
d. Sampah domestik dan pencemaran laut, dengan frekuensi dampak 15
e. Permasalahan padu serasi penetapan kawasan lindung, dengan frekuensi dampak 14
Berdasarkan matriks pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau program (KRP) terhadap
lingkungan hidup berdasarkan isu lingkungan disimpulkan bahwa tidak ada satu pun KRP
yang memiliki interaksi langsung mau pun tidak langsung baik dengan frekuensi positif
maupun negatif terhadap isu terbatasnya kualitas SDM dan rendahnya partisipasi
masyarakat dalam pembangunan.
Pada gambaran umum wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas terdapat informasi dan
data bahwa kondisi tingkat pendidikan masyarakat rendah. Tidak berarti isu tersebut tidak
penting tetapi dapat disimpulkan bahwa dalam rancangan RTRW Kabupaten Kepulauan
Anambas 2011-2031 belum terakomidir isu tersebut, sehingga perlu ditambahkan
kebijakan, rencana, dan/atau program dalam RTRW Kabupaten Kepulauan Anambas
2011-2031 yang mengakomidir isu tersebut.

Modul KLHS-RRTR

47

7. CONTOH RAB STUDI KASUS


KLHS KAB TANAH BUMBU

A. REKAPITULASI BIAYA

HARGA PERKIRAAN SENDIRI


PENYUSUNAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) KABUPATEN TANAH BUMBU
TAHUN ANGGARAN 2014

A.

B.

BIAYA LANGSUNG PERSONIL


I. TENAGA AHLI
II. TENAGA PENDUKUNG
SUB - TOTAL A

Rp.
Rp.
Rp.

BIAYA LANGSUNG NON PERSONIL


I. BIAYA PERTEMUAN/DISKUSI/FGD
II. BIAYA KANTOR
III. BIAYA PELAPORAN DATA

Rp.
Rp.
Rp.

SUB - TOTAL B

Rp.

JUMLAH A + B
PPN 10 %
JUMLAH TERMASUK PPN 10 %
DIBULATKAN

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

Terbilang : .........................

Modul KLHS-RRTR

48

B. RINCIAN BIAYA LANGSUNG PERSONIL


RINCIAN BIAYA LANGSUNG PERSONIL
PENYUSUNAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) KABUPATEN TANAH BUMBU
TAHUN ANGGARAN 2014
A. BIAYA LANGSUNG PERSONIL
NO.

I.
1

KEAHLIAN

SATUAN

UNIT

VOLUME

HARGA SATUAN
(Rp.)

HARGA
(Rp.)

TENAGA AHLI
Ketua Tim

mm

Ahli Geologi/Pertambangan

mm

Ahli Kimia/Biologi

mm

Ahli Lingkungan

mm

Ahli Geodesi/Geospatial

mm

Ahli Geofisik

mm

Ahli Kehutanan

mm

10

Ahli Pertanian

mm

11

Ahli Ekonomi/Sosial Budaya

mm

27
II.
1

TENAGA PENDUKUNG
Sekretaris

mm

Administrasi/Operator Komputer

mm

Operator Pemetaan

mm

Surveyor

mm

JUMLAH A

C. RINCIAN BIAYA LANGSUNG NON PERSONIL


RINCIAN BIAYA LANGSUNG NON PERSONIL
PENYUSUNAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) KABUPATEN TANAH BUMBU
TAHUN ANGGARAN 2014
B.

BIAYA LANGSUNG NON PERSONIL

NO.

I.

KETERANGAN

SATUAN

UNIT

VOLUME

SATUAN HARGA
(Rp.)

HARGA
(Rp.)

BIAYA PERTEMUAN/DISKUSI/FGD
a.
-

FGD di (2 kali x 30 org)


Konsumsi
Uang Harian Peserta
Bahan Serahan/Seminar Kit
Nara Sumber
Dokumentasi

Ls/Org/Hr
Ls/Org/Hr
Ls/Org
Ls/Org
Ls

2,00
2,00
2,00
2,00
2,00

30,00
30,00
30,00
4,00
1,00

II.

BIAYA KANTOR
a. ATK
b. Sewa Kendaraan Roda - 4
c. Sewa Kendaraan Roda - 2

III. BIAYA PELAPORAN DAN DATA


a. Laporan Draft Akhir
b. Laporan Akhir
c. Album Peta A1 dan A3
d. CD Laporan
e. Pengadaan Poster dan Banner/spanduk

bln
unit
unit

3,00
2,00
3,00

1,00
3,00
2,00

Buku
Buku
Ls
Buah
Ekspl

1,00
1,00
1,00
1,00
4,00

30,00
30,00
30,00
10,00
2,00

JUMLAH B

Modul KLHS-RRTR

49

Anda mungkin juga menyukai