Anda di halaman 1dari 33

LUKA BAKAR PADA ANAK

Makalah
diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Integument System in Nursing
dengan dosen mata kuliah Agus Hendra S.Kep., Ners., M.Kep

disusun oleh:
Ai Roainingsih

: 043-315-13-1-002

Annisa Nurfitriani Bachri

: 043-315-13-1-005

Asep Ramdan

: 043-315-13-1-006

Dea Fairuz Hasna Latifah

: 043-315-13-1-008

Dilo Rivanca Farera

: 043-315-13-1-012

Juan Carlo Triatmaka

: 043-315-13-1-022

Nia Ratna Rukhiah

: 043-315-13-1-029

Sani Sri Wulandari

: 043-315-13-1-035

Siska Widiyanti

: 043-315-13-1-037

KELAS S1-3A
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN PERSATUAN
PERAWAT NASIONAL INDONESIA JAWA BARAT
BANDUNG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat
menyelesaikan makalah Keperawatan Anak 1 ini sebatas pengetahuan dan
kemampuan yang kami miliki. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Agus
Hendra selaku Dosen mata kuliah Keperawatan Anak 1 yang telah memberikan
tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai manfaat dan pengaruh dari stres dan
adaptasi. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat
kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Dan dapat menambah wawasan maupun pemahaman mengenai
peran perawat dalam mengatasi klien terutama pada anak-anak dengan masalah
luka bakar. Sekali lagi kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun
demi perbaikan di masa depan.
Bandung, 05 November 2015

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
DAFTAR TABEL...................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................1
1.3 Tujuan Makalah..............................................................................................1
1.4 Manfaat...........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................2
2.1 Laporan Pendahuluan.....................................................................................2
2.1.1 Definisi....................................................................................................2
2.1.2 Etiologi....................................................................................................2
2.1.3 Fase Luka Bakar......................................................................................3
2.1.4 Klasifikasi................................................................................................4
2.1.5 Derajat Luka Bakar..................................................................................7
2.1.6 Patofisiologi.............................................................................................7
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang...........................................................................9
2.2 Asuhan Keperawatan....................................................................................10
2.2.1 Pengkajian..............................................................................................10
2.2.2 Diagnosa................................................................................................13
2.2.3 Rencana Intervensi dan Rasional...........................................................14
BAB III PENUTUP...............................................................................................25
3.1 Simpulan.......................................................................................................25
3.2 Saran.............................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................26

DAFTAR TABEL
2.1 Tabel Kalasifikasi berdasarkan kedalaman luka bakar...............................4
2.2 Tabel Klasifikasi luka bakar berdasarkan tingkat usia................................5
2.3 Tabel Rencana, intervensi, dan rasional....................................................14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi
oleh dokter dan perawat. Jenis yang berat memperlihatkan morbiditas
dan derajat cacat yang relatif tinggi dibanding dengan cedera oleh
sebab lain. Biaya yang dibutuhkan dalam penangananpun tinggi.
Penyebab luka bakar selain terbakar api langsung atau tak
langsung, juga pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun
bahan kimia. Luka bakar karena api atau akibat tak langsung dari api
misalnya tersiram panas banyak terjadi pada kecelakaan rumah
tangga.
Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal
akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun eksternal
dan mengenai organ tertentu. (Lazarus, 1994 dalam Potter & Perry,
2006;1853).
Berat ringannya luka bakar tergantung pada faktor, agent,
lamanya terpapar, area yang terkena, kedalamannya, bersamaan
dengan trauma, usia dan kondisi penyakit sebelumnya.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Bagaimana definisi luka bakar?
2. Bagaimana etiologi luka bakar?
3. Bagaimana fase luka bakar?
4. Bagaimana klasifikasi luka bakar?
5. Bagaimana derajat luka bakar?
6. Bagaimana tingkatan usia luka bakar?
7. Bagaimana patofisiologi luka bakar?
8. Bagaimana data penunjang luka bakar?

9. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien luka bakar?


1.3 Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui definisi luka bakar
2. Untuk mengetahui etiologi luka bakar
3. Untuk mengetahui fase luka bakar
4. Untuk mengetahui klasifikasi luka bakar
5. Untuk mengetahui mengetahui derajat luka bakar
6. Untuk mengetahui tingkatan usia luka bakar
7. Untuk mengetahui patofisiologi luka bakar
8. Untuk mengetahui data penunjang luka bakar
9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien luka bakar
1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut, yaitu:
1.
Menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembacanya.
2.
Dapat membantu pembaca dalam mengetahui pentingnya cara
mengukur atau menghitung persentase luka bakar, sehingga dapat
diketahui tingkat dan derajat luka bakar pada penderita luka
3.

bakar.
Membantu perawat memahami berbagai cara dalam menghadapi,
menangani, serta merawat klien atau pasien (anak) yang
menderita luka bakar.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Laporan Pendahuluan
2.1.1 Definisi
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan oleh energi panas atau bahan kimia atau benda-benda
fisik

yang

menghasilkan

efek

baik

memanaskan

atau

mendinginkan.
Luka bakar merupakan luka yang unik diantara bentuk-bentuk
luka lainnya karena luka tersebut meliputi sejumlah besar jaringan
mati (eskar) yang tetap berada pada tempatnya untuk jangka waktu
yang lama. (Smeltzer, 2001 : 1911).
Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal
akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun eksternal
dan mengenai organ tertentu. (Lazarus, 1994 dalam Potter & Perry,
2006;1853).
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jarinan yang
disebabkan oleh kontak dengan sumber panas, api, air panas, bahan
kimia, listrik dan radiasi (Moenadjat. 2001).
Luka bakar adalah injury pada jaringan yang disebabkan oleh
panas (Thermal), Kimia, Elektrik, dan Radiasi (Suriyadi. 1987).
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas,
arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa
dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo,
2001).
2.1.2 Etiologi
Dapat diglongkan dalam beberapa bagian:
a. Flame: kobaran api di tubuh
b. Flash: jilatan api ditubuh
c. Scald:terkena air panas
d. Kontak panas: tersentuh benda pana
e. Akibat sengatan listrik
f. Akibat bahan kimia
g. Sun burn: sengatan matahari

h. Luka bakar radiasi


2.1.3 Fase Luka Bakar
a. Fase akut
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Secara umum
pada fase ini, seorang penderita akan berada dalam keadaan
yang bersifat relatif life thretening. Dalam fase awal penderita
akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas),
brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi).
Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau
beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi
obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 4872 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab
kematian utama penderiat pada fase akut.
Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak
sistemik. Problema sirkulasi yang berawal dengan kondisi syok
(terjadinya ketidakseimbangan antara paskan O2 dan tingkat
kebutuhan respirasi sel dan jaringan) yang bersifat hipodinamik
dapat berlanjut dengan keadaan hiperdinamik yang masih
ditingkahi denagn problema instabilitas sirkulasi.
b. Fase sub akut
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang
terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak
denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:
1) Proses inflamasi dan infeksi.
2) Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka
telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada
struktur atau organorgan fungsional.
3) Keadaan hipermetabolisme.
c. Fase lanjut
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi
parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional.
Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa

parut

yang

hipertropik,

kleoid,

gangguan

pigmentasi,

deformitas dan kontraktur.


2.1.4 Klasifikasi
a. Berdasarkan Kedalaman Luka Bakar
Tabel 2.1
Kalasifikasi berdasarkan kedalaman luka bakar
Kedalaman
Ketebalan

Penyebab
Penampilan
Jilatan api, Kering
tidak

partial

sinar

seperfisial

violet

minimal / tidak ada

(tingkat 1)

(terbakar

pucat

oleh

dengan

matahari)

berisi

Lebih

ultra gelembung.

dari ketebalan dengan


(tingkat

ditekan

ujung

jari,

kembali

bila

lembab

bahan
2) atau

bila

Perasaan
Nyeri

Edema merah

tekanan dilepas.
Blister
berdasarkan Bintik-

dalam Kontak

partial

Warna
ada Bertambah

Sangat

yang bintik yang nyeri

air ukurannya bertambah kurang


bahan besar.

Pucat

bila jelas,

seperfisial

padat. Jilatan ditekan dengan ujung putih,

dalam

apai

pada jari,

bila

tekanan coklat,

pakaian atau dilepas berisi kembali.

pink,

jilatan

daerah

langsung

merah

Ketebalan

kimiawi
Kontak

coklat.
Kering disertai kulit Putih,

Tidak

sepenuhnya

dengan

mengelupas.pembuluh

sakit,

(tingkat 3)

bahan
atau
Nyala

cair darah

kering,

sepertiarang hitam,

padat. terlihat di bawah kulit colat


api, yang

mengelupas. merah.

kimia,

Gelembung

kontak

dinding sangat tipis,

jarang,

sedikit
tua, sakit,
rambut
mudah
lepas bila

langsung

tidak membesar, tidak

dicabut.

dengan arus pucat bila ditekan


listrik

b. Tingkat Usia
Tabel 2.2
Klasifikasi luka bakar berdasarkan tingkat usia

Area luka bakar

0-1

1-4

5-9

10-14

15

Tahun

Tahun

Tahun

Tahun

Tahun

Kepala

19

17

13

11

Leher

Dada

13

13

13

13

13

13

Punggung

13

13

13

13

13

13

Lengan kanan atas

Lengan kiri atas

Lengan kanan bawah 3

Lengan kiri bawah

Tangan kanan

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

Dewasa

Tangan kiri

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

Genetalia

Bokong kanan

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

Bokong kiri

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

Paha kanan

5,5

6,5

8,5

9,5

Paha kiri

5,5

6,5

8,5

9,5

Tungkai kanan

5,5

6,5

Tungkai kiri

5,5

6,5

Kaki kanan

3,5

3,5

3,5

3,5

3,5

3,5

Kaki kiri

3,5

3,5

3,5

3,5

3,5

3,5

c. Berdasarkan Luas Luka Bakar


Wallace membagi tubuh atas 9% bagian atau kelipatan 9
yang terkenal dengan nama Rule of Wallace
1. Kepala dan leher: 9%.
2. Lengan masing-masing: 9%= 18%.
3. Badan depan 18% badan belakang 18%= 36%.
4. Tungkai masing-masing 18%= 36%.
5. Genetalia/ perineum 1%.

d. Berat ringannya luka bakar


American college of surgeon membagi dalam 3 bagian:
1) Prah-critical
- Tingkat 2: 30% atau lebih
- Tingkat 3: 10% atau lebih
- Tingkat 3 pada tangan, kaki dan wajah
- Dengan adanya komplikasi pernafasan, jantung, fracture,
soft tissue yang luas
2) Sedang-moderate
- Tingkat 2: 15-30%
- Tingkat 3: 1-10%
3) Rin2.8gan minor
- Tingkat 2: <15%
- Tingkat 3: <1%
2.1.5 Derajat Luka Bakar
Derajat luka bakar terbagi menjadi tiga bagian;
a. Derajat satu (superficial) yaitu hanya mengenai epidermis
dengan ditandai eritema, nyeri, fungsi fisiologi masih utuh,
dapat terjadi pelepuhan, serupa dengan terbakar mata hari
ringan.

Tampak 24 jam setelah terpapar dan fase

penyembuhan 3-5 hari.


b. Derajat dua (partial) adalah mengenai dermis dan
epidermis dengan ditandai lepuh atau terbentuknya
vesikula dan bula, nyeri yang sangat, hilangnya fungsi
fisiologis. Fase penyembuhan tanpa infeksi 7-21 hari.
c. Derajat tiga atau ketebalan penuh yaitu mengenai seluruh
lapisan epidermis dan dermis, tanpa meninggalkan sisasisa sel epidermis untuk mengisi kembali daerah yang
rusak, hilangnya rasa nyeri, warnanya dapat hitam, coklat
dan putih, mengenai jaringan termasuk (fascia, otot,
tendon dan tulang).

2.1.6 Patofisiologi
Berat ringannya luka bakar tergantung pada faktor, agent,
lamanya terpapar, area yang terkena, kedalamannya, bersamaan
dengan trauma, usia dan kondisi penyakit sebelumnya.
Fisiologi syok pada luka bakar akibat dari lolosnya cairan
dalam sirkulasi kapiler secara massive dan berpengaruh pada
sistem kardiovaskular karena hilangnya atau rusaknya kapiler, yang
menyebabkan cairan akan lolos atau hilang dari compartment
intravaskuler kedalam jaringan interstisial. Eritrosit dan leukosit
tetap dalam sirkulasi dan menyebabkan peningkatan hematokrit
dan leukosit. Darah dan cairan akan hilang melalui evaporasi
sehingga terjadi kekurangan cairan.
Kompensasi terhadap syok dengan kehilangan cairan maka
tubuh mengadakan respon dengan menurunkan sirkulasi sistem
gastrointestinal yang mana dapat terjadi ilius paralitik, tachycardia
dan tachypnea merupakan kompensasi untuk menurunkan volume
vaskuler dengan meningkatkan kebutuhan oksigen terhadap injury
jaringan dan perubahan sistem. Kemudian menurunkan perfusi
pada ginjal, dan terjadi vasokontriksi yang akan berakibat pada
depresi filtrasi glomerulus dan oliguri.
Respon luka bakar akan meningkatkan aliran darah ke organ
vital dan menurunkan aliran darah ke perifer dan organ yang tidak
vital.
Respon metabolik pada luka bakar adalah hipermetabolisme
yang merupakan hasil

dari peningkatan

sejumlah

energi,

peningkatan katekolamin; dimana terjadi peningkatan temperatur


dan metabolisme, hiperglikemi karena meningkatnya pengeluaran
glukosa untuk kebutuhan metabolik yang kemudian terjadi
penipisan glukosa, ketidakseimbangan nitrogen oleh karena status
hipermetabolisme dan injury jaringan.

Kerusakan pada sel daerah merah dan hemolisis menimbulkan


anemia, yang kemudian akan meningkatkan curah jantung untuk
mempertahankan perfusi.
Pertumbuhan dapat

terhambat

oleh

depresi

hormon

pertumbuhan karena terfokus pada penyembuhan jaringan yang


rusak.
Pembentukan edema karena adanya peningkatan permeabilitas
kapiler dan pada saat yang sama terjadi vasodilatasi yang
menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dalam kapiler.
Terjadi pertukaran elektrolit yang abnormal antara sel dan cairan
interstisial dimana secara khusus natrium masuk kedalam sel dan
kalium keluar dari dalam sel. Dengan demikian mengakibatkan
kekurangan sodium dalam intravaskuler.
Skema berikut menyajikan mekanisme respon luka bakar
terhadap injury pada anak/orang dewasa dan perpindahan cairan
setelah injury thermal.
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang
a. Hitung

darah

lengkap

Hb

(hemoglobin)

turun

menunjukkan adanya pengeluaran darh yang banyak


sedangkan peningkatan lebih dari 15% mengindikasikan
adanya cedera, pada Ht( hematokrit) yang meningkat
menunjukkan adany kehilangan cairan sedangkan Ht turun
dapat terjadi sehubungan dengan adanya infeksi atau pans
terhadap pembuluh darah
b. Leukosit : leukosit dapat terjadi sehubungan dengan adany
infeksi atau inflamasi.
c. GDA ( Gas Darah Arteri) : untuk mengehtahuai adanya
kecurigaan cedera inhalasi. Penurunan tekanan oksigen
( PaO2) atau peningkatan karbon doioksida (PaCO2)
mungkin terlihat pada retensi karbonmonoksida.
d. Elektrolit serum : kalium dapat meningkat pada awal
sehubungan dengan cedera jaringan dan penurunan fungsi

ginjal, natrium pada awal mungkn menurun karena


kehilangan cairan, hipertemi dapat terjadi saat konservasi
ginjal dan hipokalemi dapat terjadi bila mulai diuresis.
e. Ntarium urin : lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan
kelebihan cairan, kurang dari 10 mEqAL menduga
ketidakadekuatan cairan.
f. Alkali fosfat : peningkatan alkali fosfat sehubungan dengan
perpindahan cairan intertisial

atau gangguan pompa,

natrium.
g. Glukosa serum : peningkatan glukosa serum menunjukkan
respons stress.
h. Albumin serum : untuk mengetahui adanya kehilangan
protein pada edema cairan.
i. BUN ata kreatinin : peninggian menunjukkan penuruna
perfusi atau fungsi ginjal, tetapi kreatinin dapat meningkat
karena cedera jaringan.
j. Loop aliran volume : memberika pengkajian no-invasif
terhadap efek atau luasnya cedera.
k. EKG : untuk mengetahui adanya tanda iskemia miokardial
atau distritmia.
l. Fotografi luka

bakar

memberikan

catatn

untuk

penyembuhan luka bakar.


2.2 Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
a. Aktifitas/istirahat:
Tanda: Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang
gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot, perubahan
tonus.
b. Sirkulasi:
Tanda ( dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT):
hipotensi (syok); penurunan nadi perifer distal pada
ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer umum dengan
kehilangan nadi, kulit putih dan dingin (syok listrik);

10

takikardia (syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok listrik);


pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar).
c. Integritas ego
Gejala: masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan,
kecacatan.
Tanda: ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal,
menarik diri, marah.
d. Eliminasi:
Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat;
warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin,
mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis (setelah
kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi);
penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada luka bakar
kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan
motilitas/peristaltik gastrik.
e. Makanan/cairan:
Tanda: oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah.
f. Neurosensori
Gejala: area batas; kesemutan.
Tanda: perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks
tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang
(syok listrik); laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunan
ketajaman penglihatan (syok listrik); ruptur membran
timpanik (syok listrik); paralisis (cedera listrik pada aliran
saraf).
g. Nyeri/kenyamanan:
Gejala: Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama
secara eksteren sensitif untuk disentuh; ditekan; gerakan
udara dan perubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang
derajat kedua sangat nyeri; smentara respon pada luka bakar
ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung
saraf; luka bakar derajat tiga tidak nyeri.
h. Pernafasan
Gejala: terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama
(kemungkinan cedera inhalasi).

11

Tanda: serak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum;


ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis; indikasi
cedera inhalasi.
Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka
bakar lingkar dada; jalan nafas atau stridor/mengii (obstruksi
sehubungan dengan laringospasme, oedema laringeal); bunyi
nafas: gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal);
sekret jalan nafas dalam (ronkhi).
i. Keamanan
Tanda:
Kulit umum: destruksi jarinagn dalam mungkin tidak terbukti
selama

3-5

hari

sehubungan

dengan

proses

trobus

mikrovaskuler pada beberapa luka.


Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab, pucat,
dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan
curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status
syok.
Cedera api: terdapat area cedera campuran dalam sehubunagn
dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan
terbakar. Bulu hidung gosong; mukosa hidung dan mulut
kering; merah; lepuh pada faring posterior;oedema lingkar
mulut dan atau lingkar nasal.
Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab.
Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seprti kulit
samak halus; lepuh; ulkus; nekrosis; atau jarinagn parut tebal.
Cedera secara mum ebih dalam dari tampaknya secara
perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72
jam setelah cedera.
Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih
sedikit di bawah nekrosis. Penampilan luka bervariasi dapat
meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif), luka bakar dari
gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar
termal sehubungan dengan pakaian terbakar.

12

Adanya fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda motor,


kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok listrik).
j. Pemeriksaan diagnostik:
LED: mengkaji hemokonsentrasi.
Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan
biokimia. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium
terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena
peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.
Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji
fungsi pulmonal, khususnya pada cedera inhalasi asap.
BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.
Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen
menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh
luas.
Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat
menurun pada luka bakar masif.
Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera
inhalasi asap.
2.2.2 Diagnosa
a. Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan
dengan obtruksi trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya
kerja silia ; luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas
thorak dan dada.
b. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d. Kehilangan
cairan melalui rute abnormal; status hypermetabolik
c. Resiko kerusakan pertukaran gas b/d cedera inhalasi asap atau
sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar
sirkumfisial dari dada atau leher.
d. Resiko infeksi b/d. Pertahanan primer tidak adequat; kerusakan
perlinduingan kulit; jaringan traumatik.
e. Nyeri b/d. Kerusakan kulit/jaringan;

bentukam

edem;

manifulasi jaringan cidera.


f. Resiko kerusakan perfusi jarinagn b/d luka bakar melingkari
ekstremitas

atau luka bakar listrik dalam.

13

g. Gangguan citra tubuh (penampilan peran) b/d krisis situasi;


kecacatan ;nyeri.
h. integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit sekunder
destruksi lapisan kulit.
2.2.3 Rencana Intervensi dan Rasional
Table 2.3
Rencana, intervensi, dan rasional
Diagnosa

Rencana Keperawatan

Keperawatan

Tujuan dan

Resiko tinggi
bersihan jalan
nafas tidak
efektif b/d
obstruksi
trakheobronkh
ial; oedema
mukosa;
kompressi
jalan nafas .

Kriteria Hasil
Bersihan jalan
nafas tetap
efektif.
Kriteria Hasil :
Bunyi nafas
vesikuler, RR
dalam batas
normal, bebas
dispnoe/cyanos
is

Intervensi

Rasional

Awasi tanda vital,


CVP.
Perhatikan
kapiler dan kekuatan
nadi perifer.

Memberikan pedoman
untuk penggantian
cairan dan mengkaji
respon kardiovaskuler.

Awasi pengeluaran
urine
dan
berat
jenisnya. Observasi
warna urine dan
hemates
sesuai
indikasi.

Penggantian cairan
dititrasi untuk
meyakinkan rata-2
pengeluaran urine 3050 cc/jam pada orang
dewasa. Urine
berwarna merah pada
Pantau drainase luka kerusakan otot masif
dan kejilangan yang karena adanyadarah
tampak
dan keluarnya
mioglobin.
Timbang berat badan
setiap hari
Peningkatan
permeabilitas kapiler,
Ukur
lingkar perpindahan protein,
ekstremitas
yang proses inflamasi dan
terbakar tiap hari kehilangan cairan
sesuai indikasi
melalui evaporasi
mempengaruhi volume
Selidiki
perubahan sirkulasi dan
mental
pengeluaran urine.
Observasi

14

distensi

abdomen,hematomesi
s,feces hitam.
Hemates drainase NG
dan feces secara
periodik.
Resiko
kekurangan
volume cairan
b/d luka bakar
luas.

Pasien dapat
mendemostrasi
kan status
cairan dan
biokimia
membaik.
Kriteria
evaluasi:
tak ada
manifestasi
dehidrasi,
resolusi
oedema,
elektrolit
serum dalam
batas normal,

Lakukan program
kolaborasi meliputi :
Pasang / pertahankan
kateter urine
Berikan penggantian
cairan IV yang
dihitung, elektrolit,
plasma, albumin.
Awasi hasil
pemeriksaan
laboratorium ( Hb,
elektrolit, natrium ).
Berikan obat sesuai
idikasi :
Diuretiaka,
kalium,antasida

haluaran urine
di atas 30

Pantau:
- Tanda-tanda vital
setiap jam selama
periode darurat,
setiap 2 jam selama
periode akut, dan
setiap 4 jam selama
periode rehabilitasi.
- Warna urine.
- Masukan dan
haluaran setiap jam
selama periode
darurat, setiap 4 jam
selam aperiode akut,

ml/jam.

15

Penggantian cairan
tergantung pada berat
badan pertama dan
perubahan selanjutnya

Memperkirakan
luasnya
oedema/perpindahan
cairan yang
mempengaruhi volume
sirkulasi dan
pengeluaran urine.

Penyimpangan pada
tingkat kesadaran
dapat mengindikasikan
ketidak adequatnya
volume
sirkulasi/penurunan
perfusi serebral
Stres (Curling) ulcus
terjadi pada setengah
dari semua pasien yang
luka bakar berat(dapat
terjadi pada awal
minggu pertama).

Observasi ketat fungsi


ginjal dan mencegah

setiap 8 jam selama


periode rehabilitasi.
Hasil-hasil JDL dan
laporan elektrolit.
Berat badan setiap
hari.
CVP (tekanan vena
sentral) setiap jam
bial diperlukan.
Status umum setiap
8 jam.
Pada penerimaan
rumah sakit, lepaskan
semua pakaian dan
perhiasan dari area
luka bakar.
Mulai terapi IV yang
ditentukan dengan
jarum lubang besar
(18G), lebih disukai
melalui kulit yang
telah terluka bakar.
Bila pasien
menaglami luka
bakar luas dan
menunjukkan gejalagejala syok
hipovolemik, bantu
dokter dengan
pemasangan kateter
vena sentral untuk
pemantauan CVP.
Beritahu dokter bila:
haluaran urine < 30
ml/jam, haus,
takikardia, CVP < 6
mmHg, bikarbonat
serum di bawah

16

stasis atau refleks


urine.
Resusitasi cairan
menggantikan
kehilangan
cairan/elektrolit dan
membantu mencegah
komplikasi.
Mengidentifikasi
kehilangan
darah/kerusakan SDM
dan kebutuhan
penggantian cairan
dan elektrolit.
Meningkatkan
pengeluaran urine dan
membersihkan tubulus
dari debris /mencegah
nekrosis.
Penggantian lanjut
karena kehilangan
urine dalam jumlah
besar
Menurunkan keasaman
gastrik sedangkan
inhibitor histamin
menurunkan produksi
asam hidroklorida
untuk menurunkan
produksi asam
hidroklorida untuk
menurunkan iritasi
gaster.

Mengidentifikasi
penyimpangan indikasi
kemajuan atau

rentang normal,
gelisah, TD di bawah
rentang normal, urine
gelap atau encer
gelap.
Konsultasi doketr
bila manifestasi
kelebihan cairan
terjadi.

Tes guaiak muntahan


warna kopi atau feses
ter hitam. Laporkan
temuan-temuan
positif.
Berikan antasida yag
diresepkan atau
antagonis reseptor
histamin seperti
simetidin.

penyimpangan dari
hasil yang diharapkan.
Periode darurat (awal
48 jam pasca luka
bakar) adalah periode
kritis yang ditandai
oleh hipovolemia yang
mencetuskan individu
pada perfusi ginjal dan
jarinagn tak adekuat.
Inspeksi adekuat dari
luka bakar.
Penggantian cairan
cepat penting untuk
mencegah gagal ginjal.
Kehilangan cairan
bermakna terjadi
melalui jarinagn yang
terbakar dengan luka
bakar luas. Pengukuran
tekanan vena sentral
memberikan data
tentang status volume
cairan intravaskular.

Temuan-temuan ini
mennadakan
hipovolemia dan
perlunya peningkatan
cairan. Pada lka bakar
luas, perpindahan
cairan dari ruang
intravaskular ke ruang
interstitial
menimbukan
hipovolemi.

17

Pasien rentan pada


kelebihan beban
volume intravaskular
selama periode
pemulihan bila
perpindahan cairan
dari kompartemen
interstitial pada
kompartemen
intravaskuler.
Temuan-temuan guaiak
positif ennandakan
adanya perdarahan GI.
Perdarahan GI
menandakan adaya
stres ulkus (Curlings).
Mencegah perdarahan
GI. Luka bakar luas
mencetuskan pasien
pada ulkus stres yang
disebabkan
peningkatan sekresi
hormon-hormon
adrenal dan asam HCl
Resiko
kerusakan
pertukaran gas
b/d cedera
inhalasi asap
atau sindrom
kompartemen
torakal
sekunder
terhadap luka
bakar
sirkumfisial

Pasien dapat
mendemonstra
sikan
oksigenasi
adekuat.
Kriteroia
evaluasi: RR
12-24 x/mnt,
warna kulit
normal, GDA

18

Pantau laopran GDA


dan kadar karbon
monoksida serum.
Beriakan suplemen
oksigen pada tingkat
yang ditentukan.
Pasang atau bantu
dengan selang
endotrakeal dan
temaptkan pasien
pada ventilator

oleh lambung.
Mengidentifikasi
kemajuan dna
penyimpangan dari
hasil yang diharapkan.
Inhalasi asap dapat
merusak alveoli,
mempengaruhi
pertukaran gas pada
membran kapiler
alveoli.
Suplemen oksigen
meningkatkan jumlah

dari dada atau


leher.

dalam renatng
normal, bunyi
nafas bersih,
tak ada
kesulitan
bernafas.

mekanis sesuai
pesanan bila terjadi
insufisiensi
pernafasan
(dibuktikan dnegna
hipoksia,
hiperkapnia, rales,
takipnea dan
perubahan
sensorium).
Anjurkan pernafasan
dalam dengan
penggunaan
spirometri insentif
setiap 2 jam selama
tirah baring.
Pertahankan posisi
semi fowler, bila
hipotensi tak ada.
Untuk luka bakar
sekitar torakal,
beritahu dokter bila
terjadi dispnea
disertai dengan

oksigen yang tersedia


untuk jaringan.
Ventilasi mekanik
diperlukan untuk
pernafasan dukungan
sampai pasie dapat
dilakukan secara
mandiri.
Pernafasan dalam
mengembangkan
alveoli, menurunkan
resiko atelektasis.
Memudahkan ventilasi
dengan menurunkan
tekanan abdomen
terhadap diafragma.
Luka bakar sekitar
torakal dapat
membatasi ekspansi
adda. Mengupas kulit
(eskarotomi)
memungkinkan
ekspansi dada.

takipnea. Siapkan
pasien untuk
pembedahan
eskarotomi sesuai
Resiko infeksi
b/d
pertahanan
primer tidak
adekuat,
kerusakan
perlindunga

pesanan.
Pasien bebas
Pantau:
dari infeksi.
- Penampilan luka
Kriteria
bakar (area luka
bakar, sisi donor dan
evaluasi: tak
status balutan di atas
ada demam,
sisi tandur bial tandur
pembentukan
kulit dilakukan)

19

Mengidentifikasi
indikasi-indikasi
kemajuan atau
penyimapngan dari
hasil yang diharapkan.

kulit

jaringan

setiap 8 jam.
granulasi baik. - Suhu setiap 4 jam.
- Jumlah makanan
yang dikonsumsi
setiap kali makan.
-

Bersihakn area luka


bakar setiap hari dan
lepaskan jarinagn
nekrotik
(debridemen) sesuai
pesanan. Berikan
mandi kolam sesuai
pesanan,
implementasikan
perawatan yang
ditentukan untuk sisi
donor, yang dapat
ditutup dengan
balutan vaseline atau
op site.
Lepaskan krim lama
dari luka sebelum
pemberian krim baru.
Gunakan sarung
tangan steril dan
beriakn krim
antibiotika topikal
yang diresepkan pada
area luka bakar
dengan ujung jari.
Berikan krim secara
menyeluruh di atas
luka.
Beritahu dokter bila
demam drainase
purulen atau bau
busuk dari area luka

20

Pembersihan dan
pelepasan jaringan
nekrotik meningkatkan
pembentukan
granulasi.

Antimikroba topikal
membantu mencegah
infeksi. Mengikuti
prinsip aseptik
melindungi pasien dari
infeksi. Kulit yang
gundul menjadi media
yang baik untuk kultur
pertumbuhan baketri.

Temuan-temuan ini
mennadakan infeksi.
Kultur membantu
mengidentifikasi
patogen penyebab
sehingga terapi
antibiotika yang tepat
dapat diresepkan.
Karena balutan siis
tandur hanya diganti
setiap 5-10 hari, sisi ini
memberiakn media
kultur untuk
pertumbuhan bakteri.
Kulit adalah lapisan

bakar, sisi donor atau


balutan sisi tandur.
Dapatkan kultur luka
dan berikan
antibiotika IV sesuai
ketentuan.
Tempatkan pasien
pada ruangan khusus
dan lakukan
kewaspadaan untuk
luka bakar luas yang
mengenai area luas
tubuh. Gunakan linen
tempat tidur steril,
handuk dan skort
untuk pasien.
Gunakan skort steril,
sarung tangan dan
penutup kepala
dengan masker bila
memberikan
perawatan pada
pasien. Tempatkan
radio atau televisis
pada ruangan pasien
untuk menghilangkan
kebosanan.
Bial riwayat
imunisasi tak
adekuat, berikan
globulin imun tetanus
manusia (hyper-tet)
sesuai pesanan.
Mulai rujukan pada
ahli diet, beriakn
protein tinggi, diet
tinggi kalori. Berikan

21

pertama tubuh untuk


pertahanan terhadap
infeksi. Teknik steril
dan tindakan
perawatan
perlindungan
lainmelindungi pasien
terhadap infeksi.
Kurangnya berbagai
rangsang ekstrenal dan
kebebasan bergerak
mencetuskan pasien
pada kebosanan.
Melindungi terhadap
tetanus.
Ahli diet adalah
spesialis nutrisi yang
dapat mengevaluasi
paling baik status
nutrisi pasien dan
merencanakan diet
untuk emmenuhi
kebuuthan nutrisi
penderita. Nutrisi
adekuat memabntu
penyembuhan luka dan
memenuhi kebutuhan
energi.

suplemen nutrisi
seperti ensure atau
sustacal dengan atau
antara makan bila
masukan makanan
kurang dari 50%.
Anjurkan NPT atau
makanan enteral bial
pasien tak dapat
makan per oral.
Nyeri b/d
kerusakan
kulit/jaringan,
pembentukan
oedema,
manipulasi
jaringan
cedera.

Pasien dapat
mendemonstra
sikan hilang
dari
ketidaknyaman
an.
Kriteria
evaluasi:
menyangkal
nyeri,
melaporkan
perasaan
nyaman,
ekspresi wajah
dan postur
tubuh rileks.

Berikan anlgesik
narkotik yang
diresepkan prn dan
sedikitnya 30 menit
sebelum prosedur
perawatan luka.
Evaluasi
keefektifannya.
Anjurkan analgesik
IV bila luka bakar
luas.
Pertahankan pintu
kamar tertutup,
tingkatkan suhu
ruangan dan berikan
selimut ekstra untuk
memberikan
kehangatan.
Berikan ayunan di
atas temapt tidur bila
diperlukan.
Bantu dengan
pengubahan posisi
setiap 2 jam bila
diperlukan. Dapatkan
bantuan tambahan

22

Analgesik narkotik
diperlukan utnuk
memblok jaras nyeri
dengan nyeri berat.
Absorpsi obat IM
buruk pada pasien
dengan luka bakar luas
yang disebabkan oleh
perpindahan interstitial
berkenaan dnegan
peningkatan
permeabilitas kapiler.
Panas dan air hilang
melalui jaringan luka
bakar, menyebabkan
hipoetrmia. Tindakan
eksternal ini membantu
menghemat kehilangan
panas.
Menururnkan neyri
dengan
mempertahankan berat
badan jauh dari linen
temapat tidur terhadap
luka dan menuurnkan
pemajanan ujung saraf
pada aliran udara.

sesuai kebutuhan,
khususnya bila pasien
tak dapat membantu
membalikkan badan
sendiri.

Menghilangkan
tekanan pada tonjolan
tulang dependen.
Dukungan adekuat
pada luka bakar selama
gerakan membantu
meinimalkan

Resiko
kerusakan
perfusi
jaringan b/d
luka bakar
melingkari
ekstremitas
atau luka
bakar listrik
dalam.

Pasien
menunjukkan
sirkulasi tetap
adekuat.
Kriteria
evaluasi:
warna kulit
normal,
menyangkal
kebas dan
kesemutan,
nadi perifer
dapat diraba.

Untuk luka bakar


yang mengitari
ekstermitas atau luka
bakar listrik, pantau
status neurovaskular
dari ekstermitas
setaip 2 jam.
Pertahankan
ekstermitas bengkak
ditinggikan.

ketidaknyamanan.
Mengidentifikasi
indikasi-indikasi
kemajuan atau
penyimpangan dari
hasil yang diharapkan.

Meningkatkan aliran
balik vena dan
menurunkan
pembengkakan.

Beritahu dokter
dengan segera bila
terjadi nadi
berkurang, pengisian
kapiler buruk, atau

Kerusakan
integritas kulit
b/d kerusakan
permukaan
kulit sekunder
destruksi
lapisan kulit.

Menumjukkan
regenerasi
jaringan
Kriteria hasil:
Mencapai
penyembuhan
tepat waktu
pada area luka
bakar.

23

penurunan sensasi.
Siapkan untuk
pembedahan
eskarotomi sesuai
pesanan.
Kaji/catat ukuran,
warna, kedalaman
luka, perhatikan
jaringan nekrotik dan
kondisi sekitar luka.

Temuan-temuan ini
menandakan keruskana
sirkualsi distal. Dokter
dapat mengkaji
tekanan jaringan untuk
emnentukan kebutuhan
terhadap intervensi
bedah. Eskarotomi
(mengikis pada eskar)
atau fasiotomi
mungkin diperlukan

Lakukan perawatan
luka bakar yang tepat
dan tindakan kontrol
infeksi.
Pertahankan
penutupan luka
sesuai indikasi.
Tinggikan area graft
bila mungkin/tepat.
Pertahankan posisi
yang diinginkan dan
imobilisasi area bila
diindikasikan.
Pertahankan balutan
diatas area graft baru
dan/atau sisi donor
sesuai indikasi.

untuk memperbaiki
sirkulasi adekuat.
Memberikan informasi
dasar tentang
kebutuhan penanaman
kulit dan kemungkinan
petunjuk tentang
sirkulasi pada aera
graft.
Menyiapkan jaringan
untuk penanaman dan
menurunkan resiko
infeksi/kegagalan kulit.
Kain nilon/membran
silikon mengandung
kolagen porcine
peptida yang melekat
pada permukaan luka
sampai lepasnya atau
mengelupas secara
spontan kulit
repitelisasi.

Cuci sisi dengan


sabun ringan, cuci,
dan minyaki dengan
krim, beberapa waktu
dalam sehari, setelah
balutan dilepas dan
Menurunkan
penyembuhan selesai. pembengkakan
/membatasi resiko
Lakukan program
pemisahan graft.
kolaborasi :
Gerakan jaringan
- Siapkan / bantu
dibawah graft dapat
mengubah posisi yang
prosedur
mempengaruhi
bedah/balutan
penyembuhan optimal.
biologis.
Area mungkin ditutupi
oleh bahan dengan
permukaan tembus
pandang tak reaktif.

24

Kulit graft baru dan


sisi donor yang
sembuh memerlukan
perawatan khusus
untuk
mempertahankan
kelenturan.
Graft kulit diambil dari
kulit orang itu
sendiri/orang lain
untuk penutupan
sementara pada luka
bakar luas sampai kulit
orang itu siap ditanam.

25

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan oleh energi panas atau bahan kimia atau benda-benda fisik
yang menghasilkan efek baik memanaskan atau mendinginkan.
Luka bakar terbagi menjadi 3 fase yaitu fase akut atau fase syok,
fase sub akut atau fase syok teratasi, dan fase lanjut berlangsung
hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi
organ-organ fungsional.
Derajat luka bakar terbagi menjadi 3 yaitu derajat satu (superficial)
yaitu hanya mengenai epidermis dengan ditandai eritema, nyeri, fungsi
fisiologi masih utuh, dapat terjadi pelepuhan, serupa dengan terbakar
mata hari ringan. Derajat dua (partial) adalah mengenai dermis dan
epidermis dengan ditandai lepuh atau terbentuknya vesikula dan bula,
nyeri yang sangat, hilangnya fungsi fisiologis. Derajat 3 atau ketebalan
penuh yaitu mengenai seluruh lapisan epidermis dan dermis, tanpa
meninggalkan sisa-sisa sel epidermis untuk mengisi kembali daerah
yang rusak.
Berat ringannya luka bakar tergantung pada faktor, agent, lamanya
terpapar, area yang terkena, kedalamannya, bersamaan dengan trauma,
usia dan kondisi penyakit sebelumnya.
3.2 Saran
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari tentu banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini.
Untuk itu penulis sangat mengharapkan dukungan yang berupa kritik
dan masukan yang membangun agar kedepan lebih baik. Dan semoga
melalui makalah ini mahasiswa dapat lebih mengetahui dan mengerti
tentang bagaimana cara merawat pasien terutama anak-anak yang
mengalami luka bakar secara benar dan tepat, serta memiliki skill yang

26

baik sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada


masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Barbara C. Long (1996), Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan
Proses Keperawatan, The C.V Mosby Company St. Louis, USA.
Barbara Engram (1998), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah
Jilid II Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Donna D. Ignatavicius (1991), Medical Surgical Nursing: A Nursing
Process Approach, WB. Sauders Company, Philadelphia.
Guyton & Hall (1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit
Buku Kedoketran EGC, Jakarta.
Hudak & Gallo (1997), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik Volume
I, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta.
Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya (2001),
Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan (PKB V) Tema: Asuhan
Keperawatan Luka Bakar Secara Paripurna, Instalasi Rawat Inap
Bedah RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.
Marylin E. Doenges (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman
Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien
edisi 3, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta.
R. Sjamsuhidajat, Wim De Jong (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi
Revisi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Sylvia A. Price (1995), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit Edisi 4 Buku 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

27

28