Anda di halaman 1dari 8

PROPOSAL HOME VISITE

ILMU KEPERAWATAN JIWA


PROGRAM PROFESI NERS

KUNJUNGAN RUMAH Tn.S PASIEN RUANG MERPATI RUMAH


SAKIT ERNALDI BAHAR

OLEH

NAMA

: RISKA DWI JULIANTI

NIM

: 04064891416024

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

BAB I

PRE PLANNING HOME VISIT

A. Identitas Klien
a. Nama
Usia
Jenis kelamin
Agama
Status
Tanggal masuk
No RM
Alamat

: Tn. S
: 32 tahun
: Laki-laki
: Islam
: Belum menikah
: 22 April 2015
: 024213
: Lrg. Wijaya,

RT.35, kel.Kemang Agung, Kertapaai,

Palembang
b. Identitas penanggung jawab
Nama
: Ny. S
Usia
: 68 tahun
Jenis kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Alamat
: Lrg. Wijaya, RT.35, kel.Kemang Manis, Kertapatai,
Palembang
B. Latar Belakang
Dalam rangka meningkatkan kesehatan pelayanan keperawatan kepada klien yang
mengalami gangguan jiwa, dukungan dari pihak keluarga merupakan unit yang paling dekat
dengan klien dan keluarga yang berperan dalam menentukan cara atau asuhan yang
diperlukan bagi klien yang mengalami gangguan jiwa untuk mencegah terjadinya
kekambuhan.
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk melengkapi dan mengklasifikasi data yang didapat dari klien serta melakukan
asuhan keperawatan, yaitu memberi penyuluhan kesehatan jiwa kepada keluarga
khususnya keperawatan yang dihadapi klien.
2. Tujuan khusus
a. Mengklasifikasi riwayat kesehatan klien, yaitu:
i.
Riwayat penyakit yang diderita klien baik sebelum maupun sesudah dirawat
ii.

di RSJ.
Mengidentifikasi riwayat kesehatan keluarga, apakah ada yang menderita

iii.

gangguan jiwa
Mengidentifikasi tentang klien, apakah klien mempunyai masalah dalam

keluarga, lingkungan, masyarakat dan tempat kerja.


b. Mengklasifikasi data yang didapat dari klien dan keluarga
i.
Melakukan intervensi (penkes) kepada keluarga tentang perawatan klien.
ii.
Menjelaskan kepada keluarga tentang penyakit yang dialami klien dan cara
iii.

mengatasinya.
Mengajukan kepada keluarga untuk siap dan dapat diterima klien sebagai

iv.

anggota keluarga untuk dapat memenuhi kebutuhan klien.


Menganjurkan keluarga untuk memberikan kesempatan kepada klien

v.

mencurahkan perasaannya
Menganjurkan kepada keluarga untuk memberikan aktifitas atau kesibukan
sesuai dengan kemampuan klien

vi.

Menganjurkan kepada klien agar terus berkomunikasi dan berinteraksi


dengan keluarga (mengunjungi klien)

D. Pelaksanaan Kegiatan
Hari
: Jumat, 15 Mei 2015
Pukul
: 15.00 WIB s/d selesai
Tempat : Lrg. Wijaya, RT.35, kel.Kemang Manis, Kertapatai, Palembang
Petugas : petugas yang melakukan home visit adalah mahasiswa Program Profesi Ners
Universitas Sriwijaya Palembang 2015 yang sedang praktik klinik di RS. Ernaldi
Bahar Palembang, yaitu Riska Dwi Julianti. S.Kep.
E. Strategi Pelaksanaan
1. Perkenalan
a. Menyebutkan nama, asal, pendidikan, dan tujuan
b. Menanyakan identitas keluarga
2. Intervensi
a. Mengidentifikasi riwayat kesehatan klien yaitu:
i. Riwayat penyakit yang diderita klien baik sebelum maupun sesudah dirawat
ii.

di RSJ.
Mengidentifikasi riwayat kesehatan keluarga, apakah ada yang menderita

iii.

gangguan jiwa
Mengidentifikasi tentang klien, apakah klien mempunyai masalah dalam
keluarga, lingkungan, masyarakat dan tempat kerja.

b. Mengklasifikasi data yang didapat dari klien dan keluarga


i. Melakukan intervensi (penkes) kepada keluarga tentang perawatan klien.
ii. Menjelaskan kepada keluarga tentang penyakit yang dialami klien dan cara
iii.

mengatasinya.
Mengajukan kepada keluarga untuk siap dan dapat diterima klien sebagai

iv.

anggota keluarga untuk dapat memenuhi kebutuhan klien.


Menganjurkan keluarga untuk memberikan kesempatan kepada klien

v.

mencurahkan perasaannya
Menganjurkan kepada keluarga untuk memberikan aktifitas atau kesibukan

vi.

sesuai dengan kemampuan klien


Menganjurkan kepada klien agar terus berkomunikasi dan berinteraksi
dengan keluarga (mengunjungi klien)

3. Evaluasi
Keluarga dapat menyebutkan kembali definisi, penyebab, tanda, dan gejala
halusinasi terhadap klien di rumah.
a. Keluarga dapat menerima klien apa adanya.
b. Keluarga dapat membina hubungan baik dengan klien
c. Keluarga dapat mengenal tentang halusinasi yang terjadi pada anggota
keluarganya
d. Keluarga dapat membantu anggota keluarga dalam mengontrol halusinasinya
e. Keluarga dapat memanfaatkan obat dengan baik

SATUAN PEMBELAJARAN (SATPEL)


Pokok Bahasan
: Halusinasi pendengaran
Sasaran
: Keluarga Tn. S
Hari/ Tanggal
: Minggu, 15 Mei 2015
Waktu
: 15.00 WIB s/d selesai
Tempat
: Lrg. Wijaya, RT.35, kel.Kemang Agung, Kertapati,
Palembang
A. Tujuan
1. Tujuan Intruksi Umum
Setelah mengikuti penkes kurang lebih selama 60 menit, keluarga klien dapat
menegtahui dan memahami tentang halusinasi
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penkes keluarga klien dapat:
a. Mengerti tentang pengertian halusinasi dengan benar
b. Mengerti tentang penyebab halusinasi dengan benar
c. Mengerti tentang tanda gejala halusinasi dengan benar
B. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi
C. Media
1. Leaflet
2. Kegiatan belajar
Tahap
Pendahuluan

Kegiatan pemberi materi


1. Memberikan salam,

Kegiatan sasaran
Menjelaskan salam

Media
-

Memperhatikan

Leafle

memperkenalkan diri dan


kontrak waktu

2. Menjelaskan materi yang


Penyajian

akan disampaikan
3. Menjelaskan TIU dan TIK
4. Menjelaskan pengertian
halusinasi
5. Menjelaskan tanda gejala

t
Memperhatikan
Leafle
Memperhatikan
Memperhatikan
Menjawab
pertanyaan

dan rentang respon


halusinasi
6. Menanyakan kembali

t
Leafle
t
Leafle
t

Memperhatikan
Leafle

kepada keluarga mengenai

pengertian dan rentang


respon halusinasi
7. Memberikan pujian atas
jawaban dari keluarga

Memperhatikan
Memperhatikan

Leafle
t

tersebut serta
menyebutkan serta
Penutup

Bertanya

menyimpulkan kembali

Memperhatikan

jawaban dari keluarga


8. Menjelaskan akibat dan

Memperhatikan

penyebab halusinasi
9. Menjelaskan cara

Menjawab salam

Leafle
t
Leafle
t

perawatan di rumah
10. Melakukan evaluasi:
Memberikan

Leafle
t

kesempatan keluarga

Leafle

untuk bertanya
Menjawab pertanyaan

keluarga
11. Menyimpulkan materi
yang diberikan
12. Mengucapkan salam

D. Evaluasi
1. Keluarga dapat mengetahui pengertian halusinasi
2. Keluarga dapat mengetahui penyebab halusinasi
3. Keluarga dapat mengetahui tanda dan gejala dari halusinasi

Leafle
t
-

BAB II
LANDASAN TEORI
I.
II.

Masalah Utama
Halusinasi pendengaran
Proses Terjadinya Masalah
A. Pengertian
i.
Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus)
misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya padahal tidak
ii.

ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2001).


Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indera

iii.

(Isaacs, 2002).
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan atau mesin,
barang, kejadian alamiah dan musik dalam keadaan sadar tanpa adanya

iv.

rangsang apapun (Maramis, 2005).


Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari
suara sederhana sampai suara yang berbicara mengenai klien sehingga klien
berespon terhadap suara atau bunyi tersebut (Stuart, 2007).

B. Tanda dan Gejala


1. Berbicara atau tertawa sendiri
2. Marah-marah tanpa sebab
3. Menyendengkan telinga kearah tertentu
4. Menutup telinga
5. Mendengar suara-suara atau kegaduhan
6. Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
7. Mendengar suara yang menyuruh mengajak sesuatu yang berbahaya
8. Merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan
9. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal yang tidak nyata
10. Sikap curiga, ketakutan dan jengkel
11. Ekspresi wajah tegang
12. Pembicaraan kacau dan tidak masuk akal
13. Mudah tersinggung
14. Bermusuhan
15. Menarik diri
C. Rentang Respon
Respon adaptif
Pikiran logis
Persepsi akurat
Emosi konsisten
Perilaku sesuai
Hubungan sosialYang harmonis
D. Faktor Predisposisi

pikiran menyimpang
ilusi
reaksi emosionalBerkurang atau berlebih
perilaku ganjil/ tidak lazim
menarik diri

Rrespon Maladaptif
kelainan fikir/ delusi
Halusinasi
ketidakmampuan untukuntuk mengalami emosi
ketidakteraturan
isolasi sosial

Menurut

Stuart

(2007),

faktor

penyebab

terjadinya

halusinasi

adalah:

1. Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon
neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh
penelitian-penelitian yang berikut:
i.

Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih


luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal
dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.
Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan

ii.

dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan


terjadinya skizofrenia.
Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya

iii.

atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan
skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks
bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi
otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).
2. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan
kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi
gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam
rentang hidup klien.
3. Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti:
kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan
kehidupan yang terisolasi disertai stress.
E. Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah
adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna,
putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah
koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006).
Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi
adalah:
i.

Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur
proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam
otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif
menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.

ii.

Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.

iii.

Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi
stressor.

F. Masalah Keperawatan
1. Perubahan persepsi sensori : Halusinasi
2. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
3. Isolasi sosial menarik diri
4. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
5. Intoleransi aktivitas
6. Defisit perawatan diri
G. Diagnosa Keperawatan
Halusinasi pendengaran
H. Cara merawat klien dengan halusinasi
1. Untuk klien
i.
Membina hubungan saling percaya
ii.
Membantu pasien mengenali halusinasi
iii.
Melatih pasien mengontrol halusinasi
Menghardik halusinasi
Bercakap-cakap dengan orang lain
Melakukan aktivitas yang terjadwal
Menggunakan obat yang teratur
2. Untuk keluarga
i.
Keluarga mengetahui masalah halusinasi dan dampaknya pada klien
ii.
Keluarga mengetahui penyebab halusinasi
iii.
Sikap keluarga untuk membantu klien mengatasi halusinasi
iv.
Keluarga mengetahui pengobatan yang benar untuk klien
v.
Keluarga mengetahui tempat rujukan dan fasilitas kesehatan yang
tersedia bagi klien