Anda di halaman 1dari 17

DAMPAK DAN PENANGANAN

KVA, GAKY, KEP, ANEMIA DAN OBESITAS


PADA PEKERJA DI PERUSAHAAN
PENDAHULUAN
Pekerja adalah aset utama perusahaan tinggi rendahnya output yang dihasilkan baik berupa
barang ataupun jasa semuanya tergantung dari produktivitas pekerjanya apakah
produktivitasnya tinggi ataukah produktivitasnya rendah sedangkan baik buruknya produk
yang dihasilkan tergantung dari pada kualitas pekerja di suatu perusahaan tersebut sehingga
untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi dan produk yang berkualitas maka kesehatan
pekerja sangat penting untuk diperhatikan.
Kesehatan pekerja berdampak pada produktivitas kerja maka dari itu perusahaan harus
memelihara kesehatan pekerja dari beberapa kasus kesehatan seperti berikut :
1. Kekurangan Energi Protein (KEP) pada Pekerja
2. Kekurangan Vitamin A (KVA) pada pekerja
3. Obesitas pada pekerja
4. Kekurangan Yodium (GAKY) pada pekerja
5. Anemia pada pekerja
Setiap perusahaan tentunya menginginkan pekerjanya selalu senantiasa dalam
keadaan sehat dan hal-hal diatas perlu dicegah sehingga nantinya tidak mengganggu stabilitas
perusahaan dikarenakan produktivitas perkerja yang menurun.
Masalah kesehatan pekerja adalah tanggung jawab dari perusahaan yang telah diatur dalam
undang-undang Departemen Tenaga Kerja No.01/MEN/1970 tentang upaya pemeliharaan
kesehatan dan keselamatan tenaga kerja. Sedangkan modal utama pelaksanaan pemeliharaan
kesehatan pekerja diperusahaan adalah komitmen dari pengusaha untuk melaksanakan
peraturan ditetapkan.

Upaya-upaya pemeliharaan kesehatan pekerja terus dilaksanakan oleh perusahaan guna


menjaga pekerja agar selalu dalam kondisi yang sehat dan maksimal sehingga tidak akan
mengganggu produktivitas kerja yang akhirnya berdampak pada perkembangan perusahaan.
PEMBAHASAN
I. Kekurangan Energi Protein (KEP) pada pekerja
KEP merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. KEP disebabkan karena
defisiensi macro nutrient (zat gizi makro). Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah
gizi dari defisiensi macro nutrient kepada defisiensi micro nutrient, namun beberapa daerah
di Indonesia prevalensi KEP masih tinggi (> 30%) sehingga memerlukan penanganan intensif
dalam upaya penurunan prevalensi KEP.
Penyakit akibat KEP ini dikenal dengan Kwashiorkor, Marasmus, dan Marasmic
Kwashiorkor. Kwashiorkor disebabkan karena kurang protein. Marasmus disebabkan karena
kurang energi dan Manismic Kwashiorkor disebabkan karena kurang energi dan protein.
Gejalanya hepatomegali (hati membesar). Tanda-tanda yang mengalami Kwashiorkor adalah
badan gemuk berisi cairan, depigmentasi kulit, rambut jagung dan muka bulan (moon face).
Tanda-tanda yang mengalami Marasmus adalah badan kurus kering, rambut rontok dan flek
hitam pada kulit.
Adapun yang menjadi penyebab langsung terjadinya KEP adalah konsumsi yang
kurang dalam jangka waktu yang lama. KEP timbul pada anggota keluarga rumahtangga
miskin olek karena kelaparan akibat gagal panen atau hilangnya mata pencaharian. Bentuk
berat dari KEP di beberapa daerah di Jawa pernah dikenal sebagai penyakit busung lapar atau
HO (Honger Oedeem).
Di Indonesia masalah kekurangan pangan dan kelaparan merupakan salah satu
masalah pokok yang dihadapi terutama pada daerah dengan tingkat ekonomi rendah
I.1 Analisis terhadap prevalensi KEP pada pekerja di perusahaan
Pada tingkat makro, besar dan luasnya masalah KEP sangat erat kaitannya dengan
keadaan ekonomi secara keseluruhan. Anggota rumahtangga dari kelompok rawan ekonomi
yang memberikan gambaran ketersediaan pangan dan rentang biologis beresiko KEP. Pada

tingkat mikro (rumahtangga/individu), tingkat kesehatan, penyakit infeksi, yang juga


menggambarkan situasi lingkungan merupakan faktor penentu KEP.
Beberapa faktor penting yang diduga menjadi penyebab timnulnya KEP pada pekerja
disuatu perusahaan :
1. Tingkat upah kerja,
Pendapatan rumah tangga merupakan salah satu faktor yang menentukan konsumsi
makan pekerja dan keluarga. Sudah tentu pekerja dengan penghasilan rendah akan berpotensi
lebih besar terkena KEP dari pada pekerja dengan penghasilan tinggi karena penghasilan
mempengaruhi kualitas pangan yang di beli.
2. Penyediaan makanan oleh perusahaan
Penyediaan makanan bagi pekerja juga merupakan faktor yang menyebabkan tinggi
rendahnya kasus KEP didalam suatu perusahaan. Perusahaan harus memperhatikan
kandungan protein dalam makanan yang disediakan
3. Pelayanan dari pemerintah
Derajat kesehatan dipengaruhi oleh ada tidaknya pelayanan kesehatan, air bersih,
sanitasi, dan pelayanan sosial lainnya. Memadai atau tidaknya pelayanan kesehatan terutama
bagi masyarakat miskin tergantung pada anggaran pemerintah yang disediakan untuk
pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial lainnya. Dalam keadaan ekonomi sulit, pemerintah
cenderung mengadakan penghematan yang tidak jarang mempengaruhi penyediaan anggaran
untuk bidang sosial.
3. Harga pangan
Disamping itu konsumsi makan keluarga juga dipengaruhi oleh harga pangan dan
harga bukan pangan. Rumahtangga berpendapatan rendah 60-80% dari pendapatannya
dibelanjakan untuk makan. Harga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
pendapatan riil rumahtangga, sedangkan pendapatan riil rumahtangga disamping ditentukan
oleh tingkat harga juga oleh jumlah pendapatan nominal, sementara tingkat barga ditentukan,
oleh tingkat inflasi dan harga relatif antar berbagai barang dan jasa

I.2 Analisis Dampak KEP


Manifestasi KEP tercermin dalam bentuk fisik tubuh yang apabila diukur secara
Anthropometri (TB/U, BB/U, BB/TB) kurang dari nilai baku yang dianjurkan. Berbagai hasil
penelitian menunjukkan bahwa KEP merupakan salah satu bentuk kurang gizi yang
mempunyai dampak bagi produktifitas pekerja, dampak KEP antara lain :
1. Menurunkan mutu fisik dan intelektual
Sebagai dampak dari kekurangan energi protein menyebabkan mutu fisik dan
intelektual sehingga seorang pekerja yang mengalami KEP tidak akan maksimal dalam
melakukan pekerjaannya karena kondisi fisik dan intelektualnya tidak dalam kondisi yang
baik dan akan dapat menurunkan produktivitas kerjanya.
2. Serta menurunkan daya tahan tubuh
Pada perkerja yang mengalami KEP daya tahannya akan turun sehingga akan rentan
pada penyakit-penyakit yang ada dilingkungan kerja. Sehingga tidak membutuhkan paparan
yang melebihi nilai ambang batas untuk membuat pekerja menjadi sakit jika pekerja tersebut
terkena KEP. Dan tentunya ini sangat merugikan bagi perusahaan.
3. Meningkatnya resiko kesakitan dan kematian
Dampak yang satu ini merupakan juga akibat berkelanjutan dari turunya daya tahan tubuh
pekerja sehingga akan sengat merugikan bagi perusahaan.
I.3 Pengendalian KEP pada pekerja di perusahaan
Pada dasarnya peningkatan ekonomi merupakan hal dasar daripada penanggulangan dari pada
KEP ini karena tingkat ekonomi yang rendah merupakan faktor yang tidak dapat dihiraukan.
Beberapa program yang mungkin dilaksanakan untuk menanggulangi KEP pada pekerja di
perusahaan antara lain :
a. Peningkatan tunjangan oleh perusahaan

Dengan meningkatkan penghasilan dan tunjangan di perusahaan akan meingkatkan taraf


ekonomi pekerja sehingga kejadian KEP akan menurun pada pekerja dan akan menyebabkam
peningkatan produktivitas
b. Penyediaan Makanan sehat oleh perusahaan
Tidak hanya menyediakan kantin atau tempat makan di perusahaan tapi juga menyediakan
katering untuk makan karyawan yang sesuai dengan kriteria makanan sehat kaya protein
sehingga kasus KEP di perusahaan diharapkan dapat menurun.
c. Menyediakan sarana dan prasarana Kesehatan di perusahaan
Selain usaha preventif seperti diatas usaha rehabilitatif juga perlu dilakukan dengan
menyediakan poliklinik atau rumah sakit diperusahaan juga merupakan usaha yang perlu
dilakukan untuk menurunkan angka kejadian KEP di perusahaan.
d. Monitoring pada pekerja
Pengawasan secara continues sangat diperlukan untuk untuk mengendalikan kejadian KEP.
Pengawasan seperti ini dapat dilakukan oleh ahli K3 di perusahaan.
II Kekurangan Vitamin A (KVA) pada pekerja
Vitamin A adalah vitamin yang larut dalam lemak tapi tidak di dalam air, Viatamin A
diproduksi oleh 2 senyawa yang oleh tubuh di ubah menjadi vitamin. Vitamin A yang berasal
dari hewani (provitamin A) tersedia dalam bentuk retinol. Sedangkan yang berasal dari nabati
tersedia dalam bentuk -karoten.
-karoten yang kita konsumsi pada usus halus diubah menjadi vitamin A. Retinol lebih
efisien dalam memproduksi vitamin A dibandingkan dengan -karoten. Para ahli
menyarankan vitamin A diberikan dalam bentuk retinol pada ekivalen, yaitu pada pria sebesar
1000 mikrogram RE perhari dan pada wanita 800 mikrogram RE perhari.
Fungsi vitamin A dalam tubuh. Vitamin A adalah zat besi mikro yang berfungsi untuk :
a. Meningkatkan daya tahan tubuh

b. Memelihara kesehatan mata, memelihara sel kornea dan epitel


c. Membantu pertumbuhan, reproduksi gizi dan tulang
d. Membantu dalam pembentukan dan pengaturan hormon
e. Membantu melindungi tubuh dari sel-sel kanker.
Vitamin A berperan sebagai hormon yang mempengaruhi diferensiasi (pembagian fungsi) sel
dalam proses pematangan sel sehingga mampu mencegah pematangan sel.
II.1 Analisis penyebab kekurangan Vitamin A di perusahaan
Kurangnya mengkonsumsi Makanan kaya retinol dan -karoten merupakan penyebab primer
dari pada KVA pada pekerja ini dapat diakibatkan karena :
1. Penyediaan makanan oleh perusahaan kurang nilai gizi
Penyediaan makanan yang tidak memperhatikan nilai gizi sehingga tidak
memperhatikan kandungan vitamin A dalam makanan yang disediakan perusahaan.
2. Pendapatan yang rendah
Pendapatan yang rendah menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya daya beli
terhadap pangan sehingga nilai-nilai sangat tidak diperhatikan.
Adapula penyebab sekunder dari kasus KVA pada pekerja yaitu adanya kegagalan
penyerapan lemak di usus. Gangguan yang demikian dapat terjadi pada penderita gangguan
pankreas, defesiensi selenium, serta seseorang yang melakukan diet rendah lemak.
II.2 Analisis dampak kekurangan Vitamin A pada pekerja
Akibat kekurangan viatamin A biasanya disertai dengan kekurangan protein dan mineral seng
yang dapat mengakibatkan konsekuensi yang serius. Gejala kekurangan vitmain A adalah
terjadinya kebutaan dimalam hari bila hal ini dibiarkan akan menyebabkan menurunnya
kualitas pengelihatan yang akhirnya dapat menimbulkan kebutaan.
Akibat dari kekurangan vitamin A :

1. Terhambatnya pertumbuhan tulang yang terhambat dan dapat menyebabkan perubahan


bentuk tulang. Pada pekerja yang masih muda tentunya akan sangat mengganggu
pertumbuhannya.
2. Dapat mengakibatkan kerusakan pada gigi dan terhentinya pertumbuhan sel-sel pembentuk
gigi.
3. Mempengaruhi sistem tulang dan syaraf sehingga dapat mengakibatkan kelumpuhan.
4. Anemia adalah salah satu akibat dari kekurangan vitamin A. Tentunya akan sangat
merugikan bagi perusahaan jika pekerjanya tidak dalam keadaan maksimal dalam melakukan
pekerjaannya
II.3 Pengendalian KVA pada pekerja
Adanya komitmen dari perusahaan dalam menjaga kesehatan pekerja merupakan modal
utama terjaminnya kesehatan para pekerja tersebut termasuk dengan pengendalian kasus KVA
pada pekerja. Program yang perlu dilaksanakan untuk mencegah KVA adalah :
1. Penyelenggaraan makanan sehat oleh perusahaan
Salah satu sumber vitamin A yang besar adalah retinol yang berasal dari hewani penyediaan
makanan yang syarat sunber vitamin A hewani adalah upaya yang bagus untuk mencegah
KVA pada pekerja.
2. Penyediaan Suplemen vitamin A
Untuk mencukupi kebutuhan akan vitamin A pekerja tidak hanya melalui penyediaan asupan
makanan kaya retinol tetapi juga dapat melalui suplemen vitamin A yang akan dapat
mencukupi kebutuhan vitamin A.
3. Penyediaan layanan kesehatan
Upaya rehabilitatif juga diperlukan dalam upaya pengendalian KVA di tempat kerja karena
merupakan hak pekerja dalam mendapatkan perlindungan kesehatan
III Obesitas pada pekerja

Para pekerja intelektual yang banyak berpikir dan kurang aktivitas fisik, adalah
sekelompok orang yang berisiko mengalami kelebihan berat badan akibat kompensasi kalori
yang dibutuhkan tubuh
Sebagai pekerja yang dituntut untuk banyak berpikir, sebaiknya berhati-hati dengan
kebiasaan makan. Pasalnya, kegiatan berpikir dapat memacu selera makan. Belum lama ini,
para peneliti mengungkap, tekanan atau stress saat berpikir dapat menyebabkan kebiasaan
makan berlebih karena para pemikir cenderung mencari lebih banyak kalori.
III.1 Analisis penyebab obesitas pada pekerja
Pekerjaan yang banyak berpikir lebih berpotensi pada terkena obesitas karena tidak
membutuhkan mobilitas tubuh untuk bergerak. Namun selain itu juga banyak faktor yang
mempengaruhi kejadian obesiatas pada pekerja :
a. Stress akibat pekerjaan
Pekerjaan dengan banyak berpikir akan sangat berpotensi menimbulkan stress berat yang
menimbulkan meningkatnya nafsu makan sehingga pola makan tidak terkontrol dan
terkendali akhirnya menjadi obes.
b. Aktivitas yang sedikit
Pekerjaan dengan banyak berfikir tentunya akan mengurangi aktivitas fisik di dalam
pekerjaan dan kalori dalam tubuh tidak akan terbakar dan akhirnya tertimbun sebagai lemak.
c. Pola makan abnormal
Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan dalam
jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari (sindroma makan pada malam hari).
Kedua pola makan ini biasanya dipicu oleh stres dan kekecewaan. Binge mirip dengan
bulimia nervosa, dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak, bedanya pada binge
hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. Sebagai
akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak. Pada sindroma makan pada malam hari,
adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan,
agitasi dan insomnia pada malam hari.

d. Jenis makanan yang di konsumsi


Makanan yang disediakan diperusahaan yang tidak memperhatikan aspek makanan sehat
sehingga makanan tersebut banyak mengandung kolesterol yang akan menyebabkan obesitas
pada pekerja
III.2 Analisis dampak obesitas pada pekerja
Obesitas bukan merupakan penyakit tapi dapat berdampak buruk bagi kesehatan para pekerja
Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa
menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun
penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat
tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu),
sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung
bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan
kaki). Sering ditemukan kelainan kulit. Seseorang yang obesitas memiliki permukaan tubuh
yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak
dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan
edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan
pergelangan kaki.
Obesitas bukan hanya tidak enak dipandang mata tetapi merupakan dilema kesehatan
yang mengerikan. Obesitas secara langsung berbahaya bagi kesehatan seorang pekerja.
Obesitas meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti:
- Diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa)
- Tekanan darah tinggi (hipertensi)
- Stroke
- Serangan jantung (infark miokardium)
- Gagal jantung

- Kanker (jenis kanker tertentu, misalnya kanker prostat dan kanker usus besar)
- Batu kandung empedu dan batu kandung kemih
- Gout dan artritis gout
- Osteoartritis
- Tidur apneu (kegagalan untuk bernafas secara normal ketika sedang tidur,
menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah)
- Sindroma Pickwickian (obesitas disertai wajah kemerahan, underventilasi dan
ngantuk).
III.3 Pengendalian Obesitas pada pekerja
Obesitas pada pekerja juga berdampak buruk bagi perusahaan sehingga perlu adanya
beberapa program pengendalian yang bisa dilakukan :
a. Penyediaan fasilitas olah raga di perusahaan
Disediakannya fasilitas olah raga diperusahaan merupakan salah satu pendukung untuk
menurunkan angka obesiatas pada pekerja diperusahaan.
b. Peningkatan kualitas pangan oleh perusahaan
Meningkatkan kualitas pangan yang mengacu pada syarat-syarat makanan sehat rendah
kolesterol yang akan mencegah obesitaas pada pekerja
c. Program traveling
Pada perusahaan dengan aktivitas yang tinggi dengan intensitas pekerjaan yang tinggi pula
sangat berpotensi menimbulkan stress pada pekerja dan dapat menimbulkan obesitas.
Sehingga program ini sangat sesuai jika banyak pekerja yang mengalami stress akibat
pekerjaannya.
d. Pelayanan Kesehatan

Penyediaan pelayanan kesehatan beserta dengan tenaga kesehatannya akan sangat membantu
dalam menurunkan angka obesitas dalam peusahaan. Karena konsultasi tentang masalah
obesitas bagi pekerja sangat diperlukan.
IV Kekurangan Yodium (GAKY) pada Pekerja
Penyakit ini bisa disebut defisiensi yodium atau kekurangan yodium. Penyakit ini sangat
sedikit diketahui oleh masyarakat dan mungkin masih merupakan problem yang
ditelantarkan. Pada prinsipnya kekurangan yodium tergantung dari jumlah yodium yang
terdapat dalam makanannya
Kebutuhan yodium pada pekerja adalah :
1. 150 mikrogram untuk dewasa (diatas usia 12 tahun)
2. 200 mikrogram untuk ibu hamil dan menyusui
Pada ibu hamil dam menyusui menbutuhkan yodium yang lebih tinggi dari pekerja
normal sehingga pekerja yang hamil dan meyusui akan lebih berpotensi terkena GAKY.
IV.1 Analisis penyebab GAKY pada pekerja
Banyak hal yang menyebabkan seorang pekerja terkena GAKY antara lain :
a. Jenis makanan yang dikonsumsi
Pemberian makanan oleh perusahaan terkadang tidak memperhatikan kandungan yodium
yang terdapat pada makanan tersebut sehingga pekerja akan rawan terkena GAKY.
b. Kondisi Fisik
Pekerja hamil dan menyusui membutuhkan asupan gizi yang lebih banyak sehingga perlunya
asupan yodium lebih yang harus disediakan oleh perusahaan.
c. Kondisi lingkungan

Pada pekerja yang bekerja di area pegunungan terutama pekerja tambang ini lebih rentan
terhadap GAKY karena kandungan yodium yang terdapat pada air dan garam yang berada di
daerah tersebut sangatlah rendah
IV. 2 Analisis dampak GAKY pada pekerja
Pada orang dewasa terutama pekerja, dapat terjadi gondok dengan segala
komplikasinya, yang sering terjadi adalah hipotiroidisme, bodoh, dan hipertiroidisme. Karena
adanya benjolan/modul pada kelenjar tiroid yang berfungsi autonom. Disamping efek
tersebut, peningkatan ambilan kelenjar tiroid yang disebabkan oleh kekurangan yodium
meningkatkan risiko terjadinya kanker kelenjar tiroid bila terkena radiasi.
IV.3 Pengendalian GAKY diperusahaan
Pemecahan masalah sebenarnya sangat sederhana antara lain ,:
1. berikan satu sendok yodium pada setiap orang yang membutuhkan, dan terus
menerus. Karena yodium tidak dapat disimpan oleh tubuh dalam waktu lama, dan hanya
dibutuhkan dalam jumlah sedikit sehingga harus berlangsung terus menerus.
2. Pada daerah kekurangan yodium endemik akibat tanah dan hasil panen serta
rumput untuk makanan ternak tidak cukup kandungan yodiumnya untuk dikonsumsi oleh
pekerja setempat, maka suplementasi dan fortifikasi yodium yang diberikan terus menerus
sangat tinggi angka keberhasilannya
3. Penyuluhan kesehatan secara berkala pada pekerja perlu dilakukan, demikian juga
perlu diberikan penjelasan pada pembuat keputusan, dan tentunya juga diberikan tambahan
pengetahuan dari tenaga kesehatan dari perusahaan setempat.
4. Pelayanan kesehatan juga diperlukan sebagai upaya rehabilitatif pada pekerja yang
terkena GAKY sehingga pekerja mendapat perlindungan kesehatan.
V Anemia pada pekerja
Anemia Karena Kekurangan Zat Besi adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah
merah atau hemoglobin (protein pengangkut oksigen) dalam sel darah berada dibawah
normal, yang disebabkan karena kekurangan zat besi. Beberapa zat gizi diperlukan dalam

pembentukan sel darah merah. Yang paling penting adalah zat besi, vitamin B12 dan asam
folat; tetapi tubuh juga memerlukan sejumlah kecil vitamin C, riboflavin dan tembaga serta
keseimbangan hormon, terutama eritropoietin (hormon yang merangsang pembentukan sel
darah merah).
Tanpa zat gizi dan hormon tersebut, pembentukan sel darah merah akan berjalan
lambat dan tidak mencukupi, dan selnya bisa memiliki kelainan bentuk dan tidak mampu
mengangkut oksigen sebagaimana mestinya. Penyakit kronik juga bisa menyebabkan
berkurangnya pembentukan sel darah merah.
Asupan normal zat besi biasanya tidak dapat menggantikan kehilangan zat besi karena
perdarahan kronik dan tubuh hanya memiliki sejumlah kecil cadangan zat besi. Sebagai
akibatnya, kehilangan zat besi harus digantikan dengan tambahan zat besi.
Makanan rata-rata mengandung sekitar 6 mgram zat besi setiap 1.000 kalori, sehingga
rata-rata orang mengkonsumsi zat besi sekitar 10-12 mgram/hari.
Sumber yang paling baik adalah daging. Serat sayuran, fosfat, kulit padi (bekatul) dan antasid
mengurangi penyerapan zat besi dengan cara mengikatnya. Vitamin C merupakan satusatunya unsur makanan yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi. Tubuh menyerap
sekitar 1-2 mgram zat besi dari makanan setiap harinya, yang secara kasar sama degnan
jumlah zat besi yang dibuang dari tubuh setiap harinya
V.1 Analisis penyebab Anemia pada pekerja
Anemia karena kekurangan zat besi biasanya terjadi secara bertahap, melalui beberapa
stadium. Gejalanya baru timbul pada stadium lanjut.
Stadium 1.
Kehilangan zat besi melebihi asupannya, sehingga menghabiskan cadangan dalam
tubuh, terutama di sumsum tulang. Kadar ferritin (protein yang menampung zat besi) dalam
darah berkurang secara progresif.
Stadium 2.

Cadangan besi yang telah berkurang tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk
pembentukan se darah merah, sehingga sel darah merah yang dihasilkan jumlahnya lebih
sedikit.
Stadium 3.
Mulai terjadi anemia. Pada awal stadium ini, sel darah merah tampak normal, tetapi
jumlahnya lebih sedikit. Kadar hemoglobin dan hematokrit menurun.
Stadium 4.
Sumsum tulang berusaha untuk menggantikan kekurangan zat besi dengan
mempercepat pembelahan sel dan menghasilkan sel darah merah dengan ukuran yang sangat
kecil (mikrositik), yang khas untuk anemia karena kekurangan zat besi.
Stadium 5.
Dengan semakin memburuknya kekurangan zat besi dan anemia, maka akan timbul
gejala-gejala karena kekurangan zat besi dan gejala-gejala karena anemia semakin
memburuk.
Sedangkan penyebabnya antara lain :
Tubuh mendaur ulang zat besi, yaitu ketika sel darah merah mati, zat besi di dalamnya
dikembalikan ke sumsum tulang untuk digunakan kembali oleh sel darah merah yang baru.
Tubuh kehilangan sejumlah besar zat besi hanya ketika sel darah merah hilang karena
perdarahan dan menyebabkan kekurangan zat besi.
Diperisahaan banyak hal yang menyebabkan terjadinya kasus anemia
1. Jenis Makanan yang disediakan perusahaan kurang zat besi
Makanan yang kurang zat besi merupakan salah satu penyebab terbanyak dari anemia.
2. Pendarahan pada pekerja

Satu-satunya penyebab kekurangan zat besi pada dewasa adalah perdarahan. Dapat
terjadi akibat luka yang disebabkan kecelakaan diperusahaan juga karena penyakit-penyakit
lain yang dapat menyebabkan pendarahan.
3. Pasca menopause pada pria dan wanita
Kekurangan zat besi biasanya menunjukkan adanya perdarahan pada saluran
pencernaan.
4. Wanita pre-menopause
kekurangn zat besi bisa disebabkan oleh perdarahan menstruasi bulanan. Sehinggga
pada umumnya kasus anemia yang terdapat diperusahaan penderitanya adalah wanita
V.3 Pengendalian Anemia di perusahaan
Beberapa pengendalian yang harus diterapkan diperusahaan untuk mengurangi kejadian
anemia diperusahaan antara lain :
a. Peningkatan mutu pangan yang disediakan perusahaan
Lebih banyak mengkonsumsi daging, hati dan kuning telur; juga tepung, roti dan gandum
yang telah diperkaya dengan zat besi pada pekerja sehingga meminimalkan kejadian anemia
di perisahaan.
b. Mengendalikan perdarahan menstruasi yang sangat banyak pada pekerja yang mengalami
menstruasi
Dapat dilakukan dengan mengkonsumsi obat sesuai dengan resep dokter
c. Menyediakan suplemen zat besi
Bagi pekerja wanita suplemen ini sangat di butuhkan apalagi pada pekerja yang mengalami
menstruasi yang sangat rentan terhadap penyakit anemia.
c. Pelayanan kesehatan

Layanan kesehatan bagi pekerja terutama wanita yang sangat beresiko terhadap kejadian
anemia ini sangat perlukan untuk mengendalikan kejadian anemia diperusahaan.
d. Monitoring pekerja rentan terhadap Anemia
Monitoring ini bisa ditugaskan kepada dokter perusahaan beserta tenaga medis yang
berkompetensi di bidangnya sehingga kejadian anemia di perusahaan dapat dikendalikan
1. Gizi Kerja adalah gizi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk melakukan suatu pekerjaan
sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerjanya atau ilmu gizi yang diterapkan kepada
masyarakat tenaga kerja dengan tujuan untuk meningkatkan taraf kesehatan tenaga kerja
sehingga tercapai tingkat produktivitas dan efisiensi kerja yang setinggi-tingginya.
2. Penyakit Gizi Kerja merupakan penyakit gizi sebagai akibat kerja ataupun ada hubungan
dengan kerja.
3. Pengelolaan makan bagi tenaga kerja adalah suatu rangkaian kegiatan penyediaan makan
bagi tenaga kerja di perusahaan yang dimulai dari rencana perencanaan menu hingga
peyajiannya dengan memperhatikan kecukupan kalori dan zat gizi, pemilihan jenis dan bahan
makanan, santasi tempat pengolahan dan tempat penyajian, waktu dan teknis penyajian bagi
tenaga kerja.
4. Produktivitas merupakan sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu
kehidupan hari esok harus lebih baik dari hari ini atau perbandingan antara output (keluaran /
jumlah yang dihasilkan) dengan input (masukan / setiap sumber daya yang digunakan).
ARTI PENTING GIZI KERJA
Produktivitas kerja dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya yang mempunyai peranan
sangat penting dan menentukan adalah kecukupan gizi. Faktor ini akan menentukan prestasi
kerja tenaga kerja karena adanya kecukupan dan penyebar kalori yang seimbang selama
bekerja. Seseorang yang berstatus gizi kurang tidak mungkin mampu bekerja dengan hasil
yang maksimal karena prestasi kerja dipengaruhi oleh derajat kesehatan seseorang. Tenaga
kerja yang sehat akan bekerja lebih giat, produktif, dan teliti sehingga dapat mencegah
kecelakaan yang mungkin terjadi dalam bekerja.
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEADAAN GIZI TENAGA KERJA
1. Jenis kegiatan (ringan, sedang, berat) yang merupakan suatu beban kerja.
2. Faktor tenaga kerja, yang meliputi ketidaktahuan, jenis kelamin, umur, hamil, menyusui,
kebiasaan makan yang kurang baik, tingkat kesehatan karena tingginya penyakit parasit dan
infeksi oleh bakteri pada alat pencernaan, kesejahteraan tinggi tanpa perhatian gizi,
mengakibatkan terjadinya salah gizi biasanya dalam bentuk over nutrisi, disiplin, motivasi
dan dedikasi.
3. Faktor lingkungan kerja sebagai beban tambahan, yang meliputi fisik, kimia, biologi,
fisiologi (ergonomi) dan psikologi. Beban kerja dan beban tambahan di tempat kerja yaitu
tekanan panas, bahan bahan kimia, parasit dan mikroorganisme, faktor psikologis dan
kesejahteraan.
FAKTOR FAKTOR PENENTU KEBUTUHAN GIZI
1. Ukuran tubuh (tinggi dan berat badan)
2. Usia
3. Jenis kelamin
4. Kegiatan sehari hari

5. Kondisi tubuh tertentu (wanita hamil dan menyusui)


6. Lingkungan kerja.