Anda di halaman 1dari 14

1. a. Jelaskan berbagai pendapat tentang tujuan hukum!

Tujuan Hukum menurut beberapa ahli :


Tujuan hukum mempunyai sifat universal seperti ketertiban, ketentraman, kedamaian,
kesejahteraan, dan kebahagiaan dalam tata kehidupan bermasyarakat. Dengan adanya hukum
maka tiap perkara dapat diselesaikan melalui proses pengadilan dengan prantara hakim
berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, selain itu hukum bertujuan untuk menjaga dan
mencegah agar setiap orang tidak dapat menjadi hakim atas dirinya sendiri. Eksistensi hukum
yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat adalah memiliki tujuan yang ingin
diwujudkan. Tujuan secara etimologi adalah sesuatu yang ingin dicapai atau diwujudkan oleh
hukum. Terdapat beragam pendapat mengenai Tujuan Hukum Menurut Pemikiran Para Ahli:
1. Purnadi dan Soerdjono Soekanto,
Tujuan hukum adalah kedamaian hidup antar pribadi yang meliputi ketertiban ekstern antar
pribadi dan ketenangan intern pribadi
2. Prof. Mr. Dr. L.J. van Apeldoorn,
Tujuan hukum adalah mengatur pergaulan hidup manusia secara damai. Hukum menghendaki
perdamaian. Perdamain diantara manusia dipertahankan oleh hukum dengan melindungi
kepentingan-kepentingan hukum manusia tertentu, kehormatan, kemerdekaan, jiwa, harta
benda terhadap pihak yg merugikan.
3. Prof. Soebekti, S.H
Dalam buku Dasar-dasar hukum dan Pengadilan tujuan hukum adalah bahwa hukum itu
mengabdi kepada tujuan negara yaitu mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan para
rakyatnya. Hukum melayani tujuan negara tersebut dengan menyelenggarakan keadilan dan
ketertiban. Keadilan lazim dilambangkan dengan neraca keadilan, dimana dalam keadaan
yang sama, setiap orang harus mendapatkan bagian yang sama pula.
4. Aristoteles,
Hukum mempunyai tugas yang suci yaitu memberi kepada setiap orang yang ia berhak
menerimanya. Anggapan ini berdasarkan etika dan berpendapat bahwa hukum bertugas hanya
membuat adanya keadilan saja.
5. Soejono Dirdjosisworo,
Tujuan hukum adalah melindungi individu dalam hubngannya dengan masyarakat, sehingga
dengan demikian dapat diiharapkan terwujudnya keadaan aman, tertib dan adil
6. Roscoe Pound,
Hukum bertujuan untuk merekayasa masyarakat artinya hukum sebagai alat perubahan sosial
(as a tool of social engeneering), Intinya adalah hukum disini sebagai sarana atau alat untuk

mengubah masyarakat ke arah yang lebih baik, baik secara pribadi maupun dalam hidup
masyarakat.

7. Bellefroid,
Tujuan hukum adalah menambah kesejahteraan umum atau kepentingan umum yaitu
kesejahteraan atau kepentingan semua anggota2 suatu masyarakat.
8. Van Kant,
Hukum bertujuan menjaga kepentingan tiap-tiap manusia supaya kepentingan itu tidak dapat
diganggu. Hukum juga menjaga dan mencegah agar setiap orang tidak menjadi hakim atas
dirinya sendiri (eigenrichting is verboden), tidak mengadili dan menjatuhi hukuman terhadap
setiap pelanggaran hukum terhadap dirinya. Tiap perkara harus diselesaikan melalui proses
pengadilan dengan perantara hakim berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.
9. Suharjo (mantan menteri kehakiman)
Tujuan hukum adalah untuk mengayomi manusia baik secara aktif maupun secara pasif.
Secara aktif dimaksudkan sebagai upaya untuk menciptakan suatu kondisi kemasyarakatan
yang manusia dalam proses yang berlangsung secara wajar. Sedangkan yang dimaksud secara
pasif adalah mengupayakan pencegahan atas upaya yang sewenang-wenang dan
penyalahgunaan hak secara tidak adil. Usaha mewujudkan pengayoman ini termasuk di
dalamnya diantaranya :- mewujudkan ketertiban dan keteraturan- mewujudkan kedamaian
sejati- mewujudkan keadilan bagi seluruh masyarakat- mewujudkan kesejahteraan seluruh
rakyat
10. Geny
Dalam Science et technique en droit prive positif, hukum bertujuan semata-mata untuk
mencapai keadilan. Dan sebagai unsur daripada keadilan adalah kepentingan daya guna dan
kemanfaatan
11. Jeremy Bentham (Teori Utilitis)
Dalam bukunya Introduction to the morals legislation, berpendapat bahwa hukum
bertujuan untuk mewujudkan semata-mata apa yang berfaedah bagi orang.
12. Wirjono Prodjodikoro,
Dalam bukunya Perbuatan Melanggar Hukum mengemukakan bahwa tujuan hukum adalah
mengadakan keselamatan, kebahagiaan dan tata tertib dalam masyarakat.
13. Rusli Effendy
(1991:79) mengemukakan bahwa tujuan hukum dapat dapat dikaji melalui tiga sudut
pandang, yaitu :

1. Dari sudut pandang ilmu hukum normatif, tujuan hukum dititik beratkan pada segi
kepastian hukum.
2. Dari sudut pandang filsafat hukum, maka tujuan hukum dititikberatkan pada segi
keadilan.
3. Dari sudut pandang sosiologi hukum, maka tujuan hukum dititikberatkan pada segi
kemanfaatan.
14. Gustav Radbruch
Memakai asas prioritas. Asas prioritas tersebut dijadikan sebagai sebagai tiga nilai dasar
tujuan hukum yaitu : keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Setiap hukum yang
diterapkan memiliki tujuan spesifik. Misalnya, hukum pidana memiliki tujuan spesifik
dibandingkan dengan hukum perdata, hukum formal mempunyai tujuan spesifik jika
dibandingkan dengan hukum materil.
15. Prof Sahardjo
Tujuan Hukum adalah sebagai alat mengayomi masyarakat
16. G. Niemeyer
Tujuan hukum adalah sebagai alat mengatur kegiatan manusia
17. L. Pospisil
Tujuan hukum adalah sebagai alat untuk mengendalikan masyarakat kearah yang tertib
Tujuan Hukum dapat dikaji dalam beberapa teori :
Teori etis
Teori etis pertama kali dikemukakan oleh filsuf Yunani, Aristoteles, dalam karyanya
ethica dan Rhetorika, yang menyatakan bahwa hukum memiliki tujuan suci
memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Menurut teori ini hukum
semata-mata bertujuan demi keadilan. Isi hukum ditentukan oleh keyakinan etis kita
mana yang adil dan mana yang tidak. Artinya hukum menurut teori ini bertujuan
mewujudkan keadilan.
Mengenai isi keadilan, Aristoteles membedakan adanya dua macam keadilan; justitia
distributive (keadilan distributif) dan justitia commulative (keadilan komuliatif).
Keadilan distributif adalah suatu keadilan yang memberikan kepada setiap orang
berdasarkan jasa atau haknya masing-masing. Makna keadilan bukanlah persamaan
melainkan perbandingan secara proposional. Adapun keadilan kumulatif adalah
keadilan yang diberikan kepada setiap orang berdasarkan kesamaan. Keadilan
terwujud ketika setiap orang diperlakukan sama.
Teori Utilitis
Menurut teori ini hukum bertujuan untuk menghasilkan kemanfaatan yang sebesarbesarnya pada manusia dalam mewujudkan kesenangan dan kebahagiaan. Penganut

teori ini adalah Jeremy Bentham dalam bukunya Introduction to the morals and
legislation. Pendapat ini dititik beratkan pada hal-hal yang berfaedah bagi orang
banyak dan bersifat umum tanpa memperhatikan aspek keadilan.
Teori Campuran
Menurut Apeldoorn tujuan hukum adalah mengatur tata tertib dalam masyarakat
secara damai dan adil. Mochtar Kusumaatmadja menjelaskan bahwa kebutuhan akan
ketertiban ini adalah syarat pokok (fundamental) bagi adanya masyarakat yang teratur
dan damai. Dan untuk mewujudkan kedamaian masyarakat maka harus diciptakan
kondisi masyarakat yang adil dengan mengadakan perimbangan antara kepentingan
satu dengan yang lain, dan setiap orang (sedapat mungkin) harus memperoleh apa
yang menjadi haknya. Dengan demikian pendapat ini dikatakan sebagai jalan tengah
antara teori etis dan utilitis.
Tujuan Hukum Menurut Aliran dan Paham dalam Hukum
Aliran etis menganggap tujuan hukum pada dasarnya ialah semata-mata untuk mewujudkan
keadilan. Oleh karena itu aliran etis menganggap bahwa hukum itu ditentukan oleh adanya
keyakinan terhadap sesuatu itu adil atau tidak adil. Pakar hukum yang mendukung paham
atau aliran etis adalah Geny, Wartle, Ehrliek, Gery Mil dan Aristoteles.
Disisi lain ada juga yang menentang aliran ini. Salah satunya adalah Sudikno Mertokusumo,
yang menyatakan bahwa:
Apabila kita mengatakan bahwa hukum itu bertujuan untuk mewujudkan keadilan, maka itu
berarti hukum itu tumbuh dan identik dengan keadilan. Namun hukum tidak identik dengan
keadilan dan dengan demikian, teori etis telah berat sebelah dengan menganggap tujuan
hukum semata-mata untuk mewujudkan keadilan.
Sementara itu ada juga aliran utilistis, yakni yang menganggap tujuan hukum adalah sematamata untuk mewujudkan kemanfaatan dan kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi mayoritas
umat manusia. Aliran utilistis cenderung menerapkan ajaran moral praktis karena
menganggap bahwa tujuan hukum hanyalah memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
mayoritas masyarakat atau sebanyak-banyaknya masyarakat.
Selain kedua aliran tersebut diatas, terdapat juga aliran Yuridis Dogmatik yang menganggap
bahwa tujuan hukum adalah semata-mata hanya untuk mewujudkan kepastian hukum. Aliran
Yuridis Dogmatik ini menganggap bahwa hukum yang telah tertuang dalam rumusan
peraturan perundang-undangan adalah sesuatu yang memiliki kepastian untuk diwujudkan.
Kepastian hukum adalah hal yang mutlak bagi setiap aturan dan karena itu kepastian hukum
itu sendiri merupakan tujuan hukum. Penganut aliran ini sepertinya lupa bahwa sebenarnya
penegakan hukum itu sendiri bukan suatu yang harus tetapi sesuatu yang seharusnya
dilakukan.
Perbedaan pendapat mengenai tujuan hukum tidak terbatas pada ketiga aliran yang berbeda
dalam merumuskan tujuan hukum tersebut diatas. Masih terdapat pendapat-pendapat lainnya
mengenai tujuan hukum. Masing-masing pendapat mengenai tujuan hukum tersebut tidak
terlepas dari kondisi sosial yang menjadi latar belakang kelompok masyarakat itu sendiri.

Karena setiap karakteristik yang menjelma menjadi ideologi masyarakat sekaligus merupakan
cita hukum masyarakat itu sendiri.
b. Menurut saudara apakah tujuan hukum itu? jelaskan!
Peraturan-peraturan hukum yang bersifat mengatur dan memaksa anggota masyarakat untuk
patuh dan menaatinya, menyebabkan terdapatnya keseimbangan dalam tiap perhubungan
dalam masyarakat. Setiap hubungan kemasyarakatan tak boleh bertentangan dengan
ketentuan-ketentuan dalam peraturan hukum yang ada dan berlaku dalam masyarakat. Setiap
pelanggar peraturan hukum yang ada, akan dikenakan sanksi yang berupa hukuman sebagai
reaksi terhadap perbuatan yang melanggar hukum yang dilakukannya. Untuk menjaga agar
peraturan-peraturan hukum itu dapat berlangsung terus da diterima oleh seluruh anggota
masyarakat, maka peraturan peraturan hukum yang ada harus sesuai dan tidak boleh
bertentangan dengan asas asas keadilan masyarakat tersebut.
Hukum itu bertujuan menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat dan hukum itu
harus pula bersendikan pada keadilan asas asas keadilan dari masyarakat itu. Maka dari itu
menurut saya, Tujuan hukum adalah untuk mencapai damai sejahtera. Untuk mewujudkan
damai sejahtera diperlukan pengaturan yang adil, yaitu pengaturan yang didalamnya terdapat
kepentingan-kepentingan yang dilindungi secara seimbang, sehingga setiap orang
memperoleh apa yang menjadi bagiannya.
Keadilan; Keadilan merupakan salah satu tujuan hukum yang paling banyak dibicarakan
sepanjang perjalanan sejarah filsafat hukum. Tujuan hukum bukan hanya keadilan, tetapi
juga kepastian hukum dan kemanfaatan hukum. Idealnya, hukum memang harus
mengakomodasikan ketiganya. Putusan hakim misalnya, sedapat mungkin merupakan
resultant dari ketiganya. Sekalipun demikian, tetap ada yang berpendapat, bahwa di antara
ketiga tujuan hukum tersebut, keadilan merupakan tujuan hukum yang paling penting,
bahkan ada yang berpendapat, bahwa keadilan adalah tujuan hukum satu-satunya.
Pengertian keadilan adalah keseimbangan antara yang patut diperoleh pihak-pihak, baik
berupa keuntungan maupun berupa kerugian. Dalam bahasa praktisnya, keadilan dapat
diartikan sebagai memberikan hak yang setara dengan kapasitas seseorang atau
pemberlakuan kepada tiap orang secara proporsional, tetapi juga bisa berarti memberi
sama banyak kepada setiap orang apa yang menjadi jatahnya berdasarkan prinsip
keseimbangan. Hukum tanpa keadilan tidaklah ada artinya sama sekali.
Kepastian, Tanpa kepastian hukum orang tidak tahu apa yang harus diperbuatnya dan
akhirnya timbul keresahan. Tetapi terlalu menitikberatkan pada kepastian hukum, terlalu
ketat mentaati peraturan hukum akibatnya kaku dan akan menimbulkan rasa tidak adil.
Adanya kepastian hukum merupakan harapan bagi pencari keadilan terhdap tindakan
sewenang-wenang dari aparat penegak hukum yang terkadang selalu arogansi dalam
menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum. Karena dengan adanya kepastian hukum
masyarakat akan tahu kejelasan akan hak dan kewajiban menurut hukum. Tanpa ada
kepastian hukum maka orang akan tidak tahu apa yang harus diperbuat, tidak mengetahui

perbuatanya benar atau salah, dilarang atau tidak dilarang oleh hukum. Kepastian hukum
ini dapat diwujudkan melalui penoramaan yang baik dan jelas dalam suatu undangundang dan akan jelas pulah penerapanya. Dengan kata lain kepastian hukum itu berarti
tepat hukumnya, subjeknya dan objeknya serta ancaman hukumanya. Akan tetapi
kepastian hukum mungkin sebaiknya tidak dianggap sebagai elemen yang mutlak ada
setiap saat, tapi sarana yang digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi dengan
memperhatikan asas manfaat dan efisiensi.
Kemanfaatan; Kemamfaatan hukum perlu diperhatikan karena semua orang
mengharapkan adanya mamfaat dalam pelaksanaan penegakan hukum. Jangan sampai
penegakan hukum justru menimbulkan keresahan masyrakat. Karena kalau kita berbicara
tentang hukum kita cenderung hanya melihat pada peraturan perundang-undangan, yang
trkadang aturan itu tidak sempurna adanya dan tidak aspiratif dengan kehidupan
masyarakat. Sesuai dengan prinsip tersebut diatas, saya sangat tertarik membaca
pernyataan Prof. Satjipto Raharjo, yang menyatakan bahwa : keadilan memang salah satu
nilai utama, tetapi tetap disamping yang lain-lain, seperti kemanfaatan ( utility,
doelmatigheid). Olehnya itu didalam penegakan hukum, perbandingan antara manfaat
dengan pengorbanan harus proporsional. . Akan tetapi, saya berkeyakinan aturan yang
mendekati sempurna atau aturan yang baik adalah aturan yang dapat menyelaraskan
kepastian, keadilan dan kemanfaatan secara bersamaan atau sejalan. Aturan yang baik
akan menjamin ketertiban, yang berarti seimbang antara kepastian, keadilan dan
kemanfaatan. Pada umumnya hukum ditujukan untuk mendapatkan keadilan, menjamin
adanya kepastian hukum dalam masyarakat serta mendapatkan kemanfaatan atas
dibentuknya hukum tersebut. Selain itu, menjaga dan mencegah agar tiap orang tidak
menjadi hakim atas dirinya sendiri, namun tiap perkara harus diputuskan oleh hakim
berdasarkan dengan ketentuan yang sedang berlaku.
2. Jelaskan Pancasila sebagai Philosopische Grondslag dan sebagai sumber hukum dasar
nasional indonesia ?
Istilah dasar Negara memiliki padanan kata philosophische grondslag (Belanda) dan
Weltanschauuung (Jerman). Istilah philosophische grondslag berarti norma (lag) dasar
(gronds) yang bersifat filsafati (philosophische). Sedangkan istilah Weltanschauuung berarti
pandangan mendasar (anschauuung) tentang dunia (welt). Jadi, kedua istilah itu mempunyai
kesamaan makna, yaitu: ajaran atau teori yang merupakan hasil pemikiran mendalam
(pemikiran filsafati) mengenai kehidupan didunia, termasuk kehidupan bernegara
didalamnya, yang dijadikan pedoman dasar dalam mengatur dan memelihara kehidupan
bersama dalam suatu Negara. Aliran tersebut dalam bahasa Inggris disebut ideology, yang
kita terjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi ideologi.
Menurut Soekarno, Pancasila merupakan philosofische grondslag atas kemerdekaan
Indonesia. philosofische grondslag diartikan sebagai fondasi, filosofi, pemikiran utama,
semangat, dan keinginan terdalam yang membangun keabadian, bangunan kokoh yaitu
Indonesia merdeka. Pancasila sebagai dasar negara sering disebut dasar falsafah negara (dasar

filsafat negara/philosophische grondslag) dari negara, ideologi negara (staatsidee). Dalam


hal ini Pancasila dipergunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan negara. Dengan kata
lain, Pancasila digunakan sebagai dasar untuk mengatur penyelenggaraan negara.
Pengertian Pancasila sebagai dasar negara seperti dimaksud tersebut sesuai dengan bunyi
Pembukaan UUD 1945 Alinea IV yang secara jelas menyatakan. "Kemudian daripada itu
untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial maka disusunlah kemerdekaan
kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang
berbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan
berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab,
Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia." Sebagai dasar negara Pancasila dipergunakan untuk mengatur seluruh
tatanan kehidupan bangsa dan negara Indonesia, artinya segala sesuatu yang berhubungan
dengan pelaksanaan sistem ketatanegaraan Negara Kesatuan RepublikIndonesia (NKRI)
harus berdasarkan Pancasila. Hal ini berarti juga bahwa semua peraturan yang berlaku di
negara Republik Indonesia harus bersumberkan kepada Pancasila.
Pancasila sebagai dasar negara, artinya Pancasila dijadikan sebagai dasar untuk mengatur
penyelenggaraan pemerintahan negara. Pancasila menurut Ketetapan MPR No.
III/MPR/2000 merupakan "sumber hukum dasar nasional".
Dalam kedudukannya sebagai dasar negara maka Pancasila berfungsi sebagai:
1. Sumber dari segala sumber hukum (sumber tertib hukum) Indonesia. Dengan
demikian Pancasila merupakan asas kerohanian tertib hukum Indonesia;
2. Suasana kebatinan (geistlichenhinterground) dari UUD;
3. Cita-cita hukum bagi hukum dasar negara;
4. Norma-norma yang mengharuskan UUD mengandung isi yang mewajibkan
pemerintah dan lain-lain penyelenggara negara memegang teguh cita-cita moral
rakyat yang luhur;
5. Sumber semangat bagi UUD 1945, penyelenggara negara, pelaksana pemerintahan.
MPR dengan Ketetapan No. XVIIV MPR/1998 telah mengembalikan kedudukan
Pancasila sebagai dasar negara RI.

Pancasila sebagai Sumber Hukum Dasar Nasional


Sumber hukum dasar nasional adalah Pancasila sebagaimana yang tertulis dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945, yaitu ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan
beradab, persatuan indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan

dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi


seluruh rakyat Indonesia dan batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945.
Hukum Nasional adalah sekumpulan hukum yang sebagian besar terdiri atas prinsip-prinsip
dan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh masyarakat dalam suatu negara, dan oleh
karena itu juga harus ditaati dalam hubungan-hubungan antara mereka satu dengan lainnya.
Hukum Nasional di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum
Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana,
berbasis pada hukum Eropa kontinental,khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa
lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia Belanda
(Nederlandsch-Indie). Hukum Agama, karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut
agama Islam, maka dominasi hukum atau syariat Islam lebih banyak terutama dibidang
perkawinan, kekeluargaan dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum
Adat, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budayabudaya yang ada di wilayah Nusantara.Bagi masyarakat Indonesia, Pancasila bukanlah
sesuatu yang asing. Pancasila terdiri atas 5 (lima) asas, tertuang dalam Pembukaan UUD
1945 alinea IV dan diperuntukkan sebagai dasar negara Republik Indonesia. Sebagai dasar
negara, Pancasila merupakan suatu asas kerohanian yang dalam ilmu kenegaraan popular
disebut sebagai dasar filsafat negara (Philosofische Gronslag). Dalam kedudukan dan fungsi
Pancasila sebagai dasar negara RI, pada hakikatnya sebagai dasar dan asas kerohanian dalam
setiap aspek penyelenggaraan negara termasuk dalam penyusunan tertib hukum Indonesia.
Maka kedudukan Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah
sebagai sumber dari segala sumber hukum Indonesia, baik yang tertulis yaitu UUD Negara
maupun hukum dasar tidak tertulis atau konvensi.
Menurut Prof. Hamid S. Attamimi, Pancasila berkedudukan sebagai Cita Hukum (Rechtsidee)
- bukan cita-cita hukum - dari negara Indonesia. Pancasila adalah Cita Hukum yang
menguasai hukum dasar negara baik tertulis maupun tidak tertulis. Cita Hukum berarti
gagasan, pikiran, rasa, dan cipta mengenai hukum yang seharusnya diinginkan masyarakat.
Pancasila sebagai cita hukum memiliki dua fungsi :

Regulatif, artinya cita hukum menguji apakah hukum yang dan dibuat adil atau tidak
bagi masyarakat.
Konstitutif, artinya fungsi yang menentukan bahwa tanpa dasar cita hukum maka
hukum yang dibuat akan kehilangan maknanya sebagai hukum.

Dalam UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan


dinyatakan bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum Negara.
Pernyataan ini sesuai dengan kedudukannya, yaitu sebagai dasar (filosofi) negara

sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV. Sebagai sumber nilai dan
norma negara maka setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh
bertentangan dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Lebih jelas lagi bahwa Pancasila
sebagai sumber dasar hukum nasional artinya nilai-nilai Pancasila dijadikan sumber normatif
penyusunan hukum oleh karena Pancasila sendiri merupakan sumber nilai dan sumber norma
dalam setiap aspek penyelenggaraan negara, termasuk sebagai sumber tertib hukum di negara
Republik Indonesia. Konsekuensinya, seluruh peraturan perundang-unsdangan serta
penjabarannya senantiasa berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila.
Berdasarkan hal-hal tersebut, dapat dinyatakan bahwa Pancasila sebagai dasar negara
berkedudukan sebagai norma dasar bernegara yang menjadi sumber, dasar, landasan norma,
serta memberi fungsi konstitutif dan regulatif bagi penyusunan hukum-hukum negara.
Menurut Hans Nawiasky, norma hukum dalam suatu negara berjenjang dan bertingkat
membentuk suatu tertib hukum. Norma yang di bawah berdasar, bersumber dan berlaku pada
norma yang lebih tinggi, norma yang lebih tinggi berdasar, bersumber dan berlaku pada
norma yang lebih tinggi lagi demikian seterusnya sampai pada norma tertinggi dalam negara
yang disebut sebagai Norma Fundamental Negara (Staatsfundamentalnorm). Norma dalam
negara itu selain berjenjang, bertingkat dan berlapis, juga membentuk kelompok norma
hukum.
Hans Nawiasky berpendapat bahwa kelompok norma hukum negara terdiri atas 4 (empat)
kelompok dasar, yaitu:
1. Staatsfundamentalnorm atau norma fundamental negara,
2. Staatgrundgesetz atau aturan dasar/pokok negara,
3. Formellgesetz atau undang-undang,
4. Verordnung dan Autonome Satzung atau aturan pelaksana dan aturan otonom.
Kelompok norma itu bertingkat dan membentuk piramida. Kelompok norma tersebut hampir
selalu ada dalam susunan norma hukum setiap negara walaupun mempunyai istilah-istilah
yang berbeda ataupun jumlah norma hukum yang berbeda dalam tiap kelompoknya.
Apabila dikaitkan dengan norma hukum di Indonesia maka jelas bahwa Pancasila
berkedudukan sebagai Staatsfundamentalnorm menurut Hans Nawiasky. Di bawah
Staatsfundamentalnorm terdapat Staatsgrundgesetz atau aturan dasar negara. Aturan dasar
negara disebut juga dengan hukum dasar negara atau konstitusi negara. Dengan demikian,
dasar negara menjadi tempat bergantung atau sumber dari konstitusi negara. Pancasila
sebagai dasar negara Indonesia menjadi sumber norma bagi UUD 1945 sebagai konsitusi
negara.
Pancasila dalam jenjang norma hukum berkedudukan sebagai norma dasar atau grundnorm
dari tertib hukum Indonesia. Sebagai norma dasar, pancasila mendasari dan menjadi sumber
bagi pembentukan hukum serta peraturan perundang-undangan di Indonesia. Pancasila
menjadi sumber hukum dasar nasional, yaitu sumber bagi penyusunan peraturan perundangundangan nasional.

Istilah ini merupakan istilah baru dalam tata hukum Indonesia, yaitu muncul pasca reformasi
melalaui Tap MPR No. III/2000, yang kemudian diubah dengan UU No. 10 Tahun 2004
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, dinyatakan bahwa :

Sumber hukum terdiri atas sumber hokum tertulis dan tidak tertulis.
Sumber hukum dasar nasional adalah Pancasila sebagaimana yang tertulis dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, serta Batang Tubuh Undang-Undang Dasar
1945.

Dalam ilmu hukum istilah sumber hukum berarti sumber nilai-nilai yang menjadi penyebab
timbulnya aturan hukum. Jadi dapat diartikan Pancasila sebagai Sumber hukum dasar
nasional, yaitu segala aturan hukum yang berlaku di negara kita tidak boleh bertentangan dan
harus bersumber pada Pancasila.
Pancasila sebagai sumber dari segala sumber Hukum. atau sumber tertib hukum bagi Negara
Republik Indonesia. Sumber tertib hukum Republik Indonesia adalah pandangan hidup,
kesadaran, cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kejiwaan serta watak
Bangsa Indonesia. Cita-cita itu meliputi cita-cita mengenai kemerdekaan Individu,
kemerdekaan Bangsa, perikemanusiaan, keadilan sosial dan perdamaian Nasional. Cita-cita
politik mengenai sifat, bentuk dan tujuan negara. Cita-cita moral mengenai kehidupan
kemasyarakatan dan keagamaan.
3. Jelaskan apakah yang disebut dengan keadilan ?
Pengertian Keadilan
Kata keadilan dalam bahasa Inggris adalah justice. Kata justice memiliki makna secara
atributif dan sebagai tindakan. Secara atributif justice berarti suatu kuasalitas yang adil atau
fair. Sebagai tindakan, justice berarti tindakan menjalankan hukum atau tindakan yang
menentukan hak atau hukuman. Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral
mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut John Rawls, fi lsuf
Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan
bahwa Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya
kebenaran pada sistem pemikiran.
Keadilan merupakan suatu hasil pengambilan keputusan yang mengandung kebenaran, tidak
memihak, dapat dipertanggungjawabkan dan memperlakukan setiap orang pada kedudukan
yang sama di depan hukum. Perwujudan keadilan dapat dilaksanakan dalam ruang lingkup
kehidupan masyarakat, bernegara dan kehidupan masyarakat intenasional.
Keadilan dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang tidak berdasarkan kesewenangwenangan. Keadilan juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang didasarkan normanorma, baik norma agama maupun hukum. Keadilan ditunjukkan melalui sikap dan perbuatan
yang tidak berat sebelah dan memberi sesuatu kepada orang lain yang menjadi haknya.
Pada intinya, keadilan adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya Istilah keadilan
berasal dari kata adil yang berasal dari bahasa Arab. Kata adil berarti tengah. Adil pada
hakikatnya bahwa kita memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Keadilan
berarti tidak berat sebelah, menempatkan sesuatu di tengah-tengah, tidak memihak. Keadilan
juga diartikan sebagai suatu keadaan dimana setiap orang baik dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara memperoleh apa yang menjadi haknya, sehingga
dapat melaksanakan kewajibannya.

Makna Keadilan
Keadilan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berasal darai kata adil yang berarti
kejujuran, kelurusan dan keikhlasan dan tidak berat sebelah, tidak memihak, tidak sewenangwenang.
Menurut Ensiklopedi Indonesia kata Adil berarti :
Tidak berat sebelah atau tidak memihak kesalah satu pihak.
Memberikan sesuatu kepada setiap orang sesuai dengan hak yang harus diperolehnya.
Mengetahui hak dan kewajiban, mana yang benar dan yang salah, jujur, tepat menurut
aturan yang berlaku.
Tidak pilih kasih dan pandang siapapun, setiap orang diperlakukan sesuai hak dan
kewajibannya.
Istilah keadilan (iustitia) berasal dari kata "adil" yang berarti: tidak berat sebelah, tidak
memihak, berpihak kepada yang benar, sepatutnya, tidak sewenang-wenang. Dari beberapa
definisi dapat disimpulkan bahwa pengertian keadilan adalah semua hal yang berkenan
dengan sikap dan tindakan dalam hubungan antarmanusia, keadilan berisi sebuah tuntutan
agar orang memperlakukan sesamanya sesuai dengan hak dan kewajibannya, perlakukan
tersebut tidak pandang bulu atau pilih kasih, melainkan, semua orang diperlakukan sama
sesuai dengan hak dan kewajibannya.

Pengertian Keadilan Menurut Para Filsof Dan Para Ahli Hukum:


Definisi mengenai keadilan sangat beragam, dapat ditunjukkan dari berbagai pendapat yang
dikemukakan oleh para pakar di bidang hukum yang memberikan definisi berbeda-beda
mengenai keadilan.
Plato,
menurutnya keadilan hanya dapat ada di dalam hukum dan perundang-undangan yang
dibuat oleh para ahli yang khusus memikirkan hal itu. Untuk istilah keadilan ini Plato
menggunakan kata yunaniDikaiosune yang berarti lebih luas, yaitu mencakup
moralitas individual dan sosial. Penjelasan tentang tema keadilan diberi ilustrasi
dengan pengalaman saudagar kaya bernama Cephalus. Saudagar ini menekankan
bahwa keuntungan besar akan didapat jika kita melakukan tindakan tidak berbohong
dan curang. Adil menyangkut relasi manusia dengan yang lain.
Aristoteles,
seorang filosof pertama kali yang merumuskan arti keadilan. Ia mengatakan bahwa
keadilan adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya, fiat jutitia
bereat mundus. Selanjutnya dia membagi keadilan dibagi menjadi dua bentuk yaitu:
Pertama, keadilan distributif, adalah keadilan yang ditentukan oleh pembuat undangundang, distribusinya memuat jasa, hak, dan kebaikan bagi anggota-anggota

masyarakat menurut prinsip kesamaan proporsional. Kedua, keadilan korektif, yaitu


keadilan yang menjamin, mengawasi dan memelihara distribusi ini melawan
serangan-serangan ilegal. Fungsi korektif keadilan pada prinsipnya diatur oleh hakim
dan menstabilkan kembali status quo dengan cara mengembalikan milik korban yang
bersangkutan atau dengan cara mengganti rugi atas miliknya yang hilang atau kata
lainnya keadilan distributif adalah keadilan berdasarkan besarnya jasa yang diberikan,
sedangkan keadilan korektif adalah keadilan berdasarkan persamaan hak tanpa
melihat besarnya jasa yang diberikan.
Hans Kelsen,
menurutnya keadilan tentu saja juga digunakan dalam hukum, dari segi kecocokan
dengan hukum positif-terutama kecocokan dengan undang-undang. Ia menggangap
sesuatu yang adil hanya mengungkapkan nilai kecocokan relative dengan sebuah
norma adil hanya kata lain dari benar.
Jhon Rawls,
Konsep keadilan menurut rawls, ialah suatu upaya untuk mentesiskan paham
liberalisme dan sosialisme. Sehingga secara konseptual rawls menjelaskan keadilan
sebagai fairness, yang mengandung asas-asas, bahwa orang-orang yang merdeka dan
rasional yang berkehendak untuk mengembangkan kepentingan-kepentingannya
hendaknya memperoleh suatu kedudukan yang sama pada saat akan memulainya dan
itu merupakan syarat yang fundamental bagi mereka untuk memasuki perhimpuan
yang mereka hendaki.
Soekanto,
menyebut dua kutub citra keadilan yang harus melekat dalam setiap tindakan yang
hendak dikatakan sebagai tindakan adil. Pertama, Naminem Laedere, yakni "jangan
merugikan orang lain", secara luas azas ini berarti " Apa yang anda tidak ingin alami,
janganlah menyebabkan orang lain mengalaminya". Kedua, Suum Cuique Tribuere,
yakni "bertindaklah sebanding". Secara luas azas ini berarti "Apa yang boleh anda
dapat, biarkanlah orang lain berusaha mendapatkannya". Azas pertama merupakan
sendi equality yang ditujukan kepada umum sebagai azas pergaulan hidup. Sedangkan
azas kedua merupakan azas equity yang diarahkan pada penyamaan apa yang tidak
berbeda dan membedakan apa yang memang tidak sama.
Keadilan dari sudut pandang bangsa Indonesia disebut juga keadilan sosial, secara jelas
dicantumkan dalam pancasila sila ke-2 dan ke-5, serta UUD 1945. Keadilan adalah
penilaian dengan memberikan kepada siapapun sesuai dengan apa yang menjadi haknya,
yakni dengan bertindak proposional dan tidak melanggar hukum. Keadilan berkaitan erat
dengan hak, dalam konsepsi bangsa Indonesia hak tidak dapat dipisahkan dengan
kewajiban. Dalam konteks pembangunan bangsa Indonesia keadilan tidak bersifat
sektoral tetapi meliputi ideologi, EKPOLESOSBUDHANKAM. Untuk menciptakan
masyarakat yang adil dan makmur. Adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.
Keadilan menurut Ibnu Taymiyyah (661-728 H) adalah memberikan sesuatu kepada
setiap anggota masyarakat sesuai dengan haknya yang harus diperolehnya tanpa diminta;
tidak berat sebelah atau tidak memihak kepada salah satu pihak; mengetahui hak dan
kewajiban, mengerti mana yang benar dan mana yang salah, bertindak jujur dan tetap
menurut peraturan yang telah ditetapkan. Keadilan merupakan nilai-nilai kemanusiaan
yang asasi dan menjadi pilar bagi berbagai aspek kehidupan, baik individual, keluarga,

dan masyarakat. Keadilan tidak hanya menjadi idaman setiap insan bahkan kitab suci
umat Islam menjadikan keadilan sebagai tujuan risalah samawi.

Terlepas dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka perlu diambil benang merah
tentang teori keadilan tersebut, agar pertanyaan apa itu keadilan dapat dijawab dengan
gamblang dan komplit serta universal. Keadilan baru dapat dikatakan bersifat universal jika
dapat mencakup semua persoalan keadilan sosial dan individual yang muncul. Universal
dalam penerapannya mempunyai arti tuntutan-tuntutannya harus berlaku bagi seluruh
anggota masyarakat. Dapat diuniversalkan dalam arti harus menjadi prinsip yang
universalitas penerimaannya dapat dikembangkan seluruh warga masyarakat.
Mungkinkah Keadilan tersebut tercapai?
Tercapainya suatu keadilan merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh sebuah bangsa
termasuk bangsa Indonesia. Keadilan yang hendak dicapai oleh bangsa Indonesia bukan
keadilan yang diperuntukkan oleh sekelompok orang saja atau penguasa, namun keadilan
bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan yang menjadi dambaan seluruh umat manusia
diharapkan mampu memberi jaminan keadilan bagi seluruh warga negara. Jaminan keadilan
yang diberikan oleh pemerintah berupa dasar negara, undang-undang dasar, dan peraturan
perundang-undangan. Seperti jaminan keadilan yang terkandung dalam Pancasila sila ke-5,
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Berpedoman pada sila tersebut, bangsa
Indonesia ingin mewujudkan keadilan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia di seluruh
wilayah Nusantara. Keadilan yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia bukan hanya pada
bidang tertentu saja, akan tetapi seluruh bidang yang meliputi bidang ideologi, politik,
ekonomi, sosial dan budaya, serta pertahanan dan keamanan. Keadilan sosial dapat
diwujudkan melalui pembangunan di segala bidang. Keadilan akan tampak apabila hasil
pembangunan dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Artinya bahwa pembangunan
yang dilaksanakan oleh pemerintah harus dapat dirasakan hasilnya oleh seluruh masyarakat
Indonesia dan mampu menjamin kesejahteraan bersama sesuai dengan tujuan nasional bangsa
Indonesia.
Tercapainya keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat memperkokoh
persatuan dan kesatuan bangsa. Karena dengan adanya keadilan, seluruh masyarakat dapat
merasa sama sebagai satu bangsa dan satu negara. Semua masyarakat diperlakukan sama,
baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial dalam satu wadah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Dengan demikian, masalah ketidakadilan yang membawa perpecahan
bangsa akan dapat dihindarkan. Oleh karena itu, perlu diupayakan terciptanya keadilan yang
merata di seluruh wilayah tanah air Indonesia untuk memperkuat persatuan dan kesatuan
bangsa. Pemerintah mempunyai peranan yang sangat besar untuk menciptakan keadilan
sesuai dengan tujuan negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Tujuan tersebut mengandung
makna bahwa pemerintah memiliki kewajiban melindungi seluruh rakyat dan memberi rasa
keadilan sebagai dasar pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa.
Keadilan dalam penerapannya tidaklah mesti terlalu lugas. Pengenaan keadilan yang bersifat
lugas justru menimbulkan ketidakadilan. Seperti kata ungkapan "summum ius, summa iniura"
(penerapan hukum secara penuh, penuh ketidakadilan). Karena itu, dalam mewujudkan

keadilan diperlukan prinsip lain untuk mengimbanginya, yaitu kepatutan (aequitas). Prinsip
kepatutan dimaksudkan untuk mendorong terwujudnya keadilan sosial.
Keadilan pada hakikatnya ada pada diri setiap manusia, dan keadilan akan mungkin tercapai
bila norma norma dan nilai-nilai dalam tatanan sosial berfungsi sebagaimana fungsinya.
Referensi :
Angkasa, Filsafat Hukum ( Materi Kuliah ), (Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman,
2010).
Dominikus Rato, Filsafat Hukum, Mencari, Menemukan, Dan Memahami Hukum,
(Surabaya: LaksBang Yustisia, 2010).
Munir Fuady, Dinamika Teori Hukum, (Ciawi-Bogor: Ghalia Indonesia, 2010).
James Garvey, 20 Karya Filsafat Terbesar, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2010).
Abdul Ghofur Anshori, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, (Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 2006).
Hans Kelsen, Pengantar Teori Hukum, (Bandung: Penerbit Nusa Media, 2010).
E. Fernando M. Manullang, Menggapai Hukum Berkeadilan, (Jakarta: Buku Kompas, 2007).
Soeroso, 2004. Pengantar Ilmu Hukum. Penerbit Sinar Grafika: Jakarta.
Prosiding FGD Pakar II, 2013, Pengalaman Pancasila Sebagai Philosophische Grondslag,
PSP-UGM, Yogyakarta.
Kaelan. 2004. Pendidikan Pancasila, Edisi Reformasi. Yogyakarta: Paradigma.
Winarno. 2008. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Bumi Aksara.
Santosa, Kholid O. 2007. Paradigma Baru Memahami Pancasila dan UUD 1945. Bandung:
Sega Arsy.
http://fol-uinalauddin.blogspot.com/2011/12/tujuan-hukum-menurut-para-ahli.html
http://www.pengertianahli.com/2014/01/pengertian-keadilan-apa-itu-keadilan.html#_
http://refflinsukses.blogspot.com/2013/05/pengertian-keadilan.html

Anda mungkin juga menyukai