Anda di halaman 1dari 92

BAHAN AJAR CETAK

SUPLEMEN

ISBN:

PENGEMBANGAN
PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN SD
Yayuk Mardiati
Imam Muchtar
Sumarjono
Arief Rijadi
Ign.Suhanto

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI


KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
2010

KATA PENGANTAR

Mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan (PKn) mempunyai fungsi sebagai


sarana untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya, berkomitmen setia kepada bangsa dan negara
Indonesia dengan merefleksikan diri sebagai warga negara yang cerdas, terampil dan
berkharakter sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.
Tujuan mata Pelajaran PKn antara lain, agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut :
1. Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isuisu
kewarganegaraan.
2. Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab dan bertindak secara
cerdas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan
kepribadian bangsa Indonesia agar dapat hidup sejajar dengan bangsa-bangsa
lain.
4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara
langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi ditengah-tengah arus globalisasi.
Suplemen pengembangan PKn SD ini dimaksudkan untuk melengkapi bahan ajar
cetak yang sudah ada. Di dalam suplemen ini dikembangkan model-model, strategi,
metode-metode dan pendekatan-pendekatan dalam rangka pembelajaran PKn SD yang
akan membantu guru dalam menuangkan kreativitasnya di depan kelas sebagai fasilitator.
Pengembangan suplemen PKn SD ini didasarkan atas prinsip-prinsip Pembelajaran Aktif,
Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Prinsip-prinsip ini diharapkan
dapat mempermudah daya serap materi mata pelajaran PKn terutama dalam penilaian
ranah afektif, kognitif dan psikomotor secara simultan, terutama peserta didik pada kelas
rendah yang baru belajar membaca dan menulis. Pada kelas tinggi kreativitas dalam
pembelajaran lebih ditingkatkan lagi. Namun konsekuensinya guru sebagai motivator dan
fasilitator harus kreatif, inisiatif, dan konsen terhadap peserta didik. Tanpa hal ini
pembelajaran PKn yang kita inginkan tidak akan tercapai secara optimal.

Jember, Juli 2010

Tim Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .

DAFTAR ISI ..

ii

TINJAUAN UMUM SUPLEMEN...

iv

UNIT 1 : PARADIGMA BARU PKn ..

1.1 Pendahuluan ..

1.2 Pemikiran Rasional

1.3 Lingkungan Kelas Demokratis (Democratic Classroom) .

1.4 Karakteristik PKn ..

1.5 Struktur Keilmuan PKn SD/MI .

10

1.6 Pengembangan Pembelajaran PKn yang Demokratis Melalui Media


Audiovisual .... 11
Latihan ... 13
Rangkuman .... 14
Tes formatif 1 ....

15

Daftar Pustaka ...

17

Glosarium .

18

UNIT 2 : MODEL-MODEL PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PKn .......... 21


2.1 Pendahuluan ..

21

2.2 Model Pengembangan Pembelajaran PKn ....

22

2.2.1 Model Pembelajaran PKn SD di Kelas Rendah .

22

2.2.1.1 Model Pembelajaran PAIKEM PKn SD .

23

2.2.1.2 Model Pembelajaran Talking Stick ..

24

2.2.2 Model Pengembangan Pembelajaran PKn di Kelas Tinggi.

25

2.2.2.1 Model Pembelajaran Cooperative Learning: Think-Pair-Share ..

26

2.2.2.2 Model Pembelajaran Berbasis Portofolio .

29

Latihan ..

32

Rangkuman ...

33

Tes formatif 2 ....

34

Daftar Pustaka ... 37


Glosarium ..........
ii

38

UNIT 3 : PENGEMBANGAN PERANGKAT PENILAIAN MATA PELAJARAN


PKn ..................

41

3.1 Pendahuluan .. 41
3.2 Prinsip-prinsip Penilaian PKn .... 43
3.3 Teknik Penilaian Afekif untuk PKn... 44
3.4 Penilaian Portofolio .... 49
3.5 Pengembangan Penilaian Ranah Tiga Domain .....................................

51

Latihan ... 59
Rangkuman 60
Tes formatif 3 . 61
Daftar Pustaka 63
Glosarium ..

64

UNIT 4 : PENGEMBANGAN SILABUS DAN RPP SERTA PENERAPANNYA


DALAM PEMBELAJARAN PKn SD .

67

4.1 Pendahuluan ... 67


4.2 Komponen-Komponen RPP ....

67

4.3 Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP ..........

68

4.4 Pelaksanaan Pembelajaran .................

69

4.5 Latihan ...........

78

4.6 Rangkuman ............

79

4.7 Tes formatif 4 ......... 80


4.8 Daftar Pustaka ........ 82
4.9 Glosarium ..............

iii

83

TINJAUAN UMUM SUPLEMEN


Suplemen buku Pengembangaan Pembelajaan PKn SD terdiri dari 4 Unit, yaitu
membahas Paradigma baru PKn SD, modelmodel pembelajaran PKn pada kelas rendah
dan kelas tinggi, pengembangan perangkat penilaian serta pengembangan silabus dan RPP
sesuai dalam KTSP.
Unit 1 membahas paradigma buru, tugas, dan tujuan pembelajaran PKn terkait
dengan suasana era globalisasi. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa sebagai bangsa
tentunya kita menjadi bagian dari bangsa-bangsa lain di dunia, sehingga harus dapat hidup
berdampingan secara damai dengan berlandaskan budaya Indonesia. Unit ini juga
membahas pemikiran rasional yang harus kita miliki dan dipakai sebagai pedoman
pengembangan pembelajaran PKn serta bagaimana kita menemukan konsep-konsep kelas
demokratis. Mengingat kharakteristik dan struktur keilmuan PKn berbeda dengan mata
pelajaran yang lain, maka dalam suplemen ini diuraikan juga pengelolaan instrument
pengukuran ranah afektif, serta bagaimana mengembangkan pembelajaran PKn SD kelas
tinggi yang demokratis berbantuan media audio visual.
Unit 2 menjelaskan model-model pembelajaran yang tepat untuk mata pelajaran SD
kelas rendah dan kelas tinggi agar materi pembelajaran dapat diterima secara optimal
dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).
Pembelajaran PKn SD dengan pendekatan tematik (pada kelas rengah) dengan model atau
pendekatan tongkat bergilir/berbicara (talking stick), permainan (games), model
pembelajaran

cooperatif

learning

dengan

Pendekatan

Think-Pair-Share,

model

pembelajaran dengan pendekatan analisis nilai dan model pembelajaran berbasis


portofolio.
Unit 3, merupakan bagian dari perangkat penilaian pelajaran PKn, terutama dalam
pengembangan penilaian afektif dan penilaian berbasis tiga domain. Penilaian ranah afektif
ini terdiri atas lima instrumen yang diukur dalam mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan, agama dan estetika yaitu 1.Sikap 2. minat 3. Konsep diri 4. Nilai dan
5. Moral. Ketiga instrumen yang terakhir inilah yang membedakan dengan mata pelajaran
lain.
Unit 4, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pembelajaran terutama
dalam hubungannya dengan interaksi antara guru dan peserta didik, yaitu pengembangan
silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Di dalam unit ini juga dijelaskan
contoh pengembangan silabus dan RPP PKn SD kelas rendah dan kelas tinggi dengan
pengembangan model, pendekatan yang berbeda-beda agar pelaksanaan pembelajaran
dapat diserap oleh peserta didik secara maksimal.
iv

Unit 1
PARADIGMA BARU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Sumarjono
Imam Muchtar
1.1 Pendahuluan
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan bidang studi yang bersifat
multifaset dengan konteks lintas bidang keilmuan. Secara filsafat keilmuan PKn
memiliki ontology pokok ilmu politik khususnya konsep political democracy untuk
aspek duties and rights of citizen (Chreshore:1886). Dari ontologi pokok inilah
kemudian berkembang konsep Civics yang secara harafiah (dalam bahasa Latin)
adalah civicus yang artinya warga negara pada zaman Yunani kuno. Berawal dari
pengertian itulah kemudian berkembang dan secara akademis diakui sebagai
embrionya civic education. Di Indonesia civic education ini diadaptasi menjadi
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Secara epistemologis, PKn sebagai suatu bidang
keilmuan merupakan pengembangan dari salah satu dari lima tradisi social studies
yakni citizenship transmission (Barr, Barrt, dan Shermis:1978). Tradisi social studies
mengalami perkembangan pesat sehingga kini telah menjadi suatu body of knowledge
yang memiliki paradigma sistemik berisi tiga domain citizenship education yaitu:
domain akademis, kurikuler, dan sosial kultural (Winataputra:2001)
PKn secara pragmatik memiliki visi socio-pedagogis untuk mendidik
warganegara yang demokratis dalam konteks yang lebih luas, antara lain mencakup
konteks pendidikan formal dan non-formal. Sedangkan secara umum PKn memiliki
visi formal-pedagogis untuk mendidik warganegara yang demokratis dalam konteks
pendidikan formal. Di Indonesia PKn memiliki visi formal-pedagogis, yakni sebagai
mata pelajaran sosial dalam dunia persekolahan dan perguruan tinggi yang berfungsi
sebagai wahana untuk mendidik warganegara Indonesia yang Pancasilais.
Seiring dengan perkembangan kehidupan demokrasi di Indonesia, yaitu
lahirnya masa reformasi, para pemikir kurikulum di Indonesia, khususnya ahli-ahli
PKn mengadakan pembaharuan terhadap muatan dan substansi kurikulum PKn.
Pengkajian para prkar PKn berhasil merumuskan suatu kesepakatan yang kemudian
terkenal dengan istilah paradigma baru PKn. Dalam paradigma baru PKn dijelaskan,
Paradigma Baru PKn-SD

bahwa PKn merupakan bidang kajian ilmiah dan program pendidikan di sekolah dan
diterima sebagai wahana utama esensial pendidikan demokrasi di Indonesia yang
dilaksanakan melalui:
1) Civic Intelligence, yaitu kecerdasan dan daya nalar warga negara baik dalam
dimensi spiritual, rasional, emosional, maupun sosial;
2) Civic Responsibility, yaitu kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara
yang bertanggung jawab; dan
3) Civic Participation, yaitu kemampuan berpartisipasi warga negara atas dasar
tanggungjawabnya, baik secara individual, sosial, maupun sebagai pemimpin hari
depan.
Muatan-muatan materi PKn dengan paradigma baru tersebut kemudian dijabarkan ke
dalam berbagai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sebagai bagian dari
Standar Isi PKn yang termuat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22
tahun 2006 tentang Standar Isi.
Secara garis besar, dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge)
yang tercakup dalam mata pelajaran PKn meliputi politik, hukum dan moral. Dengan
demikian, mata pelajaran PKn merupakan bidang kajian disiplin. Secara lebih rinci,
materi pengetahuan kewarganegaraan meliputi pengetahuan tentang hak dan tanggung
jawab negara, hak asasi manusia, perinsip-perinsip dan proses demokrasi, lembaga
pemerintahan dan non-pemerintah, identitas nasional, pemerintahan berdasar hukum
(rule of law) dan peradilan yang bebas dan tidak memihak, serta nilai-nilai dan normanorma dalam masyarakat.
Keterampilan kewarganegaraan (civic skills) meliputi keterampilan intelektual
(intelectual skills) dan keterampilan berpartisipasi (participatory skills) dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Contoh keterampilan intelektual
misalnya keterampilan dalam merespon berbagai persoalan politik, seperti perlu atau
tidaknya kampanye secara masal. Contoh keterampilan berpartisipasi misalnya
keterampilan menggunakan hak dan kewajibannya di bidang hukum, seperti perlu atau
tidaknya melapor kepada polisi jika mengetahui tindak kejahatan di masyarakat.
Watak

/karakter

kewarganegaraan

(civic

despositions)

sesungguhnya

merupakan dimensi yang paling substantif dan esensial dalam mata pelajaran PKn.
Dimensi watak/karakter kewarganegaraan dapat dipandang sebagai muara dari
kedua dimensi sebelumnya dengan memperhatikan visi, misi, tujuan, dan karakteristik
mata pelajaran PKn. Ciri khas PKn ditandai dengan pemberian penekanan pada
Paradigma Baru PKn-SD

dimensi watak, karakter, sikap, dan hal-hal lain yang bersifat afektif. Jadi
pembelajaran PKn diharapkan mampu memberi pengetahuan kepada warganegara
bidang politik, hukum, dan moral sebagai bekal dalam kehidupan bermasyaarakat,
berbangsa, dan bernegara. Selanjutnya warga negara di harapkan memiliki
keterampilan secara intelektual dan partisipatif dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Pada akhirnya, pengetahuan dan keterampilan itu akan
membentuk suatu watak atau karakter yang mapan, sehingga menjadi sikap dan
kebiasaan hidup sehari-hari. Watak, karakter, dan sikap atau kebiasaan hidup seharihari yang mencerminkan warga negara yang baik itu misalnya sikap religius, toleran,
jujur, adil, demoktaris, menghargai perbedaan, menghormati hukum, menghormati hak
orang lain, memiliki kebangsaan yang kuat, memiliki rasa kesetiakawanan sosial dan
lain-lain.

1.2 Pemikiran Rasional


Kurikulum

Tingkat

Satuan

Pendidikan

Tahun

2006

mengakomodir

kecenderungan globalisasi dalam tujuan mata pelajaran PKn yaitu mengembangkan


kemampuan: 1) Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu
kewarganegaraan; 2) berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak
secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti
korupsi; 3) berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri
berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan
bangsa-bangsa lain di dunia; 4) berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam
percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi. Dalam proses pembelajaran, PKn hendaknya menjadi
subjek pembelajaran yang kuat (powerful learning area) yang ditandai oleh
pengalaman belajar kontekstual dengan ciri-ciri: bermakna (meaningful), terintegrasi
(integrated), berbasis nilai (value-based), menantang (challenging), dan mengaktifkan
(activating) (Budimansyah, 2008b:182).
Konsep paradigma baru PKn muncul setelah era reformasi di mana masyarakat
Indonesia tidak hanya memerlukan teori tentang konsep demokrasi, tetapi
menghendaki institusi yang mampu memelihara proses demokrasi. Paradigma baru
berasal dari bahasa Inggris new paradigm yang secara harafiah berarti pola atau model
baru. Menurut Udin, dkk.. interpretasi paradigma baru dalam konteks PKn berarti suatu
model atau kerangka berfikir yang digunakan dalam proses kewarganegaraan di
Paradigma Baru PKn-SD

Indonesia. Selanjutnya dinyatakan bahwa untuk mengembangkan karakter warga


Negara yang demokratis PKn dengan paradigma baru mempunyai tiga tugas pokok,
yaitu: 1) mengembangkan kecerdasan warga Negara (civic intelligence); 2) membina
tanggung jawab warga negara (civic responsibility); dan 3) mendorong partisipasi
warga Negara (civic participation)
Perlu kita ketahui bahwa ketiga konsep tugas pokok PKn tersebut diadopsi dari
Amerika yang sudah mapan demokrasinya. Proses adopsi tersebut disebut making
connection, yaitu kemampuan berfikir yang secara simultan mengubah pola pikir
menjadi lebih baik dengan tetap memelihara identitas termasuk budaya sndiri
(Mardiati, 2007). Oleh karena itu, dalam implementasinya tetap harus kita sesuaikan
dengan konteks Indonesia. Contoh proses making connection yang berhasil adalah
Jepang.

Bangsa

Jepang

memiliki

kemampuan

menggunakan

kesempatan

mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teknologi barat tanpa menghilangkan


identitas budaya sendiri.
Indonesia sebagai salah satu anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) perlu
mendukung pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs), khususnya
untuk meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk pendidikan yang demokratis
(democratic citizenship education). Nilai-nilai demokrasi dalam paradigma baru dalam
PKn merupakan konsep yang abstrak. Karena demokrasi bersifat abstrak, maka para
siswa SD sering kesulitan memahami dan merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian timbul pertanyaan, bagaimana guru dapat mengimplementaskan teori
demokrasi dan menggabungkan ketrampilannya demokrasi ke dalam praktek? Dalam
suplemen bahan ajar Paradigma baru PKn SD Anda akan dikenalkan model
pembelajaran menciptakan suasana kelas demokratis (creating democratic
classroom environment).
Landasan pemikiran rasional pentingnya PKn dipersekolahan sebagaimana
tercantum dalam Standar Isi mata pelajaran PKn tahun 2006 adalah sbb:
1. Pendidikan Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi
warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan
NKRI sebagai negara kebangsaan yang modern yang pembentukannya didasarkan
pada semangat kebangsaan dalam kebinekaan (risalah Sidang BPUPKI dan PPKI
29 Mei s.d 19 Agustus 1945, Sekretariat Negara, 1992).

Paradigma Baru PKn-SD

2. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan pada
Pancasila dan UUD 1945
3. Negara Kesatuan republik Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila
seperti yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV
4. Pancasila dan UUD 1945 perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa
Indonesia, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa, mengingat sejarah
telah membuktikan berbagai peristiwa telah mengancam persatuan dan kesatuan.
5. Pada masa depan tidak terulang lagi adanya sistem pemerintahan otoriter yang
mengekang HAM warga negara untuk menjalankan demokrasi dengan kebebasan
yang bertanggung jawab. Kehidupan ini dapat dimulai di keluarga, sekolah dan
masyarakat untuk membentuk masa depan yang cerah (diolah dari Puskur,
Balitbang Depdiknas, 2003)
Terkait dengan pemikiran rasional tersebut, maka mata pelajaran PKn di
sekolah memiliki peran dan tanggung jawab yang sentral. Paradigma baru PKn
memuat aspek-aspek materi pembelajaran sebagaimana tercantum dalam Standar Isi
tahun 2006 sbb:
1. Persatuan dan Kesatuan bangsa, meliputi: hidup rukun dalam perbedaan, cinta
lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda, keutuhan
negara kesatuan Republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap
positif terhadap negara kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan
keadilan
2. Norma, hukum dan peraturan, meliputi: tertib dalam kehidupan keluarga, tata tertib
di sekolah, norma yang berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah, normanorma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistim hukum dan peradilan
nasional, hukum dan peradilan internasional
3. Hak asasi manusia meliputi: hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota
masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan, penghormatan
dan perlindungan HAM
4. Kebutuhan warga negara meliputi: hidup gotong royong, harga diri sebagai warga
masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat,
menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara

Paradigma Baru PKn-SD

5. konstitusi negara meliputi: proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama,


konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di indonesia, hubungan dasar negara
dengan konstitusi
6. Kekuasan dan Politik, meliputi: pemerintahan desa dan kecamatan, pemerintahan
daerah dan otonomi pemerintah pusat, demokrasi dan sistem politik, budaya politik,
budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem pemerintahan, pers dalam
masyarakat demokrasi
7. Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara,
proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilai-nilai Pancasila
dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka
8. Globalisasi meliputi: globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri Indonesia di
era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi
internasional, dan mengevaluasi globalisasi.

1.3 Lingkungan Kelas Demokratis (Democratic Classroom)


Realitas di lapangan menunjukkan bahwa, pembelajaran PKn di Indonesia
hingga saat ini masih didominasi sistem konvensional, sehingga penerapan
pembelajaran yang berorientasi pada konsep contextualized multiple intelligence
masih jauh dari harapan. Masalah serius yang kita hadapi adalah, sebagian besar siswa
tidak dapat menghubungkan apa yang telah mereka pelajari dengan aplikasi
pengetahuan dalam kehidupannya saat ini dan di kemudian hari. Artinya
pembelajaran tidak memberikan makna bagi siswa dalam memecahkan permasalahan
kewarganegaraan yang terjadi dalam kehidupannya. Pembelajaran belum mampu
mengembangkan civic knowledge, civic skills dan civic desposition secara
komprehensif. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran PKn belum mengkaitkan materi
dengan realita kehidupan siswa, tidak kontekstual, lebih banyak memberikan
kemampuan untuk menghapal, bukan untuk berpikir kreatif, kritis, dan analitis, bahkan
menimbulkan sikap apatis siswa dan menganggap remeh serta kurang menarik
(Surachmad dalam Kompas, 2003).
Setiap aspek proses pembelajaran PKn di Indonesia masih banyak kelemahan,
bahkan secara agregat menjadi kontraproduktif terhadap pengembangan diri dan
kemampuan intelektual siswa. Suryadi (2006:27) mengidentifikasi ciri-ciri sistem
belajar konvensional meliputi adanya kelas yang tertutup dalam sekolah dab
lingkungannya, seting ruangan yang statis dan penuh formalitas, guru menjadi satuParadigma Baru PKn-SD

satunya sumber ilmu dan papan tulis sebagai sarana utama dalam proses transfer of
knowledge, situasi dan suasana belajar yang diupayakan hening untuk mendapatkan
konsentrasi belajar maksimal, menggunakan buku wajib yang cenderung menjadi satusatunya yang syah sebagai referensi di kelas, dan adanya model ujian dengan soal-soal
pilihan ganda (multiple choice) yang hasilnya digunakan untuk ukuran kemampuan
siswa.
Somantri (2001:245) mempertegas bahwa kurang bermaknanya PKn bagi
siswa dikarenakan masih dominannya penerapan metode pembelajaran konvensional
seperti ground covering technique, indoktrinasi, dan narrative technique dalam
pembelajaran PKn sehari-hari. Sementara itu, Budimansyah (2008:18) menyoroti
penyebab masalah tersebut secara lebih luas meliputi: pertama, proses pembelajaran
dan penilaian PKn lebih menekankan pada dampak instruksional (instructional effects)
yang terbatas pada penguasaan materi (content mastery) atau hanya menekankan pada
dimensi kognitifnya saja. Pengembangan dimensi-dimensi lainnya (afektif dan
psikomotorik) dan pemerolehan dampak pengiring (nurturant effects) sebagai hidden
curriculum belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya.
Kedua, Pengelolaan kelas belum mampu menciptakan suasana kondusif dan
produktif untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa melalui pelibatannya
secara proaktif dan interaktif, baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun di luar
kelas (intra dan ekstra kurikuler). Hal ini berakibat pada miskinnya pengalaman
belajar yang bermakna (meaningful learning) untuk mengembangkan kehidupan dan
perilaku siswa.
Ketiga, penggunaan alokasi waktu yang tercantum dalam Struktur Kurikulum
Pendidikan dijabarkan secara kaku dan konvensional sebagai jam pelajaran tatap muka
terjadwal sehingga kegiatan pembelajaran PKn dengan cara tatap muka di kelas
menjadi sangat dominan. Hal itu mengakibatkan guru tidak dapat berimprovisasi
secara kreatif untuk melakukan aktivitas lainnya selain dari pembelajaran rutin tatap
muka yang terjadwal dengan ketat.
Keempat, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler sebagai wahana sosio-pedagogis
untuk mendapatkan hands-on experience juga belum memberikan kontribusi yang
signifikan untuk menyeimbangkan antara penguasaan teori dan praktek pembiasaan
perilaku dan keterampilan dalam berkehidupan yang demokratis dan sadar hukum.
Pemecahan masalah kekurangbermaknaan PKn tersebut pelu merubah materi
pembelajaran PKn tidak hanya berisi hapalan saja, tetapi harus dipadukan dengan
Paradigma Baru PKn-SD

kehidupan nyata dalam masyarakat dengan ditopang oleh proses pembelajaran yang
dapat mengembangkan contextualized multiple intelligence. Hal ini senada dengan
pendapat Somantri (2001:313) bahwa PKn akan lebih bermakna apabila pengetahuan
fungsional (functional knowledge) dan masalah-masalah kemasyarakatan memperkaya
konsep-konsep dasar PKn, dan dikembangkan dialog kreatif dalam pembelajaran.
Dengan demikian pembelajaran PKn dapat mengembangkan seluruh potensi siswa.
Menurut Djahiri (dalam Budimansyah dan Syaifullah, 2006:3), potensi diri yang harus
dikembangkan ini meliputi potensi daya pikir/intelektual, daya afektual dan
psikomotor yang terkait dengan konteks life cycles manusia, aspek kehidupannya, dan
sumber norma acuannya yang berlaku di masyarakat.
Proses pembelajaran PKn di persekolahan diperlukan guru inkuiri. Guru inkuiri
menurut A. Kosasih Djahiri (1985: 7-8) mempunyai ciri-ciri sebagai perencana,
pelaksana pengajaran, fasilitator, administrator, evaluator, rewarder, manajer,
pengarah dan pemberi keputusan. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa guru yang baik
adalah guru yang mau melihat dan menyerap perasaan peserta didiknya, mempunyai
pengertian tinggi atas hal tersebut, percaya peserta didik memiliki kemampuan,
mampu berperan sebagai fasilitator (pemberi kemudahan, kelancaran-keberhasilan)
dan mampu melaksanakan peran sebagai guru inkuiri.
Di dalam kelas guru bisa menciptakan suasana demokratis karena secara alami
siswa kooperatip, selalu ingin tahu, dan berkemauan belajar serta mempunyai hak
untuk membuat keputusan sendiri tentang belajar mereka. Disamping itu, siswa
mempunyai hak dan kewajiban untuk berpartisipasi di dunia sekitarnya. Siwa bisa
belajar pelajaran yang bernilai baik ketrampilan hidup maupun akademis melalui
partisipasi demokratis. Menurut Emma E. Holmes (1991) kelas demokratis
mencerminkan nilai-nilai sebagai layaknya masyarakat demokratis yaitu; hak-hak
(rights), tanggung jawab (responsibilities), serta menghargai diri sendiri dan orang
lain(self-respect dan respect for others).
Di dalam lingkungan kelas demokratis, siswa mempunyai hak untuk dididik atau
diberi pengajaran dengan baik dan meraih kesuksesan. Dalam hal ini siswa
menggunakan kesempatan untuk berpartisipasi dalam hidup kelompok dan
berkomunikasi dengan yang lainnya. Disamping itu, guru diharapkan bisa
menciptakan situasi yang memenuhi hak-hak siswa seperti merasa aman disekolah,
dihargai, didengar, diberi privacy, dilibatkan dalam membuat keputusan menurut
tingkatannya, dan diperlakukan dengan adil (Apple dan Beane 1995).
Paradigma Baru PKn-SD

Larson (1999) secara implisit berpendapat bahwa komunitas kelas demokratis


ditandai dengan sifat-sifat seperti saling percaya dan saling menghargai satu sama,
secara pribadi merasa aman, dan mempunyai tujuan yang sama untuk menggali isu
secara bersama. Dalam suasana saling percaya dan saling menghargai inilah, siswa
yang terlibat dalam suatu diskusi kelompok, misalnya, akan mempunyai perasaan yang
baik terhadap siswa lainnya dan berkemauan mengikuti peraturan berdiskusi, seperti
mendengarkan, menghargai hak-hak teman dalam berbagai gagasan dan pendapat.
Menciptakan suatu kelas yang aman dan menghargai berbagi pendapat dan
gagasan baru sangat penting, sehingga siswa merasa yakin bahwa komentar-komentar
yang disampaikan selama diskusi dihargai dan tidak akan digunakan untuk
memusuhinya di luar kelas. Dewey (1948) menekankan bahwa dalam kelas demokratis
perkembangan setiap siswa dihargai dan dibantu untuk merealisasikan baik potensi
intelektual, artistik, maupun pribadinya.
Selain hak-hak tersebut di atas, siswa akan belajar bahwa mereka mempunyai
tanggung jawab (responsibilities) yang harus mereka kerjakan dalam kehidupan
sekolah, seperti mengerjakan tugas proyek ataupun tugas lainnya. Dalam kelas
demokratis, konsep kebebasan (freedom) siswa akan mengutarakan pendapatnya
sesuai dengan peraturan yang sudah dibuat dalam diskusi kelompok sangat penting,
karena siswa harus mengekspresikan pendapatnya. Begitu pula dengan penanaman
konsep persamaan (equality) yang merupakan aspek atau nilai penting dalam kelas
demokratis, sebab setiap siswa adalah unik tetapi sama haknya, sehingga harus diberi
kesempatan belajar maksimal dan sama, termasuk memperoleh semua akses berbagai
program di sekolahnya. Selain itu, siswa diberi kesempatan untuk dilibatkan dalam
membuat keputusan (decision making). Hal ini bisa dilakukan misalnya guru mengkaji
materi dan membantu siswa dalam memutuskan aspek yang mana yang paling berguna
bagi pengorganisasian karyanya.

1.4 Karakteristik PKn


PKn mengalami perubahan dari waktu ke waktu mulai dari Civics yang
materinya menuju kepada warga negara yang baik saja, Pendidikan Moral Pancasila
(PMP), Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn) yang materinya berupa
nila-nilai dari sila-sila Pancasila dan Eka Prasetia Panca Karsa. Pada era reformasi
diubah menjadi PKn yang ruang lingkup muatannya berisi tentang kebebasan
bertanggung jawab, tata negara, persatuan dan kesatuan bangsa, hak asasi manusia,
Paradigma Baru PKn-SD

norma dan peraturan, konstitusi negara, kebutuhan warga negara, kekuasaan dan
politik, Pancasila sebagai idiologi terbuka, dan globalisasi. Guru PKn diwajibkan
memiliki kompetensi guru mata pelajaran PKn sebagai berikut: memahami materi,
struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran PKn. Guru
harus memahami subtansi PKn yang meliputi pengetahuan kewarganegaraan (civic
knowledge), nilai dan sikap kewargagenaraan (civic desposition), dan ketrampilan
kewarganegaraan (civic skill); serta mampu menunjukkan manfaat mata pelajaran PKn
(Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no 16 tahun 2007).

1.5 Struktur Keilmuan PKn SD /MI


PKn sebagai salah satu mata pelajaran yang ada dalam standar isi tahun 2006
diberikan mulai dari TK sampai Sekolah Menengah Atas Umum dan kejuruan. Hal ini
tertuang secara jelas dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun
2006 tanggal 23 Mei 2006 tentang standar Isi.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional
Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis Pendidikan
Umum, kejuruan dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
1. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
2. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
3. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
4. kelompok mata pelajaran estetika;
5. kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan
Kurikulum SD/MI memuat delapan mata pelajaran, muatan lokal dan
pengembangan

diri.

Muatan

lokal

merupakan

kegiatan

kurikuler

untuk

mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah.
Substansi mata mata pelajaran IPA dan IPS SD/MI merupakan IPA terpadu dan IPS
terpadu, pembelajaran pada kelas rendah dilaksanakan melalui pendekatan tematik
termasuk PKn, sedangkan kelas tinggi dilaksanakan melalui pendekatan mata
pelajaran. Alokasi waktu satu jam pembelajaran 35 menit.
Cakupan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian adalah:
peningkatan kesadaran, dan wawasan peserta didik akan status hak dan kewajibannya
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas
dirinya sebagai manusia. Kesadaran dan wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme,
bela negara, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, kemajemukan bangsa,
Paradigma Baru PKn-SD

10

pelestarian lingkungan hidup, gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan


pada hukum, membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi dan
nepotisme. Struktur kurikulum SD /MI dapat dijelaskan pada table berikut:

Komponen
A. Mata Pelajaran

Kelas dan Alokasi Waktu


I

1. Pendidikan Agama

II

III

2. Pendidikan Kewarganegaraan

3
2

3. Bahasa Indonesia

4. Matematika
5. Ilmu pengetahuan Alam

4
3

7. Seni Budaya dan Ke-trampilan


8. Pendidikan Jasmani, Olah raga dan Kesehatan

4
4

B. Muatan Lokal

C. Pengembangan diri
Jumlah

6. Ilmu Pengetahuan Sosial

26

27

IV, V, dan VI

2*)
28

32

*) ekuivalen 2 jam pembelajaran

1.6 Pengembangan Pembelajaran PKn yang Demokratis Melalui Media Audio Visual

Media pembelajaran. Merupakan media perpaduan antara software dan


hardware (Sadiman dkk, 1986 6-7). Media ini menurut Anderson (1987) dibagi atas
dua kategori, yaitu: 1) Alat bantu pembelajaran (instruktional media) adalah
perlengkapan atau alat untuk membantu guru dalam memperjelas materi (pesan) yang
akan disampaikan yang disebut juga alat bantu mengajar (teaching aids), misalnya
OHP, slide, peta, gambar, poster, model, grafik, flip chard, lingkungan dan bendabenda sebenarnya; 2) Media pembelajaran, yaitu media yang memungkinkan
terjadinya interaksi antara karya seorang pengembang mata pelajaran (program
pembelajaran) dengan peserta didik Contoh: televisi, film, CAI, modul, dan program
audio. Gagne dan Briggs (1975) mengatakan, bahwa media pembelajaran meliputi alat
yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri
Paradigma Baru PKn-SD

11

dari buku, tape recorder, kaset, video kamera, video recorder, film, slide (gambar
bingkai), foto, gambar, grafik, televisi dan komputer. Sedangkan Kempt & Dalton
(1985) mengelompokkan media menjadi delapan jenis, yaitu: 1) media cetakan; 2)
media panjang; 3) overhead transparancies; 4) rekaman audiotape; 5) seri slide dan
filmtrips; 6) penyajian multi image; 7) rekaman video dan film hidup, dan 8)
komputer,
Media Teknologi Mutakhir. Merupakan media yang menggunakan teknologi
mutakhir dan berbasis telekomunikasi seperti: telekonferen dan kuliah jarak jauh dan
berbasis mikroprosesor (Computer assisted instruction, permainan komputer, sistem
tutor intelejen, interaktif, hypermedia dan compact (video) disc.
Media Audio. Merupakan media yang menampilkan materi pembelajaran
dalam bentuk sesuatu yang dapat didengar oleh telinga. Media audio dibedakan
menjadi Media audio bukan elektronik (yang tidak menggunakan tenaga listrik,
misalnya peralatan musik akuistik seperti gitar, gamelan dalam seni musik) dan media
audio elektronik yang menggunakan alat-alat listrik, misalnya amplifier, radio, tape
recorder, CD player).
Media Audio visual. Media yang menampilkan materi pembelajaran dalam
bentuk sesuatu yang dapat didengar oleh telinga dan dilihat oleh mata, gambar diam
tetap maupun bergerak, seperti slide proyektor yang dipadukan dengan tape recorder,
televisi, film strip proyektor, video player, DVD player, dan computer.
Materi-materi PKn di SD pada ddasarnya bersifat abstrak, seperti hal-hal yang
berkenaan dengan nilai-nilai demokrasi, Hak Asasi Manusia, globalisasi, norma,
hukum, dan sebagainya. Mengingat materi-materinya bersifat abstrak, maka proses
pembelajaran PKn dengan cara mendemonstrasikan nilai-nilai demokrasi, seperti
kebebasan (freedom), hak-hak (rights), persamaan (equality), tanggung jawab
(responsibility), dan menghargai (respect) melalui suara dan penglihatan (audio
visual) sangat penting.
Penggunaan media pembelajaran yang baik, tidak hanya disesuaikan dengan
tingkat perkembangan dan berpikir siswa tetapi juga bagaimana media pembelajaran
dapat menstimulasi intelektual dan sikap siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat
Gardner (1993) dalam teori belajar multiple intellegent yang membuktikan bahwa ilmu
pengetahuan dalam tingkat perkembangan tertentu, termasuk ditingkat spatial atau
visual tetap bersatu dalam suatu susunan yang utuh. Untuk itu intelegensi bisa dilatih
dan dikembangkan dengan mempelajari banyak hal melalui cara yang sesuai.
Paradigma Baru PKn-SD

12

Pembelajaran PKn SD yang demokratis akan menggunakan media audio


visual. Tujuan penggunaan media audio visual untuk membantu siswa SD memahami
konsep dan nilai-nilai PKn yang abstrak secara visual, karena tingkat perkembangan
baik ranah kognitif dan ranah afeksi (cognitive and affective domains) anak SD,
utamanya di kelas rendah belum bisa dijelaskan melalui bahasa tulis secara baik.
Latihan:
1.

Apakah yang dimaksud dengan paradigma baru PKn?

2.

Mengapa paradigma baru muncul setelah ada era reformasi?

3.

Mengapa Jepang dapat mempertahankan budayanya di tengah-tengah globalisasi?

4.

Bagaimanakah cara mempertahankan budaya kita pada saat kita mendapat tekanan
pengaruh globalisasasi?

5.

Apakah yang dimaksud dengan pemikiran rasional dalam pembelajaran PKn? berikan
contohnya!

6.

Apakah ciri-ciri negara demokrasi? Bagaimana tentang Indonesia!

7.

Bagaimanakah langkah-langkah cara menerapkan kelas demokratis itu?

8.

Apakah ciri-ciri pembeelajaran PKn SD?

9.

Mengapa pendekatan tematik diterapkan di kelas rendah?

10. Berikan alasan pentingnya media visual dan audio visual dalam pembelajaran di
tingkat SD?

Paradigma Baru PKn-SD

13

Rangkuman
1. Paradigma baru PKn merupakan dinamika pemikiran perkembangan PKn
dikarenakan oleh perubahan di segala bidang akibat cepatnya perkembangan Iptek
dan Globalisasi. Paradigma baru PKn muncul setelah adanya era reformasi,
sehingga diperlukan model baru dalam kerangka berfikir untuk mengembangkan
karakter warga negara yang demokratis meliputi civic intelligence, civic
responsibility dan civic participation yang diadopsi dan disesuaikan dengan
kondisi kepribadian Indonesia sebagai making connection.
2. Pemikiran rasional pentingnya PKn dengan harapan:
Pendidikan Indonesia memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk
mempertahankan NKRI dan nasionalisme
Konsisten terhadap Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945
alinea IV dan UUD 1945 dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Demokrasi yang bertanggung jawab
3. Guru diharapkan dapat menerapkan kelas demokratis (democratic classroom).
4. Karakteristik PKn berisi materi kebebasan bertanggung jawab, tatanegara,
persatuan dan kesatuan bangsa, HAM, norma dan peraturan, konstitusi negara,
kebutuhan warga negara, kekuasaan dan politik, Pancasila sebagai idiologi
terbuka, serta globalisasi sehingga guru harus memahami materi, struktur, konsep
dan pola keilmuan PKn
5. Struktur keilmuan PKn pada pendidikan dasar dan menengah merupakan salah
satu bagian dari 5 (lima) kelompok mata pelajaran.
6. PKn SD dilaksanakan melalui pendekatan tematik untuk kelas rendah dan
pendekatan mata pelajaran untuk kelas tinggi. PKn mencakup peningkatan
kesadaran, dan wawasan peserta didik akan status hak dan kewajibannya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas
dirinya sebagai manusia.
7. Struktur Kompetensi PKn meliputi standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang suudah ditentukan dalam kurikulum sedangkan indicator-indikatornya perlu
dikembangkan oleh guru sendiri

Paradigma Baru PKn-SD

14

Tes Formatif 1.
Pilihlah satu jawaban yang Anda anggap paling tepat dengan memberi tanda (X) !
1. Civic responsibility dalam pembelajaran Pendidikan kewarganegaraan yang nyata
dalam kehidupan sehari-hari adalah hal berikut
a. Meningkatkan kecerdasan warga negara khususnya generasi mudanya
b. Mendidik kesadaran warga negara akan hak dan kewajiban serta tanggung
jawabnya sebagai warga negara
c. Memberikan bekal agar nantinya ia akan aktif berpartisipasi sebagai warga negara
dalam kehidupan politik
d. Keaktifan warga negara secara dalam mengemban masa depan secara individu
e. Memberikan jiwa dan semangat nasionalisme warga negara
2. Dalam negara hukum seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka salah satunya
adalah adanya Keadilan, perlindungan HAM, kejujuran, kebebasan, tangung jawab yang
merupakan
a. Nilai nilai demokrasi
b. Bentuk bentuk demokrasi
c. Macam macam demokrasi
d. Ciri ciri demokrasi
e. Isi demokrasi
3. Pancasila dan UUD 1945 perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia
khususnya generasi muda harapan bangsa. Ungkapan ini merupakan salah satu dari
a. Pemikiran rasional
b. Tujuan pendidikan Kewarganegaraan
c. Citacita bangsa Indonesia
d. Tujuan bangsa Indonesia
e. Makna pembangunan nasiional
4. Perhatikan hal-hal berikut:
1. Era reformasi memberikan harapan yang akan dapat memelihara demokrasi
2. Untuk mengembangkan tugas civic intelligence, civic responsibility dan civic
participation
3. Proses making connection yang berhasil seperti di Jepang yang dapat
mengimplementasikan pengetahuan barat tanpa menghilangkan budayanya
Paradigma Baru PKn-SD

15

4. Indonesia mendukung PBB dalam millennium Goals (MDGs)


5. Perkembangan kelompok-kelompok ekonomi yang berdasar pada kepentingan
masing- masing regional.
Pernyataan tersebut diatas yang memberikan semangat munculnya paradigma baru
dalam pembelajaran PKn adalah nomor:
a. 1, 2, dan 5
b.

1, 3 dan 5

c.

2, 3 dan 5

d.

3, 4 dan 5

e.

1, 2, 3, dan 4

5. Perhatikan hal-hal tentan pernyataan berikut:


1. Inisiator pembelajaran yang aktif
2. Perencana pembelajaran dan pelaksana pengajaran
3. Fasilitator, administrator, evaluator
4. Rewarder dan pemberi arahan termasuk keputusan
5. Dominan dalam mengejar target kurikulum
Seorang guru dalam melakukan pembelajaran pada kelas yang demokratis menurut
A. Kosasih Djahiri (1985) seharusnya melakukan hal-hal pada nomor
a. 1, 2 dan 3
b.

1, 3 dan 4

c.

1, 3 dan 5

d.

2, 3 dan 4

e.

2, 3 dan 5

Paradigma Baru PKn-SD

16

Daftar Pustaka
Apple, Michael W. dan Beane, James. (1995). Democratic Schools. U.S.A. Association
for Supervision and Curriculum Development.
Arcaro, Jerome S. (Terj. 2005) . Pendidikan berbasis Mutu, Prinsip Prinsip Perumusan
dan tata Langkah Penerapan, (Quality in Education: An Implementation
Handbook) Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Asmstrong, Thomas. (2000). Multiple Intelligence in the Classroom, (terj.) Sekolah Para
Juara, menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan (2004),, Bandung:
Kaifa .
Dewey, John. (1948). Reconstruction in Philosophy. Boston. Beacon Press.
Gardner, Howard. (1983). Frames of Mind: Theory of Multiple Intelligences. New
York:Basic Books.
Ginting, Abdorrakhman (2008), Esensi Praktis Belajar & Pembelajaran, Bandung,
Humaniora
Holmes, Emma E. (1991). Democracy in Elementary School Classes. Social Education
Research.
Larson, Bruce. (1999). Influences on Social Studies Teachers Use of Classroom
Discussion. The Social Studies (May/June).
Mardiati, Yayuk. (2008). Integrating Indonesian Literature Into Social Studies Teaching
and Learning. International and Cultural Conference of Aceh 2008. The
University of Hawaii at Manoa. U.S.A.
Muchtar, Imam; Suhanto, Ign; Djoko Lesmono, A (2010). Kamus menjadi Guru
Profesional, FKIP- Universitas Jember.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia no 22 tahun 2006 tentang
Standar Isi untuk satuan Pendidikan dasar dan menengah, PT. Binatama Raya,
Jakarta
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia no 23 tahun 2006 tentang
Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan Pendidikan Dasar dab menengah, PT.
Binatama Raya, Jakarta
Sekretariat Jenderal MPR RI (2006), Panduan Pemasyarakatan Undang Undang Dasar
Negara Republik Indonesia tahun 1945, Sekjen MPR-RI, Jakarta
Sekretariat Negara Republik Indonesia (1992), Risalah Sidang BPUPKI dan PPKI 29 Mei
UU No 12 tahun 2006 (2006) tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, Pustaka
Yustisia, Yogyakarta.

Paradigma Baru PKn-SD

17

Glosarium
Globalisasi: Keadaan yang menggambarkan bahwa kita tidak bisa mengisolasi diri
terhadap apa yang sedang terjadi di tempat lain di dunia (Joseph Stiglitz);
penguatan hubungan seluruh dunia yang jauh dari lingkungan sebagaimana jalan
yang bercabang dibentuk dari peristiwa yang menjadi beberapa mil jauhnya, dan
sebaliknya (Anthony Giddens).
Kelas demokratis: kelas yang mencerminkan nilai-nilai sebagai layaknya masyarakat
demokratis yaitu; hak-hak (rights), tanggung jawab (responsibilities), serta
menghargai diri sendiri dan orang lain (self-respect dan respect for others,. Emma
E. Holmes (1991).
Kompetensi dasar: kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh
lulusan; kemampuan minimum yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh
siswa untuk standar kompetensi tertentu dari suatu mata pelajaran ; penjabaran
standar kompetensi peserta didik yang cakupan materinya lebih sempit dibanding
dengan standar peserta didik; merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki
peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun
indikator kompetensi, dan materi pokok.
Standar kompetensi: kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu
mata pelajaran; kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki
peserta didik; kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata
pelajaran; kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan
penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada
setiap tingkat dan/atau semester; standar kompetensi terdiri atas sejumlah
kompetensi dasar sebagai acuan baku yang harus dicapai dan berlaku secara
nasional.
Pemikiran rasional: pemikiran yang berdasarkan pada akal sehat
Pendidikan: Proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik me-nyangkut
daya pikir, atau daya intelektual, maupun daya emosional atau perasaan yang
diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya (John Dewey).
Media Audio visual: media yang menampilkan materi pembelajaran dalam bentuk sesuatu
yang dapat didengar oleh telinga dan dilihat oleh mata manusia, gambar juga dapat
tetap maupun bergerak, seperti slide proyektor yang dipadukan dengan tape
recorder, televisi, film strip proyektor, video player, DVD player dan computer.
Warga negara: warga suatu negara yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang
undangan (UU No 12 tahun 2006)
Kewarganegaraan: segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga negara (UU No 12
tahun 2006)

Paradigma Baru PKn-SD

18

Umpan Balik :
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat di bagian
akhir materi unit ini. Bandingkan jawaban Anda dengan Kunci jawaban yang tersedia
untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi subunit ini. Interpretasi
tingkat penguasaan yang Anda capai adalah dengan rumus:
Jumlah soal benar
________________ X 100%
Jumlah soal
Jawaban Anda 90 % - 100 % sesuai dengan kunci jawaban = baik sekali
Jawaban Anda 80 % - 89 % sesuai dengan kunci jawaban = baik
Jawaban Anda 70 % - 79 % sesuai dengan kunci jawaban = cukup
Jawaban Anda < 70 % yang sesuai dengan kunci jawaban = kurang

Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80 % ke atas, berarti Anda telah mencapai
kompetensi yang diharapkan pada subunit ini dengan baik. Anda dapat meneruskan dengan
materi subunit selanjutnya. Namun sebaliknya, apabila tingkat penguasaan Anda terhadap
materi ini masih di bawah 80 %, Anda perlu mengulang kembali materi subunit ini,
terutama bagian yang belum Anda kuasai

Paradigma Baru PKn-SD

19

Kunci Jawaban Tes Formatif 1:

1. b
2. a
3. a
4. e
5. d

Paradigma Baru PKn-SD

20

Unit 2
MODEL-MODEL PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Yayuk Mardiati
Ign. Suhanto
2.1 Pendahuluan
Para mahasiswa BPJJ yang kami banggakan pada Unit 2 ini Anda akan diajak
membahas tentang pelaksanaan proses belajar dan pembelajaran PKn, terutama
yang terkait dengan penggunaan metode/pendekatan, media, dan penilaian menarik
untuk didiskusikan. Pada kesempatan ini Anda diajak mencermati, mengkritisi dan
mendiskusikan dengan teman, tutor atau siapapun yang berkepentingan untuk upaya
peningkatan kualitas pembelajaran PKn.
Setelah selesai mencermati, mengkritisi dan mendiskusikan baagian ini,
diharapkan Anda dapat menguasai model-model pembelajaran PKn. Secara khusus,
diharpkan mampu:
1 Menjelaskan konsep model pembelajaran PKn
2 Menguraikan model pembelajaran PKn di kelas rendah
3 Mencermati contoh-contoh model pembelajaran PKn di kelas rendah
4 Mengembangkan model pembelajaran PKn di kelas tinggi
5 Menerapkan model pembelajaran PKn di kelas tinggi
Modul ini membahas kegiatan-kegiatan belajar sebagai berikut: 1) Model
Pembelajaran PKn di Kelas Rendah; 2) Model Pembelajaran PKn di kelas tinggi.
Untuk membantu Anda menguasai sekaligus mempraktekkan materi sebagaimana
tercantum dalam tujuan di atas, maka dalam bahan ajar ini uraikan materi sesuai
dengan topik dalam kegiatan belajar.
Selain itu, diberikan soal-soal latihan dan tugas-tugas yang harus Anda
kerjakan; Rangkuman materi dan soal-soal formatif. Sedangkan untuk mengukur
tingkat keberhasilan belajar dan penguasaan materi modul ini, Anda diajak
mengerjakan soal-soal formatif.
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

21

Agar Anda dapat berhasil dengan baik dalam mempelajari bahan ajar ini
bacalah dan ikuti petunjuk di bawah ini secara seksama:
a. Bacalah secara kritis bagian pendahuluan modul ini agar Anda benar-benar
memahami apa, untuk apa, dan bagaimana mempelajari bahan ajar ini,
b. Cermati uraian materi ddan temukan kata-kata kunci yang Anda anggap penting,
bila perlu Anda cari arti dan maknanya dalam kamus atau glosarium dalam vahan
ajar ini,
c. Pahami setiap pengertian yang terdapat dalam bahan ajar ini sesuai dengan
kemampuan sendiri dan diskusi dengan sesama mahasiswa, guru, dan orang lain
yang mempunyai perhatian terhadap pelaksanaan pembelajaran PKn.
d. Mantapkan penguasaan Anda melalui kegiatan simulasi dengan mengaplikasikan
materi yang dibahas dalam bahan ajar ini.
2.2 Model Pengembangan Pembelajaran PKn
Istilah atau konsep tentang model tentunya tidak asing baggi kita. Model
sering diartikan sebagai pola, contoh, acuan, atau ragam dari sesuatu pruduk tertentu.
Sedangkan yang kaitan dengan pembelajaran, istilah model dapat diartikan sebagai
kerangka konseptual suatu tipe atau desain yang digunakan pedoman untuk
melakukan kegiatan pembelajaran; deskripsi atau analogi yang berguna bagi proses
visualisasi yang tidak dapat diamati; sistem asumsi-asumsi, data-data dan referensireferensi yang digunakan menggambarkan obyek peristiwa secara sistematik; desain
yang disederhanakan dari suatu sistem kerja, realitas yang disederhanakan; deskripsi
dari sistem yang mungkin/imajiner dan penyajian yang diperkecil dapat menjelaskan
dan menunjukkan sifat-sifat aslinya.
2.2.1 Model Pembelajaran PKn SD di Kelas Rendah
Berkenaan dengan pelaksanaan model pembelajaran di persekolahan,
pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 41 tahun 2007
tentang standar proses telah mengubah paradigma proses pendidikan, yaitu dari
pengajaran (teaching) ke pembelajaran (learning). Perubahan menggambarkan proses
pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar lebih menekankan pada
pemberdayaan peserta didik. Upaya memberdayakan siswa pada jenjang pendidikan
dasar, khususnya kelas rendah, baik yang menyangkut ranah kognisi, afeksi, dan
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

22

psikomotor memerlukan model pembelajaran Aktif, Inspiratif, Kreatif, Efektif, dan


Menyenangkan (PAIKEM).
2.2.1.1 Model Pembelajaran PAIKEM PKn SD
Sesuai dengan karakter siswa kelas rendah (yaitu kelas 1, 2, dan 3), penerapan
model pendekatan pembelajaran PAIKEM dipandang lebih tepat. Penerapan model
pendekatan PAIKEM diharapkan dapat mendukung penyajian materi-materi ajar
yang bersifat tematik, yaitu bagaimana guru mengkaitkan materi PKn dengan materimateri lain yang mempunyai tema sama, sehingga lebih menarik perhatian siswa.
Berdasarkan uraian tersebut, timbul pertanyaan mengapa pendekatan tematik
dipandang sesuai dengan siswa kelas rendah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut,
ada sejumlah alasan yang dapat dikemukakan, yaitu di lihat dari perkembangan
psikologis sebagaimana dikemukakan oleh Piaget, bahwa siswa SD ada dalam
rentang usia 6 s.d 12 tahun. Pada rentang usia ini anak berada pada tingkat operasi
konkrit (concrete operation) dan awal dari operasi formal (formal operation) yang
ditandai dengan mulai berkembangnya abstraksi dalam pemikiran.
Dilihat dari lingkungan kehidupannya, seorang anak SD kelas rendah masih
dominan berada dalam lingkungan rumah dan lingkungan sekitar termasuk sekolah.
Berdasarkan alasan-alasan itulah, maka Hanna berpendapat atau berteori bahwa
pendekatan ini dkatakan sebagai expanding environment.
Salah satu teknik dalam mengimplementasikan pendekatan tematik pada
pembelajaran PKn dapat menggunakan model jaringan tema (webbing). Gambar
berikut merupakan contoh Pohon Keluarga sebagai tema sentral materi PKn.
Matematika: Menyebutkan
berapa orang yang tinggal
dalam keluarga.

PKn: Pohon Keluarga


Menyebutkan menyebutkan
jumlah anggota keluarga
misalnya saudara
kandung/angkat/tiri dalam
keluarga.

Penjas:

Pentingnya
kegiatan
olah
raga/menari/main catur
bersama keluarga untuk
kesehatan phisik dan
mental.

voices.mysanantonio.com
Model-model Pengembangan Pembelajaran
PKn-SD

Bahasa Indonesia: Menulis


cerita tentang kegiatan
keluarga.
Membaca cerita tentang
sebuah keluarga.

IPA: Membandingkan
jumlah antara keluarga
siswa satu dengan
keluarga siswa lainnya.

23

Pada praktiknya teknik webbing dapat dikembangkan menjadi dua model,


yaitu:
1) Web relationship, yaitu terjadi keterkaitan saling berhubungan dalam jaringan
yang komplek (Web relationship):
Contoh:
Standar kompetensi : Menampilkan nilai-nilai Pancasila
Kompetensi dasar

: -Mengenal nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari


-Melaksanakan perilaku jujur dalam kegiatan seharihari

Kelas

: II (Dua)

Semester

: 2 (dua)

Jenjang pendidikan : SD
Tema kejujuran sebagai tema sentral ini berhubungan dengan nilainilai
dalam silasila Pancasila yang lain (double) seperti ketaatan, kesetiaan, keadilan,
kemanusiaan, kesetiakawanan sosial dan lain-lain. Misalnya, dalam koperasi
Kejujuran yang dibuka untuk peserta didik sebagai pembelinya, koperasi
tersebut menjual alat-alat keperluan peserta didik seperti buku, pensil, bolpoin,
penggaris, tip-ex, buku gambar dan lain-lain. Dalam koperasi tidak ada yang
menjaga atau sebagai penjualnya. Bagi pembeli yang masuk koperasi harap absen
sebagai pengunjung. Barang-barang yang sudah diberi label harga dapat dibeli
dengan uang pas yang dimasukkan dalam kaleng. Dari hasil penjualan dan absen
pengunjung yang masuk guru PKn dapat mengetahui nilai-nilai kejujuran,
ketaatan, kesetiaan, keadilan, kemanusiaan, kesetiakawanan sosial.
2) Web connected, yaitu model keterhubungan, dimana materi yang ada dalam mata
pelajaran PKn temannya dijumpai dalam mata pelajaran lain.

2.2.1.2 Model Pembelajaran Talking Stick


Selain pendekatan tematik, pendekatan lain yang dapat digunakan di kelas
rendah adalah pendekatan permainan tongkat berbicara/bergilir (talking stick).
Model pembelajaran talking stick ini diadopsi dari tradisi orang Indian (native
American) yaitu menggunakan tongkat untuk berceritera atau mengijinkan setiap
peserta berbicara pada pertemuan antarsuku (Locust, 1998). Strategi ini kemudian

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

24

dipakai guru untuk pendekatan dalam proses belajar mengajar pada hampir semua
pelajaran termasuk IPS dan PKn.
Tujuan pendekatan model talking stick, selain menciptakan PAIKEM, juga
mendidik siswa untuk berlatih berdemokrasi dalam suasana kelas yang demokratis.
Saat pembelajaran berlangsung, siswa dilatih menghargai nilai-nilai persamaan hak
(equality), misalnya ketika seorang siswa memegang tongkat, maka ia akan diberi
kesempatan (opportunity) untuk berbicara mengeluarkan pendapat. Selain itu siswa
juga dilatih untuk bisa berbuat adil, yaitu dengan cara bergantian (take turn) dalam
menjawab pertanyaan. Semua nilai tersebut merupakan bagian dari nilai-nilai dan
semangat demokrasi yang sangat diperlukan dalam masyarakat Indonesia.
Langkah-langkah aplikasi pembelajaran PKn dengan model talking stick
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Sebelum memulai pelaksanaan proses pembelajaran, guru terlebih dahulu
menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran
sesuai dengan Kompetensi Dasar yang akan diajarkan.
2) Guru

menayangkan

atau

membacakan

cerita

rakyat

(folklore)

atau

membacakan/mempelajari tema-tema, misalnya tema lingkungan rumah dan


lingkungan sekolah sesuai kompetensi dasar yang akan diberikan.
3) Guru menyediakan sebuah tongkat sebagai alat untuk menunjuk siswa, yaitu
ketika tongkat diedarkan secara estafet hingga ada tanda berhenti, bagi siswa
yang memegang atau membawa tongkat, maka yang bersangkutan harus
menjawab pertanyaan dengan baik dan benar.

2.2.2 Model Pengembangan Pembelajaran PKn di Kelas Tinggi


Model pembelajaran di kelas tinggi merupakan model pembelajaran yang
gunakan dalam proses pembelajaran kelas IV sampai dengan VI. Model ini
dimaksudkan agar peserta didik dapat menyerap materi pembelajaran, baik ranah
kognitif, psikomotor, dan afektif secara optimal, sebab siswa kelas tinggi pada
dasarnya sudah pandai berkomunikasi baik melalui membaca, menulis, maupun
berdiskusi. Model pembelajaran PKn yang demokratis pada siswa kelas tinggi
menekankan pendekatan berdiskusi menggunakan strategi cooperative learning tipe
think-pair-share.

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

25

2.2.2.1 Model Pembelajaran Cooperative Learning: Think-Pair-Share


Pendekatan pembelajaran ini pertama kali dikembangkan oleh Lyman (1981)
dari Universitas Maryland, Amerika Serikat. Pembelajaran Cooperative Learning:
Think-Pair-Share

merupakan

model

pembelajaran

dengan

cara

siswa

dikelompokkan menjadi beberapa grup diskusi dalam kelas. Pembentukan ini


berujuan untuk meningkatkan partisipasi aktip siswa dalam mengekspresikan
berbagai gagasan, curahan pendapat; menerima masukan yang imergen; dan
menciptakan suasana saling menghargai.
Shepardson (1996) dan Kagan (1994) menyatakan bahwa aktivitas belajar
kooperatip bertujuan untuk membangun akuntabilitas individu dalam masingmasing kelompok. Diskusi dalam cooperative learning: think-pair-share bertujuan
memberikan kesempatan atau waktu berpikir (think time) kepada masing-masing
anggota kelompok mengekspresikan berbagai gagasan dan curahan pendapatnya.
Hasssil diskusi kelompok kemudian disampaikan dalam diskusi antarkelompok
(pair), sehingga siswa dapat membandingkan antara gagasan kelompok satu dan
lainnya. Dengan demikian siswa dapat merasakan situasi diskusi dan menilai
pendapat kelompok dari beberapa sudut pandang, serta dapat menemukan beberapa
alternatif pemikiran. Perbedaan pendapat dalam proses diskusi juga dapat
merangsang tumbuhnya gagasan dan pemikiran-pemikira kritis peserta. Proses
diskusi memerlukan ketrampilan mendengarkan dan mengekspresikan gagasan,
kritik dan menghormati harga diri atau martabat manusia (Shepardson 1996).
Sebagai aktifitas akhir dari pendekatan ini adalah berbagi (share) hasil diskusi dari
masing-masing kelompok kelas. Berikut ini adalah langkah-langkah strategi
cooperative learning: think-pair-share:
1) Guru membagi kelas ke dalam 4-6 kelompok kecil, disesuaikan dengan rasio
kelas.
2) Guru memberitahu nama Team pada masing-masing kelompok, misalnya
Team Mawar, Team Melati, Team Kenanga, Team Kamboja. Masing-masing
kelompok bersifat heterogen yang akan terlibat aktip mendiskusikan suatu
topik atau tema pelajaran terkait dengan kompetensi dasar.
3) Guru memberi arahan kepada masing-masing kelompok agar memilih salah
satu siswa sebagai ketua Team sekaligus sebagai moderator dan bertanggung
jawab atas kelompoknya.
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

26

4) Guru memberitahu masing-masing kelompok supaya memilih salah satu siswa


sebagai notulis yang bertanggung jawab mencatat jawaban anggota dari
masing-masing kelompok.
5) Guru memberitahu bahwa tiap-tiap anggota Team setidak-tidaknya harus
memberi kontribusi satu ide berdasarkan pertanyaan yang diberikan guru.
6) Guru memberitahu siswa bahwa melalui diskusi kelompok kecil siswa akan
membandingkan pandangan atau gagasan dengan kelompok lain (pair).
7) Guru memberitahu untuk berbagi hasil diskusi keseluruh kelas (share) melalui
notulis yang sudah dipilih masing-masing kelompok.
8) Selama proses diskusi guru membimbing siswa tentang pentingnya memelihara
kerja sama, konsep pemimpin, serta pentingnya peran serta akuntabilitas
individu atas keberhasilan kelompoknya.
Gambar berikut merupakan contoh model pembelajaran cooperative
learning: think-pair-share yang diadopsi dari Bridges Across Borders Southeast
Asia: Community Legal Advisor Educator Manual, oleh Lasky, Otto, dan Morrish
(editor). 2002. Open Society Institute.

Gambar diadopsi dari Bridges Across Borders Southeast Asia


Cooperative Learning disebut juga berlajar dari kerjasama, yaitu
pembelajaran dengan bekerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan
menggunakan seperangkat intruksiatau perintah-perintah pada kelompok kecil,
sehingga siswa dapat menjalin kerjasama untuk memaksimalkan kerja setiap
kelompok.

Prinsip

model

pembelajaran

ini

untuk

menciptakan

saling

ketergantungan positif antarsiswa untuk mencapai tujuan dengan berpedoman


bahwa tujuan akan tercapai jika keberhasilan diraih oleh setiap.
Kerja sama (cooperative learning), sebagai Strategi Pembelajaran yang
menekankan pada bentuk pendekatan proses kerja sama dalam suatu kelompok
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

27

yang terdiri atas 3-5 siswa untuk mempelajari suatu materi pembelajaran tertentu
atau khusus hingga tuntas. Peserta didik didorong untuk bekerja sama secara
maksimal sesuai dengan keadaan heterogenitas kelompoknya. Bagi siswa yang
cepat belajarnya membantu temannya lambat belajarnya, karena dalam pendekatan
ini keberhasilan individu menjadi keberhasilan kelompok, atau sebaliknya,
kegagalan individu merupakan kegagalan kelompoknya juga. Model kerja sama
dapat berbentuk mengerjakan tugas-tugas dari guru, sekolah atau memberikan
motivasi. Menurut Slavin (dalam Abrani dan Chamber, 1996), kerja sama meliputi
tiga perspektif, sebagai berikut.
1) Perspektif motivasi, yaitu penghargaan yang diberikan kepada kelompok
memungkinkan setiap anggota kelompok akan saling membantu.
2) Perspektif sosial, artinya melalui kerja sama setiap siswa akan saling membantu
dalam belajar, karena mereka menginginkan semua anggota kelompok
memperoleh keberhasilan. Bekerjasecara tim dengan mengevaluasi kekurangankekurangan dan kelebihan-kelebihan sendiri oleh kelompok merupakan iklim
yang baik, karena setiap kelompok ingin semuanya berhasil.
3) Perspektif perkembangan kognitif, artinya dengan adanya interaksi antaranggota
kelompok mendorong setiap peserta didik bersaha memahami dan mencari
informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya dalam kelas dan
kelompoknya. Siswa yang cerdas dan kurang cerdas dicampur secara seimbang
dalam suatu kelompok, sehingga keberhasilan individu akan ditentukan oleh
kelompoknya atas dasar saling merima dan memberi, membantu dan mengisi
(elaborasi kognitif).
Pendekatan lain yang dapat diterapkan di kelas tinggi adalah Praktik Belajar
PKn Berbasis Portofolio. Portofolio merupakan kumpulan hasil karya seorang
siswa. Sejumlah hasil karya seorang siswa yang sengaja dikumpulkan untuk
digunakan sebagai bukti prestasinya; perkembangan siswa dalam kemampuan
berfikir; pemahaman siswa atas materi pokok; kemampuan siswa dalam
mengungkapkan gagasan dan sikap siswa terhadap mata pelajaran tertentu; dan
laporan singkat yang dibuat seorang siswa setelaah melaksanakan kegiatan.
Portofolio dapat dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut:
1) Portofolio kerja: berupa hasil proses kerja mandiri atau sekelompok siswa
dimulai dari draf, pekerjaan yang belum selesai, pekerjaan terbaik. Hasil karya
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

28

menjadi bahan diskusi antara peserta didik dan guru untuk mengetaui kemajuan
dan membantu siswa merefleksi kemajuan belajar diri sendiri atau kelompok.
2) Portofolio dokumen: berupa koleksi hasil dan proses kerja peserta didik yang
khusus dipakai dalam penilaian dan diseleksi dengan mendokumentasikan hasil
karya terbaik siswa.
3) Portofolio penampilan/pertunjukan: berupa pekerjaan peserta didik yang
sudah selesai tidak mencakup proses kerja, untuk seleksi, sertifikasi, penilaian
kelas dan harus harus bersifat valid dan reliabel.

2.2.2.2 Model Pembelajaran Berbasis Portofolio


Pengembangkan model pembelajaran berbasis portofolio untuk pembelajaran
PKn. Model ini secara adaptif menerapkan konsep dan prinsip pedagogis Problem
Solving dan Project (Dewey, 1920) inquiry-oriented citizenship transmission (Barr,
Barth, dan Shermis, 1978), dan social involvement (Newmann, 1977) yang bersifat
fasilitatif, empirik, dan simulatif.
1) Kompetensi Nilai yang dikembangkan peserta didik mampu melaksanakan nilainilai yang terkandung dalam hak, kewajiban, dan tanggung jawab sebagai
anggota masyarakat. Nilai-nilai yang dimaksud antara lain peka, tanggap,
terbuka,

demokratis,

kooperatif,

kompetetif

untuk

kebaikan,

empatik,

argumentatif, dan prospektif dalam konteks kehidupan bermasyarakat atas dasar


keyakinan yang didukung oleh pemahaman dan pengenalannya secara utuh,
dalam praksis kehidupan sehari-hari di lingkungannya.
2) Sintaksmatik
Model ini mempunyai urutan langkah kegiatan pembelajaran sebagai
berikut.
Langkah 1. Pendahuluan
Kegiatan pada langkah pertama ini guru membuka pelajaran dan memberi
ilustrasi mengenai nilai-nilai sebagai hak, kewajiban, dan tanggung jawab anggota
masyarakat. Misalnya peka, tanggap, terbuka, demokratis, kooperatif, kompetetif
untuk kebaikan, empatik, argumentatif, dan prospektif dalam konteks kehidupan
bermasyarakat dengan memberi ilustrasi empirik mengenai berbagai isu dan trend
dalam kehidupan masyarakat saat ini, khsusunya dalam proses pembangunan
masyarakat. Kegiatan selanjutnya, guru mengajak siswa merenungkan sebuah
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

29

pertanyaan, Bagaimana seharusnya kita sebagai anggota masyarakat memahami


dan menjalankan nilai, konsep dan prinsip kehidupan bermasyarakat yang baik
dalam konteks pembangunan masyarakat Indonesia?
Langkah 2. Kegiatan Inti
Strategi instruksional yang digunakan dalam model ini pada prinsipnya
mengacu strategi inquiry learning, discovery learning, problem solving learning,
research-oriented learning yang dikemas dalam model Project ala John Dewey,
yaitu menggunakan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Mengidentifikasi masalah kebijakan publik dalam masyarakat.
2) Memilih suatu masalah yang akan dikaji siswa.
3) Mengumpulkan informasi yang terkait pada masalah yang telah dipilih.
4) Mengembangkan portofolio kelas
5) Menyajikan portofolio
6) Melakukan refleksi pengalaman belajar
Kegiatan harus dilakukan dengan mengorganisasikan kelas ke dalam 2
kelompok besar beranggotakan sekitar 20 orang, kemudian masing-masing dibagi
lagi menjadi empat sub kelompok kecil masing-masing terdiri atas 3-5 orang.
Setiap kelompok ditugasi menjawaban pertanyaan yang telah ditentukan
sebelumnya dengan cara studi kepustakaan, mengamati masyarakat sekitar, dan
bertanya kepada nara sumber. Informasi yang telah diperoleh dari berbagai sumber
tersebut kemudian didiskusikan dalam kelompok kecil. Setelah masing-masing
kelompok kecil menyelesaikan tugasnya, kesimpulan hasil diskusi kelompok kecil
tersebut ditulis dalam buku kerja siswa masing-masing dan selembar kertas manila
atau karton hingga siap dipajang di depan kelas dan didiskusikan pada pertemuan
tatap muka di kelas.
Melalui berbagai kegiatan belajar inilah siswa mengembangkan berbagai
keterampilan seperti: membaca, mendengar pendapat orang lain, mencatat,
bertanya, menjelaskan, memilih, merumuskan, menimbang, mengkaji, merancang
perwajahan, menyepakati, memilih pimpinan, membagi tugas, menarik perhatian,
berargumentasi, dan membuat laporan dalam bentuk portofolio
Portofolio adalah tampilan visual yang disusun secara sistimatis, cerminan
proses berfikir berdasarkan data-data yang relevan, dan secara utuh melukiskan

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

30

pengalaman belajar terpadu yang dialami siswa sebagai suatu kesatuan dalam kelas
(integrated learning experiences).
Portofolio terbagi dalam dua bagian, yakni Portofolio Tampilan dan Portofolio
Dokumentasi. Portofolio Tampilan berbentuk papan empat muka berlipat yang secara
berurutan menyajikan:

1) Rangkuman permasalahan yang dikaji


2) Berbagai alternatif kebijakan pemecahan masalah
3) Usulan kebijakan untuk memecahkan masalah
4) Pengembangan rencana kerja/tindakan
Sedangkan Portofolio Dokumentasi dikemas dalam Map Ordner atau
sejenisnya yang disusun secara sistematis mengikuti urutan Portofolio Tampilan.
Portofolio Tampilan dan Dokumentasi disajikan dalam suatu simulasi Public
Hearing atau dengar pendapat yang menghadirkan pejabat setempat yang terkait
dengan masalah portofolio tersebut. Acara dengar pendapat dapat dilakukan di
masing-masing kelas atau dalam suatu acara Show Case atau gelar kemampuan
bersama dalam suatu acara sekolah, misalnya pada akhir semester. Bila dikehendaki
arena show case tersebut dapat pula dijadikan arena contest atau kompetisi untuk
memilih kelas portofolio terbaik selanjutnya dikirim ke dalam Show Case and
Contest antarsekolah dalam lingkungan kabupaten/kota atau untuk acara regional
propinsi atau nasional. Semua itu antara lain bertujuan untuk saling berbagi ide dan
pengalam belajar antar young citizens yang secara psikososial dan sosiokultural
dapat menumbuhkembangkan ethos demokrasi dalam konteks harmony in diversity.
Setelah acara dengar pendapat, dengan difasilitasi guru diadakan kegiatan
refleksi. Tujuannya, baik secara individual maupun bersama merenungkan dan
mengendapkan dampak kegiatan proses belajar bagi perkembangan pribadi siswa.
Langkah 3. Penutup
Kegiatan penutup dilakukan sepuluh menit sebelum pertemuan tatap muka
usai. Guru memberi penegasan dan penguatan (debriefing) terhadap nilai yang
secara implisit melekat dalam pertanyaan triger, yakni nilai-nilai yang terkandung
dalam hak, kewajiban, dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat, seperti
peka, tanggap, terbuka, demokratis, kooperatif, kompetetif untuk kebaikan,
empatik, argumentatif, dan prospektif dalam konteks kehidupan bermasyarakat atas
dasar keyakinan yang didukung oleh pemahaman dan pengenalannya secara utuh dalam
praksis kehidupan sehari-hari di lingkungannya.

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

31

Latihan:
Setelah Anda mencermati dan mengkritisi uraian kegiatan belajar di atas, selanjutnya
kerjakan soal-soal latihan di bawah ini, baik secara mandiri atau diskusi:

1. Apakah yang dimaksudkan dengan pendekatan tematik?


2. Sebutkan macam-macam pendekatan tematik dalam mata pelajaran SD?
3. Berikan contoh model cooperative learning dengan think-pair-share!
4. Apakah kelebihan pendekatan Praktik Belajar PKn berbasis portofolio?

Refleksikan hasil jawaban Anda dengaan perhatikan rambu-rambu jawaban di


bawah ini!
1. Perencanaan dan pelaksanaan proses belajar pembelajaran dengan menggunakan tema
sentral materi PKn dengan didukung oleh materi pelajaran lainnya.
2. Pendekatan tematik dengan teknik webbing
3. Lihat kembali uraian dan contoh pada bagian atas
4. Kelebihannya menarik dan mengembangkan semua kompetensi yang dimiliki siswa,
baik kognitif, afaktif maupun psikomotor.

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

32

Rangkuman:
Setelah Anda mencocokkan jawaban di atas, cermati dan kritisi rangkuman di
bawah ini, agar dapat mengambil intisari materi yang telah dibahas.
1. Pendekatan tematik di terapkan pada SD dan SLB dengan tiga model, yaitu model
integratif, berhubungan dalam jaringan komplek, dan keterkaitan saling tumpang
tindih.
2. Strategi materi pokok bertitik tolak pada tema tertentu sebagai stimulus
3. Pendekatan tematik integrated, web relationship, dan keterhubungan (connected)
digabungkan dengan pendekatan talking stick atau games paling sesuai untuk
dilaksanakan di kelas rendah.
4. Pendekatan tematik dengan model cooperative Learning yang digabungkan dengan
pendekatan think-pair-share atau pendekatan portofolio paling sesuai untuk
dilaksanakan di kelas tinggi.

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

33

Tes Formatif 2
Setelah anda mengambil intisari uraian di atas, sekarang kerjakan soal-soal
formatif di bawah ini dengan cara memberi tanda silang (X) pada alternatif jawaban yang
tepat!
1. Model pendekatan tematik yang terjadi bila materinya serupa atau dalam suatu tema
materinya berbeda saling tumpang tindih keterhubungan, dinamakan
a. Overlapping
b. Web relationship
c. Integrated
d. Connected
e. Thematic problem

2. Pendekatan talking stick disebut tongkat berbicara, karena


a. Tongkatnya dapat berbicara
b. Yang mendapat giliran tongkat harus berbicara menjawab pertanyaan
c. Tongkat sebagai sarana pembelajaran
d. Tongkat dipakai bergilir yang terakhir mengajukan pertanyaan
e. Yang memegang tongkat harus berceritera

3. Dalam pendekatan games cara yang digunakan salah satunya adalah dengan menerka
yang disebut
a. Information gab
b. Guessing
c. Search
d. Matching
e. Exchange

4. Cooperative learning, artinya


a. Belajar dari kerja sama
b. Belajar kelompok
c. Belajar individu
d. Belajar perorangan
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

34

e. Belajar jarak jauh

5. Penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap kelompok akan


saling membantu dalam cooperative Learning merupakan perspektif
a. Sosial
b. Motivasi
c. Perkembangan kognitif
d. Elaborasi kognitif
e. Elaborasi afektif

6. Think-pair-share urutannya adalah


a. Menulis ide-memperbandingkan ide memberitahu ide
b. Memperbandingkan ide-menulis ide-memberitahu ide
c. Memberitahu ide-menulis ide-memperbandingkan ide
d. Menulis ide-memberitahu ide-memperbandingkan ide
e. Memperbandingkan ide-memberitahu ide-menulis ide

7. Tingkatan autonomous terdapat pada perkembangan moral anak pada usia


a. Pra sekolah
b. 4-8 tahun
c. 8-12 tahun
d. 12-14 tahun
e. 15-18 tahun

8. Model pengembangan pembelajaran cooperative learning, Games dan analisis nilai


dikembangkan pada kelas tinggi, karena
a. Sudah lebih mahir membaca, menulis, komunikasi, mengenal bilangan, berdiskusi.
b. Mampu membuat karya sendiri
c. Fisiknya sudah besar
d. Dapat dibantu oleh orang lain
e. Dapat dibantu oleh guru

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

35

9. Portofolio dokumen berupa


a. Koleksi hasil karya yang terbaik
b. Koleksi yang dipertunjukkan
c. Koleksi bantuan teman-temannya
d. Koleksi mandiri
e. Koleksi yang belum selesai.
10. Seandainya Anda sebagai seorang guru PKn SD/Mi mengetahui bahwa dalam proses
pembelajaran nantinya digarapkan peserta didik berhasil menjawab dan mengerjakan
pertanyaan-pertanyaan yang disediakan, sedangkan yang lainnya juga melakukan
pembelajaran sehingga ada saling ketergantungan positif antar peserta didik untuk
mencapai tujuan ketuntasan belajar dengan berpedoman: bahwa tujuan akan tercapai
apabila rekan-rekan siswa yang lain juga berhasil. Maka model pendekatan yang
terbaik adalah...
a. Cooperative learning think pair-share
b. Value clarification technicque
c. Role playing
d. Talking stick
e. Contextual Teaching Learning

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

36

Daftar Pustaka
Buchori, Muchtar. (1994). Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia, Yogyakarta,
Tiara Wacana Yogya.
DePorter, Bobbi, dan Hernarki, M. (1999, 2002). Quantum Learning, Membiasakan
Belajar Nyaman dan Menyenangkan Bandung: Kaifa.
DePorter, Bobbi. dkk (2001). Quantum Teaching orchestracting student succes
(Mempraktekkan Quantum Teaching Di ruang-ruang Kelas), Bandung: Kaifa.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1997), Pengelolaan Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM) dalam Pendidikan Sistem Ganda, Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.(1993). Kurikulum 1994 Pendidikan dasar
(landasan dan Pengembangan,(Keputusan Menteri Pendidikan damn Kebudayaan
RI No 660/U/1993) Tentang Kurikulum Pendidikan Dasar,
Joice & Weil.M (1980), Model Of Theaching, Engelwood Cliffs, NewJersey, Prentice Hall
Inc.
Joni Raka.T (1990), Cara Belajar Siswa Aktif CBSA, Artikulasi, Konseptual, Jabaran
Operasional, dan Verivikasi Empirik, Pusat Penelitian IKIP Malang
Kagan, Spencer. (1994). Cooperative Learning: Kagan Cooperative Learning. California.
San Juan Capistrano.
Locust, C. (1998). dalam http://www.acaciart.com/stories/archieves.html
Lyman,
Frank.
(1981).
Cooperative
Learning:
Think-Pair-Share
http://www.eazhull. org.uk/nlc/think,_pair,_share.htm

dalam

Meier, Dave.(2003). Learning Accelerated Handbook (terj). Panduan Kreatif dan efektif
Merancang Program Pendidikan dan Pelatihan, Bandung, Kaifa-PT Mizan Pustaka.
Muchtar, Imam; Suhanto, Ign; Djoko Lesmono, A (2010). Kamus menjadi Guru
Profesional, FKIP-Universitas Jember.
Slavin, Robert E. (1990). Cooperative Learning: Theory, Research, and Practice. New
Jersey. Prentice Hall Inc.
Suparlan, Dasim Budimansyah, Danny Meirawan (2008), PAKEM (Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, Bandung, Genesindo.
Suparno, Paul dkk. (ed. 1999), Pendidikan Dasar demokratis, Suatu usulan untuk
Reformasi Pendidikan Dasar di Indonesia, Yogyakarta, Universitas Sanata
Dharma.
Widharyanto, B dkk ed. (2003). Student Active Learning, Yogyakarta: Universitas Sanata
Dharma.
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

37

Glosarium:
Analisis nilai, model pembelajaran dan sebagai pendekatan: merupakan model
pembelajaran yang menekankan pada esensi kompleksitas pemikiran tertinggi
dalam pendidikan moral PKn.
Kerja sama, (Cooperative Learning), sebagai model dalam Strategi Pembelajaran:
merupakan Bentuk pendekatan yang menekankan kepada proses kerja sama dalam
suatu kelompok yang dapat terdiri dari 3 sampai 5 orang siswa
Model: pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu yang akan dibuat atau
dihasilkan.
Model-model pembelajaran: Kerangka konseptual yang dipergunakan sebagai pedoman
dalam melakukan kegiatan atau pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran (by teaching style): salah satu cara yang dipergunakan untuk
mengatasi keberagaman siswa dalam pengelolaan peserta didik.
Pendekatan tematik: merupakan strategi pembelajaran dengan pengembangan materi
pokok yang bertitik tolak dari sebuah tema.
Permainan/games, model pembelajaran: model/metode pembelajaran permainan/games
dapat dilaksanakan dan menjadi efektif, bermakna, dan tetap menyenangkan
apabila dikembangkan dengan prinsip-prinsip. (Mier, Dave, 2000, the accelerated
Learning: 205 Mier menyebutnya sebagai metode pembelajaran).
Portofolio: kumpulan hasil karya seseorang siswa yang terseleksi sesuai dengan
kepentingannya
Strategi pembelajaran: pola pembelajaran dari proses kegiatan belajar mengajar
Talking Stick, model pembelajaran: model pembelajaran dengan mengaktifkan peserta
didik melalui permainan.
Think-Pair-Share, sebagai pendekatan pembelajaran: untuk melatih peserta didik
menguasai materi pembelajaran dengan bertukar pikiran dengan kelompok lain.

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

38

Umpan Balik :
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat di bagian
akhir materi unit ini. Bandingkan jawaban Anda dengan Kunci jawaban yang tersedia
untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi subunit ini. Interpretasi
tingkat penguasaan yang Anda capai adalah dengan rumus:
Jumlah soal benar
________________ X 100%
Jumlah soal
Jawaban Anda 90 % - 100 % sesuai dengan kunci jawaban = baik sekali
Jawaban Anda 80 % - 89 % sesuai dengan kunci jawaban = baik
Jawaban Anda 70 % - 79 % sesuai dengan kunci jawaban = cukup
Jawaban Anda < 70 % yang sesuai dengan kunci jawaban = kurang

Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80 % ke atas, berarti Anda telah mencapai
kompetensi yang diharapkan pada subunit ini dengan baik. Anda dapat meneruskan dengan
materi subunit selanjutnya. Namun sebaliknya, apabila tingkat penguasaan Anda terhadap
materi ini masih di bawah 80 %, Anda perlu mengulang kembali materi subunit ini,
terutama bagian yang belum Anda kuasai

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

39

Kunci Jawaban Formatif:


1. a
2. b
3. b
4. a
5. d
6. a
7. c
8. a
9. a
10. a

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD

40

Unit 3
PENGEMBANGAN PERANGKAT PENILAIAN MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Imam Muchtar
Ign. Suhanto
3.1 Pendahuluan
Para mahasiswa yang kami banggakan pada Unit 3 ini Anda akan diajak
membahas

tentang

penilaian

(assessment)

dan

pengukuran

(instrument).

Pengukuran dan penilaian mempunyai pengertian yang berbeda. Pengukuran


merupakan proses penetapan angka bagi suatu gejala menurut aturan tertentu. Bagi
seorang guru pengukuran berarti mengukur kemampuan peserta didik dengan
menggunakan alat-alat penilaian yang ada, baik itu dengan teknik tes (tertulis, lisan,
perbuatan) dan non-tes (skala sikap, check list, quesioner, catatan harian, dan
portofolio) (Rumiati, 2007). Pengukuran juga dapat diartikan sebagai salah satu
ketrampilan yang terdapat dalam pendekatan ketrampilan proses. Pengukuran sangat
penting dalam kerja ilmiah sebagai dasar pembanding. Misalnya membandingkan
luas, kecepatan, suhu, volume dan sebagainya, sehingga guru dapat melatih peserta
didik agar terampil mengukur dan membanding-bandingkan satu benda dengan benda
lainnya. Semakin tinggi tingkat sekolah dan peserta didik semakin rumit tugas-tugas
pengukuran harus diajar kepada siswa (S.Belen, 1995).
Penilaian atau assessment adalah kegiatan membandingkan hasil pengukuran
(skor), sifat suatu obyek dengan acuan yang relevan, sehingga diperoleh suatu kualitas
yang bersifat kuantitatif (Masidjo, Ign, 2005:hal 149). Penentuan baik-buruk dan atau
benar-salah tentang sesuatu hal. Oleh karena itu, agar mudah dipahami dan
menentukan penilaian maka perlu menggunakan skala bobot dengan menggunakan
simbol angka berskala 1 s.d 4, 0 s/d 10 atau 10 s/d 100. Deskripsi nilai bobot tersebut
adalah sebagai berikut: 1 = sangat kurang; 2 = kurang; 3 = baik; 4 = sangat baik; 9 =
Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

41

sangat baik baik;10 = istimewa. Pembobotan dapat menggunakan simbol huruf


sebagai berikut: A = sangat baik, B = baik, C = cukup, D = kurang, E = sangat kurang.
Dibandingkan dengan simbul hurur, simbol angka lebih praktis, karena lebih mudah
untuk dihitung, sedangkan huruf lebih fleksibel untuk menilai ranah sikap afektif.
Metode pengukuran ini dapat digunakan untuk menentukan mutu unjuk kerja
individu; pernyataan berdasarkan sejumlah fakta untuk menjelaskan karakteristik
seseorang atau suatu karakteristik; penafsiran data hasil pengukuran; proses
pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar
peserta didik. Penilaian terdiri dari:
1) Penilaian kelas (KTSP): suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan
keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang
mengikuti pembelajaran tententu. Untuk itu diperlukan data sebagai informasi falid
untuk dasar pengambilan keputusan. Penentuan keputusan terkait dengan tingkat
keberhasil siswa dalam mencapai suatu kompetensi. Langkah-langkah proses
pengambilan keputusan dilakukan sesuai dengan urutan sebagai berikut:
perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah
bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, dan dilakukan
melalui unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian
proyek, penilaian produk, melalui portofolio, dan penilaian diri.
2) Penilaian nyata (Authentic Assessment): asas dalam pembelajaran Kontekstual
(CTL). Asas pembelajaran konvensional yang sering dilakukan oleh guru dengan
melihat aspek perkembangan intelektual siswa. Tes digunakan untuk mengetahui
tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran.
3) Penilaian sikap KTSP: merupakan perasaan suka atau tidak suka siswa dalam
merespon suatau obyek. Sikap meliputi ranah afektif, kognitif, dan konatif. Ranah
afektif

merupakan perasaan atau penilaian seseorang terhadap sesuatu obyek;

Komponen kognitif, merupakan kepercayaan, dan keyakinan seseorang mengenai


obyek. Sedangkan komponen konatif, sebagai kecenderungan seseorang dalam
berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan obyek yang
dihadapi sikap. Terdapat lima obyek sikap yang perlu dinilai yaitu: (1) sikap
terhadap materi pelajaran; (2) sikap terhadap guru/pengajar; (3) sikap terhadap
proses pembelajaran; (4) sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

42

berhubungan dengan materi pelajaran; dan (5) sikap yang kaitan dengan
kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran.
Instrumen sikap dan minat terhadap mata pelajaran, langkah-langkahnya
adalah:
1) Pilih ranah afektif yang akan dinilai, misalnya sikap dan minat (untuk bidang studi
PKn ada 5 ditambah tiga konsep diri, empat nilai, dan lima moral.
2) Ditentukan indikator sikap: misalnya senang, susah, bersungut-sungut, menolak,
daan menerima. Contoh minat misalnya: kehadiran di kelas, frekuaansi bertanya,
tepat waktu dalam mengumpulkan tugas, dan kerapian buku catatan.
3) Pilih tipe skala yang digunakan misalnya skala Likert dengan empat skala, misalnya
dari sangat senang, senang, kurang senang dan tidak senang.
4) Telaah instrumen oleh teman sejawat (yang mengajar satu bidang studi sama)
5) Perbaiki instrumen.
6) Siapkan inventori laporan diri.
7) Tentukan skor inventori, dan
8) Buat hasil analisis.
Inventori adalah skala minat dan skala sikap. Skor untuk masing-masing sikap
di atas dapat berupa angka, akan tetapi pada tahap akhir skor tersebut dirata-ratakan
dan dikonversikan ke dalam bentuk kualitatif. Skala penilaian dibuat dengan
rentangan 1 s.d 5 (1 = sangat kurang; 2 = kurang; 3 = cukup, 4 = baik dan 5 = sangat
baik). Sedangkan terhadap minat siswa dapat menggunakan skala bertingkat dengan
rentangan 1 s.d 4 tergantung arah pernyataan jawaban. Selalu (SL), Sering (SR),
Jarang (JR), dan tidak pernah (TP). Misalnya instrumen minat terdiri atas 10 butir.
Jika rentangan yang dipakai 1 s.d 4, maka skor terendah adalah 10 dan skor tertinggi
adalah 40. Jika dibagi 4 kategori, maka skala 10 16 = tidak berminat, 17 24 =
kurang berminat, 24 33 berminat dan 33 40 sangat berminat.

3.2 Prinsip-Prinsip Penilaian PKn


Prinsip penilaian PKn mengacu pada penilaian pendidikan jenjang pendidikan
dasar dan menengah yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP,
2007), yaitu:
1) Valid dan reliabel, artinya penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan
kemampuan yang diukur.
Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

43

2) Obyektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak
dipengaruhi suyektifitas penilai.
3) Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena
berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat
istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4) Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen kegiatan
pembelajaran. Dalam hal ini penilaian benar-benar dijadikan dasar untuk
memperbaiki proses pembelajaran. Jika hasil penilaian menunjukkan banyak
peserta didik yang gagal, sementara instrumen yang digunakan sudah memenuhi
syarat, maka besar kemungkian proses pembelajarannya kurang baik.
5) Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan
keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu
pendidik menginformasikan prosedur dan kriteria penilaian kepada peserta didik.
6) Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup semua aspek
kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk
memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
7) Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara terencana dan bertahap dengan
mengikuti langkah-langkah baku. Oleh karena itu, penilaian dirancang dan
dilakukan dengan mengikuti prosedur dan prinsip-prinsip yang ditetapkan.
8) Beracuan Kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian
kompetensi yang ditetapkan. Oleh karena itu, instrumen penilaian disusun dengan
merujuk pada kompetensi (SKL, SK, dan KD).
9) Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik,
prosedur, maupun hasilnya.

3.3 Teknik Penilaian Afektif untuk PKn


Teknik penilaian PKn dapat digunakan oleh pendidik berupa. Tes tertulis,
observasi, penugasan, tes lesan,penilaian portofolio, jurnal, penilaian diri, dan
penilaian antar teman. Teknik penilaian afektif bidang studi PKn dilakukan dalam
bentuk sikap berupa teknik penilaian yang dapat dilakukan melalui observasi perilaku.
Kegiatan penilaian dapat dilakukan melalui buku catatan harian tentang kejadiankejadian yang dilakukan peserta didik selama di sekolah (format penilaian mencakup
no, hari, tanggal, nama, dan kejadian). Bentuk format penilaian sikap dalam praktek
Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

44

mata pelajaran meliputi: no, nama siswa, kelas, dan indikator, misalnya (1) bekerja
sama, (2) berinisiatif, (3) penuh perhatian, (4) bekerja sistematis). Nilai dan
keterangan diberi skor maksimum = 20 dengan ketentuan sangat baik = A; baik = B,
Cukup = C, kurang = D, dan sangat kurang = E. Lembar pengamatan (kolompok mata
pelajaran Agama, PKn, Estetika, Jasmani) sikap yang diamati dalam kolom
(no/deskripsi perilaku awal/dikripsi perubahan/capaian) dengan ketentuan ST =
perubahan sangat tinggi, T = perubahan tinggi, R = perubahan rendah; SR = perubahan
sangat rendah. Informasi deskripsi diperoleh melalui pertanyaan langsung laporan
pribadi dan catatan harian. sedangkan minat dan yang lain dapat diperoleh dari
kuesioner.
Langkah-langkah pengembangan alat penilaian afektif PKn. Ada lima
instrumen yang diukur dalam ranah afektif mata pelajaran PKn, Agama dan Estetika
yaitu: (1) sikap, (2) minat, (3) konsep diri, (4) nilai, dan (5) moral. Berikut ini contoh
matrik kisi-kisi instrumen afektif.

Contoh: Matrik Kisi-kisi Instrumen Afektif


Matrik Kisi-kisi Instrumen Afektif
No

Indikator

A
1

Sikap
Senang bekerja sama dalam
membahas materi pelajaran dan
sikap terhadap materi pelajaran,
Senang berinisiasi/sikap kepada
guru
Penuh perhatian inte-raksi/sikap
terhadap proses pembelajaran.
Senang
Bekerja
sistematis/Sikap berkaitan dengan
nilai
atau
norma
yang
berhubungan dengan materi
pelajar-an.
Senang mempelajari pelajaran
lain/Sikap berhubungan dengan
kompetensi
afektif
lintas
kurikulum yang relevan dengan
mata pelajaran.
Minat
Mempunyai buku

2
3
4

B
6

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

Jml
Butir

Pertanyaan-pertanyaan

Skala
Likert

Saya senang bekerjasama


dengan teman

Saya selalu berinisiatif,


saya selalu aktif dikelas
Selalu bertanya kepada
guru kalau kesulitan
Ringkasan pelajaran selalu
saya tulis dengan rapi

1
1

Saya senang terhadap


pelajaran lain, atau saya
tidak membeda-bedakan
pelajaran lain
Thurstone

Saya selalu membeli buku


pelajaran ini
45

Sering
bertanya
dalam
membaca buku
Memiliki
catatan
pelajaran/coretan penting

Berusaha memahami pe-lajaran

10

Sering mengerjakan LKS

C
11

Konsep Diri
Memilih pelajaran yang mudah
dipahami
Memiliki
kecepatan
memahami mata pelajaran
Menunjukkan mata pelajaran
yang dirasa sulit
Mengukur kelemahan dan
kekuatan fisik

12
13
14

Thurstone
1
1
1
1

15

Mampu menyelesaikan hasil


dengan baik

D
16

Nilai
Memiliki keyakinan akan sekolah
Memiliki keyakinan akan keberhasilan diri sendiri
Menunjukkan keyakinan atas
kemampuan guru

1
1

19

Senang pada pelajaran tertentu

20

Berkeyakinan sekolah dapat


merubah prestasi peserta didik

E
21
22

Moral
Selalu menepati janji
Peduli terhadap orang lain atau
teman

1
1

23

Memiliki kejujuran

24

Komitmen dalam menyelesaikan tugas


Menghargai teman/orang lain.

17
18

25

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

Buku yang saya miliki


selalu saya baca
Coretan-coretan penting
selalu saya buat agar
mudah dipelajari
Saya selalu mendengarkan
saat teman presentasi
Saya selalu mengerjakan
soal-soal dalam LKS

1
1

Saya tidak senang pada


pelajaran tertentu
Pelajaran yang disampaikan mudah saya pahami
Pelajaran matematika sulit
Saya
tidak
pernah
mengan-tuk sampai akhir
pelajaran
Soal-soal
yang
saya
kerjakan banyak yang
benar
Thurstone
Sekolah
mempunyai
fasilitas yang lengkap
Saya percaya kalau belajar
ulangan pasti baik
Guru mata pelajaran ini
professional dalam bidangnya
Saya
senang
pada
pelajaran IPS Saja
Sekolah dapat
mengupayakan untuk menaikkan prestasi peserta didik
Thurstone

Saya selalu menepati janji


Saya akan membantu
teman yang mengalami
kesulitan belajar
Saya tidak pernah berbuat
curang
Saya selalu menyelesaikan
tugas tepat pada waktunya
Saya selalu menghargai
pendapat orang lain

46

Penilaian ranah afektif ini dapat menggunakan kuesioner, observasi atau


pengamatan, pertanyaan langsung dari laporan pribadi dan catatan harian guru atau
peserta didik yang ditunjuk dalam proses pembelajaran seperti notulen diskusi.
Indikator-indikator ranah afektif dapat dibuat atas kesepakatan guru-guru sebidang
studi atau mata pelajaran sejenis. Untuk mata pelajaran PKn dan Agama
menggunakan lima instrumen ranah afektif di atas, sedangkan mata pelajaran lainnya
menggunakan dua instrumen saja yaitu sikap dan minat. Adapun skala yang
digunakan dapat berupa skala Likert atau Thurstone yang sudah dimodifikasi menjadi
empat pilihan saja.

Contoh Lembar Pengamatan/Observasi:

Lembar Pengamatan/Observasi
Nama

Kelas/No absen :
Yang diamati

No

: Sikap (komponen afektif nomor 1)

perilaku

Deskripsi perilaku awal

Deskripsi perubahan

Pencapaian

ST

SR

Keterangan:
ST = Sangat tinggi
T = Tinggi
R = Rendah
SR = Sangat rendah

Capaian tujuan pembelajaran untuk diolah dalam daftar nilai afektif sangat perlukan.
Berikut ini adalah contoh Format Lembar Kuesioner Peinlaian Afektif.

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

47

Kuesioner Penilaian Afektif


Nama Responden

Kelas/nomor absen

Yang ditanyakan

: Sikap dan minat (komponen afektif no 1 dan 2)

No

Pertanyaan - pertanyaan

SS

TS

STS

Sikap
1

Saya senang bekerjasama dengan teman

Saya selalu berinisiatif atau Saya selalu aktif


dikelas

Selalu bertanya kepada guru kalau kesulitan

Ringkasan pelajaran selalu saya tulis dengan rapi

Saya senang terhadap pelajaran lain, atau


Saya tidak membeda-bedakan pelajar-an lain
Minat

Saya selalu membeli buku pelajaran ini


Buku yang saya miliki selalu saya baca
Coretan coretan penting selalu saya buat agar
mudah dipelajari
Saya

selalu

mendengarkan

sewaktu

teman

presentasi
Saya selalu mengerjakan soal-soal di LKS
dst

Keterangan:
SS = Sangat tinggi
S

= Tinggi

TS = Rendah
STS = Sangat rendah
Apabila diperlukan pada setiap indikator dibedakan bobotnya, maka dapat pula kolom
ditambahkan bobot nilai sehingga nilai akhir merupakan penjumlahan dari skor dikali
bobot nilainya (indikatornya 1 s.d 25)
Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

48

No

Nama

Mata Pelajaran

: PKn

Kelas

: IV c

Nama Guru

: Drs. Ainul Yakin, M.Pd

Sikap
1

Minat
4

K.Diri
10

11

12

13

Nilai
14

15

16

17

18

Moral
19

20

21

22

23

24

25

Skor
/N

Bobot

100

333

Anto

Bagus

328
B

Cipluk

368
A

Denok

318
B

Endik

262
C

dstnya

Skala skor:
Sangat baik (A)

: 349 - 400

Baik (B)

: 168- 348

Cukup (C)

: 187- 267

Kurang (D)

: 106 - 186

Sangat kurang (E)

: 25 - 105

N = nilai akhir

3.4 Penilaian portofolio


Portofolio adalah kumpulan hasil karya; sejumlah hasil karya yang sengaja
dikumpulkan sebagai bukti prestasi siswa; perkembangan kemampuan berfikir siswa;
pemahaman atas materi pokok; kemampuan mengungkapkan gagasan dan sikap siswa
terhadap mata pelajaran tertentu; laporan singkat yang dibuat siswa setelah
melaksanakan kegiatan.; salah satu alat ukur penilaian kelas; kumpulan dokumen hasil
karya beserta catatan perkembangan belajar siswa yang disusun secara sistematis; hasil
Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

49

karya siswa sebagai bukti pencapaian suatu kompetensi. Hasil kerja tersebut susun
dalam bentuk portofolio.
Tujuan Portofolio: (1) menghargai perkembangan peserta didik; (2) digunakan
sebagai dokumentasi dalam proses pembelajaran; (3) merefleksikan kesanggupan
mengambil risiko dan melakukan eksperimen; (4) merefleksikan kemampuan diri; (5)
membantu murid merumuskan tujuan; (6) dapat memberikan informasi kemajuan
murid kepada orang tua dan guru; (8) membina dan mempercapat partumbuhan positif
konsep diri peserta didik; dan (9) meningkatkan efektivitas proses pembelajaran.
Data Penilaian Portofolio KTSP, adalah nilai berasal dari hasil pengumpulan
informasi aktifitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Komponen penilaian
portofolio meliputi: (1) catatan guru; (2) hasil pekerjaan peserta didik; dan (3) profil
perkembangan peserta didik. Hasil penilaian terhadap sikap peserta didik dalam
melakukan kegiatan portofolio. pemberian skor hasil pekerjaan didasarkan pada
komponen berikut: (1) rangkuman portofolio; (2) dokumentasi berkas/data dalam
folder; (3) perkembangan dokumen; (4) ringkasan setiap dokumen; (5) presentasi; (6)
penilaian kinerrja siswa mengacu pada kriteria dalam persen (%) aatau dengan
menggunakan skala 0 10 atau 0 100. Penskoran dilakukan berdasarkan kegiatan
unjuk kerja. Skor pencapaian peserta didik dapat diubah ke dalam skor berskala 0 10
atau 1 100 dengan rumus jumlah skor pencapaian dibagi skor maksimum dikali 10
atau 100. Sehingga akan diperoleh skor peserta didik berdasarkan portofolio masingmasing.
Penilaian portofolio bermanfaat untuk: (1) memberikan gambaran utuh tentang
kemampuan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan siswa; (2) memberikan gambaran
kemampuan kerja siswa secara riil dibuktikan dalam bentuk dokumen asli yang berisi
sekumpulan karya siswa; (3) mendorong siswa mencapai prestassi kerja lebih baik dan
sempurna; (4) menumbuhkan motivasi belajar, karena proses pembelajaran diberikan
reinforcement, sehingga kelebihan dan kekurangan belajar dapat diketahui; (5)
mendorong keterlibatan orang tua secara aktif dalam proses belajaran anak.
Prinsip-prinsip penilaian Portofolio meliputi: (1) saling percaya antara yang
dinilai (siswa) dengan penilai (guru); (2) keterbukaan, dalam arti guru dalam
mengkritik dan menilai dengan argumentasi yang tepat, iklim belajar menyenangkan
(3) menjaga kerahasiaan dokumen (evidence) sebelum dipublikasikan agar sisswa
tidak merasa direndahkan atau dipermalukan; (4) evidence portofolio menjadi milik
Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

50

bersama sehingga semua merasa ikut memiliki dan merawat secara baik agar dapat
digunakan setiaap saat; (5) menciptakan kepuasan bagi guru dan siswa manakala
kompetensi tercapai; (6) meningkatkan kualitas

proses pembelajaran dan proses

berfikir siswa; (7) memberikan kesempatan luas kepada peserta didik untuk
melakukan refleksi terhadap apa yang telah mereka peroleh; (8) berorientasi pada
proses dan hasil secara seimbang sesuai dengan aspek perkembangan peserta didik; (9)
wahana penyimpanan hasil karya murid sekaligus sebagei sumber infirmasi bagi guru
dan murid; (10) sebagai kontrol perkembangan tanggung jawab peserta didik dalam
pembelajaran, memperluas wawasan belajar, pembaharuan, pengayaan proses
pembelajaran; dan berkonsentrassi penekanan pada pengembangan wawasan peserta
didik dalam proses pembelajaran.
Format penilaian portofolio dibuat oleh guru sesuai dengan kepentingan
masing-masing. Formatnya berisi dua hal pokok, yaitu: kriteria untuk proses belajar
dan kriteria untuk hasil belajar. Format I, yaittu Penilaian portofolio proses belajar
peserta didik berisi: (1) Aspek yang dinilai motivasi belajar, (2) Identitas Peserta didik
(nama, tanggal penilaian, dan mata pelajaran). Kriteria penilaian mrnggunakan skor 1
s.d 5 terdiri atas penilaian keantusiasan dalam kegiatan diskusi, keseriusan dalam
menyelesaikan tugas (pada kriteria 1 5). Pengisiannya dengan cara memberi tanda
chek list () pada criteria nilai.Format II, model penilaian portofolio hasil belajar
peserta didik berisi: (A) Kompetensi dasar memuat kemampuan menampilkan pola
dan ciri kenampakan dan budaya pada berbagai peta dan citra media; (B) Identitas
siswa, memuat (a) Tanggal penilaian mata pelajaran geografi, (b) Indikator (kriteria 15), yaitu: membedakan peta dengan media citra, (c) Membuat peta berdasarkan hasil
pengukuran jarak dan arah, (d)S melakukan klasifikasi data tabulasi dan membuat
simbul dan seterusnya. Komentar orang tua (kiri bawah) dan komentar guru (kanan
bawah)

3.5 Pengembangan Penilaian Ranah Tiga Domein


Pengembangan penilaian hasil pembelajaran PKn berbasis tiga, yaitu: (A)
domein kognitif, (P) psikomotor, dan (K) afeksi. Berikut ini adalah Diagram Ven yang
menggambarkan ranah tiga domein yang saling tumpang-tindih (interseksi) dalam
pengembangan penilaian pembelajaran PKn. Semakin besar/menyatu interseksi atau
irisan ranah A, P, K maka keberhasilan pembelajaran PKn semakin baik.
Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

51

Gambar: interseksi A, P, K
Model ini dapat dilakukan guru dalam penilaian hasil pembelajaran Materi
pembelajaran PKn secara bersama-sama di dalam kegiatan belajar mengajar. Penilaian
yang baik dilakukan secara seimbang. Penilaian hasil pembelajaran pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah dengan menggunakan berbagai teknik penilaian
sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Teknik penilaian dapat
berupa tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan (pasal 22 ayat
(1) dan (2) PP no 19 tahun 2005 tentang SNP) dan dalam bentuk lainnya seperti
penilaian untuk psikomotor dalam bentuk unjuk kerja.
Ranah Kognitif dan Psikomotor, kita gunakan teori Bloom, sedangkan untuk
Afektif dalam taksonomi Krathwohl (1961) yang sudah disempurnakan. Ranah
Kognitif

berkaitan

dengan

kemampuan

berfikir,

kemampuan

memperoleh

pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan, dan penalaran,


diuraikan dalam kata kerja operasional yang meliputi enam aspek sebagai berikut:
1) Pengetahuan (C1), meliputi kata kerja mengutip, menyebutkan, menjodohkan,
menggarisbawahi, menjelaskan, menggambar, menghitung; mengidentifikasi,
mendaftar, menunjukkan, memberi label, memberi indek, memasangkan, menamai,
menandai, membaca, menyadari, menghafal, meniru, mencatat, mengulang,
mereproduksi,

meninjau; memilih,

menyatakan; mempelajari,

mentabulasi,

memberi kode.
2) Pemahaman (C2), meliputi memperkirakan, menjelaskan, mengkategorikan,
mencirikan, mengasosiasikan, membandingkan, menghitung, mengkontraskan,
Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

52

mengubah,

mempertahankan,

mendiskusikan,
mempolakan,

menggali,

menguraikan,

mencontohkan,

memperluas,

menjalin,

membedakan,

menerangkan,

menyimpulkan,

mengemukakan,

meramalkan,

merangkum,

menjabarkan.
3) Penerapan (C3), meliputi menugaskan, mengurutkan, menentukan, menerapkan,
menyesuaikan, mengkalkulasikan, memodifikasi, mengklasifikasi, menghitung,
membangun, membiasakan, mencegah, menggambarkan, menggunakan, menilai,
melatih, menggali, mengemukakan, mengadaptasi, menyelidiki, mengoperasikan,
mempersoalkan, mengkonsepsikan, melaksanakan, meramalkan, memproduksi,
memproses, mengaitkan, menyusun, mensimulasikan, memecahkan, melakukan,
mentabulasi, menemukan, menyediakan, menghasilkan, melengkapi.
4) Analisis (C4), meliputi: memisahkan, membagi, menunjukkan hubungan antara,
menerima,

menganalisis,

mendiagnosis,

mengaudit,

menyeleksi,

mengorelasikan,
membagankan,

memecah,

memerinci,

merasionalkan,
menyimpulkan,

menegaskan,

menominasikan,

menguji,

mendiagramkan,

mencerahkan,

menemukan,

mnelaah,

mendeteksi,

menjelajah,

memaksimalkan,

memerintahkan, mengedit, mengaitkan, memilih, mengukur, melatih, mentrasfer


5) Sintesis (C5), meliputi mengabtraksi, merangkaikan, membuat, mengatur,
menganimasi, mengumpulkan, mengkategorikan, mengkode, mengkombinasikan,
menyusun kembali, mengarang, membangun, menanggulangi, menghubungkan,
menciptakan, mengkreasikan, mengoreksi, merancang, merencanakan, mendekte,
meningkatkan,
menggeneralisasi,

memperjelas,

memfasilitasi,

menggabungkan,

membentuk,

memadukan,

membatasi,

merumuskan,
mereparasi,

menampilkan, menyiapkan, mereproduksi, merangkum, dan merekonstruksi.


6) Penilaian (C6), meliputi membandingkan, menyimpulkan, menilai, mengarahkan,
mengkritik, menimbang, memutuskan, memisahkan, memprediksi, memperjelas,
menugaskan; menafsirkan, mempertahankan, memerinci, mengukur, merangkum,
membuktikan, mendukung, memvasilitasi, mengetes, memilih, memproyeksikan,
menafsirkan, mempertahankan, memerinci, mengukur, merangkum, membuktikan,
mendukung, memvasilitasi, mengetes, memilih, memproyek. (Bandingkan dengan
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan Evaluasi, dalam Harsanto
Ratno, 2007)

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

53

Ranah psikomotor, adalah aspek yang berkaitan dengan kemampuan


melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan dan atau kemampuan yang
berkaitan dengan gerak fisik. Ranah psikomotor terdiri atas empat aspek sebagai
berikut:
1) Peniruan, meliputi mengaktifkan, menyesuaikan, menggabungkan, melamar,
mengatur, mengumpulkan, menimbang, memperkecil, membangun, mengubah,
membersihkan, memposisikan, mengkonstruksi.
2) Manipulasi, meliputi mengoreksi, mendemontrasikan, merancang, memilah,
melatih, memperbaiki, mengidentifikasikan, mengisi, menempatkan, membuat,
mema-nipulasi, mereparasi, mencampur,
3) Artikulasi, meliputi mengalihkan, menggantikan, memutar, mengirim, memindahkan, mendorong, menarik, memproduksi, mencampur, mengoperasikan,
mengemas, membungkus.
4) Pengalamiahan, meliputi mengalihkan, mempertajam, membentuk, memadankan,
menggunakan,

memulai,

menyetir,

menjeniskan,

menempel,

mensketsa,

melonggarkan, menimbang.
Ranah/aspek yang berkaitan dengan ketrampilan (skill) atau kemampuan bertindak
setelah seseorang menerima pengalaman tertentu. (bandingkan dengan gerakan reflek,
gerakan dasar, gerakan persepsi, gerakan kemampuan fisik, gerakan terampil dan
gerakan indah dan kreatif, Harsanto Ratno, 2007)
Ranah/aspek afektif, berkaitan dengan perasaan emosi, minat, sikap derajat
penerimaan

atau

penolakan

terhadap

suatu

obyek

menurut

tingkatannya

dikelompokkan dalam taksonomi Krathwohl (1961) yang telah diubah oleh beberapa
pakar pendidikan seperti Albert Bandura dan RH Walter (1964) diuraikan ke dalam
kata kerja kunci sebagai berikut:
1) Penerimaan/menerima/Receiving (A1), peserta didik mempunyai keinginan
untuk memperhatikan suatu fenomena stimulus, seperti musik, gambar, film, buku,
kelas. Berkaitan dengan hal tersebut guru bertugas mengarahkan perhatian peserta
didik pada fenomena yang menjadi obyek pembelajaran afektif, misalnya
mendorong siswa agar senang membaca buku, bekerjasama dan sebagainya
sehingga menjadi kebiasaan positif. Kata-kata kerja kuncinya meliputi memilih,
mempertanyakan,

mengikuti,

memberi,

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

menganut,

mematuhi,

meminati,
54

menyatakan,

dapat

menangkap,

mau

mendengarkan,

mengemukakan,

mengidentifikasi dan lain-lain.


2) Partisipasi/menanggapi/responding (A2), berupa perilaku partisipasi aktif peserta
didik yang ditunjukkan pada reaksi responsif, keinginan dan kepuasan memrespon
terhadap sesuatu. Partisipasi merupakan minat yang ditampilkan atau dapat dilihat
dari respon seperti senang membaca buku, bertanya, membantu teman, akan
kebersihan,

kerapian.

mengantisipasi,

Kata-kata

melibatkan

mengompromikan,

diri,

menyenangi,

kerja

kunci

antarablain

menghayati,

menjawab,

membantu,

mengajukan,

menyambut,

mendukung,

menyetujui,

menampilkan, melaporkan, memilih, mengatakan, memilah, menolak/menyangkal,


menerima/mengakui.
3) Menentukan sikap/menilai/valuing (A3), merupakan akifitas menilai atau
menghargai dalam arti memberikan nilai atau penghargaan terhadap sesuatu objek,
apabila kegiatan itu tidak dilaksanakan maka akan menibulkan penyesalan atau
kerugian. Menentukan sikap berarti melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau
sikap yang menunjukkan internalisasi dan komitmen dengan rentangan mulai dari
menerima suatu nilai sampai pada komitmen. Menentukan sikap berarti pula dapat
memberikan penilaian benar atau salah, setuju atau tidak setuju terhadap proses
belajar mengajar, sehingga siswa tidak hanya menerima saja tetapi mampu menilai
konsep atau fenomena yang terdapat dalam objek pembelajaran tertentu. Hasil dari
tingkat valuing ini berkaitan erat dengan perilaku yang konsisten dan stabil
sehingga nilai dikenal secara jelas dalam bentuk menentukan sikap dan apresiasi.
Kata-kata kerja kuncinya meliputi mempertanyakan, mengkaji, menyatakan
penilaian, berpendapat, memilih, memutuskan, mempertimbangkan, mengasumsi,
menyakini, melengkapi, meyakinkan, memprakarsai, mengimani, menggabungkan,
memperjelas, mengusulkan, menekankan, dan menyumbang.
4) Organisasi/mengelola/organizing (A4), adalah keterkaitan nilai satu dengan nilai
yang lain, konflik antarnilai dapat diselesaikan dengan baik, dan mulai membangun
nilai internal yang konsisten, hasilnya berupa konseptualisasi nilai atau organisasi
sistem nilai. Misalkan pemahaman tentang pandangan hidup bangsa. Kata-kata
kerja kuncinya meliputi mengklarifikasi, menggambarkan mendemonstrasikan,
menyatakan posisi/tanggapannya, menganut, mengubah, menata, mengklasifikasi,

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

55

mengkombinasikan,

mempertahankan,

membangun,

membentuk

pendapat,

memadukan, mengelola, menegosiasi, dan merembuk .


5) Pembentukan

pola

hidup/menghayati/characterization

(A5),

merupakan

characterization nilai. bahwa peserta didik mempunyai sistem nilai berdasarkan


perilaku selama waktu tertentu hingga terbentuk pola hidup. Hasil pembelajaran
tingkat tertinggi dari afektif ini adalah terbentuknya kepribadian, emosi. Kata- kata
kerja kuncinya meliputi mencintai, meyakini, mempertahankan, meragukan,
menolak sesuatu, mengubah perilaku, berbuat sesuai akhlak mulia, mempengaruhi,
mendengarkan, mengkualifikasi, melayani, menunjukkan, membuktikan, dan
memecahkan (bandingkan dengan penerimaan, responsi, menghayati nilai, mengorganisasi, menjadi karakter, dalam Harsanto Ratno, 2007), Aspek afektif berkaitan
dengan perasaan, nilai, sikap dan minat perilaku peserta didik dilihat dari tingkah
laku, seperti perhatian terhadap pelajaran, etika dan moral yang dapat
meningkatkan kedisiplinan dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Sebagai pedoman
dalam penilaian afektif digunakan lima komponen karakteristik ranah afektif, yaitu
sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral (lihat penilaian ranah afektif).

Ukuran untuk penilaian ranah afektif.


1. Sikap (Afsi),
Sikap (Attitude), merupakan aspek kompetensi berupa perasaan atau reaksi
terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya, perasaan senang atau tidak
senang terhadap aturan baru, reaksi terhadap diberlakukannya kurikulum baru (Gordon,
1988). Sikap merupakan kecenderungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka
terhadap suatu objek. Penampilan kecenderungan akan sesuatu, penghayatan/citra, cita
rasa, emosi dan feeling, kemauan, nilai dan keyakinan sebagai tingkat yang paling
tinggi, (Kosasih, 1980); suatu prediksi yang dipelajari untuk merespon secara positif
atau negatif terhadap objek, situasi, konsep atau orang (Fisbein dan Ajzen, 1975) Sikap
dapat dibentuk melalui mengamati dan menirukan sesuatu yang positif dengan
penguatan menerima informasi secara verbal. Penilaian sikap dilakukan untuk
mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran tertentu, kondisi pembelajaran,
pendidik.
2. Minat (Afmi)
Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

56

Minat merupakan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu (KBBI,


1990: 583). Aspek kompetensi, berupa kecenderungan seseorang untuk melakukan
suatu tindakan atau perbuatan. Misalnya, minat untuk mempelajari dan memperdalam
materi pelajaran. (Gordon, 1988). Minat berkaitan erat dengan motivasi, karena minat
dan motivasi (by interest) sebagai salah satu faktor pembeda keberagaman pengelolaan
peserta didik. Oleh karena itu, cara pengelolaannya peserta didik hendaknya memberi
keleluasaan untuk berkreasi sesuai dengan minat dan motivasi belajar dalam berbagai
kompetensi, sehingga dapat memicu keberhasilan belajar berikutnya secara mandiri dan
optimal. Berkaitan dengan hal itu, maka peran guru yang terpenting adalah bagaimana
membangkitkan minat belajar siswa (cukup beragam) terhadap mata pelajaran yang
diajarnya. Keragaman karakteristik siswa hendaknya dimaknai sebagai perbedaan yang
disebabkan oleh isi (content), minat dan motivasi siswa (by interest), kecepatan tahapan
belajar (by pace), tingkatan kemampuan (by level), reaksi yang diberikan siswa (by
respon), siklus cara belajar dan berfikir (circular sequence), waktu (time) dan
pendekatan pembelajaran (by teaching style).

3. Konsep diri (Afkod)


Konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan oleh seseorang terhadap
kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target konsep diri adalah orang, sekolah
atau lembaga lain yang arahnya bisa positif maupun negatif mulai dari rendah sampai
tinggi. Konsep diri berfungsi untuk menentukan jenjang karier peserta didik;
mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri; memilih karir peserta didik; dan
memberi motivasi belajar yang tepat.

4. Nilai (Afni)
Nilai (value) merupakan perwujudan dari afektif yang terdapat dalam diri
seseorang dan merupakan suatu sistem yang di dalamnya mengandung nilai keagamaan,
sosial budaya, ekonomi, hukum, etika. Misalnya, keadilan, keberpihakan, kebenaran kepalsuan, kejujuran, kebohongan, kesejahteraan, dan sebagainya dan merupakan
keyakinan yang dianggap baik dan yang dianggap buruk (Rokeach, 1968). Target nilai
berupa sikap dan perilaku yang mengarah pada positif atau negatif yang berintensitas
rendah atau tinggi, tergantung pada situasi.

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

57

5. Moral (Afmo)
Moral berhubungan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan
orang lain, dan dapat dikaitkan dengan keyakinan seseorang timbul akibat tuntutan dari
luar/masyarakat/kehidupan dalam kehidupan nyata. Misalnya, tindakan berbuat dosa
dan perbuatan mendapakan pahala. Jadi, moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan
keyakinan seorang misalnya kejujuran, integritas, keadilan, kebebasan. Pengajaran
nilai/moral menghendaki lahirnya generasi muda yang memiliki bekal moral dan nilai
yang baku dan positif sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu moral
dan nilai-nilai Pancasila yang disalurkan melalui mata pelajaran PKn pada tingkat
satuan pendidikan dasar sampai menengah, bahkan pendidikan tinggi. Pembelajaran
ketiga ranah (domain) tersebut dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran secara terpadu
melalui

kegiatan

pembelajaran

dengan

model,

pendekatan

maupun

strategi

pembelajaran yang dipilih oleh guru.

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

58

Latihan
Jawablah pertanyaan berikut!
1. Bagaimanakan bentuk skala Penilaian afektif yang dikembangkan oleh Likert dan
Thurstone?
2. Indikator indikator apakah yang digunakan untuk penilaian ranah afektif PKn?
3. Mengapa pemberian bobot pada setia soal lebih baik dari pada tidak diberi bobot dalam
penilaian afektif?
4. Bagaimanakah menentukan nilai akhir dengan pemberian bobot nilai?
5. Urutkan langkah penilaian portofolio!
6. Meliputi aspek kemampuan apa ranah psikomotor?, tunjukkan kata kata kerja yang
digunakan!
7. Meliputi kemampuan apa saja ranah kognitif.?, tunjukkan kata kata kerja yang
digunakan!
8. Meliputi kemampuan apa saja ranah afektif.?, tunjukkan kata kata kerja yang
digunakan!
9. Apakah yang dimaksidkan dengan aspek minat (Afmi)?
10. Apakah yang dimaksudkan aspek moral (Afmo)?

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

59

Rangkuman
1. Penilaian ranah affektif mempunyai teknik penilaian yang berbeda dengan ranah
kognitif dan psikomotor
2. Ada lima instrument yang diukur dalam ranah afektif PKn, yaitu sikap, minat, konsep
diri dan moral.
3. Kisi-kisi instrument afektif berbentuk matrik diperlukan dalam penilaian ranah afektif.
4. Alat yang digunakan untuk penilaian ranah afektif adalah kuesioner dan observasi.
5. Indikator indikator ranah afektif dibuat atas kesepakatan guru guru mata pelajaran
PKn.
6. Penilaian portofolio merupakan penilaian hasil kerja peserta didik.
7. Penilaian ranah tiga domein meliputi ranah afektif, kognitif dan psikomotor dilakukan
secara terpadu dalam materi tertentu di PKn, semakin menyatu interseksinya maka
semakin baik.
8. Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan
peserta didik dalam melakukan sesuatu.
9. Instrumen untuk mengamati penilaian unjuk kerja berupa check list (daftar cek) dan
skala penilaian.
10. Ranah afektif berkaitan dengan emosi, minat, sikap derajat penerimaan atau penolakan
terhadap sesuatu obyek dikelompokkan dalam bentuk taksonomi dengan ciri ciri pada
kata kerja kunci.

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

60

Tes Formatif 3.
Pilihlah salah satu jawaban yang Anda anggap paling tepat!
1.

Perhatikan pernyataan berikut: Dalam PKn penilaian ranah afektif menduduki fungsi
sentral, karena semakin tinnggi nilai afektif, maka akan menyebabkan ranah yang lain
akan menjadi semakin maksimal juga

Pernyataan tersebut menurut Anda, adalah


a. Setuju, karena semakin tinggi nilai ranah afektif maka dengan sendirinya nilai
kognitif dan psikomotor akan semakin maksimal.
b. Setuju, karena ketiga ranah afektif, kognitif dan psikomotor saling berhubungan.
c. Tidak setuju, karena penilaian ranah afektiflah yang paling penting dalam PKn
d. Tidak setuju, karena ranah afektif belum tentu mempengaruhi ranah yang lain
e. Tidak setuju, karena ranah kognitiflah yang paling penting penting dalam PKn

2. Dibawah ini yang merupakan instrument ranah afektif yang dinilai dalam mata pelajaran
PKn
a. Keadilan, kejujuran, sikap dan minat
b. Keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam kelas
c. Keberanian dalam menjawab pertanyaan pertanyaan
d. Kreatifitas, semangat dan motivasi belajar
e. Sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral

3. Alat alat dibawah ini sebagai penilaian:


1. Kuesioner
2. Observasi
3.Tes lisan
4.Tes tertulis
Maka yang paling sesuai digunakan untuk penilaian ranah afektif adalah nomor
a. 1 dan 2
b. 1 dan 3
c. 1 dan 4
d. 2 dan 4
e. 3 dan 4

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

61

4.Indikator indikator ranah afektif sebaiknya dibuat oleh


a. Guru mata pelajaran sendiri
b. Guru kelas
c. Kesepakatan guru mata pelajaran di sekolah
d. Kepala sekolah
e. KKG
5.Perhatikan hal-hal berikut tentang penilaian portofolio:
1. Memerlukan waktu yang banyak dan kerja keras guru
2.Mau belajar kalau ada guru
3.Merubah mentalitet guru sulit, terutama agar merubah cara mengajar klasikal
menjadi individual
4.Memerlukan waktu yang lama untuk merubah cara pandang guru, orang tua,
masyarakat
5.Dapat mengukur semua ranah baik itu kognitif, afektif maupun psikomotor
Pernyataan yang menunjukkan kelemahan penilaian portofolio adalah nomor:
a. 1, 2 dan 5
b. 3, 4 dan 5
c. 1, 3 dan 5
d. 2, 3 dan 5
e. 1, 2, 3 dan 4

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

62

Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Dikdasmen. (2004) Pola Induk Pengembangan
Sistem Penilaian, Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional (2007), Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran
Kewarganegaraan dan Kepribadian, Badan Standar Nasional Pendidikan, Jakarta.
Likerts, Rensis ( 1932). A Technique for the measurement of Attitudes Archives of
Psichology. 140.1-55.
Masidjo, Ign. (1995). Penilaian Pencapaian hasil Belajar Siswa di Sekolah, Yogyakarta,
Kanisius.
Masidjo, Ign. (2007). Bahan Pelatihan, Penilaian Prestasi Belajar Siswa Dalam Aspek
Afektif suatu Mata Pelajaran Dengan Alat Ukur Non Tes Yang berkualitas pada
Era KTSP, Yogyakarta, Bina Dharma Mulia
Muchtar, Imam. (2010). Penilaian Ranah Afektif Dengan Strategi, beberapa pendekatan
VCT dan Metode pembelajarannya, FKIP- Universitas Jember.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no 20 tahun 2007, tentang Standar Penilaian
Pendidikan.
Ruminiati. (2007). Bahan Ajar Cetak Pengembangan PKn SD, DirJen Dikti Depdiknas,
Jakarta
Thorndike, Robert,L, & Hagen, Elizabeth.P (1977). Measurement and evaluation in
psychology and education, New York: John Wiley & Son.

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

63

Glosarium
Penilaian Hasil Pembelajaran: penilaian hasil pembelajaran pada jenjang pendidikan
dasar dan mene-ngah dengan menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai
dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai, teknik dapat berupa tes tertulis,
observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan (pasal 22 ayat (1) dan (2) PP
no 19 tahun 2005 tentang SNP.)
Penilaian Portofolio KTSP: Penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan
informasi yang menun-jukkan perkembangan kemampuan peserta didik dari
proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik, hasil tes (bukan
nilai atau bentuk informasi lain) yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam
satu mata pelajaran. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa
secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran, hasil karya tersebut
dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik dapat menilai perkembangan
kemampuan peserta didik dan terus melakukan per-baikan seperti: karangan, puisi,
surat, komposisi musik, gambar, foto, catatan perkembangan pekerjaan.
Penilaian tertulis KTSP: penilaian yang dilakukan secara tertulis kepada peserta didik
dalam bentuk tulisan. Bentuk soal tes tertulis meliputi 2 macam, yaitu 1. Memilih
jawaban (pilihan ganda, benarsalah, dan menjodohkan) 2. Mensuplai jawaban
(satu jawaban atau melengkapi jawaban, jawaban singkat/pendek dan uraian).
Ranah Afektif/aspek afektif: aspek yang berkaitan dengan perasaan emosi, minat, sikap
derajat penerimaan atau penolakan terhadap suatu obyek.
Ranah Kognitif: aspek kognitif, aspek yang berkaitan dengan kemampuan berfikir,
kemampuan memperoleh pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi,
penentuan dan penalaran.
Ranah psikomotor: aspek yang berkaitan dengan kemampuan melakukan pekerjaan
dengan melibatkan anggota badan, kemampuan yang berkaitan dengan gerak fisik.

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

64

Umpan Balik :
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat di bagian
akhir materi unit ini. Bandingkan jawaban Anda dengan Kunci jawaban yang tersedia
untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi subunit ini. Interpretasi
tingkat penguasaan yang Anda capai adalah dengan rumus:
Jumlah soal benar
________________ X 100%
Jumlah soal
Jawaban Anda 90 % - 100 % sesuai dengan kunci jawaban = baik sekali
Jawaban Anda 80 % - 89 % sesuai dengan kunci jawaban = baik
Jawaban Anda 70 % - 79 % sesuai dengan kunci jawaban = cukup
Jawaban Anda < 70 % yang sesuai dengan kunci jawaban = kurang

Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80 % ke atas, berarti Anda telah mencapai
kompetensi yang diharapkan pada subunit ini dengan baik. Anda dapat meneruskan dengan
materi subunit selanjutnya. Namun sebaliknya, apabila tingkat penguasaan Anda terhadap
materi ini masih di bawah 80 %, Anda perlu mengulang kembali materi subunit ini,
terutama bagian yang belum Anda kuasai

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

65

Kunci Tes Formatif 3


1. a
2. e
3. a
4. c
5. e

Pengembangan Perangkat Penilaian PKn-SD

66

Unit 4
PENGEMBANGAN SILABUS DAN RPP SERTA APLIKASINYA
DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Arief Rijadi
Imam Muchtar
4.1 Pendahuluan
Para mahasiswa yang berbahagia, selamat bertemu dalam pembelajaran PKn
pada Unit 4. Pada bagian ini Saudara akan diajak membahas tentang Silabus dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Menurut Permendiknas no 41 tahun
2007 tentang Standar Proses untuk satuan pendidikan Dasar dan Menengah, silabus
merupakan rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema
tertentu yang mencakup Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD),
materi pokok pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi
waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran SK dan KD ke
dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian
kompetensi untuk penilaian. Selanjutnya silabus dikembangkan dalam bentuk Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Menurut Permendiknas no 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk satuan
pendidikan Dasar dan Menengah, RPP dalam KTSP dirancang guru untuk
pengembangan pembelajaran mata pelajaran tertentu yang tercantum dalam
kurikulum.

4.2 Komponen-Komponen RPP


Komponen RPP secara rinci mencakup: (A) Identitas RPP, meliputi: 1) Mata
Pelajaran; 2) Kelas/Semester; 3) Pertemuan ke ; 4) Alokasi Waktu x 35 menit; 5)
Standar Kompetensi (SK); 6) Kompetensi Dasar; dan 7) Indikator. (B) Isi; mencakup:
I) Tujuan Pembelajaran; II) Materi Ajar; III) Metode Pengajaran; IV) Langkahlangkah Pembelajaran (terdiri atas (a) Kegiatan awal, (b) Kegiatan inti, (c) Kegiatan
akhir); V) Sumber Belajar; dan VI) Penilaian meliputi: jenis tagihan, bentuk
instrumen, ulangan harian, kerja praktek, tugas mandiri performan. Tes lisan dan lainPengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

67

lain; (C) Pengesahan di posisi kanan bawah memuat nama kota, tanggal, tandatangan
guru bidang studi, nama lengkap, dan NIP. Posisi kiri bawah memuat mengetahui
Kepala Sekolah, nama kepala sekolah, dan NIP. RPP dirancang untuk 12 kali
pertemuan, sattu kali pertemuan bisa 1 x 35 menit atau 2 x 35 menit (1 JP di jenjang
pendidikan SD setara dengan 35 menit, di jenjang pendidikan SLTP setara dengan 40
menit, dan di jenjang pendidikan SMA/MA setara dengan 45 menit). RPP merupakan
bagian dari perencanaan proses pembelajaran dan sekurang-kurangnya memuat tujuan
pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil
belajar.

4.3 Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP


1) Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal,
tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial,
emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar. Latar belakang budaya,
norma, nilai dan/atau lingkungan peserta didik.
2) Mendorong partisipasi aktif peserta didik
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada aktifitas peserta didik untuk
mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, kemandirian, dan semangat
belajar
3) Mengembangkan budaya membaca dan menulis
Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca,
pemahaman beragam bacaan, dan berekpresi dalam berbagai bentuk tulisan.
4) Memberikan umpan baik dan tindak lanjut
RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan,
pengayaan, dan remidi.
5) Keterkaitan dan keterpaduan
RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD,
materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi,
penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP
disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata
pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
6) Menetapkan teknologi informasi dan komunikasi
Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

68

RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan


komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan
kondisi sekolah.

4.4 Pelaksanaan Pembelajaran


Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Oleh karena itu
dalam proses pembelajaran unjuk kerja guru di kelas harus mencerminkan kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

1) Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan guru:
[1] Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses
pembelajaran;
[2] Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya
dengan materi yang akan dipelajari;
[3] Mejelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;
[4] Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan silabus;

2) Kegiatan Inti
Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran unuk mencapai KD
dilakukan dengan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, dan memberikan ruang yang
cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian siswa sesuai dengan bakat,
minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Pengggunaan metode
dalam kegiatan ini disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata
pelajaran yang meliputi proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.
[1] Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
a. Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang
topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam
takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
b. Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan
sumber belajar lain;
Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

69

c. Memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta


didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
d. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran;
e. Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio
atau lapangan.

[2] Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
a. Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui
tugas-tugas tertentu yang bermakna;
b. Memfasiilitasi peserta didik melalui pemberan tugas, diskusi, dan lain-lain
untuk memnculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
c. Memberi kesempatan untuk berfikir, menganalisis, menyelesaikan masalah.
Dan bertindak tanpa rasa takut;
d. Memfasilitasi

peserta

didik

dalam

pemvbelajaran

kooperatif

dan

kolaboratif;
e. Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan
prestasi belajar;
f. Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang diilakukan
baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
g. Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikanrelasi; kerja individual
maupun kelompok;
h. Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festifal, serta
produk yang diihasilkan;
i.

Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan


kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

[3] Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
a. Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan,
isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik;
b. Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta
didik melalui berbagai sumber;
Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

70

c. Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh


pengalaman belajar yang telah dilakukan;
d. Memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna
dalam mencapai kompensi dasar meliputi;
[a] Berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan
menggunakan bahasa yang baku dan benar;
[b] Membantu menyelesaikan masalah;
[c] Memberi acuan agar siswa dapat menilai sendiri hasil eksplorasi;
[d] Memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
[e] Memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum
berpartisipasi aktif.

3) Kegiatan Penutup.
Dalam kegiatan penutup, guru:
a. Bersama-sama

dengan

peserta

didik

dan/atau

sendiri

membuat

rangkuman/kesimpulan pelajaran;
b. Melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
c. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
d. Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remidi,
program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas
individual maupun kelompok dengan hasil belajar peserta didik;
Contoh Pengembangan Silabus PKn
Aplikasi Desain Model, Strategi, dan Media Pembelajaran PKn SD dapat
diberikan contoh sebagai berikut:
Contoh Silabus
SILABUS
Mata Pelajaran
Kelas
Semester
Standar Kompetensi

: Pendidikan Kewarganegaraan
: VI (enam)
:1
: 1. Menghargai nilai nilai juang dalam proses perumusan

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

71

Alokasi waktu
Model Pembelajaran
Pendekatan
Kompetensi
dasar
1.1 Mendeskripsikan nilainilai juang
dalam proses
perumusan
Pancasila
sebagai dasar
Negara

Pancasila sebagai Dasar Negara


: 2 x 35 menit
: Cooperative Learning
: Think-Pair-Share

Indikator
1.1 Menceritakan sejarah
lahirnya
Pancasila

Materi
Kegiatan
pembelajaran
pembelajaran
Perumusan
Langkah-langkah
Pancasila
pembelajaran:
sebagai Dasar
A. Kegiatan awal
Negara

1.2 Memahami
kedudukan
Pancasila
bagi bangsa
Indonesia
1.3 Meneladani
nilai-nilai
juang para
tokoh yang
berperan
dalam
proses
perumusan
Pancasila
sebagai
dasar
Negara
dalam
kehidupan
sehari-hari

1. Guru menyiapkan
pembagian
kelompok pasangan
dua-dua (sebangku)
agar mudah dan
lebih baik
2. Guru memberitahukan materi pokok
pada buku paket
dan Lambang
negara burung
Garuda Pancasila
dan UUD 1945
sebagai stimulus
yang dibahas sesuai
de-ngan kompetensi
dasarnya

Penilaian
Non tes:
performance
tes (tugas,
pembagian
kelompok/
individu,
portofolio,
skala afeksi

Alokasi
Waktu
2 x 35

Gambar
lambang
Negara
burung
Garuda
Pancasila

Tes tertulis
(Uraian,
atau pilihan
ganda
mencakup
tiga
domein)

UUD
1945
Risalah
Sidang
BPUPKI
dan PPKI
29 Mei s.d
19 Agustus
1945,
Sekretariat
Negara
RI,1992

B. Kegiatan Inti
1. Guru memberikan
pertanyaanertanyaan
tertulis untuk peserta
didik dan didiskusikan dengan teman
sebangku
1.1 Pada saat apa
Pancasila dibahas
sebagai dasar
Negara?
1.2 Siapa sajakah yang
meng-usulkan
rumusan Pancasila
dasar Negara itu?
1.3 Bagaimanakah
usulan rumusan
dasar Negara
menurut ke tiga
orang pengusul itu
pada saat bersidang?
1.4 Sikap yang
bagaimanakah

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

Sumber
Belajar
Buku
yang
relevan
untuk SD
kelas VI

72

seharusnya kamu
miliki terhadap
pemikir- pemikir
lahirnya Pancasila
Dasar Negara?
1.5 Bagaimanakah tata
urutan Pancasila
yang terdapat dalam
Pembukaan UUD
1945 alinea empat?
1.6 Mengapa Pembukaan UUD 1945
tidak dapat diubah
oleh siapapun
termasuk MPR
hasil Pemilihan
Umum?
1.7 Apakah arti
lambang pada dada
burung Garuda
Pancasila
2. Hasil diskusi dengan
teman sebangku
ditulis untuk
didisusikan dengan
bertukar pasangan
dengan yang lain
sampai guru
memberikan tanda
pertukaran pasangan
dalam diskusi
dihentikan.
3. Hasil jawaban
diterangkan oleh
beberapa peserta
didik secara acak
4. Guru memberikan
bantuan, menyempurnakan jawaban
yang sudah ada.
C. Kegiatan akhir/
Penutup
1. Kesimpulan materi
2. Merencanakan
kegiatan tindak
lanjut dalam bentuk
pembelajaran
remidi, program
pengayaan, layanan
konseling dan/atau
memberikan tugas
baik tugas individual
maupun kelompok
dengan hasil belajar
peserta didik.

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

73

Contoh Pengembangan RPP


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Nama Sekolah

: SDN ....

Mata Pelajaran

: Pendidikan Kewarganegaraan

Kelas

: VI (enam)

Semester

: 1 (satu)

Jenjang sekolah : SD
Alokasi waktu

: 2 x 35 menit

A.Standar Kompetensi

1. Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan


Pancasila sebagai Dasar Negara

B.Kompetensi Dasar

1.1. Mendeskripsikan nilai- nilai juang dalam proses


perumusan Pancasila sebagai dasar Negara

C.Indikator

1.1. Menceriterakan sejarah lahirnya Pancasila


1.2. Memahami kedudukan Pancasila bagi bangsa
Indonesia
1.3. Meneladani nilai-nilai juang para tokoh yang berperan
dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar
Negara dalam kehidupan sehari-hari

D. Materi Pembelajaran

Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara

E.Tujuan Pembelajaran

Siswa mampu menghayati Nilai-nilai Pancasila sebagai


dasar negara

Pendekatan Pembelajaran Cooperative Learning dengan Pendekatan Think-PairShare

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

74

F. Langkah-langkah Pembelajaran:
Pertemuan : ke 1
I. Pendahuluan / Kegiatan Awal (5 menit)
1. Persiapan-persiapan dari guru:
1.1 Guru menyiapkan pembagian kelompok pasangan dua-dua (sebangku) lebih
baik
1.2 Guru memberitahukan materi pokok pada buku paket dan lambang negara
burung Garuda Pancasila, UUD 1945 sebagai stimulus yang dibahas sesuai
dengan kompetensi dasarnya
II. Kegiatan inti/pembelajaran (50 menit)
1. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan tertulis untuk peserta didik dan
didiskusikan dengan teman sebangku
1.1 Pada saat apa Pancasila dibahas sebagai dasar Negara?
1.2 Siapa saja-kah yang mengusulkan rumusan Pancasila dasar Negara itu?
1.3 Bagaimanakah usulan ru-musan dasar Negara menurut ke tiga orang pengusul
itu pada saat bersidang?
1.4 Sikap yang bagaimanakah seharusnya kamu miliki terhadap pemikir-pemikir
lahirnya Pancasila Dasar Negara?
1.5 Bagaimanakah tata urutan Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan UUD
1945 alinea IV (empat)?
1.6 Mengapa Pembukaan UUD 1945 tidak dapat diubah oleh siapapun termasuk
MPR hasil Pemilihan Umum?
1.7 Apakah arti lambang pada dada burung Garuda Pancasila lambing sila ke
bunyinya
2. Hasil diskusi dengan teman sebangku ditulis untuk didiskusikan dengan bertukar
pasangan dengan yang lain sampai guru memberikan tanda pertukaran pasangan
dalam diskusi dihentikan.
Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

75

3. Hasil jawaban diterangkan oleh beberapa peserta didik secara acak


4. Guru memberikan bantuan, menyempurnakan jawaban yang sudah ada.
III. Kegiatan Penutup (15 menit)
1. Siswa menyimpulkan isi pembahasan yang telah mereka kaji
2. Refleksi dikaitkan dengan kehidupan nyata
1) Guru mengadakan post test kepada beberapa siswa secara sampling untuk
mengetahui ketercapaian indikator.
2) Setiap individu mempersiapkan bahan kajian untuk pertemuan berikutnya
3) Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remidi,
program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas
individual maupun kelompok dengan hasil belajar peserta didik.

G. Sumber Belajar /Bahan/Alat:


1. Stimulus: buku paket dan lambang negara burung Garuda Pancasila, UUD 1945
2. Lembar Penilaian Afektif (sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral)
3. OHP/LCD
4. Buku: Paket Kewarganegaraan SD Kelas VI
H. Penilaian
Indikator

Penilaian

pencapaian

Teknik

Bentuk Instrumen

Instrumen

Kompetensi*)
kerja (dalam Tes 1. Tes uraian.

1.Uraian 7 soal

sejarah lahirnya

Tulis.(dalam

2.Klasifikasikan

Pancasila

bentuk kognitif) 3. Tes afektif

rumusan usulan

Tes unjuk kerja

Pancasila

1.1Menceriterakan

1.

2.
1.2. Memahami
kedudukan

2. Tes identifikasi

bentuk
Psikomotor)

Pancasila bagi
bangsa
Indonesia
1.3. Meneladani

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

76

nilai-nilai juang
para tokoh yang
berperan dalam
proses perumusan
Pancasila sebagai
dasar Negara dalam
kehidupan seharihari
*) Indikator pencapaian kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk
menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran.
Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional
yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Jenis Tagihan:
1. Tugas idividu
2. Ulangan
Bentuk Tagihan:
1. Laporan kerja individu
2. Uraian berstruktur
Soal/instrumen:
1. Pada saat apa Pancasila dibahas sebagai dasar Negara?
2. Siapa sajakah yang mengusulkan rumusan Pancasila dasar Negara itu?
3. Bagaimanakah usulan rumusan dasar Negara menurut ke tiga orang pengusul itu
pada saat bersidang di BPUPKI?
4. Sikap yang bagaimanakah seharusnya kamu miliki terhadap pemikir-pemikir
lahirnya Pancasila Dasar Negara?
5. Bagaimanakah tata urutan Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945
alinea IV?
6. Mengapa Pembukaan UUD 1945 tidak dapat diubah oleh siapapun termasuk
MPR hasil Pemilihan Umum?
7. Apakah arti identifikasi lambang pada dada burung Garuda Pancasila lambang
sila ke bunyinya

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

77

rovicky.wordpress.com
Tes Identifikasi:
Klasifikasikan rumusan usulan Pancasila yang ada pada waktu Sidang I BPUPKI
tanggal 29 Mei 1945 s.d. 1 Juni 1945 serta yang ada pada saat Sidang PPKI
tanggal 18 Agustus 1945 !

Jember, 27 Juli 2010


Mengetahui:

Penyusun:

Kepala Sekolah SDN ...

Guru Bidang Studi PKn

Stempel sekolah

(Drs. Lono Suwiantoro, M.Pd.)

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

(Loeis Anggia Murni, S.Pd.)

78

Latihan:
Jawablah pertanyaan berikut !
1. Apakah yang dimaksudkan dengan silabus?
2. Apakah perbedaan antara silabus dan RPP?
3. Mengapa setiap jenjang pedidikan perlu ada silabus?
4. Mengapa RPP sebaiknya dibuat minimal dua jam pelajaran dan maksimal emapt jam
pelajaran?
5. Sebaiknya berapakah jumlah RPP dalam satu KD? Berikan alasannya!
6. Bolehkah RPP dibuat sama oleh guru mata pelajaran dalam KKG? Berikan alasannya!
7. Sebutkan Format yang terdapat dalam Silabus secara urut?
8. Sebutkan Format yang terdapat dalam RPP secara urut?
9. Apakah yang disebut dengan kegiatan pembelajaran dalam silabus?

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

79

Rangkuman
1. Dalam melaksanakan pembelajaran seorang guru harus membuat silabus yang disusun
berdasarkan Standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang
disampaikan kepada peserta didik, Silabus ini merupakan penjabaran Standar
Kompetensi (SK) dan Kompetensi dasar (KD) ke dalam materi pokok/pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian; susunan
teratur materi pokok mata pelajaran tertentu pada kelas/semester tertentu.
2. Format Silabus terdiri dari: standar kompetensi (SK), Kompetensi Dasar, materi pokok
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu dan
sumber/bahan/alat belajar
3. Dalam menyusun RPP seorang guru harus melihat Silabus, karena RPP merupakan
rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru untuk
mengembangkan suatu mata pelajaran tertentu yang ada dalam kurikulum.
4. Komponen yang ada dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah: A.
Identitas RPP meliputi: 1. Mata pelajaran.2. Kelas/semester 3. Pertemuan ke 4.
Alokasi waktu x 35 menit. 5. Standar kompetensi (SK).6 Kompetensi dasar 7
Indikator . B. Isi I. Tujuan pembelajaran II. Materi ajar. III. Metode Pengajaran IV
langkah-Langkah pembelajaran (a. Kegiatan awal, b. kegiatan inti c. Kegiatan akhir V.
Sumber belajar. VI. Penilaian: jenis tagihan, bentuk instrumen, ulangan harian, kerja
praktek, tugas mandiri performan. Tes lisan dan lain-lain. C. Pengesahan
ditandatangani oleh guru mata pelajaran dengan kota, tanggal, nama lengkap di sebelah
kanan bawah. Dan mengetahui Kepala Sekolah, nama kepala sekolah di sebelah kiri
bawah.
5. Satu (1) RPP sebaiknya dibuat oleh guru dalam satu Kompetensi Dasar tertentu dan
waktu yang digunakan minimal 2 Jp (Jam pelajaran) maksimal 4 Jp (Jam Pelajaran)

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

80

Tes formatif 4.
Pilihlah salah satu jawaban yang Anda anggap paling tepat !
1. Bagian Pengesahan pada RPP ditandatangani oleh
a. Guru mata pelajaran yang bersangkutan
b. Ketua Kelompok Kerja Guru
c. Kepala sekolah
d. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/kota
e. Kepala sekolah dan Wakil Kepala Sekolah
2. Penilaian portofolio pada RPP merupakan
a. Seluruh hasil kegiatan peserta didik yang dikumpulkan untuk dijadikan bahan
penilaian akhir.
b. Sebagian hasil kegiatan peserta didik yang dikumpulkan untuk dijadikan bahan
penilaian akhir
c. Satu hasil kegiatan peserta didik yang dikumpulkan untuk dijadikan bahan
penilaian akhir.
d. Beberapa hasil kegiatan peserta didik yang dikumpulkan untuk dijadikan bahan
penilaian akhir.
e. Dua bendel hasil kegiatan peserta didik yang dikumpulkan untuk dijadikan bahan
penilaian akhir.
3. Stimulus dalam Silabus terdapat dalam format kolom...
a. Penilaian
b. Kompetensi dasar
c. Indikator-indikator
d. Kegiatan pembelajaran
e. Materi pembelajaran

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

81

4. Keistimewaan yang Anda temukan setelah melaksanakan RPP yang menggunakan


model cooperative learning dengan Think-Pair-share, adalah
a. Peserta didik dapat menyerap materi pembelajaran baik itu kognitif, psikomotor
dan afektif secara optimal mengingat mereka ini sudah lebih mahir dalam
berkomunikasi baik melalui membaca, menulis, maupun berdiskusi, disamping itu
pada kelas ini model pembelajaran PKn yang demokratis menekankan pendekatan
berdiskusi.
b. Peserta didik akan menikmati pembelajaran yang menarik dan menyenangkan
karena mereka akan dapat bekerja secara individu tanpa dipengaruhi oleh temantemannya yang seusia
c. Peserta didik tidak dibeda-bedakan menurut kecerdasannya, dan tidak terkotakkotak dalam kelas heterogen, meskipun mereka dapat bekerja secara individual
dan tidak mengganggu teman-temannya yang sebangku atau sekelompok
d. Peserta didik dapat bebas mengemukakan pendapatnya tidak dipengaruhi oleh
teman-temannya yang ada dalam kelas homogen, kebebasan berpendapat
merupakan salah satu ciri dalam kelas demokratis
e. Peserta didik dapat melihat kemampuannya sendiri jika dihubungkan dengan
teman-temannya yang lain.
5. Dalam kegiatan eksplorasi, yang kita temukan adalah guru ...
a. Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugastugas tertentu yang bermakna;
b. Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk
memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis.
c. Memberi kesempatan untuk berfikir, menganalisis, menyelesaikan masalah. Dan
bertindak tanpa rasa takut.
d. Memfasilitasi peserta didik dalam pemvbelajaran kooperatif dan kolaboratif;
e. Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang
topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam
takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber.

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

82

Daftar Pustaka

Adnan Warsito. (2007). Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
untuk kelas 4 SD/MI, Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo
Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Dikdasmen. (2004). Pedoman Umum
Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi: Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Model Silabus setiap Mata Pelajaran
(dilengkapi RPP, KTSP dan Panduan Pengembangan Program Penilaian
Kelas, Jakarta, P.T Binatama Raya.
Harsanto, Radno. (2007). Pengelolaan Kelas yang Dinamis, Paradigma baru
Pembelajaran menuju Kompetensi Siswa, Yogyakarta: Kanisius.
Muchtar, Imam; Suhanto, Ign; Djoko Lesmono, A. (2010). Kamus Menjadi Guru
Profesional, FKIP-Universitas Jember.
Permendiknas no 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
Permendiknas no 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
Permendiknas No 41 tahun 2007 tentang standar proses. untuk Satuan Pendidikan dasar
dan menengah, BSNP.

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

83

Glosarium
Indikator KTSP:

ukuran karakteristik,

ciri-ciri pembuatan

atau proses

yang

berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. Indikator


pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kara kerja operasional
yang

dapat

diukur

seperti

mengidentifikasi,

menghitung,

membedakan,

menyimpulkan, menceriterakan kembali, mempraktekkan, mendemons-trasikan


dan mendeskripsikan dan lain lain, indikator dalam KTSP dikembangkan oleh
guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan peserta didik.
Rencana

Pelaksanaan

Pembelajaran

(RPP)

merupakan

rencana

pelaksanaan

pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru untuk mengembangkan suatu


mata pelajaran tertentu yang ada dalam kurikulum.
Silabus merupakan penjabaran Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi dasar (KD) ke
dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian; susunan teratur materi pokok mata
pelajaran tertentu pada kelas/semester tertentu

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

84

Umpan Balik :
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat di bagian
akhir materi unit ini. Bandingkan jawaban Anda dengan Kunci jawaban yang tersedia
untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi subunit ini. Interpretasi
tingkat penguasaan yang Anda capai adalah dengan rumus:
Jumlah soal benar
________________ X 100%
Jumlah soal
Jawaban Anda 90 % - 100 % sesuai dengan kunci jawaban = baik sekali
Jawaban Anda 80 % - 89 % sesuai dengan kunci jawaban = baik
Jawaban Anda 70 % - 79 % sesuai dengan kunci jawaban = cukup
Jawaban Anda < 70 % yang sesuai dengan kunci jawaban = kurang

Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80 % ke atas, berarti Anda telah mencapai
kompetensi yang diharapkan pada subunit ini dengan baik. Anda dapat meneruskan dengan
materi subunit selanjutnya. Namun sebaliknya, apabila tingkat penguasaan Anda terhadap
materi ini masih di bawah 80 %, Anda perlu mengulang kembali materi subunit ini,
terutama bagian yang belum Anda kuasai

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

85

Kunci Jawaban Tes Formatif 4


1. c
2. a
3. d
4. a
5. e

Pengembangan Silabus dan RPP PKn-SD

86

Glosarium

Analisis nilai, model pembelajaran dan sebagai pendekatan: merupakan model pembelajaran
yang menekankan pada esensi kompleksitas pemikiran tertinggi dalam pendidikan
moral PKn.
Kerja sama, (Cooperative Learning), sebagai model dalam Strategi Pembelajaran:
merupakan Bentuk pendekatan yang menekankan kepada proses kerja sama dalam suatu
kelompok yang dapat terdiri dari 3 sampai 5 orang siswa
Model: pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu yang akan dibuat atau
dihasilkan.
Model-model pembelajaran: Kerangka konseptual yang dipergunakan sebagai pedoman dalam
melakukan kegiatan atau pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran (by teaching style): salah satu cara yang dipergunakan untuk
mengatasi keberagaman siswa dalam pengelolaan peserta didik.
Pendekatan tematik: merupakan strategi pembelajaran dengan pengembangan materi pokok
yang bertitik tolak dari sebuah tema.
Permainan/games, model pembelajaran: model/metode pembelajaran permainan/games dapat
dilaksanakan dan menjadi efektif, bermakna, dan tetap menyenangkan apabila
dikembangkan dengan prinsip-prinsip. (Mier, Dave, 2000, the accelerated Learning:
205 Mier menyebutnya sebagai metode pembelajaran).
Portofolio: kumpulan hasil karya seseorang siswa yang terseleksi sesuai dengan kepentingannya
Strategi pembelajaran: pola pembelajaran dari proses kegiatan belajar mengajar
Talking Stick, model pembelajaran: model pembelajaran dengan mengaktifkan peserta didik
melalui permainan.
Think-Pair-Share, sebagai pendekatan pembelajaran: untuk melatih peserta didik menguasai
materi pembelajaran dengan bertukar pikiran dengan kelompok lain.