Anda di halaman 1dari 23

Kumpulan

dongeng

Disusun oleh:David Cahyo.N


Kelas
.

:Tujuh C

FABEL :kancil

mencuri

timun
Pagi yang sangat cerah. Matahari bersinar dengan indah. Pak Tani bersiapsiap pergi ke ladang dengan sangat gembira dengan memanggul pacul.
Aku akan pergi ke ladang untuk memeriksa kebun timunku, mungkin saja
besok sudah bisa dipanen.
Sesampainya di kebun timun Pak Tani sangat terkejut. Buah timun di
kebunnya banyak yang rusak.
Aduh siapa yang berani merusak buah timunku ini. Mengapa harus
dirusak? Aku bukan petani yang pelit, jika ada orang yang mau timunku
ambil saja. Tapi tidak untuk dirusak

Fabel Cerita Rakyat si kancil sedang asik menyantap mentimun


Dengan hati muram Pak Tani pulang ke rumah. Ia menduga-duga hewan
apakah yang suka makan mentimun.
Pasti hewan yang merusak dan mencuri kebun mentimun ku adalah si
Kancil. Gumam Pak Tani.

Pak Tani mencari akal untuk menjebak si Kancil. Pak Tani akhirnya berhasil
mencari akal untuk menjebak si Kancil dengan membuat orang-orangan
yang di beri pelekat sangat kuat. Menjelang sore orang-orangan itu sudah
selesai dibuat dan di bawa ketengah kebun timun untuk di pasang.
Aku tahu kancil hewan yang sangat cerdik, dia bisa melakukan apa saja
untuk mencuri timunku.
Ternyata dugaan Pak Petani benar, malam harinya Kancil datang untuk
mengambil mentimun. Kancil tertawa melihat orang-orangan yang di buat
Pak Tani.
Haha.. hanya orang-orangan, siapa takut?

kancil memukul orang-orangan sawah


Kancil hanya melewati orang-orangan itu. Ia memakan timun yang mudamuda. Ternyata tak banyak yang di makan si Kancil. Hanya 3 buah timun ia
sudah merasa kenyang. Ia juga tidak merusak timun yang lainnya.
Setelah makan timun. Kancil menghampiri orang-orangan yang dibuat Pak
Tani, dan sifat jail si Kancil. Ia pukul orang-orangan itu dengan kaki
depannya.
Aduh kenapa melekat seperti ini? Kaki ku tidak dapat di gerakkan!
Kancil sangat kaget.!
Hei orang-orangan jelek. Lepaskan kakiku. Kalau tidak, akan kupukul lagi
kau!

Kancil memukul orang-orangan itu dengan kaki yang satu lagi.


Plak! kini kedua kakinya menempel erat pada baju orang-orangan itu.
Pelekat yang di pasang Pak Petani di baju orang-orangan itu sangat kuat.
Kancil tak bisa melepaskan diri. Sekuat tenaga ia berusaha tetapi tidak
berhasil. Semalaman Kancil menangis.
Pagi harinya Pak Tani datang.
Ku tangkap kau Kancil. Dasar biang kerok. Kau boleh mengambil makan
timunku Cil. Tapi tidak untuk merusak buah yang lain.
Ampun Pak Tani. Bukan aku yang merusak timunmu, aku hanya makan 23 buah timun. Dan perutku sudah merasa sangat kenyang.
Pak Tani tidak percaya dengan perkataan si Kancil. Leher si Kancil di ikat
dan di seret Pak Tani ke rumahnya.

ireng anjing pak tani heran melihat kancil sedang di kurung


Sesampainya di rumah Pak Tani, Kancil langsung diletakkan di dalam
kurungan ayam.
Kancil . Batu ini sangat kuat. Kau tak dapat meloloskan diri dari sini. Aku
akan pergi sebentar ke pasar untuk membeli bumbu sate.
Ampunilah aku Pak Tani, jangan sate aku. Dagingku pahit dan tidak enak.
Si Kancil merengek meminta ampun.

Pada saat Pak Tani pergi ke pasar untuk membeli bumbu sate, ada seekor
anjing yang merupakan peliharaan Pak Tani datang menghampiri kurungan
si Kancil. Anjing hitam itu bernama Ireng.
Kenapa kau di kurung? Tanya si Ireng.
Apa kau tak tau Reng? Kancil membalas pertanyaan Si Ireng Anjing milik
Pak Tani.
Katakan ada apa sebenernya Cil?
Begini Reng, aku ini akan di jadikan menantu oleh Pak Tani. Mangkannya
Pak Tani pergi ke pasar untuk membeli makanan yang lezat-lezat untukku
calon menantunya.
Hah..? Kamu itu tidak pantas Cil, badan mu kecil. Lebih baik aku saja
yang menjadi menantu Pak Tani. Aku sudah bertahun-tahun menjadi
peliharaannya
Tapi Pak Tani sudah memilih aku Reng. Sudah sana pergilah kau Ireng!
Si Ireng tiba-tiba menggerang marah, Cil, kalau kau tidak mau aku
gantikan sekarang juga batu yang ada di atas kurangan itu akan aku
dorong dan lehermu akan ku gigit sampai putus.
Wah.. Jangan gitu dong !
Mau apa tidak?
Baik-baik aku turuti keinginanmu.

Si Kancil berlari sekuat tenaga menghindari kejaran si ireng dan pak tani

Si Ireng mendorong batu hingga terjatuh, kurungan itu terbuka dan Kancil
keluar dari kurungannya. Sedangkan Ireng menggantikkan Kancil masuk ke
dalam kurungan.
Selamat Ireng, sebentar lagi kau akan menjadi menantu Pak Tani. Kata
Kancil sambil berlari kencang.
Sesaat kemudian Pak Tani datang. Ia sangat kaget melihat Kancil yang
berada di kurungan berubah menjadi Ireng anjing peliharannya.
Hormat saya calon mertua. Kata anjing dengan gembira.
Calon Mertua katamu? Hey kamu kemanakan si Kancil. Pak Tani
bertanya dengan nada gusar.
Sudah pergi ke hutan Pak Tani !
Kau sungguh-sungguh mau menjadi menantuku?
Benar sekali tuan. jawab Si Ireng dengan gembira.
Sekarang keluarlah dari kurungan itu, lau duduklah yang manis dan
pejamkan mata. Aku akan segera memanggil putriku didalam rumah.
Ireng segera menuruti permintaan dari Pak Tani. Dia sangat gembira
karena akhirnya dia bisa menjadi keluarga dari Pak Tani.
Ini hadiah untukmu ! teriak Pak Tani memukul kepala dan punggung si
Anjing.
Tungguuuuuu! Bleg ! bleg !. ampuuuunnn..!
Si Ireng menjerit dan melarikkan diri. Dia baru sadar bahwa telah terjebak
dalam tipu muslihat si Kancil. Ia sangat marah karena ditipu si Kancil.
Awas kau Kancil jika nanti ketemu akan ku gigit kau! Ireng yang sangat
marah karena di tipu si Kancil. Seluruh badannya masih terasa sakit
setelah di pukul Pak Tani. Anjing berlari sangat kencang mengejar si Kancil.
Kancil sudah mencoba berlari sekencang yang dia bisa. Namun kecepatan
si Kancil memang belum bisa dibandingkan dengan Ireng yang merupakan

anjing pemburu, maka dalam beberapa saat Si Ireng sudah bisa berada di
belakang.
Wah gawat. Ireng sudah berada dibelakangku, kata Kancil dalam hati.
Aku harus segera bersembunyi

LEGENDA:RAWA PENING
Pada zaman dahulu di desa Ngasem hidup seorang gadis bernama
Endang Sawitri. Penduduk desa tak seorang pun yang tahu kalau Endang
Sawitri punya seorang suami, namun ia hamil. Tak lama kemudian ia
melahirkan dan sangat mengejutkan penduduk karena yang dilahirkan
bukan seorang bayi melainkan seekor Naga. Anehnya Naga itu bisa
berbicara seperti halnya manusia. Naga itu diberi nama Baru Klinting.
Di usia remaja Baru Klinting bertanya kepada ibunya. Bu, Apakah saya ini
juga mempunyai Ayah?, siapa ayah sebenarnya. Ibu menjawab, Ayahmu
seorang raja yang saat ini sedang bertapa di gua lereng gunung Telomaya.
Kamu sudah waktunya mencari dan menemui bapakmu. Saya ijinkan kamu
ke sana dan bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu.
Dengan senang hati Baru Klinting berangkat ke pertapaan Ki Hajar
Salokantara sang ayahnya.
Sampai di pertapaan Baru Klinting masuk ke gua dengan hormat, di depan
Ki Hajar dan bertanya, Apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar
Salokantara? Kemudian Ki Hajar menjawab, Ya, benar, saya Ki Hajar
Salokantara. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar, Baru Klinting
mengatakan berarti Ki Hajar adalah orang tuaku yang sudah lama aku caricari, aku anak dari Endang Sawitri dari desa Ngasem dan ini Klintingan
yang konon kata ibu peninggalan Ki Hajar. Ya benar, dengan bukti
Klintingan itu kata Ki Hajar. Namun aku perlu bukti satu lagi kalau memang
kamu anakku coba kamu melingkari gunung Telomoyo ini, kalau bisa,
kamu benar-benar anakku. Ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya dan
Ki Hajar mengakui kalau ia benar anaknya. Ki Hajar kemudian
memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan lereng gunung.
Suatu hari penduduk desa Pathok mau mengadakan pesta sedekah bumi
setelah panen usai. Mereka akan mengadakan pertunjukkan berbagai
macam tarian. Untuk memeriahkan pesta itu rakyat beramai-ramai mencari
hewan, namun tidak mendapatkan seekor hewan pun. Akhirnya mereka
menemukan seekor Naga besar yang bertapa langsung dipotong-potong,
dagingnya dibawa pulang untuk pesta. Dalam acara pesta itu datanglah
seorang anak jelmaan Baru Klinting ikut dalam keramaian itu dan ingin
menikmati hidangan. Dengan sikap acuh dan sinis mereka mengusir anak
itu dari pesta dengan paksa karena dianggap pengemis yang menjijikkan
dan memalukan. Dengan sakit hati anak itu pergi meninggalkan pesta. Ia
bertemu dengan seorang nenek janda tua yang baik hati. Diajaknya

mampir ke rumahnya. Janda tua itu memperlakukan anak seperti tamu


dihormati dan disiapkan hidangan. Di rumah janda tua, anak berpesan,
Nek, Kalau terdengar suara gemuruh nenek harus siapkan lesung, agar
selamat!. Nenek menuruti saran anak itu.
Sesaat kemudian anak itu kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta
hidangan dalam pesta yang diadakan oleh penduduk desa. Namun warga
tetap tidak menerima anak itu, bahkan ditendang agar pergi dari tempat
pesta itu. Dengan kemarahan hati anak itu mengadakan sayembara. Ia
menancapkan lidi ke tanah, siapa penduduk desa ini yang bisa
mencabutnya. Tak satu pun warga desa yang mampu mencabut lidi itu.
Akhirnya anak itu sendiri yang mencabutnya, ternyata lubang tancapan tadi
muncul mata air yang deras makin membesar dan menggenangi desa itu,
penduduk semua tenggelam, kecuali Janda Tua yang masuk lesung dan
dapat selamat, semua desa menjadi rawa-rawa,
karena airnya sangat bening, maka disebutlah Rawa Pening yang berada
di kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

MITE:NYA RORO KIDUL


Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita.
Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang
berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari
Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang
putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu
berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah
dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian
tersebut. Maka, bahagialah sang raja.
Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia
pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi
Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja

menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak.


Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun
yang ingin bertindak kasar pada putriku, kata Raja Munding
Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan
berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi
walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya
itu.
Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara
mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia
ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. Aku ingin
tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila
engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang
tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Sang dukun menuruti
perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah
dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia
menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul.
Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat
apa.
sangat
sedih
dan
mengundang
banyak
tabib
untuk
menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit
putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau
mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika
Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya.
Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri, kata
Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi
gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui
usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.
Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana
harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang
memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada
ibu
tirinya,
malahan
ia
selalu
meminta
agar
Tuhan
mendampinginya dalam menanggung penderitaan..
Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya
tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya

bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru
atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba,
ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat
terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia
pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih
cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki
kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi
seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai
Samudera Selatan yang hidup selamanya.
Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda
Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang
pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan
seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan
Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah
seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta
kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari
Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika
muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah
bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi
penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika
keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak
di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa
secara bergantian.
Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan
Mataram Ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk
mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan
kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik
perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk
membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari
rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana
bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo,
kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan
berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa,
dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun
melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.

Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu


Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan. Versi
pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan
versi yang kedua terdapat dalam Babad Tanah Jawi. Kedua cerita
tersebut memang berbeda, tapi anda jangan bingung. Anda tidak
perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling benar.
Cerita-cerita di atas hanyalah sebuah pengatar bagi tulisan
selanjutnya.
Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta
Percayakah anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau
Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari anda
mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka
yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta.
Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita
Kanjeng Ratu Kidul memang masih tetap menjadi polemik. Tapi
terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata,
bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan
eksistensi Keraton Yogyakarta. Hubungan antara Kanjeng Ratu
Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum dalam
Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas,
versi kedua). Hubungan seperti apa yang terjalin di antara
keduanya?
Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul
menyebutkan bahwa masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi
yang
mementingkan
keharmonisan,
keselarasan
dan
keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari
lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai
lingkungan alam sangat penting dilakukan.
Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan
lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan
yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka penggunaan
simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan
makhluk halus, maka Javanisme mengenal penguasa makhluk
halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu,

Kayangan nDelpin, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan


inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat
penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk
mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam
masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan
makhluk-makhluk halus tersebut.
Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu
Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola
negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat oleh
mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan
sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan
baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional
keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta,
yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono,
menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini
bertujuan
untuk
kesejahteraan
sultan
dan
masyarakat
Yogyakarta.
Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat
tari
Bedaya
Lambangsari
dan
Bedaya
Semang
yang
diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang
Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan
di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km
sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang
dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat
pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu
Kidul.
Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya
diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh
masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu
buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di
Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena diambil
oleh sang RatU

Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton


Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang
disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada
Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram,
untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga
kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua
keraton (Yogyakarta dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama
(Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta,
Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk
penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya
adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo
Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat
peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang
mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang
Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya
sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari
kesepuluh yang nampak berkilauan.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke
daerah Jawa Barat. Anda pasti pernah mendengar, bahwa ada
sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera
Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu
Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa
masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang
menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar
ini adalah salah satu simbol gaib yang dipakai oleh mantan
presiden Soekarno.
Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda
Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai
Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika
anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau
negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri
yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu
orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung
wujud sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia,
(almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan
dalam sebuah lukisan.

SAGE:JAKA TINGKIR

Silsilah JokoTingkirlah JokoTingkir

Ilustrasi gambar Mas Karebet atau Sultan Adiwijaya.


Kedigjayaan Jaka Tingkir yang begitu melegenda di Tanah Jawa tidak bisa
dilepaskan dari pusaka berupa ikat pinggang (timang) Kiai Bajulgiling yang
diberikan gurunya Ki Buyut Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro.

Karena konon timang Kiai Bajulgiling dibuat oleh Ki Buyut Banyubiru dari biji
baja murni yang diambil dari dalam gumpalan magma lahar Gunung Merapi dan
kulit buaya. Dengan kekuatan gaibnya, bijih baja murni itu oleh Ki Banyubiru
dibuat menjadi pusaka.
Berdasarkan Babad Jawi dan Babad Pengging, kekuatan gaib yang dimiliki timang
Kiai Bajulgiling ialah, barang siapa yang memakai ikat pinggang Kiai Bajulgiling
ini, maka dia akan kebal dari segala macam senjata tajam dan ditakuti semua
binatang buas.
Hal ini selain kekuatan alami yang dimiliki oleh inti biji baja murni itu sendiri,
juga karena adanya kekuatan rajah berkekuatan gaib yang diguratkan Ki Banyubiru
di seputar timang berkulit buaya tersebut.
Kekuatan dan keampuhan ikat pinggang Kiai Bajulgiling beberapa kali dialami dan
dibuktikan sendiri oleh JakaTingkir.
Sebelum berguru ke Ki Banyubiru, Jaka Tingkir atau Mas Karebet ini pernah juga
berguru ke Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Sela.
Setelah berguru kepada Ageng Sela, dan Sunan Kalijaga, Jaka Tingkir lalu disuruh
untuk mengabdi ke Keraton Demak Bintoro.
Di Kesultanan Demak ini Jaka Tingkir melamar sebagai pengawal pribadi.
Keberhasilannya meloncati kolam masjid dengan lompatan ke belakang tanpa
sengaja, karena sekonyong-konyong Jaka Tingkir harus menghindari Sultan dan
para pengiringnya memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat sebagai
pengawal.
Jaka Tingkir pun pandai menarik simpati raja Demak Trenggono sehingga dia
diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat Lurah Wiratamtama.
Beberapa waktu kemudian, Jaka Tingkir ditugaskan menyeleksi penerimaan
prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka
pamer.
Ketika dihadapan Jaka Tingkir, Dadungawuk tidak ingin diseleksi seperti yang
lain, namun malah ingin menjajal kesaktian dari Jaka Tingkir.

Karena merasa diremehkan, Jaka Tingkir sakit hati dan tidak bisa menahan
emosinya sehingga Dadungawuk ditusuk dengan Sadak Kinang (tusuk konde) yang
menembus jantungnya.
Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak karena
konon Dadungdawuk juga merupakan kerabat Kesultanan Demak.
Kepergiannya menimbulkan rasa sedih yang mendalam pada kawan-kawannya.
Dengan rasa putus asa Jaka Tingkir pulang kembali dan ingin mati saja.
Dua orang pertapa, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang (suami dari putri
Bondan Kejawen atau adik Ki Ageng Getas Pendawa, kakek buyut Panempahan
Senopati) memberinya semangat.
Ketika Jaka Tingkir berziarah pada malam hari di makam ayahnya di Pengging.
Disana Jaka Tingkir mendengar suara atau wangsit yang menyuruhnya pergi ke
tokoh keramat lain, yaitu Ki Buyut dari Banyubiru.
Lalu Mas Karebet atau Jaka Tingkir pergi menemui Ki Buyut Banyubiru. Ki
Banyubiru yang telah mengetahui maksud kedatangan Jaka Tingkir pun langsung
menerimanya sebagai murid.
Oleh guru yang sakti ini, Jaka Tingkir diberikan pelajaran-pelajaran ilmu
kedigjayaan di Gunung Lawu. Salah satunya adalah dengan merendam diri dalam
sungai yang dingin, dengan tujuan dapat mengendalikan hawa nafsu dalam diri
Jaka Tingkir.
Setelah beberapa bulan lamanya Jaka Tingkir menimba ilmu, Ki Buyut Banyubiru
sudah memperbolehkan Jaka Tingkir untuk menemui Sultan Demak guna
memohon pengampunan atas kesalahan yang pernah dilakukannya yaitu
membunuh Dadungawuk.
Sebelum berangkat ke Demak Ki Buyut Banyubiru memberikannya azimat Timang
Kiai Bajulgiling.
Perjalanan kembali Jaka Tingkir ke Demak dilakukan dengan getek (rakit yang
hanya terdiri dari susunan beberapa batang bambu).

Saat akan melewati Kedung Srengenge, Jaka Tingkir menghadapi hambatan karena
adanya sekawanan buaya, kurang lebih berjumlah 40 ekor, yang menjadi penghuni
dan penjaga kedung tersebut.
Percaya dengan kekuatan gaib dari timang ikat pinggang pemberian Ki Buyut
Banyubiru, Jaka Tingkir nekad mengayuhkan geteknya memasuki kawasan
Kedung Srengenge.
Bahaya pun mengancam ketika sekawanan buaya menghadang dan mengitari
rakitnya. Namun berkat kekuatan gaib dari Timang Kiai Bajulgiling, buaya-buaya
yang semula buas beringas seketika menjadi lemah dan akhirnya tunduk pada Jaka
Tingkir.
Bahkan keempat puluh buaya ekor buaya itu menjadi pengawal perjalanan Jaka
Tingkir selama menyebrangi Kedung Srengenge dengan berenang di kiri-kanan,
depan dan belakang rakitnya (bersambung).

PARABEL:SI MALIN KUNDANG


Pada zaman dahulu di sebuah perkampungan nelayan Pantai Air
Manis di daerah Padang, Sumatera Barat hiduplah seorang janda bernama
Mande Rubayah bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Malin
Kundang. Mande Rubayah amat menyayangi dan memanjakan Malin
Kundang. Malin adalah seorang anak yang rajin dan penurut.
Mande Rubayah sudah tua, ia hanya mampu bekerja sebagai penjual kue
untuk mencupi kebutuhan ia dan anak tunggalnya. Suatu hari, Malin jatuhsakit. Sakit yang amat keras, nyawanya hampir melayang namun akhirnya
ia dapat diseiamatkan-berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh dari
sakitnya ia semakin disayang. Mereka adalah ibu dan anak yang saling
menyayangi. Kini, Malin sudah dewasa ia meminta izin kepada ibunya
untuk pergi merantau ke kota, karena saat itu sedang ada kapal besar
merapat di Pantai Air Manis.
"Jangan Malin, ibu takut terjadi sesuatu denganmu di tanah rantau sana.
Menetaplah saja di sini, temani ibu," ucap ibunya sedih setelah mendengar
keinginan Malin yang ingin merantau.
"Ibu tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa denganku," kata Malin sambil
menggenggam tangan ibunya. "Ini kesempatan Bu, kerena belum tentu

setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini. Aku ingin mengubah
nasib kita Bu, izinkanlah" pinta Malin memohon.
"Baiklah, ibu izinkan. Cepatlah kembali, ibu akan selalu menunggumu
Nak," kata ibunya sambil menangis. Meski dengan berat hati akhirnya
Mande Rubayah mengizinkan anaknya pergi. Kemudian Malin dibekali
dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus, "Untuk
bekalmu di perjalanan," katanya sambil menyerahkannya pada Malin.
Setelah itu berangkatiah Malin Kundang ke tanah rantau meninggalkan
ibunya sendirian.
Hari-hari terus berlalu, hari yang terasa lambat bagi Mande Rubayah.
Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut, "Sudah sampai
manakah kamu berlayar Nak?" tanyanya dalam hati sambil terus
memandang laut. la selalu mendo'akan anaknya agar selalu selamat dan
cepat kembali.
Beberapa waktu kemudian jika ada kapal yang datang merapat ia selalu
menanyakan kabar tentang anaknya. "Apakah kalian melihat anakku,
Malin? Apakah dia baik-baik saja? Kapan ia pulang?" tanyanya. Namun
setiap ia bertanya pada awak kapal atau nahkoda tidak pernah
mendapatkan jawaban. Malin tidak pernah menitipkan barang atau pesan
apapun kepada ibunya.
Bertahun-tahun Mande Rubayah terus bertanya namun tak pernah ada
jawaban hingga tubuhnya semakin tua, kini ia jalannya mulai terbungkukbungkuk. Pada suatu hari Mande Rubayah mendapat kabar dari nakhoda
dulu membawa Malin, nahkoda itu memberi kabar bahagia pada Mande
Rubayah.
"Mande, tahukah kau, anakmu kini telah menikah dengan gadis cantik,
putri seorang bangsawan yang sangat kaya raya," ucapnya saat itu.

Mande Rubayah amat gembira mendengar hal itu, ia selalu berdoa agar
anaknya selamat dan segera kembali menjenguknya, sinar keceriaan mulai
mengampirinya kembali. Namun hingga berbulan-bulan semenjak ia
menerima kabar Malin dari nahkoda itu, Malin tak kunjung kembali untuk
menengoknya.
"Malin cepatlah pulang kemari Nak, ibu sudah tua Malin, kapan kau
pulang...," rintihnya pilu setiap malam. Ia yakin anaknya pasti datang.
Benar saja tak berapa lama kemudian di suatu hari yang cerah dari
kejauhan tampak sebuah kapal yang megah nan indah berlayar menuju
pantai. Orang kampung berkumpul, mereka mengira kapal itu milik seorang
sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.
Ketika kapal itu mulai merapat, terlihat sepasang anak muda berdiri di
anjungan. Pakaian mereka berkiiauan terkena sinar matahari. Wajah
mereka cerah dihiasi senyum karena bahagia disambut dengan meriah.
Mande Rubayah juga ikut berdesakan mendekati kapal. Jantungnya
berdebar keras saat melihat lelaki muda yang berada di kapal itu, ia sangat
yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anaknya, Malin Kundang. Belum
sempat para sesepuh kampung menyambut, Ibu Malin terlebih dahulu
menghampiri Malin. la langsung memeluknya erat, ia takut kehilangan
anaknya lagi.
"Malin, anakku. Kau benar anakku kan?" katanya menahan isak tangis
karena gembira, "Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?"

Malin terkejut karena dipeluk wanita tua renta yang berpakaian compang
camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya. Sebelum dia
sempat berpikir berbicara, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata,
"Wanita jelek inikah ibumu? Mengapa dahulu kau bohong padaku!"
ucapnya sinis, "Bukankah dulu kau katakan bahwa ibumu adalah seorang
bangsawan yang sederajat denganku?!"
Mendengar kata-kata pedas istrinya, Malin Kundang langsung mendorong
ibunya hingga terguling ke pasir, "Wanita gila! Aku bukan anakmu!"
ucapnya kasar.
Mande Rubayah tidak percaya akan perilaku anaknya, ia jatuh terduduk
sambil berkata, "Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak! Mengapa kau
jadi seperti ini Nak?!" Malin Kundang tidak memperdulikan perkataan
ibunya. Dia tidak akan mengakui ibunya. la malu kepada istrinya. Melihat
wanita itu beringsut hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil
berkata, "Hai, wanita gila! lbuku tidak seperti engkau! Melarat dan kotor!"
Wanita tua itu terkapar di pasir, menangis, dan sakit hati.

Orang-orang yang meilhatnya ikut terpana dan kemudian pulang ke rumah


masing-masing. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia

sadar, Pantai Air Manis sudah sepi. Dilihatnya kapal Malin semakin
menjauh. Ia tak menyangka Malin yang dulu disayangi tega berbuat
demikian. Hatinya perih dan sakit, lalu tangannya ditengadahkannya ke
langit. Ia kemudian berdoa dengan hatinya yang pilu, "Ya, Tuhan, kalau
memang dia bukan anakku, aku maafhan perbuatannya tadi. Tapi kalau
memang dia benar anakku yang bernama Malin Kundang, aku mohon
keadilanmu, Ya Tuhan!" ucapnya pilu sambil menangis. Tak lama kemudian
cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi
gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Tiba-tiba datanglah
badai besar, menghantam kapal Malin Kundang. Laiu sambaran petir yang
menggelegar. Saat itu juga kapal hancur berkeping- keping. Kemudian
terbawa ombak hingga ke pantai.
Esoknya saat matahari pagi muncul di ufuk timur, badai telah reda. Di kaki
bukit terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin
Kundang! Tampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Itulah
tubuh Malin Kundang anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi batu
karena telah durhaka. Disela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan
belanak, dan ikan tengiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang
istri yang terus mencari Malin Kundang.
Sampai sekarang jika ada ombak besar menghantam batu-batu yang mirip
kapal dan manusia itu, terdengar bunyi seperti lolongan jeritan manusia,
terkadang bunyinya seperti orang meratap menyesali diri, "Ampun, Bu...!
Ampuun!" konon itulah suara si Malin Kundang, anak yang durhaka pada
ibunya.