Anda di halaman 1dari 40

Skip to content

YERMIA RIEZKY

Feature, Jurnalisme

Beranda
Negeri
Menghadapi
Masyarakat Ekonomi ASEAN

Era

Sebagai beranda Republik Indonesia, Kota Batam berfungsi sebagai etalase yang menampilkan
citra negara pada negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Namun, sejumlah persoalan
membuat kota industri ini bergulat dengan pemenuhan kebutuhan dasar warganya. Padahal, era
Masyarakat Ekonomi Asean semakin mendekat. Apa yang perlu dibenahi Batam?
Dalam acara Musyawarah Daerah Real Estate Indonesia Khusus Batam, 16 April 2014 lalu,
Profesor Budi dari Universitas Gadjah Mada, mengungkapkan peluang Batam untuk menjadi
kota metropolitan berskala dunia dan madani serta menjadi andalan pusat perekonomian dunia.
Peluang itu didukung kenyataan bahwa Batam berada di jalur pelayaran internasional dan
menjadi pulau dengan kota yang paling berkembang yang berada dekat dengan garis terluar
Indonesia.
Perkembangan Batam sebagai salah satu tumpuan ekonomi nasional merupakan buah pemikiran
Baharuddin Jusuf Habibie ketika menjadi Kepala Otorita Batam pada 1978-1998. Di masa
kepemimpinannya, Batam diubah dari rencana semula sebagai pulau yang mendukung usaha
Pertamina menjadi daerah industri yang pesat.
Keberadaan pulau Batam yang berhadapan langsung dengan negara tetangga Singapura menjadi
pertimbangan Habibie mengembangkan Batam sebagai salah satu pusat perekonomian nasional.
Presiden RI ketiga itu memiliki cita-cita perekonomian Batam dapat menyamai negara pulau
Singapura.
Sebagai awal, Habibie mengembangkan Batam sebagai daerah penopang kegiatan industri
perusahaan-perusahaan internasional yang berkedudukan di Singapura. Pada tahun 1989, dengan
bantuan investor asal Singapura, dibangun kawasan Industri Batamindo seluas 6000 hektare.
Hingga kini kawasan industri ini menjadi yang terbesar di Batam. Selanjutnya pada masa
Habibie juga Indonesia menjalin kerjasama segitiga pembangunan Singapura-Johor-Riau (Sijori)
untuk mengembangkan Batam. Dalam kerjasama itu, masing-masing lokasi memiliki fungsinya
masing-masing. Singapura sebagai penyedia modal, sementara Johor dan Batam berfungsi
sebagai lokasi pembangunan kawasan industri.
Meski memiliki fungsi yang sama dengan Johor, Batam memiliki keuntungan dari harga lahan
yang lebih murah dan tenaga kerja yang melimpah. Insentif bebas pajak bagi barang-barang
impor industri membuat investor senang menamkan modalnya di Batam. Pertumbuhan ekonomi
Batam pun mentereng, mencapai 17 persen pada masa kepemimpinan Habibie. Ini mengundang,
selain investor juga tenaga kerja yang ingin mengadu nasib di Batam.
Sekitar dua dekade pada 1980-an dan 1990-an, arus tenaga kerja ke Batam mendorong
pertumbuhan penduduk Batam. Pada dua dekade itu, pertumbuhan penduduk bisa mencapai 21

persen. Mau tak mau perekonomian pun bergerak untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang
semakin banyak. Pada akhir 1990-an, penduduk Batam mencapai sekitar 400 ribu, Pulau Batam
yang sebelumnya hanya dihuni 6000 penduduk yang bekerja sebagai nelayan dan penyadap karet
dan damar berubah menjadi kota industri yang kini berpenduduk 1,3 juta jiwa.
Lama kelamaan Batam menjadi sebuah kota yang menarik. Tak hanya menjadi kota industri,
namun juga menjadi kota wisata. Banyaknya pekerja asing membuat bisnis hiburan berkembang.
Ia memancing wisatawan mancanegara datang ke Batam. Harga kebutuhan penunjang
kesenangan yang murah membuat warga Singapura dan Malaysia semakin banyak berkunjung
dari waktu ke waktu. Sementara itu turis domestik cenderung melihat Batam jadi lokasi belanja
perangkat elektronik dengan harga yang murah.
Perlahan secara keruangan (spasial) Kota Batam berkembang. Dari awal hanya berpusat di
daerah Sekupang, lalu muncul kawasan Jodoh di Batuampar yang menjadi pusat perekonomian
pada awal 1980-an. Berkembangnya Jodoh membuat kawasan Nagoya di Lubukbaja tumbuh.
Kawasan perumahan juga berkembang di daerah Sagulung, Batuaji, dan Bengkong. Nongsa yang
dulunya kampung nelayan juga semakin mulai berkembang. Terakhir, kawasan Batam Centre
dikembangkan untuk menjadi pusat pemerintahan dan kantor BP Batam, sementara pusat
perekonomian Batam kini berada di Nagoya.
Dampak Pertumbuhan Penduduk
Berkembangnya Kota Batam dengan penduduk yang semakin banyak namun lahan terbatas
menimbulkan persoalan. Persoalan fisik dan sosial perkotaan bermunculan. Dari sisi persoalan
fisik, kebutuhan lahan permukiman dan industri semakin banyak. Umumnya kontur pulau Batam
bergelombang dengan wilayah perbukitan yang menutupi hampir seluruh bagian Pulau Batam.
Rekayasa kemudian dilakukan dengan melakukan cut and fill. Bukit-bukit dipotong dan
diratakan, sementara materialnya ditumpuk di sejumlah lokasi yang cekung. Tak jarang, material
tersebut diurug di lahan rawa yang banyak terdapat di Batam.
Rekayasa seperti ini bukannya tanpa masalah. Sejumlah perubahan yang dilakukan pada lahan
membuat proses-proses alamiahnya terganggu. Bukit dengan hutan sedianya menjadi penyerap
hujan banyak yang hilang, sedangkan cekungan yang secara alami menjadi lokasi berkumpulnya
air hujan telah ditimbun dan berubah menjadi lahan permukiman, industri, atau niaga. Akhirnya,
karena kondisi curah hujan Batam yang tinggi, setiap kali hujan lebat disertai badai, genangan
selalu muncul di berbagai lokasi di Batam. Yang terkenal, genangan akan menutupi kawasan
Simpang Kabil, Simpang Jam, Kompleks kantor Pemko dan DPRD Batam, beberapa daerah di
Bengkong, dan jalan penghubung Batam Centre ke Batuaji. Selain lokasi-lokasi favorit
genangan itu masih banyak lokasi lain yang kerap tergenang kala hujan lebat melanda Batam.
Pemko Batam mencatat terdapat ratusan lokasi genangan yang harus diatasi.
Ketua DPD Real Estate Indonesia Khusus Batam, Djaja Roeslim, mengungkapkan salah satu
yang menjadi pangkal persoalan banjir di Batam adalah tidak adanya master plan drainase kota
Batam. Menurut Djaja, Otorita Batam pernah membuat master plan itu, namun hal itu sudah
lama sekali dan perkembangan kota saat ini jauh meninggalkan apa yang dirancang dalam master
plan tersebut.

Saat ini banyak area yang dulu menjadi jalur hijau namun sudah terbangun. Kalau begitu
seharusnya ada master plan baru yang menggantikan master plan yang lama, namun sampai
sekarang master plan tersebut belum ada, ungkap Djaja.
Salah satu fungsi master plan drainase adalah untuk menegaskan di mana saja jalur yang telah
ditetapkan sebagai saluran, terutama saluran primer dan sekunder. Penentuan itu membuat BP
Batam sebagai pemegang hak atas lahan dapat menentukan lahan-lahan yang telah ditetapkan
sebagai drainase tidak boleh dialokasikan menjadi bangunan. Perusahaan yang mendapat alokasi
lahan pun tidak boleh menggunakan lahan drainase untuk pembangunan.
Namun, tidak adanya master plan drainase mutakhir, menurut Djaja, membuat drainase kota
Batam buruk. Ia mencontohkan, banyak perusahaan yang lokasi lahannya berada di bawah lokasi
lahan perusahaan laun membangun drainase yang lebih sempit ketimbang drainase di atasnya.
Akibatnya, drainase sempit yang dibangun tidak dapat menampung debit air yang memenuhi
drainase di atasnya yang lebih lebar. Inundasi alias genangan air pun tak bisa dihindari.
Selain masalah banjir atau genangan, pertambahan penduduk memunculkan persoalan sosial.
Tingkat kriminalitas kota Batam meningkat karena banyak penganggurang yang tidak mampu
memenuhi persyaratan kerja di Batam. Sudah menjadi rahasia umum, dari seluruh pendatang,
yang jumlahnya mencapai 65 persen pertumbuhan penduduk Batam tiap tahunnya, tidak sedikit
yang datang tanpa keterampilan khusus.
Selain masalah kriminal, jalanan Batam juga menjadi lebih padat karena semakin banyak
kendaraan yang memenuhi badan jalan. Data Kantor Samsat Kepri menyebutkan sebanyak 5.000
sepeda motor baru terdaftar di sana setiap bulannya. Sementara kendaraan roda empat bertambah
500-600 unit tiap bulannya. Sampai pertengahan tahun 2013, Samsat mencatat ada 776.343 unit
kendaraan roda dua dan 259.843 unit kendaraan roda empat.
Tahun lalu, Dinas Perhubungan Kota Batam pernah melakukan perhitungan sederhana. Dalam
catatan Dishub, total panjang jalan beraspal di Batam mencapai 912 kilometer. Sekitar 75 persen
(690 kilometer) dari jumlah tersebut sangat sering dilalui. Jika diasumsikan lebar jalan rata-rata
tujuh meter, maka total luas jalan di Batam adalah 4.835.250 meter persegi. Dishub menghitung
rata-rata ukuran kendaraan 4 meter x 2,5 meter sehingga luas jalan yang ditempati mencapai 10
meter persegi. Dari hitungan tersebut, dibutuhkan 483.525 kendaraan untuk memeuhi seluruh
jalanan di Batam hingga seluruh kendaraan itu tidak bergerak. Agar kendaraan bisa bergerak
normal dengan kecepatan 60 kilometer per jam, maka volume kendaraan tidak boleh melebihi
batas toleransi 45 persen hingga 75 persen. Jika jumlah kendaraan ditoleransi hingga 70 persen,
maka idealnya jumlah kendaraan di Batam hanya berjumlah 217.586 unit kendaraan, hanya roda
empat saja.
Persoalannya, Pemerintah Kota Batam belum bisa menyediakan layanan transportasi umum yang
layak bagi warganya, Selain murah, kelayakan itu harus dilihat dari asek keamanan dan
kenyamanan. Angkutan kota yang berseliweran di jalan -jalan Kota Batam kerap beroperasi
hampir tanpa aturan dan kerap ugal-ugalan. Kabar kecelakaan yang melibatkan angkutan kota
kerap terdengar. Kondisi taksi di Batam pun tak kunjung membaik karena taksi gelap masih

banyak beroperasi. Penumpang pun masih sering tawar menawar harga dengan sopir taksi meski
di kendaraan telah terpasang argometer.
Belum lagi masalah perumahan liar (ruli) yang belum tuntas selama bertahun-tahun. Ruli
merupakan bangunan non-permanen atau semi permanen yang dibangun di atas lahan yang
bukan milik sang empunya rumah. Biasanya mereka membangun di atas lahan kosong yang
belum keluar Pengalokasian Lahan (PL)-nya dari BP Batam. Sering juga ruli dibangun di atas
lahan milik investor yang lama dibiarkan terbengkalai. Ruli tetap tumbuh subur karena
pemindahan penghuni ruli kerap dilakukan menjauhi lokasi pemilik mencari nafkah. Meskipun
sudah mendapat lahan kapling yang luas dari BP Batam, pemilik Ruli banyak yang kembali
membangun rumah berdinding triplek dan beratap asbes serta terpal dengan tujuan agar ia lebih
dekat dengan lokasinya mencari nafkah.
Persoalan perumahan liar tak bisa dipandang enteng di Batam. BP Batam menyebutkan, saat ini
tercatat lebih dari 40 ribu warga tinggal di perumahan liar. Banyak dari mereka menempati
tanah-tanah inestor yang telah lama dialokasikan namun tak kunjung dibangun. Tak sedikit ruliruli tersebut sudah mendiami lahan selama belasan tahun. Menggusur dan memindahkan mereka
bukan persoalan gampang. Protes bahkan bentrokan tak jarang terjadi saat tim Direktoran
Pengamanan BP Batam maupun Satuan Polisi Pamong Praja Kota Batam berupaya
memindahkan warga yang menghuni kompleks ruli karena lahan akan digunakan investor.
Kondisi ini menunjukkan masih banyak warga di Batam yang tidak sanggup untuk membeli
bahkan menyewa rumah yang layak. Djaja Roeslim mengungkapkan, pemerintah sebenarnya
sudah menyediakan sejumlah fasilitas perumahan dan pembiayaan. Pemerintah menyediakan
rumah untuk MBR (masyarakat berpenghasian rendah) yakni rumah tapak sederhana, kata
Djaja. Pemerintah juga memberikan bantuan pendanaan seperti FLPP, tambah dia.
Untuk rumah-rumah sederhana, investor saat ini lebih banyak membangun di kawasan-kawasan
yang jauh dari pusat kota. Di antaranya di Kecamatan Batuanji, Sagulung, Seibeduk, Nongsa,
dan Sekupang. Namun, meski jauh dari pusat kota, peminat perumahan tersebut datang dari
pekerja industri yang ada di wilayah-wilayah tersebut. Tak hanya rumah tapak, BP Batam,
Pemko Batam, BUMN, dan pihak swasta membangun ratusan blok kembar rumah susun sewa
untuk pekerja lajang maupun keluarga.
Namun, fasilitas itu belum semua dapat dinikmati oleh watga, khususnya mereka yang
berpenghasilan rendah. Inilah yang membuat ruli muncul tak beraturan di banyak tempat di
Batam. Djaja mengungkapkan, persoalan memindahkan penghuni ruli harus dilakukan dengan
manusiawi dan melihat kebutuhan para penghuninya.
Orang-orang ini kalau digusur tidak mungkin. Mereka bekerja hidup di daerah sekitar situ.
Misalnya kita bicara di sekitar Nagoya atau Batam Centre lalu dipindahan harus tinggal di Kabil.
Mereka tinggal segitu jauh dan harus bolak balik. Lalu sarana transportasi umumnya belum ada.
Akhirnya ongkosnya mahal, akhirnya mereka akan tinggal lagi mencari tempat yang dekat
dengan tempat kerjanya, Djaja menjelaskan.

Sebagai alternatif penggusuran, Djaja memandang lebih baik penghuni ruli dipindahkan di
daerah yang dekat dengan tempat pekerjaanya. Menurut dia pemerintah dapat membuat
rusunawa atau rusunami bagi yang mampu membeli dengan fasilitas FLPP.
Kalau sangat tidak mampu, pemerintah bisa menyiapkan rumah sosial untuk orang-orang ini.
Dengan semuanya ditampung, pasti akan tertata rapi, terang Djaja
Tantangan Investasi
Secara umum, persoalan diatas belum bisa dituntaskan baik oleh Pemko Batam maupun BP
Batam. Berbagai upaya seperti pengerukan saluran drainase, reboisasi, rekayasa lalu lintas,
pengembangan aturan perpajakan, hingga pemberian lahan pengganti lahan ruli tak cukup
mengatasi persoalan akibat kencangnya laju pertumbuhan penduduk di Batam. Masalah-masalah
ini berpotensi menjerumuskan Batam menjadi kota metropolitan yang kumuh alih-alih menjadi
kota berwawasan lingkungan.
Namun, sambil berupaya menemukan cara mengatasi persoalan, Batam tetap menarik perhatian
banyak investor asing. Tercatat sejak tahun 2009 hingga bulan Juni 2014, BP Batam mencatat
ada 362 proyek investasi asing dengan nilai US $ 728,274 juta. Sementara dalam waktu yang
sama ada 81 perluasan proyek investasi dengan nilai US $ 418,988 juta.
Modal utama Batam tidak bisa dibantah. Posisi Batam yang dekat dengan Singapura dan
langsung menghadap Selat Malaka yang menjadi salah satu jalur pelayaran paling ramai di dunia
tetap seksi di mata investor. Selain itu, harga lahan yang lebih murah dan upah tenaga kerja yang
bersaing dengan Johor menjadi daya tarik bagi investor. Apalagi insentif Batam semakin menarik
dengan adanya insentif pajak dan bea masuk saat Batam ditetapkan sebagai kawasan
perdagangan bebas. Daya tarik itu terus dipromosikan BP Batam karena persaingan dengan
kawasan ekonomi khusus lain semakin ketat. Johor kini mengembangkan Iskandar, kawasan
ekonomi khusus di Vietnam juga mulai menarik investor asing. Di Asia Timur, Kawasan
Ekonomi Khusus Shenzhen di Tiongkok semakin diminati investor asing karena upah buruhnya
yang murah dan barang-barang produksi di daerah itu bisa juga dijual di Tiongkok daratan.
Untuk mendukung tinginya investasi ke Batam, selain promosi, pemerintah perlu memberikan
kepastian hukum kepada para investor. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepulauan
Riau, Cahya, mengatakan tidak adanya kepastian hukum membuat investor resah. Kepastian
hukum khususnya dalam sistem pengupahan dan pengalokasian lahan. Soal sistem pengupahan,
Cahya mengungkapkan banyak investor yang kebingungan karena kenaikan upah tidak tetap
setiap tahunnya. Hal ini membuat investor tidak bisa menentukan harga hasil produksi pada
tahun berikutnya. Upah minimum kota (UMK) Batam pada 2013 naik dari Rp 1,45 juta menjadi
Rp 2,05 juta. Selanjutnya di 2014 UMK Batam kembali naik Rp 2,45 juta dan kembali
meningkat menjadi Rp 2,685 juta pada 2015. Upah naik berdasarkan survei kebutuhan hidup
layak (KHL) yang dilakukan pihak buruh, pemerintah, dan pengusaha setia tahun sebelum
penetapan UMK tahun berikutnya. Tak hanya persoalan kenaikan upah yang tinggi yang jadi
kekhawatiran investor. Para pengusaha resah dengan aksi mogok yang kerap dilakukan oleh para
buruh demi memenuhi tuntutannya.

Sehubungan dengan itu Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota
Batam, Suprapto, mengungkapkan setiap kali survei KHL, harga-harga item yang masuk dalam
KHL lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Ini yang mendorong mereka terus melakukan demo
menuntut upah layak. Menurut Suprapto, permintaan kenaikan upat tidak akan besar jika
pemerintah mampu menjaga harga-harga kebutuhan pokok.
Selain masalah upah, pengusaha kerap kebingungan dengan kepastian hukum alokasi lahan.
Terutama akhir-akhir ini setelah Menteri Kehutanan menerbitkan Surat Keputusan Nomor 463
Tahun 2013 yang menunjukkan sejumlah lahan yang ada di Pulau Batam sebagai kawasan hutan
lindung. Padahal sebagian besar kawasan itu telah terbangun dan dialokasikan. Investor tidak
berani mengajukan alokasi lahan jika lahan yang diinginkan masih berstatus hutan lindung.
Atas SK Menhut 436/2013 Kamar Dagang Industri (Kadin) Kota Batam kemudian menggugat
SK Menhut tersebut ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Tanjungpinang. Hakim
kemudian memutuskan SK tersebut batal. Menhut kemudian menerbitkan SK baru pada 29
September 2014. Surat Keputusan bernomor 867/Menhut-II/2014 telah mengubah lahan-lahan
yang sebelumnya berstatus DPCLS menjadi Area Penggunaan Lain. Artinya, lahan tersebut
sudah sah menjadi kawasan terbangun.
Di masa pemerintahan pimpinan Presiden Jokowi, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup,
Siti Nurbaya kemudian menerbitkan SK 76/MenLHK-II/2015 sebagai revisi SK Menhut 867
tahun 2014. Surat Keputusan ini tampaknya menjadi keputusan yang memuaskan lebih banyak
pihak. Sejumlah pihak yang selama ini mempertanyakan SK 463 tahun 2013 menganggap SK
Menteri LHK 76 sudah sesuai dengan rekomendasi Tim Terpadu yang memeriksa kondisi hutan
lindung dan konservasi Batam sepanjang 2010 2012. Dalam keputusan itu, Menteri LHK
membebaskan lahan hutan yang telah terbangun dan telah dialokasikan oleh BP Batam namun
belum dibangun oleh investor.
Djaja Roeslim menilai, keputusan tersebut memberikan kepastian hukum terhadap status lahan
yang dialokasikan pada para pengembang. Kalau isinya ssudah sesuai dengan rekomendasi Tim
Terpadu, itu berarti sudah terpenuhi dan kami sangat menyambut baik, kata Djaja.
Menurut dia, selama ini pengembang menunggu kepastian hukum atas status lahan yang mereka
bangun. Terlebih, pihak bank tak memuluskan agunan lahan jika status lahan masih berupa hutan
lindung. Ini merupakan kabar baik bagi masyarakat karena mereka sudah lama menanti
kepastian hukum atas lahan yang mereka tempati. terang dia.
Perkembangan ke Depan
Dalam Musda REI lalu, Kepala BP Batam, Mustofa Widjaja, menyampaikan perkembangan
Batam ke depan tidak lagi bertumbuh seperti kondisi yang sekarang berlangsung. Batam sudah
harus beralih kepada industri dan jasa yang bernilai tambah tinggi sehinggi ketergantungan terus
meneus kepada Singapura dapat dikurangi.
Dalam kesempatan tersebut, Mustofa mengatakan studi konsultan yang dituangkan ke dalam
Road Map, hingga tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Batam masih dapat mencapai rata-rata

sebesar 7,5 persen. Untuk mencapai pertumbuhan itu, ada tiga strategi yang akan dikembangkan
Batam. Strategi tersebut adalah:
1. Mengembangkan industri baru seperti industri bidang informasi dan telekomunikasi, jasa
penunjang, dan industri ramah lingkungan (green industry);
2. Meningkatkan industri yang ada seperti industri bidang elektri dan elektronika,
pariwisata, galangan kapal, dan industri pengilangan dan penampungan minyak dan gas;
3. Mengembangkan hub / transhipment seperti pengembangan pelabuhan transhipment dan
maintanance, repair, dan overhaul
Mustofa memprediksi, dengan mengembangkan fokus industri dalam ketiga strategi tersebut
diharapkan industri pelengkap dan industri penunjang akan otomatis berkembang dan tumbuh.
Perkembangan itu membuat Batam pada 2020 akan menjadi kota metropolitan dengan jumlah
investasi komulatif mencapai Rp 91,4 triliun dengan jumlah tenaga kerja formal mencapai 367
ribu orang. Untuk mencapai hal tersebut, perlu ditempuh lima sejumlah langkah dalam lima
bidang, yaitu:
1. Dalam bidang pengembangan infrastruktur antara lain pengebangan sarana lingkungan,
pengembangan infrastruktur yang menunjang kegiatan terfokus, membangun fasilitas
pengetesan dan menyiapkan pusat inkubator bagi UKM;
2. Dalam bidang peraturan antara lain menyelaraskan kebijakan nasional dan regional, dan
menerapkan kebijakan yang berkelanjutan;
3. Dalam bidang tenaga kerja antara lain memetakan kebutuhan keterampilan bagi industri
unggulan dan meningkatkan kemampuan pengelolaan UKM;
4. Dalam bidang pemasaran/distribusi yaitu dengan mengembangkan rencana pemasaran
dengan hasil yang dapat terukut dan menciptakan platform dengan produk yang bernilai
tinggi; dan
5. Dalam bidang pembiayaan antara lain memberikan insentif bagi perusahaan
multinasional dan lokal menyediakan bantuan kredit / pinjaman bagi UKM.
Guna meeujudkan langkah-langkah tersebut, BP Batam menyiasati dengan mengembangkan
infrastruktur yang akan meningkatkan sarana dan prasarana perhubungan laut yang meliputi
pengembangan pelabuhan laut Peti Kemas Batu Ampar sehingga dengan demikian pada akhir
tahun 2014 dapat beroperasi dalam melayani kapal peti kemas dengan kapasitas sandar 35.000
DWT. Di samping itu, BP Batam juga mengembangkan pelabuhan Transhipment Peti Kemas
Tanjung Sauh dengan kapasitas penampungan 4 juta TEUS. Sementara itu untuk
mengembangkan perekonomian di dalam pulau Batam, BP Batam akan membangun jalan tol
untuk memperlancar mobilitas transportasi barang dar kawasan industri ke pelabuhan
transportasi masal berupa monorail yang digunakan untuk transportasi orang.

Mustofa mengungkapkan, Batam merupakan sebuah kota dengan letak sangat strategis. Selain
berada di jalur pelayaran internasional, kota ini memiliki jarak yang cukup dekat dengan
Singapura dan Malaysia. Batam merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat di
Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Kota Batam yang lebih tinggi dibandingkan dengan laju
pertumbuhan ekonomi nasional menjadikan wilayah ini andalan bagi pemacu pertumbuhan
ekonomi secara nasional maupun bagi Provinsi Kepulauan Riau. Dalam hal ini yang menjadikan
unsur terpenting dalam mewujudkan Batam sebagai kota metropolitan ialah SDM yang
berkualitas dan berkarakter yang kuat.
Sumberdaya manusia Batam, terutama yang berasal dari Indonesia akan mendapat tantangan
ketika memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean pada akhir 2015 nanti. Guna menghadapi itu,
Mustofa menjelaskan BP Batam sedang mempersiapkan sejumlah hal terkait daya saing wilayah
dan sumberdaya manusianya. Persiapan tersebut di antaranya kemudahan dalam perizinan,
pembangunan infrastruktur, dan fasilitas fiskal (bebas bea masuk dan PPn) telah dilengkapi oleh
Batam. BP Batam mendayagunakan sumber daya lainnya melalui pembangunan infrastruktur di
Batam yang terlihat kini sudah cukup memadai, SDM-nya yang berkualitas, dan memiliki aturan
hukum yang jelas.
Selain itu, BP Batam mengkaji dan memilih negara mana yang dapat berinvestasi di Indonesia.
Pada tahun 2011, Batam menginventarisir industri-industri yang potensial bagi pembangunan
Batam. BP Batam juga berperan dalam pengelolaan Bandara, Pelabuhan, penyimpanan data yang
dititipkan di IT Center BP Batam dan portal Batam Single Window (BSW) yang mengatur segala
bentuk perizinan yang ada di Batam. Ke depan, BP Batam akan membangun jalan tol dan jalur
kereta api. Jalan tol dibangun untuk pergerakan orangnya, sedangkan pembangunan jalur kereta
api itu digunakan untuk pergerakan barang agar ekspor impornya berjalan lancar.
Mustofa menambahkan, selain bertransformasi ke industri yang bernilai tambah tinggi, BP
Batam juga mengembangkan sektor jasa dan membangun konektivitas dengan pulau-pulau
sekitar. Dalam 5 tahun ke depan direncanakan akan dilakukan pengembangan infrastruktur dia
ntaranya pelabuhan Batu Ampar, pelabuhan transshipment Tanjung Sauh, pengembangan jalan
TOL, pengembangan kereta rel, pengembangan MRO pesawat, pengembangan air baku, instalasi
pengolahan limbah, pengembangan infrastruktur IT. (Yermia Riezky)

Diterbitkan di Majalah HUDMagz, Mei 2015


Tentang iklan-iklan ini
Yermia Riezky09/06/2015ASEAN, batam, human resources, MEA, Otorita Batam,
pembangunan, REI Batam, Sumberdaya Manusia

Upload

Login

Signup

Home

Technology

Education

More Topics

For Uploaders

Collect Leads

1 of 52

Suplemen HUD Magz Edisi 5 /2015. Kota


BATAM Menyongsong MEA 2015
551

Pusat Informasi Virtual Air Minum dan Penyehatan


Lingkungan (PIV AMPL)
Follow
Published on Apr 29, 2015

diterbitkan secara berkala oleh Yayasan Housing and Urban Development (HUD)
Published in: Real Estate
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes

Be the first to comment

Suplemen HUD Magz Edisi 5 /2015. Kota BATAM Menyongsong MEA 2015
1. 1. L I P U T A N K H U S U S B ATA M Kota Batam Menyongsong MEA 2015
2. 2. 2 Selamat & Sukseskepada DPD REI KHUSUS BATAM dengan diselenggarakannya
Rapat Kerja Daerah DPD REI KHUSUS BATAM 2015 DenganTema: Menyongsong
MEA Desember 2015 Peluang danTantangan
3. 3. 3 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M nDARIREDAKSI Batam Bandar
Dunia Madani, Itulah Patut B atam sebagai Bandar Dunia Madani tampaknya sudah
pilihan semesta. Betapa tidak, dalam sekali lemparan pandangan mata, dari Batam
tampak gedung jangkung di hamparan negara kota Singapura. Tak jauh dari kawasan
pantai Nongsa, masih di pulau Batam, dapat ditempuh perjalanan singkat dengan kapal
kecil ke Johor Baru, Malaysia. Pertukaran dan perjalanan manusia dari dan ke Batam
mengalir dengan lekas dan mudah karena Batam berbatasan langsung dengan negara jiran
Malaysia dan Singapura. Tak berlebihan jika Batam sebagai Bandar Dunia Madani sudah
direstui alam semesta dengan takdir daya dukung lingkungan geostrategis berjejer
dengan negara-negara penting di kawasan ASEAN yang terhubung dengan perairan laut
selat Malaka yang melegenda. Ihwal adanya restu geostrategis semesta itu, maka tak
terlalu
sulit
bagi
Batam
untuk
tampilmenonjolsebagaikawasaninvestasidansekaliguspasardalameraMasyarakatEkonomi
Asean (MEA). Batam memiliki keunggulan sebagai tujuan investasi yang kompetitif dan
belum jenuh dari Johor Baru maupun Singapura, perlu ditata lebih apik moderen. Mulai
dengan infra struktur, dan tentu saja watak dan tabiat kelakuan manusianya. Untuk
menjelaskan itu, Assoc. Prof. DR. Ir. Budi Prayitno, M. Eng, merangkumnya dalam
tulisan bertenaga berjudul Menuju Batam sbagai Kota Metropolitan. Menurut Prof
Budi, demikian biasa disapa, isu strategis Batam yaitu untuk mewujudkan kota yang
aman dan nyaman yang menaklukkan diri dalam takdir sebagai kota hijau dan cerdas
berbasis IT. Tak luput pula, Prof.Budi menggemakan faktor kejelasan dan kepastian
hukum sebagai pilar tata kelola kota Batam. Tepat, ihwal kepastian hukum sebagai
anasir kemajuan dan kesiagaan Batam dalam menggiatkan ekonomi kota ini pada era
pasar bersama kawasan ASEAN. Kepastian hukum adalah kepatutan, selain perintah
panglima hukum. Persis seperti
4. 4. 4 sebait syair Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (AAKM) ihwal Singapura tempo
dulu, Kalau orang tiada menurut/Nanti dapat hukuman dari kort/Banyaklah orang
menjadi takut/Kata yang setengah: Itulah patut. Lantas apa keutamaan Batam dalam
pembangunan perumahan dan properti komersial? Pertanyaan itu penting dijawab dalam
suplemen HUD Magz ini, karena batam masih terbelit soal kekurangan rumah sekitar
46.900 unit, soal rumah bermasalah atau rumah liar (Ruli) sekitar 47.000 unit, yang
menimbulkan kesenjangan perumahan dan tumbuhnya kawasan kumuh, di tengah
pertumbuhan arus penduduk baru menghuni Batam. Namun, mestinya perumahan rakyat
bisa lebih leluasa bisa diatasi secara terencana, karena semenjak awal Batam melalui
Otorita Batam memiliki otoritas mengelola tanah di pulau Batam guna menata kota.

Melalui Otorita Batam, sebenarnya Batam semenjak awal sudah memiliki bank tanah
(landbanking) yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia, demikian Mulia Pamadi,
Dekan FTS&P UIB dalam tulisan Batam Tanpa Kesenjangan Perumahan (2020): Sebuah
Impian atau Kenyataan. Penguasaan satu pintu atas tanah di pulau Batam memang
faktor signifikan merancang Batam sebagai metropolitan dan tangguh bergiat pada era
MEA. DariwawancarapanjangdenganDjajaRoeslim, Ketua DPD Real Estate Indonesia
(REI) Khusus Batam diwartakan, hanya pulau Batam saja yang tanahnya dikuasai
pemerintah dengan HPL sehingga penyediaan dan peruntukan tanah terkendali, bisa
diawasi dan dikendalikan. Pun demikian, mestinya harga tanah bisa lebih terkendali.
Dalam geliat MEA, menjadikan Batam sebagai kota metropolitan yang berbatasan laut
dengan jiran Malaysia dan Singapura, setarikan nafas dengan visi Batam sebagai Bandar
Dunia Madani. Kota pulau yang modern dan kompetitif bagi investasi dan nyaman serta
layak dihuni. Tentunya dengan menyiapkan infrastruktur dasar yang apik moderen, dan
kepatuhan warganya dalam menjaga kultur dan citra Batam sebagai pintu gerbang
terdekat
dengan
negarajiranyangkompetitif
bagimodaldannyamanmanusiapenghuninya.Caranya, dengan menggiatkan kenyamanan
kota dan indeks kepatuhan hukum secara optimal. Itulah tapak untuk menciptakan alasan
mengapa Batam sebagai kota yang paling layak dihuni. Termasuk layak dihuni kelompok
masyarakat bepenghasilan rendah (MBR), dengan
5. 5. 5 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M penyediaan rumah umum yang
layak dan terjangkau. Kua normatif penyediaan perumahan bagi MBR merupakan
kewajiban dan tanggungjawab Pemerintah. Ya, papa titik itulah misi terkental dari
Suplemen HUD Magz ini untuk memacu terlaksananya kewajiban menyediakan rumah
kaum MBR, yang tentu bertemali erat pula dengan ikon Batam menjadi bandar dunia
madani, seperti yang sudah ditabalkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) Kota Batam 2011-2016 [vide Perda Kota Batam No. 6 Tahun 2011].
Menuju ke sana, Bandar Dunia Madani modern yang bernama Batam itu, khususnya
untuk penyediaan perumahan rakyat maupun properti komersial, tentu tidak luput dari
peran dan kiprah pengembang swasta sebagai pelaku pembangunan. Dengan realitas
pasar
yang
terbukadanlintasnegaradalamkerangkaMEA,
makakemampuandankompetensiprofesional pelaku pembangunan perumahan publik dan
properti komersial menjadi keharusan sejarah. Kenyamaan konsumen dalam menikmati
produk perumahan publik dan properti komersial, sudah merupakan keniscayaan dan
tanggungjawab hukum yang mengikat. Kerjasama yang adil dan mengedepankan
kepastian hukum menjadi pertimbangan utama dalam transaksi transnasional di era MEA.
Jurus memenangi kompetisi pasar itu, maka tepat jika dilakukan standardisasi dan
sertifikasi profesi pelaku pembangunan yang digema-gemakan REI. Dengan takdir
geostrategis Batam, dan ridho Tuhan YME, serta ihtiar profesional
menggiatkanpembangunan
BatamsebagaiBandarDuniaMadani,HUDMagz
yakin
geliatnya menuju kota metropolitan yang layak dihuni dan nyaman berinvestasi. Itulah
patut, seperti potongan syair AAKM. [Muhammad Joni] Email: lpp3hudjkt@gmail.com
hudmagz@gmail.com DEWAN PEMBINA: Cosmas Batubara, Siswono Yudho Husodo,
Akbar Tandjung, Theo Sambuaga, Erna Witoelar, M. Yusuf Asyari, Suharso Monoarfa,
Djoko Kirmanto. DEWAN PENASEHAT: Menteri Negara Perencanaan
Pembangunan/Ka.Bappenas, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Menteri

Agraria dan Tata Ruang/Ka.BPN, Direksi Perum Perumnas, DPP REI, DPP APERSI,
DPP AP2ERSI. PIMPINAN UMUM/USAHA/ PENANGGUNG JAWAB: Zulfi Syarif
Koto. WAKIL PIMPINAN UMUM: Oswar M Mungkasa, Indra Utama, Ali Tranghanda.
WAKIL PIMPINAN USAHA: Endang Kawidjaja, Djaja Roeslim, Soelaiman
Soemawinata, Muhammad Nawir, Ferry Sandiyana. SEKRETARIS PIMPINAN
UMUM/USAHA:
Eduardo
Effendi.
REDAKS
AHLI:
Kemal
Taruc,
BudiPrayitno,HarunAlRasyidLubis,JehansyahSiregar,OswarMMungkasa,NugrohoTriUto
mo,LukmanH,Herry Eko. PIMPINAN REDAKSI: Muhammad Joni. REDAKTUR: Rudy
Nandar, Erfendi, E.P, Aan, Nursalim. KONSULTAN HUKUM: Law Office Joni &
Tanamas. ARTISTIK & KOORDINASI PRODUKSI: Agus Sumarno. MANAJER
IKLAN & KEUANGAN: Herawati, Eva Yusnita. ADMINISTRASI & UMUM: Eduardo
Effendi, Novia Nurfitri Andriani, Asep Deny Kusnadi. DITERBITKAN OLEH: Yayasan
LP P3I/The HUD Institute PT. HUDMAGZ Indonesia ALAMAT REDAKSI: Yayasan LP
P3I/The HUD Institute, Jln. Arya Putra No. 14 A, Ciputat - Tangerang Selatan Redaksi
menerima kiriman naskah dengan panjang tulisan maksimal 1.600 kata, melalui
hudmagz@gmail. com, disertai data diri. Redaksi berhak melakukan perubahan naskah
tanpa mengubah isi. SUMBER FOTO COVER: ISTIMEWA Website: hudindonesia.org
6. 6. 6 D alam acara Musyawarah Daerah Real Estate Indonesia Khusus Batam, 16 April
2014 lalu, Profesor Budi dari Universitas Gadjah Mada, mengungkapkan peluang Batam
untuk menjadi kota me tropolitan berskala dunia dan madani serta menjadi andalan pusat
perekonomian dunia. Peluang itu didukung kenyataan bahwa Batam berada di jalur
pelayaran internasional dan menjadi pulau dengan kota yang pa ling berkembang yang
berada dekat dengan garis terluar Indonesia. Perkembangan Batam sebagai salah satu
tumpuan ekonomi nasional merupakan buah pemikiran Baharuddin Jusuf Habibie ketika
menjadi Kepala Otorita Batam pada 1978- 1998. Di masa kepemimpinannya, Batam
diubah dari rencana semula sebagai pulau Sebagai beranda Republik Indonesia, kota
Batam berfungsi sebagai etalase yang menampilkan citra negara pada negara tetangga,
Singapura dan Malaysia. Namun, sejumlah persoalan membuat kota industri ini bergulat
dengan pemenuhan kebutuhan dasar warganya. Padahal, era Masyarakat Ekonomi Asean
semakin mendekat. Apa yang perlu dibenahi Batam? Beranda Negeri Menyambut Era
Masyarakat Ekonomi ASEAN SUMBER FOTO: ISTIMEWA
7. 7. 7 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M yang mendukung usaha Pertamina
menjadi daerah industri yang pesat. Keberadaan pulau Batam yang berha dapan langsung
dengan negara tetangga Singapura menjadi pertimbangan Habibie mengembangkan
Batam sebagai salah satu pusat perekonomian nasional. Presiden RI ketigaitumemilikicita-citaperekonomianBatam dapat menyamai negara pulau Singapura.
Sebagai awal, Habibie mengembangkan Batam sebagai daerah penopang kegiat an
industri perusahaan internasional yang berkedudukan di Singapura. Pada tahun 1989,
dengan bantuan investor asal Singapu- ra, dibangun kawasan Industri Batamindo seluas
6.000 hektar. Hingga kini kawasan industri ini menjadi yang terbesar di Batam.
Selanjutnya pada masa Habibie juga Indo- nesia menjalin kerjasama segitiga pemba
ngunan Singapura-Johor-Riau (Sijori) untuk mengembangkan Batam. Dalam kerjasama
itu, tiap lokasi memiliki fungsinya masing- masing. Singapura sebagai penyedia modal,
sementara Johor dan Batam berfungsi seba- gai lokasi pembangunan kawasan industri.

Meski memiliki fungsi yang sama de ngan Johor, Batam memiliki keuntungan dari harga
lahan yang lebih murah dan tenaga kerja yang melimpah. Insentif bebas pajak bagi
barang-barang impor industri mem- buat investor senang menamkan modalnya di Batam.
Pertumbuhan ekonomi Batam pun mentereng, mencapai 17 persen pada masa
kepemimpinan Habibie. Ini mengundang, selain investor, juga tenaga kerja yang ingin
mengadu nasib di Batam. Sekitar dua dekade pada 1980-an dan 1990-an, arus tenaga
kerja ke Batam mendo rong pertumbuhan penduduk Batam. Pada dua dekade itu,
pertumbuhan penduduk bisa mencapai 21 persen. Mau tak mau per- ekonomian pun
bergerak untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin banyak. Pada akhir 1990an, penduduk Batam menca- pai sekitar 400 ribu, pulau Batam yang sebe- lumnya hanya
dihuni 6.000 penduduk yang bekerja sebagai nelayan dan penyadap karet dan damar
berubah menjadi kota industri yang kini berpenduduk 1,3 juta jiwa. Lama kelamaan
Batam menjadi sebuah kota yang menarik. Tak hanya menjadi kota industri, namun juga
menjadi kota wisata. Banyaknya pekerja asing membuat bisnis hiburan berkembang yang
memancing wisatawan mancanegara datang ke Batam. Harga kebutuhan penunjang
kesenangan yang murah membuat warga Singapura dan Malaysia semakin banyak
berkunjung dari waktu ke waktu. Sementara itu, turis do- mestik cenderung melihat
Batam jadi lokasi belanja perangkat elektronik dengan harga yang murah. Tak hanya
menjadi kota industri, namun juga menjadi kota wisata.
8. 8. 8 Perlahan secara keruangan (spasial) kota Batamberkembang.Dariawalhanyaberpusat
di daerah Sekupang, lalu muncul kawasan Jodoh di Batuampar yang menjadi pusat
perekonomian pada awal 1980-an. Berkem- bangnya Jodoh membuat kawasan Nagoya di
Lubukbaja tumbuh. Kawasan perumahan juga berkembang di daerah Sagulung, Batu- aji,
dan Bengkong. Nongsa yang dulunya kampung nelayan juga mulai berkembang.
Terakhir, kawasan Batam Centre dikembang- kan menjadi pusat pemerintahan dan kantor
BP Batam, sementara pusat perekonomian Batam kini berada di Nagoya. Dampak
Pertumbuhan Penduduk Berkembangnya kota Batam dengan penduduk yang semakin
banyak namun la- han terbatas menimbulkan persoalan. Per- soalan fisik dan sosial
perkotaan bermun- culan. Dari sisi persoalan fisik, kebutuhan lahan permukiman dan
industri semakin meningkat. Umumnya kontur pulau Batam bergelombang dengan
wilayah perbukitan yang menutupi hampir seluruh bagian Pulau Batam. Rekayasa
kemudian dilakukan de ngan melakukan cutand fill. Bukit-bukit dipo- tong dan diratakan,
sementara materialnya ditumpuk di sejumlah lokasi yang cekung. Tak jarang, material
tersebut diurug di lahan rawa yang banyak terdapat di Batam. Rekayasa seperti ini
bukannya tanpa masalah. Sejumlah perubahan yang dilaku- kan pada lahan membuat
proses alamiahnya terganggu. Bukit dengan hutan sedianya menjadi penyerap hujan
banyak yang hi lang, sedangkan cekungan yang secara alami menjadi lokasi
berkumpulnya air hujan telah ditimbun dan berubah menjadi lahan permu- kiman,
industri, atau niaga. Akhirnya, karena kondisi curah hujan Batam yang tinggi, se tiap kali
hujan lebat disertai badai, genangan selalu muncul di berbagai lokasi di Batam.
GenanganmenutupikawasanSimpangKabil, Simpang Jam, Kompleks kantor Pemko dan
DPRD Batam, beberapa daerah di Bengkong, dan jalan penghubung Batam Centre ke
Batu- aji. Selain lokasi favorit genangan, masih ra- tusan lokasi lain yang kerap
tergenang kala hujan lebat melanda Batam. Ketua DPD Real Estate Indonesia Khusus
Batam, Djaja Roeslim, mengungkapkan salah satu yang menjadi pangkal persoalan banjir

di Batam adalah master plan drainase kota Batam sudah kadaluarsa. Menurut Djaja,
master plan yang dipersiapkan oleh Otorita Batam tersebut sudah lama sekali dan tidak
sesuai lagi dengan perkembangan kota saat ini. Saat ini banyak daerah yang dulu menSUMBER FOTO: ISTIMEWA
9. 9. 9 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M jadi jalur hijau telah terbangun.
Kalau begitu seharusnya ada master plan baru, namun sampai sekarang master plan
tersebut belum ada,ungkap Djaja. Salah satu fungsi master plan drainase adalah untuk
menegaskan di mana saja jalur yangtelahditetapkansebagaisaluran,teruta- ma saluran
primer dan sekunder. Penentuan itu membuat BP Batam sebagai pemegang hak atas lahan
dapat menentukan lahan-la- han yang telah ditetapkan sebagai drainase tidak boleh
dialokasikan menjadi bangunan. Perusahaan yang mendapat alokasi lahan pun tidak
boleh menggunakan lahan drai- nase untuk pembangunan. Namun, tidak adanya master
plan drai- nase mutakhir, menurut Djaja, membuat drainase kota Batam buruk. Ia
mencontoh- kan, banyak perusahaan yang lokasi lahan- nya berada di bawah lokasi lahan
perusahaan lain membangun drainase yang lebih sempit ketimbang drainase di atasnya.
Akibatnya, drainase sempit yang dibangun tidak dapat menampung debit air yang
memenuhi drai- nase di atasnya yang lebih lebar. Inundasi alias genangan air pun tak bisa
dihindari. Selain masalah banjir atau genangan, pertambahan penduduk memunculkan
per- soalan sosial. Tingkat kriminalitas kota Batam meningkat karena banyak
pengangguran yang tidak mampu memenuhi persyarat an kerja di Batam. Sudah menjadi
rahasia umum, dari seluruh pendatang, yang jum- lahnya mencapai 65 persen
pertumbuhan penduduk Batam tiap tahunnya, tidak sedikit yang datang tanpa
keterampilan khusus. Selain masalah kriminal, jalanan Batam juga menjadi lebih padat
karena semakin banyak kendaraan yang memenuhi badan jalan. Data Kantor Samsat
Kepri menyebut- kan sebanyak 5.000 sepeda motor baru ter- daftar di sana setiap
bulannya. Sementara kendaraan roda empat bertambah 500-600 unit tiap bulannya.
Sampai pertengahan ta- hun 2013, Samsat mencatat ada 776.343 unit kendaraan roda dua
dan 259.843 unit ken daraan roda empat. Tahun lalu, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota
Batam pernah me lakukan perhitungan se derhana. Dalam catatan Dishub, total panjang
jalan beraspal di Batam mencapai 912 kilometer. Sekitar 75 persen (690 kilometer) dari
jumlah tersebut sangat sering dilalui. Jika diasumsi- kan lebar jalan rata-rata tujuh meter,
maka to- tal luas jalan di Batam adalah 4.835.250 meter persegi. Dishub menghitung ratarata ukuran kendaraan 4 meter x 2,5 meter sehingga luas jalan yang ditempati mencapai
10 meter persegi. Dari hitungan tersebut, dibutuhkan 483.525 kendaraan untuk memenuhi
seluruh jalanan di Batam hingga seluruh kendaraan itu tidak bergerak. Agar kendaraan
bisa ber geraknormaldengankecepatan60kilometer per jam, maka volume kendaraan tidak
boleh melebihi batas toleransi 45 persen hingga 75 persen. Jika jumlah kendaraan
ditoleransi hingga 70 persen, maka idealnya jumlah kendaraan roda empat di Batam
hanya ber- jumlah 217.586 unit kendaraan, hanya roda empat saja. Master plan drainase
kota Batam sudah kadaluarsa. SUMBER FOTO: ISTIMEWA
10. 10. 10 Persoalannya, Pemerintah Kota Batam belum bisa menyediakan layanan transportasi umum yang layak bagi warganya, Selain murah, kelayakan itu harus dilihat dari
aspek keamanan dan kenyamanan. Angkutan kota yang berseliweran di jalan kota Batam
kerap beroperasi hampir tanpa aturan. Kabar ke- celakaan yang melibatkan angkutan kota

ke rap terdengar. Kondisi taksi di Batam pun tak kunjung membaik karena taksi gelap
masih banyak beroperasi. Penumpang pun masih sering tawar menawar harga dengan
sopir taksi meski di kendaraan telah terpasang ar- gometer. Belum lagi masalah
perumahan liar (ruli) yang belum tuntas selama bertahun-tahun. Ruli merupakan
bangunan non-permanen atau semi permanen yang dibangun di atas lahan yang bukan
milik sang empunya ru- mah. Biasanya mereka membangun di atas lahan kosong yang
belum keluar Pengaloka- sian Lahan (PL)-nya dari BP Batam. Sering juga ruli dibangun
di atas lahan milik investor yang lama dibiarkan terbengkalai. Ruli tetap tumbuh subur
karena pemindahan penghu- ni ruli kerap dilakukan menjauhi lokasi kerja. Meskipun
sudah mendapat lahan kapling yang luas dari BP Batam, pemilik ruli banyak yang
kembali membangun rumah berdin ding triplek dan beratap asbes serta terpal dengan
tujuan agar ia lebih dekat dengan lokasinya mencari nafkah. Persoalan perumahan liar tak
bisa dipan- dang enteng di Batam. BP Batam menyebut- kan, saat ini tercatat lebih dari
40 ribu warga tinggaldiperumahanliar.Banyakdarimereka menempati tanah investor yang
terbengka- lai. Tak sedikit ruli tersebut sudah didiami se- lama belasan tahun. Menggusur
dan memin- dahkan mereka bukan persoalan gampang. Protes bahkan bentrokan tak
jarang terjadi saat tim Direktorat Pengamanan BP Batam maupun Satuan Polisi Pamong
Praja Kota Batam berupaya memindahkan warga yang menghuni kompleks ruli. Kondisi
ini menunjukkan masih banyak warga di Batam yang tidak sanggup untuk membeli
bahkan menyewa rumah yang layak. Djaja Roeslim mengungkapkan, pemerintahsebenarnyasudahmenyediakanse- jumlah fasilitas perumahan dan pembiayaan.
Pemerintah menyediakan rumah untuk MBR (masyarakat berpenghasian rendah) yakni
rumah tapak sederhana, kata Djaja. Peme rintah juga memberikan bantuan pendanaan
seperti FLPP,tambah dia. Untuk rumah sederhana, investor saat ini lebih banyak
membangun di kawasan yang jauh dari pusat kota. Di antaranya di kecamatan Batuanji,
Sagulung, Seibeduk, Nongsa, dan Sekupang. Namun, meski jauh dari pusat kota, peminat
perumahan terse- but datang dari pekerja industri yang ada di wilayah tersebut. Tak hanya
rumah tapak, BP Batam, Pemko Batam, BUMN, dan pihak swasta membangun ratusan
blok kembar rumah susun sewa untuk pekerja lajang mau- pun keluarga. Namun, fasilitas
itu belum semua da- Saat ini tercatat lebih dari 40 ribu warga tinggal di perumahan liar.
SUMBER FOTO: ISTIMEWA
11. 11. 11 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M pat dinikmati oleh warga,
khususnya mereka yang berpenghasilan rendah. Inilah yang membuat ruli muncul tak
beraturan di ba nyak tempat di Batam. Djaja mengungkap- kan, persoalan memindahkan
penghuni ruli harus dilakukan dengan manusiawi dan me- lihat kebutuhan para
penghuninya. Orang-orang ini kalau digusur tidak mungkin. Mereka bekerja dan hidup
di dae rah sekitar situ. Misalnya kita bicara di sekitar Nagoya atau Batam Centre lalu
dipindahkan ke Kabil. Mereka tinggal segitu jauh dan harus bolak balik. Lalu sarana
transportasi umumnya belum ada. Akhirnya ongkosnya mahal, akhirnya mereka akan
tinggal lagi mencari tempat yang dekat dengan tempat kerjanya,Djaja menjelaskan.
Sebagai alternatif penggusuran, Djaja memandang lebih baik penghuni ruli dipin- dahkan
di daerah yang dekat dengan tempat pekerjaanya. Menurutnya pemerintah dapat
membangun rusunawa atau rusunami bagi yang mampu membeli dengan fasilitas FLPP.
Kalau sangat tidak mampu, pemerintah bisa menyiapkan rumah sosial untuk orangorang ini. Dengan semuanya ditampung, pasti akan tertata rapi,terang Djaja Tantangan

Investasi Secara umum, persoalan di atas belum bisa dituntaskan baik oleh Pemko Batam
maupun BP Batam. Berbagai upaya seperti pengerukan saluran drainase, reboisasi, rekayasa lalu lintas, pengembangan aturan perpajakan, hingga pemberian lahan peng- ganti
lahan ruli tak cukup mengatasi perso- alan akibat kencangnya laju pertumbuhan
penduduk di Batam. Masalah ini berpotensi menjerumuskan Batam menjadi kota me
tropolitan yang kumuh alih-alih menjadi kota berwawasan lingkungan. Namun, sambil
berupaya menemukan cara mengatasi persoalan, Batam tetap me- narik perhatian banyak
investor asing. Ter- catat sejak tahun 2009 hingga bulan Juni 2014, BP Batam mencatat
ada 362 proyek in- vestasi asing dengan nilai US $ 728,274 juta. Sementara dalam waktu
yang sama terdapat 81 perluasan proyek investasi dengan nilai US $ 418,988 juta. Modal
utama Batam tidak bisa dibantah. Posisi Batam yang dekat dengan Singapura dan
langsung menghadap Selat Malaka yang menjadi salah satu jalur pelayaran pa ling ramai
di dunia tetap seksi di mata in- vestor. Selain itu, harga lahan yang lebih murah dan upah
tenaga kerja yang bersaing dengan Johor menjadi daya tarik bagi inves- tor. Apalagi
insentif Batam semakin menarik dengan adanya insentif pajak dan bea masuk saat Batam
ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas. Daya tarik itu terus dipromosikan BP
Batam karena persaingan dengan kawasan ekonomi khusus lain se- makin ketat. Johor
kini mengembangkan Is- kandar, kawasan ekonomi khusus di Vietnam juga mulai
menarik investor asing. Di Asia Timur, Kawasan Ekonomi Khusus Shenzhen SUMBER
FOTO: ISTIMEWA
12. 12. 12 di Tiongkok semakin diminati investor asing karena upah buruhnya yang murah
dan ba- rang-barang produksi di daerah itu bisa juga dijual di Tiongkok daratan. Untuk
mendukung tingginya investasi ke Batam, selain promosi, pemerintah perlu memberikan
kepastian hukum kepada para investor. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
Kepulauan Riau, Cahya, mengata- kan tidak adanya kepastian hukum membuat investor
resah. Kepastian hukum khususnya dalam sistem pengupahan dan pengaloka- sian lahan.
Soal sistem pengupahan, Cahya mengungkapkan banyak investor yang ke- bingungan
karena kenaikan upah tidak tetap setiap tahunnya. Hal ini membuat investor tidak bisa
menentukan harga hasil produksi pada tahun berikutnya. Upah minimum kota (UMK)
Batam pada 2013 naik dari Rp 1,45 juta menjadi Rp 2,05 juta. Selanjutnya di 2014 UMK
Batam kembali naik Rp 2,45 juta dan kembali meningkat menjadi Rp 2,685 juta pada
2015. Upah naik berdasarkan survei kebutuhan hidup layak (KHL) yang dilakukan pihak
buruh, pemerintah, dan pengusaha se- tiap tahun sebelum penetapan UMK tahun
berikutnya. Tak hanya persoalan kenaikan upah yang tinggi yang jadi kekhawatiran
investor. Para pengusaha resah dengan aksi mogok yang kerap dilakukan oleh para buruh demi memenuhi tuntutannya. Sehubungan dengan itu, Sekretaris Fe derasi Serikat
Pekerja Metal Indonesia (FSP- MI) Kota Batam, Suprapto, mengungkapkan setiap kali
survei KHL, harga-harga item yang masuk dalam KHL lebih tinggi dari tahun
sebelumnya. Ini yang mendorong mere ka terus melakukan demo menuntut upah layak.
Menurut Suprapto, permintaan kena ikan upah tidak akan besar jika pemerintah mampu
menjaga harga kebutuhan pokok. Selain masalah upah, pengusaha kerap kebingungan
dengan kepastian hukum alokasi lahan.Terutama akhir-akhir ini setelah Menteri
Kehutanan menerbitkan Surat Kepu- tusan Nomor 463 Tahun 2013 yang menun- jukkan
sejumlah lahan yang ada di pulau Batam sebagai kawasan hutan lindung. Pada- hal
sebagian besar kawasan itu telah terba ngun dan dialokasikan. Investor tidak berani

mengajukan alokasi lahan jika lahan yang di- inginkan masih berstatus hutan lindung.
Keberadaan SK Menhut 436/2013 ke- mudian digugat oleh Kamar Dagang Indus- tri
(Kadin) Kota Batam ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Tanjungpinang.
Hakim kemudian memutuskan SK terse- but batal. Menhut kemudian menerbitkan SK
baru Nomor 867/Menhut-II/2014 pada 29 September 2014 yang mengubah lahan yang
sebelumnya berstatus DPCLS (Dampak Penting dan Cakupan Luas serta bernilai Stra
tegis) menjadi Area Penggunaan Lain (APL). Artinya, lahan tersebut sudah sah menjadi
kawasan terbangun. SUMBER FOTO: ISTIMEWA
13. 13. 13 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M Menteri Kehutanan dan
Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya, kemudian menerbitkan SK 76/MenLHK-II/2015
sebagai revisi SK Men- hut Nomor 867 Tahun 2014. Surat Keputusan ini tampaknya
menjadi keputusan yang me- muaskan lebih banyak pihak. Sejumlah pihak yang selama
ini mempertanyakan SK 463 Tahun 2013 menganggap SK Menteri LHK yang terbaru
sudah sesuai dengan rekomen- dasi Tim Terpadu yang memeriksa kondisi hutan lindung
dan konservasi Batam sepan jang tahun 2010 2012. Dalam keputusan itu, Menteri LHK
membebaskan lahan hutan yang telah terbangun dan telah dialokasikan oleh BP Batam
namun belum dibangun oleh investor. Djaja Roeslim menilai, keputusan terse- but
memberikan kepastian hukum terhadap status lahan yang dialokasikan pada para
pengembang. Kalau isinya sudah sesuai dengan rekomendasi Tim Terpadu, itu berarti
sudah terpenuhi dan kami sangat menyam- but baik,kata Djaja. Menurut dia, selama ini
pengembang menunggu kepastian hukum atas status la- han yang mereka bangun.
Terlebih, pihak bank tak memuluskan agunan lahan jika status lahan masih berupa hutan
lindung. Ini merupakan kabar baik bagi masyarakat karena mereka sudah lama menanti
kepas- tian hukum atas lahan yang mereka tempati. terang dia. Perkembangan ke Depan
Dalam Musda REI lalu, Kepala BP Batam, Mustofa Widjaja, menyampaikan perkem bangan Batam ke depan tidak lagi bertum- buh seperti kondisi yang sekarang berlang- sung.
Batam sudah harus beralih kepada industri dan jasa yang bernilai tambah tinggi sehingga
ketergantungan terus menerus ke- pada Singapura dapat dikurangi. Dalam kesempatan
tersebut, Mustofa mengatakan studi konsultan yang dituang- kan ke dalam Road Map
menunjukkan hing- ga tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Batam masih dapat mencapai
rata-rata sebesar 7,5 persen. Untuk mencapai pertumbuhan itu, ada tiga strategi yang akan
dikembangkan Batam. Strategi tersebut adalah: Mengembangkan industri baru seperti1.
industri bidang informasi dan telekomu- nikasi, jasa penunjang, dan industri ra- mah
lingkungan (green industry); Meningkatkan industri yang ada seperti2. industri bidang
elektrik dan elektronika, pariwisata, galangan kapal, industri pengilangan dan
penampungan minyak dan gas; Mengembangkan3. hub/transhipment se perti
pengembangan pelabuhan tran shipment dan maintanance, repair, dan overhaul Batam
sudah harus beralih kepada indus- tri dan jasa yang ber- nilai tambah tinggi. SUMBER
FOTO: ISTIMEWA
14. 14. 14 Mustofa memprediksi, dengan mengem- bangkan fokus industri dalam ketiga
strategi tersebut diharapkan industri pelengkap dan industri penunjang akan otomatis
berkem- bang dan tumbuh. Perkembangan itu mem- buat Batam pada 2020 akan menjadi
kota metropolitan dengan jumlah investasi kumu- latif mencapai Rp.91,4 Triliun dengan
jumlah
tenaga
kerja
formal
mencapai
367
ribu
orang.

Untukmencapaihaltersebut,perluditempuh sejumlah langkah dalam lima bidang, yaitu:


Dalambidangpengembanganinfrastruk-1. tur antara lain pengembangan sarana
lingkungan, pengembangan infrastruk- tur yang menunjang kegiatan terfokus,
membangun fasilitas pengetesan dan menyiapkan pusat inkubator bagi UKM; Dalam
bidang peraturan antara lain me-2. nyelaraskan kebijakan nasional dan re- gional, dan
menerapkan kebijakan yang berkelanjutan; Dalam bidang tenaga kerja antara lain3.
memetakan kebutuhan keterampilan bagi industri unggulan dan meningkat- kan
kemampuan pengelolaan UKM; Dalam bidang pemasaran/distribusi4. yaitu dengan
mengembangkan rencana pemasaran dengan hasil yang dapat ter- ukur dan menciptakan
platform dengan produk yang bernilai tinggi; Dalam bidang pembiayaan antara lain5.
memberikan insentif bagi perusahaan multinasional dan lokal, menyediakan bantuan
kredit/pinjaman bagi UKM. Guna mewujudkan langkah tersebut, BP Batam menyiasati
dengan mengembangkan infrastruktur yang akan meningkatkan sarana dan prasarana
perhubungan laut yang meli- puti pengembangan pelabuhan laut peti ke- mas Batu Ampar
sehingga dengan demikian pada akhir tahun 2014 dapat beroperasi da- lam melayani
kapal peti kemas dengan ka- pasitas sandar 35.000 DWT. Di samping itu, BP Batam juga
mengembangkan pelabuhan Transhipment Peti Kemas Tanjung Sauh de ngan kapasitas
penampungan 4 juta TEUS. Sementara itu, untuk mengembangkan per- ekonomian di
dalam pulau Batam, BP Batam akan membangun jalan tol untuk memper- lancar
mobilitas transportasi barang dari kawasan industri ke pelabuhan, transportasi masal
berupa monorail yang digunakan un- tuk transportasi orang. Mustofa mengungkapkan,
Batam meru- pakan sebuah kota dengan letak sangat strategis. Selain berada di jalur
pelayaran in- ternasional, kota ini memiliki jarak yang cu- kup dekat dengan Singapura
dan Malaysia. Batam merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat di
Indonesia. Pertum- buhan ekonomi kota Batam yang lebih tinggi Batam merupakan salah
satu kota dengan pertumbuhan terpesat di Indonesia.
15. 15. 15 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M dibandingkan dengan laju
pertumbuhan ekonomi nasional menjadikan wilayah ini an- dalan bagi pemacu
pertumbuhan ekonomi secara nasional maupun bagi provinsi Kepu- lauan Riau. Dalam
hal ini, yang menjadikan unsur terpenting dalam mewujudkan Batam sebagai kota
metropolitan ialah SDM yang berkualitas dan berkarakter kuat. Sumberdaya manusia
Batam, terutama yang berasal dari Indonesia akan mendapat tantangan ketika memasuki
era Masyarakat Ekonomi Asean pada akhir 2015 nanti. Guna menghadapi itu, Mustofa
menjelaskan BP Batam sedang mempersiapkan sejumlah hal terkait daya saing wilayah
dan sumberdaya manusianya. Persiapan tersebut di antaranya kemudahan dalam
perizinan, pembangunan infrastruktur, dan fasilitas fiskal (bebas bea masuk dan PPn). BP
Batam mendayagunakan sumberdaya lainnya melalui pembangunan infrastruktur, SDMnya yang berkualitas, dan memiliki aturan hukum yang jelas. Selain itu, BP Batam
mengkaji dan memi- lih negara mana yang dapat berinvestasi di Indonesia. Pada tahun
2011, Batam mengin- ventarisir industri yang potensial bagi pem- bangunan Batam. BP
Batam juga berperan dalam pengelolaan Bandara, Pelabuhan, pe- nyimpanan data yang
dititipkan di IT Center BP Batam dan portal Batam Single Window (BSW) yang
mengatur segala bentuk peri zinan yang ada di Batam. Ke depan, BP Batam akan
membangun jalan tol dan jalur kereta api. Jalan tol dibangun untuk pergerakan orangnya,
sedangkan pembangunan jalur kereta api digunakan untuk pergerakan ba- rang agar

ekspor impornya berjalan lancar. Mustofa menambahkan, selain bertrans- formasi ke


industri yang bernilai tambah tinggi, BP Batam juga mengembangkan sek- tor jasa dan
membangun konektivitas den- gan pulau sekitar. Dalam 5 tahun ke depan, direncanakan
pengembangan infrastruktur diantaranya pelabuhan Batu Ampar, pela buhan transhipment
Tanjung Sauh, pengem- bangan jalan TOL, pengembangan kereta rel, pengembangan
MRO pesawat, pengemban- gan air baku, instalasi pengolahan limbah, pengembangan
infrastruktur IT. n (Yermia Riezky) SUMBER FOTO: ISTIMEWA
16. 16. 16 P emerintah menyadari gas bumi meru- pakan sumber energi yang sangat berguna
bagi pembangunan kota. Bahkan, sumber energi ini dapat merupakan penunjang utama
bagi pengembangan kota cerdas. Menteri Energi dan Sumber Daya Mine ral, Sudirman
Said, mengungkapkan peman- faatan gas menjadi salah satu elemen pen ting bagi suatu
kota dalam mengelola energi. Gas bumi menjadi salah satu penunjang uta- ma
mewujudkan kota cerdas,kata Sudirman dalam acara Pelucuran Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015, di Jakarta pada 24 Maret 2015. Dia menambahkan, gas yang menggantikan peran dan fungsi bahan bakar mi nyak mampu mengurangi dan menciptakan
efisiensi. Salah satu upayanya adalah dengan membangun stasiun pengisian bahan bakar
gas (SPBG). Dalam perencanaan Kementerian ESDM, pada tahun 2015 akan dibangun
se- banyak 22 unit SPBG. Tak hanya gas untuk transportasi, pe- manfaatan gas juga
akan dioptimalkan untuk pemakaian di tingkat rumah tangga serta usaha kecil dan
menengah lewat jaringan gas kota. Kami mengimbau wali kota di kota masing-masing
untuk menyinergikan ren- cana pembangunan permukiman dengan jaringan gas
kota,kata Sudirman. Menteri ESDM pasang target. Lima tahun ke depan, ia berharap
sebanyak 1,2 juta ru- mah tangga sudah bisa dijangkau gas bumi untuk rumah tangga.
Saat ini pelanggan gas Berharap Pada Gas Alam SUMBER FOTO: ISTIMEWA
17. 17. 17 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M kota 162 ribu rumah tangga.
Guna memba ngun jaringan gas rumah tangga pada tahun ini, Kementerian ESDM
mengalokasikan ang- garan Rp.1,6 Triliun. Gas bumi memang menjadi masa depan
energi bangsa. Persoalan yang kerap muncul terkait bahan bakar minyak maupun gas
elpi- ji yang dikelola Pertamina kerap disalahgu- nakan dan harganya semakin mahal.
Terkait gas bumi, Batam sudah lama memanfaat- kan gas bumi untuk rumah tangga.
Bahkan keberadaan energi ini sudah berlangsung hampir satu dekade yang dirintis oleh
PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dengan mem- buat instalasi gas rumah tangga ke 60
rumah.
Mantan
Manajer
Area
Batam
PGN,
Sabaruddin,ketikaberbincangdenganHUDMagazine beberapa waktu lalu mengungkapkan pada
tahun 2006 proyek rintisan itu dibangun di Perumahan Bida Asri dan Puri Legenda, yang
letaknya di antara pusat pemerintahan kota Batam dan bandara Hang Nadim. Ini merupakan dampak dari penjualan gas dari proyek gas alam yang ada di Grissik, Sumatera
Sela- tan, ke Singapura. Saat itu pemimpin kami memiliki visi yang bagus, pipa gas ini
disinggahkan dulu ke Batam. Karena saat itu dia meyakini Batam akan berkembang dan
mem- butuhkan energi yang besar, kata Sabaruddin yang saat itu masih menjadi Manajer
Area Batam. Batam beruntung. Umumnya, instalasi gas rumah tangga bi- asanya
dibangun di dekat sumber-sumber gas alam. Hal itu terjadi sejak perusahaan gas Belanda
masih mengeksplorasi gas alam di Indonesia. Gas yang digunakan di Batam dia- lirkan
dari Grissik melalui pipa gas berdiam- eter 28-32 inci. Pipa itu membentang di dasar laut

sejauh 400 kilometer menuju Batam dan Singapura. Aliran gas yang masuk di Stasiun
PGN Panaran pada awalnya dialirkan meng- gunakan pipa menuju Batam Centre. Pipa
itu menyalurkan gas ke berbagai kawasan industri yang dilaluinya. Kawasan industri
seperti Batamindo, Panbil, Cammo danTunas mendapat aliran gas yang berfungsi sebagai bahan bakar pembangkit listrik mandiri. Pusat perbelanjaan Mega Mall dan Hotel
Haris dan Harmony One juga menggunakan gas alam. Gas itu juga digunakan oleh PT
Pe- layanan Listrik Nasional (PLN) Batam untuk menghasilkan listrik di Pembangkit
Listrik Tenaga Gas (PLTG) Panaran. Namun angka pertumbuhan pengguna rumah tangga
sangat lambat. Hingga akhir tahun 2013 jumlahnya kurang dari 200 pe- langgan di
wilayah yang dilalui oleh pipa. Sementara di akhir tahun 2014 jumlahnya pada kisaran
400 pelanggan. Padahal pamor gas alam di Batam sedang naik setelah beberapa kali gas
elpiji yang menjadi andalan langka di pasar. Warga kerap bertanya mengapa proyek gas
alam rumah tangga tak kunjung dilanjutkan. Gas bumi memang menjadi masa depan
energi bangsa.
18. 18. 18 Rasa penasaran warga boleh saja tinggi, tetapi animo itu tak serta merta
menambah pelanggan gas alam. Halim, salah satu peng- guna gas alam untuk usaha
kuliner di kom- pleks Puri Legenda mengatakan, salah satu yang membuat warga tidak
memilih gas alam PGN adalah biaya instalasinya. Halim mengatakan, warga membayar
sekitar Rp.2 juta rupiah untuk instalasi dari meteran yang di dekat pagar rumah hingga ke
kompor. Ka- lau ada yang ingin memasang pemanas air, biayanya akan membengkak.
Warga ada yang berpikir, ketimbang membayar sebanyak itu, masih lebih murah
membeli kompor dan tabung gas,ujar Halim. Apalagi, sejak 2008 pemerintah melakukan
program konversi minyak tanah ke gas untuk mengurangi subsidi BBM dari minyak
tanah. Program ini kemudian melahirkan gas elpiji bersubsidi tiga kilogram yang dikemas
dalam tabung hijau muda. Gas ini jauh lebih murah ketimbang gas elpiji 12 kilogram.
Program
elpiji
bersubsidi
juga
membuat
warga
yang
sebelumnyatidakkuatmembelitabunggas12 kilogram dan isi ulangnya akhirnya dapat memasak menggunakan gas. Sabaruddin tidak menolak ada pengaruh program pemerintah
denganminimnyaanimomasyarakatterhadap gas alam, meski ia mengaku tidak punya data
pasti soal itu.Tapi kemungkinan itu ada. Di samping ketidaktahuan warga ter hadap
manfaat gas alam, pada tahun 2006 masyarakat masih menikmati subsidi minyak tanah.
Kebanyakan pengguna gas alam saat itu adalah industri yang beralih dari bahan bakar
minyak yang subsidinya dicabut pe- merintah. Sebenarnya bukan hanya Batam yang
mengalami pertumbuhan pelanggan rumah tangga yang sangat lambat. Di seluruh Indonesia, pertumbuhan pelanggan rumah tang- ga baru mencapai 132 ribu rumah tangga.
Padahal PGN, sudah berusia 50 tahun. Kendala utama dalam mengalirkan gas alam ke
rumah tangga adalah persoalan in- frastruktur. Tidak seperti elpiji yang dicairkan dan
dimasukkan ke dalam tabung sehingga memudahkan pengangkutannya, jenis gas alam
memerlukan infrastruktur pipa un- tuk mengalirkan gasnya. Elan Biantoro saat masih
menjabat sebagai Kepala Bagian Hu- mas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan
Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan gas bumi sebenarnya bisa
di- pasarkan dalam bentuk tabung, namun tidak ekonomis sehingga harganya akan jauh
lebih Di tengah banyaknya kendala, PGN mulai memperluas jaringan gas rumah tangga
di Batam.

19. 19. 19 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M mahal. Sementara itu,


Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup mengungkapkan tidak mu- dah untuk
memperluas jaringan penyaluran gas. Persoalan pertama adalah investasi pipa yang
mahal. Kedua, di beberapa daerah per- izinan pemerintah daerah setempat sulit.
Ketiadaan infrastruktur yang memadai membuat penyaluran gas alam untuk rumah
tangga sangat minim. Laporan SKK Migas ta- hun 2012 menyebutkan dari 3.550,07
miliar British Thermal Unit per hari (BBTUD) produksi gas alam, hanya 0,45 BBTUD
atau 0,01 persen yang digunakan untuk kepentingan gas kota. Padahal, menurut Elan
Biantoro, Indonesia lebih banyak menghasilkan gas alam berupa gas metana dan gas
etana, ketimbang gas yangdigunakanuntukelpiji.Celakanya,kebu- tuhan elpiji Indonesia
tinggi terlebih dengan adanya program konversi elpiji bersubsidi. Di tengah banyaknya
kendala, PGN mulai memperluas jaringan gas rumah tangga di Batam. Bulan Februari
2014 lalu, PGN menda- patkan tambahan pelanggan rumah tangga dalam jumlah relatif
banyak. Sekitar 110 ru- mah tangga di kompleks perumahan Kurnia Djaja Alam (KDA)
mulai berlangganan gas alam. Kesempatan menikmati gas alam itu datang setelah PGN
melakukan penambahan jaringan ke kawasan industri di daerah Kabil, kecamatan
Nongsa. Pipa jaringan sepanjang 8,55 kilometer tak hanya memberikan tenaga pasokan
bahan bakar untuk tenaga listrik ka- wasan industri di daerah itu, namun rumah tangga di
sepanjang pipa gas alam nantinya bisa merasakan sumber energi tersebut. Jaringan baru
juga dibangun dari Baloi menujuBatuampar.Saatinidisepanjangjalan arteri BaloiBatuampar sudah banyak span- duk yang menutupi proyek pembangunan pipa gas
PGN.Dari Batuampar jaringan akan kita belokkan ke kawasan niaga Nagoya,kata
Sabaruddin. Di jalur tersebut, PGN mencoba agar bisa menyalurkan gas ke rumah susun
Jamsostek dan Lancang Kuning. Menteri ESDM, Sudirman Said, dalam kunjungannya ke
Batam akhir Januari 2015 mengungkapkan penambahan jaringan gas alam untuk industri
di Batam dapat men- dorong penambahan pelanggan gas rumah tangga. Karena gas
rumah tangga bergan- tung pada jaringan utama yang melayani kawasan industri.
Direktur Utama PGN juga bertekad mendorong pertumbuhan peng- gunaan gas alam
untuk kepentingan rumah tangga. n (Yermia Riezky Santiago) SUMBER FOTO:
ISTIMEWA
20. 20. 20 S ejak Desember 1948, Majelis Umum PBB mendeklarasikan The Universal
Declaration of Human Rights yang pada artikel 22 menyebutkan: Everyone , as a
member of society , has the right to social security and is entitled to realization, through
national effort and international co-operation and in accordance with the organization and
resources of each state, of the economic, social and cultural indispensable for his dignity
and the free development of his personality. Selan- jutnya Konferensi PBB yang kedua
tentang Permukiman Manusia yang diselenggarakan pada Juni 1996 di Istanbul, Turki
menetap- kan perubahan penting dalam pendekatan pembangunan permukiman manusia
di era urbanisasi dunia. Dalam konferensi ini, yang dihadiri oleh 171 negara anggota
PBB, di sepakati bahwa perumahan yang layak me rupakan hak asasi manusia yang
mendasar (HABITAT-II,1996). Penelitian selanjutnya telah menemukan bahwa masalah
kesen- jangan perumahan bermula dari banyaknya keluarga miskin di Asia, Afrika,
Amerika Latin dan bahkan di negara maju. Mereka tidak memiliki dana dan akses
pinjaman untuk membangun atau membeli rumah. Menurut PeterWard (2001), kurangnya
dana dan akses terhadap kredit memaksa keluarga untuk membangun rumah yang kurang

layak huni. Penelitian menunjukkan bahwa lembaga pembiayaan perumahan, yang


bertujuan untuk membantu keluarga berpenghasilan rendah, sering tidak dapat diakses
oleh ma yoritas masyarakat miskin. Kegagalan ba nyak keluarga miskin untuk
mengakses pin- jaman sering dianggap sebagai gejala dari masalah yang mendasari
kesenjangan peru- mahan yang lebih besar. Upah yang rendah dan pengangguran
merupakan faktor pe- nentu penting dari kesenjangan perumahan (Jennifer dan Emily,
2005). Membandingkan Kota Batam dengan Singapura Dasar negara kita menjamin,
bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
diper- Perumahan yang layak merupakan hak asasi manusia. SUMBER FOTO:
ISTIMEWA oleh Mulia Pamadi, Dekan FTS&P UIB) BatamTanpa Kesenjangan
Perumahan (2020): Sebuah Impian atau Kenyataan
21. 21. 21 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M gunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat (UUD 45, pasal 33, ayat 3) dan setiap orang berhak hidup sejahtera
lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan ling- kungan hidup baik dan sehat
serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan (UUD 45, pasal 28H). Selanjutnya
merupakan amanah bahwa Negara bertanggungjawab atas pe- nyelenggaraan perumahan
dan kawasan per- mukiman yang pembinaannya dilaksanakan oleh pemerintah (UU
No.1/2011 Pasal 5 Ayat 1), kemudian dipertegas bahwa urusan pe- merintahan yang wajib
diselenggarakan oleh pemerintahan daerah provinsi dan pemerin- tahan daerah
kabupaten/kota, berkaitan de ngan pelayanan dasar (PP No.38/2007 Pasal 7 Ayat 1),
diantaranya adalah perumahan (ayat 2g). Dengan demikian, pemerintah daerah Kota
Batam (Pemda Batam) dan Badan Peng usahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan
Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) bertang- gungjawab atas kesenjangan perumahan
kota Batam. Data terkini menunjukkan perkiraan jumlah perumahan di Batam tahun 2013
sekitar 242.000 (Dispenda kota Batam/PLN/ ATB, 2014) dengan penduduk Batam sekitar 1.300.000 (SKPD Bota Batam/BPS, 2013). Dengan asumsi index ART kota Batam =
4.5, perkiraan kekurangan rumah sekitar 46.900 unit atau diprediksikan rumah
bermasalah (Ruli) sekitar 47.000 unit. Kesenjangan peru- mahan dapat mengakibatkan
tumbuhnya kawasan kumuh, merusak penataan kota Batam, kesenjangan sosial dan
potensi krimi- nalitas, merusak citra dan martabat bangsa. Karenanya kesenjangan
perumahan perlu menjadi perhatian serius pemerintah dae rah kota Batam dan BP Batam
serta seluruh pemangku kepentingan yang terkait, dian- taranya pengembang swasta dan
BUMN. Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (Otorita Batam) adalah
peme- gang Hak Pengelolaan pulau Batam (Keppres 41/73) untuk mengembangkan
pembangun an pulau Batam sebagai daerah industri. Kep- pres No. 41/1973 tersebut
memberikan hak pengelolaan lahan kepada Otorita Batam yang kemudian diperkuat
dengan adanya SK Menteri Dalam Negeri Nomor 43 Tahun 1977 dan termasuk
Keputusan Menteri Agraria/ Kepala BPN No. 9-VIII-1993. Kewenangan yang dimiliki
Otorita Batam atau sekarang dikenal BP Batam sebagai pemegang HPL mengadopsi
Undang-Undang Pembebasan Lahan Singapura 1967 dimana Otorita Batam memiliki
otoritas untuk mengelola lahan di Pulau Batam secara maksimal sebagaimana
keberhasilan pemerintah Singapura me- nata kotanya. Dengan perkataan lain, Oto- rita
Batam memiliki land banking yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Singapura
dinilai sebagai Negara yang sangat sukses dalam penyediaan rumah bagi masyarakatnya,
walaupun dengan biaya hidup yang relatif tinggi, masyarakat Singa pura yang

berpendapatan rendah pun dija- min memiliki perumahan flat (apartemen/ rusun) yang
nilainya diatas satu miliar Rupiah. Singapura memiliki latar belakang perumah- an rakyat
yang sukses di bawah manajemen Housing and Development Board (HDB) yang
didirikan pada tahun 1960. Pada tahun 1967, pemerintah menetapkan Undang-Undang
Otorita Batam memiliki land banking yang tidak dimiliki daerah lain.
22. 22. 22 PembebasanLahanyangdiberdayakanuntuk memperoleh tanah dengan biaya
rendah un- tuk kepentingan umum (Land banking). Hari ini, 90% dari lahan dimiliki
negara berban ding 49% pada tahun 1965. Undang-undang ini, bersama dengan kebijakan
pemukiman yang sensitif, memungkinkan HDB untuk membersihkan penghuni liar dan
daerah ku- muh dengan lancar dan membangun aparte- men HDB yang baru. Kota
Singapura terencana secara terpadu dan berubah dinamis sesuai perkembangan kota
metropolitan. Kota Batam juga berkem- bang dinamis sehingga terjadi perubahan yang
relatif cepat terhadap perda RTRW 2001-2011, RTRW 2004-2014 dan terakhir 2008-2028
yang kandas karena tersandung masalah hutan lindung dan fungsi hutan lainya.
Pengembangan pulau Batam tidak didukung oleh komitmen yang kuat dari pemerintah,
salah satu contohnya masalah terindikasi hutan lindung belum tuntas sejak tahun 2007
hingga sekarang. Lahan di Singapura dibentuk atau di- matangkan oleh pemerintah,
kemudian dialokasikan kepada investor melalui tender yang transparan. Dengan
demikian, peme rintah Singapura dapat mengendalikan se- cara baik pengembangan kota,
tata ruang, pasar properti, semuanya terkendali oleh pe- merintah, sehingga jarang terjadi
oversupply/ defisit property, harga properti jarang jatuh/ booming secara tidak wajar. Hal
ini berbeda dengan pengelolaan kota Batam yang meng alokasikan lahan mentah dan
membiarkan investor/pengembang membebaskan rumah liar, merancang fatwa planologi
masing-ma sing, akibatnya permukaan tanah satu lokasi dan tetangganya tidak
teratur/serasi, drai- nase tidak terhubung dengan baik sehingga mudah terjadi banjir,
secara keseluruhan pembangunan kurang terkendali, kadang over supply sehingga
dikenal kota seribu ruko yang kosong tanpa penghuni, pasar properti berfluktuasi cepat
dan tidak pasti sehingga beresiko bagi investasi. Saat ini, ada lebih dari 900.000 flat HDB
di Singapura, dengan 90% dimiliki oleh ma syarakat Singapura dan 10% sisanya sewa.
Selama 50 tahun terakhir, pemerintah Sin- gapura selalu merumuskan kebijakan apartemen HDB, bukan hanya jumlah unitnya, kualitas dan fasilitas lingkungan yang terus
ditingkatkan, bahkan saat ini telah memasuki pengembangan green building, irit energi
dan rumah pintar (smart-home). HDB juga memmerhatikan kebutuhan spesifik dari
heterogen masyarakat yang beragam, se perti untuk pasangan muda, keluarga multigenerasi, orang tua, generasi muda yang
23. 23. 23 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M masih sendirian. Produk HDB
terjangkau dan menjadi kebanggaan masyarakat Singapura. Menurut survei sampel
Rumah Tangga pada tahun 2008, terbukti 96,4% Rumah Tangga di Singapura merasa
puas dengan flat mereka dan 80% penduduk Singapura tinggal di flat HDB sisanya 20%
di kondominium dan ru- mah tapak. Pemerintah Singapura terus menjaga harga jual
apartemen HDB terjangkau untuk berbagai kelompok usia dan kemampuan. Saya akan
memastikan setiap keluarga Sin- gapura yang bekerja mampu membeli rumah mereka,
kata PM Lee dalam pidato kenega- raan pada Nasional Rally Day 2013. Sebagai
permulaan, pemerintah akan memastikan bahwa keluarga dengan pendapatan rumah

tangga bulanan sebesar $ 1.000 akan mam- pu membayar apartemen HDB. Pemerintah
tidak akan mengurangi kualitas apartemen HDB tapi akan memberikan lebih banyak
dukungan melalui beberapa skema bantuan keuangan seperti Additional CPF Housing
Grant (AHG). Diajugameyakinkankeluargadenganto- tal pendapatan dolar Singapura
(SGD) $ 2.000 per bulan akan mampu membeli sebuah apartemen tiga kamar sementara
mereka yang berpendapatan SGD $ 4000 akan dapat membeli apartemen empat kamar.
Sebuah apartemen tiga kamar yang harganya SGD $ 170.000 (sekitar Rp.1,56 Miliar),
bisa dibeli oleh penghasilan keluarga SGD $ 2.000 (Rp. 18,4 juta) per bulan. Keluarga
tersebut akan dapat melakukannya melalui kombinasi hi- bah yang dapat mencapai SGD
$ 55.000 dan kemampuan untuk membayar melalui reke ning CPF mereka. Diupayakan
mereka tidak ada pembayaran tunai. Sementara itu, empat kamar datar yang biasanya
dihargai SGD $ 285.000, bisa dibeli oleh keluarga berpeng- hasilan SGD $ 4.000 per
bulan melalui hibah yang berjumlah SGD $ 35,000. Pembayaran melalui rekening CPF
mereka dan mereka hanya perlu membayar tunai bulanan SGD $ 67. UU Perumahan dan
Pengembangan Si ngapura (1960) memberikan kewenangan/ otoritas hukum kepada
Dewan Perumahan dan Pengembangan (The Housing and Deve lopment Board /HDB)
menyediakan peru mahan terjangkau, seperti Perum PERUMNAS di Indonesia. HDB
dengan dukungan Central Provident Fund (CPF) seperti JAMSOSTEK di Indonesia,
namun peranannya lebih maksi- mal dengan pemerintah melalui CPF adalah Bank
Perumahan Rakyat yang dapat menja- min pembiayaan yang lebih murah untuk perumahan rakyat dan pemerintah melalui HDB tidak memperhitungkan tanah dalam harga
jual apartemen. BP Batam dan/atau bersama Pemda Kota Batam dan/atau bersama
PERUM PERUMNAS dapat mengambil peran HDB dan Kemen- pera dengan FLPP
dapat bersinergi dengan JAMSOSTTEK dengan PUMP dan/atau Bank Pembangunan
Daerah dapat mengambil alih peran CPF. Jika simulasi ini dapat diwujudkan maka tidak
tertutup kemungkinan penye diaan tempat tinggal khususnya rusunawa dan rusunami di
Batam dapat terpenuhi, se- lanjutnya impian Batam menjadi KOTATANPA
KESENJANGAN PERUMAHAN dapat menjadi kenyataan. n Kota Batam juga berkembang dinamis sehingga terjadi perubahan yang relatif cepat.
24. 24. 24 P ada tahun 2009, pemerintah telah meresmikan Kawasan Batam seba- gai
kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (free trade zone). Hal terse- but
didasarkan pada posisi menguntungkan bagi Kota Batam dalam dunia perdagangan
internasional. Posisi strategis kota Batam yang berada di lintasan jalur perdagangan internasional serta berada di garis pulau terluar di Indonesia berpotensi sebagai kota bandar
metropolitan berskala dunia yang madani serta menjadi andalan pusat perekonomian
nasional. Bagaimana tidak? Posisi yang ber- dampingan dengan negara-negara tetangga
seperti Singapura dan Malaysia dan sebagai jalur perdagangan internasional mampu
mengembangkankotaBatamsebagaidaerah industri. Oleh sebab itu, kota Batam dipercaya memiliki peranan penting bagi kehidupan tatanan kota terutama sektor ekonominya.
Berdasarkan Keputusan Presiden No. 41 Ta- hun 1973 yang selanjutnya diubah menjadi
Keputusan Presiden No. 113 Tahun 2000, ter- surat dengan jelas bahwa kota Batam
secara keseluruhan wilayahnya menjadi kawasan pengembangan industri di bawah suatu
lembaga otorita yaitu Otorita Pengembang an Daerah Industri Pulau (OPDIP) Batam atau
yang disebut pula dengan nama Oto- ritas Batam. Pasca penetapan tersebut, kota Batam
mengalami peningkatan drastis sebagai daerah industri, perdagangan, jalur internasional,

pariwisata yang mendukung pada pertumbuhan kota Batam. Hal inilah yang menjadi
daya tarik kota Batam sebagai kawasaninvestasi bagi para pendatang baik dalam negeri
maupun luar negeri sehingga akan meningkatkan lapangan kerja bagi Menuju Batam
sebagai Kota Metropolitan: Peluang danTantangan Assoc. Prof.DR.Ir. Budi Prayitno,
M.Eng, Kepala PUSPERKIM UGM Center for Housing and Urban Development
Department of Architecture, Gadjah Mada University SUMBER FOTO: ISTIMEWA
25. 25. 25 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M masyarakat itu sendiri maupun
luar daerah. Secara teoritis, kemampuan pengelo- laan potensi sumber daya yang dimiliki
oleh suatu daerah akan berdampak pula pada tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Memang disatu sisi mengandung makna betapa besar peluang dan potensi yang bisa dikembangkan dan disisi yang lain mengandung makna betapa besar pula tantangan dan
kerentanan yang harus kita hadapi dan kelola apabila visi tersebut benar-benar bisa
diwujudkan. Ketakutan yang terjadi adalah ketidakmampuan daerah dalam mengimplementasikan visi yang menjadi acuan karena berbagai faktor seperti sumber daya
manusia, gencaran pembangunan berorien- tasi ekonomi tanpa memandang dimensi sosial. Oleh sebab itu, guna menyeimbangkan pembangunan kota Batam maka diperlukan
strategi-strategi solutif dalam merencana- kan kota industri ber-outcome-kan well
being bagi masyarakat. Pada akhirnya, peran pemerintah daerah sebagai amanat
penyelenggara urusan di daerah harus mampu memampukan dan mengelola potensi
sumber
daya
yang
dimilikinya.
Selain
itu,
perencanaan
berbasis
livelihoodsdansustainablecitymenjadilan- dasan dalam menyelenggarakan penataan kota
sehingga meminimalisir dampak negatif yang akan timbul. Untuk itu aspek intervensi,
institusi,inovasi,investasidaninfrastruktur (5i) yang dijabarkan dalam perekayasaan
teknis dan perekayasaan pengelolaan ter- hadap kota Batam secara profesional mu tlak
harus dilakukan. Baik pemerintah pusat maupun daerah harus mampu menjadi aktor
penggerak perbaikan tata kelola perumahan. Hal ini karena keberhasilan pemenuhan ke
sejahteraan papan di Batam secara empiris senantiasa membutuhkan political will dari
unsur kepranataan pemerintah pusat dan daerah tersebut. Negara haruslah hadir untuk
memberikan jaminan kepastian hak bermu- kim setiap masyarakat dalam bentuk tidak
melepaskan bidang perumahan pada meka- nisme pasar semata, melainkan menyiapkan
kepranataan yang kondusif untuk memenuhi keswadayaan lokal. Isu Strategis Daya tarik
investasi atas dasar pertim- bangan ketersediaan tenaga kerja, teknologi dasar dan
kekayaan alam serta wilayah strat- egis kepulauan merupakan potensi yang masih harus
kita kembangkan. Hal ini dika renakan mengingat persaingan kualitas perdagangan
secara global merupakan pra- syarat utama untuk menjadikan Batam seba- gai kota
bandar metropolitan internasional. Tantangan menuju perkotaan sesuai dengan visi
perkotaan nasional 2050 untuk mewu- judkan kota yang aman dan nyaman dalam sebuah
perekayasaan kota hijau yang tang guh dan berkelanjutan serta dalam sistem Pemerintah
telahmeresmi- kanKawasan Batamsebagai kawasanperda- ganganbebas danpelabuhan
bebas(freetrade zone).
26. 26. 26 tata kelola perkotaan yang berdaya saing dan berbasis IT yang handal perlu kita
jadi- kan acuan visi dan misi kota Batam menuju kota metropolitan. Berbagai peluang
besar pengembangan investasi di bidang perdagangan, indus- tri, perkapalan, kelautan,
pelabuhan, serta kepariwisataan menuntut prasyarat pereka yasaan teknis infrastruktur

yang handal dan perekayasaan pengelolaan yang pro fesional untuk mewujudkan
pembangunan kota yang berdaya saing. Pilar penyelengga raan tata kelola Kota Batam
yang terdiri dari Pemerintah Kota Batam, Badan Pengelola, serta masyarakat yang terdiri
dari elemen akademisi dan wakil masyarakat perlu di- jalankan melalui kejelasan dan
ketepatan pembagian peran (role sharing)nya. Hal ini mengingat banyak hal yang harus
secara
cepat
dan
tepat
untuk
segera
diputuskan
dalampercaturanperdaganganberskalaglobal. Kerentanan terhadap konflik akibat berba- gai
kepentingan yang berujung pada kebun- tuan pengambilan keputusan akan sangat cepat
direspon secara negatif oleh situasi pasar perdagangan. Kejelasan dan kepas tianregulasi
beserta proses legalitasnya juga menjadi pertimbangan penting yang harus benar-benar
dikelola secara profesional. Demikian pula berbagai kerentanan yang ditimbulkan akibat
kesenjangan distri busi kesejahteraan antara pelaku usaha dan tenaga kerja yang berujung
pada atmosfir investasi yang negatif juga harus dipertim- bangkan secara cermat. Hal
yang tidak kalah pentingnya adalah kerentanan kerusakan lingkungan baik akibat
ketidakserasian pe- manfaatan ruang maupun akibat pencemar an limbah harus benarbenar-benar dilaku- kan pelindungan dan mitigasi kerusakannya secara cermat melalui
pengendalian tata ruang dan perijinannya yang dilakukan se- cara akuntabel, transparan,
dan tegas dalam penegakkannya. Mengingat kekayaan potensi strategis Kota Batam,
pemerintah daerah kota Batam sebaiknya merencanakan pembangunan daerah untuk
kepentingan jangka panjang bukan hanya pada tataran skala pendek. In- vestasi
masuknya industri baru di wilayah kota Batam perlu penyaringan dan penga- wasan yang
ketat demi menjaga kelesta rian lingkungan. Terlebih dengan adanya isu pembuangan
limbah industri ke dalam laut dengan dalih kemudahan dan lebih murah biayanya. Hal ini
tentu akan memicu ter- jadinya degradasi kualitas alamnya terutama laut dan pesisir.
Padahal melihat dari kondisi geografis dimana kota Batam ini merupa- SUMBER FOTO:
ISTIMEWA
27. 27. 27 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M kan daerah dengan sebutan
pulau kecil yang memiliki karakteristik biogeofisik yang cukup menonjol. Kesadaran
terhadap pembangun an berbasis ekologi telah menjadi isu global karena pengaruh
perkembangan dunia in- dustri. Sinkronisasi kepentingan antarstake holders menjadi
main key dalam menyeleng- garakan pembangunan kota Batam. Penguatan kelembagaan
menjadi isu yang tak kalah pentingnya untuk dikaji se- cara serius. Umumnya daerah
tidak mampu mengoptimalkan potensi yang ada karena keterbatasan kapasitas baik secara
finansial, sumber daya manusia, maupun benturan regulasi yang ada. Jelas hal tersebut
akan mengurangi nilai manfaat yang seharusnya diperoleh oleh daerah dan tentu akan
ber- dampak pada tujuan pembangunan daerah. Terlebih untuk mewujudkan visi Kota
Batam yaitu Terwujudnya kota Batam sebagai Ban- dar Dunia Madani yang Modern dan
Menjadi Andalan Pusat Pertumbuhan Perekonomian Nasionalsebagaimana yang
tertuang dalam Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2011 Tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Batam 2011-2016. Se- lain itu, untuk
mewujudkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batam 2011- 2031 yaitu
Terwujudnya Bandar dunia yang madani berbasis industri, pariwisata, perda gangan dan
jasa, yang produktif, aman, nya- man, maju, berkualitas, berwawasan ling kungan dan
berkelanjutan serta berdaya saing kuat di era global. Wujud penguatan kelembagaan
yang dibutuhkan untuk mengakselerasi pem- bangunan di kota Batam adalah salah satu

bagian dari pembentukan kemitraan multi aktor dalam kebijakan pembangunan dan
perumahan. Hal penting yang mendesak di- lakukan adalah memastikan bahwa setiap aktor yang terlibat dalam perumusan maupun implementasi kebijakan pembangunan dan
perumahan memiliki kapasitas yang mema dai sehingga mampu mendukung upaya pemenuhan cita-cita kesejahteraan papan. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan kapasitas kelembagaan guna menguatkan posisi tawar (bargaining position) untuk mereduksi
kemungkinan terjadinya distorsi kebijakan maupun hambatan lain. Rekayasa
Permukiman Kota yang terletak di Provinsi Kepu- lauan Riau dengan luas 3.990 km ini
telah direncanakan sebagai kota Bandar Interna- sional yang tentunya berimbas pada
pening- katan sektor industri. Bahkan pertumbuhan ekonomi kota Batam yang terus
meningkat danmampubertahandisaatkrisisglobalme- landa dunia, menjadikan kota Batam
sebagai lokomotif pembangunan ekonomi nasional. Secara historikal, pulau yang disebut
dengan kembaran Singapura merupakan daerah ja- jahan Pemerintahan Belanda dengan
mak- sud penguasaan perdagangan di perairan Selat Malaka. Dengan kata lain, potensi
kota Batam telah diketahui sejak zaman kolonial- isasi namun upaya pengembangannya
be- lum sepesat saat ini. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan tujuan sebagai kota Bandar
Internasional tentu akan berimbas pula pada sektor lainnya sehingga diperlukan perencanaan secara holistik. Pemerintah daerahkota Batamsebaiknya merencanakan
pembangunan daerahuntuk kepentingan jangkapanjang.
28. 28. 28 Peluang besar investasi di sektor indus tri, perdagangan dan jasa serta pariwisata
tentunya akan diikuti kebutuhan pemukim an beserta infrastrukturnya. Kompleksitas
pembangunan berbagai sektor tersebut membutuhkan konsep pembangunan pe- rumahan
dan perkotaan yang terpadu yang mampu mensinergikan berbagai ragam moda
penyediaan perumahan yaitu peru- mahan komersial, perumahan pekerja, peru- mahan
bagi warga asing, perumahan umum dan perumahan sosial. Setiap moda penyedi- aan ini
memiliki tuntutan penanganan yang spesifik baik dari sisi teknis perencanaan,
pengelolaan maupun dari sisi regulasi. Di sisi lain, pemerintah dituntut untuk mampu
mengubah persepsi dari negative input vari able menjadi future well becoming khususnya permukiman liar di kawasan industri. Sementara itu, berdasarkan data yang telah
dihimpun, persebaran kawasan kumuh pada umumnya berada di kawasan permukiman
nelayan di daerah Nongsa dan di kawasan industri di daerah Batu Ampar,Tanjung Piayu,
dan Sekupang. Melalui surat keputusan wa- likota telah menetapkan setidaknya terdapat
18 titik kawasan kumuh di kota Batam. Hal ini harus segera teratasi agar citra kota Batam
sebagai Bandar Internasional akan semakin menguat. Termasuk dalam hal ini adalah
kecukup an dan ketersediaan infrastruktur berupa transportasi publik dan prasarana dasar
baik bagi pengembangan kawasan permukiman maupun bagi pengembangan kawasan industri , perdagangan dan pariwisata. Dan se- bagai prasyarat utamanya adalah efektivitas
pengendalian terhadap pemanfaatan tata ruangnya. Perekayasaan tersebut berupa
peningkatan aksesibilitas menuju Batam, peningkatan jaringan infrastruktur transpor tasi
intra Batam, peningkatan infrastruktur pendukung berupa pelabuhan yang me- madai
untuk kegiatan perdagangan ekspor- impor, peningkatan infrastruktur pendu- kung
kegiatan permukiman, perdagangan, pariwisata dan industri serta peningkatan jaringan
intra Batam ke daerah sekitar sebagai basis pengembangan kota Batam menuju kota
bandar metropolitan. Selain daripada itu, pengaturan kepemi likan baik rumah, fasilitas
pengembangan usaha maupun pengaturan pertanahan serta pengaturan kepenghuniannya

mem- butuhkan sebuah konsep kebijakan yang tepat. Mengacu pada Keputusan Presiden
No. 41 Tahun 1973, dijelaskan bahwa hak pe ngelolaan lahan di Pulau Batam diberikan
ke- pada Otorita Batam. Hal ini jelas tersikronisasi dengan era desentralisasi yang
mengacu pada UU No. 23 Tahun 2014 tentang Peme rintahan Daerah. Jaminan kepastian
bermukim dan berkegiatan ekonomi serta kejelasan pengaturannya menjadi syarat mutlak
bagi terselenggarakannya tata kelola kota me tropolitan yang madani. Ketidaktepatan daWalikotatelah menetapkan setidaknya terdapat18 titikkawasan kumuhdikota Batam.
SUMBER FOTO: ISTIMEWA
29. 29. 29 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M lam melakukan pengaturan
tersebut akan berdampak pada ketidakjelasan tata kelola yang berujung pada konflik
kepentingan yang pada akhirnya akan menciptakan iklim investasi yang negatif. Berbagai
peraturan perundangan baik secara nasional maupun daerah sampai saat ini belum
mampu men- jawab tuntutan dan tantangan tersebut. Sudah saatnya bidang perumahan di
kota Batam tidak lagi dipandang dengan pres- pektif charity yang sarat akan
pemahaman bahwa pemenuhan kebutuhan perumahan harus dilaksanakan dengan
memberdaya- kan masyarakat kelompok sasaran. Hal ini mengingat bahwa sebagai
penyedia rumah layak huni yang didasari oleh landasan kon- stitusi, pemerintah memiliki
andil yang besar untuk menjamin hak bermukim setiap warga negara. Dengan demikian
sudah selayaknya bila isu tentang perumahan harus ditempat- kan sebagai aspek yang
dimitrakan sehingga masing-masing aktor yang terlibat dalam kebijakan perumahan di
kota Bata ini senan- tiasa menyadari fungsinya untuk melaksana- kan penguatan pasokan
secara berkesinnam- bungan. Pembentukan kemitraan yang solid antar aktor dalam
kebijakan perumahan ini sekaligus dapat dijadikan sebagai bagian dari rekayasa inovatif
kebijakan perumahan bagi masyarakat di kawasan Kota Batam. Rekayasa Pengelolaan
Konsep sinergi dan ko-produksi pe ngelolaan kota Batam merupakan prasyarat utama
untuk menghindari resiko dan ke rentanan konflik yang terkait dengan pem bagian peran
dan kewenangan pengelo laan yang dilakukan oleh badan pengelola dan pemerintah kota.
Hal ini didasarkan pada status kawasan ekonomi khusus yang sudah
ditetapkanataskotaBatam.Resikokegagalan dalam mewujudkan sinergi dan ko-produksi
pengelolan kota Batam akan berdampak langsung pada kinerja investasi yang meru pakan
penopang keberlangsungan pem bangunan kota. Terlebih apabila dikaitkan dengan
rencana pengembangan kota Batam menuju kota bandar metropolitan maka kompleksitas
dan tantangan serta kesiapan tata kelola baik dari aspek kelembagaan maupun
regulasinya harus benar-benar diperhitungkan secara cerdas dan cermat. Selain itu,
pengendalian terhadap pena- taan ruang yang beresiko terhadap konflik pemanfaatan
lahan serta pengendalian pemerataan kesejahteran yang mempunyai kerentanan terhadap
terciptanya kesen jangan kesejahteraan antara pelaku usaha dan pekerja juga menjadi hal
yang harus dipertimbangkan secara matang dalam tata kelola pemerintahan kota. Maka
kejelasan pembagian peran dan kewenangan dalam perencanaan dan pengendalian
pemba ngunan; perencanaan, pemanfaatan dan Pemerintah memilikiandil yangbesar
untukmenjamin hakbermukim setiapwarga negara. SUMBER FOTO: ISTIMEWA
30. 30. 30 pengendalian tata ruang; penyediaan sa rana dan prasarana umum; pengendalian
lingkungan hidup; pengelolaan pertanah an serta pengelolaan penanaman modal menjadi
mutlak harus dilakukan. Pemerintah kota Batam yang mengemban amanah se- bagai

penyelenggara pemerintahan daerah harus mampu memposisikan perannya se- bagai


pengendali penataan ruang dalam bentukpenerbitanperijinan serta menghin dari
terjadinya bias fungsi pengendalian berupaperijinanmenjadisumberpendapat daerah.
Sedangkan badanpengelolaBatam yang mempunyai otorita kewenangan dalam
pengelolaan tanah harus mampu mendistri- busikan tanah dalam bentuk pencadangan
tanah beserta pengendalian harganya da- lam bentuk bank tanah baik yang bersifat umum
(general land banking) dalam jumlah yang relatif besar untuk kepentingan publik serta
tidak berorientasi pada kepentingan profit maupun bank tanah yang bersifat khusus
(special land banking) untuk ke- pentingan komersial atau berorientasi pada profit. Sehingga tanah secara keseluruhan masih dalam kewenangan pengendalian pengelola yang
tidak sepenuhnya dikenda likanolehmekanismepasar. Selain daripada itu, pelaku usaha
yang bertanggung jawab dalam hal pemenuhan kewajibannya mem bayar pajak serta
menciptakan lapangan kerja juga harus menunaikan tanggung jawab sosialnya dalam
bentuk corporate social responsibility (CSR). Hal ini dimaksud- kan untuk mengurangi
resiko konflik sosial akibat kemungkinan terjadinya kesenjang an dan kecemburuan
sosial. Demikian pula masyarakat secara umum diharapkan juga harus mampu
menjalankan kewajibannya sebagai warga kota yang baik untuk mewu judkan kota
nyaman dan aman sehingga tercipta iklim pembangunan yang kondusif
terhadapinvestasiyangberdampakterhadap semakin meningkatnya kinerja pemangunan
kota Batam menuju kota metropolitan. Hal ini tentu saja perlu dukungan lembaga asosiasi
danakademisiyangberfungsisebagaipeng awas dan pemberi masukan pemikiran bagi
pembangunan kota yangamandannyaman huni dalam lingkungan yang sehat, tang guh
serta berdaya saing. Epilog Pembangunan berkelanjutan yang ter- perencana jangka
panjang menjadi fokus utama dalam mengembangkan kota Batam sebagai kota Bandar
Internasional. Perenca- naan yang tidak hanya terfokus pada dimensi ekonomi namun
juga memperhatikan di- mensi lingkungan dan sosial kemanusiaan Masyarakat
secaraumum diharap- kanjuga harusmampu menjalankan kewajibannya sebagaiwarga
kotayangbaik. SUMBER FOTO: ISTIMEWA
31. 31. 31 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M menjadi peran penting.
Pembangunan ka- wasan industri yang terintegrasi dengan pe- nataan kota serta
penyediaan perumahan menjadi isu strategis untuk merumahkan masyarakat.
Memampukan sumber daya yang ada, mutlak untuk dijadikan dasar pe rencanaan Kota
Batam guna menggali po- tensi yang lebih mendalam. Dengan kata lain dapat disebutkan
bahwa, proses implemen- tasi kebijakan di Kota Batam harus senantiasa dilaksanakan
secara humanis. Kelompok sasaran perlu diinput sebagai salah satu aktor dalam
perumusan kebijakan sehingga ada korelasi positif yang tercipta antara tahapan
perencanaan dan pelaksanaannya. Perekayasaan tata kelola kelembagaan dan regulasi
dalam menyongsong program kota Batam menuju kota bandar metropoli tan
membutuhkan kesiapan kemampuan pemangkukepentinganuntukmewujudkan kinerja
yang akuntabel, kesiapan kemam puan kerjasama antarpemangku kepen tingan
(pemerintah kota, badan pengelola ,pelaku usaha dan masyarakat), kesiapan pengelolaan
yang partisipatif dalam pro ses pembangunan serta didukung kesiapan SDM dan akses
komunikasi serta informasi bagi seluruh pemangku kepentingan. Bagi berbagai aktor
kebijakan perumahan di Kota Batam, perlu melaksanakan pengembang an kapasitas
untuk meningkatkan posisi ta- war sehingga proses kemitraan tata kelola perumahan yang

dikembangkan dapat di- laksanakan dengan lebih strategis. Hal ini karena untuk
mengakselerasi pemenuhan kesejahteraan papan, tata kelola bidang pe- rumahan harus
berbasis kemitraan. Kesadaran mengenai urgensi kemitraan dalam tata kelola perumahan
di kota Batam sejatinya merupakan salah satu solusi (pro blem solving) untuk mengatasi
berbagai limitasi kondisi yang tercipta akibat tumpang tindih maupun problema substansi
regulasi. Misalnya tentang problema tumpang tin- dihnya kewenangan antarinstitusi,
secara empiris dapat diselesaikan melalui berba- gai bentuk kerja sama antarlembaga. Hal
ini karena melalui kerjasama antara lembaga ini sangat dimungkingkan terjadinya
degradasi ego sektoral maupun ego institusional yang justru bermuara positif terhadap
upaya ak- seleratif pemenuhan kesejahteraan papan di kota Batam. Dengan demikian
pereka- yasaan kebijakan perumahan dan permuki- man dapat diawali dengan
membentuk relasi harmonis antar stakeholders dalam bentuk kemitraan strategis.
SUMBER FOTO: ISTIMEWA
32. 32. 32 S udah lebih dari dua dekade Kemi- traan Pemerintah-Swasta (KPS) atau PublicPrivate Partnership (PPP) atau Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU)
menjadi konsep yang sangat populer dalam wacana pembangunan infrastruktur di tanah
air. Lewat skema KPBU, diharapkan Pemerintah dan Swasta kawin bersanding untuk
membangun dan mengoperasikan infrastruktur publik selama jangka waktu tertentu,
dengan biaya yang lebih murah dibandingkan bila dilakukan sendiri oleh pe- merintah.
Dengan KPBU idealnya diperolah nilai tambah danefisiensi value for money (VfM),
sebagai buah dari inovasi swasta da- lam menghemat biaya dan mengelola risiko. Dengan
berbagai alasan, pemerintah di seluruh dunia terus berupaya menarik pem- biayaan
swasta untuk menjembatani ke senjangan infrastruktur publik. Di Indonesia, dukungan
bilateral dan multilateral untuk pembangunan infrastruktur Kerjasama Pe- merintah
dengan Badan Usaha (KPBU) terus mengalir. Namun, ketika proyek prioritas ditawarkan
ke pasar, transaksi tidak terjadi. Dengan pengalaman jelek masa lalu, kini Pemerintah
masih terus berusaha untuk mengembangkan kerangka kerja KPBU, ke- bijakan,
pedoman dan baru-baru ini sudah mendirikan beragam lembaga keuangan dan
penjaminan infrastuktur, termasuk pemikiran pendirian lembaga khusus untuk pembia
yaan infrastruktur. Apa yang salah dan kurang? Berikut ini pandangan akademik dari
serangkain diskusi bersama para pelaku, yaitu masyarakat, swasta, birokrat dan insti- tusi
pengetahuan. Empat puluh tahun yang silam, pemba KerjasamaPemerintah
denganBadanUsaha: Trial and Error Berlanjut Harun al-Rasyid LUBIS Kaprodi Master
dan Doktoral Teknik Sipil ITB; Chairman IPKC (Infrastructure Partnership and
Knowledge Center)
33. 33. 33 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M ngunan infrastruktur dipandang
sebagai
tanggung
jawab
pemerintah,
meskipun
gagasanketerlibatansektorswastaperdebatan- nya sudah muncul sejak abad ke-19 ketika di
Belanda dibahas apakah proyek infrastruktur di Indonesia, misalnya kereta api, harus
dida- nai oleh dompet publik atau swasta. Kurangnya investasi infrastruktur menciptakan biaya transportasi dan logistik yang tinggi, kemacetan di perkotaan memboroskan sumber daya, semua inimenghambat daya saing produk nasional dan mengganjal
pertumbuhan. Jika pertumbuhan ekonomi terus berlanjut dan dapat dipacu, meskipun
banyak disumbangkan oleh konsumsi rumah tangga, menurut laporan McKinsey Global

Institute, Indonesia diperkirakan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ketujuh di dunia


pada tahun 2030, melebihi Inggris dan Jer- man, bahkan menurut laporan Citibank menjadi terbesar ke-empat di tahun 2040, setelah China, India dan Amerika Serikat. Tertimpa
dua kali krisis finansial pada tahun 1998 dan 2008, belanja infrastruktur sampai sekarang
belum juga pulih ke tingkat pre-krisis.SebelumkrisiskeuanganAsia1997, investasi di
bidang infrastruktur kita menca- pai puncaknya pada level 7% PDB, kemudian jatuh
secara dramatis, dan baru sekarang mu- lai pulih ke level 3,2% PDB, ini jauh di bawah
apa yang dibutuhkan. Level 4% sampai 5% PDB dianggap wajar dan mencukupi. Sebagai perbandingan India dan China, belanja infrastuktur dalam kisaran 7-9% PDB.
Dukungan bilateral maupun multilateral bagi KPBU terus mengalir. Seminar, konfe rensi,
pameran, daftar proyek KPBU, proyek contoh (showcase), membentuk komite di tingkat
pusat dan daerah, mendirikan lem- baga keuangan pendukung dan penjamin, sinergiantar
(SK Bersama) Kementerian, tetapi tetap saja transaksi mandeg. Hanya satu dua
proyekready-to-offeryang berhasil atau mendekati closing, namun lanjutan implementasi selalu saja terhambat; sebagian dikarenakan pembebasan lahan, atau terjadi
dispute otoritas perijinan di tingkat daerah. Akhirnya karena eksekusi terus molor, biaya
terus membengkak, dan proyek akhirnya mangkrak. Lambat dan tersendatnya transaksi
KPBU selama ini sudah dimaklumi oleh Pemerintah sendiri. Dikatakan Pemerintah
underestimate tentang proses dan prosedur KPBU yang baik. Sehingga ada yang terputus
(missing link) antara kebutuhan pendanaan KPBU yang sangat besar dan modal swasta
yang juga berlimpah dipasar.Puncak gunung es yang terlihat hanyalah perkara kapasitas
anggaran (fiskal) yang terbatas, sehingga di benak pengambil kebijakan solusinya perlu
Gambar: Belanja Infrastruktur (Sumber: Ditjen Anggaran, Kemenkeu RI)
34. 34. 34 segera dicari sumber pendanaan pengganti, atau pelengkap. Celakanya modal atau
dana dari sumber swasta ini, biayanya akan lebih mahal, yang kemudian tentu akan
mening- katkan tarif kepada konsumen. Persoalan-persoalan masif di bawahnya yang tak
terungkap antara lain tujuan KPBU yang masih tidak jelas, persiapan proyek tidak
matang, masalah SDM dan kapasitas lembaga di semua lini baik di pusat maupun daerah
masih rendah, praktek good gover nance masih lemah, merebaknya korupsi, iklim
kompetisi tidak sehat, industri jasa kon- struksi dan operator swasta yang mumpuni masih
sangat terbatas, dan lainnya. Daftar panjang ini belum banyak tersentuh untuk
diselesaikan secara sistemik. Kini Rencana Pembangunan Jangka Me- nengah (RPJM)
ke-3 tahun 2015-2019 sudah final, seperti biasa, KPBU tetap masih menja- di harapan
dan andalan. Perkiraan kebutuh an pendanaan infrastruktur total sebesar Rp 5.500 Triliun,
lihat Tabel 1. Pendanaan publik hanya tersedia 50% (APBN + APBD), sisanya
diharapkan dapat dipenuhi dari BUMN dan swasta (termasuk KPBU dan B to B). Namun
dengan pencapaian transaksi KPBU yang sa ngat minim selama ini, serta sederet tantang
an dan hambatan tadi, sebaiknya dari mana pembenahan mulai dilakukan? Tabel:
Perkiraan Kebutuhan Pendanaan Infrastruktur (2015-2019)
35. 35. 35 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M Masih Bisakah KPBU
Diharapkan ? Dalam rangka membangun kerangka peraturan lintas sektoral untuk
menerapkan KPBU dalam pembangunan infrastruktur, Pemerintah telah melakukan
perubahan Keputusan Presiden Nomor 67/2005 tentang KPBU sebanyak tiga kali yaitu
Keputusan Pre siden Nomor 13/2010, No. 56/2011 dan No. 66/2013, dan baru-baru ini

telah menggan- tinya menjadi Perpres No. 38/2015 tentang Kerjasama Pemerintah
dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur. Beragam jenis infrastruktur
ekonomi juga sosial se perti infrastruktur kesehatan dan perumahan sudah dicakup dalam
Perpres 38/2015 yang baru ini. Jawaban dari pertanyaan di atas adalah- bisa, kalau
yang Pertama, KPBU yang selama ini diatur hanya sebatas Perpres, se yogyanya
hirarkinya ditingkatkan untuk me- mastikan konsistensi kebijakan yang dapat
meyakinkan calon mitra atau investor. Siklus proyek infrastruktur umumnya bisa mencapai puluhan tahun sejak persiapan hingga aset diserahkan kembali ke negara. Lamanya
melebihi masa efektifnya satu atau dua pe- merintahan. Untuk itu, perlu diagendakan
undang-undang khusus tentang KPBU. Ne gara tetangga seperti Philipina dan Thailand
terus berbenah kerangka legal dan kelem- bagaan KPBU mereka. Malaysia sudah jauh
meninggalkan kita. Yang kedua, ambivalensi tentang kelem- bagaan KPBU dapat
disudahi dengan mendi- rikan unit atau Pusat KPBU yang profesional terpisah dari
rutinitas birokrasi. Hendaknya didirikan Pusat KPBU baru yang ditempatkan langsung
dibawah kantor Presiden/Wapres atau Kemenkoperek. Di Pusat ini persiapan proyekproyek KPBU dimatangkan, dan ber- kumpul ahli dan profesional (expert pool) yang
menetap dan dapat diakses nasehatnya oleh simpul KPBU di Kementerian/Pemda. Barubaru ini, sebelum pergantian presi- den eksperimen lebih lanjut kelembagaan KPBU
terjadi, sebuah lembaga baru bernama Komite Percepatan Pembangunan Infrastruk- tur
Prioritas (KPPIP) telah didirikan berdasar- kan Peraturan Presiden Nomor 75/2014
tentang Percepatan Prioritas Pembangunan Infrastruktur, mengganti sebelumnyaKomite
Kebijakan Percepatan Pembangunan In- frastruktur (KKPPI) suatu forum kordinasi
antarmenteri untuk keputusan tingkat tinggi dalam pembangunan infrastruktur. Komite
baru KPPIP ini diketuai oleh Men- teri Koordinator Bidang Perekonomian dan
beranggotakan Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kepala Badan Pertanahan
Nasional (BPN/ATR). KPPIP memiliki tiga tu- gas utama, pertama, strategi dan
kebijakan untuk mempercepat Prioritas Pembangunan Infrastruktur penetapan. Yang
kedua adalah memantau dan mengendalikan pelaksanaan strategi dan kebijakan dalam
rangka mem- percepat pembangunan infrastruktur priori- tas. Yang ketiga adalah
memasilitasi pening- katan kapasitas aparatur dan lembaga yang terkait dengan
pengembangan infrastruktur prioritas. Dalam melaksanakan tugasnya, KPPIP dibantu
dengan menetapkan tim dan kelompok kerja atau sekretariat, yang Siklusproyek
infrastruktur umumnyabisa mencapai puluhantahun.
36. 36. 36 semuanya kemungkinan besar berasal dari birokrasi. Juga KPPIP dapat
mengundang ke- menterian lain, lembaga, pemerintah daerah, perusahaan, dan pihak lain
yang fungsi dan tugas yang berhubungan dengan perce patan pembangunan infrastruktur
prioritas. KPPIP juga dapat merekrut ahli individual, in- stitusi dan atau perusahaan dan
membentuk panel konsultan. Namun karena masih baru, fungsi efektif dan peran KPPIP
belum terlihat, menunggu serangkaian peraturan lanjutan. Sekedar mengganti baju
KKPPI menjadi KPPIP diperkirakan akan tetap terkendala dalam hal kordinasi seperti
yang terjadi selama ini dengan KKPPI. Ketiga, target proyek KPBU yang terca kup di
dalam RPJM 2015-2019 haruslah sa ngat selektif dan realistis. Alokasi pendanaan APBN,
sebagian harus mencadangkan dana viability gap funding (VGF) bagi tender proyekKPBU yang ingin ditingkatkan kelayakan fi nansialnya ke batas wajar. Sehingga, dengan

keterbatasan anggaran, masih ada target dan prioritas KPBU yang viable dan bankable.
Pera- turan tentang penyaluran dan mekanisme dana VGF perlu dilengkapi, untuk
menjamin kepastian hukumnya. Peran Pusat KPBU yang profesional dan berdedikasi
akan sangat me- nentukan pencapaian target proyek KPBU. Kompetisi dan Industri
Konstruksi Handal Masih banyak pekerjaan rumah untuk membenahi kemandegan
KPBU selama ini. BUMN adalah termasuk dalam entitas swasta yang dimaksud.
Netralitas kompetisi BUMN terhadap badan usaha swasta lain belum diatur secara fair
hingga saat ini, juga peran Kementerian yang terdistorsi karena insen- tif dan kemudahan.
Semua proposal yang berasal dari Kementerian dan BUMN harus dapat dipersandingkan
dengan proposal KPBU, atau sebaliknya proposal KPBU harus dapat dipersandingkan
dengan proposal an- dai proyek dieksekusi oleh Kementerian atau BUMN. Belajar dari
negara yang KPBU nya sudah dewasa seperti Inggris, Australia dan Canada, ataupun
Korea, perolehan nilai tam- bah adalah buah dari inovasi yang terpupuk lewat pengaturan
kompetisi yang berkea dilan dan pembinaan industri konstruksi na- sional yang handal.
Jangan-jangan memang KPBU selama ini salah dimengerti banyak pihak. Daftar proyek
KPBU yang ditawarkan selama ini, ke- layakannya sama sekali belum dan tidak terbukti
memberi perolehan efisiensi (value for money), sehingga wajar saja tak kunjung ada
realisasi KPBU. Ini termasuk konsesi jalan tol yang sudah berjalan selama ini, tidak atau
belum memiliki bukti keras efisiensi ini. Tanpa uji efisiensi, risikonya, kalaupun ada
proyek yang lolos transaksi, tidak menjamin menghasilkan harga (tarif) yang terbaik bagi
konsumen. KPBU hanya bisa berhasil bila ada kepemimpinan nasional yang kuat,
dibantu oleh birokrat yang berjiwa en trepreneur. Karena KPBU bukan membeli jasa,
tetapi menjual dan menawarkan prospek usaha lewat pembagian risiko dan pengembalian
(return) yang adil ke- pada para pihak. Jangan- jangan memang KPBUselama inisalah
dimengerti banyakpihak.
37. 37. 37 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M Kantor Pemasaran: Komplek
Puri Pesona Batam Blok H3 No. 11Tanjung Uncang Batam Telp: 085100081618
38. 38. S ejak ditetapkan sebagai daerah industri dengan berbagai fasilitas khusus bagi
investor, Batam selalu menarik perha- tian banyak kalangan. Banyaknya investasi yang
masuk telah menyedot tenaga kerja yang ingin mengadu nasib di kota pulau ini. Sejak
lama, Batam diidentikkan dengan kemakmuran karena besarnya jumlah uang yang
beredar di sana. Kondisi ini membuat lonjakan penduduk Batam tak terkendali. Saat ini,
angka pertumbuhan penduduk Kota Batam tercatat sebe- sar delapan persen. Angka
tersebut merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia. Dari jumlah penduduknya
sebanyak 1,3 juta jiwa, Batam sudah layak disebut sebagai kota metropolitan. Akibat
langsung pertumbuhan penduduk yang tinggi adalah kebutuhan akan perumahan yang
terus menerus meningkat. Se- makin lama, Batam makin kekurangan lahan untuk
membangun rumah. BP Batam sebagai pemegang kuasa atas lahan harus cermat
mengalokasikan lahan untuk industri dan pengembang properti. Hal ini menjadi perhatian
serius Ketua DPD REI Khusus Batam, Djaja Roeslim. Sejak terpilih lagi menjadi Ketua
DPD REI Khusus Batam pada Maret 2014 lalu, ia mulai mendorong agar pembangun an
properti di Batam dilakukan dengan memerhatikan kondisi ling- kungan. Ia juga
menawarkan
konsep
kepada
pemerintah
soal
cara
mengatasipersoalanperumahanliarmaupunkiosliaryangtumbuh subur di Batam. Secara

khusus, Djaja melihat kepastian hukum atas lahan di Batam kerap masih menjadi
persoalan. Kepada HUD Maga zine, Djaja menyempatkan waktu berbincang mengenai
tantangan dan upaya memenuhi kebutuhan papan bagi warga Batam. SUMBER FOTO:
ISTIMEWA Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Khusus Batam TataRuangBatam
MasihBanyakTidakJelas
39. 39. 39 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M Dari sudut pandang pengusaha
pro perti, seperti apa kota metropolitan? Kalau kita bicara kota metropolitan, ada
beberapa syarat. Pertama dari jumlah pen- duduk. Metropolitan itu kan minimal satu juta.
Batam sudah 1,2 juta lebih. Itu me- menuhi syarat dari jumlah penduduk. Tapi menjadi
kota metropolitan tidak semata- mata dari jumlah penduduk. Ada kriteria lain seperti
infrastruktur, kemudian kesiapan pe- merintah dalam hal ini regulasi. Untuk Batam,
jumlah penduduk sudah memenuhi. Namun faktor apa yang mem- buat Batam masih
belum bisa dikatakan kota metropolitan? Dari regulasi kita sebenarnya agak keteteran.
Tata ruang kita saja masih banyak ketidakjelasan. Ini harus segera dibenahi. Dari yang
paling dasar, yakni kepastian hak atas lahan. Untuk saat ini saja masih banyak
ketidakpastian di Batam. Misalnya lahan di sebut hutan lindung sementara nyatanya sudah berdiri bangunan. Setelah ada kepastian mengenai lahan, kemudian tata ruangnya.
RTRW-nya, peruntukannya. Sampai saat ini pun kami hanya memegang RTRW yang
lama tahun 2004 yang sudah berakhir di tahun 2014. Nah yang baru belum ada karena sebagian lahan terkena hutan lindung. Di Per- pres 87/2011 sudah lebih jelas, tapi itu pun
masih di arsir pada bagian yang terkena hu- tan lindung. Dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehu- tanan Nomor 76 pada bulan Februari 2015,
sebagian Batam sudah terbebas dari hutan lindung dan sebagian kecil lagi yang harus
diselesaikan untuk kejelasan status lahannya. Hal seperti ini yang mengakibatkan Batam
sebagai kota metropolitan masih terhambat karena dari segi regulasi, banyak hal-hal yang
masih belum jelas. Belum lagi infrastruktur. Kalau saat ini air masih sanggup.Tapi
dengan perkembangan Batam yang ada sekarang, berapa lama cadangan air dapat
bertahan? Kemudian dengan cadangan listrik, berapa banyak bisa mendukung?
Kemudian kapa- sitas jalan. Kalau jalan sementara saya lihat cukup. Lalu transportasi
publik. Batam masih kurang untuk moda transportasi umum yang menghubungkan feeder
dari Batam Center dengan daerah Batuaji. Selain kekurangan itu, ada kelebihan dari
jumlah penduduk. Selain itu, apa modalyangmembuatBatammenjadikota metropolitan?
Kalau dari segi penduduk sudah masuk. Sebenarnya Batam ini sudah cukup seksi dan
menarik. Dari sisi letak geografis sangat strategis karena dekat dengan Singapura,
Malaysia. Jadi perkembangan Batam banyak terimbas dari pertumbuhan negara tetangga
karena sangat dekat. Ini satu modal yang be- sar. Dari segi pajak, Batam kan paling menarik dibanding daerah lain. Tapi dengan FTZ masih ada kendala sehingga perlu
memberi- kan kejelasan kepada investoryang ingin ber- investasi di sini. Kalau
kekurangan itu tidak dibenahi, itu bisa menjadi kendala. Sekarang kita lihat itu sebagai
keunggulan Batam. Ke- unggulan lain dari segi lahan. Saat ini hanya Perkembangan
Batambanyak terimbasdari pertumbuhan negara tetangga.
40. 40. 40 pulau Batam saja yang dikuasai pemerintah. Seluruhnya kan HPL yang diberikan
oleh BP Batam. Ini kan lebih mudah karena dengan adanya land bank ini tanah
terkontrol. Ke- mudian bisa diawasi, bisa dikendalikan sede- mikian rupa dengan

regulator lebih mudah ketimbang daerah yang lain. Penataannya bisa jauh lebih mudah
karena semuanya satu pintu. Lalu harga tanah bisa lebih terkontrol. Ada plus dan
minusnya. Kalau dari sisi pe- nyediaan lahan ini sangat positif karena akan mendukung
pembangunan Batam yang su- dah dikelompokkan dan daerah mana yang harus
dibangun. Lebih jelas dan tidak bakal tumpang tindih karena sumber keluarnya satu dari
BP semua. Jadi kalau ada dobel, itu hanya karena oknum. Tapi kalau secara sistem, ini
sudah aman karena satu pintu. Dibanding daerah lain, apa keunggul an sistem land bank?
Satu hal yang pasti dengan adanya land bank harga tanah terkontrol. Ada dua sisi. Dari
sisi pengembangan sangat bagus kare- na harga lahan terkontrol jadi pembangunan itu
masih bisa dijangkau. Karena harga tanah tidak melambung gila-gilaan. Jeleknya, bagi
pengusaha tidak menarik karena harga ta- nah tidak naik-naik. Sedangkan di daerah lain
sebentar saja harga tanah naik. Sekarang ka- camatanya dari mana. Sebenarnya seperti di
Singapura, tanah sudah mulai dikuasai oleh pemerintah. Cuma bagusnya mereka tanah itu
ditender. Jadi harga tanah itu bisa dinaik kan di tinggikan, sehingga harga tanah itu bisa
meningkat sesuai dengan harga pasar. Kalau sekarang di sini tidak. Kalau di Batam, apa
penyebab harga properti naik? Itu karena kenaikan material. Kemudian kurs mata uang
Rupiah terhadap Dollar Si ngapura. Karena material bahan bangunan dinilai dengan
Dollar Singapura. Kemudian selebihnya karena banyaknya arus masuk permintaan
sehingga harga bisa meningkat. Jadi kenaikan itu disebabkan kenaikan harga bahan
bakunya sendiri dan kedua akibat depresiasi Rupiah, lainya karena ada arus per- mintaan.
Salah satu isu utama di Batam adalah soal kependudukan. Sangat besar urbani sasi.
Batam banyak didatangi penduduk usia produktif. Kondisi pembangunan perumahan
seperti apa, apakah sudah menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah? Saya tadi mau
tambahkan, kenapa arus permintaannya tinggi? Karena yang masuk ke sini pendatang
usia produktif. Sehingga ini mengakibatkan pasar permintaan ru- mah meningkat pesat.
Karena usia produktif masuk kerja sebentar sudah beli rumah kecil. SUMBER FOTO:
ISTIMEWA
41. 41. 41 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M Kerja dua tiga tahun kemudian
ganti rumah sedang. Kemudian kerja lagi beberapa tahun setelah lebih mapan, beli lagi
rumah yang lebihbesar,atauminimalbelirumahsatulagi. Ini lah yang membuat permintaan
rumah itu cukup besar. Kemudian, terkait perumahan MBR (Masyarakat Berpenghasilan
Rendah), untuk saat ini masih bisa dibangun. Rumah untuk MBR itu yang kita sebut
dengan RST, Rumah Sejahtera Tapak. Itu yang harga jualnya di- batasi. Untuk Batam Rp
125 juta. Rumah itu masih ada di Batam, untuk tipe 36 ke bawah daerahnya di Batuaji
arah Tanjunguncang dan Piayu. Di sana masih bisa. Di daerah Batam centre itu sudah
sulit. Karena harga ta- nah sudah jauh lebih mahal. Makanya perlu diperhatikan ke
depannya Batam sebagai kota metropolitan mau dijadikan seperti apa? Kota metropolitan
dengan kriterianya seperti apa. Apakah kota metropolitan yang kumuh, atau kota
metropolitan yang green dan ramah lingkungan, aman dan nyaman untuk masyarakat
yang tinggal. Kalau kita mau bicara kota metropolitan cukup dari persyaratannya. Tapi
kita mau Batam menjadi kota metropolitan yang aman, nyaman, untuk masyarakatnya.
Lalu hijau dan berwawasan lingkungan. Itu yang harus dipikirkan pemerintah mulai dari
seka- rang. Batam punya masalah ruli (perumahan liar). Ini mengganggu perkembangan
Batam menjadi kota metropolitan yang hijau, aman, nyaman yang berwawasan
lingkungan, jika dibiarkan semakin kumuh dan tidak sesuai dengan peruntukannya. Hal

ini seharusnya pemerintah menyediakan lahan, Dalam hal ini BP sebagai land banknya.
Kalau dalam hal ini di daerah tersebut sudah tidak ada lahan yang kosong kan bisa
bekerja sama dengan swasta. Orang-orang ini kalau digusur tidak mungkin. Mereka
bekerja hidup di daerah sekitar situ. Misalnya kita bicara di sekitar Nagoya atau Batam
Centre lalu dipindahkan harus tinggal di Kabil. Mereka tinggal segitu jauh dan harus
bolak balik. Lalu sarana tran sportasi umumnya belum ada. Akhirnya ong- kosnya mahal,
akhirnya mereka akan tinggal lagi mencari tempat yang dekat dengan tem- pat kerjanya.
Kalau begini polanya tidak cocok dan tidak bisa dijalankan. Orang-orang ini seha rusnya
jangan digusur, dipindahkan saja di daerah yang dekat dengan tempat dia. Apa yang harus
dilakukan pemerintah? Untuk yang mampu bisa membeli rusunami dan ada fasilitas
pemerintah seperti FLPP. Untuk yang kurang mampu rusunawa, kalau sangat tidak
mampu, pemerintah bisa menyiapkan rumah sosial untuk orang-orang ini. Dengan
semuanya ditampung, pasti akan tertata rapi. Tapi ada syarat lainnya, penegakan hukum.
SUMBER FOTO: ISTIMEWA Dengan adanyalandbank hargatanah terkontrol.
42. 42. 42 Berarti REI sudah bisa memberikan usul bagaimana meyelesaikan permukim an
kumuh? Sudah beberapa kali. Terakhir kami ke- temu dengan BP. Kami sampaikan kami
memiliki visi bagaimana Batam menjadi kota metropolitan yang indah, yang tidak
kumuh, yang aman, dan nyaman. Itulah yang kita sampaikan konsep itu untuk
menyelesaikan ruli dan kios liar. Kami siap membicarakannya dengan pemerintah untuk
menyelesaikan ini. Mereka pun punya kemampuan untuk membayar. Yang tidak ada
adalah kesempat an untuk memiliki tempat yang layak dan tidak perlu digusur-gusur lagi.
Itu saja tugas pemerintah sebagai regulator mengatur ini semua. Membuat aturan main
dan membuat sanksi hukum yang jelas sehingga kalau me- langgar mereka harus diberi
sanksi. Dari pengamatan Bapak, apakah masihbanyakwargayangkesulitanmemi- liki
rumah? Iya masih. Ada warga yang kesulitan. Makanya ada 3 (tiga) yang bisa dilakukan
untuk masyarakat MBR ini. Mereka kan kita kategorikan hanya 1 (satu), berpenghasilan
rendah. Namun ada sub-subnya sangat ren- dah, rendah sedang, dan rendah menengah.
Kalau yang rendah menengah ini seharusnya mereka mampu untuk membeli rusunami
atau RST. Itu kan 125 juta. Mereka harusnya bisa membeli. Yang kurang atau tidak mampu mereka disediakan rusunawa. Bayarnya dengan sewa bulanan sampai mereka mampu membeli RST atau rusunami. Untuk yang benar-benar tidak mampu inilah ada rumah
sosial yang benar-benar menampung me reka yang tidak mampu. Untuk saat ini belum
ada? Saat ini kan tidak ada. Apakah pengadaan rumah sosial itu bisa bekerja sama dengan
pemerintah? Itu kan tanggung jawab pemerintah. Merumahkan rakyat itu kan
tanggungjawab negara. Dalam hal ini negara menjalankan tugasnya kalau kesulitan bisa
bekerja sama dengan pihak swasta untuk merumahkan itu. Di UU 1/2011 tentang
Perumahan dan Kawasan Permukiman itu sudah dijelaskan. Pemerintah daerah
seharusnya membantu untuk mengadakan lahan-lahan untuk pe- rumahan rakyat. Kalau
di Batam seharusnya mudah. Lahan kalau disiapkan untuk peme rintah tinggal swasta
bekerjasama bangun. Pemerintah kan pasti seharusnya menyiap- kan anggaran untuk
kesejahteraan rakyat. Ini salah satu dari tiga kebutuhan pokok selain pangan, sandang,
dan papan. Pangan dan sandang oke, tapi papan seolah-olah bukan menjadi tanggung
jawab pemerintah. Kalau rakyatgakmakanpastipemerintahrepot,jadi diperhatikan oleh
negara. Tidak berpakaian juga tidak mungkin. Nah yang tidak berumah ini yang belum
terlalu tersentuh. Seolah-olah ini menjadi tanggungjawab swasta. Padahal dari UUD

sudah jelas, hal itu sebagai kewa- jiban negara untuk merumahkan rakyat. Hak bermukim
setiap warga negara kan dijamin UUD 45.
43. 43. 43 April 2015 L I P U T A N K H U S U S B A T A M Jadi, pemerintah harus jadi
penggerak utama dalam hal perumahan? Iya, dan pemerintah dalam menyelesai- kan itu
dapat bekerja sama dengan swasta. Kita menyiapkan rumah dan dibantu oleh pemerintah. Ini baru bisa terwujud. Kalau tidak kita tidak mampu. Bagaimana swasta
mampu menyiapkan perumahan MBR dengan ke- mampuannya sendiri kalau tidak
didukung pemerintah. Sebenarnya Pemerintah sudah memiliki program bantuan.
Bentuknya PSU (bantuan infrastruktur prasarana umum), DAK (prasa- rana air, listrik
dan pembuangan komunal). Kemudian dari segi pembiayaan ada FLPP dan dari
Jamsostek ada subsidi uang muka. Cuma untuk sementara di BPJS belum jalan. Bukan
berarti pemerintah tidak memiliki peran sama sekali. Ada dan sudah berjalan, tapi ini
tidak maksimal dan pola-polanya yang mesti diperbaiki. Misalnya FLPP. Untuk mereka
benar-benar tidak mampu, ya sudah uang mukanya disubsidi dibayar oleh peme rintah.
Sisanya mereka bisa mereka cicil de ngan fasilitas FLPP lagi dengan bunga ren- dah
sehingga mereka benar-benar mampu untuk memiliki itu. Nah kedua, apa yang dibeli mereka kan tergantung dengan kom- ponen infrastrukturnya. Jalan, saluran be- serta bangunannya. Kalau infrastrukturnya pemerintah yang bantu, sekalian saja mereka bantu. Soal
fasilitas umum, itu pemerintah yang mengerjakan fasilitas umumnya. Untuk prasarana
umum, pemerintah misalnya me- nyiapkan, membangun lalu harga diatur. Pekerja sudah
disediakan banyak ru- mah susun. Untuk saat ini, apakah pem- bangunan rumah susun
sudah lebih ba nyak dan mengganti rumah tapak? Harusnya begitu. Kalau melihat
perkem- bangan Batam, memang sudah harus me ngarah ke perumahan vertikal.
Terutama
di
Nagoya
dan
Batam
Centre.
Batam
hanya
satu
pulauyangterbatas.Maukemanalagi?Begitu tanah habis, kalau tidak vertikal berarti perluasan lahan atau reklamasi. Nah reklamasi bisa dilakukan karena ada batas perairan
internasional.
Kedua
tanah
lama-lama
habis.
Palingpalingsedotpasirlautlagi.Tapinantimenjadi masalah lingkungan. Jadi sudah harus mulai
ditekan di daerah dengan tingkat kepadatan tinggi hunian harus vertikal. Yang kepadatan
rendah boleh tapak. Seperti di Kabil dan Tan- junguncang. Tapi untuk hunian Batam
Center dan Nagoya sudah harus vertikal. Di tempat yang kepadatan tinggi sa ngat sedikit
rusunami. Apa yang meng- hambat? SUMBER FOTO: ISTIMEWA