Anda di halaman 1dari 5

Latar Belakang

Dermatitis Atopik adalah bentuk peradangan kulit yang umumnya terjadi pada anak-anak dan
sering terjadi pada dewasa. Hubungan dan kerjasama yang baik diperlukan antara pihak
pelayanan primer dan dokter spesialis terkait yang nantinya akan diberikan
Metode
Artikel ini merupakan review yang diterima berdasarkan data yang dipublikasikan Pubmed,
ditambah pedoman yang didapatkan dari asosiasi kedokteran ilmiah di Germany dan forum
European Dermatology.
Hasil
Faktor pencetus seperti iritasi, allergen, bakteri patogen dan spikologi dapat mempengaruhi
kondisi kulit yang berbeda pada masing-masing individu oleh karenanya penilaiannya pun
dilakukan secara individu. Penggunaan pelembab kulit atau emolien sangatlah penting
digunakan untuk menghindari iritasi kulit karena sebagian pasien mengalami gangguan sawar
kulit (Skin Barrie Dysfungtion). Tak kalah penting yaitu penggunaan anti-inflamasi topikal,
kalsineurin inhibitor pada terapi dermatitis atopik, anti-inflamasi sistemik pada kasus berat.
Kesimpulan
Pemahaman terbaru terkait gangguan sawar kulit dan reaksi imun menjadi salah satu
pendekatan terbaru dalam terapi dermatitis atopik.
Pembukaan
Pada beberapa pasien dermatitis atopik biasanya dimulai pada usia sebelum sekolah. Dengan
manifestasi klinis dari derajat ringan hingga derajat berat. Penyembuhan spontan dapat
terjadi. Namun 1-2% pada usia dewasa membutuhkan penatalaksanaan tertentu. Beberapa
kasus dermatitis atopik memiliki keterkaitan dengan penyakit bawaan sama halnya seperti
alergi makanan, asma, dan rinitis alergi. Prevalensi terkait faktor alergi makanan terhadap
dermatitis atopik 30%.
Tujuan Pembelajaran
Setelah membaca artikel ini diharapkan pembaca dapat :
Mengetahui beberapa faktor pencetus pada dermatitis atopik
Pemilihan terapi topikal maupun sistemik dalam dermatitis atopik
Manifestasi Klinis
Gejala klinis sangat tergantung dari derajat dermatitis atopik (akut/kronik) dan usia pasien.
Gejala klinis terutama gatal berulang merupakan gejala yang sering dikeluhkan pasien.
Perjalanan penyakit sangat bervariasi dengan flare dari berbagai tingkat keparahan dan
durasi. Gejala ringan pun dapat berpengaruh pada tingkat emosional. Pasien dengan
dermatitis atopik secara signifikan mengalami depresi dan kecemasan dibandingkan pada
kelompok normal. Infeksi merupakan komplikasi tersering.

Etiologi, Patofisiologi dan Pencegahan


Predisposisi, genetik, dan faktor pencetus merupakan peran penting dalam onset dan
eksaserbasi dari dermatitis atopik. Penemuan terbaru yaitu hilangnya Filaggrin, yaitu sejenis
protein yang mengakibatkan terjadinya mutasi. Mutasi tersebut mengakibatkan gangguan
sawar kulit, berkurangnya pertahanan tubuh terhadap bakteri patogen dan meningkatkan nilai
pH kulit. Sekitar 25% pasien dermatitis atopik mengalami mutasi.
Upaya pencegahan:
1. Konsumsi ASI > 4 bulan
2. Pengenalan makanan terutama ikan
3. Makanan padat usia satu tahun pertama
Diagnosis dan Faktor Pemicu
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis yaitu, riwayat alergi pada keluarga dan
pemeriksaan fisik. Biopsi kulit jarang dibutuhkan. Diagnosis banding yaitu Dermatitis
Kontak Iritan, Dermatitis Numularis, Skabies dan pada kasus yang berat psoriasis dan
dermatofita.
Faktor pemicu yaitu :
o Alergen
o Makanan
o Lingkungan
o Emosional
Identifikasi faktor pemicu dan upaya pencegahan merupakan kunci dari pengobatan masingmasing individu. Infeksi dan imunisasi dapat menyebabkan timbulnya dermatitis atopik oleh
karenanya imunisasi harus dihindari hingga kulit kembali normal.
Diagnosis Alergi pada Dermatitis Atopik
Sekitar 80% ditemukan pasien memiliki IgE spesifik untuk alergen inhalasi (polen, bulu
binatang, tungau debu rumah) dan makanan. Tes alergi diindikasi pada pasien yang memiliki
riwayat respon cepat atau respon lambat terhadap paparan alergen. Penting untuk
diperhatikan eliminasi diet hanya ditujukan dalam kasus yang benar termasuk respon cepat
atau respon lambat yang sudah teridentifikasi. Karena belum terdapat bukti bahwa

menghindari makanan yang dicurigai tanpa tes alergi dapt menguntungkan. Dapat
menimbulkan malnutrisi terutama pada anak-anak.

Terapi Topikal pada Dermatitis Atopik


Pada dasarnya penatalaksanaan dermatitis atopik terfokus pada gejala klinis yang
ditimbulkan. Pengobatan dasar yaitu penggunaan mosturizer cream atau pelembab sebagai
penggunaan sehari-hari. Penggunaan misturizer sehari-hari dapat mengurangi pemakaian
glukokortikosteroid. Glukokortikosteroid merupakan anti-inflamasi terpenting yang
digunakan dalam pengobatan dermatitis atopik.
Penggunaan glukokortikosteroid diseleksi berdasarkan potensialnya, yaitu 1x/hari namun
dalam keadaan tertentu penggunaaanya dapat 2x/hari untuk pengobatan jangka pendek.
Biasanya digunakan kelas 1 (lemah, hydrocotisone atau hydrocortisone asetat) pada bayi.
Kelas II (sedang, prednicarbate butyrate) anak dan dewasa. Indikasi untuk golongan kuat
atau sangat kuat (kelas III/IV) pada jangka pendek pengobatan dermatitis akut-berat atau
pada area likenifikasi.
Ketidakefektifan glukokortikosteroid:
Inadekuat
Alergi steroid
Paparan berulang faktor pencetus

Imunomodulator
Merupakan pengobatan efektif pada dermatitis atopik dan tidak menyebabkan efek samping
seperti atrofi kulit. Penggunaannya terutam pada area sensitif yaitu area wajah dan lipatan.
Penelitian membuktikan bajwa penggunaan C-I (Calcineurin Inhibitor) cukup efektif dan
sebanding dengan penggunaaan glukokortikosteroid. Namun beberapa penelitian mengatakan
efek samping CI terhadap masalah kanker kulit yang nantinya dapat timbul dan masih terus
dilakukan pengkajian lebih dalam.
Terapi Sistemik pada Dermatitis Atopik
Penggunaan H1-antihistamin sering digunakan pada sebagian pasien dermatitis atopik.
Namun belum ada hasil terkait efektifitas dari penggunaan obat tersebut. Penggunaan H1sedatif tidak ditekomendasikan pada anak (doxylamine, diphenhydramine, promethazine).
Pengobatan terbaik yaitu anti-inflamasi. Penggunaan sistemik diberikan pada pasien dengan
kasus akut-berat.