Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA AMAMI

Judul

: Penetapan Kadar KIO3 Dalam Garam

Hari / tanggal

: Kamis, Mei 2015

Prinsip

: Iodium dan Kalium Iodida yang terdapat dalam garam akan dibebaskan oleh asam
fosfat,Iodium bebas yang terbentuk ditetapkan secara iodimetri.

Tujuan

: Untuk Menetapkan Kadar Kalium Iodat dalam Garam Dapur

Metode : Iodometri
Dasar Teori
Garam adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang dalam kehidupan sehari-hari banyak digunakan
sebagai bahan tambahan bumbu pada makanan, sebagai pengawet makanan seperti ikan asin, sawi asin,
asinan buah-buahan, dan dasar pembuatan senyawa kimia (NaOH, Na2SO4, NaHCO3, Na2CO3). Setiap
manusia pada umumnya mengkonsumsi garam dengan jumlahnya berbeda-beda tergantung kebiasaan
masing-masing individu. Oleh karena itu, penambahan iodium pada produk garam merupakan cara yang
sangat efektif dalam menutupi kekurangan tubuh manusia akan kebutuhan iodium. Untuk menunjang
program pemerintah dibidang kesehatan masyarakat, setiap produsen garam diwajibkan menambahkan
Iodium pada produk garamnya.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh para ahli kesehatan, orang yang kekurangan iodium dalam
konsumsi makanannya dapat mengalami penyakit gondok. Sedang pada anak-anak dapat menyebabkan
pertumbuhan yang terhambat. Oleh karena itu kekurangan iodium pada masyarakat diharapkan tidak ada
lagi bila semua garam yang diproduksi sudah mengandung iodium.
Garam beriodium merupakan istilah yang biasa digunakan untuk garam yang telah difortifikasi
(ditambah) dengan iodium. Di Indonesia, iodium ditambahkan dalam garam sebagai zat aditif atau
suplemen dalam bentuk kalium iodat (KIO3).
Alat

: Pipet volume, Erlenmeyer, labu iod, buret,gelas piala, neraca.

Pereaksi

: Larutan asam fosfat 85%, Kristal KI, amilum 1%, larutan baku NA,tiosulfat 0,005N,

larutan baku primer kalium bromate 0,005N, H2SO4 4N, larutan KI 10 %.


Cara Kerja

A. Standarisasi larutan na.tiosulfat dengan larutan kalium bromate


1. Dipipet 5 ml larutan kalium bromate kedalam Erlenmeyer.
2. Ditambahkan 100 ml aquades.
3. Ditambah 5ml H2SO4 2N dan 5ml larutan KI 10 %,ditutup.

4. Dititrasi dengan larutan na.tiosulfat sampai warna kuning muda.


5. Ditambah 1ml amylum 1 %.
6. Dititrasi kembali dengan larutan na.tiosulfat sampai warna hilang.
B. Penetapan Kadar
1. Ditimbang teliti 25gr sampel garam kedalam Erlenmeyer.
2. Dilarutkan dengan larutan aquades 125ml.
3. Ditambahkan 2ml asam fosfat 85%.
4. Dititrasi dengan larutan na.tiosulfat 0,005N sampai warna hilang.
Data dan Pehitungan :
Diketahui :
B.KBro3 = 0,0870 gr/250ml

Vtitrasi pembakuan = 10,3 ml

BE KBro3 = 27,8 gr/mol

Vtitrasi penetapan = 3,8 ml

BE KIO3 = 35,7 gr/mol


Ditanya : Normalitas Baku primer,Normalitas Baku sekunder, dan Kadar KIO3.?
Jawab :
Normalitas Baku Primer =

B
BE x V

0,087 gr
27,5 ml x 0,25 l

= 0,0125 N

Normalitas Baku Sekunder = N1 x V1 = N2 x V2


0,0125 N x 5 ml = N2 x 10,3 ml =

Kadar

KIO3

(ppm)

( 3,8 ml x 0,0061 N ) x 35,7


25 ml
Kesimpulan

gr
x 1000
mol

0,0125 N x 5 ml
10, ml

= 0,0061 N

( VxN ) Na. tiosulfat x BE KIO3 x 1000 l


gr sampel

= 33,1010 ppm

: Berdasarkan praktikum didaptakan hasil kadar KIO3 pada sampel adalah 33,1010 ppm.

Banjabaru, 22 mei 2015