Anda di halaman 1dari 98

ANALISIS PENGARUH INVESTASI DAN TENAGA KERJA

TERHADAP OUTPUT SEKTOR INDUSTRI


DI KABUPATEN BEKASI

OLEH
MERLYNDA DEWI
H14051724

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

RINGKASAN

MERLYNDA DEWI. Analisis Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja terhadap


Output Sektor Industri di Kabupaten Bekasi (dibimbing oleh TANTI
NOVIANTI).

Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB Indonesia terbilang


cukup tinggi, yaitu mencapai 27,9 persen. Angka ini dikatakan cukup tinggi
karena dibandingkan dengan sektor-sektor ekonomi lainnya, sektor industri
pengolahan berada paling atas. Sektor ekonomi lain setelah sektor industri
pengolahan adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang kontribusinya
mencapai 14,4 persen baru kemudian disusul sektor pertanian sebesar 14 persen.
Salah satu wilayah di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, yang kontribusi sektor
industrinya cukup besar adalah Kabupaten Bekasi. Jika dibandingkan dengan
Kabupaten atau Kota lainnya di Jawa Barat, Kabupaten Bekasi merupakan
Kabupaten yang memiliki tingkat investasi dan penyerapan tenaga kerja tertinggi
di Jawa Barat. Adanya investasi yang dilakukan di suatu daerah, baik itu asing
(PMA) maupun domestik (PMDN) akan mengakibatkan penyerapan tenaga kerja
sehingga proses produksi menjadi produktif. Sektor utama Kabupaten Bekasi ada
pada sektor industri, dimana kontribusi sektor industrinya mencapai 80 persen
terhadap PDRB totalnya. Sektor industri yang merupakan salah satu sektor yang
berkontribusi besar terhadap PDB Indonesia, yaitu mencapai 27,9 persen, maka
dapat dikatakan Kabupaten Bekasi berkontribusi besar juga bagi pembentukan
PDB Indonesia.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis
pengaruh output sektor industri terhadap output total Kabupaten Bekasi dan
faktor-faktor yang mempengaruhi output sektor industri terutama faktor investasi
dan tenaga kerja terhadap output sektor industri di Kabupaten Bekasi. Metode
analisis yang digunakan untuk menganalisis pengaruh output sektor industri
terhadap output total Kabupaten Bekasi dan juga faktor-faktor yang
mempengaruhi output sektor industri Kabupaten Bekasi adalah dengan
menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Metode OLS yang
digunakan dalam penelitian menggunakan dua model persamaan regresi linear
berganda. Model pertama pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengaruh output sektor industri terhadap output total Kabupaten Bekasi,
sedangkan pada model ke dua, metode OLS digunakan untuk mengidentifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi output sektor industri di Kabupaten Bekasi.
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang merupakan
data time series dari tahun 1990-2007. Data tersebut didapatkan dari Badan Pusat
Statistik, Disperindag, Bappeda, Disnaker Kabupaten Bekasi, dan Badan
Koordinasi Penanaman Modal Jakarta (BKPM).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa output total di Kabupaten Bekasi
dipengaruhi oleh output sektor industrinya. Variabel tersebut berpengaruh positif

dan signifikan pada taraf nyata lima persen, sedangkan output sektor industri
Kabupaten Bekasi dipengaruhi oleh investasi asing (PMA) dan ekspor. Variabel
lain yang digunakan dalam penelitian ini yaitu investasi domestik (PMDN) dan
jumlah tenaga kerja, serta impor tidak berpengaruh signifikan, begitu pula dengan
kondisi perekonomian (dummy krisis), pengaruhnya tidak berbeda nyata terhadap
output sektor industri, tetapi dummy krisis cukup memberikan pengaruh yang
berbeda nyata terhadap output total Kabupaten Bekasi.
Investasi dan tenaga kerja di sektor industri memiliki produktifitas yang
berbeda, dimana produktifitas ini dilihat dari nilai elastisitasnya. Di Kabupaten
Bekasi, terutama di sektor industrinya, elastisitas output modal lebih besar
daripada elastisitas output tenaga kerja sehingga sektor industri di Kabupaten
Bekasi dapat dikatakan industri yang lebih ke padat modal.
Saran yang dapat direkomendasikan dari penulisan skripsi ini adalah
diharapkan pemerintahan Kabupaten Bekasi dan juga industri terkait yang berada
di Kabupaten Bekasi dapat mempertahankan dan meningkatkan investasinya
dengan cara penyediaan sarana penunjang seperti investasi, insentif pemerintah,
eliminasi hambatan struktural misalnya rantai birokrasi dalam memberikan
perizinan investasi tidak terlalu panjang agar output sektor industri di Kabupaten
Bekasi dapat terus meningkat. Variabel tenaga kerja yang tidak berpengaruh
signifikan terhadap output sektor industri di Kabupaten Bekasi disebabkan oleh
produktifitasnya yang rendah sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan
produktifitas tersebut misalnya dengan pelatihan atau training kepada para
karyawan sebelum memulai pekerjaannya. Selain itu, diharapkan juga sektor
industri di Kabupaten Bekasi dapat menyerap banyak tenaga kerja di sektor
industri tersebut mengingat peranan sektor industri di Kabupaten Bekasi sangat
besar kontrbusinya terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Bekasi.

ANALISIS PENGARUH INVESTASI DAN TENAGA KERJA


TERHADAP OUTPUT SEKTOR INDUSTRI
DI KABUPATEN BEKASI

Oleh
MERLYNDA DEWI
H14051724

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada Departemen Ilmu Ekonomi

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

Judul Skripsi

: ANALISIS PENGARUH INVESTASI DAN TENAGA


KERJA TERHADAP OUTPUT SEKTOR INDUSTRI DI
KABUPATEN BEKASI

Nama

: Merlynda Dewi

NIM

: H14051724

Menyetujui,
Dosen Pembimbing,

Tanti Novianti, M.Si.


NIP: 19721117 199802 2 001

Mengetahui,
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi,

Rina Oktaviani, Ph.D.


NIP: 19641023 198903 2 002

Tanggal Lulus:

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH


BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH
DIGUNAKAN

SEBAGAI

SKRIPSI

ATAU

KARYA

ILMIAH

PADA

PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor,

September 2009

Merlynda Dewi
H14051724

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Merlynda Dewi lahir pada tanggal 3 Maret 1987 di


Kabupaten Garut. Penulis anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan
Soeyatmo (Alm) dan Neulis Sumiati. Penulis menempuh pendidikan dari Taman
Kanak-kanak sampai tingkat SLTA di Kabupaten Garut. Penulis merupakan
lulusan dari SMA Negeri 1 Garut tahun 2005.
Lulus dari Sekolah Menengah Atas, penulis diberi kesempatan untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Penulis mendapatkan
kesempatan untuk mengemban pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri Institut
Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Pada tahun
2005, penulis diterima menjadi mahasiswi IPB dan di tahun 2006, penulis
diterima pada program studi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor.
Selama menjadi mahasiswi, penulis aktif di Organisasi Mahasiswa Daerah
(OMDA) dan menjabat sebagai Bendahara I tahun 2007-2008. Penulis juga
berpartisipasi aktif dalam berbagai jenis kepanitiaan, diantaranya PUJANGGA
2006, GENUS 2007, DOMBA CUP 2007 dan DOMBA CUP 2008.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul Analisis Pengaruh Investasi dan Tenaga
Kerja terhadap Output Sektor Industri di Kabupaten Bekasi. Topik ini
menarik untuk diangkat dalam pembuatan skripsi, mengingat sektor industri
merupakan sektor ekonomi yang cukup berperan dalam pembentukan PDB
Indonesia dimana salah satu daerah, khususnya di Jawa Barat yang kontribusi
sektor industrinya cukup besar adalah Kabupaten Bekasi.
Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ayahanda,
Suyatmo (Alm) dan Ibunda Neulis Sumiati yang telah memberikan dukungan,
baik moril maupun materiil, serta doa yang tiada hentinya kepada penulis,
sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan sampai sejauh ini. Dalam
penyusunan skripsi ini, penulis juga mendapatkan saran-saran dan bantuan dari
berbagai pihak, maka pada kesempatan ini perkenankan penulis untuk
menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1) Tanti Novianti, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar
membimbing penulis selama proses penyusunan skripsi sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
2) Dr. Sri Mulatsih selaku penguji utama dan Fifi Diana Thamrin, M.Si.
selaku penguji dari Komisi Pendidikan atas saran dan kritiknya yang
membuat skripsi ini menjadi lebih baik.
3) Seluruh dosen, staf dan karyawan Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor.
4) Teteh (Yane), Aa (Asep) dan Ade (Yongga) yang selalu sayang dan
memotivasi penulis.
5) Keluarga besar penulis di Semarang dan Garut atas doa dan dukungannya
kepada penulis.

6) Sigit Okta (Mas Sigit) yang selalu mendukung penulis, terima kasih atas
doa, motivasi, perhatian, kesabaran, dan kasih sayangnya yang telah
diberikan kepada penulis.
7) Teh Heni, terima kasih atas waktunya mendengarkan keluh kesah penulis
dalam pengolahan data.
8) Teman-teman satu bimbingan: Tanjung, Ristia, Nchi, atas doa,
kebersamaan, dan kesediaannya dalam membantu penulis.
9) Teman-teman seperjuangan di IE 42 Enta, Tia, Secha, Eti, Nada, Rina,
Mamich, Echa, Mey, Gita, Lina, Ciput, Wina, Maryam, Icha Septi, dan
banyak lagi yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.
10) Teman-teman MADE dan X-MADE: Apry, Dora, Teh Deka, Epot, Teh
Ramah, Teh Janah, Teh Mukti, Ka Jeny, Nofa, Iput, Ganis.
11) Teman-teman OMDA: Hamdan, Hera, Mila, Ape, Resna, dan ade-ade
kelas yang masih menemani penulis.
12) Sahabat-sahabat penulis yang berada di Garut: Lady dan Rani, terima
kasih atas doanya.
13) Kepada seluruh IE 40-46 dan semua pihak yang telah membantu penulis
dalam menyelesaikan skripsi ini, yang tidak bisa penulis sebutkan satu per
satu, terima kasih.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
penulis dan pihak lain yang membutuhkan.

Bogor,

September 2009

Merlynda Dewi
H14051724

10

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..................................................................................................... 10


DAFTAR TABEL ............................................................................................. 13
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ 14
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... 15
I.

PENDAHULUAN .......................................................................... 16
1.1. Latar Belakang ......................................................................... 16
1.2. Perumusan Masalah ................................................................. 21
1.3. Tujuan Penelitian ..................................................................... 22
1.4. Manfaat Penelitian ................................................................... 23
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................ 23

II.

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ......... 25


2.1. Tinjauan Pustaka ..................................................................... 25
2.1.1. Konsep Industri ............................................................. 25
2.1.2. Tenaga Kerja ................................................................. 26
2.1.3. Investasi .......................................................................... 28
2.1.4. Pertumbuhan Ekonomi .................................................. 29
2.2. Penelitian Terdahulu ................................................................ 31
2.3. Kerangka Pemikiran ................................................................. 35
2.3.1. Fungsi Produksi ............................................................. 35
2.3.2. Hubungan Investasi, Tenaga Kerja, dan Output ............ 35
2.3.3. Hubungan Ekspor, Impor, dan Output .......................... 36
2.4. Hipotesis Penelitian ................................................................. 42

III.

METODE PENELITIAN ................................................................ 44


3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................... 44
3.2. Jenis dan Sumber Data ............................................................. 44
3.3. Metode Analisis Data ............................................................... 45
3.4. Uji Statistik .............................................................................. 47
3.4.1. Uji Koefisien Determinan R2 ......................................... 47

11

3.4.2. Uji F- Statistik ............................................................... 48


3.4.3. Uji t-Statistik ................................................................. 49
3.5. Uji Ekonometrik ....................................................................... 50
3.5.1. Multikolinearitas ............................................................ 50
3.5.2. Autokorelasi .................................................................. 50
3.5.3. Heteroskedastisitas ........................................................ 51
3.5.4. Uji Normalitas ............................................................... 52
IV.

GAMBARAN UMUM ................................................................... 54


4.1. Kondisi Geografis dan Pembagian Wilayah Administratif ..... 54
4.1.1. Kondisi Geografis .......................................................... 54
4.1.2. Wilayah Administratif ................................................... 54
4.2. Rencana Strategis Pembangunan Kabupaten Bekasi ............... 55
4.3. Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kabupaten Bekasi ......... 56
4.3.1. Kependudukan ............................................................... 56
4.3.2. Ketenagakerjaan ............................................................ 57
4.4. Perekonomian dan Sektor Industri Kabupaten Bekasi ............. 59
4.4.1. Perekonomian ................................................................ 59
4.4.2. Sektor Industri ............................................................... 61

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 66


5.1. Hasil Estimasi Model ............................................................... 66
5.2. Analisis Uji Statistik ................................................................ 67
5.2.1. Uji Koefisien Determinasi ............................................. 68
5.2.2. Uji F-Statistik ................................................................ 68
5.2.3. Uji t-Statistik ................................................................. 69
5.3. Analisis Uji Ekonometrika ....................................................... 70
5.3.1. Uji Multikolinearitas ..................................................... 70
5.3.2. Uji Autokorelasi ............................................................ 71
5.3.3. Uji Heteroskedastisitas .................................................. 72
5.3.4. Uji Normalitas ............................................................... 72

12

5.4. Analisis Ekonomi ..................................................................... 73


5.4.1. Pengaruh Output Sektor Industri terhadap Output
Total KabupatenBekasi .................................................. 73
5.4.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Output
Sektor Industri di Kabupaten Bekasi ............................. 76
5.4.3. Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja terhadap
Output Sektor Industri di Kabupaten Bekasi ................. 80
VI.

KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 84


6.1. Kesimpulan .............................................................................. 84
6.2. Saran ........................................................................................ 84

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 86


LAMPIRAN ...................................................................................................... 88

13

DAFTAR TABEL

Nomor

Halaman

1.1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha .................................................... 16


1.2. Kontribusi PDRB Total Berdasarkan Pulau terhadap PDB Indonesia ....... 18
4.1. Jumlah Penduduk dan Pertumbuhan Penduduk (LPP) Kabupaten
Bekasi Tahun 2005-2007 ............................................................................ 57
4.2. Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Klasifikasi Lapangan
Usaha Indonesia (KLUI) di Kabupaten Bekasi ........................................... 58
4.3. PDRB dan LPE Kabupaten Bekasi Berdasarkan Lapangan Usaha
Tahun 2006-2007 ......................................................................................... 60
4.4. Data Investasi, Jumlah Tenaga Kerja, dan Output Sektor Industri
di Kabupaten Bekasi ................................................................................... 62
4.5. Output Sektor Industri Terbesar di 6 Kota/Kabupaten di Jawa Barat
Tahun 2007 ................................................................................................ 63
4.6. Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Besar dan Sedang
Menurut Kelompok Industri Tahun 2007 ................................................. 64
5.1. Hasil Estimasi Model Persamaan Output Total di Kabupaten Bekasi ...... 66
5.2. Hasil Estimasi Model Persamaan Output Sektor Industri
di Kabupaten Bekasi ................................................................................. 67
5.3. Hasil Uji Signifikansi Variabel Independen pada Model Output Total
Kabupaten Bekasi ..................................................................................... 63
5.4. Hasil Uji Signifikansi Variabel Independen pada Model Output Sektor
Industri di Kabupaten Bekasi .................................................................... 76

14

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1.1. Distribusi PDRB Berdasarkan Lapangan Usaha di Kabupaten Bekasi ...... 19


1.2. LPE, LPP, dan Pengangguran Kabupaten Bekasi ....................................... 20
2.1. Diagram Ketenagakerjaan Penduduk .......................................................... 27
2.2. Fungsi Produksi .......................................................................................... 34
2.3. Skema Ekspor Netto ................................................................................... 38
2.4. Pengaruh Kenaikan Pendapatan di Luar Negeri ......................................... 39
2.5. Bagan Kerangka Pemikiran Penelitian ....................................................... 41
4.1. Perkembangan Sektor Industri Kabupaten Bekasi Sebelum
dan Sesudah Krisis Tahun 1990-2007 ........................................................ 61
4.2. Nilai Ekspor Impor Kabupaten Bekasi Tahun 1990-2007 .......................... 65

15

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Halaman

1. Data-data yang Digunakan pada Penelitian ................................................... 89


2. Hasil Analisis Regresi Berganda pada Model Pertama ................................. 90
3. Hasil Analisis Regresi Berganda pada Model Ke dua ................................... 91
4. Hasil Analisis Uji Ekonometrika pada Model Output Total
Kabupaten Bekasi (Model Pertama) .............................................................. 92
5. Hasil Analisis Uji Ekonometrika pada Model Output Sektor Industri
Kabupaten Bekasi (Model Ke dua) ................................................................ 93
6. Perhitungan Elastisitas Output Modal ........................................................... 94
7. Perhitungan Elastisitas Output Modal Asing ................................................. 95
8. Perhitungan Elastisitas Output Modal Domestik ........................................... 96
9. Perhitungan Elastisitas Output Tenaga Kerja ................................................ 97
10. Fungsi Kabupaten Bekasi dalam Konstelasi Jabodetabek ............................. 98

16

I. PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2008 meningkat

sebesar 6,1 persen dimana sektor industri merupakan sektor yang berkontribusi
paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada tahun 2008,
kontribusi sektor industri ini mencapai 27,9 persen yang disusul oleh sektor
pertanian sebesar 14,4 persen dan sektor perdagangan, hotel dan restoran 14,0
persen. Tiga sektor utama ini menunjukkan peranan yang cukup besar terhadap
PDB Indonesia dimana kontribusinya mencapai 56,3 persen di tahun 2008
(BPS, 2009).
Tabel 1.1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha (persen)
Tahun
Lapangan Usaha

Pertanian
Pertambangan/Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Bersih
Bangunan
Perdagangan, Hotel dan
Restoran
Pengangkutan dan
Komunikasi
Keuangan, Persewaan
dan Jasa Perusahaan
Jasa-Jasa
Total PDB
Sumber: BPS, 2007 dan 2008

2006
Kontribusi
terhadap
PDB
(persen)
262.402,80
12,97
168.028,90
10,97
514.100,30
27,54

2007
Kontribusi
terhadap
PDB
(persen)
271.586,90
13,70
171.361,70
11,20
538.077,90
27,01

12.251,10
112.233,60

0,91
7,52

13.525,20
121.901,00

0,90
7,70

312.520,80

15,02

338.945,70

14,90

124.975,70

6,94

142.944,50

6,70

170.074,30
170.705,40
1.847.292,90

8,06
10,07
100,00

183.659,30
181.972,10
1963.974,30

7,70
10,10
100,00

Nominal
(Juta
Rupiah)

Nominal
(Juta
Rupiah)

17

Pada Tabel 1.1 terlihat kontribusi industri pengolahan cukup tinggi di


tahun 2007, meskipun pertumbuhannya negatif tetapi kontribusinya masih berada
di atas sektor ekonomi lainnya yaitu 27,01 persen. Sektor pertanian, dan sektor
perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor yang cukup berpengaruh juga
terhadap PDB Indonesia di tahun 2007. Peningkatan sektor pertanian hanya 0,73
persen, sedangkan sektor perdagangan, hotel, dan restoran pertumbuhannya minus
0,12 persen di tahun 2007. Hal ini mengindikasikan bahwa diantara ketiga sektor
ekonomi yang paling berpengaruh bagi PDB Indonesia, adalah industri
pengolahan karena kontribusinya paling besar terhadap PDB Indonesia.
Peranan sektor industri dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi berupa
output sektor industri atau PDB sektor industri, tidak terlepas dari adanya peranan
investasi dan tenaga kerja. Investasi yang dilakukan adalah investasi langsung
berupa investasi asing (Penanaman Modal Asing) dan investasi domestik
(Penanaman Modal Dalam Negeri). Investasi langsung dapat menyerap banyak
tenaga kerja yang berada di pasar tenaga kerja dan investasi langsung juga
diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini terjadi karena
output yang dihasilkan akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya
investasi. Di Indonesia, investasi terdiri dari investasi asing atau biasa disebut
dengan penanaman modal asing (PMA) dan investasi domestik atau penanaman
modal dalam negeri (PMDN).
Selain investasi, tenaga kerja merupakan input atau faktor produksi yang
digunakan dalam proses produksi pada sektor industri. Tetapi kontribusi industri

18

pengolahan yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi tidak disertai


dengan tingginya penyerapan tenaga kerja di sektor industri.
Menurut LIPI (2009), angka pengangguran total di Indonesia pada tahun
2009

diproyeksikan

meningkat

menjadi 9

persen. Sebelumnya,

angka

pengangguran sebesar 8,5 persen pada tahun 20081. Hal ini terjadi karena
pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di sektor industri negatif. Padahal,
berdasarkan Tabel 1.1, kontribusi sektor industri begitu tinggi terhadap PDB
Indonesia.
Menurut lokasi, pada tahun 2008, struktur perekonomian Indonesia masih
didominasi oleh Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB nasional
sebesar 57,9 persen. Posisi kedua ditempati Sumatra, disusul kemudian oleh
Kalimantan, Sulawesi, dan pulau lainnya seperti Maluku, Papua dan Nusa
Tenggara.
Tabel 1.2. Kontribusi PDRB Total Berdasarkan Pulau terhadap PDB Indonesia
Tahun 2008
Wilayah
Pulau Jawa
Pulau Sumatera
Pulau Kalimantan
Pulau Sulawesi
Pulau Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara
Jumlah

Kontribusi terhadap PDB


Indonesia (persen)
57,90
23,40
10,00
4,50
4,20
100,00

Sumber: BPS, 2009

Salah satu daerah di Pulau Jawa, khususnya Propinsi Jawa Barat, yang
kontribusi PDRBnya paling besar terhadap PDRB Jawa Barat adalah Kabupaten
1

LIPI dalam Media Indonesia Online ditulis oleh Heni Rahayu. www.lipi.go.id/www.cgi
[31 Agustus 2008]

19

Bekasi. Kontribusi PDRB Kabupaten Bekasi berada pada peringkat pertama, yaitu
mencapai 26,42 persen dari total PDRB Propinsi Jawa Barat (BPS Jawa Barat,
2008). Pembentukan PDRB Kabupaten Bekasi ditentukan oleh besarnya output
pada sektor industrinya. Besarnya kontribusi sektor industri terhadap PDRB
Kabupaten Bekasi mencapai kurang lebih 80 persen dengan laju pertumbuhan
ekonominya sebesar 6,14 persen di tahun 2007.
Selain sektor industri, kontribusi sektor ekonomi lainnya di Kabupaten
Bekasi berada pada kisaran 1-2 persen. Jika dibandingkan dengan kontribusi
sektor industri, angka tersebut ketinggalan jauh tetapi di Kabupaten Bekasi juga
ada satu sektor yang cukup tinggi kontribusinya, yaitu sektor perdagangan, hotel
dan restoran, dimana kontribusinya sekitar 9 persen.
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%

80%

9%
2%

2%

2%

1%

1%

1%

2%

Keterangan: 1. Pertanian, 2. Pertambangan dan Penggalian, 3. Industri Pengolahan, 4. Listrik, gas,


dan Air Bersih, 5. Bangunan/Konstruksi, 6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran, 7. Angkutan dan
Komunikasi, 8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan, 9. Jasa-jasa.

Sumber: Bappeda Kabupaten Bekasi, 2008


Gambar 1.1. Distribusi PDRB Berdasarkan Lapangan Usaha
di Kabupaten Bekasi tahun 2007

Tingginya kontribusi sektor industri di Kabupaten Bekasi, tidak membuat


angka pengangguran Kabupaten Bekasi menurun secara signifikan. Pada tahun

20

2007, angka pengangguran Kabupaten Bekasi masih terbilang cukup tinggi yaitu
mencapai 15,12 persen. Menurut Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah
Kabupaten Bekasi tahun 2007, angka ini diperkirakan akan tetap tinggi dalam
kurun waktu 3 tahun ke depan karena Kabupaten Bekasi sebagai daerah yang
penopang utamanya industri, memiliki tingkat urbanisasi yang tinggi sehingga
berdampak pada laju pertumbuhan penduduk (LPP) yang tinggi juga. Para migran
tersebut melakukan urbanisasi ke Kabupaten Bekasi karena Kabupaten Bekasi
merupakan full faktor atau daerah yang mendorong terjadinya urbanisasi karena
daerah asal tidak ada kesempatan pekerjaan. Hal ini terlihat dari laju pertumbuhan
penduduk yang mencapai 3,46 persen pada tahun 2007. Urbanisasi dan LPP yang
tinggi tersebut, mengakibatkan tidak terpenuhinya antara kesempatan kerja
dengan banyaknya pencari kerja termasuk angkatan kerja yang sudah terkena
PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).
20.00%

LPE (Laju
Pertumbuhan
Ekonomi)

15.00%

LPP (Laju
Pertumbuhan
Penduduk)

10.00%
5.00%

Pengangguran

0.00%
2005

2006

2007

Sumber: Bappeda Kabupaten Bekasi, 2008

Gambar 1.2. LPE, LPP, dan Pengangguran Kabupaten Bekasi

Pada Gambar 1.2, angka pengangguran terlihat tinggi mencapai sekitar 15


persen dan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi hanya mencapai 6,14 persen.
Jika dihubungkan dengan tingkat investasi di Kabupaten Bekasi, angka

21

pengangguran ini bertolak belakang dengan tingkat investasi dan penyerapan


tenaga kerja di Kabupaten Bekasi. Menurut BPPMD Jawa Barat tahun 2007,
Kabupaten Bekasi merupakan daerah yang mendapatkan investasi paling besar
yaitu mencapai 43,64 persen dari keseluruhan investasi yang berada di Jawa Barat
atau senilai Rp 30,223 trilyun. Selain itu, dari investasi yang telah dilakukan,
penyerapan tenaga kerja yang terjadi mencapai 95.110 orang dimana penyerapan
tenaga kerja ini merupakan penyerapan tenaga kerja yang berada pada peringkat
pertama diantara kabupaten dan kota-kota lainnya yang berada di Jawa Barat.

1.2.

Perumusan Masalah
Pertumbuhan ekonomi dan pengangguran memiliki hubungan yang erat

karena penduduk yang bekerja berkontribusi dalam menghasilkan barang dan jasa
sedangkan pengangguran tidak memberikan kontribusi. Studi yang dilakukan oleh
ekonom Arthur Okun2 yang sekarang dikenal dengan Okun Law menyatakan
bahwa:
Ada indikasi hubungan yang negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan
pengangguran, sehingga semakin tinggi tingkat pengangguran, semakin rendah
tingkat pertumbuhan ekonominya.
Pada tahun 2007, angka pengangguran Kabupaten Bekasi masih terbilang
cukup tinggi yaitu sekitar 15 persen dengan pertumbuhan ekonominya hanya
mencapai 6,14 persen (Bappeda Kabupaten Bekasi, 2008). Angka pengangguran
Kabupaten Bekasi diperkirakan akan terus meningkat karena pada akhir tahun
2008, industri di Kabupaten Bekasi melakukan PHK sebanyak 3000 orang pekerja
2

Okun Law dalam Laporan Perkembangan Ekonomi dan Perbankan Kepulauan Bangka Belitung,
tahun 2006 oleh Bank Indonesia Palembang.

22

yang diakibatkan oleh krisis finansial global. Tenaga kerja yang terkena PHK
merupakan para pekerja yang bekerja di industri elektronik, otomotif, plastik, dan
tekstil dimana industri tersebut merupakan industri yang mendapatkan alokasi
investasi terbesar dengan penyerapan tenaga kerja terbesar juga di Kabupaten
Bekasi.
Sektor industri seharusnya dapat lebih banyak menyerap tenaga kerja
karena investasi dan output sektor industrinya juga tinggi, khususnya di
Kabupaten Bekasi dimana penopang utamanya adalah sektor industri.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat ditarik permasalahan dalam penulisan skripsi
ini, diantaranya:
1. Bagaimana pengaruh output sektor industri terhadap output total
Kabupaten Bekasi?
2. Faktor-faktor apa yang dapat mempengaruhi output sektor industri di
Kabupaten Bekasi?
3. Bagaimana pengaruh faktor investasi dan tenaga kerja terhadap output
sektor industri di Kabupaten Bekasi?

1.3.

Tujuan Penelitian
Dari latar belakang dan perumusan masalah yang telah dipaparkan diatas,

terdapat beberapa tujuan dalam penelitian ini, yaitu:


1. Menganalisis pengaruh output sektor industri terhadap output total
Kabupaten Bekasi.

23

2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi output sektor


industri di Kabupaten Bekasi.
3. Menganalisis pengaruh investasi dan tenaga kerja terhadap output sektor
industri di Kabupaten Bekasi.

1.4.

Manfaat Penelitian
Penelitian skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk:
1. Memberikan informasi tentang keadaan sektor industri, khususnya di
Kabupaten Bekasi.
2. Memberikan kesempatan belajar bagi penulis dan mencoba untuk
menginterpretasikan ilmu yang pernah diperoleh selama kuliah.
3. Memberikan informasi bagi para pembaca dan sebagai bahan referensi
bagi kalangan akademis yang akan melakukan penelitian lebih lanjut.
4. Memberikan masukan dan bahan pertimbangan bagi pemerintah maupun
industri dalam menetapkan suatu kebijakan untuk mendorong kamajuan
sektor industri di Kabupaten Bekasi.

1.5.

Ruang Lingkup Penelitian


Industri yang termasuk ke dalam penelitian ini adalah semua industri

pengolahan yang berada di Kabupaten Bekasi. Pengaruh output sektor industri


terhadap output total Kabupaten Bekasi dianalisis dengan menggunakan variabel
output sektor industri, sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel, dan restoran,
serta output sektor jasa di Kabupaten Bekasi. Hal ini dilakukan karena faktor

24

output sektor tersebut diduga paling dominan dalam pembentukan Produk


Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi selain output sektor industri. Selain
itu juga, output PDB Indonesia, kontribusi tebesarnya ada pada output sektorsektor tersebut. Seluruh data yang digunakan dalam pengolahan ini menggunakan
data riil dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2007.
Hanya faktor investasi dan tenaga kerja saja yang diteliti lebih dalam pada
penulisan skripsi ini untuk melihat pengaruhnya terhadap output sektor industri di
Kabupaten Bekasi. Hal tersebut dilakukan karena investasi dan tenaga kerja
diduga dominan dalam mempengaruhi output sektor industri di Kabupaten Bekasi.

25

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1.

Tinjauan Pustaka

2.1.1. Konsep Industri


Industri adalah perusahaan-perusahaan yang berkumpul di suatu daerah
tertentu untuk menghasilkan suatu barang yang sama (Putong, 2002). Industri
dapat digolongkan menjadi beberapa macam sub industri, yaitu;
1. Industri pengolahan
2. Industri pariwisata
3. Industri hiburan
4. Industri pendidikan, dan lain-lain.
Menurut Badan Pusat Statistik, industri dapat diklasifikasikan menjadi
empat jenis industri, yaitu:
1. Industri besar: industri yang menggunakan tenaga kerja 100 orang atau
lebih.
2. Industri sedang: industri yang menggunakan tenaga kerja antara 20-99
orang.
3. Industri kecil: industri yang menggunakan tenaga kerja antara 5-19
orang.
4. Industri rumah tangga: industri yang menggunakan tenaga kerja
kurang dari 5 orang.
Industri berdasarkan besar kecilnya modal terdiri dari industri padat modal
dan industri padat karya. Putong (2002), mengemukakan bahwa menurut fungsi

26

produksi Cobb-Douglas, padat modal (capital intensive) merupakan faktor


produksi modal yang memiliki kemampuan lebih besar daripada tenaga kerja,
sedangkan padat karya (labor intensive), kemampuan tenaga kerja lebih besar
daripada kemampuan modalnya.
Industrialisasi merupakan suatu proses interaksi antara pengembangan
teknologi, inovasi, spesialisasi, dan perdagangan antar negara yang pada akhirnya
sejalan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat dan mendorong perubahan
struktur ekonomi (Tambunan, 2001). Lain halnya dengan yang diungkapkan oleh
Sastrosoenarto (2006), bahwa industrialisasi bukan hanya pendirian pabrik-pabrik
saja tetapi membangun masyarakat industri secara luas dimana adanya
transformasi masyarakat menuju masyarakat yang maju dan sejahtera secara
struktural maupun kultural, karena industrialisasi yang dilakukan merupakan
upaya terpadu dengan pengembangan sektor pertanian dalam arti yang luas,
terutama swasembada pangan dan pengembangan sektor jasa dalam arti yang luas.
2.1.2. Tenaga Kerja
Tenaga kerja adalah penduduk yang berumur pada batas usia kerja,
dimana batas usia kerja setiap negara berbeda-beda (Dumairy, 1996). Usia kerja
adalah penduduk berumur 15 tahun keatas yang telah dianggap mampu
melaksanakan pekerjaan, mencari kerja, bersekolah, mengurus rumah tangga, dan
kelompok lainnya seperti pensiunan (Disnaker, 2006).
Tenaga kerja menurut Disnaker adalah setiap orang laki-laki atau wanita
yang sedang dalam atau akan melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar
hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan

27

masyarakat. Tenaga kerja ini ada yang termasuk ke dalam angkatan kerja dan
bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (berumur 15
tahun atau lebih) yang selama seminggu sebelum pencacahan bekerja atau punya
pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan
sedangkan yang termasuk bukan angkatan kerja, diantaranya adalah mereka yang
selama seminggu yang lalu hanya bersekolah (pelajar dan mahasiswa), mengurus
rumah tangga, dan mereka yang tidak melakukan kegiatan yang dapat
dikategorikan sebagai pekerja, sementara tidak bekerja atau mencari pekerjaan
(Disnaker, 2006).
Gambaran ketenagakerjaan dapat digambarkan dalam bentuk diagram
Gambar 2.1.
Penduduk

Bukan usia kerja

Usia kerja

Bukan angkatan kerja

Sekolah

Mengurus rumah tangga

Angkatan kerja

Lain-lain

Bekerja

Mencari pekerjaan

Sumber: Disnaker, 2006

Gambar 2.1. Diagram Ketenagakerjaan Penduduk

Menurut Japan Productivity Center (1980) dalam Ravianto (1986)


mengungkapkan bahwa inti dari tenaga kerja merupakan bentuk keunikan tingkah
laku dari manusia yang dapat meningkatkan produktifitas dengan memperbaiki

28

kondisi kerja merupakan landasan untuk mengisi kehidupan secara baik serta
memberikan arti bagi kehidupan manusia. Mengartikan kata labor atau tenaga
kerja, di dalam Landasan Produktifitas (Productivity Flat Forrm), tenaga kerja
mencakup tenaga kerja intelektual dan tenaga kerja fisik serta mencakup setiap
aspek kehidupan kerja. Artinya, bahwa seorang individu dipandang sebagai
kesatuan sosial dan merupakan ukuran konkret untuk meningkatkan mutu
kehidupan masyarakat.
2.1.3. Investasi
Investasi merupakan salah satu faktor yang menentukan laju pertumbuhan
ekonomi, karena selain akan mendorong kenaikan output secara signifikan,
investasi juga akan meningkatkan permintaan input yang salah satunya adalah
tenaga kerja, sehingga akan mempengaruhi pada penyediaan kesempatan kerja
dan penyerapan tenaga kerja pun tinggi, akhirnya kesejahteraan masyarakat
tercapai sebagai akibat dari meningkatnya pendapatan yang diterima masyarakat.
Menurut Kawengian (2002), investasi adalah mobilisasi sumber daya
untuk menciptakan atau menambah kapasitas produksi atau pendapatan di masa
yang akan datang. Tujuan utama investasi ada dua, yaitu mengganti bagian dari
penyediaan modal yang rusak dan tambahan penyediaan modal yang ada.
Pembangunan di suatu daerah tidak terlepas dari perkembangan distribusi
dan alokasi investasi daerah. Pemisahan jenis investasi dalam melakukan investasi
sangat perlu, yaitu antara investasi yang dilakukan oleh sektor swasta dan
pemerintah, karena faktor yang mempengaruhi atau menentukan lokasi kedua
jenis investasi tersebut berbeda. Pemerintah menyikapi hal ini harus

29

memperhatikan faktor-faktor yang ada, seperti pengembangan suatu daerah


tertentu karena alasan politis dan strategis, misalnya daerah perbatasan dan daerah
yang mempunyai sejarah serta ciri khusus, sehingga memerlukan perhatian yang
khusus juga (Kawengian, 2002).
Pola investasi yang dilakukan di Indonesia sejak tahun 1973 adalah pola
investasi di

sektor-sektor industri

manufaktur, pertambangan dan jasa

(Panglaykim, 1983). Salah satu investasi ini adalah investasi asing dalam
perkembangan ekonomi nasional dan merupakan bagian dari kegiatan MNC
(Multi National Corporation). Indonesia memberikan kesempatan untuk
mengadakan investasi-investasi di sektor manufaktur dan menjamin suplay bahanbahan mentah telah dipergunakan oleh investor dengan baik. Investasi asing yang
dilakukan berupa sistem perjanjian, dimana pihak asing mempersiapkan studi
kelayakan usahanya dan bila dianggap sudah layak maka pihak asing
menyediakan modal, manajemen, teknologi, dan pasar.
2.1.4. Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Dumairy (1996), pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat
dilihat dari pendapatan nasionalnya. Pendapatan nasional ini mengarah ke Produk
Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP), atau bisa juga
Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP). Selain itu,
bisa merujuk ke Produk Nasional Neto (PNN) atau Net National Product (NNP)
atau Pendapatan National (Net Income) dimana semuanya itu memiliki konsep
yang berbeda satu sama lain.

30

Pertumbuhan ekonomi adalah satu mesin paling tangguh untuk


menghasilkan peningkatan jangka panjang standar hidup yang terjadi kepada
standar hidup materi seseorang atau masyarakat yang bergantung pada
pertumbuhan pendapatan nasional dengan diukur oleh PDB dalam kaitannya
dengan pertumbuhan penduduk (Lipsey, et al., 1997).
GNP atau PDB adalah nilai dari semua barang dan jasa yang diproduksi
oleh faktor-faktor produksi dalam negeri dalam satu periode waktu tertentu.
Output dari masing-masing barang dan jasa dinilai berdasarkan harga pasarnya
dan nilai-nilai itu dijumlahkan sebagai nilai dari GNP (Dornbusch dan Fischer,
1997).
Produk Domestik Regional Bruto atau biasa dikenal dengan PDRB adalah
total nilai barang dan jasa yang diproduksi di wilayah atau regional tertentu dan
dalam kurun waktu tertentu biasanya satu tahun (BPS, 2008). Menurut Badan
Pusat Statistik, cara perhitungan PDRB dapat dilakukan dengan menggunakan
tiga pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pendekatan pendapatan, dan
pendekatan pengeluaran.
1. Pendekatan produksi, PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir
yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di suatu wilayah dalam
jangka waktu tertentu (satu tahun). Unit-unit produksi tersebut
dikelompokkan menjadi sembilan sektor atau lapangan usaha, yaitu:
Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Listrik,
Gas dan Air Bersih, Bangunan, Perdagangan, Hotel dan Restoran,

31

Pengangkutan dan Komunikasi, Jasa Keuangan, Persewaan dan Jasa


Perusahaan, Jasa-jasa.
2. Pendekatan pengeluaran, PDRB adalah penjumlahan semua komponen
permintaan akhir, yaitu Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga
swasta yang tidak mencari untung, Konsumsi pemerintah, Pembentukan
modal tetap domestik bruto, Perubahan stok, Ekspor netto, dalam jangka
waktu tertentu (satu tahun). Ekspor netto adalah ekspor dikurangi impor.
3. Pendekatan pendapatan, PDRB merupakan jumlah balas jasa yang
diterima oleh faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi
dalam suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (satu tahun). Balas jasa
faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa rumah, bunga
modal dan keuntungan. Semua hitungan tersebut sebelum dipotong pajak
penghasilan dan pajak lainnya.

2.2.

Penelitian Terdahulu
Tejasari (2008) dalam penelitiannya tentang Peranan Sektor Usaha Kecil

dan Menengah dalam Penyerapan Tenaga Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi di


Indonesia menggunakan dua buah model analisis data regresi liniear berganda
dengan metode OLS dan software yang digunakan yaitu Eviews 4.1. Hasil
penelitiannya membuktikan bahwa tenaga kerja dan investasi secara signifikan
berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Penelitian Octivaningsih (2006) tentang Analisis Pengaruh Nilai Upah
Minimum Kabupaten terhadap Investasi, Penyerapan Tenaga Kerja, dan PDRB

32

di Kabupaten Bogor menggunakan model persamaan simultan dan software


SASV8. Salah satu hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa investasi asing
dan investasi dalam negeri berpengaruh positif terhadap PDRB Kota Bogor dan
penyerapan tenaga kerja sektor manufaktur sangat dipengaruhi oleh upah
minimum kabupaten sedangkan penyerapan tenaga kerja di sektor non manufaktur
tidak berpengaruh secara signifikan.
Kawengian (2002) melakukan penelitian yang berjudul Analisis
Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja dalam Sektor Pertanian dan Sektor Industri
Guna Menentukan Strategi Pembangunan Ekonomi Irian Jaya. Pengolahan data
yang digunakan adalah pengolahan data kuantitatif dan deksriptif. Analisis
pengaruh investasi terhadap pertumbuhan ekonomi dengan mengggunakan fungsi
produksi Cobb-Douglas yang telah dikembangkan sehingga dapat menerangkan
hubungan antara variabel-variabel yang akan diuji. Hasil dari penelitian tersebut
menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB pada periode yang diteliti, ternyata
masih sulit diandalkan melalui investasi maupun produktifitas tenaga kerja sektor
pertanian dan industri sehingga dapat dikatakan investasi dan tenaga kerja
pengaruhnya tidak efisien dalam meningkatkan PDRB di Irian Jaya. Pada
penelitian Kawengian ini, kegiatan investasi memberikan pengaruh terhadap
PDRB Irian Jaya tetapi investasi tidak mampu menimbulkan efek pertumbuhan
yang kuat apabila tidak diikuti dengan peningkatan kualitas tenaga kerja.
Penelitian tentang Analisis Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja
terhadap PDRB Sumatera Utara yang telah dilakukan oleh Novita Linda
Sitompul (2008) menunjukkan bahwa PDRB Sumatera Utara dipengaruhi oleh

33

tiga sektor ekonomi utama, yaitu sektor pertanian, sektor industri dan sektor
perdagangan, hotel dan restoran. Ketiga sektor tersebut memberikan kontribusi
terbesar terhadap PDRB Sumatera Utara. Berdasarkan hasil estimasi, ditemukan
bahwa investasi PMDN tahun sebelumnya, PMA tahun sebelumnya, jumlah
tenaga kerja, dan kondisi perekonomian berpengaruh positif terhadap PDRB
Sumatera Utara. Hal ini berarti PDRB Sumatera Utara akan semakin meningkat
dengan meningkatnya investasi dan jumlah tenaga kerja. Secara parsial, hasil
analisis menunjukkan bahwa investasi PMDN tahun sebelumnya, investasi PMA
tahun sebelumnya dan jumlah tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap
PDRB Sumatera Utara, sedangkan kondisi perekonomian tidak berpengaruh
signifikan. Metode analisis yang digunakan adalah Ordinary Least Square (OLS).
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian
ini menganalisis pengaruh output sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi
di Kabupaten Bekasi yang dicerminkan dengan PDRB Kabupaten Bekasi.
Analisis ini menyertakan variabel output sektor industri, sektor pertanian, sektor
hotel, perdagangan dan restoran, serta output sektor jasa di Kabupaten Bekasi. Hal
ini dilakukan karena faktor output sektor tersebut diduga paling dominan dalam
pembentukan PDRB Kabupaten Bekasi selain output sektor industri.
Selain itu, penulisan skripsi ini mengidentifikasi dan menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi output sektor industri di Kabupaten Bekasi. Analisis
ini menyertakan juga variabel ekspor dan impor sebagai variabel independennya
karena berdasarkan data dari BPS Kabupaten Bekasi, tingginya output sektor
industri di Kabupaten Bekasi dicerminkan oleh tingkat ekspornya yang tinggi.

34

Setelah mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi output sektor


industri di Kabupaten Bekasi, penelitian ini juga menganalisis mengenai faktor
mana yang lebih dominan mempengaruhi output sektor industri di Kabupaten
Bekasi jika dilihat dari investasi yang ada yaitu asing dan domestik serta tenaga
kerja, sehingga dari penganalisisan ini dapat diketahui sektor industri di
Kabupaten Bekasi lebih dominan ke padat modal ataukah padat karya dimana
penggolongan padat modal dan padat karya ini dilihat dari elastisitasnya.

2.3.

Kerangka Pemikiran

2.3.1. Fungsi Produksi


Menurut Sudarsono (1995), fungsi produksi adalah hubungan teknis yang
menghubungkan antara faktor produksi (input) dan hasil produksi (output). Faktor
produksi bersifat mutlak agar produksi dapat dijalankan untuk menghasilkan suatu
produk. Suatu fungsi produksi menggambarkan semua metode produksi yang
efisien secara teknis dalam arti penggunaan kuantitas bahan input seperti tenaga
kerja dan barang-barang modal yang minimal.
Q

Q= f(TK,M)

Fase

Fase
C
Ekonomis
C

A Ekonomis

TKA

(a)

TKB

Sumber: Sudarsono, 1995

Gambar 2.2. Fungsi Produksi

MC

(b)

MD

Q= f(TK,M)

35

Gambar 2.2 menunjukkan bahwa jika salah satu faktor produksi yang lain
variabel, maka hubungan antara faktor produksi variabel dan kuantitas produksi
mempunyai perilaku tertentu. Gambar 2.2 (a) menerangkan bahwa jika variabel
Modal tetap dan variabel Tenaga Kerja variabel. Hal yang sebaliknya terjadi pada
Gambar 2.2 (b), yaitu faktor Tenaga Kerja tetap dan Modal variabel.
Ketika faktor variabel nol, kuantitas produksi juga nol. Artinya, semakin
besar faktor variabel yang digunakan maka semakin besar juga kuantitas produksi
yang dihasilkan. Penambahan jumlah produksi ini akan terus bertambah sampai
kepada penambahan suatu kuantitas faktor akan menurunkan kuantitas dari hasil
produksi, dimana penggunaan faktor telah digunakan secara optimal.
2.3.2. Hubungan Investasi, Tenaga Kerja, dan Output
Hubungan Investasi, tenaga kerja, dan PDRB dapat dijelaskan dengan
menggunakan konsep elastisitas produksi. Bentuk matematis dari fungsi produksi
dapat ditulis: (Nicholson, 1999)
Y= f(K, TK, M ) ............................................... (2.1)
dimana:
Y
K
TK
M

= Produk Domestik Regional Bruto (Output)


= Modal atau Investasi
= Tenaga Kerja
= Material

Fungsi atau persamaan (2.1) menjelaskan bahwa output tergantung pada


variabel atau faktor-faktor yang berada di dalam fungsi output. Elastisitas output
terhadap modal adalah:
.................. (2.2)

36

........................................... (2.3)
Persamaan (2.3) menunjukkan bahwa bagaimana respon output jika terjadi
perubahan pada variabel modal. Begitu juga untuk elastisitas output terhadap
tenaga kerja, persamaannya:

............ (2.4)
..................................... (2.5)
Elastisitas pada persamaan (2.5) menunjukkan bahwa bagaimana respon
output jika terjadi perubahan pada variabel tenaga kerja, sehingga dari persamaan
(2.3) dan (2.5) dapat disimpulkan: (Putong, 2002)
- Jika

>

maka faktor produksi modal mempunyai kemampuan

lebih besar daripada faktor tenaga kerja sehingga disebut sebagai industri
padat modal.
- Bila

<

, maka faktor tenaga kerja lebih dominan daripada modal

sehingga industri tersebut disebut sebagai industri padat karya.


2.3.3. Hubungan Ekspor, Impor, dan Output
Dalam perekonomian terbuka, terjadinya perdagangan luar negeri
termasuk ke dalam perhitungan pendapatan nasional. Indikator yang dijadikan
untuk perhitungannya adalah ekspor dan impor atau biasa juga disebut sebagai net
ekspor (ekspor setelah dikurangi dengan impor).
Variabel ekspor dimasukkan karena ada faktor perdagangan luar negeri
dalam kerangka keseimbangan pasar dan neraca perdagangan. Jika pengembangan
perdagangan luar negeri berada dalam skedul IS, maka ekspor neto di dalam

37

perekonomian terbuka merupakan komponen dari permintaan agregat (Dornbusch


dan Fischer, 1997). Pihak asing membeli sebagian dari output domestik (ekspor)
dan produsen mancanegara menerima sebagian masyarakat dalam negeri (impor).
Hal ini menimbulkan perubahan sehingga pengeluaran di dalam negeri tidak lagi
menentukan output dalam negeri. Sebelumnya, pengeluaran dalam negeri
merupakan fungsi dari konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintahan, tetapi
sekarang fungsinya menjadi variabel ekspor dan impor menentukan output dalam
negeri. Secara matematis,dapat ditulis pada persamaan (2.6):
Y = C + I + G + (X M) ............................................ (2.6)
dimana :
Y
C
I
G
X
M

= Output Total
= Konsumsi Rumah Tangga
= Investasi Swasta
= Pengeluaran Pemerintah
= Ekspor
= Impor

Penentuan pendapatan yaitu dengan cara mengasumsikan pengeluaran atau


belanja domestik tergantung pada tingkat pendapatan dan suku bunga. Selain itu,
adanya asumsi ekspor neto yang ditentukan oleh tingkat pendapatan dalam negeri,
yang mempengaruhi pengeluaran impor pada pendapatan luar negeri, dan nilai
tukar riil. Jika dirumuskan dalam persamaan, maka akan tampak seperti pada
persamaan akhir atau persamaan (2.9).
X = X(Yf,R) ................................................................. (2.7)
M = M(Y, R ................................................................ (2.8)
NX = X-M .................................................................... (2.9)

38

sehingga :
NX = X(Yf, R) - M(Y, R) ............................................. (2.10)
NX = NX(Y, Yf, R) ....................................................... (2.11)
dimana:
Y
R
Yf
X
M
NX

= Pendapatan domestik
= Nilai tukar riil
= Pendapatan luar negeri
= Ekspor
= Impor
= Net Ekspor

Net ekspor merupakan penurunan fungsi tingkat pendapatan. Kenaikan


pendapatan yang akan meningkatkan impor yang kemudian akan menurunkan
ekspor netto.

Y
NX (Y, R, Yf)

Sumber: Dornbusch dan Fischer, 1997

Gambar 2.3. Skema Ekspor Netto

Pada gambar 2.3, garis ekspor netto akan lebih curam ketika prospensitas
marjinal untuk melakukan impor semakin tinggi. Gambar 2.3 dikembangkan
untuk tingkat pendapatan tertentu di luar negeri (Yf), dan untuk nilai tukar riil (R)
yang terbuka juga.
Jika pendapatan di luar negeri meningkat, maka permintaan luar negeri
terhadap barang-barang dalam negeri meningkat, termasuk ekspor netto yang

39

mengalami peningkatan pada setiap tingkat pendapatan dalam negeri. Hal ini
mengakibatkan terjadinya pergeseran kurva IS ke sebelah kanan seperti pada
Gambar 2.4 yang menerangkan bahwa tingkat keseimbangan pendapatan yang
baru berada pada Y yang tadinya berada pada Y0. Keadaan ini mengakibatkan
ekspor netto meningkat ke sebelah kanan ke NX. Pada tingkat keseimbangan
yang baru, tingkat ekspor netto meningkat walaupun kurang dari besarnya
kenaikan ekspor karena adanya peningkatan pendapatan dalam negeri yang
diakibatkan oleh kenaikan impor.

E
E
IS
IS

Output

0
E

Output

E
NX
NX

Sumber: Dornbush dan Fischer, 1997

Gambar 2.4. Pengaruh Kenaikan Pendapatan di Luar Negeri

Di tahun 2008, kontribusi sektor industri terhadap PDB Indonesia


mencapai 27,9 persen. Salah satu daerah di Jawa Barat yang penopang utamanya
ada di sektor industri adalah Kabupaten Bekasi. Kabupaten Bekasi memiliki
kontribusi sektor industri terhadap PDRB totalnya mencapai 80,25 persen.

40

Adanya kontribusi yang tinggi dari sektor industri ini tidak terlepas dari peranan
tenaga kerja dan investasi sebagai faktor produksinya. Menurut BPPMD Jawa
Barat, investasi di Kabupaten Bekasi mencapai 43,64 persen dari keseluruhan
investasi di Jawa Barat dan sebagian besar investasi tersebut dialokasikan untuk
sektor industri.
Meskipun tingkat investasi dan PDRB Kabupaten Bekasi baik itu sektor
industri maupun totalnya tinggi, angka pengangguran masih tetap tinggi juga.
Angka pengangguran Kabupaten Bekasi sebesar 15 persen dimana angka tersebut
lebih tinggi dari pertumbuhan ekonominya yang hanya 6,5 persen.
Angka pengangguran Kabupaten Bekasi diperkirakan akan terus
meningkat karena pada akhir tahun 2008, industri di Kabupaten Bekasi
melakukan PHK sebanyak 3000 orang pekerja yang diakibatkan oleh krisis
finansial global. Tenaga kerja yang terkena PHK merupakan para pekerja yang
bekerja di industri elektronik, otomotif, plastik, dan tekstil dimana industri
tersebut merupakan industri yang mendapatkan alokasi investasi terbesar dengan
penyerapan tenaga kerja terbesar juga di Kabupaten Bekasi.
Sektor industri seharusnya dapat lebih banyak menyerap tenaga kerja
karena investasi dan output sektor industrinya juga tinggi, khususnya di
Kabupaten Bekasi dimana penopang utamanya adalah sektor industri.
Berdasarkan uraian tersebut, maka kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat
disajikan ke dalam Gambar 2.5.

41

Sektor Industri

- Kontribusi sektor industri terhadap PDB Indonesia 27,9 persen.


- Kabupaten Bekasi kontribusi terbesarnya berada pada sektor industri yang
mencapai 80,25 persen terhadap PDRB totalnya dan dicerminkan dengan
tingginya ekspor Kabupaten Bekasi.
- Investasi cukup tinggi, mencapai 43,64 persen dari keseluruhan investasi yang
berada di Jawa Barat dan dialokasikan sebagian besar pada sektor industri.
- PHK sebanyak 3000 pekerja di akhir tahun 2008.
- Angka pengangguran tetap tinggi meskipun kontribusi sektor industri terhadap
PDRB sangat besar.
Output

Faktor
Input

investasi

Tenaga
kerja

Padat
Karya

Pendekatan
Pengeluaran

Ekspor

9 sektor /lapangan usaha


(4 kontribusi sektor terbesar)

Krisis

OLS

Positif

Negatif

Rekomendasi Kebijakan

Gambar 2.5. Bagan Kerangka Pemikiran Penelitian


: Alur Penelitian
: Metode Penelitian

Krisis

OLS

Impor

Positif

Elastisitas Faktor
Input

Padat
Modal

Pendekatan
Produksi

Total

Industri

Negatif

42

2.4.

Hipotesis Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian dan kerangka pemikiran, maka di dalam

penelitian ini dikemukakan beberapa hipotesis sebagai berikut:


1. Pada persamaan output total Kabupaten Bekasi:
-

Output sektor industri diduga berpengaruh positif terhadap output


keseluruhan. Artinya, peningkatan output pada sektor industri akan
meningkatkan output total di Kabupaten Bekasi.

Output sektor pertanian diduga berpengaruh positif terhadap output


keseluruhan. Artinya, peningkatan output pada sektor pertanian akan
meningkatkan output total di Kabupaten Bekasi.

Output sektor perdagangan, hotel, dan restoran diduga berpengaruh


positif terhadap output keseluruhan. Artinya, peningkatan output ini
akan meningkatkan output total di Kabupaten Bekasi.

Output sektor jasa diduga berpengaruh positif terhadap output


keseluruhan. Artinya, peningkatan output jasa akan meningkatkan
output total di Kabupaten Bekasi.

Krisis ekonomi 1997-1998 diduga memberikan pengaruh yang berbeda


nyata terhadap output total Kabupaten Bekasi.

2. Pada persamaan output sektor industri Kabupaten Bekasi:


-

Investasi dan tenaga kerja diduga berpengaruh positif terhadap output.


Artinya, peningkatan input investasi dan tenaga kerja di sektor industri
akan meningkatkan output pada sektor industri di Kabupaten Bekasi.

43

Ekspor diduga berpengaruh positif terhadap output. Artinya,


peningkatan ekspor akan meningkatkan output pada sektor industri di
Kabupaten Bekasi.

Impor

diduga

berpengaruh

negatif

terhadap

output.

Artinya,

peningkatan impor akan menurunkan output sektor industri di


Kabupaten Bekasi.
-

Krisis ekonomi 1997-1998 diduga memberikan pengaruh yang berbeda


nyata terhadap output sektor industri di Kabupaten Bekasi.

44

III. METODE PENELITIAN

3.1.

Lokasi dan Waktu Penelitian


Dalam penelitian ini, Kabupaten Bekasi dijadikan sebagai objek penelitian

untuk menganalisis pengaruh output sektor industri terhadap output total


Kabupaten Bekasi. Penentuan Kabupaten Bekasi sebagai objek penelitian
dilakukan secara sengaja, karena mengingat Kabupaten Bekasi merupakan salah
satu daerah di Jawa Barat yang kontribusi sektor industrinya besar dan tingkat
investasi serta penyerapan tenaga kerjanya cukup tinggi di antara kabupaten dan
kota lainnya di Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai
dengan bulan Agustus 2009.

3.2.

Jenis dan Sumber Data


Jenis data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah data sekunder

yang berupa data time series dari tahun 1990 sampai tahun 2007. Data tersebut
antara lain terdiri dari data investasi, jumlah tenaga kerja, ekspor, impor, PDRB
sektor industri, pertanian, perdagangan, hotel, dan restoran, PDRB sektor jasa di
Kabupaten Bekasi, serta PDRB total Kabupaten Bekasi. Data bersumber dari
BPS, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Perindustrian dan
Perdagangan, Badan Perncanaan Daerah Kabupaten Bekasi, Badan Koordinasi
dan Penanaman Modal (BKPM) Pusat, internet, dan beberapa sumber lainnya
yang dapat menunjang dalam penulisan skripsi ini. Selain itu, pengolahan data
dalam penelitian ini menyertakan variabel dummy, dimana dummy yang

45

digunakan adalah krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997-1998. Penyertaan
variabel dummy ini dilakukan karena data yang digunakan dalam penelitian
berada pada tahun 1990-2007.

3.3.

Metode Analisis Data


Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini

adalah metode kuantitatif deskriptif. Analisis deskriptif digunakan untuk


menggambarkan kondisi tenaga kerja, investasi dan output Kabupaten Bekasi
khususnya

yang berada pada sektor

industri.

Selain itu juga

untuk

menggambarkan pengaruh sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi


Kabupaten Bekasi yang dicerminkan oleh Produk Domestik Regional Bruto
Kabupaten Bekasi.
Metode kuantitatif dalam penulisan skripsi ini dengan menggunakan
model ekonometrika yang terdiri dari dua model regresi linier berganda dengan
metode OLS (Ordinary Least Square). Regresi linier sederhana yaitu persamaan
regresi yang hanya mempunyai satu variabel bebas. Jika di dalam persamaan
tersebut memiliki lebih dari satu variabel bebas, maka dinamakan model regresi
linier majemuk atau berganda (Nachrowi dan Usman, 2006). Data yang digunakan
dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan software Eviews 6 dengan
bantuan Microsoft Excel 2007.
Model pertama merupakan model yang digunakan untuk menganalisis
pengaruh sektor industri terhadap output total Kabupaten Bekasi yang

46

dicerminkan oleh Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi. Model


persamaannya seperti pada persamaan 3.1.
1. Fungsi output total Kabupaten Bekasi:
LNPDRB_TOT = LN b0 + b1 LNPDRB_PERT + b2 LNPDRB_INDT
+ b3 LNPDRB_PHR + b4 LNPDRB_JS + b5 DK + et ....... (3.1)
dimana:
PDRB_TOT
PDRB_INDT
PDRB_PERT
PDRB_PHR

PDRB_JS
DK
b0
b1
b2
b3
b4
et

= Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi


(Rupiah).
= Produk Domestik Regional Bruto sektor industri
Kabupaten Bekasi (Rupiah).
= Produk Domestik Regional Bruto sektor pertanian
Kabupaten Bekasi (Rupiah).
= Produk Domestik Regional Bruto sektor
perdagangan, hotel, dan restoran Kabupaten Bekasi
(Rupiah).
= Produk Domestik Regional Bruto sektor jasa
Kabupaten Bekasi (Rupiah).
= Dummy krisis
= Indeks efisiensi
= Koefisien dari output sektor industri
= Koefisien dari output sektor pertanian
= Koefisien dari output sektor perdagangan, hotel dan
restoran
= Koefisien dari output sektor jasa
= Residual

Model pada persamaan kedua merupakan model yang digunakan untuk


menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi output sektor industri dengan
menggunakan model regresi linier berganda. Bentuk persamaannya ada pada
persamaan 3.2.
2. Fungsi output sektor industri Kabupaten Bekasi:
LNPDRB_INDT = LN bo + b1 LNPMA + b2 LNPMDN + b3 LNJTK + b4 LNEKS
+ b5 LNIMP + b6 DK + et ............................................... (3.2)

47

dimana:
PDRB_INDT

= Produk Domestik Regional Bruto sektor industri


Kabupaten Bekasi (Rupiah).
= Penanaman Modal Dalam Negeri (Rupiah).
= Penanaman Modal Asing (US Dollar).
= Jumlah Tenaga Kerja (Orang)
= Ekspor Kabupaten Bekasi (US Dollar).
= Impor Kabupaten Bekasi (US Dollar).
= Dummy krisis
= Indeks efisiensi
= Koefisien dari PMA
= Koefisien dari PMDN
= Koefisien dari tenaga kerja
= Koefisien dari ekspor
= Koefisien dari impor
= Residual

PMDN
PMA
JTK
EKS
IMP
DK
b0
b1
b2
b3
b4
b5
et

3.4.

Uji Statistik

3.4.1. Uji Koefisien Determinan R2


Koefiisien determinasi (Goodness of Fit) merupakan suatu ukuran dalam
regresi yang dapat menginformasikan baik atau tidaknya model regresi yang
diestimasi

(Nachrowi

dan

Usman,

2006).

Koefisien

determinansi

ini

mencerminkan besarnya variasi dari variabel terikat yang dapat diterangkan oleh
variabel bebas. Bila nilai R2 = 0, maka variabel bebas sama sekali tidak dapat
menerangkan variabel terikat. Jika R2 = 1, maka variasi dari variabel terikat secara
keseluruhan dapat diterangkan oleh variabel bebas sehingga semua titik
pengamatan berada tepat pada garis regresi. Maka dari itu, baik atau buruknya
persamaan regresi tergantung dari R2 nya yang nilainya berada diantara 0 dan 1.

48

Rumus koefisien determinasi ini adalah:


(3.3)
dimana:
R2
JKR
JKT

= Koefisien Determinasi
= Jumlah Kuadrat Regresi
= Jumlah Kuadrat Total

3.4.2. Uji F-Statistik


Rumusan R2 menyerupai dengan Uji-F, sehingga formulasi Uji-F dapat
diformulasikan sebagai berikut:
...................................... (3.3)
Uji-F dilakukan untuk melakukan uji koefisien regresi secara bersamaan.
Secara umum, hipotesis yang digunakannya adalah:
H0: a1 = a2 = a3 = a4 = ........ = ak = 0
H1: tidak demikian (paling tidak ada satu slope yang 0)
(k merupakan banyaknya variabel bebas)
Setelah didapat Fhitung, lalu dibandingkan dengan Tabel F dengan df
sebesar k dan n-k.
Jika Fhit > F (k,n-k-1) maka tolak H0
Jika Fhit < F (k,n-k-1) maka terima H0
Jika H0 ditolak, maka ini menunjukkan bahwa paling tidak ada satu
variabel bebas yang signifikan secara statistik berpengaruh terhadap variabel tak
bebas atau variabel terikat. Sedangkan jika H0 diterima maka tidak ada satu pun

49

variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas secara
statistik.
3.4.3. Uji t-Statistik
Setelah melakukan uji koefisien secara keseluruhan, maka koefisien
regresi dihitung secara individu dengan menggunakan suatu uji yang dikenal
dengan Uji-t. Pengujian ini berfungsi juga untuk mengetahui tentang pengaruh
dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat apakah signifikan
atau tidak.
t-hitung didefinisikan sebagai:
......................................................... (3.5)
Dalam Uji-t, hipotesis yang digunakan adalah:
H0 : ai = 0
H1 : ai 0

i = 1,2,3,....., k

Setelah didapat thitung, lalu dibandingkan dengan nilai t tabel:


Jika thit > t/2 (n-k) maka tolak H0
Jika thit < t/2 (n-k) maka terima H0
Jika H0 ditolak, maka variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel
tak bebas, sedangkan jika H0 diterima maka variabel bebas tidak berpengaruh
nyata terhadap variabel tak bebas.

50

3.5.

Uji Ekonometrik

3.5.1. Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah pengujian yang dilakukan untuk melihat apakah
ada hubungan linier antara variabel bebas. Jika tidak ada korelasi antara kedua
variabel, maka koefisien pada regersi majemuk akan sama dengan koefisien pada
regresi sederhana. (Nachrowi dan Usman, 2006). Maka dari itu, dalam membuat
regresi berganda, variabel bebas yang baik adalah variabel yang tidak memiliki
hubungan dengan variabel bebas yang lain tetapi mempunyai hubungan dengan
variabel terikat.
Dengan adanya multikolinearitas maka akan memberikan dampak
terhadap model, diantaranya: (Nachrowi dan Usman, 2006)
1. Varian koefisien regresi menjadi lebih besar
2. Varian yang lebih besar menimbulkan lebarnya interval kepercayaan, dan
standar error yang terlalu besar sehingga mengakibatkan nilai duga suatu
koefisien menjadi tidak signifikan.
3. Meskipun multikolinearitas dapat mengakibatkan banyak variabel tidak
signifikan, tetapi koefisien determinasi tetap tinggi dan uji F signifikan.
4. Angka estimasi koefisien regresi yang didapat akan mempunyai nilai yang
tidak sesuai dengan substansi sehingga mengakibatkan kesalahan dalam
penginterpretasian.
3.5.2. Autokorelasi
Autokorelasi terjadi jika observasi yang berturut-turut sepanjang waktu
mempunyai korelasi antara satu dengan yang lainnya. (Nachrowi dan Usman,

51

2006). Uji yang digunakan dalam mendeteksi adanya autokorelasi adalah dengan
menggunakan uji Durbin Watson Statistic (D-W). Jika nilai statistik D-W berada
pada kisaran angka dua, menunjukkan bahwa tidak terdapatnya autokorelasi, dan
begitu juga sebaliknya. Jika semakin jauh dari angka dua, maka akan terjadi
peluang autokorelasi yang besar baik itu autokorelasi positif maupun negatif.
Karena uji D-W memiliki beberapa kelemahan, maka untuk menguji
autokorelasi dapat juga dengan menggunakan uji yang dikembangkan oleh
Breusch-Godfrey. Uji ini dikenal dengan uji Lagrange Multiplier Test. Kriteria uji
yang digunakan untuk mendeteksi autokorelasi dengan uji Lagrange Multiplier,
yaitu:
-

Jika nilai probabilitas pada Obs*R-Square > taraf nyata () yang


digunakan, maka model persamaan yang digunakan tidak mengandung
autokorelasi.

Jika nilai probabilitas pada Obs*R-Square < taraf nyata () yang


digunakan, maka model persamaan yang digunakan mengandung
autokorelasi.

3.5.3. Heteroskedastisitas
Menurut Nachrowi dan Usman (2006), varians (ui2) yang tidak konstan
atau selalu berubah-ubah disebut dengan heteroskedastis. Kasus heteroskedastis
tidak hanya terjadi pada persamaan regresi majemuk tetapi memungkinkan terjadi
pada

regresi

linier

sederhana

juga.

Akibat

yang

ditimbulkan

dari

heteroskedastisitas ini adalah varian koefisien regresi yang lebih besar sehingga
menimbulkan beberapa konsekuensi lain. Konsekuensi itu diantaranya interval

52

kepercayaan yang semakin besar, uji hipotesis tidak akurat, berdampak kepada
hasil keakuratan kesimpulan. Cara mendeteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan
dengan beberapa metode, diantaranya metode gambar dan menggunakan Uji
White Heteroskedasticity.
Pada metode gambar, suatu nilai variabel bebas X atau sekelompok nilai X
variabel bebas akan mempunyai nilai var (ui2) yang berbeda dengan variabel
bebas X atau sekelompok nilai X lainnya. Oleh karena itu, jika nilai-nilai ui2
diplotkan dengan nilai-nilai variabel bebas akan ditemui suatu pola atau bentuk
yang tidak random.
Sedangkan

kriteria

uji

yang

digunakan

untuk

mendeteksi

heteroskedastisitas dengan metode White Heteroskedasticity, yaitu:


-

Jika nilai probabilitas pada Obs*R-Square > taraf nyata () yang


digunakan, maka model persamaan yang digunakan tidak mengalami
heteroskedastisitas.

Jika nilai probabilitas pada Obs*R-Square < taraf nyata () yang


digunakan, maka model persamaan yang digunakan mengalami
heteroskedastisitas.

3.5.4. Uji Normalitas


Karena data yang digunakan dalam penelitian ini kurang dari 30, maka uji
normalitas perlu dilakukan. Uji normalitas ini disebut Jarque-Bera Test (J-B)
yang pengujiannya dilakukan pada error term yang harus terdistribusi secara
normal. Kriteria uji yang digunakan adalah:

53

Jika nilai probabilitas pada (J-B) > taraf nyata () yang digunakan,
maka error term dalam model persamaan yang digunakan terdistribusi
normal.

Jika nilai probabilitas pada (J-B) < taraf nyata () yang digunakan,
maka error term dalam model persamaan yang digunakan tidak
terdistribusi normal.

54

IV. GAMBARAN UMUM

4.1.

Kondisi Geografis dan Pembagian Wilayah Administratif

4.1.1. Kondisi Geografis


Menurut letak geografisnya, Kabupaten Bekasi berada di Bagian Utara
Jawa Barat, yang terletak pada 10604828 - 10702729

Bujur Timur dan

60106 - 60306 Lintang Selatan. Keadaan topografinya terbagi menjadi dua


bagian, yaitu dataran rendah yang meliputi sebagian wilayah bagian utara yang
termasuk ke dataran rendah dan dataran bergelombang mencakup wilayah bagian
selatan. Ketinggian lokasi Kabupaten Bekasi berkisar antara 6 - 115 meter dan
kemiringan 0 25 persen.
4.1.2. Wilayah Administratif
Pada awalnya, Kabupaten Bekasi meliputi 4 wilayah kawedanaan, 13
kecamatan, dan 85 desa. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 48
tahun 1981, terbentuk kota administratif Bekasi. Kota administratif Bekasi terdiri
dari 4 kecamatan, 18 kelurahan dan 8 desa dengan luas 8.845 Ha. Kondisi dan
potensi Kabupaten Bekasi terdiri dari 148.437 luas wilayah yang terdiri dari 1
wilayah kota administratif, 4 wilayah kawedanaan, 20 kecamatan, 3 kamantren,
219 desa dan 18 kelurahan. Kondisi tersebut terjadi sampai pada tahun 1983.
Selanjutnya berdasarkan UU No. 9 tahun 1996 tanggal 16 Desember 1996
wilayah Kabupaten Bekasi dimekarkan menjadi 2 wilayah yaitu Kota Bekasi dan
Kabupaten Bekasi. Kabupaten Bekasi meliputi 5 wilayah kawedanaan, 15
kecamatan dan 187 desa, dengan luas wilayah menjadi 127.388 Ha, sehingga

55

secara yuridis telah lahir PP No. 82 tahun 1998 tanggal 28 Desember 1998 tentang
Pemindahan Ibukota Kabupaten Bekasi ke Kota Cikarang
Secara administratif Kabupaten Bekasi termasuk salah satu Kabupaten di
Propinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta. Kabupaten
Bekasi memiliki batas-batas wilayah:
- Sebelah Barat : Kota Bekasi dan DKI Jakarta
- Sebelah Timur : Kabupaten Karawang
- Sebelah Utara : Laut Jawa
- Sebelah Selatan : Kota Bogor
Kabupaten Bekasi letaknya sangat strategis, berbatasan dengan kabupaten
dan kota-kota besar di Propinsi Jawa Barat, juga berbatasan dengan Laut Jawa
sehingga bagus untuk jalur perdagangan dan pendistribusian barang-barang baik
input maupun output.

4.2.

Rencana Strategis Pembangunan Kabupaten Bekasi


Rencana strategis Kabupaten Bekasi ini tercermin dalam visi dan misi

Kabupaten Bekasi.
Visi:
Manusia Unggul yang Agamis Berbasis Agribisnis dan Industri Berkelanjutan.
Misi:
1. Meningkatkan manusia yang sehat, pinter, dan bener;
2. Meningkatkan

profesionalisme

DPRD, dan Masyarakat;

institusi

Pemerintah

Daerah,

56

3. Mendorong terciptanya masyarakat berbudaya, demokratis, dan


agamis;
4. Memberdayakan Usaha Kecil, Menengah, dan Besar yang berbasis
pada Ekonomi Kerakyatan;
5. Menegakkan supremasi hukum dan ketertiban;
6. Mengembangkan prasarana dan sarana publik secara terpadu;
7. Mengharmoniskan tata ruang yang berbasis kepedulian terhadap
lingkungan.

4.3.

Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kabupaten Bekasi

4.3.1. Kependudukan
Jumlah penduduk Kabupaten Bekasi pada tahun 2007 mencapai 2.125.960
jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari 1.088.144 laki-laki dan 1.037.816 perempuan.
Kabupaten Bekasi merupakan daerah dengan tingkat urbanisasi yang tinggi
sehingga mengakibatkan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi dimana Laju
Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Bekasi mencapai 3,46 persen pada tahun
2007. Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Bekasi di tahun 2007 mengalami
penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini dapat terjadi
karena tenaga kerja yang digunakan di sektor industri mengalami penurunan
sehingga tingkat urbanisasi ke Kabupaten Bekasi berkurang. Hal ini menunjukkan
sektor industri berpengaruh dalam mendorong laju pertumbuhan penduduk yang
salah satunya diakibatkan oleh urbanisasi. Jumlah penduduk dan laju
pertumbuhan penduduk (LPP) Kabupaten Bekasi dapat dilihat pada Tabel 4.1.

57

Tabel 4.1. Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Kabupaten
Bekasi Tahun 2005-2007
Indikator
Jumlah Penduduk

Tahun
2005
2006
2007
1.983.815 2.054.795 2.125.960

Laju Pertumbuhan Penduduk


(LPP)

LPP 2005-2006 : 3,58


LPP 2006-2007 : 3,46

Sumber: BPS Kabupaten Bekasi, 2008

4.3.2. Ketenagakerjaan
Terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi membuat tenaga kerja akan
lebih lama terserap. Di Kabupaten Bekasi, hal ini terjadi ketika kenaikan bahan
bakar minyak sehingga penyerapan tenaga kerja terhambat bahkan terjadi
pengurangan tenaga kerja. Hal ini terjadi karena akan mengakibatkan kenaikan
biaya produksi dan memicu peningkatan inflasi sehingga para pekerja menuntut
kenaikan upah. Keadaan ini menimbulkan keterlambatan sektor riil dalam
menyerap tenaga kerja bahkan pengurangan tenaga kerja salah satunya di sektor
industri karena Kabupaten Bekasi basic utamanya adalah sektor industri.
Akhirnya para pekerja pun akan beralih dari sektor formal ke sektor informal.
Kondisi tenaga kerja Kabupaten Bekasi lebih dominan bekerja di sektor
industri. Pada tahun 2007, tenaga kerja sebanyak 317.288 orang ada pada sektor
industri yang terserap oleh 1.496 perusahaan. Pada tahun tersebut mengalami
penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bahkan sektor industri
mengalami penurunan tenaga kerja paling banyak dibandingkan dengan sektorsektor lainnya yang mengalami penurunan juga. Secara rinci kondisi
ketenagakerjaan dapat dilihat pada Tabel 4.2.

58

Tabel 4.2. Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Klasifikasi Lapangan
Usaha Indonesia (KLUI) di Kabupaten Bekasi
No

Klasifikasi lapangna Usaha


Indonesia (KLUI)

2006

2007

Perusahaan

Tenaga
Kerja

Perusahaan

Tenaga
Kerja

Pertanian, Kehutanan, Perikanan,


dan Peternakan

560

545

Pertambangan dan Penggalian

995

1.002

Industri Pengolahan

1.260

319.213

1.496

317.288

Listrik, Gas, dan Air

160

156

Bangunan

55

5.495

59

5.804

Perdagangan Besar, Eceran, Rumah


Makan, dan Hotel
Angkutan, Perdagangan, dan
Komunikasi
Keuangan, Asuransi, Usaha
Persewaan bangunan Dan tanah serta
Jasa Perusahaan
Jasa Kemasyarakatan dan
Perorangan

190

7.213

324

9.145

50

4.915

65

5.366

55

2.750

89

3.085

85

7.185

162

11.218

1.714

348.486

2.210

353.609

7
8
9

Jumlah
Sumber: Disnaker Kabupaten Bekasi, 2008

Sektor industri yang merupakan sektor basis Kabupaten Bekasi, sering


sekali terganggu pertumbuhannya karena adanya krisis sehingga tenaga kerja
yang dapat masuk ke sektor industri menjadi berkurang. Tetapi, dengan adanya
sektor perdagangan, setidaknya dapat membantu pengangguran yang diakibatkan
oleh sektor industri.
Indikator ketenagakerjaan yang ditunjukkan dengan angka pengangguran
di Kabupaten Bekasi terbilang cukup tinggi pada tahun 2007 yaitu ada pada angka
15,12 persen. Tingginya laju pertumbuhan penduduk yang mencapai 3,46 persen
di tahun 2007 mengakibatkan tidak terpenuhinya antara kesempatan kerja dengan
banyaknya para pencari kerja. Selain itu juga karena adanya PHK sehingga
kesempatan kerja pun menjadi berkurang.

59

4.4.

Perekonomian dan Sektor Industri Kabupaten Bekasi

4.4.1. Perekonomian
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bekasi merupakan
salah satu indikator perkembangan perekonomian pada tahun 2000, dimana angka
PDRB cukup memberikan harapan terhadap peluang berinvestasi maupun
memberikan dampak nilai tambah ekonomi terhadap masyarakat. Hal ini terlihat
dari laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi selama 4 tahun terakhir (20042007) yang memperlihatkan pertumbuhan diatas rata-rata nasional yaitu berkisar
6,06 persen pertahun. Meskipun setelah mengalami penurunan pertumbuhan
ekonomi ditahun 2006, pertumbuhan ekonomi di tahun 2007 kembali meningkat
diatas 6 persen yaitu sebesar 6,14 persen.
Pada Tabel 4.3 terlihat bahwa penopang utama kinerja ekonomi yang
diukur dengan nilai PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bekasi
masih terdapat pada sektor industri. Sementara sektor perdagangan dan jasa
mengalami peningkatan sejalan dengan pertumbuhan sektor industri. Pada tahun
2007, sektor industri tumbuh sebesar 5,75 persen, sehingga sektor industri dapat
dikatakan mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar 5,56
persen.
Sementara sektor perdagangan, hotel dan restoran pada tahun 2007
tumbuh sebesar 9,80 persen. Pertumbuhan sektor ini dapat dikatakan cepat
dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar 8,44 persen.

60

Tabel 4.3. PDRB dan LPE Kabupaten Bekasi Berdasarkan Lapangan Usaha
Tahun 2006-2007
No

PDRB ADH Berlaku

Lapangan
Usaha

PDRB ADH Konstan 2000

2006

2007*

LPE
(%)

1.307.708,79

1.499.042,98

14,63

859.058,70

881.001,98

2,55

1.184.350,14

1.337.136,05

12,9

596.695,49

580.274,39

-2,75

53.380.232,61

58.962.714,64

10,46

35.043.950,48

37.060.103,2

5,75

1.534.164,56

1.699.074,86

10,75

786.106,69

827.175,77

5,22

679.305,25

803.753,97

18,32

482.599,00

547.239,41

13,39

5.526.634,00

6.296.696,32

13,93

3.947.358,93

4.334.092,28

9,8

903.689,70

1.020.632,54

12,94

629.069,48

692.403,76

10,07

655.264,74

751.219,65

14,64

451.850,22

489.177,18

8,26

1.348.179,77

1.497.490,25

11,07

996.685,66

1.068.823,53

7,24

PDRB dengan
Migas

66.519.529,55

73.867.761,25

11,05

43.793.374,65

46.480.291,5

6,14

PDRB tanpa Migas

65346675.62

72.543.098,48

11,01

43.202.971,05

45905994.41

6,26

2
3
4
5
6

8
9

Pertanian,
Peternakan,
Kehutanan,
dan Perikanan
Pertambangan
dan
Penggalian
Industri
Pengolahan
Listrik, Gas,
dan Air
Bersih
Konstruksi
Perdagangan,
Hotel, dan
Restoran
Pengangkutan
dan
Komunikasi
Keuangan,
Real Estate,
dan Jasa
Perusahaan
Jasa-jasa

2006

2007*

LPE
(%)

Sumber: BPS Kabupaten Bekasi, 2008

Dari sisi penawaran, hampir semua sektor mengalami pertumbuhan


peningkatan kinerja yang positif kecuali sektor pertambangan dan penggalian,
juga sektor pertanian yang berada pada sub sektor perkebunan, kehutanan dan
perikanan.
4.4.2. Sektor Industri
Perkembangan sktor industri Kabupaten Bekasi dapat dilihat pada grafik
Gambar 4.1 berikut.

61

50,000,000
45,000,000
40,000,000
35,000,000
30,000,000
25,000,000
20,000,000
15,000,000
10,000,000
5,000,000
0

indt fix
total fix

90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05 06 07

Sumber: BPS Kabupaten Bekasi, 1991-2008 (diolah)

Gambar 4.1 Perkembangan Sektor Industri Kabupaten Bekasi Sebelum dan


Setelah Krisis Tahun 1990-2007

Sektor industri di Kabupaten Bekasi, rata-rata mengalami peningkatan dari


tahun ke tahun. Krisis yang terjadi sekitar tahun 1997-1998 mengakibatkan output
sektor industri turun, tetapi Kabupaten Bekasi dapat mengatasinya, karena pada
tahun-tahun selanjutnya, output sektor industri maupun output total dapat kembali
meningkat sampai tahun 2007.
Peningkatan output tersebut terjadi karena investasi dan penyerapan tenaga
kerja yang berada di Kabupaten Bekasi cukup tinggi. Hal itu dapat terlihat pada
Tabel 4.4, yang menunjukkan investasi, tenaga kerja, maupun output sektor
industri mengalami penurunan setelah terjadinya krisis ekonomi di tahun 19971998. Penurunan terjadi karena krisis mengakibatkan keadaan ekonomi di dalam
negeri tidak stabil dan juga tingkat inflasi yang cukup tinggi di saat krisis
mengakibatkan investor tidak tertarik menanamkan modalnya, karena keuntungan
yang nantinya diperoleh akan berkurang. Tetapi dampak krisis yang terjadi tidak
berlangsung lama. Hal ini terlihat di tahun-tahun berikutnya yaitu tahun 2000

62

sampai 2005, baik investasi, tenaga kerja, maupun output sektor industri
meningkat.
Tabel 4.4. Data Investasi, Jumlah Tenaga Kerja, dan Output Sektor Industri di
Kabupaten Bekasi
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007

Investasi
(Rupiah)
134.457,29
95.966,40
510.612,55
2.402.498,38
2.903.513,55
2.756.810,22
3.375.137,39
5.705.260,66
7.316.849,66
5.579.302,45
1.644.248,69
2.667.593,24
3.694.678,55
4.085.358,38
4.235.276,44
9.822.388,11
5.641.262,64
4.237.168,00

Jumlah Tenaga Kerja


(Orang)
143.621
111.343
153.710
149.402
193.311
227.353
378.861
100.655
125.197
81.038
102.349
186.408
221.911
176.557
216.738
217.113
198.376
211.334

Output Sektor Industri


(Rupiah)
4.547.232,37
5.581.926,32
7.033.686,66
19.567.539,33
22.861.620,20
26.621.371,66
29.799.786,73
32.263.251,32
24.386.437,20
24.938.872,39
25.503.822,09
25.918.168,00
27.092.769,50
28.554.447,60
31.412.017,69
33.198.553,20
35.043.950,48
37.060.103,20

Sumber: BPS dan BKPM, 1990-2008 (diolah)

Pada Tabel 4.4, investasi dan tenaga kerja di tahun 2006 mengalami
penurunan kembali tetapi output yang dihasilkan meningkat. Hal ini terjadi karena
dampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak di tahun 2005 yang
mengakibatkan harga-harga barang di dalam negeri meningkat, termasuk juga
harga faktor produksi. Hal ini yang mengakibatkan para investor mengurangi
modalnya di Inonesia. Output sektor industri yang meningkat terjadi karena
produktifitas dari input yang digunakan tinggi. Jadi, meskipun input yang
digunakan lebih sedikit, output yang dihasilkan dapat tetap tinggi.

63

Semakin membaiknya sektor industri khususnya di Kabupaten Bekasi


sebagai penopang industri nasional dibuktikan dengan tingginya nilai ekspor
Kabupaten Bekasi. Tingkat ekspor Kabupaten Bekasi di tahun 2006 mencapai
US$ 8.555.240.000,00 dan tahun 2007, ekspor tercatat menjadi US$
3.743.806.688,15.
Industri di Kabupaten Bekasi merupakan barometer industri nasional
dimana selain memiliki tingkat output tertinggi di Jawa Barat, juga ditingkat
nasional. Gambaran yang menandakan Kabupaten Bekasi memiliki output industri
di tingkat nasional, ada pada Tabel 4.5 yang menyajikan output industri dengan
nilai output tertinggi di 6 kota dan kabupaten di Jawa Barat.
Tabel 4.5. Output Sektor Industri Terbesar di 6 Kota/Kabupaten di Jawa Barat
Tahun 2007

No
1
2
3
4
5
6
7

Daerah
Kabupaten Bekasi
Kabupaten Bogor
Kabupaten Bandung
Kabupaten Karawang
Kota Bandung
Kota Bekasi
Kota/Kab lainnya di Jawa Barat
Jawa Barat

2007
58.962.714,64
33.404.257,88
20.154.147,70
19.353.619,16
14.167.032,24
11.765.711,35
65.394.879,19
223.202.362,17

Kontribusi
terhadap Jawa
Barat
26,42
14,97
9,03
8,67
6,35
5,27
29,30
100,00

Sumber: BPS Kabupaten Bekasi, 2007

Pada tahun 2007, terjadi penyerapan tenaga kerja sebanyak 220.991 pada
842 industri besar dan sedang. Tenaga kerja ini mengalami peningkatan sebesar
8,07 persen bila dibandingkan dengan tahun 2006 yang hanya mampu menyerap
tenaga kerja sebanyak 204.492 orang. Diantara industri-industri besar dan sedang

64

yang ada, kelompok industri yang mampu menyerap tenaga kerja paling banyak
adalah industri barang dari logam sebanyak 112.078 tenaga kerja sedangkan nilai
tambah bruto sektor industrinya sebesar 30,02 trilyun rupiah.
Industri tekstil, pakaian jadi, dan kulit walaupun memiliki penyerapan
tenaga kerja terbesar kedua yaitu sebesar 34.793, tetapi kontribusi terhadap PDRB
sektor industrinya masih lebih besar dari industri kelompok kimia yaitu sebesar
11,90 trilyun. Tabel 4.6 berisi tentang banyaknya tenaga kerja juga nilai tambah
bruto masing-masing kelompok industri terhadap PDRB sektor industri di
Kabupaten Bekasi.
Tabel 4.6. Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Besar dan Sedang
Menurut Kelompok Industri Tahun 2007
KLUI

Kelompok Industri

31

Makanan, minuman, dan tembakau

55

6.477

PDRB
Industri
(Juta Rupiah)
1.573.523,69

32

Tekstil, pakaian jadi, dan kulit

67

34.793

5.682.329,35

33

28

4.817

84.161,09

37

5.640

278.244,55

176

33.658

11.901.291,09

36

Kayu dan barang-barang dari kayu


Kertas dan barang-barang dari
kertas, percetakan dan penerbitan
Kimia dan barang-barang dari
bahan kimia, minyak bumi, batu
bara, karet, dan barang-barang dari
plastic
Barang-barang galian bukan logam

69

12.228

268.294,23

37

Logam dasar

23

5.146

3.501.847,25

38

Barang-barang dari logam, mesin

370

112.078

31.023.178,44

39

Industri pengolahan lainnya


Jumlah

17
842

6.154
220.991

4.649.844,97
58.962.714,64

34

35

Banyaknya
Industri

Tenaga
Kerja

Sumber: BPS Kabupaten Bekasi, 2008

Nilai ekspor Kabupaten Bekasi yang merupakan cerminan dari hasil


output sektor industri, rata-rata mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Kondisi ekspor pada tahun 2007 tidak setinggi tahun 2006 dan 2005. Catatan

65

sementara nilai ekspor tahun 2007 mencapai US$ 3,74 milyar. Perkembangan
nilai ekspor Kabupaten Bekasi dapat dilihat pada Gambar 4.5. yang merupakan

Billions

perkembangan nilai ekspor pada periode analisis.

$20.00
$15.00
ekspor_riil
U$

$10.00
$5.00

impor_riil U$

$0.00
90 92 94
96 98 00
02 04 06

Sumber: Disperindag Kabupaten Bekasi, 2008

Gambar 4.2. Nilai Ekspor Impor Kabupaten Bekasi


Tahun 1990-2007

Nilai ekspor Kabupaten Bekasi selama periode 1990-2000, tidak


mengalami perubahan secara signifikan. Ekspor Kabupaten Bekasi mengalami
perubahan yang signifikan mulai pada tahun 2000. Setelah tahun 2000, ekspor
Kabupaten Bekasi mengalami perubahan yang cukup berarti, tetapi rata-rata
mengalami perubahan ke arah yang positif dimana nilai ekspornya mengalami
pertumbuhan yang positif, meskipun selama 3 tahun terakhir mengalami
penurunan.

66

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.

Hasil Estimasi Model


Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ordinary

Least Square (OLS) dengan menggunakan dua model regresi linier berganda. Data
yang telah diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan software Eviews 6
dan Microsoft Office Excel 2007. Data hasil estimasi persamaan linier berganda
dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Hasil Estimasi Model Persamaan Output Total di Kabupaten Bekasi
Variable
C
LNPDRB_PERT
LNPDRB_INDT
LNPDRB_PHR
LNPDRB_JS*
DK
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression

Coefficient
Std. Error
t-Statistic
1,266033
0,360052
3,516255
0,021658
0,015771
1,373316
0,644144
0,010657 60,440480
0,272586
0,029162
9,347389
0,054039
0,025770
2,097002
-0,042884
0,007007
-6,119846
0,999943 Durbin-Watson stat
0,999919 F-statistic
0,004842 Prob(F-statistic)

Prob.
0,0043
0,1948
0,0000
0,0000
0,0579
0,0001
1,501606
41751,32
0,000000

Sumber: Lampiran 2

Berdasarkan Tabel 5.1, output sektor ekonomi yang memiliki pengaruh


nyata pada taraf nyata yang digunakan, yaitu 5 persen terhadap output total
Kabupaten Bekasi adalah output sektor, industri, dan sektor perdagangan, hotel
dan restoran serta variabel dummy krisis. Ouput sektor-sektor tersebut
berpengaruh positif terhadap output total Kabupaten Bekasi. Variabel output
sektor jasa tidak berpengaruh nyata pada taraf 5 persen, tetapi pengaruhnya positif
terhadap output total Kabupaten Bekasi. Selain itu, dummy krisis ekonomi pada
tahun 1997-1998 memiliki pengaruh yang berbeda nyata terhadap output total

67

Kabupaten Bekasi. Nilai koefisien determinasi yang didapat adalah sebesar


0,999943 atau 99,99 persen.
Tabel 5.2. Hasil Estimasi Model Persamaan Output Sektor Industri di Kabupaten
Bekasi
Variable
C
LNPMA
LNPMDN*
LNJTK
LNEKS
LNIMP
DK
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression

Coefficient
Std. Error
t-Statistic
8,670587
1,642261
5,279663
0,258529
0,048863
5,290874
0,113653
0,058935
1,928459
0,025517
0,123760
0,206186
0,066064
0,029656
2,227723
-0,014971
0,043915
-0,340901
-0,176357
0,204826
-0,861009
0,953099 Durbin-Watson stat
0,927516 F-statistic
0,171683 Prob(F-statistic)

Prob.
0,0003
0,0003
0,0800
0,8404
0,0477
0,7396
0,4076
1,99837
37,25594
0,000001

Keterangan * : Signifikan pada taraf nyata 10 persen


Sumber
: Lampiran 3

Dari hasil estimasi pada Tabel 5.2, menunjukkan bahwa PMA dan ekspor
berpengaruh nyata dan positif pada taraf nyata yang digunakan, yaitu 5 persen
terhadap output sektor industri di Kabupaten Bekasi. Variabel PMDN, tenaga
kerja, dan impor tidak berpengaruh nyata terhadap PDRB Kabupaten Bekasi pada
taraf nyata 5 persen. Dummy krisis 1997-1998 pada model output sektor industri
ini, pengaruhnya tidak berbeda nyata terhadap output sektor industri Kabupaten
Bekasi. Dari hasi estimasi yang telah dilakukan, nilai koefisien determinasi atau
R-squared (R2) yang didapat pada model ke dua ini adalah sebesar 0,953099 atau
sekitar 95,31 persen.

5.2.

Analisis Uji Statistik


Pengujian statistik dilakukan dengan menguji koefisien determinasi (R2),

dimana koefisien determinasi tersebut menentukan berapa persen model dapat

68

menjelaskan variabel-variabel independen yang dipakai. Selain itu, dilakukan pula


Uji-F, yaitu pengujian secara bersama-sama antara pengaruh variabel-variabel
independen yang dipakai terhadap variabel dependennya.
Setelah uji statistik secara bersama-sama, dilakukan juga pengujian pada
masing-masing variabel independen. Hal itu dilakukan pada kedua model dengan
melakukan Uji-t statistik.
5.2.1. Uji Koefisien Determinasi
Pada model pertama, R-squared (R2) yang didapat adalah sebesar
0,999943. Angka tersebut menunjukkan bahwa model dapat menjelaskan
hubungan antara variabel output pertanian, industri, perdagangan, hotel, dan
restoran, serta jasa dan dummy krisis terhadap variabel dependennya yaitu output
total Kabupaten Bekasi sebesar 99,99 persen. Sisanya, yaitu sebesar 0,01 persen
dijelaskan oleh faktor lain yang berada di luar model yang digunakan dalam
model output total ini.
Pada model ke dua, dimana hasil estimasi dilakukan dengan metode
regresi linier berganda, didapat bahwa R-squared (R2) sebesar 0,953099 atau
sekitar 95,31 persen. Hal ini menunjukkan output sektor industri di Kabupaten
Bekasi dapat dijelaskan oleh variabel PMA, PMDN, jumlah tenaga kerja, ekspor
dan impor, serta dummy krisis sebesar 95,31 persen. Sisanya, yaitu 4,69 persen
lagi dijelaskan oleh faktor atau variabel lain yang berada di luar model.
5.2.2. Uji F-Statistik
Pengujian dengan menggunakan uji F-statistik pada model pertama,
menunjukkan bahwa nilai probabilitas F-statistik lebih kecil dari taraf nyata yang
digunakan (0,000000 < 0,05). Selain itu, nilai F-statistiknya lebih besar dari nilai

69

F-tabelnya (41751,32 > 3,11) sehingga dapat dikatakan bahwa minimal ada satu
variabel bebas yang digunakan dalam model pertama ini yang mempunyai
pengaruh nyata terhadap output total Kabupaten Bekasi pada tingkat kepercayaan
5 persen (=5%).
Begitu pula pada model ke dua penelitian ini, model tersebut memiliki
nilai F-statistik yang lebih besar dari nilai F tabelnya atau nilai probabilitas F
statistik yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan, yaitu sebesar 41,70861
untuk nilai F-statistik dan 0,000001 adalah probabilitas F-statistiknya. Angka ini
menunjukkan bahwa minimal ada satu variabel bebas yang digunakan dalam
model, berpengaruh nyata terhadap output sektor industri di Kabupaten Bekasi
pada tingkat kesalahan 5 persen. Pengujian F-statistik ini dapat dilihat pada
Lampiran 2 dan 3.
5.2.3. Uji t-Statistik
Uji t-statistik ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari masingmasing variabel independen. Berdasarkan Lampiran 2, dapat dilihat bahwa hasil
probabilitas dari uji t-statistik adalah signifikan pada variabel PDRB sektor
industri, perdagangan, hotel, dan restoran. Variabel-variabel tersebut signifikan
pada taraf nyata 5 persen, sedangkan variabel PDRB sektor pertanian dan jasa
tidak signifikan, karena probabilitas t-statistiknya lebih besar dari taraf nyata yang
digunakan. Variabel dummy krisis memiliki pengaruh yang berbeda nyata
terhadap output total Kabupaten Bekasi. Hal ini dilihat juga dari nilai probabilitas
t-statistik setelah dilakukan regresi yang nilainya lebih kecil dari taraf nyata yang
digunakan.

70

Selanjutnya pada model ke dua, dapat dilihat nilai t-statistik adalah


signifikan pada variabel PMA dan ekspor. Variabel PMA dan ekspor signifikan
pada taraf nyata 5 persen dan berpengaruh positif terhadap output sektor industri
Kabupaten Bekasi. Variabel PMDN, tenaga kerja, dan impor tidak berpengaruh
nyata terhadap output sektor industri pada taraf nyata yang digunakan. Nilai tstatistik dari variabel-variabel yang tidak signifikan tersebut lebih kecil dari ttabelnya (t-hit < 2,201). Variabel dummy krisis yang berada pada model ke dua
ini memiliki pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap output sektor industri di
Kabupaten Bekasi karena nilai probabilitas t-statistiknya lebih kecil dari taraf
nyata yang digunakan.

5.3.

Analisis Uji Ekonometrika

5.3.1. Uji Multikolinearitas


Salah satu pengujian yang dilakukan untuk mendeteksi adanya
multikolinearitas adalah dengan melihat koefisien korelasi dari masing-masing
variabel

independen

pada

matriks

korelasi.

Batas

terjadinya

korelasi

multikolinearitas adalah koefisien dari matriks korelasi di antara variabel


independennya tidak lebih dari 0,8 (Nachrowi dan Usman, 2006) atau boleh
melebihi 0,8 tetapi R-square dari regresi masing-masing variabel independen
tidak melebihi dari nilai Adjusted R-squarednya (Uji Klein). Adjusted R-squared
yang didapat pada hasil pengolahan data ini adalah 0,999919 untuk model
pertama dan 0,927516 untuk model ke dua. Selain itu, menurut Gujarati (1999),
tanda yang paling jelas mengenai multikolinearitas adalah ketika R2 sangat tinggi

71

tetapi tidak ada satu pun koefisien regresi signifikan secara statistik atas dasar
pengujian t yang konvensional.
Hasil uji multikolinearitas ini dapat dilihat pada Lampiran 4 dan 5. Hasil
pengujian tersebut menunjukkan pada model pertama maupun ke dua tidak
terdapat multikolinearitas. Pada awalnya, model pertama terdapat gejala
multikolinearitas tetapi gejala multikolinearitas itu dapat diabaikan karena Rsquare dari variabel yang memiliki gejala multikolinearitas lebih kecil dari
Adjusted R-squarednya.
5.3.2. Uji Autokorelasi
Untuk mendeteksi gejala autokorelasi dapat dilihat dari nilai DurbinWatson atau melakukan pengujian Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test.
Pendeteksian autokorelasi pada penelitian ini dilakukan dengan uji BreuschGodfrey Serial Correlation LM Test dimana hasil pengujian tersebut memiliki
nilai probabilitas Obs*R-squarednya sebesar 0,1286 pada model pertama. Angka
tersebut lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu 5 persen, sehingga
model terbebas dari masalah autokorelasi.
Pada model kedua, pendeteksian autokorelasi juga dilakukan dengan
pengujian Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test. Pada Lampiran 5, terlihat
nilai probabilitas Obs*R-squared lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu
0,5872. Angka tersebut menunjukkan bahwa model ke dua juga yang digunakan
pada persamaan terbebas dari masalah autokorelasi.

72

5.3.3. Uji Heteroskedastisitas


Pada Lampiran 4 dan 5, memperlihatkan pengujian yang telah dilakukan
mengenai masalah heteroskedastisitas. Uji White Heteroskedasticity digunakan
untuk melihat ada atau tidaknya gejala heteroskedastisitas pada kedua model
penelitian ini. Hal itu dilihat dari nilai probabilitas Obs*R-squarednya.
Probabilitas Obs*R-squared yang didapat dari model pertama maupun ke dua,
memiliki nilai yang lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu 0,2461 pada
model pertama dan 0,4383 pada model ke dua.
5.3.4. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan jika data yang digunakan pada penelitian kurang
dari 30, sehingga dari situlah dapat diketahui apakah error term dari sampel yang
digunakan sudah terdistribusi secara normal ataukah belum. Pengujian normalitas
ini mengharuskan error term dari sampel yang digunakan terdistribusi secara
normal agar estimasi yang didapat dari hasil regresi bersifat BLUE (Best Linear
Unbias Estimator).
Pada penelitian ini, uji normalitas menggunakan Jarque-Berra Test
dimana hasilnya dapat ditunjukkan dari nilai probabilitas Jarque-Berra seperti
yang terlihat pada Lampiran 4 dan 5. Baik pada model pertama maupun model ke
dua, probabilitas yang didapat lebih besar dari taraf nyata yang digunakan
sehingga dapat dikatakan bahwa error term dari sampel yang digunakan telah
terdistribusi secara normal. Nilai probabilitas yang didapat adalah sebesar
0,657529 pada model pertama dan 0,649367 pada model ke dua.

73

5.4.

Analisis Ekonomi

5.4.1. Pengaruh Output Sektor Industri terhadap Output Total di


Kabupaten Bekasi
Untuk melihat pengaruh output sektor industri terhadap output total
Kabupaten Bekasi, digunakan model persamaan linier berganda yang diestimasi
dengan metode OLS. Hasil estimasinya dapat dilihat pada Tabel 5.5 berikut:
Tabel 5.3. Hasil Uji Signifikansi Variabel Independen pada Model Output Total
di Kabupaten Bekasi
Variabel
PDRB_PERT
PDRB_INDT
PDRB_PHR
PDRB_JS
DK

Koefisien
0,021658
0,644144
0,272586
0,054039
-0,042884

Probabilitas
0,1948
0,0000
0,0000
0,0579
0,0001

Sumber: Lampiran 2

Dari hasil estimasi yang telah dilakukan, maka diperoleh persamaan:


LNPDRB_TOT = 1,27 + 0,02 LNPDRB_PERT + 0,64 LNPDRB_INDT
+ 0,27 LNPDRB_PHR + 0,05 LNPDRB_JS 0,04 DK
Dari hasil regresi, dapat diketahui bahwa output sektor industri
berpengaruh signifikan terhadap output total Kabupaten Bekasi dimana
pengaruhnya adalah positif. Pengaruh positif tersebut dilihat dari koefisien
variabel yang didapat dari hasil regresi. Koefisien variabel output sektor industri
adalah sebesar 0,64. Angka tersebut mengartikan bahwa setiap kenaikan output
sektor industri sebesar 1 persen maka akan meningkatkan output total sebesar 0,64
persen (cateris paribus). Hal ini terjadi karena di Kabupaten Bekasi penopang
utamanya ada pada sektor industri, sehingga peningkatan output total di

74

Kabupaten Bekasi sebagian besar dipengaruhi oleh peningkatan output sektor


industrinya.
Selain output sektor industri, yang berpengaruh signifikan juga positif
terhadap output total Kabupaten Bekasi adalah sektor perdagangan, hotel dan
restoran. Koefisien output sektor ini yang didapat dari hasil regresi adalah sebesar
0,27. Angka sebesar 0,27 pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran ini
menunjukkan setiap peningkatan output di sektor tersebut sebesar 1 persen maka
akan meningkatkan output total di Kabupaten Bekasi sebesar 0,27 persen (cateris
paribus). Sektor perdagangan, hotel dan restoran juga kontribusinya cukup tinggi
dan signifikan terhadap output total Kabupaten Bekasi. Hal ini disebabkan sektor
tersebut merupakan penunjang dari sektor industri di Kabupaten Bekasi, sehingga
peningkatan output di sektor perdagangan, hotel, dan restoran akan meningkatkan
output sektor industri. Peningkatan output di sektor industri ini yang nantinya
akan meningkatkan output total Kabupaten Bekasi karena sektor industri
berpengaruh signifikan juga terhadap output total Kabupaten Bekasi.
Pada variabel output sektor pertanian dan jasa, pengaruhnya tidak
signifikan tetapi kontribusinya positif juga terhadap output total. Hal ini dilihat
dari koefisien pada variabel masing-masing sektor tersebut yang positif yaitu
sebesar 0,02 untuk pertanian dan 0,05 untuk sektor jasa. Angka tersebut
menunjukkan bahwa setiap terjadi kenaikkan output di sektor pertanian sebesar 1
persen, maka akan meningkatkan output totalnya sebesar 0,02 persen untuk sektor
pertanian dan 0,05 persen untuk sektor jasa.

75

Sektor pertanian tidak berpengaruh signifikan terhadap output total


Kabupaten Bekasi karena berdasarkan PDRB harga konstan, pertumbuhan
ekonomi sektor pertanian pada tahun 2007 sebesar 2,55 persen, dengan
memberikan kontribusi terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bekasi
sebesar 0,05 persen. Hanya 2 sub sektor dari sektor pertanian ini yang tumbuh
positif yaitu sub sektor tanaman bahan makanan dan subsektor perternakan,
masing-masing sebesar 3,54 persen dan 3,34 persen. Tanaman bahan makanan
pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan positif sebagai akibat naiknya produksi
padi dari 553.292 ton menjadi 573.411 ton. Sementara 3 sub sektor yang
mengalami pertumbuhan negatif yaitu sub sektor perkebunan sebesar -39,82
persen, kehutanan -0,74 persen dan sub sektor perikanan minus 5,07 persen.
Sektor jasa tidak berpengaruh signifikan terhadap output total Kabupaten
Bekasi karena sektor jasa di Kabupaten Bekasi hanya memberikan kontribusi
terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi sebesar 0,167 persen.
(Bappeda Kabupaten Bekasi, 2008) angka ini jika dibandingkan dengan kontribusi
sektor industri sangat berbeda jauh sehingga hal ini mengakibatkan sektor jasa
tidak berpengaruh signifikan terhadap output total Kabupaten Bekasi.
Krisis yang terjadi di tahun 1997-1998 memiliki pengaruh yang berbeda
nyata terhadap output total Kabupaten Bekasi. Berdasarkan hasil analisis regresi,
didapatkan koefisien dummy krisis sebesar 0,04. Ini berarti sebelum dan sesudah
krisis, rata-rata perbedaan output total Kabupaten Bekasi adalah sebesar 0,04
persen.

76

5.4.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Output Sektor Industri di


Kabupaten Bekasi
Berdasarkan hasil estimasi pada Lampiran 3, didapat bahwa diantara
variabel independen yang telah digunakan dalam model ke dua, PMA dan ekspor
berpengaruh signifikan terhadap output sektor industri di Kabupaten Bekasi.
Tanda yang berada pada koefisien variabel independen menunjukkan bahwa
variabel tersebut berpengaruh positf ataukah negatif terhadap variabel
dependennya.
Tabel 5.4. Hasil Uji Signifikansi Variabel Independen pada Model Output Sektor
Industri di Kabupaten Bekasi
Variabel
PMA
PMDN*
JTK
EKS
IMP
DK
Keterangan *
Sumber

Koefisien
0,258529
0,113653
0,025517
0,066064
-0,014971
-0,176357

Probabilitas
0,0003
0,0800
0,8404
0,0477
0,7396
0,4076

: Signifikan pada taraf nyata 10 persen


: Lampiran 3

Persamaan matematis fungsi dari model pertama adalah sebagai berikut:


LNPDRB_INDT = 8,67 + 0,26 LNPMA + 0,11 LNPMDN + 0,03 LNJTK
+ 0,07 LNEKS 0,01 LNIMP 0,18 DK
Persamaan regresi tersebut menunjukkan bahwa dari kelima variabel yang
digunakan, 4 variabel berpengaruh positif terhadap output sektor industri
Kabupaten Bekasi, tetapi dari 4 variabel tersebut, hanya 2 variabel yang signifikan
yaitu PMA dan ekspor, sedangkan variabel PMDN dan jumlah tenaga kerja tidak
berpengaruh signifikan pada taraf nyata yang digunakan yaitu 5 persen. Satu lagi

77

variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu impor, dimana variabel impor
ini tidak berpengaruh signifikan dan berpengaruh negatif terhadap output sektor
industri di Kabupaten Bekasi.
Angka yang berada pada masing-masing variabel yang digunakan dalam
penelitian ini menunjukkan koefisien dari masing-masing variabel. Pada variabel
PMA, angka 0,26 menjelaskan bahwa jika terjadi peningkatan PMA sebesar 1
persen maka akan meningkatkan output sektor industri di Kabupaten Bekasi
sebesar 0,26 persen (catersis paribus). Hal ini disebabkan oleh sebagian besar
investasi yang dilakukan di Kabupaten Bekasi dialokasikan untuk sektor industri
karena sektor utamanya ada di sektor industri. Industri yang paling diminati oleh
para investor asing diantaranya adalah industri elektronik, mesin, dan industri
logam. Hal ini sesuai dengan data menurut BKPM pada tahun 2007, mencatat
angka investasi yang ditanamkan oleh para investor asing di Kabupaten Bekasi
hampir mencapai 60 persen berada di sub sektor industri logam, elektronik dan
mesin.
Lain halnya dengan PMDN, dimana PMDN pengaruhnya tidak signifikan
terhadap output sektor industri. Hal ini dapat dilihat dari probabilitas variabel
PMDN yang mencapai 0,0800. Angka ini lebih besar dari taraf nyata yang
digunakan yaitu 5 persen sehingga dapat disimpulkan bahwa PMDN tidak
berpengaruh nyata terhadap output sektor industri di Kabupaten Bekasi. Jika
dibandingkan antara PMA dan PMDN, PMA berpengaruh signifikan terhadap
output sektor industri sedangkan PMDN tidak berpengaruh signifikan. Hal ini
terjadi karena investasi yang berada di Kabupaten Bekasi memang sebagian besar

78

didominasi oleh para investor asing (PMA). BPPMD Jawa Barat pada tahun 2007
mencatat tingkat investasi asing di Kabupaten Bekasi mencapai Rp 5,3 trilyun
sedangkan investasi domestik hanya Rp 1,3 trilyun.
Lebih besarnya jumlah PMA di Kabupaten Bekasi ini terjadi karena para
investor asing diberikan kelonggaran dalam melakukan investasinya di Kabupaten
Bekasi. Kelonggaran tersebut berupa perubahan Daftar Skala Prioritas (DSP) yang
semula tertutup untuk PMA, sekarang bisa dimasuki oleh PMA dan diberikan
kelonggaran untuk memperluas investasinya di bidang ekspor. Hal ini telah
menggantikan sertifikat ekspor (SE) yang berlaku sebelumnya. Fasilitas ini
merupakan insentif yang secara langsung berpengaruh terhadap kegiatan ekspor
nonmigas karena para produsen eksportir dapat melakukan kegiatan produksi dan
kegiatan usaha lainnya secara lebih murah, mudah, dan efisien.
Untuk variabel tenaga kerja, memiliki pengaruh yang positif juga terhadap
output sektor industri namun pengaruhnya tidak signifikan. Tenaga kerja yang
tidak signifikan pengaruhnya terhadap output sektor industri di Kabupaten Bekasi,
karena sebagian besar di Kabupaten Bekasi industrinya adalah industri yang padat
modal, misalnya industri kimia dan barang-barang dari bahan kimia, minyak
bumi, batu bara, karet dan barang-barang dari plastik yang jumlah industrinya
sebanyak 158, sedangkan jumlah tenaga kerjanya rata-rata sebanyak 132 per satu
unit industri. Begitu pula dengan industri logam, mesin dan elektronika, jumlah
industrinya 349 buah tetapi rata-rata penggunaan tenaga kerjanya hanya 157 orang
setiap industri. Berbeda halnya pada industri yang memang tergolong labor
intensive, misalnya industri tekstil dimana industri ini di Kabupaten Bekasi

79

jumlahnya hanya 67 buah tetapi rata-rata penggunaan tenaga kerja per unit
industrinya mencapai 248 orang (BPS Kabupaten Bekasi, 2007).
Selain itu, tidak signifikannya faktor tenaga kerja terhadap output sektor
industri di Kabupaten Bekasi dimungkinkan karena produktifitas dari tenaga kerja
tersebut lebih rendah daripada produktifitas modal terhadap output. Hal ini terlihat
dari sektor industri di Kabupaten Bekasi yang melakukan PHK terhadap
karyawannya saat terjadi krisis finansial di akhir tahun 2008.
Hasil estimasi persamaan regresi juga menerangkan bahwa ekspor
berpengaruh siginfikan. Koefisien ekspor yang didapat adalah sebesar 0,07 yang
berarti jika terjadi peningkatan ekspor sebesar 1 persen maka output sektor
industri akan meningkat sebesar 0,07 persen. Hal ini sesuai dengan keadaan di
Kabupaten Bekasi dimana peningkatan output sektor industri tercermin dari
tingkat ekspornya yang tinggi (Bappeda, 2008). Variabel impor memiliki
pengaruh tidak signifikan dan negatif terhadap output sektor industri di Kabupaten
Bekasi. Jika terjadi peningkatan volume impor sebesar satu persen maka output
sektor industri akan turun sebesar 0,01 persen. Penurunan output sektor industri
yang disebabkan peningkatan impor ini adalah karena adanya impor barangbarang dari luar negeri yang mengakibatkan kebutuhan barang masyarakat dalam
negeri terpenuhi oleh barang-barang yang diproduksi di luar negeri khususnya
barang industri, sehingga output sektor industri pun menurun di dalam negeri
sebagai akibat dari permintaan barang dalam negeri yang menurun.
Koefisien dummy yang didapat pada hasil regresi sebesar 0,17
menunjukkan bahwa sebelum dan sesudah krisis, rata-rata perbedaan output

80

sektor industri adalah sebesar 0,17 persen. Variabel dummy yang berada pada
persamaan output sektor industri menjelaskan bahwa krisis ekonomi yang terjadi
sekitar tahun 1997-1998, tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata
terhadap output sektor industri di Kabupaten Bekasi. Hal ini dilihat dari
probabilitas dummy yang diperoleh dari regresi lebih besar dari taraf nyata yang
digunakan dalam penelitian ini. Hal ini terjadi karena beberapa tahun setelah
krisis, muncul industri-industri kecil yang dapat meningkatkan output sektor
industri di Kabupaten Bekasi. Misalnya, di tahun 2000, industri-industri kecil di
Kabupaten Bekasi jumlahnya sebanyak 30 industri kecil, di tahun 2001 jumlahnya
meningkat menjadi 70 industri. (Disperindagkop Kabupaten Bekasi, 2002).
Industri tersebut juga mendapatkan perizinan dari Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Kabupaten Bekasi sehingga jumlah industri kecil yang muncul dan
mendapatkan perizinan dari Disperindagkop pun semakin bertambah dari tahun ke
tahun.
5.4.3. Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja Terhadap Output Sektor
Industri di Kabupaten Bekasi
Untuk melihat pengaruh investasi dan tenaga kerja di Kabupaten Bekasi
terhadap output sektor industri, harus mengetahui besarnya elastisitas dari masingmasing input pada sektor industri tersebut. Jika elastisitas output modal lebih
besar daripada elastisitas output tenaga kerja maka industri tersebut mempunyai
kemampuan faktor produksi modal lebih besar daripada tenaga kerja, sehingga
industri tersebut dikatakan sebagai industri padat modal. Begitu pula sebaliknya,
jika elastisitas tenaga kerja lebih besar dibandingkan dengan elastisitas output

81

modal, maka industri tersebut dominan menggunakan tenaga kerja atau industri
tersebut merupakan industri yang padat karya (Putong, 2002).
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan, terlihat pada Lampiran 6
elastisitas output modal lebih besar 0,032883536 daripada elastisitas output tenaga
kerja. Hal ini menunjukkan bahwa sektor industri di Kabupaten Bekasi cenderung
lebih dipengaruhi oleh tingkat modal (padat modal). Hal ini sesuai dengan
keadaan di Kabupaten Bekasi dimana sebagian besar industri di Kabupaten Bekasi
memang menggunakan modal. Sektor industri di Kabupaten Bekasi memperoleh
alokasi investasi terbesar di antara Kabupaten dan Kota lainnya di Jawa Barat
terutama untuk industri elektronik, mesin dan logam. Pada industri ini juga
banyak diminati oleh para investor asing, dari 50 sektor industri yang berada di
Kabupaten Bekasi, sektor industri tersebut adalah sektor industri yang masih
diinginkan para investor asing3.
Ciri lain dari Kabupaten Bekasi yang padat modal adalah investasi di
sektor industri yang banyak menggunakan tenaga kerja, jumlahnya sedikit
Misalnya industri tekstil pada tahun 2007, hanya memperoleh investasi sebesar
US$ 3.420. Jumlah investasi tersebut sangat rendah jika dibandingkan dengan
investasi pada industri logam, mesin, dan elektronika yang mencapai US$
345.314. (BKPM, 2008)
Jika ditelusuri lebih lanjut tentang investasi ini, dimana investasi dibagi
lagi menjadi investasi asing dan dalam negeri, elastisitas output modal asing lebih
elastis daripada elastisitas output modal domestik. Perhitungan elastisitas ini dapat
3

Kepala BPPMD Jawa Barat, Iwa Kartiwa dalam Kominfo Newsroom oleh Depkominfo,
www.depkominfo.go.id [10 Juni 2009]

82

dilihat pada Lampiran 7 dimana pada Lampiran tersebut terlihat bahwa elastisitas
output modal asing lebih besar daripada elastisitas output modal domestik.
Elastisitas output modal asing dan domestik juga dapat dilihat dari hasil estimasi
regresi persamaan output sektor industri yang terlihat pada koefisien masingmasing variabel PMA dan PMDN (Lampiran 3).
Hal ini mengindikasikan bahwa di Kabupaten Bekasi, sektor industrinya
lebih didominasi oleh PMA karena PMA di Kabupaten Bekasi memiliki
kelonggaran dalam hal Daftar Skala Prioritas (DSP) yang dilakukan oleh investor
asing untuk menanamkan modalnya di Kabupaten Bekasi. Hal ini terjadi karena di
Kabupaten Bekasi terdapat kawasan berikat dimana kawasan berikat ini
merupakan kawasan dengan batas-batas tertentu, yang didalamnya diberlakukan
ketentuan-ketentuan khusus di bidang pabean terhadap barang yang dimasukkan
dari luar Daerah Pabean atau dari dalam Daerah Pabean lainnya tanpa terlebih
dahulu dikenakan pungutan bea, cukai, atau pungutan lainnya sampai barang
tersebut dikeluarkan untuk tujuan impor, ekspor atau reekspor.
Mengenai elastisitas output tenaga kerja yang lebih kecil dari elastisitas
output modalnya mengindikasikan bahwa tenaga kerja sektor industri Kabupaten
Bekasi kurang produktif sehingga industri di Kabupaten Bekasi lebih dominan
menggunakan input berupa modal. Hal ini semakin terlihat ketika terjadinya krisis
finansial global pada akhir tahun 2008 dimana banyak terjadi PHK yang
dilakukan oleh sektor industri di Kabupaten Bekasi terhadap para pekerjanya.
Sektor industri di Kabupaten Bekasi telah melakukan PHK sebanyak 3000
karyawannya di industri logam, mesin, dan elektronik, serta industri tekstil.

83

Padahal industri tekstil merupakan industri yang seharusnya dapat lebih banyak
menyerap tenaga kerja4.
Pemutusan Hubungan Kerja yang dilakukan oleh industri di Kabupaten
Bekasi inilah yang mengakibatkan angka pengangguran di Kabupaten Bekasi
tinggi, sehingga output dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak dapat
menurunkan angka pengangguran secara signifikan. Hal ini dikarenakan semakin
bertambahnya PHK yang dilakukan oleh sektor industri sebagai akibat dari
produktifitas tenaga kerja yang lebih rendah dari produktifitas modalnya.

Ketua Apindo Kabupaten Bekasi, Purnomo Narmiadi dalam Harian Pikiran Rakyat,
www.ahmadheryawan.com [8 Desember 2008]

84

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
1. Output sektor industri berpengaruh signifikan dan positif terhadap output total
Kabupaten Bekasi. Peningkatan output sektor industri sebesar 1 persen maka
akan meningkatkan output total Kabupaten Bekasi sebesar 0,64 persen.
2. Faktor yang mempengaruhi output sektor industri adalah investasi dan ekspor.
Setiap peningkatan investasi, terutama PMA akan meningkatkan ouput sektor
industri di Kabupaten Bekasi. Begitu juga dengan peningkatan ekspor akan
meningkatkan output sektor industri. Variabel tenaga kerja dan impor, pada
periode analisis tidak berpengaruh signifikan terhadap output sektor industri.
3. Elastisitas output modal dan output tenaga kerja yang didapatkan pada
penelitian ini menunjukkan sektor industri di Kabupaten Bekasi lebih ke padat
modal. Hal ini dilihat dari elastisitas output modal lebih besar daripada
elastisitas output tenaga kerja. Diantara PMA dan PMDN, elastisitas yang
paling besar ada pada elastisitas output modal asing (PMA).

6.2. Saran
1. Peningkatan output sektor industri akan meningkatkan output total Kabupaten
Bekasi, maka diharapkan Pemerintahan Kabupaten Bekasi dapat meningkatkan
lagi output sektor industrinya dengan cara meningkatkan investasi dan
mempertahankan investasi yang sudah ada. Cara yang dapat ditempuh untuk
meningkatkan dan mepertahankan investasi diantaranya melakukan promosi

85

investasi, pernyediaan sarana penunjang investasi, insentif pemerintah,


eliminasi hambatan struktural misalnya rantai birokrasi untuk perizinan
investasi yang tidak terlalu panjang.
2. Adanya investasi berupa modal manusia, misalnya dengan mengadakan
pelatihan atau training sebelum bekerja pada bidang yang lebih spesifik,
diharapkan dapat mengakibatkan produktifitas output tenaga kerja meningkat.
Selain itu juga, dengan adanya investasi sumber daya manusia diharapkan
dapat menurunkan angka pengangguran karena tenaga kerja yang digunakan
dalam proses produksi, sudah memiliki modal yang cukup untuk meningkatkan
output sektor industri yang nantinya juga akan meningkatkan output total
Kabupaten Bekasi.
3. Pemerintah Kabupaten Bekasi diharapkan dapat lebih banyak lagi menyerap
tenaga kerja di sektor industri, karena mengingat sektor tersebut merupakan
penyumbang terbesar dalam output total Kabupaten Bekasi. Misalnya dengan
cara lebih memperbanyak investasi barang-barang modal yang juga masih
menggunakan tenaga kerja, dimana tenaga kerja yang digunakan juga sudah
dibekali dengan investasi sumber daya manusia (pelatihan soft skill), sehingga
selain output yang dihasilkan dari sektor industri maupun output total akan
meningkat, angka pengangguran di Kabupaten Bekasi pun dapat menurun.

86

DAFTAR PUSTAKA

Badan Koordinasi Penanaman Modal. 2008. Realisasi Investasi Izin Usaha Tetap
1990-2007. BKPM, Jakarta.
Badan Promosi dan Penanaman Modal Daerah Jawa Barat. 2007. Realisasi PMA
dan PMDN Provinsi Jawa Barat. BPPMD, Bandung.
Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Bekasi. 2008. Produk
Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi 2007.Bappeda, Bekasi.
Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Bekasi. 2009.
Kabupaten Bekasi Masih Jadi Incaran Investasi Asing. Depkominfo.
http://www.depkominfo.go.id [10 Juni 2009]
Badan Pusat Statistik. 2008. Statistik Indonesia 2007-2008. BPS, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2009. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2009. BPS,
Jakarta. http://www.bps.go.id [27 Juli 2009]
Badan Pusat Statistik Kabupaten Bekasi 1991-2008. Bekasi dalam Angka 19912008. BPS, Bekasi.
Bank Indonesia. 2006. Laporan Perkembangan Ekonomi dan Perbankan
Kepulauan Bangka Belitung Triwulan II-2006. BI, Palembang.
Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi. 2002. Jumlah Perizinan Industri
Kecil di Kabupaten Bekasi. Disperindagkop, Bekasi.
Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi. 2008. Nilai Ekspor-Impor
Kabupaten Bekasi. Disperindagkop, Bekasi.
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 2006. Konsep Ketenagakerjaan.
Disnakertrans, Jakarta.
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bekasi. 2008. Jumlah
Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut KLUI. Disnakertrans, Bekasi.
Dumairy. 1996. Perekonomian Indonesia. Erlangga, Jakarta.
Dornbusch, R. dan S. Fischer. 1997. Ekonomi Makro. Rineka Cipta, Jakarta.
Gujarati, D. 1978. Ekonometrika Dasar. Sumarno [penerjemah]. Erlangga,
Jakarta.

87

Kawengian, R.V. 2002. Analisis Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja dalam
Sektor Pertanian dan Sektor Industri Guna Menentukan Strategi
Pembangunan Irian Jaya. [Makalah Falsafah Sains]. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Lipsey, G.R., N.P. Courant, D.D. Purvis, dan O.P. Steiner. 1999. Ekonomi Makro.
Maulana [penerjemah]. Binarupa Aksara, Jakarta.
Nachrowi, N.D., dan H. Usman. 2006. Ekonometrika untuk Analisis Ekonomi dan
Keuangan. FE UI, Jakarta.
Octivaningsih, A.R. 2006. Analisis Pengaruh Upah Minimum Kabupaten
terhadap Investasi, Penyerapan Tenaga Kerja, dan PDRB di Kabupaten
Bogor. [Skripsi]. Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Panglaykim, J. 1983. Perusahaan Multinasional dalam Bisnis Internasional.
Yayasan Proklamasi Centre For Strategic and International Studies,
Jakarta.
Putong, I. 2002. Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Rahayu, H. 2008. Angka Pengangguran 2009 Naik Menjadi 9 Persen [Media
Indonesia Online]. http://www.lipi.go.id/www.cgi [ 31 Agustus 2008]
Ravianto, J. 1986. Orientasi Produktivitas dan Ekonomi Jepang. UI-Press,
Jakarta.
Sastrosoenarto, H. 2006. Industrialisasi Serta Pembangunan Sektor Pertanian
dan Jasa Menuju Visi Indonesia 2030. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sitompul, N.L. 2008. Analisis Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja terhadap
PDRB Sumatera Utara. USU e-Respository. USU Official Website.
http://www.library.usu.ac.id [11 Agustus 2009]
Sudarsono. 1995. Pengantar Ekonomi Mikro. Pustaka LP3ES, Jakarta.
Tambunan, T.T.H. 2001. Industrialisasi di Negara Sedang Berkembang Kasus
Indonesia. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Tejasari, M. 2008. Peranan Sektor Usaha Kecil dan Menengah dalam
Penyerapan Tenaga Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi. [Skripsi].
Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.

88

89

Lampiran 1
Data-data yang Digunakan pada Penelitian
tahun

pma (Rp)

1990

19.585.998,63

pmdn (Rp)
114.871,29

inv (Rp)

ekspor (US $)

impor (US $)

jtk (orang)

pdrb_pert
(Rp)

pdrb_phr (Rp)

pdrb_js
(Rp)

pdrb_indt
(Rp)

134.457,29

14.371.410,31

81.680.843,13

143.621

1130.295,37

462.097,68

22.399,03

4.547.232,37

pdrb_total
(Rp)
7.740.161,09

1991

75.598.375,50

20.368,02

95.966,40

6.386.510,74

86.468.938,03

111.343

1111.582,48

490.586,46

23.774,33

5.581.926,32

8.952.029,37

1992

123.916.070 ,78

386.696,48

510.612,55

318.989,03

5.655.623,42

153.710

1170.896,09

522.058,41

25.438,53

7.033.686,66

10.700.299,88

1993

329.283.731 ,41

2.073.214,65

2.402.498,38

18.297.021,77

8.109.802,89

149.402

1233.373,84

1.714.907,47

341.877,90

19.567.539,33

23.864.733,34

1994

1.977.966.264,19

925.547,28

2.903.513,55

153.927.111,18

194.274.361,3.9

193.311

1038.424,56

1.965.300,90

427.196,66

22.861.620,20

27.488.958,76

1995

2.073.412.810,44

683.397,41

2.756.810,22

63.640.557,00

14.784.554,15

227.353

934.105,01

2.291.217,47

480.974,59

26.621.371,66

31.694.328,69

1996

2.395.944.406,34

979.192,99

3.375.137,39

215.654.473,92

27.669.785,73

378.861

920.583,51

2.624.567,77

501.536,30

29.799.786,73

35.467.663,63

1997

2.773.759.949,04

2.931.500,71

5.705.260,66

528.951.253,35

44.326.602,93

100.655

762.071,64

2.759.718,02

516.113,99

32.263.251,32

38.133.522,95

1998

6.942.611.067,74

374.238,59

7.316.849,66

343.488.210,70

51.925.755,76

125.197

697.728,99

2.510.648,99

520.424,53

24.386.437,20

29.469.121,75

1999

5.384.610.597,29

194.691,86

5.579.302,45

319.829.116,66

11.171.890,95

81.038

690.453,25

2.603.493,72

532.019,84

24.938.872,39

30.160.545,91

2000

1.465.630.968,78

178.617,72

1.644.248,69

10.233.148.511,85

14.255.880,08

102.349

715.242,83

2.686.367,35

549.746,09

25.503.822,09

30.956.266,65

2001

2.507.871.305,92

159.721,94

2.667.593,24

1.054.080.281,44

22.353.292,37

186.408

731.469,76

2.804.245,25

589.173,33

25.918.168,00

31.783.599,84

2002

3.074.357.059,33

620.321,49

3.694.678,55

9.406.796.028,99

3.467.453,95

221.911

759.386,11

2.946.656,30

615.192,33

27.092.769,50

33.316.446,15

2003

3.300.133.524,62

785.224,85

4.085.358,38

6.407.517.705,33

2.823.487,19

176.557

790.495,09

3.131.000,76

656.535,23

28.554.447,60

35.225.025,40

2004

3.681.989.560,61

553.286,88

4.235.276,44

8.783.726.757,96

6.319.263,37

216.738

828.782,35

3.353.750,40

835.571,42

31.412.017,69

38.976.643,97

2005

9.074.821.496,26

747.566,61

9.822.388,11

15.018.615.916,50

22.210.701,51

217.113

821.884,17

3.640.123,07

875.024,22

33.198.553,20

41.319.270,04

2006

5.330.561.648,33

310.701,00

5.641.262,64

8.555.244.201.97

74.881.129,76

198.376

859.058,70

3.947.358,93

996.685,66

35.043.950,48

43.793.374,65

2007

3.329.910.419,38

907.257,58

4237.168,00

3.743.806.688.15

33.201.161,64

211.334

881.001,98

4.334.092,28

1.068.823,53

37.060.103,20

46.480.291,50

90

Lampiran 2
Hasil Analisis Regresi Berganda pada Persamaan Output Total di
Kabupaten Bekasi (Model Pertama)
Dependent Variable: LNPDRB_TOT
Method: Least Squares
Date: 08/11/09 Time: 00:09
Sample: 1990 2007
Included observations: 18
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

C
LNPDRB_PERT
LNPDRB_INDT
LNPDRB_PHR
LNPDRB_JS
DK

1.266033
0.021658
0.644144
0.272586
0.054039
-0.042884

0.360052
0.015771
0.010657
0.029162
0.025770
0.007007

3.516255
1.373316
60.44048
9.347389
2.097002
-6.119846

0.0043
0.1948
0.0000
0.0000
0.0579
0.0001

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)

0.999943
0.999919
0.004842
0.000281
74.05657
41751.32
0.000000

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat

17.12177
0.536561
-7.561841
-7.265051
-7.520918
1.501606

91

Lampiran 3
Hasil Analisis Regresi Berganda pada Persamaan Output Sektor Industri di
Bekasi (Model Ke dua)
Dependent Variable: LNPDRB_INDT
Method: Least Squares
Date: 08/09/09 Time: 18:39
Sample: 1990 2007
Included observations: 18
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

C
LNPMA
LNPMDN
LNJTK
LNEKS
LNIMP
DK

8.670587
0.258529
0.113653
0.025517
0.066064
-0.014971
-0.176357

1.642261
0.048863
0.058935
0.123760
0.029656
0.043915
0.204826

5.279663
5.290874
1.928459
0.206186
2.227723
-0.340901
-0.861009

0.0003
0.0003
0.0800
0.8404
0.0477
0.7396
0.4076

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)

0.953099
0.927516
0.171683
0.324224
10.60934
37.25594
0.000001

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat

16.87731
0.637685
-0.401037
-0.054782
-0.353293
1.939837

92

Lampiran 4
Hasil Analisis Uji Ekonometrika pada Model Output Total di Kabupaten
Bekasi (Model Pertama)
Uji Multikolinearitas
LNPDRB_PERT
LNPDRB_INDT
LNPDRB_PHR
LNPDRB_JS
DK

LNPDRB_PERT LNPDRB_INDT LNPDRB_PHR LNPDRB_JS


1.000000
-0.792955
-0.807705
-0.775241
-0.792955
1.000000
0.943562
0.942442
-0.807705
0.943562
1.000000
0.993505
-0.775241
0.942442
0.993505
1.000000
-0.753285
0.551361
0.729339
0.727867

DK
-0.753285
0.551361
0.729339
0.727867
1.000000

Uji Klein
Variabel dependen
LNPDRB_PERT
LNPDRB_INDT
LNPDRB_PHR
LNPDRB_JS
DK

Variabel independen
LNPDRB_INDT, LNPDRB_PHR, LNPDRB_JS, DK
LNPDRB_PERT , LNPDRB_PHR, LNPDRB_JS, DK
LNPDRB_PERT , LNPDRB_INDT , LNPDRB_JS, DK
LNPDRB_PERT , LNPDRB_INDT, LNPDRB_PHR, DK
LNPDRB_PERT , LNPDRB_INDT, LNPDRB_PHR, LNPDRB_JS

Uji Autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic
Obs*R-squared

1.475470
4.101394

Prob. F(2,10)
Prob. Chi-Square(2)

0.2745
0.1286

Prob. F(5,12)
Prob. Chi-Square(5)
Prob. Chi-Square(5)

0.2876
0.2461
0.8206

Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic
Obs*R-squared
Scaled explained SS

1.413787
6.672675
2.201696

Uji Normalitas
7

Series: Residuals
Sample 1990 2007
Observations 18

6
5
4
3
2
1
0
-0.005

0.000

0.005

0.010

Mean
Median
Maximum
Minimum
Std. Dev.
Skewness
Kurtosis

1.07e-15
-0.000610
0.007886
-0.007085
0.004068
0.461687
2.484807

Jarque-Bera
Probability

0.838533
0.657529

Ri-Square
0,898419
0,970143
0,991343
0,993722
0,892578

93

Lampiran 5
Hasil Analisis Uji Ekonometrika pada Persamaan Output Sektor Industri di
Kabupaten Bekasi (Model Ke dua)
Uji Multikolinearitas
LNPMA
1.000000
0.454263
0.232054
0.766884
-0.162574
0.653519

LNPMA
LNPMDN
LNJTK
LNEKS
LNIMP
DK

LNPMDN
0.454263
1.000000
0.356272
0.233241
-0.249552
-0.086078

LNJTK
0.232054
0.356272
1.000000
0.221826
-0.091985
-0.019231

LNEKS
0.766884
0.233241
0.221826
1.000000
-0.170336
0.797757

Uji Autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic
Obs*R-squared

0.282898
1.064660

Prob. F(2,9)
Prob. Chi-Square(2)

0.7601
0.5872

Prob. F(6,11)
Prob. Chi-Square(6)
Prob. Chi-Square(6)

0.5360
0.4383
0.9837

Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic
Obs*R-squared
Scaled explained SS

0.886506
5.866932
1.049141

Uji Normalitas

Series: Residuals
Sample 1990 2007
Observations 18

0
-0.2

-0.1

-0.0

0.1

0.2

Mean
Median
Maximum
Minimum
Std. Dev.
Skewness
Kurtosis

-1.21e-15
-0.015994
0.224756
-0.249461
0.138101
0.127361
1.957662

Jarque-Bera
Probability

0.863513
0.649367

LNIMP
-0.162574
-0.249552
-0.091985
-0.170336
1.000000
-0.323515

DK
0.653519
-0.086078
-0.019231
0.797757
-0.323515
1.000000

94

Lampiran 6
Perhitungan Elastisitas Output Modal:
Y

= f(K) .................................................................... (6.1)


....................... (6.2)

................................................. (6.3)
dimana:
Y
K
EY,K

= Output Sektor Industri Kabupaten Bekasi (Rupiah)


= Investasi/Modal Sektor Industri Kabupaten Bekasi (Rupiah)
= Elastisitas output terhadap Modal

Sehingga dari persamaan (6.3) didapat:


14221269,7847 + 2,77514127121 K

2,77514127121 x
0,420047048

95

Lampiran 7
Perhitungan Elastisitas Output Modal Asing:
Y

= f(MA) .............................................................. (6.4)

............. (6.5)
.................................... (6.6)
dimana:
Y
MA
EY,MA

= Output Sektor Industri Kabupaten Bekasi (Rupiah)


= Investasi/Modal Asing Sektor Industri Kabupaten Bekasi
(Rupiah)
= Elastisitas Output terhadap Modal Asing

Sehingga dari persamaan (6.6) didapat:


16922537,5797 + 0,00253945207641 MA

0,00253945207641 x
0,309887530

96

Lampiran 8
Perhitungan Elastisitas Output Modal Domestik:
Y

= f(MD) .......................................................... (6.7)


.............. (6.8)

................................ (6.9)
dimana:
Y
MD
EY,MD

= Output Sektor Industri Kabupaten Bekasi (Rupiah)


= Investasi/Modal Asing Sektor Industri Kabupaten Bekasi
(Rupiah)
= Elastisitas Output terhadap Modal Asing

Sehingga dari persamaan (6.9) didapat:


21485762,2414 + 4,22061440762 MD

4,22061440762 x
0,123796157

97

Lampiran 9
Perhitungan Elastisitas Output Tenaga Kerja:
Y

= f(TK) .................................................................. (6.10)


.................... (6.11)

.......................................... (6.12)
dimana:
Y
TK
EY,TK

= Output Sektor Industri Kabupaten Bekasi (Rupiah)


= Tenaga kerja Sektor Industri Kabupaten Bekasi (Orang)
= Elastisitas output tenaga kerja

Sehingga dari persamaan (6.12) didapat:


15027620,7724 + 53,4815548187 TK

53,4815548187 x
0,387163512

98

Lampiran 10
Fungsi Kabupaten Bekasi dalam Konstelasi Jabodetabek