Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENYULUHAN TENTANG

OMA (OTITIS MEDIA AKUT)


TAHUN 2015

Di Poli THT RSUD Dr Haryoto Lumajang

Disusun oleh Kelompok 3d:


1. Isnaini Damayanti
2. Halimatus Sadiyah
3. Novan Adi Pratama

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG


DINAS KESEHATAN
AKADEMI KEPERAWATAN
Jalan Brigjen Katamso (0334) 882262 Lumajang 2015

SATUAN ACARA PENYULUHAN TENTANG

OMA (OTITIS MEDIA AKUT)

Tema

: Penyuluhan tentang OMA (Otitis Media Akut)

Sasaran

: Pasien dan Keluarga pasien

Hari / Tanggal

: Kamis, 25 Juni 2015

Waktu

: 08 - selesai WIB

Tempat

: Poli THT

Pengajar

: Mahasiswa Akper Pemkab Lumajang

A. Tujuan Instruksional Umum


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang OMA (Otitis Media Akut)
selama 1 x 30 menit diharapkan pasien dan keluarga pasien mengerti tentang
penatalaksanaan dan pencegahan dari OMA (Otitis Media Akut).
B. Tujuan Instruksional Khusus
1. Pasien dan keluarga pasien mampu memahami tentang pengertian OMA
2. Pasien dan keluarga pasien mampu memahami tentang etiologi OMA
3. Pasien dan keluarga pasien mampu memahami tentang klasifikasi OMA
4. Pasien dan keluarga pasien mampu memahami tentang tanda gejala OMA
5. Pasien dan keluarga pasien mampu memahami tentang komplikasi OMA
6. Pasien dan keluarga pasien mampu memahami tentang penatalaksanaan
7. Pasien dan keluarga pasien mampu memahami tentang pencegahan OMA
C. Sasaran
Adapun sasaran dari penyuluhan ini ditujukan khususnya kepada pasien dan
keluarga pasien yang mengalami penyakit OMA (Otitis Media Akut)
D. Materi (terlampir)
1. Pengertian OMA (Otitis Media Akut).
2. Etiologi OMA (Otitis Media Akut)
3. Klasifikasi OMA (Otitis Media Akut)
4. Tanda gejala OMA (Otitis Media Akut)

5. Komplikasi OMA (Otitis Media Akut)


6. Penatalaksanaan OMA (Otitis Media Akut)
7. Pencegahan OMA (Otitis Media Akut)
E. Media
1. Slide
F. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Evaluasi
G. Kegiatan Penyuluhan
Tahap
Kegiatan
Pembukaan

Kegiatan
Keluarga
Penyuluh
1. Salam pembukaan
Mendengarkan
2. Perkenalan
dan memperha
3. Menjelaskan tujuan
tikan
umum dan tujuan

Metode
Ceramah

khusus
4. Apresepsi tentang
OMA (Otitis Media

Penyajian

Akut)
5. Kontrak waktu
Menjelaskan tentang :
1.

Pengertian

2. Etiologi OMA (Otitis


Media Akut)
OMA

4. Tanda gejala OMA


(Otitis Media Akut)
OMA

(Otitis Media Akut)


6. Penatalaksanaan
OMA (Otitis Media
Akut)

jawab,
dan
evaluasi

(Otitis Media Akut)

5. Komplikasi

Ceramah,

OMA dan mengamati tanya

(Otitis Media Akut).

3. Klasifikasi

Mendengarkan

Waktu

7. Pencegahan

OMA

(Otitis Media Akut)


Penutup

1.

Memberikan

Bertanya

pertanyaan
Mengevaluasi

menjawab

2.

dan Ceramah
dan tanya
jawab

pengetahuan
peserta/keluarga
dengan
3.

tanggung

jawab
Menyimpulkan
isi materi

4.
5.

penyuluhan
Tindak lanjut
Salam penutup

H. Pengorganisasian
1. Penyaji
: Novan Adi Pratama
2. Moderator
: Isnaini Damayanti
3. Fasilitator
: Halimatus Sadiyah
I.

Evaluasi
Menanyakan kembali tentang materi yang dijelaskan pada keluarga tentang :
1. Apakah pengertian OMA (Otitis Media Akut).
2. Apakah penyebab OMA (Otitis Media Akut)
3. Sebutkan jenis OMA (Otitis Media Akut)
4. Apakah tanda gejala OMA (Otitis Media Akut)
5. Apakah komplikasi OMA (Otitis Media Akut)
6. Bagaimana penatalaksanaan OMA (Otitis Media Akut)
7. Bagaimana pencegahan OMA (Otitis Media Akut)

MATERI TENTANG OMA (OTITIS MEDIA AKUT)

1. Pengertian OMA (Otitis Media Akut).


Otitis media akut merupakan infeksi pada liang telinga tengah.
Otitis media akut adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut
atau tiba- tiba.
Otitis media akut ialah peradangan telinga tengah yang mengenai sebagian
atau seluruh periosteum dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu.
Otitis media akut adalah infeksi akut telinga tengah.
2. Etiologi OMA (Otitis Media Akut)
Kuman penyebab OMA adalah bakteri piogenik, antara lain :

1. Streptococcus hemoliticus,
2. Haemophilus Influenzae (27%),
3. Staphylococcus aureus (2%),
4. Streptococcus Pneumoniae (38%),
5. Pneumococcus.
Ada juga penyebab lain dari OMA:
1. Batuk pilek yang tidak tertangani dengan baik
2. Trauma
3. Fraktur basis crania
4. Ledakan atau tusukan
5. hematogen
3. Klasifikasi OMA (Otitis Media Akut)
Otitis media dapat dibagi menjadi 4 yaitu :
1. Otitis media supuratif
1) Otitis media supuratif akut atau otitis media akut
2) Otitis media supuratif kronik
2. Otitis media non supuratif atau otitis media serosa
1) Otitis media serosa akut (barotrauma atau aerotitis)
2) Otitis media serosa kronik (glue ear)
3. Otitis media spesifik, seperti otitis media sifilitika atau otitis media
tuberkulosa
4. Otitis media adhesiva
Sedangkan untuk stadium otitis media akut ada 5 stadium diantaranya adalah:
1) Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan
negatif di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat.
Efusi tidak dapat dideteksi.
2) Stadium Hiperemis (Presupurasi)
Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau
seluruh membran timpani tampak hiperemis dan edema. Sekret yang telah
terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat.

3) Stadium Supurasi
Membran timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema ynag
hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta
terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.
4) Stadium Perforasi
Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman
yang tinggi, dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir
dari telinga tengah ke telinga luar.
5) Stadium Resolusi
Bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan
normal kembali. Bila terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan
mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah, maka
resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan.
4. Tanda gejala OMA (Otitis Media Akut)
Secara umum gejala anak dengan OMA, yaitu :
1. Nyeri telinga
2. Keluarnya cairan dari telinga
3. Berkurangnya pendengaran
4. Demam
5. Sulit makan
6. Mual dan muntah
7. Riwayat menarik-narik daun telinga pada bayi
Selain itu, keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa, yaitu :
1. Otorrhea, bila terjadi ruptur membran timpani
2. Keluhan nyeri telinga (otalgia)
3. Demam
4. Anoreksia
5. Limfadenopati servikal anterior
6. Otitis media serosa

7. Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran, rasa penuh atau gatal


dalam telinga atau perasaan bendungan, atau bahkan suara letup atau
berderik, yang terjadi ketika tuba Eustachius berusaha membuka.
8. Membran timpani merah, atau tampak kusam (warna kuning redup sampai
abu-abu pada otoskopi pneumatik) sering menggelembung tanpa tonjolan
tulang (dapat terlihat gelembung udara dalam telinga tengah), dan tidak
bergerak pada otoskopi pneumatik (pemberian tekanan positif atau negatif
pada telinga tengah dengan insulator balon yang dikaitkan ke otoskop), dan
dapat mengalami perforasi.
5. Komplikasi OMA (Otitis Media Akut)
1) Komplikasi intrakranial meliputi:
1. Meningitis
Meningitis dapat terjadi disetiap saat dalam perjalanan komplikasi
infeksi telinga. Jalan penyebaran yang biasa terjadi yaitu melalui
penyebaran langsung, jarang melalui tromboflebitis. Pada waktu kuman
menyerang biasanya streptokokkus, pneumokokkus, atau stafilokokkus atau
kuman yang lebih jarang H. Influenza, koliform, atau piokokus, menginvasi
ruang sub arachnoid, pia-arachnoid bereaksi dengan mengadakan eksudasi
cairan serosa yang menyebabkan peningkatan ringan tekanan cairan spinal.
2. Abses subdural
Abses subdural merupakan stadium supurasi dari pekimeningitis
interna. Sekarang sudah jarang ditemukan. Bila terjadi harus dianggap
keadaan gawat darurat bedah saraf, karena harus mendapatkan pembedahan
segera untuk mencegah kematian.
3. Abses ekstradural
Abses ekstradural ialah terkumpulnya nanah diantara durameter
dan tulang yang menutupi rongga mastoid atau telinga tengah. Abses
ekstradural jika tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan
meningitis, trombosis sinus sigmoid dan abses otak (lobus temporal atau
serebelar, tergantung pada sisi yang terkena.
4. Trombosis sinus lateralis
Sejalan dengan progresifitas infeksi, trombus mengalami perlusan
retrograd kedaerah vena jugular, melintasi sinus petrosus hingga ke daerah

sinus cavernosus. Komplikasi ini sering ditemukan pada zaman praantibiotik, tetapi kini sudah jarang terjadi.
5. Abses otak
Sebagai komplikasi otitis media dan mastoiditis, abses otak dapat
timbul di serebellum di fossa kranii posterior, atau pada lobus temporal di
fossa kranii media. Abses otak biasanya terbentuk sebagai perluasan
langsung infeksi telinga atau tromboflebitis.
6. Hidrosefalus otitis
Kelainan ini berupa peningkatan tekanan intrakranial dengan
temuan cairan serebrospinal yang normal. Pada pemeriksaan terdapat edema
2)
1.
2.
3.

papil. Keadaan ini dapat menyertai otitis media akut atau kronis.
Komplikasi intratemporal meliputi :
Facial paralisis
Labirintitis
Abses Subperiosteal

6. Penatalaksanaan OMA (Otitis Media Akut)


Terapi OMA tergantung pada stadiumnya. Pengobatan pada
stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran nafas, dengan
pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik.
1) Pada stadium oklusi, tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali
tuba eustachius. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam
larutan fisiologik untuk anak <12 thn dan HCl efedrin 1% dalam larutan
fisiologik untuk anak yang berumur >12 thn atau dewasa.. selain itu, sumber
infeksi juga harus diobati dengan memberikan antibiotik.
2) Pada stadium presupurasi, diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan
analgesik. Bila membran timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan
miringotomi. Antibiotik yang diberikan ialah penisilin atau eritromisin. Jika
terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunalat atau
sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin IM agar konsentrasinya
adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Pada
anak

diberikan

ampisilin

4x50-100

mg/KgBB,

mg/KgBB/hari, atau eritromisin 4x40 mg/kgBB/hari.

amoksisilin

4x40

3) Pengobatan stadium supurasi selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk


dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh. Selain itu,
analgesik juga perlu diberikan agar nyeri dapat berkurang.
4) Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari
serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang
dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari.
5) Stadium resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir keluar. Pada
keadaan ini dapat dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu, namun bila masih
keluar sekret diduga telah terjadi mastoiditis.
7. Pencegahan OMA (Otitis Media Akut)
Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah:
1. Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak.
2. Pemberian ASI minimal selama 6 bulan.
3. Penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring.
4. Penghindaran pajanan terhadap asap rokok.
5. Berenang kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA.

DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media
Aesculapius
https://www.academia.edu/5965780/KONSEP_DASAR_PENYAKIT_OMA
https://www.academia.edu/5877199/Adhi_otitis
https://www.academia.edu/9642354/PPT_Infeksi_Mata_dan_Telinga