Anda di halaman 1dari 13

KONSEP DASAR PAJAK INTERNASIONAL

Makalah
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah manajemen perpajakan dengan
dosen Iji Samaji, S.E., M.Si., Ak., C.A., BKP.

Disusun Oleh :
PPAk Angkatan 24
KELOMPOK 1
151502050 DIANA SUSILIANTI
151502054 YUDI KRISTIANTO
151502056 SJAH ARIF PRAMUDJI
151502058 YUNI TRISNAENI SUDIANTI
151502064 DANI SOPIAN

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Setiap kerjasama yang dilakukan oleh setiap negara tentunya harus disepakati terlebih
dahulu oleh para pihak guna mencapai komitmen bersama yang termuat dalam suatu
perjanjian internasional, tidak terkecuali perjanjian dalam bidang perpajakan. Transaksi
perdagangan antara dua negara atau beberapa negara berpotensi menimbulkan aspek
perpajakan, hal ini tentunya harus diatur oleh kedua negara atau dunia internasional secara
umum guna meningkatkan perekonomian dan perdagangan negara-negara yang melakukan
kerjasama tersebut. Namun setiap negara tidak bebas mengatur pengenaan pajak terhadap
badan atau warga negara asing, pajak internasional merupakan salah satu bentuk hukum
internasional, dimana setiap negara harus tunduk pada kesepakatan dunia internasional yang
dikenal dengan istilah Konvensi Wina.
1.2 Pembatasan Masalah
Tujuan Kebijakan Perpajakan Internasional Setiap kebijakan tentu mempunyai tujuan
khusus yang ingin dicapai, begitu juga dengan kebijakan perpajakan internasional juga
mempunyai tujuan yang ingin dicapai yaitu memajukan perdagangan antar negara,
mendorong laju investasi di masing-masing negara, pemerintah berusaha untuk
meminimalkan pajak yang menghambat perdagangan dan investasi tersebut. Salah upaya
untuk meminimalkan beban tersebut adalah dengan melakukan penghindaraan pajak
berganda internasional.
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah agar mahasiswa lebih memahami dan
mendalami pokok bahasan mengenai konsep dasar perpajakan internasional, konsep anti tax
avoidance, tujuan penghindaran pajak berganda, dan transfer pricing.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Perpajakan Internasional


2.1.1 Tujuan Kebijakan Perpajakan International
Setiap kebijakan tentu mempunyai tujuan khusus yang ingin dicapai, dengan begitu juga
dengan kebijakan perpajakan internasional juga mempunyai tujuan yang ingin dicapai yaitu
memajukan perdagangan antar negara, mendorong laju investasi di masing- masing negara,
pemerintah berusaha untuk meminimalkan pajak yang menghambat perdagangan dan investasi
tersebut. Upaya untuk meminimalkan beban tersebut adalah dengan melakukan penghindaran
pajak berganda internasional.
Prinsip-prinsip yang harus dipahami dalam pemajakan internasional terdapat 3 unsur
netralitas yang harus dipenuhi dalam kebijakan pemajakan internasional:
1. Capital Export Neutrality (Netralitas Pasar Domestik)
Kemampuan kita berinvestasi, beban pajak yang dibayar haruslah sama. Sehingga tidak
ada bedanya bila kita berinvestasi di dalam atau diluar negeri. Maka jangan sampai
berinvestasi di luar negeri, beban pajaknya lebih besar karena menanggung pajak dari dua
negara. Hal ini akan melandasi UU PPh Pasal 24 yang mengatur kredit pajak luar negeri.
2. Capital Import Neutrality (Netralitas Pasar Internasional)
Darimanapun investasi berasal, dikenakan pajak yang sama. Sehingga baik investor dari
dalam negeri atau luar negeri akan dikenakan tariff pajak yang sama bila berinvestasi di
suatu negara. Hal ini melandasi hak pemajakan yang sama dengan Wajib Pajak Dalam
Negeri (WPDN) terhadap permanent establishment (PE) atau Badan Usaha Tetap (BUT)
yang dapat berupa cabang perusahaan ataupun kegiatan jasa yang melewati time-test dari
peraturan yang berlaku.

3. National Neutrality
Setiap negara mempunyai bagian pajak atas penghasilan yang sama. Sehingga bila ada
pajak luar negeri yang tidak bisa dikreditkan boleh dikurangkan sebagai biaya pengurang
laba.

2.1.2 Pemajakan Transaksi Lintas Negara


Pemajakan berganda terjadi karena benturan antar klaim pemajakan. Hal ini karena
adanya prinsip pemajakan global untuk wajib pajak dalam negeri (global principle) dimana
penghasilan dari dalam negeri dan dalam negeri dikenakan pajak oleh negara residen (negara
domisili wajib pajak). Selain itu, terdapat pemajakan territorial (source principle) bagi wajib
pajak luar negeri (WPLN) oleh negara sumber penghasilan dimana penghasilan yang bersumber
dari negara tersebut dikenakan pajak oleh negara sumber. Hal ini membuat suatu penghasilan
dikenakan pajak dua kali, pertama oleh negara residen lalu oleh negara sumber.
Bentrokan klaim lebih diperparah bila terjadi dual residen, dimana terdapat dua negara
sama-sama mengklaim seorang subjek pajak sebagai wajib pajak dalam negerinya yang
menyebabkan ia terkena pemajakan global dua kali. Dalam kaitan pembagian hak pemajakan ini,
negara-negara yang melakukan perjanjian perpajakan dibagi menjadi dua jenis. Pertama adalah
negara sumber (source country) yang merupakan negara di mana penghasilan yang merupakan
objek pajak timbul. Kedua adalah negara domisili (resident country) yaitu negara tempat subjek
pajak bertempat tinggal, kedudukan atau berdomisili berdasarkan ketentuan perpajakan.
Bila negara sumber maupun negara domisili biasanya berhak untuk mengenakan pajak
berdasarkan undang-undang domisilinya. Pengenaan pajak oleh dua yuridiksi perpajakan
terhadap satu jenis penghasilan inilah yang biasanya menimbulkan pengenaan pajak berganda
sehingga perlu diatur dalam suatu persetujuan antara negara sumber dan negara domisili.

2.2 Konsep Juridical Double Taxation Versus Economic Double Taxation


Dalam arti sempit, pajak berganda dianggap terjadi pada semua kasus pemajakan
beberapa kali terhadap suatu subjek dan/atau objek pajak dalam satu administrasi pajak yang
sama. Pajak berganda tersebut dapat disebabkan oleh pemajakan oleh penguasa tunggal (single
power) atau oleh berbagai (lapisan) tunggal. Misalnya dapat terjadi pada pemajakan terhadap
bangunan atas nilai jualnya (Pajak Bumi dan Bangunan) dan penghasilannya (Pajak Penghasilan
atas sewa atau keuntungan transfernya). Pajak berganda tersebut sering disebut pajak berganda
ekonomis (economic double taxation). Pajak berganda dalam arti luas sesuai dengan Negara

(yuridiksi) pemungut pajaknya, dapat dikelompokan menjadi pajak berganda (1) internal
(domestic) dan (2) internasional.
Beberapa tipe PBI
1. Faktual dan potensial
2. Yuridis dan ekonomis
3. Langsung dan tidak langsung
Apabila klaim pemajakan tersebut benar-benar dilaksanakan oleh beberapa Negara pemegang
yuridiksi maka akan terjadi PBI factual. Apabila dari kedua (atau ebih) Negara pemegang klaim
pajak, hanya satu Negara saja yang melaksanakan klaim pemajakan tersebut maka akan terjadi
PBI Potensial.
Sementara PBI yuridis terjadi apabila suatu penghasilan (atau modal) yang sama dikenakan
pajak di tangan orang (subjek) yang sama oleh lebih dari satu negara. PBI Ekonomis timbul
apabila dua orang yang (secara yuridis) berbeda dikenakan pajak atas suatu penghasilan (atau
modal; objek) yang sama (oleh lebih dari satu Negara). PBI Yuridis, pemajakan oleh lebih dari
satu Negara dan satu subjek legal yang sama. PBI tak langsung terjadi dari pemajakan atas satu
hal yang sama (setara dengan PBI Ekonomis).
Sumber Hukum Perpajakan Internasional
Perjanjian perpajakan internasional pertama sekali dicetuskan oleh Liga Bangsa-Bangsa
pada tahun 1921, model inilah yang menjadi dasar yang dikembangkan pada tahun 1928 yang
kemudian dipakai oleh Negara-negara yang tergabung dalam Organization for Economic
Cooperation dan Development (OECD) yang semula merupakan konvensi bilateral yang
tergabung dalam The Council of Organization For European Economic Coperation (OEEC)
dengan 70 anggota Negara.
Model ini kemudian disempurnakan dalam model mexico tahun 1943 dan Model London
tahun 1946, komite fiscal dalam OECD kemudian membuat draft konvennsi guna memecahkan
permasalahan pajak ganda agar dapat diterima oleh semua anggota OECD, kemudian pada tahun
1963 dibuatlah laporan final dengan judul draft double taxation convention on income and
capital yang kemudian diubah beberapa kali. Kemudian untuk perjanjian Tax Treaty untuk
Negara berkembang ,dibuat oleh The Economic dan Social Council Of The United Nation pada

tahun 1967. Kemudian pada tahun 1980 diubah lagi dengan nama The Group of Experts yang
anggotanya terdiri dari 25 negara, yang terdiri dari 10 negara maju dan 15 negara berkembang.
Kemudian pada tahun 1974 dan 1979. Pada tahun 1979 the group of experts mereview lagi draft
United Nation Model Convention dan diubah beberapa kali pada tahun 1995, 1997, 1998, 1999,
2000 dan terakhir 2005. Konvensi konvensi inilah yang kemudian menjadi sumber hokum
perpajakan internasional. Di dunia ini, ada dua model treaty yang sering dijadikan acuan dalam
menyusun suatu treaty yaitu model OECD dan model PBB.
Prinsip Non Deskriminasi
Prinsip ini mengatur tentang persamaan perlakuan perpajakan yang diberikan oleh suatu
Negara kepada warga Negara dan kepada bukan warga Negara. Suatu Negara yang tekait tax
treaty memiliki kewajiban untuk memberikan perlakuan perpajakan yang sama untuk warga
negaranya dan untuk mereka yang bukan warga negaranya. Perlakuan perpajakan yang sama ini
mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang sama, pihak yang lebih berat dari pada yang
ditanggung oleh warga Negara dari Negara tersebut. Perlakuan yang sama juga harus diberikan
kepada mereka yang bukan merupakan warga Negara yang terkait perjanjian.

2.3 Konsep Penghindaran Pajak Berganda


pemajakan atas suatu penghasilan secara bersamaan oleh Negara yang menerapkan
domisili dan Negara yang menerapkan azas sumber menimbulkan pajak ganda internasional
(international double taxation). Oleh para investor dan pengusaha, pajak ganda tersebut dianggap
kurang memperlancar mobilitas arus investasi, bisnis, dan perdagangan internasional. Oleh
karena itu, perlu dihilangkan atau diberikan keringanan. Selain diatur dalam ketentuan pajak
domestic, keringanan pajak ganda dimaksud pada umumnya juga diatur dalam P3B. Pajak
Berganda Internasional

muncul apabila terdapat benturan yuridiksi pemajakan, baik yang

melekat oada pemerintah pusat (Negara) maupun pemerintah daerah (provinsi, kota, dan
kabupaten), dan yang melekat pada masing-masing Negara (overlapping of tax jurisdiction in the
international sphere). Dalam hak pemajakan, kita menyadari bahwa setiap negara berdaulat akan
melaksanakan pemajakan terhadap subjek dan/atau objek yang mempunyai pertalian fiscal (fiscal
allegiance) dengan negara pemungut pajak dan berada dalam wilayah kedaulatannya berdasarkan

ketentuan domestic. Seandainya dalam ketentuan domestic dari negara-negara pemungut pajak
tersebut terdapat pengecualian atau pembebasan dari pajak terhadap subjek atau objek yang
bertempat kedudukan atau berada di luar wilayah kedaulatannya makan tidak akan terjadi PBI
karena kedudukan atau berada di luar wilayah kedaulatannya maka tidak akan terjadi PBI karena
mungkin tidak terjadi benturan hak pemajakan dengan negara lain. Atau apabila tariff pajak fi
negara tempat sumber penghasilan dikenalan pajak dan domisili cukup rendah, beban pajak
berganda yang dikenakan di negara sumber sebagai pemegang hak pemajakan utama (primary
taxing rights) dan yang dikenakan di negara domisili sebagai pemegang hak pemajakan sekunder
(secondary taxing rights) secara wajar masih dalam jumlah yang terjangkau oleh pembayar
pajak.
Dalam Pajak Penjualan, misalnya, PBI dapat terjadi apabila negara pengekspor menganut
prinsip negara asal (origin principle; pemajakan oleh negara asal barang dan jasa), dipihak lain,
negara pengimpor menganut prinsip negara tujuan (destination principle; pemajakan oleh negara
tujuan atau negara konsumen). PBI berkenaan dengan Pajak Penghasilan, apabila terjadi
benturan hak pemajakan antara negara-negara mempunyai pertalian ekonomis, menerapkan azas
pembagian hak pemajakan secara tidak bersamaan.

2.4 Penggertian dan Tujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B)


Sehubungan dengan pengertian pajak berganda (double taxation), pajak berganda dapat di
bedakan sebagai berikut:
a. Secara luas, Psjsk berganda adalah bentuk pembebanan pajak dan pungutan lainnya lebih
dari satu kali, yang dapat berganda atau lebih atas suatu fakta fiscal.
b. Secara Sempit, Psjsk berganda dianggap terjadi pada semua kasus pemajakan beberapa
kali tehadap suatu subjek dan/atau objek pajak dalam satu administrasi pajak yang sama,
yang mengesampingkan pembebanan pajak oleh pemerintah daerah. Selanjutnya pajak
berganda sesuai dengan Negara (yuridiksi) pemungut pajaknya, dapat dikelompokkan
menjadi pajak berganda:
1. Internal (domestic)
2. Internasional

Dalam kedua kelompok tersebut terdapat pajak berganda vertical, horizontal dan diagonal
(terutama dalam Negara yang berbentuk federal).
Definisi lain Perjanjian penghindaran pajak berganda adalah perjanjian antara dua negara
bilateral yang mengatur pembagian hak pemajakan atas penghasilan yang fiperoleh atau diterima
oleh penduduk oleh salah satu atau kefua negara pihak pada persetujuan (Both Constacting
State). Atau perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka meminimalisir
pemajakan berganda dan berbagai usaha penghindaran pajak. Perjanjian ini digunakan oleh
penduduk dua negara untuk menentukan aspek perpajakan tersebut dilakukan berdasarkan
klausul-klausul yang terdapat dalam tax treaty yang bersangkutan sesuai jenis transaksi yang
sedang dihadapi.
Setiap tax treaty mempunyai prinsip-prinsip dasar yang kurang lebih sama, sebagai
bagian dari konvensi internasional di mana setiap negara yang terlibat dalam suatu tax treaty
menyusun treatynya masing-masing berdasarkan model-model perjanjian yang diakui secara
internasional. Di dunia ini, ada dua model treaty yang sering dijadikan acuan dalam menyusun
suatu treaty yaitu model OECD dan model PBB.
Memahami treaty yang berlaku antara suatu negara dengan negara lainnya, bias dimulai
dengan memahami prinsp-prinsip dasar tersebut. Dalam kenyataanya, memahami suatu tax treaty
tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Bahasa yang digunakan, jumlah klausal yang
cukup banyak, pemahaman seseorang tentang dasar-dasar perpajakan dan berbagai sebab lainnya
merupakan hal yang dapat mempengaruhi kesulitan tersebut. Dengan memahami prinsip-prinsip
dasar dan prinsip umum yang berlaku dalam suatu treaty, seseorang akan menjadi lebih mudah
memahami suatu treaty yang secara spesifik berlaku untuk negara tertentu.
Sebagai suatu perjanjian, sebuah treaty adalah kontrak yang mengikat suatu negara
dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. Oleh sebab itu, didalamnya selalu berisi
klausul-klausul, pasal-pasal dan ayat-ayat yang berkaitan dengan suatu aspek transaksi dan pihak
tertentu. Pasal-pasal atau ayat-ayat (article atau artikel) yang terdapat dalam sebuah tax treaty
pada dasarnya dapat dikelompokan menjadi empat bagian besar yaitu bagian yang
mengungkapkan cakupan tax treaty, bagian yang mengatur minimalisasi pengenaan pajak
berganda, bagian tentang pencegahan penghindaran pajak dan bagian yang mencakup hal-hal
lainnya.

Semua bagian itu cenderung lebih mudah dipahami dari Pada berbagai definisi istilah dan
pengertian yang sering disebutkan dalam suatu tax treaty. Berbagai definisi, istilah dan
pengertian inilah yang menjadi lebih penting untuk dipahami setiap pihak khususnya berkaitan
dengan kepentingan dalam praktek bisnis sehari-hari.
Disamping tujuan utama seperti disebutkan diatas P3B juga mempunyai tujuan khusus
lainnya yaitu:
a. Menghindari pemajajakan ganda yang memberatkan iklim dunia usaha
Dengan P3B maka pengenaan pajak atas laba usaha tidak dapat dikenakan di kedua
tempat (negara sumber dan negara domisili). Laba usaha dikenakan pajak di tempat di
mana mereka berkedudukan. Dengan adanya ketentuan ini diharapkan dunia usaha
mendapatkan kepastian hokum, karena membayar pajak hanya dikenakan satu kali yaitu
di negara domisili.
b. Meningkatkan investasi modal dari luar negeri.
Pemajakan atas investasi berupa bunga dari pinjaman, dividen dari penanaman saham,
royalty dari pemilik hak cipta, jika dikenakan pemajakan yang tinggi, maka dapat
dipastikan pendudukan atau earga negara asing akan mempertimbangkan untuk
menanamkan modalnya, karena hasil dari investasinya tidak sesuai dengan yang
diharapkan.
c. Peningkatan sumber daya manusia
Dengan adanya pembebasan pajak atas mahasiswa dan pelatihan karyawan di negara di
mana mereka menempuh pendidikan dan pelatihan, maka dapat meningkatkan jumlah
peserta pendidikan dan pelatihan ke luar negeri, dampaknya akan meningkatkan
kemampuan SDM negara pengirim peserta pelatihan dan pendidikan. Sebaliknya jika
penghasilan mahasiswa dan karyawan yang mengikuti pelatihan dikenakan pajak maka
akan membebani mereka sehingga mereka tidak berangkat keluar negeri ini akan
berdampak kurang baik terhadap pengembangan SDM.
d. Pertukaran informasi guna mencegah pengelakan pajak
Dengan membangun jaringan komunikasi yang baik diantara kedua negara, maka
informasi tentang penduduk yang tidak memenuhi kewajiban perpajakannya di kedua
negara tersebut akan dapat terdeteksi (untuk mengintensifkan penerimaan pajak). Negara
yang terkait dengan tax Treaty dapat melaporkan penghasilan penduduk asing di negara
sumber, misalnya saja dengan mengirimkan bukti penerimaan penghasilan dari negara

sumber, informasi penghasilan tersebut seharusnya dilaporkan oleh penerima penghasilan


di negara domisili, dan diperhitungkan kembali pada akhir tahun pajak.
e. Keadilan dalam hal pemajakan penduduk antar kedua negara
P3B juga mengatur adanya pemajakan yang sama dan setara antara kedua negara, dengan
prinsip saling menguntungkan dan tidak memberatkan penduduk asing antar kedua
negara dalam menjalankan usaha. Negara yang mengadakan tax treaty terikat dengan
ketentuan dalam perjanjiannya sehingga tidka boleh sewenang-wenang dalam hal
pemajakannya.
2.5 Transfer Pricing
Transfer pricing adalah suatu kebijakan perusahaan dalam menentukan harga transfer
suatu transaksi baik barang, jasa, harta tak berwujud ataupun transaksi financial yang dilakukan
oleh perusahaan. Terdapat dua kelompok transaksi dalam transfer pricing, yaitu intra-company
dan inter-company transfer pricing. Intra-company transfer pricing merupakan transfer pricing
antardivisi dalam satu perusahaan. Sedangkan intercompany transfer pricing merupakan transfer
pricing antara dua perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa. Transaksinya sendiri bisa
dilakukan dalam satu negara (domestic transfer pricing), maupun dengan negara yang berbeda
(international transfer pricing)
Pengertian di atas merupakan engertian yang netral, walaupun sering sekali istilah
transfer pricing dikonotasikan dengan sesuatu yang tidak baik (sering disebut abuse of transfer
pricing), yaitu suatu pengalihan penghasilan dari suatu perusahaan dalam suatu negara dengan
tariff pajak yang lebih tinggi ke perusahaan lain dalam satu group di negara dengan tariff pajak
yang lebih rendah sehingga mengurangi total beban pajak group perusahaan tersebut.

Manipulasi harga yang dapat dilakukan dengan transfer pricing antara lain manipulasi pada:
1. Harga penjualan;
2. Harga pembelian;
3. Alokasi biaya administrasi dan umum ataupun pada biaya overhead;

4. Pembebanan bunga atas pemberian pinjaman oleh pemegang saham (shareholder loan);
5. Pembayaran komisi, lisensi, franchise, sewa, royalty, imbalan atas jasa manajemen,
imbalan atas jasa teknik, dan imbalan atas jasa lainnya
6. Pembelian harta perusahaan oleh pemegang saham atau pihak yang mempunyai
hubungan istimewa yang lebih rendah dari harga pasar;
7. Penjualan kepada pihak luar negeri melalui pihak ketiga yang kurang/tidak mempunyai
substansi usaha

2.5.1 Transfer Pricing dalam Peraturan Perpajakan Indonesia


Peraturan tentang transfer pricing secara umum fiatur dalam Pasal 18 UU Nomor 36
Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh). Pasal 18 ayat (3) UU PPh menyebutkan
bahwa Direktorat Jendral Pajak (DJP) berwenang untuk menentukan kembali besarnya
Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan
Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usah ayang tidak dipengaruhi
oleh hubungan istimewa (arms length principle) dengan menggunakan metode perbandingan
harga antara pihak yang independen, metode harga penjualan kembali, metode biaya-plus,
atau metode lainnya. Hubungan istimewa dikatakan terjadi jika
i.

Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung maupun tidak langsung paling
rendah 25% pada Wajib Pajak lain

ii.

Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak berada
dibawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung

iii.

Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan
lurus dan/atau ke samping satu derajat.
Dalam Peraturan Dirjen Pajak ini juga diatur bahwa arms length principle dilakukan

dengan menggunakan langkah-langkah


i.

Melakukan analisis kesebandingan dan menentukan pembanding

ii.

Menentukan metode penentuan harga transfer yang tepat

iii.

Menerapkan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha berdasarkan hasil analisis


kesebandingan dan metode penentuan harga transfer yang tepat ke dalam
transaksi yang dilakukan antara Wajib Pajak dengan pihak yang mempunyai
hubungan istimewa

iv.

Mendokumentasikan setiap langkah dalam menentukan Harga Wajar atau Laba


Wajar sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

Aturan ini juga menyebutkan metode apa yang dapat digunakan untuk menentukan harga
transfer yang wajar yang dilakukan oleh perusahaan multinasional yang melakukan
transfer pricing yaitu:
a. Metode Perbandingan Harga
Metode ini membandingkan harga transaksi dari pihak yang ada hubungan istimewa
tersebut dengan harga transaksi barang sejenis dengan pihak yang tidak mempunyai
hubungan istimewa (pembanding independen), baik itu internal CUP maupun
eksternal CUP. Metode ini sebenarnya merupakan metode yang paling akurat, tetapi
yang sering menjadi permasalahan adalah mencari barang yang benar-benar sejenis.
b. Metode Harga Penjualan Kembali
Metode ini digunakan dalam hal Wajib Pajak bergerak dalam bidang usaha
perdagangan, dimana produk yang telah dibeli dari pihak yang mempunyai hubungan
istimewa dijual kembali (resale) kepada pihak lainnya (yang tidak mempunyai
hubungan istimewa). Harga yang terjadi pada penjualan kembali tersebut dikurangi
dengan laba kotor (markup) wajar sehingga diperoleh harga beli wajar dari pihak
yang mempunyai hubungan istimewa.
c. Metode Biaya Plus
Metode ini dilakukan dengan menambahkan tingkat laba kotor wajar yang diperoleh
perusahaan yang sama dari transaksi dengan pihak yang tidak mempunyai hubungan
istimewa atau tingkat laba kotor wajar yang diperoleh perusahaan lain dari transaksi

sebanding dengan pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Umumnya


digunakan pada usaha pabrikasi.
d. Metode Pembagian Laba
Metode ini dilakukan dengan mengidentifikasi laba gabungan atas transaksi afiliasi
yang akan dibagi oleh pihak-pihak yang mempunyai Hubungan istimewa tersebut
dengan menggunakan dasar yang dapat diterima secara ekonomi yang memberikan
perkiraan pembagian laba yang selayaknya akan terjadi dan akan tercermin dari
kesepakatan antar pihak-pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa, dengan
menggunakan Metode Kontribusi atau metode sisa pembagian laba
e. Metode Laba Bersih Transaksional
Metode ini dilakukan dengan membandingkan persentase laba bersih operasi terhadap
biaya, penjualan, aktiva, atau dasar lainnya atas transaksi antara pihak-pihak yang
mempunyai hubungan istimewa dengan persentase laba bersih operasi yang diperoleh
atas transaksi sebanding yang dilakukan oleh pihak yang tidak mempunyai hubungan
istimewa lainnya.