Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

POST PARTUM DENGAN EPISIOTOMI

A. Pengertian
Post Partum adalah masa yang dimulai dari persalinan dan berakhir kirakira
setelah 6 minggu, tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada
kehamilan dalam waktu tiga bulan (Wiknjosastro, 2002: 237).
Nifas dibagi menjadi 3 yaitu pertama puerperium dini yaitu kepulihan dimana
ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan, kedua adalah puerperium Intermedial yaitu
kepulihan menyeluruh alat-alat genital yang lamanya 6-8 minggu, ketiga adalah remote
puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna (Mochtar,R .
1998:115).
Episiotomi adalah insisi pada perineum untuk memperbesar mulut vagina
(Bobak, 2004: 244). Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa postpartum dengan
episiotomi adalah suatu masa yang dimulai setelah partus selesai dan berakhir kira-kira 6
minggu dimana pada waktu persalinan dilakukan tindakan insisi pada perineum yang
bertujuan untuk melebarkan jalan lahir dan memudahkan kelahiran.
Klasifikasi menurut Mansjoer, dkk tahun 1999 macam-macam episiotomi adalah:
1. Episiotomi mediana, merupakan insisi yang paling mudah diperbaiki, penyembuhan
lebih baik, dan jarang menimbulkan dispareuni. Episiotomi jenis ini dapat
menyebabkan ruptur perinei totalis.
2. Episiotomi mediolateral, merupakan jenis insisi yang banyak digunakan karena lebih
aman.
3. Episiotomi lateral, tidak dianjurkan karena hanya dapat menimbulkan sedikit
relaksasi introitus, pendarahan lebih banyak, dan sukar direparasi.
B. Anatomi dan fisiologi
1. Anatomi Organ Reproduksi Wanita
a. Organ Generatif Interna

Gambar 1. Organ Reproduksi Interna Pada Wanita


Keterangan:
1) Vagina

Vagina merupakan jaringan membran muskulo membranosa


berbentuk tabung yang memanjang dari vulva ke uterus berada diantara
kandung kemih di anterior dan rectum di posterior.
2) Uterus
Uterus adalah organ muskuler yang berongga dan berdinding tebal
yang sebagian tertutup oleh peritoneum atau serosa. Berfungsi untuk
implantasi, memberi perlindungan dan nutrisi pada janin, mendorong keluar
janin dan plasenta pada persalinan serta mengendalikan pendarahan dari
tempat perlekatan plasenta. Bentuk uterus menyerupai buah pir yang gepeng
dan terdiri atas dua bagian yaitu bagian atas berbentuk segitiga yang
merupakan badan uterus yaitu korpus dan bagian bawah berbentuk silindris
yang merupakan bagian fusiformosis yaitu serviks. Saluran ovum atau tuba
falopi bermula dari kornus (tempat masuk tuba) uterus pada pertemuan batas
superior dan lateral. Bagian atas uterus yang berada diatas kornus disebut
fundus. Bagian uterus dibawah insersi tuba falopi tidak tertutup langsung
oleh peritoneum, namun merupakan tempat pelekatan dari ligamentum
latum. Titik semu serviks dengan korpus uteri disebut isthmus uteri.
Bentuk dan ukuran bervariasi serta dipengaruhi usia dan paritas
seorang wanita. Sebelum pubertas panjangnya bervariasi antara 2,53,5 cm.
Uterus wanita nulipara dewasa panjangnya antara 68 cm sedang pada
wanita multipara 9-10 cm. Berat uterus wanita yang pernah melahirkan
antara 50-70 gram, sedangkan pada wanita yang belum pernah melahirkan
80 gram atau lebih. Pada wanita muda panjang korpus uteri kurang lebih
setengah panjang serviks, pada wanita nulipara panjang keduanya kira-kira
sama. Sedangkan pada wanita multipara, serviks hanya sedikit lebih panjang
dari sepertiga panjang total organ ini.
Bagian serviks yang berongga dan merupakan celah sempit disebut
dengan kanalis servikalis yang berbentuk fusiformis dengan lubang kecil
pada kedua ujungnya, yaitu ostium interna dan ostium eksterna. Setelah
menopouse uterus mengecil sebagai akibat atropi miometrium dan
endometrim. Istmus uteri pada saat kehamilan diperlukan untuk
pembentukan segmen bawah rahim. Pada bagian inilah dinding uterus
dibuka jika mengerjakan section caesaria trans peritonealis profunda.
Suplay vaskuler uterus terutama berasal dari uteri aterina dan arteri ovarika.
Arteri uterina yang merupakan cabang utama arteri hipogastrika menurun
masuk dasar ligamentum latum dan berjalan ke medial menuju sisi uterus.
Arteri uterina terbagi menjadi dua cabang utama, yaitu arteri serviko
vaginalis yang lebih kecil memperdarahi bagian atas serviks dan bagian atas
vagina. Cabang utama memperdarahi bagian bawah serviks dan korpus uteri.
Arteri ovarika yang merupakan cabang aorta masuk dalam ligamentum

latum melalui ligamentum infundibulopelvikum. Sebagian darah dari bagian


atas uterus, ovarium dan bagian atas ligamentum latum. dikumpulkan
melalui vena yang didalam ligamentum latum, membentuk pleksus
pampiniformis yang berukuran besar, pembuluh darah darinya bernuara di
vena ovarika. Vena ovarika kanan bermuara ke vena cava, sedangkan vena
ovarika kiri bermuara ke vena renalis kiri. Persyarafan terutama berasal dari
sitem saraf simpatis, tapi sebagian juga berasal dari sistem serebrospinal dan
parasimpatis. Cabang-cabang dari pleksus ini mensyarafi uterus, vesika
urinaria serta bagian atas vagina dan terdiri dari serabut dengan maupun
tanpa myelin. Uterus disangga oleh jaringan ikat pelvis yang terdiri atas
ligamentum latum, ligamentum fundibolupelvikum, ligamentum kardialis,
ligamentum rotundum dan ligamentum uterosarkum. Ligamentum latum
meliputi tuba, berjalan dari uterus ke arah sisi, tidak banyak mengandung
jaringan ikat. Ligamentum infundibolupelvikum merupakan ligamentum
yang menahan tuba falopi yang berjalan dari arah infundibulum ke dinding
pelvis. Di dalamnya ditemukan urat-urat saraf, saluran limfe, arteria dan
vena ovarika. Ligamentum kardinale mencegah supaya uterus tidak turun,
terdiri atas jaringan ikat yang tebal dan berjalan dari serviks dan puncak
vagina ke arah lateral dinding pelvis. Di dalamnya ditemukan banyak
pembuluh darah antara lain vena dan arteria uterine. Ligamentum
uterosakrum menahan uterus supaya tidak bergerak, berjalan dari serviks
bagian belakang, kiri dan kanan ke arah os sacrum kiri dan kanan, sedang
ligamentum rotundum menahan uterus antefleksi dan berjalan dari sudut
fundus uteri kiri dan kanan ke daerah ingunal kiri dan kanan.
3) Serviks Uteri
Serviks merupakan bagian uterus yang terletak di bawah isthmus di
anterior batas atas serviks yaitu ostium interna, kurang lebih tingginya sesuai
dengan batas peritoneum pada kandung kemih. Ostium eksterna terletak
pada ujung bawah segmen vagina serviks yaitu portio vaginalis. Serviks
yang mengalami robekan yang dalam pada waktu persalinan setelah sembuh
bisa menjadi berbentuk tak beraturan, noduler, atau menyerupai bintang.
Serviks memiliki serabut otot polos, namun terutama terdiri dari
jaringan kolagen, jaringan elastin serta pembuluh darah. Selama kehamilan
dan persalinan, kemampuan serviks untuk meregang merupakan akibat
pemecahan kolagen.Mukosa kanalis servikalis merupakan kelanjutan
endometrium. Mukosanya terdiri dari satu lapisan epitel kolumner yang
menempel pada membran basalis yang tipis.
4) Korpus Uteri
Dinding korpus uteri terdiri dari 3 lapisan, yaitu endometrium,
miometrium dan peritoneum.

a) Endometrium
Endometrium merupakan bagian terdalam dari uterus, berupa
lapisan mukosa yang melapisi rongga uterus pada wanita yang tidak
hamil. Endometrium berupa membran tipis berwarna merah muda,
menyerupai beludru, yang bila diamati dari dekat akan terlihat
ditembusi oleh banyak lubang-lubang kecil yaitu muara kelenjar uterine.
Tebal endometrium 0,55 mm. Endometrium terdiri dari epitel
permukaan, kelenjar dan jaringan mesenkim antar kelenjar yang
didalamnya terdapat banyak pembuluh darah. Kelenjar uterine
berbentuk tubuler dalam keadaan istirahat menyerupai jari jemari dari
sebuah sarung tangan. Sekresi kelenjar berupa suatu cairan alkalis encer
yang berfungsi menjaga rongga uterus tetap lembab.
b) Miometrium
Miometrium merupakan lapisan dinding uterus yang
merupakan lapisan muskuler. Miometrium merupakan jaringan
pembentuk sebagian besar uterus, terdiri kumpulan otot polos yang
disatukan jaringan ikat dengan banyak serabut elastin di dalamnya.
Selama kehamilan miometrium membesar namun tidak terjadi
perubahan berarti pada otot serviks.
Dalam lapisan ini tersusun serabut otot yang terdiri atas tunikla
muskularis longitudinalis eksterna, oblique media, sirkularis interna
dan sedikit jaringan fibrosa.
c) Peritonium
Peritoneum merupakan lapisan serosa yang menyelubungi
uterus, dimana peritoneum melekat erat kecuali pada daerah di atas
kandung kemih dan pada tepi lateral dimana peritoneum berubah arah
sedemikian rupa membentuk ligamentum latum.
b. Organ Generatif Eksterna
1) Mons Veneris
Mons veneris adalah bagian menonjol diatas simfisis. Pada
wanita dewasa ditutupi oleh rambut kemaluan.pada wanita umumnya
batas atasnya melintang sampai pinggir atas simfisis,sedangkan ke bawah
sampai sekitar anus dan paha.
2) Labia Mayora (bibir-bibir besar)
Terdiri atas bagian kanan dan kiri, lonjong mengecil ke
bawah,terisi jaringan lemak serupa dengan yang ada di mons veneris.Ke
bawah dan belakang kedua labia mayora bertemu dan membentuk
kommisura posterior.
3) Labia Minora (bibir-bibir kecil)
Labia Minora adalah suatu lipatan tipis dari kulit sebelah dalam
bibir besar.Ke depan kedua bibir kecil bertemu dan membentuk diatas

4)

5)

6)

7)

8)
2. Fisiologi

klitoris preputium klitoridis dan dibawah klitoris frenulum klitoridis.Ke


belakang kedua bibir kecil bersatu dan membentuk fossa navikulare. Kulit
yang meliputi bibir kecil mengandung banyak glandula sebasea dan urat
saraf yang menyebabkan bibir kecil sangat sensitif dan dapat
mengembang.
Klitoris
Kira-kira sebesar kacang ijo tertutup oleh preputium klitoridis,
terdiri atas glans klitoridis ,korpus klitoridis, dan dua krura yang
menggantungkan klitoris ke os pubis.Glans klitoridis terdiri atas jaringan
yang dapat mengembang ,penuh urat saraf dan amat sensitif.
Vulva
Bentuk lonjong dengan ukuran panjang dari muka ke belakang
dan dibatasi dimuka oleh klitoris, kanan dan kiri oleh kedua bibir kecil
dan dibelakang oleh perineum; embriologik sesuai sinus urogenitalis.Di
vulva 1-1,5 cm di bawah klitoris ditemukan orifisium uretra eksternum
(lubang kemih) berbentuk membujur 4-5 mm dan .tidak jauh dari lubang
kemih di kiri dan kanan bawahnya dapat dilihat dua ostia
skene.Sedangkan di kiri dan bawah dekat fossa navikular terdapat kelenjar
bartholin, dengan ukuran diameter 1 cm terletak dibawah otot
konstriktor kunni dan mempunyai saluran kecil panjang 1,5-2 cm yang
bermuara di vulva.Pada koitus kelenjar bartolin mengeluarkan getah
lendir.
Bulbus Vestibuli Sinistra et Dekstra
Terletak di bawah selaput lendir vulva dekat ramus os pubis,
panjang 3-4 cm ,lebar 1-2 cm dan tebal 0,51- 1cm; mengandung pembuluh
darah, sebagian tertutup oleh muskulus iskio kavernosus dan muskulus
konstriktor vagina.Saat persalinan kedua bulbus tertarik ke atas ke bawah
arkus pubis, tetapi bagian bawahnya yang melingkari vagina sering
mengalami cedera dan timbul hamatoma vulva atau perdarahan.
Introitus Vagina
Mempunyai bentuk dan ukuran berbeda , ditutupi selaput dara
(hymen). Himen mempunyai bentuk berbeda beda.dari yang semilunar
(bulan sabit) sampai yang berlubang - lubang atau yang ada pemisahnya
(septum) ; konsistensinya dari yang kaku sampai yang lunak sekali. Hiatus
himenalis (lubang selaput dara) berukuran dari yang seujung jari sampai
yang mudah dilalui oleh 2 jari.Umumnya himen robek pada koitus.
Robekan terjadi pada tempat jam 5 atau jam 7 dan sampai dasar selaput
dara.Sesudah persalinan himen robek pada beberapa tempat.
Perineum
Terletak antara vulva dan anus , panjangnya rata-rata 4 cm.

Sistem reproduksi dan struktur terkait pasca partum :


a. Adaptasi Fisiologis Pada Post Partum :
1) Proses Involusi
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah
melahirkan disebut involusi. Proses dimulai setelah plasenta keluar akibat
konstraksi otot-otot polos uterus. Pada akhir persalinan tahap III, uterus
berada digaris tengah, kira-kira 2 cm dibawah umbilikus dengan fundus
bersandar pada promontorium sakralis. Ukuran uterus saat kehamilan enam
minggu beratnya kira15 kira 1000 gr. Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus
kurang lebih 1 cm diatas umbilikus. Fundus turun kira-kira 1-2 cm setiap 24
jam.
Pada hari keenam fundus normal berada dipertengahan antara
umbilikus dan simfisis fubis. Seminggu setelah melahirkan uterus berada
didalam panggul sejati lagi, beratnya kira-kira 500 gr, dua minggu beratnya
350 gr, enam minggu berikutnya mencapai 60 gr (Bobak, 2004: 493).
2) Konstraksi Uterus
Intensitas kontraksi uterus meningkat segera setelah bayi lahir,
diduga adanya penurunan volume intrauterin yang sangat besar. Hemostatis
pascapartum dicapai akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium,
bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan pembekuan. Hormon
desigen dilepas dari kelenjar hipofisis untuk memperkuat dan mengatur
konstraksi. Selama 1-2 jam I pascapartumintensitas konstraksi uterus bisa
berkurang dan menjadi tidak teratur, karena untuk mempertahankan
kontraksi uterus biasanya disuntikkan aksitosan secara intravena atau
intramuscular diberikan setelah plasenta lahir (Bobak, 2004: 493).
3) Tempat Plasenta
Setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, kontriksi vaskuler dan
trombosis menurunkan tempat plasenta ke suatu area yang meninggi dan
bernodul tidak teratur. Pertumbuhan endometrium menyebabkan pelepasan
jaringan nekrotik dan mencegah pembentukan jaringan parut yang menjadi
karakteristik penyembuhan luka. Proses penyembuhan memampukan
endometrium menjalankan siklusnya seperti biasa dan memungkinkan
implantasi untuk kehamilan dimasa yang akan datang. Regenerasi
endometrium selesai pada akhir minggu ketiga pascapartum, kecuali bekas
tempat plasenta (Bobak, 2004: 493).
4) Lochea
Lochea adalah rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir, mulamula berwarna merah lalu menjadi merah tua atau merah coklat. Rabas
mengandung bekuan darah kecil. Selama 2 jam pertama setelah lahir, jumlah
cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah maksimal yang
keluar selama menstruasi.

5)

6)

7)

8)

Lochea rubra mengandung darah dan debris desidua dan debris


trofoblastik. Aliran menyembur menjadi merah muda dan coklat setelah 3-4
hari (lochea serosa). lochea serosa terdiri dari darah lama (old blood),
serum, leukosit dan debris jaringan. Sekitar 10 hari setelah bayi lahir, warna
cairan ini menjadi kuning sampai putih (lochea alba). Lochea alba
mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mucus, serum dan bakteri. Lochea
alba bertahan selama 2-6 minggu setelah bayi lahir (Bobak, 2004: 494).
Serviks
Serviks menjadi lunak setelah ibu malahirkan. 18 jam pascapartum,
serviks memendek dan konsistensinya lebih padat kembali kebentuk semula.
Muara serviks berdilatasi 10 cm, sewaktu melahirkan, menutup bertahap 2
jari masih dapat dimasukkan Muara serviks hari keempat dan keenam
pascapartum (Bobak, 2004: 495).
Vagina dan Perinium
Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan
mucosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregang
akan kembali secara bertahap keukuran sebelum hamil, 6-8 minggu setelah
bayi lahir . Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat
(Bobak, 2004:495).
Payudara
Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara
selama wanita hamil (estrogen, progesteron, human chrorionic
gonadotropin, prolaktin, dan insulin) menurun dengan cepat setelah bayi
lahir. Hari ketiga atau keempat pascapartum terjadi pembengkakan
(engorgement). Payudara bengkak, keras, nyeri bila ditekan, dan hangat jika
diraba (kongesti pembuluh darah menimbulkan rasa hangat). Pembengkakan
dapat hilang dengan sendirinya dan rasa tidak nyaman berkurang dalam 24
jam sampai 36 jam. Apabila bayi belum menghisap (atau dihentikan), laktasi
berhenti dalam beberapa hari sampai satu minggu. Ketika laktasi terbentuk,
teraba suatu massa (benjolan), tetapi kantong susu yang terisi berubah dari
hari kehari. Sebelum laktasi dimulai, payudara terasa lunak dan keluar cairan
kekuningan, yakni kolostrum, dikeluarkan dari payudara. Setelah laktasi
dimulai, payudara terasa hangat dan keras waktu disentuh.
Rasa nyeri akan menetap selama 48 jam, susu putih kebiruan
(tampak seperti susu skim) dapat dikeluarkan dari puting susu (Bobak,
2004:498).
Laktasi
Sejak kehamilan muda, sudah terdapat persiapan-persiapan pada
kelenjar-kelanjar untuk menghadapi masa laktasi. Proses ini timbul setelah
ari-ari atau plasenta lepas. Ari-ari mengandung hormon penghambat
prolaktin (hormon placenta) yang menghambat pembentukan ASI. Setelah

ari-ari lepas ,hormon placenta tak ada lagi sehingga terjadi produksi ASI.
Sempurnanya ASI keluar 2-3 hari setelah melahirkan. Namun sebelumnya di
payudara sudah terbentuk kolostrum yang bagus sekali untuk bayi, karena
mengandung zat kaya Gizi dan antibodi pembunuh kuman (http: //
www.bali-travelnews.com).
9) Sistem Endokrin
Selama postpartum terjadi penurunan hormon human placenta
latogen (HPL), estrogen dan kortisol serta placental enzime insulinase
membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun
pada masa puerperium. Pada wanita yang tidak menyusui, kadar estrogen
meningkat pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi dari
wanita yang menyusui pascapartum hari ke-17 (Bobak, 2004: 496).
10) Sistem Urinarius
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi)
turut menyebabkan peningkatan fungs ginjal, sedangkan penurunan kadar
steroid setelah wanita melahirkan akan mengalami penurunan fungsi ginjal
selama masa pascapartum. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu 1
bulan setelah wanita melahirkan. Trauma terjadi pada uretra dan kandung
kemih selama proses melahirkan, yakni sewaktu bayi melewati hiperemis
dan edema. Kontraksi kandung kemih biasanya akan pulih dalam 5-7 hari
setelah bayi lahir (Bobak, 2004:497-498).
11) Sistem Pencernaan
Ibu biasanya lapar setelah melahirkan sehingga ia boleh
mengkonsumsi makanan ringan. Penurunan tonus dan motilitas otot traktus
cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Buang air besar
secara spontan bisa tertunda selama tiga hari setelah ibu melahirkan yang
disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan
pada awal masa pascapartum. Nyeri saat defekasi karena nyeri diperinium
akibat episiotomi, laserasi, atau hemoroid (Bobak, 2004: 498).
12) Sistem Kardiovaskuler
Pada minggu ke-3 dan 4 setelah bayi lahir, volume darah biasanya
turun sampai mencapai volume sebelum hamil.Denyut jantung, volume
sekuncup dan curah jantung meningkat sepanjang hamil. Setelah wanita
melahirkan meningkat tinggi selama 30-60 menit, karena darah melewati
sirkuit uteroplasenta kembali ke sirkulasi umum. Nilai curah jantung normal
ditemukan pemeriksaan dari 8-10 minggu setelah wanita melahirkan
(Bobak, 2004:499-500).
13) Sistem Neurologi
Perubahan neurologi selama puerperium kebalikan adaptasi
neourologis wanita hamil, disebabkan trauma wanita saat bersalin dan
melahirkan. Rasa baal dan kesemutan pada jari dialami 5% wanita hamil

biasanya hilang setelah anak lahir. Nyeri kepala pascapartum disebabkan


hipertensi akibat kehamilan, strees dan kebocoran cairan serebrospinalis.
Lama nyeri kepala 1-3 hari dan beberapa minggu tergantung penyebab dan
efek pengobatan.
14) Sistem Muskuloskeletal
Adaptasi sistem muskuloskeletal ibu terjadi selama hamil
berlangsung terbalik pada masa pascapartum. Adaptasi membantu relaksasi
dan hipermeabilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran
rahim. Stabilisasi sendi lengkap pada minggu ke 6-8 setelah wanita
melahirkan (Bobak, 2004: 500-501).
15) Sistem Integumen
Kloasma muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat
kehamilan berakhir; hiperpigmentasi di aerola dan linea tidak menghilang
seluruhnya setelah bayi lahir. Kulit meregang pada payudara, abdomen,
paha, dan panggul mungkin memudar tapi tidak hilang seluruhnya. Kelainan
pembuluh darah seperti spider angioma (nevi), eritema palmar dan epulis
berkurang sebagai respon penurunan kadar estrogen.Pada beberapa wanita
spider nevi bersifat menetap (Bobak, 2004: 501-502).
b. Adaptasi Psikologis Post Partum
Menurut Hamilton, 1995 adaptasi psikologis post partum dibagi
menjadi beberapa fase yaitu :
1) Fase Taking In ( dependent)
Fase ini dimulai pada hari kesatu dan kedua setelah melahirkan,
dimana ibu membutuhkan perlindungan dan pelayanan pada tahap ini pasien
sangat ketergantungan.
2) Fase Taking Hold (dependent- independent)
Fase ini dimulai pada hari ketiga setelah melahirkan dan berakhir
pada minggu keempat sampai kelima. Sampai hari ketiga ibu siap menerima
pesan barunya dan belajar tentang hal-hal baru, pada fase ini ibu
membutuhkan banyak sumber informasi.
3) Fase Letting Go (independent)
Fase dimulai minggu kelima sampai minggu keenam setelah
kelahiran, dimana ibu mampu menerima tanggung jawab normal.
C. Etiologi atau Predisposisi
Faktor dilakukan episiotomi menurut Depkes RI 1996 adalah :
1. Persalinan yang lama karena perinium yang kaku
2. Gawat janin
3. Gawat ibu
4. Pada tindakan operatif (ekstraksi cunam, vakum)
Sedangkan menurut Rusda (2004), penyebab dilakukan episiotomi berasal dari
faktor ibu maupun faktor janin. Faktor ibu antara lain:

1. Primigravida
2. Perinium kaku dan riwayat robekan perinium pada persalinan lalu .
3. Terjadi peregangan perinium berlebihan misalnya persalinan sungsang, persalinan
cunam, ekstraksi vakum dan anak besar.
4. Arkus pubis yang sempit.
Faktor Janin antara lain:
1. Janin prematur
2. Janin letak sungsang, letak defleksi. Janin besar.
3. Keadaan dimana ada indikasi untuk mempersingkat kala II seperti
4. pada gawat janin, tali pusat menumbung.
D. Patofisiologi
Ibu dengan persalinan episiotomi disebabkan adanya persalinan yang lama:
gawat janin (janin prematur, letak sungsang, janin besar), tindakan operatif dan gawat ibu
(perineum kaku, riwayat robekan perineum lalu, arkus pubis sempit). Persalinan dengan
episiotomi mengakibatkan terputusnya jaringan yang dapat menyebabkan menekan
pembuluh syaraf sehingga timbul rasa nyeri dimana ibu akan merasa cemas sehingga
takut BAB dan ini menyebabkan Resti konstipasi.Terputusnya jaringan juga merusak
pembuluh darah dan menyebabkan resiko defisit volume cairan.Terputusnya jaringan
menyebabkan resti infeksi apabila tidak dirawat dengan baik kuman mudah berkembang
karena semakin besar mikroorganisme masuk ke dalam tubuh semakin besar resiko
terjadi infeksi.
Ibu dengan persalinan dengan episiotomi setelah 6 minggu persalinan ibu berada
dalam masa nifas.Pada saat masa nifas ibu mengalami perubahan fisiologis dan
psikologis. Perubahan fisiologis pada ibu akan terjadi uterus kontraksi.Dimana kontraksi
uterus bisa adekuat dan tidak adekuat. Dikatakan adekuat apabila kontraksi uterus kuat
dimana terjadi adanya perubahan involusi yaitu proses pengembalian uterus ke dalam
bentuk normal yang dapat menyebabkan nyeri/ mules, yang prosesnya mempengaruhi
syaraf pada uterus. Dimana setelah melahirkan ibu mengeluarkan lochea yaitu merupakan
ruptur dari sisa plasenta sehingga pada daerah vital kemungkinan terjadi resiko kuman
mudah berkembang.
Dikatakan tidak adekuat dikarenakan kontraksi uterus lemah akibatnya terjadi
perdarahan dan atonia uteri.Perubahan fisiologis dapat mempengaruhi payudara dimana
setelah melahirkan terjadi penurunan hormon progesteron dan estrogen sehingga terjadi
peningkatan hormon prolaktin yang menghasilkan pembentukan ASI dimana ASI keluar
untuk pemenuhan gizi pada bayi, apabila bayi mampu menerima asupan ASI dari ibu
maka reflek bayi baik berarti proses laktasi efektif.sedangkan jika ASI tidak keluar
disebabkan kelainan pada bayi dan ibu yaitu bayi menolak, bibir sumbing, puting lecet,
suplai tidak adekuat berarti proses laktasi tidak efektif.
Pada perubahan psikologos terjadi Taking In, Taking Hold, dan Letting Go.Pada
fase Taking In kondisi ibu lemah maka terfokus pada diri sendiri sehingga butuh
pelayanan dan perlindungan yang mengakibatkan defisit perawatan diri.Pada fase Taking

Hold ibu belajar tentang hal baru dan mengalami perubahan yang signifikan dimana ibu
butuh informasi lebih karena ibu kurang pengetahuan.Pada fase Letting Go ibu mampu
memnyesuaikan diri dengan keluarga sehingga di sebut ibu yang mandiri, menerima
tanggung jawab dan peran baru sebagai orang tua.
E. Manifestasi Klinis
1. Laserasi Perineum
Biasanya terjadi sewaktu kepala janin dilahirkan, luas robekan didefinisikan
berdasarkan kedalaman robekan :
a. Derajat pertama (robekan mencapai kulit dan jaringan)
b. Derajat kedua (robekan mencapai otot-otot perineum)
c. Derajat tiga (robekan berlanjut ke otot sfinger ari)
d. Derajat empat (robekan mencapai dinding rektum anterior) .
2. Laserasi Vagina
Sering menyertai robekan perineum, robekan vagina cenderung mencapai
dinding lateral (sulci) dan jika cukup dalam, dapat mencapai levator ani.
3. Cedera Serviks
Terjadi jika serviks beretraksi melalui kepala janin yang keluar. Laserasi
serviks akibat persalinan terjadi pada sudut lateral ostium eksterna, kebanyakan
dangkal dan pendarahan minimal (Bobak, 2004: 344-345).
F. Penatalaksanaan
1. Perbaikan Episiotomi
a. Jika terdapat hematoma, darah dikeluarkan, jika tidak ada tanda
b. infeksi dan pendarahan sudah berhenti, lakukan penjahitan
c. Jika infeksi, buka dan drain luka
d. Jika infeksi mencapai otot dan terdapat nekrosis, lakukan
e. debridemen dan berikan antibiotika secara kombinasi sampai
f. pasien bebas demam dalam 48 jam (Prawirohardjo, 2002).
G. Komplikasi
1. Pendarahan
Karena proses episiotomi dapat mengakibatkan terputusnya jaringan
sehingga merusak pembuluh darah terjadilah pendarahan.
2. Infeksi
Infeksi terkait dengan jalannya tindakan episiotomi berhubungan dengan
ketidaksterilan alat-alat yang digunakan.
3. Hipertensi
Penyakit hipertensi berperan besar dalam morbiditas dan mortalitas maternal
dan perinatal. Hipertensi diperkirakan menjadi komplikasi sekitar 7% sampai 10%
seluruh kehamilan.
4. Gangguan psikososial

Kondisi Psikososial mempengaruhi integritas keluarga dan menghambat


ikatan emosional bayi dan ibu. Bberapa kondisi dapat mengancam keamanan dan
kesejahteraan ibu dan bayi.
H. Pengkajian Fokus
Fokus pengkajian diambil dari Doengoes 2001.
1. Tekanan darah
Tekanan darah sedikit meningkat karena upaya persalinan dan keletihan,
keadaan ini akan normal kembali dalam waktu 1 jam.
2. Nadi
Nadi kembali ke frekuensi normal dalam waktu 1 jam dan mungkin terjadi
sedikit bradikardi (50 sampai 70 kali permenit).
3. Suhu tubuh
Suhu tubuh mungkin meningkat bila terjadi dehidrasi.
4. Payudara
Produksi kolostrom 48 jam pertama, berlanjut pada susu matur biasanya
pada hari ke - 3, mungkin lebih dini tergantung kapan menyusui dimulai.
5. Fundus uteri
Fundus harus berada dalam midline, keras dan 2 cm dibawah umbilicus. Bila
uterus lembek , lakukan masase sampai keras. Bila fundus bergeser kearah kanan
midline , periksa adanya distensi kandung kemih.
6. Kandung kemih
Diuresis diantara hari ke-2 dan ke-5, kandung kemih ibu cepat terisi karena
diuresis post partum dan cairan intra vena.
7. Lochea
Lochea rubra berlanjut sampai hari ke-23, menjadi lochea serosa dengan
aliran sedang. Bila darah mengalir dengan cepat, dicurigai terjadinya robekan servik.
8. Perineum
Episiotomi dan perineum harus bersih, tidak berwarna, dan tidak edema dan
jahitan harus utuh.
9. Nyeri/ Ketidaknyamanan
Nyeri tekan payudara/ pembesaran dapat terjadi diantara hari ke-3 dampai
ke-5 post partum. Periksa adanya nyeri yang berlebihan pada perineum dan adanya
kematian dibawah episiotomi.
10. Makanan / Cairan
Kehilangan nafsu makan dikeluhkan kira-kira hari ke-3.
11. Interaksi anak-orang tua
Perlu diperhatikan ekspresi wajah orang tua ketika melihat pada bayinya,
apa yang mereka dan apa yang mereka lakukan. Responrespon negatif yang terlihat
jelas menandakan adanya masalah.
12. Integritas ego

Peka rangsang, takut / menangis (post partum Blues) sering terlihat kirakira 3 hari setelah melahirkan.
I. Fokus Intervensi dan rasional
1. Gangguan nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan sekunder terhadap luka
episiotomi.
Tujuan : Mencegah atau meminimalkan rasa nyeri.
Kriteria
a. Nyeri berkurang atau hilang.
b. Ekspresi wajah rileks.
c. Pasien mampu melakukan tindakan dan mengungkapkan intervensi untuk
mengatasi nyeri dengan cepat.
d. Tanda-tanda vital normal (tekanan darah 120/ 80 mm Hg. Nadi 80-88 x/ menit)
Intervensi
a. Tentukan lokasi dan sifat nyeri.
Rasional : mengidentifikasikan kebutuhan-kebutuhan khusus dan intervensi yang
tepat

b. Inspeksi perbaikan perineum dan episiotomi


Rasional : dapat menunjukkan trauma berlebihan pada jaringan perineal dan atau
terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi atau intervensi lebih lanjut.
c. Anjurkan klien untuk duduk dengan mengkontraksikan otot gluteal.
Rasional : penggunaan pengencangan gluteal saat duduk menurunkan strees dan
tekanan langsung pada perineum.
d. Berikan informasi tentang berbagai startegi untuk menurunkan nyeri, misalnya
teknik relaksasi dan distraksi.
Rasional : membantu menurunkan/ memberikan rasa nyaman.
e. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik
Rasional : memberikan kenyamanan sehinggan klien dapat memfokuskan pada
perawatan sendiri dan bayinya.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan atau kerusakan kulit.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
Kriteria :
a. Luka episiotomi sembuh dengan sempurna dan tidak ada tandatanda infeksi
(color, tumor, dolor, dan fungsio laesa)
b. Pasien mampu mendemontrasikan teknik-teknik untuk meningkatkan
penyembuhan.
c. Tanda-tanda vital dalam batas normal (36-37 C)
d. Nutrisi terpenuhi (adekuat)
Intervensi :
a. Kaji adanya perubahan suhu.

b.

c.

d.

e.

f.
g.

Rasional : Peningkatan suhu sampai 38,3 C pada 2-10 hari setelah melahirkan
sangat menandakan infeksi.
Observasi kondisi episiotomi seperti adanya kemerahan, nyeri tekan yang
berlebihan dan eksudat yang berlebihan.
Rasional : Dapat menunjukkan trauma berlebihan pada jaringan parenial dan
atau terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi intervensi lebih lanjut.
Anjurkan pada pasien untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh
genital.
Rasional : membantu mencegah penyebaran infeksi.
Catat jumlah dan bau lochea atau perubahan yang abnormal.
Rasional : Lochea normal mempunyai bau amis, lochea yang purulen dan bau
busuk menunjukkan adanya infeksi.
Anjurkan pada pasien untuk mencuci perineum dengan menggunakan sabun dari
depan kebelakang dan untuk mengganti pembalut sedikitnya setiap 4 jam atau
jika pembalut basah.
Rasional : Membantu mencegah kontaminasi rektal memasuki vagina atau uretra
Ajarkan pada klien tentang cara perawatan luka perineum.
Rasional : Meningkatkan pengetahuan klien tentang perawatan vulva/ perineum.
Kolaborasi untuk pemberian anti biotik
Rasional : Mencegah infeksi dan penyebaran kejaringan sekitar.

3. Resiko tinggi konstipasi berhubungan dengan kurangnya aktivitas fisik nyeri saat
defekasi.
Tujuan : Konstipasi tidak terjadi
Kriteria :
a. Pasien mampu melakukan kembali kebiasaan defekasi seperti biasanya dengan
ketidaknyamanan minimal.
Intervensi :
a. Auskultasi adanya bising usus.
Rasional : mengevaluasi fungsi usus
b. Kaji terhadap adanya hemoroid dan berikan informasi tentang memasukkan
heromoid kembali ke dalam rektal dengan jari yang dilumasi.
Rasional : Menurunkan ukuran hemoroid, menghilangkan gatal dan
ketidaknyamanan dan meningkatkan vasokonstriksi lokal.
c. Anjurkan klien minum secara adekuat 1500-2000ml/ hari.
Rasional : Peningkatan cairan akan merangsang eliminasi.
d. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi bahan makanan yang berserat tinggi seperti
: sayuran dan buah-buahan.
Rasional : Melancarkan pencernaan
e. Anjurkan klien untuk rendam duduk dengan air hangat sebelum relaksasi.
Rasional : Meningkatkan kenyamanan dan mengurangi rasa nyeri.
f. Anjurkan pasien untuk ambulasi sesuai toleransi
Rasional : Membantu maningkatkan peristaltik gastro intestinal.

g. Berikan pelunak feses atau laksatif jika diindikasikan.


Rasional : Untuk meningkatkan kembali kebiasaan defekasi\ normal dan
mencegah menjelang atau strees perineal selama defekasi.
4. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan perawatan bayi berhubungan
dengan tidak mengenai sumber informasi.
Tujuan : Pengetahuan pasien meningkat setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria :
a. Pasien mampu menyatakan pemahaman tentang pemberian instruksi atau
informasi.
b. Pasien mampu mendemontrasikan prosedur belajar dengan cepat.
Intervensi :
a. Bantu pasien dalam mengidentifikasi kebutuhannya.
Rasional : Membantu klien dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini dan untuk
mengembangkan rencana keperawatan.
b. Berikan informasi tentang perawatan diri dan bayi.
Rasional : Agar pasien mengerti dan mampu melakukan tindakan yang diajarkan.
c. Ajarkan pada pasien tentang cara perawatan bayi dan lakukan prosedur
demontrasi yang benar.
Rasional : Agar klien mengerti dan mampu melakukan tindakan yang diajarkan.
d. Beri kesempatan pasien untuk merawat bayinya.
Rasional : Memberi kesempatan pada pasien untuk mencoba, atau
mempraktekkan ketrampilannya dalam merawat bayi.
e. Lakukan rencana penyuluhan sesegera mungkin setelah penerimaan perkiraan,
pada kondisi dan kesiapan untuk belajar.
Rasional : Dengan kesiapan klien belajar dapat mempermudah klien menerima
informasi-informasi yang baru.
5. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan suplai air susu Ibu tidak adekuat.
Tujuan : Menyusui menjadi efektif setalah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria :
a. Ibu mampu mengenal cara memberikan ASI
b. Bayi mencapai keadaan nutrisi yang cukup ditunjukkan dengan peningkatan
berat badan, tumbuh kembang dalam batas normal, atau batas yang diharapkan,
bayi tidak rewel.
Intervensi :
a. Kaji pengetahuan pasien tentang menyusui sebelumnya.
Rasional : Untuk mengidentifikasi pengalaman klien tentang menyusui
b. Beri informasi mengenai fisiologi dan keuntungan menyusui, perawatan
payudara, dan faktor-faktor yang memudahkan atau menggangu keberhasilan
menyusui.
Rasional ; Membantu menangani permasalahan klien tentang menyusui sehingga
dapat meningkatkan pengetahuan klien.
c. Demostrasikan tentang teknik-teknik menyusui.

Rasional : Agar klien mengerti dan memahami sert mampu melaksanakan


tindakan yang direncanakan.
d. Anjurkan pada klien untuk menyusui bayinya secara teratur dan sesering
mungkin.
Rasional : Untuk merangsang produksi air susu dan mengurangi resiko
terjadinya pembengkakan pada payudara.
e. Anjurkan pada klien untuk tidak menggunakan Bra yang terlalu kencang.
Rasional : Dengan pelindung puting dapat menyebabkan\ tekanan sehingga
menggangu proses laktasi.
6. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan hemoragi.
Tujuan : Untuk mempertahankan keseimbangan volume cairan.
Kriteria :
a. Intake dan output seimbang
b. Tanda-tanda vital normal, dan tidak terdapat tanda-tanda dehidrasi
c. Berat badan pasien dalam batas normal.
d. Paien dan keluarga mengungkapkan pengetahuan tentang pengawasan status
cairan.
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda vital
Rasional : Untuk mengidentifikasi perubahan yang terjadi dan menentukan
rencana intervensi yang tepat
b. Awasi turgor kulit
Rasional : Dengan adanya tanda-tanda tersebut menunjukkan adanya dehidrasi
atau kurangnya volume cairan dalam tubuh.
c. Monitor intake dan output dan timbang berat badan setiap hari
Rasional : Membantu dalam menganalisa keseimbangan cairan dan derajat
kekurangan.
d. Anjurkan klien untuk meningkatkan intake cairan sedikitnya 8 gelas sehari.
Rasional : Menggantikan kehilangan cairan karena kelahiran dan diaforesis.
e. Pertahankan terapi intra vena untuk pergantian cairan sesuai instruksi
Rasional : Mengganti kehilangan karena kelahiran dan diaporesis
7. Resiko tinggi terhadap perubahan proses parenting berhubungan dengan masa transisi
menjadi orang tua atau penambahan anggota keluarga.
Tujuan : Pasien dapat menerima perannya sebagai orang tua dan dapat terjalin
hubungan yang hangat antara orang tua dan bayi.
Kriteria :
a. Klien mengungkapkan masalahnya menjadi orang tua
b. Klien mampu mendiskusikan perannya sebagai orang tua.
c. Klien mampu melakukan perawatan bayi dengan benar.
Intervensi :
a. Kaji respon klien atau pasangan terhadap kelahiran dan peranannya menjadi
orang tua.

b.

c.

d.

e.

Rasional : Kemampuan klien untuk beradaptasi secara positif untuk menjadi


orang tua dipengaruhi oleh reaksi ayah dengan kuat.
Beri kesempatan pada pasangan untuk rawat gabung.
Rasional : Memudahkan kendekatan, membantu mengembangkan proses
pengenalan.
Anjurkan pada pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan bayi.
Rasional : Membantu meningkatkan ikatan dan mencegah perasaan putus asa
dan menekankan realitas keadaan bayi.
Bantu dan ajarkan klien tentang cara perawatan bayinya yang benar.
Rasional : Membantu orang tua belajar dasar-dasar perawatan bayinya,
meningkatkan diskusi dan pemecahan masalah bersama.
Beri motivasi pada klien bahwa dia telah melakukan perawatan bayinya dengan
baik.
Rasional : Membantu meningkatkan percaya diri klien dalam melakukan
perawatan diri dan bayinya.

DAFTAR PUSTAKA
Bobak, M. Irene .2004. Maternity and Gynekologic Care, Mosby Company, USA.
Bramantyo,Lastiko.2006.Info
Ayahbunda,Retrieved
http://www.ayahbunda-online_com.htm

June

11,2007,from

Carpenito, L. J. 1998. Hand Book of Nursing Diagnosis : Diagnosa Keperawatan, Edisi 6,


Alih Bahasa Monica Ester, SKp, dkk, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Doengoes, M. E .2001. Rencana Keperawatan Maternal atau Bayi : Pedoman Untuk
Perencanaan dan Dokumentasi Keperawatan Klien, Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran,
EGC, Jakarta.
INS.2005.Episiotomi
http://Kalbe.co.id

Rutin

Tidak

Perlu

Dilakukan,

Retrieved

May 6,2007,from

Mansjoer, Arif .1999. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, FKUI, Jakarta.


Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi, Edisi 2,
Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.
Novitasari.2006.Masa Setelah Melahirkan Dilema Nifas Dan Kenyerian Hubungan Seks ,
Retrieved May 15, 2007,from http://www.bali-travelnews.com
Prawirohardjo, Sarwono .2002. Ilmu Kebidanan, Edisi 3,Cetakan 6, Penerbit Yayasan Bina
Pustaka, Jakarta.
Rusda, M. 2004. Anastesi Infiltrasi Pada Episiotomi. Universitas Sumatra Utara, Retrieved
May 4, 2007, from http://library.usu.ac.id/modules.php.html#1
Tucker, Susan M. 2001.Standart Perawatan Pasien: Proses Keperawatan, Diagnosa dan
Evaluasi, Vol.4,Alih Bahasa: Yasmin Asih, EGC,Jakarta
Wiknjosastro, Hanifa .2002. Ilmu Kebidanan, Edisi 3, Cetakan 6, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai