Anda di halaman 1dari 33

ALFIAN LI SGD 9 KB

1. Apa definisi infertilitas dan faktor resikonya ?

Ketidakmampuan istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup atau
ketidakmampuan suami untuk menghamili istrinya.
Sumber : Keluarga Berencana dan Kontrasepsi; dr. Hanafi Hartanto
Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama
satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi,
tetapi belum memiliki anak. (Sarwono, 2000).
Infertilitas adalah pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta berusaha selama
satu tahun tetapi belum hamil. (Manuaba, 1998).
Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil dalam waktu satu tahun. Infertilitas
primer bila pasutri tidak pernah hamil dan infertilitas sekunder bila istri pernah hamil.
(Siswandi, 2006).
FAKTOR
Usia wanita

DAMPAK
Semakin tua usia (diatas 40 tahun), semakin lama
waktu untuk konsepsi.

Usia laki-laki

Frekuensi koitus berkurang dengan meningkatnya


usia.

Frekuensi koitus

Ada korelasi positif antara frekuensi koitus dengan


angka kehamilan.

Masa koitus

Koitus

pada

masa

ovulasi

(hari

10-15

memaksimalkan kemungkinan ovulasi, karena ovum


hanya hidup kira-kira 12-24 jam.
Lubrikan

Lubrikan seperti K-Y jelly mengandung spermisidal


dan

bila

digunakan

untuk

lubrikasi

dapat

menghambat konsepsi.
Merokok/ alcohol

Jika berlebihan dapat meperburuk kualitas sperma.


Penggunaan marijuana dapat mengurangi jumlah

dan motilitas sperma.


Pembedahan

Pembedahan organ reproduksi atau pada panggul


wanita atau laki2 dapat menimbulkan masalah
fertilitas karena terjadinya perbahan anatomi atau
kerusakan pada syaraf terutama pada laki-laki.

Infeksi saluran genitalia yang Gonorea dan klamidia adalah PMS utama yang
ditularkan secara seksual

mengakibatkan

(infeksi traktus genitalia)


Penyekit yang ditularkan

gangguan fertilitas
Penyakit
seperti

tidak melalui hubungan


seksual

penyekit

radang

panggul

tuberculosis

dan

genitalia

(yangdisebabkan oleh virus), infeksi postpartum dan


posabortus juga dapat menurunkan fertilitas

Obat-obatan (missal, anti

Obat-obatan tertentu dpat mengakibatkan impotensi.

hipertensi dan transquilizers)

Ada pula obat-obatan ynag mengganggu fungsi


spermatogenesis dan ovarium (misalnya, obat anti

Radiasi

kanker)
Gangguan fungsi gonad dapat terjadi karena radiasi

2. Jelaskan jenis jenis infertilitas ?

a. Fertilitas primer istri belum pernah hamil walaupun bersenggama (2-3 kali
seminggu) dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan tanpa
proteksi.
b. Fertilitas sekunder istri pernah hamil, akan tetapi kemuadian tidak terjadi kehamilan
lagi walaupun bersenggama (2-3 kali seminggu) dan dihadapkan kepada kemungkinan
kehamilan selama 12 bulan tanpa proteksi.
Ilmu kandungan, Hanifa Winkjosastro, 2007
Buku Acuan Nasional Pelayanan KB, 2007
Sterilitas
a. Definisi : Ketidakmampuan untuk hamil lagi secara permanen
b. Apakah sterilitas hanya pada kontrasepsi mantap?
Tindakan medis : misalanya Adanya atonia uteri, Pengambilan ovarium
Alamiah : bias dari ovarium atau uterus yang tidak terbentuk, dari testis yang

tidak turun
Buku Acuan Nasional Pelayanan KB, 2007

3. Apa penyebab infertilitas pada pria dan wanita ?


4. Bagaimana mekanisme infertilitas pada pria dan wanita ?

Faktor infertilitas non organik

Rokok

Kerusakan
DNA
Diturunkan

Radikal bebas meningkat


( contoh NO) ,
antioksidan turun

Apoptosis
sel sperma

Stress
oxidatif

Komponen logam
( kadmium dan nikel)
Enzim adenil siklase

Nikotin

Aglutinasi
sperma

Stimulasi korteks adrenal katekolamin

Asthenozoospermia
dan toxic trhdp sperma

Hambat melalui hipofisis


anterior ( LH)

Hambat membran sel leydig


hambat testosteron
Penurunan libido

Gx pembelahan spermatogonia
spermatosit

Stress oksidatif merupakan kondisi dimana terjadi peningkatan ROS yang akan
menyebabkan kerusakan sel, jaringan atau organ. Pada kondisi stres oksidatif,
radikal bebas akan menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid membran sel
dan merusak organisasi membran sel. Membran sel ini sangat penting bagi
fungsi reseptor dan fungsi enzim, sehingga terjadinya peroksidasi lipid
membran sel oleh radikal bebas dapat mengakibatkan hilangnya fungsi seluler
secara total .Stress oksidatif menyebabkan infertilitas melalui efek negatifnya ke
spermatozoa seperti peningkatan hilangnya motilitas, peningkatan kerusakan
membran, penurunan morfologi, viabilitas, dan kemampuan spermatozoa.

Kualitas pergerakan spermatozoa disebut baik bila 50% atau lebih spermatozoa menunjukkan
pergerakan yang sebagian besar adalah gerak yang cukup baik atau sangat baik (grade II/III). Gradasi
menurut W.H.O. untuk pergerakan spermatozoa adalah sebagai berikut :
0 = spermatozoa tidak menunjukkan pergerakan,
1 = spermatozoa bergerak ke depan dengan lambat,
2 = spermatozoa bergerak ke depan dengan cepat,
3 = spermatozoa bergerak ke depan sangat cepat.

Alkhohol :
Konsumsi Alkohol
Alkohol
Sejumlah penelitian lain juga telah menunjukkan bahwa penyalahgunaan
alkohol pada pria dapat menyebabkan gangguan produksi testosteron
dan penyusutan testis (atrofi testis) (Adler 1992). Atrofi testis terutama
disebabkan hilangnya sel-sel sperma dan penurunan diameter tubulus
seminiferus (Van Thiel et al., 1974). Mekanisme yang terlibat dalam hal ini
kompleks dan kemungkinan melibatkan perubahan fungsi hipotalamus dan
efek toksik alkohol langsung pada sel Leydig . Produk metabolisme alkohol
yaitu asetaldehida memiliki sifat toksik ke sel Leydig daripada alkohol itu
sendiri .
alkohol menurunkan kadar LH bahkan dengan hipofisis yang sudah
terisolasi tersebut, setidaknya sebagian bertindak langsung ke hipofisis.
Atrofi testis mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu salah satunya
adalah efek alkohol pada LH dan FSH yang merangsang pertumbuhan
testis.
Alkohol menyebabkan kegagalan sintesis retinal di dalam
testis.
Kegagalan sintesis retinal ini akan menyebabkan gangguan
spermatogenesis, karena retinal merupakan senyawa yang esensial untuk
berlangsungnya spermatogenesis. Pada akhirnya hal tersebut akan

menyebabkan penurunan jumlah lapisan sel spermatogenik .Alkohol


menyebabkan kegagalan hipotalamus dan hipofisis untuk mensekresikan
Gonadotrophine Releasing Hormon (GnRH), FSH, dan LH selanjutnya akan
diikuti oleh kegagalan sel Leydig untuk mensintesis testosteron dan sel
Sertoli tidak mampu melakukan fungsinya sebagai nurse cell .

5. Apa hubungan suami perokok dan minum alkohol dgn istri yg blum hamil ?

Faktor infertilitas non organik

Rokok

Kerusakan
DNA
Diturunkan

Radikal bebas meningkat


( contoh NO) ,
antioksidan turun

Apoptosis
sel sperma

Stress
oxidatif

Komponen logam
( kadmium dan nikel)
Enzim adenil siklase

Nikotin

Aglutinasi
sperma

Stimulasi korteks adrenal katekolamin

Asthenozoospermia
dan toxic trhdp sperma

Hambat melalui hipofisis


anterior ( LH)

Hambat membran sel leydig


hambat testosteron
Penurunan libido

Gx pembelahan spermatogonia
spermatosit

Stress oksidatif merupakan kondisi dimana terjadi peningkatan ROS yang akan
menyebabkan kerusakan sel, jaringan atau organ. Pada kondisi stres oksidatif,
radikal bebas akan menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid membran sel
dan merusak organisasi membran sel. Membran sel ini sangat penting bagi
fungsi reseptor dan fungsi enzim, sehingga terjadinya peroksidasi lipid
membran sel oleh radikal bebas dapat mengakibatkan hilangnya fungsi seluler
secara total .Stress oksidatif menyebabkan infertilitas melalui efek negatifnya ke
spermatozoa seperti peningkatan hilangnya motilitas, peningkatan kerusakan
membran, penurunan morfologi, viabilitas, dan kemampuan spermatozoa.

Kualitas pergerakan spermatozoa disebut baik bila 50% atau lebih spermatozoa menunjukkan
pergerakan yang sebagian besar adalah gerak yang cukup baik atau sangat baik (grade II/III). Gradasi
menurut W.H.O. untuk pergerakan spermatozoa adalah sebagai berikut :
0 = spermatozoa tidak menunjukkan pergerakan,
1 = spermatozoa bergerak ke depan dengan lambat,
2 = spermatozoa bergerak ke depan dengan cepat,
3 = spermatozoa bergerak ke depan sangat cepat.

Alkhohol :
Konsumsi Alkohol
Alkohol
Sejumlah penelitian lain juga telah menunjukkan bahwa penyalahgunaan
alkohol pada pria dapat menyebabkan gangguan produksi testosteron
dan penyusutan testis (atrofi testis) (Adler 1992). Atrofi testis terutama
disebabkan hilangnya sel-sel sperma dan penurunan diameter tubulus
seminiferus (Van Thiel et al., 1974). Mekanisme yang terlibat dalam hal ini
kompleks dan kemungkinan melibatkan perubahan fungsi hipotalamus dan
efek toksik alkohol langsung pada sel Leydig . Produk metabolisme alkohol
yaitu asetaldehida memiliki sifat toksik ke sel Leydig daripada alkohol itu
sendiri .
alkohol menurunkan kadar LH bahkan dengan hipofisis yang sudah
terisolasi tersebut, setidaknya sebagian bertindak langsung ke hipofisis.
Atrofi testis mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu salah satunya
adalah efek alkohol pada LH dan FSH yang merangsang pertumbuhan
testis.
Alkohol menyebabkan kegagalan sintesis retinal di dalam
testis.
Kegagalan sintesis retinal ini akan menyebabkan gangguan
spermatogenesis, karena retinal merupakan senyawa yang esensial untuk

berlangsungnya spermatogenesis. Pada akhirnya hal tersebut akan


menyebabkan penurunan jumlah lapisan sel spermatogenik .Alkohol
menyebabkan kegagalan hipotalamus dan hipofisis untuk mensekresikan
Gonadotrophine Releasing Hormon (GnRH), FSH, dan LH selanjutnya akan
diikuti oleh kegagalan sel Leydig untuk mensintesis testosteron dan sel
Sertoli tidak mampu melakukan fungsinya sebagai nurse cell .
6. Apa hubungan kebiasaan suami berendam di air panas dgn istri yang blm
hamil ?

Hubungan dengan mandi air panas


Meskipun pria menghasilkan jutaan sperma sehari, tetapi sel sperma memerlukan
waktu sekitar 75 hari untuk tumbuh, sehingga kondisi sperma dapat mempangaruhi
kesuburan Anda. Faktor eksternal seperti suhu dapat mempengaruhi kesehatan
sperma.
1. Suhu testis terlalu panas
Testis manusia tidak dapat berfungsi dengan baik jika suhu testis lebih panas atau
sama dengan suhu tubuh Anda. Itulah mengapa anatomi pria dirancang dengan
menciptakan jarak antara testis dengan tubuh inti, yaitu agar suhunya berbeda.
Jika suhu testis dinaikkan hingga 98 derajat, produksi sperma berhenti. Ketika
testis terganggu, sperma dapat mengalami dampak negatif selama berbulanbulan, kata Hal Danzer, MD, seorang spesialis kesuburan di Los Angeles.
2. Mandi air panas
Ada kebenaran dalam mitos tentang mandi di kolam air panas dapat menghambat
kehamilan. Air panas tidak baik untuk testis, dan menurut sebuah penelitian yang
diterbitkan pada tahun 2007, bahkan berendam di bak air panas selama 30 menit
saja dapat menurunkan produksi sperma.
Paparan air panas pada testis dapat berdampak terhadap sperma pria untuk waktu
yang sangat lama. Karena sperma memerlukan waktu yang lama untuk tumbuh
dewasa. Eksposur terhadap air panas ini biasanya akan memakan waktu
setidaknya tiga sampai sembilan bulan untuk dapat berfungsi normal kembali,
kata Paul Shin, MD, seorang urolog di Washington, DC.
Kesimpulan : walaupun merokok, alkohol dan obesitas ( kaitannya dengan perbedaan
suhu) bisa menurunkan kualitas sperma. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa
faktor-faktor non organik tersebut tidak begitu berpengaruh terhadap infertilitas.

7. Apa hubungan suami pernah menderita urethritis gonorea dgn istri yg


blum hamil ?
Riwayat
menderita
tahun lalu

suami
GO 3

Istri terkena GO

PID

Penyumbatan vas deferens

Komplikasi

Kelainan atau sumbatan pada


tuba fallopy

Penjalaran
uretrha
posterior

Infeksi
chlamydia

Merusak sperma
Fragmentasi DNA

Epididimitis
prostatitis

Kapasitasi
8. Apa hubungan pekerjaan
suamireaksi
dan istri dengan kondisi istri belum
akrosom
hamil ?
terganggu
stres
s

Jaringan parut
hyperprolaktinemia
pada
urethra

Hormon epinefrin
meningkat

Gangguan daya
Penekanan hormon
pancar
sperma
gonadotropin

Produksi FSH dan


LH turun

Terganggu
infertilit
as oogenesis dan

spermatogenesis

Peningkatan
kortisol

gangguan vasodilatasi
pembuluh darah

Buku Keluarga Berencana


dan Kontrasepsi , dr Hanafi
Disfun

Vasokonstriksi arteri
dorsalis
penis
Hartanto

gsi
ereksi
9. Apa hubungan istri mengikuti program KB dgn kondisi blm hamil ?
10.Apa hubungan kasus di skenario dgn pf yang didapatkan(BMI) ?

11.Apa hubungan px penunjang pd istri dgn keadaan blm hamil (igM,igG) ?


Dalam pemeriksaan TORCH, kode IgG berarti kekebalan tubuh. Sedangkan
lgM berarti adanya virus atau gejala infeksi dalam tubuh. Keduanya
menggambarkan titer atau jumlah substansi yang dibutuhkan untuk
menimbulkan reaksi dengan, atau berhubungan dengan, jumlah substansi
lain, dalam darah Anda, dan respon tubuh terhadap virus.
IgM dan IgG Toxoplasma ?
o IgM adalah antibodi yang pertama kali meningkat di darah bila terjadi
infeksi Toxoplasma.
o IgG adalah antibodi yang muncul setelah IgM dan biasanya akan
menetap seumur hidup pada orang yang terinfeksi atau pernah
terinfeksi.
Bila IgG (+) dan IgM (+)
o Kemungkinan mengalami infeksi primer baru atau mungkin juga infeksi
lampau tapi IgM nya masih terdeteksi (persisten=lambat hilang).
o Oleh sebab itu perlu dilakukan tes IgG affinity (kekuatan ikatan antara
antibodi IgG dengan organisme penyebab infeksi) langsung pada
serum yang sama untuk memperkirakan kapan infeksinya terjadi,
apakah sebelum atau sesudah hamil.
Secara umum akibat toxoplasma jarang sekali, dan hanya terjadi pada infeksi
akut toxoplasma.
Pada pria, infeksi akut toxoplasma dapat menyebabkan pembengkakan
kelenjar getah bening. Bila berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan
kemandulan. Infeksi akut toxoplasma menyebabkan peradangan pada
saluran sperma. Radang yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya
penyempitan bahkan tertutupnya saluran sperma. Akibatnya pria tersebut
menjadi mandul, karena sperma yang diproduksi tidak dapat dialirkan untuk
membuahi sel telur.
Pada wanita, infeksi toxoplasma yang berlangsung terus-menerus dapat
menginfeksi saluran telur wanita. Bila saluran ini menyempit atau tertutup,
sel telur yang telah dihasilkan oleh indung telur (ovarium) tidak dapat sampai
ke rahim untuk dibuahi oleh sperma.
Yang paling berbahaya adalah akibat toxoplasma terhadap
Janin/fetus. Kista toxoplasma dapat berada di otak janin yang menyebabkan
cacat dan berbagai macam gangguan syaraf seperti gangguan syaraf mata
(buta, dll). Akibat lainnya adalah janin dengan ukuran kepala yang besar dan
berisi cairan (hidrocephalus). Namun perlu diingat, penyebab hidrocephalus

(ukuran kepala yang besar dan berisi cairan) ada banyak sekali, salah
satunya adalah toxoplasma.
Referensi : drh. Neno Waluyo S.

TORCH (toxoplasmosis, other infections, rubella, cytomegalovirus


(CMV)
ToRCH merupakan kelompok penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dan parasit Toxoplasma gondii, Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), Virus
Herpes Simplek (HSV1 - HSV2).
ToRCH menyebabkan kelainan dan berbagai keluhan yang bisa menyerang
anak-anak, orang tua, dan ibu hamil. ToRCH menyerang semua jaringan
organ tubuh yang termasuk system saraf pusat dan perifer yang
mengendalikan fungsi gerak, penglihatan, pendengaran, system
kardiovaskuler serta metabolisme tubuh.
Pada waktu pertama kali terinfeksi (infeksi primer), tubuh manusia
akan membentuk senyawa protein IgM (Immunoglobulin M) sebagai
reaksi terhadap masuknya mahluk asing ke dalam tubuh. Senyawa protein
ini dalam waktu relatif singkat langsung terbentuk begitu tubuh terkena
infeksi.
Antibodi IgM akan muncul di minggu pertama terjadinya infeksi,
mencapai puncak pada satu bulan, kemudian mengalami penurunan.
Pada beberapa individu, IgM dapat tetap terdeteksi beberapa tahun
setelah infeksi primer. Namun, secara perlahan-lahan, IgM ini akan
menghilang dalam waktu 1-24 bulan kemudian dan bisa timbul
lagi bila yang bersangkutan terinfeksi kembali.

Kira-kira 4 minggu setelah terjadinya infeksi primer akan


terbentuk pula IgG (Immunoglobulin G) yang merupakan suatu zat
penangkis atau kekebalan tubuh. IgG ini juga merupakan protein dengan
berat molekul besar. Adanya IgG menunjukkan bahwa dalam tubuh
telah terbentuk kekebalan. Jadi, bila titer/angkanya positif berarti
tubuh telah membentuk kekebalan terhadap mahluk penyebab
infeksi. Secara teoretis IgG ini akan menetap di dalam tubuh. Hanya,
kadarnya dapat naik atau turun sesuai kondisi kesehatan seseorang.
Namun, pada kebanyakan kasus, IgG terus naik dan IgM menetap.

IgG dan IgM yang positif menunjukkan adanya infeksi primer. Hal
ini perlu pengobatan dan evaluasi, baik pada ibu maupun bayinya.

Bila IgM positif sedangkan IgG negatif berarti menunjukkan


adanya infeksi baru. Jika pada pemeriksaan ulang hasil IgM kemudian
menjadi negatif, berarti IgM yang terdeteksi semula tidak spesifik.

Antibodi IgG yang muncul beberapa minggu setelah respons IgM akan
mencapai maksimum 6 bulan kemudian. Angka yang tinggi dapat
bertahan selama beberapa tahun, tetapi akhirnya terjadi penurunan

sedikit demi sedikit, menghasilkan kadar yang rendah dan stabil yang
mungkin bertahan seumur hidup. Jadi, ibu yang pernah terinfeksi
toksoplasmosis di masa lalu, titer IgG-nya tidak pernah nol ataupun
negatif.
Dugaan terhadap infeksi TORCH biasanya memang dibuktikan
melalui pemeriksaan darah dengan pengukuran titer IgG, IgM,
atau sekaligus keduanya. Kalau IgM dapat terdeteksi sekitar seminggu
setelah infeksi akut dan menetap selama beberapa minggu atau bulan,
IgG bisa saja tidak muncul sampai beberapa minggu kemudian setelah
angka IgM meningkat.
-

Bila diduga terinfeksi tetapi nyatanya IgM negatif, maka


pemeriksaan laboratorium harus diulang 4 minggu dari tanggal
pertama kali dilakukan pemeriksaan laboratorium. Ini penting
dilakukan untuk memastikan adanya infeksi ataupun tidak.
Bila pada pemeriksaan ulang IgM tetap negatif, namun titer IgG
memperlihatkan kenaikan sebanyak 4 kali, kemungkinan yang
bersangkutan memang sedang terinfeksi. Adapun bila terjadi
perubahan titer dari IgM negatif menjadi positif, kemungkinan yang
bersangkutan tengah terinfeksi kembali.

Infeksi TORCH dan Kehamilan


Setiap pasangan yang baru menikah pasti biasanya ingin segera hamil, lalu
cepat mendapatkan keturunan. Namun saat ini, sering dengan berubahnya
gaya hidup pasangan muda masalah infertilitas menjadi isu yang paling
hangat. Salah satu sebab infertilitas yang saat ini ramai dibicarakan adalah
infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Others ec Chlamydia, Mycoplasma,
Hepatitis, Cytomegalovirus, Herpes simples virus). Prevalensi infeksi ini
menunjukkan angka yang cukup tinggi, yakni berkisar antara 5,5 sampai 84
%.
Untuk diketahui, bila infeksi ini terjadi pada awal kehamilan maka dapat
menyebabkan abortus, lahir mati, prematur, atau kelainan kongenital pada
bayi berupa hydrocephalus, mikropthalmia, mikrocephalus dan endopthalmia.
Sementara jika terjadi pada akhri kehamilan dapat menyebabkan janin
beresiko mengalami retardasi mental, retinokoroidits dan lesi pada organ
tubuh. Meski begitu perlu diketahui juga bahwa penyebab kecacatan janin
bukan melulu diakibatkan karena infeksi TORCH saja. Faktor lain seperti
kelainan kromosom seperti Trisomi 21 (Down's Syndrome),thallasemia,
tuberculosis merupakan penyebab kecacatan yang serius. Sama seriusnya
dengan defisiensi asam folat dan nutrien lain. Karenanya pentin untuk
memperhatikan asupan nutrisi yang cukup mengandung mineral maupun
asam folat bagi ibu, baik sebelum hamil maupun selama hamil.
Apa penyebab infeksi TORCH ? Faktor pendukung terjadinya infeksi TORCH
antara lain karena kerap berdekatan dengan hewan peliharan seperti kucing ,
atau burung dara yang tidak dikontrol oleh dokter hewan. TORCH dapat juga
hadir akibat kebiasaan makan makanan mentah atau tak dimasak kurang
baik. Khusus ibu yang pernah mengalami keguguran berulang atau pernah
melahirkan dengan cacat congenital, sebaliknya melakukan skrining

laboratorium untuk Immunoglobulin G (IgG) dan Immunoglobulin M (IgM). IgG


adalah zar antibody berada di serum darah dan kelenjar getah bening
bertugas melawan serangan antibody yang keluar pertama kali
membentuk benteng pertahanan / daya tahan tubuh. Dengan bukti yang
dihasilkan dari skrining kedua antibody ini dokter akan terbantu untuk
menentukan
terapi
yang
tepat.
Bila hasil atau nilai IgG tinggi maka dapat dipastikan ibu hamil telah memiliki
imunitas terhadap infeksi TORCH. Sebaliknya, yang perlu diwaspadai bila
kadar IgM tinggi. Ini menandakannya ada infeksi akut. Terapi yang akan
diberikan biasanya adalah terapi preparat spiramycin (anti parasit ) dan
imunomodulator serta antiviral.

12.Bagaimana cara mendiagnosis infertilitas ?

a. Tahap wawancara (anamnesis)


Tahap awal merupakan wawancara untuk pengumpulan data-data
pasien tentang jatidiri, riwayat kesehatan, riwayat perkawinan
terdahulu dan sekarang, riwayat infertilitas, riwayat hubungan
seksual, dan riwayat reproduksi.
b. Tahap pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik baik suami maupun istri meliputi :
- Keadaan fisik secara umum, seperti tinggi, berat, sebaran
rambut, dll.
- Keadaan alat-alat reproduksi, seperti testis, vagina, klitoris,
rahim, dll.
A. Pemeriksaan sperma
Untuk menilai sperma maka dilakukan pemeriksaan atas
jumlah spermatozoa, bentuk dan pergerakannya. Sebaiknya
sperma yang diperiksa, ditampung setelah pasangan tidak
melakukan coitus sekurang2nya selama 3 hari dan sperma
tersebut hendaknya diperiksa pada 1 jam setelah keluar.
Ejakulat yang normal sifatnya sbb:

Volume 2-5 cc
Jumlah spermatozoa 100-120 juta per cc
Pergerakan 60% dari spermatozoa masih bergerak

selama 4 jam setelah dikeluarkan


Bentuk abnormal 25%
Pria yang infertile spermatozoanya 60 juta per cc atau
lebih
Subfertil 20-60 juta per cc
Steril 20 juta per cc atau kurang

Untuk

pennilaian

lebih

lanjut

perlu

diperiksa

17

ketosteroid, gonadotrofin dalam urin, dan biopsy dari


testis.
B. Pemeriksaan ovulasi
Terjadinya ovulasi dapat kita ketahui dengan berbagai
pemeriksaan:
1. Pencatatan suhu basal kalau siklus ovulatoar, maka
suhu basal bersifat bifasis. Sesudah ovulasi terjadi
kenaikan suhu basal disebabkan pengaruh progesterone

2. Dengan pemeriksaan vaginal smear; pembentukan


progesterone

menimbulkan

perubahan-perubahan

sitologi pada sel-sel superfisial.


3. Pemeriksaan lendir serviks adanya progesterone
menimbulkan perubahan sifat lender serviks ialah lendir
tersebut menjadi kental, juga gambaran fern (daun
pakis) yang terlihat pada lendir yang telah dikeringkan
hilang.
4. Pemeriksaan
pertama

haid

endometrium kuretase pada hari


haid

atau

menghasilkan endometrium

pada

fase

premenstrual

dalam stadium sekresi

dengan gambaran histoogi yang khas


5. Pemeriksaan hormone seperti estrogen,

ICSH,

pregnadiol
6. Pemeriksaan lendir serviks
Keadaan dan sifat lendir serviks sangat mempengaruhi
keadaan spermatozoa:
a. Kentalnya lendir serviks

Lendir

serviks

yang

cair

lebih

mudah

dilalui

spermatozoa. Pada stadium proliferasi lendir serviks


agak cair karena pengaruh estrogen, sebaliknya
pada stadium sekresi lendir serviks lebih kentak
karena pengaruh progesteron
b. pH lendir serviks
Lendir serviks bersifat alkalis dengan pH 9 pada
suasana yang alkalis spermatozoa dapat hidup lebih
lama. Suasana menjadi asam pada cervisitis
c. enzim proteolitik
tripsin, kemotripsin mempengaruhi viskositas
lendir serviks
d. dalam lendir serviks juga ditemukan Ig yang dapat
menimbulkan aglutinasi dari spermatozoa.
e. berbagai kuman2 dalam lendir serviks

dapat

membunuh spermatozoa
biasanya baik tidaknya lendir serviks diperiksa
dengan:
SIMS HUHNER TEST
Pemeriksaan lendir serviks dilakukan post coitum
sekitar waktu ovulasi
Dianggap baik jika terdapat 5 spermatozoa yang
motil per high powerfield
Sims huhner test yang baik menandakan:
- teknik koitus baik
- lendir serviks normal
- estrogen ovarial cukup
- sperma cukup baik
KURZROCK MILLER TEST
Dilakukan pada pertengahan siklus kalau hasil sims
huhner test kurang baik
Satu tetes lendir serviks diletakkan berdampingan
dengan tetes sperma pada obyek glass; dilihat
apakah ada penetrasi spermatozoa. Kalau tidak ada
invasi spermatozoa, lendir serviks kurang baik.
f. Pemeriksaan tuba
Untuk mengetahui keadaan tuba dapat dilakuakan:
- Pesturbasi (insuflasi) rubin test (utuh
tidaknya tuba)

Histerosalpingografi bentuk cavum uteri,

bentuk liang tuba, sumbatan nampak jelas


Kuldoskopi keadaan tuba dan ovarium
Laparoskopi dapat diketahui genitalia interna

dan sekitarnya
g. Pemeriksaan endometrium
Pada stadium premenstrual atau pada hari pertama
haid dilakukan mikrokuretase.
Endometrium yang normal harus memperlihatkan
hambaran histologik yang khas untuk

stadium

sekresi. Kalau tidak ditemukan stadium sekresi


maka:
- Endometrium tidak bereaksi dengan progesterone
- Produksi progesterone kurang
Sumber : Ginekologi, FK UNPAD
c. Tahap pemeriksaan laboratorium
Pria
Analisis sperma untuk mengetahui mutu air mani dan spermatozoanya,
meliputi jumlah sperma/ml, bentuk, gerakan, jumlah dan persentase yang hidup
serta pencairan air mani.
Wanita

Pemantauan ovulasi, untuk menentukan apakah ovarium menghasilkan sel


telur yang matang. Pemantauan ovulasi ini dapat dilakukan dengan beberapa
cara :
Riwayat siklus haid: siklus haid yang teratur dan normal, nyeri pertengahan siklus, perdarahan atau peningkatan luah atau cairan va-gina
(vaginal discharge), mastalgia prahaid menandakan ovulasi telah terjadi.
Uji pakis: pemeriksaan pada hari ke-23-28 siklus haid, istri diminta datang
untuk pengambilan getah serviks dari kanal endoserviks ke-mudian
dikeringkan pada gelas objek dan diperiksa pengaruh estro-gen. Jika tidak
terdapat pola daun pakis dan kristal getah serviks berarti ovulasi telah
terjadi.
Suhu Basal Badan (SBB): SBB diperiksa setiap bangun pagi hari se-belum
melakukan aktivitas apapun. Nilainya ditandai pada kertas grafik. Jika
wanita berovulasi, grafik akan memperlihatkan pola bifasik dengan tukik
pada pertengahan siklus.

Sitologi vagina atau sitologi endoserviks: memantau perubahan pada selsel yang tereksfoliasi selama fase luteal (pengaruh progesteron).
Biopsi endometrium (mikrokuretase): dapat dilakukan secara poliklinis
dengan pembiusan ringan atau tanpa pembiusan. Dengan memakai kuret
kecil. Dilakukan pada 5-7 hari sebelum hari haid berikutnya.
Laparoskopi diagnostik : melihat secara langsung adanya bintik ovu-lasi
atau korpus luteum sebagai hasil ovulasi.
Peneraan hormon: menentukan kadar hormon dalam darah, urin mau-pun
liur (saliva). Kadar normal dalam satu siklus :

Jenis
Satuan
Fase siklus haid
Praovulasi
Ovulasi
Pasca ovulasi
hormon
FSH
mUI/ml
5-20
15-45
5-12
LH
mUI/ml
5-15
30-40
5-15
PRL
ng/ml
5-25
E2
pg/ml
25-75
200-600
100-300
P
ng/ml
<5
5-8
10-30
Histeroskopi:
dapat
memperlihatkan
lukisan
endometrium yang bening kekuningan, yang sesuai dengan
fase luteal.
Ultrasonografi: dapat memantau perkembangan folikel dan
menentukan saat ovulasi. Pemeriksaan dilakukan secara
serial.
Penilaian rahim dan saluran telur dapat dilakukan dengan
beberapa cara :
Biopsi endometrium: selain untuk penilaian ovulasi, juga
dapat untuk pemeriksaan histologik lain, misalnya biakan
terhadap
tuberkulosis,
menilai
adanya
hiperplasia
endometrium. Terkadang dijumpai adanya hiperplasia fokal
meskipun siklus berovulasi berdasarkan peneraan homon P
plasma pada pertengahan fase luteal. Oleh karena itu perlu
dilakukan pemeriksan rasio P/E2 dan PRL/E2 bersamaan
dengan biopsi endometrium.
Uji insuflasi/pertubasi: CO2 ditiupkan melalui kanal serviks
dan dibuat rekaman kymograf terhadap tekanan uterus,
perubahan tekanan ber-arti tuba Falloppii paten. Gas ini
juga dapat didengar dengan stesto-skop atau dilihat
dengan sinar X.

Hidrotubasi: prinsipnya sama dengan pertubasi hanya yang


diguna-kan adalah cairan yang mengandung antibiotika
Kanamycin 1 gram, deksametason 5 mg dan antipasmodik
cair.
Histerosalpingogram: dilakukan pada paro-pertama siklus
haid, larutan radioopak disuntikkan melalui kanal serviks ke
dalam rahim dan saluran telur. Perjalanan larutan tersebut
dipantau di layar dengan penguat bayangan.
Histeroskopi : melihat secara langsung keadaan permukaan
endome-trium.
Laparoskopi : melihat secara langsung dan menguji
patensinya de-ngan menyuntikkan larutan biru metilen
atau indigokarmin, dan de-ngan melihat pelimpahannya ke
dalam rongga peritoneal. Laparoskopi juga dapat
memperlihatkan perlekatan pelvis, endometriosis, dan
patologi ovarium tetapi tidak dapat menggambarkan
keadaan rongga uterus.
Ultrasonografi atau endosonografi: menilai bentuk, ukuran,
serta patologi uterus maupun tebal endometrium.
Analisis
infeksi
TORSH-KM
(toksoplasma,
rubella,
sitomegalus, herpes sim-pleks, klamidia, mikoplasma).
Uji pasca-sanggama (UPS) untuk melihat apakah air mani
sudah memancar dengan baik ke puncak vagina selama
sanggama. UPS dilakukan 2-3 hari sebelum perkiraan ovulasi.
Pasien diminta datang 2-8 jam setelah sangga-ma normal.
Getah serviks diisap dari kanal endoserviks dan diperiksa dengan mikroskop, jika terdapat 20 spermatozoa per lapang
pandang besar (LPB= x400) maka kemungkinan hamil cukup
besar, antara 1-20 spermatozoa per LPB sudah memuaskan.

IV. Pemeriksaan Lanjutan


Pemeriksaan endoskopi adalah pemeriksaan dengan
menggunakan alat teleskop (teropong) yang dimasukkan ke
dalam rongga tubuh melalui saluran alami (kanal serviks: pada
histeroskopi; kanal servik-rongga rahim, mulut saluran telur:
pada tuboskopi/Falloposkopi), suatu pembedahan kecil (di
daerah pusar atau umbilikus: pada laparoskopi; di puncak
cekungan vagina belakang atau forniks posterior: pada
hidrolaparoskopi). Ada 4 (empat) macam endoskopi dalam
bidang ginekologi:

o
o
o
o

Histeroskopi atau teropong rongga rahim


Laparoskopi atau teropong rongga perut
Tuboskopi/Falloposkopi atau teropong rongga salutan telur
Hidrolaparoskopi atau teropong rongga panggul disertai
penggenangan cairan

Histeroskopi digunakan untuk:


o melihat keadaan saluran mulut rahim, rongga rahim, mulut
dalam saluran telur, besarnya rongga rahim, warna atau
kejernihan selaput rahim,
o untuk membedakan polip endometrium dan leiomiom
submukosum;
o untuk memastikan perlekatan dalam rahim dan kelainan
bawaan dalam rahim; untuk me-ngenali kelainan-kelainan
pada histerogram;
o untuk penatalaksanaan operasi pada sekat rahim yang
menyebabkan keguguran berulang. Laparoskopi digunakan
untuk melihat berbagai kelainan di dalam rongga panggul
(pelvis) atau rongga perut (abdomen) misalnya kista (tumor)
indung telur (ova-rium), tumor rahim (miom uterus),
perlekatan di rongga panggul akibat infeksi atau
endometriosis, bintil-bintil (lesi) endometriosis yang tidak
terlihat dengan alat ultrasonografi, pembengkakan saluran
telur (hidrosalpinks), dan juga bebe-rapa kelainan bawaan
rahim seperti rahim dua-tanduk (uterus bikornis) atau
tiadanya indung telur (agenesis ovarii).
Tuboskopi atau Falloposkopi digunakan untuk melihat
bagian dalam saluran telur, baik permukaannya maupun
rongganya, misalnya adakah perlekatan akibat infeksi,
penyempitan bawaan, dan hilangnya bulu getar (silia) selaput
lendir (mu-kosa) saluran telur.
Hidrolaparoskopi merupakan suatu teknik mutakhir untuk
melihat suatu gangguan fungsi dan anatomik ujung saluran
telur atau cekungan di belakang rahim (kavum Douglas),
misalnya
perlekatan
ujung
saluran
telur
(fimbria),

endometriosis, miom uterus subserum di bagian belakang


rahim atau kista ovarium.
Pemeriksaan endoskopi tidak dilakukan begitu saja pada semua
wanita, melainkan harus dengan dasar yang jelas, misalnya
pada wanita infertil yang telah melaku-kan pemeriksaan
infertilitas dasar sebelumnya tetapi belum diketahui penyebab
infertilnya,
dan
pada
wanita
yang
diduga
adanya
endometriosis, miom, tumor atau kanker rahim.
13.Pemeriksaan apa saja yg diperlukan ?

d. Tahap wawancara (anamnesis)


Tahap awal merupakan wawancara untuk pengumpulan data-data
pasien tentang jatidiri, riwayat kesehatan, riwayat perkawinan
terdahulu dan sekarang, riwayat infertilitas, riwayat hubungan
seksual, dan riwayat reproduksi.
e. Tahap pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik baik suami maupun istri meliputi :
- Keadaan fisik secara umum, seperti tinggi, berat, sebaran
rambut, dll.
- Keadaan alat-alat reproduksi, seperti testis, vagina, klitoris,
rahim, dll.
C. Pemeriksaan sperma
Untuk menilai sperma maka dilakukan pemeriksaan atas
jumlah spermatozoa, bentuk dan pergerakannya. Sebaiknya
sperma yang diperiksa, ditampung setelah pasangan tidak
melakukan coitus sekurang2nya selama 3 hari dan sperma
tersebut hendaknya diperiksa pada 1 jam setelah keluar.
Ejakulat yang normal sifatnya sbb:

Volume 2-5 cc
Jumlah spermatozoa 100-120 juta per cc
Pergerakan 60% dari spermatozoa masih bergerak

selama 4 jam setelah dikeluarkan


Bentuk abnormal 25%
Pria yang infertile spermatozoanya 60 juta per cc atau
lebih
Subfertil 20-60 juta per cc
Steril 20 juta per cc atau kurang

Untuk

pennilaian

lebih

lanjut

perlu

diperiksa

17

ketosteroid, gonadotrofin dalam urin, dan biopsy dari


testis.
D. Pemeriksaan ovulasi
Terjadinya ovulasi dapat kita ketahui dengan berbagai
pemeriksaan:
7. Pencatatan suhu basal kalau siklus ovulatoar, maka
suhu basal bersifat bifasis. Sesudah ovulasi terjadi
kenaikan suhu basal disebabkan pengaruh progesterone

8. Dengan pemeriksaan vaginal smear; pembentukan


progesterone

menimbulkan

perubahan-perubahan

sitologi pada sel-sel superfisial.


9. Pemeriksaan lendir serviks adanya progesterone
menimbulkan perubahan sifat lender serviks ialah lendir
tersebut menjadi kental, juga gambaran fern (daun
pakis) yang terlihat pada lendir yang telah dikeringkan
hilang.
10.
Pemeriksaan

endometrium kuretase pada

hari pertama haid haid atau pada fase premenstrual


menghasilkan endometrium

dalam stadium sekresi

dengan gambaran histoogi yang khas


11.
Pemeriksaan hormone seperti estrogen, ICSH,
pregnadiol
12.
Pemeriksaan lendir serviks
Keadaan dan sifat lendir serviks sangat mempengaruhi
keadaan spermatozoa:
h. Kentalnya lendir serviks

Lendir

serviks

yang

cair

lebih

mudah

dilalui

spermatozoa. Pada stadium proliferasi lendir serviks


agak cair karena pengaruh estrogen, sebaliknya
pada stadium sekresi lendir serviks lebih kentak
karena pengaruh progesteron
i. pH lendir serviks
Lendir serviks bersifat alkalis dengan pH 9 pada
suasana yang alkalis spermatozoa dapat hidup lebih
lama. Suasana menjadi asam pada cervisitis
j. enzim proteolitik
tripsin, kemotripsin mempengaruhi viskositas
lendir serviks
k. dalam lendir serviks juga ditemukan Ig yang dapat
menimbulkan aglutinasi dari spermatozoa.
l. berbagai kuman2 dalam lendir serviks

dapat

membunuh spermatozoa
biasanya baik tidaknya lendir serviks diperiksa
dengan:
SIMS HUHNER TEST
Pemeriksaan lendir serviks dilakukan post coitum
sekitar waktu ovulasi
Dianggap baik jika terdapat 5 spermatozoa yang
motil per high powerfield
Sims huhner test yang baik menandakan:
- teknik koitus baik
- lendir serviks normal
- estrogen ovarial cukup
- sperma cukup baik
KURZROCK MILLER TEST
Dilakukan pada pertengahan siklus kalau hasil sims
huhner test kurang baik
Satu tetes lendir serviks diletakkan berdampingan
dengan tetes sperma pada obyek glass; dilihat
apakah ada penetrasi spermatozoa. Kalau tidak ada
invasi spermatozoa, lendir serviks kurang baik.
m.Pemeriksaan tuba
Untuk mengetahui keadaan tuba dapat dilakuakan:
- Pesturbasi (insuflasi) rubin test (utuh
tidaknya tuba)

Histerosalpingografi bentuk cavum uteri,

bentuk liang tuba, sumbatan nampak jelas


Kuldoskopi keadaan tuba dan ovarium
Laparoskopi dapat diketahui genitalia interna

dan sekitarnya
n. Pemeriksaan endometrium
Pada stadium premenstrual atau pada hari pertama
haid dilakukan mikrokuretase.
Endometrium yang normal harus memperlihatkan
hambaran histologik yang khas untuk

stadium

sekresi. Kalau tidak ditemukan stadium sekresi


maka:
- Endometrium tidak bereaksi dengan progesterone
- Produksi progesterone kurang
Sumber : Ginekologi, FK UNPAD
f. Tahap pemeriksaan laboratorium
Pria
Analisis sperma untuk mengetahui mutu air mani dan spermatozoanya,
meliputi jumlah sperma/ml, bentuk, gerakan, jumlah dan persentase yang hidup
serta pencairan air mani.
Wanita

Pemantauan ovulasi, untuk menentukan apakah ovarium menghasilkan sel


telur yang matang. Pemantauan ovulasi ini dapat dilakukan dengan beberapa
cara :
Riwayat siklus haid: siklus haid yang teratur dan normal, nyeri pertengahan siklus, perdarahan atau peningkatan luah atau cairan va-gina
(vaginal discharge), mastalgia prahaid menandakan ovulasi telah terjadi.
Uji pakis: pemeriksaan pada hari ke-23-28 siklus haid, istri diminta datang
untuk pengambilan getah serviks dari kanal endoserviks ke-mudian
dikeringkan pada gelas objek dan diperiksa pengaruh estro-gen. Jika tidak
terdapat pola daun pakis dan kristal getah serviks berarti ovulasi telah
terjadi.
Suhu Basal Badan (SBB): SBB diperiksa setiap bangun pagi hari se-belum
melakukan aktivitas apapun. Nilainya ditandai pada kertas grafik. Jika
wanita berovulasi, grafik akan memperlihatkan pola bifasik dengan tukik
pada pertengahan siklus.

Sitologi vagina atau sitologi endoserviks: memantau perubahan pada selsel yang tereksfoliasi selama fase luteal (pengaruh progesteron).
Biopsi endometrium (mikrokuretase): dapat dilakukan secara poliklinis
dengan pembiusan ringan atau tanpa pembiusan. Dengan memakai kuret
kecil. Dilakukan pada 5-7 hari sebelum hari haid berikutnya.
Laparoskopi diagnostik : melihat secara langsung adanya bintik ovu-lasi
atau korpus luteum sebagai hasil ovulasi.
Peneraan hormon: menentukan kadar hormon dalam darah, urin mau-pun
liur (saliva). Kadar normal dalam satu siklus :

Jenis
Satuan
Fase siklus haid
Praovulasi
Ovulasi
Pasca ovulasi
hormon
FSH
mUI/ml
5-20
15-45
5-12
LH
mUI/ml
5-15
30-40
5-15
PRL
ng/ml
5-25
E2
pg/ml
25-75
200-600
100-300
P
ng/ml
<5
5-8
10-30
Histeroskopi:
dapat
memperlihatkan
lukisan
endometrium yang bening kekuningan, yang sesuai dengan
fase luteal.
Ultrasonografi: dapat memantau perkembangan folikel dan
menentukan saat ovulasi. Pemeriksaan dilakukan secara
serial.
Penilaian rahim dan saluran telur dapat dilakukan dengan
beberapa cara :
Biopsi endometrium: selain untuk penilaian ovulasi, juga
dapat untuk pemeriksaan histologik lain, misalnya biakan
terhadap
tuberkulosis,
menilai
adanya
hiperplasia
endometrium. Terkadang dijumpai adanya hiperplasia fokal
meskipun siklus berovulasi berdasarkan peneraan homon P
plasma pada pertengahan fase luteal. Oleh karena itu perlu
dilakukan pemeriksan rasio P/E2 dan PRL/E2 bersamaan
dengan biopsi endometrium.
Uji insuflasi/pertubasi: CO2 ditiupkan melalui kanal serviks
dan dibuat rekaman kymograf terhadap tekanan uterus,
perubahan tekanan ber-arti tuba Falloppii paten. Gas ini
juga dapat didengar dengan stesto-skop atau dilihat
dengan sinar X.

Hidrotubasi: prinsipnya sama dengan pertubasi hanya yang


diguna-kan adalah cairan yang mengandung antibiotika
Kanamycin 1 gram, deksametason 5 mg dan antipasmodik
cair.
Histerosalpingogram: dilakukan pada paro-pertama siklus
haid, larutan radioopak disuntikkan melalui kanal serviks ke
dalam rahim dan saluran telur. Perjalanan larutan tersebut
dipantau di layar dengan penguat bayangan.
Histeroskopi : melihat secara langsung keadaan permukaan
endome-trium.
Laparoskopi : melihat secara langsung dan menguji
patensinya de-ngan menyuntikkan larutan biru metilen
atau indigokarmin, dan de-ngan melihat pelimpahannya ke
dalam rongga peritoneal. Laparoskopi juga dapat
memperlihatkan perlekatan pelvis, endometriosis, dan
patologi ovarium tetapi tidak dapat menggambarkan
keadaan rongga uterus.
Ultrasonografi atau endosonografi: menilai bentuk, ukuran,
serta patologi uterus maupun tebal endometrium.
Analisis
infeksi
TORSH-KM
(toksoplasma,
rubella,
sitomegalus, herpes sim-pleks, klamidia, mikoplasma).
Uji pasca-sanggama (UPS) untuk melihat apakah air mani
sudah memancar dengan baik ke puncak vagina selama
sanggama. UPS dilakukan 2-3 hari sebelum perkiraan ovulasi.
Pasien diminta datang 2-8 jam setelah sangga-ma normal.
Getah serviks diisap dari kanal endoserviks dan diperiksa dengan mikroskop, jika terdapat 20 spermatozoa per lapang
pandang besar (LPB= x400) maka kemungkinan hamil cukup
besar, antara 1-20 spermatozoa per LPB sudah memuaskan.

IV. Pemeriksaan Lanjutan


Pemeriksaan endoskopi adalah pemeriksaan dengan
menggunakan alat teleskop (teropong) yang dimasukkan ke
dalam rongga tubuh melalui saluran alami (kanal serviks: pada
histeroskopi; kanal servik-rongga rahim, mulut saluran telur:
pada tuboskopi/Falloposkopi), suatu pembedahan kecil (di
daerah pusar atau umbilikus: pada laparoskopi; di puncak
cekungan vagina belakang atau forniks posterior: pada
hidrolaparoskopi). Ada 4 (empat) macam endoskopi dalam
bidang ginekologi:

o
o
o
o

Histeroskopi atau teropong rongga rahim


Laparoskopi atau teropong rongga perut
Tuboskopi/Falloposkopi atau teropong rongga salutan telur
Hidrolaparoskopi atau teropong rongga panggul disertai
penggenangan cairan

Histeroskopi digunakan untuk:


o melihat keadaan saluran mulut rahim, rongga rahim, mulut
dalam saluran telur, besarnya rongga rahim, warna atau
kejernihan selaput rahim,
o untuk membedakan polip endometrium dan leiomiom
submukosum;
o untuk memastikan perlekatan dalam rahim dan kelainan
bawaan dalam rahim; untuk me-ngenali kelainan-kelainan
pada histerogram;
o untuk penatalaksanaan operasi pada sekat rahim yang
menyebabkan keguguran berulang. Laparoskopi digunakan
untuk melihat berbagai kelainan di dalam rongga panggul
(pelvis) atau rongga perut (abdomen) misalnya kista (tumor)
indung telur (ova-rium), tumor rahim (miom uterus),
perlekatan di rongga panggul akibat infeksi atau
endometriosis, bintil-bintil (lesi) endometriosis yang tidak
terlihat dengan alat ultrasonografi, pembengkakan saluran
telur (hidrosalpinks), dan juga bebe-rapa kelainan bawaan
rahim seperti rahim dua-tanduk (uterus bikornis) atau
tiadanya indung telur (agenesis ovarii).
Tuboskopi atau Falloposkopi digunakan untuk melihat
bagian dalam saluran telur, baik permukaannya maupun
rongganya, misalnya adakah perlekatan akibat infeksi,
penyempitan bawaan, dan hilangnya bulu getar (silia) selaput
lendir (mu-kosa) saluran telur.
Hidrolaparoskopi merupakan suatu teknik mutakhir untuk
melihat suatu gangguan fungsi dan anatomik ujung saluran
telur atau cekungan di belakang rahim (kavum Douglas),
misalnya
perlekatan
ujung
saluran
telur
(fimbria),

endometriosis, miom uterus subserum di bagian belakang


rahim atau kista ovarium.
Pemeriksaan endoskopi tidak dilakukan begitu saja pada semua
wanita, melainkan harus dengan dasar yang jelas, misalnya
pada wanita infertil yang telah melaku-kan pemeriksaan
infertilitas dasar sebelumnya tetapi belum diketahui penyebab
infertilnya,
dan
pada
wanita
yang
diduga
adanya
endometriosis, miom, tumor atau kanker rahim.
14.Apa penatalaksaan untuk infertilitas ?

Terapi Sederhana pada Infertilitas


Terapi infertilitas sering tidak berhasil, hanya 25 50% dari semua pasangan
suami-isteri yang mendapat pengobatan berhasil melahirkan bayi hidup. Keberhasilan
terapi umumnya tergantung dari penyebab infertilias.
Pada umumnya, bila infertilitas di sebabkan oleh infeksi yang di derita
sebelumnya. Baik kerusakan tuba fallopii maupun sumbatan epididymas atau vas
deferens, maka prognosa adalah jelek.
Terapi operatif pada kedua keadaan tersebut. Meskipun di lakukan oleh ahli
bedah yang sudah berpengalaman dan pada penderita penderita yang telah di seleksi
dengan ketat, hanya berhasil mendatangkan kehamilan pada tidak lebih 20 30%
kasus. Sedangkan kemungkinan timbulnya kehamilan ektopik setelah tubopiasti
adalah 6 15%.
Beberapa kasus mungkin mudah di obati. Pasangan suami isteri dengan
infertilitas yang tidak di ketahui penyebabnya. Mungkin hanya merupakan keadaan
subfertil saja dan sering dapat menjadi hamil dengan pertolongan sederhana seperti
perencanaan waktu sanggama yang bersamaan dengan saat ovulasi.
Infertilitas yang di sebabkan oleh infeksi asimptomatis. Umumnya gonorrhea
atau infeksi Chlamydia atau mycoplasma dapat di obati dengan antibiotika.
Bila jumlah spermatozoa rendah dan tidak dapat diobati

dengan

medikamentosa atau bila ada persoalan dengan ejakulasi, salah satu cara pengobatan
adalah dengan inseminasi artefisial dengan semen suami (AIH).
Pada kelainan kelainan ovulasi, dapat di berikan terapi medikamentosa,
misalnya dengan clomiphene sitrat per oral di mulai pada hari ke-5 haid dan di minum
selama 5 hari. Clomiphene sitrat merangsang ovulasi dengan jalan meniadakan efek
suppresif-ovulasi dari estrogen selama bagian pertama dari siklus haid.

Bila dengan dosis 50 mg per hari ovulasi belum timbul, dapat di berikan dosis
lebih tinggi sampai 250 mg perhari selama 10 hari pada siklus siklus berikutnya.
Pada 70 80% akan timbul ovulasi, dan angka kehamilan bervariasi antara 30 50%.
Clomiphene sitrat hanya menyebabkan sedikit efek samping yang serius, pada
dosis rendah mungkin terjadi pembesaran ovarium dan rasa tidak enak di perut, pada
dosis lebih tinggi mungkin juga timbul gangguan penglihatan atau rasa panas di wajah
(hot flushes). Resiko timbulnya kehamilan multiple tampaknya rendah.
Hanya sayang bahwa harga clomiphene sitrat relatif mahal.Bromberpane
kadang kadang di gunakan untuk merangsangtimbulnya ovulasi pada wanita dengan
kadar prolaktin yang tinggi. Dosis 7,5 mg per hari akan menurunkan kadar prolaktin
dan ovulasi umumnya timbul setelah 30 90 hari pengobatan dengan angka
kehamilan bervariasi antara 50 90%. Harga bromocriptine juga mahal.
Terapi sederhana pada infertilitas relatif sangat terbatas. Pengobatan infertilitas
umumnya lebih rumit dan mahal, misalnya salah satu cara terbaru, in vitio fertilization
dan embryo transfer, merupakan satu contoh betapa kompleksnya pengobatan
infertilitas ini.
Konseling Perihal Fertilitas dan Infertilitas
Pasangan suami isteri yang mengalami keterlambatan dalam konsepsi atau
yang memakai kontrasepsi tetapi merencanakan untuk mempunyai anak di waktu
yang akan dating. Harus mengetahui keadaan keadaan apa saja yang dapat
mengurangi atau menambah fertilitas mereka, antara lain :
1. Partner seks yang banyak
Partner seks yang banyak meninggikan resiko terkena PHS, termasuk infeksi
pelvis dengan akibat kerusakan tuba fallopii yang irreversbel dan kehamilan
ektopik; di samping itu juga memperbesar resiko terjadinya neoplasma intraephitelial seviks (CIN) dan kondisi kondisi lain yang memerlukan terapi dari
jaringan serviks. Terapi tersebut dapat menimbulkan luka perut atau merusak sel
mucus serviks dan mengurangi kemungkinan menjadi hamil.
Pada beberapa wanita dengan partner seks yang banyak, dapat timbul antibodi
terhadap spermatozoa.
Pemakaikan kondom secara teratur, kecuali bila ingin hamil. Dapat mengurangi
PHS, CIN dan pembentukan antibodi terhadap spermatozoa.
2. Kesadaran akan fertilitas = Fertility awareness
Selama masa kehidupan reproduksi seorang wanita, perubahan perubahan
hormonal yang siklis di isyaratkan dalam beberapa cara yang dapat di ukur.
Dengan mencatat perubahan perubahan lendir serviks, suhu badan basal,
mittelschmerz, seorang wanita akan sadar perihal status fertilitasnya.

3. Teknik sanggama
Beberapa peneliti berpendapat bila uterus dalam posisi antefleksi, maka agar
dapat terjadi kehamilan, posisi sanggama yang terbaik adalah wanita berbaring
terlentang dengan kedua pinggul di tunjang dan di tinggikan dengan bantuan
bantal.
Dan di perkirakan bahwa tetap dalam posisi terlentang selama 20 menit atau lebih
setelah sanggama selesai, akan memberi lebih banyak kesempatan kepada
spermatozoa untuk berhubungan dengan serviks.
4. Lubrikans
Beberapa lubrikans seperti K-Y jelly mempunyai sifat spermisid; dan tanpa di
ketahui oleh pasangan suami-isteri di gunakan sebagai lubrikans sedangkan
sebenarnya mereka menginginkan terjadinya kehamilan.
5. Pembilasan Vagina (Douching)
Meskipun merupakan metode kontrasepsi yang sama sekali tidak bias di andalkan
pembilasan vagina pada pasangan suami-isteri yang keadaan fertilitasnya sudah
rendah, dapat membunuh spermatozoa yang sangat di perlukan.
6. Medikamentosa
Beberapa medikamentosa dapat mempengaruhi fertilitas

pria

dengan

menyebabkan impotensi, ejakulasi retrograde atau gangguan sementara


spermatogenesis.
Narkotik, trankuiliser

(phenothiazines),

monoamine-oxidase

inhibitors,

guanethedine dan metildopa dapat menimbulkan impotensi; sedangkan obat anti


malaria, nitrofurantoin, cimetidine, beberapa antihipertensi dan methotrexate
dapat mempengaruhi produksi spermatozoa.
Diethylstilbestrol (DES) dapat mengurangi fertilitas pria maupun wanita. Angka
kejadian untuk karsinoma testis, abnormalitas spermatozoa dan testis yang tidak
turun (cryptorchidismus) dapat lebih tinggi pada pria yang mempunyai hubungan
dengan DES.
7. Iradiasi
Epitel germinal testis (yang menutupi terbulus seminifors) dapat terganggu
(sementara dan/atau irreversible, oleh iradiasi, dan dapat terjadi kelainan
kelainan kromosom. Di samping itu, iradiasidapat mempertinggi resiko
karsinoma testis.
Pada wanita, iradiasi dapat menyebabkan kegagalan dari ovarium.
8. Kerja Fisik / Jasmani
Beberapa atlet wanita (pelari jarak jauh atau penari professional) dapat
mengalami amenore yang irreversibel.
Pria yang sering mandi / berendam dalam air hangat / panas dapat menyebabkan
peninggian suhu skrotum sehingga terjadi penurunan produksi spermatozoa.

9. Pakaian ketat
Pakaian ketat yang di pakai oleh pria mempunyai efek yang sama dengan mandi /
berendam air hangat / panas dan menyebabkan peninggian suhu skrotum dengan
akibat terjadi penurunan produksi spermatozoa.
10. Pekerjaan
Beberapa jenis pekerjaan seperti supir truk jarak jauh, dapat menyebabkan
oligospermia oleh karena hubungan / keterbukaan terhadap panas.
11. Nutrisi / Gizi
Status gizi yang jelek dapat memberikan efek umum yang buruk terhadap
fertilitas. Meskipun tampaknya gangguan terhadap konsepsi belum timbul selama
belum terjadi kelaparan yang sebenarnya.
Sebaliknya, obesitas dapat mengurangi frekuensi ovulasi dan mengurangi
frekuensi sanggama, sehingga mempengaruhi fertilitas dan kemungkinan
konsepsi.
12. Merokok / Alkohol
Merokok / tembakau dan alkohol dapat menyebabkan kualitas spermatozoa yang
jelek pada beberapa kasus.
Marijuana juga menyebabkan berkurangnya motilitas dan jumlah spermatozoa.
Pada wanita hamil, merokok dan alkohol dapat memberikan efek negative
terhadap janin yang sedang tumbuh.
13. Polusi
Pb, asap beracun dan kontak dengan pestisida disangka mempunyai hubungan
dan/atau sebagai penyebab dari infertilitas.
14. Pembedahan / Operasi
Berbagai macam tindakan pembedahan dan beberapa pengobatan medik dapat
memberikan dampak pada fertilitas. Bila pengobtan terssebut memang di
perlukan, bisa akan penderita perihal dampaknya terhadap fertilitas.

A. Wanita
Pengetahuan tentang siklus menstruasi, gejala lendir serviks puncak dan waktu yang
tepat untuk coital
Pemberian terapi obat, seperti;
1. Stimulant ovulasi, baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus,
peningkatan kadar prolaktin, pemberian tsh .
2. Terapi penggantian hormon
3. Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal

4. Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi


dini yang adekuat

GIFT

gamete

intrafallopian

transfer

Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas

Bedah

plastic

misalnya

penyatuan

Pengangkatan
Eliminasi

vaginitis

atau

uterus

tumor
servisitis

bikonuate,

atau

dengan

antibiotika

fibroid
atau

kemoterapi

B.

Pria

Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun, diharapkan


kualitas

sperma

meningkat

Agen

Testosterone

HCG

FSH

Enantat

dan

Testosteron

secara
dan

antimikroba

HCG

Spionat

untuk

stimulasi

i.m

memperbaiki

untuk

menyelesaikan

kejantanan

hipoganadisme
spermatogenesis

Bromokriptin, digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus

Klomifen

Perbaikan

dapat

diberikan

varikokel

untuk

mengatasi

menghasilkan

perbaikan

subfertilitas

idiopatik

kualitas

sperma

Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. Seperti, perbaikan nutrisi,
tidak

membiasakan

penggunaan

celana

yang

panas

dan

ketat

Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital, jangan yang mengandung spermatisida

PENANGANAN BERDASARKAN ETIOLOGI


1. Varikokel. Tindakan yang saat ini dianggap paling tepat adalah dengan operasi berupa
pengikatan pembuluh darah yang melebar (varikokel) tersebut. Sebagian besar
penelitian menunjukkan manfaat tindakan ini walaupun metodologi penelitiannya
belum sempurna karena tanpa pembanding. Suatu penelitian dengan pembanding
menunjukkan keberhasilan tindakan pada 66 persen penderita berupa peningkatan
jumlah sperma dan kehamilan, dibandingkan dengan hanya 10 persen pada kelompok
yang tidak dioperasi.

2. Infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya merupakan masalah bermakna karena


meliputi 20 persen penderita. Penanggulangannya berupa pemberian beberapa macam
obat, yang dari pengalaman berhasil menaikkan jumlah dan kualitas sperma. Namun
sebagian besar penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pembanding, tidak
menunjukkan perbaikan bermakna. Usaha menemukan penyebab di tingkat
kromosom dan keberhasilan manipulasi genetik tampaknya menjadi titik harapan di
masa datang.
3. Adanya penyumbatan di saluran sperma hanya dapat dipastikan dengan operasi. Bila
sumbatan tidak begitu parah, dengan bantuan mikroskop dapat diusahakan
koreksinya. Pada operasi yang sama, dapat juga dipastikan ada atau tidaknya produksi
sperma di buah zakar.
4. Sesuai dengan kelainan yang ditemukan, maka penyebab lain bisa diatasi dengan
koreksi hormonal dan penghentian obat-obatan yang diduga menyebabkan gangguan
sperma.
5. Namun, usaha-usaha di atas ada kalanya belum berhasil untuk meningkatkan kualitas
dan kuantitas sperma, sehingga diperlukan teknik reproduksi bantuan. Termasuk
dalam hal ini adalah inseminasi bantuan dan inseminasi in-vitro (IVF/bayi tabung),
yang sangat membantu mengatasi masalah infertilitas pria.
INSEMINASI BUATAN
Inseminasi buatan demi kelahiran seorang anak, cara ini di luar kebiasaan, karena
biasanya melalui hubungan seksual langsung antara laki-laki dengan perempuan, terjadi
melalui

dua

jalan

yang

mendasar:

1- Jalan inseminasi dalam, hal ini dengan menyuntikkan sperma laki-laki di tempat yang
sesuai

dalam

tubuh

wanita.

2- Jalan inseminasi luar, di antara sperma laki-laki dengan telur wanita dalam tabung uji
dalam laboratorium medis kemudian telur yang sudah dibuahi tersebut ditanam dalam
rahim seorang wanita.

Jalan Inseminasi Dalam:

Cara pertama, benih jantan diambil dari laki-laki beristri lalu disuntikkan pada
tempat yang sesuai di dalam saluran rahim atau dalam rahim istrinya sehingga
benih itu bertemu secara alami dengan sel telur yang dipancarkan oleh indung
telur istrinya, maka terjadilah pembuahan yang selanjutnya adalah bersemayam di
dinding rahim dengan izin Allah- seperti yang terjadi dalam persetubuhan. Cara
ini digunakan jika suami mempunyai keterbatasan karena suatu sebab sehingga
dia tidak berhasil menyampaikan spermanya ke sasarannya pada saat terjadi
persetubuhan.
Cara kedua, benih jantan di ambil dari seorang laki-laki lalu ia disuntikkan di
tempat yang sesuai pada istri orang lain sehingga terjadi pembuahan dari dalam
dan selanjutnya menempel di dinding rahim sebagaimana dalam cara yang
pertama. Cara ini digunakan manakala suami mandul tidak mempunyai bibit
dalam spermanya sehingga benih jantan diambil dari orang lain.

Jalan Inseminasi Luar:


Cara ketiga, benih jantan diambil dari suami demikian juga sel telur dari istrinya,
lalu keduanya diletakkan dalam tabung uji medis dengan syarat-syarat fisika
tertentu sehingga benih jantan milik suami membuahi sel telur milik istri dalam
wadah uji, setelah pembuahan ini mulai terbagi dan meningkat jumlahnya, dalam
waktu yang sesuai dipindahkan dari tabung uji ke rahim istri itu sendiri, pemilik
sel telur agar ia menempel pada dinding rahimnya, maka ia tumbuh dan terbentuk
seperti janin lainnya, di akhir masa kehamilan istri melahirkan anak laki-laki atau
anak perempuan. Ini yang dikenal dengan bayi tabung yang dibuktikan oleh
penemuan ilmiyah yang dimudahkan oleh Allah, sampai hari telah ada beberapa
anak yang lahir melalui cara ini, laki-laki, perempuan dan kembar, beritanya
diekspos oleh koran-koran internasional dan media-media informasi lainnya. Cara
ini digunakan manakala istri mandul akibat tersumbatnya saluran di antara rahim
dengan indung telurnya.
Cara keempat, inseminasi luar dalam tabung uji antara benih jantan yang diambil
dari suami dan sel telur yang diambil dari seorang wanita yang bukan istrinya,
mereka menyebutnya dengan relawan, kemudian kedua benih yang telah bertemu

ini di masukkan ke dalam rahim istrinya. Cara digunakan manakala indung telur
istri tidak berfungsi atau rusak sama sekali namun rahimnya sehat dan mungkin
menerima pertemuan kedua benih padanya.
Cara kelima, inseminasi luar dalam tabung uji di antara benih jantan dari seorang
laki-laki dan sel telur dari seorang wanita yang bukan istrinya, mereka
menamakannya dengan dua orang relawan kemudian kedua benih yang telah
bertemu ini dimasukkan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami. Mereka
menggunakan cara ini manakala wanita yang bersuami di mana kedua benih itu di
masukkan kepadanya mandul karena indung telurnya rusak namun rahimnya
sehat, suaminya mandul dan keduanya menginginkan seorang anak.
Cara keenam, inseminasi dilakukan di luar dalam tabung uji di antara benih suami
istri kemudian dimasukkan kepada seorang wanita yang menjadi relawan untuk
mengandungnya. Mereka menggunakan cara ini manakala istri tidak mampu
untuk hamil karena suatu sebab pada rahimnya, namun sel telurnya sehat dan
aktif, atau dia memang tidak berminat untuk hamil, maka ada seorang wanita yang
sukarela menggantikannya.Inilah cara-cara inseminasi buatan yang diwujudkan
oleh ilmu demi mengatasi sebab-sebab terhambatnya kehamilan