Anda di halaman 1dari 4

Higroma subdural merupakan pengumpulan cairan likuor cerebrospinalis (LCS) oleh kapsul

dibawah duramater. (Listiono LD. Ilmu bedah saraf satyanegara Edisi III. Jakarta:
Gramedia, 2000. h.175)
Sebagian literatur juga menyatakan bahwa higroma subdural adalah hematom subdural
kronis/lama yang mungkin disertai oleh penumpukan/ pengumpulan cairan LCS di dalam ruang
subdural. Kelainan ini agak jarang ditemukan dan dapat terjadi karena robekan selaput araknoid
yang menyebabkan cairan LCS keluar ke ruang subdural. VandenBerg JSP, Sijbrandy SE,
Meijer AH, Oostdijk AHJ. Subdural Hygroma: A Rare Complication of Spinal Anesthesia.
Anesth Analg 2002;94:16257
Beberapa etiologi yang dapat menyebabkan subdural higroma yaitu:

Post-trauma kecelakaan

Pada umumnya higroma subdural disebabkan pecahnya araknoid sehingga LCS mengalir dan
terkumpul membentuk kolam. Post-traumatic subdural hygroma merupakan kasus yang umum
terjadi. (Listiono LD. Ilmu bedah saraf satyanegara Edisi III. Jakarta: Gramedia, 2000.
h.175)

Post-operasi (pintasan ventrikuler, marsupialisasi kista araknoid dan reseksi kista)

Higroma subdural akut dan kronik merupakan komplikasi post-operasi yang umum terjadi dari
pintasan ventrikuler, marsupialisasi kista araknoid dan reseksi kista. Shu-qing et al melaporkan
suatu kasus higroma subdural setelah tindakan reseksi suatu lesi desak ruang pada ventrikel
lateral yang menyebabkan deformasi brainstem dekompresif. Ia menyimpulkan bahwa terdapat
hubungan yang sangat penting antara prosedur pembedahan, pencegahan kehilangan LCS dan
fluktuasi yang cepat dalam tekanan intrakranial. (Zanini MA, Resende LAL, Freitas CCM,
Yamashita S. Traumatic Subdural Hygroma Five Cases With Changed Density And
spontaneous resolution. Arq Neuropsiquiatr 2007;65(1):68-72)

Komplikasi atau lanjutan dari Acute subdural hematoma/hematom subdural akut

Kebanyakan subdural hygromas (SDGs) atau higroma subdural terjadi sekunder akibat trauma.
Cofiar et al melaporkan kejadian perkembangan suatu higroma subdural pada pasien Acute
subdural hematoma (ASDH) atau hematom subdural akut, yang kemudian mengalami resolusi
spontan cepat dalam waktu 9 jam akibat kontribusi terhadap pembesaran higroma subdural.
Hematom subdural akut merupakan kumpulan darah segar di bawah lapisan duramater, yang
biasanya cukup besar untuk menekan otak dan menyebabkan kematian hingga 60-80% kasus.

Resolusi spontan cepat pada kasus hematom subdural akut sangat jarang terjadi. Salah satu
mekanisme resolusi spontan yang pernah dilaporkan adalah melalui terbentuknya higroma
subdural. Resolusi hematom subdural akut dan dampaknya terhadap higroma subdural harus
dipertimbangkan selama penatalaksanaan hematom subdural akut.
(Shu-qing Y, Ji-sheng W, Nan J. Compressive brainstem deformation resulting from
subdural hygroma after neurosurgery: a case report. Chinese Medical Journal 2008;
121(11):1055-1056)

Komplikasi dari tindakan anestesi

Higroma subdural merupakan kumpulan cairan subdural berupa cairan xanthochromic yang
jernih atau disertai darah. Membedakan antara higroma subdural dan hematom sulit dilakukan
dan mungkin artifisial, sebab higroma sering mengalami progresifitas menjadi hematom.
Vandenberg et al melaporkan suatu kasus higroma subdural yang terjadi setelah tindakan
anestesia spinal. Subdural hematoma dan higroma subdural merupakan komplikasi yang jarang
dari anestesia spinal. Penyebab komplikasi ini yang mungkin terpikirkan adalah kebocoran LCS
melalui fistula dural yang terbentuk akibat tindakan punksi. Kebosoran ini menyebabkan
pemisahan otak bagian kaudal (caudal displacement of the brain), dengan konsekuensi berupa
peregangan dan rembesan dari vena-vena subdural intrakranial. Berkurangnya tekanan otak
akibat atrofi serebral, pengecilan otak pada alkoholik dan pintasan ventrikuler juga merupakan
faktor yang memberikan kontribusi. Namun, pada kebanyakan kasus, mekanisme yang ada tetap
belum diketahui dengan jelas. Vandenberg menggunakan MRI dan radioisotope cisternography
untuk mengelusidasi patogenesis kasus tersebut.
(Cofiar M, Eser O, Aslan A, Ela Y. Rapid Resolution of Acute Subdural Hematoma and
Effects on the Size of Existent Subdural Hygroma: A Case Report. Turkish Neurosurgery
2007, Vol: 17, No: 3, 224-227)

Mekanisme

yang terlibat dalam pembentukan hygromas subdural dikenal

pula sebagai

mekanisme idiopatik, dan merupakan fenomena sekunder setelah kerusakan otak. Dalam kasus
idiopatik sel dalam jaringan granulasi dari membran arachnoid tidak berkembang secara
memadai, yang kemudian mengganggu proses penyerapan cairan serebrospinal normal. Pada
akhirnya, Higroma subdural terjadi kemudian ketika membran arachnoid luar rusak atau ketika
cap cell membran arachnoid berproliferasi. Namun demikian diketahui bahwa ketika terjadi
peningkatan cairan pada higroma subdural, saat itu pula biasanya seiring waktu cairan
cerebrospinal diserap. Di sisi lain, telah dilaporkan bahwa saat Higroma subdural berkembang
secara cepat sambil menunggu untuk resolusi spontan, dapat mempengaruhi perkembangan otak
dan juga berkembang ke hematoma subdural, yang membutuhkan intervensi bedah. (Cho J
Beom, dkk.2005. Surgical Treatment of Subdural Hygromas in Infants and Children J
Korean

Neurosurg

Soc

38) Pada pasien perkembangan yang terlambat kemungkinan

disebabkan oleh perkembangan otak yang terhambat akibat pertumbuhan dari higroma subdural
yang terjadi pada fase perkembangan otak.
Pada pasien ini dilakukan subdural drainage untuk mengeluarkan cairan serebrospinal yang
menumpuk di daerah subdural. Untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan operasi, terdapat
indikasi operasi. Salah satu kriteria dilakukan operasi adalah pergeseran midline shift melebihi 5
mm pada gambaran CT Scan atau volume massa melebihi 20 cc. Indikasi intervensi operasi
berdasarkan gejala yang muncul, seperti peningkatan tekanan intracranial, macrocrania,
hemiparesis, kemunduran mental, dan ketika diameter ketebalan lesi lebih dari 7mm. Untuk
subdural higroma yang simple, operasi terdiri atas aspirasi subdural atau drainase subdural
menggunakan subdural kateter atau jalur subdural peritoneal. Jika pada subdural higroma telah
diikuti subdural hematoma, drainase subdural. (Cho J Beom, dkk.2005. Surgical Treatment of
Subdural Hygromas in Infants and Children J Korean Neurosurg Soc 38) Pada pasien
ini Pada pasien ini dilakukan subdural drainage atas indikasi volume cairan 25cc dan telah
terjadi kejang dan kemunduran mental (keterlambatan perkembangan).

Dilakukan subdural

drainage daan pemasangan vacum drain. Setelah dilakukan subdural drainage pasien
dipindahkan ke ruang ICU untuk dilakukan observasi ketat. Diberikan terapi post operasi
berupa : IVFD D5% :NaCl 045 % 12 tpm, injeksi merofen 250mg/12 jam sebagai antibiotic
profilaksis post operasi, injeksi ketorolac 2 mg/ 8-12 jam sebagai anti nyeri, dan injeksi phenitoin
30 mg/8 jam dalam NaCl 50 cc. Fenitoin disini digunakan efek neuroprotektornya untuk

mencegah kejang post pemasangan subdural drainage. Vacum drain dipantau setiap hari dan
pelepasan vacuum drain dilakukan pada hari ke-4 setelah operasi.

Pada hari ke-4 operasi

dilakukan pelepasan subdural drainase, daerah bekas pemasangan drainase umumnya akan
menutup dalam 4-5 hari, namun pada hari ke-4 terjadi pengeluaran cairan serebrospinal melalui
luka bekas pemasangan drainase, sehingga dilakukan kraniotomi eksplorasi ulang untuk menutup
daerah subdural drainase (patching) menggunakan bone wax. Setelah 4 hari perawatan dan tidak
ada kebocoran dari daerah pemasangan drainase, dan dari gejala klinis tidak ada tanda-tanda
peningkatan intracranial dan infeksi, pasien dipulangkan dan kontrol kembali ke poliklinik bedah
saraf 5 hari setelah pulang.