Anda di halaman 1dari 4

6.

Terdapat sejumlah perkecualian pada aturan umum nomenklatur yang dideskripsikan di


atas untuk membedakan antara neoplasma benigna dan maligna, termasuk penggunaan umum
dari istilah melanoma, hepatoma (karsinoma hepatoseluler), limfoma, seminoma, dam myeloma
multipel, yang semuanya bersifat ganas. Mesotelioma dapat berbentuk jinak atau ganas, dan
baiknya diistilahkan sebagai maligna saat memperlihatkan fitur-fitur kanker.Glioma otak
mungkin berdiferensiasi baik dan memiliki fitur histologis neoplasma jinak atau malignan
(glioblastoma multiforme).
Perkecualian lain dengan akhiran -oma, namun bukan neoplasma adalah choristoma yang
merupakan sisa jaringan anomali, hamartoma yang merupakan pertumbuhan berlebihan fokal
ireguler di suatu organ, dan granuloma yang merupakan lesi non-neoplastik yang umumnya
terdiri dari sel raksasa dan terjadi pada beberapa bentuk inflamasi sepeeti tuberkulosis, silikosis,
atau sarkoidosis
7.

Leukemia

adalah

neoplasma

malignan

sistem

limfoid

dan

hematopoietik,

terkarakterisadi oleh infiltrasi progresif dan penggantian sistem organ tersebut oleh sel
myelogenus dan limfositik yang bersirkulasi bebas dalam jumlah besar di darah tepi.
8. Sejumlah neoplasma dinamakan dengan nama penemunya seperti Sarkoma Ewing,
Neoplasma Benigna
Umumnya berkapsul jaringan ikat fibrosa
Berdiferensiasi baik
Pertumbuhan lambat
Figur mitotik sedikit

Neoplasma Maligna
Umumnya tak berkapsul
Anaplasia: derajat hilangnya diferensiasi
Umumnya tumbuh cepat
Figur mitotik banyak, ada bentuk abnormal
Secara karakteristik invasif ke jaringan dan

Tak invasif
Tak bermetastasis
Umumnya daya rusak kecil, jarang membunuh

vaskulatur
Umumnya bermetastasis

inang

Daya rusak besar, daya bunuh tinggi

Tabel 1 membandingkan neoplasma benigna dan maligna berdasarkan karakteristik khas.


Istilah anaplasia biasanya teraplikasikan kepada neoplasma malignan dan digunakan untuk
mendeskripsikan dua tingkat disorganisasi: sitologis (tampilan nukleus dan sitoplasma pada
keganasan seperti ukuran inti, rasio n/c, nuklei hiperkromatik, basofilia sitoplasmik, mitosis,
mitosis atipikal, pleomorfisme seluler, atau sel raksasa) dan posisional (arsitektural antar sel
teralterasi seperti gambaran trabekula tebal multisel terpisahkan oleh ruang vaskuler ireguler

pada hepatosit neoplastik, berlawanan dengan gambaran lempeng tebal dibatasi ruang darah
sinusoidal pada hepatosit normal).
Istilah diferensiasi dalam neoplasma merujuk pada derajat kemiripan sel neoplasma dengan
sel normal daricsegi morfologi dan fungsi. Neoplasma dapat menunjukkan derajat diferensiasi
dari baik pada benigna hingga maligna yang umumnya tak terdiferensiadi. Anaplasia adalah
kurangnya diferensiasi yang merupakan ciri neoplasma malignan, dan derajatnya umumnya
sesuai dengan progresivitas..
Neoplasma benigna tidak fatal dan umumnya berespon baik terhadap prosedur kuratif
karena sifatnya yang terlokalisir. Beberapa perkecualian misalnya adenoma subkapsuler yang
dapat menyebabkan perdarahan intraperitoneal, dan myxoma (tumor mesenkim jinak) jantung
yang fatal karena lokasinya.
Salah satu ciri malignansi yang sangat berbeda dari neoplasma jinak adalah kemampuan
metastasis, mengeksklusi beberapa jenis kanker yang sangat destruktif dan invasif namun jarang
bermetastasis semisal karsinoma sel basal dan glioma malignan otak. Karsinoma sel basal juga
termasuk dapat dieradikasi sementara glioma otak umumnya memiliki prognosis buruk karena
lokasinya.
Dua neoplasma trofoblastik jinak derivat plasenta, mola invasif dan tumor trofoblastik situs
plasental, keduanya memperlihatkan gambaran invasi lokal dinding uteri. Vili hidropik mola
hidatidiform mungkin dapat terembolisasi hingga jauh (paru, otak) namun tak menimbulkan
metastasis. Tumor situs plasental jarang bermetastasis. Metastasis adalah aspek kanker yang
paling mengancam nyawa.
Lesi preneoplastik dan prekanker
Lesi preneoplastik adalah prekursor neoplasma secara umum, sedangkan prekursor
malignansi dapat disebut prekanker atau premalignan. Secara tipikal, lesi ini mengalami alterasi
fenotip sel yang jika diabaikan akan memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk berkembang
menjadi neoplasma jinak atau kanker.
Lesi preneoplastik dan prekanker telah didefinisikan paling sering terkait dengan
perkembangan bertahap neoplasma epitelial. Namun sejumlah lesi juga terklasifikasikan sebagai
prekursor

neoplasma

non-epitelial.

Contohnya

adalah

keadaan

preleukemik

terkait

perkembangan leukemia myelogenus, dan nevi displastik yang merupakan prekursor


preneoplastik melanoma maligna.
Namun lesi prekursor untuk sarkoma jaringan lunak lebih sulit dikenali, dan sarkoma
umumnya menunjukkan karakteristik malignansi untuk tampak tanpa bukti progresi histologis
dari benigna ke malignan.
Neoplasma maligna
Spesies

Jaringan/Organ

Lesi Premalignan

terkait

Mencit
Tikus
Tikus
Mencit

Kulit
Hepar
Colon
Kelenjar Mammae
Epitel

Papiloma Skuamosa Persisten


Nodul Hepatosit Persisten
Displasia mukosa, CA in situ
Nodul Alveolar Hiperplastik

Karsinoma Sel Skuamosa


Karsinoma hepatoseluler
Adenokarsinoma
Adenokarsinoma

Tikus
Mencit
Tikus
Manusi

Trakeobronkial
Pulmo
Vesica

Metaplasia Sel Skuamosa


Adenoma
Papiloma Urotelial

Karsinoma Sel Skuamosa


Adenokarsinoma
Karsinoma Sel Transisional

a
Manusi

Kulit

Keratosis Senilis

Karsinoma Sel Skuamosa

a
Manusi

Epitel

Displasia mukosa, CA in situ

Karsinoma, Adenokarsinoma

a
Manusi

Hepar

Hiperplasia adenomatus

Karsinoma hepatoseluler

a
Manusi

Colon/Rectum

Polip Adenomatus

Adenokarsinoma

a
Manusi

Mukosa Oral

Leukoplakia dgn displasia

Karsinoma Sel Skuamosa

a
Manusi

Epitel Bronkial

Ca in situ

Karsinoma Sel Skuamosa

Esofagus

Mukosa Barrett dgn displasia

Adenokarisnoma

Tabel 2 mendaftarkan sejumlah lesi prekursor untuk kanker epitelial beragam yang
dibentuk pada model eksperimental karsinogenesis bertahap. Pola umum perubahan seluler
terkait perkembanfan variasi kanker epitelial diwakili olrh displasia/karsinoma in situ.
Displasia adalah proliferasi seluler atipikal bercirikan alterasi ukuran, bentuk, urutan
arsitektural sel. Sel displastik mungkin mengalami regrest dengan disingkirannya stimulus
pemicu. Namun displasia juga dapat menjadi lesi prekursor untuk karsinoma in situ, yaitu lesi

fokal berfitur neoplasma secara histologis, namun terlokalisir pada epitelium tanpa berinvasi
melalui membran basal.
Sejumlah neoplasma jinak seperti adenoma sessil bervili (satu buah bentuk polip
adenomatus pada colon manusia), menunjukkan resiko tinggi untuk berprogreai menjadi
adenokarsinoma, sementara tipe-tipe neoplasma jinak lain seperti fibroadenoma mammae, jarang
menjadi ganas.
Pada model eksperimental karsinogenesis bertahap, telah didemonstrasikan bahwa
mayoritas lesi preneoplastik multipel atau neoplasma jinak yang diinduksi oleh regimen
karsinogenik spesifik, tidak menunjukkan neoplasia malignan selama masa hidup hewan coba
tersebut, meskipun lesi premalignan persisten memiliki probanilitas lebih tinggi untuk
bertransformasi menjadi neoplasia malignan. Selain itu, resiko berkembangnya neoplasia
malignan terkait fenotip lesi premalignan spesifik mengalami amplifikasicsaat lesi prekursor
berjumlah banyak.