Anda di halaman 1dari 12

TUGAS UKD III

HUKUM DIPLOMATIK

ANALISIS KASUS TERHADAP TINDAKAN KRIMINAL


DIPLOMAT MALAYSIA
DI SELANDIA BARU

Disusun Oleh:
Tri Hadi Mulyono
Erwin Wicaksono
M Poldung N.P.D
M.Samsi A.A.N
Luthfan Dwi Aryanto

E0013398
E0013155
E0013287
E0013290
E0013261

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

1. Kasus Posisi
Muhammad Rizalman bin Ismail adalah seorang diplomat asal malaysia yang bekerja di
Selandia Baru sebagai pejabat militer yunior di Kedutaan Besar Malaysia di Wellington. Dia
dihadapkan ke pengadilan setempat tanggal 10 Mei 2014 dengan tuduhan menguntit seorang
perempuan berusia 21 tahun malam sebelumnnya. Ia juga dituduh menyerang korbannya di
rumah perempuan tersebut di daerah Wellington, lokasi gedung Komisi Tinggi Malaysia berada.
Korbannya adalah seorang wanita berusia 21 tahun, Tanya Billingsley. Polisi menuduh Rizalman
telah melakukan pencurian dan kekerasan dengan maksud melakukan perkosaan, dan kedua
pelanggaran itu dapat menyebabkan hukuman penjara sampai 10 tahun. Tetapi pejabat
pertahanan Malaysia di Washington itu mengklaim 'kekebalan diplomatik' dan berhasil
meninggalkan Selandia Baru setelah mengikuti perintah pemerintah Malaysia.
Hal ini memicu kemarahan di Selandia Baru, karena pemerintah Malaysia menyatakan akan
mengadili sendiri pejabat diplomatiknya tersebut di depan pengadilan militer di Malaysia. Kasus
ini menyebabkan sengketa diplomatik antara Malaysia dan Selandia Baru. Pejabat kedua belah
pihak memberikan keterangan yang berbeda terkait mengapa Rizalman diizinkan meninggalkan
Wellington. Media independen Malaysia menuduh pemerintah berupaya melindungi pejabatnya
sendiri yang berada selama lima bulan di negaranya sebelum diekstradisi.
Dan akhirnya pada tanggal 24 Oktober 2014 pemerintah Malaysia bersedia mengekstradisi
diplomat mereka sendiri ke Selandia Baru. "Pemerintah Malaysia berkeyakinan Rizalman akan
mendapatkan proses hukum yang adil di Selandia Baru," demikian pernyataan yang dikeluarkan
Kementerian Luar Negeri Malaysia. Pada tanggal 25 Oktober 2014 diplomat itu dibawa ke
tahanan polisi setelah dihadirkan dalam sidang singkat di Pengadilan Distrik Wellington.
Sejumlah staf Kedubes Malaysia juga hadir di pengadilan. Lalu Rizalman akan kembali
dihadirkan dalam persidangan 28 Oktober 2014. Diplomat tersebut bekerja di Komisi Tinggi
Malaysia di Wellington sejak tahun lalu dan tinggal di Selandia Baru dengan istri dan anaknya
kurang dari satu tahun sebelum ia ditahan dan meninggalkan Selandia Baru.

2. Tinjauan Pustaka

A. KEKEBALAN DAN KEISTIMEWAAN DIPLOMATIK


Asas kekebalan dan keistimewaan diplomatik, sering dipergunakan istilah exteritoriallity
atau extra teritoriallity. Istilah ini mencerminkan bahwa para diplomatik hampir dalam segala
hal harus diperlakukan sebagaimana mereka berada di luar wilayah negara penerima. Para
diplomat beserta stafnya, tidak tunduk pada kekuasaan peradilan pidana dan sipil dari negara
penerima.
Menurut Konvensi Wina 1961, para perwakilan diplomatik diberikan kekebalan dan
keistimewaan, dengan maksud sebagai berikut :
1. Menjamin pelaksanaan tugas negara perwakilan diplomatik sebagai wakil negara.
2. Menjamin pelaksana fungsi perwakilan diplomatik secara efisien.
Kekebalan Perwakilan Diplomatik atau Involability (tidak dapat diganggu gugat), yaitu
kekebalan terhadap alat-alat kekuasaan negara penerima dan kekebalan dari segala gangguan
yang merugikan para pejabat diplomatik. Kekebalan diplomatik (Immunity), yaitu antara lain
mencakup :
1)

Pribadi Pejabat Diplomatik, yaitu mencakup kekebalan terhadap alat kekuasaan


Negara penerima, hak mendapat perlindungan terhadap gangguan dari serangan atas
kebebasan dan kehormatannya, dan kekebalan dari kewajiban menjadi saksi.

2)

Kantor Perwakilan (Rumah Kediaman), yaitu mencakup kekebalan gedung kedutaan,


halaman, rumah kediaman yang ditandai dengan lambang bendera. Daerah tersebut,
sering disebut daerah ekstrateritorial (dianggap negara dari yang mewakilinya). Bila
ada penjahat atau pencari suaka politik yang masuk ke dalam kedutaan, maka ia dapat
diserahkan atas permintaan pemerintah sebab para diplomat tidak memiliki hak asylum.
Hak asylum adalah hak untuk memberi kesempatan kepada suatu negara dalam
memberikan perlindungan kepada warga negara asing yang melarikan diri.

3)

Korespondensi Diplomatik, yaitu kekebalan yang mencakup surat menyurat arsip,


dokumen termasuk kantor diplomatik dan sebagainya (semua kebal dari pemeriksaan
isinya).

Didalam konvensi wina 1962 juga diatur jelas mengenai kekebalan perwakilan diplomatik
sebagai mana yang terkandung didalam :
1. pasal 29
Orang agen diplomatik tidak dapat diganggu gugat (inviolabel). Ia tidak dapat
dipertanggung jawabkan dalam bentuk apapun dari penahanan atau penangkapan. Negara
penerima harus memperlakukannya dengan hormat dan harus mengambil semua langkah
yang tepat untuk mencegah setiap serangan terhadap badannya, kebebasannya atau
martabatnya.
2. Pasal 31
1. Seorang agen diplomatik kebal dari yurisdiksi kriminil Negara penerima. Dia juga
kebal dari yurisdiksi sipil dan administratif kecuali dalam hal :
a. Suatu perkara yang berhubungan dengan barang-barang tetap yang terletak
di dalam wilayah Negara penerima, tanpa ia memegangnya itu untuk
pihak Negara pengirim untuk tujuan-tujuan misi;
b. (b) Suatu perkara yang berhubungan dengan suksesi di mana agen
diplomatik termasuk sebagai eksekutor, administrator, ahli waris atau
legate sebagai orang privat dan tidak untuk pihak Negara Pengirim;
c. (c) Suatu perkara yang berhubungan dengan setiap kegiatan professional
atau dagang yang dijalankan oleh agen diplomatik di dalam Negara
penerima dan diluar fungsi resminya.
2. Seorang agen diplomatik tidak berkewajiban menjadi saksi untuk memberikan bukti.

3. Tiada tindakan eksekusi boleh diambil terhadap agen diplomatik kecuali di dalam halhal yang masuk di dalam sub ayat (a), (b) dan (c) dari ayat 1 pasal ini, dan dengan
syarat bahwa tindakan itu dapat diambil tanpa melanggar inviolabilitas orangnya atau
tempat kediamannya.
4. Kekebalan agen diplomatik dari yurisdiksi Negara penerima tidak membebaskannya
dari yurisdiksi Negara pengirim.
3. Pasal 32 konvensi Wina 1961
1. Kekebalan dari yurisdiksi bagi agen-agen diplomatik dan orang-orang yang
menikmati kekebalan di dalam Pasal 37 dapat ditanggalkan oleh Negara pengirim.
2. Pelepasan kekebalan haruslah dinyatakan dengan tegas.
3. Pemulaian sidang oleh agen diplomatik atau oleh seseorang yang mendapat kekebalan
terhadap yurisdiksi menurut Pasal 37 akan menghalanginya untuk pengajuan
kekebalan terhadap yurisdiksi dalam hal tuntutan balik yang secara langsung
berhubungan dengan gugatan pokok.
4. Penanggalan kekebalan dari yurisdiksi dalam hal sidang-sidang sipil atau
administratif tidak dapat dipegang untuk menyatakan secara tak langsung adanya
penanggalan kekebalan dalam hal eksekusi keputusan, yang untuk mana suatu
penanggalan terpisah diperlukan.
B.TEORI PEMBENARAN PEMBERIAN KEKEBALAN HUKUM DIPLOMATIK
Exterritorial Theory
Exterritorial theory menganggap bahwa meskipun para diplomat secara konkret ada atau
tinggal dinegara penerima, tetapi secara yuridis dianggap ada diluar wilayah negara penerima
yaitu tetap tinggal dinegara penerima.
Teori Functional Necessity

Teori ini mendasarkan pemberian kekebalan dan keistimewaan kepada wakil-wakil


diplomatik sesuai dengan fungsi dari wakil-wakil diplomatik supaya wakil diplomatik yang
bersangkutan dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan sempurna. Dengan demikian maka
kekebalan dan keistimewaan yang dimiliki itu merupakan pemberian kesempatan seluas-luasnya
agar dalam melakasanakan tugas tidak ada gangguan.
Teori ini menjadi prinsip yang paling banyak dianut bagi kekebalan dan keistimewaan
perwakilan

diplomatik

karena

teori

ini

yang

paling

memuaskan.

Teori Functional

Necessity membenarkan bahwa kekebalan dan keistimewan diplomatik merupakan keperluan


agar perwakilan diplomatik dapat menunaikan tugas-tugasnya secara efektif dan efisien.
Teori Representative Character
Teori ini menyatakan bahwa perwakilan diplomatik sebagai perwakilan negara yang
berdaulat terikat sumpah setia terhadap negara yang mengangkatnya, dan oleh karenanya bukan
merupakan subyek dari hukum dan jurisdiksi setempat. Sehubungan dengan itu maka setiap
penghinaan atau perbuatan menyakiti para wakil diplomatik, sama dengan menghina kehormatan
dari negara yang diwakili, dan menjadi kewajiban negara penerima untuk memberikan perlakuan
yang pantas sebagai utusan.
Jika pejabat diplomatik yang melanggar hukum itu tidak diadili oleh negara penerima,
bukan berarti bebas begitu saja dari segala tuntutan hukum. Ia dapat diadili dan dijatuhi hukuman
oleh peradilan negaranya. Apalagi hukum pidana kebanyakan negara memberikan wewenang
kepada peradilan-peradilannya untuk mengadili dan menghukum kejahatan-kejahatan yang
dilakukan warga negaranya di luar negeri. Oleh karena itu, hal tersebut sangatlah penting adanya
fungsi diplomatik yang mengenai adanya perundingan- perundingan dengan Negara pemerintah
untuk melndungi kepentingan-kepentingan Negara pengirim dan warga negaranya di Negara
penerima dalam batas-batas yang diperbolehkan oleh hukum internasional.

3. Analisis.
Atas klaim Muhammad Rizalaman terkait penggunaan kekebalan diplomatik yang dimilikinya.
secara teoritis dapat dibenarkan bahwa pejabat diplomatik sama sekali tidak dapat dihukum di
negara penerima untuk perbuatan kriminal yang mungkin dilakukannya. 1 Sifat mutlak dari hak
kekebalan hukum ini dijelaskan pada,
a. Pasal 29 Konvensi Wina 1961 tentang Pejabat Diplomati tidak boleh diganggu gugat:
Pejabat diplomatik tidak boleh diganggu gugat. Ia tidak boleh ditangkap dan dikenakan
penahanan. Negara penerima harus memperlakukannya dengan penuh hormat dan harus
mengambil langkah-langkah yang layak untuk mecegah serangan atas diri,
kemerdekaan, dan martabatnya. Kalau mengacu pada kasus Muhammad Rizalman
Ismail tersebut, Selandia Baru tidak diperbolehkan melakukan penahanan dan
penangkapan terhadapnya, karena dia mempunyai kekebalan yang dapat melindunginya
dalam melaksanakan tugasnya. Negara penerima (Selandia Baru) hanya dapat meminta
pada Negara pengirim untuk menarik agen diplomatiknya dan mengadili sesuai dengan
hukum negara pengirim. Biasanya apabila pelanggaran hukum tersebut sudah dianggap
berat (parah), Negara penerima hanya akan melakukan pengusiran (deportasi). Akan
tetapi dalam kasus ini, Rizalman tidak diadili dengan hukum Malaysia, tetapi Selandia
Baru meminta agar Rizalman diadili dengan hukum Selandia Baru, yang pada akhirnya
Malaysia

bersedia mengekstradisi diplomat mereka sendiri keSelandia Baru, yang

secara tidak langsung diplomat Malaysia telah di persona non gratakan. Persona non
grata didasarkan pada pasal 9 konvensi wina yang mana secara jelas tertulis didalam
pasal tersebut sehingga dapat diuraikan yaitu apa bila perwakilan diplomatik melakukan
tindak kejahatan yang dianggap Negara penerima tindakan yang cukup berat maka
perwakilan diplomatik tersebut dianggap persona grata.
1 Dr. Boer Mauna, Hukum Internasional; Pengertian, Peranan, dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global. 2010. Bandung. Hal. 551

b. Seperti pada pasal 31 di atas dimana, Pejabat diplomatik harus kebal dari kekuasaan
hukum pidana Negara Penerima. Ia juga kebal dari kekuasaan hukum perdata dan acara.
dalam kasus ini Rizalman yang telah dihadapkan pada pengadilan setempat dengan
tuduhan pencurian dan percobaan pemerkosaan dapat dibenarkan untuk mengklaim
kekebalan diplomatiknya. Kecuali dalam hal negara pengirim telah menanggalkan
kekebalan diplomatik pejabat yang bersangkutan, baru setelah itu negara penerima dapat
menghukumnya.
c. Lalu adanya Kebebasan Bergerak (Pasal 26) dan Kebebasan Komunikasi (Pasal 27).
d. Dasar Teori pemberian hak, yaitu teori Eksteritorialitas: Tidak berlakunya berbagai
ketentuan hukum negara penerima bagi pejabat diplomatik dan gedung perwakilan.
Namun seperti halnya dalam kasus ini

Muhammad Rizalman dianggap melakukan

penyalahgunaan kekebalan Dan keistimewaan diplomatik .akibatnya Negara penerima(selandia


baru) meminta agar Negara pengirim (malaysia) menanggalkan kekebalan diplomatiknya
dengan alasan karena perbuatan kriminal, yaitu dengan tuduhan pencurian, Dan percobaan
pemerkosaan. Adapun tindakan yang dapat dilakukan oleh pihak Negara penerima (selandia
baru) adalah dengan :
a. Melaporkan tindakan kriminal pejabat diplomatik kepada negara asal, dan mengajukan
permintaan penanggalan hak kekebalan hukum agar pejabat diplomatik tersebut dapat
diadili.
b. Negara penerima dapat melayangkan Persona Non Grata (Pasal 9), dengan meminta
negara pengirim untuk meminta pejabat tersebut kembali pulang dan diadili sesuai
dengan peraturan perundang-undangan negerinya sendiri. Apalagi

diplomat itu

melakukan tindakan tidak terpuji dan dinilai oleh Negara penerima cukup berat.2
Padahal di dalam Konvensi Wina, tujuan sebenarnya dari pemberian hak istimewa dan kekebalan
bukan untuk perorangan tetapi untuk efisiensi pelaksanaan fungsi misi diplomatik sebagai wakil
negara. Yaitu pada dasar teori pemberian hak, Teori Fungsional dimana pemberian kekebalan
berdasarkan pada kelancaran tugas fungsional pejabat diplomatik.
Mengenai pernyataan dari pemerintahan Malaysia tentang rencananya akan mengadili
sendiri pejabat diplomatiknya. Yang berkaitan dengan kewenangan dalam memperoses suatu
2 Satows, Guide to Diplomatic Practice. 1979. London.

kasus yang melibatkan pejabat diplomatik sebagai tersangka. Yang menjadi pertanyaan dapatkah
Negara penerima dan Negara pengirim mengadili kasus tersebut ?. untuk menentukanya perlu
diperhatikan sepertihalnya adanya penangalan hak istimewa dan kekebalan diplomatik Dan
kesepakatan kedua Negara.

Seorang pejabat diplomat dapat diproses di negara penerima sesuai hukum yang berlaku,
apabila negara pengirim sudah terlebih dahulu mencabut atau menanggalkan Hak Kekebalan
Yurisdiksi yang dimiliki pejabat tersebut, hal ini tercantum dalam,
a. Pasal 32 Konvensi Wina tahun 1962 tentang Penanggalan Kekebalan Yurisdiksi:
(1) Kekebalan Yurisdiksi pejabat-pejabat diplomatik dan orang-orang yang berhak
menikmati hak tersebut seperti yang disebutkan pada pasal 37, dapat ditanggalkan
oleh Negara Pengirim.
(2) Penanggalan tersebut harus selalu dinyatakan dengan jelas.
Terhadap

keputusan Negara pengirim(Malaysia) untuk menanggalkan Hak Kekebalan

Yurisdiksi berdasarkan laporan serta usulan dari negara penerima(selandia baru), dan biasanya
usulan tersebut selalu direspon positif oleh Kepala Negara pengirim demi terjaganya hubungan
baik maka dari itu langkah Malaysia untuk mengekstradisi 3 Muhammad Rizalaman menurut
kami sangatlah tepat sehingga ia dapat di adili di Selandia Baru.
Namun, mengapa seorang pejabat diplomatik tersebut perlu diadili dengan hukum negara
penerima haruslah ada alasan yang jelas, dimana pejabat diplomatik tersebut terbukti melakukan
tindakan kriminal tindakan di luar fungsinya sebagai pejabat diplomatik, seperti:
(a) Suatu tindakan nyata yang berhubungan dengan harta milik pribadi tidak bergerak
yang terletak di wilayah negara Penerima, kecuali harta milik tersebut ia kuasai atas
nama Negara Pengirim untuk keperluan perwakilan;
(b) Suatu tindakan yang berhubungan dengan suksesi, dimana pejabat diplomatik tersebut
terlibat sebagai penyita, penguasa, pewaris atau ahli waris sebagai milik pribadi bukan
atas nama Negara Pengirim;
3 Hukum ekstradisi dilandaskan pada asumsi bahwa negara yang meminta ekstradisi (requisting state) mempunyai
itikad baik dan pelaku kejahatan yang diserahkan akan diperlakukan adil selama diadili di negara tersebut.
Sesungguhnya, ekstradisi merupakan perwujudan dari asas aut dedere aut judicare, yaitu asas hukum yang
menegaskan bahwa jika negara melakukan penuntutan, ada kewajiban negara untuk mengekstradisi .

(c) Suatu tindakan yang berhubungan dengan setiap kegiatan profesi dan niaga yang
dilakukan oleh pejabat diplomatik di Negara Penerima di luar kedudukan resminya
(Pasal 31).
(d) Melakukan kegiatan di luar tugas diplomatik dan niaga di negara penerima untuk
keuntungan pribadi (Pasal 42).
Apabila seorang

pejabat diplomat Malaysia ini

terbukti melakukan kriminal

(penguntitan,pencurian Dan pemerkosaan) di negara penerima, tentunya tergantung pada


pemerintah dan kepala negara pengirim untuk menanggalkan kekebalan diplomatik seorang
diplomat.
Kalau kekebalan itu ditanggalkan tentu tidak ada halangan bagi peradilan negara
penerima untuk mengadilinya. Bila tidak diadili oleh negara penerima bukan berarti diplomat
tersebut akan bebas dari tuntutan hukum. Ia dapat diadili dan dijatuhi hukuman oleh peradilan
negaranya, apalagi hukum pidana kebanyakan negara memberikan wewenang kepada peradilanperadilannya untuk mengadili dan menghukum kejahatan-kejahatan yang dilakukan warga
negaranya di luar negeri.4
Dengan demikian jika diawal, pemerintah Malaysia berniat untuk mengadili Muhammad
Rizalaman sesuai dengan hukum Negara Malaysia Dan diadili dimalaysia.secara teori hal itu
dibolehkan Dan tidak menyalahi hukum diplomatik atau Hukum Internasional itu sendiri .
namun karena ada desakan Dan permintaan dari pemerintah selandia Baru maka tergantung
bagaimana kesepakatan Dan sikap dari Negara malaisia apakah akan mengabulkan permintaan
tersebut. Dalam hal ini

karena pemerintah Malaysia menyepakati untuk mengekstradisi

Muhammad Rizalaman maka secara otomatis kekebalan diplomatic yang similikinya juga telah
dicabut Dan terhadap proses pengadilan Muhammad Rizalaman dapat dilaksanakan di Selandia
Baru.
Untuk setiap pejabat diplomatik yang diberi amanat oleh negaranya seharusnya mampu
membawa dan mejaga nama baik negaranya di mata Negara Penerima dan Dunia Internasional,
dengan wajib menghormati Hukum dan Peraturan dari Negara Penerima (Pasal 41). Hal ini
sesuai dengan teori representative character yang menyatakan bahwa perwakilan diplomatik
sebagai perwakilan negara berdaulat yang mengirimkanya.
4 Dr. Boer Mauna, Hukum Internasional; Pengertian, Peranan, dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global. 2010. Bandung. Hal. 551

Daftar Pustaka

1. Boer Mauna.2010.Hukum Internasional; Pengertian, Peranan, dan Fungsi dalam


2.
3.
4.
5.

Era Dinamika Global. Bandung.


Satows, Guide to Diplomatic Practice. 1979. London.
Konvensi Wina tahun 1961
Konvensi Wina tahun 1962
Widodo.2009. Hukum Diplomatik dan Konsuler Pada Era Globalisasi .Laks Bank
Justitia.Surabaya