Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masa nifas adalah masa sesudah persalinan yang di perlukan untuk pulihnya
kembali alat kandungan yang lamanya 6 8 mgg, sedangkan yang terpenting dalam nifas
adalah masa involusi dan laktasi. Asuhan pada masa nifas diperlukan karena masa ini
merupakan masa kritis baik ibu maupun janin.
Perawatan masa nifas sangat di perlukan untuk mencegah dan mendeteksi adanya
komplikasi yang terjadi setelah persalinan ,antara lain perdarahan, infeksi, dan gangguan
psikologis. Dengan latar belakang di atas penulis tertarik untuk mengangkat kasus
bendungan ASI
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian bendungan ASI?
2. Apa faktor-faktor penyebab bendungan ASI?
3. Bagaimana tanda dan gejala bendungan ASI?
4. Bagaimana pencegahan bendungan ASI?
5. Bagaimana penatalaksanaan bendungan ASI?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan pengertian bendungan ASI
2. Menjelaskan faktor penyebab bendungan ASI
3. Menjelaskan tanda dan gejala bendungan ASI
4. Menjelaskan pencegahan bendungan ASI
5. Menjelaskan penatalaksanaan bendungan ASI

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi Payudara

Payudara atau mammae adalah struktur kulit yang dimodifikasi, berglandular pada
anterior thorax. Pada perempuan mengandung unsur untuk mensekresi susu untuk
makan bayi (Kumala, 2008: 28).
2.1.1

Struktur Makroskopis
Struktur maksroskopis menurut Verralls (2007), terdiri dari :
1) Cauda Axillaris

2.1.2

Cauda axillaris adalah jaringan payudara yang meluas ke axilla


2) Areola adalah daerah lingkaran yang terdiri dari kulit yang longgar dan
mengalami pigmentasi dan masingmasing payudara bergaris tengah kira
kira 2,5 cm. Areola berwarna merah muda pada wanita yang berkulit cerah,
lebih gelap pada wanita yang berkulit coklat, dan warna tersebut menjadi
lebih gelap pada waktu hamil. Di daerah areola ini terletak kirakira 20
glandula sebacea. Pada kehamilan areola ini membesar dan disebut
tuberculum montgomery.
3) Papilla Mammae
Papilla mammae terletak di pusat areola mammae setinggi iga (costa)
keempat. Papilla mammae merupakan suatu tonjolan dengan panjang kira
kira 6 mm, tersusun atas jaringan erektil berpigmen dan merupakan bangunan
yang sangat peka. Permukaan papilla mammae berlubanglubang berupa
ostium papillare kecilkecil yang merupakan muara ductus lactifer.
Struktur Mikroskopis
Payudara terutama tersusun atas jaringan kelenjar tetapi juga mengandung
sejumlah jaringan lemak dan ditutupi oleh kulit. Jaringan kelenjar ini dibagi
menjadi kirakira 18 lobus yang dipisahkan secara sempurna satu sama lain oleh
lembaran-lembaran jaringan fibrosa. Setiap lobus merupakan satu unit fungsional
dan tersusun atas bangun sebagai berikut
(Verralls, 2007: 37) :
1) Alveoli

Alveoli mengandung selsel yang menyekresi air susu. Setiap alveolus


dilapisi oleh selsel yang menyekresi air susu, disebut acini yang
mengekstrasi faktorfaktor dari darah yang penting untuk pembentukan air
susu. Disetiap keliling alveolus terdapat selsel mioepitel yang kadang2

kadang disebut sel keranjang. Apabila selsel ini dirangsang oleh oksitosin
akan berkontraksi sehingga mengalirkan air susu ke dalam ductus lactifer.
2) Tubulus Lactifer
Tubulus lactifer merupakan saluran kecil yang berhubungan dengan alveoli.
3) Ductus Lactifer
Ductus lactifer adalah saluran sentral yang merupakan muara beberapa
tubulus lactifer.
4) Ampulla
Ampulla adalah bagian dari ductus lactifer yang melebar, yang merupakan
tempat penyimpanan air susu. Ampulla terletak di bawah areola.
2.2 Fisiologi Laktasi

Proses produksi, sekresi dan pengeluaran ASI dinamakan laktasi. Ketika bayi
menghisap payudara, hormon oksitosin membuat ASI mengalir dari dalam alveoli
melalui saluran susu (ducts milk) menuju reservoir susu yang berlokasi di belakang
areola, lalu ke dalam mulut bayi. Pengaruh hormonal bekerja mulai dari bulan ketiga
kehamilan, dimana tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya
ASI dalam sistem payudara (Saleha, 2009: 54).
Untuk memasyaratkan pemberian ASI sejak dini dengan tujuan mecegah terjadinya
engorgement diperlukan faktorfaktor pendukung yang terusmenerus mengupayakan
keberhasilan menyusui, yang antara lain bergantung pada peran yang dilakukan oleh :
peran petugas kesehatan, peran rumah sakit dan pemerintah, peran fisik dan psikis ibu,
faktor keluarga, faktor masyarakat dan faktor bayi (Saleha, 2009: 58).
2.2.1

Produksi Air Susu Ibu


Prolaktin merupakan suatu hormon yang disekresi oleh glandula pituitaria
anterior, penting untuk produksi air susu ibu, tetapi walaupun kadar hormon ini
di dalam sirkulasi maternal meningkat selama kehamilan, kerja hormon ini
dihambat oleh hormon plasenta. Dengan lepas atau keluarnya plasenta pada
akhir proses persalinan, maka kadar esterogen dan progesterone berangsur
angsur turun sampai tingkat pada dilepaskannya dan diaktifkannya prolaktin
(Verralls, 2007: 37).

2.2.2

Pengeluaran Air Susu (Sarwono, 2005: 700)


1) Reflek Produksi
Hisapan bayi pada payudara merangsang produksi hormon prolaktin yang
akan menyebabkan selsel sekretori dan alveoli untuk memproduksi susu
yang akan disiapkan dalam lumen pembendungan ASI yang terjadi dalam
3

alveolus akan menyebabkan adanya penekanan pada pembuluh darah


sehingga akan menyebabkan penurunan prolaktin dalam darah sehingga
sekresi ASI juga berkurang.
Untuk mengetahui banyaknya produksi ASI, beberapa kriteria yang dapat
digunakan sebagai patokan jumlah ASI cukup atau tidak adalah : ASI yang
banyak dapat merembes keluar melalui puting, sebelum disusukan payudara
terasa tegang, jika ASI cukup setelah menyusu bayi akan tertidur / tenang
selama 3 sampai 4 jam dan bayi akan sering berkemih sekitar 8 kali sehari
(Saleha, 2009: 58).
Produksi ASI yang rendah adalah akibat dari kurang seringnya menyusui atau
memerah payudara, bayi tidak bisa menghisap secara efektif, dan kurangnya
gizi ibu. Sedangkan faktorfaktor yang mempengaruhi produksi ASI antara
lain adalah frekuensi pemberian susu, berat bayi saat lahir, usia kehamilan
saat melahirkan, usia ibu dan paritas, stres dan penyakit akut, merokok,
mengkonsumsi alkohol, dan penggunaan pil kontrasepsi (Saleha, 2009: 59).
2) Reflek Let Down

Hisapan bayi pada payudara dapat merangsang produksi hormon oksitosin


yang akan menyebabkan kontraksi sel yang terdapat dalam lumen, masuk ke
dalam sinus lacteal di daerah areola. Reflek let down ini sangat sensitif
terhadap faktor kejiwaan ibu dan proses produksinya dapat terhambat apabila
ibu lelah, merasa malu, atau tidak pasti. Produksi ASI akan lancar apabila ibu
merasa bangga dan yakin akan kemampuannya menyusui.
Faktorfaktor yang meningkatkan reflek let down antara lain: melihat bayi,
mendengarkan suara bayi, mencium bayi dan memikirkan untuk menyusui
bayi (Saleha, 2009: 60).
2.3 Bendungan ASI
2.3.1

Pengertian
Payudara terasa lebih penuh tegang dan nyeri terjadi pada hari ketiga atau hari ke
empat pasca persalinan disebakan oleh pembendungan air susu karena
penyempitan duktus laktiferi. Hal ini semua merupakan bahwa tanda ASI mulai
banyak di sekresi, namun pengeluaran belum lancar (Mochtar, 2002: 112).

Gambar 2.1 Bendungan ASI


Bila nyeri ibu tidak mau menyusui keadaan ini akan berlanjut, ASI yang disekresi
akan menumpuk sehingga payudara bertambah tegang. Gelanggang susu
menonjol dan putting menjadi lebih getar. Bayi menjadi sulit menyusu.
Pada saat ini payudara akan lebih meningkat, ibu demam dan payudara terasa
nyeri tekan (Mochtar, 2002: 116). Saluran tersumbat = obstructed duct = caked
breast terjadi statis pada saluran ASI (ductus lactoferus) secara lokal sehingga
timbul benjolan lokal (Sarwono, 2007: 37).
2.3.2

Faktorfaktor penyebab bendungan ASI


Faktorfaktor yang menyebabkan bendungan ASI dalam Medical Journal (2010)
adalah :
1) Air susu mengental hingga menyumbat lumen saluran. Hal ini terjadi sebagai

2.3.3

2.3.4

akibat air susu jarang dikeluarkan.


2) Adanya penekanan saluran air susu dari luar
3) Pemakaian bra yang terlalu ketat
Tanda dan Gejala
1) Payudara terasa panas (dengan menggunakan termometer)
2) Keras
3) Terlihat mengkilat meski tidak kemerahan
4) Demam (suhu normal 36,5-37,5C)
5) Nyeri tekan
Pencegahan
Pencegahan pembengkakan payudara menurut Mochtar
(2002) adalah :
1) Menyusui secara dini, susui bayi segera mungkin

(sebelum 30 menit) setelah dilahirkan


2) Susui bayi tanpa dijadwal (on demand)
3) Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa bila produksi melebihi kebutuhan
bayi
5

4) Perawatan payudara pasca persalinan

2.3.5

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pembengkakan payudara menurut Mochtar (2002) adalah :
1) Kompres air hangat agar payudara menjadi lebih lembek
2) Keluarkan ASI sebelum menyusui sehingga ASI keluar lebih mudah

ditangkap dan dihisap oleh bayi.


3) Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI
4) Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara berikan kompres dingin
5) Untuk mengurangi statis di vena dan pembuluh darah getah benih dilakukan
pengurutan (massase) payudara yang dimulai dari putting kearah korpus.
Menurut Soetjiningsih (2002) menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan
menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan
menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi
menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan / kedinginan atau sekedar
ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat
dapat mengosongkan satu payudara sekitar 57 menit dan ASI dalam lambung
bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola
yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 12
minggu kemudian.
Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena hisapan bayi sangat
berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa
jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu
yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila sering
disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.
Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap
kali menyusui harus dengan kedua payudara. Pesan kepada ibu agar berusaha
menyusui sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik.
Setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan.

BAB III
TINJAUAN KASUS
I.

PENGKAJIAN DATA
Pengkajian dilakukan di BKIA Amanda Tulungagung Tanggal 02.10.2012 jam: 16.30
WIB
A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas

Nama

: Ny. Y

Nama Suami

: Tn. R

Umur

: 23 tahun

Umur

: 25 tahun

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SMA

Suku

: Jawa

Suku

: Jawa

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: wiraswasta

Alamat

: Sumbergempol

Alamat

: Sumbergempol

2. Keluhan Utama

Ibu mengeluh ASInya belum keluar dan payudara terasa penuh. tegang. Dan terasa
nyeri
3. Riwayat keluhan utama

ASI ibu tidak keluar sejak dua hari yang lalu setelah persalinan, dan terjadi sampai
sekarang
4. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu

NIFAS INI
5. Riwayat persalinan sekarang
a. Tanggal/jam persalian
b. Tempat dan penolong persalinan
c. Jenis persalinan
d. Lama persalinan

Kala I
Kala II
Kala III
Jumlah

: 01/10/2012-06.15
: BPS/Bidan
: Normal, spontan
: 11 jam 05 menit

: 4 jam 35 menit
: 6 jam 20 menit
:
10 menit +
:11 jam 05 menit

6. Keadaan placenta
7

a. Lahir. Jam/tanggal

: 06.25 WIB/ 01.10.2012


b. Berat
: 400 gram
c. Robekan
: derajat II (mukosa vagina, komisura posterior, kulit
perineum, otot perineum)
d. Kelengkapan
: kotiledon dan selaput ketuban lahir lengkap
e. Kelainan
: tidak ada
f. Jumlah perdarahan
: 200 cc
g. Penyulit persalinan : tidak ada
7. Keadaan bayi
a. Jenis kelamin
:
b. BB/PB
: 3200 gram/ 47 cm
c. Keadaan
: baik
d. AS
: 8-9 cm
e. Kelainan
: tidak ada
8. Riwayat nifas sekarang
Ibu merasakan payudaranya nyeri dan tegang sejak 2 hari yang lalu, dan ini sangat
menggangu kenyamanan ibu.
9. Kebutuhan sehari-hari
a. Nutisi

b.

c.

d.

e.

Sebelum melahirkan
: ibu makan 3x sehari dengan porsi sedang
dengan nasi, lauk, sayur dan minum 8-10 gelas / hari
Sesudah melahirkan
: ibu makan 3x sehari dengan porsi sedang
dengan nasi, lauk, sayur terkadang buah, dan minum 9-12 gelas/ hari
Eliminasi
Sebelum melahirkan
: ibu BAK 4x/ hari tanpa ada nyeri, dan BAB
tiap pagi dengan konsistensi lunak, kuning kecoklatan.
Setelah melahirkan
: ibu BAK 4-5x/ hari dan BAB hanya 1x setelah
melahirkan.
Istirahat
sebelum melahirkan
: ibu tidur siang selama 1 jam dan tidur malam
selama 7-8 jam/ hari
setelah melahirkan
: ibu tidak bisa tidur siang, dan malam tidur 67 jam karena sering terbangun.
Aktivitas
Sebelum melahirkan
: ibu biasanya melakukan aktivitas ibu rumah
tangga, seperti: menyapu, mengepel, cuci dll
Setelah melahirkan
: ibu tidak melakukan aktivitas yang berarti, ibu
hanya merawat bayinya.
Personal hygine
8

Sebelum persalinan
: ibu mandi 2x/ hari, keramas 3x/ minggu, ganti
pakanan dalam 2x/ hari, ganti pakainan 1x/ hari.
Setelah persalinan
: ibu mandi 2x/ hari, keramas 1x setelah
persalinan, ganti pakainan dalam setiap setelah BAK dan BAB, dan ganti
pakain 1x/ hari.
10. Ambulasi / Mobilisasi Dini
Ibu sudah bisa jalan, sekitar kamar, dan sudah bisa ke kamar mandi sendiri.
11. Data Psikososial

Ibu merasa cemas dengan keadaanya saat ini, dan takut kebutuhan nutrisi bayinya
tidak terpenuhi.
12. Riwayat kesehatan lalu

Ibu tidak pernah menderita penyakit sistemik, jantung, ginjal, asma, hepatitis, DM,
HT, kejang, dll
13. Riwayat penyakit keluarga

Keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit sistemik, baik dari pihak istri dan
suami.
14. Riwayat KB

Ibu belum pernah menggunakan alat kontrasepsi sama sekali.


15. Pengetahuan

Perawatan tali pusat : ibu sudah mengerti bagaimana cara merawat tali pusat
bayi, yaitu menganti setiap setelah mandi dengan kassa steril dan tetap
menjaga agar tetap kering.
Memandikan bayi
: ibu sudah mengerti cara memandikan bayi, yaitu:
dengan air hangat, waslap, dan sabun. Memandikan bayi setiap pagi dan sore.
Perawatan buah dada : ibu mengatakan belum mengerti cara merawat
payudaranya.
Cara meneteki
: ibu belum mengerti cara meneteki yang benar.
Kapan hubungan seksual
: ibu sudah mengerti kapan
melakukan hub. Seksual, yaitu: sesudah masa nifas selesai.
Kapan melakukan pemeriksaan ulang
: ibu sudah mengerti kapan
melakukan pemeriksaaun ulang, yaitu sesuai jadwal yang telah diberikan oleh
bidan dan kembali jika ada keluhan.
Kapan boleh hamil lagi
: ibu sudah mengerti, yaitu: 2/3
tahun lagi.

Senam nifas
cara senam nifas.
16. Sibling

: ibu mengatakan belum mengerti

Tidak ada persipan sibling, karena ini adalah anak yang pertama
17. Personal hygine

Ibu sudah mengerti personal hygine, yaitu: menjaga kebersihan diri, terutama
dibagaian genetalia. Ibu mengganti pembalut setiap terasa penuh dan setiap setelah
BAK/BAB.
18. Mobilisasi

Ibu sudah melakukan mobilisasi


19. Obat-obatan

Ibu sudah mengerti bahwa obat yang boleh dikonsumsi hanyalah dari bidan/
petugas kesehatan

10

B. DATA OBJEKTIF
a. Keadaan : compos mentis
b. K/U
c. TTV

: baik
:

TD
: 120/80 mmHg
N
: 83x/ menit
RR
: 22x/ menit
S
: 37,70C
d. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala
: simetris, tidak ada benjolan, warna rambut hitam, tidak ada
ketombe, tidak rontok, dan bersih.
2) Muka
: tidak pucat, tidak odema, tidak ikhterus.
3) Mata
: simetris, conj. merah muda, sklera tdak ikhterus.
4) Telinga
: simetris, bersih, pendengaran baik.
5) Hidung
: simetris, tidak ada polip, tidak ada pernafasan cuping hidung,
bersih.
6) Mulut
: tidak kering, tidak ada stomatitis, tidak ada carries pada gigi :
tidak ada pembesaran pada tonsil.
7) Leher
: tidak ada pembesaran pada k. tyroid dan vena jugularis.
8) Dada
: tidak terdengar ronchi dan weezing, tidak ada pernafasann
dinding dada.
9) Mammae : pada payudara kiri mengalami pembesar, bengkak, terasa
penuh dan merah mengkilap, mengalami hiperpigmentasi, puting menonjol.
10) Abdomen : tidak ada bekas operasi, konsisitensi keras, TFU 3 jari bawah
pusat.
11) Genetalia : ada pengeluaran darah dari vagina (lochea rubra), vulva tidak
odema, ada jahitan pada perineum. Anus tidak hemoroid.
12) Ekstremitas : atas/bawah: simetris, tidak odema, tidak ada varices, tidak ada
kelainan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

II.

INTERPRESTASI DATA

No DATA DASAR
1

DS

DIAGNOSA MASALAH

: ibu mengalami nyeri payudara, danP10001

post

partum
11

merasa tegang pada payudaranya.


fisiologis hari ke-3
DO
:
TTV : TD: 120/80mmHg, N: 83x/menit, RR:
22x/menit, S: 37,70C
Asi belum keluar.
Kontraksi: baik/keras.
Terdapat jahitan perineum dengan baik.
Pengeluaran lochea rubra.

DS

: pada payudara ibu sebelah kiri terasa Masalah

Ibu

mengalami

penuh, tegang, dan ibu mengalami nyeri pada bendungan ASI


payudara sebelah kirinya.
DO
: mammae sebelah kiri mengalami
pembesaran, bengkak, merah mengkilap dan
terasa penuh.
Kebutuhan :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

HE tentang perawatan payudara


HE tentang cara meneteki yang benar
HE tentang senam nifas
KIE istirahat
KIE tentang pola eliminasi
Mengatasi rasa nyeri yang dialami ibu, dan
memberi dukungan emosional agar tidak
cemas dengan masalah yang dialami.

III.

IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL


Potensial terjadi mastitis
Dasar : payudara ibu membengkak, nyeri dan merah mengkilap

IV.
V.

KEBUTUHAN TERHADAP TINDAKAN SEGERA KONSULTASI DAN


KOLABORASI
Kolaborasi dengan dokter bila terjadi mastitis yang berlanjut.VI, VII INTERVENSI,
IMPLEMENTASI, EVALUASI

DIAGNOSA/

TUJUAN/
HASIL

KRITERIAINTERVENSI

IMPLEMENTASI

12

MASALAH
P10001 post

Tujuan jangka pendek:

1. Lakukan pendekatan

partum fisiologis setelah diberikan asuhan

terapeutik

hari ke-3

kebidanan 20 menit

R/ agar ibu lebih kooperatif

diharapkan ibu dapat

dengan petugas

Ibu mengalami
bendungan ASI

mengerti penjalasan bidan


KH:
1. Ibu mengerti penjelasan

bidan
2. Idu dapat mengulang

2. Menginformasikan hasil

pemeriksaan
R/ hak pasien untuk
mengetahui keadaannya

kembali penjelasan bidan


3. Jelskan pada ibu mengapa
3. Ibu melaksanakan semua
terjadi bendungan payudara
yang dianjurkan oleh
bidan

R/ agar pasien mengerti

Tanggal : 03.10.2012
Jam : 16.37 WIB

1. Melakukan pendekatan t

pada pasien dengan meto


komunikasi 2 arah, dan

mendengarkan serta men

setiap keluhan ibu.


2. Menginformasikan hasil

pemeriksaan, bahwa ibu

dalam kondisi baik-baik

hanya terjadi bendungan

payudara sebelah kiri.


3. Menjelaskan mengapa te

Tujuan jangka panjang:

apa penyebab bendungan

bendungan payudara, ya

setelah dilakakan asuhan

payudara

adanya peningkatan alira

kebidanan selama 20 menit 4. Beritahu cara mengatasi


diharapkan ibu bisa

bendungan payudara

menangani masalahnya, dan

R/ mengatasi masalah ibu

tidak terjadi bendungan ASI


kembali dan proses involusi
berjalan dengann normal.
KH:

5. Beritahu cara perawatan

payudara
R/ untuk memperlancar

produksi ASI
1. K/U ibu baik
2. TTV dalam batas normal
6. Beritahu cara meneteki
3. Tidak terjadi tanda
bahaya nifas
4. Tidak terjadi komplikasi

yang benar

dan limphe pada payuda

rangka mempersiapakan

laktasi, selain itu dikaren

kurangnya perawatan pa

pada masa nifas.


4. Memberitahu cara meng

bendungan payudara, ya
a. Berikan ASI pada ba

mungkin.
b. Berikan secara berga
c. Kompres dengan air

R/ mengurangi resiko

sebelum disusukan p
d. Bantu dengan memij

terjadinya bendungan

payudara untuk perm

payudara
7. Anjurkan ibu untuk ikut

kelas senam nifas

menyusui
5. Mengajari ibu cara mera

payudra, yaitu dengan ca

kapas yang telah diberi b

R/ untuk mempercepat

oil/minyak di puting sus

pulihnya alat-alat

biarkan 3-5 menit, kemu

reproduksi

tangan dengan baby oil/

lakukan pemijatan secar


13

8. Berikan KIE tentang pola

melingkar pada payudar

istirahat

menyeluruh, lakukan 15

R/ agar kebutuhan istirahat

Setelah dilakakukan pem

ibu terpenuhi.

kompres dengan air hang

9. Berikan terapi obat pada

ibu untuk mengatasi rasa


nyeri

dengan air dingin. Kemu

keringkan payudara, laku

perawatan ini secara ruti

6. Mengajari cara menetek

R/ untuk mengatasi

benar, yaitu: posisi ibu d

keluhan ibu

dengan bersandar pada t

10. Jelaskan tentang gizi nifas

R/ memenuhi kebutuhan
nutrisi
11. Anjurkan tetap menjaga

kebersihan vulva
R/ menjaga kondisinya
agar tidak terjadi infeksi
nifas
12. Anjurkan ibu kontrol 3 hari

lagi dan kembali


berkunjung bila ada
keluhan.
R/ memantau kondisi ibu.

duduk ibu, dagu bayi me

pada payudara, perut bay

menempel pada perut ibu

seluruh areola masuk ke


7. Menganjurkan ibu untuk

senam nifas untuk memp

pulihnya kembali oragn-

reproduksi.
8. Menganjurkan ibu istirah

siang hari 1 jam dan mal

jam agar ibu tidak meras

9. Memberikan obat pada i

mengurangi rasa nyeri y


dialami oleh ibu.

10. Menganjurkan ibu untuk

tanpa di batasi dengan je


tertentu, agar nutrisi ibu

karena ini juag berhubun


dengan bayi.

11. Menganjurkan ibu untuk

menjaga kebersihan vulv

dengan mengajari cara c

benar (dari depan kebela

mengganti pembalut ses

mungkin, mengganti cel

rutin.
12. Menganjurkan ibu kontr
14

3 hari kedepan, dan kem

ada keluhan yang berlan


mengetahui kondisi ibu

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Masa Nifas merupakan proses pulihnya kembali alat-alat kandungan seperti


keadaan sebelum hamil, proses pengambilan data, pemeriksaan, perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi berjalan lancar. Tingkat pencapaian tujuan dan kesembuhan klien akan
berhasil bila klien aktif dan ada dukungan dari keluarga.
4.2 Saran
1. Tenaga Kesehatan
a. Diharapkan petugas kesehatan lebih meningkatkan konseling tentang menyusui

secara eksklusif.
b. Diharapkan petugas kesehatan bisa mempertahankan pelayanan kebidanan yang
sudah memenuhi standart.
2. Pasien
a. Diharapkan pasien aktif bertanya kepada petugas meskipun belum ada keluhan.
b. Hendaknya pasien secara rutin control ke petugas kesehatan

15

DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Eny Retna, S.SiT, M.Kes dan Diah Wulandari , SST, M.Keb. 2010. Asuhan
Kebidanan Nifas. Yogyakarta, Nuha Medika.
Dewi, Vivian dan Tri Sunarsih. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta, Salemba
Medika.
Mochtar, Rustam. 2002. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Mansjuer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Medika Aesculap FKUI.
Manuaba. Ida Bagus Gdc. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
Saifudin , Abdul Bari. 2005. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : YBPSP
Wiknjosastro . 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta :YBPSP

16