Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KELOMPOK

PREMATURE RUPTURE OF MEMBRANE (KETUBAN PECAH DINI)

DISUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH BLOK REPRODUKSI SEMESTER


GANJIL
DISUSUN OLEH KELOMPOK 1:
115070200131004

ARDIANTA GEDE P

115070200131005 CARINA REGA UTOMO


115070200131008 ISTY O. KEBAKOLE
115070200131009 FEBY FITRI AMALI
115070201131015 KADEK KUSUMA WARDANA
115070207131005 FARIDA LAKSITARINI
115070207131006 ARIF DIKA MAHENDRA
115070207131017 SUGENG TRIANUGRAH
115070201131024 DINA MUKMILAH MAHARIKA

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013

TRIGGER
Ny P usia 25 tahun G1 P0000 Ab000 usia kehamilan 37 minggu dating je rumah
sakit dengan keluhan keluar cairan bewarna keruh merembes dari jalan lahir sejak
kemarin pagi pasien mengatakan sejak keluar cairan dari jalan lahir Ny P tidak
beraktivitas berat pasien hanya tiduran sepanjang hari. Pasien mengeluh badannya
demam, saat di RS hasil pemeriksaan perawat didapatkan TD=120/80mmHg
N=98x/mnt RR=18x/mnt Suhu=37C DJJ=120x/mnt pasien tidak merasakan adanya
his. Hasil pemeriksaan cairan amnion menunjukkan pH netral dan warnanya keruh
pasien tampak tegang, penurunan kontraksi, pucat dan gelisah berdasarkan
anamnesa perawat pasien mengatakan jarang kontrol kehamilan ke puskesmas.

SLO (Student Learning Object)


1. Definisi KPD
2. Epidemiologi KPD
3. Etiologi KPD
4. Faktor Resiko KPD
5. Patofisiologi KPD
6. Manifestasi Klinis KPD
7. Pemeriksaan Diagnostik KPD
8. Penatalaksanaan Medis KPD
9. Komplikasi KPD
10.Pencegahan KPD
11.Asuhan keperawatan KPD

I.

Definisi
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada

sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William,2001)

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda


persalinan dan di tunggu satu jam belum di mulainya tanda persalinan
(manuaba,2001)
Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah
kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat
terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun
kehamilan aterm. (saifudin,2002).
II.

Epidemiologi
PROM

terjadi

sebanyak

4-14%,

sebanyak

30-40%

mengakibatkan

kelahiran premature yang berkontribusi terhadap mortalitas dan morbiditas


(Velemhenske, 2011). PROM menyebabkan kelahiran spontan dalam 12 jam
sebanyak 50%, 70% dalam 24 jam, 85% dalam 48 jam dan 95% dalam 72
jam (El messidi et.al, 2010). Menurut yadin, (2008) dalam tahir (20)
menunjukkan bahwa infeksi merupakan penyebab terjadinya KPD sebesar
65%. Menurut Juwita, 2007 dalam tahir (20) menunjukkan bahwa penyebab
KPD antara lain penetrasi penis yang sangat dalam saat koitus (37,5%),
infeksi genetalia (37,5%), multi parah (37,9%), riwayat KPD (18,75%) dan
usia ibu yang lebih dari 35 tahun. Menurut Ratnawati (2010) dalam tahir (20),
aktivitas berat dapat menyebabkan KPD sebesar 43,75%.
III.

Etiologi
a. Makrosomia
Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan
makrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over
distensi dan menyebabkan tekanan pada intra uterin bertambah sehingga
menekan

selaput ketuban,

manyebabkan

selaput ketuban

menjadi

teregang,tipis, dan kekuatan membrane menjadi berkurang, menimbulkan


selaput ketuban mudah pecah. (Winkjosastro, 2006)Menurut Nugroho
(2012; h. 113) penyebab KPD masih belum diketahui dan tidak dapat
ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor
yang berhubungan erat dengan KPD, namun factor mana yang lebih
berperan

sulit

diketahui.

predisposisinya adalah:

Kemungkinan

yang

menjadi

factor

b. Infeksi: infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban


maupun ascenden dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa
-

menyebabkan terjadinya KPD.


Alberto Bacchi Modena, Christine Kaihura, Stefania Fieni 2004 stated that the
chorioamniotic membranes are extremely re- sistent in the early stages of
pregnancy to the extent of resisting all forces except those that are acutely
pene- trating (3, 4). Gradually as term approaches, the am- niotic membranes
are subjected to forces of different nature which contribute to rendering them
progressively less elastic (3-7).Forces associated with growth in uterine size
together with those caused by normal ute- rine contractions and fetal
movements contribute to the reduction in membrane resistence. Moreover,
as term approaches, significant modi- fications in the biochemical structures
occur with re- duction in the collagen quantities. PROM at term can therefore

be considered as a physiological variant rather than pathological.


Other causes of PROM include polyhydramnios, multifetal gestations and
following obstetric procedu- res such as amniocentesis and cervical
cerclage.Recent attention has focused on the possibility of persistent
endometritis preceding pregnancy or in the interval between one pregnancy
and the other being the cause of PROM. Other risk factors include cigarette
smoke, drug abuse, Vit C and Vit E defficiency, strenous work, cervical injury
or history of cervical conization could play a role in the pathogenesis of PROM
(20, 21). Maternal age, parity and increase in maternal weight do not seem to

cause PPROM (newman et all, 2001)


One major reason for a PROM is an ascending vaginal in- fection (Table
2).Pathophysiologically,the infection leads to the production of cytokines and
prostaglandines (E2 and F2) and,via a cascade of an increased production of
matrix- metalloproteinases,to an increased collagenolysis.Further- more,an
infection increases labour and maturation of the cervix.
Type B streptococci
E.coli
Fusobacteria
Peptostreptococci
Bacterioides
Ureaplasma urealyticum

Obstetricians have traditionally attributed rupture of the membranes to


physical stress, particularly that associated with labor.

biochemical

processes,

including

disruption

of

collagen

within

the

extracellular matrix of the am- nion and the chorion and programmed death
-

of cells in the fetal membranes.


It has been proposed that the fetal membranes and the maternal uterine
lining (decidua) respond to various stimuli, includ-ing membrane stretching
and infection of the repro- ductive tract, by producing mediators, such as
pros- taglandins, cytokines, and protein hormones, that govern the activities
of matrix-degrading enzymes.
c. Servik yang inkompetensia, kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh
karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curettage).
d. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemeli.
e. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam,
maupun amniosintesis menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya
f.

disertai infeksi.
Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian yang
terendah

yang

menutupi

pintu

atas

panggul

(PAP)

yang

dapat

menghalangi tekanan terhadap membrane bagian bawah.


g. Keadaan social ekonomi.
IV.

FACTOR RASIKO
a. Usia ibu 20 tahun
Termasuk usia yang terlalu muda dengan keadaan uteros yang kurang
matur untuk melahirkan sehingga rentan mengalami ketuban pecah dini
b. Pekerjaan
Pola Pekerjaan ibu hamil berpengaru terhadap kebutuhan energi. Kerja
fisik pada saat hamil yang terlalu berat dapat engakibatkan kelelahan.
Kelelahan dalam bekerja menyebabkan lemahnya korion amnion. Hasil
penelitian menyatakan bahwa ibu yang bekerja 40 jak seminggu dapat
menyebabkan resiko besar 1,7 kali mengalami KPD (Nurhadi,2006)
c. Risk factors
Bacterial vaginosis
Multiple pregnancy
Polyhydramnios
Preterm contractions

Bleeding in the first trimester


Nicotine abuse
Preterm birth or PPROM in the patients history
V.

PATOFISIOLOGI KETUBAN PECAH DINI ( TERLAMPIR)

VI.
MANIFESTASI KLINIS KETUBAN PECAH DINI
1. keluar ketuban warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit /
2.
3.
4.
5.

banyak
dapat di sertai demam bila sudah ada infeksi
janin mudah teraba
pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada , air ketuban sudah kering
inspeksikula, tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air
ketuban ketuban sudah kering ( Arief Mansjoer, dkk,2001 : 310 )

VII.

Pemeriksaan Diagnostik ketuban pecah dini


Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena diagnosa

yang positif palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkan bayi


terlalu awal atau melakukan seksio yang sebetulnya tidak ada indikasinya.
Sebaliknya diagnosa yang negatif palsu berarti akan membiarkan ibu dan
janin mempunyai resiko infeksi yang akan mengancam kehidupan janin, ibu
atau keduanya. Oleh karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat.
Diagnosa KPD ditegakkan dengan cara :
1) Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan yang
banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir atau ngepyok. (1,3,9,15) Cairan
berbau khas, dan perlu juga diperhatikan warna, keluarnya cairan
tersebut

his

belum

teratur

atau

belum

ada,

dan

belum

ada

pengeluaran lendir darah.


2) Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari
vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak,
pemeriksaan ini akan lebih jelas.
3) Pemeriksaan dengan spekulum.
pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan
dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar,
fundus

uteri

ditekan,

penderita

diminta

batuk,

megejan

atau

megadakan manuvover valsava, atau bagian terendah digoyangkan,


akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada fornik
anterior.
4) Pemeriksaan dalam
Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada
lagi. Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu
dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang belum
dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam. Karena
pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi
segmen

bawah

Mikroorganisme

rahim
tersebut

dengan
bisa

flora

dengan

vagina
cepat

yang

menjadi

normal.
patogen.

Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah


dalam persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan dan dibatasi
sedikit mungkin.
5) Pemeriksaan laboraturium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi,
bau dan pH nya. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban
mungkin juga urine atau sekret vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-

5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna, tetap kuning.


Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika krtas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7

7,5, darah dan

infeksi vagina dapat mengahasilkan tes yang positif palsu.


Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek
dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun
pakis.
6) Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban
dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban
yang

sedikit.

Namun

sering

terjadi

kesalahan

pada

penderita

oligohidromnion.Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak


macam dan caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa
terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana.
VIII.

PENATALAKSANAAN MEDIS KETUBAN PECAH DINI

konservatif

rawat di rumah sakit, berikan antibiotic (ampisilin 4x500 mg atau eritromisin


bila tidak tahan ampisilin dan metronidazole 2x500 mg selam 7 hari ).jika
umur kehamilan <32-43 minggu dirawat dirawat selama air ketuban masih
keluar atau sampai air ketuban tidak lagi keluar.jika usia kehamilan 32-37
minggu

belum

deksametason

inpartu
,

tidak

observasi

ada

infuksi.tes

tanda-tanda

busa

negative

infeksi,dan

beri

kesejahteraan

janin.terminasi pada kehamilan 37 minggu .jika usia kehamilan 32-37 minggu


,sudah

inpartu

,tidak

ada

infeksi.berikan

tokolitik

(salbutamol),deksametasin,dan induksi sesudah 24 jam ,jika usia kehamilan


32-37 minggu , ada infeksi ,beri antibiotic dan lakukan induksi nilai tandatanda infeksi (suhu ,leokosit.tanda-tanda infeksi intrauterine).pada usia
kehamilan 32-37 minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paruparu janin , dan bila memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomeilin
tiap minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selam 2

hari.deksametason IM 5 mg setiap 6 jam selama 4 kali.


Aktif
Kehamilan > 37 minggu , induksi dengan oksitosin. Bila gagal seksi sesarea.
Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotic dosis tinggi dan persalian
diakhiri. Bila skor pelvik < 5 lakukan pematangan serviks kemudian
induksi.jika tidak berhasil akhiri persalinan dengan seksio sesarea.bila skor
pelvik > 5 induksi persalinan (Prawiharjo,2008)
Penatalaksanaan ketuban pecah dini menurut Rahmawatu 2011 yaitu :
1. Penatalaksanaan ketuban pecah dini tergantung pada umur kehamilan
dan tanda infeksi intrauterine
2. Pada umumnya lebih baik untuk membawa semua pasien dengn KPD
ke rumah sakit dan melahirkan bayi yang berumur >37 minggu dalam
minggu 24 jam dari pecahnya
infeksi intrauterine.
3. Tindakan konservatif

ketuban untuk memperkecil risiko

mempertahan

kehamilan

diantaranya

pemberuian antibiotik dan cegah infeksi (tidak melakukan pemeriksaan


dalam ),tokolisis , pematangan paru amnionfusiepitelisasi ( vit c dan
trace element, masih kontroversi) fetal and maternal monitoring.
Tindakan aktif ( terminasi atau mengakhiri kehamlan ) yaitu section
caesarea atau pun partus per vaginam
4. Dalam penetapan langkah pelaksanaan tindakan yang dilakukan apakah
langkah konservatif ataukah aktif sebaiknya perlu mempertimbangkan

usia kehamilan , kondisi ibu dan janin, fasilitas perawatan intensif ,


kondisi , waktu dan tempat perawatan , fasilitas atau kemampuan
monitoring , kondisi atau status imunologik ibu dan kemampuan finansial
keluarga.
5. Untuk usia kehamilan < 37 minggu dilakukan penangan konservatif
dengan mempertahankan sampai usia kehamilan matur.
6. Untuk usia kehamilan 37 minggu atau lebih lakukan terminasi dan
pemberian profilaksis streptoccus grup B untuk kehamilan 34-36
minggu lakukan penatalaksanaan sama halnya dengan aterm
7. Untuk kehamilan 32-33 minggu lengkap lakukan tindakan konservatif
atau expectant management kecuali jika paru-paru sudah matur
( maka perlu dilakukan tes pematang paru), profilaksisi streptococcus
grup B pemberian kortikosteroid ( belum ada consensus namun
direkomendasikan oleh para ahli ) pemberian antibiotic selam fase
laten
8. KPD dengan usia kehamilan <37 minggu tanpa infeksi , berikan
antibiotic eritromisin 3x 250 mg , amoksilin 3x 500 mg dan
kortikosteroid
9. KPD dengan usia kehamilan >37 minggu tanpa infeksi ( ketuban pecah
>6 jam) berikan ampisilin 2x 1 gr IV dan penisilin G 4x 2 juta IV jika
serviks matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin jika
serviks tidak matang lakukan section caesarea.
10.KPD dengan infeksi ( kehamilan< 37 minggu atau > 37 minggu )
berikan antibiotic ampisilin 4x 2 gr IV , gentamisin 5 mg/kgBB jika
servik matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin jika serviks
tidak matang lakukan section caesarea.

Penatalaksanaan KPD pada kehamilan aterm (> 37 Minggu)


Beberapa penelitian menyebutkan lama periode laten dan durasi KPD

keduanya mempunyai hubungan yang bermakna dengan peningkatan kejadian


infeksi dan komplikasi lain dari KPD. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan
dari persalinan disebut periode latent = L.P = lag period. Makin muda umur
kehamilan makin memanjang L.P-nya.
Pada hakekatnya kulit ketuban yang pecah akan menginduksi persalinan
dengan sendirinya. Sekitar 70-80 % kehamilan genap bulan akan melahirkan dalam
waktu 24 jam setelah kulit ketuban pecah bila dalam 24 jam setelah kulit ketuban
pecah belum ada tanda-tanda persalinan maka dilakukan induksi persalinan, dan
bila gagal dilakukan bedah caesar.
Pemberian
Walaupun

antibiotik

antibiotik

tidak

profilaksis

dapat

menurunkan

berfaedah

terhadap

janin

infeksi

dalam

pada

uterus

ibu.

namun

pencegahan terhadap chorioamninitis lebih penting dari pada pengobatanya


sehingga pemberian antibiotik profilaksis perlu dilakukan. Waktu pemberian
antibiotik hendaknya diberikan segera setelah diagnosis KPD ditegakan dengan

pertimbangan : tujuan profilaksis, lebih dari 6 jam kemungkinan infeksi telah terjadi,
proses persalinan umumnya berlangsung lebih dari 6 jam.
Beberapa penulis meyarankan bersikap aktif (induksi persalinan) segera
diberikan atau ditunggu sampai 6-8 jam dengan alasan penderita akan menjadi
inpartu dengan sendirinya. Dengan mempersingkat periode laten durasi KPD dapat
diperpendek sehingga resiko infeksi dan trauma obstetrik karena partus tindakan
dapat dikurangi.
Pelaksanaan induksi persalinan perlu pengawasan yang sangat ketat
terhadap keadaan janin, ibu dan jalannya proses persalinan berhubungan dengan
komplikasinya. Pengawasan yang kurang baik dapat menimbulkan komplikasi yang
fatal bagi bayi dan ibunya (his terlalu kuat) atau proses persalinan menjadi semakin
kepanjangan (his kurang kuat). Induksi dilakukan dengan mempehatikan bishop
score jika > 5 induksi dapat dilakukan, sebaliknya < 5, dilakukan pematangan
servik, jika tidak berhasil akhiri persalinan dengan seksio sesaria.

Penatalaksanaan KPD pada kehamilan preterm (< 37 minggu)


Pada kasus-kasus KPD dengan umur kehamilan yang kurang bulan tidak

dijumpai tanda-tanda infeksi pengelolaanya bersifat koservatif disertai pemberian


antibiotik yang adekuat sebagai profilaksi Penderita perlu dirawat di rumah sakit
ditidurkan dalam posisi trendelenberg, tidak perlu dilakukan pemeriksaan dalam
untuk mencegah terjadinya infeksi dan kehamilan diusahakan bisa mencapai 37
minggu, obat-obatan uteronelaksen atau tocolitic agent diberikan juga tujuan
menunda proses persalinan. Tujuan dari pengelolaan konservatif dengan pemberian
kortikosteroid pada pnderita KPD kehamilan kurang bulan adalah agar tercapainya
pematangan paru, jika selama menunggu atau melakukan pengelolaan konservatif
tersebut muncul tanda-tanda infeksi, maka segera dilakukan induksi persalinan
tanpa memandang umur kehamilan.
Induksi persalinan sebagai usaha agar persalinan mulai berlangsung dengan
jalan merangsang timbulnya his ternyata dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi
yang kadang-kadang tidak ringan. Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi gawat
janin sampai mati, tetani uteri, ruptura uteri, emboli air ketuban, dan juga mungkin
terjadi intoksikasi. Kegagalan dari induksi persalinan biasanya diselesaikan dengan
tindakan bedah sesar. Seperti halnya pada pengelolaan KPD yang cukup bulan,

tindakan bedah sesar hendaknya dikerjakan bukan semata-mata karena infeksi


intrauteri tetapi seyogyanya ada indikasi obstetrik yang lain, misalnya kelainan
letak, gawat janin, partus tak maju, dll.
Selain komplikasi-kompilkasi yang dapat terjadi akibat tindakan aktif.
Ternyata pengelolaan konservatif juga dapat menyebabakan komplikasi yang
berbahaya, maka perlu dilakukan pengawasan yang ketat. Sehingga dikatan
pengolahan konservatif adalah menunggu dengan penuh kewaspadaan terhadap
kemungkinan infeksi intrauterine. Sikap konservatif meliputi pemeriksaan leokosit
darah tepi setiap hari, pem,eriksaan tanda-tanda vital terutama temperatur setiap 4
jam, pengawasan denyut jamtung janin, pemberian antibiotik mulai saat diagnosis
ditegakkan dan selanjutnya stiap 6 jam.
Pemberian kortikosteroid antenatal pada preterm KPD telah dilaporkan secara
pasti dapat menurunkan kejadian RDS. The National Institutes of Health (NIH) telah
merekomendasikan penggunaan kortikosteroid pada preterm KPD pada kehamilan
30-32 minggu yang tidak ada infeksi intramanion. Sedian terdiri atas betametason 2
dosis masing-masing 12 mg i.m tiap 24 jam atau dexametason 4 dosis masingmasing 6 mg tiap 12 jam.
IX.

KOMPLIKASI KETUBAN PECAH DINI

1) Tali pusat menumbung


2) Prematuritas, persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm.
3) Oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban
habis.
4) Infeksi maternal : infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari
vagina

ke

intrauterine,

korioamnionitis

(demam

>380C,

takikardi,

leukositosis, nyeri uterus, cairan vagina berbau busuk atau bernanah, DJJ
meningkat), endometritis
5) Penekanan tali pusat (prolapsus) : gawat janin kematian janin akibat hipoksia
(sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang), trauma pada
waktu lahir dan Premature.
6) Komplikasi infeksi intrapartum
a. Komplikasi ibu : endometritis, penurunan aktifitas miometrium (distonia,
atonia), sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki
vaskularisasi sangat banyak), dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu.

b. Komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis perinatal sampai kematian janin.

X. Asuhan Keperawatan
A. pengkajian
1. Identitas klien
Nama : Ny P
Usia

: 25 tahun

2. Keluhan utama
Ibu hamil anak pertama dengan usia kehamilan 37 minggu mengeluh
mengeluarkan cairan berwarna keruh merembes dari jalan lahir sejak
kemarin pagi serta mengeluh demam.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Terdapat keturunan sindrom ehlers danlos atau tidak
4. Riwayat kehamilan sekarang
Berhubungan terhadap kehamilan yang terdapat infeksi , kelaina letak
kehamilan ganda
5. Pola kebiasaan sehari-hari
Pola istirahat : sejak keluar cairan dari jalan lahir ny P tidak berani
beraktivitas berat hanya tiduran sepanjang hari
Pola nutrisis

: asupan kalori dan cairan yang lebih banyak untuk mencegah

dehidrasi
Pola kebersihan : personal hygiene yang kurang dapat menyebabkn infeksi
Pola aktivitas : pekerjaan yang berat atau terjadi trauma sat jatuh
Pola sexual : terlalu sering melakukan hubungan sexual
6. Pemeriksaan umum
Kesadaran : composmetis
Ttv : TD 120/80 mmhg

RR 18x/m
N 98x/m
S 37 C
A. Pemeriksaan penunjang
Hasil infeksi : keluar cairan keruh lewat vagina dengan warna keruh dengan
ph netral.
Pengkajian tambahan ubtuk pasien ketuban pecah dini
1. Identitas ibu
2. Riwayat penyakit
a. Riwayat kesehatan sekarang : ibu datang dengan pecahnya ketuban sebelum
usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa komplikasi
b. Riwayat kesehatan terdahulu
-

Adanya trauma sebelumnya akibat efek pemeriksaan amnion.

Sintesis, pemeriksaan pelvis, dan hubungan seksual

Kehamilan ganda, polihidramnion

Infeksi vagina/serviks oleh kuman streptokokus.

Selaput amnion yang lemah/tipis.

Posisi fetus tidak normal.

Kelainan pada otot serviks atau genital seperti panjang serviks yang
pendek.

Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defisiensi nutrisi.

c. Riwayat kesehatan keluarga : ada tidaknya keluhan ibu yang lain yang
pernah hamil kembar/turunan kembar
3. Pemeriksaan fisik
a. Kepala dan leher.
-

Mata perlu diperiksa dibagian sclera, konjungtiva.

Hidung

ada/tidaknya

pembengkakan

konka

nasalis.

Ada/tidaknya

hipersekresi mukosa
-

Mulut : gigi karies/tidak, mukosa mulut kering, dan warna mukosa gigi.

Leher berupa pemeriksaan JVP, KGB, dan tiroid.

b. Dada
Thorak

Inspeksi kesimetrisan dada, jenis pernafasan thorak abdominal, dan tidak ada
retraksi dinding dada. Frekuensi pernafasan normal 16-24 x/menit. Iktus
kordis terlihat/tidak

Palpasi : payudara tidak ada pembengkakan.

Auskultasi : terdengar BJ I dan II di IC kiri/kanan. Bunyi nafas norma vesikuler


Abdomen

Inspeksi : ada/tidaknya bekas operasi, striae, linea.

Palpasi : TFU, kontraksi ada/tidak, posisi, kandung kemih penuh/tidak


Auskultasi : DJJ ada/tidak

c. Genitalia
-

Inspeksi: keberhasilan, ada/tidaknya tanda-tanda REEDA (Red, Edema,


Discharge, Approximately), pengeluaran dari ketuban (jumlah, warna, bau),
dan lender merah muda kecoklatan.

Palpasi: pembukaan serviks (0-4).

Ekstremitas: edema, varises ada/tidak

4. Pemeriksaan Diagnostik
a. Hitung darah lengkap untuk menentukan adanya anemia, infeksi.
b. Golongan darah dan factor Rh.
c. Rasio lesitin terhadap spingomielin (rasio US): menentukan maturitas
janin.
d. Tes verning dan kertas nitrazine: memastikan pecah ketuban.
e. Ultasonografi: menentukan usia gestasi, ukuran janin, gerakan jantung
janin, dan lokasi plasenta.
f.

Pelvimetri: identifikasi posisi janin

B. Analisa Data
Data

Etiologi

DS :
-

Klien

mengeluh

keluar cairan dari


jalan lahir
-

Klien

mengeluh

merasa demam
-

Klien tidak merasa


adanya his

DO :
-

Tampak

cairan
dari

jalan lahir
Cairan

berwarna

keruh dengan pH
netral

DS :
-

Resiko

proses persalinan

Stress

Selaput amnion lemah

Ketuban pecah dini

Ketuban bercampur
pH yang ada di vagina

Ketuban keruh dan pH


netral

Resiko gangguan
hubungan ibu/janin

KPD
Pasien

tidak

beranni
beraktivitas, hanya
tidur

Air ketuban merembes


malalui jalan lahir

gangguan

hubungan ibu/janin

dengan flora normal dan

merembes
-

Kehamilan yang pertama

Kekhawatiran akan

Masalah Keperawatan

Ansietas

DO :
Pasien

tampak

penurunan

tegang,

konsentrasi,

gelisah dan pucat

Tidak berani beraktivitas

Kecemasan terhadap
kondisi janin

Ibu tampak gelisah,


pucat, tegang dan
penurunan konsentrasi

Ansietas

DS : Ny.P usia 25 tahun,


usia

kehamilan

37

minggu

datang

RS

dengan

keluhan

ke

keluar

cairan dari jalan lahir


DO : hasil pemeriksaan
cairan

amnion

menunjukkan PH netral
berwarna

keruh,

suhu

pasien meningkat pada


pemeriksaan TTV

Infeksi bakterial

Aktivasi monosit /
makrofag

IL I dan IL VI

Elastase leukosit PMN

Memecah kolagen tipe III

Infiltrasi leukostit ke kulit


ketuban

Pengurangan kolagen
tipe III

Melemahnya selaput
ketuban

PROM

Cairan merembes melalui


jalan lahir

Jalan lahir terkontaminasi


bakteri

Resiko Infeksi


Resiko infeksi pada bayi

C. Diagnosa Keperawatan & Prioritas Diagnosa


1. Resiko gangguan hubungan ibu/janin b.d PROM
2. Ansietas b.d status kesehatan d.d gelisah, tegang, penurunan konsentrasi,
pucat
3. Resiko infeksi b/d ketuban pecah dini d/d keluarnya cairan berwarna keruh
dari jalan lahir.
D. RENPRA
Diagnosa

NOC

NIC

Keperawatan
Resiko
hubungan
b.d PROM

gangguan

Setelah dilakukan tindakan

ibu/janin

keperawatan selama 1 jam


gangguan

ibu

dan

janin

tidak terjadi dengan kriteria


hasil :
STATUS

INTRAPARTUM

peruba
han
atau
klien
nyama
n
denga
n
keadaa

amnion

cervical

exam,

kajia
bukann

dan posisi serviks

1 2 3 4 5

ada

status membrane

adanya

Indicator Stages

1. Tidak

1. Menentukan

2. Lakukan

MATERNAL

Labor suppression

3. Palpasi

posisi

fetus
4. Monitor DJJ
5. Diskusikan

untuk

bedrest

dan

pembatasan
aktifitas

selama

fase akut supresi


kelahiran
Labor induksi
1. Monitor

TTV

janin

sebelum diinduksi

2. Tentuakn

n
cairan

untuk

ketuba

induksi

indiksi
dilakuakn

3. Monitor efek samping

n yang
merem

penggunaan

obat

bes

induksi untuk cervix


4. Kolaborasikan

2. Pasien

pemberian oksitosin

IV dengan dokter

dapat

5. Monitor

meras

efek

akan

samping

adany

keberhasilan induksi

a his
4 = mild deviation from
normal range
FETAL
STATUS

INTRAPARTUM
Indicato

Stages

rs

1 2 3 4 5

1. DJJ

(120160
bpm)
2. Tidak

ada
perub
ahan
warna
cairan
amnio
n
4= mild

deviation

normal range

from

dan

Ansietas b.d status

Setelah

kesehatan

keperawatan selama 1x24

gelisah,

d.d
tegang,

penurunan

jam,

dlakukan

asuhan

ansietas

klien

berkurang dengan KH :

konsentrasi, pucat

ANXIETY LEVEL
Indicators

1. Assesses

for

verbal

and

non

verbal

signs

of

anxiety
2. Use

Stages

calm,

reassuring

1 2 3 4 5
1. Difficult

Anxiety Reduction

approach

3. Provide

factual

information

concent

concerning

rating
2. Panic

attack
3. Increase

diagnosis,
treatment

and

procedure
4. Encourage

pulse

to

rate

stay

family
with

patient
5. Teach

1. Severe

Resiko

infeksi

2. Substantial

use

3. Moderate

technique

4. Mild

relaxation

5. None

progressive

b/d

Setelah dilakukan tindakan

ketuban pecah dini

keperawatan selama 2x24

d/d keluarnya cairan

jam,

berwarna keruh dari

resiko infeksi dengan KH :

jalan lahir

patient

klien

RISK

terhindar

CONTROL

INFECTIOUS PROCESS

dari

to

distraction
and

Infection Control
1. Berikan

ruangan

khusus

untuk

meminimalkan
:

terjadinya infeksi
2. Batasi
pengunjung

jumlah
yg

masuk
Indicator

Stages

3. Monitor tanda dan

1 2 3 4 5

4. Mainta
in

gejala infeksi
4. Anjurkan

klien

untuk bedrest.

clean

5. Anjurkan

klien

enviro

untuk

nment

mengkonsumsi air

banyak

putih.
5. Takes

6. Ajarkan

immedi

untuk

ate

hygiene.

perineal

7. Berikan antibiotik,

action

jika diperlukan

to

8. Anjurkan

reduce
risk
6.
Uses

klien

untuk

univers

pasien
istirahat

dengan cukup
9. Ajarkan

al

untuk

precaut

meenjaga

ions
4 = often demonstrated

kebersihan

5=

kehamilan

demonstrated

consistently

perineal
10.Anjurkan

pasien
selalu

selama
pasien

untuk bedrest

DAFTAR PUSTAKA

Nurhadi.2006. Faktor Resiko Ibu Terhadap Kejadian Ketuban Pecah Dini Di Bp


RSUD Kraton Pekalongan. Tesis.Program Pascasarjana Universitas Diponogoro.
Smarang

Mohr, Thorsten. 2009. Premature Ruptures of Membranes. Gynakol Endokrinol


Wissen Schaftsverlag

Wiknjosastro, H. 2002, Ilmu kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta


Manuaba, I.B.G dr. Prof.; Pengantar Kuliah Obstetri : Ketuban Pecah Dini;
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta 200?; hal 456-460.