Anda di halaman 1dari 20
  • A. Latar Belakang

BAB 1

PENDAHULUAN

Sejalan dengan berkembangnya dan meluasnya Islam di dunia, sudah barang tentu perkembangan itu tidak terlepas dari berbagai problematika yang timbul, baik yang timbul dari dalam Islam itu sendiri maupun dari luar Islam. Dan diantara problematika yang timbul dari dalam diri Islam itu sendiri adalah timbulnya firqah atau golongan yang benihnya sudah mulai dirasakan tatkala nabi Muhammad saw sudah meninggal. Sejarah Islam telah mencatat tentang banyaknya firqah-firqah atau golongan-golongan yang ada di dalam tubuh umat Islam. Dan berdasarkan keterangan dari beberapa hadis, dari kesemua firqah atau golongan tersebut semuanya dikatakan sebagai firqah/golongan yang sesat kecuali hanya satu golongan. Hal ini tentunya didasarkan atas dasar keterangan dari matan hadis yang sudah sering kita jumpai bahkan sudah sering kita kaji.

A. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Sejalan dengan berkembangnya dan meluasnya Islam di dunia, sudah barang

Artinya:

Abdullah bin Amr berkatan: Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya umat bani Israil terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, kesemuanya akan masuk ke neraka kecuali satu golongan yang akan selamat. Para sahabat bertanya: Siapakah satu golongan yang selamat itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: yaitu golongan yang mengikuti ajarannku dan ajaran para Sahabatku.

Memang ada yang menilai hadis tersebut mengandung kelemahan. Akan tetapi, apabila dijadikan pegangan dan pedoman untuk mengukur pandangan dan perilaku yang dapat dibenarkan oleh ajarang Islam, pastilah lebih baik dibanding keterangan para pakar yang belum pasti kekuatan dan kebenarannya.

1

  • B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :

    • 1. Bagaimana sejarah timbulnya firqah dalam Islam ?

    • 2. Apa saja sebab-sebab timbulnya firqah dalam Islam ?

    • 3. Apa saja firqah-firqah yang berpengaruh ?

    • 4. Bagaimana sikap NU terhadap firqah-firqah dalam islam ?

  • C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini yaitu :

    • 1. Untuk mengetahui sejarah timbulnya firqah dalam Islam.

    • 2. Untuk mengetahui sebab-sebab timbulnya firqah dalam Islam.

    • 3. Untuk mengetahui firqah-firqah yang berpengaruh.

    • 4. Untuk mengetahui sikap NU terhadap firqah-firqah dalam islam.

  • BAB 2 TINJAUAN TEORI

    • A. Sejarah Timbulnya Firqah dalam Islam

      • 1. Bibit-Bibit Perselisihan Diantara Umat Islam

    2

    Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW mencakup tiga aspek yaitu Iman, Islam, Ihsan atau Aqidah. Syari’ah dan Akhlak atau disebut juga dengan Thariqat, Fiqih dan Tashawuf.

    Iman,

    Islam

    dan

    Ihsan

    telah

    diterapkan

    dan

    diamalkan

    oleh

    Rasulullah SAW beserta para sahabatnya secara terpadu tidak dapat di pisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Apabila ada suatu yang kurang difahami, maka para sahabat langsung bertanya kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau menjelaskannya berdasarkan petunjuk dari Allah SWT. Dapat disimpulakan bahwa pada zaman Rasulullah SAW tidak ada pertentangan di kalanagan umat dalam menjalankan agama baik di

    bidang Aqidah (Tauhid) Syari’ah (Fiqih) maupun Akhlak (Tasawuf), semuanya berjalan secara terpadu, serempak serta seimbang. Rasulullah SAW berpulang menghadap Allah SWT Rabbul Izzati pada hari Senin tanggan 12 Rabiul Awal tahun 11 H. pada usia ke 63 tahun. Beliau meninggalkan agama Islam dalam keadaan sempurna. Ketika Rasulullah wafat terjadilah perselisihan di kalangan para sahabat dalam masalah wafatnya Rasulullah SAW, tempat makam Rasulullah SAW dan siapa pengganti Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat islam. Inilah yang disebut sebagai bibit-bibit perselisihan di kalangan umat islam.

    • 2. Pendapat Kaum Muhajirin dan Anshar

      • a. Tentang Wafatnya Rasulullah SAW Setelah mendengar kabar wafatnya Rasulullah SAW, Umar bin Khattab Ra berkata : “Sesungguhnya hanya orang munafik yang beranggapan bahwa Rasulullah Saw telah meninggal dunia, padahal Rasulullah Saw sedang pergi menghadap Tuhan-Nya seperti yang dilakukan Nabi Musa As yang pergi meninggalkan kaumnya selam 40 hari lalu kembali lagi kepada mereka demi Allah, Rasulullah Saw akan kembali kepada kita, maka barang siapa yang mengatakan Rasulullah Saw telah meninggal akan saya potong tangan dan kakinya”. Sahabat Abu Bakar Ra datang kemudian dia masuk rumah menemui putrinya sayyidah Aisyah Ra, lalu mendekati jasad Rasulullah Saw yang ditutupi kain hitam, dia menyibakkannya lalu

    3

    mencium Rasulullah Saw sambil menangis, dia berkata : “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan kalau Allah telah menentukan kematian ini atas engkau, berarti engkau memang telah meninggal dunia.” Kemudian Sahabat Abu Bakar keluar dari rumah lalu masuk masjid, pada waktu itu sahabat Umar masih tetap berdiri sambil berbicara dengan para sahabat. Sahabat Abu BAkar berkata :”Duduklah Umar !” , sahabat Umar tidak mau duduk, maka para sahabat berpaling kepada sahabat Abu Bakar Ra. Setelah situasi agar tenang kemudian sahabat Abu BAkar Ra berpidato, “Barang siapa diantara kalian yang menyembah Muhammad Saw, maka sesungguhnya Muhammad Saw telah meninggal dunia, tetapi barang siapa yang menyembah Allah, maka Allah SWT Maha Hidup tidak akan meninggal selamanya.” Umar Bin Khattab berkata : “Demi Allah setelah aku mendengar Abu Bakar membaca ayat ini, akupun menjadi linglung hingga aku tidak kuat mengangkat kedua kakiku, aku tertunduk diatas tanah, kini aku seudah tahu bahwa Rasululullah Saw telah meninggal.”

    • b. Tentang Tempat Pemakaman Rasulullah SAW Sahabat Abu Bakar Ra berkata”Saya telah mendengar rasulullah Saw bersabda :”tiadalah seorang Nabi meninggal dunia”, maka Abu Thalhah menyingkirkan tempat tidur dimana beliau meninggal dunia, lalu dia menggali liang lahat persis dibawah tempat tidur itu. Kemudian orang-orang masuk ke dalam kamar secara bergiliran sepuluh-sepuluh untuk menshalati jenazah Rasulullah Saw, giliran pertama adalah keluarga beliau kemudian disusul oleh sahabat muhajirin lalu sahabat Anshar, lalu kaum wanita dan yang terakhir adalah anak-anak. Semua ini dilakukan pada hari Selasa penuh hingga malam Rabu, Sayyidah Aisyah berkata : “Kami tidak mengetahui penguburan Rasulullah Saw, hingga kami mendengar suatu sekop di tengah malam Rabu.”

    • c. Tentang pengganti Rasulullah SAW Rasululah Saw tidak pernah berwasiat baik secara lisan maupun tulisan tentang siapa pengganti beliau. Hal ini diserahkan sepenuhnya kepada kaum muslimin karena beliau menilaai bahwa para sahabat utamanya yang termasuk ke dalam Assabiqunal

    4

    Awwalun telah siap memilih orang yang layak sebagai pengganti beliau menjadi umat islam. Ketika jenazah Rasulullah Saw masih membujur yaitu harai Senin sahabat Anshar mengadakan perundingan di gedung “Saqifah Bani Sa’idah” untuk mengangkat pemimpin mereka yaitu Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin umat islam pengganti Rasulullah Saw. Mendengar hal ini sahabat Abu

    Bakar dan sahabat Umar langsung mendatangi mereka. Sahabat Ali tidak diikutsertakan karena sedang sibuk mengurusi jenazah Rasulullah Saw, maka terjadilah ketegangan diantara kaum Muhajirin dan anshar. Sahabat Anshar merasa punya hak untuk menjadi Khalifah karena mereka telah mmembantu Rasulullah Saw dengan harta semua, tewnaga, pikiran bahkan nyawanya sehingga misi Rasulullah Saw berhasil. Sahabat Muhajirin merasa lebih berhak karena mereka adalah orang-orang pertama masuk Islam (Assabiqul awwalun), rela mengorbankan segalanya, rumahnya, ladangnyaa, kebunnya, anak istrinya bahkan tempat kelahirannya demi membela perjuangan Rasulullah Saw. Setelah musyawarah yang panjang dan menegangkan akhirnya para sahabat baik Muhajirin maupun Anshar sepakat mengangkat Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq sebagai “Khalifah” pengganti Rasulullah Saw dengan alasan sahabat Abu Bakar As-Shiddiq adalah

    • a) Orang yang pertama masuk Islam.

    • b) Orang yang selalu membenarkan Rasulullah saw sehingga mendapat gelar As-Shiddiq.

    • c) Orang yang menyertai Rasulullah Saw ketika Aisyah di Mekkah.

    • d) Orang yang ditunjuk Rasulullah Saw menjadi imam shalat ketika beliau sakit.

    • e) Orang yang disebut oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Dengan terpilihnya sahabat Abu Bakar As-Shiddiq Ra sebagai

    khalifah dengan cara musyawarah dan mufakat maka hilanglah perselisihan diantara para sahabat.

    5

    3.

    Urutan Pemerintahan Khulafaur Rasyidin Khulafaur Rasyidin adalah gear yang diberikan oleh Rasulullah

    SAW kepada para penganut beliau yang memerintah dengan adil dan bijaksana serta mendapat petunjuk dari Allah SWT.

    Ulama

    Ahlusunnah

    Wal

    Jama’ah

    sepakat

    bahwa

    masa

    pemerintahan Khulafaur Rasyidin itu berlangsung ± 30 tahun yaitu :

    • a. Khalifah Abu bakar Shiddiq, 2 tahun (11 H-13 H) atau (632-634 M). dipilih berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat.

    • b. Khalifah Umar Bin Khattab, 10 tahun (13-23 H) atau (634-644 M). diangkat berdasarkan surat wasiat dari khalifah Abu Bakar As- Shiddiq. Beliau wafat sebagai syuhada karena dibunuh oleh Abu Lu’luk seorang Yahudi.

    • c. Khalifah Ustman Bin Affan, 12 tahun (23-35 h) atau (644-656 M). Diangkat berdasarkan pilihan Dewan Formatur yang diketuai dan di wakili oleh sahabat Abdur Rachman Bin Auf. Beliau wafat sebagaai syuhada dibunuh oleh pemberontak.

    • d. Khalifah Ali Bin Abi Thalib, 5 tahun (35-40 H) atau (656-661 M).

    Diangkat

    secara

    paksa

    oleh

    para

    sahabat

    senior

    untuk

    menentramkan keadaan yang kacau balau akibat terbunuhnya khalifah Ustman Bin Affan oleh pembenrontak yang datang dari Mesir. Demi panggilan kewajiban sahabat Ali bersedia menerimanya, walaupun beliau bakal menghadapi berbagai tantangan dan fitnah. Untuk menghormati kesucian kota Makkah dan Madinah dari berbagai kerusuhan, beliau memindahkan pusat pemerintahan Islam dari kota Madinah ke kota Bashrah di Irak. Beliau wafat sebagai syuhada dibunuh oleh Abdul Rahman Bin Muljam seorang Khawarij.

    • 4. Kelompok Yahudi Sumber Perpecahan Umat Islam Diakhir masa pemerintahan khalifah Utsman datanglah sekelompok Yahudi dari Yaman dipimpin oleh pendeta Abdullah Bin Saba’ ke Madinah pura-pura masuk Islam. Tujuannya jelas untuk meruntuhkan

    6

    kekuasaan Islam dengan cara mengadu domba sesame umat Islam (Ingat politik penjajah Belanda di Indonesia).

    Adapun

    prakteknya

    diaa

    menyebarkan

    fitnah terhadap khalifah

    Utsman Bin Affan :

    • a. Pemilihan khalifah Utsman Bin Affan tidak sah, karena atas dasaar KKN yaitu sahabat Abdur Rachman Bin Auf yang diserahi oleh Dewan Formatur untuk memilih antara sahabat Utsman dan sahabat Ali kemudian dia memilih sahabat Utsman adalah family sahabat Utsman sama0sama dari bani Umayyah.

    • b. Khalifah utsman banyak mengangkat pejabat dari keluarganya sendiri yaitu Bani Umayyah.

    • c. Khalifah Utsman sangat boros di dalam menggunakan uang Negara, hanya untuk memperkaya keluarga Bani Umayyah.

    • d. Para pejabat Negara, utamanya gubernur Syam (Siria) yaitu sahabat Muawiyah Bin Abi Sufyan dan gubernur Mesir yaitu sahabat Amru Bin Ash hidup mewah suka berfoya-foya dengan uang negara

    (korupsi).

     
    • e. Disisi lain, dia Abdullah Bin Saba’ menjunjung dan memuja sahabat

    Ali setinggi langit dengan cara :

     

    a)

    Membuat

    hadist

    palsu

    (maudhu’)

    yang

    mengatakan

    bahwa

    sahabat Ali adalah “Al Wishoyah” yaitu orang yang diwasiati

    oleh Rasulullah Saw sebagai pengganti palsu.

    Tertulis di dalam Taurat bahwa setiap nabi mempunyai washi (putra mahkota) dan Ali adalah putra mahkota Nabi Muhammad Saw. Propaganda Abdullah Bin Saba ini berhasil membakar emosi sebagain umat islam, sehingga datanglah pemberontakan dari Mesir menuntut agar khalifah Utsman turun dari jabatan. Karena khalifah Utsman tidak mau maka pemberontakan menerobos masuk ke dalam rumah melalui atap, kemudian mereka membunuh khalifah Utsman yang sedang membaca Al-Qur’an dalam keadaan berpuasa, maka beliau mati syahid, masuk surga tanpa hisab. Dengan terbunuhnya khalifah Utsman oleh pemberontak yang mengaku umat Islam maka terbukalah pintu fitnah bagi umat islam yang tidak dapat ditutup lagi sampai turunnya Nabi Isa As ke dunia.

    7

    Setelah di pilihnya sahabat Ali Bin Abi Thalib sebagai Khalifah yang ke empat, fitnah bukannya redaa apalagi hilang akan tetapi semakin melebar banyak gubernur yang menginginkan jabatan khalifah, menuduh dan memfitnah sahabt Ali bersekongkol dengan pemberontak dalam pembunuhan khalifah Utsman Bin Affan Ra. Maka perang saudara pun tidak dapat dihindari lagi sehingga timbullah perang Jaml, perang Siffin, majlis Tahkim yang pada akhirnya memecah belah umat Islam menjadi beberapa Firqah. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebab-sebab terjadinya firqah-firqah adalah

    • a. Masalah politik (masalah dunia) yaitu rebutan jabatan Khaifah.

    • b. Fanatik kesukuan bangsa Arab Pada masa Rasulullah Saw masalah suku ini telah dihilangkan diganti dengan sebutan Muhajirin bagi umat Islam pendatang dan Ashar bagi penduduk asli Madinah. Tetapi setelah Rasulullah Saw wafat, fanatic kesukuan ini muncul kembali. Dengan tujuan menghimpun dukungan dan kekuatan seperti kabilah Aus, kabilah Khowarij, Suku Quraisy, Bani Hasyim dan Bani Umayyah.

    • c. Gerakan kaum munafik (orang kafir yang pura-pura masuk Islam) tidak bisa di antisipasi lagi, karena wahyu dari Allah sudah tidak turun.

    • d. Munculnya hadist-hadist palsu yang di buat oleh orang-orang Ahli Kitab (Yahudi Nasrani) dengan tujuan mengadu domba sesame umat Islam. Hadist-hadist palsu ini (maudhu)

    beredar dengan subur sampai

    datangnya Imam. Imam Muhaditsin yang menyeleksi hadist-hadist yang shaheh saja kemudian di bukukan yang di sponsori oleh enam orang Imam yaitu Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Nasai. Imam Ibnu Madjah dan Imam Abu Dawud. Karya mereka dosebut “Kutubus Sittah”.

    • e. Timbulnya masalah baru yang tidak pernah ada pada zaman Rasulullah Saw atau tidak pernah ditanyakan kepada Rasulullah Saw seperti tentang sifat-sifat Allah SWT, ayat-ayat Mutasyabihat dan

    8

    tentang keadilan Allah, sehingga muncullah “Ijtihad” yang hasilnya bisa berbeda.

    Dilihat dari segi permasalahan yang diperselisihkan, firqah-firqah dalam Islam dapat dikelompokkan menjadi :

    No

    Permasalahan yang diperselisihkan

    Nama Firqah atau Aliran

    .

    1.

    Sifat Tuhan dan Peng-Esaan sifat

    Karramiyah, Majassimah,

    Mu’tazilah, Asy’ariyah

    2.

    Qadar dan Keadilan Tuhan

    Qadariyah,

    Jabariyah,

    Nijariyah,

    Karramiyah,

    Asy’ariyah

    3.

    Janji dan Ancaman, batasan tentang Iman

    Marji’ah,

    Wa’idiyahh,

    dan Kafir

    Karramiyah,

    Mu’tazilah,

    dan Asy’ariyah

    4.

    Penentu baik dan buruk, risalah kenabian

    Syi’ah,

    Khawarij,

    dan Imamah

    Karramiyah,

    Mu’tazilah

    (kepemimpinan umat)

    dan Asy’ariyah

    Selain faktor-faktor tersebut di atas, perselisihan dikalangan umat islam dan timbulnya firqah-firqah dalam islam juga disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :

    • 1. Fanatik kesukuan dan ke-Araban.

    • 2. Perebutan khilafah.

    • 3. Hubungan antara umat Islam dengan pemeluk agama lain.

    • 4. Penerjemah buku-buku filsafat Yunani.

    • 5. Banyak pembicaraan hal-hal yang rumit.

    • 6. Ayat-ayat mutasyabbihat dalam al-Qur’an

    Sekalipun terdapat beberapa perbedaan pendapat yang melahirkan beberapa firqah dan aliran, baik dalam bidang politik, kepercayaan (akidah),

    maupun fikih, namun umat Islam tetap sepakat (tidak terjadi perselisihan) dalam hal-hal berikut ini :

    • 1. Keesaan Allah.

    • 2. Kedudukan Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah.

    9

    3.

    Kedudukan al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada

    Nabi Muhammad .

    • 4. Rukun-rukun Islam (shalat lima waktu, puasa, zakat, haji).

    • 5. Hal-hal yang ditentukan oleh agama secara pasti (qath’i) dan jelas, seperti: haram memakan daging babi, bangkai, minum minuman keras, zina dan lain-lain

    • B. Sebab-Sebab Timbulnya Firqah dalam Islam Setelah terpilihnya Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah yang keempat, fitnah bukannya reda apalagi hilang, akan tetapi semakin melebar banyak Gubenur yang menginginkan jabatan Khalifah, menuduh dan memfitnah khalifah Ali bersekongkol dengan pemberontak dalam pembunuhan khalifah Utsman bin Affan Ra. Maka perang saudarapun tidak dapat dihindari lagi sehingga timbullah perang Jamal, perang Siffin, Majlis Tahkim yang pada akhirnya memecah belah Umat Islam menjadi beberapa Firqoh. Sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Rasullah Saw dengan sabdanya :

    3. Kedudukan al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad . 4. Rukun-rukun Islam

    ”Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nasrani telah terpecah menjadi 72 golongan dan umat-ku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan yang selamat sedangkan sisanya celaka, para sahabat bertanya, “siapakah golongan yang selamat itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab “mereka adalah Ahlussunah wal Jama’ah”… (HR. Tabrani)

    Dalam hadist lain Rasulullah Saw. Bersabda:

    3. Kedudukan al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad . 4. Rukun-rukun Islam

    “Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jejak-ku dan jejak para sahabat-ku. (HR. Tirmidzi)

    10

    Berdsarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebab-sebab terjadinya firqoh adalah sebagai berikut :

    • 1. Masalah politik (masalah dunia) yaitu rebutan jabatan Khalifah.

    • 2. Fanatik kesukuan bangsa arab. Pada masa Rasulullah Saw. Masalah suku ini telah dihilangkan diganti dengan sebutan “Muhajirin” bagi umat islam pendatang dan “anshar” bagi penduduk asli Madinah. Tetapi setelah Rasulullah Saw. Wafat fanatic kesukuan ini muncul kembali. Dengan tujuan menghimpun dukungan dan kekuatan, seperti kabilah Aus, kabilah Khowarij, suku Quraisy, Bani Hasyim dan Bani Umayyah.

    • 3. Gerakan kaum munafik (orang kafir yang pura-pura masuk islam) tidak bisa diantisipasi lagi, karena wahyu dari Allah swt sudah tidak turun.

    • 4. Munculnya hadist-hadist palsu yang dibuat oleh orang-orang ahli Kitab (yahudi, Nasrani) dengan tujuan mengadu domba sesama umat islam. Seperti contoh di bawah ini

    Berdsarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebab-sebab terjadinya firqoh adalah sebagai berikut : 1. Masalah

    :

    Rasulullah Saw. Bersabda ,”yang dipercaya Allah di muka bumi ini

    hanya tiga orang yaitu, Saya, Jibril dan Muawiyah”.

    Berdsarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebab-sebab terjadinya firqoh adalah sebagai berikut : 1. Masalah

    Rasulullah Saw. Bersabda, “apabila kalian melihat Muawiyah di atas mimbar maka bunulah dia”.

    Hadist-hadist palsu (maudhu) ini beredar dengan subur, sampai datangnya imam. Imam muhadditsin yang menyeleksi hadist-hadist yang shaheh saja kemudian dibukukan yang disponsori oleh enam orang imam, yaitu: Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’I, Imam Ibnu Majah dan Imam Abu Dawud. Karya mereka disebut “Kutubus sittah”

    11

    • 5. Timbulnya masalah baru yang tidak pernah ada pada zaman Rasulullah Saw. Atau tidak pernah ditanyakan kepada Rasulullah Saw. Seperti, tentang sifat-sifat Allah SWT, ayat-ayat Mustasyabihat dan tentang keadilan Allah, sehingga muncullah “ijtihad” yang hasilnya bisa berbeda.

    Masalah Yang Diperselisihkan

    Menurut

    KH.

    Muhammad

    Hasyim Asy’ari dalam

    kitabnya:”Risalah ahlus sunnah wal jama’ah” sejarah semula umat islam

    di pulau jawa memiliki faham yang sama, baik dibidang aqidah, syari’ah maupun akhlak yaitu dibidang aqidah (Tauhid) mengikuti Madzhab Abu hasan, Al-Asy’ary, di bidang syari’ah Imam Syafi’I (Muhammah Bin Idris) dan di bidang akhlaq (Tasawuf) mengikuti madzhab imam Ghazali dan imam Abul Hasan As-Sadzali.

    Kemudian

    padatahun

    1330

    H

    datanglah faham baru yang

    melarang, bahkan mengharamkan amaliyah ziarah wali, talqin mayit, sedekah bagi orang yang sudah mati, tawashul, peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw., Marhabanan (diba’an) dan membaca doa qunut. Mereka itu adalah pengikut madzhab Muhammad Abdul Rasyid Ridho, Muhammad Bin Abdul wahab (wahabi). Mereka mengharamkan Taqlid kepada imam-imam madzhab dan mewajibkan setiap orang islam melakukan ijtihad. Faham ini muncul dari Arab Saudi. Kemudian muncul pula Madzhab Syi’ah Rofidhoh yang meghujat sahabat abu bakar dan umar bin khatab , mereka berlebih-lebihan memuja sahabat Ali bin Abi thalib, mereka mengatakan bahwa yang berhak menggantikan Rasulullah Saw menjadi khalifah hanyalah sahabat Ali sedangkan yang lain adalah perampok. Muncul faham yang mengatakan bahwa manusia itu laksana robot yang digerakkan oleh mesin, segala perbuatan manusia itu terjadi atas kehendak Allah, tidak ada usaha sedikitpun dari manusia itu sendiri sehingga perbuatan dosa manusia itu tidak akan disiksa selama dia beriman kepada Allah SWT. Munculnya faham yang berlawanan “Bahwa manusia itu bebas melakukan apa saja sesuai kehendaknya, tidak ada sedikitpun campur

    12

    tangan Allah di dalamnya, sehingga manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya serta menerima akibatnya. Faham-faham di atas berbeda dengan Ahlussunnah wal jama’ah yang mengambil jalan tengah antara faham Jabriyah dan Qadariyah.

    • C. Firqah-Firqah yang Berpengaruh

      • 1. SYI’AH Menurut etimologi, Syi’ah berarti pengikut atau pendukung. Menurut terminologi, Syi’ah adalah para pendukung Ali bin Abi Thalib. Ajaran dan pemikiran: Para nabi dan imam syi’ah adalah ma’shum (terhindar dari perbuatan dosa) dan wajib mendukungnya. Imamah merupakan hak Ali dan keturunannya. Sekte-sekte Syi’ah: Kaisaniyah (Karabiyyah dan Hasyimiyyah), Zaidiyah (Jarudiyyah, Sulaimaniyyah, dan Badriyyah atau Shalihiyyah), Imamiyyah (Ismailiyyah dan Itsna Asyariyyah), dan Ghulat (as-Sabaiyah dan al-Ghuraiyah),

      • 2. KHAWARIJ Secara bahasa: khawarij bentuk plural dari kharijah, artinya kelompok yang menyempal. Secara istilah: orang-orang yang menyatakan keluar dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib setelah peristiwa tahkim (arbitrase). Ajaran dan pemikiran :

        • a. Khalifah dipilih dengan pilihan yang bebas dan sah.

        • b. Khalifah tidak dimonopoli kalangan tertentu.

        • c. Pengangkatan pemimpin tidak wajib menurut syariat.

        • d. Orang yang berbuat dosa dianggap kafir.

    Sekte-sekte Khawarij :

    Azariqah, Najdat, Shafariyah, ‘Ajaridah, dan Ibadhiyah.

    • 3. MURJIAH Aliran ini timbul di Damaskus pada akhir abad pertama Hijriyah. Golongan ini dinamakan Murjiah, karena lafadz itu berarti menunda atau mengembalikan. Golongan ini berpendapat bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar itu tetap mukmin, tetapi ia tetap berdosa, sedang ketentuan nasibnya terserah kepada Allah kelak di akherat, apakah dimaafkan atas rahmatnya atau disiksa atas keadilan-Nya.

    13

    4.

    MU’TAZILAH

    Secara

    bahasa,

    Mu’tazilah

    berasal

    dari

    kata

    i’tazala,

    yaitu

    memisahkan diri. Karena pemisahan diri tokoh Mu’tazilah bernama Washil

    bin Atha, dari majelis Hasan al-Bashri. Secara istilah, kelompok yang memisahkan diri dari orang lain. Kelompok ini biasa disebut pula dengan Ashab al-Adl wa al-Tauhid

    (penyokong keadilan dan monoteisme), dan sering pula dijuluki dengan kelompok Qadariyyah dan ‘Adliyyah.

    Ajaran dan Pemikiran :

    • a. Prinsip tauhid : mengesakan Allah dengan tidak mempercayai sifat- sifat Allah.

    • b. Prinsip ‘Adl : Tuhan tidak berbuat buruk dan tidak melupakan apa yang wajib dikerjakanNya.

    • c. Prinsip al-wa’d wa al-wa’id: keadilan menghendaki supaya orang yang bersalah mendapat hukuman dan orang yang berbuat baik diberi upah, sebagaimana dijanjikan Tuhan.

    • d. Prinsip al-manzilah baina al-manzilatain: pembuat dosa besar bukanlah kafir dan bukan mukmin.

    • e. Prinsip amar ma’ruf nahi munkar: kewajiban amar ma’ruf nahi munkar dengan seruan dan bila perlu dengan kekerasan.

    Sekte-sekte Mu’tazilah :

    Al-Washiliyah, Al-Hudzailiyah, an-Nadhamiyyah, Al-khabithiyah dan al-Haditsiyah, al-Bisyariyah, al-Muammariyyah, al-Mardariyyah, as- Tsumamiyyah, al-Hisyamiyyah, al-Jahizhiyyah, al-Khayyathiyyah dan al-Ka’biyyah, al-Jubaiyyah dan al-Bahsyaniyyah.

    • 5. QADARIYAH Aliran ini muncul sekitar th 70 H. Yang dipelopori oleh Ma’bad Al- Jauhani Al-Bisri, Ghailan ad Dimsyqi.

    14

    Faham Qodariyah ini bagian dari faham Mu’tazilah, karena imam- imamnya terdiri dari orang-orang Mu’tazilah. Timbulnya aliran Qodariyah

    ini di Irak pada zaman pemerintah Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Aliran ini berpendapat, bahwa manusia itu mempunyai kekuasaan

    mutlak atas dirinya dan segala amal perbuatannya. Dengan kemauan dan kekuasaan sendiri, manusia dapat berbuat baik atau buruk dengan tidak ada kekuasaan lain yang memaksanya.

    • 6. JABARIYAH

    Aliran

    jabariyah

    (Jahamiyah) adalah golongan yang menentang

    gerakan Qodariyah. Pendirinya adalah Jaham bin Shafwan. Jahamlah yang

    mula-mula mengatakan bahwa manusia adalah dalam keadaan terpaksa.

    Pendapat-pendapat golongan ini di antaranya adalah :

    a.

    Surga dan Neraka itu tidak abadi, yang abadi hanyalah Tuhan saja.

    b.

    Allah tidak dapat dilihat kelak di akhirat.

    c.

    Tuhan itu tidak boleh mempunyai sifat-sifat yang sama dengan makhluk, tuhan tidak boleh dinyatakan mempunya sifat hayat ataupun sifat mati.

    d.

    Qur’an itu adalah sebagai makhluk Allah yang dibuatnya (artinya Hadits : Baru).

    • 7. ASWAJA (ASY’ARIYAH DAN MATURIDIYAH) Etimologi

     

    Ahl

    : Keluarga, pengikut , atau golongan.

    Al-Sunnah

    : Al-Thariqah wa law ghaira

    mardhiyah (jalan atau cara

    walaupun tidak diridhai). Al-Jama>‘ah : Perkumpulan, kumpulan orang yang memiliki tujuan. Aswaja : Kaum yang mengikuti jalan yang ditempuh Nabi

    Muhammad saw. dan para sahabatnya (khulafa>’ al-rashidi>n ). Ajaran Aswaja :

    a.

    Iman : percaya dengan adanya rukun iman yang enam.

    b.

    Islam : mengakui adanya rukun Islam yang lima.

    c.

    Ihsan : menghadirkan Allah dalam setiap ibadah

    Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah Islam murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi SAW dan sesuai dengan apa yang telah digariskan serta diamalkan oleh para sahabatnya. Ahlussunnah Wal-Jama’ah

    15

    bukanlah aliran baru yang muncul sebagai reaksi dari beberapa aliran yang menyimpang dari ajaran Islam hakiki. Tidak ada seorang pun yang menjadi pendiri Ahlussunnah Wal- Jama’ah. Yang ada hanyalah ulama yang merumuskan kembali ajaran Islam tersebut, setelah lahirnya beberapa faham dan aliran keagamaan yang berusaha mengaburkan ajaran Rasulullah dan para sahabatnya yang murni itu. Pengenalan istilah Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebagai suatu aliran dalam Islam, baru nampak pada para pengikut al-Asy’ari, seperti Al- Baqillani (w. 403H) Al-Baghdadi (w. 249) Al-Juwaini, Al-Ghazali As- Syahrastani dan Ar-Razi. Akan tetapi pendapat mereka tentang Aswaja bukan dalam kerangka madzhab. Baru pada pendapat az-Zabidi (w.1205 H) beliau secara tegas menyatakan bahwa yang dimaksud Aswaja adalah mereka yang mengikuti Asy’ari dan al-Maturidi. (Siradj, 2007:7).

    • D. Sikap NU Terhadap Firqah-Firqah dalam Islam

    Sejak

    didirikan

    pertama

    kali

    pada

    31

    Januari

    1926,

    melalui pendirinya Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari NU mengeluarkan rambu-rambu peringatan terhadap paham Syi’ah. Peringatan tersebut dikeluarkan agar warga NU ke depan berhati-hati menyikapi

    fenomena perpecahan akidah. Meski pada masa itu aliran Syi’ah belum sepopuler sekarang, akan tetapi KH. Hasyim Asya’ari memberi peringatan kesesatan Syi’ah melalui berbagai karyanya. Karya-karya tersebut diantaranya:

    • 1. Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

    • 2. Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama’ah.

    • 3. al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin.

    • 4. Al-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan

    KH. Hasyim Asy’ari, dalam kitabnya “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’” memberi peringatan kepada warga nahdliyyin agar tidak mengikuti paham Syi’ah. Menurutnya, madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah bukan madzhab sah. Madzhab yang sah untuk diikuti adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Beliau mengatakan: “Di zaman akhir ini tidak ada madzhab yang memenuhi persyaratan kecuali empat

    16

    madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Adapun madzhab yang lain seperti madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti” (Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’). KH. Hasyim Asy’ari mengemukakan alasan mengapa Syi’ah Imamiyyah

    dan Zaidiyyah termasuk ahli bid’ah yang tidak sah untuk diikuti

    Dalam kitab

    .. Muqaddimah Qanun Asasi hal, beliau mengecam golongan Syi’ah yang mencaci bahkan mengkafirkan sahabat Nabi SAW. Mengutip hadis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Al-Shawa’iq al-Muhriqah, Syeikh Hasyim Asy’ari menghimbau agar para ulama’ yang memiliki ilmu untuk meluruskan penyimpangan golongan yang mencaci sahabat Nabi SAW itu. Hadis Nabi SAW yang dikuti itu adalah: “Apabila telah nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang yang berilmu harus menampakkan ilmunya. Apabila orang yang berilmu tersebut tidak melakukan hal tersebut maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia”. Peringatan untuk membentengi akidah umat itu diulangi lagi oleh Syeikh Hasyim dalam pidatonya dalam muktamar pertama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, bahwa madzhab yang sah adalah empat madzhab tersebut, warga NU agar berhati-hati menghadapi perkembangan aliran-aliran di luar madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut. Dalam Qanun Asasi itu, Syeikh Hasyim Asy’ari menilai fenomena Syi’ah merupakan fitnah agama yang tidak saja patut diwaspadai, tapi juga harus diluruskan .. Pelurusan akidah itu menurut beliau adalah tugas orang berilmu, jika ulama’ diam tidak meluruskan akidah, maka mereka dilaknat Allah SWT. Kitab “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama” sendiri merupakan kitab yang ditulis oleh Syeikh Hasyim Asy’ari, berisi pedoman- pedoman utama dalam menjalankan amanah keorganisasian Nahdlatul Ulama. Peraturan dan tata tertib Jam’iyyah mesti semuanya mengacu kepada kitab tersebut. Jika Syeikh Hasyim Asy’ari mengangkat isu-isu kesesatan Syi’ah dalam “Muqaddimah Qanun Asasi”, itu berarti persoalan kontroversi Syi’ah dinilai Syeikh Hasyim sebagai persoalan sangat penting untuk diketahui umat Islam Indonesia. Artinya, persoalan Syi’ah menjadi agenda

    17

    setiap generasi Nahdliyyin untuk diselesaikan sesuai dengan pedoman dalam kitab tersebut. Pandangan yang sama pernah dilontarkan oleh Al-Maghfurlah KH. As’ad Syamsul ‘Arifin, kyai kharismatik dari PP. Salafiyyah Syafi’iyyah Situbondo Jawa Timur pada tahun 1985. Saat itu Kyai As’ad diwawancarai Koran Surabaya Pos tentang faham Syi’ah di Jawa Timur. Kyai yang disegani oleh warga nadliyyin itu menampakkan sikap tegas, menurutnya kelompok Syi’ah ekstrem harus dihentikan di Indonesia. Agar tidak meluas gerakannya, Kyai As’ad mengimbau umat Islam Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaannya. Jadi, sebenarnya sejak awal pendiri NU berpandangan bahwa paham Syi’ah telah melakukan penodaan agama. Bahkan jika mengamati butir-butir fatwa Syeikh Hasyim tersebut, penodaan Syi’ah itu telah melampau batas dan menukik jauh ke dalam keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga, sejak awalnya paham Syi’ah tidak diterima di kalangan NU. Wacana-wacana NU untuk kembali ke khittah 1926 selayaknya tidak sekedar dimaknai bercerai dengan partai politik manapun, akan tetapi yang lebih terpenting lagi adalah khittah yang telah dibangun pendiri NU dilaksanakan saat ini oleh semua elemen warga NU. Yaitu khittah kembali kepada kitab Qanun Asasi. Operasionalisasi khittah ini adalah membendung aliran sesat, seperti Syi’ah dan Ahmadiyyah. Khittah ini dapat dimaknai sebagai khittah untuk menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, bersih dari berbagai aliran-aliran sempalan yang menodai agama Islam. Karena berdirinya jam’iyyah NU adalah untuk menyebarkan paham yang benar tentang Ahlussunnah wal Jama’ah. Memang sudah semestinya, NU bersikap tegas terhadap aliran Syi’ah.

    BAB 3

    18

    PENUTUP

    • A. Kesimpulan

    Sejarah

    umat

    Islam

    sepeninggal

    Rasulullah

    SAW ditandai dengan

    munculnya berbagai golongan, kelompok dan aliran. Kemunculan golongan, kelompok dan aliran tersebut dilatar belakangi oleh persoalan politik yang menyangkut pembunuhan terhadap khalifah Usman bin Affan yang berbuntut penolakan Muawiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Sebab-sebab timbulnya firqah dalam islam adalah Fanatik kesukuan dan ke-Araban yang merupakan warisan jahiliyah. Perebutan kepemimpinan. Hubungan antara umat Islam dengan pengikut agama lain. Penerjemahan materi-materi filsafat. Mengkaji permasalahan-permasalahan yang sulit dipahami oleh akal. Firqah-firqah yang berpengaruh yaitu : Syi’ah, Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah, Aswaja (asy’ariyah dan maturidiyah). Sejak awal pendiri NU berpandangan bahwa paham Syi’ah telah melakukan penodaan agama. Bahkan jika mengamati butir-butir fatwa Syeikh Hasyim tersebut, penodaan Syi’ah itu telah melampau batas dan menukik jauh ke dalam keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga, sejak awalnya paham Syi’ah tidak diterima di kalangan NU.

    • B. Saran Dengan adanya makalah ini, para pembaca dapat memahami sejarah timbulnya firqah-firqah dalam islam dan dapat mengetahui firqah apa saja yang berpengaruh.

    DAFTAR PUSTAKA

    19

    Harun Nasution. 2006. Sejarah Teologi Islam. Jakarta: UI-Press

    Asy-syahrastani. 2006. Al-Milal wa Al-Nihal. Surabaya: PT Bina Ilmu

    Harun

    Nasution.

    2002.

    Teologi

    Islam

    perbandingan. Jakarta: UI Press

    :

    Aliran-aliran

    sejarah

    analisa

    Navis,

    Abdurrahman.

    2015.

    Risalah

    Ahlusunnah

    Wal-Jama’ah.

    Surabaya

    :

    Khalista

    20