Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam perspektif sejarah, kebutuhan intervensi dini muncul sebagai dampak
perkembangan teknik diagnostik dalam mengidentifikasi anak anak berkelainan sebelum
mencapai usia sekolah, serta pemahaman tentang pentingnya mengoptimalkan pengalaman
belajar anak selama periode perkembangan yang paling krusial, yaitu pada masa awal
perkembangan. Bagi anak berkelainan, diasumsikan bahwa lebih awal mereka diidentifikasi
dan mendapatkan pendidikan, akan lebih besar kesempatan untuk menghilangkan pengaruh
pengaruh negatif dari kondisi sendiri maupun terhadap lingkungan.
Gagasan intervensi dini terhadap anak berkebutuhan khusus awalnya dipelopori oleh
Hunt (1961) dan Blomm (1964). Hunt menyatakan bahwa intelegensi dapat ditingkatkan
apabila anak mendapatkan pengalaman dalam lingkungan yang tersektruktur. Sedangkan
Blomm menyimpulkan bahwa pengalaman anak yang diperoleh dari lingkungan memiliki
pengaruh besar terhadap perkembangan anak berikutnya, terutama pengalaman pengalaman
yang diperoleh dalam masa awal perkembangan.
Berangkat dari gagasan di atas, kemudian muncul berbagai penelitian yang intinya
menguatkan. Menurut Greco & Leonard (1988) beberapa penelitian tersebut diantaranya
adalah hasil penelitan Hayden dan Haring (1976) yang menemukan bahwa anak anak Down
Syndrome yang mengikuti pendidikan pra sekolah lebih menguasai keterampilan dalam
beberapa pelajaran sekolah dibandingkan yang tidak, temuan Hanson (1985) tentang dampak
intervensi dini pada anak anak yang mengalami kelainan sedang dan berat dan juga orang
tuanya, yang menunjukkan adanya perubahan perubahan tingkah laku yang positif
signifikan terhadap keduanya, hasil penelitian Moore, dkk (1981) yang menemukan adanya
perbedaan yang signifikan dalam keterampilan berbahasa, kemampuan akademik, menolong
diri, dan dalam keterampilan motorik pada anak anak terbelakang mental yang mengikuti
pendidikan pra sekolah dua tahun atau lebih dibandingkan yang hanya satu tahun atau kurang,
serta hasil penelitian Casto dan Mastropieri (1986) tentang pentingnya keterlibatan orang tua,
pelaksanaan program intervensi sedini mungkin, serta pentingnya program yang lebih
terstruktur pada anak anak yang kurang beruntung, berkelainan, dan anak dengan faktor
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
1

resiko guna meningkatkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, dan pertumbuhan sosioemosionalnya.
Selanjutnya agar diperoleh pemahaman yang lebih luas, mendalam, dan komprehensif,
berikut dibahas tentang konsep dasar intervensi dini, komponen, jenis, pendekatan dan model,
serta perbedaan deteksi dini, stimulasi, dan intervensi.
Dari latar belakang di atas, disini penulis akan membahas tentang intervensi dini.
Sehingga dengan diketahuinya bagaimana intervensi dini tersebut akan menambah
pengetahuan mengenai layanan pendidikan dan penangananyang tepat untuk diterapkan pada
anak berkebutuhan khusus sesuai sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka penulis merumuskan
masalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Bagaimana konsep dasar dari intervensi dini?


Apa saja komponen-komponen utama dari intervensi dini?
Bagaimana pendekatan-pendekatan dan model intervensi dini?
Bagaimana hakekat dan pentingnya deteksi dini, stimulasi dan intervensi dini?

C. Tujuan
1. Mengetahui konsep dasar intervensi dini, meliputi pengertian, sasaran, tujuan dan
manfaat intervensi dini.
2. Mengetahui komponen-komponen utama intervensi dini.
3. Mengetahui pendekatan-pendekatan dan model intervensi dini.
4. Mengetahui hakekat dan pentingnya deteksi dini, sytimulasi dan intervensi dini.

BAB II
PEMBAHASAN
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
2

A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Istilah intervensi berasal dari bahasa inggris intervention yang berarti suatu
penangan, layanan, atau tindakan campur tangan. Istilah intervensi secara umum juga
sudah dikenal baik, termasuk oleh masyarakat awam.Namun umumnya ditafsirkan dan
berkonotasi negatif, sebagaimana yang banyak terjadi dibidang politik.Dalam tulisan ini
intervensi yang dimaksudkan lebih bersifat positif karena ditunjukan untuk membantu
anak berkebutuhan khusus dalam rangka mencapai perkembangan optimal.
Fallen dan Umansky (1985:189) menegaskan bahwa intervensi merujuk pada
layanan tambahan atau modifikasi, strategi, teknik, atau bahan yang diperlukan untuk
merubah perkembangan yang terhambat.Secara sederhana intervensi dapat diartikan
sebagai suatu bentuk bantuan, penangan, layanan, atau tindakan campur tangan terhadap
suatu masalah atau krisis yang dihadapi individu, dengan tujuan untuk mencegah
berkembangnya permasalahan dan mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh masalah
atau krisis tersebut. Sedangkan istilah dini berarti awal, yaitu usia awal atau seawal
mungkin. Berdasarkan pengertian tersebut, intervensi dini dapat mengandung dua makna:
1) Penanganan atau tindakan campur tangan yang dilakukankepada anak pada usia
dini atau pada tahap perkembangan awal, yaitu pada anak usia 0 5 tahun, balita,
atau usia pra sekolah, dan
2) Penanganan atau tindakan campur tangan yang dilakukan seawal atau sesegera
mungkin setelah diketahui adanya suatu permasalahan atau sebelum sesuatu yang
dikhawatirkan bakal terjadi. Dalam pengertian yang kedua tindakan tersebut tidak
dibatasi oleh usia. Dalam penulisan ini makna intervensi dini lebih diarahkan pada
tindakan yang dilakukan pada makna yang pertama, yaitu pada tahap
perkembangan awal.
Kusnadi (2004) menjelaskan bahwa intervensi dini

adalah kegiatan untuk

merangsang kemampuan dasar anak, dilakukan pada anak dengan keterlambatan


perkembangan dengan maksud mengejar ketinggalan atau agar penyimpangan yang
terjadi tidak bertambah berat, serta dapat melakukan kegiatan sehari hari sesuai
usianya.
Baker dan Brightman (1997) menjelaskan bahwa intervensi dini adalah tindakan
yang diberikan untuk mempengaruhi perkembangan dan belajar anak sejak lahir sampai
dengan usia 5 tahun yang mengalami kelainan atau kelambatan perkembangan atau anak
anak dengan faktor resiko baik karena faktor biologis maupun lingkungan. Intervensi
dini meliputi sistem, layanan, dan pendukungan yang sengaja dirangcang untuk
meningkatkan perkembangan anak, memperkecil potensi terhadap terjadinya kelambatan
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
3

perkembangan dan kebutuhan untuk memperoleh layanan pendidikan khusus, dan


meningkatkan kapasitas para keluarga dan pengasuh.
Early intervention is undertaken to influence the development and learning of
children from birth 5 years who have a developmental disability/delay or who are at risk
due to biological or environmental factors. Early intervention includes systems, services,
and support designed to enhance the developmental of young children, minimize the
potential of developmental delay and need for special education services, and enhance
the capacity of families as caregivers.
Di Amerika Serikat, berdasarkan hokum federal (P.L.102-119) Negara memberikan
jaminan dan hak hak khusus kepada berkebutuhan khusus usia 0 5 tahun. Hokum
tersebut saat ini telah diamandemen pada tahun 1975 melalui P.L. 94 142 tentang the
Education For All Handicapped Childrens Act (EHA),yang mengharuskan seluruh
negara bagian memberikan pendidikan kepada semua anak berkelainan. Selanjutnya pada
tahun 1986, EHA tersebut telah diamandemen melalui P.L. 99 457 yang didalamnya
antara lain menegaskan bahwa anak anak yang berusia 3 tahun dapat menerima layanan
atau program khusus pendidikan khusus. Bahkan didalamnya juga mencangkup layanan
kepada anak anak berkelainan usia sejak lahir, yang dikenal dengan the Handicapped
Infant and Toddlers Program (part H). sejak tahun 1990 hukum tersebut telah banyak
mengalami perubahan, di antaranya adalah terjadinya perubahan nama dari EHA menjadi
IDEA (the Individuals with Disabilities Act) seperti yang kita kenal sekarang ini.
Berdasarkan hal di atas, pelaksanaan intervensi dini pada anak berkebutuhan khusus
telah menjadi tanggungjawab seluruh negara bagian dan dilaksanakan secara gratis.
Dalam impelementasinya, pelaksanaan intervensi dini dibagi menjadi dua, yaitu untuk
anak anak usia 0 2 tahun meklalui layanan intervensi dini yang dipimpin oleh seorang
coordinator layanan dan dilakukan dalam bebagai setting, seperti di rumah, klinik ,
rumah sakit, pusat perawatan anak, atau departemen kesehatan setempat. Sedangkan
untuk usia 3 5 tahun dilakukan program layanan pendidikan khusus (special education),
program pendidikan khusus (special education programs), layanan pendidikan khusus
(special education services), atau program dan layanan pendidikan khusus (special
education programs and services), suatu program yang secara khusus didesain di sekolah
umum, dan layanan lain yang relevan dengan kebutuhan anak. Di Amerika Serikat, salah
satu lembaga yang terkenal dengan program ini adalah the National Information Center
for Children and Youth with Disabilities (NICHCY).
Sementara itu, Departemen Pendidikan Amerika Serikat menjelaskan bahwa :
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
4

a) Intervensi dini berlaku untuk anak anak usia sekolah atau yang lebih muda yang
berkelainan atau memiliki faktor resiko dalam perkembangannya, atau anak
berkebutuhan khusus lainnya yang dapat berdampak pada perkembangannya.
b) Intervensi dini merupakan layanan terhadap anak dan keluarganya dengan tujuan
untuk mengurangi dampak negative dari kondisinya.
c) Intervensi dini dapat berupa tindakan remedial terhadap problem perkembangan atau
pencegahan.
d) Intervensi dini dapat focus kepada anak itu sendiri atau bersama sama dengan
keluarganya.
e) Program intervensi dini dapat dilaksanakan melalui pendekatan yang berbasis center,
berbasis rumah, atau berbasis rumah sakit, atau kombinasi dari pendekatan
pendekatan tersebut. Rentang layanan mulai dari identifikasi melalui penjaringan di
sekolah atau rumah sakit dan layanan referral untuk kepentingan diagnose sampai
dengan program intervensi langsung.
f) Intervensi dini dapat dimulai kapan saja , seawall mungkin , sejak lahir sampai
dengan usia sekolah.
Greco, V & Leonard.D. (1988) secara tegas menyatakan bahwa intervensi dini
merupakan program yang sengaja didesain untuk mengoptimalkan pengalaman belajar
anak selama periode perkembangan yang krusial, yaitu pada masa awal perkembangan.
Pentingnya perkembangan awal terhadap keberhasilan dalam perkembangan selanjutnya,
telah didokumentasikan oleh banyak peneliti, yang menekankan bahwa lima atau enam
tahun pertama kehidupan anak merupakan periode yang sangat potensial baik dalam area
perkembangan fisik, perceptual, bahasa, kognitif, maupun efektif. Awal perkembangan
anak juga sangat penting untuk anak anak berkelainan, diasumsikan bahwa lebih awal
mereka diidentifikasi dan mendapatkan pendidikan, akan lebih besar kesempatan untuk
menghilangkan pengaruh pengaruh negative dari kondisi kecacatannya, baik terhadap
anak sendiri maupun terhadap masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditegaskan bahwa intervensi dini adalah suatu
program layanan khusus yang sengaja dirancang untuk anak anak bereutuhan khusus
usia balita

dalam rangka mengoptimalkan

perkembangannya,

mencegah

atau

memperkecil potensi terhadap terjadinya kelambatan perkembangan dan kebutuhan untuk


memperoleh layanan pendidikan khusus, dan meningkatkan kapasitas para keluarga dan
pengasuh. Sedangkan pengertian anak berkebutuhan khusus sendiri merajuk pada anak
anak berkelainan, cacat , dan anak anak dengan faktor resiko, sebagaimana
dikemukakan oleh NICHCY bahwa : children with special needs or special needs
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
5

children refer to children who have disabilities or who are at risk of developing
disabilities.
Agar tindakan intervensi ini dapat berjalan dengan baik dan memenuhi sasaran,
terlebih dahulu harus dapat memahami setepat mungkin sifat dari masalah masalah
tersebut. Pengetahuan dasar ini sangat penting agar dapat menentukan langkah apa saja
yang harus diambil. Intervensi yang dilakukan juga bertujuan untuk memaparkan fakta
tentang keadaan yang terjadi secara obyektif, tidak membeda bedakan, tidak
mengakimi, dan sekaligus sebagai bentuk ungkapan kasih sayang, perhatian, dan
kepedulian terhadap suatu permasalahan yang dihadapi anak berkebutuhan khusus
sehingga tidak berkembang atau berdampak negative di kemudian hari.

2. Sasaran
Sasaran utama intervensi dini adalah anak-anak berkebutuhan khusus usia di bawah
lima tahun, yang meliputi:
a. Anak-anak dengan faktor resiko, yaitu individu-individu yang memiliki atau dapat
memiliki problem dalam perkembangannya yang dapat berpengaruh terhadap
kemampuan belajar selanjutnya. Termasuk dalam kelompok ini misalnya anak-anak
yang lahir dari keluarga miskin, lahir prematur, kurang gizi, penderita penyakit
kronis, dan sebagainya.
b. Anak dengan kelambatan perkembangan, yaitu individu-individu yang akibat dari
kondisi fisik atau mentalnya dapat berpengaruh atau menghambat perkembangan
kemampuan, prestasi, dan atau fungsinya pada saat anak masuk dalam setting
pendidikan bersama-sama anak normal pada umumnya.
c. Anak-anak dengan kelainan pasti, yaitu individu-individu secara nyata telah
mengalami hambatan atau gangguan dalam perkembangannya dibandingkan dengan
anak-anak normal pada umumnya.
Ditinjau dari aspek tumbuh kembang, yang menjadi sasaran utama intervensi dini
adalah aspek perkembangan.Menurut Kusnadi (tth) aspek perkembangan tersebut
mencakup aspek perkembangan gerak kasar, gerak halus, berbicara, bahasa, dan
kecerdasan, serta kemampuan bergaul dan mandiri.Sedangkan menurut IDEA (1994)
ruang lingkup intervensi dini mencakup aspek perkembangan fisik, kognitif, komunikasi,
sosial atau emosional dan perilaku adaptif.

3. Tujuan dan manfaat


Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
6

Secara umum, tujuan intervensi dini adalah untuk membantu agar anak dapat tumbuh
dan berkembang secara optimal sesuai kapabilitasnya mendorong dan membentu orang
tua dalam mengembangkan anaknya serta mengatasi masalah-masalah psikologis sosial
yang muncul, serta memaksimalkan manfaat anak dan keluarga dalam kehidupan
bermasyarakat. Kofi Marfo (1988) menjelaskan bahwa tujuan utama intervensi dini pada
anak berkebutuhan khusus adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak.
Dipercayai bahwa melalui program intervensi dini yang dilakukan dengan mengajarkan
keterampilan dan kompetensi khusus pada orang tua, akan berpengaruh terhadap interaksi
antara orang tua dan anaknya. Sehingga mampu menghasilkan kemampuan belajar yang
lebih baik daripada intervensi yang dilakukan pada tahap perkembangan berikutnya.
Baker dan Feinfield (2003) menyatakan bahwa hasil yang diharapkan dari intervensi
dini adalah agar anak mampu mengembangkan keberfungsian kemampuan kognitif,
emosional, perilaku, komunikasi, dan sosial dengan baik, sedangkan bagi orang tua
diharapkan dapat memperoleh keuntungan dalam meningkatkan kehidupannya,
pengajaran dan pengasuhan, serta dalam perawatan kesehatan anaknya.
Telah disepakati oleh para ahli pendidikan maupun psikologi bahwa masa
perkembangan anak (balita) merupakan masa yang paling peka dan cepat dalam belajar,
sekaligus, pondasi untuk tahap perkembnagn berikutnya.Atas dasar ini bagi anak-anak
yang berkebutuhan khusus, pada masa ini merupakan masa yang paling tepat untuk
dilakukan intervensi, dengan memaksimalkan kesiapannya agar tidak kehilangan
kesempatan untuk belajar. Sebab, apabila hal ini tidak dilakukan, besar kemungkinan
anak akan mengalami berbagai kesulitan dalam perkembangan berikutnya. Karnes dan
Lee (1978) menegaskan bahwa Hanya dengan intervensi dan program yang tepat anak
dapat mengembangkan potensinya.
Layanan intervensi dini juga memberikan manfaat yang signifikan terhadap orangtua
dan keluarganya.Hal ini karena orangtua anak berkebutuhan khusus seringkali merasakan
kekecewaan, pengasingan sosial, tekanan, frustrasi, dan ketidakberdayaan.Kondisi ini
dapat berdampak negatif pada kesejahteraan keluarga dan pada akhirnya dapat
berpengaruh terhadap perkembangan anak, anak menjadi tidak terurus dengan baik
dibandingkan dengan anaknya yang normal.
Melalui intervensi dini, orangtua dapat meningkatkan sikap, baik terhadap dirinya
sendiri maupun terhadap anaknya, meningkatkan pemahaman dan ketrampilan
mendukung yang diperlukan dalam mendidika dan mengasuh anaknya.Terutama dalam
memenuhi kebutuhan-kebutuhan khususnya. Melalui intervensi dini perkembangan anak
juga akan lebih meningkat, mencegah gangguan atau hambatan dalam perkembangan
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
7

berikutnya, mampu memperoleh pendidikan yang lebih baik, dan pada akhirnya, mampu
meningkatkan kemandirian dan konsep dirinya sehingga menjadikan anak tidak
bergantung pada lingkungannya.
Intervensi juga dapat dipandang sebagai bentuk investasi jangka panjang, yang
berupa penghematan-penghematan dalam biaya pendidikan yang dibutuhkan berikutnya
melalui pencegahan dan reuksi terhadap hambatan belajar secara tepat memungkinkan
anak tidak memerlukan layanan pendidikan khusus dan layanan lain di kemudian hari.
Sebagai gambaran, menurut Select Commitee on Children, Youth, and Families (1985,
daam Greco, V dan Leonard, D., 1988) dilaporkan bahwa setiap investasi $ 1 US di
pendidikan prasekolah akan kembali $ 4,75 dalam bentuk simpanan. Pembiayaan yang
diberikan pada dua tahun dalam pendidikan prasekolah akan kembali 3,5 kali dari
investasi awal yang diberikan. Ditegaskan pula bahwa intervensi terhadap anak-anak
berkelainan diberikan setelah anak berusia 6 tahun, maka pembiayaan pendidikan sampai
dengan 16 tahun diperkirakan mencapai $ 53.350 US, sedangkan bila intervensi diberikan
sejak lahir, diperkirakan hanya mencapai $ 37.272 US, yang berarti akan menghemat
sebanyak $ 16.078 US.

4. Intervensi sebagai fungsi pencegahan


Pencegahan adalah cara terbaik dalam menanggulangi suatu masalah. Karena itu,
alasan utama perlunya intervensi dini anak berkelainan adalah untuk mencegah
munculnya kelainan yang bersifat sekunder, yaitu munculnya gangguan perkembangan
yang dihadapi serta meminimalisasi munculnya dampak negatif ikutan yang mungkin
ditimbulkannya.
Tidak hanya intervensi pada awal tahun kehidupan anak berkelainan dapat
mengembangkan

tingkah

laku

yang

dapat

merintangi

kemampuan

belajar

berikutnya.Dalam banyak hal, banyak perilaku yang harus diperbaiki sebelum


berlangsungnya masa produktif untuk belajar, agar tidak mengahalangi atau kehilangan
banyak kesempatan untuk belajar yang diperlukan untuk mendukung perkembangan
berikutnya.Intervesi dini yang baik mampu menjadi media yang efektif untuk mencegah
agar problem perkembangan anak tidak meluas, mendalam, dan berdampak negatif pada
aspek perkembangan lainnya.Bagi anak berkebutuhan khusus yang sifatnya sementara
atau temporer, intervensi dini diharapkan mampu mencegah agar tidak berkelanjutan atau
menjadi permanen. Hambatan belajar yang berkelanjutan jelas akan merugikan berbagai
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
8

aspek perkembangan, sehingga akan banyak kehilangan kesempatan dalam kehidupan,


kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, kehilangan,
teman, keterampilan, pekerjaan, dukungan sosial dan kepercayaan diri. Hal ini sekaligus
menempatkan pentingnya intervensi dini sebagai langkah awal untuk menyelamatkan
masa depan anak.
Sekalipun dalam banyak hal intervensi dini tidak dapat dilakukan sebaik pencegahan
primer sebagaimana pengobatan atau intervensi sebelum seseorang dinyatakan sakit
seperti dalam program vaksinasi dan imunisasi. Namun, intervensi dini tetap merupakan
cara terbaik untuk meminimalisasi dampak negatif dari hambatan belajar yang
dialaminya dalam berbagai aspek perkembangan.
Bagi masyarakat terutama keluarga, melalui intervensi dini mampu mencegah
munculnya kondisi-kondisi yang kurang menguntungkan dalam mengasuh dan mendidik
anaknya yang berkebutuhan khusus, mencegah kondisi-kondisi yang diprediksikan dapat
menimbulkan kecacatan, termasuk terhadap kemungkinan terjadinya sebab-sebab cacat
bawaan, serta mencegah terjadinya kesalahan-kedalahan dalam diagnosis.

B. Komponen
Intervensi adalah suatu proses pemenuhan kebutuhan terhadap anak-anak
berkebutuhan khusus melalui campur tangan lingkungan dengan maksud merubah suatu
perkembangan yang terlambat atau menyimpang. Tindakan ini sifatnya individual dan
meliputi beberapa modifikasi atau tambahan layanan, strategi, teknik, atau materi yang
diperlukan untuk memaksimalkan potensi anak. Walaupun secara ilmiah dapat dilakukan
dalam berbagai bentuk, namun harus tetap fleksibel dan secara esensial tidak
meninggalkan elemen atau komponen-komponen utamanya, sehingga apa yang dilakukan
mampu menjamin terjadinya perubahan positif dalam perkembangan anak berkebutuhan
khusus.
Beker dan feinfield (2003) menjelaskan bahwa dalam intervensi dini terdapat lima
komponen utama, yaitu : (1) multidisipliner, (2) fokus terhadap kebutuhan anak dan
keluarga, (3) individual, (4) mengikuti sistem layanan pengiriman lokal, dan (5) berbasis
pada riset dengan desain kontrol yang dilakukan secara random. Sedangkan menurut
Fallen dan Umansky (1985) komponen utama intervensi meliputi : (1) intervensi dini, (2)
keterlibatan orang tua, (3) riset, (4) interaksi asesmen dan intervensi, (5) layanan
multidisplin, (6) latihan professional, dan (7) pengembangan staf. Dengan mengacu pada
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
9

pendapat tersebut, komponen-komponen utama yang harus dikembangkan dalam


intervensi dini adalah sebagai berikut :
1. Fokus kepada pemenuhan anak dan keluarga
Esensi dasar intervensi dini adalah dalam rangka pemenuhan kebutuhan anak
berkebutuhan khusus dan keluarganya. Adanya hambatan belajar dan perkembangan
pada anak disamping akan memunculkan sejumlah kebutuhan khusus pada diri anak,
juga memunculkan berbagai persoalan dan harapan pada diri orang tua dalam
hubungan dengan anaknya. Dalam intervensi dini, kedua-duanya harus dijadikan
sebagai kepedulian utama agar anak terhindar dari berbagai permasalahan yang dapat
menghambat atau mengganggu perkembangan optimalnya.Bagi orang tua, diharapkan
mampu mereduksi berbagai persoalan yang dihadapi serta secara aktif mampu
memainkan peran yang lebih besar dalam membantu perkembangan optimal anaknya.
2. Keterlibatan orang tua
Keterlibatan orang tua merupakan elemen kunci dalam intervensi dini dan
sangat menguntungkan tidak hanya pada orang tua sendiri, tetapi juga anak dan ahli
yang lain. Karena itu, program intervensi dini akan lebih efektif apabila ahli atau staf,
tidak hanya memfokuskan pada pola-pola yang sifatnya ajakan atau bekerja sama,
tetapi lebih kepada bentuk-bentuk yang sifatnya pemberdayaan orang tua, terutama
melalui berbagai program pelatihan sesuai dengan kebutuhan khusus anak dan
permasalahan yang dihadapinya. Bagaimanapun juga orang tua lah yang paling
signifikan dan bertanggung jawab terhadap anaknya.
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam
intervensi dini dapat memunculkan akselerasi belajar anak (Shearer dan Shearer,
1977), merupakan kekuatan terhadap terjadinya perubahan-perubahan yang konstruktif
(Tjosem (1976).Sedangkan Brofenbrenner (1974) menyatakan bahwa efektivitas
intervensi dini bukan terletak kepada guru atau sekolah, tetapi kepada keluarga,
sehingga merupakan kunci sukses yang paling penting.Karena itu tujuan pertama dan
utama dalam intervensi dini adalah memapankan hubungan yang emosional yang kritis
antara anak dan orang tua, yaitu hubungan timbal balik dalam rangka memenuhi
kebutuhan anak.Meningkatkan motivasi, meningkatkan frekuensi dan kekuatan dalam
respon-respon yang saling berhubungan guna menghasilkan perilaku adaptif timbal
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
10

balik, dan pada akhirnya meningkatkan keefektifan orang tua dalam menjalankan
fungsi dan peranannya sebagai guru (Fallen dan Umansky, 1985).
Salah satu aspek penting dari keterlibatan orang tua dalam intervensi dini
adalah relasi ibu dan anak. Ramey dan Gowen (1980, dalam Fallen dan Umansky,
1985) menyatakan bahwa interaksi ibu dan anak lebih dari pada jenis dan materi yang
digunakan, dan secara konsisten berhubungan dengan bagaimana perkembangan anak
selanjutnya. Karena itu inti dari strategi intervensi hakekatnya adalah baik dan
kondisi-kondisi yang mendukung dari orang tua.Orang tua adalah guru yang paling
efektif apabila mereka diberi dukungan. Disisi lain juga disebutkan bahwa pengambilahlian oleh tenaga profesional cenderung menjadikan orang tua kurang percaya diri
dan memandang intervensi dini sebagai salah satu elemen perusak atau pengganggu
kehidupannya.

3. Individual
Setiap individu adalah unik.Atas dasar ini keseluruhan program intervensi dini
yang berkembang harus berpijak pada keunikan anak berkebutuhan khusus secara
individual. Artinya ia dijadikan sebagai unsur sentral yang harus diperhatikan, tetapi
bukan berarti harus diistimewakan. Namun, disesuaikan dengan kondisinya bahwa
secara potensial masing-masing anak memiliki kelebihan dan sekaligus kekurangan,
hambatan, ketidakmampuan, keterbatasan, atau ketidak sanggupan tertentu, sehingga
tampil dalam keunikan karakteristik.Permasalahannya, dan kebutuhannya masingmasing.Melalui pertimbangan secara individual, program intervensi yang dilakukan
diharapkan mampu memberikan berbagai kemudahan anak untuk belajar dalam rangka
memenuhi kebutuhan khususnya sehingga benar-benar mampu menjamin keberhasilan
pencapaian tujuan intervensi yang telah ditetapkan.
Kondisi neurologi, psikologis, dan sosial yang menyertai anak berkebutuhan
khusus dapat mempengaruhi sistem respon yang dimilikinya, terutama dalam
karakteristik gaya belajarnya. Terkait dengan ini, gaya belajar tersebut perlu dikenali
atau diidentifikasi untuk disesuaikan dengan pendekatan, metode, atau teknik
intervensi yang akan dilaksanakan.
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
11

4. Riset
Dalam banyak hal, layanan intervensi dini merupakan aplikasi dari temuantemuan penelitian yang dikembangkan sebelumnya karena itu dinamika layanan
intervensi dini cenderung berjalan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang dihasilkan melalui kegiatan-kegiatan penelitian.Riset dapat memberi
arah dalam perkembangan praktek dilapangan.Karena itu riset merupakan kebutuhan
mendasar dan terus-menerus bagi profesional, agar dihasilkan tema-tema yang lebih
maju dan lebih baik.
Tjoesm (Fallen dan Umansky, 1985) menegaskan bahwa keseimbangan
pengguna riset dan penilaian merupakan hal yang penting dalam perkembangan
efektivitas program intervensi dini, karena itu hasil-hasil penelitian harus terus
disintesakan dan dikomunikasikan sehingga diperoleh pemahaman dan makna yang
lebih luas untuk kemudian diterjemahkan dan diaplikasikan dalam praktek-praktek
layanan intervensi dini. Perlunya riset hakekatnya adalah untuk menjawab pertanyaanpertanyaan yang relevan dengan permasalahan yang berkembang di lapangan menuju
upaya-upaya penanganan yang lebih baik dan efektif.Dalam banyak hal, perubahanperubahan yang terjadi dalam program asesmen dan intervensi dini banyak berangkat
dari hasil-hasil penelitian yang mutakhir.
5. Interaksi assesmen dan intervensi
Dalam intervensi dini, assesmen dan intervensi tidak dapat dipisahkan dan
harus terus menerus berinteraksi secara intensif tiada henti. Interaksi adalah pertukaran
insformasi antara petugas assemen dan intervenor (therapist) dalam rangka
meningkatakan kualitas intervensi yang diberikan. Hanya dengan Interaksi yang
intensif dan terus menerus akan dicapai bentuk yang paling baik dalam rangka
menjawab dengan pasti seluruh kemungkinan pertanyaan yang terkait dengan evaluasi
intervensi.
Tanpa adanya interaksi anatara petugas assesmen dan pelaksana intervensi,
maka keberhasilan intervensi akan sulit dicapai. Karena itu masing masing dituntut
untuk memiliki hubungan inisiatif saling berinteraksi, berkomunikasi, membina
hubungan personal yang positif dan akarab dan secara periodik bertemu

Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus


Intervensi Dini
12

mendiskusikan temuan masing masing serta perencanaan program secara rinci dan
implementasinya.
Assesmen merupakan bagian integral dari intervensi, buakan bagian. Karena
itu problem dalam intervensi secara langsung juga berhubungan dengan assesmen.
Artinya bahwa ketidatepatan assesmen dapat berdampak pada kurang tepatnya
program intervensi. Kerena itu pula keduanya harus melekat. Implikasinya, data dan
insformasi yang diperoleh dari assesmen yang dilakukan dalam setiap intervensi,
hakekatnya adalah modal dasar untuk arah intervensi berikutnya. Sebagai gambaran,
assesmen yang melekat adalah penggunaan observasi untuk menentukan apakah anak
gagal atau berhasil dalam suatu tugas, penggunaan skala penilaian untuk mengetahui
apakah anak

sudah siap atau belum untk melakukan tugas tugas yang lebih

kompleks, atau penggunaan tes standar untuk membandingkan dengan anak lain yang
sebaya.

6. Layanan Multidisiplin
Layanan multidisiplin merupakan salah satu elemen yang paling penting dalam
intervensi dini, terutama dalam rangka menjamin efektifitas program intervensi dini,
medapatkan kesepakatan di antara para ahli terkait dengan permasalahan yang
dihadapi anak berkebutuhan khusus dan upaya penanganannya. Hal ini diperlukan
karena masalah perkembangan manusia merupakan masalah yang kompleks,
sementara itu akumulasi dari dampak kondisi kelainan yang dihadapi anak., dapat
bermuara kepada perlunya layanan spesifik dari masing masing ahli dalam suatu tim
multidisiplin. Dengan demikian program intervensi yang dikembangkan mampu
memiliki spketrum yang lebih luas dan mampu menjangkau persoalan persoalan
mendasar yang dihadapi anak berkebutuhan khusus.
Intervensi dini adalah pekerjaan profesional. Untukitu harus dilaksanakan
secara profesional dan oleh orang yang profedional di bidangnya. Hal ini berarti
menuntut orang orang yang memiliki keunggulan kualitas pribadi yang didukung
dengan keilmuan yang memadai dan wawasan yang luas sesuai dengan bidang
ilmunya. Ahli ahli yang diperlukan dalam tim multidisiplin tersebut antara lain guru,
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
13

orthopedagok, konselor, psikolog, dokter, ahli gizi, serta ahli terapi (ahli terapi bicara
dan bahasa, ahli terapi fisik, ahli terapi okupasi, dsb). Dalam model intervensi
pendidikan, guru atau orthopedagok harus mampu menjalankan fungsi dan peranannya
sebagai ujung tombak dan koordinator dari keseluruhan program intervensi yang
dilakukan, serta mampu menjamin tim tersebut bekerja secara harmonis dan terpadu.
7. Latihan profesional
Sebagaimana ilmu pengetahuan yang lain, ilmu pengetahuan tentang intervensi
dini tidak pernah berhenti berkembang sehingga mengalami kemajuan dari waktu ke
waktu, bahakan dalam beberapa hal kemajuan tersebut dirasakan begitu pesat. Atas
dasar ini latihan profesional harus menjadi elemen penting dalam intervensi dini.
Konsekuensinya, setiap ahli maupun staf yang terlibat dalam intervensi dini harus
merasa bahwa pengetahuan dan ketrampilan yang sudah dimiliki belumlah cukup
dalam rangka mengimplementasikan program intervensi yang efektif, karena itu ia
harus terus belajar dan belajar meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun
latihan. Kondisi ini juga dirasakan semakin penting mengingat setiap kasus yang
dihadapi dalam program intervensi dini adalah unik sehingga untuk memenuhi
kebutuhan masing masing kasus diperlukan layanan yang menuntut ketrampilan
spesifik.
8. Pengembangan staf
Sering kali dalm program intervensi dini juga melbatka tenaga para
profesional. Untuk menghindari kesenjangan pengetahuan dan wawasan mereka
dengan tenaga profesional sebagai akibat perbedaan tingkat pendidikannya, maka
diperlukan kegiatan pengembangan staf secara terus menerus. Hal ini penting agar
terjadi peningkatan pemahaman terhadap istilah istilah dan metodelogi yang
digunakan oleh disiplin ilmu yang berbeda.
Melalui pengembangan staf juga kan membantu dalam meberikan insformasi
dan kesiapan terhadap kecenderungan mutakhir yang terjadi serta kejelasan kerangka
teoritik terhadap program yang diimplementasikan. Pengembangan staf juga dapat
menjadikan pelaksanaan program menjadi konsisten, mereduksi ketegangan di antara
pekerja dan membantu memperoleh ketrampilan baru, meningkatkan motivasi dan
komitmen diri. Dengan demikian anggota staf akan lebih percaya diri dan memperoleh
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
14

kepuasan dalam bekerja, sehingga program program yang dilakukan dapat dilakukan
dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien.

C. Pendekatan dan Model


1. Pendekatan
Pendekatan atau jenis intervensi dini yang diperlukan pada anak berkebutuhan
khusus pada dasarnya sangat tergantung pada hasil evaluasi diagnostic yang dilakukan
dalam rangka mengidentifikasi sifat dan tingkat kelainan anak.Namun demikian, untuk
menjamin efektifitas intervensi yang diberikan, program intervensi harus diarahkan
kepada seluruh aspek dari kelainan anak atau menjangkau seluruh permasalahan dan
kebutuhan mendasar yang dihadapi masing-masing anak, dengan melibatkan seluruh
disiplin ilmu yang diperlukan. Masing-masing disiplin ilmu, apakah medis,sosial
psikologis, atau pendidikan hakekatnya wajib diberikan agar mendapat intervensi yang
paling tepat sesuai karakteristik, permasalahan, dan kebutuhan anak.
Sekalipun keterlibatan sejumlah ahli sangat penting, namun tanggung jawab dan
peluang terbesar terbesar terhadap terjadinya perubahan positif dalam kehidupan anak
berkebutuhan khusu hakekatnya terletak pada tenaga pendidik (guru/ortopedagog), di
samping orang tua. Hal ini mengingat merekalah yang secara langsung akan berhadapan
dengan anak dalam membantu mengatasi hambatan-hambatan belajar yang dialaminya
melalui proses pembelajaran.
Secara umum, pendekatan dalam intervensi dini dapat digolongkan menjadi empat,
yaitu : (1) pendekatan medis, (2) pendekatan sosial, (3) pendekatan psikologis, dan (4)
pendekatan pendidikan masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Pendekatan Medis
Fallen dan Umansky (1985)menyatakan baha pada umumnya dokter menjadi
orang pertama yang mengidentifikasi factor-faktor resiko yang berhubungan dengan
klambatan perkembangan dan kelainan. Hal ini dikarenakan dokter merupakan orang
paling sering berhubungan dengan orang tua (terutama ibu-ibu) sehingga memiliki
data dan informasi yang terkait dengan riwayat / catatan kesehatan ibu selama
mengandung, melahirkan, maupun setelah

melahirkan. Melalui catatan dan

pengamatan terhadap bayi yang baru dilahirkan, seseorang dokter mengetahui apakah
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
15

bayi tersebut memiliki factor resiko atau tidak, berkelainan atau tidak, serta
memberikan saran-saran terhadap orang tua dalam beradaptasi dengan anaknya.
Dokter juga sering akali menjadi orang pertama yang banayak dihubungi oleh
orang tua berkaitan dengan kelainan anaknya. Dalam beberapa kasus kelainan
perkembangan dapat segera dieliminasi melalui intervensi medis.Misal, epilepsy dan
hiperaktivitas yang berhubungan dengan kesulitan belajar atau pencegahan
keterbelakangan mental akibat seperti galactosemia dan phenylketonuria melalui
modifiaksi dalam kebiasaan makan.
Intervensi medis dapat menjadi efektif dalam menangkap suatu kondisi
kelainan, tetapi setelah keruakan terjadi dan apabila intervensi medis yang dilakukan
dapat menghalangi perkembangan tertentu berikutnya, maka harus diikuti atau
dibarengi dengan intervensi pendidikan. Misal gangguan pendengaran yang
disebabkan infeksi telinga tengah, dapat diintervensi melalui medis namun dapat
membahayakan, tetapi hal itu bukan pencegahan terakhir terhadap efek yang
merugikan .contoh lain tuberculosis yang disebabkan kelainan ortopedik sering
ditangkap sebagai penyakit. Dalam kasus semacam ini layanan pendidikan khusus
sangat esensial untuk meminimalkan efek dari kondisi kelainannya.
Intervensi medis juga efektif unuk mereduksi aspek yang merugikan pada anak
berkelainan.Misal, keterbelakangan mental yang disebabkan oleh factor lingkungan
seperti mal nutrisi dan ketidktepatan dalam perawatan kesehatan dapat ditangani
melalui intervensi medis.Dalam beberapa kasus seperti CP, epilepsy, gangguan
pendengaran, gangguan englihatanyang disebaBkan oelh kelainan otot dan katarak,
dan gangguan bicara yang disebabkan cleft palate dapat dikurangi melalui operasi.
Di Indonesia, profesi perawat dan bidan serta petugas posyandu telah banyak
terlibat dalam program intervensi medis pada anak berkebutuhan khusus melalui
layanan kesehatan masyarakat.khususnya dalam identifikasi anak-anak dengan factor
resiko, sedangkan intervensi yang diberikan umumnya juga masih berfokus pada
aspek fisik melalui upaya perbaikan gizi dan kesehatan dasar untuk survival. Secara
umum mereka juga relative terlambat dalam melakukan diagnosis terhadap kelainan
yang dialami bayi dan anak, serta dalam memuat referral terhadap sumber-sumber
intervensi yang ada di masyarakat. Untuk itu, dalam rangka meningkatkan kualitas
layanan yang diberikan, peningkatan pemahaman terhadap aspek tumbuh kembang
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
16

anak dan permasalahannya, bagaimana orang tua menanganinya, dan kerja sama
dengan sumber-sumber intervensi di masyarakat mejadi sangat penting.
Uraian di atas mengisyaratkan bahwa intervensi dini melalui pendekatanmedis
hanya akan efektif apabila diketahui bahwa sebab-sebab kecacatan atau kelainan anak
bersumber pada aspek fisik. Sedangkan apabila hal tersebut tidak ditemui maka
intervensi yang diberikan bersifat non medis. Intervensi medis juga tidak akan berhasil
secara maksimal tanpa diikuti dengan intervensi lain yang bersifat

non medis,

terutama dalam mereduksi dampak negative yang ditimbulakan terhadap aspek


perkembangan anak.
b. Pendekatan Sosial
Fokus pendekatan sosial dalam intervensi dini adalah membantu mengatasi
masalah-masalah sosial yang dihadapi anak berkebutuhan khusus maupun
keluarganya.Dalam pelaksanaannya, intervensi dini umumnya dilakukan oleh pekerja
sosial dan diterapkan secara bersama dengan ahli lain, seperti medis ataupun
pendidikan.Misalnya, diet yang disarankan oleh dokter atau perawat, berarti
memerlukan keterampilan baru bagi orang tua dalam pemilihan dan penyiapan
makanan.Pekerja sosial adalah ahli membantu dan memonitor penerapan menu baru
tersebut.
Pekerja sosial juga dapat berperan atas nama anak berkebutuhan khusus atau
keluarganya. Misalnya dalam hal advokasi yang terkait dengan perawatan kesehatan,
bantuan hukum, atau program pendidikan.Dalam perannya sebagai penghubung,
pekerja sosial dapat membantu memelihara saluran komunikasi antara rumah dengan
sekolah atau masyarakat.Sebagai konselor pekerja sosial dapat menjadi sumber bagi
anak maupun orang tua yang memerlukan bimbingan.Misalnya, melalui latihan
kepada orang tua dalam cara-cara berkomunikasi yang efektif dengan anaknya yang
tunarungu, latihan manajemen stress, atau melatih anak untuk bermain bersama
dengan teman-teman sebayanya.
c. Pendekatan Psikologis
Intervensi melalui pendekatan psikologis melalui psikoterapi telah banyak
memberikan kontribusi yang signifikan dalam intervensi dini pada anak berkebutuhan
khusus.Sebagaimana diketahui bahwa intervensi psikologi terbukti efektif dalam
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
17

penanganan terhadap anak-anak dengan gangguan perilaku, baik melalui pendekatan


psiodinamik atau pendekatan modifikasi tingkah laku.Disamping itu juga sangat
berperan dalam melakukan pengukuran terhadap berbagai potensi anak, sifat
kepribadian dan sebagainya.
d. Pendekatan Pendidikan
Intervensi melalui pendekatan pendidikan atau intervensi pendidikan merujuk
pada bagaimana program pengajaran diberikan terhadap anak berkebutuhan khusus
berdasarkan kebutuhan khusus anak, kemampuan, dan gaya belajarnya yang
implementasinya dilakukan melalui program pembelajaran yang diindividualkan
(IEP). Intervensi pendidikan berangkat dari asumsi bahwa setiap anak berhak untuk
belajar, mandiri, dan berkembang secara optimal sesuai dengan kapasitasnya.

2. Model
Perkembangan model layanan intervensi dini yang terjadi sampai sekarang ini
tidak lepas dari kepedulian kaum professional terhadap pertanyaan sejauh mana program
tersebut dipandang efektif, baik dalam rangka mengatasi hambatan perkembangan anak
maupun dalam rangka menyediakan dorongan kepada keluarga.Terkait dengan hal ini,
secara garis besar perkembangan model intervensi dini dapat digolongkan dalam tiga
generasi.
Pertama, model intervensi dini yang langsung dilakukan oleh tenaga ahli, dengan
fokus penanganan pada anak. Model ini akhirnya dipandang tidak efektif, karena
mengabaikan peran dan tanggung jawab orang tua atau keluarga.Disamping itu,
implementasi model ini juga melahirkan kecenderungan pada orang tua untuk bersikapm
pasif dan mempercayakan sepenuhnya penanganan terhadap anaknya kepada ahli.
Kedua, model intervensi yang dilakukan oleh tenaga ahli dengan melibatkan
orang tua melalui ajakan-ajakan.Model ini pun akhirnya juga dipandang kurang efektif,
dikarenakan dalm banyak hal ajakan-ajakan tersebut tidak dilaksanakan orang tua dengan
alasan tidak memiliki keterampilan khusus sesuai kebutuhan anaknya. Akibatnya orang
tua terlalu banyak berharap terhadap program intervensi yang diberikan oleh ahli,
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
18

sementara di sisi lain mereka kurang mampu menunjukkan partisipasinya secara aktif.
Dalam kenyataannya, model ini juga berdampak pada ketidakmauan orang tua untuk
menjadi intervenor bagi anaknya.
Ketiga, model intevensi yang dilakukan oleh tenaga ahli melalui pemberdayaan
orang tua.Model ini merupakan model yang dianggap paling mutakhir, dipandang paling
efektif, dan paling menguntungkan tidak saja bagi perkembangan anaknya, tetapi juga
bagi orang tua itu sendiri, termasuk ahli. Dalam model ini diasumsikan bahwa orang tua
adalah lingkungan terdekat dengan anak, paling mengetahui kebutuhan khususnya, paling
berpengaruh, dan paling bertanggung jawab terhadap anaknya, sehingga menuntut
keterlibatan penuh orang tus, sedangkan fungsi tenaga ahli lebih sebagai konsultan atau
salah satu social support bagi keberhasilan anaknya. Berangkat dari asumsi tersebut,
dalam model ini program yang dikembangkan lebih banyak pada pengembangan
keterampilan orang tua dalm membantu meminimalisir hambatan belajar serta
memberikan kemudahan bagi optimalisasi perkembangan anaknya sesuai dengan
kapabilitasnya, baik melalui pelatihan-pelatihan ataupun melalui penyediaan sumbersumber belajar dalam berbagai bentuk dan variasinya.
Sementara itu, berdasarkan setting-nya, Kofi Marfo (1988) menyatakan bahwa
model atau program intervensi dini umumnya dikelompokkan menjadi program yang
berbasis rumah, berbasis center, dan digabungkan berbasis rumah center. Program yang
berbasis rumah memfokuskan pada orang tua atau pengasuh sebagai intervenor utama
sedangkan fungsi tenaga ahli sebagai konsultan.Program intervensi dini yang berbasis
center (klinik, sekolah umum, atau sekolah khusus) dilakukan oleh tenaga ahli langsung
kepada anak, sedangkan keterlibatan orang tua bervariasi, tergantung pada kebutuhan,
minat, dan tuntutan dari program yang telah ditetapkan.Rentang keterlibatan orang tua
dapat mulai dari berpartisipasi dalam pembuatan program tahunan sampai menjadi tenaga
sukarela di center.Pada intervensi dini yang gabungan, merupakan kombinasi dari ke dua
program tersebut.Dalam model ini keterlibatan orang tua bervariasi tergantung pada
tuntutan program dan dilakukan secara proporsional sesuai fungsi, peranan, dan tanggung
jawab masing-masing berdasarkan program yang disepakati bersama. Disamping modelmodel tersebut, Kofi Marfo juga menambahkan dua model lagi, yaitu model atau
program yang diimplementasikan orang tua (parent implementated program) dan model
intervensi dini yang berbasis media (media based program). Dalam model yang
diimplementasikan orang tua, orang tua secara keseluruhan bertanggung jawab terhadap
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
19

program pengadministrasian, pengorganisasian, dan perencanaan. Orang tua dapat


meumutskan kapan, dimana, dan siapa tenaga ahli yang akan dilibatkan dalam
penanganan anaknya. Untuk menjamin keberhasilannya, model ini memerlukan
ketertiban tinggi dari orang tua dalam keseluruhan aspek program intervensi yang
dibutuhkan anaknya. Sedangkan dalam model yang berbasis media lebih difokuskan
kepada penggunaan materi cetakan (buku pedoman, dsb) serta alat bantu audiovisual
sebagai media komunikasi dengan orang tua.
Uraian diatas member petunjuk bahwa keterlibatan orang tua merupakan kunci
sukses dalam keseluruhan program intervensi dini, karena itu model apapun yang akan
diimplementasikan, pada prinsipnya menuntut kolaborasi, partisipasi, dan tanggung
jawab penuh orang tua, baik dalam kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,
dan pengadministrasian program.

D. Deteksi Dini, Stimulasi, dan Intervensi


Program intervensi dini telah menempatkan pentingnya program deteksi dini,
yaitu kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan gangguan tumbuh kembang sejak dini
.diasumsikan bahwa apabila gangguan atau penyimpangan yang terjadi pada anak dapat
ditemukan sejak dini, maka akan lebih mudah untuk diperbaiki, sedangkan apabila
terlambat diketahui maka dapat berpengaruh besra terhadap tumbuh kembang anak
selanjutnya dan penanganannya akan lebih sulit.
Program deteksi dini pada umumnya meliputi deteksi dini pertumbuhan dan
deteksi dini perkembangan. Deteksi dini pertumbuhan dapat dilakukan melalui dua cara:
(1) berdasarkan ukuran antropometrik, seperti melalui pengamatan atau pemeriksaan
berat badam, panjang/tinggi badan, lingkaran kepala, lingkaran lengan atas, dan tebal
lipatan kulit, atau (2) berdasarkan Baku Patokan, yaitu dengan menggunakan instrumeninstrumen pemeriksaan pertumbuhan tertentu yang telah ada yang telah distandarisasikan,
seperti dengan menggunakan Boston/Harvard, Tanner, atau instrumen yang telah
dihasilkanberdasarkan penelitian-penelitian yang dikembangkan di Indonesia, seperti
NCHS 1977, CDC2000, atau Baku WHO. Sedangkan deteksi dini perkembangan dapat
dilakukan melalui pengamatan terhadap berbagai penguasaan keterampilan atau fungsi
perkembangan yang dimiliki anak pada umumnya yang seusia. Terutama dalam
penguasaan keterampilan motorik, bahasa, sosial, kognitif, dan perilaku adaptif atau
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
20

terhadap penguasaan fungsi modulasi sendorik, fungsi motorik dan persepsi, proses
pendengaran dan fungsi bicara, serta keterampilan berinteraksi. Apabila berdasar
pemeriksaan yang telah dilakukan tersebut terdapat gejala-gejala penyimpangan dari
pertumbuhan dan atau perkembangan normal, maka orang tua harus menaruh curiga
bahwa anaknya mengalami penyimpangan.
Perlu dipahami bahwa perkembangan anak pada masa balita sangat dipengaruhi
oleh faktor lingkungan, tempat mereka belajar. Anak dilahirkan dengan sejumlah potensi
dan lingkungan yang memberi kemudahan atau struktur dukungan belajar pada anak
untuk

menguasai

berbagai

keterampilan

akan

sangat

membantu

Optimalisasi

perkembangan sesuai dengan potensi atau kapabilitas yang dimilikinya. Sementara itu,
berdasarkan hasil deteksi dini, akan diperoleh dua kesimpulan utama, yaitu : (1)
perkembangan anak sesuai (normal) , atau (2) ada penyimpangan (tidak normal).
Mengingat pentingnya faktor lingkungan bagi belajar anak tersebut, maka apakah
perkembangan anak berdasar hasil deteksi normal atau abnormal, lingkungan
lingkungan harus tetap mengambil peran aktif dan positif bagi optimalisasi
perkembangan anak.
Apabila berdasar hasil deteksi dini menunjukkan bahwa perkembangan anak
adalah normal, maka peran yang harus dimainkan lingkungan adalah dengan memberikan
stimulasi dini, namun apabila ternyata mengalami penyimpangan maka yang harus
dilakukan adalah melalui intervensi dini.Stimulasi adalah kegiatan perangsangan dan
latihan latihan terhadap kepandaian anak yang datangnya dari lingkungan di luar anak,
dengan tujuan untuk membantu anak agar mencapai tingkat perkembangan yang baik dan
optimal sesuai umur. Stimulasi ini diberikan berdasarkan kemampuan yang akan
dikembangkan, yang dapat meliputi kemampuan gerakan dasar, kemampuan gerakan
halus, kemampuan kognitif, kemampuan bahasa dan bicara serta kemampuan bergaul dan
hidup mandiri. Agar kegiatan ini efektif, pelaksanaannya harus dilandasi dengan
penerapan prinsip prinsip kasih sayang, bertahap dan berkelanjutan, dimulai dari
perkembangan yang telah dimiliki anak, dilakukan dengan wajar, santai tanpa paksaan
atau hukuman, diberi pujian atas keberhasilannya, dan bervariasi agar tidak
membosankan. Sedangkan alat bantu stimulasi harus yang tidak berbahaya bagi anak,
sederhana dan mudah didapat.

Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus


Intervensi Dini
21

Sedangkan intervensi didni, sebagaimana telah dibahas sebelumnya hakekat


merupakan kegiatan merangsang kemampuan dasar anak, dilakukan pada anak dengan
kelambatan perkembangan atau yang memiliki faktor resiko, dengan maksud untuk
mengejar ketertinggalannya, agar penyimpangan yang terjadi tidak bertambah berat, atau
agar hambatan yang terjadi tidak berdampak negative kepada perkembangan berikutnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa sekalipun istilah stimulasi
dan intervensi dini sama sama bertujuan untuk mengoptimalkan perkembangan anak,
namun pada hakekatnya memiliki makna dan sasaran yang berbeda. Stimulasi diberikan
dengan focus kepada anak dengan pertumbuhan dan perkembangan normal, dengan
maksud anak agar mencapai tingkat perkembangan yang baik dan optimal sesuai umur,
sednagkan intervensi kepada anak yang pertumbuhan dan perkembangan yang
menyimpang mengalami kelambatan, memiliki faktor resiko, atau bagi anak anak
berkebutuhan khusus dengan maksud untuk membantu mengatasi hambatan belajar yang
dialaminya, mencegah agar tidak bertambah berat, serta untuk meminimalisir agar
hambatan tersebut tidak berdampak negative pada perkembangan selanjutnya.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Intervensi dapat diartikan sebagai suatu bentuk bantuan, penangan, layanan, atau
tindakan campur tangan terhadap suatu masalah atau krisis yang dihadapi individu,
dengan tujuan untuk mencegah berkembangnya permasalahan dan mengurangi dampak
yang ditimbulkan oleh masalah atau krisis tersebut. Sedangkan istilah dini berarti awal,
yaitu usia awal atau seawal mungkin.
Secara umum, tujuan intervensi dini adalah untuk membantu agar anak dapat
tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai kapabilitasnya mendorong dan membentu
orang tua dalam mengembangkan anaknya serta mengatasi masalah-masalah psikologis
sosial yang muncul, serta memaksimalkan manfaat anak dan keluarga dalam kehidupan
bermasyarakat. Beker dan feinfield (2003) menjelaskan bahwa dalam intervensi dini
terdapat lima komponen utama, yaitu : (1) multidisipliner, (2) fokus terhadap kebutuhan
anak dan keluarga, (3) individual, (4) mengikuti sistem layanan pengiriman lokal, dan (5)
berbasis pada riset dengan desain kontrol yang dilakukan secara random. Sedangkan
Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus
Intervensi Dini
22

menurut Fallen dan Umansky (1985) komponen utama intervensi meliputi : (1) intervensi
dini, (2) keterlibatan orang tua, (3) riset, (4) interaksi asesmen dan intervensi, (5) layanan
multidisplin, (6) latihan professional, dan (7) pengembangan staf.
Pendekatan dalam intervensi dini dapat digolongkan menjadi empat, yaitu : (1)
pendekatan medis, (2) pendekatan sosial, (3) pendekatan psikologis, dan (4) pendekatan
pendidikan. Program intervensi dini telah menempatkan pentingnya program deteksi dini,
yaitu kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan gangguan tumbuh kembang sejak dini
.diasumsikan bahwa apabila gangguan atau penyimpangan yang terjadi pada anak dapat
ditemukan sejak dini, maka akan lebih mudah untuk diperbaiki, sedangkan apabila
terlambat diketahui maka dapat berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak
selanjutnya dan penanganannya akan lebih sulit.

B. Saran
Dari makalah yang telah dibuat, penulis menyarankan agar masyarakat lebih
mengetahui dan peduli dengan anak berkebutuhan khusus, terutama pada dalam
penanganan dan intervensi dini anak berkebutuhan khusus. Sebaiknya orangtua turut serta
dalam kegiatan intervensi dini, terutama dalam penanganan dan pemberian dukungan
bagi anak berkebutuhan khusus. Semoga dengan adanya intervensi dini pada anak
berkebutuhan khusus, anak berkebutuhan khusus dapat ditangani dengan baik. Dan
semoga dengan adanya makalah ini, kita dapat mengetahui konsep intervensi dini,
komponen-komponen utama dalam intervensi dini, pendekatan dan model intervensi dini,
tujuan dan manfaat serta pentingnya detekdi dini dan intervensi dini, supaya kita dapat
menangani dan mendidiknya untuk dapat melakukan tahap-tahap perkembangan untuk
menjadi individu yang lebih baik.

Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus


Intervensi Dini
23