Anda di halaman 1dari 7

FORMULASI DAN EVALUASI TABLET BILAYER FLOATING PADA

METOPROLOL TARTRAT
Priti Tagde*1, Nidhi Jain*2, A.K Pathak*2
1* Department of Pharmaceutics, Barkatullah University Bhopal
2* Department of Pharmacognosy, Barkatullah University Bhopal

a. Abstrak
Objek penelitian baru-baru ini adalah mengembangkan tablet dua lapisan pada
Metoprolol tartrat menggunakan pati disintegran untuk lapisan pelepasan yang cepat
dan polimer HPMC K untuk lapisan penahan. Studi disolusi in vitro menguji di
Farmakope India aparatus test disolusi II (metode dayung). Formulasi memberikan
efek ledakan awal untuk menyediakan dosis pemuatan pada obat yang diikuti
pelepasan lambat selama 12 jam dari lapisan tahanan pada tablet penahan matrix.
Studi pelepasan in vitro pada tablet ini mengindikasikan lepas lambat untk Metoprolol
tartrat dan diikuti pelepasan orde 0 dan 95% dalam 24 jam in vitro dan ini mengikuti
difusi Fickian.
1. Perkenalan
Administrasi oral merupakan rute administrasi obat paling serbaguna, tepat
dan biasanya untuk aksi sistemik. Tentu, untuk sistem lepas lambat, rute administrasi
secara oral telah lebih banyak menerima perhatian dan sukses karena fisiologi
gastrointestinal lebih fleksibel dalam bentuk sediaan obat dari rute lainnya.
Pengembangan rute pelepasan obat yang dikontrol memerlukan pengertian dari tiga
aspek : (1) fisiologi gastrointerstinal (2) sifat fisikokimia suatu obat (3) karakteristik
sediaan obat. Sistem lapisan meliputi sistem pembangkitan gas, sistem
noneffervescent, dan sistem pembentukan rakit. Dalam keadaan tertentu,
memperpanjang retensi sistem penghantaran gastro diinginkan untuk mencapai efek
terapeutik yang lebih baik pada substansi obat. Sebagai contohnya, obat yang
diabsorbsi di bagian proksimal pada saluran gastrointestinal dan obat-obat yang
kurang larut dalam atau didegradasi oleh pH basa mungkin akan berpengaruh pada
perpanjangan retensi gaster. Sebagai tambahannya, untuk penghantaran obat lokal dan
lepas lambat di perut dan intestinal kecil proksimal untuk perlakuan kondisi tertentu,
memperpanjang retensi gaster pada separuh terapeutik mungkin memberikan
keuntungan yang banyak termasuk meningkatkan bioavailabilitas dan efek terapeutik,
dan kemungkinan pengurangan ukuran dosis dosis. Hal ini telah diusulkan bahwa
availabilitas lokal yang diperpanjang pada agen antibakterial akan memperbesar
keefektifannya dalam pengobatan Helicobacter Pylori yang berhubungan dengan
peptik ulser. Retensi gaster yang dikontrol pada sediaan obat yang padat mungkin
dicapai oleh mekanisme mukoadhesi, flotasi, sedimentasi, ekspansi, sistem modifikasi
bentuk, atau oleh administrasi simultan pada agen farmakologi yang menunda
pengosongan lambung. Ketika obat diformulasikan dengan polimer pembentuk gel,
seperti turunan semisintetik selulosa, obat akan mengembang di cairan lambung
dengan bulk density kurang dari satu.
Metoprolol tartrat merupakan pemblok adrenergik beta-1, yang telah
digunakan secara luas dalam pengobatan hipertensi, angina pektoris, feokromositoma
dan aritmia jantung (1). Karena memiliki waktu paruh yang pendek, pasien bertanya

secara rutin untuk mengambil Metoprolol tartrat dalam dosis harian terbagi, sekali
setiap 6 atau 8 jam seperti administrasi obat berkali-kali mungkin mengurangi
keluhan pasien dan efikasi terapeutik (2). Dalam tahun belakangan ini, formulasi
lepas lambat Metoprolol tartrat telah tersedia dengan klaim bahwa formulasi ini
mempertahankan beta adrenoreseptor yang diblok sepanjang waktu 24 jam dapt
diberikan sehari sekali (3). Konsep tablet multilayer telah lama dimanfaatkan untuk
mengembangkan formulasi lepas lambat seperti tablet yang memiliki lapisan
pelepasan yang cepat dan mungkin mengandung dua atau tiga lapisan untuk
mempertahankan pelepasan obat (4). Keuntungan farmakokinetik mempercayakan
pada fakta bahwa pelepasan obat dari granul yang pelepasannya cepat berakibat pada
kenaikan konsentrasi darah secara tiba-tiba. Bagaimanapun, level darah
mempertahankan pada level yang tetap seperti obat yang dilepaskan dari granul lepas
lambat. Diantara perbedaan polimer, HPMC K telah sukses digunakan untuk
formulasi pelepasan matrixks lepas lambat yang tepat pada bahan-bahan yang
berbeda. Studi baru-baru ini mengarah pada memformulasikan tablet dua lapis pada
Metoprolol tartrat dengan lapisan pelepasan yang cepat menggunakan pati yang dapat
larut dan sebuah lapisan pertahanan menggunakan polimer HPMC K.
2. Bahan-bahan dan Metode
2.1.
Bahan-bahan : Metroplol tartrat diperoleh dari
Astra Zeneca
pharmaceuticals limited, (Bangalore India). Methocel k4000 dan k15000cp,
natrium karboksimetlselulosa dan polivinilpirrolidin (PVP k30), pati yang dapat
larut, magnesium stearat, talkum dan Laktosa disediakan oleh (CDH (P) Ltd, New
Delhi).
2.2.
Preparasi dosis pelepasan cepat : pertama, granul dengan loading-dose
(seperti dosis cepat) disiapkan dengan mencampur MT, pati, PVP, dan laktosa
menggunakan air sebagai zat pembasah. Granul-granul dikeringkan pada suhu
60C selama 30 menit di sebuah oven dan lalu dicampur dengan talkum, sunset
yellow, dan magnesium stearat (komposisinya telah ditunjukkan di tabel 1).
2.3.
Preparasi dosis pelepasan yang dipertahankan : granul-granul yang
mengapung mengandung Metoprolol tartrat disiapkan dengan mencampur zat
aktif dengan eksipien seperti yang tunjukkan di tabel-1. Granul-granul lalu
dikeringkan pada suhu 60C selama 30 menit di sebuah oven dan lalu dicampur
dengan talkum, sunset yellow, dan magnesium stearat (komposisinya telah
ditunjukkan di tabel 2). Tepat 300 mg granul-granul yang mengapung dan 100 mg
obat loading granul ditimbang dan dicetak menjadi tablet dua lapisan oleh mesin
kompresi tablet single punch (Jyoti scientific industries, Gwalior.).
3. Karakterisasi serbuk
Uji-uji berikut ini ditunjukkan utuk semua batches.
3.1.
Bulk density
Bulk density=M/Va
Dimana, M = Massa serbuk yang diambil, Va= volume yang terlihat
3.2.
Tapped density
Tapped density=M/Vf
Dimana, M= berat sampel serbuk yang diambil, Vf= volume akhir yang
diketuk

3.3.

Indeks kompresibilitas

3.4.

Rasio Hausner

C.I= {(Df-Do)/Df}*100
Dimana, Do= Bulk density, Df= Tapped density
Rasio Hausner = Df/Do

Dimana, Do = Bulk density, Df = Tapped density

3.5.

Sudut henti

Tan = h/r
Atau = tan-1h/r
Dimana, h = tinggi tumpukan, R = radius tumpukan dasar dan =
sudut henti
4. Evaluasi tablet dua lapis Metoprolol tartrat
4.1.
Kekerasan : tablet ditempatkan diantara dua landasan pada
hadness tester (Monsanto) dan peningkatan tekanan (kg). Skala hasil
yang terlihat direkam untuk tekanan yang diperlukan untuk memecah
tablet. Hasilnya ditunjukkan pada tabel-3.
4.2.
Friabilitas : 20 tablet ditimbang dan ditempatkan di friabilitas
Roche dan dirotasi pada 25 rpm selama 5 menit setelah pemutaran,
tablet dibersihkan dan ditimbang kembali. Hasil yang diobservasi
seharusnya tidak lebih dari 1%. Persentase friabilitas diukur dengan
rumus : % F= {1-(Wt/W)}*100. Dimana, % F = Friabilitas dalam
persentasi, W = Inisial berat tablet, Wt = berat tablet setelah
pemutaran. Hasilnya ditunjukkan pada tabel 3.
4.3.
Kandungan zat aktif : 5 tablet pada setiap batch diambil dan
ditriturasi. Serbuk 100 mg ditimbang dan dipindahkan ke gelas kimia
dan 0,1 N HCl ditambahkan lalu dikocok selama 5 menit dan terakhir
0,1 N HCl ditambahkan untuk menambahkan hingga volume tepat 100
mL dan larutan di sonikasi selama 15 menit dan disaring melewati
kertas saring Whatman. Larutan dilarutkan dan absorbansi hasil larutan
diukur secara spektrofotometri pada 275 nm menggunakan UV/Vis
jasco V-530 dengan blanko 0,1 N HCl. Hasilnya ditunjukkan pada table
3.
4.4.
Studi pelepasan in vitro :
laju pelepasan tablet apung
Metoprolol tartrat ditentukan menggunakan metode Farmakope India
uji disolusi II (metode dayung). Uji disolusi dilaksanakan dibawah sink
condition. Pada interval waktu yang tepat (0.25, 0.5, 1, 2, 3, 4, 5, 6,
8,12 jam) 5 mL sampel diambil dari medium disolusi dan ditempatkan
di media abru untuk mempertahankan volume konstan. Setelah
pelarutan dan filtrasi, larutan sampel dianalisis menggunakan UV
spektrofotometer pada 275 nm. Hasilnya dikalkulasi oleh metode
persentasi kumulatif pelepasan obat . persentase pelepasan kumulatif
pada batch yang bervariasi ditunjukkan pada tabel 4.
4.5.
Waktu apung dan waktu jeda apung : waktu apung
mengindikasikan waktu tablet bertahan dalam mengapung di
permukaan pada medium disolusi dan waktu jeda apung adalah waktu
yang diperlukan unutk mencapai permukaan medium disolusi. Waktu
jeda apung pada variasi batch telah ditunjukkan pada tabel-4.

5. Pengolahan data
Disolusi in vitro telah dikenal sebagai elemen yang penting dalam
pengembangan obat. Beberapa model kinetik mendeskripsikan disolusi
obat dari sedang dan pelepasan bentuk dosis yang dimodifikasi. Dalam
kasus model Korsemeyer, n adalah konstanta kinetik, yang digunakan
untuk mengkarakterisasi mekanisme transpor. Eksponen n menentukan
mekanisme pelepasan yang diberikan pada tabel no 5.
Dari persamaan diatas, nilai koefisien korelasi dan eksponensial (n) untuk
formula yang berbeda telah dihitung untuk mengidentifikasikan
mekanisme pelepasan obat dan ditunjukkan pada tabel no 6-9.

6. Hasil dan Diskusi

Perbedaan model pada pengolahan data telah ditunjukkan diatas.


Untuk menemukan mekanisme pelepasan obat dari semua formulasi
tablet apung dua lapisan Metoprolol tartrat, data diolah menurut orde 0,
orde pertama, Hukum Akar Kuadrat Higuchi dan pola persamaan
Korsemeyer. Diindikasikan dengan jelas di tabel 6, nilai koefisien korelasi
semua formulasi menunjukkan bahwa formulasi tidak mengikuti pola
pelepasan orde 0, tetapi batch F1, F2, dan F6 menunjukkan orde 0 yang
seimbang. Ketika data diplot menurut persamaan orde pertama, formulasi
menunjukkan linearitas yang seimbang, dengan nilai koefisien korelasi
diantara 0,812 sampai 0,983 (table no 6).
Pada berbagai gradien, obat dilepaskan dan jarak untuk difusi
ditingkatkan. Ini menjelaskan obat berdifusi pada laju komparatif yang
lebih lambat sama seperti peningkatan jarak untuk difusi, yang
dimaksudkan sebagai kinetika akar kuadrat atau kinetika Higuchi (tabel no
6). Di eksperimen ini, profil pelepasan in vitro obat dari semua plot
menunjukkan linearitas tinggi (r = 0.936 to 0.977). Ini merupakan proses
pelepasan dibawah difusi obat melwati matriks polimer.
Untuk mengonfirmasi mekanisme difusi, data dicocokkan ke
persamaan Korsemeyer, formulasi F6; F7 (Table no 6) menunjukkan
linearitas dengan nilai eksponen (n) antara 0,34,0,31. Nilai n ini
mengindikasikan pasangan pada mekanisme difusi dan mengembang
yang disebut Difusi Fickian.
Kalorimetri Scan Differential
Kalorimeteri Scan Differential pada obat dilaksanakan dengan
memanaskan sampel dari 100 C to 250 C dengan laju pemanasan
100C/min dalam lingkungan nitrogen. Termogram yang diperoleh
ditunjukkan pada figure 9-11. Kurva DSC pada Metoprolol tartrat murni
ditunjukkan di suhu 125 C (fig1) sesuai pada titik leleh obat. Dalam
percampuran fisik obat dan peak polimer untuk obat dan polimer masih
observasi pada suhu 127 C (fig2). Analisis termogram menunjukkan tidak
ada interaksi fisik antara obat dan polimer.
2

Table No.1 Komposisi dosis langsung


Komposisi
Kuantitas (mg)
Metoprolol tartrat
20
Pati yang dapat larut
5
polivinilpirolidon
4
Laktosa
63
Magnesium stearat
5
talkum
3
Table No.2 Komposisi dosis berkelanjutan

Tabel No 3. Evaluasi dan Karakterisasi Serbuk

Table no 4. Persentasi Pelepasan Kumulatif

Table no 5. Nilai pelepasan eksponen (n)

Tabel no 6. Koefisien korelasi (r2) pada model kinetika yang berbeda

FiGURE 1 : Termogram DSC pada Metoprolol tartrat

Fig 2 : termogram DSC pada formulasi

Fig 3. Fotomikrograf SEM pada granul SR yang dioptimasi (CMG-25) menunjukkan


morfologi permukaan setelah 0 jam, 2 jam, 6 jam, dan 12 jam pada studi disolusi

7. Ringkasan dan Kesimpulan


Preparasi ditemukan untuk mengikuti transpor Fickian. Data dicocokkan pada
persamaan Korsemeyer, formulasi F6;F7 (Tabel no 6) menunjukkan linearitas dengan nilai
eksponen (n) diantara 0,34, 0,31 dan R2 ditemukan di 0,991 dan 0,992.
Hasil secara keseluruhan menunjukkan bahwa bioavailabilitas oral Metoprolol tartrat
~50% karena metabolisme lintas pertama di hati dan karena degradasi di kolon. Bila bentuk
sediaan MT bisa ditahan di perut selama mungkin, untuk mengeizinkan absorpsi maksimum,
bioavailabilitas MT dapat ditingkatkan. Alasan dibalik pemilihan polimer HPMC dalah sistem
hidrokoloid denstitas rendah-nya yang berkontak dengan air membentuk laposan hidrogel
yang bertindak sebagai pembatas gel untuk sistem penghantaran obat, tapi itu akan gagal
untuk melambatkan pelepasan obat melewati matriks karena kelarutannya dalam pH lambung.
SCMC digunakan dengan kombinasi dengan HPMC untuk melambatkan pelepasan obat;
kemampuan SCMC untuk melakukan ini mungkin karena kelarutannya yang rendah pada pH
1,2 sampai 3.