Anda di halaman 1dari 17

PENGARUH MONITORING COST TERHADAP KECENDERUNGAN PERILAKU PERATAAN LABA

Indri Kismei Prajayanti, Prof. Dr. Moeljadi P., SE., SU., M.Sc. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya JL. MT. Haryono 165 Malang 65145 indritekendz@gmail.com

Abstract: This research aims to determine the influence of monitoring cost of the behaviour of income smoothing. The variables independent are used company size and debt to equity ratio. Determination of the company that doing income smoothing it is considered using Index Eckel. This research is using 34 manufacturing company consumer goods sector listed on the Indonesian Stock Exchange during 2010-2013 and has been selected by the census method as sample. Hypothesis are analyzed using univariate test (mann whitney u test) and multivariate test (binary logistic regression) to determine the influence of the company size and debt to equity ratio against the tendency of the behaviour of income smoothing. Result of this research shows that monitoring cost are measured by the company size have significant and positive impact on income smoothing and debt to equity ratio don’t have siginificant impact on income smoothing.

Keywords: agency theory, company size, debt to equity ratio, income smoothing.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh monitoring cost terhadap perilaku perataan laba. Variabel independen yang diuji adalah ukuran perusahaan dan debt to equity ratio. Penentuan indikasi perusahaan pelaku perataan laba dinilai menggunakan Indeks Eckel. Sampel penelitian menggunakan 34 perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2013 yang telah diseleksi dengan metode sensus. Pengujian hipotesis menggunakan univariate test (mann whitney u test) dan multivariate test (binary logistic regression) untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan dan debt to equity ratio terhadap kecenderungan perilaku perataan laba. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa monitoring cost yang diukur dengan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap perataan laba dan debt to equity ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku perataan laba.

Kata kunci: agency theory, ukuran perusahaan, debt to equity ratio, perataan laba.

Setiap kebijakan yang diambil oleh manajer semestinya bersifat netral. Dimana manajer bertanggung jawab atas keputusan yang berdasarkan kepentingan pemilik perusahaan (Madura, 2007:79). Hal ini sudah selayaknya dilakukan oleh manajer sebagai tenaga profesional yang telah dipercaya oleh pemilik perusahaan untuk mengelola aktivitas perusahaan. Namun dalam kenyataannya seringkali terdapat masalah dalam penunjukan manajer (agent) oleh pemilik perusahaan

(principal) dimana tujuan antara kedua pihak sering berbenturan. Kepentingan pribadi manajer adalah meningkatkan kesejahteraan mereka dengan bonus yang berasal dari pemilik perusahaan apabila kinerja perusahaan terus membaik. Konflik yang dihadapi oleh dua pihak ini disebut dengan masalah keagenan (agency problem) (Ross, et al., 2009:8). Menurut Munawir (2007:2) alat analisis yang umum digunakan untuk pertanggung jawaban manajer kepada pemilik perusahaan dalam pengelolaan sumber daya perusahaan adalah laporan keuangan. Kustono (2008:890) menyatakan bahwa tujuan dibuatnya laporan keuangan adalah untuk membantu analisis bagi investor maupun valon investor dalam pengambilan keputusan investasi. Namun pada kenyataannya mayoritas pengguna laporan keuangan tidak sepenuhnya mampu untuk membaca dan memahami isi laporan keuangan (Sri Sulistyanto, 2008:40). Perbedaan dalam akses data keuangan ini berbeda dengan manajemen yang memiliki keleluasan dalam mengakses data keuangan secara langsung. Keleluasaan ini menyebabkan manajemen cenderung melakukan tindakan oportunistik dalam rekayasa laporan keuangan dengan melakukan perataan laba agar penilaian terhadap kinerja manajemen mendapat nilai positif dari segi individual maupun keseluruhan perusahaan (Sri Sulistyanto, 2008:4). Perataan laba menurut Belkaoui (2007:192) merupakan upaya normalisasi laba guna mencapai tingkat yang diinginkan dengan unsur kesengajaan. Tindakan manajer dalam melakukan perataan laba didasarkan pada berbagai macam alasan. Salah satunya demi kepentingan pemilik perusahaan karena mereka bertanggung jawab dalam memberi kepuasan pada pemilik perusahaan (Madura, 2007:78). Perataan laba banyak terjadi pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Juniarti dan Carolina (2005:154) menemukan bahwa sebanyak 46,30% perusahaan di Indonesia dari sampel penelitiannya terindikasi melakukan praktik perataan laba. Perbedaan informasi yang didapatkan oleh pemilik perusahaan dan manajer ini disebut asimetri informasi (asymmetry information), dimana manajer memiliki informasi lebih dibandingkan dengan pemilik perusahaan (Brigham dan Houston, 2006:27). Asimetri informasi menyebabkan konflik antara manajer dengan pemilik perusahaan semakin tajam. Perlunya pengawasan pada setiap keputusan yang diambil oleh manajer merupakan langkah yang tepat. Sehingga dibutuhkan biaya keagenan (agency cost) untuk mengurangi dampak yang kurang baik dari asimetri informasi. Biaya keagenan dapat berupa aktivitas monitoring. Mekanisme monitoring digunakan untuk mengawasi kontrak hutang (debt contract). Menurut Godfrey et al. (2010:363) kontrak hutang berisi perjanjian hutang. Monitoring kontrak hutang bertujuan membatasi tindakan manajemen. Debt to equity ratio (DER) merupakan bagian dari leverage ratio yang ada di dalam kontrak hutang. DER diduga menjadi salah satu faktor pelanggaran perjanjian dalam kontrak hutang ketika perusahaan tidak dapat melunasi hutangnya saat jatuh tempo. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan keinginan melakukan perataan laba oleh manajer (Rahmawati, 2012:4). Selain itu, aktivitas monitoring juga dilakukan guna mengawasi pelaksanaan rencana pendanaan atau modal yang berhubungan langsung dengan ukuran perusahaan. Agnes Sawir (2004:102) menyatakan bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka perusahaan akan semakin mudah dalam memperoleh

pendanaan yang berasal dari pasar modal dan dapat meningkatkan kemungkinan perusahaan akan mendapatkan laba yang besar. Maka manajer dimungkinkan akan melakukan perataan laba demi mendapatkan kemudahan pendanaan. Perataan laba yang melebihi batas wajar tentunya menjadi permasalahan tersendiri bagi suatu perusahaan terutama bagi perusahaan yang bergerak dalam industri barang konsumsi yang dinilai memiliki tingkat pertumbuhan cukup tinggi. Berdasarkan pernyataan MS Hidayat bahwa industri manufaktur sebagian besar ditopang oleh sektor barang konsumsi yang mengalami peningkatan sebesar 9,37% pada awal 2013. Sebagian besar indeks manufaktur ditopang oleh sektor barang konsumsi dengan bobot emiten sebesar 44% dan kekuatan manufaktur berada pada sektor barang konsumsi yang tumbuh hingga 28% (www.kemenperin.go.id). Hal ini disebabkan oleh tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi terhadap barang konsumsi yang menjadi kebutuhan pokok sehari-hari. Windasari (2002) menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi praktik perataan laba pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan debt to equity ratio dan profitabilitas berpengaruh terhadap perataan laba sedangkan ukuran perusahaan, saham winner-looser dan kelompok sektoral tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Penelitian Juniarti dan Carolina (2005) juga menemukan bahwa ukuran perusahaan dan jenis industri juga tidak berpengaruh terhadap perataan laba, temuan yang berbeda dari Windasari (2002) adalah profitabilitas tidak mempengaruhi perataan laba. Penelitian Diastiti (2010) juga membuktikan bahwa jenis usaha dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Penelitian Olivia (2007) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta menemukan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, dan net profit margin tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Temuan ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Budiasih (2009) dimana ukuran perusahaan dan profitabilitas berpengaruh terhadap perataan laba. Sejalan dengan Budiasih (2009) temuan yang diperoleh Susilowati (2010) juga membuktikan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap perataan laba sedangkan variabel lainnya yaitu profitabilitas dan leverage operasi tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Penemuan dari penelitian Muhammad Arfan dan Desry (2010) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan winner/loser stock berpengaruh terhadap perataan laba sedangkan debt to equity ratio tidak berpengaruh terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Temuan yang hampir sama juga didapatkan oleh Suryandari (2012) dimana ukuran perusahaan berpengaruh terhadap perataan laba. Sedangkan debt to equity ratio tidak berpengaruh terhadap perataan laba.

Laporan Keuangan

Laporan keuangan memuat informasi mengenai keuangan dasar

perusahaan. Menurut Brigham dan Houston (2001:39-48) isi laporan keuangan terdiri dari:

Neraca Laporan mengenai posisi keuangan perusahaan pada periode waktu tertentu yang mengikhtisarkan aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan.

1.

2. Laporan Laba Rugi Laporan yang berisikan informasi mengenai pendapatan dan beban perusahaan selama periode akuntansi yang umumnya diterbitkan setiap kuartal atau satu tahun.

3. Laporan Arus Kas Laporan mengenai penjelasan dampak dari aktivitas operasional, investasi dan pembiayaan yang dilakukan perusahaan berdasarkan arus kas dalam satu periode akuntansi.

Teori Keagenan (Agency Theory) Teori keagenan menurut Horne dan Wachowicz (2010:8) merupakan teori ekonomi yang berhubungan dengan sikap prinsipal selaku pemilik perusahaan dan agen mereka yaitu manajer pengelola perusahaan. Pemilik perusahaan menunjuk pihak untuk diangkat sebagai manajer di perusahaan mereka dan menjadi perwakilan mereka di dalam pengelolaan perusahaan. McGuigan, et al. (2008:12) mendefinisikan hubungan keagenan adalah dasar pendelegasian pengambilan keputusan yang berasal dari pemilik perusahaan kepada agen selaku manajer. Segala keputusan yang diambil oleh manajer didasarkan pada tanggung jawabnya dan kepentingan pemilik perusahaan dimana manajer akan membuat keputusan optimal demi kepentingan pemilik perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976:6).

Masalah Keagenan (Agency Problem) Pemilik perusahaan dan manajer sebenarnya merupakan pihak yang berbeda. Namun dalam hubungannya, mereka menjadi satu kesatuan dalam aktivitas suatu perusahaan. Menurut Ross, et al. (2009:15) kebanyakan dalam hubungan seperti ini, kemungkinan terdapat konflik kepentingan di antara pemilik perusahaan dan manajer. Konflik ini disebut masalah keagenan (agency problem). Perbedaan kepentingan yang mendasari menjadi sumber utama terjadinya konflik. Meskipun manajer memiliki kewajiban terhadap kesejahteraan pamilik perusahaan, tidak dipungkiri bahwa manajer juga menginginkan kesejahteraan yang lebih untuk dirinya juga. Saat manajer tidak bertindak sesuai sebagai perwakilan dari para pemilik saham selaku pemilik perusahaan akan timbul masalah perwakilian atau agency problem (Madura, 2007:266).

Teori Sinyal Menurut Brigham dan Houston (2001:186) sinyal merupakan petunjuk yang diberikan oleh manajer pada pengguna laporan keuangan mengenai bagaimana prospek perusahaan. Motivasi manajer adalah memberikan sinyal pada pegguna laporan keuangan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Sinyal yang diberikan berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya dengan tujuan untuk memberikan pertanda bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik.

Informasi Asimetri (Assymetry Information) Menurut Zimmerman (2006:159) secara umum, masalah keagenan muncul karena infomasi asimetri. Prinsipal memiliki informasi yang kurang daripada agen. Informasi asimetri timbul dikarenakan pemilik perusahaan memiliki informasi lebih sedikit daripada yang dimiliki oleh manajer. Pemilik perusahaan

mempekerjakan manajer untuk melakukan tugas seperti pengelolaan investasi pemilik. Investasi ini akan berkembang apabila manajer bekerja keras memaksimalkan keuntungan lebih dibandingkan saat manajer lebih memprioritaskan kepentingannya. Namun pada kenyataannya pemilik perusahaan tidak dapat mengamati secara langsung bagaimana kinerja manajer. McGuigan, et al. (2008:18) menjelaskan bahwa masalah pengawasan dan koordinasi antara perusahaan dengan masalah kontrak antara pemilik perusahaan dengan manajer terjadi dikarenakan informasi asimetri.

Biaya Keagenan (Agency Cost) Menurut Ross, et al. (2009:16) biaya keagenan merupakan biaya-biaya akibat dari adanya konflik perbedaan kepentingan antara pemilik perusahaan dengan manajemen. Menurut Jensen dan Meckling (1976:6-7) terdapat tiga jenis biaya keagenan, yaitu monitoring cost, bonding cost, dan residual loss. Untuk mengurangi konflik keagenan, McGuigan, et al. (2008:14) menjelaskan bahwa perusahaan mengeluarkan biaya agensi yang terdiri dari mengeluarkan upah untuk kompensasi dengan cara menyamakan insentif yang didapatkan oleh manajemen dengan bunga yang didapatkan oleh pemegang saham, audit yang dilakukan oleh internal dan dewan pengawas guna memantau sikap dan tindakan manajemen, mengatur perjanjian dan mengasuransikan kewajiban dari penipuan untuk melindungi pemilik perusahaan dari kertidak jujuran manajer, dan keuntungan yang hilang dari kompleksitas struktur organisasi yang sengaja dirancang untuk membatasi keleluasaan perilaku manajer namun mengurangi respon dalam menangkap peluang. Menurut Godfrey et al. (2010:363) biaya monitoring adalah biaya yang digunakan untuk memantau perilaku manajer. Biaya ini dikeluarkan oleh pemilik peusahaan untuk memantau, mengukur, dan mengamati perilaku manajer. Biaya monitoring dapat berupa biaya audit, biaya penetapan kontrak kompensasi, kontrak penggunaan anggaran dan hutang, dan aturan operasi perusahaan.

Ukuran Perusahaan Agnes Sawir (2004:101-102) mengemukakan bahwa ukuran perusahaan adalah faktor yang menentukan atas struktur keuangan dalam penetapan kontrak pendanaan dimana ukuran perusahaan menentukan tingkat kemudahan untuk memperoleh dana yang berasal dari pasar modal dalam suatu perusahaan. Ukuran perusahaan mampu menentukan kekuatan tawar-menawar dalam kontrak keuangan. Kemungkinan tingkat biaya dan pengembalian membuat perusahaan dengan ukuran yang lebih besar bisa memperoleh laba lebih banyak. Sejalan dengan semakin besarnya suatu perusahaan maka juga dibutuhkan pendanaan yang besar. Perusahaan yang lebih besar akan lebih menyukai menggunakan pilihan metode akuntansi yang dapat merubah laporan laba dibandingkan perusahaan yang lebih kecil demi mendapatkan pendanaan dan reputasi lebih (Sri Sulistyanto, 2007:46).

Debt to Equity Ratio Menurut Godfrey et al. (2010:371) kontrak hutang adalah ketentuan tertulis yang berisi persyaratan perjanjian hutang untuk membatasi atau mengharuskan pengelolaan hutang dalam lingkup tertentu. Kontrak hutang

berisikan leverage keuangan yang menunjukkan efisiensi perusahaan dalam menggunakan ekuitas pemilik perusahaan demi antisipasi hutang perusahaan (Brealey et al., 2001:490). Debt to equity ratio merupakan bagian dari rasio leverage yang tertera di dalam kontrak hutang (Ross et al., 2009:83). Debt to equity ratio memperlihatkan kemampuan modal sendiri yang dimiliki perusahaan dan dijadikan jaminan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya yang tertera dalam kontrak hutang. Menurut Dina Rahmawati (2012:20) semakin rendah debt to equity ratio maka kemampuan perusahaan dalam membayar seluruh hutangnya juga akan tinggi. Semakin besar nilai hutang yang digunakan dalam struktur modal perusahaan, maka kewajibannya juga semakin besar. Sehingga dengan adanya peningkatan hutang, maka akan mempengaruhi besar atau kecilnya laba bersih yang tersedia untuk pemilik perusahaan. Sri Sulistyanto (2007:45) menyatakan bahwa dalam perjanjian hutang manajer akan mengatur laba demi penundaan pembayaran hutang.

Manajemen Laba Sri Sulistyanto (2007:4) menyatakan bahwa manajemen laba merupakan perilaku manajer untuk memanipulasi informasi dalam laporan keuangan secara oportunis agar tujuan yang diinginkan oleh manajer dapat tercapai. Manajer menginginkan kesejahteraan lebih untuk dirinya, sehingga manajemen laba dianggap salah satu cara tepat dalam mencapai tujuannya. Scott (dalam Olivia M. Sumtaky, 2007: 16) menjelaskan bahwa ada beberapa bentuk manajemen laba yaitu taking a bath, income minimization, income maximization, dan income smoothing.

Perataan Laba Menurut Belkaoui (2007:192) perataan laba merupakan upaya yang sengaja dilakukan dengan melakukan normalisasi laba untuk mencapai tingkatan atau kinerja trend yang diinginkan dan suatu upaya yang dilakukan oleh manajer

dengan sengaja untuk memperkecil fluktuasi laba pada tingkat yang dianggap normal. Menurut Sri Sulistyanto (2007:41) perusahaan melakukan perataan laba karena dalam lingkup kompensasi perataan laba dilakukan agar manajer mendapatkan bonus pada setiap periode terlebih apabila bonus dihitung berdasarkan perolehan laba dan dalam lingkup perpajakan perataan laba dilakukan guna mengatur jumlah pajak yang seharusnya dibayarkan oleh perusahaan kepada pemerintah dengan tujuan agar mendapatkan penundaan pembayaran pajak dan membayar pajak lebih rendah daripada kewajiban yang seharusnya. Menurut Setiawati dan Na’im (2000:424) teknik manajemen laba dalam perataan laba dapat dilakukan dengan:

1. Memanfaatkan peluang dalam pembuatan estimasi akuntansi. Manajemen dapat mengestimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi periode waktu depresiasi aktiva tetap dan amortisasi aktiva tak berwujud untuk mempengaruhi laba.

2. Mengubah metode akuntansi. Metode akuntansi dapat dirubah melalui pencatatan suatu transaksi seperti perubahan metode LIFO menjadi FIFO atau sebaliknya.

3. Menggeser periode biaya atau pendapatan. Manajemen dapat mempercepat atau menunda pengeluaran untuk reserch and development, biaya promosi, dan pengiriman produk pada periode berikutnya.

Skema kerangka konsep pemikiran dalam penenlitian ini adalah pada gambar 1 berikut:

dalam penenlitian ini adalah pada gambar 1 berikut: Gambar 1. Kerangka Konseptual Pemikiran Hipotesis Penelitian

Gambar 1. Kerangka Konseptual Pemikiran

Hipotesis Penelitian Berdasarkan kerangka konsep pemikiran di atas, maka perumusan hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:

H1 : Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap terjadinya perataan laba pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI tahun 2010-2013. H2 : Debt to Equity Ratio berpengaruh signifikan terhadap terjadinya perataan laba pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI tahun 2010-2013.

METODE Jenis Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian, maka penelitian ini termasuk jenis explanatory. Menurut Sugiyono (2012:21) penelitian eksplanatori merupakan penelitian penjelasan mengenai hubungan antara variabel-variabel yang diukur bedasarkan pengujian hipotesis. Hipotesis akan diuji guna menjelaskan hubungan pengaruh variabel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap perilaku perataan laba.

Jenis Data dan Sumber Data Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang berasal dari laporan keuangan tahunan perusahaan manufaktur pada sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2010-2013.

Populasi dan Sampel Populasi pada penelitian ini terdiri dari 38 perusahaan manufaktur pada sektor industri barang konsumsi yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia pada periode pengamatan 2010-2013. Sampel penelitian ditentukan dengan metode sensus, yaitu perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2010-2013 dan perusahaan mempublikasikan laporan keuangan secara terus menerus dan tidak delisting pada periode 2010-2013. Maka sampel pada penelitian ini terdiri dari 34 perusahaan manufaktur pada sektor industri barang konsumsi yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia pada periode pengamatan 2010-2013.

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel Dependen (Variabel Terikat) Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau suatu akibat dari pengaruh variabel independen (Sugiyono, 2010:59). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah income smoothing atau perataan laba. Variabel ini diukur menggunakan skala nominal variabel dummy. Berdasarkan penelitian sebelumnya, tindakan perataan laba ini diuji menggunakan Indeks Eckel (1981) (Budiasih, 2009:viii).

Indeks Perataan laba =

Eckel (1981) (Budiasih, 2009:viii). Indeks Perataan laba = I = S= CV= perubahan laba bersih perusahaan
Eckel (1981) (Budiasih, 2009:viii). Indeks Perataan laba = I = S= CV= perubahan laba bersih perusahaan

I =

S=

CV=

perubahan laba bersih perusahaan dalam satu periode perubahan penjualan dalam satu periode

deviasi

koefisien

diharapkan)

variasi

dari

satu periode deviasi koefisien diharapkan) variasi dari variabel (standar dibagi nilai yang I, maka perusahaan

variabel

(standar

dibagi

nilai

yang

I, maka perusahaan digolongkan dalam perusahaan

yang melakukan tindakan perataan laba atau indeks perataan laba kurang dari 1. Apabila CV S ≤ CV I, maka perusahaan digolongkan dalam perusahaan yang tidak melakukan perataan laba atau indeks perataan laba lebih besar dari 1. Perusahaan juga dikatakan sebagai perusahaan perata laba apabila terdapat satu atau lebih laporan keuangan yang terindikasi melakukan perataan laba selama periode waktu pengamatan.

Apabila CV

perataan laba selama periode waktu pengamatan. Apabila CV S > CV Variabel Independen (Variabel Bebas) Variabel
perataan laba selama periode waktu pengamatan. Apabila CV S > CV Variabel Independen (Variabel Bebas) Variabel

S > CV

laba selama periode waktu pengamatan. Apabila CV S > CV Variabel Independen (Variabel Bebas) Variabel independen

Variabel Independen (Variabel Bebas) Variabel independen merupakan variabel yang menjadi sebab atau menjadi pengaruh terhadap variabel dependen (Sugiyono, 2010:59). Monitoring cost merupakan biaya atau beban yang harus dikeluarkan oleh pemegang saham dalam upaya mengontrol perilaku manajer (Jensen dan Meckling, 1976:6-7). Proksi monitoring cost didasarkan pada pengawasan kontrak pendanaan yang berhubungan dengan ukuran perusahaan (Agnes Sawir, 2004:101) dan kontrak hutang yang berhubungan dengan debt to equity ratio (Ross et al., 2009:83) dijelaskan sebagai berikut:

a. Ukuran Perusahaan (SIZE) Ukuran perusahaan dihitung menggunakan logaritma natural atas total aktiva perusahaan selama periode 4 tahun. Logaritma natural (Ln)

digunakan guna memperhalus data yang berasal dari total aktiva dalam penghematan waktu komputasi bilangan dan mampu mengurangi perbedaan total aktiva antar perusahaan (Jogiyanto, 2013:392)

Ukuran Perusahaan = Total Aktiva

b. Debt to Equity Ratio (DER) Brigham dan Houston (2001:87) mendefinisikan debt to equity ratio merupakan perbandingan antara modal yang berasal dari hutang dibandingkan dengan pendanaan yang berasal dari modal sendiri. Debt to equity ratio dihitung menggunakan rumus:

Debt to Equity Ratio =

ratio dihitung menggunakan rumus: Debt to Equity Ratio = Metode Analisis Data Metode analisis data yang

Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis secara kuantitatif yaitu analisis data bersifat statistik atau kuantitatif yang bertujuan menguji hipotesis yang sudah ditetapkan (Sugiyono, 2010:13). Metode statistik yang digunakan adalah statistik deskriptif dan inferensial berupa pengujian univariate dan multivariate. Analisis dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer berupa Microsoft Excel 2007 dan SPSS 16.0.

HASIL PENELITIAN Statistik Deskriptif

Tabel 1. Perusahaan Perata Laba dan Bukan Perata Laba Per Periode Pengamatan

Periode

Perusahaan

Jumlah

Perata Laba

Bukan Perata Laba

2010

19

15

34

2011

17

17

34

2012

19

15

34

2013

14

20

34

Jumlah

69

67

136

Sumber: Data diolah, Ouput SPSS 16

Berdasarkan empat periode pengamatan, dari 136 laporan keuangan sebanyak 69 laporan keuangan (50,73%) terindikasi melakukan perataan laba dan 67 laporan keuangan (49,27%) terindikasi tidak melakukan perataan laba. Pada tahun 2010 terdapat 19 perusahaan (55,8%) melakukan perataan laba dan sebanyak 15 perusahaan (44,2%) tidak melakukan perataan laba. Pada tahun 2011 perusahaan perata laba menurun menjadi 17 perusahaan (50%) dan perusahaan perata laba menjadi 17 perusahaan (50%). Pada tahun 2012 perusahaan perata laba kembali meningkat menjadi 19 perusahaan (55,8%) dan perusahaan bukan perata laba sebanyak 15 (44,2%). Jumlah perusahaan perata laba kembali mengalami penurunan pada tahun 2013 yaitu sebanyak 14 perusahaan (41,2%) dan perusahaan bukan perata laba menjadi 20 perusahaan (58,8%).

Berdasarkan empat tahun periode pengamatan didapat ringkasan perusahaan yang pernah melakukan perataan laba dan tidak pernah melakukan pertaan laba. Terdapat 27 perusahaan (79,4%) yang terindikasi pernah melakukan perataan laba dan sebanyak 7 perusahaan (20,6%) tidak pernah melakukan perataan laba dalam periode pengamatan selama tahun 2010-2013.

Pengujian Univariate

uji

dahulu untuk pengujian normalitas data variabel independen.

Dilakukan

normalitas

One

Sample

Kolmogorov

Smirnov

terlebih

Tabel 2. Hasil Uji One Sample Kolmogorov Smirnov

Variabel

Nilai p

Keterangan

Ukuran Perusahaan

0,028

Tidak Normal

Debt to equity ratio

0,000

Tidak Normal

Sumber: Data diolah, Output SPSS 16

Hasil pengujian normalitas menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan debt to equity ratio berdistribusi tidak normal. Dengan demikian digunakan uji mann whitney u test dalam pengujian univariate.

Tabel 3. Hasil Uji Univariate

Variabel

Nilai p

Keterangan

Ukuran Perusahaan

0,065

Ha ditolak

Debt to equity ratio

0,646

Ha ditolak

Sumber: Data diolah, Output SPSS 16

Berdasarkan tingkat signifikansi sebesar 5% atau 0,05 dapat dilihat bahwa variabel ukuran perusahaan memiliki tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 (0,065>0,05). Pengujian ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari nilai ukuran perusahaan antara perusahaan pelaku perataan laba dan dengan perusahaan bukan pelaku perataan laba. Variabel debt to equity ratio memiliki tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 (0,646>0,05). Pengujian ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari debt to equity ratio antara perusahaan pelaku perataan laba dan dengan perusahaan bukan pelaku perataan laba.

Pengujian Multivariate Uji multivariate dilakukan dengan menggunakan metode regresi logistik berganda karena variabel dependen yang digunakan merupakan variabel dummy berskala nominal dan variabel independennya berskala rasio, interval, atau nominal. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen monitoring cost yaitu ukuran perusahaan dan debt to equity ratio berpengaruh secara signifikan terhadap perataan laba. Dilakukan uji asumsi klasik terlebih

dahulu agar data yang dianalisis tidak bias yaitu uji normalitas, uji multikoleniaritas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi. Berdasarkan uji asumsi klasik, diketahui bahwa data tidak berditribusi normal. Menurut Imam Ghozali (2006:261) dalam pengujian binary regression logistic tidak memerlukan variabel yang berdistribusi normal. Hasil uji multikolinieritas menunjukkan tidak terjadi adanya gejala multikolinieritas. Hasil uji heteroskedastisitas juga menunjukkan bahwa data memiliki model homoskedastisitas dan uji autokorelasi menunjukkan bahwa tidak terdapat autokorelasi. Kelayakan model regresi menggunakan overall model fit dan goodness of

fit

regresi menggunakan overall model fit dan goodness of fit dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4. Pengujian Overall Model Fit dan Goodness of Fit

Tabel 4. Pengujian Overall Model Fit dan Goodness of Fit     -2 Log   Nagelkerke
   

-2 Log

 

Nagelkerke R

Step

-2 Log

Step -2 Log Cox & Snell R Square

Cox & Snell R Square

Square

Square

   
   

1

188.507

180.541

.115

.153

Sumber: Data diolah, Output SPSS 16

Hasil pengujian di atas menunjukkan bahwa nilai -2Log likehood block number=0 lebih besar dibandingkan dengan nilai -2Log likehood block number=1 (188.507>180.541). Maka dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini memiliki model regresi logistik yang baik dalam uji overall model fit. Nilai Cox & Snell’s R Square adalah sebesar 0,115 yang menunjukkan bahwa variasi perataan laba dapat dijelaskan sebesar 11,5% oleh persamaan regresi dan sisanya dapat dijelaskan oleh variabel lain di luar penelitian ini sebesar 88,5%. Nagelkerke R Square menunjukkan nilai sebesar 0,153 yang menjelaskan pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen adalah sebesar 15,3% dan sebesar 84,7% perataan laba dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar penelitian ini.

Tabel 5. Hasil Uji Multivariate Secara Simultan

   

B

S.E.

Wald

Df

Sig.

Exp(B)

Step 0

Constant

.029

.172

.029

1

.864

1.030

Sumber: Data diolah, Output SPSS 16

Pengujian selanjutnya didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,864. Dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen tidak berpengaruh secara simultan (bersama-sama) terhadap variabel dependen karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (0,864>0,05). Maka variabel ukuran perusahaan dan debt to equity ratio tidak berpengaruh secara simultan terhadap perataan laba. Berdasarkan tabel 6, disusun persamaan persamaan regresi sebagai berikut:

PL = 3,176 + 0,23(SIZE) - 0,113(DER) + e

Tabel 6. Hasil Uji Multivariate Secara Parsial

 

B

S.E

Wald

Df

Sig.

Exp (B)

Step 1

SIZE

.231

.113

4.171

1

.041

1.023

DER

-.113

.100

1.278

1

.258

.510

Constant

3.176

1.615

3.867

1

.049

.457

Sumber: Data diolah, Output SPSS 16

Nilai probabilitas (Sig.) pada variabel ukuran perusahaan sebesar 0,041. Dapat disimpulkan bahwa ditolak dan tidak ditolak, dengan kata lain variabel ukuran perusahaan (SIZE) berpengaruh siginifikan terhadap perataan laba karena nilai probabilitas kurang dari 0,05 (0,041 > 0,05). Untuk nilai probabilitas (Sig.) pada variabel debt to equity ratio (DER) adalah sebesar 0,258. Hal ini menjelaskan bahwa tidak ditolak dan ditolak atau variabel ukuran perusahaan tidak siginifikan terhadap perataan laba karena nilai probabilitas lebih besar dari 0,05 (0,258 > 0,05). Selanjutnya dilakukan uji regresi logistik secara terpisah dengan mengeluarkan variabel independen debt to equity ratio (DER) yang memiliki nilai probabilitas tertinggi sebesar 0,258. Pengujian ini dilakukan untuk lebih meyakinkan hasil yang telah diperoleh dari pengujian sebelumnya yakni pengujian multivariate serentak. Hasil yang diperoleh dalam pengujian multivariate terpisah adalah sebagai berikut:

pengujian multivariate terpisah adalah sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Uji Multivariate Secara Terpisah   B
pengujian multivariate terpisah adalah sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Uji Multivariate Secara Terpisah   B
pengujian multivariate terpisah adalah sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Uji Multivariate Secara Terpisah   B
pengujian multivariate terpisah adalah sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Uji Multivariate Secara Terpisah   B

Tabel 6. Hasil Uji Multivariate Secara Terpisah

 

B

S.E.

Wald

Df

Sig.

Exp(B)

Step 1 a

SIZE

.240

.112

4.582

 

1 .032

.786

Constant

3.445

1.603

4.616

 

1 .032

31.343

Sumber: Data Diolah, Output SPSS 16

       

Nilai signifikansi ukuran perusahaan sebelumnya 0,041 menjadi 0,032 masih tetap menunjukkan tingkat signifikansi di bawah 0,05 dimana Ha tetap diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian multivariate secara terpisah tidak jauh berbeda atau konsisten dengan hasil pengujian multivariate secara serentak.

PEMBAHASAN Perilaku Perataan Laba Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Eckel untuk mengetahui perusahaan yang terindikasi melakukan perataan laba, disimpulkan bahwa dilihat dari empat periode pengamatan terdapat perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2010-2013 melakukan perataan laba. Diketahui sebanyak 69 laporan keuangan (50,73%) terindikasi melakukan perataan laba dan 67 laporan keuangan (49,27%) tidak terindikasi melakukan perataan laba berdasarkan 136 laporan keuangan. Berdasarkan 34 perusahaan sampel, sebanyak 27 (79,4%) perusahaan terindikasi pernah melakukan perataan laba dan sebanyak 7 (20,6%) perusahaan tidak pernah melakukan perataan laba dalam periode pengamatan selama tahun 2010-2013.

Faktor-Faktor yang Diduga Mempengaruhi Perataan Laba Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan yang merupakan proksi dari monitoring cost diduga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya perataan laba. Hasil pengujian pengaruh variabel ukuran perusahaan yang dihitung dengan total aktiva terhadap perataan laba pada penelitian ini menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan berpengaruh signifikan positif terhadap perataan. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berbanding lurus dengan perataan laba dimana setiap adanya kenaikan pada ukuran perusahaan akan meningkatkan terjadinya perataan laba. Penelitian ini konsisten dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Budiasih (2009), Diastiti (2010), Muhammad dan Desry (2010), Susilowati (2010), dan Suryandari (2012) yang menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap perataan laba. Selain itu hasil peneitian ini juga sesuai dengan pernyataan Sri Sulistyanto (2007:46) yaitu perusahaan yang lebih besar akan lebih menyukai menggunakan pilihan metode akuntansi yang dapat merubah laporan laba dibandingkan perusahaan yang lebih kecil demi mendapatkan pendanaan dan reputasi lebih. Perataan laba pada perusahaan besar juga dapat dilakukan manajer untuk pemenuhan kontrak kompensasi karena skema kompensasi berkaitan secara langsung dengan kinerja yang dicapai oleh perusahaan (Belkaoui, 2007:194). Madura (2007:83) juga menemukan bahwa manajer yang bekerja pada perusahaan besar cenderung mendapatkan kompensasi yang besar dan dapat menimbulkan keinginan manajer untuk melakukan perataan laba.

Debt to Equity Ratio Debt to equity ratio yang merupakan proksi dari monitoring cost diduga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya perataan laba. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa debt to equity ratio yang merupakan perbandingan antara total hutang dengan total ekuitas tidak berpengaruh secara signifikan negatif terhadap terjadinya perilaku perataan laba. Hasil penelitian ini konsisten dengan dua penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Muhammad dan Desry (2010) dan Suryandari (2012) yang menyatakan bahwa debt to equity ratio tidak berpengaruh terhadap terjadinya perilaku perataan laba. Nilai koefisien negatif menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat hutang tinggi memiliki kecenderungan untuk tidak melakukan perataan laba. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengawasan ketat dalam pelaksanaan kontrak hutang oleh dewan audit dan manajer berusaha memenuhi perjanjian penggunaan hutang agar terhindar dari kemacetan pengembalian pinjaman sehingga manajer dituntut untuk tidak melakukan perataan laba. Sesuai dengan pernyataan McGuigan, et al. (2008:14) dalam mengurangi tindakan manajer dalam konflik keagenan, perusahaan perlu melakukan audit internal maupun oleh dewan pengawas untuk memantau sikap manajemen terutama dalam pelaksanaan kontrak yang telah disepakati. Selain itu, dengan tingkat hutang yang tinggi maka tingkat pengembalian juga akan tinggi meskipun risiko yang didapatkan juga tinggi. Tingkat fluktuasi laba yang terjadi dalam perusahaan mungkin dianggap sebagai sinyal yang dapat menarik minat investor untuk berinvestasi pada perusahaan berisiko tinggi

sehingga dapat memengaruhi tindakan manajemen memutuskan untuk tidak melakukan perataan laba.

KESIMPULAN Kesimpulan Terdapat perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang terindikasi melakukan praktik perataan laba. Sebanyak 27 perusahaan (79,4%) terindikasi pernah melakukan perataan laba dan sebanyak 7 perusahaan (20,6%) tidak pernah melakukan perataan laba berdasarkan 34 perusahaan sampel dalam periode pengamatan tahun 2010-2013. Dilihat dari empat periode pengamatan terdapat 69 laporan keuangan (50,73%) yang terindikasi melakukan perataan laba dan 67 laporan keuangan (49,27%) tidak terindikasi melakukan perataan laba berdasarkan 136 laporan keuangan pada periode pengamatan 2010-2013. Ukuran perusahaan sebagai proksi dari monitoring cost berpengaruh secara signifikan positif terhadap praktik perataan laba. Debt to equity ratio sebagai proksi dari monitoring cost tidak berpengaruh secara signifikan terhadap praktik perataan laba.

Saran

Saran bagi penelitian selanjutnya agar dapat dikembangkan pada penelitian berikutnya adalah: (1) Menambahkan variabel lain yang diduga mempengaruhi tindakan perataan laba yang masih banyak diteliti hingga sekarang seperti profitabilitas, perubahan kebijakan akuntansi, net provit margin, financial leverage, winner/loser stock, return on asset, rencana kompensasi, dan lain sebagainya. (2) Menambahkan sampel perusahaan lebih banyak dengan periode waktu penelitian yang lebih panjang agar diperoleh hasil penelitian yang lebih akurat. (3) Penggunaan indeks untuk mengklasifikasi perataan laba selain indeks Eckel (1981) seperti model Jones (1991) yang dapat mengidentifikasi perataan laba dengan dua pendekatan atau indeks Michelson (1995) yang mampu mengidentifikasi perusahaan yang melakukan praktik perataan laba dengan perusahaan yang tidak melakukan praktik perataan laba.

DAFTAR PUSTAKA

Agnes Sawir, 2004, Kebijakan Pendanaan dan Restrukturisasi Perusahaan, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Alwan Sri Kustono, 2008, Analisis Biaya Keagenan dan Perataan Penghasilan, Jurnal Aplikasi Manajemen, Vol. 9, No. 3, 2011 Mei, hal. 890-900.

Anonim,

2014,

Manufaktur

Ditopang

Sektor

Barang

Konsumsi

(online),

(http://www.kemenperin.go.id/artikel/7014/Manufaktur-Ditopang-Sektor-

Barang-Konsumsi), diakses 18 November 2014.

Belkaoui, Ahmed

Riahi,

2006, Teori

Akuntansi,

Terjemahan oleh

Ali

Akbar

Yulianto & Risnawati Dermauli, 2007, Salemba Empat, Jakarta.

Brealey, Richard A., Myers Stewart C., Marcus Alan J., 2001, Fundamentals of. Corporate Finane, Mc Graw-Hill, Singapore.

Brigham, Eugene F., , 1998, Manajemen Keuangan, Terjemahan oleh Dodo Suharto & Herman Wibowo, 2001, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Brigham, Eugene

F.,

dan Joel

F.

Houston, 2006,

Dasar-dasar Manajemen

Keuangan, Edisi 10, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Budiasih, 2009, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba, Jurnal Akuntansi Bisnis, Vol. 4, No. 1, Januari 2009, hal: 44-50.

Diastiti Okkarisma Dewi, 2010, Pengaruh Jenis Usaha, Ukuran Perusahaan dan Financial Leverage Terhadap Tindakan Perataan Laba Pada Perusahaan yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia, Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.

Dina Rahmawati, 2012, Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Praktik Perataan Laba (Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2007-2010), Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang.

Dyah Nirmala Arum, 2012, Statistik Deskriptif & Regresi Linier Berganda dengan SPSS, Semarang University Press, Semarang.

Godfrey, J., Hodgson, A., Tarca, A., Hamilton, J., and Holmes, S., 2010, Accounting Theory, John Wiley and Sons, Australia.

Horne, James C. Van, John M. Wachowicz, JR, 2005, Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan (Buku 2), Terjemahan oleh Dewi Fitriasari & Deny Arnos Kwary, 2010, Salemba Empat, Jakarta.

ICFAI Center for Management Research, 2006, Principles of Management Cotrol System, ICFAI University, Hyderabad India.

I Made Sudana, 2011, Manajemen Keuangan Perusahaan: Teori dan Praktik, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Imam Ghozali, 2006, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Spss, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Jensen, Michael C. and Wiliiam H. Meckling, 1976, Theory of The Firm Managerial Behaviour, Agency Cost and Ownership Structure, Journal of Financial Economics, Vol. 3, No.4, 1976 October, pp. 305-360.

Juniarti dan Carolina, 2005, Analisa Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Perataan Laba (Income Smoothing) Pada Perusahaan-Perusahaan Go

Public,

hal: 148-162.

Jurnal Akuntansi & Keuangan, Vol. 7,

No. 2,

2005 November,

Jogiyanto, 2013,

Analisis & Desain Sistem Informasi : Pendekatan Tertruktur

Teori dan Praktik Aplikasi Bisnis, Andi Offset, Yogyakarta.

Lind, Douglas A., William G. Marchal, Samuel A. Wathen, 2008, Teknik-Teknik Statistik dalam Bisnis dan Ekonomi 2, Terjemahan oleh Chriswan Sungkono, 2008, Salemba Empat, Jakarta.

Luky Susilowati, 2010, Praktek Perataan Laba Ditinjau dari Faktor Ukuran Perusahaan, Profitabilitas dan Leverage Operasi pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Jurnal Aplikasi Manajemen, Vol. 8, No. 3, 2010 Agustus, hal. 859-865.

Madura, Jeff, 2007, Pengantar Bisnis, Terjemahan oleh Ali Akbar Y., & Krista, 2011, Salemba Empat, Jakarta.

McGuigan, James R., R. Charles Moyer,

Frederick H.

deB.

Harris, 2008,

Economic for Managers, Thomson South-Western, Canada.

Muhammad Arfan, Desry Wahyuni, 2010, Pengaruh Firm Size, Winner/Loser Stock, dan Debt To Equity Ratio Terhadap Perataan Laba (Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Jurnal Telaah & Riset Akuntansi, Vol. 3, No 1, 2010, hal. 52-65.

Munawir, 2007, Analisa Laporan Keuangan, Liberty, Yogyakarta.

Ni Nyoman Ayu Suryandari, 2012, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Income Smoothing, Media Komunikasi FIS, Vol. 11, No.1 , 2012 April, hal. 196-205.

Olivia M. Sumtaky, 2007, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang.

Ross, Stephen A., Randolph W. Westerfield, Bradford D. Jordan, 2008, Pengantar Keuangan Perusahaan, Terjemahan oleh Ali Akbar Y., Rafika Yuniasih, & Christine, 2009, Salemba Empat, Jakarta.

Setiawati,

2000,

Indonesia, Vol. 15, No. 4, hal. 424-441.

L.,

Na’im,

Manajemen

Laba,

Jurnal

Ekonomi

dan

Bisnis

Singgih Santoso, 2010, Statistik Multivariat, PT. Gramedia, Jakarta.

Sri Sulistyanto, 2008, Manajemen Laba (Teori & Model Empiris), Jakarta.

Grasindo,

Sugiyono, 2010, Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B. Bandung:

Alfabeta.

Windasari Rachmawati, 2002, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perataan Laba dan Hubungannya dengan Return Saham Perusahaan yang Melakukan dan Tidak Melakukan Perataan Laba pada Perusahaan yang Listing di Bursa Efek Jakarta, Tesis Program Studi Magister Manajemen Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang.

Zimmerman, Jerrold L., 2006, Accounting for Decision Making and Control, McGraw-Hill Companies Inc., New York.