Anda di halaman 1dari 2

IDA AYU MARINA CLARA (1206214425)

Tantangan Profesi Akuntan dalam Menghadapi MEA


Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan kesepakatan yang dibangun oleh sepuluh negara
anggota ASEAN di bidang ekonomi dalam rangka meningkatkan perekonomian di kawasan ASEAN untuk
meningkatkan daya saing di dunia internasional. Rencana pemberlakuan MEA tersebut dicantumkan dalam
Piagam ASEAN yang disahkan pada tahun 2007. Pada saat itu juga disepakati bahwa pencapaian MEA akan
dipercepat dari tahun 2020 menjadi tahun 2015. Setidaknya terdapat lima hal yang akan diimplementasikan
yaitu kebebasan dalam arus barang, arus jasa, arus investasi, arus modal, dan arus tenaga kerja terampil.
Pada 2015 nanti, negara anggota ASEAN yang terdiri dari Indonesia, Myanmar, Thailand, Malaysia,
Singapura, Brunai Darussalam, Philipina, Laos, dan Kamboja, dan Vietnam harus membebaskan 5 hal di
atas untuk negara-negara intra ASEAN.
Jasa akuntansi merupakan salah satu contoh jasa yang nantinya akan diperdagangkan secara bebas di
ASEAN. Liberalisasi jasa akuntan se-ASEAN tampaknya bukan masalah yang mudah bagi profesi akuntan
Indonesia apabila merujuk pada posisinya dengan negara ASEAN lainnya. Selain kalah dari segi jumlah,
tidak sedikit pula yang menyangsikan kualitas akuntan Indonesia apabila dibandingkan dengan akuntanakuntan dari Malaysia, Singapura, dan Filipina. Oleh karena itu, sudah pasti akuntan di Indonesia akan
menghadapi tantangan-tantangan untuk mengembangkan kemampuannya baik dalam hard skills maupun
soft skills. Tantangan dalam bentuk hard skills yaitu:
1. Uji sertifikasi profesi tingkat internasional. Sertifikasi profesional adalah suatu bentuk pengakuan atas
tingkat profesionalitas dari seseorang akan bidang yang digelutinya. Dalam jasa akuntan, sertifikat
profesional yang dimiliki seorang akuntan menjadi daya jual akuntan tersebut dan membedakan tingkat
kualitas dan keahlian seorang akuntan dibanding dengan akuntan lainnya. Sertifikasi profesional dalam
bidang akuntansi misalnya Chartered Management Accountants (CMA), Certified Professional
Management Accountants (CPMA), Certified Information System Auditor (CISA), dan lain-lain.
2. Kemampuan menggunakan teknologi. Peran teknologi informasi dalam membantu proses akuntansi
dalam perusahaan/organisasi telah lama berlangsung. Alasan utama penggunaan teknologi dan informasi
(TI) dalam akuntansi ialah efisiensi, penghematan waktu dan biaya. Alasan lainnya adalah peningkatan
efektifitas, pencapaian hasil/output laporan keuangan dengan benar, serta perlindungan atas aset
perusahaan yaitu informasi. Kemajuan pesat pada TI sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan
aplikasi ilmu akuntansi. Munculnya istilah enterprise systems, e-business, business intelligence,
conforming to assurance and compliance standards, IT governance, business continuity management,
privacy management, business process improvement, mobile and remote computing, XBRL, dan
knowledge management menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dapat membuat dunia akuntansi
menjadi semakin kompleks. Sehingga akuntan yang dapat menguasai teknologi dengan cepat mutlak
diperlukan oleh suatu perusahaan.
3. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Sebagai bahasa internasional yang telah diakui di
seluruh dunia, bahasa Inggris bukan lagi sebagai kebutuhan akademis saja. Hal ini karena penguasaan
bahasa Inggris tidak hanya terbatas pada aspek pengetahuan bahasa, melainkan juga sebagai media

komunikasi global. Di dunia usaha yang makin mengglobal, penggunaan bahasa Inggris oleh pelaku
bisnis lebih dirasakan sebagai suatu keharusan. Misalnya pekerjaan seorang akuntan dapat tertunda
karena komunikasi yang terbata-bata dengan klien dari negara lain. Contoh dalam lingkup Kantor
Akuntan Publik (KAP) misalnya kesempatan untuk bekerja sama dengan KAP internasional terancam
batal akibat tidak dapat menyediakan akuntan-akuntan yang bisa berbahasa Inggris.
Sedangkan tantangan dalam bentuk soft skills yaitu:
1. Mampu bekerja dengan karyawan dari berbagai negara. Ketika seorang akuntan bekerja di suatu KAP
internasional, maupun perusahaan dengan skala internasional, maka ia akan menghadapi teman kerja
yang sangat beragam. Akuntan, khususnya akuntan internal dalam suatu perusahaan tidak hanya
berhadapan dengan seorang akuntan. Ia akan berhadapan dengan departemen-departemen lain ketika
sedang menyusun laporan keuangan perusahaan. Keragaman dalam dunia kerja tersebut akan
mengganggu akuntan apabila ia tidak dapat bekerja-sama dengan karyawan dari negara lain. Dalam hal
mengatasi perbedaan-perbedaan tersebut, akuntan dituntut untuk dapat bergaul dan berkomunikasi
dengan baik sehingga akan tercipta suasana kerja yang nyaman. Selain itu, akuntan juga dituntut mampu
mengerti dan menghormati satu sama lain.
2. Mampu menghadapi klien dari berbagai negara. Seorang akuntan publik yang ditugaskan untuk
melakukan audit atas sebuah perusahaan terbuka (klien) tentu harus mampu berkomunikasi dengan
manajemen dari perusahaan tersebut. Perusahaan asing yang memiliki cabang atau anak perusahaan di
Indonesia biasanya memiliki manajer-manajer yang berasal dari negara asal perusahaan tersebut (home
country). Agar dapat berkomunikasi dengan manajemen perusahaan tersebut, tentunya seorang akuntan
harus memahami karakteristik-karakteristik klien tersebut. Hal ini karena masing-masing klien dari
berbagai negara memiliki budaya yang berbeda-beda.
3. Memiliki disiplin dan etos kerja yang tinggi. Akuntan merupakan sebuah profesi yang kinerjanya dapat
diukur dengan seberapa cepat dan tepat laporan keuangan yang disajikan oleh akuntan agar laporan
keuangan dapat digunakan untuk mengambil keputusan. Kecepatan dan ketepatan ini tidak akan terwujud
apabila akuntan tidak memiliki disiplin dan etos kerja yang tinggi. Ketika menghadapi klien dari negaranegara ASEAN, akuntan harus memperlihatkan disiplin dan etos kerja yang tinggi agar dapat bersaing
dengan akuntan di negara tersebut karena klien sangat menyukai akuntan yang cepat dan teliti.
Untuk menghadapi tantangan-tantangan yang akan dihadapi dalam rangka MEA, maka seorang akuntan
harus dapat meningkatkan kemampuannya dalam bentuk hard skills maupun soft skills. Dalam bentuk hard
skills misalnya dengan mengikuti berbagai sertifikasi profesi akuntan yang diperlukan serta mengasah
kemampuan dalam menggunakan teknologi dan bahasa Inggris. Sedangkan dalam bentuk soft skills
misalnya dengan

mengasah kemampuan berkomunikasi yang mudah, efektif, dan dapat dimengerti,

mempelajari karakteristik-karakteristik budaya dan kepribadian masyarakat di negara yang dituju, saling
menghargai dan menghormati, serta memelihara sikap disiplin dalam bekerja.