Anda di halaman 1dari 3

Patogenesis

TB paru primer disebabkan oleh basil asam, Mycbacterium tuberculosis. Basil yang
terinhalasi menginfeksi lobus paru atas dengan ventilasi baik dan perfusi buruk di
subpleura. Granuloma yang terbentuk yang dikenal sebagai focus Ghon, dan
beserta pembesaran kelenjar getah bening hilus yang bermuara ke dalam paru
yang terkena di sebut kompleks primer. Keadaan tersebut terjadi selama 3-8
minggu, dan disertai perkembangan reaksi inflamasi terhadap suntikan protein
tubercular(tuberkulin) ke dalam kulit, yang dapat digunakan sebagai tes biasanya
dapat terjadi, dengan fibrosis dan kalsifikasi focus Ghon serta imunitas terhadap
infeksi selanjutnya.
TB paru pascaprimer terjadi jika focus Ghon gagal menyembuh akibat
pertahanan pejamu yang buruk, atau setelah reaktivasi. Keadaan tersebut bersifat
fatal. Desiminasi local menyebabkan pneumonia tuberculosis dan efusi pleura.
Penyebaran melalui darah dapat mengenai meningen atau organ-organ. Pada
sedikit kasus, infeksi yang menyebar luas mengenai banyak jaringan (TB milier).
Gambaran klinis
TB paru primer terjadi pada usia muda. TB tersebut sering asingtomatik tanpa
tanda-tanda klinis dan dapat menyebabkan penyakit demam ringan, eritema
nodosum ( lesi, nyeri, garas berindurasi), dan sedikit efusi plura. Kompresi bronkus
oleh limfadenopati dapat menyebabkan mengi dan kadang-kadang kolaps lobar
diikuti bronkiektasis lanjut.
TB pascaprimer terjadi berbulan-bulan, dengan malaise, anoreksia,
penurunan berat badan, keringat malam dan batuk prodtif. Sulit bernafas, nyeri
dada, hemoptisis, dan limfadenopati servikal dapat terjadi. Tanda klinis pneumonia
dan efusi pleura sering terjadi, sedangkan lupus vulgaris (infeksi kulit indolen)
jarang terjadi. TB militer dengan penyakit nonspesifik, malaise, dan penurunan
berat badan. Tanda-tanda klinis yang jarang meliputi hepatomegali dan tuberkel
koroid di retina.
Pemeriksaan penunjang
Tes darah dapat mndeteksi anemia, penurunan natrium, dan peningkatan kalsium
Tes Mantoux: sangat positif pada TB paru pascaprimer (indurasi kulit>5 mm
dengan 10 unit tuberculin intradermal; dibaca pada hari ketiga). Sering negative
pada TB milier (penurunan respons pejamu) dan HIV (penurunan imunitas selular).
Tes Heaf (tes skrinning;sekarang jarang digunakan): suatu cincin dengan
enam cocokan peniti yang dibuat melalui larutan tuberculin pada lengan bawah.
Tidak adanya respons pada ke-4-7 (derajat 0) memperlihatkan kurangnya imunitas:
4-6 nodul diskret (derajat 1) atau I penglihatan.suatu cincin yang terbentuk
melalui koalisi semua cocokan peniti (derajat 2) menunjukkan imunitas. Suatu nodul

yang dibentuk dengan mengisi cincin (derajat 3) menggambarkan paru saja terjadi
kontak atau infeksi tuberculosis dini, dan suatu nodul >5-7 mm dengan vesikel atau
ulserasi permukaan (derajat 4) menunjukkan infeksi.
Mikrobiologi: basil tahan asam dapat di seteksi pada sputum atau bilasan
paru yang menggunakan pewarna Zielh-Neelsen. Namun, basil tumbuh lambat, dan
kultur serta sensitivitas obat memerlukan waktu 4-6 minggu. Kultur dari sumsum
tulang atau cairan serebrospinal (CSS) dapat mengkonfirmasi diagnosis TB milier.
Histopatologi: aspirasi pleura dengan biopsi mengkonfirmasi TB pada ~90%
pasien dengan efusi pleura. Biopsy hati akan menemukan TB milier pada ~60%
kasus.
Radiografi dada: pembentukan bayangan lobus bawah sangat menunjang.
Kavitas di apeks, efusi pleura, dan pneumotoraks dapat terjadi. Pada TB milier,
nodul kecil yang tersebar luas (diameter 2-3 mm) serta difus menyebar ke seluruh
paru (bayangan milier) dan mudah luput dari penglihatan.
Terapi obat
Prognosis baik jika pasien tidak mengalami gangguan imun. Nutrisi yang baik,
pengurangan konsumsi alcohol, dan kepatuhan pada terapi obat merupakan factorfaktor penting. Tb paru nonkomplika diobati selama 6 bulan. Pada awalnya,
sekurang-kurangnya digunakan tiga obat, untuk mencegah perkembangan strain
yang resisten. Regimen yang Dianjurkan adalah rifampisin dan isoniazid selama 4
bulan. Tambahan piridoksin mencegah neuropati perifer akibat isozianid. Fungsi hati
sebaiknya dipantau, karena rifampisin dan pirazinamid dapat menyebabkan
disfungsi hati. Jika dicurigai terjadi resistensi obat (rekurensi TB pada pasien yang
tidak patuh), maka regimen 4 obat (tambahan etambutol) dapat dimulai. Bila ada
hasil kultur, obat alternative akan menggantikan obat yang tidak sensitif untuk
mikrobakterium. Etambutol ( pantaulah penglihatan warna untuk neuritis optikus).
Streptomision (pantaulah kadar plasma untuk menghindari gangguan pendengaran)
atau sipoksasin dapat digunakan. Pada TB paru berat, kortikosteroid kadang-kadang
memperbaiki hasil.
Di beberapa organ (misalnya tulang), TB diobati lebih lama, sering dengan
obat-obat tambahan. Pada TB meningeal atau serebral, regimen empat obat selama
12 bulan dengan tambahan steroid dianjurkan, untuk memastikan penetrasi otak
yang yang adekuat dan mencengah komperi nervus kranialis akibat pembentuka
parut meningeal.
Komplikasi
Reaktivasi parut tuberculosis lama dapat terjadi jika seorang pasien mengalami
gangguan imun. Kemoprofilaksis dengan isoniazid sering diberikan sebelum
pengobatan imunosupresif (kemoterapi, transpalantasi organ). Bronkiektasis dan

kavitas paru dengan infeksi jamur sekunder (misetoma), lesi nervus kranialis, dan
obstruksi saluran ginjal dapat terjadi akibat pembentukan parut yang disertai
penyembuhan stelah TB. Pengobatan yang tidak adekuat atau tidak patuh dapat
menyebabkan munculnya strain mikobakteri multiresisten yang dapat sulit
dieradikasi. Supervisi kompulsif dan isolasi pasien tersebut mungkin diperlukan.
Pencegahan dan pelacakan kontak
Vaksinasi yang non-imun dengan BCG (basil-Calmette-Guerin), suatu strain TB sapi
nonvirulen, menghasilkan imunitas dan mengurangi risiko TB paru sebesar 70%.
Layanan kesehatan komunitas harus diberitahu bila seorang pasien terdiagnosis TB,
untuk melacak kontakdan mencegah penyebaran. Kontak diskrining dengan tes
Heaf. Jika tes ini menunjukkan suatu risiko infeksi, maka radiografi dada dan tindak
lanjut yang sesuai harus dijadwalkan.