Anda di halaman 1dari 20

I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tubuh manusia maupun hewan mempunyai banyak sistem organ tubuh. Sistem
tersebut masing-masing melaksanakan fungsi faal tertentu. Agar dapat melaksanakan
fungsinya dan tidak terjadi benturan, maka di dalam tubuh itu dilengkapi dengan sistem
pengatur yang dikenal dengan sistem regulasi. Sistem regulasi dilakukan oleh sistem
saraf, sistem endokrin, dan sistem indra. Ketiganya bertugas mengatur keserasian kerja
organ tubuh. Sistem saraf menanggapin adanya perubahan lingkungan yang
merangsangnya. Sistem hormon mengatur pertumbuhan, keseimbangan internal,
reproduksi, serta tingkah laku. Alat indra merupakan penerima rangsang dari luar tubuh.
Dalam makalah ini akan dibahas lebih mendalam mengenai hormon.
1.2 Identifikasi Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan hormon.
2. Apa peranan hormon bagi tubuh makhluk hidup.
3. Apa saja macam-macam hormon yang ada di dalam tubuh makhluk hidup.
4. Bagaimana mekanisme kerja hormon di dalam tubuh makhluk hidup.
5. Bagaimana transpor hormon yang ada di dalam tubuh makhluk hidup.
1.3 Maksud dan Tujuan
1. Mengetahui pengertian hormon.
2. Mengetahui peranan hormon bagi tubuh makhluk hidup.
3. Mengetahui macam-macam hormon yang ada di dalam tubuh makhluk hidup.
4. Mengetahui mekanisme kerja hormon di dalam tubuh makhluk hidup.
5. Mengetahui transpor hormon yang ada di dalam tubuh makhluk hidup.

II
TINJAUAN PUSTAKA
Sistem saraf dan hormon memiliki peranan sebagai pengendali, pengaturan dan
koordinasi aktivitas sel, jaringan, dan alat-alat tubuh. Tanpa pengendalian, pengaturan,
dan koordinasi, fungsi sel dan alat tubuh akan kacau balau (Wulangi, 1993).
Hormon adalah bahan organik aktif yang berfungsi untuk mengontrol

aktifitas

bagian-bagian tubuh (mendorong atau menghambat). Bahan ini diangkutoleh darah ke


seluruh tubuh dan alat sasaran dan bulkan lewat salauran khusus.Karena itu kelenjar
yang menghasilkannya disebut kelenjar buntu atau kelenjar endokrin. Kelenjar buntu
banyak dilewati pembuluh darah dan pembuluh kapiler bercabang banyak di atara sel
parenkim kelenjar (Jatmika, 1986).
Hormon dihasilkan oleh suatu kelenjar buntu atau kelenjar endokrin.Kelenjar
buntu banyak dilewati pembuluh darah dan pembuluh kapiler bercabang banyak di atara
sel parenkim kelenjar (Jatmika, 1986). Pengaruh hormon dapatterjadi dalam beberapa
detik, hari, minggu, bulan, dan kadang-kadang beberapatahun (Wulangi, 1993).
Pengendalian, pengaturan, dan koordinasi aktivitas sel, jaringan, dan alat-alat
tubuh dilakuan oleh sistem saraf dan hormon. Tanpa pengendalian, pengaturan, dan
koordinasi,

fungsi

aktivitas seperti

sel

dan

alat tubuh akan

kacau balau.

metabolisme, reproduksi, pertumbuhan,

Hormon

dan

mengatur

perkembangan.

Pengaruh hormon dapat terjadi dalam beberapa detik, hari, minggu, bulan, dan kadangkadang beberapa tahun. Banyak kaitan yang terjadi antara sistem saraf dan hormon.
Kelenjar yang menghasilkan hormon disebut kelenjar endokrin. Disebut juga kelenjar
buntu karena hormon yang dihasilkantidak dialirkan melalui suatu saluran tetapi
langsuk masuk ke pembuluh darah (Wulangi, 1993).
Tidak

sedikit

hormon

yang

bertindak

sebagai

messanger

pertama

yangmerupakan seri dari messanger yang berurutan sehingga mengarah kepada


adanyarespons spesifik di sel target. Dalam perjalanannya di dalam darah dan
cairaninterstitial, hormon ini akhirnya bertemu dengan reseptor yang khas untuk
hormon tersebut Reseptor ini terdapat di permukaan atau di dalam sel target. Interaksi

antara hormon dengan reseptor akan menimbulkan seri langkah yangmempengaruhi


satu atau lebih aspek fisiologi atau metabolisme dari suatu sel (Jatmika, 1986).
Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol dan
memadukan

fungsi

tubuh.

Kedua

sistem

ini

bersama-sama

bekerja

untuk

mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling berhubungan,
namun dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu. Misalnya, medulla adrenal dan
kelenjar hipofise posterior yang mempunyai asal dari saraf (neural). Jika keduanya
dihancurkan atau diangkat, maka fungsi dari kedua kelenjar ini sebagian diambil alih
oleh sistem saraf. Sistem endokrin melibatkankelenjar endokrin dan hormon (Haqiqi,
2008).

III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Hormon
Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin yang mempunyai
efek tertentu pada aktifitas organ-organ lain dalam tubuh. Hormon seks merupakan zat
yang dikeluarkan oleh kelenjar seks dan kelenjar adrenalin langsung ke dalam aliran
darah. Mereka secara sebagian bertanggungjawab dalam menentukan jenis kelamin
janin dan bagi perkembangan organ seks yang normal. Mereka juga memulai pubertas
dan kemudian memainkan peran dalam pengaturan perilaku seksual.
Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar
buntu. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran sehingga
sekresinya akan masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh.
Apabila sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya
perubahan. Pada umumnya pengaruh hormon berbeda dengan saraf. Perubahan yang
dikontrol oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu
panjang. Contohnya pertumbuhan dan pemasakan seksual.
Hormon (dari bahasa Yunani, : horman - yang menggerakkan) adalah
pembawa pesan kimiawi antarsel atau antarkelompok sel. Semua organisme
multiselular, termasuk tumbuhan, memproduksi hormon. Hormon berfungsi untuk
memberikan sinyal ke sel target yang selanjutnya akan melakukan suatu tindakan atau
aktivitas tertentu.
Pada hewan, hormon yang paling dikenal adalah hormon yang diproduksi oleh
kelenjar endokrin vertebrata. Walaupun demikian, hormon dihasilkan oleh hampir
semua sistem organ dan jenis jaringan pada tubuh hewan. Molekul hormon dilepaskan
langsung ke aliran darah, walaupun ada juga jenis hormon - yang disebut ektohormon
(ectohormone) - yang tidak langsung dialirkan ke aliran darah, melainkan melalui
sirkulasi atau difusi ke sel target.
Pada prinsipnya pengaturan produksi hormon dilakukan oleh hipotalamus (bagian
dari otak). Hipotalamus mengontrol sekresi banyak kelenjar yang lain, terutama melalui

kelenjar pituitari, yang juga mengontrol kelenjar-kelenjar lain. Hipotalamus akan


memerintahkan kelenjar pituitari untu mensekresikan hormonnya dengan mengirim
faktor regulasi ke lobus anteriornya dan mengirim impuls saraf ke posteriornya dan
mengirim impuls saraf ke lobus posteriornya.
Pada tumbuhan, hormon dihasilkan terutama pada bagian tumbuhan yang sel-selnya
masih aktif membelah diri (pucuk batang/cabang atau ujung akar) atau dalam tahap
perkembangan pesat (buah yang sedang dalam proses pemasakan). Transfer hormon
dari satu bagian ke bagian lain dilakukan melalui sistem pembuluh (xilem dan floem)
atau transfer antarsel. Tumbuhan tidak memiliki kelenjar tertentu yang menghasilkan
hormon.
3.2 Peranan Hormon
Yang disebut dengan hormon adalah suatu zat yang diproduksi oleh kelenjar
hormon yang sifatnya spesifik dan hormon tersebut akan masuk kealiran darah,
kemudian bekerja pada suatu

organ/alat tubuh tertentu. Kelenjar-kelenjar tersebut

dikenal dengan nama kelenjar endokrin dan aktifitas kelenjar-kelenjar tersebut dikontrol
oleh suatu kelenjar utama didalam otak yang disebut kelenjar hipopise (pituitary gland).
Didalam tubuh, kelenjar-kelenjar endokrin ini terbagi menjadi beberapa macam,
diantaranya :
Kelenjar Gondok : yang terdapat pada daerah leher bagian depan, fungsinya
memproduksi hormon tiroid yang mengatur metabolisme pada tubuh.
Kelenjar Hipopise : terdapat ditengah otak, berfungsi mengeluarkan beberapa
hormon, misalnya Hormon pertumbuhan, untuk pertumbuhan tubuh dan

Hormon prolaktin, untuk memproduksi air susu bagi wanita


Kelenjar Pankreas : letaknya didekat usus dua belas jari dan fungsinya

memproduksi hormon insulin yang mengatur kadar gula dalam darah.


Kelenjar Parathormon : letaknya didaerah leher, yang berfungsi mengeluarkan

hormon yang mengatur kadar calcium dalam tulang.


Kelenjar Testis (pada pria) dan Ovarium (pada wanita) : kelenjar ini berfungsi
memproduksi hormon-hormon yang menentukan sifat-sifat sex (kelamin) dan
memproduksi sel telur dan sperma.

Kelenjar Anak Ginjal (suprarenal) : letaknya diatas ginjal, berfungsi


memproduksi hormon adrenalin yang sifatnya mengaktifkan tubuh.

Dalam prakteknya, semua hormon-hormon tersebut bekerja dalam suatu koordinasi


yang diatur oleh hipopise. Misalnya pada anak yang dalam masa pertumbuhan aktivitas
hormon pertumbuhan (growth hormone) tentunya sangat menonjol. Hormon ini akan
merangsang pertumbuhan jaringan tulang yang baru dan untuk itu bekerja sama dengan
hormon parathormon untuk menambah deposit calcium pada tulang. Semua hormonhormon ini akan bekerja dengan system feed back (umpan balik), yaitu bila terasa sudah
cukup efeknya pada jaringan, maka suatu mekanisme yang akan mengirim pesan pada
otak untuk menyetop produksi hormon tersebut. Bila fungsi feed back ini tidak berjalan
baik, maka akan terjadi kelainan.
Misalnya terjadi pada growth hormone, maka otak tidak mendapatkan pesan untuk
menyetop produksi dan akan diproduksi terus menerus. Akibatnya pertumbuhan tulang
akan terus berlangsung, sehingga anak tersebut akan menjadi raksasa, tinggi sekali,
kemudian tulang-tulangnya akan menjadi besar dan penuh dengan tonjolan-tonjolan
(misalnya pada dagu, siku dll) dan juga terjadi pembesaran organ-organ dalam perut
seperti, jantung, hati (lever) ginjal, limpa dll.
Bila dilihat dari segi makanan, dapat dikatakan bahwa fungsi pankreas menjadi
sangat penting, karena kerja hormon insulin yang sifatnya untuk menurunkan kadar gula
darah. Bila makan banyak, maka makanan akan masuk kelambung, lalu ke usus dan
diserap oleh usus, sehingga hal ini yang mengakibatkan naiknya kadar gula dalam
darah. Sebagai akibatnya hormon insulin lalu bekerja untuk membawa gula darah
tersebut kedalam sel-sel tubuh dan gula tersebutlah yang akan digunakan sebagai
sumber tenaga, baik itu untuk melakukan aktivitas olahraga atau sebagai energi untuk
metabolisme pada sel tubuh. Pada kegiatan fisik atau berolahraga, maka fungsi daripada
hormon adrenalin menjadi utama, karena hormon tersebut menyebabkan :

Peningkatan kewaspadaan (alertness)


Peningkatan denyut jantung, sehingga pompa jantung akan lebih kencang dan

darah akan lebih banyak mengalir pada otot-otot.


Peningkatan tekanan darah, yang menyebabkan darah dipompa lebih kencang
keseluruh alat-alat tubuh.
6

Peningkatan pengeluaran keringat. Ini disebabkan meningkatnya aliran darah


pada daerah kulit/tepi, sehingga meningkatkan pengeluaran keringat, yang
kemudian menguap untuk menjaga tubuh agar tetap dingin.

Khusus pada wanita, ovarium merupakan kelenjar yang berfungsi pada waktu
menstruasi dan pada waktu kehamilan yaitu, terdapat hormon-hormon yang berfungsi
mempertahankan janin sampai saatnya melahirkan. Hormon yang bekerja disini adalah
estrogen dan progesteron. Apabila akan menyusui bayi, maka hormon prolaktin akan
bekerja sehingga produksi air susu ibu akan terus keluar. Pada laki-laki, sangat
menonjol peranan hormon testosteron dan androgen, yang memberikan sifat laki-laki
(male characteristic) dan memproduksi sperma dalam testis. Testosteron juga berfungsi
untuk membesarkan otot, sehingga hormon ini akan besar peranannya pada olahraga
yang membutuhkan otot-otot besar. Seperti pada binaragawan, atlet lempar martil, atlet
lempar cakram, atlet lempar lembing dan olahraga lain yang bersifat power seperti
olahraga sprint jarak pendek (lari dan renag atau balap sepeda). Atlet ini umumnya
mempunyai massa otot yang besar, karena otot besar tersebut diperlukan untuk
tenaga/power yang besar dan cepat tentunya. (HT)
Itulah sebabnya para atlet-atlet ini banyak mengkonsumsi suplemen yang berisi
protein untuk pembesaran otot tersebut. Yang menjadi masalah apabila atlet tersebut
memakai hormon tambahan dari luar. Hal ini tentunya akan merubah keseimbangan
hormon-hormon yang ada dalam tubuh, sehingga terjadi hal-hal yang diluar kendali.
Misalnya pemakaian hormon testosteron yang banyak, bukannya akan lebih
membesarkan otot, tetapi kelebihan akan testosterone tersebut akan diubah (di
aromatase) menjadi hormon estrogen (yang bersifat wanita) dan sebagai akibatnya
terjadilah sifat wanita

pada payudara yang disebut gynecomastia. Tanda-tandanya

adalah payudara menjadi besar dan putting susu juga membesar. Jadi karena seluruh
hormon ada dalam keseimbangan dan kontrol yang sudah berjalan normal, pemakaian
tambahan hormon dari luar akan menyebabkan terganggunya keseimbangan tadi,
sehingga timbullah kelainan-kelainan pada tubuh (dr. Hario Tilarso).
Hormon sangat bermanfaat karena dari fungsi yang dilakukan hormon pada organ
tertentu. Fungsi hormon adalah sebagai berikut :

Mempengaruhi dalam metabolisme glukosa, protein dan lemak pada seluruh

tubuh
Mengendalikan tekanan darah
Merangsang dalam pembentukan sel darah merah
Mengendalikan dalam perkembangan ciri seksual dan sistem reproduksi
Mengendalikan pembentukan dan pelepasan hormon oleh korteks adrenal
Merangsang pembentukan dan pelepasan dari kelenjar tiroid
Mempertahankan homeostasis (keseimbangan keadaan tubuh dengan lingkungan

sekitarnya)
3.3 Klasifikasi Hormon
Hormon dapat diklasifikasikan melalui berbagai cara yaitu menurut komposisi
kimia, sifat kelarutan, lokasi reseptor dan sifat sinyal yang mengantarai kerja hormon di
dalam sel :
1. Klasifikasi hormon berdasarkan senyawa kimia pembentuknya
Golongan Steroid, yang termasuk golongan ini adalah : Turunan dari

kolestrerol yaitu androgen ,estrogen dan adrenokortikoid


Golongan Eikosanoid yaitu dari asam arachidonat
Golongan derivat Asam Amino dengan molekul yang kecil, yang
termasuk golongan ini adalah Thyroid, Katekolamin, epinefrin dan

tiroksin
Golongan Polipeptida/Protein : Insulin, Glukagon, GH, TSH, oksitosin

vasoperin, hormon yang dikeluarkan oleh mukosa usus dan lain lainnya.
2. Klasifikasi hormon berdasarkan sifat kelarutan molekul hormonLipofilik :
Kelompok hormon yang dapat larut dalam lemak,contohnya : hormon
golongan steroid (estrogen, progesteron,testosteron, glukokortikoid,

aldosteron) dan tironin (mis., tiroksin)


Hidrofilik : kelompok hormon yang

dapat

larut

dalam

air,

contohnya insulin, glukagon, hormon adrenokortikotropik (ACTH),


gastrin dan katekolamin (mis: dopamin, norepinefrin,epinefrin)
3. Klasifikasi hormon berdasarkan lokasi reseptor hormone
Hormon yang berikatan dengan hormon dengan reseptor intraseluler
Hormon yang berikatan dengan reseptor permukaan sel
(plasmamembran)
4. Klasifikasi hormon berdasarkan sifat sinyal yang mengantarai kerja hormon
didalam sel yaitu kelompok Hormon yang menggunakan kelompok second

messenger senyawa cAMP,cGMP,Ca2+, Fosfoinositol, Lintasan Kinase sebagai


mediator intraseluler
5. Klasifikasi hormon berdasarkan pola siklus sekresi hormon, maka di bedakan
atas :

Sekresi diurnal adalah pola yang naik dan turun dalam periode 24 jam,

contohnya
Kortisol , dimana kadar kortisol meningkat pada pagi hari dan turun pada

malam hari.
Pola sekresi hormonal pulsatif dan siklik naik turun sepanjangwaktu
tertentu, seperti bulanan, contohnya Estrogen dimana merupakan non

siklik dengan puncak dan lembahnya menyebabkan siklus menstruasi.


Tipe sekresi hormonal yang ketiga adalah variabel dan tergantung pada
kadar subtrak lainnya, contohnya Hormon paratiroid dimana proses
sekresinya tergantung respons terhadap kadar kalsium serum.

Dalam tubuh manusia ada tujuh kelenjar endokrin yang penting, yaitu hipofisis,
tiroid, paratiroid, kelenjar adrenalin (anak ginjal), pankreas, ovarium, dan testis.

Kelenjar hipofisis (kelenjar pituitari)

Kelenjar ini terletak pada dasar otak besar dan menghasilkan bermacam-macam
hormon yang mengatur kegiatan kelenjar lainnya. Oleh karena itu kelenjar hipofisis
disebut master gland. Kelenjar hipofisis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian
anterior, bagian tengah, dan bagian posterior.
1. Hipofisis lobus anterior yaitu menghasilkan hormone

Hormone tirotropin (Tiroid stimulating hormone, TSH) berfungsi


memelihara pertumbuhan dan perkembangan kelenjar targetnya (tiroid
kelenjar gondok) dan merangsang tiroid untuk mensekresikan hormone
tiroksin.

Andrenocorticotrophic (corticotropia, ACTH) berfungsi memelihara


pertumbuhan dan perkembangan normal korteks adrenal dan merangsang

untuk mengsekresikan kortisol dan glucocorticoid yang lain.


Gonadotropin, yang terdiri dari Follicle stimulating hormone (FSH) dan

Luteinizing hormone (LH)


Somatotropic hormone (Ghowth hormone, GH) yaitu hormone yang
menyebabkan pertumbuhan dari semua jaringan tubuh yang dapat

tumbuh.
Prolaktin (Luteotropic hormone, LTH) berfungsi untuk merangsang
sekresi kelenjar susu (glandula mamae).

2. Hipofisis lobus intermedia yaitu hormon perangsang melanosit atau melanosit


Stimulating Hormon MSH). Apabila hormon ini banyak dihasilkan maka
menyebabkan kulit menjadi hitam.

3. Hipofisis lobus posterior, hormon yang dihasilkan yaitu:

Hormone vasopressin atau antidiuretik hormone (ADH) yaitu berfungsi


untuk mencegah pembentukan urine dalam jumlah banyak dan
berpengaruh dalam pengaturan tekanan darah.

Hormon oksitosin yang berfungsi merangsang kontraksi yang kuat pada


uterus sehingga penting dalam membantu proses kelahiran.

10

Kelenjar Tiroid (Kelenjar Gondok)

Kelenjar tiroid ialah organ endokrin yang terletak di leher manusia. Fungsinya ialah
mengeluarkan hormon tiroid. Antara hormon yang terpenting ialah Thyroxine (T4) dan
Triiodothyronine (T3). Hormon-hormon ini mengawal metabolisma (pengeluaran
tenaga) manusia.

Kelenjar langerhans (pancreas)

Pulau langerhans mempunyai sel-sel alfa dan beta.


1. Sel-sel alfa menghasilkan glukogon yang berfungsi meninggikan gula darah
2. Sel-sel beta menghasilkan hormone insulin yang berfungsi mengubah gula darah
menjadi gula otot (menurunkan gula darah)
3. Sel D yang berfungsi mensekresi somatostatin yang berfungsi sebagai
penghambat sekresi insulin dan glucagon
4. Sel F yang berfungsi untuk menghasilkan polipeptida pancreas Selain itu
pancreas juga menghasilkan kelenjar pencernaan.

Kelenjar paratiroid

Kelenjar ini menghasilkan hormone paratormon (PTH), yang terletak menempel


pada permukaan kelenjar tiroid dan berjumlah 4 buah. Hormon paratormon (PTH)
berperan dalam metabolisme kalsium dan fosfot di dalam darah. Kekurangan hormone
paratiroid dapat mengakibatkan gejala kekejangan otot.

Kelenjar anak ginjal (kelenjar adrenal, suprarenalis)

Kelenjar anak ginjal terletak menempel di atas ginjal, yang terdiri atas 2 bagian,
yaitu :
1. Bagian korteks yang merupakan 80% dari kelenjar adrenal. Korteks adrenal
mensintesa

tiga

kelas

hormonsteroid

glukokortikoid, dan androgen.

11

yaitu

mineralokortikoid,

2. Bagian medula yang Menghasilkan adrenalin (epinefrin), noeepinefrin dan


katekolamin.

Kelenjar kelamin
1. Kelenjar kelamin pria (testis)
Testis mempunyai 2 fungsi utama menghasilkan sel-sel mani (sperma) oleh

tubulus seminifelus dan sekresi hormone jantan (androgen) yaitu hormone testosterone
oleh

sel-sel

leyding.

Hormon

testosterone

berfungsi

untuk

mempengruhi

spermatogenesis (pembentukan sperma) dan menimbulkan sifat-sifat seks sekunder


pada pria seperti suara yang besar, tumbuh cambang, dan lain-lain.
2. Kelenjar kelamin wanita (ovarium)
Ovarium dapat menghasilkan ovum (sel telur) dan hormone-hormon ekstrogen
dan progesterone. Estrogen berpengaruh pada pematangan sel-sel kelamin, pertumbuhan
alat kelamin, pemeliharaan sistem reproduksi, dan menimbulkan tanda-tanda seks
sekunder pada wanita.
Progesteron dihasilkan oleh korpus leuteun yaitu badan kuning di dalam
ovarium. Progesteron berfungsi mempengaruhi kontraksi otot rahim dan pada
endometrium uterus berfungsi mempersiapkan untuk nidasi bloktostocyst dan
mempercepat pertumbuhan kelenjar pada endonetrium uterus.
3.4 Mekalnisme Kerja Hormon
Earl Sutherland memulai penelitiannya tentang mekanisme kerja enzim pada tahun
1950. Mula-mula ia bertujuan untuk mengetahui bagaimana epinefrin dan glukagon
bekerja pada reaksi pemecahan glikogen dan pembentukan glukosa oleh hati. Yang
diamati pertama kali ialah bahwa reaksi pemecahan glikogen menjadi glukosa
dipercepat oleh hormon-hormon tersebut. Epinefrin dan glukagon dapat bekerja pada
reaksi tersebut. Pada penelitian lebih lanjut Sutherland menemukan bahwa adanya
epinefrin dan glukagon pada reaksi pemecahan glikogen telah menimbulkan

12

terbentuknya suatu zat yang tahan panas sebagai zat antara. Dari analisis kimia ternyata
zat tersebut ialah AMP siklik, atau adenosin 3, 5 monofosfat.

NH2
C
N

HC

N
CH

H2
5' C

O
H

O
O

H
O

3'

OH

Selanjutnya diketahui bahwa AMP siklik ini terbentuk dari ATP oleh enzim adenil
siklase. AMP siklik dapat dihidrolisis oleh enzim fosfodiesterase menjadi AMP.

ATP

Mg2+
adenilsiklase

AMP siklik + H2 O

AMP siklik + PPi + H+

Mg2+

13

AMP + H+

Reaksi ini bersifat sangat eksergonik dan bila tidak ada fosfodiesterase , AMP siklik
merupakan senyawa yang sangat stabil.
Hasil penelitian Sutherland lebih lanjut dapat menjelaskan konsep tentang
mekanisme kerja hormon. Hal-hal penting pada konsep tersebut adalah:
1. Sel mengandung reseptor bagi hormon dalam membran plasma.
2. Penggabungan hormon dengan reseptornya dalam membran plasma dapat
merangsang siklase adenil yang juga terdapat dalam membran plasma.
3. Peningkatan aktivitas siklase adenil menyebabkan meningkatnya jumlah AMP siklik
dalam sel.
4. AMP siklik bekerja dalam sel untuk mengubah kecepatan satu atau beberapa proses.
Dari konsep tersebut dapat digambarkan mekanisme kerja hormon serta peranan
AMP siklik sebagai berikut.

rangsangan

kelenjar endokrin

adenil siklase
ATP
Mg++
AMP siklik

hormon

fosfodiesterase

AMP

membran sel

14

respon fisiologis

Adanya rangsangan dari luar maupun dari dalam menyebabkan kelenjar endokrin
memproduksi dan mengeluarkan hormon ke dalam plasma darah. Setelah sampai pada
sel yang menjadi tujuan, hormon bergabung dengan reseptor dan meningkatkan
aktivitas adenil siklase yang terdapat pada membran.
Aktivitas adenil siklase yang meningkat ini menyebabkan peningkatan pembentukan
AMP siklik yang terdapat dalam plasma sel yang dapat mengubah proses di dalam sel
tersebut, misalnya aktivitas enzim , permeabilitas membran dan sebagainya.
Keseluruhan proses yang berubah ini dapat terwujud dalam tindakan sebagai jawaban
fisiologik atau usaha yang dilakukan oleh manusia. Proses yang bersifat hormonal ini
terdiri atas dua tahap, yaitu tahap pertama pembentukan hormon sampai tiba pada
dinding sel atau plasma, sedangkan tahap kedua ialah peningkatan jumlah AMP siklik
hingga terjadinya pertumbuhan atas proses dalam sel. ( Poedjiadi, Anna, 2009)
Mekanisme Siklase Adenilat
Enzim siklase adenilat mengubah ATP menjadi 3,5-adenosin monofosfat siklik,
disingkat sebagai cAMP. siklase adenilat berlokasi pada membran sel, mungkin didekat
reseptor pengikat hormon. Dengan beberapa jalan , kombinasi hormon dan reseptornya
mengaktifkan siklase adenilat, dan ATP diubah menjadi cAMP, seperti ditunjukkan
dalam gambar 13.2. bukti percobaan baru-baru ini menyarankan bahwa prostaglandin
tertentu dapat menyesuaikan aktivitas siklase adenilat dan dengan jalan ini mengatur
tanggapan intrasel terhadap stimulasi oleh hormon tertentu. cAMP diinaktifkan oleh
konversinya menjadi 5-adenosin monofosfat (5-AMP) lewat kerja fosfodiesterase.
Metal xantin seperti kafein dan teofilin menghambat reaksi fosfodiasterase dan dengan
demikian menurunkan laju pemecahan cAMP. hal ini mengakibatkan pengikatan kadar
cAMP dalam sel dan dengan demikian memperbesar atau memperkuat pengaruh cAMP
(Lehninger.1982).

15

hormon + reseptor membran

ATP

H2O

(+)

cAMP

siklase adenilat

fosfodiesterase

5'-AMP

PPi

AMP Siklik Merangsang Aktivitas Protein Kinase


AMP siklik tidak mempengaruhi kinase fosforilase, akan tetapi kinase fosforilase
juga terdapat dalam bentuk aktif dan kurang aktif. Bentuk tidak aktif fosforilase kinase
diubah menjadi bentuk aktifnya dengan reaksi fosforilase, juga dengan penggunaan
ATP.

kinase fosforilase + ATP


(bentuk tidak aktif)

protein kinase aktif, Ca2+

fosforilase kinase-P + ADP


(bentuk aktif)

Sekarang kita tiba pada pengaturan hubungan antara AMP siklik dengan kegiatan
glikogen fosforilase. Rantai penyambung kegiatan ini adalah suatu enzim yang disebut
protein kinase, yang juga terdapat dalam bentuk aktif dan tidak aktif. Bentuk aktifnya
mengkatalisis fosforilasi dari kinase fosforilase yang tidak aktif dengan ATP untuk
menghasilkan bentuk aktif yang sudah difosforilasi, dalam suatu reaksi dengan ATP
bertindak sebagai gugus fosfat donor dan Ca2+ dibutuhkan sebagai aktifator atau
penggerak.

Fosforilase kinase adalah suatu protein yang sangat besar, berat molekulnya labih
dari 1 juta. Enzim ini mempunyai 16 subunit, yang masing-masing berisi residu serin
16

spesifik yang mengalami fosforilasi oleh ATP melalui kegiatan protein kinase aktif.
(Lehninger.1982)
Fosfodiesterase
Kerja yang ditimbulkan oleh hormon yang meningkatkan konsentrasi cAMP bisa
diakhiri dengan sejumlah cara termasuk hidrolisis cAMP oleh fosfodiesterase. Enzim
hidrolisis ini menjamin proses pergantian sinyal yang cepat dengan demikian juga
penghentian proses biologik yang cepat begitu stimulus hormonal dihilangkan. Inhibitor
fosfodiesterase,yang paling terkenal adalah derivat xantintermetilasi seperti kafein dan
teofilin, akan meningkatkan cAMP intrasel,meniru atau memperpanjang kerja hormon.
(Indah, Mutiara. 2004)
Penjelasan Kinerja Hormon

Model umum. Hormon yang bergabung dengan suatu penerima (reseptor) akan
mengaktifkan reaksi kimiawi untuk membuat second messengers, yang memicu

terjadinya berbagai tanggapan sel terhadap sinyal awal.


Kemudian reseptor berada pada permukaan sel target. Pada kasus lain, hormon

masuk ke dalam sel dan berikatan dengan reseptor khusus yang berada di dalam sel.
Rangsangan lingkungan juga dapat mengawali lintasan sinyal, misalnya konversi
fitokrom adalah tahap pertama dalam transduksi sinyal yang mengarah pada
tanggapan sel terhadap cahaya merah.

17

Specific example: a hypothetical mechanism for auxin's stimulation of cell


elongation
1. Hormon auksin berikatan dengan suatu reseptor.
2. Sinyal ini dilanjutan ke second messengers dalam sel yang memicu berbagai
tanggapan.
3. Pompa proton diaktifkan, dan pelepasan ion H+ melonggarkan dinding sel
sehingga sel bisa membesar/memanjang.
4. Perangkat Golgi dirangsang untuk melepaskan kantung yang mengandung bahan
untuk menjaga ketebalan dinding sel.
5. Jalur transduksi sinyal juga mengaktifkan DNA untuk membentuk protein
(transkripsi & translasi)
6. Protein yang terbentuk diperlukan untuk memelihara pertumbuhan sel.
( Karyanto, Agus, 2005)
3.5 Transpor Hormon
Hormon beredar di dalam sirkulasi darah dan fluida sell untuk mencari sel target.
Ketika hormon menemukan sel target, hormon akan mengikat protein reseptor tertentu
pada permukaan sel tersebut dan mengirimkan sinyal. Reseptor protein akan menerima
sinyal tersebut dan bereaksi baik dengan memengaruhi ekspresi genetik sel atau
mengubah aktivitas protein selular, termasuk di antaranya adalah perangsangan atau
penghambatan pertumbuhan serta apoptosis (kematian sel terprogram), pengaktifan atau
penonaktifansistem kekebalan, pengaturan metabolisme dan persiapan aktivitas baru
(misalnya

terbang,

kawin,

dan

perawatan

anak),

atau

fase

kehidupan

(misalnya pubertas dan menopause). Pada banyak kasus, satu hormon dapat mengatur
produksi dan pelepasan hormon lainnya. Hormon juga mengatur siklus reproduksi pada
hampir semua organisme multiselular.
Pada hewan, hormon yang paling dikenal adalah hormon yang diproduksi
oleh kelenjar endokrin vertebrata. Walaupun demikian, hormon dihasilkan oleh hampir
semua sistem organ dan jenis jaringan pada tubuh hewan. Molekul hormon dilepaskan
langsung kealiran darah, walaupun ada juga jenis hormone yang disebut ektohormon
(ectohormone) yang tidak langsung dialirkan ke aliran darah, melainkan melalui
sirkulasi atau difusi ke sel target.

18

IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin yang mempunyai
efek tertentu pada aktifitas organ-organ lain dalam tubuh. Yang disebut dengan hormon
adalah suatu zat yang diproduksi oleh kelenjar hormon yang sifatnya spesifik dan
hormon tersebut akan masuk kealiran darah, kemudian bekerja pada suatu organ/alat
tubuh tertentu. Hormon dapat diklasifikasikan melalui berbagai cara yaitu menurut
komposisi kimia, sifat kelarutan, lokasi reseptor dan sifat sinyal yang mengantarai kerja
hormon di dalam sel. Earl Sutherland memulai penelitiannya tentang mekanisme kerja
enzim pada tahun 1950. Hormon beredar di dalam sirkulasi darah dan fluida sell untuk
mencari sel target.
4.2 Saran
Kita harus mempelajari tentang hormon karena dengan mempelajari hormon, kita
dapat menghasilkan produksi ternak dengan maksimal, karena tubuh ternak dan segala
metabolismenya sangat dipengaruhi oleh hormon.

19

DAFTAR PUSTAKA
Haqiqi, S.H. 2008. Biosintesis Hormon Tiroid dan Paratiroid. Fakultas Peternakan
Universitas Brawijaya, Malang.
Indah, Mutiara. 2004. Mekanisme Kerja Hormon. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Jatmika, S. 1986. Dasar-dasar Fisiologi Hewan. Gitamedia Press. Surabaya.
Karyanto, Agus. 2005. Mekanisme Kinerja Hormon. UNILA, Lampung.
Lehninger. 1982. Dasar-dasar Biokimia Jilid 2. Erlangga, Jakarta.
Lehninger. 1982. Dasar-dasar Biokimia Jilid 3. Erlangga, Jakarta.
Poedjiadi, Anna. dkk. 2009. Dasar-dasar Biokimia. UI-Press, Jakarta.
Wulangi, K. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

20